Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Penelitian
Dalam perkembangan dunia eksplorasi seiring dengan berkembangannya
teknologi yang bergerak pada bidang itu salah satunya adalah Metoda
geolistrik.merupakan salah satu metoda geofisika untuk menyelidiki kondisi bawah
permukaan, yaitu dengan mempelajari sifat aliran listrik pada batuan di bawah
permukaan bumi. Penyelidikan ini meliputi pendeteksian besarnya medan potensial,
medan elektromagnetik dan arus listrik yang mengalir di dalam bumi baik secara
alamiah (metoda pasif) maupun akibat injeksi arus ke dalam bumi (metoda aktif) dari
permukaan. Metode geolistrik mempunyai prinsip dasar mengirimkan arus ke bawah
permukaan, dan mengukur kembali potensial yang diterima di permukaan.
Polarisasi adalah kemampuan batuan untuk menciptakan atau menyimpan
sementara energi listrik, pada umumnya lewat proses elektrokimia. Induksi polarisasi
adalah efek yang muncul saat batuan terinduksi oleh energi listrik yang ditimbulkan
oleh arus listrik yang melalui batuan, dan batuan itu menyimpan induksi untuk
sememtara (Nurhakim, 2006). Jadi metode Induksi Polarisasi adalah metode yang
didasarkan atas fenomena polarisasi yang terjadi di dalam suatu medium rena itulah .
Oleh perlu adanya pengetahuan pengolaha data metode induksi polarisasi.

I.2. Maksud dan Tujuan
Penelitian ini di maksudkan agar mengetahui dalam pengolahan data induksi
polarisasi baik menggunakan software maupun secara manual serta memahami
tahap-tahap pengolahan datanya.
Tujuan dari penelitian ini adalah dapat membuat penampang yang dibuat
menggunakan software atau manual dan dapat menginterpretasikanya dalam bentuk
skala rentang resisitivitas dan chargebilitas
I.3. Batasan Masalah
Pada penelitian induksi polarisasi kali praktikan hanya dibatasi pada
pengolahan data serta interpretasi data Induksi Polarisasi konfigurasi dipole-dipole
2

dalam bentuk penampang resistivitas. Membuat penampang secara surfer maupun
manual dan mengidikasikan kandungnya .
Pengolahan data didapatkan dari data mentah lapangan yang tidak diketahui
lokasinya sehingga dalam hal ini hanya mengetahui hasil dari pengerjaan.

























3

BAB II
DASAR TEORI


Metode resistivitas merupakan salah satu metode yang relative baru dalam
dunia eksplorasi geolistrik. Sesuai dengan namanya metode resistivitas mengukur
adanya tahanan listrik di dalam medium karena pengaruh dari arus listrik yang
melalui medium. Polarisasi banyak terjadi pada medium yang banyak mengandung
mineral (misalnya senyawa sulfida logam), sehingga metode ini banyak digunakan
dalam eksplorasi mineral (base metal), dan jarang sekali digunakan untuk ekslporasi
air tanah. Metode ini menggunakan empat elektroda (standar), dalam surveynya.
Arus searah dimasukkan melalui dua elektroda arus, kemudian beda potensial diukur
pada dua elektroda potensialnya.

II.1 Pembagian Metode Geolistrik
Metode geolistrik dibagi menjadi 2 yaitu metode aktif dan metode pasif.
Metode aktif adalah metode yang menggunakan penginjeksian arus listrik kedalam
bumi, metode ini terdiri dari :
- Metode Resistivity
- Metode Induksi Polarisasi
- Metode Mise-Ala-Mase
Sedangkan metode pasif adalah metode tanpa menggunakan penginjeksian
arus listrik terlebih dahulu, metode ini memanfaatkan arus listrik yang telah ada
didalam bumi (khususnya pada batuan). Metode ini terdiri atas :
- Metode Self Potensial
Metode resistivitas Konfigurasi dipole-dipole biasa dilakukan untuk
mengetahui kecenderungan harga resistivitas batuan di suatu areal tertentu. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui penyebaran batuan yang resistive di bawah permukaan
secara lateral dari harga resistivitas yang dapat di asosiasikan dengan adanya zona
mineralisasi, intrusi, dan struktur geologi.
II.2 Metoda Polarisasi Terimbas (IP)
4

