Anda di halaman 1dari 19

Otitis Media BAB I PENDAHULUAN

February 21, 2014

A. Skenario 2 An. H berusia 1 tahun 2 bulan di bawa orang tuanya Tn. N ke poliklink THT RS. U. Tn. N mengatakan awalnya Tn. N membersihkan telinga An. H, pada saat dibersihkan An. H tiba-tiba menangis. Kemudian Tn. H mengeluarkan cairan berwarna kenuning-kuningan di kedua telinganya dan berbau. Tn. N menanyakan bagaimana penatalaksanaan agar cairan di telinga anaknya agar tidak keluar lagi. Tn. N juga menanyakan kepada Ners Yoko bagaimana cara membersihkan telinga yang benar.

B. Analisa Kasus Langkah 1 : Klasifikasi/Identifikasi Istilah (clarify terms)

Langkah 2 : Membuat Daftar Masalah 1. Bagaimana cara membersihkan telinga pada anak ? 2. Jelaskan Asuhan Keperawatan pada skenario? 3. Kenapa cairan yang keluar berwarna kekuningan dan berbau? 4. Bagaimana patofisiologi pada Kasus? 5. Apa saja etiologi pada skenario? 6. Bagaimana penatalkasanaan pada anak agar cairan tidak keluar lagi? 7. Apa saja klasifikasi pada penyakit? 8. Termasuk penyakit apakah di skenario? 9. Apakah lebih rentan pada anak atau orang dewasa, jelaskan! 10. Apakah penyakit pada skenario menular, jelaskan! 11. Apa saja komplikasi pada skenario? 12. Apa saja pencegahan pada penyakit tersebut? 13. Apa saja manifestasi klinis pada kasus? 14. Apa saja pemeriksaan penunjang pada skenario? 15. Apa saja diagnosa banding keperawatan pada skenaro? 16. Apa saja faktor resiko pada skenario? Langkah 3 : Klarifikasi Masalah 1. Cara membersihkan telinga yang baik dan benar adalah Bersihkan dengan benar Ada banyak pendapat tentang boleh tidaknya membersihkan kotoran telinga anak
Kelompok 3 Page 1

Otitis Media

February 21, 2014

secara mandiri di rumah. Sebetulnya, secara umum kita dapat melakukannya dengan memperhatikan hal-hal berikut.

Bersihkan kotoran yang hanya di bagian paling luar liang telinga . Cotton buds hanya digunakan untuk membersihkan kotoran di daerah daun telinga . Selain itu, kotoran telinganya lunak, dan dilakukan dengan cara yang benar dan hatihati. Jangan gunakan benda tajam , seperti jepit rambut atau tangkai bulu ayam. Teteskan baby oil ke dalam liang telinga secara rutin 2 kali seminggu, untuk mencegah penumpukan kotoran telinga. 4. Umumnya otitis media dari nasofaring yang kemudian mengenai telinga tengah, kecuali pada kasus yang relatif jarang, yang mendapatkan infeksi bakteri yang membocorkan membran timpani.Stadium awal komplikasi ini dimulai dengan hipertemi dan edema pada mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang kemudian lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa.

Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring. Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi bakteri akan menentukan progresivitas penyakit.

Otitis media akut dan kronis yang juga diketahui sebagai otitis media supuratif dan purulent adalah sama dalam patofisiologisnya.

Cara masuk bakteri pada kebanyakan pasien kemungkinan melalui tuba eustachii akibat kontaminasi secret dalam nasofaring. Agen infeksi masuk kedalam telinga tengah menyebabkan peradangan dalam mukosa yang menimbulkan bengkak dan iritasi tulang atau osikel ( tulang pendengaran pada telinga tengah ) proses ini diikuti dengan pembentukan peradangan eksudat purulent. Serangan terjadi secara mendadak atau akut dengan durasi yang relatif pendek sekitar 3 minggu atau kurang.

