Anda di halaman 1dari 52

RESUME KOMPILASI BLOK 7

SKENARIO 1
NYERI DADA
CARDIO 2011

12

MAPPING

A. Anatomi B. Histologi

C. Fisiologi D. Patofisiologi 1. Pneumothorax Tension Pneumothorax

2. Hemothorax/ Hematothorax 3. Epistasis

4. Nyeri dada 5. 6. 7. 8. 9. Faraktur Costae Flail Chest Corpus Alleinum Obstruksi Benda Asing di Saluran Nafas Emboli Paru Aspirasi Pneumoni Contusio Paru

10. Tamponade Jantung 11. Fraktur Sternum 12. Devormitas Nasal 13. Kelainan Septum Nasi Defiasi Septum Nasi 14. Syok Hipovolemik 15. Hematoma Septum 16. Abses Septum E. F. Pemeriksaan Diagnose Pemeriksaan Penunjang

A. ANATOMI HIDUNG Hidung merupakan suatu bentukan pyramid berongga yang mempunyai rangka tulang dan tulang rawan. Fungsi hidung: 1. sebagai saluran pernafasan.

2. menyaring udara pernafasan oleh bulu-bulu hidung(vibrissae). 3. menghangatkan dan melembabkan udara pernafasan melalui evaporasi sekresi serus dan mucus.

4. ebagai resepsi odor epithelium olfaktori pada hidung mengandung sel-sel olfaktori yang mengalami spesialisasi untuk indera penciuman. Nasal terdiri dari nasus eksternus, nasus internus, dan sinus paranasalis.

Nasus Eksternus tersusun atas kerangka kerja tulang, katilago hialin, dan jaringan fibroareolar. terdiri dari: 1. Apek nasi

2. Dorsum nasi 3. Radix nasi

4. Kolumela 5. 6. 7. Basis nasi Nares Ala nasi kartilago pada nasus eksternus: 1. kartilago lateral

2. kartilago alaris mayor 3. kartilago alaris minor

Nasus Internus -terdiri dari cavum nasi (rongga hidung) dan septum nasi. -cavum nasi terbentuk dari: Atap: lamina cribosa os ethmoidalis Anterior: os frontal dan os nasal Posterior: os sfenoid

di dalam cavum nasi terdapat concha, yaitu concha superior yang ditutupi oleh epitel olfaktorius, concha medial dan concha inferior yang ditutupi oleh epitel respirasi.

Hidung eksternal berbentuk piramid disertai dengan suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, kartilago hialin dan jaringan fibroaerolar. a. b. Septum nasi membagi hidung menjadi rongga nasal dextra dan sinistra Bagian anterior septum adalah kartilago. Naris eksternal dibatasi oleh kartilago nasal 1) Kartilago nasal lateral terletak di bawah jembatan hidung

2) Ala besar dan ala kecil kartilago nasal mengelilingi nostril c. Tulang hidung 1) Tulang nasal membentuk jembatan dan bagian superior kedua sisi hidung

2) Vomer dan pars prependikular os etmoidalis membentuk bagian posterior septum nasi 3) Lantai rongga nasal adalah palatum durum yang terbentuk dari os maxilaris dan os palatinum 4) Langit-langit rongga nasal pada sisi medial terbentuk dari pars cribiformis os etmoidalis, pada sisi anterior dari os frontal dan os nasal, dan pada sisi posterior dari os sfenoid 5) Concha nasalis superior, medial dan inferior menonjol pada sisi medial dinding lateral rongga nasal 6) Meatus superior, medial dan inferior merupakan jalan udara rongga nasal yang terletak di bawah konka d. Empat pasang sinus paranasal )frontal, etmoid, maxilar, dan sfenoid) adalah kantong tertutup pada bagian frontal, etmoid, maxilar dan sfenoid. 1) Sinus berfungsi untuk meringankan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran nasal untuk menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk, memproduksi mukus dan memberi efek resonansi dalam memproduksi wicara. 2) Sinus paranasal mengalirkan cairannya ke meatus rongga nasal melalui duktus kecilyang terletak di area tubuh yang lebih tinggi dari area lantai sinus. Pada posisi tegak, aliran mukus ke dalam ronga nasal mungkin terhambat, terutama pada kasus infeksi sinus. 3) Duktus nasolakrimalis dari kelenjar air mata membuka ke arah meatus inferior

Membran mukosa nasal a. Strukur Kulit pada bagian eksternal permukaan hidung merentang sampai ke vestibula yang terletak di dalam nostril. Kulit di bagian dalam mengandung vibrissae yang berfungsi untuk menyaring partikel dari udara yang terhisap b. Fungsi 1) Penyaringan partikel kecil

2) Penghangatan dan pelembaban udara yang masuk. Udara yang kering akan dilembabkan melaui evaporasi sekresi serosa dan mukus serta dihangatkan oleh radiasi panas dri pembuluh darah yang terletak di bawahya 3) Resepsi odor.

Septum nasi terdiri atas pars perpendicularis os ethmoidalis, kartilago septi nasi, vomer, dan krista maxilla dan palatina.

Nasal terletak di dalam cavum nasi. Cavum nasi dibagi menjadi dua oleh septum nasi, yaitu cavum nasi dextra dan cavum nasi sinistra. Pintu masuk dari saluran pernafasan adalah nares (lubang hidung). Kemudian terdapat vestibulum nasi. Pada vestibulum nasi terdapat rambut-rambut tebal yang menjulur keluar (vibrissae) untuk menyaring partikel kasar (>5 mikrometer).

1. Atap -

Bagian bagian dari hidung terdiri atas:

Septal cartilage, os. Nasalis,spina frontal, lamina cribosa ossis ethmoideal, corpus os. Ethmoidea. Bulbus olfaktorius untuk tempat keluarnya saraf olfaktorius.

2. Dasar 3. Palatine durum Palatine molle

Medial Septum nasi yang membagi cavum nasi menjadi 2 bagian yaitu dextra dan sinistra. Septum nasi terdiri dari: Superior Inferior : os ethmoidale : os. Vomer

4. Lateral Concha nasalis (superior, medial, dan inferior) dilapisi oleh epitel respirasi. Di dalam lamina propria konka terdapat vena besar yang disebut juga badan pengembang (swell bodies). Setiap 20 menit badan pengembang pada satu sisi fosa nasalis akan penuh terisi darah sehingga mukosa konka membengkak dan mengurangi aliran udara. Sementara sebagian besar udara diarahkan lewat fosa nasalis lain. Interval penutupan periodik ini mrngurangi aliran udara sehingga epitel respirasi dapat pulih dari kekeringan

Meatus Nasi Bagian meatus superior (muara dari sinus ethmoidea posterior), medial (muara dari sinus frontalis, sinus ethmoide anterior dan medial serta sinus maksila), dan inferior (muara dari ductus nasolacrimalis). Pada daerah apex terdapat recessus sphenoethmoidea (muara dari sinus sphenoidalis). Tempat muara dari meatus adalah sinus. Sinus adalah rongga yang berisi udara. Sinus dilapisi oleh lapisan mukosa, ada 4 sinus:

Sinus frontalis Sinus sfenoid Sinus ethmoidalis Sinus maksilaris

a. b. c. d.

Sinus frontalis paling beda karena mengalami involusi. Sinus ethmoidalis Sinus sphenoidalis Sinus maxillaries. Sinus frontal terbentuk dalam intrauterus dan sinus yang lain terbentuk saat kanak-kanak.

a. Septum nasal
Membagi hidung menjadi dextra dan sinistra Bagian anteriornya adalah kartilago

b. Nares (nostril) eksternal


Dibatasi oleh kartilago nasal Dikelilingi oleh kartilago nasal ala mayor et minor

c. Os nasal
Membentuk jembatan dan bagian superior kedua sisi hidung Bagian posterior septum nasal dibentuk oleh vomer dan lempeng perpendikular os ethmoidal Bagian inferior (lantai) rongga nasal adalah pallatum durum yang terbentuk dari os maxilla dan pallatinum Bagian superior (langit-langit) rongga nasal pada sisi medial terbentuk dari lempeng cribiform os ethmoidal, pada sisi anteriornya dari os frontal dan nasal, dan pada sisi posteriornya dari os sphenoidal Konka (turbinatum) nasalis: Terdiri atas 3 bagian superior, medial, dan inferior yang menonjol pada sisi medial dinding lateral rongga nasal Setiap konka dilapisi membran mukosa yang berisi kelenjar penghasil mukus dan banyak mengandung pembuluh darah Meatus superior, medial, dan inferior merupakan jalan udara rongga nasal yang terletak di bawah konka

PULMO Pulmo adalah organ respirasi yang berbentuk seperti kerucut, melekat pada trachea dan cor melalui radix pulmonis dan ligamentum pulmonale. Pulmo pada fetus dan anak yang baru lahir berwarna putih kemerahan, dengan bertambahnya usia warnanya lambat laun akan berubah menjadi abu-abu gelap atau kebiruan. Bagian-bagian pada permukaan pulmo:: a. Apex pulmonis Terletak di dalam cupula pleurae dan menjulang ke atas sampai setinggi collum costa ke 1 ke basis leher. b. Basis pulmonis Disebut juga facies diaphragmatica pulmonis. Bentuknya cekung. Karena ada hepar di sebelah kanannya, maka diaphragm di bagian kanan lebih menonjol ke dalam cavitas thoracis dibandingkan yang kiri. Akibatnya maka basis pulmonis dextra lebih cekung dari sinistra, juga pulmo dextra lebih pendek dari pulmo sinistra. c. Facies costalis Sedikit menonjol ke ruang anatar costa. d. Facies medialis Dibedakan menjadi facies vertebralis (bulat dan di dalam cekungan di kanan kiri columna vertebralis) dan facies mediastinalis (terdapat cetakan-cetakan). e. Radix pulmonis Terletak pada facies mediastinalis pulmonis dan merupakan kumpulan struktur yang keluar/masuk melalui hilum pulmonis. f. Ligamentum pulmonale Dibentuk lai lungs bud ke dalam cavitas thoracis.

Paru terbagi mejadi beberapa lobi oleh celah yang disebut fissurae, yaitu fissurae oblique (terdapat pada kedua pulmo) dan fissurae horizontalis (hanya terdapat pulmo dextra). Pulmo juga dapat dibagi menjadi unit yang lebih kecil yang disebut segmen-segmen. Sehingga terbagi menjadi: a. Pulmo dextra Lobus superior (segmentum apicale, posterius, dan anterius) Lobus medius (segmentum laterale dan mediale) Lobus inferior (segmentum apicale, basale mediale, basale anterius, basale laterale, dan basale posterius) b. Pulmo sinister Lobus superior (segmentum apicoposterius, anterius, lingulare superius, lingulare inferius) Lobus inferior (segmentum apicale, basale mediale, basale anterius, basale laterale, dan basale posterius)

PLEURA Ada 2: a. Pleura parietalis Peka nyeri, suhu, raba, tekanan. Pleura ini membatasi dinding thorax. b. Pleura visceralis Peka tarikan. Pleura ini melapisi seluruh permukaan luar paru Terdapat rongga yang disebut cairan pleura, yang mempunyai sifat: Licin, mengurangi gesekan antar pleura Mempertahankan paru tetap rapat pada dinding thorax.

VASKULARISASI Pleura Pleura parietalis mendapat darah dari cabang-cabang Aa. Intercostales posterior, Aa. Thoracica interna dan Aa. Phrenica superior. Pleura visceralis mendapat darah dari cabang-cabang Aa. Bronchiales, tetapi darah akan kembali melalui Vv. Pulmonalis. Pulmo Peredaran darahnya ada 2: a. Sirkulasi fungsional Pembuluh darah yang mengatur ini disebut vasa publica. b. Sirkulasi nutritive Pembuluh darah yang mengatur ini disebut vasa bronchialis.

INERVASI Pleura Pleura costalis mendapat serabut-serabut sensorik dari Nn. Intercostales ke 1-11 dan N. subcostalis. Bagian perifer pleura diaphragmatica mendapat serabut-serabut sensorik dari Nn. Intercostalis bagian bawah. Pleura diaphragmatica bagian central dan pleura mediastinalis diinervasi oleh Nn. Phrenici. Pleura visceralis tidak sensitive, diinervasi oleh serabut-serabut vasomotorik. Pulmo Dilayani oleh cabang-cabang N. vagus dan serabut simpathis dari ganglia thoracalis.

B.

HISTOLOGI HIDUNG Cavum Nasi Cavum nasi dibagi menjadi : Vestibulum nasi (region vestibularis) merupakan rongga terlebar dengan epitel berlapis pipih bertanduk terdapat vibrissae untuk menyaring udara yang masuk, terdapat kelenjar keringat dan lemak namun semakin ke dalam kelenjar keringat dan lemak tidak ada begitu juga dengan epitelnya menjadi tak bertanduk dan tipis. Bagian respiratorik, dibagi menjadi: Mukosa respiratoria, merupakan epitel berderet silindris dengan kinosilia dan sel goblet yang menghasilkan lender untuk membasahi mukosa rongga hidung. Kinosilia selalu bergerak ke arah nasopharing untuk menghalau kotoran yang akan masuk. Pada lamina propia terdapat jaringan ikat kendor yang berisi sinus venosus, sabut elastis, makrofag, limfosit, sel plasma, tissue eosinophyl dan PMN. Mukosa Olfaktoria, terdapat pada seluruh atap rongga hidung, concha nasalis superior bagian atas, dan septum bagian atas dengan Epitel Berderet Silindris tebal yang terdiri dari sel pembau, sel penyangga, dan sel basal. Tidak ada sel goblet, lamina basalis tidak jelas, terdapat Fila olfaktoria.

