Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Gigi dan rongga mulut dapat menjadi fokus infeksi yang kemudian mempengaruhi kondisi sistemik seseorang. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah penjalaran atau penyebaran ke organ lain. Hal ini menjadi sangat penting untuk dipelajari karena seorang dokter diaruskan menatalaksana pasien secara holistik, dimana didalamnya termasuk eradikasi sumber infeksi, menghentikan penyebaran infeksi, dan mengatasi infeksi yang telah timbul. Oleh karena itu, proses penyebaran infeksi dari suatu fokus ke organ lain perlu untuk di pelajari. Rongga mulut memiliki berbagai macam organisme yang berkembang, oleh karena itu kemungkinan rongga mulut menjadi fokus infeksi cukup besar apalagi bila terdapat ketidakseimbangan antara faktor host, agen dan lingkungan. Pembengkakan yang terjadi pada rongga mulut yang dapat terlihat baik secara intraoral maupun ekstraoral merupakan salah satu tanda adanya infeksi, dan apabila diawali oleh rasa sakit gigi pada daerah yang mengalami pembengkakan maka dapat dicurigai adanya infeksi. Infeksi merupakan masuk dan berkembangnya mikroorganisme didalam tubuh yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel dan jaringan tubuh, terjadi di suatu tempat (lokalisasi) dan menyebabkan penyakit sistemik. Etiologi yang mungkin terjadi karena infeksi virus, jamur dan bakteri. Virus, jamur dan bakteri tersebut dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang dapat mempengaruhi jaringan lunak rongga mulut. Apabila perkembangbiakan telah terjadi dan tidak dilakukan perawatan maka pada jaringan akan mengalami berbagai macam infeksi, mulai dari yang ringan sampai yang berat bahkan dapat berakibat fatal seperti tumor. 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan khusus Makalah ini kami buat dengan tujuan menyelesaikan tugas kami sebagai seorang dokter muda di Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

1.2.2 Tujuan Umum Makalah ini kami buat dengan tujuan memberikan informasi dan wacana lebih bagi kami pada khususnya dan pembaca pada umumnya mengenai Infeksi Jaringan Lunak Rongga Mulut yang di sebabkan oleh Virus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Gigi dan Mulut 2.1.1. Pendahuluan Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, alveolar ridge, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang membatasi rongga mulut (Yousem et al., 1998). Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding bagian lateral masing-masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari pipi, pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya, pipi dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi. Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir (Tortora et al., 2009).

Gambar 2.1. Anatomi Rongga Mulut (Tortorra et al., 2009)

2.1.2. Bibir dan Palatum Bibir atau disebut juga labia, adalah lekukan jaringan lunak yang mengelilingi bagian yang terbuka dari mulut. Bibir terdiri dari otot orbikularis oris dan dilapisi oleh kulit pada bagian eksternal dan membran mukosa pada bagian internal (Seeley et al., 2008 ; JahanParwar et al., 2011). Secara anatomi, bibir dibagi menjadi dua bagian yaitu bibir bagian atas dan bibir bagian bawah. Bibir bagian atas terbentang dari dasar dari hidung pada bagian superior sampai ke lipatan nasolabial pada bagian lateral dan batas bebas dari sisi vermilion pada bagian inferior. Bibir bagian bawah terbentang dari bagian atas sisi vermilion sampai ke bagian komisura pada bagian lateral dan ke bagian mandibula pada bagian inferior (JahanParwar et al., 2011). Kedua bagian bibir tersebut, secara histologi, tersusun dari epidermis, jaringan subkutan, serat otot orbikularis oris, dan membran mukosa yang tersusun dari bagian superfisial sampai ke bagian paling dalam. Bagian vermilion merupakan bagian yang tersusun atas epitel pipih yang tidak terkeratinasi. Epitel- epitel pada bagian ini melapisi banyak pembuluh kapiler sehingga memberikan warna yang khas pada bagian tersebut. Selain itu, gambaran histologi juga menunjukkan terdapatnya banyak kelenjar liur minor. Folikel rambut dan kelejar sebasea juga terdapat pada bagian kulit pada bibir, namun struktur tersebut tidak ditemukan pada bagian vermilion (Tortorra et al., 2009; Jahan-Parwar et al., 2011). Permukaan bibir bagian dalam dari bibir atas maupun bawah berlekatan dengan gusi pada masing-masing bagian bibir oleh sebuah lipatan yang berada di bagian tengah dari membran mukosa yang disebut frenulum labial. Saat melakukan proses mengunyah, kontraksi dari otototot businator di pipi dan otot- otot orbukularis oris di bibir akan membantu untuk memosisikan agar makanan berada di antara gigi bagian atas dan gigi bagian bawah. Otot-otot tersebut juga memiliki fungsi untuk membantu proses berbicara. Palatum merupakan sebuah dinding atau pembatas yang membatasi antara rongga mulut dengan rongga hidung sehingga membentuk atap bagi rongga mulut. Struktur palatum sangat penting untuk dapat melakukan proses mengunyah dan bernafas pada saat yang sama. Palatum secara anatomis dibagi menjadi dua bagian yaitu palatum durum (palatum keras) dan palatum mole (palatum lunak). Palatum durum terletak di bagian anterior dari atap rongga mulut. Palatum durum merupakan sekat yang terbentuk dari tulang yang memisahkan antara rongga mulut dan rongga hidung. Palatum durum dibentuk oleh tulang maksila dan tulang palatin yang dilapisi oleh membran mukosa. Bagian posterior dari atap rongga mulut dibentuk oleh palatum mole. Palatum mole merupakan sekat berbentuk lengkungan yang membatasi antara bagian orofaring dan nasofaring. Palatum mole terbentuk dari jaringan otot yang sama halnya dengan paltum

durum, juga dilapisi oleh membran mukosa (Marieb and Hoehn, 2010; Jahan- Parwar et al., 2011).

