Anda di halaman 1dari 11

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Kemangi (Ocimum sanctum L.) 2.1.1 Sejarah dan Morfologi Kemangi (Ocimum sanctum L.) Kemangi (Ocimum sanctum L.) baru diperkenalkan di Inggris pada abad ke-16 dan lalu menyebar ke Amerika Utara. Dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1956, pengarangnya menyatakan bahwa kemangi (Ocimum sanctum L.) hanya ditanam oleh sedikit petani yang suka mengembara, sedangkan petani yang menetap jarang sekali melakukannya. Dari sana pembudidayaan menyebar ke seluruh koloni (Soedarso, 2012). Kemangi (Ocimum sanctum L.) merupakan tanaman semak semusim dengan tinggi 30-150cm. batangnya berkayu, segi empat, beralur, bercabang, dan memiliki bulu berwarna hijau. Daunnya tunggal dan berwarna hijau. Daun berbentuk bulat telur, ujungnya runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, dan pertulangan daun menyirip. Bunga majemuk berbentuk tandan, memiliki bulu dan tangkai pendek yang berwarna hijau. Mahkota bunga bulat telur dengan warna putih keunguan. Buah berbentuk kotak dan berwarna cokelat tua. Bijinya berukuran kecil. Tiap buah terdiri dari empat biji yang berwarna hitam. Akarnya tunggang dan berwarna putih kotor (Mangonting, 2005). 2.1.2 Klasifikasi Kemangi (Ocimum sanctum L.) Seperti tanaman lainya kemangi, basil, atau selasih memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut :

Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Plantae. : Magnoliophyta. : Magnoliopsida. : Lamiales. : Lamiaceae. : Ocimum. : Ocimum sanctum L.

Tanaman kemangi ini memiliki aneka varietas, yang jumlahnya kurang lebih mencapai 35 jenis, diantaranya : - Ocimum americanum - Ocimum basilicum - Ocimum campechianum - Ocimum gratissimum - Ocimum kilimandscharicum - Ocimum tenuiflorum Nama daerah : kemangi (Jawa), kemanghi, kemangkek (Madura), suraung, lempes (Sunda), lampes (Jawa Tengah), uku-uku (Bali), lufe-lufe (Ternate), bramasuku (Minahasa / Manado). 2.1.3 Ekologi dan Penyebaran Kemangi tersebar luas di seluruh belahan dunia, mulai dari eropa, mediterania, asia pasifik, amerika, timur tengah, sampai Australia. Daun kemangi sangat mudah dijumpai di pasar tradisional dan rak-rak toko swalayan, dengan harga yang relative murah. Orang india dan sebagian afrika sudah biasa menyeduh teh daun kemangi sebagai ganti seduhan daung teh asli. Teh kemangi lazim

disajikan pada pergantian musim, saat orang mudah terserang batuk, pilek atau demam (Kurniawati, 2010). Tanaman kemangi (Ocimum sanctum L.) cocok hidup ditanah subur, gembur, dan cukup tersedia air. Namun demikian, tanaman tersebut mampu hidup ditanah darat yang kurang subur. Sistem perakaran tanaman yang tumbuh menahun, jauh masuk ke dalam tanah. Pada saat tanaman masih muda, tingkat kesuburan di lapisan tanah bagian atas sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kemangi (Ocimum sanctum L.) ditemukan tumbuh liar di tegalan, kebun, bahkan di bekas pembuangan sampah yang telah mengalami pelapukan sempurna (Pitojo, 1996). 2.1.4 Kandungan Kemangi (Ocimum sanctum L.) Kemangi adalah sumber vitamin E, riboflavin, dan niasin yang baik. Selain itu, kemangi adalah sumber serat, betakaroten ( provitamin A), vitamin C, vitamin K, vitamin B6, dan folat yang sangat baik, arginine, flavononoid, 1-8 sineol, anetol, boron, eugenol, tannin, tritofan. Kemangi juga mengandung mineral, seperti kalsium, zat besi, fosfor, kalium, seng, tembaga, mangan, dan magnesium (Kurniawati, 2010). Sifat khas diaforetikum (wangi dan korigens bau). Berkhasiat mengobati demam, pilek, dan memperbanyak produksi ASI.Getahnya berkhasiat mengobati radang telingah (AgroMedia, 2008). 2.1.4.1 Eugenol Eugenol berupa zat cair berbentuk minyak, tidak berwarna atau sedikit kekuningan, menjadi coklat dalam udara, berbau dan berasa rempah-rempah. Eugenol digunakan sebagai bahan baku obat dan parfum. Sifat kimia dan fisika dari eugenol sebagai berikut :

