Anda di halaman 1dari 54

LAPORA PE ELITIA

SI TESIS KATALIS i/ZSM-5 U TUK PIROLISIS CA GKA G SAWIT ME JADI BIO-OIL

OLEH

ELFRIDA 0707120216

JURUSA TEK IK KIMIA FAKULTAS TEK IK U IVERSITAS RIAU PEKA BARU 2011

KATA PE GA TAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian yang berjudul Sintesis Katalis Bio Oil. Selama penyusunan Laporan Penelitian ini saya banyak menerima masukan baik berupa materi maupun moril. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu terutama kepada Bapak Sunarnno, ST., MT dan Bapak DR. Syaiful Bahri, M.Si sebagai dosen pembimbing untuk pengarahan dan evaluasi selama pembuatan laporan ini. Laporan penelitian ini merupakan salah satu rangkaian pelaksanaan tugas akhir yang harus ditempuh pada Jurusan Teknik Kimia Universitas Riau untuk memperoleh gelar sarjana teknik. Pada laporan penelitian ini mungkin masih terdapat berbagai kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran semua pihak. Penulis juga mengharapkan bahwa laporan penelitian ini akhirnya akan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. i/ZSM-5 Untuk Pirolisis Cangkang Sawit Menjadi

Pekanbaru, 26 November 2011

Elfrida

iii

ABSTRAK

Luas perkebunan sawit yang meningkat tiap tahunnya mengakibatkan peningkatan produksi minyak sawit Crude Palm Oil (CPO) berdampak negatif terhadap meningkatnya jumlah limbah padat sawit. Salah satu limbah padat sawit yaitu cangkang sawit yang digunakan sebagai bahan bakar boiler menghasilkan abu sawit yang berpotensi digunakan untuk sintesis ZSM-5 (rasio Si/Al 30). Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh variasi suhu kalsinasi pada pembuatan katalis i/ZSM-5. Sintesis i/ZSM-5 menggunakan metode impregnasi pada suhu 900C selama 6 jam. Selanjutnya dikasinasi pada variasi suhu 4000C, 5000C selama 4 jam dengan mengalirkan gas nitrogen kemudian di oksidasi dengan mengalirkan gas oksigen serta reduksi dengan mengalirkan gas hidrogen. Oksidasi dan reduksi masingmasing selama 2 jam pada suhu 4000C. i/ZSM-5 yang terbentuk dianalisa dengan metode BET dan diuji kinerjanya dengan proses pirolisis cangkang sawit menjadi bio-oil. Bio-oil yang diperoleh dikarakterisasi densitas, viscositas dan titik nyalanya. Dengan metoda BET diketahui luas permukaan katalis terbesar pada suhu kalsinasi 500C yaitu 67,874 m2/g. Sedangkan pada uji kinerja i/ZSM-5 sebanyak 1% dari massa cangkang sawit. Hasil pengujian aktivitas katalis i/ZSM5 pada proses pirolisis cangkang sawit menjadi bio-oil menunjukkan luas permukaan katalis berbanding lurus terhadap yield bio-oil. Dari hasil karakterisasi fisika bio-oil diketahui densitas 0,954gr/ml, viskositas 12,65cp dan titik nyala 62 oC.

Kata kunci : BET, Bio-Oil,

i/ZSM-5, Pirolisis

iv

DAFTAR ISI
Halaman LEMBAR PERSETUJUAN ........................................................................ i LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii KATA PENGANTAR ................................................................................ iii ABSTRAK ................................................................................................. iv DAFTAR ISI ............................................................................................... v DAFTAR TABEL ....................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR .................................................................................. viii BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang...................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah .............................................................. 2 1.3. Tujuan Penelitian .................................................................. 4 1.4. Mamfaat Penelitian ............................................................... 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Katalis ................................................................................. 5 2.2. ZSM-5 .................................................................................. 6 2.3. Pengembanan Logam ............................................................ 8 2.4. Karakterisasi Katalis ............................................................. 10 2.5. Cangkang Sawit .................................................................... 12 2.6. Pirolisis................................................................................. 12 2.6. Bio Oil .................................................................................. 13 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan dan Alat .................................................................... 16 3.1.1. Bahan............................................................................. 16 3.1.2. Alat................................................................................ 16 3.2. Variabel Penelitian ................................................................ 16 3.2.1. Variabel Tetap ............................................................... 16 3.2.2. Variabel Berubah ........................................................... 16 3.3. Prosedur Penelitian................................................................ 17 3.3.1. Pembuatan ZSM-5 ......................................................... 17 3.3.2. Pengembanan Logam Ni ................................................ 18 3.3.3. Kalsinasi, Oksidasi, Reduksi .......................................... 19 3.3.4. Karakterisasi Katalis ...................................................... 19 3.4. Uji Kinerja Katalis Ni/ZSM-5 ............................................... 20 3.5. Karakterisasi Bio Oil ............................................................. 20 3.5.1. Pengukuran Viskositas................................................... 20 3.5.2. Pengukuran Densitas...................................................... 21 3.5.3. Pengukuran Titik Nyala ................................................. 21 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Suhu Kalsinasi Terhadap Luas Permukaan Ni/ZSM-5 ... 24 4.2. Uji Aktivitas Ni/ZSM-5 ....................................................... 26 4.3. Hasil Karakterisasi Bio Oil ................................................... 27 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan ........................................................................... 28 5.2.Saran ..................................................................................... 28 v

