Anda di halaman 1dari 16

Tinjauan Pustaka

INTOKSIKASI KOKAIN

Oleh : M. Ikhya Ulumuddin I1A008083

Pembimbing : dr. Dwi Setyohadi

BAGIAN/SMF ILMU KEDOKTERAN DAN FORENSIK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM

BANJARMASIN
November, 2013

BAB I PENDAHULUAN

I.

PENDAHULUAN Kokain adalah zat adiktif yang tergolong stimulansia terhadap susunan

saraf pusat dan sering disalahgunakan, disamping amfetamin, kafein dan efedrin. Umumnya kokain diperdagangkan secara ilegal dan dicampur dengan berbagai zat. Kokain dapat digunakan dengan cara mengendus melalui lubang hidung (snorting), menyuntik, merokok dengan kokain, atau diabsorbsi melalui mukosa. Potensi ketergantungannya dikaitkan dengan rute penggunaannya. Potensi terbesar ketergantungan ditimbulkan, bila dilakukan dengan cara suntikan atau merokok dalam bentuk kokain murni (freebase). Bentuk murni kokain dikenal dengan sebutan crack yang dijual untuk penggunaan tunggal dan dirokok. Murahnya biaya dosis tunggal crack dan selalu tersedianya crack dipasaran sebagai bahan siap pakai, merupakan peluang untuk memudahkan penyebaran kokain di daerah urban. Meningkatnya penggunaaan crack di daerah urban tersebut sangat erat kaitannya dengan terjadinya tindak kekerasan dan kriminal. 1 Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, di mana daun dari tanaman belukar dikunyah-kunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulant. Kokain dikonsumsi dalam beberapa preparat (misalnya Daun coca, Pasta coca, kokain hidroklorida, dan kokain alkaloid) yang memiliki perbedaan potensi tergantung level pemurnian dan kecepatan onset. Kokain merupakan

bahan aktif dalam tiap preparat. Alkaloid kokain pertama kali diisolasi pada tahun 1860 dan pertama kali digunakan sebagai anestetik local di tahun 1880. Sampai sekarang kokain masih digunakan sebagai anestetik local khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorok karena efek vasokonstriksinya juga membantu. 2,3 Preparat kokain yang biasanya digunakan di Amerika adalah crack, merupakan kokain alkaloid yang diekstrak dari kristal hidroklorida yang di buat menjadi bubuk kemudian dicampur dengan sodium bikarbonat dan

membiarkannya mengering menjadi butiran-butiran kecil/ small rocks. Crack berbeda dengan preparat kokain lainnya terutama karena mudah diuapkan dan di hisap dan begitu pula dengan efeknya yang memiliki onset yang sangat cepat. Gejala klinik dan efek samping yang berhubungan dengan penggunaan crack tergantung dari dosis dari tiap preparat kokain. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI Kokain adalah senyawa sintesis yang memicu metabolisme sel menjadi

sangat cepat. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tumbuhan koka atau Erythroxylon coca atau sintesis dari ergonin. Tumbuhan ini berasal dari Amerika Selatan. Daunnya biasa dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan. Garam hidroklorit merupakan anestesi lokal yang efektif yang digunakan pada konsentrasi 10-200 g/L, tetapi secara wajar hanya digunakan secara topikal karena resiko toksisitas sistemik jika diberikan melalui jalur pemberian lain. Saat ini kokaina masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriksif-nya juga membantu. Kokaina diklasifikasikan sebagai suatu narkotika, bersama dengan morfina dan heroina karena efek adiktif.

II.

EPIDEMIOLOGI Menurut data Rumah Sakit Ketergantungan Obat, sebanyak 72 pasien

yang dikirim untuk psikoterapi terdiri atas 94,4% laki-laki dan sisanya perempuan; 90,28% belum menikah, 6,94% sudah menikah, dan 2,78 telah cerai; 94,4% merokok tembakau, 81,8% minum alkohol; 77,78% mengisap ganja, 81,72% memakai obat tidur, 19,4% memakai psikostimulan, dan 19,1% mengonsumsi opioid. Menurut National Survey on Drug Use & Health di Amerika tahun 2002, diperkirakan sekitar dua juta penduduk Amerika merupakan

pengguna kokain. Perkiraan pengguna crack sekitar 567.000 penduduk. Sekitar 3,5% pria dan 1,6% wanita pernah menggunakan kokain sedikitnya sekali pada tahun 2002. Pengguna kokain sekitar 0,4% umur 12-17 tahun, 6,7% pada dewasa muda usia 18-25 tahun, dan 1,8% dewasa usia 26 tahun ke atas. 3

III.

