Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pada saat sekarang ini kebutuhan akan informasi sebagai ilmu pengetahuan sangat penting bagi kemajuan bangsa kita agar tidak tertinggal dengan negara lain. Untuk mengimbangi hal itu, pemerintah telah menyediakan dan memberi akses masuk bagi penyedia layanan informasi tersebut, seperti media elektronik maupun media cetak. Sarana informasi tersebut telah berkembang dengan pesatnya di negara kita. Misalnya internet, Internet merupakan salah satu sarana informasi berteknologi tinggi, cukup dengan duduk di depan layar yang ukurannya beberapa inchi saja kita sudah dapat memperoleh berbagai informasi dari segala penjuru dunia. Demikian pula halnya dengan televisi, handphone, dan berbagai media elektronik dan media cetak lainnya, masing-masing memiliki kelebihan dalam menyajikan informasi. Kemudahan mendapatkan berbagai informasi tersebut tentu sangat bagus bagi negara kita yang sedang berkembang namun dapat pula menjadi boomerang jika kita menyalahgunakan penggunaan teknologi penyedia informasi itu. Misalnya anak-anak mengakses situs-situs porno di internet tanpa adanya larangan dan peraturan dari penyedia informasi tersebut, atau dengan menonton tontonan yang tidak mendidik di televisi, bahkan anak-anak dengan mudahnya mendapatkan majalah dewasa yang banyak dijual di pinggiran jalan. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya perhatian dari orang-orang di sekitar anak dan lemahnya kontrol dari pemerintah tentang penggunaan media-media berteknologi canggih ini. Ditambah lagi degan tersedianya kafe-kafe penyedia layanan informasi seperti warnet yang tumbuh subur akhir-akhir ini di negara kita. Semua orang telah dapat menggunakan teknologi informasi tersebut tanpa harus membeli peralatannya, namun cukup dengan menyewanya saja dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu berkisar antra Rp2.000-4.000 perjam. Dengan harga yang murah tersebut penyewa sudah dapat menjelajah dunia maya yang tak berbatas itu. Tidak tertutup kemungkinan penyewanya adalah anakanak usia SD yang rasa ingin tahunya sangat tinggi, sehingga pngaksesan situs-situs terlarang bagi anak tidak dapat dihindari. Dampak dari penyalahgunaan media tersebut sangat berpengaruh terhadap tingkah laku anak-anak. Hal ini dapat kita lihat dari cara berbicara anak yang suka mengeluarkan katakata kotor, melawan pada orang tua, suka menghayal dan terjadinya penurunan pada tingkat belajar anak. Anak cenderung jadi pemalas dan sulit berkonsentrasi Kita sebagai anggota keluarga tentu tidak mau hal itu menimpa anak, adik, keponakan atau anggota keluarga ktia lainnya, karena anak-anak adalah calon penerus bangsa kita . Jika generasi penerusnya sudah mengalami pengrusakan moral, bagaimana negara kita ini bisa akan maju? Untuk itu peran kontrol orang tua, sekolah, pemerintah dan pihak-pihak yang ada di dekat anak sangat diperlukan agar anak-anak dapat tumbuh sehat dan normal. B. Rumusan Masalah Dari pemaparan latar belakang diatas penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah pengaruh pornografi tehadap perkembangan belajar pada anak usia SD, dan bagaimana penaggulangannya? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penlisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah bagaimana pembaca baik orang tua, guru, dan yang lain dapat mengetahui bagaimana dampak pornografi terhadap perkembangan belajar anak pada usia SD dan dapat mangantisipasi dampak pornografi dangan cara yang semestinya.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Pornogarafi Kata pornografi berasal dari dua kata Yunani, porneia yang berarti seksualitas yang tak bermoral atau tak beretika (sexual immorality) atau yang popular disebut sebagai zinah; dan kata grafe yang berarti kitab atau tulisan. Kata kerja porneuw (porneo) berarti melakukan tindakan seksual tak bermoral (berzinah = commit sexual immorality) dan kata benda pornh (porne) berarti perzinahan atau juga prostitusi. Rupanya dalam dunia Yunani kuno, kaum laki-laki yang melakukan perzinahan, maka muncul istilah pornoz yang artinya laki-laki yang melakukan praktik seksual yang tak bermoral. Tidak ada bentuk kata feminin untuk porno. Kata grafh (grafe) pada mulanya diartikan sebagai kitab suci, tetapi kemudian hanya