Anda di halaman 1dari 29

CASE REPORT ASMA BRONKIAL

Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Kepaniteraan Klinik Senior Untuk Memperoleh Gelar Profesi Dokter

OLEH :

FIQY NURULLAH 08310120

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS UPTD PUSKESMAS CIPEDES KOTA TASIKMALAYA 2013

STATUS PASIEN

A.

IDENTITAS Nama Umur : Ny. R : 70 th

Jenis Kelamin : Perempuan Alamat Agama : Cipedes : Islam

Tanggal Periksa : 15 Maret 2013

B.

ANAMNESIS Keluhan Utama : sesak napas sejak 1 hari yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang Seorang ibu mengeluh sesak napas sejak 1 hari yang lalu. Menurut keluarganya sebelum sesak ny. R mengeluh kedinginan. Selain itu ny R juga sehabis makan pepes ikan dan makanan yang pedas. Os mengaku mulai sering mengalami sesak napas sejak 6 tahun yang lalu. Keluhan seperti ini ia rasakan apabila cuaca dingin, sehabis memakan makanan pedas, makan ikan pepes, jika minum air dingin dan apabila os terlalu lelah bekerja. os juga mengeluhkan batuk berdahak . Dahak bewarna putih. Os mengatakan apabila os merasakan sesak napas, os segera minum obat yang diberikan oleh dokter.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah di rawat pada tahun 2005 karena sesak napas. Os mempunyai riwayat Darah tinggi

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang mengalami hal yang sama dengan pasien Riwayat Pengobatan Os berobat ke puskesmas dan prakter dokter umum C. Pemeriksaan Fisik Kesan Umum Kesadaran Tanda Vital : Tampak sakit sedang : Somnolen : : 160/80 mmhg :88x/ menit : 32x/ menit : 36,80 C

Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu

Status Generalis Kepala Mata ikterik (-/-) Hidung

: : Normocephal : Cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera

: Bentuk normal, sekret (-/-)

Telinga Mulut Tenggorok

: Bentuk normal, discharge (-/-) : tidak ada kelainan : Faring hiperemis (-)

Dinding Thoraks o Paru : Inspeksi : Gerak nafas simetris, bentuk dada normal Palpasi: Vokal fremitus kanan = kiri normal Perkusi: Sonor pada seluruh lapangan paru Auskultasi:
wheezing(+/+) ekspirasi memanjang, ronchi -/-,

Jantung :Inspeksi Palpasi Perkusi normal Auskultasi

: ictus cordis tidak tampak : ictus cordis tidak teraba : batas jantung kiri dan kanan

: BJ I-II regular, bising (-)

Abdomen

I: Datar, tidak ada bekas luka, dan luka operasi Tidak ada penonjolan A: bising usus normal P: Hepar: Hepar dalam batas normal . Tidak ada nyeri tekan

Lien

: Tidak teraba (normal) Tidak ada nyeri tekan

Ginjal .

: Pemeriksaan Balottement (-), Nyeri ketok CVA (-)

P: timpani disemua kuadran Ekstremitas : Alat kelamin Ektremitas : tidak dilakukan

: tidak ditemukan edema diektremitas kiri dan kanan Sensibilitas kiri dan kanan baik Reflek fisiologis kiri dan kanan baik Reflek patologis tidak ditemukan

D. RESUME Anamnesis : sesak napas seajk 1 hari yang lalu.pasien

sebelumnya mengeluh kedinginan dan habis makan pepes ikan serta makanan yang pedas. Pemeriksaan Fisik : Pada auskulitasi terdengar wheezing

E. DIAGNOSIS KERJA Asma Bronchial persisten ringan DD/ PPOK F. PENATALAKSANAAN Salbutamol 4mg 3x1

Dexamethason 0,5 mg 2x1 Gliseril guayacolat 100 mg 3x1 G. USULAN PEMERIKSAAN Pemeriksaan Sputum

H. PROGNOSIS Dubia ad bonam I. Edukasi Menghindari makanan yang diketahui menjadi penyebab serangan(bersifatindividual). Menghindari minum es atau makanan yang dicampur dengan es. Menghindari kontak dengan hewan diketahui menjadi penyebab serangan. Berusaha menghindari polusi udara dan udara dingin Berusaha menghindari kelelahan fisik dan psikis. Segera berobat bila sakit panas, apalagi bila disertai dengan batuk dan pilek Minum obat secara teratur sesuai dengan anjuran dokter Pada waktu serangan berusaha untuk makan cukup kalori dan banyak minum air hangat guna membantu pengenceran dahak

