Anda di halaman 1dari 15

Bab I Pendahuluan

Telinga adalah suatu organ yang memiliki fungsi utama untuk mendeteksi / mengenali suara, serta mekanisme kerjanya juga kompleks. Telinga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Otitis media supuratif kronis adalah infeksi kronis di telinga tengah, dengan perforasi membrane timpani, dan sekret yang keluar dari telinga tengah secara terus menerus ataupun hilang timbul, dengan sekret yang mungkin encer atau kental, dan bening atau berupa nanah.1 Otitis media supuratif kronis kemudian kembali dibagi menjadi dua tipe, yaitu OMSK tipe benigna dan OMSK tipe maligna. Otitis media supuratif kronis ini sebetulnya didahului oleh otitis media akut. Di mana, apabila proses peradangan sudah berjalan hingga melebih 2 bulan, suatu otitis media akut akan berubah menjadi OMSK. Beberapa faktor yang terlibat dalam proses perubahan OMA menjadi OMSK, adlah terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak kuat, virulensi kuman yang tinggi, daya tahan tubuh pasien yang rendah, serta higienitas yang buruk. Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi yang buruk, merupakan faktor dasar dari terus meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang (developing countries). Indonesia merupakan negara dengan prevalensi tinggi untuk kasus OMSK di mana prevalensi OMSK mencapai 3,8% dan sebanyak 25% pasien yang berobat poliklinik THT rumah sakit di Indonesia, adalah pasien OMSK. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa terdapat 6,6 juta penduduk Indonesia yang menderita OMSK, dari total populasi sebanyak 220 juta penduduk.2 Kekurangan pendengaran didapati pada 50% kasus OMSK dan kematian terjadi akibat sebanyak 18,6% kasus, terjadi akibat adanya komplikasi intrakranial.2 Sebagian besar kasus komplikasi OMSK terjadi karena penderita cenderung mengabaikan keluhan telinga berair menahun sehingga mengakibatkan komplikasi yang fatal. Pada makalah ini, pembahasan secara lebih mendalam akan ditujukan pada komplikasi intrakranial dari otitis media supuratif kronis. Adapun makalah ini disusun untuk memenuhi syarat kelulusan kepaniteraan klinik bagian ilmu THT-KL (Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala, dan Leher) di RS Bhayangkara Tingkat.I R. Said Sukanto.

Bab II Anatomi dan Fisiologi Telinga

Bab III Otitis Media Supuratif Kronis

Bab IV Komplikasi Intrakranial dari OMSK


4.1 Abses Otak Komplikasi ini merupakan salah satu komplikasi intrakranial yang paling sering terjadi pada otitis media supuratif kronis tipe maligna. Penyakit ini memiliki mortalitas yang tergolong tinggi, yaitu hingga mencapai 40%. Dari seluruh kelompok usia, balita dan anak anak memiliki insidensi tertinggi untuk terjadi suatu abses otak. Banyak laporan yang mengatakan bahwa abses otak pada anak, paling utama terjadi atas akibat infeksi telinga tengah dan mastoiditis.5 Pada dasarnya, berdasarkan berbagai penelitian yang sudah dilakukan, banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa faktor risiko utama untuk terjadi abses otak adalah adanya penyakit jantung kongenital, tentunya diserta dengan otitis media supuratif kronis yang sudah ada kolesteatoma.5 Merupakan hasil perluasan langsung dari infeksi telinga tengah dan mastoid, atau tromboflebitis. Pada umumnya akan terjadi setelah terlebih dahulu ada abses ekstra dural. Infeksi dapat menyebar melalui berbagai cara, misalnya melalui segmen timpani yang membentuk abses temporal, melalui sinus sigmoid ke fossa kranii posterior, serta dari labirin menuju ke sakkus endolimfatikus, juga dapat melalui vena-vena dan meatus akustikus internus. Atas metode penyebaran ini, abses otak paling sering berlokasi pada lobus temporalis, kemudian diikuti oleh abses pada serebelum. Hal ini dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan focus infeksi primer. Gejala yang ditimbulkan oleh suatu abses serebelum biasanya akan lebih jelad dibandingkan dengan abses pada lobus temporalis. Pasien dengan abses serebelum akan datang dengan keluhan berupa ataksia, disdiadokokinesis, tremor intensif, dan tidak dapat menunjuk suatu objek.1 Patofisiologi dari abses otak ini adalah, dapat terjadi secara langsung setelah suatu infeksi telinga tenga akut ataupun kronis, dan mastoiditis. Namun dapat juga baru terjadi setelah adanya infeksi pada jaringan adjasen, seperti misalnya tromboflebitis sinus lateralis dan meningitis. Dura yang melapisi mastoid yang terinfeksi, diinvasi melalui jalur vaskular ataupun melalui tulang. Otitis media kronis dengan atau tanpa kolesteatoma, akan menyebabkan erosi tegmen timpani, akibat adanya tekanan nekrosis dan perforasi dari tulang, mengakibatkna inflamasi dura dan invasi oleh organisme patologis tersebut. Selanjutnya, penyebaran akan sampai ke area subdural dan membentuk suatu abses subdural atau