Metoda Polarisasi terimbas adalah salah satu metoda Geofisika Eksplorasi
yang digunakan untuk mencari bijih bijih mineral logam dalam bumi. Dasar metoda
ini adalah mendeteksi terjadinya polarisasi listrik pada permukaan logam dengan
mengalirkan arus listrik ke dalam tanah. Dengan metoda polarisasi terimbas dapat
terlihat fenomena elektrokimia, dan dari kurva responnya dapat terlihat informasi
yang spesifik, seperti misalnya terlihat harga IP yang postif maupun negatif.
Kandungan mineral di bawah permukaan berdasarkan proses terjadinya mempunyai
bentuk yang bermacam- macam, misalnya lapisan-lapisan, bola, silinder, dll. Dimana
untuk dapat mengetahui berbagai bentuk sampel diatas maupun parameter parameter
fisis sampel perlu dilakukan pemodelan. Pemodelan dilakukan dengan melihat
hubungan antara chargeabilitas dan jarak lateralnya. Persen kontras chargeabilitas
tertinggi didapat pada harga X=0 (tepat berada diatas sampel). Besarnya kontras
resistivitas/konduktivitas antara sampel dengan latar belakang, kedalaman sampel,
maupun jejari sampel sangat mempengaruhi harga persen kontras chargeabilitas.
Polarisasi terimbas adalah salah satu metode geofisika (geolistrik) yang
menggunakan aliran listrik dalam melakukan survey. Efek polarisasi tergantung pada
jenis konduksi dalam batuan. Jika ada aliran arus listrik, maka dekat permukaan
mineral akan terjadi pengakumulasian ion ion bernuatan negatif dan positif , karena
ion negatif dari medan listrik yang melaluinya tertahan oleh ion positif di dekat
permukaan mineral tersebut. Di bagian lain dekat pengakumulasian terjadi
kekurangan muatan. Dari sini terjadi gradien konsentrasi ion ion yang menentang
arus listrik yang melewatinya dan gejala ini disebut polarisasi.
Polarisasi terimbas ini juga dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a. Polarisasi Elektroda
Polarisasi ini dinamakan juga polarisasi elekitronik atau polarisasi logam.
Polarisasi ini terjadi karena adanya beda tegangan, antara ion negatif dan ion positif.
Beberapa ion negatif bergerak kekiri dan ion positif bergerak kekanan di bawah
pengaruh medan potensial. Dalam butiran sulfida, konduksi disebabkan oleh elektron
elektron, sehingga aliran arus berubah dari ionik menjadi elektronik pada
permukaan mineral.
b. Polarisasi Membran
5

Polarisasi ini juga dinamakan polarisasi elektrolitik atau polarisasi bukan
logam. Polarisasi ini dapat terjadi pada pori pori batuan meskipun tanpa aliran arus
karena diakibatkan oleh mineral yang bermuatan negatif karena strukturnya berupa
lembaran silika alumina, sehingga muatan negatif ini menarik ion ion positif dan
terbentuk awan ion positif di sekitar permukaannya dan meluas pada elektrolit.
Pengakumulasian muatan akan menghambat jalannya arus listrik yang melaluinya
sehingga terjadilah hambatan ionik sepanjang pori-pori batuan yang ada mineral
lempungnya.
Dalam metode polarisasi terimbas, terdapat dua macam fenomena yang
menyebabkan timbulnya gejala ini. Diantaranya adalah :
- Fenomena Elektrokimia
Fenomena ini terjadi karena adanya reaksi dan perubahan kimia di dalam
suatu mineral akibat dialirkannya arus listrik ke dalam tanah dan berinteraksi dengan
larutan yang ada dalam suatu pori-pori batuan, sehingga akan terjadi beda potensial
antar permukaan elektroda dengan lautan tersebut. Maka antara pori-pori batuan
dengan elektroda berada dalam kesetimbangan reaksi.
- Fenomena Elektrokinetik
Fenomena ini terjadi tanpa adanya suatu reaksi kimia, hal ini dapat
dicontohkan pada clay ( lempung ). Mineral clay dalam batuan memiliki muatan
negatif yaitu pada bidan batas antara muka permukaan batuan dan larutan pori.
Sehingga menyebabkan ion dalam IP, arus terkontrol dialirkan ke dalam tanah.
Untuk memperoleh suatu data, pengukuran polarisasi terimbas ini dapat
dilakukan dengan tiga macam cara, diantaranya :

