Anda di halaman 1dari 8

STUDI PEMBANGUNAN PLTA MUARA JULOI 284 MW KABUPATEN MURUNG RAYA UNTUK MENGATASI KRISIS LISTRIK DI KALIMANTAN TENGAH

Robi Fajerin Darmawan


Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS, Keputih-Sukolilo, Surabaya 60111 Email : robifajerin@gmail.com Abstrak : Kebutuhan akan energi listrik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat seharihari. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan di bidang perekonomian, teknologi, industri dan informasi maka kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat. Hal ini tentu harus diimbangi dengan ketersediaan pasokan tenaga listrik yang mencukupi. Pada kenyataannya penyediaan tenaga listrik di Indonesia dirasakan masih belum cukup, hal ini terbukti masih sering terjadinya pemadaman listrik secara bergilir hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kebutuhan akan sarana dan prasarana guna menampung debit air hujan di Kalimantan Tengah sangat penting. Hal ini dapat mengurangi bencana banjir yang sering melanda sekitar daerah aliran sungai yang ada di Kalimantan Tengah. Pada Tugas Akhir ini akan membahas pembangunan PLTA Muara Juloi 284 MW dengan parameter yang akan dianalisis antara lain adalah aspek teknis, ekonomi, sosial, lingkungan dan ketersediaan energi. Sehingga kebutuhan energi listrik di Kalimantan Tengah dapat terpenuhi dengan baik serta dapat membantu pemerintah daerah guna menanggulangi banjir. Kata kunci : Banjir, PLTA Muara Juloi, technoeconomic-environment. 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi listrik merupakan salah satu komoditas yang sangat penting dan terus berkembang di era globalisasi. Tidak hanya sebagai pendorong pembangunan daerah dalam mewujudkan kesejahteraan, namun juga sebagai salah satu pendorong perekonomian Indonesia. Pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik yang tinggi, tidak diimbangi oleh pengembangan di sisi penyediaan tenaga listrik. Hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik. Di berbagai wilayah Indonesia masih banyak daerah yang mengalami krisis daya terutama daerahdaerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Khusus di wilayah Kalimantan Tengah dimana kondisi krisis daya dan tingginya biaya produksi menjadi kendala utama yang perlu segera dicari solusinya. Kalimantan Tengah merupakan wilayah yang memiliki tingkat pertumbuhan beban yang tinggi dengan rasio elektrifikasi sebesar (56,2 %) dan persentase desa berlistrik sebesar (37,83 %). Berdasarkan data tersebut Kalimantan Tengah mampu mengindikasikan besarnya peluang sekaligus tantangan investasi di sektor ketenagalistrikan. Krisis energi listrik berkepanjangan yang melanda sistem interkoneksi Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah (Kalselteng) sampai saat ini mengalami defisit hingga 35 megawatt (MW). Salah satu kabupaten di Kalselteng yang mengalami masalah tersebut adalah Kabupaten Murung Raya. Pemadaman bergilir tercatat rutin terjadi di Kabupaten Murung Raya. Hal ini tentunya sangat merugikan masyarakat dan para investor yang telah ada maupun yang akan berinvestasi di Kabupaten Murung Raya. Oleh karena itu, masalah penyediaan pasokan listrik merupakan hal penting yang harus dipecahkan oleh PT. PLN (Persero) Distributor Kalselteng, pemerintah daerah serta masyarakat Kabupaten Murung Raya. PT. PLN (Persero) juga harus berusaha untuk mengurangi pemakaian bahan bakar minyak untuk pembangkit yang ada, yaitu dengan mulai menggalakkan penggunaan potensi selain bahan bakar minyak untuk proses pembangkitan seperti air, batu bara, maupun panas bumi. Hal ini disebabkan karena penggunan bahan bakar minyak dirasa sudah tidak ekonomis lagi, karena harganya yang terus mengalami kenaikan. Kebijakan pemerintah dalam diversifikasi dan konservasi energi mendorong kita untuk melakukan studi tentang ketenagalistrikan pada PLTA Muara Juloi 284 MW di Kabupaten Murung Raya demi memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Kalselteng khususnya Kabupaten Murung Raya. Dengan adanya Pembangunan PLTA Muara Juloi 284 MW di Kabupaten Murung Raya, diharapkan dapat mengatasi pertambahan beban di Kabupaten tersebut dan wilayah sekitarnya. Selain itu diharapkan waduk yang ada dapat untuk menampung debit air yang berlebihan di Kabupaten Murung Raya dan sepanjang aliran sungai Muara Juloi sehingga dapat mencegah bencana banjir. 2. TEORI PENUNJANG 2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pembangkit Listrik Tenaga Air merupakan suatu pembangkitan energi listrik dengan mengubah energi potensial air menjadi energi mekanik oleh turbin dan diubah lagi oleh generator menjadi energi listrik dengan memanfaatkan ketinggian dan kecepatan aliran air. 2.2 Proses Produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air Cara kerja Pembangkit ini adalah dengan menggerakkan turbin-turbin sebagai alat merubah enegi mekanik menjadi energi listrik. Selama tingkat penggerakan turbin-turbin, aliran air dari tempat yang tinggi masuk kedalam power house lalu kemudian masuk ke kolam penampung bawah.
1

