Anda di halaman 1dari 4

Vol. 1, No.

2, Mei 2010 ISSN : 2085-8817


DINAMIKA Jurnal Ilmiah Teknik Mesin



71
PENANGGULANGAN LIMBAH PLTU BATUBARA

Iswan
ProgramStudi Teknik Elektro Universitas Khairun, Ternate


Abstrak

Pembangkit listrik tenaga uap saat ini merupakan pilihan pemerintah dalammenanggulangi krisis listrik. Tetapi di lain
pihak penggunaan batubara sebagai bahan bakar akan menimbulkan efek berupa emisi pencemar. Emisi-emisi yang
dihasilkan dapat berupa SO
2
, NO
2
, CO, CO
2
, VHC (Volatine Hydrocarbon) dan SPM (Suspended Particulate Matter).
Salah satu metode penggulangan limbah batubara adalah teknik flue-gas desulfurization (FGD). Teknologi ini
menggunakan batu kapur (Ca(OH)
2
) sebagai bahan bakunya. Hasil yang diperoleh dari penanggulangan emisi
pembangkit listrik tenaga uap ini adalah gipsumsebanyak 9,63 ton/hari dan abu sebanyak 30,678 ton/hari.
Kata Kunci : Tenaga uap, batubara, emisi, batu kapur, gipsum

Abstrack

Waste Tackling of Fueled Electrical Power Plant. Steampower plant is now a choice of government in overcoming
the power crisis. But on the other hand the use of coal as a fuel will cause effects of pollutant emissions. Emissions
generated can be SO2, NO2, CO, CO2, HCV (Volatine Hydrocarbon) and SPM (Suspended Particulate Matter). One
method is the technique of coal waste is flue-gas desulfurization (FGD). This technology uses limestone (Ca(OH)
2
) as
the raw material. Results obtained fromthe reduction of steampower plant emissions are 9.63 tons of gypsum / day and
ash as much as 30.678 tons / day.
Key Word : Steam power, coal, emissions, limestone, gypsum


1. Pendahuluan

Listrik merupakan kebutuhan pokok manusia, oleh
karena itu perlu adanya suplay listrik yang cukup dan
terus menerus. Kegiatan-kegiatan yang dilaksankan
setiap harinya harus menggunkan listrik, mulai dari
kegaiatn rumah tangga seperti memasak hingga
kebutuhan lain yang lebih besar dan melibatkan banyak
orang. Mengingat hal tersebut maka perlu adanya
perencanaan dan pembangunan pembangkit listrik yang
dapat memenuhi kebutuhan daya listrik oleh
masyarakat.
Sampai tahun 2000 pertumbuhan kelistrikan di
Indonesia mencapai 10% pertahunnya. Dari
keseluruhan kapasitas pembangkit yang ada, 56%
merupakan pasokan dari PT PLN (Persero) dan sisanya
adalah milik swasta (independent power plant),
koperasi, dan captive power (untuk keperluan sendiri)
yang dimiliki oleh industri.
Menurut Sugiyono (2003), dari keseluruhan
pembangkit listrik yang ada di Indonesia, batu bara
memiliki peranan yang cukup tinggi yakni sebesar
34,5% disusul gas bumi sebesar 30,4%. Berikutnya
adalah tenaga diesel sebesar 21%, tenaga air 10,9% dan
panas bumi sebesar 3,2%.
Hal menarik yang terakhir dilakukan oleh pemerintah
untuk menanggulangi krisis listrik di Indonesia adalah
pembangunan PLTU batubara 10.000 MW. Disatu sisi
krisis listrik akan tertanggulangi, namun disisi lain
pembangunan PLTU batubara akan menimbulkan
dampak yang luar biasa bagi lingkungan. Isu
lingkungan ini bukanlah hal yang baru, pada konferensi
PBB tahun 1972 di Swedia tentang lingkungan dibahas
mengenai bagaimana mencari keseimbangan kebutuhan
ekonomi, sosial dan lingkungan. Bagi banyak negara
berkembang isu ini merupakan hal yang sangat krusial.
Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara saat ini
menjadi sangat penopang krisis listrik. Tetapi juga
batubara sebagai bahan bakar akan menimbulakan efek
berupa emisi pencemar. Emisi-emisi yang dihasilkan
dapat berupa SO
2
, NO
2
, CO, CO
2
, VHC (Volatine
Hydrocarbon) dan SPM (Suspended Particulate
Matter). Polusi ini akan menyebar dari sumbernya
melalui proses dispersi dan deposisi, yang dapat
menurunkan kualitas udara, tanah dan air.
Polutan-polutan yang dihasilkan energi fosil yang
berakibat buruk bagi kesehatan manusia dan
lingkungan. Berikut adalah dampak yang dihasilkan
oleh polutan tersebut :
- SO
X
adalah sumber gangguan paru-paru dan
berbagai penyakit pernapasan.
- NO
X
, yang bersama SO
X
menyebabkan fenomena
hujan asam. Fenomena hujan asamini berakibat
buruk bagi industri peternakan dan pertanian.
- CO
X
membentuk lapisan yang menyelebungi
permukaan bumi dan menimbulkan efek rumah
Vol. 1, No. 2, Mei 2010 ISSN : 2085-8817
DINAMIKA Jurnal Ilmiah Teknik Mesin



