Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TEKNIK PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

PENYAMAKAN KULIT SAPI


Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah TPPHP

Disusun Oleh: Sonna Cahyadi Nugraha 125009005

FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGRIBISNIS UNIVERSITAS SILIWANGI 2014

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaaniraahiim Assalamualaikum Wr.Wb Dengan mengucapkan puji dan syukur kekhadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya, akhirnya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Penyamakan Kulit Sapi . Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknik Pengelolaan dan Pengolahan Hasil Pertanian. Dalam penyusunan makalah ini, saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan waktu. Namun demikian, penyusun berharap bahwa makalah ini dapat bermanfaat. Maka dari itu diharapkan saran dan kritik yang membangun guna memperbaiki dalam penyusunan makalah di masa yang datang. Dengan segala kerendahan hati, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membimbing, membantu mengarahkan dan memotivasi saya dalam penyusunan makalah ini. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tasikmalaya, 14 Januari 2014 Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG B. RUMUSAN MASALAH C. TUJUAN BAB II PEMBAHASAN A. KULIT B. PENGAWETAN C. PENYAMAKAN BAB III PENUTUP

i ii

1 2 2

3 4 5

A. KESIMPULAN 13 B. SARAN 13 DAFTAR ISI

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kulit sapi ialah bagian paling luar daging sapi. Kulit sapi biasanya dikeringkan dan digoreng menjadi rambak. Kulit merupakan organ tunggal tubuh paling berat, pada sapi sekitar 6-8%, dan domba 8-12%, dengan demikian kulit juga merupakan hasil ikutan ternak yang paling tinggi nilai ekonominya yaitu sekitar 59% dari nilai keseluruhan by-product yang dihasilkan oleh seekor ternak. Epidermis merupakan bagian kulit paling atas tersusun dari sel epitel pipih kompleks, pada lapisan ini juga terdapat asesori epidermis seperti rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat, dan otot penegak rambut. Di bawahnya terletak lapisan dermis atau kulit jangat yang tersusun dari jaringan ikat padat. Pada lapisan paling bawah terdapat hipodermis yang tersusun dari jaringan ikat longgar, jaringan adiposa, dan sisa daging. Pada proses penyamakan, kulit jangat inilah yang akan disamak dan diubah menjadi kulit samak yang bersifat lentur, fleksibel, kuat dan tahan terhadap pengaruh cuaca dan serangan mikroba. Lapisan epidermis tersusun dari jaringan ikat keratin yang relatif tahan terhadap serangan bahan kimia maupun agen biologi (mikroba dan ensim). Pada kulit terdapat dua jenis keratin yaitu keratin lunak yang menyusun akar rambut dan lapisan epidermis bawah, dan keratin keras menyusun batang rambut. Keratin lunak mudah larut dan mudah diserang oleh ensim (misal alkalin protease), sedangkan keratin keras sangat tahan terhadap bahan kimia dan ensim kecuali sulfida dan keratinase. Kulit samak adalah kulit hewan yang telah diubah secara kimia guna menghasilkan bahan yang kuat, lentur, dan ntahan terhadap pembusukan. Hampir semua kulit samak diproduksi dari kulit sapi, domba dan kambing. Kadangkadang kulit samak juga dihasilkan dari

kulit kuda, babi, kangguru, rusa, reptil, lumba-lumba dan singa laut. Akhir-akhir ini kulit ikan kakap, kulit ikan pari dan ikan tuna juga telah disamak.

Kulit samak digunakan untuk menghasilkan berbagai macam barang seperti sepatu, sendal, tas, ikat pinggang, koper, jaket, topi, jok mobil,

sarung HP, dompet dan cindera mata seperti gantungan kunci. Barang kerajinan lain yang dihasilkan dari kulit mentah misalnya wayang kulit, hiasan dinding, kaligrafi, beduk, genderang, kendang, dan kipas. Industri penyamakan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah menjadi kulit jadi. Industri penyamakan kulit merupakan salah satu industri yang didorong perkembangannya sebagai penghasil devisa non migas. Industri Penyamakan kulit sebagai salah satu industri yang berpotensi menghasilkan limbah, terutama tanin, kromium, suspensi solid, BOD, COD dan klorida. Ditinjau dari pentingnya proses penyamakan kulit dalam industri kerajinan kulit, maka saya mengangkat judul Penyamakan Kulit Sapi, proses ini merupakan pra pengolahan kulit sapi sebelum dijadikan produk kerajinan seperti sepatu, sabuk, jaket, dll.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa itu penyamakan kulit sapi? 2. Bagaimana proses penyamakan kulit sapi? 3. Apa tujuan proses penyamakan kulit sapi? 4. Apa hasil dari penyamakan kulit sapi?

