Anda di halaman 1dari 18

Dispepsia

Elistia Tripuspita* 102010173

Pendahuluan
Berdasarkan skenario 2,Wanita 55 tahun datang ke Poliklinik Penyakit Dalam dengan keluhan nyeri ulu hati yang hebat sejak 3 hari semenjak masuk rumah sakit. Sebenarnya keluhan ini sudah sering mengganggu dan hilang timbul sejak 1 tahun. Riwayat penyakit dahulu : 2 tahun sebelumnya mengkonsumsi obat antinyeri dari warung hampir tiap hari. Riwayat BAB hitam disangkal. Pada pemeriksaan fisik ada anemia, Hb : 8,6 g/dL.

Keluhan yang ada pada skenario tersebut seperti nyeri ulu hati merupakan bagian dari kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri atau tidak nyaman di epigastrium, mual ,muntah, kembung,cepat kenyang,rasa penuh,sendawa,regurgitasi,dan rasa panas untuk menjalar di dada pada penderita dispepsia.

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara, No.6, Jakarta 11510 Email : sweet_guardianangel@yahoo.com

Pembahasan
Istilah dispepsia berkaitan dengan makanan dan menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa, regurgitasi dan rasa panas yang menjalar di dada. Sindrom atau keluhan ini dapat disebabkan atau didasari berbagai macam penyakit.

Definisi dispepsia menurut kriteria Rome III adalah salah satu atau lebih gejala dibawah ini : 1. Rasa penuh setelah makan (yang diistilahkan postprandial distress syndrome) 2. Rasa cepat kenyang (yang berarti ketidakmampuan untuk menghabiskan ukuran makan normal atau rasa penuh setelah makan) 3. Rasa nyeri epigastrik atau seperti rasa terbakar (diistilahkan epigastric pain syndrome) Bila didapatkan tanda alarm, yaitu mual muntah yang tidak sembuh dengan terapi yang lazim, terapi empiris gagal, anemia, melena dan/hematemesis, penurunan berat badan yang signifikan akibat penyakit, disfagia, maka investigasi yang berupa pemeriksaan laboratorium, radiologik dan endoskopik harus dijalankan. Selanjutnya terapi disesuaikan dengan hasil temuan investigasi. Namun bila tidak ditemukan tanda alarm, maka tidak perlu terlalu cepat melakukan investigasi. Pasien dapat diterapi secara empiris terlebih dahulu. Dengan demikian maka, berdasarkan ada tidaknya penyakit/kelainan organik-biokimiawi dispepsia dibedakan menjadi:

I.

Dispepsiafungsional

A. Definisi: Berdasarkan Konsensus Roma III. B. Klasifikasi :Di masa lalu, dispepsia fungsional dibedakan menjadi 4 subgrup yaitu tipe ulkus, tipe dismotilitas, tipe refluks dan tipe non spesifik. Namun dispepsia tipe refluks ternyata dapat berlanjut menjadi penyakit organik yaitu GERD, sehingga dispepsia tipe refluks tidak lagi dimasukkan kedalam dispepsia fungsional. Klasifikasi dispepsia fungsional yang lebih baru saat ini adalah:1. Dispepsia tipe ulkus 2. Dispepsia tipe dismotilitas 3. Dispepsia tipe non spesifik C. Patofisiologi dispepsia fungsional hingga kini belum jelas D. Tatalaksana dispepsia fungsional terdiri dari
2 7

a. Diet yang menghindari makanan pencetus serangan b. Terapi medikamentosa

II.

Dispepsia organik,

Sebagian besar diakibatkan kelainan esofago-gastro-duodenal, yaitu: 1. GASTRITIS Etiologi: Penyebab terbanyak adalah infeksi Helicobacter pylori (Hp) dan OAINS. 1) Gastritis akibat Hp: a. Gastritis kronik non atropi predominasi antrum

b. Gastritis kronik atropi multifokal 2) Gastropati obat antiinflamasi non steroid (OAINS)

Faktor risiko mendapat gastropati OAINS adalah : a. Riwayat ulkus peptiku b. Usia diatas 60 tahun, c. Terapi lebih dari 1 macam OAINS danterapi OAINS bersama steroid.

Gejala klinik: bisa asimtomatik (30-40%), namun umumnya bermanifestasi sebagai sindroma dispepsia, terutama rasa nyeri.

