Anda di halaman 1dari 44

JENIS-JENIS dan RANCANGAN PENELITIAN

1. PENELITIAN TINDAKAN KELAS Menurut Kemmis dan McTaggart (1982) mengemukakan bahwa PTK adalah cara suatu kelompok atau seseorang dalam mengorganisasi sebuah kondisi dimana mereka dapat mempelajari pengalaman mereka dan membuat pengalaman mereka dapat diakses oleh orang lain. Senada dengan pendapat di atas, Raka Joni, dkk (1998) mengartikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan. Jadi, Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan salah satu jenis penelitian tindakan yang dilaksanakan oleh praktisi pendidikan (khususnya guru, dosen, atau instruktur) dalam proses pembelajaran di kelas. Fraenkel, dkk (2012:596) menyebutkan sekurang-kurangnya lima manfaat penelitian tindakan kelas, yaitu: 1. PTK dapat dilakukan oleh hampir semua ahli di semua tipe sekolah, semua level, guru kelas baik secara individu maupun berkelompok, ataupun pimpinan sekolah. 2. PTK dapat memperbaiki praktik pendidikan; membantu praktisi pendidikan (guru, pimpinan sekolah) dalam meningkatkan kompetensi terhadap apa yang mereka lakukan. 3. PTK memberi ruang kepada guru atau praktisi lain untuk mengadakan penelitian mereka sendiri sehingga dapat mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk mempraktikkan keahlian-keahlian mereka sendiri. 4. PTK membantu guru mengidentifkasi masalah-masalah dan isu-isu secara sistematis. 5. PTK dapat membangun sebuah komunitas yang berorientasi penelitian ilmiah di dalam sekolah itu sendiri Ada empat jenis PTK, yaitu: (1) PTK diasnogtik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan (4) PTK eksperimental (Chein, 1990). Untuk lebih jelas, berikut dikemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut. 1. PTK Diagnostik; yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosia dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan,

pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas. 2. PTK Partisipan; suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh pada butir a di atas. Hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian. 3. PTK Empiris; yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari. 4. PTK Eksperimental; yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran. Penelitian tindakan (termasuk PTK) dilakukan dalam suatu siklus (putaran) tertentu. Setiap siklus terdiri dari sejumlah langkah yang harus dikerjakan peneliti. Ada beberapa model rancangan yang dikemukakan para pakar. Pada kesempatan ini dikemukakan tiga model di antaranya, yaitu (1) model Kurt Lewin, (2) model Kemmis & Taggart, dan (3) model John Elliot. 1. Rancangan Penelitian Tindakan model Kurt Lewin Rancangan model Kurt Lewin merupakan model dasar yang kemudian dikembangkan oleh ahli-ahli lain. Penelitian tindakan, menurut Kurt Lewin, terdiri dari empat komponen kegiatan yang dipandang sebagai satu siklus, yaitu:

perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Digambarkan dalam sebuah bagan, model ini tampak sebagai berikut.
ACTING

PLANNING

OBSERVING

REFLECTING

Gambar 1. Rancangan Penelitian Tindakan Model Kurt Lewin Pada awalnya proses penelitian dimulai dari perencanaan, namun karena ke empat komponen tersebut berfungsi dalam suatu kegiatan yang berupa siklus, maka untuk selanjutnya masing-masing berperan secara berkesinambungan. 2. Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis & McTaggart Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan yang prinsip antara keduanya. Model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulangulang, sampai tujuan penelitian tercapai. Dituangkan dalam bentuk gambar,

rancangan Kemmis & McTaggart akan tampak sebagai berikut:

P REFLECT L 3 2 A N 1 ACT & OBSERVE R P 6 5 E L V A I N ACT & OBSERVE S 4 E D

REFLECT

REFLECT 9 8 ACT & OBSERVE 7

R P E L V A I N S E D

Gambar 2. Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis & Taggart Langkah pertama pada setiap siklus adalah penyusunan rencana tindakan. Tahapan berikutnya pelaksanaan dan sekaligus pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi siklus pertama menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan belum memberikan

hasil sebagaimana diharapkan, maka berikutnya disusun lagi rencana untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Demikian seterusnya sampai hasil yang dinginkan benar-benar tercapai. 3. Rancangan Penelitian Tindakan Model John Elliott Seperti halnya model Kemmis & McTaggart, model John Elliott juga merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Lewin. Elliott mencoba menggambarkan secara lebih rinci langkah demi langkah yang harus dilakukan peneliti. Ide dasarnya sama, dimulai dari penemuan masalah kemudian dirancang tindakan tertentu yang dianggap mampu memecahkan masalah tersebut, kemudian diimplementasikan, dimonitor, dan selanjutnya dilakukan tindakan berikutnya jika dianggap perlu. Berikut ini adalah bagan model PTK versi John Elliott.
SIKLUS

Ide Awal

Temuan fakta dan Analisis

Perencanaan Umum langkah Tindakan 1,2,3

Implementasi langkah Tindakan

Monitoring Implementasi dan efeknya Penjelasan Kegagalan tentang Implementasi Revisi Perencanaan Umum

Perbaikan Perencanaan Langkah Tindakan 1,2,3

Monitoring Implementasi dan efeknya II

Implementasi Langkah Berikutnya

Penjelasan Kegagalan dan efeknya

Revisi Ide Umum

Perbaikan Perencanaan Langkah 1,2,3

Monitoring Implementasi dan Efek III Penjelasan kegagalan pelak. & efeknya

Implementasi Langkah Berikutnya

Gambar 3. Rancangan Penelitian Tindakan Model John Elliot (versi revisi model Lewin) Langkah-Langkah Penelitian Tindakan Kelas Secara garis besar dari beberapa model PTK yang telah dijelaskan di atas, terdapat 4 tahapan yang biasa dilalui pada PTK yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan dan (4) refleksi. Adapun perincian dari tiap tahap adalah sebagai berikut: 1) Perencanaan

Pada tahap perencanaan, peneliti menentukan fokus permasalahan yang akan diteliti, kemudian membuat perangkat pembelajaran serta instrumen pengamatan untuk menjaring data dan fakta yang terjadi pada waktu proses tindakan berlangsung. Secara rinci tahap perencanaan adalah sebagai berikut: - Mengidentifikasi dan menganalisis masalah. Masalah tersebut harus diangkat dari permasalah di lapangan, masalahnya harus penting dan bermanfaat bagi peningkatan mutu hasil pembelajaran. - Menetapkan alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan, yang akan menjadi latar belakang PTK Merumuskan masalah secara jelas, berupa kalimat pertanyaan. - Menentukan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah dan memilih tindakan yang paling tepat. - Membuat intrumen pengumpul data dan menentukan indikator keberhasilan tindakan. 2) Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan, strategi dan rencana pembelajaran yang telah disiapkan pada tahap perencanaan, dilaksanakan. Pada tahap ini guru harus ingat dan mentaati apa yang dirumuskan dalam rencana pembelajaran, berlaku wajar dan tidak dibuat-buat. 3)Pengamatan Pada tahap ini dilakukan pengamatan dan pencatatan semua hal yang diperlukan dan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data dilakukan dengan bantuan format observasi yang telah dipersiapkan, termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, kuis, prentasi, nilai tugas dll) atau data kualitatif (keaktifan siswa, antusiasme siswa, mutu diskusi yang dilakukan, kreatifitas siswa dll). 4) Refleksi Tahap refleksi dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.

2. PENELITIAN EKSPERIMEN Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan

perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan. Penelitian eksperimen merupakan suatu penelitian yang menjawab pertanyaan jika kita melakukan sesuatu pada kondisi yang dikontrol secara ketat maka apakah yang akan terjadi?. Untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak pada suatu keadaan yang di control secara ketat maka kita memerlukan perlakuan (treatment) pada kondisi tersebut dan hal inilah yang dilakukan pada penelitian eksperimen. Sehingga penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiono : 2010). Secara umum di dalam pembicaraan penelitian dikenal adanya dua penelitian eksperimen yaitu: eksperimen betul (true experiment) dan eksperimen tidak betul-betul tetapi hanya mirip eksperimen. Itulah sebabnya maka penelitian yang kedua ini dikenal sebagai penelitian pura-pura atau quasi experiment. Contohnya dalam bidang fisika penelitian-penelitian dapat menggunakan desain eksperimen karna variabel-variabel dapat di pilih dan variable lain dapat mempengaruhi proses eksperimen dan dapat dikontrol secara tepat, adapun cotohnya dalam bidang fisika mencari pengaruh panas terhadap muai panjang suatu benda. Dalam hal ini variasi panas dan muai panjang dapat di ukur secara teliti, dan penelitian dilakukan dilaboratorium, sehingga pengaruh-pengaruh variable lain dari luar dapat di control. Sedangkan dalam penelitian social khususnya pendidikan, desain eksperimen yang digunakan untuk penelitian akan sulit mendapatkan hasil yang akurat, karna banyak variable luar yang berpengaruh dan sulit mengontrolnya adapun contohnya mencari pengaruh metode kontekstual terhadap kecepatan pemahaman murid dalam pelajaran matematika. Bentuk Penelitian Eksperimental 1. Pre-experimental Pada pre-experimental ini sumber-sumber yang mempengaruhi validitas internal sulit dikontrol, sehingga hasil penelitian bukan bentuk-bentuk dari pengaruh variabel yang dipilih oleh peneliti. Bentuk pre-experimental ada beberapa macam yaitu : a. One Shot Case Study Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut, X O : X= treatment yang diberikan/variabel independen yang merupakan sebab

