Anda di halaman 1dari 12

Proses Penularan DBD pada Masyarakat

Andreas Kresna 10 2010 090 C2 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Pendahuluan

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit endemik yang berada di Indonesia, khususnya berada di pulau Jawa. Kasus DBD terus ada sepanjang tahun di daerah Tropis, terutama pada musim penghujan, dimana banyak genangan air yang tidak tercemar oleh tanah menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Dalam tinjauan pustaka ini, akan dibahas mengenai proses perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dari mulai telur hingga dewasa, dan bagaimana cara penyebaran dan penularan virus dengue ke manusia. Selain itu juga akan dibahas mengenai bagaimana cara pencegahan penularan penyakit demam berdarah yang harus dilakukan oleh puskesmas khususnya yang berada di daerah yang sulit terjangkau.

Alamat Korespondensi : Andreas Kresna Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara no. 6, Jakarta Email : Andreas_kresna@yahoo.com
1

A. Pengertian Demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan hemoragik. DBD adalah penyakit yang ditandai oleh empat manifestasi klinis utama yaitu demam tinggi, fenomena pendarahan, sering disertai oleh hepatomegali dan pada keadaan berat terjadi tanda-tanda kegagalan sirkulasi. DBD adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan tipe I-IV dengan manifestasi klinis 5-7 hari disertai gejala pendarahan dan jika timbul tengatan, angka kematiannya cukup tinggi. 1

B. Epidemiologi 1. Agent (penyebab penyakit) Virus dengue termasuk genus Flavivirus dari keluarga Flaviviridae. Virus yang berukuran kecil (50 nm) ini mengandung RNA berantai tunggal. Virionnya mengandung nukleokapsid berbentuk kubus yang terbungkus selubung lipoprotein. Genome virus dengue berukuran panjang sekitar 11.000 pasangan basa, dan terdiri dari tiga gen protein struktural yang mengodekan nukleokapsid atau protein into (core, C), satu protein terikat membrane (membrane, M), satu protein penyelubung (envelope, E), dan tujuh gen protein nonstructural (nonstructural, NS). Selubung glikoprotein berhubungan dengan hemaglutinasi virus dan aktivitas netralisasi. Virus dengue membentuk kompleks yang khas di dalam genus Flavivirus berdasarkan karakteristik antigenik dan biologisnya. Ada empat serotipe virus yang kemudian dinyatakan sebagai DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Infeksi yang terjadi dengan serotipe manapun akan memicu imunitas seumur hidup terhadap serotype tersebut. Walaupun secara antigentik serupa, keempat serotipe tersebut cukup berbeda di dalam menghasilkan perlindungan silang selama beberapa bulan setelah terinfeksi salah satunya. Virus dengue dari keempat serotipe tersebut juga dihubungkan dengan kejadian epidemi demam dengue saat bukti yang ditemukan tentang DHF sangat sedikit atau bahkan tidak ada.

Keempat virus serotipe tersebut juga menyebabkan epidemic DHF yang berkaitan dengan penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan.1 2. Vektor Virus dengue ditularkan dari satu orang ke orang lain oleh nyamuk Aedes (Ae.) dari subgenus Stegomyia. Ae. aegypti merupakan vektor epidemik yang paling penting, sementara spesies lain seperti Ae. albopictus, Ae. polynesiensis, anggota kelompok Ae. Scutellaris, dan Ae. (Finlaya) niveus juga diputuskan sebagai vektor sekunder. Semua spesies tersebut, kecuali Ae. aegypti memiliki wilayah penyebarannya sendiri, walaupun mereka merupakan vektor yang sangat baik untuk virus dengue, epidemi yang ditimbulkannya tidak separah yang diakibatkan oleh Ae. aegypti. 1

