Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH GEOLOGI SEBAGAI ILMU DAN TEKNOLOGI

Muhammad Ridho Yonas 270110120053

GEOLOGI A

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJAJARAN 2013


TA. 2013/2014

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Geologi, adalah suatu bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian yang mempelajari segala sesuatu mengenai planit Bumi beserta isinya yang pernah ada. Merupakan kelompok ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dan bahan-bahan yang membentuk bumi, struktur, proses-proses yang bekerja baik didalam maupun diatas permukaan bumi, kedudukannya di Alam Semesta serta sejarah perkembangannya sejak bumi ini lahir di alam semesta hingga sekarang. Geologi dapat digolongkan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang komplek, mempunyai pembahasan materi yang beraneka ragam namun juga merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang menarik untuk dipelajari. Ilmu ini mempelajari dari benda-benda sekecil atom hingga ukuran benua, samudra, cekungan dan rangkaian pegunungan. Hampir semua kebutuhan kita sehari-hari diperoleh dari bumi mulai dari perhiasan, perlengkapan rumah tangga, alat transportasi hingga ke bahan energinya, seperti minyak dan gas bumi serta batubara. Dan hampir setiap bentuk kegiatan manusia akan berhubungan dengan bumi, baik itu berupa pembangunan teknik sipil seperti bendungan, jembatan, gedung-gedung bertingkat yang dibangun diatas permukaan bumi, maupun untuk memenuhi kebutuhannya seperti bahan-bahan tambang maupun energi seperti migas dan batubara, yang harus digali dan diambil dari dalam bumi. Kaitannya yang sangat erat dengan bidang-bidang kerekayasaan tersebut seperti Teknik Sipil, Pertambangan, Pengembangan Wilayah dan Tata Kota serta Lingkungan, menyebabkan ilmu ini semakin banyak dipelajari, tidak saja oleh mereka yang akan memperdalam bidang geologi sebagai profesinya, tetapi juga bagi lainnya yang bidang profesinya mempunyai kaitan yang erat dengan bumi. Seorang ahli geologi disebut Geologist mempunyai tugas disamping melakukan penelitian-penelitian untuk mengungkapkan misteri yang masih menyelimuti prosesproses yang berhubungan dengan bahan-bahan yang membentuk bumi, gerak-gerak dan perubahan yang terjadi seperti gempa-bumi dan meletusnya gunungapi, juga mencari dan mencoba menemukan bahan-bahan yang kita butuhkan yang diambil dari dalam bumi seperti bahan tambang dan minyak dan gas bumi. Dengan semakin berkembangnya penghuni bumi, dimana sebelumnya pemilihan wilayah pemukiman bukan merupakan masalah, sekarang ini pengembangan wilayah harus memperhatikan dukungan terhadap lingkungan yang ditentukan oleh faktor-faktor geologi agar pembangunannya tidak merusak keseimbangan alam. Karena itu tugas seorang ahli geologi disamping apa yang diuraikan diatas, juga mempelajari sifat-sifat bencana alam,