C. TUJUAN Adapun tujuan dari makalah ini adalah : 1. Mengetahui pengertian penyamakan kulit itu sendiri 2. Mengetahui proses penyamakan kulit sapi 3. Mengetahui kegunaan dari penyamakan kulit dalam industry 4. Mengetahui apa yang didapat dari hasil penyamakan.

BAB II PEMBAHASAN

A. KULIT Komoditas kulit digolongkan menjadi kulit mentah dan kulit samak (Purnomo, 1985). Menurut Judoamidjojo (1974), kulit mentah adalah bahan baku kulit yang baru ditanggalkan dari tubuh hewan sampai kulit yang mengalami proses-proses pengawetan atau siap samak. Kulit mentah

dibedakan atas kulit hewan besar (hides) seperti sapi, kerbau, steer, dan kuda, serta kelompok kulit yang berasal dari hean kecil (skins) seperti kambing, domba, calf , dan kelinci (Purnomo, 1985) termasuk di dalamnya kulit hewan besar yang belum dewasa seperti kulit anak sapi dan kuda. Menurut Judoamidjojo (1974), secara topografis kulit dibagi menjadi 3 bagian. Gambar 1 menunjukkan topografi kulit hewan secara umum. a. Daerah krupon, merupakan daerah terpenting yang meliputi kirakira 55% dari seluruh kulit dan memiliki jaringan kuat dan rapat serta merata dan padat. b. Daerah leher dan kepala meliputi 3% bagian dari seluruh kulit. Ukurannya lebih tebal dari daerah krupon dan jaringannya bersifat longgar serta sangat kuat. c. Daerah perut, paha, dan ekor meliputi 22% dari seluruh luas kulit. Bagian tersebut paling tipis dan longgar. Komposisi kimia kulit terdiri atas air, protein, lemak, garam mineral, dan zat lainnya (Fahidin, 1977). Kandungan air pada tiap bagian kulit tidaklah sama. Bagian yang paling sedikit mengandung air adalah krupon (bagian punggung), selanjutnya berturut-turut adalah bagian leher dan perut (Purnomo, 1985). Kadar air berbanding terbalik terhadap kadar lemak. Jika kadar lemaknya tinggi maka kadar airnya rendah (Purnomo, 1985). Tabel 1 menunjukkan komposisi kimia kulit mentah segar. Terlihat dalam Tabel 1 bahwa kandungan protein pada kulit memiliki presentasi yang tinggi sehingga

harus segera dilakukan proses pengawetan dan penyamakan agar kulit tahan lama. Komposisi substansi kimia kulit domba mentah segar

Komponen Air Protein

Presentase (%) 64 33

Protein fibrous

-elastin

0.3

-kolagen Lemak -keratin Garam mineral Zat lain Protein globular Sumber: Sharephouse (1978) -albumin, globulin B. PENGAWETAN

29 2 2 0.5 0.5

Proses pengawetan dilakukan paling lambat lima jam setelah proses -mucin, mucoid 0.7 pengulitan menjadi kulit mentah segar. Proses pengawetan meliputi proses penggaraman dan pengeringan bertujuan untuk mencegah serta membatasi pertumbuhan bakteri pembusuk Proses pengawetan dapat dilakukan dengan beberapa cara: 1. Pementangan Kulit mentah yang sudah dibersihkan pada suatu bingkai segi empat yang terbuat dari kayu, bambu atau papan, kemudian dijemur dengan kemiringan 60o dari tanah dan permukaan daging mengarah ke atas. Lama penjemuran untuk kulit sapi antara 2 sampai 4 hari, sedang

kulit kambing dan domba cukup 1 sampai 2 hari. 2. Pickle Yaitu cairan yang terdiri dari larutan garam dapur (NaCl) dengan asam sulfat (H2SO4) atau asam formit (H3COOH) dengan

perbandingan tertentu. Pengerjaan dengan pickle harus melalui proses siap samak, sehingga telah bersih dari segala kotoran. Kulit siap samak tersebut dimasukkan ke dalam asam, diaduk perlahan-lahan dan kemudian didiamkan selama satu malam. Menurut pengawetan dengan cara penggaraman Aten (1966),