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 29 Lampiran

vi

DAFTAR TABEL
Tabel Halaman 2.1. Kandungan Senyawa pada Cangkang Sawit ......................................... 12 2.2. Bahan Kimia Penting Dalam Bio Oil ..................................................... 14 2.3. Spesifikasi Bio Oil ................................................................................ 15 4.1. Hasil Perbandingan Perolehan Luas Permukaan Katalis ........................ 26 4.2. Hasil Perolehan Yield Bio-oil Menggunakan Ni/ZSM-5........................ 26 4.3. Hasil Perbandingan Karakterisasi Sifat Bio-oil dengan Literatur............ 27 C.1.Data Hasil Perolehan Yield Bio-oil ........................................................ C-1 C.2.Data Hasil Pengukuran Massa Jenis dan Viskositas .............................. C-1 C.3.Data Hasil Pengukuran Titik Nyala/ Flash Point .................................. C-2

vii

DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 5 7 8 18 19 21 22 23 24

2.1. Energi pengaktifan reaksi dengan katalis dan tanpa katalis .................... 2.2. Struktur ZSM-5..................................................................................... 2.3. Pembentukan Kokas Pada Saluran Zeolit .............................................. 3.1. Skema Alat Impregnasi ......................................................................... 3.2. Skema Alat Kalsinasi, Oksidasi dan Reduksi......................................... 3.3. Viskometer Oswald .............................................................................. 3.4. Blok Diagram Pembuatan ZSM-5 ......................................................... 3.5. Diagram Pembuatan Ni/ZSM-5 ............................................................. 4.1. Pengaruh suhu kalsinasi terhap luas permukaan Ni/ZSM-5 ...................

viii

BAB I PE DAHULUA

1.1

Latar Belakang Saat ini industri sawit merupakan salah satu komoditas yang memegang

peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari luas perkebunan sawit yang meningkat tiap tahunnya, yaitu dari 7,0 juta hektar pada tahun 2008 menjadi 7,3 juta hektar pada tahun 2009. Sedangkan produksi minyak sawit Crude Palm Oil (CPO) terus mengalami peningkatan dari 19,2 juta ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 19,4 juta ton pada tahun 2009 [ICN, 2009]. Dengan semakin meningkatnya produksi CPO maka akan mengakibatkan peningkatan jumlah limbah sawit. Untuk itu diperlukan suatu cara agar limbah sawit dapat dimanfaatkan sehingga limbah sawit dapat ditanggulangi. Sawit mengandung lebih kurang 67% brondolan, 21,5% tandan kosong, 11,1% blowdown dan 0,4% penguapan pertandan buah segar. Tiap brondolan diperoleh CPO (Crude Palm Oil) kasar 43,5% dan biji serta ampas 23,5%. Didalam biji mengandung biji 10,4%, cangkang sekitar 5,4% dan kernel 5% [, 2006]. Limbah padat berupa cangkang dan sabut digunakan sebagai bahan bakar ketel (boiler) untuk menghasilkan energi mekanik dan panas. Masalah yang kemudian timbul adalah sisa dari pembakaran pada ketel (boiler) berupa abu sawit dengan jumlah yang terus meningkat sepanjang tahun tahunnya yang sampai sekarang masih belum termanfaatkan. Abu sawit umumnya dibuang di landfill atau ditumpuk begitu saja di dalam area industri. Penumpukan abu sawit dapat menimbulkan masalah

lingkungan. Karena abu sawit ini mengandung banyak silika maka dapat dikonversi menjadi silika terspresipitasi [Saputra, 2006]. Abu sawit asal Propinsi Riau berupa sabut dan cangkang berkadar silika berturut-turut 61,3 dan 76,2% berat [Zahrina, 2003]. Sehingga penggunaan abu sawit dapat digunakan dalam pembuatan katalis ZSM-5. Katalis ZSM-5 merupakan salah satu zeolit sintesis yang banyak digunakan di industri terutama untuk reaksi perengkahan.