Konka Nasalis Konka Nasalis, merupakan 3 penonjolan tulang yang melengkung pada dinding lateral cavum nasi dan dilapisi oleh mukosa. Kerangka terdiri dari tulang turbinate bone, permukaannya dilapisi mukosa respiratoria atau olfactoria, mempunyai sinus venosus banyak dan lebar yang disebut plexus venosus. Ada 3 buah concha berdasarkan letaknya yaitu superior, medius, dan inferior.

Septum Nasi Septum Nasi, kerangka jaringan tulang rawan hialin dan jaringan tulang dengan kedua sisinya yang dilapisi oleh mukosa olfactoria atau respiratoria.

Sinus Paranasalis Dilapisi epitel berderet silindris tipis dengan kinosilia dan sedikit sel goblet dan lamina basalis kurang berkembang. Lamina propria menyatu dengan periost, tidak terdapat jaringan erektil. Terdiri dari : Sinus ethmoidalis Sinus maksilaris Sinus frontalis Sinus sphenoidalis

PULMO Bronkus Bronkus yang belum memasuki paru disebut brokus ekstra pulmonalis yang struktur histologinya sama dengan trakea. Sedang kan bronkus yang telah memasuki paru disebut bronkus intra pulmonalis. Berikut histologi dari bronkus intra pulmonalis tersebut: Dilapisi epitel berderet silindris, berkinosilia, ada sel goblet dan lamina basalis yang jelas. Bronchi bercabang-cabang (bronchial tree) dimana semakin lama semakin kecil dan bronkus terkecil dilapisi oleh epitel selapis silindris, bersilia dan ada sel goblet. Tulang rawan hialin berbentuk seperti pulau-pulau.

Tunika mukosa: o Dilapisi oleh epitel berderet silindris dengan kinosilia dan sel goblet dan mempunyai lamina basalis yang jelas o o Lamina propria tipis, kaya akan sabut elastis dan retikuler yang berjalan longitudinal Bronchus bercabang yang lam-kelamaan ukurannya semakin kecil, yang dilapisi oleh epitel selapis silindris bersilia dan sel goblet o Pada perbatasan dengan submukosa terdapat otot polos yang tersusun spiral mengelilingi bronchus sehingga otot polos ini tampak terputus-putus Tunika submukosa: o Terdiri dari jaringan ikat kendor yang mengandung kelenjar mukosa atau seromukous dan juga terdapat nodulus limfatikus o Jaringan tulang rawan hyalin berupa lempengan-lempengan atau pulau-pulau tulang rawan yang irreguler yang mengelilingi lumen sehingga pada potongan melintang tampak seperti kepingan atau pulau Tunika adventia : terdapat cabang-cabang dari arteri dan vena bronchialis

Bronkiolus Dilapisi epitel selapis silindris, berkinosilia dan ada sel goblet. Pada bronchiolus kecil, sel goblet diganti dengan sel clara/bronchiolar sel. Dimana sifat dari sel clara ini adalah bentuknya seperti kubah, bersifat sekretoris

Lamina propria mengandung sabut elastis dan otot polos. Tidak ada tulang rawan, kelenjar dan lymfonoduli. Bronchiolus ini akan bercabang lagi menjadi bronchiolus terminalis (dilapisi epitel selapis kubis dan bersilia, muara alveoli belum ada) kemudian akan berlanjut lagi menjadi bronchiolus respiratorius (dilapisi sel epitel selapis kubis bersilia sampai selapis pipih, muara alveoli sudah ada dan ada pertukaran gas). Tunika mukosa: o Dilapisi oleh sel epitel selapis silindris rendah atau selapis kubis mempunyai kinosilia dan sel goblet o Pada bronchiolus kecil tidak terdapat sel goblet yang kemudian digantikan oleh sel clara atau bronchial sel o Sifat sel clara: o Berbentuk seperti kubah dengan apex menonjol ke arah lumen Bersifat sekretoris membentuk cairan bronchial dan surfactant

Lamina propria mengandung sabut-sabut elastis dan otot polos yang lebih tebal dibandingkan dengan otot polos pada bronchus intra pulmonalis

Otot polos pada bronchus dan bronchiolus dinervasi oleh nervus vagus dan sistem saraf simpatis

Tidak terdapat tulang rawan hyalin, kelenjar dan nodus limfatik Tunika adventitia tipis Bronchiolus terminalis : o Dilapisi oleh sel epitel selpis kubis bersilia (penting untuk drainage yang fungsinya akan diambil alih oleh makrofag) yang terletak antara epitel selapis kubis tak bersilia o Belum ada muara alveoli

Bronchiolus respiratorius: o Dilapisi oleh epitel selapis kubis bersilia tetapi pada pinggir lubang-lubang alveolaris, epitel bronchiolus dilanjutkan dengan epitel yang melapisi alveolus yaitu selapis pipih o o Muara alveoli sudah mulai ada, sehingga pertukaran gas bisa mulai terjadi Mempunyai sabut otot polos tapi tidak melingkari lumen, hanya tampak sebagai benjolan-benjolan atau garis tebal yang terputus-putus karena disela oleh muara-muara alveoli

Terdapat sabut elastis dan sabut retikuler.

Alveolus Ruang bentuk hexagonal dengan lubang besar untuk keluar masuk udara Terdapat sabut elastis, retikuler dan septum interalveolare

Blood air barrier: struktur yang dilalui gas pada proses pertukaran gas antara ruang alveolus dan darah dalam kapiler yang terdiri dari: 1. Epitel selapis pipih dari alveoli

2. Interstitial space 3. Endotel kapiler

4. Surfactant : bahan detergent (phosphatidyl choline) yang dapat menurunkan tegangan permukaan dan berfungsi anti-kollaps serta memudahkan penggembungan alveoli dihasilkan pd minggu ke 24 kehamilan.

Epitel selapis pipih Terdapat fibroblast, jaringan ikat, serat elastin, dsn retikulin, serta kapiler. Terdapat septum interalveolare (dilapisi sel epitel selapis pipih) Ada 4 tipe sel: a. Sel Tipe 1 (90%) epitel selapis pipih, pada sitoplasmanya ada vesikel pinositik yang berisi cairan pengganti surfactant. b. Sel Tipe II epitel selapis kuboid, berisi surfactan untuk mengurangi tegangan permukaan. c. d. Sel endotel melapisi dinding kapiler Makrofag alveolar memfagositir debu (dust cell) dan eritrosit.

Alveolus merupakan sebuah ruang heksagonal yang merupakan penonjolan mirip kantung di bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan saccus alveolaris. Secara structural, alveolus tersusun atas empat tipe sel yaitu : 1. Sel tipe I Sel yang sangat tipis (kadang kadang diameternya hanya mencapai 25 nm) Melapisi permukaan alveolus ( mencapai 97% dari keseluruhan sel penyusunnya) Sebagian besar organel organelnya berkumpul di sekitar inti sehingga mengurangi tebal sawar udara-darah Fungsi utama : tempat pertukaran gas O2 dan CO2 2. Sel tipe II Sel yang berbentuk bundar yang biasanya berkelompok dengan jumlah 2-3 di sepanjang permukaan alveolus Letaknya berada diatas membrane basal Dalam sel ini terdapat organel yang disebut badan lamela yang menghasilkan surfaktan yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan alveolus 3. Sel endotel kapiler Bentuk sel sangat tipis sehingga mudah terjadi pertukaran gas Banyak terdapat vesilkel pinositik Ditemukan pada septum interalveolaris

4. Sel makrofag Ditemukan pada septum interalveolar Fungsi utama : pertahanan terhadap mikroorganisme dengan men-fagositosis

Umumnya pada alveolus ini, setiap dinding terletak diantara 2 alveolus yang bersebelahan yang disebut septum atau dinding aiteralveolar. Diantara septum ini terdapat dua lapis epitel selapis pipih, fibrolas, serat elastin, dan retikulin. Di lapisan ini juga terdapat interstisium yang di dalamnya terdapat jalinan kapiler yang terluas di dalam tubuh. Udara dalam alveolus dipisahkan dari darah kapiler oleh tiga unsur yang secara khusus disebut sawar darah-udara, yaitu Lapisan permukaan dan sitoplasma alveolus Lamina basal yang menyatu dari sel alveolus dan sel endotel Sitoplasma sel endotel

C. FISIOLOGI RESUME PPT KELP.D

D. PATOFISIOLOGI 1. Jenis Pneumotoraks dapat terjadi secara spontan maupun traumatik, dan klasifikasi pneumotoraks berdasarkan penyebabnya adalah sebagai berikut : 1. PNEUMOTORAKS SPONTAN (terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab) a. PNEUMOTORAKS SPONTAN PRIMER Pneumotoraks yang terjadi tanpa adanya riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya b. PNEUMOTORAKS SPONTAN SEKUNDER Pneumotoraks yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberculosis, PPOK, asma bronkial, pneumonia, tumor paru, dsb) PNEUMOTHORAX TENSION PNEUMOTHORAX

2. PNEUMOTORAKS TRAUMATIK (akibat suatu trauma) a. PNEUMOTORAKS TRAUMATIK BUKAN IATROGENIK Pneumotoraks yang terjadi akibat jejas kecelakaan baik terbuka ataupun tertutup b. PNEUMOTORAKS IATROGENIK i. AKSIDENTAL Pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan/komplikasi tindakan tersebut ii. ARTIFISIAL Pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan cara mengisi udara ke dalam rongga pleura melalui jarum dengan alat yang disebut Maxwell Box

Berdasarkan fistulanya pneumotoraks diklasifikasikan sebagai berikut : 1. PNEUMOTORAKS TERTUTUP (SIMPLE PNEUMOTORAKS)

Pneumotoraks udara di rongga pleura yang sedikit lebih tinggi dibandingkan tekanan pleura pada sisi hemitoraks kontralateral tetapi tekanannya masih lebih rendah daripada tekanan atmosfer. 2. PNEUMOTORAKS TERBUKA (OPEN PNEUMOTORAKS) Pneumotoraks yang terjadi karena luka terbuka pada dinding dada sehingga pada saat inspirasi udara dapat keluar melalui luka tersebut. 1. Pneumotoraks karena tekanan

Terjadi jika paru-paru mendapatkan tekanan berlebihan sehingga paru-paru mengalami kolaps. Tekanan yang berlebihan juga bisa menghalangi pemompaan darah oleh jantung secara efektif sehingga terjadi syok.

Gejala
Gejalanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara yang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami kolaps (mengempis). Gejalanya bisa berupa: Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk Sesak nafas Dada terasa sempit Mudah lelah Denyut jantung yang cepat Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.

Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: Hidung tampak kemerahan Cemas, stres, tegang Tekanan darah rendah (hipotensi).

Patofisiologi
Adanya benturan atau trauma menyebabkan robeknya alveolus dan dinding pleura visceral sehingga udara dari paru masuk ke cavum pleura. Akibatnya, tekanan negative intrapleura hilang dan respirasi terganggu. Bila dibiarkan, paru akan kolaps. Hiperekspansi cavum pleura dapat menekan mediastinum ke sisi yang sehat, dan bila hal ini terus terjadi tanpa adanya penanganan, akan terjadi penekanan vena cava, shunting udara ke paru yang sehat, dan obstruksi jalan napas. Penekanan vena cava dapat menyebabkan shock pada penderita.

Pemeriksaan fisik
1. Pada inspeksi, thoraks mungkin lebih besar dari biasanya, mungkin pula normal. Terdapat bagian dada yang tertinggal dalam gerakan pernapasan. Pada palpasi didapatkan fremitus yang berkurang di sisi trauma, mungkin teraba krepitasi karena emfisema subkutan. Juga ditemukan adanya pergeseran dari trakea, posisi jantung, dan mediastinum. Pada perkusi ditemukan adanya hipersonor atau timpani. Juga bising napas yang berkurang pada auskultasi. 2. Pemeriksaan coin test. Sebuah logam ditekankan pada dinding thoraks anterior dan diketuk dengan uang logam lainnya. Sementara itu, dilakukan auskultasi pada dinding thoraks posterior. Jika ada udara dalam rongga pleura, akan terdengar suara metalik yang khas. Jika terdapat akumulasi cairan dan udara dalam rongga pleura dan pasien merubah posisinya secara tiba-tiba, akan terdengar suara gerakan air yang disebut sebagai succession splash.

Pemeriksaan penunjang

1.

Analisa gas darah arteri hipoksemia

2.

Pemeriksaan endoskopi Terbagi menjadi derajat: a. b. c. d. Dearajat 1 gambaran paru mendekati normal Derajat 2 pneumothorax dengan perlengketan dan hamethorax Derajat 3 diameter blebh atau bulla < 2 cm Derajat 4 diameterblebh atau bulla > 2 cm

3.

Radiologi- foto thorax

Terdapat pneumothorax dan contusio pada sinistra thorax 4. 5. Pemeriksaan faal paru CT-Scan

Penatalaksanaan
1. Pada pneumothoraks, penyalir sekat air dipasang dekat dengan puncak rongga dada, tepatnya di ruang antar iga II (ICS II). 2. Pada hematothoraks, penyalir sekat air dipasang serendah mungkin pada dasar rongga dada untuk mengosongkan rongga pleura dan memantau perdarahan.

Prognosis
Hasil dari pneumothorax tergantung pada luasnya dan tipe dari pneumothorax. Spontaneous pneumothorax akan umumnya hilang dengan sendirinya tanpa perawatan. Secondary pneumothorax yang berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya, bahkan ketika kecil, adalah jauh lebih serius dan membawa angka kematian sebesar 15%. Secondary pneumothorax memerlukan perawatan darurat dan segera. Mempunyai satu pneumothorax meningkatkan risiko mengembangkan kondisi ini kembali. Angka kekambuhan untuk keduanya primary dan secondary pneumothorax adalah kira-kira 40%; kebanyakan kekambuhan terjadi dalam waktu 1.5 sampai dua tahun.

TENSION PNEUMOTORAKS Pneumotoraks yang terjadi akibat mekanisme check valve yaitu pada saat inspirasi udara masuk ke dalam rongga pleura, tetapi pada saat ekspirasi udara tidak dapat keluar. Hal ini mengakibatkan tekanan intra pleura menjadi tinggi, paru-paru

akan kolaps, mediastinum terdorong kesisi berlawanan dan menghambat pengembalian darah vena ke jantung (venous return) serta menekan paru-paru yang kontra lateral. Etiologi Komplikasi penggunaan ventilator mekanik dengan tekanan positif tapi ada kerusakan pleura visceralis. Komplikasi dari pneumotoraks sederhana yang dipasang kateter subklavia atau vena jugularis yang salah arah. Pada open pneumotoraks yang salah menutup defeknya ( tutup defek dinding dada pada satu sisinya tidak boleh rapat ). Fraktur V.Torakal displace

Gejala Nyeri dada, sesak, distres nafas, takikardi, hipotensi, deviasi trakhea, distensi vena leher, suara nafas hilang, sianosis. Gejala yang mirip adalah tamponade jantung, tapi bisa dibedakan dengan perkusi paru-paru yang hipersonor.

Terapi Segera dilakukan dekompresi dengan pemasangan jarum di sela iga II mid clavicula, yang disusul dengan WSD. Penanganan ini tidak boleh terhambat oleh karena menunggu foto toraks. Setelah WSD terpasang, cabut jarumnya dari ICS II.

Gejala + Diagnosis fisik Penderita mengeluh sesak nafas, nyeri, dan batuk-batuk Pada inspeksi, toraks mungkin lebih besar dari buiasanya dan dapt pula terlihat normal, pada bagian dada terlihat adanya ketertinggalan dalam gerakan pernafasan. Pada palpasi, didapatkan fremitus yang berkurang pada sisi yang trauma dan mungkin teraba krepitasi karena emfisema subkutan, ditemukan adanya pergeseran dari posisi trakea, jantung dan mediastinum. Pada perkusi, ditemukan adanya suara hipersonor atau timpani. Pada auskultasi, ditemukan bising nafas yang berkurang. Pada pemeriksaan coin test, sebuah logam akan ditekankan pada dinding toraks anterior dan diketuk dengan uang logam lain. Sementara itu dilakukan auskultasi pada dinding toraks posterior. Jika ada udara di rongga pleura, akan terdengar suara metalik yang khas. Jika terdapat akumulasi cairan dan udara dalam rongga pleura dan pasien merubah posisi tiba-tiba, akan terdengar suara gerakan air yang disebut sebagai succession splash.

Diagnosis penunjang Dengan melakukan foto x ray thorax Pada foto thorax tampak garis kolaps paru. Pada pneumotoraks parsial dengan lokasi di anterior atau posterior, batas garis kolaps mungkin tidak terlihat. Bila diperlukan dapat dilakukan foto toraks lateral.

Mediastinal shift dapat terlihat pada foto toraks atau fluoroskopi pada saat inspirasi atau ekspirasi, terutama dapat terjadi
pada pneumotoraks ventil.

Diagnosis banding Tamponade jantung, hematothorax, emfisema 1. Pleurisi dan perikarditis

2. Infark miokard dan emboli paru 3. Bronkitis kronis dan emfisema

4. Hernia diafragmatika 5.

Dissecting aneurysma aorta

Tata laksana Pneumothoraks sederhana Jika pneumothoraksnya kurang dri 1/3 hemothoraks maka hanya dilakukan fisioterapi tiup balon (ekspirasi dan inspirasi dalam), pukul punggung pasien, dan tunggu sampai pasien batuk. Dapat juga dipasang WSD apabila memenuhi syarat Ada fraktur dislokasi vertebre cervical Pneumothoraknya lbh dri 1/3 hemothorak Ada cedera berat lainnya

Tension pneumothoraks Dekompresi dengan jarum pada ICS 2 (bisa menggunakann trokar), setelah itu lepaskan trokar dan pasang WSD, dditunggu sampai udara keluar dan paru mengembang.

Pneumothorak terbuka Apabila ada dinding thoraks yang lubang, segera ditutp dengan kain kasa diplester di 3sisi, 1sisi dibiarkan terbuka. Kemudian dilakukan dekompresi pada ICS lain disisi thoraks yang berlawanan, kemudian pasang WSD dan tutup dekompresidengan plester.

Pada tauma toraks WSD dapat berarti: 1. Diagnostik, untuk menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak sebelum penderita jatuh dalam renjatan 2. Terapi, untuk mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul dalam rongga pleura 3. Preventif, untuk mengeluarkan udara atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga mekanisme pernafasan tetap baik.

Prinsip-prinsip penanganan pneumothorax adalah: Observasi dan pemberian tambahan oksigen Tindakan ini dilakukan apabila luas pneumothorax kurang dari 15% dari hemithorax. Apabila fistula dari alveoli ke rongga pleura telah menutup, udara dalam rongga pleura perlahan-lahan akan diresorbsi. Laju resepsinya diperkirakan 1.25% dari sisi pneumothorax per hari. Observasi dilakukan dalam beberapa hari dgn foto dad sereal tiap 12-24 jam selama 2 haribisa dilakukan dengan atau tanpa dirawat di rumah sakit pasien dengan luas pneumothorax kecil unilateral dan stail, tapa gejala diperboehkan beobat jalan dan 2-3 hari pasien harus control.

Aspirasi sederhana dengan jarum Segera dilakukan dekompresi dengan pemasangan jarum di sela iga II mid clavicula, yang disusul dengan WSD.Penanganan ini tidak boleh terhambat oleh karena menunggu foto toraks.Setelah WSD terpasang, cabut jarumnya dari ICS II. Torakoskopi Adalah suatu tindakan untuk melihat langsung kedalam rongga dada dengan alat bantu

torakoskope.tindakan ini dilakukn apabila: a. b. c. d. e. Tindakan aspirasi maupun WSD gagal. Paru tidak mngembang setelah 3 hari pemasangan tube torakostomi. Terjadinya fistula bronkopleura. Timbulnya kembali pneumothorax stelah tindakan pleuradesis. Pada pasien yg berkaitan dengan pekerjaannya agar tidak mudah kambuh lagi seperti pada pilot dan penyelam.

British thoracic society dan American college of chest physicians telah memberikan rekomendasi untuk penanganan pneumothoraks. : Observasi dan pemberian tambahan oksigen Tindakan ini dilakukan apabila luas pneumothoraks < 15% dari hemithoraks. Apabila fistula dari alveoli ke rongga pleura teah menutup, udara dalam rongga pleura perlahan lahan di resorbsi, laju resorbsi kira-kira 1,25% dari sisi pneumothoraks perhari, laju resorbsi akan meningkat jika diberi tambahan oksigen. Pemberian oksigen 100% pada kelinci percobaan yang mengalami pneumothoraks ternyata meningkatkankan laju resorbsi 6x lipat. Aspirasi dengan jarum dan tube thoracostomi Tindakan ini dilakukan seawal mungkin pada pasien pneumothoraks > 15%. Tindakan ini dilakukan untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura (dekompresi). Tindakan ini dilakukan dengan cara: Menusukan jarum melalui dinding dada ICS II pada linea mid clavicula sampai masuk ke rongga pleura, sehingga tekanan udara positif akan keluar melalui jarum tersebut. Membuat hubungan dengan udara luar melalui saluran konta ventil, yaitu dengan : Jarum infuse set ditusukan ke dinding dada sampai masuk ke rongga peura, kemudian ujung pipa plastic di pangkal saringan tetesan dipotong dan dimasukan ke dalam botol berisi air, kemudian klem dibuka, maka akan timbul gelembung-gelembung udara di dalam botol. Water sealed drainage (WSD), cara: o Daerah ICS VI atau II diberi cairan disinfektan dan dilakukan injeksi anestesi lokal dengan xilokain atau prokain 2% dan kemudian ditutup dengan kain steril. o o Insisi kulit pada ICS VI pada linea aksilaris media atai ICS II pada linea mid clavicula. Tube thoracostomy steril dimasukan ke rongga pleura dengan perantara klem penjepit. Setelah tube masuk maka klem dicabut. Pemasukan tube diarahkan ke atas bila pada ICS VI dan diarahkan kebawah bila pada ICS II.

Tube toracostomy dihubungkan dengan botol, dimana di dalam botol tersebut terdapat air.

Pipa tube yang tercelup kira-kira 2 cm dai permukaan air, agar gelembung udara mudah keluar.

Apabila tekanan rongga pleura masih tetap positif, perlu dilakukan penghisapan udara secara aktif (continuous suction), dengan memberikan 10 20 cm air agar paru cepat mengembang.

Bila paru sudah mengembang penuh dan tekanan rongga pleura sudah negative, maka sebelum tube dicabut dilakukan uji coba dengan menjepit tube tersebut selama 24 jam.

Tindakan selanjutnya adalah melakukan evaluasi dengan foto dada, apakah paru mengembang dan tidak mengempis lagi ? atau tekanan dalam rongga pleura tetap negative dan tidak kembali positif? Bila menjadi positif lagi maka tube belum bisa dicabut. Jika paru tetap mengembang dan tekanannya tetap negative maka tube tersebut sudah bisa dicabut. Pencabutan dilakukan ketika pasien dalam keadaan ekspirasi maksimal.

o Thoracoscopy

Pemasangan WSD ini bisa dilakukan dengan two bottle system or three bottle system.

Adalah suatu tindakan untuk melihat langsung ke dalam rongga thoraks dengan alat bantu thoracoscop.Thoracoscopy yang dipandu dengan video assisted thoracoscopy surgery (VATS) memberikan kenyamanan dan keamanan bagi operator maupun pasien karena memperoleh lapangan pandang yang lebih luas dan gambar yang lebih bagus. Tindakan ini sangat efektif dalam penanganan PSP dan mencegah berulangnya kembali. Dengan prosedur ini dapat dilakukan reeksi bulla atau bleb dan juga bisa dilakuakn untuk pleurodosis, juga mengurangi lama rawat inap rumah sakit. Thoracoscopy dilakukan apabila :

Tindakan aspirasi maupun WSD gagal Paru tidak mengembang setelah 3 hari pemasangan tube thoracostomy Terjadi fistula bronchopleura Timbulnya kembali pneumothoraks setelah tindakan pleurodosis.

Lama operasi sekitar 45 menit, rasa tidak enak setelah operasi rata rata 4-6 hari. Pasien dengan luas permukaan pneumothoraks >20% biasanya membutuhkan waktu lebih dari 10 hari untuk berkembangnya paru kembali. Operasi dilakukan dengan anesthesia, sehingga selama operasi pasien terbebas dari nyeri. Toracotomy Tindakan ini dilakukan apaila thoracoscopy gagal atau jika bleb atau bulla terdapat di apeks paru, maka tindakan thoracotomy ini efektif untuk reseksi bleb atau bulla tersebut.

Komplikasi Pneumothoraks tension (terjadi pada 3-5% pasien pneumothoraks), dapat mengakibatkan kehgagalan respirasi akut. Piopneumothoraks, hidro-pneumothoraks/hemo-pneumothoraks, henti jantung paru dan kematian (sangat jarang terjadi). Pneumomediastinum dan emfisema subkutan sebagai akibat komplikasi pneumothoraks spontan, biasanya karena pecahnya esophagus atau bronkus, sehingga kelainan tersebut harus ditegakkan(insidensinya sekitar 1%), pneumothoraks

simultan bilateral (insidensinya sekitar 2%), pneumothoraks kronik, bila tetap ada selama waktu lebih dari 3 bulan (insidensinya sekitar 5%). PENYULIT Pneumotoraks ventil dapat berakhir fatal bila terjadi kolaps sirkulasi Gagal napas Hemopneumotoraks Empiema Atelektasis Pneumotoraks berulang/rekuren Emfisema subkutis atau mediastinum Edema paru reekspansi PROGNOSIS Baik, apabila segera dilakukan pertolongan dan pengobatan intensif, terutama yang mengenai penderita muda yang sehat. Tergantung penyakit dasar

2. HEMOTHORAX/ HEMATOTHORAX

Definisi
Hemothoraks adalah adanya darah yang masuk ke areal pleura (antara pleura viseralis dan pleura parietalis). Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam pada dada, yang mengakibatkan robeknya membran serosa pada dinding dada bagian dalam atau selaput pembungkus paru. Robekan ini akan mengaikibatkan darah mengalir ke dalam rongga pleura, yang akan menyebabkan penekanan pada paru.

Etiologi
Hematotoraks disebabkan luka tembus toraks oleh benda tajam, traumatik atau spontan.

Gejala Tergantung dari berat ringannya trauma tapi biasanya pasien mengeluhkan sesak nafas, nyeri dada, syok, sampai anemi. Bila darah di pleura mencapai 1500 ml atau lebih maka otomatis rongga pleura akan menekan ke dua arah seta menekan paru yang menyebabkan ruang kembang paru menyempit dan akan terjadi hipoventilasi yang akhirnya membuat penderita hipoksia sampai meninggal.

Manifestasi
Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah didinding dada. Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik merupakan keluhan dan gejala yang pertama muncul. Secara klinis pasien menunjukan distress pernapasan berat, agitasi, sianosis, tahipnea berat, tahikardia dan peningkatan awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah jantung.

Pemeriksaan penunjang
1. Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung).Hanya boleh dilakukan jika keadaan pasien stabil. 2. GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun. 3. Torakosentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorak).

4. Hb : mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah.

Penatalaksanaan a.
Hemothorak kecil : cukup diobservasi, gerakan aktif (fisioterapi) dan tidak memerlukan tindakan khusus.

b. Hemothorak sedang : di pungsi dan penderita diberi transfusi. Difungsi sedapat mungkin dikeluarkan semua
cairan. Jika ternyata kambuh dipasang penyalir sekat air.

c.

Hemothorak besar : diberikan penyalir sekat air di rongga antar iga dan transfusi.

d. Tindakan Bedah : WSD (pada 90% kasus) atau operasi torakotomi cito (eksplorasi) untuk menghentikan
perdarahan

Hematothoraks massif Hemotoraks masif yaitu terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1.500 cc di dalam rongga pleura. Hal ini sering disebabkan oleh luka tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru. Hal ini juga dapat disebabkan trauma tumpul. Kehilangan darah menyebabkan hipoksia. Vena leher dapat kolaps (flat) akibat adanya hipovolemia berat, tetapi kadang dapat ditemukan distensi vena leher, jika disertai tension pneumothorax. Jarang terjadi efek mekanik dari darah yang terkumpul di intratoraks lalu mendorong mesdiastinum sehingga menyebabkan distensi dari pembuluh vena leher. Diagnosis hemotoraks ditegakkan dengan adanya syok yang disertai suara nafas menghilang dan perkusi pekak pada sisi dada yang mengalami trauma. Terapi awal hemotoraks masif adalah dengan penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan kemudian pmeberian darah dengan golongan spesifik secepatnya

Pemeriksaan Pada inspeksi biasanya tidak tampak kelainan, mungkin gerakan napas tertinggal atau pusat karena perdarahan. Fremitus sisi yang terkena lebih keras daripada sisi yang lain. Pada perkusi didapatkan pekak dengan batas seperti garis miring atau mungkin tidak jelas, tergantung pada jumlah darah yang ada di rongga thoraks. Bunyi napas. Pada pemeriksaan fisik, dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan mungkin tidak terdengar atau menghilang.

Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada

Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan.

CT scan dada

CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor USG dada

USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.

Torakosentesis

Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).

Biopsi

Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.

Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. Analisa cairan pleura BDA

Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2 kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin normal atau menurun, saturasi oksigen biasanya menurun. Hb

mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah.

Bronkoskopi

Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. Ukuran Kecil Bayangan foto rontgen 0-15% Pemeriksaan fisik Perkusi pekak sampai iga IX Sedang 15-35% Perkusi pekak sampai iga VI Besar >35% Perkusi pekak sampai cranial, iga IV Penyalir sekat air di ruang transfuse antar iga, Penanganan Gerakan (fisioterapi) Aspirasi dan transfuse aktif

Keterangan table : 0-15% merupakan hemotoraks kecil, yaitu tampak sebagai bayangan kurang dari 15% pada foto rontgen. Penanganannya cukup diobservasi dan tidak memerlukan tindakan khusus 15-35% merupakan hemotoraks sedang artinya tampak bayangan yang menutup 15-35% pada foto rontgen. Penanganannya dipungsi dan penderita diberi tranfusi. Pada pungsi sedapat mungkin dikeluarkan semua cairan

>35% merupakan hemotoraks besar yaitu jika ternyata terjadi kambuhan, dipasang penyalir sekat air dan diberikan tranfusi

Indikasi Operasi Adanya perdarahan masif (setelah pemasangan WSD) Ditemukan jumlah darah inisial > 750 cc, pada pemasangan WSD < 4 jam setelah kejadian trauma. Perdarahan 3-5 cc/kgBB/jam dalam 3 jam berturut-turut Perdarahan 5-8 cc/kgBB/jam dalam 2 jam berturut-turut Perdarahan > 8cc/kgBB/jam dalam 1 jam

Bila berat badan dianggap sebagai 60 kg, maka indikasi operasi, bila produksi WSD: = 200 cc/jam dalam 3 jam berturut-turut = 300 cc/jam dalam 2 jam berturut-turut = 500 cc dalam = 1 jam

Penatalaksanaan

WSD

5 CC/KG BB/JAM

3-5 CC/KG BB/JAM

3 CC/KG BB/JAM

TORAKOTOMI

OBSERVASI

PARU TIDAK MENGEMBANG


dalam rongga pleura. Torakotomi bila: 1.

PARU MENGEMBANG

Tindakan bedah dilakukan dengan pemasangan WSD (Water Seal Drainage) untuk evakuasi darah, hematoma dari

Perdarahan masif ( jumlah produksi darah > 750 cc )

2. Pada Observasi bila produksi darah setelah pemasangan WSD lebih besar sama dengan 3-5 cc/kg/BB/jam atau 3-5 cc/kg/BB selama 3 jam berturut-turut.

Tujuan: Evakuasi darah dan pengembangan paru secepatnya. Penanganan hemodinamik segera untuk menghindari kegagalan sirkulasi.

Tindakan Bedah : WSD (pada 90% kasus) atau operasi torakotomi cito (eksplorasi) untuk menghentikan perdarahan.

3. DEFINISI

EPISTASIS

Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung yang penyebabnya bisa lokal atau sistemik.Perdarahan bisa ringan sampai serius dan bila tidak segera ditolong dapat berakibat fatal. Sumber perdarahan biasanya berasal dari bagian depan atau bagian belakang hidung. Berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi A. Epistaksis Anterior, banyak berasal dari Pleksus Kiesselbach (anastomosis dari cabang-cabang a.etmoidalis anterior, a.sfenopalatina, a.labialis superior, a.palatina mayor) di septum anterior. B. Epistaksis Posterior, berasal dari nasofaring posterior, a.etmoidalis posterior, a.sfenopalatina, atau dari pleksus Wooddruff ETIOLOGI Perdarahan hidung diawali oleh pecahnya pembuluh darah di dalam selaput mukosa hidung. Delapan puluh persen perdarahan berasal dari pembuluh darah Pleksus Kiesselbach (area Little). Pleksus Kiesselbach terletak di septum nasi bagian anterior, di belakang persambungan mukokutaneus tempat pembuluh darah yang kaya anastomosis Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab-sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik 1) Lokal a) Trauma Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya mengeluarkan sekret dengan kuat, bersin, mengorek hidung, trauma seperti terpukul, jatuh dan sebagainya.Selain itu iritasi oleh gas yang merangsang dan trauma pada pembedahan dapat juga menyebabkan epistaksis. b) Infeksi Infeksi hidung dan sinus paranasal, rinitis, sinusitis serta granuloma spesifik, seperti lupus, sifilis dan lepra dapat menyebabkan epistaksis. c) Neoplasma Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan intermiten, kadang-kadang ditandai dengan mukus yang bernoda darah, Hemongioma, karsinoma, serta angio-fibroma dapat menyebabkan epistaksis berat. d) Kelainan kongenital Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah perdarahan telangiektasis heriditer (hereditary hemorrhagic telangiectasia/Osler's disease).Pasien ini juga menderita telangiektasis di wajah, tangan atau bahkan di traktus gastrointestinal dan/atau pembuluh darah paru. e) Sebab-sebab lain termasuk benda asing dan perforasi septum. Perforasi septum nasi atau abnormalitas septum dapat menjadi predisposisi perdarahan hidung. Bagian anterior septum nasi, bila mengalami deviasi atau perforasi, akan terpapar aliran udara pernafasan yang cenderung mengeringkan sekresi hidung. Pembentukan krusta yang

keras dan usaha melepaskan dengan jari menimbulkan trauma digital. Pengeluaran krusta berulang menyebabkan erosi membrana mukosa septum dan kemudian perdarahan. f) Pengaruh lingkungan Misalnya tinggal di daerah yang sangat tinggi, tekanan udara rendah atau lingkungan udaranya sangat kering. 2)Sistemik a) Kelainan darah misalnya trombositopenia, hemofilia dan leukemia. b) Penyakit kardiovaskuler. Hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti pada aterosklerosis, nefritis kronik, sirosis hepatis, sifilis, diabetes melitus dapat menyebabkan epistaksis.Epistaksis akibat hipertensi biasanya hebat, sering kambuh dan prognosisnya tidak baik. c) Biasanya infeksi akut pada demam berdarah, influenza, morbili, demam tifoid. d) Gangguan endokrin Pada wanita hamil, menarche dan menopause sering terjadi epistaksis, kadang-kadang beberapa wanita mengalami perdarahan persisten dari hidung menyertai fase menstruasi Asal : a. Sfenopalatina a. Etmoidalis post Lokasi perdarahan : sulit untuk menentukan lokasi perdarahan Anterior kav. Nasi sering pada anak dan dewasa muda Berasal dari plx Kiessel bach / a. etmoidalis ant Posterior kav. Nasi sering pada hipertensi

GAMBARAN KLINIS DAN PEMERIKSAAN Pasien sering menyatakan bahwa perdarahan berasal dari bagian depan dan belakang hidung. Perhatian ditujukan pada bagian hidung tempat awal terjadinya perdarahan atau pada bagian hidung yang terbanyak mengeluarkan darah.Untuk pemeriksaan yang adekuat pasien harus ditempatkan dalam posisi dan ketinggian yang memudahkan pemeriksa bekerja.Harus cukup sesuai untuk mengobservasi atau mengeksplorasi sisi dalam hidung.Dengan spekulum hidung dibuka dan dengan alat pengisap dibersihkan semua kotoran dalam hidung baik cairan, sekret maupun darah yang sudah membeku; sesudah dibersihkan semua lapangan dalam hidung diobservasi untuk mencari tempat dan faktor-faktor penyebab perdarahan. Setelah hidung dibersihkan, dimasukkan kapas yang dibasahi dengan larutan anestesi lokal yaitu larutan pantokain 2% atau larutan lidokain 2% yang ditetesi larutan adrenalin 1/1000 ke dalam hidung untuk menghilangkan rasa sakit dan membuat vasokontriksi pembuluh darah sehingga perdarahan dapat berhenti untuk sementara. Sesudah 10 sampai 15 menit kapas dalam hidung dikeluarkan dan dilakukan evaluasi.Pasien yang mengalami perdarahan berulang atau sekret berdarah dari hidung yang bersifat kronik memerlukan fokus diagnostik yang berbeda dengan pasien dengan perdarahan hidung aktif yang prioritas utamanya adalah menghentikan perdarahan.

Pemeriksaan yang diperlukan berupa: a) Rinoskopi anterior

Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior ke posterior. Vestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan konkhainferior harus diperiksa dengan cermat. b) Rinoskopi posterior Pemeriksaan nasofaring dengan rinoskopi posterior penting pada pasien dengan epistaksis berulang dan sekret hidung kronik untuk menyingkirkan neoplasma. c) Pengukuran tekanan darah Tekanan darah perlu diukur untuk menyingkirkan diagnosis hipertensi, karena hipertensi dapat menyebabkan epistaksis yang hebat dan sering berulang. d) Rontgen sinus Rontgen sinus penting mengenali neoplasma atau infeksi. e) Skrining terhadap koagulopati Tes-tes yang tepat termasuk waktu protrombin serum, waktu tromboplastin parsial, jumlah platelet dan waktu perdarahan. g) Riwayat penyakit Riwayat penyakit yang teliti dapat mengungkapkan setiap masalah kesehatan yang mendasari epistaksis.

PATOFISIOLOGI Hidung kaya akan vaskularisasi yang berasal dari arteri karotis interna dan arteri karotis eksterna. Arteri karotis eksterna menyuplai darah ke hidung melalui percabangannya arteri fasialis dan arteri maksilaris. Arteri labialis superior merupakan salah satu cabang terminal dari arteri fasialis. Arteri ini memberikan vaskularisasi ke nasal arterior dan septum anterior sampai ke percabangan septum. Arteri maksilaris interna masuk ke dalam fossa pterigomaksilaris dan memberikan enam percabangan : a.alveolaris posterior superior, a.palatina desenden , a.infraorbitalis, a.sfenopalatina, pterygoid canal dan a. pharyngeal. Arteri palatina desenden turun melalui kanalis palatinus mayor dan menyuplai dinding nasal lateral, kemudian kembali ke dalam hidung melalui percabangan di foramen incisivus untuk menyuplai darah ke septum anterior.1 Arteri karotis interna memberikan vaskularisasi ke hidung. Arteri ini masuk ke dalam tulang orbita melalui fisura orbitalis superior dan memberikan beberapa percabangan. Arteri etmoidalis anterior meninggalkan orbita melalui foramen etmoidalis anterior. Arteri etmoidalis posterior keluar dari rongga orbita, masuk ke foramen etmoidalis posterior, pada lokasi 2-9 mm anterior dari kanalis optikus. Kedua arteri ini menyilang os ethmoid dan memasuki fossa kranial anterior, lalu turun ke cavum nasi melalui lamina cribriformis, masuk ke percabangan lateral dan untuk menyuplai darah ke dinding nasal lateral dan septum.1-8 Pleksus kiesselbach yang dikenal dengan little area berada diseptum kartilagenous ante rior dan merupakan lokasi yang paling sering terjadi epistaksis anterior. Sebagian besar arteri yang memperdarahi septum beranastomosis di area ini.8,9 Sebagian besar epistaksis (95%) terjadi di little area. Bagian septum nasi anterior inferior merupakan area yang berhubungan langsung dengan udara, hal ini menyebabkan mudah terbentuknya krusta, fisura dan retak karena trauma pada pembuluh darah tersebut. Walaupun hanya sebuah aktifitas normal dilakukan seperti menggosok-gosok hidung dengan keras, tetapi hal ini dapat menyebabkan terjadinya trauma ringan pada pembuluh darah sehingga terjadi ruptur dan perdarahan. Hal ini terutama terjadi pada membran mukosa yang sudah terlebih dahulu mengalami inflamasi akibat dari infeksi saluran pernafasan atas, alergi atau sinusitis

DIAGNOSIS BANDING Termasuk perdarahan yang bukan berasal dari hidung tetapi darah mengalir keluar dari hidung seperti hemoptisis (batuk darah), varises oesofagus (penyakit yang ditandai dengan pembesaran abnormal pembuluh darah vena di oesofagus bagian bawah) yang berdarah.

PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan epistaksis adalah untuk menghentikan perdarahan.

Hal-hal yang penting adalah 1. Riwayat perdarahan sebelumnya.

2. Lokasi perdarahan. 3. Apakah darah terutama mengalir ke tenggorokan (ke posterior) atau keluar dari hidung depan (anterior) bila pasien duduk tegak. 4. Lamanya perdarahan dan frekuensinya 5. 6. 7. 8. 9. Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga Hipertensi Diabetes melitus Penyakit hati Gangguan koagulasi

10. Trauma hidung yang belum lama 11. Obat-obatan, misalnya aspirin, fenil butazon Pengobatan disesuaikan dengan keadaan penderita, apakah dalam keadaan akut atau tidak

TERAPI a) Perbaiki keadaan umum penderita, penderita diperiksa dalam posisi duduk kecuali bila penderita sangat lemah atau keadaaan syok. b) Pada anak yang sering mengalami epistaksis ringan, perdarahan dapat dihentikan dengan cara duduk dengan kepala ditegakkan, kemudian cuping hidung ditekan ke arah septumselama beberapa menit. c) Tentukan sumber perdarahan dengan memasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan adrenalin dan pantokain/ lidokain, serta bantuan alat penghisap untuk membersihkanbekuan darah. d) Pada epistaksis anterior, jika sumber perdarahan dapat dilihat dengan jelas, dilakukan kaustik dengan larutan nitras argenti 20%-30%, asam trikloroasetat 10% atau dengan elek-trokauter. Sebelum kaustik diberikan analgesia topikal terlebih dahulu. e) Bila dengan kaustik perdarahan anterior masih terus berlangsung, diperlukan pemasangan tampon anterior dengan kapas atau kain kasa yang diberi vaselin yang dicampur betadin atau zat antibiotika. Dapat juga dipakai tampon rol yang dibuat dari kasa sehingga menyerupai pita dengan lebar kurang cm, diletakkan berlapis-lapis mulai dari dasar sampai ke puncak rongga hidung. Tampon yang dipasang harus menekan tempat asal perdarahan dan dapat dipertahankan selama 1-2 hari.

f)

Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan tampon posterior atau tampon Bellocq, dibuat dari kasa dengan ukuran lebih kurang 3x2x2 cm dan mempunyai 3 buah benang, 2 buah pada satu sisi dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya. Tampon harus menutup koana (nares posterior)

Teknik Pemasangan Untuk memasang tampon Bellocq, dimasukkan kateter karet melalui nares anterior sampai tampak di orofaring dan kemudian ditarik ke luar melalui mulut. Ujung kateter kemudian diikat pada dua buah benang yang terdapat pada satu sisi tampon Bellocq dan kemudian kateter ditarik keluar hidung. Benang yang telah keluar melalui hidung kemudian ditarik, sedang jari telunjuk tangan yang lain membantu mendorong tampon ini ke arah nasofaring. Jika masih terjadi perdarahan dapat dibantu dengan pemasangan tampon anterior, kemudiandiikat pada sebuah kain kasa yang diletakkan di tempat lubang hidung sehingga tampon posterior terfiksasi. Sehelai benang lagi pada sisi lain tampon Bellocq dikeluarkan melalui mulut (tidak boleh terlalu kencang ditarik) dan diletakkan pada pipi. Benang ini berguna untuk menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3 hari. Setiap pasien dengan tampon Bellocq harus dirawat Pemasangan tampon posterior (tampon Belloq) dapat menyebabkan laserasi palatum mole atau sudut bibir, jika benang yang keluar dari mulut terlalu ketat dilekatkan pada pipi. Kateter balon atau tampon balon tidak boleh dipompa terlalu keras karena dapat menyebabkan nekrosis mukosa hidung atau septum. Epistaksis berat (posterior) Tampon belloq

Kateter foley dapat digunakan untuk menekan dinding posterior, penggunaan foley kateter sangat mudah, cepat dan gampang. Pilih kateter foley pompa balon dengan udara, pastikan keutuhan balon. Pompa balon dengan 7 sampai 10 ml udara. Jangan pergunakan saline atau cairan lain sebagai pengganti udara sebab dapat terjadi aspirasi jika balon tersebut rupture.

Kateter Balon Nasal, plastic inflatable ballon catheters mempunyai penanganan yang sederhana terhadap epistaksis. Ballon nasal mudah digunakan dan cepat ditempatkan. Cocok dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Dapat berupa ballon anterior, ballon posterior atau balon rangkap.

kateter rangkap dapat digunakan dimana pack posterior tidak cocok. Kateter ini mempunyai berbagai tipe dan ukuran. Harganya cukup mahal tetapi mudah dan cepat digunakan. Balon distal yang kecil tersangkut pada lengkung choana dan sama pada pack posterior balon proximal yang lebih besar menutupi seluruh rongga hidung dan sama dengan pack anterior. Balon distal dengan ukuran tekanan 10 ml dan balon anterior sebesar 30 ml . ini adalah volume maksimum yang direkomendasikan oleh pabrik yang tertera pada pembungkus dan tempat masuk udara pada balon.

KOMPLIKASI EPISTAKSIS Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat dari epistaksisnya sendiri atau sebagai akibat dari upaya penanggulangan epistaksis. Akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi aspirasi darah ke dalam saluran pernafasan bawah. Juga dapat menyebabkan syok, anemia, dan gagal ginjal. Turunnya tekanan darah secara mendadak mengakibatkan hipotensi, hipoksia, iskemia serebri, insufisiensi koroner sampai infark miokard yang dapat menyebabkan kematian. Untuk itu pemberian infus dan tranfusi darah harus segera dilaksanakan. Pemasangan tampon dapat menyebabkan rino-sinusitis, otitis media, septikemia atau toxic shock syndrome. Oleh karena itu, harus selalu diberikan antibiotik pada setiap pemasangan tampon hidung, dan setelah 2-3 hari tampon harus dicabut. Bila perdarahan masih berlanjut dipasang tampon baru. Dapat juga terjadi hemotimpanum sebagai akibat mengalirnya darah melalui tuba eustachius dan air mata berdarah (bloody tears), akibat mengalirnya darah secara retrograd melalui duktus nasolakrimalis

4. NYERI DADA Etiologi 1.Trauma, misalnya: pneumothorax, hemothorax, flail chest, tamponade jantung, dll. 2.Non trauma, misalny: A. Penyakit jantung --> angina pectoris B. Penyakit non jantung --> edema paru Nyeri Dada akibat Frakture Costae

Macam Menurut jumlah costa yang mengalami fraktur dapat dibedakan Fraktur simple Fraktur multiple

Menurut jumlah fraktur pada setiap costa dapat Fraktur segmental Fraktur simple Fraktur comminutif Menurut letak fraktur dibedakan : Superior (costa 1-3 ) Median (costa 4-9) Inferior (costa 10-12 ). Menurut posisi : Anterior, Lateral Posterior. Ada beberapa kasus timbul fraktur campuran, seperti pada kasus Flail chest, dimana pada keadaan ini terdapat fraktur segmental, 2 costa atau lebih yang letaknya berurutan

Gejala + diagnosis fisik Inspeksi: adanya keidak simetrisan dada kanan kiri, pada fleil chest ada gerakan paradoxal. Palpasi: ditemukan nyeri tekan, adanya krepitasi Sebanyak 25% dari kasus fraktur costa tidak terdiagnosis, dan baru terdiagnosis setelah timbul komplikasi, seperti hematotoraks dan pneumotoraks

Diagnosis penunjang Dengan melakukan foto x ray thorax

Diagnosis banding Contusio dinding dada, fraktur sternum, flail chest

Tata laksana Immobilisasi pada fraktur costae dengan plester lebar melewati lingkaran dada, tapi tidak boleh memperberat ventilasinya Pemasangan plester lebar pada saat penderita inspirasi maksimal Plester dipasang pada region costae yang fraktur, dan pemakaian plester ini berlangsung selama 1-2 minggu

Monitoring + indikator keberhasilan Dilakukan dengan memeriksa bagian costae yang fraktur, terlihat adanya perbaikan jaringan yang rusak (luka, memar). Dapat juga dengan pemeriksaan penunjang (x ray thorax) untuk melihat perkembangan perbaikan fraktur costae. Selain itu, lihat keadaan pasien apakah ada kesulitan bernafas.

Komplikasi

Kompikasi Umum : Syok hipovolemia (karena perdarahan yang banyak), syok neurogenik (karena nyeri yang hebat), koagulopati diffus, gangguan fungsi pernafasan. Komplikasi ini dapat terjadi dalam waktu 24 jam pertama pasca trauma. Komplikasi Lokal : Jika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut komplikasi dini, jika komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut. Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu : 1. Infeksi, terutama pada kasus fraktur terbuka.

2. Osteomielitis yaitu infeksi yang berlanjut hingga tulang. 3. Delayed union yaitu penyambungan tulang yang lama.

4. Non union yaitu tidak terjadinya penyambungan pada tulang yang fraktur. 5. Artritis supuratif, yaitu kerusakan kartilago sendi. Terganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut otot.

5. Definisi

FARAKTUR COSTAE FLAIL CHEST

Costa merupakan salah satu komponen pembentuk rongga dada yang memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap organ didalamnya dan yang lebih penting adalah mempertahankan fungsi ventilasi paru. Fraktur Costa adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang / tulang rawan yang disebabkan oleh rudapaksa pada spesifikasi lokasi pada tulang costa. Fraktur costa akan menimbulkan rasa nyeri, yang mengganggu proses respirasi, disamping itu adanya komplikasi dan gangguan lain yang menyertai memerlukan perhatian khusus dalam penanganan terhadap fraktur ini. Pada anak fraktur costa sangat jarang dijumpai oleh karena costa pada anak masih sangat lentur. Costae merupakan komponen dinding thorax yang sering mengalami trauma. Costae 1-3 terbendung struktur yang kuat sehingga apabila terjadi fraktur, harus dicurigai terjadi fraktur vertebra cervikalis. Sedangkan apabila terjadi fraktur pada costae 10-12, maka harus dicurigai terkena hepar atau lien. Fraktur costae juga dapat menyebabkan kematian apabila terjadi tension pneumothorax, biasanya terjadi pada costae 3, 4 dan 5. Hal ini akan menyebabkan terjadinya hipoksia pada jantung dan otak.

Klasifikasi

Jenis facture costae menurut garis fracture

Menurut jumlah costa yang mengalami fraktur, dibagi jadi : 1) Fraktur simple/ singular 2) Fraktur multiple : fraktur yang terjadi pada 1 costae : terjadi pada 1 costae atau lebih

Menurut jumlah fraktur pada setiap costa, dibagi jadi : 1) Fraktur segmental 2) Fraktur simple 3) Fraktur comminutif Menurut letak fraktur dibedakan : 1) Superior (costa 1-3 ) 2) Median (costa 4-9) 3) Inferior (costa 10-12 ). Menurut posisi : 1) Anterior, 2) Lateral 3) Posterior. Ada beberapa kasus timbul fraktur campuran, seperti pada kasus Flail chest, dimana pada keadaan ini terdapat fraktur segmental ,2 costa atau lebih yang letaknya berurutan. : terjadi di 2 tempat pada 1 costae : terjadi pada 1 tempat di 1 costae : terjadi pada beberapa tempat di satu costae

Etiologi

Costa merupakan tulang pipih dan memiliki sifat yang lentur. Oleh karena tulang ini sangat dekat dengan kulit dan tidak banyak memiliki pelindung, maka setiap ada trauma dada akan memberikan trauma juga kepada costa. Fraktur costa dapat terjadi dimana saja disepanjang costa tersebut.. Dari keduabelas pasang costa yang ada, tiga costa pertama paling jarang mengalami fraktur hal ini disebabkan karena costa tersebut sangat terlindung. Costa ke 4-9 paling banyak mengalami fraktur, karena posisinya sangat terbuka dan memiliki pelindung yang sangat sedikit, sedangkan tiga costa terbawah yakni costa ke 10-12 juga jarang mengalami fraktur oleh karena sangat mobil .Pada olahragawan biasanya lebih banyak dijumpai fraktur costa yang undisplaced , oleh karena pada olahragawan otot intercostalnya sangat kuat sehingga dapat mempertahankan fragmen costa yang ada pada tempatnya.