Dimana

O= Misal : X= O=

Observasi/variabel dependen yang merupakan akibat training pada karyawan prestasi kerja

b. One-Group Pretest-Post test Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut, O1 Dimana X O2 : O1 , O2 , diadakan pre test sebelum diberi treatment diukur dengan post test setelah ditreatment

X = Treatment Misal : O1= prestasi kerja karyawan sebelum diberi training, dites terlebih dahulu O2= prestasi kerja karyawan setelah diberi training, kemudian ditest X= Training

Pengaruh treatment adalah O2 - O1, hasil O2 dan O1 diperbandingkan apakah terjadi perbedaan statistik yang signifikan. c. Intact Group Comparison Desain ini dapat digambarkan seperti berikut, X O1 O2 O2 = hasil pengukuran kelompok yang tidak diberi treatmen X = Misal Treatmen

Dimana : O1 = hasil pengukuran kelompok yang ditreatmen

: O1 = adalah prestasi kerja karyawan setelah diberi training O2 = adalah prestasi kerja karyawan tanpa diberi treatmen

Pengaruh treatmen adalah O1 O2 , O1 dan O2 diperbandingkan apakah terjadi perbedaan statistik yang signifikan.

2. True Experimental Dikatakan true experimental (eksperimental yang betul-betul) karena dengan desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi eksperimen. Dengan demikian validitas internal penelitian menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah, sample dipilih secara random dan ada kelompok kontrol. Bentuk-bentuk true experimental adalah:

a. Post test - Only Control Design


Desain tersebut dapat digambarkan seperti berikut : R R X O1 O2 X =treatmen O1= kelompok satu diberi treatmen O2= kelompok dua tanpa diberi treatmen Pengaruh adanya treatmen adalah O1 O2 . Ada dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random. Kelompok satu diberi treatmen dan disebut sebagai kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kedua tidak diberi treatmen kelompok ini disebut sebagai kelompok kontrol. Setelah kelompok eksperimen diberi treatmen, kelompok tersebut di tes, demikian juga dengan kelompok kontrol. Hasil ke dua kelompok itu diperbandingkan apakah ada perbedaan statistik yang signifikan.

Dimana : R = Random

b. Pre test Control Group Design


Desain tersebut dapat digambarkan seperti berikut : R R O1 O3 X O4 O2 O2 R = Random O1 dan O2 = dua kelompok yang dipilih secara random kemudian diberi pre tes

Dimana :

(kelompok eksperimen) X = treatmen O3 dan O4 = dua kelompok yang dipilih secara random, sebagai kelompok kontrol. Dalam bentuk ini, dua kelompok yang telah dipilih secara random diberi pre tes. Kelompok eksperimen kemudian diberi treatmen, sementara kelompok yang tidak diberi treatmen sebagai kelompok kontrol. Setelah itu hasil dari kelompok eksperimen dan dari kelompok kontrol diperbandingkan apakah ada perbedaan secara statistik yang signifikan. Hasil pre tes yang baik bila ada kesamaan karakteristik antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. 3. Factorial Design Desain factorial merupakan modifikasi dari desain true experimental, yaitu dengan memperhatikan kemungkinan ada variabel moderator yang mempengaruhi

treatmen (variabel independen)terhadap hasil (variabel dependen). Desain tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : R R R R O1 O3 O5 O7 X Y1 X Y1 O4 Y2 Y2 O6 O8 O2

Variabel moderator adalah Y1 dan Y2 Pada desain ini semua kelompok dipilih secara random, ada 4 kelompok yang dipilih. Kelompok yang diberi treatmen adalah : Kelompok laki-laki ( O1 ) dan kelompok perempuan ( O5 ). Kelompok yang tidak diberi treatmen adalah : kelompok laki-laki ( O3 ) dan kelompok perempuan ( O7 ) Sebelumnya semua kelompok diberi pre test. Harapannya semua kelompok mempunyai hasil tes yang sama. Namun apabila ada perbedaan, maka perbedaan inilah yang akan diteliti. Contoh :

Suatu penelitian untuk mengetahui perubahan penampilan luar (kemasan) suatu

produk terhadap pemilihan produk. Untuk itu dipilih empat kelompok secara random. Variabel moderatornya adalah jenis kelamin, yaitu laki-laki (Y1) dan perempuan (Y2). Treatmen yang berupa pengenalan kemasan baru diberikan pada kelompok eksperimen laki-laki (O1) dan disuruh memilih produk baru tersebut. Treatmen (pengenalan kemasan baru) juga diberikan pada kelompok eksperimen perempuan (O5) dan juga disuruh memilih produk baru tersebut. Pengaruh treatmen untuk kelompok laki-laki adalah : ( O2 - O1 ) ( O4 - O3 ) Pengaruh treatmen untuk kelompok perempuan adalah : ( O6 O5 ) ( O8 O7 ) Apabila terdapat perbedaan pengaruh kemasan baru terhadap pemilihan produk baru antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan, maka penyebab utamanya adalah bukan karena treatmen yang diberikan (karena treatmen yang diberikan sama) tetapi karena adanya akibat yang ditimbulkan oleh variabel moderator ( misal selera : selera lakilaki- berbeda dengan selera perempuan dan lain sebaganya). 4. Quasi Eksperimental Desain ini termasuk bentuk true ekxperimental. Desain ini mempunyai kelompok nkontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya. Untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi eksperimen. Bentuk-bentuk quasi eksperimental adalah : a. Time Series Desaign = Desain serial waktu Desain serial waktu melakukan pengukuran berulang-ulang, sebelum dan sesudah eksperimen. Bentuk dari desain tersebut adalah : O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8 Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dipilih secara random. Hanya ada satu kelompok saja dalam desain ini. Sebelum diberi treatmen kelompok diberi pre tes sampai empat kali. Dengan empat kali tes keadaan keadaan kelompok dapat diketahui. Setelah itu kelompok diberi treatmen. Setelah diberi treatmen kelompok diberi post tet sampai empat kali juga. Besarnya pengaruh treatmen adalah :

( O5 + O6 + O7 + O8 ) ( O1 + O2 + O3 + O4 ) b. Nonequivalent Control Group Design Desain ini hampir sama dengan desain sebelumnya. Pada desain ini kelompokkelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Bentuk desainnya sebagai berikut : O1 X O2 O3 O4

Misal penelitian produktivitas kerja karyawan sebuah perusahaan, yang mempunyai karakteristik yang hampir sama (misal karyawan bagian administrasi). Kelompok karyawan tersebut dibagi menjadi. Kelompok pertama diberi pre tes (O1 ) kemudian diberi tretmen (misal diberi training) setelah itu diberi post test (O2 ). Kelompok ke dua diberi pre test (O3 ) dalam hal ini kelompok kedua ini tidak diberi treatmen, detelah itu diberi post test (O4 ). Pengaruh treatmen terhadap produktivitas kerja adalah : (O2 O1) (O4 O3 )

3. PENELITIAN PENGEMBANGAN Penelitian pengembangan merupakan penelitian yang bertujuan menghasilkan dan mengembangkan produk berupa prototipe, desain, materi pembelajaran, media, strategi pembelajaran, alat evaluasi pendidikan,dsb. Penelitian untuk memecahkan masalah praktis dalam dunia pendidikan, masalah di kelas, yang dihadapi dosen/guru dalam pembelajaran. Penelitian bukan untuk menguji teori, menguji hipotesis, namun menguji dan menyempurnakan produk (Soenarto, 2008). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Untuk dapat menghasilkan produk tertentu, digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian pengembangan pendidikan sains adalah suatu jenis penelitian yang bertujuan mengembangkan suatu produk pendidikan dan/atau pembelajaran sains serta menvalidasi efektivitas, efisiensi, dan/atau daya tarik produk yang dihasilkan. Contoh

produk: materi pelatihan guru sains, metode pembelajaran sains, metode pembelajaran sains, paket pembelajaran sains tercetak, paket pembelajaran sains berbentuk CD (Soekardjo, 2008). Langkah-langkah Penelitian Pengembangan A. Menurut Sugiyono Menurut Sugiyono (2011:408) langkah-langkah pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan yang dilakukan untuk menghasilkan produk tertentu dan untuk menguji keefektifan produk yang dimaksud, adalah : a. Potensi dan masalah Penelitian ini dapat berangkat dari adanya potensi atau masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki suatu nilai tambah pada produk yang diteliti. Pemberdayaan akan berakibat pada peningkatan mutu dan akan meningkatkan pendapatan atau keuntungan dari produk yang diteliti. Masalah juga bisa dijadikan sebagai potensi, apabila kita dapat mendayagunakannya. Sebagai contoh sampah dapat dijadikan potensi jika kita dapat merubahnya sebagai sesuatu yang lebih bermanfaat. Potensi dan masalah yang dikemukakan dalam penelitian harus ditunjukkan dengan data empirik. Masalah akan terjadi jika terdapat penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Masalah ini dapat diatasi melalui R&D dengan cara meneliti sehingga dapat ditemukan suatu model, pola atau sistem penanganan terpadu yang efektif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. b. Mengumpulkan Informasi dan Studi Literatur Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukan secara faktual, maka selanjutnya perlu dikumpulkan berbagai informasi dan studi literatur yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Studi ini ditujukan untuk menemukan konsep-konsep atau landasan-landasan teoretis yang memperkuat suatu produk. Produk pendidikan, terutama produk yang berbentuk model, program, sistem, pendekatan, software dan sejenisnya memiliki dasar-dasar konsep atau teori tertentu. Untuk menggali konsep-konsep atau teori-teori yang mendukung suatu produk perlu dilakukan kajian literatur secara intensif. Melalui studi literatur juga dikaji ruang lingkup suatu produk, keluasan penggunaan, kondisikondisi pendukung agar produk dapat digunakan atau diimplementasikan secara

