Anda di halaman 1dari 14

A.

PENDAHULUAN Amoebiasis adalah suatu keadaan terdapatnya Entamoeba histolytica dengan atau tanpa manifestasi klinik, dan disebut sebagai penyakit bawaan makanan (Food Borne Disease). Entamoeba histolytica juga dapat menyebabkan Dysentery amoeba, penyebarannya kosmopolitan banyak dijumpai pada daerah tropis dan subtropis terutama pada daerah yang sosio ekonomi lemah dan higiene sanitasinya jelek.1,2 Entamoeba histolytica pertama kali ditemukan oleh Losh tahun 1875 dari tinja seorang penderita di Leningrad, Rusia. Pada autopsi, Losh menemukan Entamoeba histolytica bentuk trofozoit dalam usus besar, tetapi ia tidak mengetahui hubungan kausal antara parasit ini dengan kelainan ulkus usus tersebut.1,2 Pada tahun 1893 Quiche dan Roos rnenemukan Entamoeba histolytica bentuk kista, sedangkan Schaudin tahun 1903 memberi nama spesies Entamoeba histolytica dan membedakannya dengan amoeba yang juga hidup dalam usus besar yaitu Entamoeba coli. Sepuluh tahun kemudian Walker dan Sellards di Philipina membuktikan dengan eksperimen pada sukarelawan bahwa Entamoeba histolytica merupakan parasit komensal dalam usus besar.1,2 Klasifikasi amoebiasis menurut WHO (1968) dibagi dalam asimtomatik dan simptomatik, yang termasuk amoebiasis simptomatik yaitu amoebiasis intestinal yaitu dysentri, non-dysentri colitis, amoebic appendicitas ke orang lain oleh pengandung kista entamoeba hitolytica yang mempunyai gejala klinik (simptomatik) maupun yang tidak (asimptomatik).1,2 Amoebiasis pada manusia dapat terjadi secara akut dan kronik. Amoebiasis memiliki gejala yang samar-samar, sehingga hampir tidak diketahui. Gejalanya bisa berupa diare yang hilang-timbul dan sembelit, banyak buang gas (flatulensi) dan kram perut. Bisa terjadi demam ringan. Diagnosis dilakukan berdasarkan

ditemukannya amuba pada sampel tinja penderita. Amuba penyebab amoebiasis tidak selalu ditemukan pada setiap sampel tinja, karena itu biasanya diperlukan pemeriksaan tinja sebanyak 3-6 kali. Selain pemberian antiamuba, diperlukan juga tindakan lain yang sifatnya menguntungkan penderita seperti diet rendah residu dan karbohidrat serta protein yang mudah dicerna, pemberian obat yang bersifat simtomatik dan kadang diperlukan antimikroba untuk mengendalikan infeksi yang menyertai amoebiasis. 1,3 B. DEFENISI Amoebiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh protozoa anaerobik, yaitu Entamoeba histolitica dengan atau tanpa gejala klinik.1,2,3,4 Penyakit infeksi usus besar yang disebabkan oleh parasit usus Entamoeba histolytica ini biasa disebut juga disentri ameba, enteritis ameba, dan colitis ameba.1,2,5 C. EPIDEMIOLOGI

Amoebiasis tersebar luas di berbagai negara di seluruh dunia. Pada berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 50 % dan berhubungan langsung dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek, dan banyak dijumpai juga dirumah-rumah sosial, penjara, rumah sakit jiwa dan lain-lain.1,3,5 Di Indonesia, amoebiasis kolon banyak dijumpai dalam keadaan endemi. Prevalensi Entamoeba histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara 10 18 %. Amoebiasis juga tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 50 % dan berhubungan dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek.1,3 Di China, Mesir, India dan negeri Belanda berkisar antara 10,1 11,5%, di Eropa Utara 5 20%, di Eropa Selatan 20 51% dan di Amerika Serikat 20%. Frekuensi infeksi Entamoeba histolytica diukur dengan jumlah pengandung kista.