72
kaca (green house effect). Efek rumah kaca
menyebabkan pergeseran keadaan cuaca.
- Partikel debu yang mengandung unsur radioaktif
yang berbahaya jika terhisap masuk ke paru-paru.
Terdapat pula logam berat seperti Pb, Hg, Ar, Ni, Se
yang kadarnya jauh dari ambang batas khususnya yang
berada disekitar pembangkit listrik tenaga uap.

2. Metode Penelitian

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data
primer berupa sampel kualitas udara sebagai data awal.
Disamping itu perlu juga data sekunder berupa data
kecepatan dan arah angin, serta temperatur dan
kelembaban udara. Kedua data ini kemudian diolah dan
dimasukkan dalampersamaan yang ditetapkan sesuai
dengan model pendekatan.
a. Menentukan nilai standar deviasi horizontal dan
vertikal
Penentuan nilai standar deviasi baik secara
horizontal maupun vertikal tergantung pada
struktur turbulensi atau stabilitas pada atmosfer.
b. Menentukan konsentrasi emisi gas
Penentuan nilai konsentrasi antara konsentrasi
SO
2
dan abu. Pada konsentrasi abu, fraksi berat
ukuran partikel akan dikalikan dengan dispersi
partikel, dengan mengikuti persamaan :
|
|
|
.
|

\
|
=
2
y
2
z y
z) y, (x,
2
B
- exp

Q
C

dimana :
100
Vt.x
- H B=
dengan Vt adalah kecepatan alir gas buang
(meter/detik)
Pada perhitungan nilai konsentrasi emisi gas,
konsentrasinya mengikuti persamaan :
|
|
|
.
|

\
|
=
2
z
2
z y
y,0) (x,

H -
2
1
- exp

Q
C

c. Menenetukan dan menghitung hasil dari limbah
yang dihasilkan dari pembakaran batubara.

3. Hasil Penelitian

Untuk mencegah dampak yang ditimbulkan oleh emisi
yang dihasilkan oleh pembangkit listrik khususnya
pada penggunaan batubara, maka perlu dilaksanakan
pencegahan dengan penggunaan teknologi yang hasil
akhirnya dapat menguntungkan secara ekonomi. Salah
satu metode sudah banyak dilakukan adalah teknik
flue-gas desulfurization (FGD). Teknologi ini
menggunakan batu kapur (Ca(OH)
2
) sebagai bahan
bakunya. Proses ini dimulai dengan memasukkan gas
buang ke fasilitas FGD. Dalam FGD ini kemudian
disemprotkan udara sehingga SO
2
dalam gas buang
akan teroksidasi oleh oksigen yang kemudian
menghasilkan SO
3
. Gas buang ini kemudian
didinginkan dengan menggunakan air, sehingga SO
3