Untuk memperoleh katalis ZSM-5 yang baik, dibuat suatu sistem logam pengemban yaitu dengan cara menempelkan komponen aktif logam Ni. Keuntungan yang diperoleh adalah komponen aktif logam dapat didistribusikan secara merata ke seluruh pori-pori pengemban sehingga luas permukaan katalis menjadi besar. Katalis Ni/ZSM-5 ini akan diuji kinerjanya dalam proses pirolisis bio oil. Bio oil ini merupakan salah satu energi alternatif pengganti bahan bakar dari minyak bumi yang mengalami penurunan produksi tiap tahunnya. Cadangan minyak bumi di Indonesia diprediksi tersisa sekitar 4,4 milyar barel dengan produksi sebesar 1.021.000 barel per hari, dengan asumsi tidak ada penemuan cadangan minyak baru maka minyak bumi di Indonesia hanya cukup untuk 11 tahun ke depan [Beyond Petroleum, 2010]. Bio oil sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi memiliki beberapa keuntungan yaitu bio oil sangat ramah lingkungan karena dapat mendaur ulang limbah, mengurangi penimbunan, mencegah pencemaran tanah dan air tanah, tidak menghasilkan emisi SOx dan ketika dibakar emisi NOx yang dihasilkan hanya sekitar 15%. Karena bio oil memiliki kandungan nitrogen dan sulfur yang sangat sedikit.

1.2

Perumusan Masalah Katalis memiliki peranan penting dalam suatu proses kimia sehingga

penelitian mengenai katalis menjadi suatu hal yang menarik. Kebutuhan katalis Indonesia sampai saat ini masih impor, sementara Indonesia memiliki ketersediaan abu sawit yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan katalis. Untuk itu, perlu adanya kajian khusus mengenai katalis. Katalis zeolit sintesis seperti ZSM-5 memiliki potensi yang sangat baik untuk proses hidrorengkah, sehingga sesuai digunakan pada proses pirolisis untuk

menghasilkan bio oil. Bio oil ini diharapkan dapat menjadi bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi. Siswodiharjo [2006] telah melakukan penelitian reaksi hidrorengkah paraffin menggunakan katalis Ni/Zeolit, Mo/Zeolit dan Ni-Mo/Zeolit. Uji

hidrorengkah katalis dilakukan pada reaktor sistem alir dengan rasio: katalis umpan 1:5, temperatur reaksi 400oC dan kecepatan alir gas H2 30 mL/menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis Ni-Mo/Zeolit memiliki aktivitas katalis dan konversi total lebih baik yaitu sebesar 47,373 % dan 48,701 % dibandingkan katalis Ni/Zeolit sebesar 35,493 % dan 36,293 %. Namun katalis Ni/Zeolit memiliki efektivitas katalis yang paling baik ditunjukkan dengan selektivitas fraksi ringan yang lebih tinggi yaitu sebesar 11,152 % dibandingkan katalis Mo/Zeolit dan Ni-Mo/Zeolit yang hanya sebesar 4,051 % dan 6,310 % pada hidrorengkah parafin. Hasil penelitian Siwodiharjo menunjukkan bahwa logam Ni sangat berpotensi untuk digunakan karena memiliki selektivitas yang baik. Marita [2010] telah melakukan penelitian pembuatan katalis Ni pada pengembanan atural Zeolit Active (NZA). Logam Ni diembankan ke NZA

dengan metode impregnasi basah. Pengembanan logam divariasikan sebesar 0 %, 1%, 3% dan 5% terhadap sampel NZA. Dilanjutkan kalsinasi pada suhu 500 oC dengan variasi waktu 2, 4, 6 jam . Hasil penelitian menunjukkan bahwa persebaran logam yang terbaik terjadi pada pengembanan logam 3 % b/b. Penelitian ini menggunakan katalis Ni/ZSM-5 untuk proses pirolisis yang menggunakan cangkang sawit. Menurut Suharto [2003] ZSM-5 yang diimpregnasi dengan logam dapat digunakan sebagai katalis dalam craking molekul

hidrokarbon. Dan penggunaan ZSM-5 memiliki kelebihan dibanding NZA. ZSM5 memiliki aktivitas dan selektivitas serta stabilitas termal yang tinggi. ZSM-5 juga menyediakan permukaan yang luas untuk menebarkan komponen aktif berupa logam. Pembuatan katalis Ni/ZSM-5 mengacu pada proses pembuatan katalis ZSM-5 yang telah dilakukan Misdian [2009]. Silika terpresipitasi dari abu sawit dapat menghasilkan ZSM-5 yang disintesis pada suhu 175oC, nisbah molar Si/Al 30 selama 18 jam dengan menggunakan autoclave oil batch. Lalu diembankan logam Ni 3 % b/b. Serta dikalsinasi dengan variasi suhu 400, 5000C.