leptomeningitis. Invasi dari jaringan otak kemudia terjadi dan berbagai stadium formasi abses terjadi: reaksi inflamasi, supurasi, nekrosis, dan likueifikasi. Patogen bakteri yang seringkali menyebabkan abses otak, adalah: 1. Kokus gram positif: Streptococcus pyogenes, S. pneumonia, Streptococcus viridans, dan Staphylococcus aureus 2. Kokobasil gram negatif: Haemophillus influenza dan Haemophillus aphrophilus 3. Basil enteric gram negatif: Escherechia coli, spesies Proteus, Entereobacter aerogenes, Enterobacter cloacae, dan Pseudomonas aeruginosa 4. Bakteri anaerob: Spesies Eubacterium, spesies Bacteroides, dan Propionibacterium acnes Masih sering kita temukan kondisi-kondisi dimana dokter tidak dapat mendiagnosis komplikasi abses otak ini dengan cukup baik. Hal ini memang masih merupakan masalah hingga sekarang, utamanya akibat baik secara anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun hasil pemeriksaan penunjang, tidak ada yang cukup spesifik mengarah ke abses otak. Oleh karena itu, ada baiknya bahwa para dokter mulai mencurigai adanya suatu abses otak pada pasien OMSK, jika pasien datang kembali dengan keluhan berupa timbulnya sakit kepala yang dirasakan seolah pada seluruh kepala dan menetap. Gejala lainnya seperti papil edema dan defisit neurologis fokal tidak selalu ditemukan. Akan tetapi, jika memang ada, tentunya harus memperkuat kecurigaan bahwa telah terjadi komplikasi abses otak pada pasien tersebut. Pelru diketahui bahwa timbulnya suatu gejala yang berkaitan dengan sistem saraf pusat, baru akan timbul kurang lebih 1 bulan setelah otitis media akut. 6 Oleh Neely dan Mawson, gejala dari abses otak dibagi sesuai dengan stadium patogenesisnya, yaitu:4 1. Stadium Inisial Gejala ringan dan tidak menggangu aktifitas keseharian pasien Keluhan berupa sefalgia, malaise, mengantuk, mual, dan muntah Gejala yang timbul pada stadium ini, amat tidak spesifik, sehingga sering dianggap sebagai suatu eksaserbasi otitis media supuratif kronis Gejala akan hilang dalam hitungan hari

2. Stadium Laten Pada stadium ini, gejala yang dikeluhkan masih kurang lebih sama dengan gejala yang ada di stadium inisial

Dapat diperparah dengan mulai timbulnya sakit kepala dengan intensitas yang makin berat dan berimbas pada terjadinya penurunan nafsu makan Secara patofisiologi, yang terjadi pada fase ini adalah, abses terlokalisir dan mulai terjadi pembentukan kapsul Perbedaan dengan stadium inisial ada di durasinya, di mana pada stadium laten, gejala dapat timbul selama beberapa minggu hingga bulan