seperti banjir, longsor, gempa-bumi dll; meramalkan dan bagaimana cara menghindarinya. Karena luasnya bidang-bidang yang dicakup, maka Geologi lazimnya dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu Geologi Fisik dan Geologi Dinamis. Geologi Fisik atau Physical Geology, adalah suatu studi yang mengkhususkan mempelajari sifat-sifat fisik dari bumi, seperti susunan dan komposisi dari pada bahan-bahan yang membentuk bumi, selaput udara yang mengitari bumi, khususnya bagian yang melekat dan berinteraksi dengan bumi, kemudian selaput air atau hidrosfir, serta proses-proses yang bekerja diatas permukaan bumi yang dipicu oleh energi Matahari dan tarikan gayaberat bumi. Proses-proses yang dimaksud itu, dapat dijabarkan sebagai pelapukan, pengikisan, pemindahan dan pengendapan. Disisi lain, Geologi Dinamis adalah bagian dari Ilmu Geologi yang mempelajari dan membahas tentang sifat-sifat dinamika bumi. Sisi ini berhubungan dengan perubahan-perubahan pada bagian bumi yang diakibatkan oleh gaya-gaya yang dipicu oleh energi yang bersumber dari dalam bumi, seperti kegiatan magma yang menghasilkan vulkanisma, gerak-gerak litosfir akibat adanya arus konveksi, gempabumi dan gerak-gerak pembentukan cekungan pengendapan dan pegunungan. Dalam perioda abad ke 20, bagian dari ilmu geologi ini dapat dikatakan sedang berada dalam puncak perkembangannya yang semakin mempesona bagi para pakar ilmu kebumian, yaitu dengan dicetuskannya Konsep Tektonik Global Yang Baru (The New Global Tectonic) dengan Teori Tektonik Lempengnya. Teori ini telah menimbulkan suatu revolusi dalam pemikiran-pemikirannya dan telah banyak mempengaruhi cabang-cabang lainnya dari ilmu geologi seperti petrologi, stratigrafi, geologi struktur, tektonik serta implikasinya terhadap pembentukan cebakan mineral, minyak bumi dan sebagainya.

BAB II PEMBAHASAN Geologi merupakan ilmu mengkaji tentang masalah kebumian,terutama yang berkaitan dengan gaya dan proses dari bumi yang berpengaruh terhadap kerak bumi. Geologi juga dapat didefinisikan sebagai limu yang mempelajari planet bumi terutama mengenai materi penyusunnya,proses yang terjadi pdanya,hasil proses tersebut,sejarah planet itu dan bentuk-bentuk kehidupan sejak bumi terbentuk. Seperti halnya ilmu-ilmu lainya, geologi ini memiliki konsep dan metodologi yang komprehensif sebagai sebuah disiplin ilmu.Oleh karena itu,pengetahuan dan pengalaman dalam bidang keilmuan mahasiswa sangat diperlukan untuk memperoleh relevansi diantara ilmu-ilmu lain. A. Pengenalan Alat

Dalam bidang pengenalan alat diperlukan alat-alat dan bahan pengumpul data penelitian dan bahan yang ingin diamati. Perkembangan alat dan bahan untuk suatu masalah telah mengalami perkembangan alat dan bahan untuk suatu masalah telah mengalami perkembangan yang cepat dan hampir tidak ada seperti kristal batuan,sempel batuan,tiruan fosil maka perlu jga alat yang berguna untuk meneliti. Alat-alat geologi sebagai alat ukur fenomena geologi dan media pembelajaran dan menjunjung kemampuan pemahaman dan keterampilan mahasiswa tentang konsep geologi. Alat-alat: 1. Peta geologi : Bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah/wilayah/ kawasan dengan tingkat kualitas yang tergantung pada skala peta yang digunakan dan menggambarkan informasi sebaran, jenis dan sifat batuan, umur, stratigrafi, struktur, tektonika, fisiografi dan potensi sumber daya mineral serta energi yang disajikan dalam bentuk gambar dengan warna, simbol dan corak atau gabungan Ketiganya.(Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, Nomor 1452 K/10/MEM/2000. 2000) 2. Sampel batuan : Sampel batuan digunakan untuk mengetahui jenis batuan di bumi 3. Soil Teskid : Soil Teskid digunakan untuk mengetahui kandungan-kandungan organik, kapur pada tanah, serta tingkat drainase tanah di suatu tempat.

4.