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

pembangkitan dan harga energi. Metode perhitungan yang digunakan adalah metoda perhitungan biaya pembangkitan tahunan, terdiri dari tiga komponen biaya, yaitu: 1. Biaya investasi modal (capital cost) 2. Biaya bahan bakar (fuel cost) 3. Biaya operasi dan perawatan (O&M cost) 2.5 Analisa Investasi Sebelum suatu pembangunan dilaksanakan perlu dilakukan analisa dari investasi tersebut sehingga akan diketahui kelayakan suatu pembangunan dilihat dari sisi ekonomi investasi. Ada beberapa metode penilaian pembangunan investasi, yaitu1: A. Net Present Value (NPV) Jika nilai NVP positif, maka investasi layak dilaksanakan dan jika nilai NVP bernilai negatif investasi tidak layak dilaksanakan. B. Internal Rate of Return (IRR) Pembangunan layak diterima apabila IRR lebih besar dari suku bunga di bank dan tidak layak dilaksanakan apabila nilai IRR lebih kecil atau sama dengan suku bunga. C. Bennefit Cost Ratio Benefit Cost Ratio adalah persentase pertumbuhan keuntungan selama setahun, yang dapat dicari berdasarkan keuntungan pada tahun tersebut.

Gambar 2.5: Alur Kerja Hydro Powerplant Dasar-dasar pengaturan terdiri dari dua kolam, satu pada lokasi yang tinggi dan lainnya pada lokasi yang rendah dengan menempatkan turbin di bawah rumah stasiun pembangkit di tengah-tengah. Air yang mengalir dari kolam pada lokasi yang lebih tinggi dari rumah pembangkit akan dialirkan ke kolam yang lebih rendah. 2.3 Metode Peramalan Kebutuhan Listrik 2.3.1 Regresi Linier Berganda Dalam Metode Regresi diperlukan faktor yang akan dijadikan acuan dalam perhitungan. Dalam peramalan kebutuhan energi listrik faktor-faktor yang dipakai adalah sebagai berikut : 1. Energi terjual 2. Pertumbuhan jumlah pelanggan rumah tangga 3. Pertumbuhan jumlah pelanggan bidang bisnis 4. Pertumbuhan jumlah pelanggan bidang industri 5. Pertumbuhan jumlah pelanggan publik 6. Pertumbuhan jumlah penduduk 7. Peningkatan PDRB suatu wilayah 2.3.2 Model Peramalan dengan DKL 3.01 Model yang digunakan dalam metode DKL 3.01 untuk menyusun perkiraan adalah model sektoral. Perkiraan kebutuhan tenaga listrik model sektoral digunakan untuk menyusun perkiraan kebutuhan tenaga listrik pada tingkat wilayah/distribusi. Metodologi yang digunakan pada model sektoral adalah metode gabungan antara kecenderungan, ekonometri dan analitis. Pendekatan yang digunakan dalam menghitung kebutuhan listrik adalah dengan mengelompokkan pelanggan menjadi empat sektor yaitu : 1. Sektor Rumah Tangga 2. Sektor Bisnis 3. Sektor Publik 4. Sektor Industri 2.4 Ekonomi Pembangkit Tiap pembangkit listrik mempunyai harga energi listrik yang berbeda-beda yang besarnya bervariasi tergantung pada biaya pembangunan, perawatan dan biaya operasi dari pembangkit listrik tersebut. Tinjauan opsi energi dari aspek ekonomi pada pembahasan ini didasarkan atas biaya modal pembangkitan yang dikeluarkan dalam pemanfaatan energi alternatif menjadi energi listrik, yaitu biaya
Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

BCR

Bennefit (tahun t) ..(2.59) Investasi

D. Payback Periode Payback periode adalah lama waktu yang dibutuhkan agar nilai investasi yang diinvestasikan dapat kembali dengan utuh. investment Cost ..(2.60) PP anual CIF 3 . KONDISI KELISTRIKAN KALIMANTAN TENGAH Tabel 3.1: Pelanggan Tenaga Listrik
Jenis Pelanggan 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rumah Tangga 150.253 163.975 166.667 173.908 182.065 280.366 199.667 207.241 214.423 216.585 239.801 Industri 139 126 122 119 115 132 103 107 109 144 126 Bisnis 13.127 13.894 14.041 14.600 15.158 14.905 17.137 18.200 19.019 19.398 19.964 Publik 6.107 5.801 6.554 6.599 7.120 9.397 8.135 8.740 9.353 9.578 10.202 Jumlah 169.626 183.796 187.384 195.226 204.458 304.800 225.046 234.288 242.904 245.705 270.093

