Anda di halaman 1dari 25

Urolithiasis

A. Definisi Adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis ginjal (Brunner & Sudarth, 2002). Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsentrasi substansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosgat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi subdtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis ginjal.

B. Etiologi a. Faktor Endogen Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria. b. Faktor Eksogen Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum. c. Faktor lain a) Infeksi Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan Batu Saluran Kencing (BSK) Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi

alkali.

b) Stasis dan Obstruksi Urine Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah Infeksi Saluran Kencing. c) Jenis Kelamin sekitar 50% pasien dengan batu ginjal lebih banyak menyerang pria dari pada wanita. d) Ras Batu Saluran Kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia. e) Keturuan Anggota keluarga Batu Saluran Kencing lebih banyak

mempunyai kesempatan f) Air Minum Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat. g) Pekerjaan Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk. h) Suhu Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat. i) Makanan Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas Batu Saluran Kencing berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra).

C. Patogenesis Sebagian besar Batu Saluran Kencing adalah idiopatik, bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.

D. Teori Terbentuknya Batu (Patofisiologi) a. Teori Intimatriks Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik Sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu. b. Teori Supersaturasi Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu. c. Teori Presipitasi-Kristalisasi Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat. d. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan

mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.

E. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam, dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu

yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal; sedangkan yang lain menyebabkan nyeri yang luar biasa dan ketidaknyamanan. Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus diarea kostovertebral. Hematuria dan piuria dapat dijumpai. Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan diseluruh area kostovertebral, dan muncul mual dan muntah, maka pasien sedang mengalami episode kolik renal. Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini akibat dari refleks renointestinal dan proksimitas anatomik ginjal ke lambung, pankreas dan usus besar. Batu yang terjebak di ureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke paha dan genetalia. Pasien sering merasa ingin berkemih, namun hanya namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Kelompok gejala ini disebut kolik uretral. Umumnya, pasien akan mengeluarkan batu dengan diameter 0,5 sampai 1cm secara spontan. Batu dengan diameter lebih dari 1cm biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat diangkat ato dikeluarkan secara spontan. Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria. Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retensi urin. Jika infeksi berhubungan dengan adanya batu, maka kondisi ini jauh lebih serius, disertai sepsis yang mengancam kehidupan pasien.

F. Penatalaksanaan Medis a. Mengurangi rasa nyeri

Tujuan segera dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah untuk mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan; morfin atau meperiden diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. Mandi air hangat di area panggul dapat bermanfaat. Cairan diberikan, kecuali pasien mengalami munta atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang dibelakang batu sehingga mendorong pasase batu tersebut kebawah. b. Pengangkatan batu Pengangkatan batu sesegera mungkin akan mengurangi tekananbelakang pada ginjal dan mengurangi nyeri. Ketika batu telah ditemukan, analisis kimiawi dilakukan untuk menentukan komposisinya. Analisis batu dapat membuktikan indikasi yang jelas mengenai penyakit yang mendasari. Sebagai contoh batu kalsium oksalat atau kalsium posfat menunjukan adanya gangguan metabolisme kalsium dan oksalat. c. Terapi nutrisi dan medikasi Terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu renal. Masukan cairan yang adekuat dan menghindari makanan tertentu dalam diet yang merupakan bahan utama pembentuk batu (mis:kalsium) efektif untuk mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah ada.

G. Pengkajian Data Dasar a. Aktivitas dan istirahat Gejala: Pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada suhu tinggi. Keterbatasan aktivitas/imobilisasi. b. Sirkulasi Tanda: Peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal) Kulit hangat dan kemerahan; pucat c. Eliminasi

Gejala: Riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus) Penurunan haluaran urin, kandung kemih penuh, Rasa terbakar, dorongan berkemih Tanda: oliguria, hematuria, piuria, perubahan pola berkemih d. Makanan/cairan Gejala : mual/muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat, dan fospat. Ketidakcukupan pemasukan cairan Tanda: distensi abdominal; penurunan/tak adanya bising usus e. Nyeri/kenyamanan Gejala: Episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi batu. Nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang dengan posisi ataqu tindakan lain. Tanda: nyeri tekan pada area ginjal yang dipalpasi f. Keamanan Gejala: penggunaan alkohol, demam, menggigil

H. Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalisa : warna normal kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 6,8 (rata-rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya

untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan

iskemia/nekrosis. b. Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia. c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine. d. Foto Rontgen : menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang uriter. e. IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter). f. Sistoureteroskopi : visualisasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu atau efek ebstruksi. g. USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu.

I. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

1.

Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal

2. 3.

Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan. Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi.

J. PERENCANAAN TINDAKAN PERAWATAN

DIAGNOSA KEPERAWATAN/DATA PENUNJANG Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal Data Penunjang : Pasien tidak mengeluh nyeri Kaji adanya keringat dingin, tidak dapat istirahat dan ekspresi wajah. Kolik yang berlebihan Lemes, mual, muntah, keringat dingin Pasien gelisah Anjurkan pasien banyak minum air Dapat beristirahat dengan tenang Jelaskan kepada pasien penyebab dari rasa sakit/nyeri pada daerah pinggang tersebut. Memberikan informasi tentang penyebab dari rasa sakit/nyeri pada daerah pinggang tersebut. Cairan membantu membesihkan ginjal dandapat mengeluarkan batu kecil. Tujuan : Rasa sakit dapat diatasi/hilang Kriteria : Kolik berkurang/hilang Observasi adanya abdominal pain Kemungkinan adanya penyakit/komplikasi lain. Kemungkinan salah satu tanda shock Kaji intensitas, lokasi dan tempat/area serta penjalaran dari nyeri. Peningkatan nyeri adalah indikatif dari obstruksi, sedangkan nyeri yang hilang tiba-tiba menunjukkan batu bergerak. Nyeri dapat menyebabkan shock. TUJUAN/KRITERIA RENCANA TINDAKAN RASIONAL

putih 3 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi. Berikan posisi dan lingkungan yang tenang dan nyaman. Ajarkan teknik relaksasi, teknik distorsi serta guide imagine Kolaborasi dengan tim dokter : Pemberian Cairan Intra Vena Untuk memudahkan pemberian obat serta pemenuhan cairan bila mual, muntah dan keringat dingin terjadi. Pemberian obat-obatan Analgetic, Narkotic atau Anti Spasmodic. Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri/kolik yang berlebihan Untuk mengurangi/menghilang kan nyeri tanpa obat-obatan Untuk mengurangi sumber stressor

Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian obat-obat Narkotic, Analgetic dan Anti Spasmodic.

Untuk mengetahui efek samping yang tidak diharapkan dari pemberian obatobatan tersebut.

Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan. Data Penunjang :

Tujuan : Rasa cemas dapat diatasi/berkurang. Kriteria : Pasien dapat nenyatakan kecemasan yang

Berikan dorongan terhadap tiap-tiap proses kehilangan status kesehatan yang timbul.

Untuk mengurangi rasa cemas

Berikan privacy dan lingkungan yang nyaman.

privacy dan lingkungan yang nyaman dapat mengurangi rasa cemas.

Batasi staf perawat/petugas kesehatan yang menangani pasien.

Untuk dapat lebih memberikan ketenangan. Untuk mendeteksi dini terhadap masalah

Ekspresi wajah tegang, gelisah, tidak bisa tidur. -

dirasakan. Pasien dapat beristirahat dengan tenang.

Observasi bahasa non verbal dan bahasa verbal dari gejala-gejala kecemasan.

Temani pasien bila gejala-gejala kecemasan timbul. Untuk mengurangi rasa cemas

Tidak kooperatif dalam pengobatan.

Nadi dalam batas normal.

