Anda di halaman 1dari 43

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung pada

pemeliharaan kosentrasi garam, asam, dan elektrolit lain di lingkungan cairan internal. Kelangsungan hidup sel juga bergantung pada pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolisme. Sistem perkemihan merupakan suatu sistem terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Sistem ini termasuk salah satu dari sistem utama yang penting untuk mempertahankan homeostatis (Sloane, 2003). Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436). Pielonefritis sering sebagai akibat dari refluks ureterivesikal, dimana katup uretevesikal yang tidak kompeten menyebabkan urine mengalir balik (refluks) ke dalam ureter. Obstruksi traktus urinarius yang meningkatkan kerentanan ginjal terhadap infeksi, tumor kandung kemih, striktur, hiperplasia prostatik benigna, dan batu urinarius merupakan penyebab yang lain. Pielonefritis dapat terjadi secara akut maupun kronis.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menetapkan beberapa

rumusan masalah, di antaranya adalah sebagai berikut. 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 Apa pengertian pielonefritis? Bagaimana epidemiologi pielonefritis? Apa etiologi pielonefritis? Apa tanda dan gejala pielonefritis? Bagaimana patofisiologi pielonefritis? Apa komplikasi dan prognosis pielonefritis?

1.2.7 1.2.8 1.2.9

Bagaimana pengobatan pielonefritis? Bagaimana pencegahan pielonefritis? Bagaimana pathway pielonefritis?

1.2.10 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien pielonefritis.

1.3

Tujuan Dari beberapa rumusan masalah di atas, penulis dapat merumuskan tujuan

penulisan dari makalah ini, di antaranya: 1.3.1 untuk mengetahui pengertian pielonefritis; 1.3.2 untuk mengetahui epidemiologi pielonefritis; 1.3.3 untuk mengetahui etiologi pielonefritis; 1.3.4 untuk mengetahui tanda dan gejala pielonefritis; 1.3.5 untuk mengetahui patofisiologi pielonefritis; 1.3.6 untuk mengetahui komplikasi dan prognosis pielonefritis; 1.3.7 untuk mengetahui pengobatan pielonefritis; 1.3.8 untuk mengetahui pencegahan pielonefritis; 1.3.9 untuk mengetahui pathway pielonefritis; 1.3.10 untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien pielonefritis.

1.4

Manfaat Adapun manfaat dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.4.1

sebagai tambahan perbendaharaan karya tulis ilmiah yang dapat dijadikan referensi dalam pembelajaran mahasiswa jurusan keperawatan;

1.4.2

dengan mengetahui segala hal yang berkaitan dengan penyakit pielonefritis maka kita dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien pielonefritis dengan baik.

1.4.3

Implikasi Keperawatan Pasien dengan diagnosa medis pielonefritis mengalami suatu kejadian

yang tidak diharapkan. Sebagai perawat kita perlu memberikan dorongan serta dukungan pada pasien saat dilakukannya pemeriksaan fisik baik secara psikis atau yang lainnya, hal tersebut digunakan untuk meneliti beberapa kemungkinan yang terjadi pada pasien sehingga sebagai perawat seyogyanya kita harus

menjelaskan kepada pasien beserta anggota keluarganya mengenai perawatan tindak lanjut dan berbagai tindakan darurat yang harus dilakukan kepada pasien tersebut.

BAB 2. TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal (pelvis renalis), tubulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner &Suddarth, 2002: 1436 dalam Indra, 2011). Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002:668 dalam Indra, 2011). Pielonefritis adalah inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan karena adanya infeksi oleh bakteri. Infeksi bakteri pada jaringan ginjal yang di mulai dari saluran kemih bagian bawah terus naik ke ginjal. Infeksi ini dapat mengenai parenchym maupun renal pelvis (pyelum=piala ginjal). Dan meskipun ginjal menerima 20% - 25% curah jantung, namun bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah. Pielonefritis sering sebagai akibat dari refluks uretero vesikal, dimana katup uretrovresikal yang tidak kompeten menyebabkan urin mengalir baik(refluks) ke dalam ureter (Indra, 2011). Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis (Tambayong. 2000). a. Pyelonefritis akut Pyelonefritis akut biasanya singkat dan sering terjadi infeksi berulang karena terapi tidak sempurna atau infeksi baru. Dimana 20% dari infeksi yang berulang terjadi dua minggu setelah terapi selesai. Infeksi bakteri dari saluran kemih bagian bawah ke arah ginjal, hal ini akan mempengaruhi fungsi ginjal. Infeksi saluran urinarius atas dikaitkan dengan selimut antibodi bakteri dalam urin. Ginjal biasanya membesar disertai infiltrasi interstisial sel-sel inflamasi.

Abses dapat dijumpai pada kapsul ginjal dan pada taut kortikomedularis. Pada akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi (Indra, 2011). Pyelonefritis akut merupakan salah satu penyakit ginjal yang sering ditemui. Gangguan ini tidak dapat dilepaskan dari infeksi saluran kemih. Infeksi ginjal lebih sering terjadi pada wanita, hal ini karena saluran kemih bagian bawahnya (uretra) lebih pendek dibandingkan laki-laki, dan saluran kemihnya terletak berdekatan dengan vagina dan anus, sehingga lebih cepat mencapai kandung kemih dan menyebar ke ginjal. Insiden penyakit ini juga akan bertambah pada wanita hamil dan pada usia di atas 40 tahun. Demikian pula, penderita kencing manis/diabetes mellitus dan penyakit ginjal lainnya lebih mudah terkena infeksi ginjal dan saluran kemih (Indra, 2011). b. Pielonefritis kronis Pyelonefritis kronis juga berasal dari adanya bakteri, tetapi dapat juga karena faktor lain seperti obstruksi saluran kemih dan refluk urin. Pyelonefritis kronis dapat merusak jaringan ginjal secara permanen akibat inflamasi yang berulang kali dan timbulnya parut dan dapat menyebabkan terjadinya renal failure (gagal ginjal) yang kronis. Ginjal pun membentuk jaringan parut progresif, berkontraksi dan tidak berfungsi. Proses perkembangan kegagalan ginjal kronis dari infeksi ginjal yang berulang-ulang berlangsung beberapa tahun atau setelah infeksi yang gawat.