Tatalaksana : 1) Bila penggunaan OAINS dapat dihentikan, maka dapat dipilih penghambat asam jenis H2RA atau PPI, bersama dengan sitoprotektor (sukralfat 3x1gram, rebamipide 3x100mg, teprenone 3x50mg) 2) Bilapenggunaan OAINS tidak dapat dihentikan: maka dipilih OAINS yang selektif menghambat Cox2, dan dipilih penghambat asam jenis PPI, bersama dengan sitoprotektor 3) Eradikasi Helicobacter pylori (Hp): PPI (Omeprazol 2x20 mg) +amoksisilin (2x1000 mg)+ klaritromisin (2x500 mg)

2. ULKUS PEPTIK A. Tukak Peptik terdiri dari tukak lambung dan tukak duodenum B. Patogenesis: a. Faktor Agresif : - H pylori dan OAINS

- Rokok, stres, malnutrisi, diet tinggi garam, defisiensi vitamin, genetik b. Faktor Defensif: Preepitel: mukusdanbikarbonat Epitel: kecepatanperbaikanmukosa yang rusak, sel sehat bermigrasi ke ulkus Subepitel: Mikrosirkulasidan PG endogen menekan ekstravasasi

leukosit yang merangsangreaksiinflamasijaringan. C. Diagnosis: a. Anamnesis: Sindromdispepsia, denganperioderemisidaneksaserbasi Keluhan dispepsia: mual, muntah, kembung, nyeri ulu hati, sendawa, rasa terbakar, rasa penuh, cepatkenyang Tukakakibat OAINS dan tukak pada usia lanjut bisanya asimtomatik

b. Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium: tidak khas c. Penunjang: Endoskopi SCBA dan histopatologi D. Komplikasi: Perdarahan, Perforasi, Obstruksi E. Tatalaksana: Diet: tidakmerangsang Hindarirokokdanalcohol Hindari OAINS, pilihgolongan Cox2 inhibitor selektif Obat-obatanuntukmengurangikeasaman lambung diberikan selama 4-8 minggu, dengan sasaran pH intragastrik diatas 3 sehingga aktifitas pepsin minimal. Bila relaps, pemberian obat diulang selama 4-8 minggu dan dilanjutkan dengan maintenance selama 12 bulan. Dalam terapi ulkus, antasida hanya bersifat simtomatik untuk mengurangi rasa perih di ulu hati. Obat-obatan yang dapat digunakan adalah: a. PPI: omeprazol 2x20mg, lansoprazol 2x30mg, pantoprazol 2x40mg, maintenance omeprazol 1x20mg, lansoprazol 1x30mg, pantoprazol 1x40mg dosistunggalpagihari. b. - H2RA: ranitidine 2x150-300mg, maintenance 1x150mg malamhari

-Eradikasi HP: terapi tripel PPI (Omeprazol 2 x 20 mg) + amoksisilin ( 2x1000 mg ) + klaritromisin (2x500 mg) selama 1-2 minggu.

Jika gagal, dilanjutkan dengan terapi kuadrupel selama 1-2 minggu (Bismuth 4x120mg) + (Omeprazol 2 x 20 mg) + amoksisilin ( 2x1000 mg ) + klaritromisin (2x500 mg). Dengan eradikasi Hp biasanya relaps dapat dicegah sehingga terapi maintenance tidak perlu diberikan Obat-obat yang mempercepat pengosongan lambung (prokinetik) akan mengurangi pemaparan faktor agresif terhadap lambung sehingga bermanfaat untuk penyembuhan ulkus di lambung. Prokinetik yang dapat dipilih antara lain metoklopramid 3x10mg, domperidon 3x10mg, cisaprid 3x10mg. Obat yang dapat meningkatkan faktor defensif lambung adalah sitoprotektor dan prostaglandin E eksogen (misoprostol 4x200 g). Sitoprotektor (sukralfat 3x1gram, rebamipide 3x100mg, danteprenone 3x50mg) bekerja dengan meningkatkan produksi PG dan meningkatkan sekresi mukus.Misoprostol sendiri penggunaannya terbatas karena efek samping kram perut serta diare, dan kepatuhan yang rendah karena dosisnya 4 kali sehari