- Domain waktu ( Time Domain )
Jika arus listrik dialirkan ke tanah dan kedua kedua elektroda diamati, akan
terlihat bahwa tegangan tidak segera turun menjadi nol setelah arus dimatikan, akan
tetapi menurun secara perlahan lahan (decay) menjadi nol. Kedalam tanah dialirkan
arus listrik berbentuk persegi panjang. Jika arus listrik dihentikan, maka terjadi
peluruhan potensial antara kedua elektroda tersebut. Amplitudo tegangan yang turun
secara perlahan lahan tersebut merupakan ukuran dari efek polarisasi terimbas.
- Domain Frekuensi ( Frequency Domain )
6

Dalam cara ini, arus yang dimasukkan ke dalam tanah dilakukan dengan
frekuensi yang berbeda. Dari respon pada frekuensi yang berbeda ini, tercermin sifat
polarisasi dari mineral dalam bumi.
Pengukuran fase dalam IP dinyatakan sebagai perbedaan sudut fase
diantara sinyal tegangan yang diterima dan bentuk gelombang arus yang masuk,
dengan asumsi keduanya berbentuk gelombang sinusoidal. Jika arus yang masuk
merupakan gelombang persegi pengukuran fase dinyatakan sebagai sudut fase
diantara gelombang harmonik fundamental dari sinyal yang dikirim dan yang
diterima. Pengukuran fase memerlukan suatu sinyal referensi di antara pengirim dan
penerima. Sudut-sudut fase dinyatakan dalam miliradian. Sehingga dapat dikatakan
cara ini mengukur sudut fasa antara masukan arus ke dalam tanah dengan tegangan
keluaran yang diamati.
Dari sifat bilangan kompleksnya, maka resistifitas dapat dituliskan dalam
bentuk :

Z = X + iY
= Re + i Im

II.3 Konfigurasi Elektroda
Berdasarkan cara pengukurannya di lapangan konfigurasi elektroda dibagi
menurut susunan elektroda arus dan potensial berdasarkan target dari
pengukurannya, :
- Konfigurasi Schlumberger
- Konfigurasi Dipole-dipole
- Konfigurasi Wenner
- Konfigurasi Pole-pole
- Konfigurasi Pole-dipole
Pembagian konfigurasi elekroda adalah berdasarkan dari target pengukuran,
dimana dibagi menjadi dua bagian yaitu mapping dan sounding,:
- Mapping adalah pengukuran variasi resistivitas bawah permukaan secara
lateral dan vertikal.
- Sounding adalah pengukuran variasi resistivitas batuan secara vertical
7

Metode resistivitas menggunakan pengukuran konfigurasi dipole-dipole
dilakukan dengan metode mapping yaitu pengukuran dengan spasi elektroda yang
konstan dengan menggunakan konfigurasi dipole-dipole,dimana elektroda arus dan
potensial bergerak bersama-sama sehingga diperoleh harga tahanan jenis secara
lateral (horizontal) spasi elektroda yang digunakan akan menentukan kedalaman
target yang akan dicapai. Konfigurasi elektoda dipole-dipole memiliki nilai faktor
geometri:
K = (1 + n)(2+n)n.r
Data-data resistensi yang terukur diplot pada titik-titik yang sesuai dengan
harga n = 1,2,3,4n dengan kedalaman semu sehingga dapat dibuat kontur
pseododepth section variasi resistivitas ke arah lateral dan vertikal.
Konfigurasi dipole-dipole telah banyak diterapkan dalam eksplorai mineral-
mineral sulfida dan bahan tambang dengan kedalaman yang relatif dangkal. Dimana
hasil akhir yang berupa profil secara vertical dan horizontal.