1.3

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk; 1. Menentukan pengaruh variasi suhu kalsinasi terhadap luas permukaan katalis. 2. Uji kinerja katalis Ni/ZSM-5 untuk pirolisis cangkang sawit menjadi Bio-Oil.

1.4

Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini dapat dikategorikan menjadi: 1. Bagi Pemerintah Membantu pemerintah mengurangi limbah padat sawit dan abu sawit. 2. Bagi Perkembangan Ilmu dan Teknologi Penelitian ini akan menyumbangkan data-data proses yang dapat dipakai untuk pembuatan katalis Ni/ZSM-5.

BAB II TI JAUA PUSTAKA

2.1

Katalis
Katalis merupakan suatu zat yang dapat mempercepat terjadinya reaksi kimia.

Katalis bekerja secara spesifik untuk reaksi tertentu dan dapat menurunkan besarnya energi aktivasi suatu reaksi. Penurunan energi aktivasi ini disebabkan oleh aktivitas katalis yang mencari jalur reaksi lain yang memiliki energi aktivasi lebih rendah. Katalis akan bereaksi dengan pereaksi, namun katalis akan diperoleh kembali di akhir reaksi.

Gambar 2.1 Energi pengaktifan reaksi dengan katalis dan tanpa katalis

Dalam penggunaanya, katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama: yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen adalah katalis yang mempunyai fasa sama dengan zat yang dikatalisis. Biasanya katalis homogen berupa kompleks logam yang larut dalam medium reaksi. Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam fasa berbeda dengan pereaksi dalam reaksi yang dikatalisisnya. Penggunaan katalis heterogen biasanya pada suhu dan tekanan tinggi. Umumnya katalis heterogen berupa zat padat yang terdiri dari logam atau oksida logam.

Dalam reaksi heterogen, katalis memiliki fasa yang berbeda dengan reaktan (bahan yang bereaksi). Pertama-tama reaktan akan terserap (adsorption) pada permukaan aktif katalis, selanjutnya akan terjadi interaksi baik berupa reaksi sebenarnya pada permukaan katalis, atau terjadi pelemahan ikatan dari molekul yang terserap. Setelah terjadi reaksi, molekul hasil reaksi (produk) akan dilepas dari permukaan katalis. Oleh karena itu, katalis yang baik perlu memiliki kemampuan menyerap dan melepaskan yang baik pula [Morad, 2006]. Komponen aktif merupakan pusat aktif katalis yang berfungsi untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi yang berhubungan dengan aktivitas dan selektivitas. Promotor ditambahkan pada katalis dengan tujuan untuk

meningkatkan kinerja katalis (aktivitas, stabilitas dan selektivitas). Promotor yang biasa digunakan misalnya Kobalt (Co) atau Nikel (Ni) . Cobalt yang diembankan pada penyangga dapat diperoleh dari cobalt nitrate. Jumlah kobalt yang diembankan pada katalis berkisar 0,5-50 % berat dan disarankan antara 1-10% berat dari berat total katalis [Wu dkk, 2000].

2.2

ZSM-5 ZSM-5 (Zeolite Socony Mobile umber 5) adalah zeolit dengan rasio

silika dan alumina yang tinggi. ZSM-5 merupakan material high porous dan diseluruh strukturnya itu mempunyai sebuah struktur saluran dua dimensi yang menyilang. ZSM-5 mempunyai dua jenis pori, keduanya dibentuk oleh oksigen cincin enam yang pertama dari jenis pori ini adalah berbentuk lurus dan ellip dan yang kedua adalah porinya lurus pada sudut kanan, polanya zig-zag dan melingkar. ZSM-5 dikenal sebagai jenis zeolit sintetik yang mempunyai permukaan inti asam dan struktur jaringan pori yang luas serta homogen. Struktur kerangkan jenis bahan alumino-silikat tersebut terbentuk dari bahan dasar pembangun berupa tetrahedron atom silikon atau aluminium. ZSM-5 merupakan contoh dari zeolit yang mempunyai pori sedang dengan unit sel orthombik. Saluran ini ditentukan oleh jumlah ring yang membentuk selektifitas zeolit. Selektifitas ZSM-5 sangat penting pada reaksi katalis seperti

pemecahan parafin, perubahan olefin, aromatisasi dan hidrogenasi minyak. ZSM5 sebagai katalis lebih menarik karena terdiri dari Al yang sedikit yang dimodifikasi dan perbedaan variasi kenaikan aktivitas katalis. Pori ZSM-5 sekitar 5,1 x 5,5 dan 5,4 x 5,6 [Hamdan, 1992].