Westton, J. Fred, dan Copeland, Thomas E., Manajemen Keuangan, Edisi Kedelapan, Alih Bahasa Jaka Wasana dan Kirbrandoko, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1992.
2

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun jumlah pelanggan listrik di Kalimantan Tengah terus mengalami kenaikan, hal ini disebabkan bertambahnya jumlah penduduk di Kalimantan Tengah. Kenaikan ini disebabkan oleh rumah tangga, gedung perkantoran dan jalan-jalan yang memerlukan penerangan. Berikut ini tabel jumlah tenaga listrik yang terjual tahun 1999-2009 wilayah Kalimantan Tengah. Tabel 3.2: Besar Tenaga Listrik Terjual pada Pelanggan dan Kelompok Pelanggan di Kalimantan Tengah Tahun 1999-2009 (GWh)
Jenis Pelanggan 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rumah Tangga 160,43 190,55 204,02 203,23 211,16 254,67 239,63 257,49 284,19 307,73 311,35 Industri 17,43 14,76 14,28 14,61 17,17 47,19 21,05 20,58 24,96 20,61 89,14 Bisnis 35,26 43,32 42,29 43,71 48,08 65,82 58,67 66,99 79,86 91,47 27,29 Publik 20,40 21,76 23,17 24,09 25,42 65,28 30,94 34,49 40,85 43,83 48,41 Jumlah 233,52 270,40 283,77 285,64 301,83 402,36 350,29 379,55 429,86 463,64 476,19

P =QxHxgx P = 517 x 70 x 9,81 x 0,8 P = 284.019 kW P = 284 MW Energi Listrik per tahun: Energi Listrik = P x jam operasi x faktor kapasitas Energi Listrik = 284 x 8760 x 0,8 Energi Listrik = 1.990.272 MWh = 1.990,27 GWh / tahun Untuk ukuran pipa yang digunakan dapat dihitung: Luas pipa = Flowrate / Kecepatan Bila diasumsikan kecepatan di pertahankan konstan pada 10 mph atau sama dengan 4,47 m/s maka dapat dihitung: Luas pipa = 517 / 4,47 = 115,66 m2 Jari-jari Pipa = 4,29 m Diameter Pipa = 8,58 m

4. ANALISIS PEMBANGUNAN PLTA MUARA JULOI 284 MW DI KABUPATEN MURUNG RAYA 4.1 Kebutuhan Pelanggan Saat ini Dari tahun ke tahun jumlah pelanggan dan kebutuhan listrik di wilayah Kalimantan Tengah mengalami peningkatan seperti pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2 diatas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan jumlah pelanggan dari tahun ke tahun untuk sektor rumah tangga sebesar 3,4% dan daya meningkat menjadi 5,2%. Pada sektor industri jumlahnya meningkat 1,83% dan daya tersambung meningkat 14,3%. Pada sektor bisnis jumlahnya meningkat 4,3 % dan daya tersambung meningkat 6,7%. Pada sektor publik jumlahnya meningkat 6,55% dan daya tersambung meningkat 10,8%. Dengan peningkatan beban puncak pada tahun 1999 sampai 2008 rata-rata sebesar 11,74% sedangkan daya mampu pembangkit yang ada hanya 60,72 MW. 4.2 Analisa Debit, Head dan Daya PLTA Perencanaan pembangunan PLTA Muara Juloi 284 MW di Desa Muara Juloi dengan memanfaatkan Sungai Juloi yang berasal dari sungai utama yaitu Sungai Barito. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) sebesar 7.793 km2, rata-rata curah hujan tahunan sebesar 2600 mm/tahun dan debit air rata-rata sungai mencapai 605,9 3 /sec. Sedangkan beda ketinggian yang diambil adalah 70m. Sehingga akan menghasilkan daya seperti perhitungan berikut: Dari data yang diperoleh yaitu: Debit air (Q) = 517 m3/s (dibawah debit rerata) Ketinggian (H) = 70 m Gravitasi (g) = 9,81 Effisiensi () = 0,8 Maka akan diperoleh daya yang terbangkitkan dapat dihitung menggunakan rumus 2.15:
Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