Berikan kesempatan bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya . Kemampuan pemecahan masalah pasien meningkat bila lingkungan

HR = 125 X/mt

Ekspresi wajah ceria/rileks. Hindari konfrontasi dengan pasien. Berikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang mencemaskan pasien. -

nyaman dan mendukung diberikan. Untuk mengurangi ketegangan pasien

Informasi yang diberikan dapat membantu mengurangi

10

Lakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan komunikasi terapeutik. -

kecemasan/ansietas

Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan

Anjurkan pasien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.

Berikan dorongan pada pasien bila sudah dapat merawat diri sendiri untuk meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.

Untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan pasien

Untuk mengurangi ketergantungan pasien

Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan -

Tujuan : Pengetahuan pasien tentang penyakitnya meningkat Kriteria Pasien dapat menjelaskan kembali tentang sifat penyakit,

Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit dan pengobatannya.

Pengetahuan membantu mengembangkan kepatuhan pasien dan keluarga terhadap rencana terapeutik

Berikan penjelasan tentang penyakit, tujuan pengobatan dan program pengobatan.

Untuk menambah pengetahuan pasien

Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengekspresikan

Meningkatkan kemampuan pasien untuk memecahkan masalah

11

kurangnya informasi. Data Penunjang :

tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan

perasaannya dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum dipahami.

Pasien menyatakan belum memahami tentang penyakitnya. -

diagnostik. Pasien tidak bertanya lagi tentang keadaan penyakit dan program pengobatannya. Pasien kooperatif dalam program pengobatan. Diskusikan tentang pentingnya diet rendah protein, rendah kalsium dan posfat. Batasi aktifitas fisik yang berat. Untuk mencegah kekambuhan Untuk menambah pengetahuan pasien dan mencegah kekambuhan Diskusikan pentingnya banyak minum air putih 3 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi. Untuk menambah pengetahuan pasien bahwa cairan dapat membantu pembersihan ginjal dan dapat mengeluargan batu kecil

Pasien bertanya-tanya tentang proses penyakit dan pengobatan.

Pasien kurang kooperatif dalam program pengobatan

12

K. Evaluasi 1. 2. 3. Menunjukan berkurangnya nyeri Rasa cemas yang dirasakan klien berkurang sampai hilang Menunjukan peningkatan perilaku sehat untuk mencegah kekambuhan

13

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta: EGC Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). Jakarta: EGC

14

Nefrolithiasis A. Definisi

Nefrolithiasis atau batu ginjal adalah penumpukan substansi seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi substrat tertentu seperti sitrat yang secara normal mencegah kristalisasi dalam urin.(Suzanne & Brenda, 2001) Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam pelvis ginjal. Senyawa yang paling sering ditemukan dalam batu ginjal adalah kalsium oksalat (sekitar 70 %), kalsium fosfat atau magnesium-amonium-fosfat (sekitar 30 %), asam urat atau garam asam urat (sekitar 30 %), serta xantin atau sistin (<5 %). Beberapa zat bias terdapat didalam satu batu karena kristal yang telah terbentuk sebelumnya berperan sebagai inti kristalisasi dan memudahkan pengendapan bagi zat metastabil terlarut lainnya (karena itu totaknya lebiih dari 100%). (Silbernagl & Lang, 2006) Nefrolitiasis adalah adanya batu pada kalkulus pada pelvis renal, sedangkan urolithiasis adalah adanya kalkulus dalam system urinarius. Urolithiasis mengacu pada adanya batu pada traktus urinarius.

B.

Etiologi

Faktor endogen a. Faktor genetic b. Faktor hiperkalsiuria dan hiper oksaluria

Faktoe eksogen

15

a. Infeksi b. Statis urin c. Ras d. Keturunan e. Jenis kelamin f. Makanan g. Suhu h. Pekerjaan