optimal, serta keunggulan dan keterbatasannya. Studi literatur juga diperlukan untuk mengetahui langkah-langkah yang paling tepat dalam pengembangan produk tersebut. Produk yang dikembangkan dalam pendidikan dapat berupa perangkat keras seperti alat bantu pembelajaran, buku, modul atau paket belajar, dll., atau perangkat lunak seperti program-program pendidikan dan pembelajaran, model-model pendidikan, kurikulum, implementasi, evaluasi, instrumen pengukuran, dll. Beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan dalam memilih produk yang akan dikembangkan. c. Desain Produk Produk yang dihasilkan dalam produk penelitian research and development bermacam-macam. Sebagai contoh dalam bidang tekhnologi, orientasi produk teknologi yang dapat dimafaatkan untuk kehidupan manusia adalah produk yang berkualitas, hemat energi, menarik, harga murah, bobot ringan, ergonomis, dan bermanfaat ganda. Desain produk harus diwujudkan dalam gambar atau bagan, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menilai dan membuatnya serta memudahkan fihak lain untuk memulainya. Desain sistem ini masih bersifat hipotetik karena efektivitasya belum terbukti, dan akan dapat diketahui setelah melalui pengujian-pengujian. d. Validasi Desain Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam hal ini sistem kerja baru secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan secara rasional, karena validasi disini masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan. Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang dirancang tersebut. Setiap pakar diminta untuk menilai desain tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. Validasi desain dapat dilakukan dalam forum diskusi. Sebelum diskusi peneliti mempresentasikan proses penelitian sampai ditemukan desain tersebut, berikut keunggulannya. e. Perbaikan Desain Setelah desain produk, divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para ahli lainnya, maka akan dapat diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki desain. Yang bertugas memperbaiki desain adalah peneliti yang mau menghasilkan produk tersebut. f. Uji coba Produk

Desain produk yang telah dibuat tidak bisa langsung diuji coba dahulu. Tetapi harus dibuat terlebih dahulu, menghasilkan produk, dan produk tersebut yang diujicoba. Pengujian dapat dilakukan dengan ekperimen yaitu membandingkan efektivitas dan efesiensi sistem kerja lama dengan yang baru. g. Revisi Produk Pengujian produk pada sampel yang terbatas tersebut menunjukkan bahwa kinerja sistem kerja baru ternyata yang lebih baik dari sistem lama. Perbedaan sangat signifikan, sehingga sistem kerja baru tersebut dapat diberlakukan h. Ujicoba Pemakaian Setelah pengujian terhadap produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting, maka selanjutnya produk yang berupa sistem kerja baru tersebut diterapkan dalam kondisi nyata untuk lingkup yang luas. Dalam operasinya sistem kerja baru tersebut, tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul guna untuk perbaikan lebih lanjut. i. Revisi Produk Revisi produk ini dilakukan, apabila dalam perbaikan kondisi nyata terdapat kekurangan dan kelebihan. Dalam uji pemakaian, sebaiknya pembuat produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja produk dalam hal ini adalah sistem kerja. j. Pembuatan Produk Masal Pembuatan produk masal ini dilakukan apabila produk yang telah diujicoba dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi masal. Sebagai contoh pembuatan mesin untuk mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat, akan diproduksi masal apabila berdasarkan studi kelayakan baik dari aspek teknologi, ekonomi dan ligkungan memenuhi. Jadi untuk memproduksi pengusaha dan peneliti harus bekerja sama. B. R & D Versi Dick and Carey Model Dick Carey adalah model desain Instruksional yang dikembangkan oleh Walter Dick, Lou Carey dan James O Carey. Model ini adalah salah satu dari model prosedural, yaitu model yang menyarankan agar penerapan prinsip desain Instruksional disesuaikan dengan langkah-langkah yang harus di tempuh secara berurutan. Model Dick Carey tertuang dalam Bukunya The Systematic Design of Instruction edisi 6 tahun 2005. Perancangan Instruksional menurut sistem pendekatan model Dick & Carey terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut. Model Dick and Carey terdiri

dari 10 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya. Langkahlangkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah: a. Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran. b. Melaksanakan analisi pembelajaran c. Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa d. Merumuskan tujuan performansi e. Mengembangkan butirbutir tes acuan patokan f. Mengembangkan strategi pembelajaran g. Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran h. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif i. Merevisi bahan pembelajaran j. Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif. Berikut penjabaran langkah-langkahnya a. Identifikasi Tujuan (Identity Instructional Goal(s)). Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar pebelajar dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program Instruksional. Tujuan Instruksional mungkin dapat diturunkan dari daftar tujuan, dari analisis kinerja (performance analysis), dari penilaian kebutuhan (needs assessment), dari pengalaman praktis dengan kesulitan belajar pebelajar, dari analisis orang-orang yang melakukan pekerjaan (Job Analysis), atau dari persyaratan lain untuk instruksi baru. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu di

mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan. b. Melakukan Analisis Instruksional (Conduct Instructional Analysis) Langkah ini, pertama mengklasifikasi tujuanke dalam ranah belajar Gagne, menentukan langkah-demi-langkah apa yang dilakukan orang ketika mereka melakukan tujuan tersebut (mengenali keterampilan bawahan / subordinat). Langkah terakhir dalam proses analisis Instruksional adalah untuk menentukan keterampilan, pengetahuan, dan sikap, yang dikenal sebagai perilaku masukan (entry behaviors), yang diperlukan peserta didik untuk dapat memulai Instruksional. Peta konsep akan menggambarkan hubungan di antara semua keterampilan yang telah diidentifikasi. c. Analisis Pembelajar dan Lingkungan (Analyze Learners and Contexts) Langkah ini melakukan analisis pembelajar, analisis konteks di mana mereka akan belajar, dan analisis konteks di mana mereka akan menggunakannya. Keterampilan pembelajar, pilihan, dan sikap yang telah dimiliki pembelajar akan digunakan untuk merancang strategi Instruksional. d. Merumuskan Tujuan Performansi (Write Performance Objectives) Pernyataan-pernyataan tersebut berasal dari keterampilan yang diidentifikasi dalam analisis Instruksional, akan mengidentifikasi keterampilan yang harus dipelajari, kondisi di mana keterampilan yang harus dilakukan, dan kriteria untuk kinerja yang sukses. e. Pengembangan Tes Acuan Patokan (Develop Assessment Instruments). Berdasarkan tujuan performansi yang telah ditulis, langkah ini adalah

mengembangkan butir-butir penilaian yang sejajar (tes acuan patokan) untuk mengukur kemampuan siwa seperti yang diperkirakan dari tujuan. Penekanan utama berkaitan diletakkan pada jenis keterampilan yang digambarkan dalam tujuan dan penilaian yang diminta. f. Pengembangan Siasat Instruksional (Develop Instructional Strategy). Bagian-bagian siasat Instruksional menekankan komponen untuk mengembangkan belajar pebelajar termasuk kegiatan praInstruksional, presentasi isi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan tindak lanjut kegiatan. g. Pengembangan atau Memilih Material Instruksional (Develop and Select Instructional Materials).