Gambar 2.2. Anatomi Palatum (Agave Clinic, 2007) 2.1.3. Lidah Lidah merupakan salah satu organ aksesoris dalam sistem pencernaan. Secara embriologis, lidah mulai terbentuk pada usia 4 minggu kehamilan. Lidah tersusun dari otot lurik yang dilapisi oleh membran mukosa. Lidah beserta otot- otot yang berhubungan dengan lidah merupakan bagian yang menyusun dasar dari rongga mulut. Lidah dibagi menjadi dua bagian yang lateral simetris oleh septum median yang berada disepanjang lidah. Lidah menempel pada tulang hyoid pada bagian inferior, prosesus styloid dari tulang temporal dan mandibula (Tortorra et al., 2009; Marieb and Hoehn, 2010 ; Adil et al., 2011). Setiap bagian lateral dari lidah memiliki komponen otot-otot ekstrinsik dan intrinsik yang sama. Otot ekstrinsik lidah terdiri dari otot hyoglossus, otot genioglossus dan otot styloglossus. Otot-otot tersebut berasal dari luar lidah (menempel pada tulang yang ada di sekitar bagian tersebut) dan masuk kedalam jaringan ikat yang ada di lidah. Otot-otot eksternal lidah berfungsi untuk menggerakkan lidah dari sisi yang satu ke sisi yang berlawanan dan menggerakkan ke arah luar dan ke arah dalam. Pergerakan lidah karena otot tersebut memungkinkan lidah untuk memosisikan makanan untuk dikunyah, dibentuk menjadi massa bundar, dan dipaksa untuk bergerak ke belakang mulut untuk proses penelanan. Selain itu, otot-otot tersebut juga membentuk dasar dari mulut dan mempertahankan agar posisi lidah tetap pada tempatnya.
5

Otot-otot intrisik lidah berasal dari dalam lidah dan berada dalam jaringan ikat lidah. Otot ini mengubah bentuk dan ukuran lidah pada saat berbicara dan menelan. Otot tersebut terdiri atas: otot longitudinalis superior, otot longitudinalis inferior, otot transversus linguae, dan otot verticalis linguae. Untuk menjaga agar pergerakan lidah terbatas ke arah posterior dan menjaga agar lidah tetap pada tempatnya, lidah berhubungan langsung dengan frenulum lingual, yaitu lipatan membran mukosa yang berada pada bagian tengah sumbu tubuh dan terletak di permukaan bawah lidah, yang menghubungkan langsung antara lidah dengan dasar dari rongga mulut (Tortorra et al., 2009; Marieb and Hoehn, 2010). Pada bagian dorsum lidah (permukaan atas lidah) dan permukaan lateral lidah, lidah ditutupi oleh papila. Papila adalah proyeksi dari lamina propria yang ditutupi oleh epitel pipih berlapis. Sebagian dari papila memiliki kuncup perasa, reseptor dalam proses pengecapan, sebagian yang lainnya tidak. Namun, papila yang tidak memiliki kuncup perasa memiliki reseptor untuk sentuhan dan berfungsi untuk menambah gaya gesekan antara lidah dan makanan, sehingga mempermudah lidah untuk menggerakkan makanan di dalam rongga mulut. Secara histologi (Mescher, 2010), terdapat empat jenis papila yang dapat dikenali sampai saat ini, yaitu : 1. Papila filiformis. Papila filiformis mempunyai jumlah yang sangat banyak di lidah. Bentuknya kerucut memanjang dan terkeratinasi, hal tersebut menyebabkan warna keputihan atau keabuan pada lidah. Papila jenis ini tidak mengandung kuncup perasa. 2. Papila fungiformis. Papila fungiformis mempunyai jumlah yang lebih sedikit dibanding papila filiformis. Papila ini hanya sedikit terkeratinasi dan berbentuk menyerupai jamur dengan dasarnya adalah jaringan ikat. Papila ini memiliki beberapa kuncup perasa pada bagian permukaan luarnya. Papila ini tersebar di antara papila filiformis. 3. Papila foliata. Papila ini sedikit berkembang pada orang dewasa, tetapi mengandung lipatan-lipatan pada bagian tepi dari lidah dan mengandung kuncup perasa. 4. Papila sirkumfalata. Papila sirkumfalata merupakan papila dengan jumlah paling sedikit, namun memiliki ukuran papila yang paling besar dan mengandung lebih dari setengah jumlah keseluruhan papila di lidah manusia. Dengan ukuran satu sampai tiga milimeter, dan berjumlah tujuh sampai dua belas buah dalam satu lidah, papila ini umumnya membentuk garis berbentuk menyerupai huruf V dan berada di tepi dari sulkus terminalis. Pada bagian akhir dari papila sirkumfalata, dapat dijumpai sulkus terminalis. Sulkus terminalis merupakan sebuah lekukan melintang yang membagi lidah menjadi dua bagian, yaitu lidah bagian rongga mulut (dua pertiga anterior lidah) dan lidah yang terletak pada orofaring (satu pertiga posterior lidah). Mukosa dari lidah yang terletak pada orofaring tidak memiliki papila, namun tetap berstruktur bergelombang

dikarenakan keberadaan tonsil lingualis yang terletak di dalam mukosa lidah posterior tersebut (Saladin, 2008; Marieb and Hoehn, 2010).

Gambar 2.3. Penampang Lidah (Netter, 2011) 2.1.4. Gigi Manusia memiliki dua buah perangkat gigi, yang akan tampak pada periode kehidupan yang berbeda. Perangkat gigi yang tampak pertama pada anak- anak disebut gigi susu atau deciduous teeth. Perangkat kedua yang muncul setelah perangkat pertama tanggal dan akan terus digunakan sepanjang hidup, disebut sebagai gigi permanen. Gigi susu berjumlah dua puluh empat buah yaitu : empat buah gigi seri (insisivus), dua buah gigi taring (caninum) dan empat buah geraham (molar) pada setiap rahang. Gigi permanen berjumlah tiga puluh dua buah yaitu : empat buah gigi seri, dua buah gigi taring, empat buah gigi premolar, dan enam buah gigi geraham pada setiap rahang (Seeley et al., 2008). Gigi susu mulai tumbuh pada gusi pada usia sekitar 6 bulan, dan biasanya mencapai satu perangkat lengkap pada usia sekitar 2 tahun. Gigi susu akan secara bertahap tanggal selama masa kanak-kanak dan akan digantikan oleh gigi permanen.