Perbandingan berbagai macam amoebiasis di Indonesia adalah sebagai berikut, amoebiasis kolon banyak ditemukan, amoebiasis hati hanya kadangkadang amoebiasis otak lebih jarang lagi dijumpai.1,3 Sumber infeksi terutama carrier yakni penderita amoebiasis tanpa gejala klinis yang dapat bertahan lama megeluarkan kista yang jumlahnya ratusan ribu perhari. Bentuk kista tersebut dapat bertahan diluar tubuh dalam waktu yang lama. Kista dapat menginfeksi manusia melalui makanan atau sayuran dan air yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung kista.1,2,3,4 Infeksi dapat juga terjadi dengan atau melalui vektor serangga seperti lalat dan kecoa (lipas) atau tangan orang yang menyajikan makanan (food handler) yang menderita sebagai carrier, sayur-sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia dan selada buah yang ditata atau disusun dengan tangan manusia. Buktibukti tidak langsung tetapi jelas menunjukkan bahwa air merupakan perantara penularan. Sumber air minum yang terkontaminasi pada tinja yang berisi kista atau secara tidak sengaja terjadi kebocoran pipa air minum yang berhubungan dengan tangki kotoran atau parit.1,3,5 Penularan diantara keluarga sering juga terjadi terutama pada ibu atau pembantu rumah tangga yang merupakan carrier, dapat mengkontaminasi makanan sewaktu menyediakan atau menyajikan makanan tersebut.1,5 Pada tingkat keadaan sosio ekonomi yang rendah sering terjadi infeksi yang disebabkan berbagai masalah, antara lain :1,3,4,5 1. Penyediaan air bersih, sumber air sering tercemar. 2. Tidak adanya jamban, defekasi disembarang tempat, memungkinkan amoeba dapat dibawa oleh lalat atau kecoa. 3. Pembuangan sampah yang jelek merupakan tempat pembiakan lalat atau lipas yang berperan sebagai vektor mekanik. Mengandung kista yang jumlahnya besar dan penderita dalam keadaan konvalesensi merupakan bahaya potensial yang merupakan sumber infeksi dan harus diobati dengan sempurna karena keduanya merupakan masalah kesehatan yang besar.1,3,4 Kista dapat hidup lama dalam air (10 14 hari). Dalam lingkungan yang dingin dan lembab kista dapat hidup selama kurang lebih 12 hari, kista juga tahan
3

terhadap Khlor yang terdapat dalam air leding dan kista akan mati pada suhu 50o C atau dalam keadaan kering. Entamoeba histolytica ini juga menyebabkan Dysenteriae amoeuba, abses hati dan Giardia lamblia yang banyak ditemukan pada anak-anak. Infeksi juga ditularkan dalam bentuk kista, sehingga pengandung kista adalah penting dalam penyebaran penyakit ini.1,2

D. ETIOLOGI

E.histolytica

merupakan

protozoa

usus,

sering

hidup

sebagai

mikroorganisme komensal (apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi mengijinkan dapat berubah menjadi pathogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan menembus dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi. Siklus hidup ameba ada 2 macam bentuk. Yaitu bentuk trofozoit yang dapat bergerak dan bentuk kista.1,2,3,5

E. PATOFISIOLOGI Entamoeba histolytica memiliki siklus hidup dengan dua tahap, yaitu tahap trofozoit dan kista. Pada tahap trofozoit, amuba tidak bisa bertahan hidup mandiri, sedangkan pada tahap kista amuba bersifat sangat menular dan kuat, hidup di Lingkungan yang ekstrim. Entamoeba histolytica ditularkan melalui rute fecal-oral. Periode inkubasi terjadi mulai dari hitungan hari sampai tahun (durasi rata-rata 2-4 minggu. 4,5 Infeksi dimulai dari tertelannya kista dalam makanan dan minuman yang terkontaminasi tinja. Kista yang tertelan mengeluarkan trofozoit dalam usus besar dan memasuki submukosa. Bentuk kista biasanya sferis, berukuran 10-18 mm. Kista yang matang berisi 2 inti yang akan membelah menjadi 4 inti yang kecil. Selama proses pematangan vakuola glikogen akan dikeluarkan dan benda kromatoid menjadi makin kabur dan akhirnya menghilang. Kista sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu. Kista bisa tetap hidup dan infektif dalam kondisi lembab sedangkan dalam feses yang mengering dapat bertahan sampai 12 hari dan dalam air selama 30 hari.6

Bila air minum atau makanan terkontaminasi oleh kista Entamoeba histolytica, kista akan masuk melalui saluran pencernaan menuju ileum dan terjadi excystasi, dinding kista robek dan keluar amoeba multinucleus metacystic yang langsung membelah diri menjadi 8 uninucleat trofozoit muda yang disebut amoebulae. Amoebulae bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan membelah diri asexual.7 Trofozoit dalam intestinal akan berubah bentuk menjadi precystic. Bentuknya akan mengecil dan bebentuk spheric dengan ukuran 3,5-20 mm. Bentuk kista yang matang mengandung kromatoid untuk menyimpan unsur nutrisi glycogen yang digunakan sebagai sumber energi. Kista ini adalah bentuk inaktif yang akan keluar melalui feses. Didalam dinding usus trofozoit terbawa aliran darah menuju hati, paru, otak dan organ lain. Hati adalah organ yang paling sering diserang selain usus. Di dalam hati trofozoit memakan sel parenchym hati sehingga menyebabkan kerusakan hati8 Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di dalam lumen usus besar, dapat berubah menjadi patogen, menembus mukosa usus dan menimbulkan ulkus. Faktor yang menyebabkan perubahan sifat trofozoit tersebut sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti. Diduga baik faktor kerentanan tubuh pasien,sifat keganasan (virulensi) ameba, maupun lingkungannya mempunyai peran. Faktorfaktor yang dapat menurunkan kerentanan tubuh misalnya kehamilan, kurang gizi, penyakit keganasan ameba ditentukan oleh strainnya. Beberapa faktor lingkungan yang diduga berpengaruh, misalnya suasana anaerob dan asam (pH 0,6-6,5), adanya bakteri, virus dan diet tinggi kolesterol, tinggi karbohidrat dan rendah protein. Ameba yang ganas dapat memproduksi enzim fosfoglukomutase dan lizosim yang dapat mengakibatkan kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus. Bentuk ulkus ameba sangat khas yaitu dilapisan mukosa berbentuk kecil tapi dilapisan submukosa dan muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadi ulkus dipermukaan mukosa usus menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yang minimal. Pada pemeriksaan mikroskopik eksudat ulkus,tampak sel leukosit dalam jumlah banyak, tampak pula Kristal charcot leyden dan kadang-kadang ditemukan trofozoit. Ulkus yang terjadi dapat menimbulkan perdarahan dan apabila

menembus lapisan muscular akan terjadi perforasi dan peritonitis. Infeksi kronik dapat menimbulkan reaksi terbentuknya massa jaringan granulasi yang disebut ameboma, yang sering terjadi didaerah sekum dan sigmoid. Dari ulkus didalam dinding usus besar, ameba dapat mengadakan metastasis ke hati lewat cabang vena porta dan menimbulkan abses hati. Embolisasi lewat pembuluh darah atau pembuluh getah bening dapat pula terjadi keparu, otak, atau limpa, dan menimbulkan abses disana, akan tetapi peristiwa ini jarang terjadi.3,5 F. KLASIFIKASI 1. Amoebiasis intestinal Amoebiasis intestinal atau disebut juga sebagai amoebiasis primer terjadi pertama didaerah caecum, appendix, colon ascenden dan berkembang ke colon lainnya. Bila sejumlah parasit ini menyerang mukosa akan menimbulkan ulkus (borok), yang mempercepat kerusakan mukosa.9 Lapisan muskularis usus biasanya lebih tahan. Biasanya lesi akan terhenti didaerah membran basal dari muskularis mukosa dan kemudian terjadi erosi lateral dan berkembang menjadi nekrosis. Jaringan tersebut akan cepat sembuh bila parasit tersebut dihancurkan (mati). Pada lesi awal biasanya tidak terjadi komplikasi dengan bakteri. Pada lesi yang lama (kronis) akan diikuti infeksi sekunder oleh bakteri dan dapat merusak muskularis mukosa, infiltrasi ke submukosa dan bahkan berpenetrasi ke lapisan muskularis dan serosa.5 Amoebiasis intestinal bergantung pada resistensi hospesnya sendiri, virulensi dari strain amuba, kondisi dari lumen usus atau dinding usus, yaitu keadaan flora usus, intek/tidaknya dinding usus, kondisi makanan, apabila makanan banyak mengandung karbohidrat, maka amoeba tersebut lebih pathogen. Pada pemeriksaan barium enema, amoeba dapat berupa lesi polipoid, dapat dikelirukan dengan karsinoma kolon. Adanya ulkus pada mukosa usus dapat diketahui dengan sigmoidoskopi pada 25% kasus. Ulkus tersebar, terpisah satu sama lain oleh mukosa usus yang normal, ukurannya bervariasi dari 2-3 mm sampai 2-3 cm.10