Kompas Geologi

Gambar 1. Kompas Geologi Alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat, serta mengukur kemiringan lereng. Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat membantu dalam bidang navigasi. Dikenal beberapa macam/tipe kompas geologi, antara lain tipe Kompas Brunton, yang dilengkapi dengan pengukur sudut vertical yang disebut sebagai clinometer, fungsi kompas tersebut dilengkap antara lain dengan : Compass needle (Jarum Magnet) Graduate Circle (Lingkaran pembagian derajat) Valve yang dilengkapi dengan Cermin dan jendela intip (Sighting windows) dan axial line, Folding sight, Sighting arm, Peep sight, Clinometer Bulls eyes dan clinometer level. Tetapi perlu diingat bahwa arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah arah utara magnet bumi, jadi bukan arah utara sebenarnya.

5. Hand level :

Alat ini digunakan untuk menentukan besar kemiringan suatu lereng dan ketinggian suatu objek yang dinyatakan dalam skala derajat maupun persen. 6. Palu geologi :

Alat ini digunakan untuk menentukan kekerasan dan tingkat kelapukan batuan. Palu geologi terbagi menjadi dua jenis yaitu palu pick point dan palu chisel point (batuan sedimen) cocok digunakan untuk batuan yang sudah di tentukan sesuai dengan peruntukannya. a. Palu pick point Merupakan tipe palu yang mana memiliki salah satu bagian yang runcing. Fungsinya digunakan untuk tipe batuan yang keras atau padat (massif) misalnya pada batuan beku dan batuan metamorf. b. Palu chisel point (batuan sedimen) Merupakan tipe palu yang mana memiliki salah satu bagian yang pipih. Fungsinya di gunakan untuk mengait perlapisan pada batuan untuk mengait perlapisan pada batuan. Palu tipe ini biasanya di gunakan untuk tipe yang lunak misalnya pada batuan sedimen.

B. Mengidentifikasi Batuan Beku Batuan yang terbentuk akibat adanya pembekuan magma didalam bumi atau pembekuan lava di atas permukaan bumi. Magma adalah larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah, Bersifat mobile, bersuhu tinggi (900-1200C) dan berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung bagian atas. Penyebaran batuan beku di permukaan bumi mencapai 60 % dari total batuan penyusun muka bumi. Struktur batuan beku sebagian hanya dapat dilihat di lapangan saja seperti struktur pillow lava dan columnar joint, dan hanya sedikit yang dapat diamati pada hand speciement sample. Tekstur Batuan Beku Tekstur batuan beku : merupakan sebagai hubungan antara massa mineral dengan massa gelas yang membentuk massa yang merata dari batuan. A. Derajat Kristalisasi Merupakan keadaan proporsi antara massa kristal dengan massa gelas dalam batuan. 1. Holokristalin : batuan seluruhnya terdiri atas massa kristal. 2. Hipokristalin : batuan tersusun oleh massa kristal dan gelas. 3. Holohyalin : batuan tersusun oleh massa gelas seluruhnya. Contoh : Obsidian = volcanic glass B. Granularitas Merupakan ukuran butir kristal dalam batuan beku, dapat sangat halus dan tidak dapat dikenal meskipun dengan mikroskop, tetapi dapat pula sangat kasar. Afanitic : ukuran butir halus (< 1 mm); menunjukkan pembekuan yang cepat Fanerik : ukuran butir kasar (1->30 mm); menunjukkan pembekuan yang lambat. Porphyritic : campuran ukuran butir yang bermacam-macam. Menunjukkan proses pembekuan yang bercampur. Umumnya pembekuan berjalan lambat baru kemudian pembekuan berjalan cepat. C. Bentuk Kristal 1. Euhedral : Bentuk kristal dan butiran mineral mempunyai bidang kristal sempurna. 2. Subhedral : Bentuk kristal dan butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna. 3. Anhedral : Bentuk kristal dan butiran mineral mempunyai bidang kristal tidak sempurna. D. Hubungan antar kristal