terbagi menjadi

penggaraman kering (dry salting) dan penggaraman basah ( wet salting). Stanley (1993), menambahkan bahwa penggaraman merupakan metode pengawetan yang paling mudah dan efektif. Reaksi osmosis dari garam mendesak air keluar dari kulit hingga tingkat kondisi yang

tidak memungkinkan pertumbuhan bakteri. Menurut Fahidin dan Muslich (1999), garam yang digunakan dalam pengawetan kulit memiliki beberapa fungsi yaitu: 1) mengambil air dari kulit sehingga menghalangi pertumbuhan bakteri busuk; 2) membentuk reaksi plasmolisis mikroorganisme; dan 3) meracuni mikroorganisme. Garam yang biasa dipakai adalah garam dapur (NaCl) dan garam khari (NaCl 50% dan Na2SO4 50%) (Judoamidjojo, 1974). Fahidin dan Muslich (1999)

menambahkan bahwa syarat-syarat garam yang digunakan sebagai berikut: butiran garam 1 mm, kadar Ca dan Mg tidak boleh lebih dari 2%, serta bebas dari besi.

C. PENYAMAKAN Kulit mentah segar bersifat mudah busuk karena merupakan media yang baik untuk tumbuh dan berkembangbiaknya organisme. Kulit mentah tersusun dari unsur kimiawi seperti: protein, karbohidrat, lemak, dan mineral. Oleh sebab itu, perlu dilakukan proses pengwetan kulit

sebelum kulit diolah lebih lanjut. Teknik mengolah kulit mentah menjadi kulit samak disebut penyamakan. Dengan demikian, kulit hewan yang mudah busuk dapat menjadi tahan terhadap serangan mikroorganisme (Judoamdjojo, 1981). Prinsip mekanisme penyamakan kulit adalah memasukkan bahan penyamak ke dalam anyaman atau jaringan serat kulit sehingga menjadi ikatan kimia antara bahan penyamak dan serat kulit (Purnomo, 1991). Menurut Fahidin dan Muslich (1999), teknik penyamakan kulit dikelompokkan menjadi 3 tahapan, yaitu proses pra penyamakan,

penyamakan, dan pasca penyamakan. 1. Prapenyamakan Proses pra-penyamakan (Beam Open House Operation) meliputi perendaman, pengapuran, pembuatan daging, pembuangan kapur, pengikatan proten, pemucatan dan pengasaman (Purnomo, 1992). a. Perendaman (soaking) merupakan tahapan pertama dari proses penyamakan yang bertujuan mengembalikan kadar air kulit yang hilang selama proses pengawetan sehingga kadar airnya mendekati kadar air kulit segar. Bienkiewicz (1983) menambahkan bahwa tujuan

perendaman adalah membuang zat padat seperti pasir, kerikil, parasit, sisa darah, urin, dan kotoran. dalam perendaman Pencegahan proses pembusukan

dapat dilakukan dengan cara: 1) mengusahakan

agar air perendaman tetap dingin, terutama di musim panas perlu digunakan thermometer; 2) 1980). b. Tujuan pengapuran adalah menghilangkan epidermis dan bulu, kelenjar keringat dan lemak, dan menghilangkan semua zat-zat yang bukan collagen yang aktif menghadapi zat-zat penyamak. Oleh karena semua proses penyamakan dapat dikatakan berlangsung dalam penambahan sedikit bakterisida (Mann,

lingkungan asam maka kapur di dalam kulit harus dibersihkan sama sekali. Kapur yang masih ketinggalan akan mengganggu proses penyamakan. Proses ini menggunakan enzim protese untuk
6

melanjutkan pembuangan semua zat- zat bukan collagen yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran antara lain: 1) Sisa- sisa akar bulu dan pigmen 2) Sisa- sisa lemak yang tak tersabunkan 3) Sedikit atau banyak zat- zat kulit yang tidak diperlukan artinya untuk kulit atasan yang lebih lemas membutuhkan waktu proses bating yang lebih lama Sisa kapur yang masih ketinggalan (Purnomo, 1992). c. Proses buang daging (fleshing) bertujuan menghilangkan sisa-sisa daging (subcutis) dan lemak yang masih melekat pada kulit. Proses buang bulu (scudding) bertujuan menghilangkan sisa-sisa bulu

beserta akarnya yang masih tertinggal pada kulit (Fahidin dan Muslich, 1999). d. Pembuangan kapur (deliming) bertujuan untuk menurunkan pH yang disebabkan sisa kapur yang masuk masih terdapat pada kulit (Purnomo, 1992). Proses buang kapur biasanya menggunakan garam ammonium sulfat (ZA). Garam itu memudahkan proses pembuangan kapur karena tidak ada pengendapan-pengendapan dan tidak terjadi pembengkakan kulit (Fahidin dan Muslich, 1999). Ca(OH)2+(NH)2SO4 CaSO4+2NH4OH

e.