3. Karsinoma SCBA (Saluran cerna bagian atas) A. Karsinoma esofagus Hampir 95% merupakanCaselskuamosa Insidenstinggi di daerahAsian esophageal cancer belt yang meliputi Iran, Asia tengah, Afganistan, Siberia dan Mongolia. Predisposisi: lingkungan/geografis, diet (aflatoksin, asbestos, defisiensi vitamin A,E,C, alcohol, rokok, radiasi, akalasia, skleroterapi, sosioekonomi, ras Keluhanklinis: disfagia (90%) Diagnosis: esofagografimemakai barium (OMD), endoskopi SCBA

diikutiolehbiopsy Terapi: operasireseksi, radiasi (umumnya radiosensitif), kemoterapi ajuvan B. Karsinoma lambung Terbanyakadenokarsinoma Insidenstinggi di Jepang, Cina, amerikaselatandaneropatimur.

Predisposisi: Hp, diet tinggi nitrat (nitrosamin) sebagai pengawet, makanan yang diasapdandiasinkan, rokok, atrofilambung Keluhan klinis: beratbadanturun, nyeri epigastrium, muntah Diagnosis: fotokontrasganda, endoskopi SCBA diikutioleh biopsy Terapi: operasireseksidan kemoterapi. Kemoterapi umumnya menggunakan regimen FAM (5FU, doksorubisin dan mitomisin C. Radiasi umumnya kurang berhasil

Penyakit refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease, GERD), sudah merupakan diagnosis tersendiri yang terpisah dari dyspepsia, walaupun mempunyai simtom yang tumpang tindih dengan sindroma dispepsia, dan dapat muncul bersama dispepsia. Dalam praktek sehari-hari, sering terjadi kesulitan membedakan dispepsia fungsional dengan NERD (non-erosive reflux disease) yang merupakan bagian dari GERD.

Etiologi
Penyebab dispepsia dapat diklasifikasikan menjadi dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Penyebab dispepsia organik antara lain esofagitis, ulkus peptikum, striktura esophagus jinak, keganasan saluran cerna bagian atas, iskemia usus kronik, dan penyakit pankreatobilier.1 Sedangkan dispepsia fungsional mengeksklusi semua penyebab organik. Etiologi dari dispepsia dapat dilihat pada tabel 1 dan dispepsia fungsional dapat dilihat pada tabel 2

Tabel 1. Etiologi dispepsia


Esofago gastro duodenal Obat-obatan Hepatobilier Pankreas Penyakit sistemik lain Gangguan fungsional . Tukak peptik, gastritis kronis, gastritis NSAID, keganasan Antiinflamasi non steroid, teofilin, digitalis, antibiotik Hepatitis, Kolesistitis, Kolelitiasis, Keganasan, Disfungsi sfinkter Oddi Pankreatitis, keganasan Diabetes mellitus, penyakit tiroid, gagal kehamilan, penyakit jantung koroner / iskemik Dispepsia fungsional, irritable bowel syndrome ginjal,

Tabel 2. Mekanisme terjadinya gejala dispepsia pada dispepsia fungsional Hipersensitivitasviseral


o Meningkatnyapersepsidistensi o Gangguanpersepsiasam o Hipersensitivitasviseralsebagaikonsekuensi inflamasi kronik

Gangguan motilitas
o Hipomotilitasantral post prandial o Menurunnyarelaksasi fundus gaster o Menurunnyaataugangguanpengosongan lambung o Refluks gastro-esofageal o Refluksduodeno-gaster

Perubahan sekresi asam


o Hiperasiditas

Infeksi kuman Helicobacter pylori Stress Gangguan dan kelainan psikologis Predisposisi genetik

Beberapa obat dapat juga menyebabkan keluhan dispepsia seperti terlihat pada tabel 3. Pada umumnya adalah OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) yang dapat merusak mukosa sehingga menyebabkan gastritis.