Gambar III.1. Konfigurasi elektroda dipole-dipole






I V
r1
r2
r3
r4
C2 C1 P1
n. r
r r
P2
( )( )
(
(
(
(
(
(
(
(

+ + =
|
.
|

\
|
+ + =
)
`

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
n.r n 1 n 2 k
I
V
n)n.r n)(1 (2
r4
1
r3
1
r2
1
r1
1
2
I
V
8

Keterangan:
r
1
= C
1
sampai P
1
r
2
= C
2
sampai P
1

r
3
= C
1
sampai P
2
r
4
= C
2
sampai P
2

I = Arus Listrik (mA) pada transmitter = Resistivitas semu
V = Beda potensial (mV) pada reciver k = faktor geometri
r = jarak elektroda n = bilangan pengali


























9

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1. Alat-alat yang digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Milimeter blok
2. Pensil
3. Penggaris
4. Lembar data induksi polarisasi konfigfurasi dipole-dipole
5. Pensil warna
6. Penghapus
7. Bolpoin

III.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk praktikum pengolahan data IP, dilakukan pada hari senin, 04 Oktober
2010. Pukul 18.30 WIB. Berlokasi di Ruang Kelas NAS D II.3, Jurusan Teknik
Geofisika, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembanguan Nasional Veteran
Yogyakarta.
III. Pengolahan Data
Pengolahan data dari metode IP(induksi polarisasi) konfigurasi dipole-dipole
mungkin sama saja dengan pengolahan data metode resistivity hanya di bedakan
adanya nilai chargebility pada metode Induksi polerisasi untuk itu rumus yang di
gunakan dalam pengolahan data Induksi polarisasi sama dengan metode resistivity
yaitu sebagai berikut : :
1. Tegangan Primer (Vp)
2. Tegangan primer diukur pada saat arus diinjeksikan ke medium bumi.
Hal ini dilakukan untuk mengkompensasikan deformasi tegangan
primer pada beberapa medium yang memiliki efek IP cukup besar,
10

ketidakstabilan transmisi dan noise. Harga tegangan primer akan terus
dirata-ratakan selama durasi pengukuran untuk meningkatkan kualitas
sinyal.
3. (Mx) Chargeability
Parameter IP kawasan waktu ini akan diukur selama arus tidak
ditransmisikan kemedium bumi. Syscal akan membagi peluruhan
tegangan dalam kawasan waktu menjadi bagian-bagian menurut
rentang waktu tertentu (preset) maupun
dalam selang waktu yang ditentukan oleh pengguna. Chargeability
dihitung dengan persamaan sebagai berikut :


4. Faktor Geometri (K)
Perhitungan faktor geometri (K) didasarkan pada rumusan distribusi
potensial pada Dipole arus.


5. Resistivitas semu
Dihitung dengan persamaan berikut :




Pengolahan data manual adlah sebagai berikut :
1. Dari nilai V dan I yang terukur pada alat didapatkan nilai R dengan
perhitungan manual, harga R didapatkan dari hasil bagi antara nilai V
yang terukur dan nilai I.
2. Kemudian menghitung nilai K dengan rumus penentuan nilai K menurut
konfigurasi dipole- dipole.
( )dt t V
V
s
t
t
} = M
2
1
1
|
|
.
|

\
|
+ = A
2 2 1 2 2 1 1 1
1 1 1 1
2 P C P C P C P C
I
V
t

( )
o

I
K =
p
V
o

11

3. Nilai R dan K yang diperoleh dari perhitungan digunakan untuk mencari
resistivity () yaitu dengan mengalikan nilai R dengan nilai K.
4. Mengolah data secara manual.
5. Mengolah data menggunakan Res2dinv untuk membuat penampang
resistivity dengan menggunakan rho
Pengolahan data lapangan menggunakan Software Surfer 8
1. Masuk ke dalam software Surfer 8 pilih File, New, WorkSheet dan copy
data datum,lapisan, data resistivitas lapisan, data chargearbilitas
batuan/lapisan..
2. Memilih file, New, Plot Document.
3. Save dengan type *dat.
Pengolahan data lapangan menggunakan Software RES2DINV
1. Memilih file dan pilih read data file
2. Memilih inversion pilih least-squares inversion
3. Memasukkan iterasi maksimal 5 kali
4. Memilih show Inversion result dan pilih iterasi yang paling kecil nilai
error-nya
5. Memilih disply section dan memilih choose resistivity lalu memilih
disply data and models sections
6. Kemudian akan keluar hasil penampang resistivitas
7. Untuk menampilkan mode restivitas dan chargeabilitas, pilih display
section, kemudian chosse resistivity or IP display, masukkan nilai error
yang paling kecil pada waktu iterasi sebelumnya.
8. Kemudian akan muncul hasil resisitivitas dan chargeabilitas lalu save
dalam format JPEG.