Otitis media kronik biasanya mengikuti kondisi akut yang berulang, berlangsung lebih lama, dan dapat dihubungkan dengan morbiditas atau injuri yang lebih luas dalam struktur telinga tengah baikm akut maupun kronik. Tanda dan gejala penyakit ini disebabkan oleh
Kelompok 3 Page 2

Otitis Media

February 21, 2014

tekanan cairan pada rongga telinga tengah, tuba eustacheus dan proses infeksi. Kerusakan tulang-tulang pada teelinga tengah berkembang menjadi perforasi membrane, jetuhnya material terinfeksi ketelinga luar.Penyakit dan pengobatab menjadi lebih rumit dengan adanya otitis eksterna. Faktor penyebab biasanya saling berkaitan.

Otitis media serosa dikarakteristikan oleh akumulasi cairan sterill dibelakang membran timpani. Otitis media serosa dapat mendahului atau menjadi komplikasi jangka panjang otitis media akut. Efusi cairan mungkin menetap pada telinga tengah mencapai beberapa bulan. Ketika cairan menetap lebih lama dan mulai menebal akhirnya terjadi komplikasi berupa otitis media adhesiva. Otitis media serosa dan kronik yang tidak diobati menyebabkan penebalan dan perlukaan pada struktur telinga tengah dan tulang. Nekrosis osikel mengakibatka destruksi struktur telinga tengah. Pembedahan osikel penting dilakukan untuk mengatasi ketulian

5. Etiologi dari otitis media adalah Biasanya otitis media banyak disebabkan oleh halhal berikut ini : (A) Streptococcus. (B) Stapilococcus. (C) Diplococcus pneumonie. (D) Hemopilus influens. (E) Gram Positif : S. Pyogenes, S. Albus. (F) Gram Negatif : Proteus spp, Psedomonas spp, E. Coli. (G) Kuman anaerob : Alergi, diabetes melitus, TBC paru.

Penyebab otitis media dibagi menurut jenisnya yaitu : 1. Otitis media akut Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (eg : sinusitis, hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( eg : rhinitis alergika). Bakteri yang umum ditemukan sebagai
Kelompok 3 Page 3

Otitis Media

February 21, 2014

organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae, Hemophylus influenzae, Streptococcus pyogenes, dan Moraxella catarrhalis. 2. Otitis media serosa Cairan pada otitis media serosa sebagai akibat tekanan negative dalam telinga tengah yang disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii. Pada penyakit ini, tidak ada agen penyebab definitive yang telah diidentifikasi, meskipun otitis media dengan efusi lebih banyak terdapat pada anak yang telah sembuh dari otitis media akut dan biasanya dikenal dengan glue ear. Bila terjadi pada orang dewasa, penyebab lain yang mendasari terjadinya disfungsi tuba eustachii harus dicari. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah mengalami radioterapi dan barotrauma ( ex : penyelam ) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustachii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. 3. Otitis media kronis, Disebabkan oleh : (A) Terapi yang terlambat (B) Terapi yang tidak adekuat (C) Virulensi kuman tinggi (D) Daya tahan tubuh rendah (E) Kebersihan buruk 7. Klasifikasi yang termasuk otitis media adalah 1. Otitis Media Akut Otitis media akut adalah keadaan dimana terdapatnya cairan di dalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi. Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 2002). Otitis media akut ialah radang akut telinga tengah yang terjadi terutama pada bayi atau anak yang biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas (Schwartz 2004). Otitis media akut Adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah, yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia, tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama usia 3 bulan 3 tahun. 2. Otitis Media Serosa (Otitis media dengan efusi) Otitis media serosa / efusi adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah tanpa adanya tanda dan gejala infeksi aktif.Secara teori, cairan ini sebagai akibat tekanan negative dalam telinga tengah yang disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii.
Kelompok 3 Page 4