3. Stadium Manifes Pada stadium ini, gejala yang timbul jadi semakin parah dan bertambah, dikarenakan ukuran abses yang mulai membesar, sehingga berimbas pada terjadinya peningkatan tekanan intrakranial dan gangguan fungsi serebelum Secara garis besar, pasien akan mengeluhkan adanya sakit kepala yang sangat hebat, muntah yang sifatnya proyektil, kelemahan tungkai yang progresif, dan pada beberapa kasus dapat terjadi penurunan kesadaran Pasien dapat datang dengan keluhan ataksia dan tremor yang hebat pada suatu abses serebelum, sedangkan untuk abses lobus temporalis, pasien biasa datang dengan kejang dan afasia 4. Stadium Akhir Tanda patognomonik dari stadium ini adalah penurunan kesadaran yang makin parah, dari stupor menjadi koma Biasanya pasien kemudian akan meninggal, disebabkan oleh ruptur abses ke dalam sistem ventrikel dan rongga subaraknoid Diagnosis dapat ditegakkan dengan lebih baik, melalui pemeriksaan penunjang seperti berikut: 1. Laboratorium : Sering ditemuka adanya peningkatan jumlah leukosit, namun tidak hingga melebih 15.000/m 2. Rontgen kepala : Pemeriksaan ini seringkali tidak cukup bermakna dalam membantu menunjang diagnosis. Mungkin dapat ditemukan adanya kalsifikasi 3. CT-Scan kepala : Peranan pemeriksaan ini amat penting, dan merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan, karena hasilnya cepat dan tidak invasif. Lebih dianjurkan untuk dilakukan CT-Scan dengan kontras, sehingga abses otak akan tampak seperti suatu daerah hipodens yang dikelilingi oleh

lingkaran, hal ini disebut sebagai ring sign. Juga patut diperhatikan ukuran dan lokasi abses, juga monitor perkembangan abses selama pasien menjalani pengobatan. 4. MRI otak : Pemeriksaan ini lebih sensitif dalam mengidentifikasi suatu abses otak, sehingga diagnosis bahkan dapat ditegakkan pada abses otak stadium awal. Namun, alat ini tidak efisien, karena mekanisme kerjanya yang lama dan harga pemeriksaannya cukup mahal Terapi abses otak lebih ditujukan untuk menghilangkan efek massa dan agar tidak menjadi suatu fokus infeksi.4 Pemberian antibiotik harus dilakukan dalam dosis tinggi, dan biasanya secara parenteral. Dilema akan dihadapi saat memilih varian antibiotik yang akan digunakan, oleh karena begitu banyaknya bakteri penyebab abses otak. Namun, pilihan yang tergolong popular adalah golongan peniisilin untuk bakter i gram positif, dan aminoglikosida untuk bakteri gram negatif serta bakteri anaerob. Terkadang dapat dipilih jugakombinasi 2 antibiotik, seperti kombinasi penisilin dan aminoglikosida, sehingga didapatkan suatu efek broad-spectrum. Selama pamberian terapi ini, juga harus dialkukan bahan baku untuk dikultur dan tes kepekaan, sehingga dapat membantu dokter untuk memilih terapi yang lebih tepat. Indikasi pemberian antibiotik pada abses otak, didasarkan oleh adanya perburukan kondisi saat pasien akan menjalani tindakan pembedahan, ditemukannya abses multipel, abses otak disertai dengan meningitis, dan abses otak yang disertai dengan hidrosefalus. Selain pemberian antibiotik, beberapa dokter juga memberikan kortikosteroid. Pemberian obat ini dimaksudkan untuk sebagai terapi tambahan, guna meminimalisir dan mengurangi pembengkakan otak, sehingga efek desakan akibat abses otak tersebut, juga akan berkurang. Dosis yang biasa digunakan adalah 4mg tiap 6 jam, secara intravena.4 Tatalaksana definitif untuk abses otak adalah pembedahan, namun jharus dengan syarat, bahwa kondisi pasien sudah stabil. TIndakan yang biasa dilakukan terlebih dahulu adalah mastoidektomi, lalu 3-4 hari kemudian, dilakukan kraniotomi, atau bisa lebih cepat, bergantung pada keadaan umum pasien. Namun, tindakan bedah hanya akan dipikirkan hika sudah terlebih dahulu diberikan antibiotik spektrum luas, selama 2 minggu. Penanganan abses otak dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf, dengan cara aspirasi melalui sawar, eksisi abses, dan evakuasi pus.4