1. Equigranular : Bila secara relatif ukuran kristalnya mempunyai ukuran sama besar. 2. Inequigranular : Bila secara relatif ukuran kristalnya mempunyai ukuran sama besar Komposisi Mineral Dalam magma terdapat bahan-bahan yang larut yang bersifat volatile (gas) dan nonvolatile. Bahan-bahan non volatile, terutama yang berupa oksida-oksida dalam kombinasi tertentu merupakan bahan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku. Pada saat berlangsungnya penurunan suhu magma, terjadi proses pengabluran (pembentukan mineral-mineral). Berdasarkan warnanya, mineral penyusun batuan beku dapat dibedakan menjadi dua : 1. Mineral Felsik Mineral-mineral berwarna terang, terutama dari mineral kuarsa, feldspar (ex : orthoklas, plagioklas,albit) feldspatoid dan muskovit. 2. Mineral Mafik Mineral-mineral berwarna gelap, terutama biotit, amphibol, piroksen dan olivine. 3. Mineral Sekunder Mineral yg terbentuk pd kristalisasi magma, umumnya jumlahnya sedikit. Dalam jumlah banyak dapat bernilai ekonomis tetapi tidak mempengaruhi penamaan batuan spt hematit, kromit, muscovit, zeolit. Oleh Bowen disusun seri penghabluran mineral-mineral silikat yang dikenal dengan Bowens Reaction Series. Deret sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik yang bersifat discontinuous series (mineral-mineral yang terbentuk diawal deret tidak akan terbentuk lagi pada deret selanjutnya). Deret sebelah kanan adalah mineral felsik (kelompok plagioklas) yang bersifat continuous series (mineral-mineral yang terbentuk diawal deret tetap dapat terbentuk lagi pada deret selanjutnya). Kedua deret bertemu pada kelompok mineral stabil yang tidak mudah terubah menjadi mineral lain (Orthoklas Quartz) C. Mengidentifikasi Batuan Sedimen Batuan yang terbentuk akibat lithifikasi dari hancuran batuan induk. Lithifikasi batuan meliputi proses kompaksi autigenik dan diagenesa (proses terubahnya material-material lepas menjadi batuan yang kompak). Batuan sedimen sangat banyak jenisnya dan tersebar luas dengan ketebalan dari beberapa cm sampai beberapa km. Secara lateral penyebaran batuan sedimen mencapai

70 % dari batuan yang ada dipermukaan akan tetapi batuan sedimen hanya merupakan 5 % dari batuan yang ada di bumi. Secara umum batuan sedimen terbagi atas dua kelompok besar yaitu : 1. Batuan Sedimen Silisiklastik 2. Batuan karbonat Sedangkan berdasarkan proses pembentukkannya batuan sediment terbagi atas: 1. Sedimen Klastik 2. Sedimen non klastik : a. Sedimen kimiawi b. Sedimen biologic Sedimen klastik Mengalami transportasi dengan media fluida (air, angin, gletser) sehingga pengendapannya tidak pada tempat terdapatnya batuan induk. Contoh : Batupasir, konglomerat Sedimen non klastik Umumnya insitu atau tidak mengalami transportasi sehingga pengendapannya relative dekat dengan batuan induk. a. Sedimen organik Batuan sedimen yang dihasilkan oleh aktivitas organisme, terdapat sebagai sisa organisme yang biasanya tetap tinggal di tempatnya. Contoh : Batugamping terumbu, batubara b. Sedimen kimia Batuan sedimen yang dihasilkan oleh proses penguapan, terutama di daerah aride. Batuan ini umumnya hanya tersusun atas satu komposisi mineral dengan kilap yang umumnya non-metalik. Contoh : Gipsum

KOMPOSISI Komposisi batuan sedimen dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : 1. Fragmen Butiran pembentuk batuan yang berukuran paling besar. Fragmen dapat berupa butiran mineral, batuan atau fosil. 2. Matrik Bagian dari butiran pembentuk batuan yang berukuran lebih kecil dari fragmen. Biasanya berkomposisi sama dengan fragmen. 3. Semen Bahan pengikat antara fragmen dengan matrik. Dalam sediment klastik dikenal 3 macam semen yaitu :

