Anda di halaman 1dari 7

Sikap, Gerak & Kinerja Tubuh Manusia dalam Melakukan Kegiatan Sehari-hari

Diktat Kuliah
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
1
KEDOKTERAN OKUPASI SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN
PRODUKTIVITAS OPTIMAL


Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti modul ini, mahasiswa dapat:
1. Menjelaskan penerapan kedokteran okupasi dalam praktik
2. Menjelaskan organisasi, tatanan dan fungsi kerja
3. Menjelaskan dinamika kerja dalam perkembangan penyakit dan permasalahannya
4. Menjelaskan faktor pekerjaan dan lingkungan kerja dalam timbul dan
berkembangnya penyakit
5. Menjelaskan sumber/potensi pekerja dan organisasinya yang dapat dimanfaatkan
dalam penyembuhan dan penyelesaian masalah kesehatan pekerja
6. Memahami indikator keberhasilan pelayanan kesehatan terhadap pekerja


A. Pengantar
Salah satu tanda bahwa seseorang sehat secara sosial adalah ia dapat berinteraksi
dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya untuk hidup secara produktif.
Kemampuan gerak manusia memungkinkan seseorang memelihara kesehatannya dan
bekerja menjadi makhluk yang produktif. Namun, untuk dapat mencapai
produktivitas dibutuhkan dukungan dari berbagai faktor di antaranya faktor
lingkungan.

Menurut konsep Mandala of Health, manusia sebagai individu yang terdiri dari
fisik, mental dan spiritual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga dan
lingkungannya. Lingkungan sendiri dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan
psiko-sosio-ekonomis. Bagi individu yang bekerja, maka lingkungannya bukan hanya
di mana ia tinggal, namun juga lingkungan di mana ia bekerja.

Pekerja sebagai suatu komunitas tersendiri yang memiliki berbagai risiko maupun
bahaya pada pekerjaan dan lingkungan kerjanya yang dapat mempengaruhi kesehatan
karena itu dalam ilmu kedokteran berkembang suatu cabang ilmu yang dikenal
sebagai kedokteran okupasi yang mempelajari bagaimana pekerjaan dan lingkungan
kerja dapat mempengaruhi kesehatan manusia.


B. Berbagai Definisi
Dalam pembahasan mengenai kedokteran okupasi, terdapat beberapa disiplin dan juga
istilah yang relevan dan perlu diketahui, yaitu:
Kedokteran industri
Kedokteran kerja
Kesehatan kerja
Kesehatan industri
Higiene perusahaan dan kesehatan kerja (Hiperkes)
Ergonomi
Keselamatan kerja

Sikap, Gerak & Kinerja Tubuh Manusia dalam Melakukan Kegiatan Sehari-hari
Diktat Kuliah
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
2

Ilmu Kedokteran Okupasi:
Disiplin ilmu kedokteran yang bertujuan agar pekerja/komunitas pekerja memperoleh
derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha-
usaha promotif, preventif,kuratif dan rehabilitatif terhadap penyakit/gangguan
kesehatan yang diakibatkan faktor pekerjaan dan lingkungan kerja.

Kesehatan Kerja
Spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta praktiknya yang bertujuan agar
pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik
fisik atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap
penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor
pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum (Sumamur,
1967)

Higiene Perusahaaan & Kesehatan Kerja
Lapangan kesehatan yang ditujukan kepada pemeliharaan dan mempertinggi derajat
kesehatan tenaga kerja, dilakukan dengan mengatur pemberian pengobatan, perawatan
tenaga kerja yang sakit, mengatur persediaan tempat, cara-cara dan syarat yang
memenuhi norma-norma hygiene perusahaan dan kesehatan kerja untuk mencegah
penyakit, baik sebagai akibat pekerjaan, maupun penyakit umum serta menetapkan
syarat-syarat kesehatan bagi perumahan tenaga kerja (UU no. 14 th 1969 tentang
Ketentuan-ketentua Pokok mengenai tenaga kerja).

Keselamatan Kerja
Ilmu dan penerapan teknologi untuk meningkatkan keselamatan yang berkaitan
dengan alat kerja, bahan kerja, proses kerja, tempat kerja dan lingkungannya
(Sumamur, 1981).

Ergonomi
Ilmu yang mempelajari manusia dan hubungannya dengan mesin/alat kerja dalam tata
kerja dan lingkungan kerja dan bertujuan mencari integrasi antara pekerja, mesin dan
lingkungan untuk memperoleh hasil kerja yang optimum (Sutarman, 1985).

C. Sejarah perkembangan
Orang yang pertama kali melakukan pengamatan terhadap pekerja dan penyakit yang
dialaminya, dalam hal ini adalah pekerja tambang adalah Agricola (1494-1555) dan
Paracelsus (1493-1541) pada abad 16. Namun yang dikenal sebagai bapak ilmu
kedokteran okupasi adalah Dr. Bernardino Ramazzini (1633-1714) yang merupakan
orang pertama yang melakukan penelitian secara sistematis mengenai penyakit pada
pekerja dalam tulisannya yang berjudul De Morbis Artificum Diatriba. Ia adalah
orang yang pertama kali merekomendasikan bahwa setiap dokter harus menanyakan
pekerjaan pasiennya.