Gambar 2.2 Struktur ZSM-5

ZSM-5 dapat disintesis dari campuran silika dan alumina dengan komposisi dan kondisi operasi tertentu. Kedua komponen utama ini terdapat dalam zeolit alam. ZSM-5 merupakan zeolit yang kaya akan silika dengan nisbah molar SiO2/Al2O3 melebihi 10, sedangkan zeolit alam hanya memiliki nisbah molar SiO2/Al2O3 hanya 2-5 [Zahrina, 2006]. ZSM-5 dikenal sebagai jenis zeolit sintetik yang mempunyai permukaan inti asam dan struktur jaringan pori yang luas serta homogen. Struktur kerangka jenis bahan aluminosilikat tersebut terbentuk dari bahan dasar pembangun berupa tetrahedral atom silikon atau aluminium. Kemampuan ZSM-5 untuk

mengakselerasi berbagai jenis reaksi sangat berkait dengan sifat keasamannya yang dapat dikontrol dengan rasio Si/Al. Namun beragamnya variasi Si/Al ini sama sekali tidak akan mempengaruhi struktur kerangka ZSM-5. Saluran pada ZSM-5 tidak berongga sehingga tidak mudah terdeaktivasi oleh kokas yang biasanya menutupi pori pada kasus berbagai katalis (Gambar 2.3). Saluran yang ada memiliki dua macam bentuk, yaitu berbentuk elips (bukaan 0,51 s.d 0,58 nm) yang tersusun secara paralel dan saluran berbentuk lingkaran (bukaan 0,54 s.d 0,56 nm) yang tersusun berkelok. Adanya dua jenis saluran pada

ZSM-5 ini menyebabkan reaktan berdifusi melalui salah satu jenis pori dan produknya keluar melalui pori lainnya, sehingga memungkinkan reaksi dapat terjadi tanpa counter diffusion. Pusat aktif katalis terdapat dalam ruang-ruang kosong yang ada pada perpotongan antar saluran. Ruang kosong ini mempunyai ukuran sekitar 0,9 nm.

Gambar 2.3. Pembentukan Kokas Pada Saluran Zeolit. (a) Pada sistem saluran yang tidak saling berhubungan; (b) Pada sistem saluran tiga dimensi [Mustain, 1997] 2.3 Pengembanan Logam Sistem katalis logam pengemban yaitu suatu sistem katalis yang dibuat dengan cara menempatkan komponen aktif logam ke dalam suatu bahan pengemban berpori seperti zeolit. Situs aktif logam diharapkan akan terdispersi secara merata ke seluruh permukaan dan pori-pori pengemban. Penempatan logam dalam pengemban merupakan hal yang penting dalam preparasi katalis. Katalis dibuat dengan cara menempelkan komponen logam aktif ke dalam suatu bahan pengemban berpori menggunakan metode impregnasi. Komponen logam aktif diharapkan dapat terdispersi secara merata ke seluruh permukaan dan pori-pori bahan pengemban. Metode ini banyak digunakan dalam pembuatan katalis karena ditinjau dari proses pembuatannya sangat sederhana mudah dilakukan, murah, serta komponen aktif logam katalis didistribusikan secara merata ke seluruh poripori bahan pengemban sehingga terbentuk suatu sistem dispersi yang baik dan homogen [Campbell, 1988]. Penempelan logam dalam pengemban bertujuan untuk memperluas permukaan aktif (situs aktif). Umumnya logam yang sering digunakan adalah logam-logam transisi.