Etiologi batu ginjal yang didasarkan pada komposisi batuan adalah : 1. Batu Oksalat Asam oksalat di dalam tubuh berasal dari metabolism asam amino dan asam askorbat (Vitamin C). Asam askorbat merupakan precursor oksalat yang cukup besar, sejumlah 30 %- 50 % dikeluarkan sebagai oksalat urine. Manusia tidak dapat melakukan metabolism oksalat sehingga dikeluarkan melalui ginjal. Jika terjadi gangguan fungsi ginjal dan asupan oksalat berlebihan di tubuh, maka terjadi akumulasi oksalat yang memicu terbentuknya batu oksalat di ginjal. 2. Batu Struvit Batu struvit terdiri dari magnesium ammonium fosfat (struvit) dan kalsium karbonat. Batu tersebut terbentuk di pelvis dan kalik ginjalbila produksi ammonia bertambah dan pH urin tinggi, sehingga kelarutan fosfat berkurang. Hal ini terjadi akibat infeksi bakteri pemecah urea (yang terbanyak dari spesies Proteus dan Providencia, Pseudomonas eratia, semua spesies Klebsiella, Hemophilus, Staphylococcus, dan Coryne bacterium) pada saluran urin. Enzim urease yang dihasilkan bakteri di atas menguraikan urin menjadi ammonia dan karbonat. Ammonia bergabung dengan air membentuk ammonium sehingga pH urin semakin tinggi. Karbondioksida yang terbentuk dalam suasana pH basa/tinggi akan menjadi ion karbonat membentuk kalsium karbonat. 3. Batu Urat

16

Terjadi pada penderita gout (sejenis rematik), pemakaian urikosurik (misal probenesid atau aspirin), dan pada penderita diare kronis (karena kehilangan cairan, dan peningkatan konsentrasi urin), serta asidosis (pH urin menjadi asam, sehingga terjadi pengendapan asam urat). 4. Batu Sistina Sistin merupakan asam amino yang kelaritannya paling kecil. Kelarutannya semakin kecil jika pH urin turun atau asama. Bila sistin tak larut akan berpresipitasi (mengendap) dalam bentuk kristal yang tumbuh dalam sel ginjal atau saluran kemih membentuk batu. 5. Batu Kalsium Fosfat Terjadi pada penderita hiperkalsiurik (kadar kalsium dalam urine tinggi) dan atau berlebih asupan kalsium (missal susu dna keju) ke dalam tubuh.

C.

Patofisiologi

Peningkatan konsentrasi zat pembentuk batu dapat merupakan akibat dari factor-faktor prarenal, renal, dan pascarenal. Penyebab prarenal mengaikbatkan filtrasi dan ekskresi zat penghasil batu dengan meningkatkan konsentrasinya di dalam plasma. Jadi hiperkalsiuria dan fosfaturia prarenal terjadi akibat peningkatan absorbs di usus dan mobilisasi dari tulang, contohnya jika terdapat kelebihan PTH dan kalsitriol. Hiperoksalemia dapat disebabkan oleh kelainan metabolic pada pemecahan asam amino atau melalui peningkatan absorbsinya di usus. Hiperurisemia terjadi akibat suplai yang berlebih, sintesis baru yang meningkat, atau peningkatan pemecahan purin. Batu xantin dapat terjadi jika pembentukan purin sangat meningkat dan pemecahan xantin menjadi asam urat dihambat. Namun, xantin lebih mudah larut daripada asam urat sehingga batu xantin lebih jarang ditemukan. Gangguan reabsorbsi ginjal merupakan penyebab sering dari peningkatan ekskresi ginjal pada hiperkalsiuria dan merupakan penyebab tetap pada sistinuria. Konsentrasi ion kalsium di dalam darah kemudian

17

dipertahankan melalui absorbs di usus dan mobilisasi mineral tulang, sementara konsentrasi sistin dipertahankan dengan mengurangi