Ketika kita menggunakan istilah bahan Instruksional kita sudah termasuk segala bentuk Instruksional seperti panduan guru, modul, overhead transparansi, kaset video, komputer berbasis multimedia, dan halaman web untuk Instruksional jarak jauh. maksudnya bahan memiliki konotasi. h. Merancang dan Melaksanakan Penilaian Formatif (Design and Conduct Formative Evaluation of Instruction). Ada tiga jenis evaluasi formatif yaitu penilaian satu-satu, penilaian kelompok kecil, dan penilaian uji lapangan. Setiap jenis penilaian memberikan informasi yang berbeda bagi perancang untuk digunakan dalam meningkatkan Instruksional. Teknik serupa dapat diterapkan pada penilaian formatif terhadap bahan atau Instruksional di kelas. i. Revisi Instruksional (Revise Instruction). Strategi Instruksional ditinjau kembali dan akhirnya semua pertimbangan ini dimasukkan ke dalam revisi Instruksional untuk membuatnya menjadi alat Instruksional lebih efektif. j. Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif (Design And Conduct Summative Evaluation). Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/ diimplementasikan di kelas dengan evaluasi sumatif. Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar (1) pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan halhal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran, (2) adanya pertautan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, (3) menerangkan langkahlangkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran. C. Versi Borg and Gall Menurut Borg and Gall (1989:782), yang dimaksud dengan model penelitian dan pengembangan adalah a process used develop and validate educational product. Kadang-kadang penelitian ini juga disebut research based development, yang muncul sebagai strategi dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selain untuk mengembangkan dan memvalidasi hasil-hasil pendidikan, Research and Development juga bertujuan untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru melalui basic research, atau untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan khusus tentang masalah-

masalah yang bersifat praktis melalui applied research, yang digunakan untuk meningkatkan praktik-praktik pendidikan. Dalam penelitian ini Research and Development dimanfaatkan untuk menghasilkan model pelatihan keterampilan sebagai upaya pemberdayaan, sehingga kemampuan masyarakat petani dalam berusaha dapat berkembang. Menurut Borg dan Gall (1989: 783-795), pendekatan Reseach and Development (R & D) dalam pendidikan meliputi sepuluh langkah, yaitu: a) Studi Pendahuluan: Langkah pertama ini meliputi analisis kebutuhan, studi literature, penelitian skala kecil dan standar laporan yang dibutuhkan. Analisis Kebutuhan: Untuk melakukan analisis kebutuhan ada beberapa kriteria, yaitu 1) Apakah produk yang akan dikembangkan merupakan hal yang penting bagi pendidikan? 2) Apakah produknya mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan? 3) Apakah SDM yang memiliki keterampilan, pengetahuan dan pengalaman yang akan mengembangkan produk tersebut ada? 4) Apakah waktu untuk

mengembangkan produk tersebut cukup? Studi Literatur: Studi literatur dilakukan untuk pengenalan sementara terhadap produk yang akan dikembangkan. Studi literatur ini dikerjakan untuk

mengumpulkan temuan riset dan informasi lain yang bersangkutan dengan pengembangan produk yang direncanakan. Riset Skala Kecil: Pengembang sering mempunyai pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mengacu pada reseach belajar atau teks professional. Oleh karenanya pengembang perlu melakukan riset skala kecil untuk mengetahui beberapa hal tentang produk yang akan dikembangkan. b) Merencanakan Penelitian Setelah melakukan studi pendahuluan, pengembang dapat melanjutkan langkah kedua, yaitu merencanakan penelitian. Perencaaan penelitian R & D meliputi: 1) merumuskan tujuan penelitian; 2) memperkirakan dana, tenaga dan waktu; 3) merumuskan kualifikasi peneliti dan bentuk-bentuk partisipasinya dalam penelitian. c) Pengembangan Desain Langkah ini meliputi: 1) Menentukan desain produk yang akan dikembangkan (desain hipotetik); 2) menentukan sarana dan prasarana penelitian yang dibutuhkan selama proses penelitian dan pengembangan; 3) menentukan tahap-tahap pelaksanaan uji desain di lapangan; 4) menentukan deskripsi tugas pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian.

d) Preliminary Field Test Langkah ini merupakan uji produk secara terbatas. Langkah ini meliputi: 1) melakukan uji lapangan awal terhadap desain produk; 2) bersifat terbatas, baik substansi desain maupun pihak-pihak yang terlibat; 3) uji lapangan awal dilakukan secara berulang-ulang sehingga diperoleh desain layak, baik substansi maupun metodologi. e) Revisi Hasil Uji Lapangan Terbatas Langkah ini merupakan perbaikan model atau desain berdasarakan uji lapangan terbatas. Penyempurnaan produk awal akan dilakukan setelah dilakukan uji coba lapangan secara terbatas. Pada tahap penyempurnaan produk awal ini, lebih banyak dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Evaluasi yang dilakukan lebih pada evaluasi terhadap proses, sehingga perbaikan yang dilakukan bersifat perbaikan internal. f) Main Field Test Langkah merupakan uji produk secara lebih luas. Langkah ini meliputi 1) melakukan uji efektivitas desain produk; 2) uji efektivitas desain, pada umumnya, menggunakan teknik eksperimen model penggulangan; 3) Hasil uji lapangan adalah diperoleh desain yang efektif, baik dari sisi substansi maupun metodologi. g) Revisi Hasi Uji Lapangan Lebih Luas Langkah ini merupakan perbaikan kedua setelah dilakukan uji lapangan yang lebih luas dari uji lapangan yang pertama. Penyempurnaan produk dari hasil uji lapangan lebih luas ini akan lebih memantapkan produk yang kita kembangkan, karena pada tahap uji coba lapangan sebelumnya dilaksanakan dengan adanya kelompok kontrol. Desain yang digunakan adalah pretest dan posttest. Selain perbaikan yang bersifat internal. Penyempurnaan produk ini didasarkan pada evaluasi hasil sehingga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. h) Uji Kelayakan Langkah ini meliputi sebaiknya dilakukan dengan skala besar: 1) melakukan uji efektivitas dan adaptabilitas desain produk; 2) uji efektivitas dan adabtabilitas desain melibatkan para calon pemakai produk; 3) hasil uji lapangan adalah diperoleh model desain yang siap diterapkan, baik dari sisi substansi maupun metodologi. i) Revisi Final Hasil Uji Kelayakan Langkah ini akan lebih menyempurnakan produk yang sedang dikembangkan. Penyempurnaan produk akhir dipandang perlu untuk lebih akuratnya produk yang dikembangkan. Pada tahap ini sudah didapatkan suatu produk yang tingkat

efektivitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penyempurnaan produk akhir memiliki nilai generalisasi yang dapat diandalkan. j) Desiminasi dan Implementasi Produk Akhir Laporan hasil dari R & D melalui forum-forum ilmiah, ataupun melalui media massa. Distribusi produk harus dilakukan setelah melalui quality control. Teknik analisis data, langkah-langkah dalam proses penelitian dan

pengembangan dikenal dengan istilah lingkaran research dan development menurut Borg and Gall terdiri atas : a. meneliti hasil penelitian yang berkaitan dengan produk yang akan dikembangkan, b. mengembangkan produk berdasarkan hasil penelitian, c. uji lapangan d. mengurangi devisiensi yang ditemukan dalam tahap ujicoba lapangan. D. Versi 4D Metode pengembangan (Development Research) dengan menggunakan

pendekatan pengembangan model 4D (four-D model). Adapun tahapan model pengembangan meliputi tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop) dan tahap ujicoba (disseminate). Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini baru sampai pada tahap pengembangan (develop). Secara garis besar keempat tahap tersebut sebagai berikut (Trianto, 2007 : 65 68). a. Tahap Pendefinisian (Define) Tujuan tahap ini adalah menentapkan dan mendefinisikan syarat-syarat

pembelajaran di awali dengan analisis tujuan dari batasan materi yang dikembangkan perangkatnya. Tahap ini meliputi 5 langkah pokok, yaitu: (a) Analisis ujung depan, (b) Analisis siswa, (c) Analisis tugas. (d) Analisis konsep, dan (e) Perumusan tujuan pembelajaran. b. Tahap Perencanaan (Design) Tujuan tahap ini adalah menyiapkan prototipe perangkat pembelajaran. Tahap ini terdiri dari empat langkah yaitu, (a) Penyusunan tes acuan patokan, merupakan langkah awal yang menghubungkan antara tahap define dan tahap design. Tes disusun berdasarkan hasil perumusan Tujuan Pembelajaran Khusus (Kompetensi Dasar dalam kurikukum KTSP). Tes ini merupakan suatu alat mengukur terjadinya

perubahan tingkah laku pada diri siswa setelah kegiatan belajar mengajar, (b) Pemilihan media yang sesuai tujuan, untuk menyampaikan materi pelajaran, (c) Pemilihan format. Di dalam pemilihan format ini misalnya dapat dilakukan dengan mengkaji format-format perangkat yang sudah ada dan yang dikembangkan di negara-negara yang lebih maju. c. Tahap Pengembangan (Develop). Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan masukan dari pakar. Tahap ini meliputi: (a) validasi perangkat oleh para pakar diikuti dengan revisi, (b) simulasi yaitu kegiatan

mengoperasionalkan rencana pengajaran, dan (c) uji coba terbatas dengan siswa yang sesungguhnya. Hasil tahap (b) dan (c) digunakan sebagai dasar revisi. Langkah berikutnya adalah uji coba lebih lanjut dengan siswa yang sesuai dengan kelas sesungguhnya. d. Tahap penyebaran (Disseminate). Pada tahap ini merupakan tahap penggunaan perangkat yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas misalnya di kelas lain, di sekolah lain, oleh guru yang lain. Tujuan lain adalah untuk menguji efektivitas penggunaan perangkat di dalam KBM. E. Versi ADDIE Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement- Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni : a. Analysis (analisa) b. Design (disain / perancangan) c. Development (pengembangan) d. Implementation (implementasi/eksekusi) e. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)