Otitis Media

February 21, 2014

Pada penyakit ini, tidak ada agen penyebab definitive yang telah diidentifikasi, meskipun otitis media dengan efusi lebih banyak terdapat pada anak yang telah sembuh dari otitis media akut dan biasanya dikenal dengan glue ear. Bila terjadi pada orang dewasa, penyebab lain yang mendasari terjadinya disfungsi tuba eustachii harus dicari. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah mengalami radioterapi dan barotrauma ( eg : penyelam ) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustachii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. 3. Otitis Media Kronik Otitis media kronik sendiri adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani.Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrane timpani.Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrane timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid.Sebelum penemuan antibiotic, infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa.Sekarang, penggunaan antibiotic yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koalesens akut menjadi jarang.Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tak ditangani. Mastoiditis kronik lebih sering, dan beberapa dari infeksi kronik ini, dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam ( epitel skuamosa ) dari lapisan luar membrane timpani ke telinga tengah. Kulit dari membrane timpani lateral membentuk kantong luar, yang akan berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Kantong dapat melekat ke struktur telinga tengah dan mastoid. Bila tidak ditangani, kolesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralysis nervus fasialis ( N. Cranial VII ), kehilangan pendengaran sensorineural dan/ atau gangguan keseimbangan (akibat erosi telinga dalam) dan abses otak. 8. Penyakit pada scenario adalah otitis media karena kalau sesuai tanda dan gejala hamper mendekati dari otitits media tapi perlu pengkajian lebih lanjut untuk mengetahui penyakit ini. 11. Komplikasi otits media adalah Otitis media mempunyai potensi untuk menjadi serius karena komplikasinya yang sangat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan kematian. Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan ottore. Pemberian antibiotoka telah menurunkan insiden komplikasi, walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya pengobatan akan menimbulkan komplikasi. Komplikasi intrakranial yang serius lebih sering terlihat pada ekserbasi akut dari otitis media berhubungan dengan kolesteatoma. Komplikasi yang mungkin terjasi pada penderita otitis media adalah : Komplikasi intrakranial meliputi:

Meningitis Abses subdural


Kelompok 3 Page 5

Otitis Media

February 21, 2014

Abses ekstradural Trombosis sinus lateralis Abses otak Hidrosefalus otitis Komplikasi intratemporal meliputi : Mastoiditis Labirintitis Paralisis fasialis Petrositis

12. Pencegahan untuk otits media adalah melalui yaitu : 1.mencegah ISPA pada bayi dan anak 2.membrikan ASI 3.Hindari susu botol 4.pajanana asap rokok 5.anjurkan anak untuk mencuci tangan 6.hindari ruangan kecil pada anak yyang lagi sakit 7.cek rutin agar tidak terjadi infeksi 8.menghindari mengorek-orek telinga terlalu dalam

13. Manifestasi klinis untuk otitis media yaitu : (A) Otitis Media Akut Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat.Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. Membrane tymphani merah, sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic ( pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ), dapat mengalami perforasi. Otorrhea, bila terjadi rupture membrane tymphani Keluhan nyeri telinga (otalgia) Sakit telinga yang berat dan menetap. Terjadi gangguan pendengaran yang bersifat sementara . Pada anak-anak bisa mengalami muntah, diare dan demam sampai 40,5C Gendang telinga mengalami peradangan dan menonjol. Demam Anoreksia Limfadenopati servikal anterior (B) Otitis Media Serosa Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal dalam telinga atau perasaan bendungan, atau bahkan suara letup atau berderik, yang terjadi ketika tuba eustachii berusaha membuka.Membrane tymphani tampak kusam (warna kuning redup sampai abu-abu pada otoskopi pneumatik, dan dapat terlihat gelembung
Kelompok 3 Page 6

Otitis Media

February 21, 2014

udara dalam telinga tengah.Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif. (C) Otitis Media Kronik Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorrhea intermitten atau persisten yang berbau busuk.Biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut, dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema.Kolesteatoma, sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri.Evaluasi otoskopik membrane timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih di belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis eksterna melalui lubang perforasi.Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi.Hasil audiometric pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran. 9. Kenapa pada anak lebih sering terkena penyakit otits media : - Lebih sering terkena ISPA(karena daya tahan tubuh rendah) - Saluran Eustacius lebih pendek

Kelompok 3

Page 7

Otitis Media

February 21, 2014

Langkah 4 : Pohon Masalah (mendaftar semua poin 3 secara sistematis)