1. Karbonat : Kalsit, dolomite 2. Silikat : Kalsedon, Kuarsa 3. Oksida Besi : Hematit, limoni

Silisiklastik Komposisi batuan silisiklastik terdiri atas fragmen, matrik dan semen. Batuan sedimen klastik tersusun oleh butiran-butiran hasil rombakan atau detrital grains sebagai pembentuk kerangka utama batuan sedimen. Matriks yang terdiri dari butiran halus menempati ruang antar butiran, sedangkan mineral autogenic dan semen terbentuk pada saat diagenesa. Komposisi mineral yang dominan pada batuan silisiklastik adalah mineral-mineral stabil yang tahan terhadap proses pelapukan dan transportasi. Mineral yang sering dijumpai pada batuan sedimen silisiklastik diantaranya adalah kuarsa sebagai mineral paling stabil, feldspar yang berasal dari batuan induk yang sama dengan kwarsa, mika dan mineral lempung. Butiran-butiran tersebut selanjutnya akan diikat oleh semen yang dapat berupa semen silika, semen karbonat dan oksida besi. Karbonat Pada dasarnya komposisi batuan karbonat sangat bervariasi tetapi secara umum dapat dikelompokkan menjadi non skeletal grains, skeletal components, micrite dan cement. Butiran tersebut merupakan butiran karbonat dan bagian dari sisa organisme yang dibagi berdasarkan bentuk butir dan ukuran butirnya. Karena lingkungan pembentukan batuan karbonat yang sangat khas maka detritus asal darat sangat sedikit bahkan tidak ada dalam batuan karbonat.

TEKSTUR Menurut Pettijohn (1975) tekstur adalah suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta susunannya. Secara umum tekstur batuan sedimen mencerminkan proses-proses yang terjadi pada saat pengendapan. Tekstur batuan sedimen Klastik 1. Ukuran butir Ukuran butir pada batuan sediment klastik menggunakan skala wenthworth sebagai parameternya. 1. Derajat pemilahan (sortasi)

Merupakan gambaran tingkat keseragaman dari butiran pembentuk batuan sedimentt. a. Pemilahan baik (well sorted) b. Pemilahan sedang (moderately sorted) c. Pemilahan buruk (poorly sorted) 2. Derajat Pembundaran (Roundness) a. Menyudut (angular) b. Menyudut tanggung (sub-angular) c. Membulat tanggung (sub rounded) d. Membulat (rounded) e. Membulat baik (well rounded) 3. Kemas Menunjukkan hubungan kerapatan antara butiran penyusun dalam batuan sediment. a. Kemas terbuka : kerapatan antar butiran kecil/renggang b. Kemas tertutup : kerapatan antar butiran besar/rapat Pada batuan silisiklastik butirannya akan dibedakan berdasarkan ukurannya yaitu mulai dari ukuran yang paling halus hingga paling kasar. Pada umumnya pembagian ukuran butir pada sedimen klastik menggunakan skala Wentworth yang selanjutnya akan menjadi dasar penamaan batuan sedimen silisiklastik seperti : batupasir, batulempung, batulanau dan sebagainya. Ukuran butir pada batuan silisiklastik akan berhubungan langsung dengan porositas dan permebilitas batuan karena butiran-butiran tersebut yang membentuk rongga-rongga pori. klasifikasinya menggunakan parameter tekstur seperti ukuran butir, bentuk butir, sortasi dan kemas. Tekstur terutama ukuran butir dalam batuan sedimen silisiklastik akan menunjukkan tingkat kedewasaan dari sedimen tersebut dan menggambarkan dinamika transportasi sedimen. Nonklastik A. Sedimen Organik Pada batuan karbonat klasifikasi yang digunakan berhubungan dengan matrik dan partikel yang menyusun batuan yang dikenal dengan istilah Allochem, mikrit dan sparit. Bentuk butir dalam batuan karbonat akan sangat khas jika merupakan unsur dari organisme seperti cangkang dan fragmen kerangka. Bentuk butir dalam batuan karbonat akan menunjukkan energi dalam lingkungan pengendapannya. Pada batuan karbonat partikel-partikel karbonat dibagi menjadi dua yaitu butiran (>0,02 mm) dan lime mud (<0,02 mm).