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Definisi asma secara lengkap yang menggambarkan konsep inflamasi sebagai dasar mekanisme terjadinya asma dikeluarkan oleh GINA (Global Initiative for Asthma). Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran respiratorik dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan, inflamasi ini menyebabkan episodik. wheezing yang berulang, sesak napas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan saluran respiratorik yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperaktivitas saluran respiratorik terhadap berbagai rangsangan. B. Epidemiologi Asma bronkial merupakan salah satu penyakit alergi dan masih menjadi masalah kesehatan baik di negara maju maupun di negara berkembang. Prevalensi dan angka rawat inap penyakit asma bronkial di negara maju dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Perbedaan prevalensi angka kesakitan dan kematian asma bronkial berdasarkan letak geografi telah disebutkan dalam berbagai penelitian. Selama sepuluh tahun terakhir banyak penelitian epidemiologi tentang asma bronkial dan penyakit alergi berdasarkan kuisioner telah dilaksanakan di berbagai belahan dunia. Semua penelitian ini

walaupun memakai berbagai metode dan kuisioner namun mendapatkan hasil yang konsisten untuk prevalensi asma bronkial sebesar 5-15% pada populasi umum dengan prevalensi lebih banyak pada wanita dibandingkan laki-laki. Di Indonesia belum ada data epidemiologi yang pasti namun diperkirakan berkisar 3-8%. Dua pertiga penderita asma bronkial merupakan asma bronkial alergi (atopi) dan 50% pasien asma bronkial berat merupakan asma bronkial atopi. Asma bronkial atopi ditandai dengan timbulnya antibodi terhadap satu atau lebih alergen seperti debu, tungau rumah, bulu binatang dan jamur. Atopi ditandai oleh peningkatan produksi IgE sebagai respon terhadap alergen. Prevalensi asma bronkial non atopi tidak melebihi angka 10%. Asma bronkial merupakan interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan. Data pada penelitian saudara kembar monozigot dan dizigot, didapatkan kemungkinan kejadian asma bronkial diturunkan sebesar 60-70%. C. Faktor Resiko Faktor resiko asma dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : a.Atopi Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga alergi. Dengan adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpajan dengan faktor pencetus. b.Hiperreaktivitas bronkus

Saluran pernapasan sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan. c.Jenis Kelamin Perbandingan laki laki dan perempuan pada usiadini adalah 2:1 dan pada usia remaja menjadi 1:1.Prevalensi asma lebih besar pada wanita usia dewasa. d.Obesitas Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI) merupakan faktor resiko asma. Mediator tertentu seperti leptin dapat mempengaruhi fungsi saluran pernapasan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya asma. Meskipun mekanismenya belum jelas, penurunan berat badan penderita obesitas dengan asma, dapat mempengaruhi gejala fungsi paru, morbiditas dan status kesehatan. D. Faktor Pencetus Penelitian yang dilakukan oleh pakar di bidang penyakit asma sudah sedemikian jauh, tetapi sampai sekarang belum menemukan penyebab yang pasti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saluran pernapasan penderita asma mempunyai sifat sangat peka terhadap rangsangan dari luar yang erat kaitannya dengan proses inflamasi. Proses inflamasi akan meningkat bila penderita terpajan oleh alergen tertentu. Penyempitan saluran pernapasan pada penderita asma disebabkan oleh reaksi inflamasi kronik yang didahului oleh faktor pencetus. Beberapa faktor pencetus yang sering menjadi pencetus serangan asma adalah :

1.Faktor Lingkungan a.Alergen dalam rumah b.Alergen luar rumah 2.Faktor Lain a.Alergen makanan b.Alergen obat obat tertentu c.Bahan yang mengiritasi d. Ekspresi emosi berlebih e.Asap rokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif f.Polusi udara dari dalam dan luar ruangan E. Klasifikasi Asma
Derajat asma intermitten Gejala Gejala malam Faal paru APE80% VEP180% mulai prediksi APE80% nilai terbaik - Variability APE <20% APE >80% - VEP1 80% nilai prediksi APE 80% nilai terbaik - Variabiliti APE 20-30% APE 60-80% -VEP 60-80% nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik -Variabiliti APE >30% APE 60% -VEP1 60% nilai prediksi APE 60% nilai terbaik -variabiliti APE >30%