Kelompok 3

Page 8

Otitis Media Langkah 5 : Sasaran Belajar

February 21, 2014

1. Jelaskan Asuhan Keperawatan pada skenario? 2. Kenapa cairan yang keluar berwarna kekuningan dan berbau? 3. Bagaimana penatalkasanaan pada anak agar cairan tidak keluar lagi? 4. Apakah penyakit pada skenario menular, jelaskan! 5. Apa saja pemeriksaan penunjang pada skenario? 6. Apa saja diagnosa banding keperawatan pada skenaro? 7. Apa saja faktor resiko pada skenario? 8. Apakah otitis media bisa menyebabkan sinusitis dan campak? 9. Terapi apa saja untuk otitis media? 10. Jelaskan klasifikasi Supuratif? Jawaban Sasaran Belajar 14. Pemeriksaan Diagnostik atau penunjang - Otoskopi - Uji sensitivitas - Pengujian audiometrik - Garpu tala - Menggunakan jarum - Pengajian penyakit - Pemeriksaan kultur mikrobiologi 3. Tuba eustachius (meradang) sel darah putih melawan bakteri mokus (nanah) kuningdan berbau 6. Lokal = pembersihan telinga, bubuk antibiotika - Bedah = Insisi, timpartusis = obat nyeri 16. Faktor resiko - Umur - Jenis kelamin - Rokok - Lingkungan tidak baik - Status kesehatan rendah - Gangguan tuba eustachius - Metaplansia
Kelompok 3 Page 9

Otitis Media - Alergi

February 21, 2014

10. Otitis media tidakmenular, tetapi penyakit ISPA yang menulardan dilihat dari daya tahan tubuh yang rendah 15. Diagnosa banding keperawatan tidak ada Sasaran Belajar 1. * Supuratif a. Akut = Mendadak tetes hidung, antibiotic b. Kronik * Non Supuratif a. Serosa akut = lanjutan akut, pecah gendang telinga b. Serosa kronik 2. -) Sinusitis bisa menyebabkan otitis media karena dekat dengan tuba eustachius nasofaring, dari sinus bisa menjalar ketelinga dan membawa bakteri untuk menginfeksi. -) OMA bisa menyebabkan campak? Kuliah pakar

2. Askep Nama : An. H Ds : Do : Analisa Data Data Ds : -- Mengeluarkan Cairan Kekuningan di kudua telinganya dan berbau Ds : - menanyakan bagaimana penatalaksanaan agar cairan di telinga anaknya tidak keluar lagi Masalah Gangguan Rasa Nyaman Etilogi Gejala terkait penyakit

Defisiensi Pengetahuan

Kurang pajanan

Intervensi NO.
Kelompok 3

NOC

NIC
Page 10

Otitis Media

February 21, 2014

Kontrol Nyeri
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, gangguan rasa nyaman teratasi dnegan kriteria hasil : 1. Klien tidak mengeluh lemas 2. Klien tidak mengeluh merasa pusing 3. Klien dapat meningkatkan ADL

1.Relaxation Theraphy (6040) 1) Anjurkan klien untuk bernapas dalam ketika merasa tidak nyaman. 2) Anjurkan klien untuk beristirahat. 1.Environtmental Management : Comfort (6482) 1) Kaji ketidaknyamanan yang dirasakan oleh klien. 2) Berikan posisi yang nyaman pada klien. 3) Batasi pengunjung saat klien beristirahat. Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat Diskusikan pilihan terapi atau penanganan Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat

Kowlwdge : disease process Kowledge : health Behavior Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . pasien menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit dengan kriteria hasil: - Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan - Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar - Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

Kelompok 3

Page 11

Otitis Media BAB II PEMBAHASAN

February 21, 2014

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA Telinga adalah organ pendengaran. Syaraf yang melayani indera ini adalah syaraf cranial ke delapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri dari 3 bagian, yaitu: telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam.

1. Telinga Luar

Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.