TANDA-TANDA DAN GEJALA KLINIS Kokain digunakan karena secara karakteristik menyebabkan elasi, euforia,

peningkatan harga diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. Kokain dalam dosis rendah dapat disertai dengan perbaikan kinerja pada beberapa tugas kognitif. 4 1. Intoksikasi kokain Intoksikasi kokain adalah sindrom mental organik yang terjadi beberapa menit sampai satu jam setelah menggunakan kokain. Sindrom tersebut dapat menyebabkan gangguan fisik dan perilaku. Lamanya kerja kokain dalam tubuh sangat singkat, eliminasi waktu paruh kokain hanya satu jam. Kecuali pada kasuskasus overdosis, sebagian besar kokain sudah hilang dari tubuh pada saat pasien masuk ke ruang gawat darurat atau kamar praktek dokter. Pengaruh kokain pada fisik dan perilaku akibat intoksikasi memerlukan tindakan segera. 1 Tanda-tanda klinis: 1,3,4

Takhikardia Dilatasi pupil, midriasis Meningkatnya tekanan darah Berkeringat, panas dingin Tremor

Mual, muntah Meningkatnya suhu badan, nadi aritmia Halusinasi visual atau taktil Sinkope Nyeri dada Dan bila overdosis maka dapat terjadi kejang, tertekannya pernapasan, koma dan meninggal.

Gejala gejala klinis meliputi: 1,3,4


Euforia, disforia Agitasi psikomotor Agresif dan menantang berkelahi Waham paranoid Halusinasi Delirium Eksitasi Penilaian realita yang kurang wajar (poor judgement), gangguan fungsi sosial dan okupasional

Meningkatnya kewaspadaan dan aktivitas bergerak terus menerus, memaksakan keinginan, banyak berbicara

Mulut kering Meningkatnya kepercayaan diri Selera makan kurang Grandiositas

Perilaku repetitif dan stereotipik Panik Keadaan putus kokain Umumnya tidak ada tanda-tanda klinis keadaan putus kokain yang tepat

2.

untuk menggambarkan perubahan fisiologis yang terjadi setelah penghentian penggunaan berat kokain. Gejala-gejala klinis keadaan putus kokain ditandai dengan adanya perasaan disforik yang menetap selama lebih dari 24 jam setelah menurunnya konsumsi kokain dan diikuti gejala-gejala berikut: 1,3,4

Keletihan (fatigue) Insomnia atau hipersomnia Agitasi psikomotor Ide-ide bunuh diri dan paranoid Mudah tersinggung atau iritabel Perasaan depresif Keadaan putus kokain adalah satu-satunya indikasi yang menunjukkan

adanya ketergantungan kokain. Gejala utama keadaan putus kokain adalah menagih kokain (craving). Beratnya kondisi keadaan putus kokain berkaitan dengan jumlah, lama dan cara penggunaan kokain. Snorting menyebabkan ketergantungan dan keadaan putus kokain ringan, penggunaan intravena dan merokok crack (freebase) menyebabkan ketergantungan dan keadaan putus kokain berat. 1 Gejala-gejala putus kokain mencapai puncaknya setelah beberapa hari, dan berakhir setelah beberapa minggu. Bila gejala-gejala tetap ada setelah lebih

beberapa minggu, maka ini menunjukkan adanya indikasi depresi sekunder. Gangguan psikiatris lainnya yang sering menyertai ketergantungan kokain adalah gangguan kepribadian, ketergantungan alkohol dan ketergantungan sedativahipnotika. 1,4 Perasaan disforia dan depresi berat merupakan dua gejala yang sering terdapat pada keadaan putus kokain. Dengan ditemukannya dua gejala tersebut perlu dipertimbangkan pula adanya gangguan psikiatris lainnya sebagai diagnosis banding. Pasien sering menderita gangguan kepribadian yang mendasarinya (gangguan kepribadian ambang atau antisosial), sehingga berperilaku manipulatif. Akibatnya pasien sering mengobati keadaan putus kokain pada dirinya sendiri dengan menggunakan kembali kokain. Angka relaps tetap tinggi meskipun ia telah dirawat berkali-kali. 1 KOMPLIKASI1,4,6,7

IV.

1. Aspek fisik

Kongesti hidung, walaupun peradangan, pembengkakan, perdarahan dan ulserasi berat pada mukosa hidung juga dapat terjadi.

Pemakaian kokain jangka panjang menyebabkan perforasi septum hidung Crack bebas basa dan yang dihisap seperti rokok dapat menyebabkan kerusakan pada saluran bronchial dan paru-paru.