Gambar 4.1: Turbine chart

Dengan menggunakan chart seperti diatas, dengan parameter yang digunakan yaitu: Flowrate (m3/s) Head (m) Maka dapat ditentukan bahwa pada PLTA Muara Juloi 284 MW dipakai turbin jenis Francis Turbine. 4.3 Peramalan Beban dengan Regresi Linier Berganda Tabel 4.1: Proyeksi Konsumsi Energi Listrik per Kelompok Pelanggan Kalimantan Tengah (GWh)
Rumah Tangga 325,9 340,46 355,01 369,56 384,12 398,67 413,22 427,78 442,33 456,88 471,43 485,99 500,54 515,09 529,65 544,2 558,75 573,31 587,86 602,41 616,97 631,52 646,07 Bisnis 94,88 100,63 106,37 112,12 117,86 123,61 129,35 135,09 140,84 146,58 152,33 158,07 163,81 169,56 175,3 181,05 186,79 192,54 198,28 204,02 209,77 215,51 221,26 Industri 28,39 29,49 30,58 31,68 32,78 33,87 34,97 36,06 37,16 38,25 39,35 40,45 41,54 42,64 43,74 44,83 45,93 47,02 48,12 49,22 50,31 51,41 52,5 Publik 51,21 54 56,79 59,6 62,39 65,19 67,99 70,78 73,58 76,38 79,17 81,97 84,77 87,57 90,36 93,16 95,96 98,75 101,55 104,35 107,14 109,94 112,74 Total 500,38 524,58 548,75 572,96 597,15 621,34 645,53 669,71 693,91 718,09 742,28 766,48 790,66 814,86 839,05 863,24 887,43 911,62 935,81 960 984,19 1008,38 1032,57 3

Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032

Tahun 2033 2034 2035

Rumah Tangga 660,62 675,18 689,73

Bisnis 227 232,75 238,49

Industri 53,6 54,7 55,79

Publik 115,53 118,33 121,13

Total 1056,76 1080,95 1105,14

4.4 Analisis Peramalan dengan Metode DKL 3.01 Tabel 4.2: Proyeksi Konsumsi Energi Listrik per Kelompok Pelanggan Kalimantan Tengah (GWh)
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 Rumah Tangga 396,44 429,79 464,37 500,26 537,31 575,58 615,16 655,89 697,93 741,09 785,57 831,18 877,99 926,02 975,39 1025,97 1042,82 1084,18 1125,54 1166,89 1208,25 1249,61 1290,97 1332,33 1373,69 1415,04 Bisnis 89,19 94,93 100,68 106,43 112,18 117,93 123,68 129,42 135,16 140,92 146,66 152,42 158,15 163,9 169,65 175,39 180,19 185,78 191,37 196,96 202,55 208,14 213,73 219,31 224,90 230,49 Industri 27,29 28,39 29,49 30,59 31,69 32,79 33,88 34,98 36,07 37,17 38,26 39,36 40,46 41,55 42,65 43,75 45,50 46,71 47,91 49,12 50,33 51,53 52,74 53,94 55,15 56,36 Publik 53,53 56,62 59,71 62,79 65,89 68,98 72,08 75,17 78,26 81,35 84,48 87,54 90,63 93,73 96,82 99,91 103,24 106,37 109,50 112,63 115,76 118,89 122,03 125,16 128,29 131,42 Total 566,45 609,74 654,26 700,07 747,08 795,28 844,79 895,47 947,43 1000,54 1054,95 1110,49 1167,24 1225,20 1284,52 1345,03 1371,76 1423,04 1474,33 1525,61 1576,89 1628,18 1679,46 1730,75 1782,03 1833,32

Dari hasil peramalan di atas pertumbuhan total konsumsi energi listrik dengan menggunakan metode regresi sebesar 2,24 %, sedangkan dengan menggunakan metode DKL 3.01 pertumbuhan total konsumsi energi listrik adalah 2,88 %. Sedangkan total konsumsi energi listrik pada tahun 2035 dengan menggunakan metode regresi sebesar 1105,14 Gwh dan dengan metode DKL sebesar 1833,32 Gwh. Menurut perhitungan PT. PLN (Persero) yaitu sebesar 2114 Gwh. 4.5 Neraca Daya Kalimantan Tengah Dengan asumsi PLTA Muara Juloi 284 MW Kabupaten Murung Raya selesai dibangunnya pada tahun 2011 maka secara otomatis neraca daya Kalimantan Tengah juga mengalami perubahan, yaitu pada bagian daya mampu mulai tahun 2011 seperti pada berikut ini. Tabel 4.4: Proyeksi Neraca Daya Kalimantan Tengah dengan Penambahan PLTA Muara Juloi 284 MW
Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 Daya Mampu (MW) 60,72 60,72 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 284 Beban Puncak (MW) 51,29 52,09 52,88 53,68 54,47 55,27 56,07 56,86 57,66 58,46 59,25 60,05 60,84 61,64 62,44 63,23 64,03 64,83 65,62 66,42 67,21 68,01 68,81 69,60 70,39 71,19 71,99 Selisih (MW) 9,43 8,63 231.12 230.32 229.53 228.73 227.93 227.14 226.34 225.54 224.75 223.95 223.16 222.36 221.56 220.77 219.97 219,18 218,38 217,58 216,79 215,99 215,19 214,39 213,60 212,81 212,01 Reserve Margin 1.183856 1.165674 5.370651 5.290611 5.213879 5.138411 5.065097 4.994724 4.925425 4.858023 4.793249 4.729392 4.667982 4.607398 4.548366 4.491539 4.435421 4,381026 4,327871 4,275991 4,225340 4,175875 4,127554 4,080339 4,034192 3,989077 3,944960 Keterangan defisit defisit surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus surplus