Persisten ringan

Bulanan 2 kali sebulan - gejala ,1x/minggu - tanpa gejala diluar serangan - serangan singkat Mingguan >2x sebulan - Gejala >1x/minggu tetapi <1x/hari - Serangan mengganggu aktifitas dan tidur

Persisten sedang

Harian >2kali sebulan Gejala setiap hari Serangan mengganggu aktifitas dan tidur - Membutuhkan bronkodilator setiap hari Persisten berat Kontinyu sering -gejala terus menerus -sering kambuh -aktifitas fisik terbatas -

Asma diklasifikasikan atas asma saat tanpa serangan dan asma saat serangan (akut). 1.Asma saat tanpa serangan Pada orang dewasa, asma saat tanpa atau diluar serangan, terdiridari: 1) Intermitten; 2) Persisten ringan; 3) Persisten sedang; 4)Persisten berat .2. Asma saat serangan Klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat yang digunakan sehari-hari, asma juga dapat dinilai berdasarkan berat-ringannya serangan. Global Initiative for Asthma (GINA) membuat pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis,uji fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan menentukan terapi yang akan diterapkan. Klasifikasi tersebut meliputi asma serangan ringan, asma serangan sedang dan asma serangan berat.Perlu dibedakan antara asma (aspek kronik) dengan serangan asma. (aspek akut). Sebagai contoh: seorang pasien asma

persisten berat dapat mengalami serangan ringan saja, tetapi ada kemungkinan pada pasien yang tergolong episodik jarang mengalami serangan asma berat, bahkan serangan ancaman henti napas yang dapat menyebabkan kematian.

Parameter klinis, fungsi faal paru, laboraturium


sesak

Ringan

Sedang

Berat

Ancaman henti napas

berjalan Bayi: menangis teru

berbicara Bayi: -tangis pendek dan lemah -kesulitan menetek/makan lebih suka duduk

istirahat Bayi: tidak mau makan minum

posisi

Bias berbaring

bicara kesadaran sianosis wheezing

Penggunaan otot bantu respiratorik retraksi

kalimat Mungkin iritabel Tidak ada Sedang sering hanya pada akhir ekpirasi Biasanya tidak

Penggal kalimat Baisanya iritabel Tidak ada Nyaring sepanjang ekspirasi-inspirasi Biasanya iya

Duduk bertopang lengan Kata-kata Biasanya iritabel ada Sangat nyaring terdengar tanpa stetoskop ya

kebingungan Nyata Sulit/tidak terdengar

Frekuensi napas

Frekuensi nadi

Pulsus parodoksus PEFR atau FEV1 Pra bonkodilator Pasca bronkodilator Sa02% PaO2

Dangkal, Sedang ditambah Dalam ditambah retraksi retraksi napas cuping interkostal suprasternal hidung takipnu takipnu takipnu Pedoman nilai baku frek.napas pada anak: Usia: normal per menit: 2 bulan <60 2-12 bln <50 1-5th <40 6-8 thn <30 normal takikardi takikardi Pedoman nilai baku frek. Nadi pada anak 2-12 bln <160 1-2 thn <120 6-8 thn <110 Tidak ada Ada Ada (<10mmHg) (10-20mmHg) (>20mmHg) >60% >80% >95% Normal (biasanya tidak perlu diperika) <45 mmHg 40-60% 60-80% 91-95% >60mmHg <40% <60% respon 2jam 90% <60mmHg