Langkah 1: Analisis Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan),

mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan. a. Analisis Kinerja Analisis Kinerja dilakukan untuk mengetahui dan mengklarifikasi apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran atau perbaikan manajemen. Contoh : Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan menyebabkan rendahnya kinerja individu dalam organisasi atau perusahaan, hal ini diperlukan solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran. Rendahnya motivasi berprestasi, kejenuhan, atau kebosanan dalam bekerja memerlukan solusi perbaikan kualitas manajemen.Misalnya pemberian insentif terhadap prestasi kerja, rotasi dan promosi, serta penyediaan fasilitas kerja yang memadai. b. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan untuk menentukan kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari oleh siswa untuk meningkatkan kinerja atau prestasi belajar. Hal ini dapat dilakukan apabila program pembelajaran dianggap sebagai solusi dari masalah pembelajaran yang sedang dihadapi. Pada saat seorang perancang program pembelajaran melakukan tahap analisis, ada dua pertanyaan kunci yang yang harus dicari jawabannya, yaitu : i. Apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, dibutuhkan oleh siswa? ii. Apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, dapat dicapai oleh siswa? Jika hasil analisis data yang telah dikumpulkan mengarah kepada pembelajaran sebagai solusi untuk mengatasi masalah pembelajaran yang sedang dihadapi,

selanjutnya perancang program pembelajaran melakukan analisis kebutuhan dengan cara menjawab beberapa pertanyaan lagi. Pertanyaannya sebagai berikut : a. Bagaimana karakteristik siswa yang akan mengikuti program pembelajaran? (learner analysis ) b. Pengetahuan dan ketrampilan seperti apa yang telah dimiliki oleh siswa?(prerequisite skills) c. Kemampuan atau kompetensi apa yang perlu dimiliki oleh siswa? (task atau goal analysis) d. Apa indikator atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan bahwa siswa telah mencapai kompetensi yang telah ditentukan setelah melakukan pembelajaran? (evaluation and assessment) e. Kondisi seperti apa yang diperlukan oleh siswa agar dapat memperlihatkan kompetensi yang telah dipelajari? (setting or condition analysis) Langkah 2: Desain Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blueprint). Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) diatas kertas harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini? Pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lainlain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci. Langkah 3: Pengembangan Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia

pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus disiapkan dalam tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang sedang kita kembangkan. Langkah 4: Implementasi Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa

diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau seting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal. Langkah 5: Evaluasi Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lainlain. F. Versi Kemp Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu: a. Menentukan tujuan dan daftar topik,menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya; b. Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;

c. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar; d. Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan; e. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik; f. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan; g. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran; h. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahankesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif

4. PENELITIAN LABORATORIUM Penelitian laboratorium merupakan penelitian yang dilakukan dalam

ruangan tertutup, dimana kelompok eksperimen dijauhkan dari variable pengganggu sebab dapat memengaruhi hasil dari pengujian hubungan sebab akibat. Penelitian jenis ini dilakukan dalam suatu tempat khusus untuk mengadakan studi-ilmiah dan kerja ilmiah. Tujuan dari penelitian laboratorium untuk ilmu pengetahuan sosial ialah: untuk mengumpulkan data, mengadakan analisa, mengadakan test serta memberikan interpretasi terhadap sejumlah data, sehingga orang bisa meramalkan kecendrungan gerak dari satu gejala sosial dalam satu masyarakat tertentu. Objek penelitiannya, baik berupa masalahmasalah yang teoritis sifatnya maupun yang praktis, yang diteliti oleh satu tim ahli. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN LABORATORIUM: Kita tentunya sudah memahami tentang metode ilmiah dan penelitian ilmiah. Yang perlu kita ketahui adalah bahwa penelitian ilmiah berusaha untuk menemukan, mengembangkan, dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah. Dengan selalu melakukan penelitian ilmiah, ilmu pengetahuan akan selalu

berkembang. Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Langkah-Langkah Pokok dalam Penelitian yaitu: 1. Identifikasi Masalah Masalah dapat berupa: kriteria atau pertimbangan, minat pribadi, dan umum. Serta dapat juga berupa nilai dan ideologi bersama. Latar Belakang Masalah Hal yang umum dikaitkan dengan topik penelitian (khusus). Atau das sollen (what should be) menjadi das sein (what is happening). Serta mengapa sesuatu itu dianggap masalah. Secara spesifik kriterianya: mencerminkan kebutuhan, tidak bersifat hipotetis (fakta), menyarankan adanya hipotesis yang berarti dapat diuji yang dikembangkan dari pernyataan masalah, relevan dan dapat dikelola. Rumusan Masalah Berbentuk kalimat tanya (basic question) yang hendak dicari jawabannya dalam penelitian dengan ciri-ciri sebagai berikut: menunjukkan hubungan minimal dua variabel dan dapat diuji secara empirik. Artinya, data sebagai jawaban harus dapat diperoleh. Serta menghindari pertanyaan yang berkaitan dengan moral dan etika. 2. Menentukan Tujuan Penelitian a. Mencari informasi sebagai rekomendasi pada pihak-pihak tertentu (sponsor) dalam rangka pemecahan masalah. b. Memperjelas kebenaran suatu masalah yang menarik perhatian peneliti atau sponsor. c. Memberi gambaran tentang hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kebijakan yang telah ditentukan (Suparmoko, 1977). Secara umum ada empat tujuan dilakukannya suatu penelitian, yaitu: 1. Tujuan Exploratif (Penemuan) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang tertentu. 2. Tujuan Verifikatif (Pengujian): menguji kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada. 3. Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang yang telah ada. 4. Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi) Sesuai dengan pengertian mengenai penelitian laboratorium yaitu suatu penelitian yang menguji tentang sebab akibat. Maka, tujuan dari penelitian laboratorium itu adalah untuk mengetahui apa saja sebab dan akibat yang selama ini ada pada pembelajaran.

Contohnya Menyelidiki sistem dari suatu bahasa, menyelidiki/menganalisis unsur-unsur kaidah bahasa, menyelidiki/menganalisis lambang/isyarat/tanda bunyi suatu bahasa. Dan tujuan dari penelitian laboratorium untuk ilmu pengetahuan sosial ialah untuk mengumpulkan data, mengadakan analisa, mengadakan test serta memberikan interpretasi terhadapt sejumlah data, sehingga orang bisa meramalkan kecendrungan gerak dari satu gejala sosial dalam satu masyarakat tertentu. Objek penelitiannya, baik berupa masalahmasalah yang teoritis sifatnya maupun yang praktis, yang diteliti oleh satu tim ahli. Sedangkan manfaat dari suatu penelitian yaitu dapat dijadikan acuan, masukan, pertimbangan, dapat diaplikasikan langsung, dan dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya. 1. Kelebihan penelitian laboratorium Kelebihan penelitian ini adalah hasil dari penelitian ini lebih dapat

dipertanggungjawabkan keabsahannya karena hanya memfokuskan pada pengujian hubungan sebab dan akibat. 2. Kekurangan penelitian laboratorium Kekurangan atau kelemahan penelitian laboratorium adalah penelitian ini belum tentu dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari. 5. PENELITIAN DESKRIPTIF Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif dapat digunakan pendekatan

kuantitatif berupa pengumpulan dan pengukuran data yang berbentuk angka atau pendekatan kualitatif berupa penggambaran keadaan secara naratif (kata-kata) apa adanya, (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang (Sujana dan Ibrahim, 1989:65). Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada pemecahan masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan. Dalam pendidikan, penelitian deskriptif lebih berfungsi untuk pemecahan praktis dari pada pengembangan ilmu pengetahuan. Peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya, kemudian menggambarkan atau melukiskannya sebagaimana adanya, sehingga pemanfaatan temuan penelitian ini berlaku pada saat itu pula yang belum tentu relevan bila digunakan. Karena itu tidak selalu menuntut adanya hipotesis. Tidak menuntut adanya perlakuan atau manipulasi variabel, karena gejala dan peristiwanya telah

ada dan peneliti tinggal mendeskripsikannya. Variabel yang diteiliti bisa tunggal, atau lebih dari satu variabel, bahkan dapat juga mendeskripsikan hubungan beberapa variabel. Penelitian deskriptif menurut Etna Widodo dan Mukhtar (2000) kebanyakan tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, melainkan lebih pada menggambarkan apa adanya suatu gejala, variabel, atau keadaan. Namun demikian, tidak berarti semua penelitian deskriptif tidak menggunakan hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam penelitian deskriptif bukan dimaksudkan untuk diuji melainkan bagaimana berusaha menemukan sesuatu yang berarti sebagai alternatif dalam mengatasi masalah penelitian melalui prosedur ilmiah. Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman. Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang

dikemukakan Furchan (2004) bahwa:


1) Penelitian deskriptif cenderung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan

cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat.
2) Tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan 3) Tidak adanya uji hipotesis.

Secara garis besar, manfaat/keuntungan penelitian deskriptif adalah sebagai berikut:


a. b. c.