bereaksi dengan air (H
2
O) membentuk asam sulfat
(H
2
SO
4
). Asamsulfat ini kemudian direaksikan dengan
kapur sehingga hasil akhirnya adalah gipsum(gypsum).
Hasil samping dari FGD disebut dengan gipsum
sintetis yang senyawa kimianya sama dengan gipsum
alam.
Gipsum yang dihasilkan sangat bernilai ekonomis,
karena dapat dimanfaatkan untuk keperluan bangunan.
Gipsumini dapat dibuat papan gipsum(gypsum board)
yang dipakai untuk plafon (langit-langit rumah),
dinding penyekat (partition board) dan pelapis dinding
(wall board).
Selain penggunaan FGD juga ada teknologi yang dapat
menjinakkan polutan penyebab hujan asam. Alat
tersebut dikenal dengan nama electeron beam machine
(MBE) atau mesin berkas elektron. Pada prinsipnya
alat ini bekerja menghasilkan berkas elektron dari
filamen logam tungsten yang dipanaskan. Berkas
elektron kemudian difokuskan dan dipercepat di tabung
akselator yang bertegangan dua juta volt. Gas buang
yang mengandung sulfur dan nitrogen diirradiasi
dengan berkas elektron dalam suatu tempat yang
mengandung gas amonia, sehingga sulfur dan nitrogen
berubah menjadi amoniumsulfat dan amoniumnitrat.
Proses ini diawali dengan pendinginan SO
x
dan NO
x

dengan menyemburkan air. Campuran senyawa ini
kemudian ditambahkan dengan gas amonia dan
dialirkan dalam tabung pereaksi (vessel). Senyawa
yang mengalir dalam tabung rekasi kemudian
diirradiasi dengan berkas elektron. Kemudian masih
dalampengaruh irradiasi, senyawa ini bereaksi dengan
air sehingga menghasilkan produk antara (intermediate
product) berupa asam sulfat dan asamnitrat. Produk
antara ini kemudian bereaksi dengan amonia sehingga
menghasilkan produk akhir berupa amoniumsulfat dan
amoniumnitrat. Senyawa inilah dimanfaatkan sebagai
bahan baku pupuk sulfat dan pupuk nitrogen dengan
wujud fisik berupa kristal/partikel.
Teknologi irradiasi telah dipelajari di Jepang.
Penelitian ini dilakukan oleh lembaga penelitian atom
Jepang (JAERI) dengan Ebara. Hasilnya adalah 95%
gas SO
x
dan 85% gas NO
x
dirubah dengan
menggunakan berkas elektron sebesar 15 kGy.
Keuntungan memakai electeron beam machine (MBE)
dalammenjinakkan gas polutan diantaranya prosesnya
dilakukan secara serentak dalamwaktu yang singkat,
prosesnya pun adalah proses kering dalamsatu tingkat
Vol. 1, No. 2, Mei 2010 ISSN : 2085-8817
DINAMIKA Jurnal Ilmiah Teknik Mesin