Gerakan paradoktorakoabdominal Dangkal/hilang

Bradipnu

Bradikardi

PaCo2

<45 mmHg

<45mmHg

E. Patogenesis Sesuatu yang dapat memicu serangan asma ini sangat bervariasi antara satu individu dengan individu yang lain. Beberapa hal diantaranya adalah alergen, polusi udara, infeksi saluran nafas, kecapaian, perubahan cuaca, makanan, obat atau ekspresi emosi yang berlebihan, rhinitis ,sinusitis bakterial, poliposis, menstruasi, refluks gastroesofageal dan kehamilan. Alergen akan memicu terjadinya bronkokonstriksi akibat dari pelepasan IgE dependent dari sel mast saluran pernafasan dari mediator, termasuk diantaranya histamin, prostaglandin,leukotrin, sehingga akan terjadi kontraksi otot polos. Keterbatasan aliran udara yang bersifat akut ini kemungkinan juga terjadi oleh karena saluran pernafasan pada pasien asma sangat hiperresponsif terhadap bermacam-macam jenis serangan. Akibatnya keterbatasan aliran udara timbul oleh karena adanya pembengkakan dinding saluran nafas dengan atau tanpa kontraksi otot polos.Peningkatan permeabilitas dan kebocoran mikrovaskular berperan terhadap penebalan danpembengkakan pada sisi luar otot polos saluran pernafasan. Penyempitan saluran pernafasan yang bersifat progresif yang disebabkan oleh inflamasi saluran pernafasan dan atau peningkatan tonos otot polos bronkioler merupakan gejala serangan asma akut dan berperan terhadap peningkatan resistensi aliran, hiperinflasi pulmoner, dan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi. Pada penderita asma bronkial karena saluran napasnya sangat peka (hipersensitif) terhadap adanya partikel udara, sebelum sempat partikel tersebut dikeluarkan dari tubuh, maka

jalan napas (bronkus) memberi reaksi yang sangat berlebihan (hiperreaktif), maka terjadilahkeadaan dimana : Otot polos yang menghubungkan cincin tulang rawan akan berkontraksi/memendek/mengkerut Produksi kelenjar lendir yang berlebihan Bila ada infeksi akan terjadi reaksi sembab/pembengkakan dalam saluran napas Hasil akhir dari semua itu adalah penyempitan rongga saluran napas. Akibatnya menjadi sesak napas, batuk keras bila paru mulai berusaha untuk membersihkan diri, keluar dahak yangkental bersama batuk, terdengar suara napas yang berbunyi yang timbul apabila udara dipaksakan melalui saluran napas yang sempit. Suara napas tersebut dapat sampai terdengar keras terutama saat mengeluarkan napas. Obstruksi aliran udara merupakan gangguan fisiologis terpenting pada asma akut.Gangguan ini akan menghambat aliran udara selama inspirasi dan ekspirasi dan dapat dinilaidengan tes fungsi paru yang sederhana seperti Peak Expiratory Flow Rate(PEFR) dan FEV1 (Forced Expiration Volume). Ketika terjadi obstruksi aliran udara saat ekspirasi yang relatif cukup berat akan menyebabkan pertukaran aliran udara yang kecil untuk mencegah kembalinya tekanan alveolar terhadap tekanan atmosfer maka akan terjadi hiperinflasi dinamik. Besarnya hiperinflasi dapat dinilai dengan derajat penurunan kapasitas cadangan fungsional dan volume cadangan. Fenomena

ini dapat pula terlihat pada foto toraks yang memperlihatkan gambaran volume paru yang membesar dan diafragma yang mendatar. Hiperinflasi dinamik terutama berhubungan dengan peningkatan aktivitas otot pernafasan, mungkin sangat berpengaruh terhadap tampilan kardiovaskular. Hiper inflasi paruakan meningkatkan afterload pada ventrikel kanan oleh karena peningkatan efek kompresi langsung terhadap pembuluh darah paru. Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus, sumbata nmukus, edema, dan inflamasi dinding bronkus. Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisiologis saluran napas menyempit pada fase tersebut. Hal ini mengakibatkan udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi. Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional dan pasien akan bernapas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total. Keadaan hiperinflasi ini bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan lancar. Untuk mempertahankan hiperinflasi ini diperlukan otot-otot bantu napas. Penyempitan saluran napas dapat terjadi baik pada saluran napas yang besar, sedang,maupun kecil. Gejala mengi menandakan ada penyempitan di saluran napas besar, sedangkan pada saluran napas yang kecil gejala batuk dan sesak lebih dominan dibanding mengi. F. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis

Anamnesis meliputi adanya gejala yang episodik, gejala berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabilitiyang berkaitan dengan cuaca. Faktor faktor yang mempengaruhiasma, riwayat keluarga dan adanya riwayat alergi. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pada pasien asma tergantung dari deraja tobstruksi saluran napas. Tekanan darah biasanya meningkat,frekuensi pernapasan dan denyut nadi juga meningkat, ekspirasi memanjang diserta ronki kering, mengi. Pemeriksaan Laboratorium Darah (terutama eosinofil, Ig E), sputum (eosinofil, spiral Cursshman, Kristal Charcot Leyden). Pemeriksaan Penunjang oSpirometri Spirometri adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur faal ventilasi paru. Reversibilitas penyempitan saluran napas yang merupakan ciri khas asma dapat dinilai dengan peningkatan volume ekspirasi paksa detik pertama(VEP1) dan atau kapasiti vital paksa (FVC) sebanyak 20%atau lebih sesudah pemberian bronkodilator. oUji Provokasi Bronkus Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma. Pada penderita dengan gejala sma dan faal paru normal sebaiknya dilakukan uji provokasi bronkus.Pemeriksaan uji provokasi bronkus merupakan cara untuk membuktikan secara objektif hiperreaktivitas saluran napas pada orang

yang diduga asma. Uji provokasi bronkus terdiridari tiga jenis yaitu uji provokasi dengan beban kerja(exercise), hiperventilasi udara dan alergen non-spesifik seperti metakolin dan histamin. oFoto Torak Pemeriksaan foto toraks dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain yang memberikan gejala serupa seperti gagal jantung kiri, obstruksi saluran nafas, pneumothoraks, pneumomediastinum. Pada serangan asma yang ringan, gambaran radiologik paru biasanya tidak memperlihatkan adanya kelainan G. Diagnosis Banding Bronkitis kronik Bronkitis kronik ditandai dengan batuk kronik yangmengeluarkan sputum 3 bulan dalam setahun untuk sedikitnya 2tahun. Gejala utama batuk yang disertai sputum dan perokok berat.Gejala dimulai dengan batuk pagi, lama kelamaan disertai mengidan menurunkan

kemampuan jasmani. Emfisema paru Sesak napas merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk dan mengi jarang menyertainya. Gagal jantung kiri Dulu gagal jantung kiri dikenal dengan asma kardial dan timbul pada malam hari disebut paroxysmal nocturnal dispnea .Penderita tiba-tiba terbangun pada malam hari karena sesak, tetapisesak menghilang atau

berkurang bila duduk. Pada pemeriksaanfisik ditemukan kardiomegali dan edema paru. Emboli paru Hal-hal yang dapat menimbulkan emboli paru adalah gagal jantung. Disamping gejala sesak napas, pasien batuk dengandisertai darah ( haemoptoe). H. Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktiviti sehari-hari. Tujuan penatalaksanaan asma : Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma Mencegah eksaserbasi akut Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise Menghindari efek samping obat Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow

limitation)ireversibel Mencegah kematian karena asma Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit,disebut sebagai asma terkontrol. Asma terkontrol adalah kondisi stabil minimal dalam waktu satu bulan. Penatalaksanaan asma bronkial terdiri dari pengobatan nonmedikamentosa dan pengobatan medikamentosa :

Pengobatan non-medikamentosa Penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pengendali emosi Pemakaian oksigen Pengobatan medikamentosa Pengobatan ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega, Pengontrol (Controllers)Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang untuk mengontrol asma, diberikan setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma terkontrol pada asma

persisten.Pengontrol sering disebut pencegah, yang termasuk obat pengontrol : Kortikosteroid inhalasi Kortikosteroid sistemik Sodium kromoglikat Nedokromil sodium Metilsantin Agonis beta-2 kerja lama, inhalasi Agonis beta-2 kerja lama, oral Leukotrien modifiers Antihistamin generasi ke dua (antagonis -H1) Lain-lain

Glukokortikosteroid inhalasi Pengobatan jangka panjang yang paling efektif untuk mengontrol asma. Penggunaan steroid inhalasi menghasilkan perbaikan faal paru,menurunkan hiperesponsif jalan napas, mengurangi gejala, mengurangifrekuensi dan berat serangan dan memperbaiki kualiti hidup. Steroid inhalasi adalah pilihan bagi pengobatan asma persisten (ringan sampai berat). Glukokortikosteroid sistemik Cara pemberian melalui oral atau parenteral. Harus selalu diingat indeks terapi (efek/ efek samping), steroid inhalasi jangka panjang lebih baik daripada steroid oral jangka panjang Kromolin(sodium kromoglikat dan nedokromil sodium) Pemberiannya secara inhalasi. Digunakan sebagai pengontrol pada asma persisten ringan. Dibutuhkan waktu 4-6 minggu pengobatan untuk menetapkan apakah obat ini bermanfaat atau tidak. Metilsantin Teofilin adalah bronkodilator yang juga mempunyai

efek ekstrapulmoner seperti antiinflamasi. Teofilin atau aminofilin lepas lambat dapat digunakan sebagai obat pengontrol, berbagai studi menunjukkan pemberian jangka lama efektif mengontrol gejala dan memperbaiki faal paru. Agonis beta-2 kerja lama