pemecahannya. Pelepasan ADH (pada volume yang berkurang, stress, dll) menyebabkan peningkatan konsentrasi peningkatan konsentrasi urin. Kelarutan beberapa zat tergantung pada pH urin. Fosfat mudah larut dalam urin yang asam, tetapi sukar larut dalam urin yang alkalis. Sebaliknya asam urat (garam asam urat) lebih mudah larut jika terdisosiasi daripada yang tidak terdisosiasi, dan batu asam urat lebih cepat terbentuk pada urin yang asam. Jika pembentukan NH3 berkurang, urin harus lebih asam untuk dapat mengeluarkan asam, dan hal ini meningkatkan pembentukan batu garam asam urat. Factor lain yang juga penting adalah berapa lama Kristal yang telah terbantuk tetap berada dalam urin yang sangat jenuh. Lama waktu bergantung pada diuresis dan kondisi aliran dari saluran kemih baian bawah, misalnya dapat menyebabkan Kristal menjadi terperangkap (penyebab pascarenal). Akibat urolitiasis adalah penyumbatan pada saluran kemih bagian bawah. Selain itu, pda peregangan pada otot ureter menyebabkan kontraksi yang sangat nyeri (kolik ginjal). Aliran yang tersumbat menyebabkan dilatasi ureter dan hidronefrosis dengan penghentian ekskresi. Bahkan setelah batu diangkat, kerusakan ginjal dapat menetap. Sumbatan pada saluran kemih juga meningkatkan pertumbuhan kuman (infeksi saluran kemih, pielonefritis). Kuman pemecah ura membentuk NH3 dari urea sehingga membuat urin menjadi alkalis. Hal ini pada gilirannya membentuk lingkaran setan, yang mendorong pembentukan batu fosfat. Bahkan tanpa kolonisasi bakteri, pengendapan asam urat di dalam ginjal (gouty kidney) atau garam kalsium (nefrokalsinosis) dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan ginjal. zat pembentuk batu melalui

D.

Manifestasi klinik

18

Gejala pada batu ginjal biasanya bersifat asimptomatik sampai mengobstruksi aliran urin. Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan. Batu ureteral menyebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang timbul yang berkurang setelah batu lewat. Nyeri akut pinggang (renal colic), mual dan muntah, restlessness, nyeri tumpul, hematuria, dan demam ditemukan jika ada infeksi. Kolik akut renal merupakan gambaran yang paling buruk. Nyeri umumnya berkaitan dengan adanya batu di saluran kencing. Beberapa pasien tidak memiliki gejala sampai keluar kencing yang berdarah, ini mungkin adalah tanda pertama adanya batu ginjal. Jumlah perdarahan mungkin tidak dapat dilihat dan hanya dapat dilihat dalam pemeriksaan mikroskopis.

E.

Penatalaksanaan medis

Tujuan dasar penatalksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencagah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan mengurangi obstruksi yang terjadi. 1. Pengurangan nyeri. penanganan kolik renal atau ureteral yang segera bertujuan

mengurangi nyeri dampai menghilangkan penyebabnya. Morfin atau meperiden untuk mencegah syok dan sinkop yang luar biasa. Peningkatan pemberian asupan cairan dapat meningkatkan tekanan hidrostaltik tekanan di belakang batu sehingga mendorong pesage batu tersebut dan dapat lebih mengencerkan urin sehingga dapat membuat haluaran urin yang besar, kecuali pada pasien yang mengalami muntah atau gagal jantung kongestif. 2. Pengangkatan batu. Pemeriksaan sitoskopi dan pesage ureteral kesil dapat menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi sehingga dapat mengurangi tekanan pada ginjal dan mengurangi nyerinya. Ketika batu sudah di temukan

19

dimana letaknya maka akan di lakukan analisis kimiawi untuk menentukan komposisi dari batu tersebut karena dengan analisis batu ini digunakan untuk mnegetahui penyakit yang mendasari dari penyakit tersebut. 3. Terapi nutrisi dan medikasi. Berperan pentik untuk mencegah dan mngurangi risiko batu ginjal. Diit makanan yang merupakan bagan utama pembentukan batu ginjal dapat terhindar danri batu ginjal dan tidak memperbesar batu ginjal orang yan sudah terkena batu ginjal. Jika batu tidak dapat dilakukan pengangkatan secara spontan atau jka terjadi komplikasi, modalitas penanganan mencakup terapi gelombang kejut ekstrakorkoreal, pengangkatan batu perkutan, atau ureteroskopi.