Pengguna kokain intravena adalah disertai dengan infeksi, embolisme dan penularan Sindroma Imunodefisiensi di dapat (AIDS)

Komplikasi neurologist ringan adalah perkembangan distonia akut, nyeri kepala mirip migraine

Komplikasi terberat adalah efek serebrovaskuler, epileptic dan jantung dan kematian

2. Aspek psikologis

Panik yang disebabkan perilaku yang tidak rasional, sangat menggangu dirinya sendiri dan lingkungannya.

Pasien pengguna kokain menderita waham kejaran, berperilaku ganas dan bermusuhan.

Dosis tinggi kokain dapat menyebabkan angina pektoris, hipertensi dan aritmia jantung.

Dapat pula terjadi hipertermia dan kejang. Intoksikasi kokain dapat menyebabkan penekanan susunan saraf pusat sehingga menimbulkan kematian.

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Laboratorium

Elektrolit : akut bisa memberikan gambaran hipokalemi sedangkan pada intoksikasi kokain yang berat memberikan gambaran hiperkalemi.

Glukosa darah : pada pemeriksaan gula darah memberikan gambaran hipoglikemi

Fungsi ginjal : gagal ginjal berhubungan dengan rhabdomyolisis dan trombosis arteri ginjal pernah dilaporkan pada penyalahgunaan kokain.

Urinalisis untuk skrining kokain atau zat adiktif lain yang digunakan bersama-sama,

Tes kehamilan : semua wanita yang berada dalam usia subur sbaiknya dilkukan tes kehamilan

Fungsi hati : kerusakan hati mungkin terjadi pada intoksikasi akut. Sebagai tambahan, pasien yang menggunakan kokain beresiko untuk terinfeksi hepatitis, yang pada akirnya bias menyebabkan perubahan mental.

Jumlah sel darah : anemia, lekositosis, dan leucopenia Toksikologi : Urine drug screens : Benzoylecogonine (bentuk metabolic kokain) bisa ditemukan pada urin 60 jam setelah menggunakan kokain. Pada pengguna kokain yang berat bisa ditemukan sampai 22 hari.

Enzim jantung : pada pengguna kokain terdapat angka prevalensi yang tinggi untuk terjadinya myocardial infection, pasien yang dating dengan nyeri dada dan riwayat penggunaan kokain bisa dipikirkan untuk melakukan pemeriksaan enzim jantung.

2. Radiologi

Chest x-Ray : pneumomediastinum, pneumothorax, pneumonia, emboli paru, atelektasis.

CT-Scan. : perdarahan intrakranial dan emboli serta trombosis strok.

3. Tes lain : Analisa gas darah, EKG, EEG1,3

VI.

PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pertama adalah menghentikan penggunaan obat. Jika

pasien tereksitasi ringan sampai sedang, coba berbicara padanya untuk meredakannya dan gunakan benzodiazepin (misal diazepam 10-20 mg per oral).5 Intoksikasi Kokain

v Yakinkan dan tenangkan pasien bahwa gejala-gejala hanya terjadi dalam beberapa waktu yang terbatas sebagai akibat masuknya kokain ke dalam tubuh, dan segera setelah itu ia akan menjadi tenang kembali seperti semula. v Tempatkan pasien pada suasana yang tenang. Sementara itu, lakukan

wawancara tentang frekuensi, jumlah kokain dan rute penggunaan kokain. Ikuti dan kendalikan semua gerakan/aktivitas pasien dan lakukan pengendalian secara tepat. Hati-hati dalam pendekatan pasien-pasien dengan waham paranoid. Jika memungkinkan, minta bantuan keluarga untuk bekerjasama menenangkan pasien. v Bila sudah memungkinkan, lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pasien. Bila terjadi demam, lakukan tindakan secepat mungkin untuk mengatasinya, kompres dan/atau beri antipiretika. Pantaulah tekanan darah dan denyut nadi pasien sesering mungkin. v Pastikan apakah pasien juga menggunakan zat adiktif lainnya seperti opioida (misalnya heroin yang digunakan bersama-sama dengan kokain secara intravena yang dikenal dengan istilah speed ball), sedativa-hipnotika dan alkohol. v Isolasi dan fiksasi adalah tindakan terakhir yang kadang-kadang perlu dilakukan. v Gejala-gejala psikosis seringkali menghilang setelah satu episode akut penggunaan kokain, tapi dapat juga menetap pada penyalahgunaan berat kokain dan menimbulkan gangguan yang disebut dengan gangguan waham akibat penggunaan kokain (cocaine delusional disorders), terutama pada orang-orang yang sensitif.

v Pertimbangkan rawat-inap agar dapat dilakukan detoksifikasi. Seorang pasien yang datang ke unit gawat darurat merupakan peluang yang baik untuk melakukan terapi induksi agar pasien bersedia ikut program rehabilitasi. v Persiapkan pasien tentang akan terjadinya keadaan putus kokain dan latih pasien untuk menghadapinya. v Terapi psikofarmaka:

Bila agitasi, galak, membahayakan lingkungan atau delusi dapat diberikan derivat benzodiazepin ringan oksazepam 10-30 mg per oral atau lorazepam 1-2 mg per oral, dan dapat diulang setelah satu jam.