berarti kitab atau tulisan. Ketika kata itu dirangkai dengan kata porno menjadi pornografi, maka yang dimaksudkannya adalah tulisan atau penggambaran tentang seksualitas yang tak bermoral, baik secara tertulis maupun secara lisan. Maka sering anak-anak muda yang mengucapkan kata-kata berbau seks disebut sebagai porno. Dengan sendirinya tulisan yang memakai kata-kata yang bersangkut dengan seksualitas dan memakai gambar-gambar yang memunculkan alat kelamin atau hubungan kelamin adalah pornografi. Pornografi umumnya dikaitkan dengan tulisan dan penggambaran, karena cara seperti itulah yang paling banyak ditemukan dalam mengekspos masalah seksualitas. Akhir-akhir ini dalam masyarakat kita ada istilah baru yaitu porno aksi. Yang dimaksudkan kiranya adalah penampilan seseorang yang sedikit banyak menonjolkan hal-hal seksual, misalnya gerakan-gerakan yang merangsang atau cara berpakaian minim yang menyingkap sedikit atau banyak bagian-bagian yang terkait dengan alat kelamin, misalnya bagian dari paha. Tetapi tidak semua penonjolan atau penyingkapan itu dapat disebut sebagai porno aksi, sebab di kolam renang misalnya, memang "halal" bagi siapapun untuk berpakaian mini, bahkan memang dengan hanya berbusana bikini (pakaian renang yang hanya menutup alat kelamin). Jadi soal porno aksi itu sangat relatif, tergantung motivasi manusianya. B. Sumber-sumber Pornografi Dari pengertian dan kriteria di atas, dapatlah disebutkan sumber-sumber pornografi yang menonjol akhir-akhir ini yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tulisan berupa majalah, buku, koran dan bentuk tulisan lain-liannya, Produk elektronik misalnya kaset video, VCD, DVD, laser disc, Gambar-gambar bergerak (misalnya "hard-r"), Program TV dan TV cable, Cyber-porno melalui internet, Audio-porno misalnya berporno melalui telepon yang juga sedang marak diiklankan di korankoran maupun tabloid akhir-akhir ini.

C. Penyebab Anak-Anak Mengakses Pornografi Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak mengakses pornografi, baik melalui internet sekolah maupun dirumah sendiri, yaitu : 1. Kurangnya pengawasan, pendidikan dan pembinaan dari guru/orang tua kepada siswa/anaknya tentang bagaimana penggunaan teknologi informasi seperti hand phone dan internet yang sehat, manfaat teknologi tersebut dan dampak negative, serta cara menghindarinya;

2. Sikap ketertutupan dari guru/orang tua kepada siswa/anak-anak tentang sex education (Pendidikan sex), akibatnya rasa penasaran yang begitu besar dicari jawabannya di luar sekolah/rumah, seperti di warnet; 3. Guru/Orang tua yang gagap teknologi (gaptek), sehingga memenuhi kebutuhan internet disekolah atau untuk anak di rumah/dikamar, tetapi guru/orang tua sendiri tidak menguasainya, bahkan tidak mengetahui dampak negatif internet; 4. Kurangnya upaya proteksi oleh guru/orang tua yang memiliki internet disekolah/di rumah atau di kamar anak-anak, yaitu tidak melengkapinya dengan software untuk memblokir situs-situs porno; 5. Orientasi keuntungan finansial para pemilik warnet, sehingga siapa pun bisa menyewa internet termasuk anak-anak atau remaja, bahkan pada jam-jam sekolah. Selain itu ruangan tertutup yang tersedia diwarnet menjadikan anak-anak merasa nyaman dan aman untuk membuka situssitus porno; 6. Murahnya biaya untuk dapat mengkonsumsi bahkan memiliki foto-foto atau video porno dengan cara mendownloadnya dari sebuah situs porno dan menyimpannya pada disket, CD atau flasdisc 7. Sikap keterbukaan masyarakat, termasuk orang tua yang sedikit demi sedikit tidak menganggap tabu hal-hal yang bersifat pornografi. Akibatnya kontrol sosial menjadi berkurang terhadap pornografi 8. Banyaknya jumlah situs porno yang setiap hari bertambah dan adanya situs mesin pencari diinternet seperti Google, semakin mempermudah untuk mengakses cyberporn. D. Bahaya Pornografi Pada Anak Kecanduan pornografi belakangan menjadi isu besar di Indonesia. Kecanduan ini sering terabaikan, padahal dampak yang ditimbulkan kecanduan pornografi lebih besar ketimbang kecanduan narkoba. Kecanduan pornografi merupakan trend baru masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang berdampak luas dan dalam waktu singkat dapat merusak tatanan psikososial masyarakat. Kecanduan pornografi adalah perilaku berulang