F.

Pengkajian Pasien di duga batu ginjal dikaji terhadap adanya nyeri dan

ketidaknyamanan. Keparahan dan lokasi di tentukan bersamaan dengan radiasi nyeri serta gejala yang berhubungan dengannya seperti mual, muntah, diare dan distensi abdomen. Pengkajian keperawatan mencakup observasi tanda-tanda traktus urinarius (menggil, demam, disuria, sering kencing, dan hesitency)dan obstruksi (sering dengan jumlah urin yang sedikit, uliguria, anuria) selain itu urin juga di observasi akan adanya darah atau kerikil kecil. Riwayat difokuskan pada faktor predisposisi dan faktor pencetusnya mencakup batu dalam keluarga, diit kalium dan fosfor serta keadaan dehidrasi, dan imobilisasi yang lama. Pengetahuan tentang batu ginjal dan upaya pencegahan dan kekambuhanpun perlu di kaji.nost G. Diagnose 1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral 2. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.

20

3. Risiko tinggi terhadap kekurangan volum cairan berhubungan dengan mual atau muntah. 4. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang / mengingat, salah interpretasi informasi

H.

Intervensi keperawatan

21

No 1.

Diagnose Tujuan Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi ureteral

2.

Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.

Intervensi a. Catat lokasi lamanya intensitas, dan penyebarannya b. Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya dan laporkan ke staf terhadap perubahan kejadian atau karakteristik nyeri c. Berikan tindakan nyaman, contoh pijatan punggung dan lingkungan istirahat d. Berikan obat anti nyeri a. Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urin b. Tentukan pola berkemih pasien dan perhatian variasi c. Dorong meningkatkan pemasukan cairan d. Awasi pemeriksaan labolatorium a. b. c. d. e.

Rasional a. Membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus b. Memberikan kesempatan terhadap pemberian analgesi sesui waktu c. Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot dan meningkatkan koping d. Untuk menurunkan rasa nyeri

3.

Risiko tinggi terhadap kekurangan volum cairan berhubungan dengan mual atau muntah

a. Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi b. Kalkulus dapat menyebabkan eksitanbilitas saraf, yang menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera c. Peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah, dan debris dan dapat membantu lewatnya batu d. Peninggian BUN kreatinin dan elektrolit mengindikasikan disfungsi ginjal Awasi pemasukan dan a. Membandingkan keluaran actual dan pengeluaran cairan antisipasi membantu dalalm evaluasi Catat insiden muntah adanya kerusakan ginjal Tingkatkan pemasukan cairan b. Mual atau muntah secara umum 3-4L/hari dan toleransi jantung berhubungan dengan kolik ginjal karena Awasi tanda vital saraf ganglion seliaka pada kedua ginjal Berikan cairan IV dan lambung

22

4.

Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang / mengingat, salah interpretasi informasi

c. Mempertahankan keseimbangan cairan hemostatis d. Indicator hidarasi atau volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi e. Mempertahankan volume sirkulasi meningkatkan fungsi ginjal a. Kaji ulang proses penyakit dan a. Memberikan pengetahuan dasar dimana harapan masa depan pasien membuat pilihan berdasarkam b. Tekankan pentingnya informasi pemasukan cairan b. Pembilasan system ginjal menurunkan c. Diskusikan program pengobatan kesempatan statis dan pembentukan batu c. Obat-obatan diberikan untuk mengasamkan dan mengalkalikan urine

23

I. 1. 2. 3. 4.

Evaluasi Nyeri hilang atau terkontrol Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan Mencegah komplikasi Proses penyakit atau prognosis dan progam terapi dipahami

Daftar pustaka Brunner & suddart (2002). Buku ajar keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta : EGC Dongoes, et al. (2000). Rencana asuhan keperawatan (terjemahan), Jakarta EGC

24

Purnomo, Basuki B. (2003) Dasar-dasar UROLOGI edisi 2. Jakarta Sagung Seto Jakarta
www.scribd.com

25