Gambar 1. ginjal normal dan ginjal dengan pielonefritis kronis

2.2

Epidemiologi Pielonefritis adalah penyakit yang sangat umum, dengan 12-13 kasus per

tahun per 10.000 penduduk pada wanita dan 3-4 kasus per 10.000 pada pria. Dan wanita muda paling mungkin menderita penyakit ini, karena adanya aktivitas seksual. Bayi dan orang tua juga berisiko tinggi, karena adanya perubahan anatomi dan status hormonal. Pielonefritis kronis 2 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Dan pielonefritis kronis terjadi lebih sering pada bayi dan anak-anak muda dibandingkan dengan anak yang lebih tua dan orang dewasa (Indra, 2011). 2.3 Etiologi Penyebab radang pelvis ginjal yang paling sering adalah kuman (bakteri) yang berasal dari kandung kemih yang menjalar naik ke kandung kemih kemudian ke pelvis ginjal. Dimana pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. berikut ini beberapa bakteri penyebab pielonefritis diantaranya yaitu: a. Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. b. Basilus proteus dan Pseudomonas auroginosa merupakan patogen pada manusia dan merupakan penyebab infeksi pada saluran kemih. c. Klebsiella enterobacter merupakan salah satu patogen menular yang umumnya menyebabkan infeksi pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih

d. Species proteus yang pada kondisi normal ditemukan di saluran cerna,menjadi patogenik ketika berada di dalam saluran kemih. e. Enterococus mengacu pada suatu spesies streptococus yang mendiami saluran cerna dan bersifat patogen di dalam saluran kemih f. Lactobacillus adalah flora normal di rongga mulut, saluran cerna, dan vagina, dipertimbangkan sebagai kontaminan saluran kemih. Apabila ditemukan lebih dari satu jenis bakteri, maka spesimen tersebut harus dipertimbangkan terkontaminasi. Dimana hampir semua gambaran klinis disebabkan oleh endotoksemia. Tidak semua bakteri bersifat patogen disaluran perkemihan, tetapi semua bakteri tersebut ditemukan dalam sampel biakan urine. Namun, bakteri-bakteri tersebut tetap merupakan kontaminan. Penyebab lain selain yang telah disebutkan diatas yaitu obstruksi traktus urinarius yang meningkatkan kerentanan ginjal terhadap infeksi, tumor kandung kemih, striktur, hyperplasia prostatik benigna, dan batu urinarius. Selain itu kehamilan, kencing manis dan keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. 2.4 Tanda dan gejala Gejala pada klien dengan pielonefritis biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah. Selain itu, beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah biasanya sering berkemih dan nyeri ketika berkemih. Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat. Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilang-timbul atau tidak ditemukan demam sama sekali.

Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (gagal ginjal). Berikut tanda dan gejala Pielonefritis akut dan Pielonefritis kronis. a. Pielonefritis akut Pielonefritis akut ditandai dengan: 1. Adanya pembengkakan ginjal atau pelebaran penumpang ginjal. 2. Pada pengkajian di dapatkan adanya demam yang tinggi, menggigil, nausea, nyeri pada pinggang, sakit kepala, nyeri otot dan adanya kelemahan fisik. 3. Pada perkusi di daerah CVA ditandai dengan adanya tenderness. 4. Klien biasanya di sertai disuria, frequency, urgency dalam beberapa hari. 5. Pada pemeriksaan urin didapat urin berwarna keruh atau hematuria dengan bau yang tajam, selain itu juga adanya peningkatan sel darah putih. b. Pyelonefritis kronik Pyelonefritis kronik terjadi akibat infeksi yang berulang-ulang. Sehingga kedua ginjal perlahan-lahan mejadi rusak. Dimana tanda dan gejalanya sebagai berikut: 1. Adanya serangan Pyelonefritis akut yang berulang-ulang biasanya tidak mempunyai gejala yang sfesifik. 2. Adanya keletihan. 3. Sakit kepala, nafsu makan rendah dan berat badan menurun. 4. Adanya poliuria, haus yang berlebihan, azotemia, anemia, asidosis, proteinuria, pyuria, dan kepekatan urin menurun.

5. Kesehatan pasien semakin menurun, pada akhirnya pasien mengalami gagal ginjal. 6. Ketidaknormalan kalik dan adanya luka pada daerah korteks. 7. Ginjal mengecil dan kemampuan nefron menurun dikarenakan luka pada jaringan. 8. Tiba-tiba ketika ditemukan adanya hypertensi. 2.5 Patofisiologi Umumnya bakteri seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis,

Pseudomonas aeruginosa, dan Staphilococus aureus yang menginfeksi ginjal berasal dari luar tubuh yang masuk melalui saluran kemih bagian bawah (uretra), merambat ke kandung kemih, lalu ke ureter (saluran kemih bagianatas yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal) dan tibalah ke ginjal, yang kemudian menyebar dan dapat membentuk koloni infeksi dalam waktu 24-48 jam. Infeksi bakteri pada ginjal juga dapat disebarkan melalui alat-alat seperti kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih mudah menyerang ginjal bila terdapat hambatan atau obstruksi saluran kemih yang mempersulit pengeluaran urin, seperti adanya batu atau tumor. Patogenesis infeksi saluran kemih sangat kompleks, karena tergantung dari banyak faktor seperti faktor pejamu (host) dan faktor organisme penyebab. Bakteri dalam urin dapat berasal dari ginjal, ureter, vesika urinaria atau dari uretra. Beberapa faktor predisposisi pielonefritis adalah obstruksi urin, kelainan struktur, urolitiasis, benda asing, refluks. Bakteri uropatogenik yang melekat pada pada sel uroepitelial, dapat mempengaruhi kontraktilitas otot polos dinding ureter, dan menyebabkan gangguan peristaltik ureter. Melekatnya bakteri ke sel uroepitelial, dapat meningkatkan virulensi bakteri tersebut (Hanson, 1999 dalam Kusnawar, 2001). Mukosa kandung kemih dilapisi oleh glycoprotein mucin layer yang berfungsi sebagai anti bakteri. Rusaknya lapisan ini akibat dari mekanisme invasi

10

bakteri seperti pelepasan toksin dapat menyebabkan bakteri dapat melekat, membentuk koloni pada permukaan mukosa, masuk menembus epitel dan selanjutnya terjadi peradangan. Bakteri dari kandung kemih dapat naik ke ureter dan sampai ke ginjal melalui lapisan tipis cairan (films of fluid), apalagi bila ada refluks vesikoureter maupun refluks intrarenal. Bila hanya vesika urinaria yang terinfeksi, dapat mengakibatkan iritasi dan spasme otot polos vesika urinaria, akibatnya rasa ingin miksi terus menerus (urgency) atau miksi berulang kali (frequency), dan sakit waktu miksi (dysuri). Mukosa vesika urinaria menjadi edema, meradang dan perdarahan (hematuria). Infeksi ginjal dapat terjadi melalui collecting system. Pelvis dan medula ginjal dapat rusak, baik akibat infeksi maupun oleh tekanan urin akibat refluks berupa atrofi ginjal. Pada pielonefritis akut dapat ditemukan fokus infeksi dalam parenkim ginjal, ginjal dapat membengkak, infiltrasi lekosit polimorfonuklear dalam jaringan interstitial, akibatnya fungsi ginjal dapat terganggu. Pada pielonefritis kronik akibat infeksi, adanya produk bakteri atau zat mediator toksik yang dihasilkan oleh sel yang rusak, mengakibatkan parut ginjal (renal scarring) (Hanson, 1999 dalam Kusnawar, 2001). Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kalik dan pelvis ginjal juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghsilkan fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul stelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan degeneratif dan menjadi kecilserta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat berkembang menjadi gagal ginjal. 2.6 Komplikasi Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut: 1. Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah pada area medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis papila ginjal, terutama pada penderita diabetes melitus atau pada tempat terjadinya obstruksi.

