Anda di halaman 1dari 7

Kontrasepsi Mantap/Kontap (Tubektomi) Pada abad ke-19, sterilisasi dilakukan dengan mengangkat uterus atau kedua ovarium.

Pada tahun 50-an dilakukan dengan memasukkan AgNO melalui kanalis servikalis ke dalam tuba uterina. Pada akhir abad ke-19 dilakukan dengan mengikat tuba uterina namun cara ini mengalami banyak kegagalan sehingga dilakukanlah pemotongan dan pengikatan tuba uterina. Dulu, sterilisasi ini dibantu oleh anestesi umum dengan membuat sayatan/insisi yang lebar dan harus dirawat di rumah sakit. Kini, operasinya tanpa dibantu anestesi umum dengan hanya membuat insisi kecil dan tidak perlu dirawat di rumah sakit. Di Indonesia sterilisasi pada wanita mulanya hanya dikerjakan atas indikasi medis dan terutama dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan tindakan obstetric operatif perabdominal, seperti seksio sesarea, operasi tumor, laparotomi pada kehamilan ektopik terganggu, dan pada waktu laparotomi lainnya. Metode dan teknik sterilisasi berkembang pesat setelah didirikannya Perkumpulan Untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia (PUSSI) pada bulan oktober 1974. Untuk mencocokkan dengan keadaan namanya kemudian diganti dengan Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI). DEFENISI

Tubektomi/Kontrasepsi mantap adalah salah satu cara kontrasepsi dengan tindakan pembedahan yaitu memotong tuba fallopii/tuba uterine yang mengakibatkan orang atau pasangan yang bersangkutan tidak akan memperoleh keturunan lagi dan bersifat permanen. Metode kontrasepsi permanen yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang memang tidak ingin atau boleh memiliki anak (karena alasan kesehatan). Disebut permanen karena metode kontrasepsi ini hampir tidak dapat dibatalkan (reversal) bila kemudian anda ingin punya anak lagi. Pembatalan masih mungkin dilakukan, tetap membutuhkan operasi besar dan tidak selalu berhasil. TUJUAN Para ahli kebidanan banyak merekomendasikan sterilisasi pada wanita yang berisiko tinggi untuk hamil dan melahirkan lagi. Namun, tidak pada mereka yang belum berusia 35 tahun. Pengalaman menunjukkan banyak perempuan yang disterilkan lalu menyesali keputusannya.Dalam perkembangan sejarahnya, sejak dulu sampai sekarang tercatat 4 macam sterilisasi berdasarkan tujuannya : 1. Sterilisasi hukuman (compulsary sterilization). 2. Sterilisasi eugenik, yaitu untuk mencegah berkembangnya kelainan mental secara turun temurun.

3. Sterilisasi medis, yaitu dilakukan berdasarkan indikasi medis demi keselamatan wanita tersebut karena kehamilan berikutnya dapat membahayakan jiwanya. 4. Sterilisasi sukarela, yaitu yang bertujuan ganda dari sudut kesehatan, sosial ekonomi, dan kependudukan. CARA Ada beberapa cara melakukan teknik tubektomi/sterilisasi, yaitu : 1. Dengan memotong saluran telur (tubektomi) : a. Cara Pomeroy Cari tuba lalu angkat pada pertengahannya sampai membentuk lengkungan. Bagian yang berada dibawah klem, diikat dengan benang yg dapat diserap oleh jaringan. Lakukan pemotongan (tubektomi) pada bagian atas ikatan, setelah luka sembuh dan benang ikatan diserap, kedua ujung tuba akan berpisah satu dan lainnya.

b. Cara Kroener Cari tuba lalu angkat pada fimbria dengan klem buatlah dua ikatan, lakukan fimbriektomi pada ujung yang tidak diikat.

c. Cara Madlener Cari tuba, angkat pada pertengahannya dan klem. bagian bawah klem, diikat dengan benang yang mudah diserap oleh jaringan kemudian klem dilepas dan dibiarkan tanpa dilakukan pemotongan.

d. Cara Aldridge Buat insisi kecil pada peritonium, buka sedikit dengan klem Tangkap fimbira, lalu tanamkan kedalam atau dibawah ligamentum. Luka dijahit dengan beberapa jahitan.

e. Cara Uchida Tuba dicari dan dikaitkeluar, kemudian disekitar ampul tuba disuntikkan larutan salinadrenalin. Didaerah ini di lakukan insisi kecil, tuba diikat kemudian dipotong (tubektomi).

f. Cara Irving Tuba diikat pada dua tempat dengan benang yang dapat diserap, lalu dilakukan tubektomi diantara kedua ikatan. Dibuat insisi kecil kedalam miometrium pada sudut tuba fundus uteri. Ujung sebelah proksimal dibenamkan kedalam insisi miometrium tadi. Ujung bagian distal boleh pula dibenamkan ke ligamentum latum.