Nama trivia Nama IUPAC Bentuk fisik Sifat

:Eugenol. :1-hidroksi-2-metoksi-4-(2-propenil) benzene. : Cairan tidak berwarna. : Mudah menguap

2.1.4.2 Eugenol Sebagai Antijamur Dalam daun kemangi mempunyai kandungan eugenol sebesar 46%, Eugenol termasuk golongan fenol, golongan fenol dan derivatnya mempunyai daya antimikroba. Eugenol yang terkandung pada tanaman kemangi menunjukan aktifitas sebagai fungisida (Musdalifah, 2008). Eugenol merupakan komponen terbebesar minyak atsiri dalam kandungan kemangi (Ocimum sanctum L.). Kadar eugenol dalam kemangi (Ocimum sanctum L.) bersifat mudah menguap (Hendrawati, 2009). Kandungan zat-zat aktif dalam kemangi mudah menguap yang memberikan cita rasa dan aroma yang khas (Kotzman, 2007). Berikut adalah mekanisme eugenol sebagai antifungi : 1. Eugenol mampu menghambat fungsi membran sitoplasma sel fungi dan hemolisis sel fungi. Eugenol menghancurkan membran lipid bilayer sehingga sel kehilangan struktur dan fungsinya dan akhirnya lisis (Wicaksono, 2011). 2. Eugenol diketahui bersifat liphofilik, yang dapat menembus antara rantai asam lemak pada lapisan bilayer membran, yang mengubah permeabilitas dari sel membrane. Perubahan permeabilitas terjadi bersamaan dengan kematian sel (Wicaksono, 2011). 3. Eugenol juga bertindak sebagai transporter ion, maka diperkirakan akan menyebabkan penurunan dari energi sel. Jika hal ini terjadi,

penghambatan penggunaan glukosa aka terjadi, dan selanjutnya kemungkinan yang terjadi adalah penghambatan enzim yang melibatkan glikolisis (Wicaksono, 2011).

2.2 Tinjauan Tentang Jamur Malassezia furfur 2.2.1 Jamur Jamur merupakan sel eukariotik yang memiliki banyak bentuk, mulai dari bentuk ragi (sel tunggal), kapang dan jamur dengan struktur bersel banyak. Reproduksi berlangsung secara aseksual (tidak kawin) dan seksual (kawin). Siklus pertumbuhannya terdiri dari fase vegetatif dan reproduktif (Johnson, 1994). Jamur berdasrakan bentuk klinis dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : 1. Mikosis Superfisial Adalah jamur-jamur yang menyerang lapisan luar pada kulit, kuku, dan rambut. Dan dibagi lagi menjadi 2, yaitu : 1. Dermatofitosis Dermatifitosis adalah penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita disebut Dermatofitosis golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisanlapisan kulit. 2. Non-Dermatofitosis Infeksi non-dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar. Hal ini disebabkan jenis jamur tersebut tidak dapat