Variasi tipe amoebiasis primer terdiri atas (Peter, 2003): a) Amoebiasis kolon akut. Bila gejalanya berlangsung kurang dari 1 bulan.

Amoebiasis kolon akut atau disentri amoeba (dysentria amoebica) mempunyai gejala yang jelas yaitu sindrom disentri yang merupakan kumpulan gejala terdiri atas diare (berak-berak encer) dengan tinja yang berlendir dan berdarah serta tenesmus anus (nyeri pada anus waktu buang air besar). Terdapat juga rasa tidak enak di perut dan mules. Bila tinja segar diperiksa, bentuk histolitika dapat ditemukan dengan mudah. b) Amoebiasis kolon menahun, disebut juga sebagai inflammantory bowel

disease bila gejalanya berlangsung lebih dari 1 bulan atau bila terjadi gejala yang ringan, diikuti oleh reaktivasi gejala akut secara periodik. Amoebiasis kolon menahun mempunyai gejala yang tidak begitu jelas. Biasanya terdapat gejala sus yang ringan, antara lain rasa tidak enak di perut, diare yang diselingi dengan obstipasi (sembelit). 2. Amoebiasis Ekstra-Intestinal Invasi amoeba selain dalam jaringan usus disebut amoebiasis sekunder atau ekstra intestinal. Terjadinya kasus trofozoit terbawa aliran darah dan limfe ke lokasi lain dari tubuh, menyebabkan terjadinya lesi pada organ lain. Lesi sekunder dijumpai lesi pada hati (sekitar 5% dari kasus amoebiasis). Umumnya infestasi amuba yang paling sering adalah amoebiasis intraluminal asimptomatik. Perkiraan prevalensi individu yang asimptomatik bervariasi antara 5-50% populasi.6 Amoebiasis sekunder dapat terjadi penyebaran melalui beberapa cara, yaitu melalui darah atau yang disebut hematogen, organ yang paling sering terserang yaitu hepar yang akan menimbulkan amoebiasis hepatitis dan selanjutnya absces hepatikum dapat terjadi secara single atau multiple dan 85% pada lobus dextra.. Hal ini terjadi bila trofozoit masuk kedalam venula mesenterika dan bergerak ke hati melalui sistem vena porta hepatis, kemudian masuk melalui kapiler darah portal menuju sinusoid hati dan akhirnya membentuk absces.6 Besarnya absces cukup bervariasi dari bentuk titik yang kemudian membesar sampai seperti buah

anggur. Ditengah absces akan terlihat adanya cairan nekrosis, ditengahnya ada sel stroma hati dan bagian luarnya terlihat jaringan hati yang ditempeli oleh amoeba. Bilamana absces pecah serpihan absces akan tersebar dan menginfeksi jaringan lainnya. Selanjutnya dapat menyebar melalui otak.11 3. Carrier (Cyst Passer) Pasien tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini disebabkan karena ameba yang berada di dalam lumen usus besar, tidak mengadakan invasi ke dinding usus. G. GAMBARAN KLINIK