Relatif mudah dilaksanakan Tidak membutuhkan kelompok kontrol sebagai pembanding. Diperoleh banyak informasi penting yang dapat digunakan untuk perencanaan program pelayanan kesehatan pada masyarakat, memberikan informasi kepada

masyarakat tentang kesehatan, mengadakan perbandingan status kesehatan. Penelitian deskriptif memiliki keunikan sebagai berikut : 1. Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yang sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan. 2. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai. 3. Penelitian deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan

dirumuskan secara jelas, agar di lapangan peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data yang diperlukan. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN DESKRIPTIF 1) Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif 2) Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas 3) Menentukan tujuan dan manfaat penelitian 4) melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan 5) menentukan kerangka berfikir dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian 6) mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk menentukan populasi, sampel, teknik sampling, instrument pengumpulan data, dan menganalisis data 7) mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistik yang relevan; dan membuat laporan penelitian. Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas beberapa jenis. Menurut Sukmadinata, N. S, (2011), Ada beberapa variasi dalam penelitian deskriptif yaitu studi perkembangan, studi kasus, studi kemasyarakaatan, studi perbandingan, studi hubungan, studi waktu dan gerak, studi lanjut, studi kecendrungan, analisis kegiatan dan analisis isi atau dokumen. 1. Studi Perkembangan, bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya. 2. Studi Kasus, metode untuk menghimpun dan menganalisis data berkenaan dengan sesuatu kasus. 3. Studi Kemasyarakatan, kajian intensif yang dilakukan terhadap suatu kelomok masyarakat yang tinggal bersama di suatu daerah yang memiliki ikatan dan karakteristik tertentu. 4. Studi Perbandingan, bentuk penelitian deskriptif yang membandingkan dua atau lebih dari dua situasional. 5. Studi Hubungan, disebut juga studi korelasional yang meneliti hubungan antara dua hal, dua variabel atau lebih. 6. Studi Waktu dan Gerak, ditujukan untuk meneliti atau menguji jumlah waktu dan banyaknya gerak yang diperlukan untuk melakukan suatu kegiatan. 7. Studi Kecenderungan, studi ini diarahkan untuk melihat kecenderungan perkembangan.

8. Studi Tindak Lanjut, merupakan pengumpulan data terhadap para lulusan atau orangorang yang telah menyelesaikan suatu program pendidikan, latihan atau pembinaan. 9. Analisis Kegiatan, diarahkan untuk menganalisis kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan suatu tugas atau pekerjaan adalam bidang industri, bisnis, pemerintahan, lembaga sosial dll baik dalam kegiatan produksi atau layanan jasa. 10. Anaisis Isi atau Dokumen, ditujukan untuk menghimpun dan menganalisis dokumendokumen resmi, yang valid dan keabsahannya. Jenis - jenis penelitian deskriptif yaitu sebagai berikut : a) Penelitian Survai Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sample dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun, 1998). Survei merupakan studi yang bersifat kuantitatif yang digunakan untuk meneliti gejala suatu kelompok atau perilaku individu. Survey adalah suatu desain yang digunakan untuk penyelidikan informasi yang berhubungan dengan prevalensi, distribusi dan hubungan antar variabel dalam suatu popilasi. Pada survey tidak ada intervensi, survey mengumpulkan informasi dari tindakan seseorang, pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku, dan nilai. Penggalian data dapat melalui kuisioner, wawancara, observasi maupun data dokumen. Penggalian data melalui kuisioner dapat dilakukan tanya jawab langsung atau melalui telepon, sms, e-mail maupun dengan penyebaran kuisioner melalui surat. Wawancara dapat dilakukan juga melalui telepon, video confeence maupun tatap mukalangsung. Keuntungan dari survey ini adalah dapat memperoleh berbagai informasi serta hasil dapat dipergunakan untuk tujuan lain. Akan tetapi informasi yang didapat sering kali cenderung bersifat superfisial. Oleh karena itu pada penelitian survey akan lebih baik jika dilaksanakan analisa secara bertahap. Pada umumnya survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengambil data. Survei menganut aturan pendekatan kuantitatif, yaitu semakin sample besar, semakin hasilnya mencerminkan populasi. Penelitian survey dapat digunakan untuk maksud penjajakan (eksploratif), menguraikan (deskriptif), penjelasan (eksplanatory) yaitu untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesa, evaluasi, prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan dating, penelitian operational dan pengembangan indikaor-indikator social.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian survey adalah sebagai berikut: 1) Merumuskan masalah penelitian dan menentukan tujuan survey 2) Menentukan konsep dan hipotesa awal serta menggali kepustakaan. Dengan membentuk hipotesis awal, menentukan jenis survei yang akan dilakukan akankah melalui surat (e-mail), wawancara (interview), atau telepon, membuat pertanyaan-pertanyaan, menentukan kategoridari responden, dan menentukan setting penelitian. 3) Pengambilan sampel, yaitu menentukan target populasi responden yang akan di survei, membuat kerangka sampel survei, menentukanbesarnya sampel (menentukan derajat keseragaman, presisi yang dikehendaki dari penelitian, rencana analisa, tenaga, biaya, dan waktu), dan memilih sampel. 4) Pembuatan kuesioner Penggunaan kuesioner merupakan yang pokok untuk pengumpulan data. Hasil kuesioner akan terjelma dalam angka-angka, table-tabel, analisa statistik dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian. Kuesioner digunakan dalam wawancara tatap muka dengan responden. Kuesioner diisi sendiri oleh kelompok, wawancara melalui telepon dan kuesioner dapat diposkan. 5) Pekerjaan lapangan, termasuk memilih dan melatih pewawancara Susunan tim pekerja lapangan biasanya terdiri dari staf peneliti, pengawas lapangan, dan asisten lapangan (pewawancara). Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi. 6) Mengedit dan mengkode Memasukkan data ke komputer, mengecek ulang data yang telah dimasukkan, dan membuat analisisstatistik data. Buku kode digunakan sebagai pedoman oleh pengkode untuk memindahkan jawaban pertanyaan dalam kuesioner ke lembaran IBM, kartu tabulasi atau ketempat yang telah tersedia (kotak-kotak kode) dalam kuesioner itu sendiri. 7) Analisa dan pelaporan Tujuan analisa adalah menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasi. Laporan penelitian yang lengkap tidak hanya menyajikan hasil penelitian tetapi juga proses penelitian iru sebagai keseluruhan. Pokok permasalahan survei digunakan untuk:

a. Mentabulasi objek nyata (tangible) - Suara hasil pemilihan umum - Pekerjaan orangtua b. Mengukur obyek tidak nyata (intangible) - Pendapat - Minat - Prestasi Contoh : 1. Minat siswa SMA mengikuti kegiatan ekstrakurikuler taekwondo 2. Tingkat kebugaran siswa SD 3. Pemahaman guru penjas terhadap KTSP di Jember 4. Kesiapan sarana prasarana untuk penjas pada jenjang SD di Jember b) Penelitian Studi Kasus Penelitian yang menyangkut status objek penelitian yang berkenaan dengan fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit penelitian secara intensif; Misalnya satu pasien, keluarga, kelompok, komunitas atau institusi. Meskipun jumlah subyek cenderung sedikit, jumlah variabel yang ditiliti sangat luas. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui semua variabel yang berhubungan dengan masalah penelitian. Penggalian data dapat melalui kuisioner, wawancara, observasi maupun data dokumen. Deskripsi dari studi kasus tergantung dari keadaan kasus tetapi tetap mempertimbangkan waktu. Keuntungan yang paling besar dari desain ini adalah pengkajian secara rinci meskipun jumlah dari responden sedikit, sehingga akan didapatkan gambaran satu unit subyek secara jelas. Misalnya, studi kasus tentang mahasiswa yang drop out. Contoh : 1. Studi kasus mahasiswa drop out. 2. Faktor penghambat kegiatan ekstrakulikuler sepakbola SMA. 3. Faktor pendukung kegiatan ekstrakulikuler sepakbola SMA. c) Penelitian Korelasional Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Peneliti mencari, menjelaskan suatu hubungan,

memperkenalkan, menguji berdasarkan teori yang ada. Desain yang sering digunakan adalah cross-sectinal. Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. Menurut Gay dalam Sukardi (2008:166) menyatakan bahwa; penelitian korelasi merupakan salah satu bagian penelitian ex-postfacto karena biasanya peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi. Walaupun demikian ada peneliti lain seperti di antaranya Nazir dalam Sukardi (2008:166); mengelompokkan penelitian korelasi ke dalam penelitian deskripsi, karena penelitian tersebut juga berusaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha menggambarkan kondisi sekarang dalam konteks kuantitatif yang direfleksikan dalam variabel. Penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting untuk para peneliti yang hendak menggunakannya. Tiga karakteristik tersebut, adalah: 1. Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen. 2. Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata. 3. Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan. Tujuan Penelitian Korelasional adalah: Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (1994:24) adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2007:38), Tujuan penelitian korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi. Studi hubungan biasanya menyelidiki sejumlah variabel yang dipercaya berhubungan dengan suatu variabel mayor, seperti hasil belajar variabel yang ternyata tidak mempunyai hubungan yang tinggi dieliminasi dari perhatian selanjutnya. Bentuk korelasi dibagi menjadi 3 macam, yaitu: 1. Korelasi sederhana 1 variabel sebab dengan 1 variabel akibat. 2. Korelasi parsial 1 variabel sebab, yang dikontrol oleh variabel sebab yang lain dengan 1 variabel akibat. 3. Korelasi ganda