Tabel 4.3: Perbandingan Proyeksi Konsumsi Energi Listrik Antara Regresi Linier Berganda, DKL 3.01 dan RPTL (GWh)
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 Regresi 500,38 524,58 548,75 572,96 597,15 621,34 645,53 669,71 693,91 718,09 742,28 766,48 790,66 814,86 839,05 863,24 887,43 911,62 935,81 959,99 984,19 1008,38 1032,57 1056,76 1080,95 1105,14 DKL 566,45 609,74 654,26 700,07 747,08 795,28 844,79 895,47 947,43 1000,54 1054,95 1110,49 1167,24 1225,20 1284,52 1345,03 1371,76 1423,04 1474,33 1525,61 1576,89 1628,18 1679,46 1730,75 1782,03 1833,32 RPTL 532 538 589 644 703 769 840 915 994 1078 1169 1192 1258 1324 1389 1455 1521 1587 1653 1718 1785 1850 1916 1982 2048 2114

Pada tabel diatas yang dikatakan defisit oleh PLN adalah: Daya Mampu Reverse Margin Beban Puncak Dimana: Reserve Margin < 1,2 termasuk defisit Reverse Margin > 1,2 termasuk surplus 4.6 Analisis Ekonomi Pembangkit Listrik 4.6.1 Perhitungan Biaya Pembangkitan Energi listrik Pada pembangunan PLTA Muara Juloi 284 MW. Maka diambil asumsi secara umum bahwa akan dibangun PLTA dengan dengan kapasitas total 284 MW, dengan faktor kapasitas 80 % dan memiliki umur pembangkit 25 tahun.

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

4.6.1.1 Perhitungan Biaya Modal Pembangkit Perhitungan Biaya Pembangunan Biaya pembangunan adalah sebesar:
Biaya Pembanguna n Capital Investment Cost 0,36 x 109USD Installed Capacity 284 x 103 kW

= 1268 US$ / kW Perhitungan Jumlah Pembangkitan Tenaga Listrik (kWh/Tahun) Dengan daya terpasang 284 MW dan faktor kapasitas 80 % maka Jumlah Pembangkitan Tenaga Listrik (kWh/tahun) = Daya Terpasang x Faktor Kapasitas x 8760 = 284 MW x 0,8 x 8760 = 1.990.272.000 kWh/tahun Jadi biaya modal / Capital Cost (CC) adalah sebagai berikut:
Capital Cost Biaya pembanguna n x kapasitas Pembangkit x CRF Jumlah Pembangkit an Neto Tenaga Listrik

4.7 Analisa Investasi Pembangkit 4.7.1 Net Present Value Metode Net Present Value (NPV) ini menghitung jumlah nilai sekarang dengan menggunakan Discount Rate tertentu dan kemudian membandingkannya dengan investasi awal (Initial Invesment) dan selisihnya disebut NPV. Apabila NPV tersebut positif, maka usulan investasi tersebut diterima dan apabila negatif maka usulan investasi tersebut ditolak. Setelah pembangkit beroperasi 25 tahun, maka NPV untuk suku bunga 6 % ditunjukkan seperti berikut: Tabel 4.7: Analisis NPV Harga Jual ( US$ / kWh ) Suku Bunga 0,07 0,08 6% 545.878.087 787.580.468 9% 211.152 824 396.872.568 12% -15.65.656 132.622.509 4.7.2 Internal Rate of Return (IRR) Suatu usulan pembangunan investasi diterima jika IRR lebih tinggi dari biaya modal/tingkat suku bunga, dan usulan pembangunan investasi ditolak jika IRR lebih rendah atau sama dengan biaya modal/tingkat suku bunga. Tabel 4.8: Analisis IRR Internal Rate of Return % Harga Listrik (USD/Kw) i = 6 % i = 9 % i = 12 % 0,07 19 % 15 % 11 % 0,08 24 % 20 % 17 % Dari hasil perhitungan internal rate of return dan NPV, maka dapat dianalisis bahwa pembangunan ini layak untuk dilaksanakan apabila : Menggunakan suku bunga 6 % dengan harga listrik US$ 0.07/kWh atau lebih. Menggunakan suku bunga 9 % dengan harga listrik US$ 0.07/kWh atau lebih. Menggunakan suku bunga 12 % dengan harga listrik US$ 0.08/kWh. 4.7.3 Bennefit Cost Ratio (BCR) Benefit Cost Ratio adalah persentase pertumbuhan keuntungan selama setahun, yang dapat dicari berdasarkan keuntungan pada tahun tersebut. Tabel 4.9: Analisis BCR Harga Listrik BCR ( % ) (USD/Kw) 0,07 0,08 i=6% 0,20 0,25 i=9% 0,17 0,22 i = 12 % 0,14 0,19