Gambar 2.4. Gigi Susu dan Gigi Permanen Gigi melekat pada gusi (gingiva), dan yang tampak dari luar adalah bagian mahkota dari gigi. Menurut Kerr et al. (2011), mahkota gigi mempunyai lima buah permukaan pada setiap gigi. Kelima permukaan tersebut adalah bukal (menghadap kearah pipi atau bibir), lingual (menghadap kearah lidah), mesial (menghadap kearah gigi), distal (menghadap kearah gigi), dan bagian pengunyah (oklusal untuk gigi molar dan premolar, insisal untuk insisivus, dan caninus). Bagian yang berada dalam gingiva dan tertanam pada rahang dinamakan bagian akar gigi. Gigi insisivus, caninus, dan premolar masing-masing memiliki satu buah akar, walaupun gigi premolar pertama bagian atas rahang biasanya memiliki dua buah akar. Dua buah molar pertama rahang atas memiliki tiga buah akar, sedangkan molar yang berada dibawahnya hanya memiliki dua buah akar. Bagian mahkota dan akar dihubungkan oleh leher gigi. Bagian terluar dari akar dilapisi oleh jaringan ikat yang disebut cementum, yang melekat langsung dengan ligamen periodontal. Bagian yang membentuk tubuh dari gigi disebut dentin. Dentin mengandung banyak material kaya protein yang menyerupai tulang. Dentin dilapisi oleh enamel pada bagian mahkota, dan mengelilingi sebuah kavitas pulpa pusat yang mengandung banyak struktur jaringan lunak (jaringan ikat, pembuluh darah, dan jaringan saraf) yang secara kolektif disebut pulpa. Kavitas pulpa akan menyebar hingga ke
8

akar, dan berubah menjadi kanal akar. Pada bagian akhir proksimal dari setiap kanal akar, terdapat foramen apikal yang memberikan jalan bagi pembuluh darah, saraf, dan struktur lainnya masuk ke dalam kavitas pulpa (Seeley et al., 2008, Tortorra et al., 2009). 2.2 Pembahasan Rongga mulut dihuni oleh berbagai jenis mikroorganisme yang membentuk mikroflora yang komensal. Mikroflora ini biasanya mengandung bakteri, mikoplasma, jamur dan protozoa, yang kesemuanya dapat menimbulkan infeksi oportunistik simtomatik tergantung pada faktor lokal atau daya pertahanan tubuh pejamu yang rendah. Sebagai tambahan, sejumlah virus dapat menimbulkan lesi orofasial atau hadir secara asimtomatis di dalam saliva pada saat timbulnya infeksi virus secara sistemik atau pada pembawa yang sehat. Lesi merupakan diskontiunitas jaringan patologis atau traumatik atau hilangnya fungsi suatu bagian. Dalam rongga mulut terdapat bermacam-macam lesi baik itu pada bibir, lidah, maupun pada mukosa mulut. Gambaran klinis akan dihubungkan dengan riwayat penyakit sehingga dapat ditelusuri diagnosis penyakit. Berdasarkan terjadinya, lesi terbagi menjadi dua lesi yaitu, lesi primer dan lesi sekunder. Erosi, fissure, ulkus dan bekas luka menunjukan adanya kerusakan lokal pada jaringan kutan. Erosi didefinisikan sebagai pelepasan lapisan epidermis saja. Erosi sembuh tanpa adanya pembentukan bekas luka. Ulkus didefinisikan sebagai keadaan hilangnya lapisan epidermis dan adanya kerusakan pada dermis. Ulkus yang masih berada pada lapisan kutan masih bisah sembuh tanpa meninggalkan bekas luka. Bekas luka (scars) adalah kerusakan permanen pada permukan kulit yang terlihat (Regezi and Sciubba, 1993). Lesi vesikobulosa dari suatu penyakit dapat bermanifestasi pada mukosa mulut dan kulit. Lesi dapat bervariasi berdasarkan frekuensi, tingkat keparahan dan pengaruh kondisi sistemik. Biasanya lesi vesikobulosa dapat mempunyai karakteristik yang umum. Vesikel yang muncul pada mukosa mulut biasanya kecil dengan diameter tidak lebih dari 0,5 cm, tampak singular dan kadang-kadang dalam bentuk klaster. Vesikel tersebut mudah pecah dan menimbulkan permukaan yang mengalami ulkus (Sonnis, dkk., 1995) Vesikel adalah suatu elevasi pada kulit atau membran mukous superfisial, merupakan defek subepitelial atau intraepitelial yang mengandung serum, plasma atau darah. Vesikel mudah pecah dirongga mulut karena trauma sehingga meninggalkan ulkus yang superfisial. Lesi-lesi yang diakibatkan oleh infeksi virus maupun yang terjadi karena alergi mirip secara mikroskopis sehingga sulit untuk menegakkan diagnosis dengan cara biopsi. Identifikasi
9

proses penyakit tersebut tergantung pada penampakan klinis dan tes-tes laboratorium, misalnya tes-tes sensitivitas, tes fiksasi dan tesinokulasi (baskar, 1993). Perubahan pertama yang terjadi adalah suatu area hiperemi dan edema pada jaringan sub epithelial. Cairan mulai terakumulasi di dalam epithelium atau diantara epitheliun dengan jaringan ikat. Kantong cairang tersebut kemudian bergabung dan mengalami elevasi membentuk suatu vesikel. Perawatan untuk kebanyakan lesi vesikuler adalah sama dan simptomatik. Penyebab paling sering bagi lesi vesikobulosa adalah infeksi virus Herpes Simplex, Varicella zoster, infeksi visur coxakie, hand foot and mouth disease dan herpangina (Gayford dan Haskell, 1991) Diagnosis penyakit vesikobulosa biasanya berdasarkan pada riwayat keluhan, pemeriksaan klinis dan biopsi. Faktor-faktor lain diperhitungkan dalam menentukan diagnosis antara lain adalah onset lesi (akut atau kronis), lamanya waktu kemunculan lesi, kejadian berdasarkan siklus, daerah lain yang terkena lesi seperti kulit, mata dan organ genital, daerah asal pasien serta riwayat pemakaian obat-obatan. Penampakan klinis dapat memberikan kriteria untuk menegakkan diagnosis. Beberapa kasus mungkin memerlukan biopsi untuk mendapatkan diagnosis defenitif (Sonnis, dkk., 1995). Penatalaksanaan lesi oral secara umum tergantung dari diagnosis yang di tegakkan. Berikut ini beberapa infeksi jaringan lunak rongga mulut yang disebabkan oleh virus, antara lain : 2.2.1 Herpes Simplex Virus Primer Herpes Simplex (HSV-I) tipe 1 merupakan virus yang paling umum menghasilkan infeksi dalam rongga mulut. Paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 6 tahun tetapi dapat terjadi pada pasien yang lebih tua. Infeksi primer pada sebagian besar anak-anak adalah subklinis (tanpa tanda-tanda atau gejala klinis). Herpes simplex virus hampir dimana-mana, dipopulasi umum lebih dari 90% orang dewasa memiliki antibodi terhadap herpes simplex virus oleh dekade keempat kehidupan. Sekali seseorang terinfeksi, virus menyebar ke daerah massa jaringan saraf, ganglia (misalnya trigeminal ganglion), di mana iatetap laten namun dapat diaktifkan kapan saja sesuai kondisi. Kedua herpes simpleks tipe 1 dan 2 dapat menyebabkan infeksi orofacial dan infeksi kelamin, tetapi HSV-I lebih sering bertanggung jawab atas lesi di dalam dan sekitar mulut.