4.2 Trombosis Sinus Lateralis Trombosis pada sinus lateralis dan sigmoid, atau tromboflebitis, berasal dari inflamasi di daerah adjasen, yakni mastoid. Infeksi mastoid ini memiliki kontak dengan dinding sinus, memproduksi inflamasi dari adventitia, yang kemudian diikuti dengan penetrasi dari dinding vena. Thrombus kemudian terbetuk setelah infeksi menyebar ke intima. Embolisasi dari suatu thrombi yang septik ataupun ekstensi infeksi ke pembuluh, dapat menimbulkan sekuele yang lebih lanjut. Namun, thrombosis sinus lateralis relative jarang ditemukan sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronis dan mastoiditis, bahkan di negara-negara maju. Garcia et al telah melakukan sebuah ringkasan dari seluruh literature di antara tahun 1960 hingga 1995, dan menemukan ada total sebanyak 58 anak-anak dengan thrombosis sinus latetralis sebagai komplikasi dari penyakit telinga; 57% di antaranya memiliki infeksi telinga tengah dan mastoid, sedangkan 43% di antaranya hanya memiliki infeksi telinga tengah.7 Banyak pasien dengan komplikasi thrombosis sinus lateralis, biasanya juga memiliki komplikasi yang lain, seperti abses otak dan hidrosefalus otikus. Gejala klinis dari thrombosis sinus lateralis dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut: 1. Sistemik: Demam, sakit kepala, dan malaise. Apabila terjadi trombi yang terinfeksi, pasien akan mengalami demam yang meningkat secara cepat dan menggigil. 2. Tanda Tekanan intrakranial yang meninggi: Penurunan kesadaran, sakit kepala, papilledema, dan kejang 3. Tanda komplikasi intrakranial: Meningitis dan abses otak 4. Tanda bahwa penyakit berasal dari metasatase oleh trombi yang terinfeksi: Pneumoniam empyema, infeksi tullang dan sendi 5. Penyebaran ke jaringan sekitar dapat menimbulkan selulitis atau abses Pada suatu laporan terakhir oleh Syms et al, beberapa bakteria dapat diisolasi dari telinga pasien dengan komplikasi ini. Bakteri-bakteri tersebut adalah Proteus mirabilis yang resisten terhadap ampisilin dan penisilin, Bacteroides fragilis, Peptostreptococcus spesies, dan sepsis Pseudomona. Pada dasanya, pemeriksaan CT-Scan dan MRI tidak memiliki makna yang cukup untuk menunjang diagnosis thrombosis sinus lateralis. Oleh karena itu, jika suspek mengarah ke thrombosis sinus lateralis sudah cukup kuat, seharusnya langsung diindikasikan untuk pungsi