Untuk suku bunga i = 6 %


1268 x284.000 x0,078 CC 0,01411 USD / kWh 1,411 cent / kWh 1.990.272.000

Untuk suku bunga i = 9 %


CC 1268x284.000 x0,102 0,01845 USD / kWh 1,845 cent / kWh 1.990.272.000

Untuk suku bunga i = 12 %


CC 1268x284.000 x0,127 0,02297 USD / kWh 2,297 cent / kWh 1.990.272.000

4.6.1.2 Perhitungan Biaya Operasi Dan Perawatan Biaya operasi dan perawatan PLTA terdiri dari beberapa komponen antara lain biaya operasional, biaya pemeliharaan pembangkit listrik dan biaya pemeliharaan lapangan, yang tertera pada tabel dibawah in : Tabel 4.5: Biaya Operasi dan Pemeliharaan Jenis Data Operation cost/kWh Maintenance cost/kWh OM Nilai 4,05 mills (0,4 cent) 2,62 mills (0,3 cent) = 0,4 + 0,3 = 0,7 cent/kWh

4.6.2 Perhitungan Biaya Pembangkitan Total Berdasarkan beberapa biaya diatas, maka persamaan biaya pembangkitan total dalam pembangkitan tahunan dapat dinyatakan sebagai berikut: TC = CC + FC + OM Tabel 4.6: Biaya Pembangkitan Energi Listrik
Perhitungan Biaya Pembangunan (US$/kW) Umur Operasi (Tahun) Kapasitas (MW) Biaya Bahan Bakar (US$/kWh) B. O & M (US$ / kWh) Biaya Modal (US$ / kWh) Total Cost (US$ / kWh) Investasi (jutaUS$) 6% 1268 25 284 0 0.007 0.01411 0.02111 360 Suku Bunga 9% 1268 25 284 0 0.007 0.01845 0.02545 360 12% 1268 25 284 0 0.007 0.02297 0.02997 360

4.7.4 Payback Periode Payback periode adalah lama waktu yang dibutuhkan agar nilai investasi yang dinvestasikan dapat kembali dengan utuh. Tabel 4.10: Analisis Payback Periode Harga Listrik (USD/Kw) 0,07 0,08 Payback Periode (Tahun) i = 6 % i = 9 % i = 12 % 5 6 7 4 5 5

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

4.8 Perhitungan Daya Beli Masyarakat Kemampuan konsumsi masyarakat akan energi listrik sangat menentukan seberapa besar harga jual listrik nantinya yang mampu dibayar. Biaya pembangkitan total dengan tingkat suku bunga (i) akan menjadi acuan untuk menentukan harga jual listrik. Besarnya biaya pembangkit total akan dibandingkan dengan harga energi listrik yang dapat dikonsumsi masyarakat. Untuk mengetahui seberapa besar daya beli energi listrik masyarakat Kalimantan Tengah, digunakan data kelistrikan dan kependudukan Propinsi Kalimantan Tengah sebagai acuan dalam analisis. Pengeluaran per kapita = Rp 624.790,00/kapita Diasumsikan 1 rumah tangga ada 4 anggota keluarga sehingga didapat : Pengeluaran Rumah Tangga = 4 x Rp 624.790,00/kapita = Rp 2.499.160,00 Sedangkan pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi energi listrik rata-rata adalah 10%. Maka pengeluaran rumah tangga untuk energi listrik adalah Rp. 249.916,00. Dengan sambungan daya pelanggan pada 900 VA maka dengan asumsi power faktor 0,8 didapat sambungan daya dalam watt adalah : 900 VA x 0,8 = 0,72 kW Dengan faktor beban 96,10 %, maka konsumsi listrik dalam 1 bulan didapat : kWh/bulan = 0,72 kWx30(hari)x24 (jam)xLoad Factor = 0,72 kWx30(hari)x24(jam)x0,9610 = 498,18 kWh/bulan Dengan biaya beban sebesar Rp. 20.000 (sesuai Peraturan Mentri ESDM No: 07 tahun 2010 mengenai Tarif Dasar Listrik) dan tarif TDL rumah tangga untuk wilayah Propinsi Kalimantan Tengah adalah 605 seperti pada tabel dibawah : Tabel 4.11: Harga Jual Listrik per Sektor