10

Herpes Simplex pada regio kepala a) Acute Herpetic Gingivostomatitis Etiologi Primary herpetic gingivostomatitis memiliki frekuensi infeksi virus terbesar di mulut dan menjalar dengan mudah melalui saliva. Sumber infeksi mungkin dari individu yang virusnya asimptomatik di saliva atau mendapat infeksi

kambuhan,seperti herpes labialis. HSV pada mulanya menginfeksi sel epitel tidak berkeratin pada mukosa oral untuk menghasilkan intra epithelial blisters. Seperti infeksi primer,HSV terletak tersembunyi di jaringan saraf dan jaringan orofasial. Pemeriksaan status antibodi mengungkapkan bahwa lebih dari 60 % populasi di Eropa dan Amerika Utara menunjukkan infeksi HSV pada anak berumur 16 tahun. Gejala Klinis Gingivostomatitis ulseratif akut terjadi sebagai akibat replikasi virus dalam jaringan yang terkena. Masa inkubasi umumnya 4 hingga 5 hari kemudian gejala diawali dengan demam. Pasien dapat merasa rasa sakit, panas dan perih atau gatal terutama pada saat makan dan minum. Gusi dapat membengkak dan mudah berdarah.Vesikel dapat terjadi di seluruh mulut. Mereka mungkin memiliki penampilan bintik-bintik di daerah kontak dengan rahang atas. Menyentuhnya atau mencoba untuk mengkonsumsi makanan bisa menyebabkan rasa sakit parah.

11

Di dalam rongga mulut dapat timbul vesikel (gelembung) berukuran kecil yang umumnya berkelompok dan dapat dijumpai di bagian dalam bibir, lidah, tenggorokan, langit-langit dan di bagian dalam pipi. Selanjutnya vesikel ini akan pecah dan menjadi ulkus (luka) yang dipermukaannya terdapat semacam lapisan kekuningan. Pada saat inilah rentan terjadi penularan karena vesikel tersebut mengeluarkan cairan yang mengandung jutaan virus herpes simpleks. Kelenjar getah bening setempat yaitu di sekitar leher dapat membesar dan saat ditekan terasa lunak.

Herpes Gingivostomatitis Bibir dan gingiva dan mukosa buccal terlibat tetapi kadang-kadang juga lidah dan retropharynx. Lesi individual dapat dimulai sebagai vesikula tetapi mungkin meluas ke mukosa dan lapisan kulit dalam, menyukai penyebaran sistemik. Ada reaksi inflamasi lebih besar dan akibatnya edema dan eritema. Diagnosa Isolasi dan kultur HSV menggunakan viral swab, metode standard diagnosa. Infeksi HSV dapat juga diperkuat dengan adanya kenaikan empat kali lipat antibodi. Metode ini membutuhkan 10 hari untuk menghasilkan hasil. Chair - side kits dapat dengan cepat mendeteksi HSV dalam waktu beberapa menit pada lesi smear/coreng menggunakan immunofluoressence yang tersedia, tapi terbatas pada biaya. Biopsi
12

jarang digunakan tapi jika dilakukan akan memperlihatkan vesikula yang tidak spesifik atau ulserasi dengan multinucleated giant cells yang menggambarkan viral infected keratinocytes. Terapi Medikamentosa Menggunakan acyclovir, agen antivirus dengan melakukan perlawanan terhadap HSV. Dosis standard 200 mg acyclovir, 5 kali sehari selama 5 hari. Dosis harus dikurangi setengahnya untuk anak dibawah 2 tahun. Terapi suportive symptomatic termasuk obat kumur clorhexidine, terapi analgesik, soft diet, dan cukup minum. Penggunaan analgesik sistemik untuk mengontrol rasa sakit. Agen antipiretik juga ditentukan ketika demam adalah gejala. Pada kasus yang parah mungkin perlu untuk menggunakan anestesi topikal seperti lidokain atau diphenhyclramine. Pasien sering dapat mentolerir cairan dingin,dan mereka dapat membantu dalam mencegah dehidrasi. Non Medikamentosa Pasien seharusnya ditenangkan tentang kondisi dasar dan diberi tahu tentang infeksi lesi. Instruksi seharusnya diberikan untuk membatasi bibir dan mulut untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi di daerah lainnya. Ini termasuk pemeliharaan kebersihan mulut yang tepat, cukup asupan cairan untuk mencegah dehidrasi. b) Chronic Herpetic Simplex Etiologi Infeksi ini disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang erimatosa. Penyakit ini dapat menyerang baik pria maupun wanita. Infeksi primer herpes simpleks tipe I biasanya menyerang pada usia anak-anak, sedangkan HSV tipe II biasanya terjadi pada dekade 2 atau 3, dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual. Tempat prediliksi VHS tipe I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan hidung. Infeksi primer oleh VHS tipe II mempunyai tempat predileksi di daerah pinggang ke bawah, terutama di daerah genital. Daerah predileksi ini sering kacau karena adanya aktivitas seksual seperti oro-genital.
13

Gejala Klinis Infeksi ini berlangsung kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, seperti demam dan malaise, serta dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional. Kelainan klinisnya dijumpai berupa vesikel yang berkelompok diatas kulit yang erimatosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen (bersifat serosa dan bernanah), dapat menjadi krusta dan kadang-kadang mengalami ulserasi yang dangkal.