Gejala-gejala klinik dari amoebiasis tergantung daripada lokalisasi dan beratnya infeksi. Penyakit disentri yang ditimbulkannya hanya dijumpai pada sebagian kecil penderita tanpa gejala dan tanpa disadari merupakan sumber infeksi yang penting yang kita kenal sebagai "carrier", terutama didaerah dingin, yang dapat mengeluarkan berjuta-juta kista sehari. Penderita amoebiasis intestinalis sering dijumpai tanpa gejala atau adanya perasaan tidak enak diperut yang samar-samar, dengan adanya konstipasi, lemah dan neurastenia. Infeksi menahun dengan gejala subklinis dan terkadang dengan eksaserbasi kadangkadang menimbulkan terjadinya kolon yang "irritable" sakit perut berupa kolik yang tidak teratur.1,2,5 Amoebiasis yang akut mempunyai masa tunas 1-14 minggu. Dengan adanya sindrom disentri berupa diare yang berdarah dengan mukus atau lendir yang disertai dengan perasaan sakit perut dan tenesmus yang juga sering disertai dengan adanya demam. Amoebiasis yang menahun dengan serangan disentri berulang terdapat nyeri tekan setempat pada abdomen dan terkadang disertai pembesaran hati. Penyakit menahun yang melemahkan ini mengakibatkan menurunnya berat badan. Amoebiasis ekstra intestinalis memberikan gejala sangat tergantung kepada lokasi absesnya. Yang paling sering dijumpai adalah amoebiasis hati disebabkan metastasis dari mukosa usus melalui aliran sistem portal. Sering dijumpai pada

orang-orang dewasa muda dan lebih sering pada pria daripada wanita dengan gejala berupa demam berulang, kadang-kadang disertai menggigil, icterus ringan, bagian kanan diafragma sedikit meninggi, sering ada rasa sakit sekali pada bahu kanan dan hepatomegali. Abses ini dapat meluas ke paru-paru disertai batuk dan nyeri tekan intercostal, pleural effusion dengan demam disertai dengan menggigil. Pada pemeriksaan darah dijumpai lekositosis kadang-kadang amoebiasis hati sudah lama diderita tanpa tanda-tanda dan gejalanya khas yang sukar didiagnosa. Infeksi amoeba di otak menunjukkan berbagai tanda dan gejala seperti abses atau tumor otak. Amoebiasis ekstra intestinalis ini dapat juga dijumpai di penis, vulva, perineum, kulit setentang hati atau kulit setentang colon atau di tempat lain dengan tanda-tanda suatu ulkus dengan pinggirnya yang tegas, sangat sakit dan mudah berdarah. H. DIAGNOSIS

Diagnosis pasti penderita amoebiasis adalah menemukan parasit didalam tinja atau jaringan. Diagnosis laboratorium dapat dibuat dengan pemeriksaan mikroskopis atau menemukan parasit dalam biakan tinja sering dijumpai Entamoeba histolytica bersama-sama dengan kristal Charcot-Leyden. Diagnosis tidak selalu mudah, maka perlu dilakukan pemeriksaan berulang teristimewa pada kasus menahun. Kegagalan dapat terjadi dengan teknik yang salah, mencari parasit tidak cukup teliti atau sering dikacaukan dengan protozoa lain dan sel-sel artefak. Pemeriksaan tinja dengan sediaan langsung dengan memakai air garam faal, atau lugol, dengan pengecatan trichrom, hematoksilin (sediaan permanen) atau dengan metode konsentrasi. Pada umumnya pada tinja encer akan di jumpai bentuk tropozoit disertai gejala klinik nyata, sedangkan pada tinja padat pada penderita tanpa gejala terutama pada penderita menahun carrier akan dijumpai terutama bentuk kista. Bentuk tropozoit dapat dikenal karena gerakannya aktif, ektoplasma yang berbatas jelas, nukleus dan adanya sel darah merah, cristal Charcot Leyden, yang dicernakan dan kista- kista dapat dikenali dari bentuknya yang bulat dimana jumlah inti 1 4 dan benda chromatidnya.
9