Dengan harga pembangkitan total pada suku bunga: - i = 6 % sebesar Rp. 211,10 /kWh - i = 9 % sebesar Rp. 254,50 /kWh ataupun, - i = 12 % sebesar Rp. 299,70 /kWh Harga jual listrik PLTA Muara Juloi menunjukkan masih di bawah daya beli masyarakat. Energi listrik merupakan tolak ukur bagi perkembangan dan kemajuan teknologi suatu daerah. 4.9 Analisis Aspek Sosial Kalimantan Tengah Indeks pembangunan manusia merupakan indikator strategis yang banyak digunakan untuk melihat upaya dan kinerja program manusia secara menyeluruh disuatu wilayah, sehingga dapat dilihat perkembangan kesejahteraan penduduk di wilayah dari tahun ke tahun dan perbandingan dengan wilayah lainnya. Dalam hal ini IPM dianggap sebagai gambaran dari hasil program pembangunan yang telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Pada Tahun 2008 IPM di Kalimantan Tengah mempunyai rata-rata 73.49 dan pengeluaran perkapita mencapai rata-rata 624.79. Dari acuan ini maka dapat disusun bagan dari IPM dan pengeluaran perkapita di Propinsi Kalimantan Tengah. Tabel 4.12: Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Tengah Tahun 2008
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten / Kota Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Kapuas Barito Selatan Barito Utara Sukamara Lamandau Seruyan Katingan Pulang Pisau Gunung Mas Barito Timur Murung Raya Palangka Raya Rata-Rata Pengeluaran per Kapita (Rp 1.000) 621.20 626.25 627.60 625.50 622.80 626.30 628.62 620.20 623.70 626.60 622.40 620.20 627.50 631.00 624.79 IPM 72.14 72.90 72.58 72.56 74.12 70.65 71.54 71.62 71.59 70.10 72.40 71.66 71.62 77.47 73.49 Reduksi Shortfall 0.68 0.74 1.27 0.57 0.68 0.67 2.19 0.64 0.16 0.76 0.45 0.31 0.06 1.77 0.37

4.10 Analisa Aspek Lingkungan Maka didapat biaya sebesar = 498,18 kWh x Rp. 605 = Rp. 301.398,90 Dengan penjumlahan biaya beban sebesar Rp. 20.000 didapat total biaya sebesar Rp. 321.398,90. Maka daya beli listrik rumah tangga diperoleh dari perbandingan antara total biaya energi listrik dengan pengeluaran untuk energi listrik, kemudian dikalikan dengan rata-rata tarif dasar listrik di Propinsi Kalimantan Tengah, maka:
Rp. 249.916,00 Rp. 605 Rp. 470,44 / kWh Rp.321.398,90

(Gambar

4.2: Grafik Emisi Gas dari Berbagai Jenis Pembangkit


6

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

Dari gambar grafik diatas untuk pembangkit dengan bahan bakar air tidak memiliki emisi. Jika Pembangunan PLTA Muara Juloi 284 MW tidak menghasilkan karbon kredit maka mendapat uang sebesar 0,5 cent/KWh. Karena PLTA memiliki 0kg/KWh dengan ambang batas rata-rata 728 kg/kWh, maka CDM yang di dapat adalah sebagai berikut:

CDM

728 0 0,5cent 728 0,5cent 0,005$US Rp 50,00

4.11 Analisis Perhitungan Biaya Pokok Penyediaan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) di Propinsi Kalimantan Tengah dihitung dengan merinci per pembangkit seperti pada tabel dibawah ini, dimana BPP per pembangkit terlampir, maka perhitungannya sebagai berikut : Tabel 4.13: BPP di Kalteng Sebelum PLTA Muara Juloi Masuk
Pembangkit Di Kalimantan Tengah Kapasitas (MW) BPP (Rp/kWh) PLTD 60,72 2.610 Total 60,72 2.610

Tabel 4.14: BPP di Kalteng Setelah PLTA Muara Juloi Masuk


Pembangkit Di Kalimantan Tengah Kapasitas (MW) BPP (Rp/kWh) PLTA 284 211,1 Total 284 211,1