Secara garis besar penyebab fraktur costa dapat dibagi dalam 2 kelompok : 1. Disebabkan trauma a. Trauma tumpul Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur costa antara lain : Kecelakaan lalulintas,kecelakaan pada pejalan kaki ,jatuh dari ketinggian, atau jatuh pada dasar yang keras atau akibat perkelahian. b. Trauma Tembus Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa :Luka tusuk dan luka tembak 2. Disebabkan bukan trauma Yang dapat mengakibatkan fraktur costa ,terutama akibat gerakan yang menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau oleh karena adanya gerakan yang berlebihan dan stress fraktur,seperti pada gerakan olahraga : Lempar martil, soft ball, tennis, golf.

Gejala 1. Nyeri

2. Deformitas 3. Krepitasi

4. Bengkak 5. 6. 7. 8. Peningkatan temperatur lokal Pergerakan abnormal Ecchymosis Kehilangan fungsi

Gejala bila dilihat dari tipe fraktur a. Pada fraktur tunggal/majemuk, penderita masih dapat bernapas dengan baik karena gerak dada masih terlihat memadai dan teratur. b. Pada fraktur costae multiple namun tidak di satu segmen/tempat, dinding thorax masih stabil meski penderita terlihat kesulitan bernapas dan kesakitan. c. Pada fraktur costae multiple segmental terjadi flail chest/segmen dinding dada lepas sehingga menghambat pergerakan dada dan menyebabkan kesulitan bernapas.

Pafisiologi Fraktur costa dapat terjadi akibat trauma yang datangnya dari arah depan,samping ataupun dari arah belakang.Trauma yang mengenai dada biasanya akan menimbulkan trauma costa,tetapi dengan adanya otot yang melindungi costa pada dinding dada,maka tidak semua trauma dada akan terjadi fraktur costa. Pada trauma langsung dengan energi yang hebat dapat terjadi fraktur costa pada tempat traumanya .Pada trauma tidak langsung, fraktur costa dapat terjadi apabila energi yang diterimanya melebihi batas tolerasi dari kelenturan costa tersebut.Seperti pada kasus kecelakaan dimana dada terhimpit dari depan dan belakang,maka akan terjadi fraktur pada sebelah depan dari angulus costa,dimana pada tempat tersebut merupakan bagian yang paling lemah.

Fraktur costa yang displace akan dapat mencederai jaringan sekitarnya atau bahkan organ dibawahnya.Fraktur pada costa ke 4-9 dapat mencederai a.intercostalis ,pleura visceralis,paru maupun jantung ,sehingga dapat mengakibatkan timbulnya hematotoraks,pneumotoraks ataupun laserasi jantung.

Diagnosis Diagnosis Fisik Inspeksi: adanya keidak simetrisan dada kanan kiri, pada fleil chest ada gerakan paradoxal. Palpasi: ditemukan nyeri tekan, adanya krepitasi akibat adanya udara dalam jaringan subkutan pada daerah dada yang sakit, kemudian tiap costae ditekan secara lembut. Pada kasus yang meragukan, dada ditekan secara lembut dengan kedua tangan pemeriksa yang masing-masing diletakkan di bagian anterior-posterior bagian yang sakit. Pada perkusi dan auskultasi, tentukan posisi trakhea dan jantung untuk melihat adanya pergeseran mediastinum Sebanyak 25% dari kasus fraktur costa tidak terdiagnosis, dan baru terdiagnosis setelah timbul komplikasi, seperti hematotoraks dan pneumotoraks. Diagnosis Penunjang Dengan melakukan foto x-ray thorax. Diagnosis Banding 1) Fraktur Sternum 2) Fraktur Vertebrae 3) Stress Fraktur 4) Osteoarthritis 5) Pneumotoraks 6) Cedera trakea dan bronkus.

Komplikasi Komplikasi Umum

Syok hipovolemia (karena perdarahan yang banyak), syok neurogenik (karena nyeri yang hebat), koagulopati diffus, gangguan fungsi pernafasan. Komplikasi ini dapat terjadi dalam waktu 24 jam pertama pasca trauma. Komplikasi Lokal Jika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut komplikasi dini, jika komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut. Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu : Infeksi, terutama pada kasus fraktur terbuka Osteomielitis yaitu infeksi yang berlanjut hingga tulang Delayed union yaitu penyambungan tulang yang lama Non union yaitu tidak terjadinya penyambungan pada tulang yang fraktur Artritis supuratif, yaitu kerusakan kartilago sendi Terganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut otot. FLEIL CHEST Fraktur costa multiple segmental sehingga ada segmen dinding dada yang mengambang (fleil) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada secara paradoksal. Jika dibawah dinding dada yang fraktur terjadi kerusakan paru-paru, maka akan menyebabkan hipoxia yang serius. Gerakan paradoksal yaitu segmen fraktur bergerak berlawanan arah dengan gerak pernafasan. Gerakan itu sendiri tidak menyebabkan hipoxia selain karena kontusio paru dan rasa nyeri sehingga penderita takut bernafas. Manifestasi klinik : mulanya penderita mampu mengadakan kompresi terhadap pengurangan cadangan respirasi. Namun, jika terdapat penimbunan sekret dan penurunan daya pengembangan paru akan terjadi anoksia berat, hiperkapnea, dan kolaps. Penanganan pada fleil chest terutama mencegah hipoksianya dengan pemberian O 2 10 12 L/m dan fiksasi dengan plester pada segmen fraktur dengan lingkaran dinding dada. Pemakaian WSD dan respirator bisa dilakukan bila ada indikasi jelas.

Tata Laksana Immobilisasi pada fraktur costae dengan plester lebar melewati lingkaran dada, tapi tidak boleh memperberat ventilasinya Pemasangan plester lebar pada saat penderita inspirasi maksimal. Plester dipasang pada region costae yang fraktur, dan pemakaian plester ini berlangsung selama 1-2 minggu. Pre Hospital : Pada tahap ini tindakan terhadap pasien terutama ditujukan untuk memperbaiki suplai oksigenasi (Resusitasi Jantung Paru). Penanganan pada saat di ruang UGD:Tindakan darurat terutama ditujukan untuk memperbaiki jalan nafas,pernafasan dan sirkulasinya (Airway, Breath dan circulation). Fraktur costa simple 1-2 buah terapi terutama ditujukan untuk menghilangkan nyeri dan memberikan kemudahan untuk pembuangan lendir/dahak, namun sebaiknya jangan diberikan obat mucolitik, yang dapat merangsang terbentuknya dahak dan malah menambah kesulitan dalam bernafas. Fraktur 3 buah

costa atau lebih dapat dilakukan tindakan blok saraf, namun pada tindakan ini dapat menimbulkan komplikasi berupa pneumotoraks dan hematotoraks, sedangkan fraktur costa lebih dari empat buah sebaiknya diberikan terapi dengan anastesi epidural dengan menggunakan morphin atau bupivacain 0,5%. Pada saat dijumpai flail chest atau gerakan paradoksal, segera dilakukan tindakan padding untuk menstabilkan dinding dada, bahkan kadang diperlukan ventilator untuk beberapa hari sampai didapatkan dinding dada yang stabil Penanganan di ruang rawat inap : Pada fraktur costa yang simple tanpa komplikasi dapat dirawat jalan, sedangkan pada pasien dengan fraktur multiple dan kominutif serta dicurigai adanya komplikasi perlu perawatan di RS. Pasien yang dirawat di RS perlu mendapatkan analgetik yang adekuat, bahkan kadang diperlukan narkotik dan yang juga penting untuk ini adalah pemberian latihan nafas (fisioterapi nafas). Fraktur costa dengan komplikasi kadang memerlukan terapi bedah, dapat dilakukan drainaseatau torakotomi, untuk itu evaluasi terhadap kemungkinan adanya komplikasi harus selaludilakukan secara berkala dengan melakukan foto kontrol pada 6 jam,12 jam dan 24 jam pertama.4.Penanganan di rawat jalan.Penderita rawat jalan juga tetap memprioritaskan pemberian analgetik yang adekuat untuk memudahkan gerakan pernafasan. Latihan nafas harus selalu dilakukan untuk

memungkinkan pembuangan dahak. Tanda utama adalah gerakan nafas asimetri, nyeri waktu nafas dan sesak nafas. Tindakan : 1.Pemasangan Plester Harus melewati garis tengah atau lingkaran dada (1-2 minggu). Kerugiannya dapatmenimbulkan pneumonitis dan kolaps paru 2.Blok anestesi interkostal 3.Anestesi lokal pada hematom sekitar patah tulang 4.Blok paravertebral

6. DEFINISI

CORPUS ALLEINUM OBSTRUKSI BENDA ASING DI SALURAN NAFAS

Benda asing yang kebanyakan berupa benda-benda kecil misalnya biji buah, benik dan sebagainya. Kebanyakan ditemukan pada anak-anak dan biasanya unilateral.

ETIOLOGI Factor Prediposisi 1. Usia yaitu pada anak-anak, dimana mereka sering memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut, gigi geligi yang belum lengkap dan refleks menelan yang belum sempurna. 2. 3. 4. Jenis kelamin, lebih sering pada laki-laki. Lingkungan dan kondisi sosial. Kegagalan mekanisme proteksi, misalnya penurunan kesadaran, keadaan umum buruk, penyakit serebrovaskuler, dan kelainan neurologik. 5. Faktor kecerobohan, misalnya kebiasaan menaruh benda di mulut, makan dan minum tergesa-gesa.

Faktor fisiologik dan sosiologik 1. Pertumbuhan gigi belum lengkap, belum terbentuk gigi molar, belum dapat menelan makanan padat secara baik, kemampuan anak membedakan makanan yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan belum sempurna. Benda tersangkut pada saat makan sambil tertawa, bicara menangis, dan berlari. 2. Pada orang tua, terutama yang mempunyai gangguan neurologis dan berkurangnya refleks menelan dapat disebabkan oleh pengaruh alkohol, stroke, parkinson, trauma, dementia juga mempunyai risiko yang besar untuk terjadinya aspirasi.

PATOGENESIS Benda asing yang tersangkut di trakea akan menyebabkan stridor, dapat ditemukan dengan auskultasi ( audible

stridor) dan palpasi di daerah leher (palpatory thud). Jika benda asing menyumbat total trakea akan timbul
sumbatan jalan napas akut yang memerlukan tindakan segera untuk membebaskan jalan napas. Gejala pada dewasa umumnya sama dengan gejala pada anak tetapi gejala paru termasuk edema paru banyak ditemukan. Kecurigaan adanya aspirasi benda asing muncul bila terdapat gejala batuk yang paroksisimal ( paroxysmal

coughing) yang timbul tiba-tiba, rasa tercekik (choking) pada waktu makan atau choking/coughing yang timbul
bila diketahui adanya objek yang kecil atau partikel makanan terutama kacang di dalam jangkauan si anak

MANIFESTASI KLINIS Gejala klinik yang timbul tergantung pada jenis benda asing, ukuran, sifat iritasinya terhadap mukosa, lokasi, lama benda asing di saluran napas, dan ada atau tidaknya komplikasi..

DIAGNOSA Persiapan ekstraksi benda asing harus dilakukan sebaik-baiknya dengan tenaga medis/operator, kesiapan alat yang lengkap. Besar dan bentuk benda asing harus diketahui dan mengusahakan duplikat benda asing serta cunam yang sesuai benda asing yang akan dikeluarkan. Benda asing yang tajam harus dilindungi dengan memasukkan benda tersebut ke dalam lumen bronkoskop. Bila benda asing tidak dapat masuk ke lumen alat maka benda asing kita tarik secara bersamaan dengan bronkoskop.

PENATALAKSANAAN Pemeriksaan fisik dan radiologi sering menunjukkan dugaan benda asing saluran napas tanpa diagnosis pasti. Pada keadaan ini harus dibuktikan adanya benda asing secara endoskopi untuk menyingkirkan dari diagnosis diferensial. Keterlambatan mengeluarkan benda asing akan menambah tingkat kesulitan