lumbal. Namun, pada prakteknya, MRI tetap lebih sering dilakukan dan juga lebih direkomendasikan, karena tidak seinvasif pungsi lumbal. Suatu MRI dengan intensitas signal tinggi, baik itu dalam T1 ataupun T2, jika memberikan gambaran berupa hilangnya aliran di dalam sinus yang thrombosis tersebut, mengindikasikan adanya komplikasi ini. Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan Queckenstedt, yang memiliki prinsip untuk mengukur perubahan tekanan liquor serebrospinalis dengan adanya kompresi ataupun dekompresi dari vena jugularis. Pada orang yang normal, saat vena jugularis mulai berubah dari fase didekompresi menjadi dikompresi, aka nada peningkatan tekanan liquor serebrospinalis. Sedangkan pada thrombosis sinus lateralis, peningkatan tekanan ini akan hilang. Tatalaksana yang baik dan benar meliputi penggunaan agen antimicrobial yang tepat; penisilin suatu aminogilikosa, dengan klindamisin atau metronidazole, adalah terapi yang dianjurkan. Beberapa jurnal mengatakan ada baiknya juga disertakan pemberian antikoagulan, namun hal ini masih menjadi simpang siur, karena peran dari antikoagulasi tersebut yang masih belum cukup jelas. Pemilihan tindakan untuk pembedahan pada telinga tengah dan mastoid utamanya bergantung pada status penyakit dan letak anatomis dari penyakit tersebut. Jika hanya ada otitis media, miringotomi dan pemasangan tuba timpanostomi sudah cukup, tanpa perlu operasi mastoid.. Apabila ada mastoid osteitis, otitis media supuratif kronis, kolesteatoma, atau kombinasi antara ketiga ini, biasanya pasien diindikasikan untuk menjalankan timpanomastoidektomi. Namun, sebelum mastoidektomi dilakukan, sinus harus terlebih dahulu dibuka dan segala abses yang ada didrainase, serta thrombus juga dihilangkan 4.3 Hidrosefalus Otitis Hidrosefalus otitis pertama kali digunakan pada tahun 1931, untuk mendeskrispsikan suatu sindroma yang terdiri atas peningkatan tekanan intrakranial tanpa abnormalitas pada liquor serebrospinal, sebagai komplikasi dari otitis media akut.6 Patogenesis sebenarnya dari sindroma ini masih belum diketahui, namun yang jelas ditemukan bahwa tidak ada dilatasi dari ventrikel. Penyakit ini biasanya diasosiakan dengan thrombosis sinus lateralis. Gejala meliputi sakit kepala, penglihatan yang membuyar, nausea, dan diplopia. Juga dapat disertai dengan muntah, keluar cairan dari telang, serta papilledema. Jika hidrosefalus otitis sudah disuspek, seharusnya segera dilakukan MRI, kemudia pungsi lumbal, dengan disertai ada seorang dokter bedah syaraf. Pada pemeriksaan liquor cerebrospinal setelah lumbal pungsi, dapat ditemukan bahwa liquor cerebrospinalisnya memiliki tekanan yang