Pelumatan (bating) bertujuan untuk membuka atau melemaskan kulit lebih sempurna secara enzimatik. Bahan yang digunakan adalah oropon/enzilen, yaitu bahan paten yang dibuat dari pankreas dan garam-garam ammonium sebagai aktivator (Judoamidjojo et al.,

1979). Menurut Purnomo (1985), tujuan dari proses bating adalah menghilangkan sisa-sisa akar bulu dan pigmen, sisa lemak yang tidak tersambungkan, dan menghilangkan sisa kapur yang masih tertinggal. Proses bating diperlukan terutama untuk pembuatan kulit

halus dan lemas, misalnya kulit box, pakaian, dan sarung tangan (Fahidin dan Muslich, 1999). Menurut Mann (1980), waktu bating yang berlebihan dapat

menyebabkan kulit menjadi lepas dan menipis karena banyak protein yang terhidrolisis sehingga mengakibatkan kekuatan tarik menjadi rendah. O Flaherty (1956) menyatakan bahwa waktu bating yang terlalu singkat menyebabkan terjadinya pemisahan serat-serat fibril yang tidak sempurna, penetrasi bahan penyamak kurang merata, permukaan terluar dari serabut lebih tersamak sehingga kulit menjadi mudah patah, kaku, dan keras. f. Pengasaman (pikling) berfungsi untuk mengasamkan kulit sampai pH tertentu sebelum proses penyamakan krom, jadi dilakukan penurunan pH kulit menjadi 3 (Jayusman, 1990). Selain itu, pengasaman juga dilakukan untuk menghilangkan noda hitam pada kulit akibat proses sebelumnya atau unsur besi pada kulit, serta hilangnya noda putih karena pengendapan CaCO3 yang menyebabkan cat dasar tidak merata (Purnomo, 1992).

2.

Penyamakan Penyamakan adalah seni atau teknik dalam mengubah kulit mentah

yang bersifat

labil

menjadi kulit

samak

yang

lebih

permanen

(Judoamidjojo, 1984; Brotomulyono et al., 1986). Penyamakan bertujuan mengubah kulit mentah yang memiliki sifat tidak stabil menjadi kulit tersamak yang mempunyai sifat stabil dan bahan pokok dari proses ini adalah kulit siap samak dan bahan samak (Purnomo, 1992). Fahidin dan Muslich (1999) juga menyebutkan bahwa bahan mineral yang digunakan pada proses penyamakan adalah garam yang berasal dari logam alumunium, zirkanium, ferum, cobalt, dan kromium. Keuntungan penggunaan krom adalah penyamakan lebih cepat, murah, serta mudah diwarnai.

Penyamakan kulit dapat dikelompokkan berdasarkan bahan penyamak yang digunakan, yaitu: 1) samak nabati, menggunakan bahan penyamak asal tumbuhan; 2) samak mineral, menggunakan bahan penyamak mineral seperti Al, Cr, atau Zn; 3) samak sintesis, menggunakan bahan penyamak sintetik seperti aromatic syntans, resin, dan apiphatic syntans; 4) samak aldehid, menggunakan bahan penyamak aldehid seperti minyak ikan, gluteraldehid, formaldehid (Shapouse, 1983). Cara penyamakan dengan bahan penyamakan mineral dengan menggunakan bahan penyamak krom, yaitu zat penyamak krom yang biasa digunakan adalah bentuk kromium sulfat basa. Basisitas dari garam krom dalam larutan menunjukkan berapa banyak total velensi kroom diikat oleh hidriksil sangat penting dalam penyamakan kulit. Pada basisitas total antara 0-33,33%, molekul krom terdispersi dalam ukuran partikel yang kecil (partikel optimun u ntuk penyamakan). Zat penyamak komersial yang paling banyak digunakan memunyai basisitas 33,33%. Jika zat penyamak krom ini ingin difiksasikan didalam substansi kulit, maka basisitas dari cairan krom harus dinaikkan sehingga mengakibatkan bertambah besarnya ukuran partikel zat penyamak krom. Dalam penyamakan diperlukan 2,5- 3,0% Cr2O3 hanya 25 %, maka dalam pemakainnya diperlukan 100/25 x 2,5 % Cromosol B= 10% Cromosol B. Obat ini dilarutkan dengan 2-3 kali cair, dan direndam selama 1 malam. Kulit yang telah diasamkan diputar

dalam drum dengan 80- 100%air, 3-4 % garam dapur (NaCl), selma 10-15 menit kemudian bahan penyamak krom dimasukkan sbb: 1/3 bagian dengan basisitas 33,3 % putar selama 1 jam 1/3 bagian dengan basisitas 40-45 % putar selama 1 jam 1/3 bagian dengan basisitas 50 % putar selama 3 jam. Cara penyamakan dengan bahan penyamak aluminium (tawas putih), yaitu kulit yang telah diasamkan diputar dengan: 40- 50 % air 10% tawas putih