Infeksi herpes Simplex Kronis Terapi Pengobatan bersifat simtomatik. Aspirin atau asetaminofen dapat diminum untuk mengatasi demam dan mengatur keseimbangan cairan tubuh. Untuk pasien yang mengalami kesulitan makan dan minum, dapat diberikan topikal anastesi, seperti dyclonine hyrocloride 0,5%. Untuk pengobatan sistemik dapat diberikan asiklovir 5 x 400 mg/hari selama 5-10 hari. c) Recurrent HSV Infeksi herpes berulang berkembang di sekitar sepertiga dari pasien yang memiliki infeksi primer. Herpes labialis adalah jenis infeksi yang paling sering kambuhan. Biasanya dilihat sebagai sekumpulan vesikel muncul di sekitar bibir setelah penyakit sistemik atau stres. Sinar ultraviolet dan rangsangan mekanis mungkin juga bisa menyebabkan kekambuhan.

14

Herpes Simplex Labialis Etiologi Infeksi herpes labialis yang berulang merupakan infeksi recurrent intraoral herpes simplex terjadi pada pasien yang mengalami infeksi herpes simplex

sebelumnya dan yang memiliki serum antibody dalam proteksi infeksi primer. Sebaliknya, infeksi yang berulang ini terbatas pada daerah di kulit dan membran mukosa. Herpes yang berulang tidak merupakan infeksi tetapi virus yang aktif kembali dari masa laten di jaringan saraf. Herpes simplex dikultur dari trigeminal ganglion dari cadavers manusia, dan lesi herpes yang berulang biasanya tampak setelah pembedahan ganglion. Herpes recurrent mungkin dapat diaktifkan oleh trauma bibir, demam, sunburn, immunosuppressi dan menstruasi. Perjalanan virus menginfeksi sel epitel, penyebarannya dari sel ke sel untuk menyebabkan sebuah lesi. Seluruh pasien yang mengalami infeksi herpes primer tidak mengalami herpes recurrent. Jumlah pasien dengan riwayat infeksi genital primer dengan HSV 1 yang kemudian mengalami infeksi HSV rekuren kira-kira 15%. Rata- rata angka kambuhan untuk infeksi HSV 1 oral antara 20-40%. Gejala Klinis Cold sore" atau "fever blister" merupakan suatu lesi vesikuler mukosa biasanya terletak di sekitar lubang seperti bibir dan hidung. Sering beberapa lesi muncul secara serentak atau berturut-turut. Sering ada riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya atau demam, paparan sinar matahari atau dingin, atau trauma ke daerah, tetapi apakah pada kenyataannya pengaruh ini mengaktifkan virus tetap tidak jelas.

15

Fever Blister Old sore atau fever blisters, diperparah oleh faktor presipitasi demam, menstruasi, sinar UV, dan mungkin stres emosional. Lesi didahului oleh periode prodomal yaitu tingling atau burning, diiringi dengan edema di tempat lesi, diikuti dengan formasi cluster vesikelkecil. Masing- masing vesikel berdiameter 1-3 mm, dengan ukuran cluster 1-2 cm. Ukuran lesi secara umum tergantung imun individu.

Lesi pada penderita Herpes Diagnosa Jika pada tes laboratorium dapat dipastikan, RIH dapat dibedakandari RAS dengan cytology smears dari lesi baru. Cairan dari lesi herpes menunjukkan sel dengan ballooning degeneration dan multinucleated giant cells, sedangkan pada lesi RAS tidak. Untuk hasil yang lebihakurat, dapat di test dengan cytology smears untuk HSV dengan menggunakan fluorescen-antigen HSV. Kultur virus juga digunakan untuk membedakan herpes simplex dari lesi virus lainnya, terutama infeksi varicella zoster.

16

Terapi Infeksi herpes kambuhan pada bibir dan mulut jarang dibandingkan gangguan sementara pada individu normal. Pasien yang sering mengalami, besar, nyeri atau lesi yang kotor harus berkonsultasi. Pertama dokter harus mencoba untuk memperkecil pemicunya. Beberapa kambuhan dapat dikurangi dengan menggunakan sunblock selama terpapar sinar matahari. Obat- obatan dapat menekan formasi dan mempercepat waktu penyembuhan dari lesi recurrent yang baru. Acyclovir, obat antiherpes, aman dan efektif. Obat antivirus yang baru seperti valacyclovir, prodruk dari acyclovir, dan famciclovir prodruk dari penciclovir, memiliki bioavailabilitas yang lebih besar dari pada acyclovir, tapi tidak mengurangi masa laten HSV. Tetapi , pada percobaan tikus, famciclovir dapat menekan HSV laten. Keefektivan obat antiherpes untuk mencegah kambuhan genital HSV. Acyclovir 400 mg dua kali sehari,valaciclovir 250 mg dua kali sehari dan famciclovir 250 mg yang lebih efektiv pada kambuhan genital. Penggunaan antiherpes nucleoside analog untuk mencegah dan mengobati RHL namun sangat kontroversial. Terapi sistemik seharusnya tidak digunakan untuk pengobatan berkala atau RHL yang biasa, tapi kadang-kadang

digunakan untuk mencegah lesi pada pasien mudah terjangkit sebelum resiko yang tinggi seperti berski dengan ketinggian yang tinggi atau sebelum menjalani prosedur seperti dermabrasi atau pembedahan nervus trigeminal. Beberapa dokter