Termasuk di dalam agonis beta-2 kerja lama inhalasi adalah salmeterol dan formoterol yang mempunyai waktu kerja lama (> 12 jam).Seperti lazimnya agonis beta-2 mempunyai efek relaksasi otot polos,meningkatkan pembersihan mukosilier, menurunkan

permeabiliti pembuluh darah dan memodulasi penglepasan mediator dari sel mast dan basofil Leokotrien modiefers Obat ini merupakan antiasma yang relatif baru dan pemberiannya melalui oral. Mekanisme kerja menghasilkan efek bronkodilator minimal dan menurunkan bronkokonstriksi akibat alergen,

sulfurdioksida dan exercise. Selain bersifat bronkodilator, juga mempunyai efek antiinflamasi. Kelebihan obat ini adalah preparatnya dalam bentuk tablet(oral) sehingga mudah diberikan. Saat ini yang beredar di Indonesia adalah zafirlukas (antagonis reseptor leukotrien sisteinil). Pelega ( Reliever ) Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos,memperbaiki dan atau menghambat bronkostriksi yang

berkaitan dengangejala akut seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk, tidak memperbaiki inflamasi jalan napas atau menurunkan hiperesponsif jalannapas.Termasuk pelega adalah Agonis beta2 kerja singkat

Kortikosteroid sistemik. (Steroid sistemik digunakan sebagai obat pelega bila penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi hasil belum tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan bronkodilator lain). Antikolinergik Aminofillin AdrenalinAgonis beta-2 kerja singkat Termasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutalin, fenoterol,dan prokaterol yang telah beredar di Indonesia. Mempunyai waktu mulaikerja (onset) yang cepat. Mekanisme kerja sebagaimana agonis beta-2yaitu relaksasi otot polos saluran napas, meningkatkan bersihanmukosilier, menurunkan permeabiliti pembuluh darah dan modulasi penglepasan mediator dari sel mast. Merupakan terapi pilihan pada serangan akut dan sangat bermanfaat sebagai praterapi pada exercise-induced asthma Metilsantin Termasuk dalam bronkodilator walau efek bronkodilatasinya lebih lemah dibandingkan agonis beta-2 kerja singkat.

Antikolinergik Pemberiannya secara inhalasi. Mekanisme kerjanya memblok efek penglepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan napas. Menimbulkan bronkodilatasi dengan menurunkan tonus kolinergik vagalintrinsik, selain itu juga menghambat refleks

bronkokostriksi yang disebabkan iritan. Termasuk dalam golongan ini adalah ipratropium bromide dan tiotropium bromide. Adrenalin Dapat sebagai pilihan pada asma eksaserbasi sedang sampai berat.Pemberian secara subkutan harus dilakukan hati-hati pada penderita usia lanjut atau dengan gangguan kardiovaskular. Pemberian intravena dapatdiberikan bila dibutuhkan, tetapi harus dengan pengawasan ketat (bedside monitoring). I. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1.Status asmatikus 2.Hipoksemia 3.Pneumothoraks 4.Emfisema J. Prognosis Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir menunjukkan kurang dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi beresiko yang berjumlah kira-kira 10 juta. Sebelum dipakai kortikosteroid, secara umum angka kematian penderita asma wanita dua kali lipat penderita asma pria. Juga kenyataan bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia tua lebih banyak, kalau serangan asma diketahui dandimulai sejak kanak kanak dan mendapat pengawasan yang cukup kira-kira setelah 20 tahun, hanya 1% yang tidak sembuh dan di dalam pengawasan tersebut kalau sering mengalami serangan common cold 29%akan mengalami serangan ulang. Pada penderita

yang mengalami serangan intermitten angka kematiannya 2%, sedangkan angka kematian pada penderita yang dengan serangan terus menerus angka kematiannya 9%.