1- 2% garam, putar selama 2-3 jam lu ditumpuk selama 1 malam Esok harinya kulit diputar lagi selama 1 jam, lalu digantung dan dikeringkan pada udara yang lembab selama 2-3 hari. Kulit diregang dengan tangan atau mesin sampai cukup lemas (Shapouse, 1983). Penyamakan kulit dapat juga dilakukan dengan kombinasi bahan

penyamak misalnya menggunakan alumunium pada tahap pendahuluan kemudian dilanjutkan dengan bahan nabati seperti mimosa-puder (Oetojo et al., 1987).

3.

Pasca Penyamakan

Pasca penyamakan bertujuan membentuk sifat-sifat tertentu pada kulit terutama berhubungan dengan kelemasan, kepadatan, dan warna kulit. Proses tersebut terdiri dari netralisasi, pewarnaan, perminyakan, pengecatan, pengerinngan dan peregangan (Fahidin dan Muslich, 1999). a. Penetralan (neutralization) bertujuan mengurangi kadar asam dari kulit wet blue agar tidak menghambat proses pengecatan dasar dan perminyakan (Purnomo, 1992). Menurut Judoamidjojo (1974),

penetralan bertujuan memperlambat reaksi pengikatan zat warna pada substansi kulit sehingga zat warna dapat meresap ke dalam substansi kulit sebelum berikatan. b. Pewarnaan dasar memiliki fungsi sebagai pemberian warna dasar pada kulit tersamak seperti yang diinginkan (Purnomo, 1992). Pemberian warna disesuaikan dengan bentuk produk akhir yang direncanakan. Warna coklat sering digunakan pada tahap pengecatan dasar. c. Perminyakan (fat liquoring) bertujuan melicinkan serat kulit sehingga lebih tahan terhadap gaya tarikan, menjaga serat kulit agar tidak lengket sehingga lebih lunak dan lemas, dan memperkecil daya serap. Selain itu, dimaksudkan agar kulit menjadi lebih fleksibel atau lebih

mudah dilekuk- lekukan dan tidak mudah sobek. Caranya dapat dilakukan dengan meminyaki permukaan dengan mengulas, pelemasan

10

dengan tong berputar atau pencelupan dalam lemak panas (Purnomo, 1992). Hal itu penting untuk menarik konsumen saat pemasaran produk. Menurut Thorstensen (1985), jenis minyak yang umum digunakan dalam proses peminyakan adalah trigliserida yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, ikan laut, dan hewan. d. Pengecetan bertujuan untuk memenuhi selera konsumen. Pengecatan zat warna hanya melekat di permukaan dalam media bahan perekat yang fungsinya melekatkan warna dan memperbaiki permukaan kulit. e. Pengeringan bertujuan untuk menghentikan semua reaksi kimia di dalam kulit. Biasanya dilakukan selama 1-3 hari pada udara biasa agar kulit menyesuaikan kelembaban udara sekitarnya. f. Peregangan dilakukan dengan tujuan untuk menarik kulit sampai mendekati batas kemulurannya, agar jika dibuat barang kerajinan tidak terlalu mulur, tidak merubah bentuk ukuran. Mutu kulit samak (leather) selain dipengaruhi oleh proses yang dilakukan di industri penyamakan kulit, juga sangat bergantung pada mutu kulit mentah sebagai bahan dasarnya. Sementara itu, mutu kulit

mentah dipengaruhi oleh kerusakan kulit yang terjadi pada saat hewan hidup, pemotongan, dan pengawetan (Willamson dan Payne, 1993). Tancous et al. (1981) membagi kerusahan kulit mentah menjadi: a. b. Kerusakan antemoterm, yaitu kerusakan yang terjadi pada hewan hidup. Kerusakan postmortem, yaitu kerusakan yang terjadi pada waktu pengulitan, pengawetan, penyimpanan, dan transportasi. Selain kerusakan tersebut, mutu kulit juga dipengaruhi oleh bangsa, jenis kelamin, dan umur ternak waktu dipotong (Tancous et al., 1981). Menurut Mann (1966), bangsa sapi untuk produksi susu atau domba untuk produksi wool mempunyai kulit yang tipis karena nutrisi makanan yang diserap tubuh digunakan untuk memproduksi susu/wool. Tingginya kadar lemak dalam kroium maupun subcutis merupakan faktor penurunan kualitas lainnya yang dipengaruhi bangsa domba (Tancous et al., 1981). Kulit seperti