Karena sifatnya yang mudah larut ukuran butir pada batuan karbonat tidak berhubungan langsung dengan besarnya porositas dan permeabilitas batuan. Pada batuan karbonat tekstur akan menunjukkan unsur-unsur organik sebagai komponen karbonat yang terdeposisi. Unsur-unsur organik yang menyusun batuan karbonat dapat terdiri dari komponen organisme dengan ukuran kecil hingga besar yang dapat pula menjadi indikasi kedewasaan suatu batuan karbonat. B. Sedimen Kimiawi Pemerian sediment kimiawi meliputi : a. Warna batuan b. Komposisi c. Kilap d. Ukuran butir e. Mineral Teksturnya : a. Kristalin b. Amorf c. Gelas d. Fibrous

STRUKTUR Struktur batuan sedimen (struktur primer) umumnya tidak banyak yang dapat diamati di laboratorium karena umumnya mempunyai skala yang cukup besar. Struktur batuan sediment diantaranya : 1. Struktur perlapisan Merupakan struktur utama batuan sedimen klastik yang menunjukkan adanya bidangbidang perlapisan sebagai hasil proses pengendapan. Faktor-faktor yang menyebabkan adanya struktur perlapisan : a. Perbedaan warna b. Perbedaan ukuran butir c. Perubahan struktur sediment d. Perbedaan komposisi mineral e. Perbedaan kekompakan f. Perubahan macam batuan

Dalam klasifikasinya batuan sedimen mengacu pada proses pembentukannya, apakah termasuk dalam sediment klastik ataupun sedimen non klastik. Klasifikasi batuan sediment klastik umumnya lebih sederhana karena penamaannya dapat didasarkan pada ukuran butirnya. Sedangkan untuk batuan non klastik masih harus dilihat komposisinya secara menyeluruh.

F.

Mengidentifikasikan Batuan Metamorf Batuan metamorf adalah batuan ( beku maupun sedimen) yang telah mengalami perubahan sifat dan kondisi aslnya. Sifat utama batuan ini adalah karena proses rekristalisasi dikedalaman kerak bumi 3-20 km yang keseluruhan atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat (tanpa melalui fase cair),sehingga terbentuk struktur minerologi baru yang sesuai dengan lingkungan fisik baru ( tekanan dan tenperatur). Proses metamorfisme Batuan mengalami penambahan tekanan (P) atau temperature (T) atau kenaikan P dan T secara bersamaaan sehingga mengalami perubahan susunan mineraloginya (susunan kimianya tetap) yang berlangsung dari fase padat ke fase padat tanpa mengalami fase cair.

Tipe-tipe metamorfisme : 1. Thermal/kontak => T mengalami kenaikan 2. Dinamo/dislokasi/kataklastik => P mengalami kenaikan 3. Regional => P & T naik secara bersamaan Klasifikasi dan Penamaan jenis batuan metamorf Secara umum batuan metamorf dibagi dalam dua kelompok yang didasarkan atas strukturnya, yaitu: 1. Foliasi/Banded Mempunyai kenampakan seperti perlapisan akibat adanya penjajaran mineral 2. Non-Foliasi Tidak mempunyai kenampakan seperti perlapisan akibat adanya penjajaran mineral Tekstur pada batuan metamorf diantaranya : a. Kristaloblastik Tekstur yang terjadi pada saat tumbuhnya mineral dalam suasana padat (tekstur batuan asalnya tidak tampak lagi). 1. Lepidoblastik

2. 3. 4. 5. 6.