11

2. Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yangdekat sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dansistem kaliks mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami pereganganakibat adanya pus. 3. Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan meluaske dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik. Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal stadium akhir (mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan jaringan parut), hipertensi, dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik disertai organisme pengurai urea, yang mangakibatkan terbentuknya batu). 2.7 Pemeriksaan Penunjang a. Pielografi antegrad dan retrograde Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat potensi ureter, bersifat invasive dan mengandung factor resiko yang cukup tinggi. Sistokopi perlu dilakukan pada refluks vesikoureteral dan pada infeksi saluran kemih berulang untuk mencari factor predisposisi infeksi saluran kemih. b. CT-scan Pemeriksaan ini paling sensitif untuk menilai adanya infeksi pada parenkim ginjal, termasuk mikroabses ginjal. Pemeriksaan ini dapat membantu untuk menunjukkan adanya infeksi pada penyakit ginjal. c. DMSA scanning Penilaian kerusakan korteks ginjal akibat infeksi saluran kemih dapat dilakukan dengan skintigrafi yang menggunakan (99mTc)

dimercaptosuccinic acid (DMSA). Pemeriksaan ini terutama digunakan untuk anak anak dengan infeksi saluran kemih akut dan biasanya ditunjang dengan sistoureterografi saat berkemih. Pemeriksaan ini 10 kali lebih sensitif untuk deteksi infeksi korteks ginjal dibanding ultrasonografi.

12

d. Pielografi intravena (PIV) Memberikan gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter, dan distorsi system pelviokalises. Untuk penderita: pria (anak dan bayi setelah episode infeksi saluran kemih yang pertama dialami).

2.8

Pengobatan Infeksi ginjal akut setelah diobati beberapa minggu biasanya akan sembuh

tuntas. Namun residu infeksi bakteri dapat menyebabkan penyakit kambuh kembali terutama pada penderita yang kekebalan tubuhnya lemah seperti penderita diabetes atau adanya sumbatan/hambatan aliran urinmisalnya oleh batu, tumor dan sebagainya. Antibiotika yang digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih terbagi dua, yaitu antibiotika oral dan parenteral. I. Antibiotika Oral a. Sulfonamida Antibiotika ini digunakan untuk mengobati infeksi pertama kali. Sulfonamida umumnya diganti dengan antibiotika yang lebih aktif karena sifat resistensinya. b. Penicillin Ampicillin adalah penicillin standar yang memiliki aktivitas spektrum luas, termasuk terhadap bakteri penyebab infeksi saluran urin. Dosis ampicillin 1000 mg dan interval pemberiannya tiap 6 jam. Amoxsicillin terabsorbsi lebih baik, tetapi memiliki sedikit efek samping. Amoxsicillin dikombinasikan dengan clavulanat lebih disukai untuk mengatasi masalah resistensi bakteri. Dosis amoxsicillin 500 mg dan interval pemberiannya tiap 8 jam. c. Cephaloporin Cephalosporin tidak memiliki keuntungan utama dibanding dengan antibiotika lain yang digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, selain

13

itu obat ini juga lebih mahal. Cephalosporin umumnya digunakan pada kasus resisten terhadap amoxsicillin dan trimetoprim-sulfametoksazol. d. Quinolon Asam nalidixic, asam oxalinic, dan cinoxacin efektif digunakan untuk mengobati infeksi tahap awal yang disebabkan oleh bakteri E. coli dan Enterobacteriaceae lain, tetapi tidak terhadap Pseudomonas aeruginosa. Ciprofloxacin ddan ofloxacin diindikasikan untuk terapi sistemik. Dosis untuk ciprofloxacin sebesar 50 mg dan interval pemberiannya tiap 12 jam. Dosis ofloxacin sebesar 200-300 mg dan interval pemberiannya tiap 12 jam. e. Nitrofurantoin Antibiotika ini efektif sebagai agen terapi dan profilaksis pada pasien infeksi saluran kemih berulang. Keuntungan utamanya adalah hilangnya resistensi walaupun dalam terapi jangka panjang. II. Antibiotika Parenteral. a. Amynoglycosida Gentamicin dan Tobramicin mempunyai efektivitas yang sama, tetapi gentamicin sedikit lebih mahal. Tobramicin mempunyai aktivitas lebih besar terhadap pseudomonas memilki peranan penting dalam pengobatan onfeksi sistemik yang serius. Amikasin umumnya digunakan untuk bakteri yang multiresisten. Dosis gentamicin sebesar 3-5 mg/kg berat badan dengan interval pemberian tiap 24 jam dan 1 mg/kg berat badan dengan interval pemberian tiap 8 jam. b. Penicillin Penicillin memilki spectrum luas dan lebih efektif untuk menobati infeksi akibat Pseudomonas aeruginosa dan enterococci. Penicillin sering digunakan pada pasien yang ginjalnya tidak sepasang atau ketika penggunaan amynoglycosida harus dihindari.

14

c. Imipenem/silastatin Obat ini memiliki spectrum yang sangat luas terhadap bakteri gram positif, negative, dan bakteri anaerob. Obat ini aktif melawan infeksi yang disebabkan enterococci dan Pseudomonas aeruginosa, tetapi banyak dihubungkan dengan infeksi lanjutan kandida. Dosis obat ini sebesar 250-500 mg ddengan interval pemberian tiap 6-8 jam. 2.9 Pencegahan Untuk membantu perawatan infeksi ginjal, berikut beberapa hal yangharus dilakukan: a. Minum banyak air (sekitar 2,5 liter ) untuk membantu pengosongankandung kemih serta kontaminasi urin. b. Perhatikan makanan (diet) supaya tidak terbentuk batu ginjal c. Banyak istirahat di tempat tidur. d. Terapi antibiotika. Untuk mencegah terkena infeksi ginjal adalah dengan memastikan tidak pernah mengalami infeksi saluran kemih, antara lain dengan memperhatikan cara membersihkan setelah buang air besar, terutama pada wanita. Senantiasa membersihkan dari depan ke belakang, jangan dari belakang ke depan. Hal tersebut untuk mencegah kontaminasi bakteri dari feses sewaktu buang air besar agar tidak masuk melalui vagina dan menyerang uretra. Pada waktu pemasangan kateter harus diperhatikan kebersihan dan kesterilan alat agar tidak terjadi infeksi.