untuk melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual, dapat merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang, serta pecandu pornografi tidak sanggup menghentikannya. Banyak orang yang mengabaikan dampak pornografi, padahal efek negatifnya lebih besar daripada narkoba dalam hal merusak otak. Tak hanya itu, pecandu pornografi juga lebih sulit dideteksi ketimbang pacandu narkoba, ujar Dr. Mark B. Kastlemaan, pakar adiksi pornografi dari USA, dalam acara Seminar Eksekutif Penanggulangan Adiksi Pornografi di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Senin (27/9/2010). Menurut Dr Mark, pornografi dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada Pre Frontal Corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi). Sedangkan kecanduan narkoba menyebabkan kerusakan pada tiga bagian otak. Kerusakan bagian otak ini akan membuat prestasi akademik menurun, orang tidak bisa membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls. Bagian inilah yang membedakan manusia dengan binatang.Pada pecandu pornografi, Dr. Mark menjelaskan, otak akan merangsang produksi dopamin dan endorfin, yaitu suatu bahan kimia otak yang membuat rasa senang dan merasa lebih baik. Dalam kondisi normal, zat-zat ini akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat dan menjalankan hidup dengan lebih baik. Tapi dengan pornografi, otak akan mengalami hyper stimulating (rangsangan yang berlebihan), sehingga otak akan bekerja dengan sangat ekstrem dan kemudian mengecil dan rusak. E. Pencegahan Agar Anak Terhindar dari Bahaya Pornografi Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa diterapkan supaya anak terhindar dari bahaya dan pengaruh pornografi .

a. Ketegasan Orang tua Lakukan hal ini secara bijaksana dan lembut. Tunjukkan sikap bersahabat dengan Anak sehingga tidak ada jarak antara anak dan orang tua. Orang tua berhak mengambil keputusan yang terbaik bagi anak. Orangtua berhak mengetahui siapa teman anak, dan tempat bermain anak b. Berikan contoh yang baik Kepada Anak Orangtua adalah yang pertama kali akan dicontoh anak di rumah. Jika ingin anak berperilaku baik, Anda juga harus melakukan hal yang sama. Jangan malah ikut-ikutan mengunduh (mendownload) video porno. c. Pasang pengaman di komputer atau televisi Saat ini tersedia banyak software yang bisa digunakan untuk mencegah dibukanya situs-situs porno di internet atau saluran-saluran khusus dewasa di televisi. Pasanglah software itu di rumah sebagai pengamanan. d. Kontrol password internet Jangan berlakukan sistem otomatis pada sambungan internet di rumah, melainkan terapkan sistem manual. Saat anak masih kecil, yang boleh mengetahui password ini hanya Anda dan pasangan. Ganti password secara teratur supaya keamanannya terjaga. e. Letakkan komputer atau televisi di ruang publik Maksudnya, ruangan yang dipakai bersama-sama anggota keluarga lain, misalnya ruang keluarga. Dengan demikian, Anda bisa mengawasi apa saja yang sedang ditonton atau diakses anak. Hindari memberikan komputer atau televisi pribadi sepanjang anak belum membutuhkannya. Namun, jika ia memilikinya, Anda harus mengetahui password komputer atau akun jaringan sosialnya supaya tetap bisa melakukan pengawasan terhadap anak. f. Buat aturan soal internet Selain menentukan waktu pemakaian internet, tentukan juga apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menggunakan internet. g. Jangan berikan ponsel canggih Kalau anak memang membutuhkan ponsel, berikan ponsel yang paling sederhana, tanpa kamera, video, ataupun internet. Ponsel seperti itulah yang ia butuhkan saat ini. Katakan padanya bahwa fungsi utama ponsel adalah untuk berkomunikasi. Jika memerlukan internet, ia bisa gunakan komputer di rumah. h. Dampingi saat menonton televisi atau menggunakan internet Sebaiknya Anda yang memegang remote control-nya. Setiap kali muncul adegan yang kurang pantas, segera ganti salurannya dan tunjukkan ketidaksukaan Anda. Tujuannya agar anak menjadi terbiasa dan tahu bahwa yang seperti itu memang tidak pantas. Ia pun tak akan tertarik pada hal-hal semacam itu meskipun sedang tidak berada dalam pengawasan Anda. Lakukan tindakan yang sama pada media lain. Ketika ia sudah lebih besar, Anda bisa berdiskusi soal seks dan memberikan penjelasan lebih mendalam