menganjurkan menggunakan terapi antiherpes suppressive untuk persentase kecil pada pasien RHL yang sering mengalami peristiwa deforming pada RHL. Acyclovir 400 mg dua kali sehari terbukti mengurangi frekuensi dan keganasan RHL. Acyclovir maupun penciclovir tersedia pada sediaan topikal, digunakan pada untuk mempercepat waktu penyembuhan pada RHL kurang dari 2 hari. Beberapa kasus yang ringan mungkin tidak membutuhkan pengobatan. Orangorang yang telah parah atau lanjut, orang dengan masalah sistem kekebalan, atau mereka yang sering mengalami rekuren akan baik jika diberikan obat antivirus seperti asiklovir, famciclovir dan valacyclovir. Orang-orang yang telah lama menderita oral rekuren atau herpes genital atau manifestasi klinis berat dapat melanjutkan penggunaan obat antivirus untuk mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan rekuren. Pengobatan spesifik pada infeksi herpes, misalnya gejala akut dari herpetickeratitis dan stadium awal dendritic ulcers diobati dengan trifluridin atau adenine arabisonide (vidarabine, via-A atau Ara-A) dalam bentuk ophthalmic ointment
17

atau solution. Kortikosteroid jangan digunakan untuk herpes mata kecuali dilakukan oleh seorang ahli mata yang sangat berpengalaman. Acyclovir IV sangat bermanfaat untuk mengobati herpes simpleks encephalitis tetapi mungkin tidak dapat mencegah terjadinya gejala sisa neurologis. Prognosis Lesi oral atau genital biasanya sembuh sendiri dalam 7 sampai 14 hari. Infeksi mungkin lebih parah dan bertahan lebih lama pada orang yang memiliki kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Setelah infeksi terjadi, virus menyebar ke sel-sel saraf dan menetap dalam tubuh seumur hidup seseorang. Mungkin akan kembali dan menyebabkan gejala, atau kambuh. Rekuren dapat dipicu oleh kelebihan sinar matahari (UV), demam, stres, penyakit akut, obat-obatan atau kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh (kanker, HIV/AIDS, atau penggunaan kortikosteroid). Pencegahan Berikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dan tentang kebersihan perorangan yang bertujuan untuk mengurangi perpindahan bahan-bahan infeksius. Mencegah kontaminasi kulit dengan penderita eksim melalui bahan-bahanin feksius. Petugas kesehatan harus menggunakan sarung tangan pada saat berhubungan langsung dengan lesi yang berpotensi untuk menular. 2.2.2 Varicella Zoster Virus Varicella zoster (VZV) adalah virus herpes, dan seperti virus herpes lainnya menyebabkan infeksi utama maupun infeksi kambuhan dan tetap tersembunyi dalam neuron-neuron yang ada dalam sensori ganglia. VZV adalah penyebab utama pada infeksi klinis mayor pada manusia, Chicken pox (varisella) dan shingles (herpes zoster). Chicken pox adalah infeksi primer yang disama ratakan yang terjadi pertama kali pada orang yang kontak dengan virus. Hal ini dapat di analogikan pada gingivostomatitis herpetic akut dari virus herpes simplex. Setelah penyakit primer ini disembuhkan, VZV menjadi laten dalam akar dorsal ganglia dari nervusspinal atau ekstramedullary ganglia dari nervus cranial. Seorang anak yang tidak kontak dengan VZV dapat mengalami chicken pox setelah kontak dengan orang yang terkena HZ.
18

Etiologi Cacar air juga dikenal sebagai varicella, sangat menular dan infeksi terbatas diri yang paling sering mempengaruhi anak-anak antara usia 5-10 tahun. Penyakit memiliki distribusi di seluruh dunia. Cacar air disebabkan oleh virus Varicella-zooster. Masa inkubasi penyakit ini berlangsung antara 10 s/d 21 hari (biasanya 14 s/d 16 hari).

Gejala Klinis Anak-anak yang sehat umumnya mengalami satu atau dua hari dari demam, sakit tenggorokan, dan malaise sekitar dua minggu setelah paparan VZV. Selanjutnya, 3 sampai 5 hari kemudian muncul gejala yang khas yaitu ruam pada awalnya berkembang di dada dan kemudian menyebar selama tujuh hingga 10 hari ke luar untuk kepala, lengan, dan kaki. Ruamnya terdiri dari papul kecil di seluruh badan yang cepat berubah menjadi vesikel (benjolan berisi air). Selanjutnya, vesikel yang pecah akan ditutupi krusta (keropeng). Biasanya, seluruh lesi akan penuh ditutupi krusta dalam waktu 10 hari. Lesi tersebut dapat muncul dimana saja tetapi umumnya di kulit kepala, wajah, badan, mulut, dan konjungtiva. Manifestasi Oral pada penderita chicken pox

Pada puncak penyakit, pasien mungkin memiliki lebih dari 300 lesi kulit pada satu waktu. Setelah semua luka berkerak di atas, orang tidak lagi menular. Jarang menyebabkan

19

luka jaringan parut permanen, kecuali infeksi sekunder berkembang. Lesi mungkin umumnya dapat ditemukan di mulut dan mungkin juga melibatkan alat kelamin. Diagnosa Diagnosis varicella terutama gejala klinis karena biasanya dapat didiagnosis dengan gejala-gejala saja. Jika diagnosis masih belum jelas setelah pemeriksaan fisik, tes diagnostik mungkin diperlukan penyelidikan lebih lanjut, konfirmasi diagnosis dapat dicari melalui pemeriksaan baik di dalam cairan vesikel, atau dengan tes darah untuk bukti respon

kekebalan yang akut. Cairan vesikuler dapat diperiksa dengan Tsanck smear, atau lebih baik dengan pemeriksaan untuk antibodi fluorescent langsung. Cairan juga dapat dikultur, yaitu usaha yang dibuat untuk menumbuhkan virus dari sampel fluida. Tes darah dapat digunakan untuk mengidentifikasi respon terhadap infeksi akut (IgM) atau sebelumnya berikutnya infeksi dan kekebalan (IgG). Terapi Cacar air biasanya merupakan penyakit yang ringan dan dapat sembuh sendiri. Pada anak normal (tidak mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh), tidak ada terapi khusus. Cukup calamine lotion, kompres dingin. Apabila anak mengalami gatal hebat, dapat diberikan antihistamin oral di malam hari untuk meningkatkan kualitas tidur anak. Dan apabila tampak mengalami dehidrasi dan tidak dapat minum cairan, dapat dilakukan melalui cairan intravena cairan IV baik di ruang gawat darurat atau sebagai pasien dirumah sakit. Upayakan agar vesikel tidak pecah, kulit tidak digaruk sehingga anak terhindar dari risiko terjadinya infeksi sekunder. Bakteri sekunder infeksi kulit dapat diobati dengan antibiotik. Karena virus penyebab cacar air, tidak ada antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit. Bagi orang-orang yang memiliki infeksi berat, sebuah agen antivirus yang disebut tasiklovir (zovirax) telah terbukti dapat mempersingkat durasi dan keparahan gejala bila diberikan segera setelah timbul ruam. Acyclovir dapat diberikan peroral atau dengan IV untuk membantu orang-orang beresiko terkena infeksi parah.