Tabel 3. Obat-obatan yang dapat menyebabkan keluhan dispepsia Acarbose Aspirin, Obat anti inflamasi non steroid Colchicine Digitalis Estrogen Gemfibrozil Glukokortikoid

Preparatbesi Levodopa Narkotik


Niasin Nitrat

Orlistat Potassium klorida Quinidine Sildenafil Teofilin

Epidemiologi
Keluhan dispepsia merupakan keadaan klinis yang sering dijumpai dalam praktek praktis sehari-hari. Di Indonesia diperkirakan 30% kasus pada praktek umum dan 60% pada praktek spesialis merupakan kasus dispepsia.1Di Amerika, prevalensi dispepsia sekitar 25%, tidak termasuk pasien dengan keluhan refluks. Insiden pastinya tidaklah terdokumentasidengan baik, tetapi penelitian di Skandinavia menunjukkan dalam 3 bulan, dispepsia berkembang pada 0,8% pada subyek tanpa keluhan dispepsia sebelumnya.6 Prevalensi keluhan saluran cerna menurut suatu pengkajian sistematik atas berbagai penelitian berbasis populasi ( systematic review of population-based study) menyimpulkan angka bervariasi dari 11-41%. Jika keluhan terbakar di ulu hati dikeluarkan maka angkanya berkisar 4-14%.6 Dispepsia masih menimbulkan masalah kesehatan karena merupakan masalah kesehatan yang kronik dan memerlukan pengobatan jangka panjang sehingga meningkatkan biaya perobatannya. Walaupun gejalanya hanya singkat dan dapat diobati sendiri oleh pasien tanpa berobat ke dokter.7 Dispepsia terjadi pada hampir 25% (dengan rentang 13%-40%) populasi tiap tahun tetapi tidak semua pasien yang terkena dispepsia akan mencari pengobatan medis.

Patofisiologi
Patofisiologi dispepsia terutama dispepsia fungsional dapat terjadi karena bermacam-macam penyebab dan mekanismenya. Penyebab dan mekanismenya dapat terjadi sendiri atau kombinasinya. Pembagian dispepsia berdasarkan gejalanya, seperti tercantum diatas, adalah

untuk panduan manajemen awal terutama untuk dispepsia yang tidak terinvestigasi. Patofisiologinya yang dapat dibahas disini adalah : 1. Sekresi asam lambung dan keasaman duodenum Hanya sedikit pasien dispepsia fungsional yang mempunyai hipersekresi asam lambung dari ringan sampai sedang. Beberapa pasien menunjukkan gangguan bersihan asam dari duodenum dan meningkatnya sensitivitas terhadap asam.12 Pasien yang lain menunjukkan buruknya relaksasi fundus terhadap makanan. Tetapi paparan asam yang banyak di duodenum tidak langsung berhubungan dengan gejala pada pasien dengan dispepsia fungsional. 2. InfeksiHelicobacter pylori Prevalensi dan tingkat keparahan gejala dispepsia serta hubungannya dengan patofisiologi gastrik mungkin diperankan oleh H pylori. Walaupun penelitian epidemiologis

menyimpulkan bahwa belum ada alasan yang meyakinkan terdapat hubungan antara infeksi H pylori dan dispepsia fungsional. Tidak seperti pada ulkus peptikum, dimana H pylori merupakan penyebab utamanya. 3. Perlambatan pengosongan lambung 25-40% pasien dispepsia fungsional mempunyai perlambatan waktu pengosongan lambung yang signifikan. Walaupun beberapa penelitian kecil gagal untuk menunjukkan hubungan antara perlambatan waktu pengosongan lambung dengan gejala dispepsia. Sebaliknya penelitian yang besar menunjukkan adanya perlambatan waktu pengosongan lambung dengan perasaan perut penuh setelah makan, mual dan muntah. 4. Gangguan akomodasi lambung Gangguan lambung proksimal untuk relaksasi saat makanan memasuki lambung ditemukan sebanyak 40% pada pasien fungsional dispepsia yang akan menjadi transfer prematur makanan menuju lambung distal.Gangguan dari akomodasi dan maldistribusi tersebut berkorelasi dengan cepat kenyang dan penurunan berat badan. 5. Gangguan fase kontraktilitas saluran cerna Gangguan lambung proksimal untuk relaksasi saat makanan memasuki lambung ditemukan sebanyak 40% pada pasien fungsional dispepsia yang akan menjadi transfer prematur makanan menuju lambung distal.Gangguan dari akomodasi dan maldistribusi tersebut berkorelasi dengan cepat kenyang dan penurunan berat badan.

