Anda di halaman 1dari 5

EKSPERIMEN I B KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PADA SKRINING OBAT TERLARANG (DRUG ABUSE) A. TUJUAN 1.

Untuk memahami dan terampil di dalam teknik KLT dalam uji skrining obat 2. Mengetahui komponen-komponen yang terdapat dalam obat 3. Melakukan skrinining obat-obatan terlarang dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) B. DASAR TEORI Dalam analisis dalam berbagai kandungan kimia, cara pertama yaitu campuran harus dipisahkan. Banyak cara untuk memisahkan senyawa dalam suatu campuran, salah satu diantaranya yang paling sering dan mudah diguunakan yaitu kromatografi. Proses kromatografi melibatkan 2 fase yaitu fase gerak dan fase diam. Fase gerak dapat berupa gas atau cairan sedangkan fase diam dapat berupa celah-celah atau bentuk granul padat atau berupa lapisan cairan encer yang diserap oleh sebuah padatan . Kromatografi pertama kali dikembangkan oleh seorang ahli botani Rusia, Michael Rswett pada tahun 1903 untuk memisahkan pigmen berwarna dalam tanaman dengan cara perlokasi ekstrak petroleum eter dalam kolom gelasyang berisi kalsium karbonat (CaCO3). Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan yang menggunakan 2 fase yaitu gerak dan diam serta mengkuantifikasi macam-macam komponen dalam suatu campuran yang kompleks, baik komponen organik mauapun anorganik. Kromatografi dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme pemisahannya misalnya kromatografi adsorpsi, afinitas, penukar ion, dsb. Kromatografi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan alat yang digunakan seperti Kromatografi Kertas (KK), Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dan Kromatografi Gas (GC). Dalam kromatografi juga dikenal istilah kromatografi jenis planar dan kolom. Kromatografi planar menggunakan fase diam berupa lempeng tipis yang umumnya terbuat dari kaca, lempeng alumunium dan sebagainya. Yang termasuk kromatografi planar yaitu kromatografi kertas (KK) dan kromatografi lapis tipis (KLT).

Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Demikiann juga peralatan yang digunakan. Dalam kromatografi lapis tipis, peralatan yang digunakan lebih sederhana dan hampir semua laboratorium melaksanakan metode ini. Kromatografi lapis tipis (KLT) fase diamnya berupa lapisan seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat alumunium, atau pelat plastik . Fase diam pada KLT merupakan penjerap berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 m. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam, semakin baik kinerja KLT dalam hal efisien dan resolusinya. Penjerap yang paling sering digunakan adalah silica dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi yang utama adalah pada KLT yaitu adsorpsi dan partisi. Untuk tujuan tertentu, pejerap atau fase diam dapat dimodifikasi dengan cara pembaceman . Fase gerak dari pustaka dapat ditentukan dengan uji pustaka atau dengan dicoba-coba karena pengerjaan KLT ini cukup cepat dan mudah. Sistem yang paling sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran ini dapat diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi dengan optimal. Dalam pembuatan dan pemilihan fase gerak yang harus diperhatikan yaitu kemurnian dari eluen itu sendiri karena KLT merupak teknik yang sensitif; daya elusi dari pelarut itu juga harus diatur sedemikian rupa agar harga Rf berkisar antara 0,2-0,8 yang menandakan pemisahan yang baik; polaritas dari pelarut juga harus diperhatikan agar pemisahan terjadi dengan sempurna. Ada 2 cara yang digunakan untuk menganalisis secara kuantitatif dengan KLT. Pertama, bercak yang terbentuk diukur langsung pada lempeng dengan menggunakan ukur luas atau dengan teknik densitometri. Cara kedua yaitu dengan mengorek bercak lalu menetapkan kadar senyawa yang terdapat dalam bercak tersebut dengan menimbang hasil korekan. Identifikasi secara kulitatif pada kromatografi kertas khususnya kromatografi lapis tipis dapat ditentukan dengan menghitung nilai Rf. Nilai Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa. Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal .

C. Materi dan Metode i. Materi (Alat dan Bahan) 1. Alat-alat : ii. Plat KLT/TLC Bejana kromatografi Gelas ukur Pipet mikro Lampu UV Gelas beaker

2. Bahan-bahan: Senyawa standar (diazepam, fenobarbital, dll) Akuades Etanol Methanol Aseton Etil asetat Kloroform Sampel

Prosedur Kerja Senyawa standar dan sampel obat dilarutkan dalam etanol dengan konsentrasi 15%. Selanjutnya, pelarut pengembang yang terdiri atas toluena : aseton : amonia dengan perbandingan 45 : 45 : 10 dijenuhkan dalam bejana kromatografi.

Selanjutnya plat KLT disiapkan dengan menandai titik penotolan menggunakan pensil 1 cm dari tepi bawah dan dari tepi atas juga 1 cm. Sampel yang ada ditotolkan dengan menggunakan pipet mikro sebanyak 1-5 L dan setiap penotolan diberi nomor. Setelah itu, plat KLT diletakkan dalam bejana dengan posisi vertikal. Jika fase gerak telah sampai pada tanda batas atas, plat KLT dikeluarkan dan dikeringkan di udara. Noda yang terbentuk dideteksi dengan lampu UV pada 254 nm dan ditandai dengan pensil. Harga Rf untuk sampel dihitung.

iii.

Skema Kerja
Plat KLT GF254 Ditandai titik penotolan 1 cm dari tepi bawah dan atas Plat KLT siap pakai Standar dan sampel ditotolkan dg pipet mikro 1-5L Plat KLT berisi standar dan sampel i) Plat KLT diletakkan vertikal dlm chamber yg telah jenuh ii) Standar dan sampel dielusi hingga batas atas Plat KLT i) Plat KLT dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan ii) Noda dideteksi dg lampu UV 254 iii) Harga Rf dari standar dan sampel dihitung Kromatogram

Hasil pengamatan percobaan Kromatografi Lapis Tipis