Unsur-unsur transisi mempunyai sifat-sifat tertentu, yaitu: 1. Semua unsur transisi adalah logam, 2. Hampir semua unsur transisi bersifat keras, kuat, titik lelehnya tinggi, titik didih tinggi serta penghantar panas dan listrik yang baik, 3. Unsur transisi dapat membentuk campuran satu dengan yang lain dan dengan unsur yang mirip logam, 4. Banyak diantaranya cukup elektropositif sehingga dapat larut dalam asam mineral, walau beberapa diantaranya bersifat mulia sehingga tidak terpengaruh oleh asam, 5. Senyawa unsur transisi umumnya berwarna dengan valensi yang beragam dan memiliki beberapa macam valensi, 6. Karena kulit yang terisi elektron sebagian, maka unsur ini kebanyakan bersifat paramagnetik. Teknik penempelan logam ke dalam pengemban akan berpengaruh terhadap dispersi dan juga sifat interaksi antara logam dengan pengemban. Teknik yang biasa digunakan adalah impregnasi. Katalis logam pengemban dibuat dengan cara reduksi garam logam yang telah diembankan/dimasukkan dalam bahan pengemban, kemudian dipanaskan (kalsinasi) untuk memodifikasi komposisi kimia, kemudian dilanjutkan dengan oksidasi dan reduksi untuk logam yang diembankan [Setyawan dan Handoko, 2003]. Kalsinasi merupakan proses pemanasan setelah pengeringan. Kalsinasi bertujuan mendekomposisi garam menjadi bentuk oksidanya, menaikkan temperatur untuk meningkatkan kekuatan (stabilitas mekanik) serta

menghilangkan kadar air yang masih tersisa. Apabila penyangga dibentuk dalam tahapan terpisah sebelum penambahan pada permukaan penyangga, kalsinasi berfungsi untuk mempertahankan luas permukaan penyangga dan struktur pori [Regabulto, 2007]. Waktu kalsinasi berkisar antara 0,1 s.d 30 jam dan disarankan antara 2 s.d 20 jam [Wu dkk, 2000]. Misdian [2009] telah melakukan penelitian pada katalis CoMo/ZSM-5 dengan variasi waktu kalsinasi 2, 4 dan 6 jam. Dari hasi analisa dihasilkan luas permukaan CoMo/ZSM-5 pada waktu kalsinasi 4 jam lebih besar dibandingkan waktu kalsinasi 2 jam yaitu 29,03 m2/g. Hal ini dapat

10

disebabkan pada saat kalsinasi 2 jam sebagian pengotor masih terperangkap dalam pori-pori penyangga. Ketika kalsinasi dilakukan selama 4 jam, waktu yang dibutuhkan N2 untuk mendesak pengotor organik dalam pori-pori penyangga semakin bertambah sehingga jumlah pengotor jauh lebih kecil. Berkurangnya pengotor ini menjadikan luas permukaan katalis menjadi lebih besar. Waktu kalsinasi selama 6 jam memperlihatkan luas permukaan yang lebih kecil dibandingkan kalsinasi selama 4 jam. Semakin berkurangnya luas permukaan CoMo/ZSM-5 ini dapat disebabkan waktu kalsinasi yang lebih dari 4 jam menjadikan fasa aktif (logam) yang belum menempel pada penyangga terdekomposisi. Semakin lama waktu kalsinasi maka suhu pada sampel katalis juga akan semakin meningkat. Pada tahap kalsinasi, terjadi beberapa bentuk oksida dari logam Ni yang diembankan, fasa-fasa yang muncul merupakan bentuk oksida seperti NiO untuk mereduksi fasa-fasa tersebut dilakukan proses oksidasi untuk merubah fasa tersebut menjadi oksida lanjut dan proses reduksi untuk mereduksi fasa oksida lanjut menjadi fasa intermetalik dan metalik [Madeira, dkk., 2004]. 2.4 Karakterisasi Katalis Metode yang biasa digunakan untuk menentukan luas permukaan adalah dengan metode Brunauer-Emmet-Teller (BET). Adapun digunakan dalam metode BET adalah [Perdana, 2011] : persamaan yang

1 W (P
o

1)

C 1 P 1 + ( ) ..........................................................(1) WmC WmC P o

Keterangan : W = Wm = berat gas total yang diserap pada tekanan relatif P/Po berat gas nitrogen yang membentuk lapisan monolayer permukaan zat padat C = konstanta BET

11

PO =

tekanan jenuh

Persamaan BET (1) akan memberikan garis lurus apabila dibuat grafik 1/(W(P/Po) 1) lawan P/Po, jika digunakan gas nitrogen sebagai adsorbat, biasanya mempunyai daerah batasan adsorpsi isoterm pada kisaran P/Po 0,05 sampai dengan 0,35. Nilai slope dan intersep dari garis digunakan untuk menghitung jumlah gas yang diserap pada monolayer dan konstantas BET (c) dengan persamaan 2 dan 3:

Wm =

1 ..........................................................................(2) Slope + Intersep Slope ...................................................... ...............................(3) Intersep

c = 1+

Adapun persamaan luas permukaan ditunjukkan oleh persamaan 4.