Setelah data di import ke surfer maka data akan diolah menggunakan
RES2Dinv yang akan menghasilkan penampang resistivitas batuan bawah
permukaan.



12

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil
Tabel IV.1. Tabel data IP
n C1 C2 P1 P2 I (mA) dV (mV) R (ohm) K Res.Semu M
1 0 10 20 30 5,00 16,80 3,360 37,68 126,605 5,5
1 10 20 30 40 4,99 13,90 2,786 37,68 104,960 3,7
1 20 30 40 50 4,99 10,60 2,124 37,68 80,042 4,3
1 30 40 50 60 4,99 11,90 2,385 37,68 89,858 4,3
1 40 50 60 70 4,99 12,20 2,445 37,68 92,123 6,3
1 50 60 70 80 4,99 0,60 0,120 37,68 4,531
4,4
1 60 70 80 90 4,99 10,90 2,184 37,68 82,307 4,7
1 70 80 90 100 4,65 10,50 2,258 37,68 85,084 4,8
1 80 90 100 110 4,99 19,30 3,868 37,68 145,736 3,9
1 90 100 110 120 4,99 2,81 0,563 37,68 21,219 5
2 0 10 30 40 5,00 0,54 0,108 150,72 16,278 6,7
2 10 20 40 50 4,99 0,67 0,134 150,72 20,237
-3,8
2 20 30 50 60 4,99 1,06 0,212 150,72 32,017 3,7
2 30 40 60 70 4,99 2,18 0,437 150,72 65,846 5,4
2 40 50 70 80 4,99 0,93 0,186 150,72 28,090 55
2 50 60 80 90 4,99 0,24 0,048 150,72 7,249 14,8
2 60 70 90 100 4,99 4,08 0,818 150,72 123,234 5,4
2 70 80 100 110 4,71 1,20 0,255 150,72 38,400
4,5
2 80 90 110 120 4,99 0,40 0,080 150,72 12,082 -46,8
3 0 10 40 50 5,00 0,43 0,086 376,8 32,405 5,7
3 10 20 50 60 4,99 0,96 0,192 376,8 72,491 3,5
3 20 30 60 70 4,99 0,61 0,122 376,8 46,062 4,9
3 30 40 70 80 4,99 0,06 0,012 376,8 4,531 4,8
3 40 50 80 90 4,99 0,37 0,074 376,8 27,939
42
3 50 60 90 100 4,99 0,66 0,132 376,8 49,837 3,8
3 60 70 100 110 4,99 0,04 0,007 376,8 2,643 5,1
3 70 80 110 120 4,74 0,36 0,076 376,8 28,618 3,8
4 0 10 50 60 5,00 1,57 0,314 753,6 236,630 -20,7
4 10 20 60 70 4,99 0,47 0,094 753,6 70,980 4,9
4 20 30 70 80 4,99 0,70 0,140 753,6 105,715
4,3
4 30 40 80 90 4,99 0,92 0,184 753,6 138,940 8,2
13
















4 40 50 90 100 4,99 0,22 0,044 753,6 33,225 57
4 50 60 100 110 4,99 0,16 0,032 753,6 24,164 3,5
4 60 70 110 120 4,99 0,06 0,012 753,6 9,061 4,6
5 0 10 60 70 5,00 1,32 0,264 1318,8 348,163
69,7
5 10 20 70 80 4,99 0,15 0,030 1318,8 39,643 -12
5 20 30 80 90 4,99 0,20 0,040 1318,8 52,858 4,8
5 30 40 90 100 4,99 1,33 0,267 1318,8 351,504 4,8
5 40 50 100 110 4,99 0,22 0,044 1318,8 58,143
6
5 50 60 110 120 4,99 0,20 0,040 1318,8 52,858 3,2
6 0 10 70 80 4,99 0,22 0,044 2110,08 93,030 14,8
6 10 20 80 90 4,99 1,46 0,293 2110,08 617,378
7,3
6 20 30 90 100 4,99 0,59 0,118 2110,08 249,488 1,5
6 30 40 100 110 4,99 0,56 0,112 2110,08 236,803
-3,1
6 40 50 110 120 4,99 0,30 0,060 2110,08 126,859
7,3
14