7. 8. 9. Pengertian

EMBOLI PARU PPT KELP. D ASPIRASI PNEUMONI PPT KELP. D CONTUSIO PARU

Kontusio paru adalah Memar jaringan paru akibat trauma tumpul (luka lambat) sehingga menyebabkan ventilasi tidak berfungsi baik yang berpotensi lethal chest injury.Jika terjadi hipoksia (Pa O) <65 mmHg, Sa O<90%) harus segera diberi bantuan ventilasi. Hal kritis yang mungkin terjadi : adanya darah dan buih dijalan napas dan mulut Sering menyebabkan gagal napas Pada pasien flail chest, luka yang berasosiasi dengan pulmonary contusion, sering dan jadi penyebab utama gagal napas. (current diagnosis & treatment 12th edition) Kontusi paru karena gegar parenkim mendadak terjadi setelah trauma tumpul/ luka dengan peluru kecepatan tinggi. Insidensi : terjadi di 75% pasien dengan flail chest namun dapat juga terjadi akibat trauma tumpul tanpa fraktur costae Tahap awal : alveolar ruptur dengan transudasi cairan dan ekstravasasi darah. Cairan dan alveolar yang ruptur masuk

ke ruang alveolar dan bronkhi yang menjadikan obstruksi jalan napas terlokalisasi serta adanya atelektasis. Memar paru akibat gegar otak tiba-tiba terjadi parenkim setelah trauma tumpul atau melukai dengan peluru kecepatan tinggi. Memar paru terjadi pada 75% pasien dengan flail chest tetapi juga dapat terjadi setelah trauma tumpul tanpa patah tulang rusuk. Pecah alveolar dengan transudasi cairan dan ekstravasasi darah ditemukan awal. Cairan dan darah dari alveoli pecah masuk ruang alveolar dan bronki dan menghasilkan obstruksi jalan napas dan atelektasis lokal.Sekresi lendir meningkat dan terapi cairan intravena mungkin bergabung untuk menghasilkan sekresi berlebihan dan atelektasis lebih lanjut. Kemampuan pasien untuk batuk dan sekresi jernih efektif melemah karena nyeri dada dinding atau inefisiensi mekanik dari patah tulang. Elastisitas paru-paru menurun, meningkatkan resistensi terhadap aliran udara, dan, sebagai akibat meningkat pernapasan, oksigenasi darah dan penurunan pH dan pCO2 naik. Respon kompensasi jantung mungkin dikompromikan, karena sebanyak 35% dari pasien ini memiliki memar miokard terkait. Pengobatan seringkali ditunda karena klinis dan x-ray temuan mungkin tidak muncul sampai 12-48 jam setelah cedera. Temuan klinis berlebihan tipis, darah-biruan sekret, nyeri dada, gelisah, apprehensiveness, dan respirasi bekerja. Akhirnya, dispnea, sianosis, takipnea, dan takikardia berkembang. X-ray perubahan terdiri dari kekeruhan parenkim merata atau menyebar kepadatan peribronchial linear yang dapat berlanjut untuk menyebar kekeruhan. Karakteristik untuk sindrom gangguan pernapasan akut. Bantuan ventilasi mekanik memungkinkan ventilasi alveolar yang memadai dan penggunaan campuran oksigen diperkaya dan dengan demikian mengurangi kerja pernapasan. Gas darah harus sering dipantau dan saturasi arteri memadai dipertahankan. Ada beberapa kontroversi atas rejimen terbaik untuk manajemen cairan, tetapi hidrasi yang berlebihan atau transfusi darah harus dihindari. Pengelolaan yang optimal mungkin memerlukan penempatan kateter arteri paru-paru, sebaiknya dengan ujung termistor untuk pengukuran output jantung terus menerus oleh thermodilution. Pengukuran Serial tekanan vena sentral, tekanan arteri paru, tekanan baji, saturasi oksigen vena campuran, dan output jantung membantu untuk menghindari baik di bawah maupun tranfusi berlebihan. Meskipun terapi yang optimal, sekitar 15% dari pasien dengan luka memar paru mati. Penggunaan pelindung strategi ventilator mekanik sangat penting pada pasien ini untuk menghindari ventilator disebabkan cedera paru-paru progresif. Laserasi paru kebanyakan disebabkan oleh luka tembus, dan hemopneumothorax. Thoracostomy tabung diindikasikan untuk mengevakuasi udara pleura atau darah dan untuk memantau kebocoran terus. Sejak perluasan paru-paru mentamponade laserasi, banyak luka paru-paru tidak menghasilkan perdarahan masif atau kebocoran udara persisten. Haruskah laserasi paru memerlukan intervensi

operasi, teknik lung-sparing harus digunakan jika memungkinkan, daripada reseksi paru resmi anatomi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas. Hematoma paru-paru adalah hasil dari kerusakan parenkim lokal dan perdarahan. Penampilan sinar-x pada awalnya kepadatan buruk didefinisikan yang menjadi lebih terbatas beberapa hari sampai 2 minggu setelah cedera.Rongga kistik kadang-kadang berkembang jika kerusakan yang luas.Kebanyakan hematoma cukup diselesaikan dengan terpai yang mengandung harapan. Etiologi Gejala Gejala yang muncul bergantung kecepatan akumulasi cairan perikardium. Bila terjadi secara lambat dapat memberi kesempatan mekanisme kompensasi seperti takikardi, peningkatan resistensi vascular perifer dan peningkatan volume intravaskular. Bila cepat, maka dalam beberapa menit bisa fatal. Tamponade jantung akut biasanya disertai gejala peningkatan tekanan vena jugularis, pulsus paradoksus >10mmHg, tekanan nadi <30mmHg, tekanan sistolik <100mmHg, dan bunyi jantung yang melemah. Sedangkan pada yang kronis ditemukan peningkatan tekanan vena jugularis, takikardi, dan pulsus paradoksus. Keluhan dan gejala yang mungkin ada yaitu adanya jejas trauma tajam dan tumpul di daerah dada atau yang diperkirakan menembus jantung, gelisah, pucat, keringat dingin, peninggian vena jugularis, pekak jantung melebar, suara jantung redup dan pulsus paradoksus. Trias classic beck berupa distensis vena leher, bunyi jantung melemah dan hipotensi didapat pada sepertiga penderita dengan tamponade. Manifestasi Klinis Dapat timbul / memburuk dalam 24-72 jam setelah trauma Dispnea Penurunan PO arteri Ronki Infiltrat pada foto thoraks Pada kondisi berat dapat disertai : sekret trakeobronkial yang banyak, hemoptisis, dan edema paru Trauma toraks Kecelakaan lalu lintas Terjadi terutama setelah trauma tumpul toraks Dapat pula terjadi pada trauma tajam dengan mekanisme perdarahan dan edema parenkim

10. TAMPONADE JANTUNG Pengertian Tamponade jantung merupakan kompresi akut pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium dari rupture jantung, trauma tembus atau efusi yang progresif. Etiologi Neoplasma Perikarditis perdarahan ke dalam ruang pericardial akibat trauma, operasi, atau infeksi

Infraksi miokardial akut Efusi (akibat kanker, infeksi bakteri tuberkolosis, bisa juga demam reumatik namun ini jarang ditemukan)

Hemoragi akibat nontraumatik (rupture jantung/ pembuluh darah besar, terapinanti koagulan pada pasien perikarditis), akibat traumatik (luka tembak, luka tusuk dada, preforasi pada saat keterisasi kardiak/ vena pusat, trauma tumpul, trauma tembus miokard)

Idiopatik Uremia Akibat trauma biasanya sering terjadi pada dewasa muda, sedangkan akibat keganasan/ gagal ginjal sering terjadi pada lansia.

Gejala Gejala yang muncul bergantung kecepatan akumulasi cairan pericardium. Apabila akumulasi cairan lambat masih member kesempatan mekanisme kompensasi seperti takikardi, peningkatan resistensi vaskuler perifer, dan peningkatan volume intravaskuler.

Apabila akumulasi cairan cepat dalam beberapa menit bisa fatal

Patofisiologi Bila seandainya terjadi ruptur pada ventrikel, maka darah akan merembes ke cavum pericardium. Semakin lama, darah yang tertampung pada cavum pericard akan semakin banyak. Secara anatomis, atrium memiliki struktur otot yang lebih tipis daripada bilik sehingga darah yang tertampung tadi akan dengan mudah mendesak atrium. Atrium terdesak, vena cava superior maupun inferior mengalami penghambatan atau obstruksi. Akhirnya timbullah Trias Beck, yaitu distensi vena, bunyi jantung melemah, dan hipotensi/tekanan arteri menurun.

Diagnosa Diagnosa tamponade jantung tidak mudah karena dibaurkan dengan tension pneumothorax,namun dapat didiagnosa dengan Trias Beck: Meningkatnya tekanan vena jugularis Penurunan tekanan arteri (tensi 80/70 mmHg beda systole dan diastole hanya 10) Nadi melemah

Penatalaksanaan Perikardiosntris atau pembedahan untuk membuat lubang Pembuatan jendela perikardial, dilakukan jikan pasien mengalami temponade, efusi atau adesi akibat perikarditis kronis Pengambilan perikardium pelindung yang menguat (untuk kasus yang lebih parah) Pemuatan volume percobaan dengan larutan garam normal I.V temporer dengan albumin (pasien yang mengalami hipotensi) Dapat diberikan obat inotropik misalnya : Dopamin untuk menjaga output kardiak

Transfusi darah atau torakotomi untuk mengalirkan cairan yang terakumulasi kembali atau memperbaiki tempat pendarahan (untuk cedera traumatik)

Diberi obat antagonis heparin protamin sulfat (pasien yang mengalami temponadee terpicu-heparin) Pemberian vitamin K (pasien yang mengalami terpicu-warfarin)

Terapi Pada tamponade jantung dengan evakuasi darah baik secara tertutup atau terbuka dengan torakotomi resusitasi. Pada torakotomi bisa dikerjakan : Evakuasi darah pericard. Kontrol langsung sumber perdarahan. Pijat jantung terbuka. Klem silang aorta descenden untuk mengurangi kehilangan darah dibawah diafragma dan meningkatkan perfusi otak.

11. FRAKTUR STERNUM PPT KELP. D 12. DEVORMITAS NASAL Gejala Keluhan yang paling sering pada deviasi septum ialah sumbatan hidung. Sumbatan bias unilateral maupun bilateral, sebab pada sisi deviasi terdapat hipotrofi concha, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi hipertrofi concha, sebagai akibat dari mekanisme kompensasi. Keluhan laninnya adalah rasa nyeri di kepala dan sekitar mata. Selainitu terdapayt deviasi pada bagian atas septum. Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusitis. Etiologi a. Trauma, merupakan penyebab paling sering. Trauma dapat terjadi setelah lahir, waktu partus (persalinan) atau bahkan pada masa janin intra uterin b. Ketidak-seimbangan Pertumbuhan. Terjadi ketika tulang rawan septum nasi terus tumbuh sementara batas superior dan batas inferiornya telah menetap sehingga mengakibatkan deviasi septum nasi

Bentuk Deformitas:
a. b. c. Deviasi, biasanya berbentuk huruf C atau S. Dislokasi, yaitu bagian bawah cartilage septum keluar dari crista maxilla dan masuk ke dalam rongga hidung. Penonjolan tulang rawan septum, bila memanjang dari depan ke belakang disebut Krista dan bila penonjolan tersebut runcing dan pipih disebut spina. d. Sinekia, bila deviasi atau krista septum bertemu dan melekat dengan konka yang ada di hadapannya.

Terapi Bila gejala tidak ada atau keluhan sangat ringan, tidak perlu dilakukan tindakan koreksi septum.Ada 2 jenis tindakan operatif yang dapat dilukan pada pasien dengan keluhan yang nyata yaitu reseksi submukosa dan septoplasti. Reseksi submukosa (submucous septum resection SMR)

Pada operasi ini mukoperikondrium pada mukoperiosteum kedua sisi dilepaskan dari tulang rawan dan tulang septum. Bagian tulang atau tulang atau tulang rawan dari septum kemudian diangkat, sehingga mukoperikondrium dan mukoperosteum sisi kiri dan kanan akan langsung bertemu di garis tengah. Septoplasti atau reposisi septum Pada operasi ini tulang rawan yang bengkok direposisi. Hanya bagian yang berlebihan saja yang dikeluarkan. Dengan cara ini dapat dicegah komplikasi yang mungkin timbul pada operasi reseksi submukosa, seperti terjadinya perforasi septum dan hidung pelana.

13. KELAINAN SEPTUM NASI DEFIASI SEPTUM NASI

Definisi
Deviasi septum nasi adalah kelainan bentuk septum nasi akibat trauma dan pertumbuhan tulang rawan yang tidak seimbang. Bentuk septum nasi yang normal adalah lurus dan berada di tengah rongga hidung kecuali septum nasi orang dewasa yang tidak lurus sempurna.

Etiologi
Trauma merupakan penyebab terbanyak deviasi septum nasi. Trauma bisa saja kita alami sesudah lahir, selama partus dan masa janin intrauterin. Ketidakseimbangan pertumbuhan tulang rawan septum nasi yang terus tumbuh dapat pula menyebabkan deviasi septum nasi dimana pada saat bersamaan batas atas dan batas bawah septum nasi telah menetap. Deviasi septum nasi yang ringan tidak menimbulkan gangguan. Gangguan dapat terjadi pada deviasi septum nasi yang cukup berat. Fungsi hidung akan terganggu dan lama-kelamaan bisa menyebabkan komplikasi.

Manifestasi
Gejala yang paling sering timbul dari deviasi septum ialah kesulitan bernapas melalui hidung. Kesulitan bernapas biasanya pada satu hidung, kadang juga pada hidung yang berlawanan. Pada beberapa kasus, deviasi septum juga dapat mengakibatkan drainase sekret sinus terhambat sehingga dapat menyebabkan sinusitis. Sumbatan hidung yang unilateral atau juga bilateral. Keluhan lain ialah rasa nyeri di kepala dan di sekitar mata. Selain itu, penciuman juga bisa terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum. Diagnosis Deviasi septum biasanya sudah dapat dilihat melalui inspeksi langsung pada batang hidungnya. Namun, diperlukan juga pemeriksaan radiologi untuk memastikan diagnosisnya. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior, dapat dilihat penonjolan septum ke arah deviasi jika terdapat deviasi berat, tapi pada deviasi ringan, hasil pemeriksaan bisa normal.

Penatalaksanaan
Analgesik : digunakan untuk mengurangi rasa sakit Dekongestan: digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung Pembedahan Septoplasti SMR (Sub-Mucous Resection)

14. SYOK HIPOVOLEMIK BAHAN GAA ADA

15. HEMATOMA SEPTUM ETIOLOGI Sebagai akibat trauma, pembuluh darah submukosa akan pecah dan darah akan berkumpul diantara perikondrium dan tulang rawan septum, dan membentuk hematoma pada septum. Bila terjadi fraktur tulang rawan, maka darah akan masuk kesisi lain, sehingga terbentuk hematoma septum bilateral. adanya kumpulan darah di subperikondrial akan mengancam vitalitas tulang rawan yang hidupnya tergantung dari nutrisi perikondrium.

GEJALA Gejala yang menonjol pada hematoma septum nasi adalah sumbatan hidung dan rasa nyeri. Pada pemerikaaan ditemukan pembengkakan unilateral atau bilateral pada septum bagian depan, berbentuk bulat, licin, dan berwarna merah. Pembengkakan dapat meluas sampai ke dinding lateral hidung sehingga menyebabkan obstruksi oral.