SL = Wm Am ..(4) Mr

Keterangan :
SL

luas permukaan BET (m2/g) berat gas teradsorp pada monolayer bilangan Avogadro luas penampang melintang molekul gas nitrogen (16,2 2)

Wm =

=
Am =

Luas permukaan katalis dapat dibagi menjadi beberapa kriteria, yaitu: 1. Rendah (low surface area), apabila kurang dari 10 m2/g 2. Sedang (moderate surface area), apabila antara 50-100 m2/g 3. Tinggi (high surface area), apabila antara 200-500 m2/g 4. Sangat tinggi (very high surface area), apabila lebih besar dari 800 m2/g.

12

2.5

Cangkang Sawit
Cangkang merupakan bagian paling keras pada komponen yang terdapat

pada sawit. Saat ini pemanfaatan cangkang sawit di berbagai industri pengolahan minyak
Crude Palm Oil (CPO) belum begitu maksimal. Ditinjau dari

karakteristik bahan baku, jika dibandingkan dengan tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit memiliki banyak kemiripan. Perbedaan yang mencolok yaitu pada kadar abu (ash content) yang biasanya mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan oleh tempurung kelapa dan tempurung kelapa sawit. Kandungan cangkang sawit yang telah dilakukan analisa dapat dilihat pada Tabel 2.1. Tabel 2.1 Kandungan Senyawa pada Cangkang Sawit No 1 2 3 Parameter Lignin Selulosa Hemiselulosa Komposisi (%) 50,70 20,80 22,70

Sumber : Abdullah, dkk., 2008 2.6 Pirolisis


Pirolisis merupakan suatu bentuk insinerasi yang menguraikan bahan organik secara kimia melalui pemanasan dengan mengalirkan nitrogen sebagai gas inert [Miura, 2003]. Keberadaan oksigen dihindari pada proses pirolisis karena akan memicu reaksi pembakaran. Pada dasarnya produk yang dihasilkan tergantung pada suhu proses dan bahan baku yang digunakan. Semakin tinggi suhu untuk proses pirolisis cepat akan menghasilkan gas yang semakin meningkat, air yang dihasilkan rata-rata konstan dan arang yang dihasilkan akan turun dengan meningkatnya suhu. Pemanasan berlangsung pada suhu 450-600C, yang mengkonversi biomassa mencapai 70-75% berat umpan. Proses ini menghasilkan uap organik, gas pirolisis dan arang [BTG, 2004]. Uap organik yang dihasilkan mengandung

13

karbon monoksida, metana, karbondioksida, tar yang mudah menguap dan air. Uap organik kemudian dikondensasikan menjadi cairan.
Thermo-oil yang digunakan adalah silinap, sebagai medium pemanas

dalam reaksi pirolisis. Pemilihan ini karena perpindahan panas antara padatan/biomassa dan liquid/thermo-oil relatif besar dan diperkirakan konsumsi energi menjadi kecil dan yield produk menjadi lebih besar. Proses pencairan langsung menggunakan thermo-oil tersebut lebih menjanjikan karena relatif sederhana

2.7

Bio-Oil
Bio-oil adalah cairan yang dapat larut dalam air, bahan bakar yang dapat

dioksigenasi, mengandung karbon, hidrogen dan oksigen. Dengan kandungan nitrogen dan sulfur yang sangat sedikit, bahkan kandungan sulfur didalamnya dapat diabaikan. Kandungan asam organik dalam bio-oil memberikan sifat asam pada bio-oil. Kandungan lainnya dalam bio-oil adalah air, tetapi air tidak bersifat kontaminan seperti pada petroleum, karena air bercampur dengan bio-oil. Kandungan air dalam bio-oil 15-30 wt% dan pH 2,8-3,8. Bio-oil berwarna gelap dengan penampilan yang mirip seperti kopi dan beraroma asap [Ensyn Group INC, 2001]. Karakteristik bio-oil yang dihasilkan sangat beragam, tergantung pada jenis umpan dan teknologi pengolahan yang digunakan. Artinya spesifikasi bahan baku proses sangat penting dalam menentukan produk yang dihasilkan. Umumnya
bio-oil yang dihasilkan merupakan cairan coklat kehitaman, mudah terbakar

(combustible), tidak bercampur dengan hidrokarbon, bersifat asam, viskositas tergantung kadar air yang dikandungnya [Bain dan Richard, 2004]. Bahan kimia penting dalam bio-oil dapat dilihat pada tabel 2.2.