Penampang resistivitas dan chargeability


Gambar IV.1. Penampang Chargebility dan Resistivity




15

IV.2. Pembahasan
Dalam pengolahan data menggunakan surfer di dapatkan 2 penampang yaitu
penampang resistivity dan penampang chargebility setelah interpretasi data.
Penampang yang di hasilkan dari pengolahan surfer kemudian di indikasikan
sebagai kandung yang terdapat di bawah permukaan. Pada penampang software
untuk resistivitas terdapat beberapa anomaly yaitu diantaranya pada meteran ke 15 _
40 dengan kedalaman 1,71 6,13 ditandai dengan warrna merah sampai oranye.dan
juga terdapat pada meteran ke 20 75 pada kedalaman 12,7- 17 .Pada meteran 12,7
17,1 terdapat resistivitas sedang dengan warna oranye. Dan sebagian dari penampng
merupakan resisitivitas rendah ditandai dengan warna hijau sampai biru dengan
rentang resistivitas 0- 53,8 Ohm.m
Untuk penampang chargebility software didapatkan harga anomali
chargebiliry pada meteran 55- 65 pada kedalaman 8,72 12,7 yang ditandai dengan
warna merah, tetapi sebagian besar yang tergambar pada penampang chargebility
adalah harga chargebility rendah dengan rentang antara -43 sampai 15,1 ditunjukan
dengan warna hijau.
Dalam hal ini juga dilakukan perhitungan secara manual untuk resistivity dan
chargebility. Dimana pada penampang manual resistivity menunjukan keterdapatan
anomaly resistivitas pada kedalaman 25 -30 meter pada meteran ke30 70 yang
ditunjukan dengan warna merah. Dan sebagian lainya adalah dengan resisitivitas
rendah dengan rentang 0- 175 ohm.m.pada penampang resisitivity software dan
manual terdapat banyak perbedaan karena penampang pada software memiliki error
yang sanagt tinggi yaitu 95,1 % sehingga terdapat perbedaan bentuk yang sanagt
jelas.
Sedangkan pada penampang manul chargebility terdapat anomali chargebility
pada meteran 55- 65 dan kedalaman 15-25 yang ditunujkan dengan warna merah dan
juga terdapat pada meteran 15-20 pada kedalaman35-40. Pada penampang manual
dan software chargebility tidak terdapat banyak perbedaan karena error yang tidak
besar pada penampang software.

16

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan
Berdasarkan data yang di olah mengunakan surfer yang kemudian di dapatkan 2
penampang yaitu penampang resistivity dan penampang chargeability.
Untuk penampang resisitivity di dapatkan kesimpulan yaitu :
- warna biru dengan nilai resistivity 1,9-85 ohm.m yang terletak pada jarak 16-
20 m pada kedalaman 10,5- 35 m. .
- warna hijau dengan nilai resistivity 5,5 174,5 ohm.m pada jarak 15-105
dengan kedalaman 15 20 m
- warna kuning dengan nilai resisitivity 175 - 268 0hm.m terletak pada jarak 14
30 -75 m dengan kedalaman 30 40 m
- warna merah dengan nilai hambatan 265,5 - 350 ohm.m berada pada jarak
13-68 m dengan kedalaman 35 40 m
Untuk penampang chargeability di dapatkan kesimpulan bahwa untuk
lapiasan warna merah dengan nilai chargeability 45 - 65 msec pada jarak 55-65 m
pada kedalaman 25 30 m diindikasikan sebagai anomali.chargebility.
V.2. Saran
Ketelitian pada saat pengolahan data manual maupun software serta pada
saat interpretasinya. Sehingga untuk kedepanya mendapatkan hasil dan korelasi yang
lebih baik lagi di antara keduanya.
Penguasaan lebih banyak tentang software RES2Dinv lebih ditingkatkan lagi
sehingga akan menimbulkan akurasi dan efisisensi yang lebih baik lagi..