tinggi, hingga lebih dari 300 mm H2O, namun konsentrasi protein dan glukosa serta hitung jenisnya normal, selain itu ventrikelnya juga berukuran normal. MRI dapat membantu diagnosis jika ditemukan adanya thrombosis di sinus transversus dan sigmoid.Walaupun sifat penyakitnya tergolong beingna, pada beberapa kasus, hidrosefalus otitis dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan akibat atrofi optic. Terapi yang diberikan secara garis besar sama dengan yang untuk thrombosis sinus lateral, yaitu agen antimicrobial, miringotomi, dan pemasangan tuba timpanostomi, serta pembedahan timpanomastoid. Juga dianjurkan adalah terapi medikamentosa berupa acetazolamide atau furosemide, lumbal pungsi secara berkala, dan pemasangan shunt lumboperitoneal untuk menormalkan tekanan intrakranial. Penanganan pembedahan yang lebih agresif mungkin diinidikasikan jika sudah ada suspek yang mengarah ke atrofi optik. 4.4 Empiema Subdural Suatu empyema subdural adalah koleksi dari material purulen di ruang potensial antara external dura dan membrane araknoid. Karena pus terkoleksi di rongga tersebut, sehingga lebih cocok untuk disebut suatu empyema dibandingkan abses. Suatu empyema subdural dapat terjadi karena ekstensi langsung atau, tromboflebitis melalui jaringan vena (lebih jarang). Subdural empyema merupakan komplikasi jarang dari otitis media. Pasien dengan empyema subdural biasanya mengalami demam dan tampilan mukanya sangat toksik. Biasanya ada beberapa gejala yang berkaitan dengan penambahan massa intrakranial yang semakin membesar, berupa sakit kepala yang amat parah, terutama di daerah temporoparietal. Temuan gejala yang berkaitan lainnya adalah kejang, hemiplegia, dysmettria, perubahan perilakum somnolen, stupor, deviasi kedua bola mata, disfagia, kaku kuduk, dan kernig sign (+). Diagnosis pada umumnya ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan CT-Scan. Pada pemeriksaan hematologi, dapat ditemukan adanya peningkatan leukosit. Sedangkan hasil dari pemeriksaan liquor cerebrospinalis, menunjukkan adanya peningkatan tekanan, pleocytosis, glukosayang normal, namun tidak ada mikroorganisme yang dideteksi dalam kultur. Terapi dari empyema subdural meliputi pemberian antimicrobial secara intensif melalui intravena dan drainase oleh dokter spesialis bedah syaraf. Drainase dari empyema dapat dilakukan melalui kraniotomi atau aspirasi perkutan. Pembedahan mastoid untuk melokalisir dan mendrainase sumber infeksinuya, biasanya baru akan dilakukan setelah ada perbaikan status neurologis. Kondisi ini tetap memiliki tingkat mortalitas yang tinggi.

4.5 Abses Subdural


Abses subdural jarang terjadi sebagai perluasan langsung dari abses eksradural biasanya sebagai perluasan tromboflebitis melalui pembuluh vena. Gejalanya dapat berupa demam , nyeri kepala dan penurunan kesadaran sampai koma pada pasien OMSK. Gejala kelainan susunan saraf pusat bisa berupa kejang, hemiplegia dan pada pemeriksaan terdapat tanda kernig positif. Pungsi lumbal perlu untuk membedakan abses subdural dengan meningitis. Pada abses subdural pada pemeriksaan likuor serebrospinal kadar protein biasanya normal dan tidak ditemukan bakteri. Kalau pada abses ekstradural nanah keluar pada waktu operasi mastoidektomi, pada abses subdural nanah harus dikeluarkan secara bedah saraf (neuro-srgical), sebelum dilakukan operasi mastoidektomi.

4.6 Abses Ekstradural


Abses ekstradural (epidural), biasanya terjadi atas akibat kolesteatoma atau infeksi yang mengancurkan tulang di sekitar dura. Hal ini terjadi saat jaringan granulasi dan material purulent berkoleksi di aspek lateral dura dan tulang temporal adjasen. Jaringan granulasi dural dengan defek tulang ini jauh lebih sering dibandingkan akumulasi pus yang actual. Saat abses ditemukan, kemungkinan besar akan disertai dengan adanya thrombosis sinus dural ataupun juga abses ekstradural. Apabila destruksi tulang yang ekstensi juga menyertai osteitis mastoid yang akut, maka abses ekstradural akan terbentuk di area sinus dural sigmoid. Gejala yang sering dikeluhkan pasien dengan abses ekstradural adalah sakit elinga yang amat parah, demam yang tindak terlalu tinggi, sakit kepala di daerah temporal dengan seolah nyerinya berdenyut. Namun, tidak jarang ditemukan pasien yang tidak mengeluhkan gejala apapun. Suatu abses ekstradural yang asimtomatis ini biasanya ditemukan pada pasien yang memilih mastoidektomi elektif untuk kolesteatoma. Otorrhea dapat menyertai pada abses ekstradural, dengan karrakternya yang dalam, konsistensi seperti krim, dan pulsatile. Menkompresi vena jugularis ipsilateralm sehingga aliran keluarnya justru semakin deeras, begitu juga derajat pulsasinya. Malaise dan anorexia biasa juga dapat ditemukan, namun tanpa demam dan tanpa ada gejala fokla neurologis. Pada pemeriksaan liquor cerebrospinalis, hitung jenis selnya bertambah, namun tekana biasnya normal, kecuali juga disertai dengan meningitis. Pada pasien ini dianjurkan untuk pemeriksaan CT-Scan, di mana mungkin ditemukan adanya abses ekstradural. Tatalaksana dari abses ekstradural terdiri atas drainase pembedahan dan identifikasi organisme yang menifeksi, serta pemberian terapi antimicrobial yang tepat. Pasien dapat diindikasikan untk dilakukan timpanomastoidektomi, sebagia usaha untuk menjaga fungsi pendengaran yang masih ada.