Perkembangan teknologi akibat revolusi industri di abad ke 18 dan 19 menyebabkan
pekerjaan menjadi semakin berisiko, sedangkan perhatian terhadap keselamatan dan
kesehatan pekerja masih sangat kurang. Di antara sedikit orang yang memberikan
perhatian adalah Sir Robert Peel, Robert Owen dan Michael Sadler yang

Sikap, Gerak & Kinerja Tubuh Manusia dalam Melakukan Kegiatan Sehari-hari
mempengaruhi parlemen Inggris mengeluarkan undang-undang yang mengatur jam
kerja dan melarang pekerja anak.
Di antara para dokter di Inggris sendiri semakin banyak yang mulai mempelajari
akibat buruk dari pekerjaan, di antaranya adalah:
Percivall Pott (1713-1788): kanker skrotum pada pembersih cerobong asap.
Charles Turner Thackrah (1795-1833): publikasi pertama mengenai penyakit
akibat kerja.
William Farr dan Edward Headlam Greenhow (1814-1888): pengukuran angka
mortalitas okupasi.
Dll.

Pada awal abad ke 19 di Inggris diberlakukan undang-undang yang mengharuskan
adanya pelayanan kesehatan bagi pekerja pabrik yang semakin berkembang dengan
dibentuknya Health of Munition Workers Committee yang ditujukan untuk
mengembangkan penelitian mengenai efek pekerjaan terhadap kesehatan dan
efisiensi.

Perkembangan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di Amerika diawali dengan
diberlakukannya undang-undang yang melarang perusahaan mempekerjakan anak di
bawah usia 10 tahun pada tahun 1835. Selanjutnya dibentuk Departemen Tenaga
Kerja yang bertanggungjawab membuat peraturan yang melindungi pekerja dari jam
kerja yang berlebihan, proses kerja dan lingkungan kerja yang berbahaya. Kemudian
pada tahun 1884 dibentuk Biro Pekerja, Biro Pertambangan pada tahun 1910 dan
Kantor Higiene Industri pada tahun 1914 sebagai bagian dari United States Health
Service. Selain itu juga mulai diberlakukan undang-undang kompensasi bagi pekerja
pada tahun 1911.

Pada tahun 1916 mulai dibentuk Asosiasi Kedokteran Industri dan pada tahun 1954
kedokteran okupasi menjadi suatu bidang spesialis.


D. Ruang lingkup
Ruang lingkup kedokteran okupasi tidak hanya terbatas pada kesehatan dan
keselamatan pekerja tetapi juga kesejahteraannya baik secara psikologis maupun
sosial, dan peningkatan kemampuan untuk menjalani kehidupan yang produktif secara
sosial dan ekonomi.

Diktat Kuliah
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
3










Orang sakit & cacat
(rumah sakit &
pelayanan rehabilitasi)
Ibu dan anak
(program KIA)
Lansia (program
kesehatan lansia)
Murid sekolah (program
kesehatan sekolah)
Komunitas
Keluarga (program
kesehatan keluarga)

Sikap, Gerak & Kinerja Tubuh Manusia dalam Melakukan Kegiatan Sehari-hari

Diktat Kuliah
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
4

Untuk dapat lebih memahami hubungan antara pekerjaan dan kesehatan manusia,
lihat juga konsep Mandala of Health.
Tenaga kerja (program
kesehatan kerja)
Industrialisasi selain membawa banyak kemajuan bagi umat manusia juga membawa
dampak yang tidak baik bagi kesehatan, di antaranya:
Terhadap kesehatan komunitas:
o Fungsi kesehatan terganggu
o Sanitasi lingkungan tidak adekuat
o Masalah gizi, kemiskinan, dan pengangguran
Terhadap kesehatan pekerja:
o Bahaya potensial kesehatan meningkat
o Potensi kecelakaan meningkat
o Tekanan psikologis, jam kerja, kerja malam, dll.


E. Bahaya Potensial di Lingkungan Kerja
Dalam pekerjaan/lingkungan kerja terdapat berbagai bahaya potensial (hazard) bagi
kesehatan yang dapat dikelompokkan menjadi:
Bahaya potensial faktor fisik: suhu ekstrim, tekanan, radiasi dan gelombang
elektromagnetik, getaran, bising, dll.
Bahaya potensial faktor kimia: logam-logam berat, silika, pestisida, gas-gas
beracun dll.
Bahaya potensial faktor biologis: virus, bakteri, jamur, parasit, dll.
Bahaya potensial faktor psikologis: stress kerja, kerja yang monoton, beban kerja,
dll.
Bahaya potensial faktor ergonomi: postur tubuh, disain tempat kerja, posisi kerja,
dll.
Risiko kecelakaan kerja