6. Hipersensitvitas lambung Hiperalgesia terhadap distensi lambung berkorelasi dengan nyeri abdomen post prandial, bersendawa dan penurunan berat badan. Walaupun disfungsi level neurologis yang terlibat dalam hipersensitivitas lambung masih belum jelas. 7. Disritmiamioelektrikaldandismotilitas antro-duodenal Penelitian tentang manometrik menunjukkan bahwa hipomotilitas antrum terdapat pada sebagian besar pasien dispepsia fungsional tetapi hubungannya tidak terlalu kuat dengan gejala spesifiknya. Aktivitas abnormal dari mioelektrikal lambung sangat umum ditemukan pada pasien tersebut, meskipun berkorelasi dengan perlambatan pengosongan lambung tetapi tidak berkorelasi dengan gejala dispepsianya. 8. Intoleransi lipid intraduodenal Kebanyakan pasien dispepsia fungsional mengeluhkan intoleransi terhadap makanan berlemak dan dapat didemonstrasikan hipersensitivitasnya terhadap distensi lambung yang diinduksi oleh infus lemak ke dalam duodenum. Gejalanya pada umumnya adalah mual dan perut kembung. 9. Aksis otak saluran cerna Komponen afferen dari sistem syaraf otonomik mengirimkan informasi dari reseptor sistem syaraf saluran cerna ke otak via jalur vagus dan spinal. Di dalam otak, informasi yang masuk diproses dan dimodifikasi oleh fungsi afektif dan kognitif. Kemudian otak mengembalikan informasi tersebut via jalur parasimpatik dan simpatik yang akan memodulasi fungsi akomodasi, sekresi, motilitas dan imunologis. 10. Faktor Psikososial a. Korelasi dengan stress b. Korelasi dengan hidup c. Korelasi dengan kelianan psikiatri dan tipe kepribadian d. Korelasi dengan kebiasaan mencari pertolongan kesehatan 11. Dispepsia Fungsional pasca infeksi Hampir 25% pasien dispepsia fungsional melaporkan gejala akut yang mengikuti infeksi gastrointestinal.

Pemeriksaan
Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien. Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya, yaitu segala hal yang diceritakan oleh penderita. Anamnesis atau medical history adalah informasi yang dikumpulkan oleh seorang dokter dengan cara melakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan spesifik baik itu terhadap pasien itu sendiri (auto-anamnesis) maupun dari orang yang dianggap dapat memberikan keterangan yang berhubungan dengan keadaan pasien (allo-anamnesis/hetero-anamnesis). Dalam melakukan anamnesis diusahakan agar pasien atau orang tua dapat menyampaikan keluhan dengan spontan, wajar, namun tidak berkepanjangan. Pada saat yang tepat pemeriksa perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih rinci & spesifik, sehingga dapat diperoleh gambaran keadaan pasien yang lebih jelas dan akurat. Pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa sebaiknya tidak sugestif, sedapat mungkin dihindari pertanyaan yang jawabannya hanya ya atau tidak, berikan kesempatan untuk menentukan riwayat penyakit pasien sesuai dengan persepsinya. Berdasarkan anamnesis yang baik, seorang dokter biasanya akan menanyakan identitas dan keadaan pasien meliputi: Namalengkap Jeniskelamin Umur Tempattanggallahir Alamattempattinggal Status perkawinan Pekerjaan Sukubangsa Agama Pendidikan Hal pertama yang ditanyakan kepada pasien adalah mengenai riwayat pribadi pasien. Riwayat pribadi adalah segala hal yang menyangkut pribadi pasien; mengenai peristiwa

penting pasien dimulai dari keterangan kelahiran, serta sikap pasien terhadap keluarga dekat. Termasuk dalam riwayat pribadi adalah riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, riwayat makan, riwayat pendidikan dan masalah keluarga. Setelah mendapatkan data pribadi pasien, anamnesis selanjutnya adalah menanyakan keluhan utama pasien, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat keluarga dan riwayat sosial. Keluhan utama adalah gangguan atau keluhan yang terpenting yang dirasakan penderita sehingga mendorong ia untuk datang berobat dan memerlukan pertolongan serta menjelaskan tentang lamanya keluhan tersebut. Keluhan utama merupakan dasar untuk memulai evaluasi pasien. Keluhanutamadalamkasusiniadalah nyeri ulu hati yang hebat Riwayat penyakit sekarang adalah penyakit yang bermula pada saat pertama kali penderita merasakan keluhan itu. Tentang sifat keluhan itu yang harus diketahui adalah:2 Tempat Kualitaspenyakit Kuantitaspenyakit Urutanwaktu Situasi Faktor yang memperberatatau yang mengurangi Gejala-gejala yang berhubungan Riwayat penyakit dahulu adalah riwayat penyakit yang pernah diderita di masa lampau yang mungkin berhubungan dengan penyakit yang dialaminya sekarang. Riwayatdahulu didapatberdasarkanskenariopasienbelumpernahmengalamihaltersebutsebelumnya. Riwayat keluarga merupakan segala hal yang berhubungan dengan peranan herediter dan kontak antar anggota keluarga mengenai penyakit yang dialami pasien. Dalam hal ini faktor-faktor sosial keluarga turut mempengaruhi kesehatan penderita. Riwayat sosial mencakup keterangan mengenai pendidikan, pekerjaan dan segala aktivitas di luar pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, perkawinan, tanggungan keluarga, dan lain-lain. Perlu ditanyakan pula tentang kesulitan yang dihadapi pasien. yang