10

mengeluarkan zat yag dapat mencerna keratin dan tetap hanya menyerang lapisan kulit yang paling luar . 3. Mikosis Intermediat Adalah jamur-jamur yang menyerang kulit, mukosa, subkutis, dan alat-alat dalam. 4. Mikosis Dalam atau Profunda Adalah jamur-jamur yang menyerang subkutis dan alat-alat dalam (Siregar R.S, 2002). 2.2.2 Jamur Malassezia furfur Malassezia furfur merupakan organisme saprofit pada kulit normal (Boel, 2007). Malassezia furfur adalah jamur flora normal, termasuk golongan jamur non dermatofitosis yang menyerang pada kulit manusia. Pitiriasis versikolor atau yang lebih dikenal dengan sebutan panu adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare. Infeksi ini bersifat menahun, ringan, dan biasanya tanpa peradangan. Pitiriasis versikolor mengenai muka, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha, dan lipat paha (Harahap M, 2000). Malassezia furfur merupakan fase hifa yang mempunyai sifat invasif, patogen dan dapat ditemukan pada tempat lesi, terutama lesi yang aktif (Boel, 2007). 2.2.3 Klasifikasi Jamur Malassezia furfur Jamur Malassezia furfur tergolong dalam kelas Hymenomycetes, dan termasuk dalam golongan non dermatofita, berikut klasifikasinya. Kerajaan : Fungi.

11

Divisio Kelas Ordo Familia Genus Spesies

: Basidiomycota. : Hymenomycetes. :Tremellales. : Filobasidiaceae. : Malassezia. : Malassezia furfur.

2.2.4 Morfologi Malassezia furfur merupakan flora normal dan terdapat pada mukosa dan kulit. Jamur ini berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas, berdinding tebal, dan hifanya berbatang pendek dan bengkok. Malassezia furfur menghasilkan konidia sangat kecil (mikrokonidia) pada hifanya, tetapi di samping itu juga menghasilkan makrokonidia besar, multiseptat, berbentuk gelendong yang jauh lebih besar daripada mikrokonianya (Mardianti, 2008). 2.2.5 Karakteristik Malassezia furfur Malassezia sp adalah ragi yang bersifat lipofili, dan sebagian besar spesies ini memerlukan lipid dalam medium pertumbuhnnya. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan mikroskopik langsung pada kerokan kulit yang terinfeksi, diberikan KOH 10-20%. Ditemukan adanya hifa pendek tidak bercabang. Lesi tersebut juga menunjukan flouresensi dibawah lampu Wood (Jawetz, 2007).

2.3 Tinjauan Tentang Pitiriasis versikolor 2.3.1 Epidemiologi Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur superfisial kronik yang disebabkan oleh Malassezia furfur. Pada umumnya, Pitiriasis versikolor tidak

12

menimbulkan keluhan pada penderita.Penderita hanya mengeluh adanya bercak putih atau kecoklatan dengan rasa gatal ringan yang muncul saat

berkeringat.Pitiriasis versikolor tersebar luas secara universal dan terutama ditemukan di daerah tropis. Prevalensi kurang lebih 50% di daerah tropis yang bersuhu hangat dan lembab. Insidensi penyakit ini nampak sama pada semua ras, tidak dominan pada jenis kelamin tertentu dan lebih banyak pada remaja. Faktor predisposisi untuk Pitiriasis versikolor bervariasi, dapat berupa faktor lingkungan dan kerentanan host atau individu (Gama, 2011). 2.3.2 Patogenesis Kelainan kulit Pitiriasis vesikolor sangat superfisial dan tersering ditemukan di badan. Lesi kulit berupa bercak putih sampai coklat, merah, dan hitam. Diatas lesi terdapat sisik halus, pada umumnya Pitiriasis versikolor tidak memberikan keluhan pada penderita. Kadang-kadang terdapat gatal yang ringan, tetapi biasanya penderita berobat karena alasan kosmetik yang disebabkan bercak hipopigmentasi (Harahap, 2000). Pitiriasis versikolor timbul ketika ragi Malassezia furfur yang secara normal mengkoloni kulit berubah dari bentuk yeast menjadi bentuk miselia yang patologik, kemudian mengiinvasi kulit. Beberapa kondisi dan faktor yang berperan pada patogenesis Pitiriasis versikolor antara lain lingkungan dengan suhu dan kelembaban tinggi, produksi kelenjar keringat yang berlebih (Mardianti, 2008). 2.3.3 Gejala Klinis Manusia mendapatkan infeksi bila hifa atau spora jamur penyebab melekat pada kulit. Lesi dimulai dengan bercak kecil tipis yang kemudian menjadi banyak