Gambar 1. Proses perkembangan biakan Aedes aegypti

3. Host (Pejamu) Virus dengue menginfeksi manusia dan beberapa spesies primata yang lebih rendah. Manusia merupakan reservoir utama virus di wilayah perkotaan. Penelitian yang dilakukan di Malaysia dan Afrika menunjukkan bahwa bangsa kera juga dapat terinfeksi dan kemungkinan merupakan pejamu reservoir walaupun signifikansi epidemiologik dari observasi tersebut tetap

dibuktikan. Strain virus dengue dapat tumbuh dengan baik pada kultur jaringan serangga dan sel mamalia setelah diadaptasikan.1 Infeksi sekunder dengue merupakan faktor risiko untuk DHF, termasuk juga antibodipasif pada bayi. Strain virus juga merupakan faktor risiko untuk terkena DHF, tidak semua tipe liar virus berpotensi menimbulkan epidemi atau mengakibatkan kasus yang parah. Terakhir, usia pasien dan genetik pejamu juga termasuk faktor risiko terhadap DHF. Walaupun DHF dapat dan memang menyerang orang dewasa, kebanyakan kasusnya ditemukan pada anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun, dan bukti tidak langsung memperlihatkan bahwa beberapa kelompok di masyarakat mungkin justru lebih rentan terhadap sindrom pecahnya pembuluh darah daripada kelompok lainnya.1 Mobilitas penduduk akan memudahkan penularan dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Karena penyakit biasanya menjalar dimulai dari suatu pusat sumber penularan (kota besar), kemudian mengikuti lalu-lintas (mobilitas) penduduk. Semakin tinggi mobilitas, semakin besar kemungkinan penyebaran penyakit DBD. Pendidikan akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan dan cara pemberantasan yang dilakukan. Hal ini berkaitan engan pengetahuan. 1

4. Transmisi Nyamuk Aedes (Stegomyia) betina biasanya akan terinfeksi virus dengue saat menghisap darah dari penderita yang berada dalam fase demam (viremik) akut penyakit. Setelah masa inkubasi ekstrinsik selama 8 sampai 10 hari, kelenjar air liur nyamuk menjadi terinfeksi dan virus disebarkan ketika nyamuk yang infektif menggigit dan menginjeksikan air liur ke luka gigitan pada orang lain. Setelah masa inkubasi pada tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 46 hari), sering kali terjadi awitan mendadak penyakit ini, yang ditandai dengan demam, sakit kepala, mialgia, hilang nafsu makan, dan berbagai tanda serta gejala nonspesifik lain termasuk mual, muntah, dan ruam kulit.1 Viraemia biasanya ada pada saat atau tepat sebelum awitan gejala dan akan berlangsung selama rata-rata 5 hari setelah awitan penyakit. Ini merupakan masa yang sangat kritis karena pasien berada dalam tahap yag paling infektif untuk nyamuk vektor ini dan akan berkontribusi dalam mempertahankan siklus penularan jika pasien tidak dilindungi dari gigitan nyamuk.1

Ada bukti yang memperlhatkan bahwa penularan vertikal virus dengue dari nyamuk betina yang terinfeksi kepada anak-anaknya ditemukan terjadi pada beberapa spesies termasuk Ae.aegypti dan Ae.albopictus. ini mungkin merupakan mekanisme yang penting bagi virus untuk bisa bertahan, tetapi dalam kejadian epidemi tampaknya tidak terlalu penting.1

5. Lingkungan Lingkungan yang terkait dalam penularan penyakit DBD adalah tempat penampungan air / keberadaan kontainer, sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, ketinggian tempat suatu daerah mempunyai pengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk dan virus DBD. Di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut tidak ditemukan nyamuk Aedes aegypti, curah hujan pada musim hujan yang di atas normal merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang pada musim kemarau tidak terisi air, mulai terisi air. Telur-telur yang belum sempat menetas, dalam tempo singkat akan menetas, dan kelembaban udara juga akan meningkat, yang akan berpengaruh bagi kelangsungan hidup nyamuk dewasa, dimana selama musim hujan, jangka waktu hidup nyamuk lebih lama dan berisiko penularan virus lebih besar.1

C. Promosi Kesehatan untuk DBD Strategi Promosi Kesehatan Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perlu dilaksanakan strategi promosi kesehatan paripurna yang terdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan.2 Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna membantu individu, keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS. Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan sosial yang kondusif dan mendorong dipraktikkannya PHBS serta penciptaan panutan-panutan dalam mengadopsi PHBS dan melestarikannya.2 Sedangkan advokasi adalah pendekatan dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu yang diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari segi materi maupun non materi.2
5

Penyebarluasan Informasi Kesehatan Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara mencegah, serta cara menanggulangi DBD, termasuk didalamnya mengenai Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta informasi rujukan bagi penderita DBD.2 Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu: Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu, kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan Karang Taruna. Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat, kesenian tradisional, pemutaran film, ceramah umum, tablig akbar. Selain itu, penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempattempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas dan lain-lain).2

Pemberdayaan dan Penggerakan Masyarakat 1. Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. 2. Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali. 3. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal seminggu sekali di tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat-tempat umum, tatanan tempat kerja, dan tatanan institusi kesehatan. 4. Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. 5. Mengaktifkan Poskesdes. 6. Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi DBD.2,3

Pembinaan

1. Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait DBD. 2. Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah, terutama di wilayah potensial kejadian DBD. 3. Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempattempat umum, tatanan tempat kerja, dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.2,3

D. Prevention 1. Pencegahan Primer (Primary Prevention) Sasaran pencegahan primer dapat ditujukan pada faktor penyebab terjadinya DBD, lingkungan serta faktor pejamu. Pencegahan primer yang dapat dilakukan oleh seorang perawat komunitas adalah dengan cara memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang pencegahan penyakit DBD. Tujuan dari pencegahan primer adalah agar tidak terjadi penyakit DBD di masyarakat.4

2. Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention) Peran perawat komunitas dalam pencegahan sekunder adalah melakukan diagnosis dini pada penderita DBD dan memberikan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah DBD dan agar tidak timbul komplikasi pada penderita yang ditimbulkan oleh penyebab DBD.4

3. Pencegahan Tersier (Tertiary Prevention) Peran perawat komunitas dalam pencegahan tersier adalah mencegah bertambah parahnya suatu penyakit, dan mencegah penderita DBD mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Perawat juga berperan dalam proses rehabilitasi untuk mencegah terjadinya efek samping dari proses penyembuhan penyakit DBD.4

E. Program Kerja Puskesmas Pencegahan DBD yang mencakup : 1. Pemberantasan nyamuk dewasa
7

Upayakan membersihkan tempat-tempat yang disukai oleh nyamuk (misal: menggantung baju bekas pakai), pasang kasa nyamuk pada ventilasi dan jendela rumah, penyemprotan dengan zat kimia, pengasapan dengan insektisida (fogging), memutus daur hidup nyamuk dengan menggunakan ikan cupang di tempat penampungan air. 2. Pemberantasan jentik nyamuk Dengan melakukan 3 M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) artinya kuras bak mandi seminggu sekali, tutup tempat penyimpanan air rapat-rapat, kubur kaleng, ban bekas, dll. Pada kolam atau tempat penampungan air yang sulit dikuras dapat ditaburkan bubuk ABATE. 3. Pedoman penggunaan bubuk ABATE (abatisasi) : 1 sendok makan peres (10 gram) untuk 100 liter air. Dinding jangan disikat setelah ditaburi abate, bubuk abate akan menempel di dinding bak / tempayan / kolam. Bubuk abate tetap efektif sampai 3 bulan. 4. Penyuluhan bagi masyarakat Karena DBD belum ada obat yang dapat membunuh virus dengue ataupun vaksin DBD, maka upaya untuk pencegahan DBD sangatlah penting. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sangatlah penting untuk pencegahan DBD. Gerakan PSN harus dilakukan secara bersamasama oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di rumah, di sekolah, di rumah sakit, dan tempattempat umum seperti tempat ibadah, makan, dll. Dengan demikian, masyarakat dapat mengubah perilaku hidup sehat terutama meningkatkan kebersihan lingkungan. 4 Pengendalian demam berdarah dengue Untuk pengendalian wabah DHF; dua operasi harus dilaksanakan secara simultan: pengendalian nyamuk darurat dan pengobatan pasien di rumah sakit. 1. Pengendalian nyamuk darurat Objektif dari tindakan ini adalah untuk menyingkirkan nyamuk terinfeksi dan untuk memutuskan siklus penularan dengan menurunkan populasi nyamuk sampai tingkat paling rendah selama waktu yang diperlukan untuk penyembuhan subjek viraemik. Pengendalian terhadap epidemik mungkin tidak dapat dikerjakan dengan mudah bila populasi Ae.aegypti dewasa tidak dapat dikurangi dengan cukup. Namun, penurunan terus-menerus populasi vektor akan tidak dapat dihindarkan mengakibatkan penurunan kasus. Langkah-langkah berikut harus dilaksanakan dengan segera bila diduga wabah dengue atau DHF:
8

Kampanye informasi untuk masyarakat harus dijalankan, menekankan karakteristik epidemiologi dasar dengue dan DHF dan tindakan-tindakan individu dapat dilakukan untuk menurunkan risiko infeksi, mis., tindakan protektif perorangan, penggunaan insektisida aerosol rumah tangga, upaya reduksi sumber di rumah dan di sekitar rumah.

Area geografik harus ditegaskan dalam upaya untuk menentukan luasnya operasi penyemprotan insektisida yang diperlukan. Untuk tujuan ini, kasus presumptive dengue dan DHF harus dikuatkan di laboratorium melalui pemeriksaan serologis.

Inventarisasi lokasi, kuantitas dan ketersediaan pestisida dan peralatan untuk penggunaannya harus dibuat.4

2. Manajemen perawatan klinis Suatu panitia pengorganisasian atau pengkoordinasian harus dibuat dan harus terdiri dari atas administrator, ahli epidemiologi, praktisi, ahli entomologi, dan pekerja dari laboratorium virus. Tanggung jawab dari panitia yang dibuat ini biasanya ditetapkan surat keputusan menteri kesehatan. Panitia harus : Menyusun dan mendistribusikan protocol untuk diagnosis klinis dan pengobatan DHF Menyiapkan dan menyebarkan informasi DHF untuk petugas perawatan kesehatan, masyarakat dan media massa. Merencanakan dan menerapkan program pelatihan untuk petugas perawatan kesehatan dan pembantunya (mis., staf rumah sakit, peserta didik kedokteran, perawat, teknisi lab) Mengkaji kebutuhan terhadap cairan intravena, obat-obatan, produk darah, peralatan perawatan intensif, materi penyuluhan dan peralatan untuk pemindahan pasien. Mengawasi penggunaan suplai dan hasil program perawatan klinis (setiap hari, bila perlu) Mengkoordinasikan penelitian klinis tentang DHF selama wabah.4

F. Cara Penemuan Penderita Surveilans aktif Tujuan sistem surveilans aktif adalah memungkinkan lembaga kesehatan setempat untuk memantau penyebaran dengue di dalam masyarakat dan mampu untuk menyatakan, kapan saja, tempat berlangsungnya penyebaran, kelompok serotipe virus yang bersirkulasi, dan jenis kesakitan yang berhubungan dengan infeksi dengue. Untuk mencapai sasaran ini, sistem yang
9

dilakukan harus bersifat aktif dan mendapat dukungan laboratorium diagnostik yang baik. Jika dikelola dengan efektif, sistem surveilans semacam ini pasti dapat memberikan peringatan dini atau memiliki kemampuan prediktif terhadap penyebaran epidemi penyakit ini. Rasionalnya adalah jika epidemi dapat diprediksikan, maka epidemi tersebut dapat dicegah.5 Sistem surveilans tipe proaktif seperti ini harus memiliki sedikitnya tiga komponen yang memberikan tekanan pada periode antar atau praepidemi, dan melibatkan jaringan dokter/ klinik jaga, sistem kewaspadaan demam yang memanfaatkan tenaga kesehatan masyarakat (kader, dan sistem penjagaan rumah sakit. Komponen dokter/klinik jaga dan sistem kewaspadaan dibutuhkan untuk memantau sindrom virus nonspesifik di dalam masyarakat. Komponen ini terutama penting bagi virus dengue karena virus sering kali menetap di pusat kota wilayah tropis di dalam siklus transmisi yang tersembunyi, sering kali tampak sebagai sindrom virus nonspesifik. Komponen dokter/klinik jaga dan sistem kewaspadaan demam juga sangat berguna untuk memantau penyakit infeksius lainnya. 5 Berlawanan dengan klinik/dokter jaga, yang memerlukan lokasi penjagaan untuk memantau sindrom virus secara rutin, sistem kewaspadaan terhadap demam mengandalkan tenaga kesehatan masyarakat, sanitasi dan tenaga bidang lainnya untuk menjadi waspada terhadap setiap peningkatan kasus demam yang terjadi dalam komunitas mereka dan untuk melaporkannya ke unit epidemiologi pusat departemen kesehatan. Investigasi selanjutnya harus dilakukan dengan segera, tetapi tetap fleksibel. Investigasi ini bisa berupa kontak telepon untuk tindak lanjut atau investigasi aktif yang dilakukan oleh ahli epidemiologis dengan mengunjungi wilayah yang terserang untuk mengambil sampel. 5 Komponen rumah sakit indikator harus didesain untuk memantau penyakit yang parah. Rumah sakit yang digunakan sebagai pusat jaga ini harus melibatkan semua rumah sakit di komunitas yang menerima pasein dengan penyakit infeksius parah. Jaringan kerja ini juga harus melibatkan semua dokter ahli penyakit menular yang biasanya mengajukan kasus semacam ini. Sistem ini dapat menargetkan semua jenis penyakit menular, tetapi khusus untuk dengue, sistem harus mencakup semua pasien yang mengalami manifestasi perdarahan, penyertaan diagonis ensefalitis virus, mengitis aseptik, dan/atau kematian setelah mengalami gejala awal penyakit virus. 5 Ketiga komponen surveilans ini memerlukan dukungan laboratorium kesehatan masyarakat yang baik untuk memberikan bantuan diagnostik di bidang virologi, bakteriologi,
10

dan parasitologi. Laboratorium ini tidak harus dapat menguji semua agens, tetapi harus mengetahui tempat rujukan untuk pengujian spesimen, misalnya ke badan kerjasama WHO untuk rujukan dan penelitian. 5 Sistem surveilans yang aktif didesain untuk memantau aktivitas penyakit selama periode antar epidemi tepat sebelum penyebaran semakin meningkat. Jika sendiri-sendiri, ketiga komponen tersebut tidak cukup sensitif untuk memberikan peringatan dini yang efektif, tetapi jika digabungkan, ketiga komponen itu sering kali dapat memprediksikan aktivitas epidemi secara akurat. Perlu ditekankan di sini bahwa begitu penyebaran epidemi berlangsung, sistem survelians aktif akan difokuskan kembali pada penyakit yang parah bukan pada sindrom virus. Sistem survelians harus didesain dan diadaptasikan sesuai wilayah yang akan menerapkan sistem ini. 5

G. Endemisitas Melakukan pemetaan kepadatan vektor penular DBD, kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa, termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan. 5

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan pengadaan obat anti nyamuk atau repellant melalui berbagai sumber pendanaan, baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. 5

Kesimpulan Demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan hemoragik. Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perlu dilaksanakan strategi promosi kesehatan yang terdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan. Dimana program kerja puskesmas terdiri dari pemberantasan nyamuk dewasa, pemberantasan jentik nyamuk, dengan melakukan 3 M (Menguras, Menutup, dan Mengubur), abatisasi dan penyuluhan bagi masyarakat.
11

Daftar Pustaka 1. Kalra NL. Panduan lengkap pencegahan dan pengendalian dengue dan demam berdarah dengue. Jakarta: EGC; 2005.h.1-12 2. Sulistyowati LS. Promosi kesehatan di daerah bermasalah kesehatan, panduan bagi petugas kesehatan di puskesmas. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2011.h.88-92 3. Makhfudli, Efendi F. Keperawatan kesehatan komunitas. Jakarta: Salemba Medika; 2009.h.135-138. 4. WHO. Demam berdarah dengue, diagnosis, pengobatan, pencegahan dan pengendalian. Ed.2. Jakara: EGC; 2007.h.97-9 5. Nadesul H. Cara mudah mengalahkan demam berdarah. Jakarta: Kompas; 2007.h.37-38.

12