STATUS ASMATIKUS
A. Pengertian Status asmatikus adalah suatu serangan asma akut yang berat, berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim. Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian. Apabila terjadi serangan, harus ditanggulangi secara tepat dan diutamakan terhadap usaha menanggulangi sumbatan saluran pernapasan. B. Faktor Pencetus Banyak faktor pencetus status asmatikus yakni asma berat. Status asmatikus diawali serangan asam biasa, yang dalam perjalannya kemudian resisten terhadap bronkodilator jadi kebanyakan status asmatikus ditimbulkan oleh faktor-faktor pencetus yang biasa seperti : 1. Infeksi alat pertnafasan Bakterial Nonbakterial 2. Alergen Inhalan : debu rumah, tungau, tepung sari, serpihan binatang, bulu,jamur. Ingestan : susu sapi, telur, ikan, , biji-bijian dan sebagainya. 3. Kegiatan Jasmani Terutam lari : diperberat bila cuaca dingin 4. Keadaan emosi

Emosi yang meluap Marah, takut Tertawa/menagis 5. Konflik dalam keluarga Ketegangan di rumah Proteksi yang berlebihan 6. Cuaca Perubahan cuaca Kabut, angin Cuaca dingin 7. Lain-lain. C. Tanda dan gejala Sesak napas yang berat dengan ekspirasi disertai wheezing Dapat disertai batuk dengan sputum kental, sukar dikeluarkan Bernapas dengan menggunakan otot-otot tambahan Sianosis, takikardi, gelisah, pulsus paradoksus Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apeks dan hilus) D.Penatalaksanaan Prinsip-prinsip penatalaksanaan status asmatikus : 1. Faktor penting yang harus diperhatikan yaitu saat serangan dan obatobatan yang telah diberikan (macam obatnya dan dosisnya).

2. Pemberian obat bronchodilator 3. Penilaian terhadap perbaikan serangan 4. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid 5. Setelah serangan mereda a. Cari faktor penyebab b. modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya OBAT-OBATAN 1.Bronchodilator Tidak digunakan alat-alat bronchodilator secara oral, tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral. Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik, maka sebaiknya diberikan aminofilin secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan, demikian sebaliknya, bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara aerosol atau parenteral. Obat-obat bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adreno reseptor (Orsiprendlin, Salbutamol, Terbutalin,

Ispenturin, Fenoterol ) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non selektif (Adrenalin, Efedrin, Isoprendlin). Obat-obat Bronkhodilator serta aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik lebih kecil. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewasa. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari suatu metered aerosol defire ( Afulpen metered aerosol ). Jika menunjukkan

perbaikan dapat diulang tiap 4 jam, jika tidak ada perbaikan sampai 1015 menit berikan aminofilin intrvena. Obat-obat Bronkhodilatator Simpatomimetik memberi efek samping takhikardi, penggunaan perentral pada orang tua harus hati-hati, berbahaya pada penyakit hipertensi, kardiovaskuler dan serebrovaskuler. Pada dewasa dicoba dengan 0,3 ml larutan epineprin 1 : 1000 secara subkutan. Anak-anak 0.01mg / kg BB subkutan (1mg per mil ) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2 - 3 x tergantung kebutuhan. Pemberian Aminophilin secara intrvena dosis awal 5 - 6 mg/kg BB dewasa/anak-anak, disuntikan perlahan-lahan dalam 5 - 10 menit. untuk dosis penunjang 0,9 mg/kg BB/jam secara infus. Efek samping TD menurun bila tidak perlahan-lahan. 1. Kortikosteroid Jika pemberian obat-obat bronkhodilator tidak menunjukkan

perbaikan, dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison atau dengan dosis 3-4 mg/kg BB intravena sebagai dosis permulaan dapat diulang 2-4 jam secara parenteral sampai serangan akut terkontrol, dengan diikuti pemberian 30-60 mg prednison atau dengan dosis 1-2 mg/kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi, kemudian dosis dikurangi secara bertahap. 2. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui air untuk memberi kelembaban. Obat Ekspektoran

seperti Gliserol guayakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi, maka intik cairan peroral dan infus harus cukup, sesuai dengan prinsip rehidrasi, antibiotik diberikan bila ada infeksi.