20

Infeksi VZV neonatal dapat diobati dengan VZIG (varicella zoster immune globulin), sebuah bentuk yang sangat terkonsentrasi VZV anti-globulin gamma. Ketersediaan VZIG cepat menurun karena satu-satunya produsen produk telah berhenti produksi. Alternatif produk, VariZIG, tersedia pada protokol penelitian.

21

2.2.3 Herpes Zoster Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktifasi virus yang terjadi setelah infeksi primer. Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis. Saat virus ini mendapatkan stimulus, maka terjadilah reaktivasi dan menyebabkan herpes zoster. Keadaan ini lebih sering terjadi pada orang-orang dengani imunosupresi. Gejala Klinis Lesi-lesi intraoral adalah vesikuler dan ulseratif dengan tepi meradang dan merah sekali. Perdarahan adalah biasa. Bibir, lidah dan mukosa pipi dapat terkena lesi ulseratif unilateral jika mengenai cabang mandibuler dari saraf trigeminus. Keterlibatan divisi dua dari saraf trigeminus secara khas akan menyebabkan ulserasi palatum unilateral yang meluas ke atas, tetapi tidak keluar dari raphe palatum. Malaise, demam, dan penderitaan yang cukup berat dapat menyertai herpes zoster. Pasien sering kali datang dengan sakit hebat 1 sampai 2 hari sebelum vesikel-vesikel virusnya timbul.

Dapat menyerang pria dan wanita tapi biasanya pada orang dewasa, kadang-kadang pada anak-anak. Daerah tersering adalah torakal. Selain mengenai N. Spinalis, juga dapat menyerang ganglion Gasseridan Geniculatum. Neuralgia dapat beberapa hari sebelum kelainan kulit atau bersama-sama, kadang-kadang didahului oleh demam. Kelainan kulit mula-mula berbentuk eritema yang kemudian menjadi papel yang akan bersatu membentuk bula. Isi vesikel mula-mula jernih dan translusen, setelah beberapa hari menjadi keruh. Bila bercampur darah disebut herpes zoster. Bila terjadi absorbs, vesikel menjadi krusta yang berwarna coklat yang kemudian rontok dalam beberapa hari dengan meninggalkan macula yang berangsur-angsur akan menghilang. Bila tidak terjadi absorbs
22

tetapi vsikel pecah, maka infeksi ekunder mudah terjadi yang menyebabkan ulcer

atau

nekrosis dan menyembuh dengan sikatriks yang dalam. Bila herpes zoster hanya pada stadium papil, disebut herpes abortif. Herpes zoster biasanya disertai dengan pembesaran kelenjar, limfe regional. Pada herpes zoster torakal dan di lengan, kelenjar limfe aksila besar. Jika menyerang perut bawah dan tungkai akan menyebabkan pembesaran kelenjar inguinal. Dan jika menyerang muka maka kelenjar preaurikuler membesar. Bisa menyebabkan Neuralgia hebat pada orang tua. Neuralgia pos herpetic dapat terasa beberapa minggu-bulan setelah erupsi hilang. Kadang-kadang terjadi paralisis, yang sering adalah paralisis fasialis. Herpes zoster supra orbitalis dapat disertai paralisis otot intrinsic dan ekstrinsik mata. Diagnosa Frekuensi penyakit ini pada pria dan wanita sama, dan lebih sering pada orang dewasa. Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala prodomal baik sistemik (demam, pusing, malaise), maupun gejala prodomal lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal). Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang erimatosa dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih, kemudian menjadi warna keruh, lalu dapat menjadi pustul dan krusta. Masa tunasnya 7-12 hari. Pada masa aktif penyakit ini, timbul lesi-lesi baru yang kirra-kira berlangsung selama seminggu. Disamping gejala kulit dapat juga dijumpai pembesaran kelenjar getah bening regional. Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai dengan tempat persarafan. Pada susunan saraf tepi, jarang timbul kelainan motorik. Kelainan pada wajah sering disebabkan karena gangguan pada saraf trigeminus atau saraf fasialis. Postherpetic neuralgia adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakitnya sembuh. Nyeri ini dapat berlangsung selama beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi. Kecenderungan ini terjadi pada pasien yang terkena herpes zoster di atas usia 40 tahun. Cytology adalah metoda evaluasi yang cepat yang dapat digunakan dalam kasus-kasus dimana diagnosa tidak meyakinkan. Fluorescent-antibody yang tercemar melumasi dengan menggunakan fluorescein yang dikonjugasi dengan monoclonal antibody lebih dapt
23