Bila agitasi masih tetap bertahan setelah beberapa dosis benzodiazepin atau timbul gejala toksisitas benzodiazepin (ataksia, disartria, nistagmus), maka dapat diberikan obat antipsikotik berkekuatan tinggi seperti haloperidol atau flufenazin masing-masing 2-5 mg per oral atau i.m. sebagian klinisi kurang menyukai penggunaan antipsikotika karena mengurangi nilai ambang kejang dan mengubah atau menyamarkan gejalagejala intoksikasi kokain dengan gejala-gejala efek samping antipsikotika.

Bila terjadi takhikardia dan hipertensi, dapat diberikan beta-bloker (propanolol) atau klonidin.

Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, kejang, gangguan respirasi dan gejala-gejala overdosis lain merupakan indikasi untuk merawat pasien di unit rawat intensif (ICU). 1,5

Keadaan Putus Kokain v Pastikan apakah ada risiko bunuh diri. Meskipun gejala-gejala akan hilang dalam beberapa hari, namun pasien dengan kecenderungan bunuh diri harus di rawat-inap di rumah sakit. v Ketika pasien datang beri ketenangan (reassurance) dan terangkan kepadanya bahwa gejala-gejala keadaan putus kokain tersebut akan hilang dalam satu atau dua minggu. Wawancarai bagaimana kokain tersebut masuk ke dalam tubuh, frekuensi dan jumlahnya serta kapan penggunaan kokain terakhir. Tanyakan juga apakah pasien menggunakan zat adiktif lain. v Motivasi pasien agar bersedia mengikuti program detoksifikasi atau rehabilitasi v Rujuk pasien agar mengikuti terapi kelompok, terapi keluarga atau rujuk ke kelompok-kelompok bantuan yang mendukung upaya penyembuhan (seperti Narcotic Anonymous, Narcotic Anonymous Family). v Evaluasi apakah pasien menderita gangguan psikotik atau menggunakan zat adiktif lain. v Terapi psikofarmaka:

Agitasi berat sampai perilaku maladaptif dapat dikendalikan dengan pemberian derivat benzodiazepin ringan estazolam 0,5 sampai 1 mg per oral, oksazepam 10-30 mr per oral atau lorazepam 1-2 mg per oral.

Antidepresiva dapat diberikan pada pasien-pasien dengan gejala depresif menetap yang umumnya terjadi setelah dua minggu penggunaan kokain dihentikan.

Ketergantungan kokain dapat diberikan despiramin* (200-250 mg/hari), doksepin* atau antidepresiva lain (amitriptilin, imipramin). Kadangkadang juga diberikan bromokriptin untuk mengendalikan emosinya. 1,5

Tujuan utama terapi ketergantungan kokain adalah abstinensia. Catatan : * Belum ada di Indonesia.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN 1. Kokain adalah zat adiktif yang tergolong stimulansia terhadap susunan saraf pusat yang dapat digunakan dengan cara snorting, menyuntik, merokok dengan kokain,atau diabsorbsi melalui mukosa. 2. Kokain digunakan karena secara karakteristik menyebabkan elasi, euforia, peningkatan harga diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. 3. Intoksikasi kokain dapat menyebabkan sindrom mental organik yang terjadi beberapa menit sampai jam setelah menggunakan kokain, serta penekanan susunan saraf pusat sehingga menimbulkan kematian. 4. Pengobatan psikofarmaka pasien pengguna kokain tergantung dari gejalagejala yang timbul, intoksikasi ataupun putus kokain, juga dibutuhkan pengobatan lain seperti terapi kelompok, terapi keluarga atau rujuk ke kelompok-kelompok bantuan yang mendukung upaya penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pedoman Terapi Pasien Ketergantungan Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya. DEPKES RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik. 2000. Penerbit Bakti Husada. 2. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IVTM). Fourth Edition. Washington DC. 2000. 3. Holstege, Christopher P, MD. Cocain-Related Psychiatric Disorders. http://www.emedicine.com. 2005. 4. Kaplan Harold MD et al, Gangguan berhubungan dengan kokain. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7 jilid satu. Hal 638-41 5. Tomb Davia A., M.D. Penyalahgunaan Obat. Buku Saku Psikiatri. Edisi Keenam. Penerbit Buku Kedokteran EGC.