11

itu juga dapat mempengaruhi kualitas kulit samak karena kekuatan tarik dan kemuluran kulit samak menjadi rendah. Dikatakan pula pada setiap spesies terapat perbedaan antara kulit hewan jaantan dan betina. Perbedaan pokoknya adalah kulit hewan betina mempunyai rajah yang lebih halus daripada kulit hewan jantan. Pada umumnya, kulit hewan betina mempunyai bobot rata-rata lebih ringan dari kulit hewan jantan tetapi mempunyai daya tahan renggang yang lebih besar. Namun demikian, karena permintaan kulit di pasar sangat besar maka perbedaan kedua jenis kelamin dapat diabaikan dan tidak dianggap sebagai suatu defek. Perbedaan yang dipengaruhi oleh umur hewan dapat menurunkan mutu setelah menjadi kulit samak. Kulit yang berasal dari hewan muda pada umumnya mempunyai struktur yang halus tetapi kompak, berajah sangat halus tetapi kurang tahan terhadap pengaruh dari luar dibandingkan kulit hewan yang lebih tua. Sebaliknya bila hewan semakin tua, lapisan rajah makin kuat dan kasar. Disamping itu, akan semakin banyak yang

mengalami luka-luka sehingga makin banyak tenunan parutnya, bekas luka oleh penyakit parasit, guratan, cap bakar, dan lainnya.

12

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan mengenai penyamakan kulit di atas dapat kita ketahui bahwa proses penyamakan kulit terdiri dari beberapa proses, yaitu pengawetan, pengurangan kadar garam, perontokan bulu, pencucian,

pembuangan daging, pembuangan kapur, pencucian, pengasaman (pikel), penyamakkan (tanning), penipisan atau penyerutan, pewarnaan dasar, pencucian, pengeringan, perenggangan, spraying, penyetrikaan, serta pengukuran dan penyortiran. Pada proses produksi industri ini menghasilkan beberapa

jenis limbah yang digolongkan berdasarkan bentuk yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat diantaranya adalah garam yang berwarna

kemerahan, daging sisa, dan serbuk kulit. Sedangkan limbah cair adalah air sisa pencucian, larutan kapur, larutan asam, dan larutan chrom.

B. SARAN Hal yang perlu diperhatikan dalam proses penyamakan adalah pengolahan limbah dari proses penyamakan kulit, karena sisa-sisa bahan yang terbuang dari proses penyamakan akan menjadi limbah yang akan menimbulkan dampak lingkungan, baik dari segi kesehatan maupun secara sosial. hal ini diperhatikan mengingat selain dari sisi ekonomi suatu uasa perlu juga diperhatikan dari sisi kesehatan dan dampaknya terhadap lingkungan. Dalam suatu system pebangunan yang baik tentunya akan mempertimbangkan dampak yang akan timbul dari suatu usaha tersebut. Apakah layak dan aman untuk dijalankan atau tidak.

13

DAFTAR ISI

Aten ARF. 1966. Flying and Curing of Hide and Skin as A Rural Industry. FAO Fahidin dan Mislich. 1999. Ilmu dan Teknologi Kulit. Fateta. IPB. Bogor. Judoamidjojo M. 1974. Dasar Teknologi dan Kimia Kulit. Departemen eknologi Hasil Pertanian. Fateta. IPB. Bogor. Mann I. 1980. Rural Tanning Techniques. Food and Agriculture

Organization of The United Nations. Rome Oetojo B. 1996. Penggunaan Campuran Kuning Telur dan Putih Telur untuk Peminyakan Kuit. Majalah Barang Kulit, Karet, dan Plastik. 12 (24):47-53. OFlaheri, Reddy FOT, Lollar MR. 1956. The Cemicals and Technology of Leather. Reinhold Publishing Corporation. New York. Purnomo E. 1985. Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit. Akademi Teknologi Kulit. Departemen Perindustrian. Yogyakarta.

14