Diperlukan anamnesis yang teliti,akurat dan bertahap untuk memformulasikan gangguan yang terjadi sehingga bila dikombinasikan dengan pemeriksaan fisik kita dapat merencanakan pemeriksaan penunjang yang diperlukan menegakkan diagnosis. Terdapat beberapa gejala/keluhan yang karakteristik untuk penyakit GI yang dikemukakan oleh pasien dan perlu diperoleh persepsi yang sama oleh dokter untuk memeriksanya. Sakit perut yang dikeluhkan oleh pasien perlu diperoleh persepsi yang sama oleh dokter yang memeriksanya. Sakit perut yang dikeluhkan oleh pasien harus dijabarkan dan diinterpretasikan dengan baik agar diperoleh data apakah sakit perut tersebut merupakan nyeri epigastrik,kolik bilier,kolik usus,atau nyeri akibat rangsang peritoneal.

Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik umum adalah untuk mengidentifikasi keadaan umum pasien saat pemeriksaan dengan penekanan pada tanda-tanda vital, keadaan sakit, gizi dan aktivitasnya baik dalam keadaan berbaring atau berjalan. Setelah anamnesis selesai dilakukan, maka pemeriksaan fisik biasanya dimulai dengan pemeriksaan objektif yaitu tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, suhu dan tingkat kesadaran, serta pemeriksaan tanda-tanda vital dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan fisis abdomen merupakan bagian dari pemeriksaan fisis umum secara keseluruhan. Secara umum tujuan pemeriksaan abdomen yaitu untuk mencari atau mengidentifikasi kelainan di sistem gastrointestinal atau sistem ginjal dan saluran kemih arau genitalia maupun perineum namun jarang. Inspeksi, pada pemeriksaan ini yaitu melihat perut bagian depan dan belakang sehingga didapatkan keadaan abdomen seprti simetris atau tidak,bentuk atau

kontur,ukuran,kondisi dinding perut (kulit,vena,umbilikus,striae alba) dan pergerakan dinding perut. Selain itu juga perhatikan kelainan-kelainan yang terlihat pada perut seperti jaringan parut karena pembedahan,asimetri perut yang menujukkan adanya massa tumor,stria,vena yang berdilatasi,kaput medusa,atau obstruksi vena kava inferior,peristalsi usus,distensi dan hernia. Setelah inspeksi, pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi, yaitu pemeriksaan dengan meraba, mempergunakan telapak tangan dan memanfaatkan alat peraba yang terdapat pada