15

16

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN PYELONEFRITIS 4.1 Pengkajian :


:

Ruangan
Tgl. / Jam MRS

Dx. Medis No. Reg.

: :

Data disamping tujuannya yaitu untuk mempermudah dalam melakukan pengenalan dan pendataan terkait pelayanan yang nantinya akan diberikan kepada pasien.

TGL/Jam Pengkajian : I. Biodata A. Identitas Klien 1. Nama/Nama panggilan :untuk membangun hubungan saling percaya

sehingga mempermudah dalam melakukan asuhan keperawatan 2. Tempat tgl lahir/usia :untuk membantu melakukan pengukuran dosis dalam pemberian medikasi atau pengobatan. 3. Jenis kelamin :wanita (karna uretra pada wanita lebih pendek daripada laki-laki) 4. Agama :untuk mengkaji status spiritual sehingga kebutuhan baik fisik, psikis dan spiritual dapat dipenuhi 5. Pendidikan :tingkat pendidikan berpengaruh terhadap personal hygiene dan tindakan pencegahan terhadap

pielonefritis oleh penderita. 6. Alamat :untuk mengkaji status lingkungan tempat tinggal yang mungkin mempengaruhi keadaan sakitnya 7. Tgl masuk :untuk melihat bagaimana perkembangan status kesehatannya dari hari ke hari semakin baik atau buruk selama dilakukan perawatan.

17

8. Tgl pengkajian

:untuk memastikan perkembangan status kesehatan pada saat itu.

9. Diagnosa medik

:untuk mengetahui penyakit apa yang diderita oleh pasien

10. Rencana terapi

:Pemberian obat untuk mengurangi demam dan nyeri dan pemberian obat-obat anti mikrobial seperti trimethroprim-sulfamethoxazole SMZ,Septra), gentamycin dengan atau (TMFtanpa

ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro) selama 14 hari. B. Identitas Orang tua 1. Ayah a. Nama :untuk membina hubungan saling percaya sehingga saat mendekati anak dapat lebih mudah. b. U s i a :

c. Pendidikan :untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman orang tua akan penyakit yang menimpa anaknya. d. Pekerjaan/sumber penghasilan e. A g a m a :mengkaji aspek : spiritual yang mungkin anaknya

sebelumnya pernah dibawa ke pengobatan alternatif. f. Alamat :untuk mengkaji status lingkungan tempat tinggal yang

mungkin mempengaruhi keadaan sakitnya.

18

2. Ibu a. N a m a : b. U s i a : : Sama dengan kondisi dan penjelasan pada ayah.

c. Pendidikan

d. Pekerjaan/Sumber penghasilan: e. Agama : f. Alamat :

C. Identitas Saudara Kandung No

NAMA

USIA

HUBUNGAN

STATUS KESEHATAN

Identitas saudara kandung sangat diperlukan karena saudara kandung merupakan salah satu orang yang mungkin dekat dengan pasien. Status kesehatan dari saudara kandung diperlukan untuk mengetahui keterkaitan penyakit pielonefritis pada klien, seperti klien terinfeksi Escherichia coli atau bakteri lain dari saudara kandungnya. II. Riwayat Kesehatan A. Riwayat Kesehatan Sekarang : Keluhan Utama :

berdasarkan dari tinjauan teori bahwasannya keluahan utama yang umumnya muncul pada anak dengan pielonefritis yaitu demam tinggi dan menggigil, mual-muntah, lemah, rewel dan terkadang anak yang sudah

19

bisa mengungkapkan sesuatu, mengeluh sakit (nyeri) di daerah perut dan pinggang, sering berkemih dan nyeri saat berkemih. Riwayat Keluhan Utama :

Terdapat 4 unsur utama dalam anamnesis riwayat penyakit sekarang, yakni: (1) kronologi atau perjalanan penyakit, (2) gambaran atau deskripsi keluhan utama, (3) keluhan atau gejala penyerta, dan (4) usaha berobat. Kronologis atau perjalanan penyakit dimulai saat pertama kali pasien merasakan munculnya keluhan atau gejala penyakitnya. Setelah itu ditanyakan bagaimana perkembangan penyakitnya apakah cenderung menetap, berfluktuasi atau bertambah lama bertambah berat sampai akhirnya datang mencari pertologan medis. Keluhan Pada Saat Pengkajian : Keluhan yang umum akan keluar saat pengkajian yaitu demam yang tinggi, menggigil, nyeri di pada pinggang, nausea, sakit kepala, nyeri otot, dan adanya kelemahan fisik. Pada perkusi di daerah CVA ditandai dengan adanya tenderness. B. Riwayat Kesehatan Lalu (khusus untuk anak usia 0 5 tahun) 1. Prenatal care Merupakan keadaan anak atau bayi saat masih dalam kandungan. Penyakit pielonefritis ini bermula dari infeksi bakteri Escherichia coli, Basilus proteus dan Pseudomonas auroginosa. Meskipun kebanyakan penyakit ini menyerang anak-anak, tidak menutup kemungkinan calon ibu sudah mengalami infeksi Escherichia coli sehingga menyebabkan bayi premature.

20

2. Natal a. Tempat melahirkan : bayi bisa terinfeksi oleh bakteri Escherichia coli di rumah misalnya saja melahirkan di dukun bayi yang personal higienenya kurang sehingga bayi dapat terinfeksi dikarenakan tingkat sistem kekebalan tubuh bayi masih rendah. b. Jenis persalinan : . c. Penolong persalinan : bukan petugas medis (dukun bayi) sehingga alat yang digunakan untuk membantu persalinan tidak terjamin kesterilannya. d. Komplikasi yang dialami oleh ibu pada saat melahirkan dan setelah melahirkan : diduga ibu bayi mempunyai riwayat pielonefritis sehingga Escherichia coli yang merupakan flora normal di vagina dan rektum akan menginfeksi bayi dengan cara bakteri dari vagina naik dan masuk kedalam rongga amnion setelah ketuban pecah.