4.7 Meningitis Meningitis dapat diasosiasikan dengan suatu infeksi telinga tengah, jika terjadi pada salah satu dari 3 keadaan di bawah ini:

1. Invasi direk Suatu fokus supuratif di telinga tengah atau mastoid, menyebar ke dura, kem, hingga kemudian ke pia-araknoid, dan menyebabkan meningitis generalisiata 2. Inflamasi di daerah adjasen Meninges jadi terinfalamasi, terutama jika ada supurasi di daerah sekitar, seperti suatu abses subdural, abses otak, atau thrombophlebitis sinus lateralis. 3. Infeksi konkuren Otitis media berasal dari fokus ifeksi di saluran nafas atas, dan meningitis terjadi akibat invasi darah dari fokus di saluran nafas atas tersebut. Infeksi ini terjadi secara bersamaan/ Penyebaran secara hematogen adalah etiologi yang paling sering mendasari meningitis. Lebih jarang adalah ekstensi langsung melalui jalan yang terbentuk atas akibat kelainan kongenital, ataupun memalui thrombophlebitis yang biasanya melalui fossa kranialis media. Perlu dicatat bahwa insidensi meningitis sbeagai komplikasi intrakranial dari otitis media supuratif kronis, sudah sangat sedikit di negara-negara berkembang seperti Amerika Serikat. Sedangkan di negara yang masih kurang maju, komplikasi ini masih cukup sering ditemukan, bahkan beberapa jurnal mengatakan bahwa meningitis adalah komplikasi dintrakraniald dari OMSK yang paling sering ditemukan. Gejala dari meningitis yang diakibatkan oleh manapun dari ketiga mekanisme di atas, meliputi demam, sakit kepala, kaku kuduk, dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan liquor cerebrospinalis, dapat ditmemukan pleocytosis dan peningkatan konsentrasi protein. Sedangkan penurunan kadar glukosa tidak selalu ditemukan, jika ada, kemungkinan besar terjadi pada kasus yang diakibatkan melalui invasi langsung dan infeksi konkuren. Leukosit polimorfonuklear adalah tipe sel predominan pada fase awal dari meningitis. Saat infeksi terjadi, diikuti inflamasi di daerah adjasen, kemungkinan besar sudah ada di fase kronis, sehingga limfosit adalah sel yang paling banyak ditemukan di liquor cerebrospinalis. Organisme akan diisolasi dari cairan spinal, saat meningitis diakibatkan oleh invasi langsung atau infeksi konkuren. Oleh karena itu, meningitis yang diakibagtkan infeksi adjasen, dapat disebut juga sebagai suatu meningitis aseptic (gejala meningitis diasosiasikan dengan sel di liquor cerebrospinalis, namun tidak ada bakteri yang dapat diisolasi). Organisme yang berkaitang dengan meningitis sebagai komlppikasi dari otitis media adalah: S. pneumonia dan Haemophillus influenza tipe B. Beberapa anak yang terinfeksi oleh Haemophillus influenza menunjukkan gejala berupa keadaan umu yang lebih toksik, dan