i. Sediakan waktu untuk keluarga Banyak orang mengakses pornografi karena merasa bosan dan tidak memiliki kegiatan lain. Inilah sebabnya keluarga sebaiknya menghabiskan waktu bersama-sama, setidaknya sekali seminggu. Ajak anak ke taman, makan di luar, atau yang lainnya, supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya mengenai kegiatankegiatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan. Dengan demikian, ia tidak berpaling ke televisi atau internet untuk mencari hiburan. j. Sertakan mereka dalam kegiatan bermanfaat Daftarkan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Pilihan lain adalah bekerja sama dengan para orangtua di sekolah atau lingkungan rumah. Anda bisa menyediakan aktivitas kecilkecilan untuk mereka, misalnya, mendirikan klub membaca atau melukis. k. Periksa teman anak Bukan tidak mungkin anak mendapatkan materi pornografi dari temannya. Jadi, tidak ada salahnya jika Anda cermat memilih dengan siapa ia bisa bergaul. Kalau tahu bahwa teman anak

suka dengan hal-hal berbau pornografi, bicaralah dengan orangtua teman anak tersebut. Sebagai sesama orangtua, katakan bahwa Anda menginginkan yang terbaik untuk masa depan kedua anak. Apabila cara ini tidak berhasil, jauhkan anak dari sang teman. l. Libatkan diri dalam kegiatan akademis anak Cari tahu apa saja yang diajarkan dan yang sedang terjadi di sekolah. Anda bisa berbicara dengan wali kelasnya. Utarakan keprihatinan Anda tentang isu pornografi. Bekerja samalah dengannya beserta orangtua lain untuk mencegah murid-murid terekspos pada hal itu di sekolah. Contohnya, dengan memasang sistem pengaman pada komputer-komputer di sekolah. m. Beri penjelasan secara baik-baik dan dengan tenang Jika anak ketahuan sedang melihat materi pornografi, jangan langsung marah. Tanyakan baikbaik alasannya. Berilah penjelasan mengapa hal itu tidak pantas untuknya. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pornografi diartikan sebagai tulisan, gambar/rekaman tentang seksualitas yang tidak bermoral, menonjolkan seksualitas secara eksplisit terang-terangan dengan maksud utama membangkitkan gairah seksual orang yang melihat atau membacanya, pornografi merupakan adiksi baru yang tidak tampak pada mata, tidak terdengar oleh telinga, namun menimbulkan kerusakan otak yang permanen bahkan melebihi kecanduan narkoba. Kecanduan pornografi adalah perilaku berulang untuk melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual, dapat merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang, serta pecandu pornografi tidak sanggup menghentikannya. Pornografi, terutama pada anak usia SD, dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada Pre Frontal Corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi). Sedangkan kecanduan narkoba hanya menyebabkan kerusakan pada tiga bagian otak. Kerusakan bagian otak ini akan membuat perkembangan belajar anak menurun, , anak tidak bisa membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls. Bagian inilah yang membedakan manusia dengan binatang. B. Saran Bagi orang tua yang memiliki anak yang rentan terhadap bahaya pornografi, terutama anak-anak pada usia SD hendaknya memberikan perhatian lebih dan kontrol penuh pada anaknya, seperti mengetahui kegiatan keseharian anak,dan teman bermain anak. Karena orang tua adalah sebagai orang terdekat anak dan orang yang lebih mengerti dan memahami kondisi anak. Selain itu perlulah hendaknya dilakukan suatu pembinaan dan pengawasan dari semua kalangan, khususnya untuk anak-anak yang rentan terhadap pornografi, agar bisa terhindar dari bahaya kecanduan pornografi tersebut yaitu rusaknya otak anak ,sehingga perkembangan belajar anak menjadi tergaggu akhirnya anak gagal dalam bidang akademik DAFTAR PUSTAKA http://echopedian.blogspot.com/2012/11/makalah-pengaruh-pornografi-terhadap.html http://chaylilkusairi.wordpress.com/2012/04/16/makalah-media-dan-pornografi/ Deprtemen Agama RI, Madrasah Sejarah Madrasah; Pertumbuhan, Dinamika Dan Perkembangan DiIndonesia, Jakarta, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2004. Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren : Study Tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta, LP3ES.1982 Hurgronje, Snouck, Aceh, Rakyat dan Adat Istiadatnya, Jakarta, INIS, 1991.