3. Post natal a. Kondisi bayi : prematur karena infeksi bakteri menyebabkan pertumbuhan janin terhambat (Kusnawara, 2001). APGAR b. Anak pada saat lahir tidak mengalami (Untuk semua Usia) o Klien pernah mengalami penyakit o pada umur : o diberikan obat oleh : . o Riwayat kecelakaan : :

21

o Riwayat mengkonsumsi obat-obatan berbahaya tanpa anjuran dokter dan menggunakan zat/subtansi kimia yang berbahaya : o Perkembangan ............................ C. Riwayat Kesehatan Keluarga Genogragram Ket : genogram digunakan untuk melihat apakah keluarga memiliki riwayat penyakit serupa atau tidak. III. Riwayat Immunisasi (imunisasi lengkap) Waktu pemberian Reaksi setelah pemberian anak dibanding saudara-saudaranya :

NO

Jenis immunisasi

Frekuensi

Frekuensi

1. 2. 3. 4. 5.

BCG DPT (I,II,III) Polio (I,II,III,IV) Campak Hepatitis Imunisasi berfungsi sebagai penunjang sistem pertahanaan tubuh, sehingga

apabila seorang anak tidak diberikan imunisasi tepat pada usianya maka anak tersebut dapat beresiko tinggi terserang bakteri-bakteri patogen yang dapat memicu terjadinya penyakit pielonefritis. IV. Riwayat Tumbuh Kembang A. Pertumbuhan Fisik 1. Berat badan: pada anak mengalami penurunan BB akibat nafsu makan menurun yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung sehingga terjadi mual-muntah.

22

2.

Tinggi badan: pada anak mengalami peningkatan

B. Waktu tumbuh gigi , C. Perkembangan Tiap tahap V. Riwayat Nutrisi A. Pemberian ASI Pemberian ASI pada setiap anak yang baru dilahirkan dapat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dari serangan bakteri maupun virus. Asi eksklusif selama 6 bulan dapat mempengaruhi status nutrisi anak, karena dalam asi juga terkandung zat nutrisi yang dibutuhkan oleh anak untuk
perkembangan yang sehat dan memberikan antibody terhadap penyakit.

B. Pemberian susu formula 1. Alasan pemberian 2. Jumlah pemberian 3. Cara pemberian : : :

Pemberian susu formula memang dapat memberikan nutrisi pada anak, tetapi tidak dapat menandingi besarnya nutrisi yang di dapat dari ASI. Sehingga perlu ditanyakan pula apakah anak telah mendapatkan ASI ekslusif atau hanya diberikan susu formula saja VI. Riwayat Psikososial o Anak tinggal bersama : ................................. o Lingkungan berada di : ................................................ o Rumah dekat dengan : ................................................, o tempat bermain ............... o kamar klien :........................................... o Rumah ada tangga : ................................................. o Hubungan antar anggota keluarga : ............................................... ................................................ di :

23

o Pengasuh anak Riwayat psikososial pada anak-anak dengan pielonefritis perlu menjadi perhatian, misalnya saja peran keluarga atau pola asuh dalam keluarga juga dapat mempengaruhi perkembangan kesehatan anak, sehingga keluarga seharusnya menjadi support system dalam proses pengobatan anak. Anak yang tidak dibesuk oleh teman-temannya karena jauh dan lingkungan perawatan yang baru serta kondisi kritis akan menyebabkan anak banyak diam atau rewel. VII. Riwayat Spiritual Support sistem dalam keluarga : Kegiatan keagamaan : Spiritual yang baik dapat meningkatkan keyakinan keluarga terhadap kesembuhan anak, hubungan yang baik dan saling mengasihi antar anggota keluarga juga menjadi dukungan yang baik bagi kesembuhan anak. VIII. Reaksi Hospitalisasi A. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap - Ibu membawa anaknya ke RS karena : - Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak : - Perasaan orang tua saat ini : - Orang tua selalu berkunjung ke RS : - Yang akan tinggal dengan anak : Pengalaman keluarga terhadap sakit dan hospitalisasi berpengaruh terhadap perasaan cemas pada anak dan keluarga. Biasanya orang yang tidak pernah menjalani hospitalisasi cenderung lebih cemas dibandingkan yang tidak pernah. Anak paling dekat dengan keluarga atau orang tua, sehingga mimiliki ikatan batin

24

yang kuat. Sehingga perasaan orang tua yang cemas juga berdampak pada ketenangan anak saat proses pengobatan di rumah sakit. B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap IX. Aktivitas sehari-hari A. Nutrisi Kondisi 1. Selera makan Sebelum Sakit Normal Saat Sakit Adanya mual, muntah dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat. BB mengalami penurunan

B. Cairan Kondisi 1. Jenis minuman 2. Frekuensi minum 3. Kebutuhan cairan 4. Cara pemenuhan Sebelum Sakit Normal Saat Sakit

C. Eliminasi (BAB&BAK) Kondisi 1. Tempat pembuangan 2. Frekuensi (waktu) 3. Konsistensi 4. Kesulitan 5. Obat pencahar Sebelum Sakit Normal Saat Sakit Eliminasi alvi tidak ada gangguan. Namun pada eliminasi uri terdapat gangguan, dimana penderita cenderung lebih sering melakukan proses mixi dan merasakan kesakitan yag sangat hebab saat akan mengeluarkan urin.

25

D. Istirahat tidur Kondisi 1. Jam tidur Siang Malam Sebelum Sakit Normal Saat Sakit Mengalami perubahan pola tidur dikarenakan terjadi peningkatan suhu dan adanya nyeri akut

2. Pola tidur 3. Kebiasaan sebelum tidur 4. Kesulitan tidur E. Olah Raga

Pada anak yang menderita pielonefritis mengalami kelemahan akibat penurunan kontraktilitas otot F. Personal Hygiene Kondisi 1. Mandi - Cara - Frekuensi - Alat mandi 2. Cuci rambut - Frekuensi - Cara 3. Gunting kuku - Frekuensi - Cara 4. Gosok gigi - Frekuensi - Cara Sebelum Sakit Pada saat sebelum sakit kemungkinan personal hygine kurang terpenuhi dengan baik sehingga terdapat bakteri dalam tubuh Saat Sakit Ketika sakit sebaiknya kebersihan anak perlu dijaga dengan baik utamanya pada organ intim supaya tidak ada lagi bakteri yang mempengaruhi kesehatannya

26

G. Aktifitas/Mobilitas Fisik Kondisi 1. 2. Kegiatan sehari-hari Pengaturan jadwal harian 3. Penggunaan alat Bantu aktifitas 4. Kesulitan pergerakan tubuh Sebelum Sakit Sebelum sakit anak dapat melakukan aktifitasnya sehari-hari tanpa adanya kesulitan dalam pergerakan tubuhnya. Saat Sakit Pada klien dengan kelemahan akibat penurunan kontraktilitas otot.

X. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum : lemah 2. Kesadaran : Composmetis 3. Tanda tanda vital : a. Tekanan darah : biasanya akan mengalami hypertensi b. Denyut nadi : meningkat c. Suhu : suhu tubuh meningkat di atas 37,5o C
d. Pernapasan

: frekuensi pernapasan meningkat di atau 24x/menit

4. Berat Badan : mengalami penurunan atau kurang dari normal (bayi baru lahir 3,25 Kg, usia 12 bulan 10,5 Kg) 5. Tinggi Badan : tidak mengalami kelainan 6. Kepala Inspeksi Keadaan rambut & Hygiene kepala a. b. c. d. Warna rambut Penyebaran Mudah rontok Kebersihan rambut hygine yang di lakukan : : hitam : penyebaran rambut merata : tidak mudah rontok :bersih/tergantung personal

Palpasi: tidak ditemukan kelainan

27

7. Muka Inspeksi a. Simetris / tidak b. Bentuk wajah c. Gerakan abnormal d. Ekspresi wajah Palpasi Nyeri tekan / tidak Data lain 8. Mata Inspeksi a. b. c. d. Pelpebra Sclera Conjungtiva Pupil : tidak ada edema : tidak ikterus (putih) : Anemis : - Isokor - Myosis / midriasis - Refleks pupil terhadap cahaya : ada (+) e. f. g. h. i. j. Posisi mata : Simetris Gerakan bola mata Penutupan kelopak mata Keadaan bulu mata Keadaan visus Penglihatan : normal : normal : normal : normal : normal : simetris : normal : tidak ada : meringis kesakitan : tidak ada nyeri tekan :

Palpasi Tekanan bola mata Data lain 9. Hidung & Sinus Inspeksi a. b. c. d. Posisi hidung : simetris Bentuk hidung : simetris Keadaan septum : normal Secret / cairan : terdapat cairan, jika anak mengalami infeksi saluran napas akibat Klebsiella enterobacter Data lain :: Tidak ada :-

28

10. Telinga Inspeksi a. b. c. d. Posisi telinga Ukuran / bentuk telinga Aurikel Lubang telinga personal hygiene anak e. Pemakaian alat bantu Palpasi Nyeri tekan / tidak 11. Mulut Inspeksi a. Gigi - Keadaan gigi : meliputi kebersihan gigi, warna gigi yang tergantung dari personal hygiene anak - Karang gigi / karies : ada tidaknya karies, tergantung dari personal hygiene anak - Pemakaian gigi palsu : b. Gusi Merah / radang / tidak c. Lidah Kotor / tidak : terdapat nyeri tekan pada area CVA : normal : normal : normal : Bersih / serumen, tergantung dari :-

: tidak terjadi peradangan : tergantung dari kebersihan diri pasien

d. Bibir - Cianosis / pucat / tidak : pucat - Basah / kering / pecah : kering, kemungkinan diakibatkan oleh adanya hipertermi dan polyuria yang tidak diimbangi oleh asupan cairan. - Mulut berbau / tidak :- Kemampuan bicara :Data lain :12. Tenggorokan a. Warna mukosa b. Nyeri tekan c. Nyeri menelan :merah : tidak ada : tidak ada

29

13. Leher Inspeksi Kelenjar thyroid Palpasi a. Kelenjar thyroid b. Kaku kuduk / tidak c. Kelenjar limfe Data lain : Teraba :: : : normal/ tidak terjadi pembesaran

14. Thorax dan pernapasan a. Bentuk dada b. Irama pernafasan c. Pengembangan di waktu bernapas sempurna d. Tipe pernapasan Data lain Palpasi a. Vokal fremitus b. Massa / nyeri Auskultasi a. Suara nafas b. Suara tambahan 15. Jantung Palpasi Ictus cordis Perkusi Pembesaran jantung

:simetris
: teratur

: simetris/ mengembang : normal :-

: simetris bilateral : tidak ada :Vesikuler : tidak ada

: tidak ada

: tidak ada, suara jantung redup

Auskultasi a. BJ I b. BJ II c. BJ III d. Bunyi jantung tambahan Data lain : normal : normal :: tidak ada :-

30

16. Abdomen Inspeksi a. Membuncit b. Ada luka / tidak Palpasi a. Hepar b. Lien c. Nyeri tekan : tidak teraba : tidak teraba : tidak ada nyeri tekan : tidak membuncit : tidak terdapat luka

Auskultasi Peristaltik Perkusi a. Tympani abdomen b. Redup Data lain : tympani pada seluruh area ::: normal 5-35x/menit

17. Genitalia dan Anus : Periksa kebersihan dari genitalia dan anus, adakah luka ataupun cairan yang keluar dari genitalia 18. Ekstremitas Ekstremitas atas a. Motorik - Pergerakan kanan / kiri dikarenakan metabolisme yang tidak tidak dapat melakukan fungsinya. - Pergerakan abnormal - Kekuatan otot kanan / kiri - Tonus otot kanan / kiri - Koordinasi gerak b. Refleks - Biceps kanan / kiri - Triceps kanan / kiri c. Sensori - Nyeri iritabilitas terhadap rangsang nyeri - Rangsang suhu - Rasa raba : pergerakan tangan lemah optimal menyebabkan otot : tidak ada : normal : normal : normal : normal : normal : lebih sensitif atau terjadi : normal : normal

31

19. Status Neurologi. Saraf saraf cranial a. Nervus I (Olfactorius) : penghidu : normal b. Nervus II (Opticus) : Penglihatan : normal c. Nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlearis, Abducens) - Konstriksi pupil : normal - Gerakan kelopak mata : simetris bilateral - Pergerakan bola mata : simetris/normal - Pergerakan mata ke bawah & dalam : normal d. Nervus V (Trigeminus) - Sensibilitas / sensori : lebih sensitif terhadap rangsang nyeri - Refleks dagu : positif - Refleks cornea : positif e. Nervus VII (Facialis) - Gerakan mimik : normal - Pengecapan 2 / 3 lidah bagian depan : normal f. Nervus VIII (Acusticus) Fungsi pendengaran : normal g. Nervus IX dan X (Glosopharingeus dan Vagus) - Refleks menelan : normal - Refleks muntah : normal - Pengecapan 1/3 lidah bagian belakang : normal - Suara : normal h. Nervus XI (Assesorius) - Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan : dapat dilakukan/ normal - Mengangkat bahu : dapat dilakukan/ normal i. Nervus XII (Hypoglossus) - Deviasi lidah : normal Tanda tanda perangsangan selaput otak a. Kaku kuduk b. Kernig Sign c. Refleks Brudzinski d. Refleks Lasegu Data lain pemeriksaan reflek : tidak ada kelainan : negatif : negatif : negatif :-