Nematoblastik Granoblastik Porfiroblastik Idioblastik Xenoblastik

b. Palimpsest (tekstur sisa) 1. Blastoporfiritik 2. Blastoopitik Struktur a. Foliasi mineral

: mempunyai kenampakan seperti perlapisan akibat adanya penjajaran

1. Slatycleavage Contoh: Slate ---> batulempung yang mengalami metamorfosa derajat rendah. 2. Philithic Contoh : Philit 3. Schistose Contoh : Schist 4. Gneissic Contoh : gneiss B. Non Foliasi : tidak nampak adanya penjajaran mineral 1. 2. 3. Hornfelsik Kataklastik Milonitik

J. Membaca dan Menafsirkan Peta Geologi Peta Geologi merupakan Peta Tematik yang berisi informasi tentang berbagai kondisi geologis, seperti : formasi batuan, proses-proses geologis (misalnya : patahan/sesar, lipatan, depresi, dan lainya),penampang melintang suatu formasi (formasi batuan tertentu), informasi-informasi mengenai material batuan, umur formasi, ketebalan lapisan dan lain-lainya).

Peta geologi dapat dibedakan atas peta geologi sistematik dan peta geologi tematik: Peta geologi sistematik adalah peta yang menyajikan data geologi pada peta dasar topografi atau batimetri dengan nama dan nomor lembar peta yang mengacu pada SK Ketua Bakosurtanal No. 019.2.2/1/1975 atau SK penggantinya. Peta geologi tematik adalah peta yang menyajikan informasi geologi dan/atau potensi sumber daya mineral dan/atau energi untuk tujuan tertentu.

Pemetaan geologi adalah pekerjaan atau kegiatan pengumpulan data geologi, baik darat maupun laut, dengan berbagai metoda. Sumber daya geologi adalah sumber daya alam yang meliputi sumber daya mineral, energi, air tanah, bentang alam dan kerawanan bencana alam geologi. Persyaratan teknis penyusunan peta geologi meliputi simbol peta, istilah, keterangan peta, penyajian peta, penerbitan, spesifikasi dan ukuran lembar peta, yang sesuai dengan hasil pembakuan SNI No. 13-4691-1998 dan SNI 13-5015-1998. 1. Simbol Peta Simbol peta dipakai untuk menggambarkan suatu informasi pada peta berupa singkatan huruf, tata warna, corak dan simbol geologi atau gabungannya. a. Singkatan huruf digunakan untuk menunjukkan satuan litostratigrafi dan kronostratigrafi pada peta. b. Tata warna digunakan untuk membedakan satuan peta geologi berdasarkan jenis dan umur satuan batuan serta satuan geokronologi. Corak geologi dipakai untuk membedakan jenis litologi pada peta. Simbol geologi digunakan untuk membedakan fenomena geologi pada peta. 2. Istilah Peristilahan yang digunakan pada peta geologi mengacu pada Glossary of Geology (American Geological Institute, 1972), Peristilahan Geologi dan Ilmu Berhubungan (M.M. Purbohadiwidjojo, 1975) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. 3. Keterangan Peta Keterangan peta ditulis dalam Bahasa Indonesia dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris yang dicetak dengan huruf miring. 4. Penyajian Peta Penyajian peta meliputi tata letak, korelasi satuan peta dan uraian singkat setiap satuan peta. 5. Lampiran Peta Peta geologi dapat disertai lampiran yang berisi uraian data dan informasi daerah yang bersangkutan yang tidak dapat diuraikan di dalam peta karena keterbatasan tempat. 6. Penerbitan Peta Peta geologi diterbitkan dengan menggunakan bahan baku dan ukuran kertas yang sudah ditentukan.