Pemeriksaan serologis, test haemaglutinasi, test presipitin, pemeriksaan radiologis atau scalhing berperan pada penderita ekstra intestinal amoebiasis. Aspirasi abses dapat dilakukan dengan menemukan cairan warna coklat dan pada akhir aspirasi akan ditemukan bentuk tropozoit. Pada amoebiasis kolon akut biasanya diagnosis klinis ditetapkan bila terdapat sindrom disentri disertai sakit perut (mules). Biasanya gejala diare berlangsung tidak lebih dari 10 kali sehari. Gejala tersebut dapat dibedakan dari gejala penyakit disentri basilaris. Pada disentri basilaris terdapat sindrom disentri dengan diare yang lebih sering, kadang-kadang sampai lebih dari 10 kali sehari, terdapat juga demam dan lekositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam tinja. Amoebiasis kolon menahun biasanya terdapat gejala diare yang ringan diselingi dengan obstipasi. Dapat juga terjadi suatu eksaserbasi akut dengan sindrom disentri. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam tinja. Bila amoeba tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulangi 3 hari berturut-turut. Reaksi serologi perlu dilakukan untuk menunjang disgnosis. Proktoskop dapat digunakan untuk melihat luka yang terdapat di rektum dan untuk melihat kelainan di sigmoid digunakan sigmoidoskop. Sedangkan pada amoebiasis hati secara klinis dapat dibuat diagnosis bila terdapat gejala berat badan menurun, badan terasa lemah, demam, tidak nafsu makan disertai pembesaran hati yang nyeri tekan. Pada pemeriksaan radiologi biasanya didapatkan peninggian diafragma. Pemeriksaan darah menunjukkan adanya leukositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam biopsi dinding abses atau dalam aspirasi nanah abses. Bila amoeba tidak ditemukan, dilakukan pemeriksaan serologik, antara lain tes hemaglutinasi tidak langsung atau tes imunodifusi. I. DIAGNOSIS BANDING 1,2,5 1. Disentri basiler 2. Schistosomiasis 3. Karsinoma Usus besar 4. Kolitits Ulserativa
10

5. Trichuriasis 6. Malaria 7. Kolitis sebagai akibat radiasi

J. PENATALAKSANAAN 1. Supportive terapi (supportive therapy) Terapi ini berhubungan dengan sifat virulensi amoeba. Biasanya dengan menggunakan diet tinggi protein dan rendah karbohidrat, yakni : - Tinggi protein, akan mempertinggi daya tahan host. - Rendah karbohidrat, akan menurunkan virulensi infeksi. 2. Kausal terapi ( Causal therapy ) Ditujukan terhadap: - Parasitnya. - Bakteri yang associde. - Kuman kuman yang menyebabkan sekunder infeksi. Obat obatnya antara lain: 1. Emetin Hidroklorida. Obat ini berkhasiat terhadap bentuk histolitika. Pemberian emetin ini hanya efektif bila diberikan secara parenteral karena pada pemberian secara oral absorpsinya tidak sempurna. Toksisitasnya relatif tinggi, terutama terhadap otot jantung. Dosis maksimum untuk orang dewasa adalah 65 mg sehari. Lama pengobatan 4 sampai 6 hari. Pada orang tua dan orang yang sakit berat, dosis harus dikurangi. Pemberian emetin tidak dianjurkan pada wanita hamil, pada penderita dengan gangguan jantung dan ginjal. Dehidroemetin relatif kurang toksik dibandingkan dengan emetin dan dapat diberikan secara oral. Dosis maksimum adalah 0,1 gram sehari, diberikan selama 46 hari. Emetin dan dehidroemetin efektif untuk pengobatan abses hati (amoebiasis hati).

2. Klorokuin. Obat ini merupakan amoebisid jaringan, berkhasiat terhadap bentuk histolytica. Efek samping dan efek toksiknya bersifat ringan antara lain, mual, muntah, diare, sakit kepala. Dosis untuk orang dewasa adalah 1 gram sehari selama 2 hari, kemudian 500 mg sehari selama 2 sampai 3 minggu.