2 atau lebih variabel sebab secara bersama-sama dengan 1 variabel akibat. Contoh: a. Hubungan latar belakang pendidikan SMA, pendidikan orangtua terhadap IPK Mahasiswa FKIP UNEJ b. Kontribusi kekuatan lengan, panjang lengan, kekuatan tangan terhadap kemampuan lempar bola siswa SD d) Penelitian Studi Perkembangan Metode penelitian deskriptif dengan studi perkembangan (developmental study) seringkali dilakukan peneliti di bidang psikologi atau bidang pendidikan yang erat kaitannya dengan tingkah laku. Sasaran penelitian ini menyangkut variabel yang berhubungan dengan tingkah laku, baik itu secara individu atau kelompok. Penelitian tersebut akan menarik variabel dengan membedakan pertumbuhan, kedewasaan, dan tingkat umur subjek yang diteliti. Studi perkembangan ini biasanya dilaksanakan pada periode longitudinal di waktu tertentu, studi ini bertujuan menemukan dimensi perkembangan pada seorang responden. Dimensi yang sering diteliti misalnya, emosi, fisik, intelektual, dan perkembangan sosial anak. Studi perkembangan ini dapat dilakukan secara baik, baik itu dengan cross sectional maupun longitudinal. Jika penelitian dilaksanakan dengan menggunakan model crosssectional, maka peneliti di waktu yang sama serta simultan dengan menggunakan aneka variabel untuk diteliti. Data yang diperoleh kemudian dideskripsikan lalu dikomparasikan. Selain penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan sampel seorang responden individu atau dalam suatu kelompok, misal satu kelas di satu sekolah, lalu dicermati dan diteliti perkembangannya dalam jangka waktu tertentu misalnya selama 2 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan. Semua yang terjadi didokumentasikan untuk kemudian digunakan sebagai sumber informasi untuk menganalisis guna menghasilkan tujuan penelitian atau mencari solusi sebuah permasalahan. e) Penelitian Deskriptif Studi Kelanjutan Penelitian deskriptif dengan studi kelanjutan ini seringkali dilakukan peneliti untuk menentukan status responden setelah dilakukannya suatu perlakuan, misalnya studi kelanjutan program pendidikan. Studi kelanjutan ini dilaksanakan untuk melaksanakan evaluasi eksternal dan evaluasi internal, setelah responden atau subjek penelitian ini menerima suatu studi atau perlakuan dalam sebuah lembaga pendidikan. Misalnya, Badan Akreditasi Nasional mengharapkan ada informasi mengenai tingkat serapan alumni suatu lembaga pendidikan tingkat perguruan tinggi di dunia kerja.

Dalam

studi

kelanjutan

ini,

peneliti

mengenal

istilah outcome(hasil)

dan output (keluaran). Data outcome (hasil) adalah menyangkut mengenai pengaruh suatu tindakan atau perlakuan subjek sasaran dan kaitannya dengan masyarakat, sedangkanOutput (keluaran) adalah hal yang menyangkut informasi hasil akhir setelah suatu program yang dilaksanakan subjek sasaran selesai. f) Penelitian Deskriptif Analisis dokumenter Studi ini sering juga disebut analisi isi yang juga dapat digunakan untuk menyelidiki variabel sosiologis dan psikologis.Penelitian yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tetapi melalui pengujian arsip dan dokumen. Penelitian ini juga disebut sebagai penelitian analisis isi (content analisys). Peneliti bekerja secara obyektif dan sistematis untuk mendeskripsikan isi bahan komunikasi melalui pendekatan kuantitatif. g) Penelitian Deskriptif Ex Post Facto Penelitian dengan rancangan Ex Post Facto sering disebut dengan after the fact. Artinya, penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi, dan disebut juga sebagai restropective study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali. Terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut. Dalam pengertian yang lebih khusus, (Furchan, 383:2002) menguraikan bahwa penelitian ex post facto adalah penelitian yang dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variable bebas terikat karena perkembangan suatu kejadian secara alami. Penelitian ex post facto menguji apa yang telah terjadi pada subjek. Ex post factos ecara harfiah berarti "sesudah fakta", karena kausa atau sebab yang diselidiki tersebut sudah berpengaruh terhadap variabel lain. Penelitian ini disebut penelitian kausal komparatif karena dimaksud untuk menyelidiki kausa yang mungkin untuk suatu pola prilaku yang dilakukan dengan cara membandingkan subjek dimana pola tersebut ada dengan subjek yang serupa dimana pola tersebut tidak ada atau berbeda (Glass & Hopkin, 1979). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah satu atau lebih kondisi yang sudah terjadi mungkin menyebabkan perbedaan perilaku pada subjek. Dengan kata lain, penelitian ini untuk menentukan apakah perbedaan yang terjadi antar kelompok subjek (dalam variabel independen) menyebabkan terjadinya perbedaan pada variabel dependen.

Hanya saja dalam penelitian ex Post facto tidak ada manipulasi kondisi karena kondisi tersebut sudah terjadi sebelum penelitian ini mulai dilaksanakan. Karena itu penelitian ini memerlukan waktu yang relatif singkat. Sebagai contoh, seorang peneliti tertarik untuk menyelidiki pengaruh broken home (perpecahan antar orang tua) terhadap tingkat kenakalan remaja. Dalam hal ini peneliti tidak mungkin melakukan eksperimen karena ia tidak mungkin memanipulasi kondisi subjek (membuat agar terjadi broken home pada keluarga/orang tua mereka) kemudian mengukur tingkat kenakalan remaja. Meskipun demikian, pengaruh tersebut dapat diuji dengan cara membandingkan tingkat kenakalan remaja yang berasal dari keluarga yang broken home dan yang harmonis jika pengaruh tersebut memang ada, maka anak yang berasal dari keluarga broken home mempunyai tingkat kenakalan yang lebih tinggi daripada mereka yang berasal dari keluarga yang harmonis. Karena tidak melibatkan manipulasi, maka interprestasi hasil penelitian ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Dalam kasus contoh diatas, misalnya peneliti tidak yakin bahwa perbedaan tingkat kenakalan antar kelompok subjek tersebut terjadi karena broken home yang dialami oleh orang tua salah satu kelompok subjek. Hal ini karena tingkat kenakalan tersebut hanya diukur sekali, yakni setelah terjadinya broken home. Karena itu dalam menafsirkan hasil penelitian ini, peneliti dihadapkan pada pertanyaan : apakah broken home mendorong kenakalan pada anak?. Apakah tingkat kenakalan yang tinggi pads anak dari keluarga broken home sudah terjadi sebelum timbulnya broken home?. Apakah perbedaan tersebut karena pengaruh orang tua yakni, tingkat "kenakalan" orang tua yang broken home lebih tinggi daripada orang tua yang harmonis? Ataukah kenakalan tersebut muncul karena adanya faktor lain, misalnya kurangnya perhatian orang tua mereka, yang dapat terjadi pada keluarga broken home maupun yang harmonis?. Meskipun interprestasinya terbatas, dalam bidang pendidikan hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya hubungan kausal dari pola variasi kondisi yang diamati. Langkah-langkah penelitian ex post facto: a) Perumusan masalah, masalah yang ditetapkan harus mengandung sebab atau kausa bagi munculnya variabel dependen, yang dapat diketahui berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan atau penafsiran peneliti terhadap hasil observasi fenomena yang sedang diteliti. b) Setelah masalah dirumuskan, peneliti harus mampu mengidentifikasi hipotesis

tandingan atau alternatif yang mungkin dapat menerangkan hubungan antar variabel independen dan dependen. c) Penentuan kelompok subjek yang akan dibandingkan. d) Pengumpulan data. Hanya data yang diperlukan yang dikumpulkan, balk yang berkenan dengan variabel dependen maupun berkenaan dengan faktor yang dimungkinkan memunculkan hipotesis tandingan. Karena penelitian ini menyelidiki fenomena yang sudah terjadi, seringkali data yang diperlukan sudah tersedia sehingga peneliti tinggai memilih sumber yang sesuai. Disamping itu berbagai instrumen seperti tes, angket, interview, dapat digunakan untuk mengumpulkan data bagi peneliti. e) Analisis data. Teknik analisis data yang digunakan serupa dengan yang digunakan dalam penelitian diferensial maupun eksperimen, dimana perbandingan nilai variabel dependen dilakukan antar kelompok subjek atas dasar faktor yang menjadi konsen. f) Penafsiran basil. Pernyataan sebab akibat dalam penelitian ini perlu dilakukan secara hati-hati. Kualitas hubungan antar variabel independen dan dependen sangat tergantung pada kemampuan peneliti untuk memilih kelompok perbandingan yang homogen dan keyakinan bahwa munculnya hipotesis tandingan dapat dicegah. Rancangan atau desain penelitian dalam arti sempit dimaknai sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis penelitian. Dalam arti luas rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dengan demikian maka pengembangan rancangan deskriptif menjelaskan langkah-langkah sistematis yang ditempuh dalam penelitian deskriptif:
1. Mengidentifikasi dan Memilih Masalah yang Akan Diteliti