73
dan hasil akhirnya berupa bahan baku pupuk yang
dapat dimanfaatkan dalam sektor pertanian.
Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara yang
dihitung mempunyai kapasitas 2 x 15 MW. Disamping
energi listrik yang dihasilkan, pembakaran batubara
akan menghasilkan sejumlah polutan berupa gas dan
abu. Kualitas batubara yang digunakan adalah batubara
yang memiliki kandungan sulfur 0,45%, kandungan
abu sebesar 5,1%, dan nilai kalori sebesar 5.250
kkal/kg. Jenis batubara tersebut adalah subbitumius
Sedangkan temperatur pembakaran sekitar 1.200C.
Berdasarkan analisis kandungan batubara dan
kebutuhan pembangkit listrik maka prakiraan
penggunaan batubara untuk dua unit pembangkit (2 x
15 MW) adalah sekitar 607 ton/hari atau 7.025.462,9
mg/detik. Dari data tersebut maka prakiraan besar
emisi gas dapat dihitung dengan melakukan
pendekatan matematika serta prakiraan kelengkapan
peralatan pengendali pencemar, diantaranya :
a. Untuk menekan emisi debu, digunakan
Electrostatic Precipitator (ESP) yang
mempunyai efisiensi 99%.
b. Untuk menekan emis gas NO
x
dipakai Low
NO
x
Combustion.
c. Unit Flue Gas Desulfurizazi (FGD) dengan
efisiensi 70% dipakai untuk menekan gas SO
2
,
dengan menggunakan bahan baku kapur dan
air.
Prediksi jumlah abu yang dihasilkan sebanyak
358.298,61 mg/detik. 10% akan mengendap di tungku
pembakaran berupa abu dasar (bottom ash) dan sisanya
berupa abu terbang (fly ash) yang diemisikan melalui
cerobong ke udara bebas (udara ambien). Abu dasar
(bottom ash) sebesar 35.829,86 mg/detik dan jumlah
abu terbang (fly ash) sebanyak 322.468,75 mg/detik.
Dari jumlah abu terbang (fly ash) 99% atau sekitar
319.244,06 mg/detik akan tertangkap oleh alat
Electrostatic Precipitator (ESP). Sedangkan sisanya
sebanyak 32.246,69 mg/detik akan teremisi keluar
melalui cerobong (stack).
Untuk prediksi jumlah gas SO
2
yang akan diemisikan
adalah akibat pembakaran batubara yang mengandung
sulfur berubah menjadi SO
2
dengan berat ekivalen
sebesar 2, maka gas SO
2
yang diemisikan pada saat
pembakaran batubara sebesar 63.229,17 mg/detik. Gas
SO
2
dan debu yang teremisi ke udara bebas melalui
cerobong (stack) yang telah didesain dengan tinggi dan
ukuran tertentu, sehingga konsentrasi gas dan debu
yang keluar tidak akan melebihi batas maksimumyang
telah ditetapkan.
Untuk menanggulangi dampak yang dihasilkan oleh
batubara sebagai bahan bakar pemabangkit listrik
tenaga uap, maka dilakukan pemasangan unit flue-gas
desulfurization (FGD) untuk penanggulangan sulfur
dan unit Electrostatic Precipitator (ESP) untuk
menangkap debu yang dihasilkan oleh batubara. Kedua
alat ini dipasang secara bersamaan dan harus terus
digunakan karena pembangkit listrik ini bekerja selama
24 jamterus-menerus.
Pemasangan unit flue-gas desulfurization (FGD)
Salah satu metode yang digunakan dalammenurunkan
emisi gas SO
2
adalah menggunakan flue-gas
desulfurization (FGD) dengan cara penyemprotan
slurry atau Ca(OH)
2
.
Adapun cara kerja dan kebutuhan bahan baku
limostone (CaCO
3
) dalamunit flue-gas desulfurization
FGD sebagai berikut :
Reaksi kimia yang terjadi pada FGD adalah SO
2
+
Ca(OH)
2
+ O
2
CaSO
4
+ H
2
O, berdasarkan
perhitungan gas SO
2
yang akan diemisikan sebesar
63.229,17 mg/dtk atau 227,63 kg/jam, sehingga mol
SO
2
menjadi :
Mol SO
2
=
64
227,63
=3,5567 mol SO
2

Reaksi kimia yang terjadi di dalamFGD adalah :
- pembakaran kapur (CaCO
3
); CaCO
3
CaO
+CO
2

- penambahan air; CaO +H
2
O Ca(OH)
2

Mol SO
2
ekivalen dengan mol CaO maka:
Banyaknya Ca dalamCaO adalah 142,268 kg/jamdan
banyaknya S dalamSO
2
adalah 113,814 kg/jam.
Rasio antara Ca : S = 1,5 Ca(OH)
2
, sehingga
banyaknya Ca(OH)
2
yang akan dimasukkan dalam
FGD agar bereaksi dengan yang SO
2
adalah :
S Banyaknya
Ca Banyaknya
=ratio Ca (OH)
2

113,814
142,268
=1,25 ratio Ca(OH)
2
Ratio Ca(OH)
2
adalah 1,25 :1,5 =0,83
Banyaknya Ca(OH)
2
yang dibutuhkan adalah 218,45
kg/jam.
mol Ca(OH)
2
=
74
218,45
=2,95 kg/jam
Banyaknya kapur (CaCO
3
) yang dibutuhkan untuk
menghasilkan Ca(OH)
2
adalah 295 kg/jamdan kapur
tohor (CaO) yang dihasilkan dalampembakaran CaCO
3
adalah 165,2 kg/jam
Banyaknya gipsum(CaSO
4
) yang dihasilkan sebanyak
53,1 kg/jam atau 0, 531 m
3
/jam. Sehingga dengan
demikian selurus proses dalam unit flue-gas
desulfurization (FGD) ini membutuhkan batu kapur
sebanyak 295 kg/jamatau 7,08 ton/hari dan air (H
2
O)
adalah 0,531 m
3
/jam atau 18,74 m
3
/hari. Gypsum
(CaSO
2
) yang diperoleh sebanyak 401,2 kg/jamatau
9,63 ton/hari.
Pemasangan unit Electrostatic Precipitator (ESP)
Berdasakan prediksi jumlah batubara yang digunakan
yaitu sebanyak 607 ton/hari atau 7.025.462,9 mg/detik,
5,1% diantaranya atau sekitar 358.298,61 mg/detik
berupa abu (ash). Sebanyak 10% dari abu yang
dihasilkan akan menjadi abu dasar (bottom ash) karena
Vol. 1, No. 2, Mei 2010 ISSN : 2085-8817
DINAMIKA Jurnal Ilmiah Teknik Mesin



74
mengendap secara alami, dan sisanya akan terbang
menjadi abu terbang (fly ash).
- Abu dasar (bottom ash) yang dihasilkan
adalah 10% x 358.298,61 mg/detik sama
dengan 35.892,86 mg/detik.
- Abu terbang (fly ash) sebanyak 90% x
358.298,61 mg/detik akan sama dengan
322.468,749 mg/detik.
Dengan menggunakan peralatan Electrostatic
Precipitator (ESP) dengan efisiensi 99% maka abu
terbang tersebut akan tertangkap. Adapun jumlah abu
yang tertangkap adalah 99% x 322.468,749 mg/detik
atau sama dengan 319.244,06 mg/detik.
Dengan demikian maka jumlah abu yang tertampung
dan akan dibawa adalah sekitar 355.073,92 mg/detik
atau 30,678 ton/hari. Abu yang tertampung dapat dijual
untuk kebutuhan di pabrik semen atau pada pembuatan
paving block.

4. Kesimpulan

a. Kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik
tenaga uap berkapasitas 2 x 15 MW sebesar
607 ton/hari. Batubara tersebut memiliki
kandungan sulfur 0,45% dan kandungan abu
5,1%. Dari jumlah tersebut, gas SO
2
yang
termisikan ke udara bebas sebesar 63.229,17
mg/detik dan debu yang teremisi sebesar
32.246,69 mg/detik.
b. Hasil lain yang diperoleh dari penanggulangan
emisi pembangkit listriki tenaga uap ini adalah
gipsum sebanyak 9,63 ton/hari dan abu
sebanyak 30,678 ton/hari. Gipsum digunakan
pada bangunan yaitu untuk plafon bangunan
dan abu dipakai pada campuran semen dan
industri paving block.

Daftar Pustaka

Akhadi, Mukhlis. 2000. Menuju PLTU Ramah
Lingkungan. Majalah Elektro Indonesia Nomor
34 tahun VI.
Anonim. 2001. Meningkatkan Efisiensi PLTU
Batubara. Majalah Elektro Indonesia.
(http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener3
5.html, diakses 20 Januari 2005).
Davis, L., David A. Cornwell. 1991. Introduction To
Environmental Engineering. Mc Graw-Hill, Inc.
Fandeli, Chafid. 2001. Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Prinsip Dasar dan Pemapanannya
DalamPembangunan. Liberty, Yogyakarta.
Kadir, Abdul. 1995. Energi, Sumber Daya, Inovasi,
Tenaga Listrik dan Potensi Ekonomi.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Kadir, Abdul. 1996. Pembangkit Tenaga Listrik.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Munn, R.E., 1979. Enviromental Impact Assesment
Principle And Procedures. John Willey & Sons.
Chichaster.
Muller, R. Schiffers. 1988. Pressurerized Coal
Gasification for the Combined-Cycle Process.
VGB Kraftwerkstechnik, number 10.
Penner, S.S., L. Icerman. 1974. Energy Volume I.
Demands, Resources, Impact, Technology and
Policy. Addison-Wesley Publishing Company,
Inc. Massachusetts.
Sugiyono, Agus. 1996. Teknologi Daur Kombinasi
Gasifikasi Batubara Terintegrasi. Hasil-hasil
Lokakarya Energi hal. 663-675 Pertamina-KNI-
WEC.
Sugiyono, Agus. 2003. Analisis Pengambilan
Keputusan untuk Perencanaan Pembangkit
Tenaga Listrik. Laporan Teknis, P3TKKE.
BPPT. Jakarta.
Tribuana, Nanan. 1998. PLTN : Faktor Pencemaran
Lingkungan dan Gangguan Kesehatan. Majalah
Elektro Indonesia Edisi Empat Belas.
(http://www.elektroindonesia,com/elektro/ener1
4b.html. diakses 20 Januari 2005).
Wibowo, Rony Seto. Sidarjanto. 2002. Studi Multi
Obyektif Economy-Emission Dispatch Untuk
Mengurangi Emisi SO
2

Pada Sistem Tenaga
Listrik. Proceeding Seminar Sistem Tenaga
Elektrik III, ITS. Surabaya.