7. Spesifikasi Peta Spesifikasi peta meliputi penggunaan peta dasar topografi atau batimetri, sistem proyeksi yang digunakan dan ketentuan pencantuman penampang geologi. 8. Ukuran Lembar Peta Ukuran dan batas koordinat lembar peta geologi sistematik mengacu pada Surat Keputusan Ketua Bakosurtanal Nomor 019.2.2/1/1975 atau Surat Keputusan penggantinya, sedangkan peta geologi tematik disesuaikan dengan tujuan dan kepentingannya.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Geologi, adalah suatu bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian yang mempelajari segala sesuatu mengenai planit Bumi beserta isinya yang pernah ada. Merupakan kelompok ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dan bahan-bahan yang membentuk bumi, struktur, proses-proses yang bekerja baik didalam maupun diatas permukaan bumi, kedudukannya di Alam Semesta serta sejarah perkembangannya sejak bumi ini lahir di alam semesta hingga sekarang. Geologi dapat digolongkan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang komplek, mempunyai pembahasan materi yang beraneka ragam namun juga merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang menarik untuk dipelajari. Ilmu ini mempelajari dari benda-benda sekecil atom hingga ukuran benua, samudra, cekungan dan rangkaian pegunungan. Hampir semua kebutuhan kita sehari-hari diperoleh dari bumi mulai dari perhiasan, perlengkapan rumah tangga, alat transportasi hingga ke bahan energinya, seperti minyak dan gas bumi serta batubara. Dan hampir setiap bentuk kegiatan manusia akan berhubungan dengan bumi, baik itu berupa pembangunan teknik sipil seperti bendungan, jembatan, gedung-gedung bertingkat yang dibangun diatas permukaan bumi, maupun untuk memenuhi kebutuhannya seperti bahan-bahan tambang maupun energi seperti migas dan batubara, yang harus digali dan diambil dari dalam bumi. Kaitannya yang sangat erat dengan bidang-bidang kerekayasaan tersebut seperti Teknik Sipil, Pertambangan, Pengembangan Wilayah dan Tata Kota serta Lingkungan, menyebabkan ilmu ini semakin banyak dipelajari, tidak saja oleh mereka yang akan memperdalam bidang geologi sebagai profesinya, tetapi juga bagi lainnya yang bidang profesinya mempunyai kaitan yang erat dengan bumi. Seorang ahli geologi disebut Geologist mempunyai tugas disamping melakukan penelitian-penelitian untuk mengungkapkan misteri yang masih menyelimuti prosesproses yang berhubungan dengan bahan-bahan yang membentuk bumi, gerak-gerak dan

perubahan yang terjadi seperti gempa-bumi dan meletusnya gunungapi, juga mencari dan mencoba menemukan bahan-bahan yang kita butuhkan yang diambil dari dalam bumi seperti bahan tambang dan minyak dan gas bumi. Dengan semakin berkembangnya penghuni bumi, dimana sebelumnya pemilihan wilayah pemukiman bukan merupakan masalah, sekarang ini pengembangan wilayah harus memperhatikan dukungan terhadap lingkungan yang ditentukan oleh faktor-faktor geologi agar pembangunannya tidak merusak keseimbangan alam. Karena itu tugas seorang ahli geologi disamping apa yang diuraikan diatas, juga mempelajari sifat-sifat bencana alam, seperti banjir, longsor, gempa-bumi dll; meramalkan dan bagaimana cara menghindarinya.

DAFTAR PUSTAKA http://kazekageadhey.blogspot.com/2012/03/makalah-geologi-dasar.html http://www.filsafatilmu.com/artikel/pengertian/uniformitarianisme http://miningunlam.blogspot.com/2012/01/apa-itu-geologi.html


http://iptekduniapertambangan.blogspot.com/ http://biarkanakumenulis.blogspot.com/2009/10/sejarah-ilmu-geologi.html http://tanaangga.wordpress.com/2010/12/08/sejarah-perkembangan-ilmu-geologi/