11

3. Antibiotik. Tetrasiklin dan eritomisin bekerja secara tidak langsung sebagai amebisid dengan mempengaruhi flora usus. Peromomisin bekerja langsung pada amoeba. Dosis yang dianjurkan adalah 25 mg/kg bb/hari selama 5 hari, diberikan secara terbagi. 4. Metronidazol (Nitraomidazol). Metronidazol merupakan obat pilihan, karena efektif terhadap bentuk histolytica dan bentuk kista. Efek samping ringan, antara lain, mual, muntah dan pusing. Dosis untuk orang dewasa adalah 2 gram sehari selama 3 hari berturutturut dan diberikan secara terbagi. K. PROGNOSIS Prognosis ditentukan oleh berat-ringannya penyakit, diagnosis dan pengobatan dini yang tepat, serta kepekaan ameba terhadap obat yang diberikan. Pada umumnya prognosis amebiasis adalah baik terutama yang tanpa komplikasi. Pada abses hati ameba kadang-kadang diperlukan tindakan pungsi untuk mengeluarkan nanah. Demikian pula dengan amebiasis yang disertai penyulit efusi pleura. Prognosis yang kurang baik adalah abses otak ameba. 5 L. KOMPLIKASI Beberapa penyulit dapat terjadi pada disentri ameba, baik berat maupun ringan. Sering sumber penyakit di usus sudah tidak menunjukkan gejala lagi atau hanya menunjukkan gejala ringan, sehingga yang menonjol adalah gejala penyulitnya (komplikasi). Berdasarkan lokasinya, penyulit tersebut dapat dibagi menjadi 2 yakni : 5 1. Komplikasi Intestinal a. Perdarahan usus b. Perforasi usus c. Ameboma d. Intususepsi e. Penyempitan usus (Striktura)

12

2. Komplikasi Ekstra Intestinal a. Amebiasis hati b. Amebiasis pleuropulmonal c. Abses otak, limpa, dan organ lain d. Amebiasis kulit

M. PENCEGAHAN Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica antara lain sebagai berikut: 1. Tidak makan makanan mentah (sayuran, daging babi, daging sapi, dan daging ikan), dan untuk buah dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air. 2. Minum air yang telah dimasak mendidih baru aman. 3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar. 4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air. 5. Di Taman Kanak- Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing. 6. Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit. 7. Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya.

13

DAFTAR PUSTAKA 1. Rasmaliah. 2003. Epidemiologi Amoebasis dan Upaya Pencegahannya. diakses pada tanggal 12/12/2012. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm.rasmaliah.pdf 2. Gandahusada, Srisasi.. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004. 3. Thatha, Ira. 2009. Entamoeba histolytica. http://iranthatha.wordpress.com. Diakses pada tanggal 12/12/2012. 4. Ghosh, Sudip K. 2009. Molecular Characterization of Entamoeba invadens chitinases: an encystation specific protein. http://subscribd.com. Diakses pada tanggal 16 desember 2012. 5. Sudoyo A.W, Eddy S, dkk. Amebiasis.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III edisi kelima. Balai Penerbit FKUI.Jakarta.2009. Hal 2850-2856. 6. Zein, Umar. 2004. Diare Akut Infeksius pada Orang Dewasa. http://library.usu.ac.id. Diakses pada tanggal 19 desember 2012 7. Marr, Berger S.A. 2006. Penyakit Parasit Manusia. http://bartlett.sudbury.org. Diakses pada tanggal 19 desember 2012 8. Espinosa, Avelina. 2004. Entamoeba histolytica Alkohol Dehidrogenase2 (EhADH2) Sebagai Target untuk Agen Anti-amuba. http://translate.googleusercontent.com. Diakses paa tanggal 18 desember 2012 9. Opperdoes, Fred. R. 1998. Kemoterapi Anti-amuba. http://www.icp.ucl.ac..html. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012 10. Hastings, Caroline A. dan Bertram H. Lubim. 2002. Infectious Diseases in Rudolphs Fundamental Paediatrics. http://referensikedokteran.blogspot.com. Diakses pada tanggal 18 desember 2012 11. Lane, Peter A., Rachelle Nuss dan Daniel R. Ambrusso. 2003. Liver & Pancreas in Lange Medical Book: Current Paediatric Diagnosis & Treatment.Diakses pada tanggal 18 Desember 2012

14