2. Dengan menyumbat dan menutup saluran telur : a. Laparoskopi Suatu teknik operasi yang menggunakan alat berdiameter 5 hingga 12 mm untuk menggantikan tangan dokter bedah melakukan prosedur bedah didalam rongga perut. Untuk melihat organ didalam perut tersebut digunakan kamera yang juga berukuran mini dengan terlebih dahulu dimasukkan gas untuk membuat ruangan dirongga perut lebih luas. Dokter bedah melakukan pembedahan dengan melihat layar monitor dan mengoperasikan alat tersebut dengan kedua tangannya.

b. Mini-Laparotomi Mini-Laparotomi (minilap) adalah suatu cara sterilisasi yaitu dengan operasi kecil untuk mencapai saluran telur melalui sayatan kecil sepanjang 1-2,5 cm pada dinding perut.

3. Dengan menjepit saluran telur : Menggunakan klip atau menggunakan cincin (cincin Fallopi dan Yoon).

4. Dengan membakar saluran telur dengan menggunakan aliran listrik : Fulgurasi, Koagulasi, dan Kauterisasi.

1.

a. b. 2.

3.

4.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI Indikasi : Indikasi medis umum Apabila adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih berat bila wanita ini hamil lagi. Gangguan fisik : tuberculosis, penyakit jantung, penyakit ginjal, kanker payudara, dan sebagainya. Gangguan psikis : skizofrenia, dan sebagainya. Indikasi medis obstetrik Yaitu toksemia gravidarum yang berulang, seksio sesarea berulang, abortus yang berulang dan sebagainya. Indikasi medis ginekologik Yaitu disaat melakukan operasi ginekologik dapat pula dipertimbangkan untuk sekaligus melakukan sterilisasi. Indikasi sosial-ekonomi Yaitu indikasi berdasarkan banyaknya anak dengan sosial-ekonomi yang rendah. Kontraindikasi : Hamil. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan. Infeksi sistemik atau pelvik yang akut. Tidak boleh menjalani proses pembedahan.

1. 2. 3. 4.

5. Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan. 6. Ibu dalam keadaan menstruasi dengan usia reproduksi. 7. Belum memberikan persetujuan tertulis.

KAPAN DILAKUKAN 1. Masa interval. Sebaiknya setelah selesai menstruasi. 2. Pasca persalinan (postpartum). Sebaiknya dilakukan dalam 24 jam atau selambat-lambatnya 48 jam pasca persalinan. Karena setelah lebih dari 48 jam, opeasi dipersulit oleh adanya edema tuba dan infeksi yang akan menyebabkan kegagalan fertilisasi. Bila dilakukan setelah hari ke 7-10 pasca bedah, uterus dan alat-alat genital lainnya telah mengecil dan menciut, maka operasi akan lebih sulit, mudah berdarah, dan infeksi. 3. Pasca keguguran (postabortus). Sesudah abortus dapat langsung dilakukan sterilisasi. 4. Sewaktu operasi membuka perut. Setiap operasi yang dilakukan dengan membuka dinding perut hendaknya harus dipikirkan apakah wanita tersebut sudah mempunyai indikasi untuk dilakukan sterilisasi. Hal ini harus diterangkan kepada pasangan suami istri karena kesempatan ini dapat sekaligus digunakan untuk melakukan kontrasepsi mantap.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN Kelebihan : 1. Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan). 2. Tidak mempengaruhi proses menyusui. 3. Tidak bergantung pada faktor senggama, baik bagi klien yang apabila kehamilan akan menjadi faktor resiko kesehatan yang serius. 4. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anastesi lokal. 5. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang. 6. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon ovarium). 7. Berkurangnya resiko kanker ovarium. Kekurangan : Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini (tidak dapat dipulihkan kembali). Klien dapat menyesal di kemudian hari. Resiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi umum). Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan. Dilakukan oleh dokter yang telatih (dibutuhkan dokter spesialis ginekologi atau dokter spesialis bedah untuk proses laparoskopi).

1. 2. 3. 4. 5.

6. Tidak melindungi diri dari PMS, termasuk HIV/AIDS.

Referensi : Prof.Dr.Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis obstetri jilid 2. Jakarta: EGC Hartanto, Hanafi. 2003. Keluarga berencana dan kontrasepsi. Jakarta: CV.Mulia Cunningham, dkk. 1995. Obstetri williams. Jakarta : EGC