telapak dan jari tangan. Dengan palpasi kita dapat menentukan bentuk, besar, tepi, permukaan serta konsistensi organ. Permukaan organ dinyatakan apakah rata atau berbenjol-benjol; konsistensi lunak, keras, kenyal, kistik atau berfluktuasi; sedangkan tepi organ dinyatakan dengan tumpul atau tajam. Sebisa mungkin seluruh bagian perut terpalpasi,kemudia cari apakah ada pembesaran massa tumor,apakah hati,limpa,dan kandung empedu membesar atau teraba. Periksa apakah ginjal,ballotement positif atau negatif. Palpasi dilakukan dalam 2 tahap yaitu palpasi permukaan(superficial) dan palpasi dalam (deep palpaltion). Palpasi dapat dilakukan dengan 1 tangan atau 2 tangan(bimanual) terutama pada pasien gemuk. Perinci nyeri tekan abdomen antara lain berat ringannya,lokasi nyeri yang maksimal apakah ada tahanan (peritonitis), apakah ada nyeri rebound bila tak ada tahanan. Setelah palpasi, biasanya dilanjutkan dengan tindakan perkusi. Tujuan perkusi adalah untuk mengetahui perbedaan suara ketuk, sehingga dapat ditentukan batas-batas suatu organ maupun massa yang abnormal di bagian tubuh tertentu.Perkusi abdomen dilakukan dengan cara tidak langsung sama seperti pada perkusi di rongga toraks tetapi dengan penenkanan yang lebih ringan dan ketokan yang lebih perlahan. Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi kandung empedu/vesika urinaria dimana suaranya redup.pekak,menentuka ukuran hati dan limpa secara kasar,menentukan penyebab distensi abdomen : penuh gas (timpani),masa tumor (redup-pekak) dan asites. Perkusi abdomen sangat membantu dalam menentukan apakah rongga abdomen berisi lebih banyak cairan atau udara. Dalam keadaan normal suara perkusi abdomen yaitu timpani,kecuali di daerah hati suara perkusinya adalah pekak.Hilangnya sama sekali daerah pekak hati dan bertambahnya bunyi timpani di seluruh abdomen harus dipikirkan akan kemungkinan adanyaudara bebas di rongga perut misal pada perforasi usus. Selanjutnya adalah auskultasi, dimana auskultasi adalah pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop untuk mendengar suara pernapasan, bunyi dan bising jantung, peristaltik usus, dan aliran darah dalam pembuluh darah. Pemeriksaan ini untuk memeriksa : Suara/bunyi usus : frekuensi dan pitch meningkat pada obstruksi ,menghilang pada ileus paralitik Succussion splash- untuk mendeteksi obstruksi pada tingkat lambung Bruit arterial Venous hum pada kaput medusa

Dalam keadaan normal bising usus terdengar lebih kurang 3x permenit. Jika terdapat obstruksi usus,suara peristaltik usus ini akan meningkat,lebih lagi pada saat timbul rasa sakit yang bersifat kolik. Peningkatan suara usus ini disebut borborigmi. Untuk kasus dispepsia pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk mengidentifikasi kelainan intra abdomen atau intra lumen yang padat (misalnya tumor),organomegali,atau nyeri tekan yang sesuai dengan adanya rangsang peritoneal/peritonitis.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan laboratorium dalam arti luas adalah setiap pemeriksaan yang dilakukan di luar pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dalam garis besarnya dimaksudkan sebagai alat diagnostik, petunjuk tatalaksana, dan petunjuk prognosis. Pemeriksaanpenunjangpadadispepsiadapatdilakukan : 1. Laboratorium : untuk mengidentifikasi adanya faktor infeksi (lekositosis), pankreatitis (amilase,lipase), keganasan saluran cerna (CEA,CA19-9,AFP) 2. Ultrasonografi : untuk mengidentifikasi kelainan padat intra abdomen, misalnya adanya batu kandung empedu,kolesistitis,sirosis hati,dsb 3. Endoskopi (esofagogastroduodenoskopi):pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan bila dispepsia tersebut disertai oleh keadaan yang disebut alarm symptoms yaitu adanya penurunan berat badan,anemia,muntah darah,melena,atau keluhan sudah berlangsung lama dan terjadi pada usia lebih dari 45 tahun. Keadaan ini sangat mengarah pada gangguan organik terutama keganasan sehingga memerlukan eksplorasi diagnosis secepatnya. Teknik pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi dengan akurat adanya kelainan struktural/organik intra lumen saluran cerna bagian atas seperti adanya tukak/ulkus,tumor,serta dapat disertai pengambilan jaringan (biopsi) dari jaringan yang dicurigai adanya memperoleh kuman gambaran histopatologiknya pylori.

mengidentifikasi

helicobacter

Pemeriksaanendoskopimempunyaibeberapa keuntungan. Diantaranya untuk menegakkan diagnosis yang dapat menunjukkan adanya kelainan atau abnormalitas seperti esofagitis atau ulkus serta meningkatkan kepuasan pasien.Temuan yang dapat ditemukan pada pemeriksaan endoskopi lambung antara lain :