Identifikasi masalah merupakan upaya mengelompokam, mengurutkan sekaligus memetakan masalah berdasarkan bidang-bidang studi, (Sukmadinata, N.S, 2011). Identifikasi masalah pada umumnya mendeteksi, melacak, menjelaskan aspek permasalahan yang muncul dan berkaitan dengan masalah atau variabel yang akan diteliti, Riduwan, (2009). Menurut Sukmadinata, N. S, (2011), dalam megidentifikasi masalah sebaiknya menggunakan sumber, baik sumber resmi pernyataan resmi, kesimpulan seminar atau kenyataan faktual. Melalui proses ini maka akan dapat diketahui gambaran masalah yang akan diteliti. Gambaran masalah yang telah teridentifikasi

dihubungkan, dibandingkan satu sama lain, kemudian diurutkan berdasarkan rangking yang paling penting, mendesak sampai paling kurang. Meskipun telah diurutkan berdasarkan tingkat urgensi, masalah-masalah yang telah teridentifikasi perlu dipilih dengan pertimbangan minat dan kemampuan peneliti, lokasi dan sumber data, waktu, dana dll. Menurut Sukmadinata, N. S, (2011), untuk memecahkan masalah atau menentukan suatu tindakan diperlukan sejumlah informasi. Informasi tersebut dikumpulkan melalui proses penelitian deskriptif. Masih menurut Sukmadinata, N. S, (2011), bahwa ada beberapa informasi yang bisa diperoleh melalui penelitian deskriptif bagi pemecahan masalah yaitu : 1) bagaimana keadaan sekarang, 2) informasi yang kita inginkan dan 3) bagaimana sampai ke sana, bagaimana mencapainya.
2. Merumuskan dan Mengadakan Pembatasan Masalah

Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, lalu perlu dirumuskan. Rumusan masalah merupakan pemetaan faktor-faktor atau variabel-variabel yang terkait dengan fokus masalah (Sukmadinata, N. S, 2011). Perumusan ini penting, karena berdasarkan rumusan tersebut maka peneliti dapat menentukan metode penelitian, metode pengumpulan data, pengolahan data maupun analisis dan penyimpulan hasil penelitian. Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian terarah, terfokus, dan tidak melenceng ke mana-mana (Riduwan, 2009). Perlu diperhatikan bahwa sifat masalah akan menentukan cara-cara pendekatan yang sesuai dan akhirnya akan menentukan rancangan penelitiannya. Perumusan masalah berhubungan dengan tujuan dan metode yang digunakan, (Sukmadinata, N. S, 2011). Kalau tujuan penelitian diarahkan untuk memperoleh gambaran dan deskripsi secara rinci, sistematis dan akurat suatu fenomena maka metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif maupun kualitatif. Jika tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan atau komparasi suatu variabel maka metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif korelasi atau komparasi. Selain untuk mendeskripsikan suatu fenomena, penelitian deskriptif juga dirancang untuk membuat komparasi maupun untuk mengetahui hubungan atas satu variabel kepada variabel lain. Suharsimi, A, (2005), menyatakan

karena itu pula penelitian komparasi dan korelasi juga dimasukkan dalam kelompok penelitian deskriptif.
3. Melakukan Kajian Pustaka

Setelah masalah penelitian ditetapkan, selanjutnya pada tahapan ini peneliti mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitiannya dengan cara melakukan kajian pustaka. Tujuan kajian pustaka adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan masalah yang diteliti, memperdalam pengetahuan tentang obyek (variabel) yang diteliti, mengkaji teori dasar yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, mengkaji temua penelitian terdahulu, dan mencari informasi aspek masalah yang belum tergarap. Sumber kajian pustaka dapat diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer merupakan karangan asli yang ditulis oleh orang lain secara langsung mengalami, melihat dan mengerjakan sendiri. Sumber sekunder adalah tulisan tentang penelitian orang lain. Bahan pustaka yang biasanya tersedia diperpustakaan adalah ensiklopedia, kamus, buku-buku teks dan buku referensi, buku pegangan, biografi, indeks, abstrak laporan penelitian, majalah, jurnal dan surat kabar, skripsi, tesis, desertasi.
4. Membuat Asumsi atau Anggapan-Anggapan

Asumsi dalam konteks penelitian diartikan sebagai anggapan dasar, yaitu suatu pernyataan atau sesuatau yang diakui kebenarannya atau dianggap benar tanpa harus dibuktikan lebih dahulu. Asumsi penelitian merupakan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian. Menurut sifatnya ada tiga jenis asumsi, yaitu asumsi konseptual, asumsi situasional dan asumsi operasional. Asumsi konseptual berakar pada pengakuan akan kebenaran suatu konsep atau teori. Asumsi situasional diperlukan untuk mengantisipasi adanya kondisi lokal atau situasi yang bersifat sementara yang berpotensi mempengaruhi berlakunya suatu hukum atau prinsip yang dapat menggoyahkan rancangan penelitian. Asumsi operasional bertolak dari masalah-masalah operasional yang masih dalam jangkauan pengendalian peneliti.
5. Merumuskan Hipotesis Penelitian, Bila Ada

Hipotesis merupakan dugaan sementara atas permasalahan yang diteliti. Penelitain deskriptif diperlukan perumusan hipotesis atau tidak tergantung pada masalah dan tujuan yang telah dirumuskan, (Sukmadinata, N. S, 2011). Penelitian

deskriptif yang ditujukan untuk membuat penjelasan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu tanpa membandingkan atau menghungkan, tidak memerlukan hipotesis. Namun demikian, sebuah penelitian deskriptif yang dirancang untuk membuat komparasi atau hubungan perlu merumuskan hipotesis.
6. Menentukan Populasi, Sampel, Teknik Sampling

Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang berbeda pada sustu wilayah dan memenuhi sayarat-syarat tertentu berkaitan masalah yang diteliti, (Martono, N, 2011). Kemudian dijelaskan bahwa sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keaadan tertentu yang akan diteliti. Terkait dengan hal ini dalam penelitian deskriptif juga dilakukan penentuan sampel baik dengan teknik probability maupun non probability.
7. Menentukan Instrumen

Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yang akan dikumpulkan harus jelas. Instrumen penelitian yang digunakan harus memenuhi persyaratan validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan), paling tidak ditinjau dari segi isinya sesuai dengan variabel yang diukur. Prosedur pengembangan instrumen pengumpul data perlu dijelaskan tentang proses uji coba, analisis butir tes, uji kesahihan dan uji keterandalan. Dalam penelitian deskriptif kuantitaif, instrumen yang sering digunakan adalah angket (kusioner), pedoman wawancara dan pedoman pengamatan.
8. Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu wawancara, angket, observasi dan studi dokumenter, Sukmadinata, N. S, (2011). Terdapat perbedaan penelitian deskriptif dengan penelitian survey dalam hal teknik pengumpulan data. Menurut Sukmadinata, N. S, (2011), kajian deskriptif lebih luas dibanding survey karena mencakup penelitia observasi dan studi dokumenter, sedangkan survey terbatas pada penggunaan wawancara dan angket. Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan percakapan dengan responden atau narasumber. Angket atau kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyataan atau penrnyataan tertulis kepada responden untuk dijawab, (Sugiyono, 2010). Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan

mengadakan

pengamatan

terhadap

kegiatan

yang

sedang

berlangsung,

(Sukmadinata, N. S, (2011). Selanjutnya dijelaskan bahwa teknik studi dokumen merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisa dokumen-dokumen tertulis gambar maupun elektronik.
9. Analisis Data

Berdasarkan sifat data yang dikumpulkan, analisis data hasil penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk data yang dapat diklasifikasi dalam bentuk angka-angka. Analisis kualitatif digunakan untuk data yang bersifat uraian kalimat (data narartif) yang tidak dapat diubah dalam bentuk angka-angka. Data yang bersifat kauntitaif pada penelitian deskriptif mutlak dianalisa dengan mengguakan statistis. Statistik deskriptif digunakan menganalisa data yang bersifat kuantitatif dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data apa adanya. Statistik deskriptif bisa berupa rata-rata hitung (mean), median, modus, kadang-kadang persentase dll. Menurut Sugiono, (2010), statistik deskriptif juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan antar variabel melalui analisis korelasi, melakukan prediksi dengan analisi regresi dan membuat perbandingan dengan membandingkan rata-rata data sampel atau populasi.
10.Menarik Kesimpulan atau Generalisasi

Akhirnya dalam kesimpulan harus mencerminkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Jangan sampai antara masalah penelitian, tujuan penelitian, landasan teori, data, analisis data dan kesimpulan tidak ada runtutan yang jelas. Jika rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian deskriptif hanya ingin menjelaskan suatu fenomena secara deskriptif maka kesimpulan yang dikemukakan hanya bersifat deskriptif. Jika peneltian deskriptif yang bersifat membandingkan atau mencari hubungan maka kesimpulan akhir menggambarkan adanya perbedaan atau hubungan terkait dengan masalah yang diteliti.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Ary, Donald., et al. 2010. Introduction to Research in Education (8th ed). Wadsworth: Cengage Learning. Asikin, Moh. Khoirul Anwar, dan Pujiadi. 2009. Cara Cepat & Cerdas Menguasai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagi Guru. Semarang : Manunggal Karso. Khoiri,Nur. 2009. Model dan Jenis dalam Penelitian. Jepara : INISNU. Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Jakarta : Alfhabeta Mulyatiningsih, Endang.2012.Modul Penelitian Tindakan Kelas. (online) (diakses 16 Maret 2013)(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dra-endang-mulyatiningsihmpd/8cmetode-penelitian-tindakan-kelas.pdf)