13

dan menyebar, disertai adanya sisik. Kelainan kulit pada penderita panu tampak jelas, sebab pada orang kulit berwarna gelap, panu ini merupakan bercak dengan hipopigmentasi, sedangkan pada orang kulit putih, merupakan bercak dengan hiperpigmentasi. Dengan demikian warna kelainan kulit ini dapat bermacammacam (versikolor). Kelainan kulit tersebut terutama pada tubuh bagian dada, perut, lengan, leher, muka berupa bercak bulat-bulat kecil, bahkan lebar seperti plakat pada panu yang sudah menaun biasanya tidak ada keluhan, ada rasa gatal saat berkeringat (Ghandahusada:281, 2004). Lesi Pitiriasis versikolor terutama dijumpai di bagian atas dada dan meluas ke lengan atas, leher, tengkuk, perut atau tungkai atas/bawah. Dilaporkan adanya kasus-kasus yang khusus dimana lesi dijumpai pada bagian tubuh yang tertutup atau mendapatkan tekanan pakaian, misalnya pada bagian yang tertutup pakaian dalam. Dapat pula dijumpai lesi pada lipatan askila, inguinal tau pada kulit muka dan kepala (Partogi, 2008). 2.3.4 Diagnosa dan Pengobatan Diagnosa dapat dipastikan bila pada pemeriksaan terhadap kerokan kulit dalam campuran KOH 10%-20% dapat ditemukan gambaran yang khas berupa kumpulan spora yang bulat dan hifa yang pendek gemuk (Brown, 2005). Gambaran klinis yang khas berupa bercak berwarna putih sampai coklat, merah dan hitam, dengan distribusi tersebar, terbatas dengan skuama halus diatasnya (Harahap, 2000). Gambaran flouresensi lesi kulit dengan lampu Wood berwarna kuning (Jhonson, 1994). Pitiriasis versikolor dapat diterapi secara topical maupun sistemik :

14

1. Pengobatan Topikal Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten. Obat yang dapat digunakan ialah : 1. Selenium sulfide 1,8% dalam bentuk shampoo 2-3 kali seminggu. Obat digosokan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum mandi. 2. Salisil spiritus 10%. 3. Turunan azol misalnya mikonazol, isokazol dan ekonazol dalam bentuk topikal. 4. Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4% -20% 2. Pengobatan Sistemik Pengobatan sistemik diberikan pada kasus Pitiriasis versikolor luas atau jika pemakaian obat topikal tidak berhasil. Obat yang diberikan adalah : 1. Ketokonazol 200 mg/hari selama 10 hari. 2. Itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari, disarankan untuk kasus kekambuhan atau tidak responsive dengan terapi (Partogi, 2008). 2.3.5 Pencegahan dan Prognosis Untuk pencegahan, dapat dilakukan dengan selalu menjaga higienitas perseorangan, hindari kelembaban kulit dan menghindari kontak langsung dengan penderita (Mardianti, 2008). Selain itu, untuk pencegahan dapat disarankan pemakaian 50% propilen glikol dalam air atau sistemik ketokonazol 400 mg/hari selama 3 hari setiap bulan

15

atau itrakonazol 200 mg sekali sebulan atau pemakaian sampo selenium sulfide sekali seminggu (Partogi, 2008). Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan konsisten. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah flouresensi negatif dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif. Jamur penyebab Pitiriasis versikolor merupakan bagian dari flora normal dan kadang-kadang tertinggal dalam folikel rambut. Hal ini mengakibatkan tingginya angka kekambuhan, sehinnga diperlukan pengobatan profilaksis untuk mencegah kekambuhan. Masalah lain adalah menetapnya hipopigmentasi dan diperlukan waktu yang cukup lama untuk repigmentasi. Namun hal ini tersebut bukan akibat kegagalan terapi, sehingga penting untuk memberi informasi kepada pasien bahwa bercak putih tersebut akan menetap beberapa bulan setelah terapi dan akan hilang secara perlahan (Partogi, 2008).