2. Telinga Tengah

Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu
Kelompok 3 Page 12

Otitis Media

February 21, 2014

hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. 3. Telinga Dalam Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. (Anatomi dan Fisiologi untuk paramedic. Pearce, C Evelyn. 2002)

B. DEFINISI

Kelompok 3

Page 13

Otitis Media

February 21, 2014

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh peroisteum telinga tengah. (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I) Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. Penyebab utamanya adalah masuknya bakteri pathogenic ke dalam telinga tengah yang normalnya steril. (Brunner & Suddart. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 3) Otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tibatiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis media, pada anakanak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering. Pembagian stadium otitis media akut: 1. Stadium oklusi tuba eustachius Terdapat gambaran retraksi embran timpani akibat tekanan negative di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat di deteksi. 2. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membrane timpani atau seluruh membrane timpani tampak hiperemis serta edema. Secret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi Membrane timpani menonjol kearah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial, serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani. 4. Stadium perforasi Terjadi karena pemberian antibiotic yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi rupture membrane timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar.
Kelompok 3 Page 14

Otitis Media 5. Stadium resolusi

February 21, 2014

Bila membrane timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi, maka secret akan berkurang dan mongering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)

C. ETIOLOGI Otitis media akut disebabkan oleh bakteri patogenik seperti streptokokus hemolitycus, staphilokokus aureus, pneumokokus, H. influenza, E. colli, S. anhemolitycus, P. vulgaris, dan P. aeruginosa. Factor predisposisi: 1. ISPA 2. Sumbatan tuba eustachii akibat alergi atau pembengkakan amandel (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)

D. PATOFISIOLOGI Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang
Kelompok 3 Page 15

Otitis Media

February 21, 2014

paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

E. MANIFESTASI KLINIS 1. Nyeri telinga 2. Keluar cairan dari telinga 3. Demam 4. Kehilangan pendengaran 5. Tinitus (Brunner & Suddart. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 3)

6. Pada anak terjadi nyeri telinga dan demam tinggi 7. Pada orang dewasa terjadi gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar. 8. Pada baayi dan anak kecil terjadi demam (>39,5C), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare dan kejang. (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)

F. KOMPLIKASI 1. Abses subperiosteal 2. Abses otak 3. Meningitis 4. OMSK (Otitis Media Supuratif Kronik) (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)

G. PENCEGAHAN Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah: 1. pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak. 2. pemberian ASI minimal selama 6 bulan. 3. penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring. 4. dan penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
Kelompok 3 Page 16

Otitis Media 5. Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA.

February 21, 2014

H. PENATALAKSAAN MEDIS 1. Pengobatan stadium awal di tujukan untuk mengobati infeksi saluran nafas dengan pemberian antibiotic, dekongestan local atau sistemik dan antipireutik. 2. Pada anak di berikan ampisilin 4x50-100 mg/ kg BB, amoksisilin 4x40 mg/ kg BB/ hari, atau eritromisin 4x40 mg/ kg BB/ hari. 3. Berikan obat tetes HCL efedrin 0,5% (anak <12 tahun), HCL efedrin 1% dalam larutan fisiologis (anak >12 tahun dan dewasa). 4. Lakukan miringotomi. 5. Berikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotic yang adekuat sampai 3 minggu. (Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I)

Kelompok 3

Page 17

Otitis Media BAB III PENUTUP

February 21, 2014

A.

Kesimpulan Pendengaran sebagai salah satu indera, memegang peranan yang sangat penting karena perkembangan bicara sebagai komponen utama komunikasi pada manusia sangat tergantung pada fungsi pendengaran. Apabila pendengaran mengalami gangguan pada telinga seperti otitis media yang tekait dengan kasus ini.

B.

Saran Sebaiknya tidak mencoba pemindahan serumen telinga di rumah dengan cotton bud, jepit rambut, pensil, atau peralatan lain apa pun. Tindakan seperti itu biasanya hanya memasukkan lilin lebih banyak dan bisa merusakkan gendang pendengar dan akan mengalami penyumbatan pada bagian telinga dalam.Sabun dan air di atas sehelai waslap menyediakan higienis telinga eksternal yang memadai.

Kelompok 3

Page 18

Otitis Media DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3.

February 21, 2014

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta. George L, Adams. 1997. BOEIS : Buku ajar Penyakit THT. Edisi 6. EGC. Jakarta. Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan RSUD Dr Soetomo Surabaya

4.

Rukmin, Sri; Herawati, Sri. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. EGC. Jakarta

Kelompok 3

Page 19