diandalkan dari pada cytology rutin dan hasilnya positif pada lebih dari 80% kasus. Metode diagnosa yang paling akurat adalah isolasi virus dalam kultur jaringan tetapi tes ini lebih mahal dan hasilnya membutuhkan waktu berhari-hari. Demonstrasi dari titer antibody yang meningkat jarang diperlukan untuk diagnosa kecuali dalam kasus zoster sine eruptione, dimana hal itu merupakan satu-satunya cara untuk mengkonfirmasi kasus yang dicurigai atau diduga. Terapi Penanganan sebaiknya diarahkan pada pemendekan masa penyakit, pencegahan postherapeutic neuralgia pada pasien berusia 50 tahun, dan pencegahan diseminasi pada pasien immunocompromised. Acyclovir, valacyclovir atau famcyclovir mempercepat penyembuhan dan menurunkan insiden neuralgia postherpetic. Obat-obat terbaru memiliki bioavabilitas yang lebih hebat dan lebih efektif pada pengobatan HZ. Meredakan rasa sakit : aspirin atau parasetamol, atau ibuprofen biasanya sudah memadai. Tablet aspirin dan papaveretum, setiap 2atau 4 jam, efeknya sedikit lebih kuat. Jika rasa sakit hebat, dapat dipertimbangkan pemberian narkotik. Dextromoramide 5-10 mg setiap 4 sampai 6 jam secara oral akan sangat membantu. Buprenorphine sebaiknya dihindari untuk lansia karena efek sampingnya. Pada Infeksi sekunder, larutan kumur klorheksidine dapat mengurangi meluasnya infeksi sekunder. Sedangkan larutan kumur tetrasiklin saja atau tetrasiklin dengan sirup amphotericin sebaiknya digunakan untuk kasus-kasus yang lebih berat. Jika ada tanda-tanda penyebaran infek sisistemik disertai dengan meningkatnya pireksa, dan limfadenopati servikal, maka perlu diberikan antibiotik spektrum luas, seperti amoksisilin 250 500 mg tiga kali sehari selama lima hari. Penanganan secara umum, pasien mungkin menjadi lemah karena kekurangan cairan dan kalori. Infuse intravena harus diberikan untuk mengembalikan keseimbangan cairan. Pemberian makanan secara parenteral tidak perlu dilakukan. Untuk membantu pasien makan dan minum, dapat diberikan larutan kumur benzydamine hydrochloride (Diffam) yang digunakan sebelum makan. Depresi sering kali menyertai herpes dan bisa muncul pada awal penyakit. Depresi dapat sangat mendalam dan banyak pasien lansiayang ingin mengakhiri hidupnya. Obat antidepresi seperti amitryptiline, 25 50 mg sehari bersama dengan sodium valproate 200mg 3 kali per hari dapat membantu baik dalam mengontrol rasa sakitdan depresi, maupun
24

mengurangi kemungkinan terjadinya neuralgia pasca herpetik. Pada pria lansia, hindari pemakaian obat trisiklik bila ada riwayat penyakit prostat. Pada kasus neuralgia pasca herpatik dapat diberikan dosis obat psikotropik yang sama. Krim analgesik yang dioleskan pada bagian yang terlibat akan mengurangi rasa sakit. Penggunaan Steroid sistemik seperti prednisone 60 mg per hari dalam dosis terbagi dan dikurangi sampai nol dalam sepuluh hari, dapat menghilangkan serangan dini yang berulang atau menyembuhkan penyakit dalam tiga sampai empat hari. Steroid sistemik sebaiknya diberikan di bawah pengawasan dokter. 2.2.4 HERPANGINA Herpangina adalah suatu infeksi yang sembuh dengan sendirinya yang mengenai rongga mulut yang disebabkan oleh virus coxsackie grup A . virus ini sering dijumpai pada anak-anak pada musim panas dan sangat menular. Kadang-kadang terjadi pada orang dewasa muda. Manifestasai-manifestasi klinis herpangina adalah terdapat vesikel berpapil abu-abu muda yang memecah membentuk ulkus-ulkus dangkal, besar, yang multiple. Lesi ini mempunyai tepi eritematosus dan terbatas pada pilar-pilar anterior, palatum lunak, uvula dan tonsil. Sering disertai dengan faringitis, sakit kepala, demam dan limfangitis. Lesi ini sembuh dangan spontan dalam 1 sampai 2 minggu. Perawatannya adalah paliatif dan penyembuhan spontan yang terjadi dalam 1 sampai 2 minggu.

25

BAB III KESIMPULAN

1. Rongga mulut dihuni oleh berbagai jenis mikroorganisme yang membentuk mikroflorayang komensal. Mikroflora ini biasanya mengandung bakteri, mikoplasma, jamur dan protozoa. 2. Lesi merupakan diskontiunitas jaringan patologis atau traumatik atau hilangnya fungsi suatu bagian. Dalam rongga mulut terdapat bermacam-macam lesi baik itu pada bibir, lidah, maupun pada mukosa mulut. Berdasarkan terjadinya, lesi terbagi menjadi dua lesi yaitu, lesi primer dan lesi sekunder. 3. Penyebab paling sering bagi lesi vesikobulosa adalah infeksi virus Herpes Simplex, Varicella zoster, infeksi visur coxakie, hand foot and mouth disease dan herpangina (Gayford dan Haskell, 1991) 4. Primer Herpes Simplex (HSV-I) tipe 1 merupakan virus yang paling umum menghasilkan infeksi dalam rongga mulut. Paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 6 tahun. Infeksi primer pada sebagian besar anak-anak adalah subklinis. Terapinya Menggunakan acyclovir, dengan Dosis standard 200 mg acyclovir, 5 kali sehari selama 5 hari. 5. Cacar air disebabkan oleh virus Varicella-zooster. Masa inkubasi penyakit ini berlangsung antara 10 s/d 21 hari (biasanya 14 s/d 16 hari). 6. Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktifasi virus yang terjadi setelah infeksi primer. Lesi-lesi intraoral adalah vesikuler dan ulseratif dengan tepi meradang dan merah sekali. Penatalaksanaan menggunakan Acyclovir, valacyclovir atau famcyclovir mempercepat penyembuhan dan menurunkan insiden neuralgia postherpetic. 7. Herpangina disebabkan oleh virus coxsackie grup A . Sering dijumpai pada anak-anak. Manifestasai klinis terdapat vesikel berpapil abu-abu muda yang memecah membentuk ulkus-ulkus dangkal, besar, yang multiple. Lesi ini sembuh dangan spontan dalm 1 sampai 2 minggu. Perawatannya paliatif dan penyembuhan spontan yang terjadi dalam 1 sampai 2 minggu.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Birnbaum, Warren. 2009. Diagnosis kelainan dalam mulut : petunjuk bagi klinisi / Penulis. Jakarta : EGC 2. Soeparman, dkk. 1990. Ilmu Penyakit Dalam jilid III. Jakarta : Balai Penerbit Universitas Indonesia. 3. Stawiski MA. Infeksi kulit. Jakarta : EGC, 1995;1291. 4. Siregar RS. Penyakit virus. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. Edisi ke-2. Jakarta : ECG, 2005;84-7. 5. Hartadi, Sumaryo S. Infeksi virus. Ilmu penyakit kulit. Jakarta : hipokrates, 2000; 924. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit.

27