F. Penyakit Akibat Kerja
Adanya hazard pada pekerjaan/lingkungan kerja dapat menimbulkan gangguan
kesehatan pada tenaga kerja yang dikenal sebagai penyakit akibat kerja. Penyakit
Akibat Kerja (PAK) biasanya terjadi akibat pajanan kumulatif yaitu setelah bekerja
bertahun-tahun pada lingkungan kerja atau mengerjakan pekerjaannya pada kondisi
yang tidak memenuhi standar. Penyakit Akibat Kerja biasanya bersifat kronis
sulit/tidak bisa disembuhkan dan menyebabkan kecacadan atau/dan kematian

Berbagai istilah yang berhubungan:
Penyakit akibat kerja Occupational Disease:
Penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi kuat dengan
pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui

Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan Work Related Disease:

Sikap, Gerak & Kinerja Tubuh Manusia dalam Melakukan Kegiatan Sehari-hari
Penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pada pekerjaan
memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya
penyakit yang mempunyai etiologi yang kompleks

Penyakit yang mengenai populasi pekerja Diseases affecting working
populations
Penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab ditempat
kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan

Keppres RI no 22/1993
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja :
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja


Hubungan penyakit akibat kerja & penyakit yang berhubungan.dengan pekerjaan

P.A.K PENY. BERHUBUNGAN DG. PEK NON-PAK









BUKAN FAKTOR PEKERJ AAN
FAKTOR PEKERJ AAN


G. Penerapan Pencegahan dalam lingkungan kerja
Dalam kesehatan kerja pencegahan memegang peranan yang utama. Berikut ini
beberapa contoh penerapan lima tingkat pencegahan di lingkungan kerja:

a. Health Promotion:
Penyuluhan & Pelatihan:
o Cara Kerja yg baik
o Pemakaian alat pelindung diri yang benar
Gizi kerja
Olah-raga

b. Specific Protection:
Pengendalian Teknis:
o Substitusi
o Isolasi
o Ventilasi
o Alat Pelindung Diri
Pengendalian administratif:
Diktat Kuliah
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
5
o Rotasi, pembatasan jam kerja


Sikap, Gerak & Kinerja Tubuh Manusia dalam Melakukan Kegiatan Sehari-hari
Diktat Kuliah
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
6
Imunisasi

c. Early Diagnosis:
Pemeriksaan pra-kerja
Pemeriksaan berkala
Surveilans
Pemeriksaan lingkungan secara berkala

d. Prompt Treatment:
Pengobatan segera bila ditemukan adanya gangguan kesehatan pada pekerja
Pengendalian segera di tempat kerja

e. Disability Limitation & Rehabilitation:
Evaluasi kecacadan
Evaluasi kembali bekerja
Menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi pekerja
Mengganti pekerjaan sesuai dengan kemampuan pekerja


H. Pelayanan Kesehatan pada Pekerja
Tersedianya pelayanan kesehatan bagi pekerja harus menjadi prioritas karena untuk
mencapai pembangunan yang optimal dibutuhkan sumber daya yang sehat. Selain itu
pekerja menempati proporsi yang cukup besar dari populasi suatu negara. Namun
dalam penerapannya terutama di negara berkembang masih ditemui permasalahan,
diantaranya:
Belum dicari hubungan antara penyakit dengan pekerjaan
Tidak ada data pajanan yang dialami pekerja
Biaya pemeriksaan sering tidak ditanggung perusahaan
Belum menjadi prioritas di masyarakat pekerja

Sesungguhnya usaha peningkatan status kesehatan merupakan tanggungjawab
bersama antara pekerja, pengusaha, pemerintah dan tenaga kesehatan. Dalam usaha
mencegah terjadinya penyakit akibat kerja, seorang praktisi kesehatan tidak akan
mampu berbuat banyak tanpa adanya kesadaran dari pihak pekerja, manajemen
perusahan dan juga pemerintah.

Indikator Keberhasilan:
Angka kesakitan dan kematian menurun
Angka kecelakaan kerja menurun
Angka absensi pekerja menurun
Angka produktifitas meningkat
Turn over rate menurun


Daftar Pustaka
1. LaDou J (ed). Current occupational and environmental medicine, 3
rd
edition. New
York: Lange Medical Books, 2004.

Sikap, Gerak & Kinerja Tubuh Manusia dalam Melakukan Kegiatan Sehari-hari
Diktat Kuliah
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas
7
2. McCunney RJ (ed). A practical approach to occupational and environmental
medicine, 3
rd
edition. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins, 2003.
3. Stellman J M, et al (editors). Encyclopaedia of occupational health and safety, 4
th

edition. Geneva: International Labour Office, 2001.
4. Sumamur. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. J akarta: PT. Gunung Agung,
1995.
5. Waldron HA. Occupational Health Practice, 3
rd
edition. Oxford: Butterworth-
Heinemann Ltd, 1993.
6. Zenz C, Dickerson OB, Horvath EP (editors). Occupational Medicine, 3
rd
edition.
St. Louis: Mosby, 1994.