PENATALAKSANAAN Drainase yang segera dilakukan dapat mecegah terjadinya nekrosis tulang rawan. Dilakukan pungsi, dan kemudian dilanjutkan dengan insisi pada bagian hematoma yang paling menonjol. Bila tulang rawan masih utuh dilakukan insisi bilateral. Setelah insisi, dipasang tampon untuk menekan perikondrium kea rah tulang rawan di bawahnya. Antibiotika hharus diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

KOMPLIKASI Komplikasi hematoma septum yang mungkin terjadi ialah abses septum dan deformitas hidung bagian luar seperti

saddle nose atau bentuk hidung pelana.

16. ABSES SEPTUM GAA ADA BAHAN E. PEMERIKSAAN DIAGNOSE

Foto X-ray Thorax

Foto thorax atau sering disebut chest x-ray (CXR) adalah suatu proyeksi radiografi dari thorax untuk mendiagnosis kondisi-kondisi yang mempengaruhi thorax, isi dan struktur-struktur di dekatnya. Foto thorax menggunakan radiasi terionisasi dalam bentuk x-ray. Dosis radiasi yang digunakan pada orang dewasa untuk membentuk radiografi adalah sekitar 0.06 mSv. Foto thorax digunakan untuk mendiagnosis banyak kondisi yang melibatkan dinding thorax, tulang thorax dan struktur yang berada di dalam kavitas thorax termasuk paru-paru, jantung dan saluran-saluran yang besar. Pneumonia dan gagal jantung kongestif sering terdiagnosis oleh foto thorax. CXR sering digunakan untuk skrining penyakit paru yang terkait dengan pekerjaan di industri-industri seperti pertambangan dimana para pekerja terpapar oleh debu. Secara umum kegunaan Foto thorax/CXR adalah : untuk melihat abnormalitas congenital (jantung, vaskuler) untuk melihat adanya trauma (pneumothorax, haemothorax) untuk melihat adanya infeksi (umumnya tuberculosis/TB) untuk memeriksa keadaan jantung untuk memeriksa keadaan paru-paru Pada beberapa kondisi, CXR baik untuk skrining tetapi buruk untuk diagnosis. Pada saat adanya dugaan kelainan berdasarkan CXR, pemeriksaan imaging thorax tambahan dapat dilakukan untuk mendiagnosis kondisi secara pasti atau mendapatkan bukti-bukti yang mengarah pada diagnosis yang diperoleh dari CXR. Gambaran yang berbeda dari thorax dapat diperoleh dengan merubah orientasi relatif tubuh dan arah pancaran X-ray. Gambaran yang paling umum adalah posteroanterior (PA), anteroposterior (AP) dan lateral.

1. Posteroanterior (PA) Pada PA, sumber X-ray diposisikan sehingga X-ray masuk melalui posterior (back) dari thorax dan keluar dari anterior (front) dimana X-ray tersebut terdeteksi. Untuk mendapatkan gambaran ini, individu berdiri menghadap permukaan datar yang merupakan detektor X-ray. Sumber radiasi diposisikan di belakang pasien pada jarak yang standard, dan pancaran X-ray ditransmisikan ke pasien.

2. Anteroposterior (AP) Pada AP posisi sumber X-ray dan detector berkebalikan dengan PA. AP chest X-ray lebih sulit diinterpretasi dibandingkan dengan PA dan oleh karena itu digunakan pada situasi dimana sulit untuk pasien mendapatkan normal chest x-ray seperti pada pasien yang tidak bisa bangun dari tempat tidur. Pada situasi seperti ini, mobile X-ray digunakan untuk mendapatkan CXR berbaring (supine film). Sebagai hasilnya kebanyakan supine film adalah juga AP. 3. Lateral Gambaran lateral didapatkan dengan cara yang sama dengan PA namun pada lateral pasien berdiri dengan kedua lengan naik dan sisi kiri dari thorax ditekan ke permukaan datar (flat).

Abnormalitas atau kelainan gambaran yang biasa terlihat dari CXR adalah : 1. Nodule (daerah buram yang khas pada paru) Biasanya disebabkan oleh neoplasma benign/malignan, granuloma (tuberculosis), infeksi (pneumoniae), vascular infarct, varix, wegeners granulomatosis, rheumatoid arthritis. Kecepatan pertumbuhan, kalsifikasi, bentuk dan tempat nodul bisa membantu dalam diagnosis. Nodul juga dapat multiple. 2. Kavitas Yaitu struktur lubang berdinding di dalam paru. Biasanya disebabkan oleh kanker, emboli paru, infeksi Staphyllococcus. aureus, tuberculosis, Klebsiella pneumoniae, bakteri anaerob dan jamur, dan wegeners granulomatosis. 3. Abnormalitas pleura. Pleural adalah cairan yang berada diantara paru dan dinding thorax. Efusi pleura dapat terjadi pada kanker, sarcoid, connective tissue diseases dan lymphangioleiomyomatosis.

Walaupun CXR ini merupakan metode yang murah dan relatif aman namun ada beberapa kondisi thorax yang serius yang mungkin memberikan hasil CXR normal misalnya pada pasien infark miokard akut yang dapat memberikan gambaran CXR yang normal.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK WATERS

Proyeksi water's

Ukuran Kaset :18 x 24 cm memanjang FFD : 90 cm CR : Horizontal tegak lurus pada bidang film ( Untuk pasien errect ) Vertikal tegak lurus pada bidang film ( Untuk pasien supine ) CP : Tepat pada parieto occipital menembus acanthion

Posisi Pasien : - Pasien diminta untuk berdiri menghadap bucky stand atau posisi kepala nya PA dengan MSP tubuh tepat pada mid line kaset - Kedua telapak tengan menempel pada dinding - Posisikan kepala dan dagu sehingga MSP tegak lurus pada bidang film - Ekstensikan kepala pada posisi yang benar - Atur kepala sehingga Orbito meatal line (OML) membentuk sudut 37 derajat dari bidang film - Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil - Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan - Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal

- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan sinus paranasal proyeksi waters

Kriteria Gambar : - Tampak sinus frontalis dan sinus ethmoidalis (distorsi) - Jarak batas lateral orbita dengan batas lateral kepala kiri dan kanan sama atau simetris - Petrus ridge terproyeksi dibawa maxilaris - Kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan objek yang diperiksa - Tampak sinus maxillaris dan fossa nasalis - Tergambar marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan

PEMERIKSAAN CT SCAN

CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperjelas adanya dugaan yang kuat antara suatu kelainan, yaitu : a. b. c. d. e. f. Gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses. Perubahan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark. Brain contusion. Brain atrofi. Hydrocephalus. Inflamasi.

Berat badan klien merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan. Berat badan klien yang dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan adalah klien dengan berat badan dibawah 145 kg. Hal ini dipertimbangkan dengan tingkat kekuatan scanner. Sebelum dilakukan pemeriksaan CT scan pada klien, harus dilakukan test apakah klien mempunyai kesanggupan untuk diam tanpa mengadakan perubahan selama 20-25 menit, karena hal ini berhubungan dengan lamanya pemeriksaan yang dibutuhkan. Dokter harus dilakukan pengkajian terhadap klien sebelum dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah klien bebas dari alergi iodine, sebab pada klien yang akan dilakukan pemeriksaan CT Scan disuntik dengan zat kontras berupa iodine based kontras material sebanyak 30 ml. Bila klien ada riwayat alergi atau dalam pemeriksaan ditemukan adanya alergi maka pemberian zat kontras iodine harus distop pemberiannya. Karena eliminasi zat kontras sudah harus terjadi dalam 24 jam. Maka ginjal klien harus dalam keadaan normal.

CT scan digunakan untuk : Menilai kondisi pembuluh darah misalnya pada penyakit jantung koroner, emboli paru, aneurisma (pembesaran pembuluh darah) aorta dan berbagai kelainan pembuluh darah lainnya. Menilai tumor atau kanker misalnya metastase (penyebaran kanker), letak kanker, dan jenis kanker. Kasus trauma/cidera misalnya trauma kepala, trauma tulang belakang dan trauma lainnya pada kecelakaan. Biasanya harus dilakukan bila timbul penurunan kesadaran, muntah, pingsan ,atau timbulnya gejala gangguan saraf lainnya. Menilai organ dalam, misalnya pada stroke, gangguan organ pencernaan dll. Membantu proses biopsy jaringan atau proses drainase/pengeluaran cairan yang menumpuk di tubuh. Disini CT scan berperan sebagai mata dokter untuk melihat lokasi yang tepat untuk melakukan tindakan. Alat bantu pemeriksaan bila hasil yang dicapai dengan pemeriksaan radiologi lainnya kurang memuaskan atau ada kondisi yang tidak memungkinkan anda melakukan pemeriksaan selain CT scan. Menemukan patologi otak dan medulla spinalis dengan teknik scanning/pemeriksaan tanpa radioisotope

Prinsip Kerja Film yang menerima proyeksi sinar diganti dengan alat detektor yang dapat mencatat semua sinar secara berdispensiasi. Pencatatan dilakukan dengan mengkombinasikan tiga pesawat detektor, dua diantaranya menerima sinar yang telah menembus tubuh dan yang satu berfungsi sebagai detektor aferen yang mengukur intensitas sinar rontgen yang telah menembus tubuh dan penyinaran dilakukan menurut proteksi dari tiga tititk, menurut posisi jam 12, 10 dan jam 02 dengan memakai waktu 4,5 menit. Persiapan Pasien Pasien dan keluarga sebaiknya diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan. Pasien diberi gambaran tentang alat yang akan digunakan. Bila perlu dengan menggunakan kaset video atau poster, hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengertian kepada pasien dengan demikian menguragi stress sebelum waktu prosedur dilakukan. Test awal yang dilakukan meliputi : Kekuatan untuk diam ditempat (dimeja scanner) selama 45 menit. Melakukan pernapasan dengan aba aba ( untuk keperluan bila ada permintaan untuk melakukannya ) saat dilakukan pemeriksaan. Mengikuti aturan untuk memudahkan injeksi zat kontras. Penjelasan kepada klien bahwa setelah melakukan injeksi zat kontaras maka wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh badan, dan hal ini merupakan hal yang normal dari reaksi obat tersebut. Perhatikan keadaan klinis klien apakah pasien mengalami alergi terhadap iodine. Apabila pasien merasakan adanya rasa sakit berikan analgetik dan bila pasien merasa cemas dapat diberikan minor tranguilizer. Bersihkan rambut pasien dari jelly atau obat-obatan. Rambut tidak boleh dikepang dan tidak boleh memakai wig. Prosedur a. b. c. Posisi terlentang dengan tangan terkendali. Meja elektronik masuk ke dalam alat scanner. Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.

d. e. f. g.

Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit. Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer. Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan memakai protektif lead approan. Sesudah pengambilan gambar pasien dirapihkan.

Kelebihan CT scan Gambar yang dihasilkan memiliki resolusi yang baik dan akurat. Tidak invasive (tindakan non-bedah). Waktu perekaman cepat.

Gambar yang direkontruksi dapat dimanipulasi dengan komputer sehingga dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Kekurangan CT scan Paparan radiasi akibat sinar X yang digunakan yaitu sekitar 4% dari radiasi sinar X saat melakukan foto rontgen. Jadi ibu hamil wajib memberitahu kondisi kehamilannya sebelum pemeriksaan dilakukan. Munculnya artefak (gambaran yang seharusnya tidak ada tapi terekam). Hal ini biasanya timbul karena pasien bergerak selama perekaman, pasien menggunakan tambalan gigi amalgam atau sendi palsu dari logam, atau kondisi jaringan tubuh tertentu. Reaksi alergi pada zat kontras yang digunakan untuk membantu tampilan gambar. Hal-hal yang perlu diperhatikan Observasi keadaan alergiterhadap zat kontras yang disuntikan. Bila terjadi alergi dapat diberikan deladryl 50 mg. Mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin kelelahan selama prosedur berlangsung. Ukur Intake dan out put. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat kontras yang eliminasinya selama 24 jam. Oligouri merupakan gejala gangguan fungsi ginjal, memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter. Aplikasi pada Klinis Pada cranial Diagnosa dari cerebrovascular accidents dan intracranial hemorrhage Mendeteksi tumor Mendeteksi peningkatan intracranial pressure sebelum dilakukan lumbar puncture atau evaluas fungs ventriculoperitoneal shunt. Evaluasi fraktur wajah atau kranial Pada kepala/leher/wajah/mulut CT scanning digunakan pada rencana operasi bagi deformitas kraniofasial dan dentofasial serta evaluasi tumor sinus, nasal, orbital, dan rencana rekonstruksi implant dental.

Pada dada Mendeteksi perubahan akut ataupun kronik parenklim paru Evaluasi proses intrestitial kronik (emfisema,fibrosis) Evaluasi mediatinum dan limfadenopat menggunakan kontrast per IV Metode pemeriksaan utama pada embol paru,dan disecsi aorta menggunakan kontras IV

Pada abdomen dan pelvik Diagnosa pada batu ginjal,apendisitis, pankreatitis, diverkulitis,anerisma aorta abdomen,obstruksi usus Pilihan pertama mendeteksi trauma menelan benda solid CT scan bukan pilhan utama pada pelvik, pilhan pertama adalah ultrasonografi

Pada Ekstremitas Digunakan pada fraktur kompleks

F.

PEMERIKSAAN PENUNJANG GAA ADA BAHAN