Normal Gastritis akut atau kronis Ulkus gaster Massa Keganasan Hipertensi portal Perubahan setelah operasi Lain-lain kelainan yang jarang ditemukan 4. Radiologi : Pemriksaan ini dapat mengidentifikasi kelainan

struktural.dinding/mukosa saluran cerna bagian atas seperti adanya tukak atau gambaran ke arah tumor. Pemeriksaan ini bermanfaat pada kelainan yang bersifat penyempitan/stenotik/obstruktif dimana skop endoskopi tidak dapat melewatinya

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis dispepsia, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium sederhana dan pemeriksaan tambahan, seperti pemeriksaan radiologis dan endoskopi. Pada anamnesis, ada tiga kelompok besar pola dispepsia yang dikenal yaitu : Dispepsiatipesepertiulkus terutamasaatlapar/epigastric (gejalanya hunger seperti pain terbakar, nyeri di epigastrium

yang

redadenganpemberianmakanan,

antasidadanobatantisekresiasam)
Dispepsiatipedismotilitas (dengan gejala yang menonjol yaitu mual, kembung dan anoreksia)

Dispepsia spesifik

Tidak semua pasien dispepsia dilakukan pemeriksaan endoskopi dan banyak pasien yang dapat ditatalaksana dengan baik tanpa pengobatan sehingga diagnosis secara klinis agak terbatas kecuali bila ada alarm sign, seperti terlihat pada tabel 4. Bila ada salah satu atau lebih pada tabel tersebut ada pada pasien, sebaiknya dilakukan pemeriksaan endoskopi.

Tabel 4 Gambaran alarm sign untuk dispepsia

Umur 45 tahun (onset baru) Perdarahan dari rektal atau melena Penurunan berat badan >10% Anoreksia Muntah yang persisten Anemia atau perdarahan Massa di abdomen atau limfadenopati Disfagia yang progresif atau odinofagia Riwayat keluarga keganasan saluran cerna bagian atas Riwayat keganasan atau operasi saluran cerna sebelumnya Riwayat ulkus pepticum Kuning (Jaundice)

Dispepsia fungsional didefinisikan dengan adanya riwayat dispepsia paling tidak minimal 3 bulan dan tidak ada bukti kerusakan struktrural secara nyata yang dapat menjelaskan gejalanya. Kategori diagnostik ini mencakup hampir 60% pasien dispepsia.

Diagnosis Kerja
Diagnosis kerja adalah kesimpulan yang dibuat setelah dievaluasi adanya penemuan positif dan negatif yang bermakna dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil laboratorium rutin. Berdasarkan diagnosis kerja ini, maka pengobatan serta tindakan yang perlu dapat segera dilaksanakan.1 Diagnosis kerja untuk kasus ini adalah dispepsia organik.

Diagnosis Banding
Diagnosis banding adalah penyakit-penyakit yang mempunyai persamaan gejala dan atau tanda tertentu. Untuk membuat diagnosis banding harus ditentukan terlebih dahulu gejala serta tanda tertentu yang sama tersebut sebagai titik tolak. Dalam proses penegakan diagnosis, maka diagnosis banding sudah harus dipikirkan sejak permulaan anamnesis atau wawancara medik dilakukan. Hal ini berlangsung terus selama pemeriksaan fisis pasien, dan merupakan penentu dalam melakukan anamnesis selanjutnya, merinci pemeriksaan fisis, serta akan menentukan pilihan pemeriksaan khusus yang diperlukan. Data-data yang didapatkan sangat menentukan relevan atau tidaknya diagnosis banding yang telah dipikirkan. Semakin

banyak data yang didapatkan, biasanya semakin sedikit diagnosis banding yang masih dipikirkan.1 Diagnosis banding yang diambil dari kasus ini adalah

Manifestasi Klinis Penatalaksanaan Pencegahan Prognosis Kesimpulan Daftar Pustaka


1. Mandal. Wilkins. Dunbar. Penyakitinfeksidalam Lecture Notes : PenyakitInfeksi.Ed 6.Jakarta: Erlangga;2008.h.115-17 2. Santoso M. Pemeriksaanfisik diagnosis. Jakarta: BidangPenerbitanYayasan Diabetes Indonesia; 2004.h.1-4,6,13-5,20,98. 3. Louisa M. Setiabudy R. Antivirus dalamFarmakologidanTerapi.Ed 5. Jakarta: DepartemenFarmakologidanTerapeutikFakultasKedokteran UI;2007.h.