terus mengalami peningkatan. Dengan penambahan PLTA dengan kapasitas daya sebesar 284 MW maka kebutuhan energi listrik di Kalimantan Tengah dapat tercukupi. 4. a). Dilihat dari aspek ekonomi dengan total investasi sebesar 3.6 trilliun rupiah dengan suku bunga 6%, kemungkinan keuntungan akan didapat pada tahun ke 5 atau ke 6 setelah pembangkit ini beroperasi dengan rata rata keuntungan 0.20% per tahun. Dari perhitungan kelayakan investasi tampak bahwa pada kombinasi suku bunga 6 %, 9 % dan 12 % dengan harga jual listrik 0,07 US$/kWh maupun 0,08 US$/kWh, maka nilai NPV-nya positif, hal ini berarti investasi untuk PLTA ini layak. b). Dilihat dari aspek sosial Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai rata-rata IPM sebesar 73,49 dan pengeluaran perkapita sebesar 624,79. Dari data-data tersebut maka Propinsi Kalimantan Tengah berpotensi untuk mengalami pembangunan di berbagai sektor dan untuk mencapai peningkatan rasio elektrifikasi maka harus dibangun pembangkit baru. c). Dilihat dari aspek lingkungan PLTA merupakan pembangkit listrik yang relatif bersih dibandingkan PLTU, PLTG, PLTGU, PLTD. Hal ini disebabkan PLTA hanya mengkonversi energi air menjadi energi gerak untuk memutar turbin sehingga menghasilkan tenaga listrik. 5. Pengaruh pembangunan PLTA Muara Juloi terhadap kelistrikan Kalimantan Tengah ialah terpenuhinya kekurangan energi listrik yang terjadi pada beberapa tahun terakhir. Sedangkan dengan adanya PLTA ini biaya produksi energy listrik yang semula Rp.2.610 menjadi Rp.2l1,11 dengan pergantian jenis pembangkit, yaitu dari PLTD menjadi PLTA. 5.2 Saran 1. Perlunya segera dilakukan upaya-upaya efisiensi dalam penyediaan tenaga listrik di Kalimantan Tengah seperti salah satunya PLTA Muara Juloi di Kabupaten Murung Raya agar dapat membantu menekan biaya pokok penyediaan tenaga listrik dan mencapai tingkat keuangan yang diinginkan. 2. Perlunya penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan energi terbarukan untuk pembangkit listrik sehingga didapatkan alternatif untuk diversifikasi dan mendapatkan harga energi yang lebih kompetitif untuk jangka panjang. 3. Strategi pembangunan pembangkit di kalimantan Tengah haruslah mengutamakan pembangkit yang memanfaatkan energi dengan efisien, ekonomis, serta ramah lingkungan. DAFTAR PUSTAKA Marsudi, Djiteng, Pembangkitan Energi Listrik, Erlangga. 2005. Kadir, Abdul, 1995. Energi: Sumber Daya, Inovasi, Tenaga Listrik dan Potensi Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta. Mahmudsyah, Syarifuddin, Ir. M.Eng., Kenaikan Harga BBM dan Problematikanya, Serta Diversivikasi Energi Menghadapi Era Pengurangan Subsidi BBM, Seminar, ITSSurabaya, 24 April 2002
7

5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain : 1. Dilihat dari kondisi eksisting ketenaga listrikan di Kalimantan Tengah dapat disimpulkan mengalami defisit 35 MW sehingga pembangkit yang ada sekarang belum mampu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ketenaga listrikan ditahun tahun mendatang. Sementara itu ketersediaan energi di Kalimantan Tengah sangat melimpah terutama untuk energi air yang mencapai 1300 MW. 2. Dilihat dari aspek teknis dengan jumlah debit air sebesar 605,9 m3/sec dan ketinggian sebesar 70 meter maka daya yang dapat dibangkitkan sebesar 284 MW. Sedangkan dari segi peralatan dan bangunan, PLTA ini tidak membutuhkan peralatan khusus karena peralatan yang digunakan merupakan peralatan standar PLTA pada umumnya. 3. Dengan peningkatan beban puncak pada tahun 1999 sampai 2009 rata-rata sebesar 11,74% sedangkan daya mampu pembangkit yang ada hanya 60,72 MW. Dari hasil peramalan baik dengan metode regresi dengan maupun dengan metode DKL3.01 dapat diketahui bahwa kebutuhan akan energi listrik di Kalimantan Tengah dalam jangka pendek yaitu sampai tahun 2025
Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS

1. 2.

3.

Muslim, Supari, Pembangkit Tenaga Listrik, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, 2008. 5. ..,Sumber daya air untuk listrik di Kalimantan Tengah, URL:http:// freevynou.blogspot.com 6. .......,Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2008, Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah, 2008. 7. ......,2009. Statistik PLN, URL:http://www.pln.co.id 8. ......,2009. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, URL: http://www.kalteng.go.id 9. ......,2009. Pemerintah Kabupaten Murung Raya, URL: http://www.kabmurungraya.go.id 10. ......,2009. Rencana Penyediaan Tenaga Listrik (RPTL) 2010-2019, PT. PLN (Persero) Wilayah Kalselteng, 2009. 11. ......,2010. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2010-2019, PT. PLN (Persero), 2010. BIOGRAFI PENULIS Penulis dilahirkan di Sidoarjo - Jawa Timur pada 13 Nopember 1987 dengan nama lengkap Robi Fajerin Darmawan, dilahirkan sebagai putra ketiga dari tiga bersaudara oleh pasangan M. Sudarmadji dan Siswati yang bertempat tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepeluh Nopember Surabaya dengan NRP : 2206 100 045

4.

Proceeding Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS