Anda di halaman 1dari 23

Penapisan Fitokimia

Lia Marliani, M.Si., Apt.

Pemilihan Metode
a. Sederhana

b. Cepat

Peralatan yang diperlukan sedikit d. Selektif e. Kuantitatif : limit deteksi diketahui f. Jika mungkin, memberikan info tambahan mengenai ada/ tidaknya senyawa ttt dari golongan yg diperiksa
c.
(*sebagian besar baru terpenuhi a d)

Alkaloid
Memiliki atom N heterosiklik, bisa membentuk

kompleks dengan logam berat. Dalam bahan alam ada dalam bentuk bebas (basa) dan garamnya. Pereaksi : Mayer, Dragendrorff, Wagner, Buchardat, Hager, Scheibler, dsb. (*komponennya apa ???) Pengendapan

Pereaksi Pengendapan Alkaloid


Bereaksi dengan seny. basa (alkaloid) membentuk

garam tak larut, co : silicotungstic, phosphomolybdic, dan phosphotungstic. Bereaksi dengan alkaloid membentuk kompleks yang tak larut, melalui nitrogen alkaloid, co : Mayer, Dragendrorff, Wagner Reaksi asam organik dengan basa alkaloid membentuk garam tak larut.

Alkaloid
Sebanyak 2 gram sampel dilembabkan dengan

ammonia 25% v/v dan ditambahkan 20 mL kloroform, lalu digerus. Campuran disaring. Filtrat diekstraksi dengan HCl 10% v/v, kemudian diambil lapisan asamnya, dibagi ke dalam tiga tabung berbeda. Ke dalam masing-masing tabung tersebut ditambahkan beberapa tetes pereaksi Dragendroff, Mayer, dan Wagner. Reaksi positif jika pada penambahan pereaksi Dragendorf terbentuk endapan merah bata atau endapan putih pada pereaksi Mayer, atau terbentuk endapan coklat muda-kuning pada pereaksi Wagner.

Reaksi Mayer

Reaksi Wagner

Dragendrorff

Positif palsu Alkaloid


Tannin : mengkhelat ion logam, membentuk senyawa tak

larut Senyawa non nitrogen yang memiliki karbonil

kumarin, chalchone, digitoxigenin Pemisahan : pembasaan, diikuti, dengan ekstraksi dengan pelarut organik, kemudian diekstraksi asam encer Isolat dari Melicope ternata bereaksi positif terhadap pereaksi alkaloid namun isolat tersebut adalah hidroksiflavon teralkilasi :meliternatin, melliternin, dan ternatin

(1949)

.Co:

:teralkismngdp

atulakton

terkonjugasi

Flavonoid
Uji Wilstater cyanidin biasa digunakan untuk

mendeteksi senyawa yang mempunyai inti benzopyron. Warna orange yang terbentuk pada uji Bate Smith-Mertcalf dan warna merah pada uji Wilstater disebabkan karena terbentuknya garam flavilium Khalkon dan aurones memberikan reaksi negatif (*mengapa ???)
O

C h a lc o n

A u ro n e s

Reaksi pembentukan garam flavilium pada uji Flavonoid

Saponin
Saponin glikosida

Saponin surfaktan
Saponin : menghemolisis darah rx. Hemolisis

Saponin
(metode Forth) Sebanyak 10 mL larutan C dalam

tabung reaksi dikocok secara vertikal selama 10 detik dan didiamkan. Adanya saponin ditunjukkan dengan terbentuknya busa yang stabil, ketika ditambahkan HCl 2 N. Pemastian : Uji penegasan saponin dilakukan dengan menguapkan sampel sampai kering kemudian mencucinya dengan heksana sampai filtrat jernih. Residu yang tertinggal ditambahkan kloroform, diaduk 5 menit, kemudian ditambahkan Na2SO4 anhidrat dan disaring. Filtrat direaksikan dengan pereaksi L-B. Terbentuknya cincin merah sampai coklat menunjukkan adanya saponin.

Tes Hemolisis

Tes Froth

Tes L-B

Substansi Saponin, kemungkinan steroidal Saponin, kemungkinan triterpenoid Saponin, kemungkinan heterosida dari sterol atau triterpen jenuh Tidak ada saponin, namun triterpen, sterol, atau seny. polisiklik bebas lain ada. Tidak ada saponin, mungkin mengandung sterol dan triterpen jenuh Tidak ada saponin, kemungkinan asam diterpen

+ +

+ +

+ (biru atau
hijau)

+(merah, pink,
ungu)

+
-

- (kuning pucat)
+ (merah, pink,
ungu)

+ (setelah
ditambahkan Na karbonat dan dikocok)

- (kuning pucat)
(kuning pucat,
merah, pink, ungu)

Kuinon
Reaksi Brontrager Panaskan 0,3 g sample dengan KOH 0,5N + 1 ml Hidrogen peroksida, setelah dingin saring, asamkan dengan 10 tetes asam asetat, ektraksi dengan benzene. Lapisan benzen di ekstraksi dengan 2,5 ml ammonium hidroksida, warna merah pada lapisan alkali

Polifenol/ Tannin
Sebanyak 5 mL larutan C direaksikan dengan FeCl3

1%. Jika terbentuk warna biru kehitaman menunjukkan adanya senyawa polifenol/ tanin. Kemudian ke dalam 5 mL larutan C ditambahkan larutan gelatin. Jika terbentuk endapan putih, menunjukkan adanya tanin. FeCl3 bereaksi dengan Ph-OH, membentuk kompleks Fe-O-Ph (warna) Tannin bereaksi dengan gelatin (protein) membentuk kopolimer mantap, yang tidak larut dalam air.

Triterpenoid/ Steroid
Sebanyak satu gram sampel dimaserasi dengan 20

mL eter selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat sebanyak 5 mL diuapkan dalam cawan penguap. Ke dalam residu ditambahkan pereaksi Liebermann-Buchard, yaitu asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat (19:1). Terbentuknya warna merah-ungu menunjukkan adanya triterpenoid dan terbentuknya warna hijau-biru menunjukkan adanya steroid.

Triterpenoid/ Steroid
L-B : Perpanjangan gugus kromofor

(ikatan rangkap terkonjugasi) dengan adanya adisi gugus asetil di c3 (asetilasi)

Inti steroid

Asetat anhidrat

Kumarin
Derivat benzo--piron

Kumarin dapat dideteksi dengan menempatkan

sampel yang dibasahkan pada tabung reaksi. Tabung ditutup dengan kertas saring yang dibasahi larutan NaOH. Panaskan pada penangas air beberapa menit, kemudian kertas saring diambil dan ditempatkan pada sinar ultraviolet. Adanya kumarin ditandai dengan flurosensi hijau kekuningan