32

XI. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan (0 6 Tahun ) Dengan menggunakan DDST 1. Motorik kasar Pada motorik kasar, umumnya anak dengan pielonefritis akan mengalami kelemahan, sehingga aspek dari motorik kasar mungkin akan terlambat untuk dilalui (delayed) atau mungkin tidak dapat dilalui (failed) jika telah masuk ke tahap kronis. 2. Motorik halus 3. Bahasa 4. Personal social Pada umumnya tidak mengalami kemunduran yang berarti dalam ketercapaian dari masingmasing aspek di samping.

XII. Test Diagnostik A. Laboratorium Pada pemeriksaan darah dijumpai kadar ureum dan kreatinin meningkat. Pada pemeriksaan urinalisis ditemukan leukosit. Pada pemeriksaan imunologi didapatkan bakteri uri yang diselubungi antibodi (Kusnawara, 2001). XIII. Terapi saat ini (ditulis dengan rinci)
o o o o

Ampicillin 1000 mg dan interval pemberiannya tiap 6 jam Amoxsicillin 500 mg dan interval pemberiannya tiap 8 jam Ciprofloxacin sebesar 50 mg dan interval pemberiannya tiap 12 jam Ofloxacin sebesar 200-300 mg dan interval pemberiannya tiap 12 jam

33

4.2

Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi dan infeksi pada sistem urinaria yang ditandai dengan anak rewel, mengeluh nyeri pada bagian pinggang, suhu tubuh meningkat, leokosit meningkat. 2. Gangguan eliminasi urinarius berhubungan dengan infeksi pada saluran kemih yang di tandai dengan sering berkemih, jumlah volumen urin residu yang banyak. 3. Hipertermia berhubungan dengan proses peradangan atau infeksi yang ditandai dengan anak terlihat rewel, suhu tubuh meningkat.. 4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan laju metabolik (demam) dan pengeluaran cairan yang berlebih (poliuri) yang di tandai dengan anak terlihat lemas, frenkuensi berkemih meningkat 5. Nausea (mual) berhubungan dengan peningkatan asam lambung. 6. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan peningkatan asam lambung yang di tandai dengan mual-muntah, nafsu makan menurun, penurunan berat badan. 7. Intoleransi aktifitas yang berhubugan dengan penurunan kontaktilitas otot yang ditandai dengan anak terlihat lemah, aktifitas dan proses mobilitas menurun 8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan yang lama (hipertermi, nyeri akut).

4.3 1.

Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi dan

infeksi pada sistem urinaria yang ditandai dengan anak rewel, mengeluh nyeri pada bagian pinggang, perubahan pola tidur, suhu tubuh meningkat, leokosit meningkat. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nyaman dan nyerinya berkurang. Kriteria Hasil :Tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih, kandung kemih tidak tegang, tenang, tidak mengekspresikan nyeri

34

secara verbal atau pada wajah, tidak ada posisi tubuh, tidak ada kegelisahan, tidak ada kehilangan nafsu makan.

No 1

Intervensi Pantau intensitas, lokasi, dan factor Rasa yang memperberat nyeri

Rasional sakit yang hebat

atau menandakan adanya infeksi (misal:

meringankan

meminta anak untuk menunjukkan area yang sakit)

Berikan waktu istirahat yang cukup Klien

dapat

istirahat

dengan

dan tingkat aktivitas yang dapat di tenang dan dapat merilekskan toleran. otot otot

Anjurkan minum banyak 2-3 liter Untuk membantu klien dalam jika tidak ada kontra indikasi berkemih

Pantau haluaran urine terhadap Untuk mengidentifikasi indikasi perubahan warna, bau dan pola kemajuan atau penyimpangan

berkemih, masukan dan haluaran dari hasil yang di harapkan setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang

Berikan tindakan nyaman, seperti Meningkatkan relaksasi, pijatan istirahat punggung, lingkungan menurunkan tegangan otot

Berikan perawatan parineal

Untuk mencegah kontaminasi uretra

Berikan analgesic sesuia kebutuhan Analgesic dan evaluasi keberhasilannya

memblok

lintasan

nyeri sehingga mengurangi nyeri

35

Berikan antibiotic. Buat berbagi Akibat

dari

haluran berkemih

urin sering

variasi sediaan minum, termasuk memudahkan

air segar. Pemberian air sampai dan membantu membilas saluran 2400 ml/hari berkemih

2. Diagnosa 2 : Gangguan eliminasi urinarius berhubungan dengan infeksi pada saluran kemih yang di tandai dengan sering berkemih, jumlah volumen urin residu yang banyak. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pola eliminasi urine pasien kembali optimal Kriteria Hasil: Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria). No 1 Intervensi Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urin. Rasional Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi.

Kaji keluhan kandung kemih penuh.

Retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan (kandungan kemih/ginjal).

Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin.

Pengawasan terhadap disfungsi ginjal.

Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin.

Asam urin menghalangi tumbuhnya kuman Antibiotik mengatasi infeksi

Berikan antibiotic

36

3. Diagnosa 3

: Hipertermia berhubungan dengan proses peradangan atau

infeksi yang ditandai dengan anak terlihat rewel, suhu tubuh meningkat (380 C), kulit hangat dan menggigil. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam demam pasien berkurang Kriteria Hasil : suhu tubuh kembali normal, nafas normal, suhu kulit lembab, dan hilangnya rasa mual

No 1

Intervensi

Rasional

Pantau suhu pasien (derajat dan Suhu 38,90 41,10 C menunjukkan pola) ; perhatikan ada tidaknya proses penyakit infeksius akut menggigil atau diaforesis. Suhu ruangan atau jumlah selimut

Pantau suhu lingkungan, batasi atau harus diubah untuk mempertahankan tambahkan linen tempat tidur, suhu mendekati normal. Dapat demam membantu mengurangi

sesuai indikasi

Berikan kompres hangat

Agar orang tua tidak terlalu khawatir dengan apa yang terjadi pada anak

Jelaskan kepada orang tua bahwa demamadalah tindakan perlindungan dan tidak berbahaya kecuali 4 demam tinggi (misal > 41,1 . 0 C) Digunakan untuk mengurangi

demam dengan aksi sentralnya pada hipotelamus. mungkin Meskipun berguna demam dalam

Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen (tylenol)

dapat

membatasi pertumbuhan organisme. Dan meningkatkan autodestruksi

dari sel-sel yang terinfeksi

37

4. Diagnosa 4 : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan laju metabolik (demam) dan pengeluaran cairan yang berlebih (poliuri) yang di tandai dengan anak terlihat lemas, frenkuensi berkemih meningkat Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat Kriteria hasil : tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih, memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam. No 1 Intervensi Ukur dan catat urine setiap kali berkemih Rasional Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/output 3 Tempatkan pasien pada posisi telentang/tredelenburg sesui kebutuhan 4 Pantau mambran mukosa kering, torgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus 5 Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi Menurun karena anemia, hemodilusi atau kehilangan darah aktual. 6 ~ Berikan cariran IV (contoh, garam ~ Untuk menambah volume cairan faal)/ volume ekspender (contoh albumin) selama dialisa sesuai idikasi Hipovolemia akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi Memaksimalkan aliran balik vena bila terjadi hipotensi

38

4.4 Implementasi No
1.

Diagnosa Nyeri akut

Implementasi 1. Telah dipantau faktor yang intensitas, lokasi, dan memperberat atau

berhubungan dengan proses inflamasi dan infeksi pada sistem urinaria yang

meringankan nyeri (misal: meminta anak untuk menunjukkan area yang sakit) 2. Telah diberikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran. 3. Telah dianjurkan orang tau untuk

ditandai dengan anak rewel, mengeluh

nyeri pada bagian pinggang, perubahan pola tidur, tubuh suhu

memberikan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi kepada anak 4. Telah dipantau haluaran urine terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang 5. Telah diberikan pijatan punggung 6. Telah diberikan perawatan parineal 7. Telah diberikan dan analgesic sesuia

meningkat,

leokosit meningkat.

kebutuhan keberhasilannya

mengevaluasi

8. Telah diberikan antibiotic


2.

Gangguan urinarius

eliminasi 1. Telah diawasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urin.

berhubungan dengan 2. Telah dimotivasi orang tua untuk infeksi pada saluran kemih yang di tandai dengan berkemih, meningkatkan pemasukan cairan pada anak

sering 3. Telah dikaji keluhan kandung kemih jumlah penuh.

39

volumen urin residu 4. Telah diawasi pemeriksaan laboratorium; yang banyak. elektrolit, BUN, kreatinin. 5. Telah diberikan antibiotic
3.

Hipertermia berhubungan dengan proses atau peradangan infeksi

1. Telah dipantau suhu pasien (derajat dan pola) ; memperhatikan ada tidaknya menggigil pada anak.

yang 2. Mantau suhu lingkungan, membatasi atau menambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi

ditandai dengan anak terlihat rewel, suhu

tubuh meningkat (380 3. Memberikan kompres hangat C), kulit hangat dan 4. Menjelaskan kepada orang tua bahwa menggigil. demam adalah tindakan perlindungan dan tidak berbahaya kecuali demam tinggi (misal > 41,10 C) 5. Memberikan antipiretik, misalnya ASA

(aspirin), asetaminofen (tylenol) 4 Resiko volume kekurangan cairan 1. Mengukur dan mencatat volume urine setiap kali berkemih 2. Menempatkan pasien pada posisi telentang atau tredelenburg sesuia kebutuhan 3. Memantau mambran mukosa kering, torgor kulit yang kurang baik, dan adanya rasa haus 4. Mengawasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi 5. Memberikan cariran IV (contoh, garam faal)/ volume ekspender (contoh albumin) selama dialisa sesuai idikasi

berhubungan dengan peningkatan laju

metabolik (demam) dan pengeluaran

cairan yang berlebih (poliuri) yang di

tandai dengan anak terlihat lemas,

frenkuensi berkemih meningkat

40

4.5

Evaluasi

Diagnosa 1 S: - Pasien mengatakan, Sus, saya sudah tidak nyeri lagi - Keluarga pasien mengatakan bahwa anak sudah tidak rewel lagi O: 1. Pasien tampak tidak kesakitan 2. Pasien terlihat tenang dan nyaman dengan kondisinya A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan Diagnosa 2 S: Keluarga pasien mengatakan, sus, anak saya sudah tidak sering kencing, kencingnya sudah seperti sebelum sakit O: 1. Pola eliminasi membaik 2. Tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria, poliuri) tidakj terlihat A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan Diagnosa 3 S: - Kelurga pasien mengatakan Anak saya sudah ngak panas lagi setelah minum obat tadi sustet - Pasien mengatakan Badan saya sudah ngak panas dokter O: 1. suhu tubuh normal (36,50 C) 2. nafas normal (RR= 24x/menit) 3. kulit lembab A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan

41

Diagnosa 4 S: - Keluarga pasien mengatakan Anak saya sudah ngak panas lagi setelah minum obat tadi sustet - Keluarga pasien mengatakan, Sus, anak saya sudah tidak sering kencing, kencingnya sudah seperti sebelum sakit O: - Pola eliminasi membaik - Suhu dalam rentang normal - Turgor kulit membaik A: Masalah teratasi P: Hentikan intervensi

42

BAB 5. PENUTUP

5.1

Kesimpulan Pielonefritis adalah inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang

disebabkan karena adanya infeksi oleh bakteri. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis. Penyebab radang pelvis ginjal yang paling sering adalah kuman (bakteri) yang berasal dari kandung kemih yang menjalar naik ke kandung kemih kemudian ke pelvis ginjal. Gejala pada klien dengan pielonefritis biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah.

5.2

Saran Untuk perawat diharapkan dapat meningkatkan kualitas asuhan

keperawatan pada klien dengan pielonefritis. Untuk klien dan keluarga diharapkan dapat melakukan pengobatan secara optimal untuk kesembuhan penyakitnya. Untuk mahasiswa agar lebih memahami tentang pielonefritis agar dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan pielonefritis secara optimal.

43

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC Indra, Ibaadi. 2011. Infeksi Saluran Kemih-Pielonefritis. http://ibaadi.com/2011/09/infeksi-saluran-kemih-pielonefritis.html (12 September 2013)

Kusnawar, Yanto. 2001. Hubungan Infeksi Saluran Kemih dengan Partus Prematurus. Tesis NANDA. 2011. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi. 2009-2011. Jakarta: EGC. Sloane Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC. Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Brunner & Suddarth Edisi 8 Bedah Volume 2. Jakarta: . EGC. Tambayong, jan. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keprawatan. Edisi 7. Jakarta : EGC