kemungkinan besar terjadi bacteremia. Namun, insidensi infeksi ini telah jauh berkuang, terutama akibat telah ditemukannya vaksin untuk Haemophillus influenza. Akan tetapi, kurangnya akses terhadap vaksin ini di negara-negara yang kurang maju, mengakibatkan infeksi ini masih saja dapat ditemukan. Meningitis pneumokokal juga mungkin diakbatkan oleh organisme yang resisten terhadap antibiotik, namun diharpkan bahwa di masa depan, akan ditemuka vaksin yang dapat memprevensi terjadinya meningitis ini. Tatalaksana yang utama untuk meningitis sebagai komplikasi intrakranial dari otitis media supuratif kronis adalha pemberian antibiotik dosis tinggi. Jika kuman kausatifnya masih belum diketahui dengan pasti atapun jelas, dapat diberikan sefalosporin generasi 3, seperti ceftriaxone atau cefotaxime, atua kombinasi antara ampicillin dengan kloramfenikol. Namun seiring dengan meningkatnya kewaspadaan akan multidrug-resistent S.pnemuniae, beberapa jurnal mengajurkan untuk ditambahkannya vancomycin pada regimen di atas tadi. Setelah pemberian obat ini, kultur harus segera dilakukan, agar mengetahui agen antimicrobial spesifik yang lebih baik. Sehingga regimen tadi bisa saja diubah setelah hasil kultur liquor cerebrospinalis sudah keluar. Jika kulturnya negatif, harus diperhatikan proses aseptic yang mungkin diakibatkan oleh fokus supuratif, sehingga tes diagnostic lainnya harus dilakukan setelah pembersihan infeksi lokal, biasnaya melalui insisi dan drainase. Jika terdapat efusi, tipanocentesis dan miringotmi harus dilakukan sesegera mungkin untuk mengidentifikasi organisme kausatif infeksi di telinga tengah. Apabila terdapat gejala otorrhea, suatu kultut harus dilakukan dari telinga tengah, jika memungkinkan. Begitu juga dengan otitis media supuratif, aspirasi material purulent harus dilakukan dan gram stain. Suatu mastoiditis akut dapat disertai dengan osteitis, pada kondisi ini, pasien akan diindikasikan untuk melakukan mastoidektomi simpel. Apabila terdapat otitis media supuratif kronis dengan kolesteatoma, tindakan yang biasanya dilakukan adalah timpanomastoidektomi, dengan syarat bahwa pasien harus dalam kondisi stabil. Apabila penyakit ditemukan pada kedua telinga tengah (bilateral) dan asalnya dari telinga yang mana kurang diketahui, prosedur yang seharunsya dijalankan adalah timpanomastoidektomi bilateral. Kebanyakan pembedah otologia memiliki keinginan utama untuk menjaga kemampuan mendengar yang tersisa pada pasien, dibandingkan dengan seringnya dilakukan mastoidektomi radikal pada dahulu kala. Namun, pada prinspinya, tatalaksana definitive dari segala macam komplikasi intrakranial oleh otitis media supuratif kronis, baik meningitis ataupun abses otak, harus melalui konsultasi juga dengan dokter special bedah syaraf dan dokter spesialis syaraf.

Daftar Pustaka 1. Soepardi, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi keenam, FKUI, Jakarta. 2. Boesoirie S, 2007. Gangguan Pendengaran. Available from: http://www.ketulian.com/web/index.php?to=article&id=13. 3. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997: 88-118 4. Thapa N, Shirastav RP. Intracranial complication of chronic suppuratif otitis media, atticoantral type: experience at TUTH. J Neuroscience. 2004; 1: 36-39 Available from URL:http://www.jneuro.org 5. Morgan H, Woord M W, Murphey F. Experience with 88 consecutive cases of brain abscess. J Neurosurg 1973 ; 38:698-704 6. Charles B. D, Jerome O. K. Otitis media in infants and children. 4th edition. USA: BC Decker Inc. 2007 7. Garcia RDJ, Baker AS, Cunningham MJ, Weber A.L. Lateral sinus thrombosis associated with otitis media and mastoiditis in children. Pediatr Infect Dis J 1995