14

Tabel 2.2 Bahan Kimia Penting dalam Bio-Oil:

Bahan Kimia
Hidroksi-asetaldehid Levoglukosan Levoglukosen Campuran Fenol Furfural, Furfuryl alcohol

Wt %
>17 (dari Selulosa) > 47 (dari Selulosa) >24 (dari Selulosa) 30-100 >30 (dari Selulosa)

Sumber : BTG, 2003

Bio-oil yang dihasilkan dari proses pirolisis mengandung air 15-30%,

lignin pirolitik 20-30%, asam karboksilat 10-20% (terdiri dari asetat, formik, propionik dan glikol sebagai asam karboksilat terbanyak dan butirat, pentanoik serta heksanoik yang merupakan asam karboksilat yang dihasilkan sedikit), aldehid 14-25% (glikodehid, glyoxal, hidroksipropinol, metik glyoxal dan sedikit formaldehid, (levoglukosan, oligosakarida, asetaldehid 2-furaldehid dan glukosa keton syringaldehid), dan sedikit gula 5-15%

fruktosa,cellobiosan, danydroglukofuranosa,

mengandung

4-10%

(hidroksipropana,

siklopentanon, siklopentana, furanon, hidroksimetilpiron dan sedikit butirolakton, asetiloksipropanon), alkohol 2-10% (asetol, metanol, etilen glikol) dan padatan 28% [Freel dan Graham, 2002]. Komponen organik yang terdapat di dalam bio-oil [Goyal dkk, 2006] : 1. Asam-asam : Formiat, asetat, propanoat, heksanoat, benzoat dan lainlain. 2. Ester : Metil format, metil propanoat, butirolaktona dan lain-lain. 3. Alkohol : Metanol, etanol, 2-propana-1-ol, isobutanol dan lain-lain. 4. Keton : Aseton, 2-butanon, 2-pentanon, 2-siklopentanon, sikloheksanon dan lain-lain. 5. Aldehid : Formaldehid, asetaldehid, 2-butenal, pentanal dan etanadial. 6. Fenol : Fenol, 2-metil fenol dan lain-lain. 7. Alkena : 2-metil propena, dimetil siklo pentena, dan lain-lain.

15

8. Senyawa-senyawa aromatik : Benzen, toluene, xilen, naftalen, krisena dan lain-lain. 9. Furan : Furan, furfural, furfural alkohol, 2-furanone dan lain-lain. 10. Guaiacols : 2-metoksifenol, 4-metil guaiacol, dan eugenol. 11. Gula : Levoglukosan, glukosa, fruktosa, d-xilosa, d-arabinosa. Karakteristik bio-oil yang dihasilkan sangat beragam, tergantung pada jenis umpan dan teknologi pengolahan yang digunakan. Artinya spesifikasi bahan baku proses sangat penting dalam menentukan produk yang dihasilkan. Umumnya, bio-oil yang dihasilkan merupakan cairan coklat kehitaman, mudah terbakar (combustible), tidak bercampur dengan hidrokarbon, bersifat asam, viskositas tergantung kadar air yang dikandungnya [Bain dan Richard, 2004]. Kandungan air dalam bio-oil adalah 15 30 wt% dan pH 2,8 3,8 [BTG,2003]. Untuk Spesifikasi bio-oil dapat dilihat pada tabel 2.3. Tabel 2.3 Spesifikasi bio-oil Parameter
High heating value

Satuan MJ/Kg
o

Nilai 21,3-40,1 48-55 10-150@50C 15 25 0,94-1,23

Titik nyala Viskositas Kelembaban Densitas

cSt Wt% Kg/L

Sumber : Smallwood, 2008

BAB III METODOLOGI PE ELITIA

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam penelitian ini. Langkah pertama adalah pembuatan ZSM-5 lalu impregnasi logam Ni dengan variasi suhu kalsinasi 400 dan 500 0C selama 4 jam. Hasil dari tahapan terakhir ini akan dianalisa luas permukannnya menggunakan analisa BET(Brunauer Emmett Teller). Untuk menguji aktivitas kinerja Ni/ZSM-5 diuji dengan melakukan pirolisis cangkang sawit. 3.1 3.1.1 Bahan dan Alat Bahan Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu abu sawit PTPN V Sei Galuh, larutan HCl 10 N, NaOH 2N, Al(OH)3, Ni(NO3)2.6H2O ,aquades, cangkang sawit, gas nitrogen, gas oksigen dan gas hidrogen serta silinap 280M (PERTAMINA).

3.1.2

Alat Alat-alat yang akan digunakan yaitu ayakan 40 dan 60 mesh, reaktor alas

datar ukuran 1 L dan 2 L, gelas ukur, erlenmeyer, timbangan analitik, satu set motor pengaduk, autoclave, termokopel, waterbath, kondenser, termometer, lumpang

porselin, oven, kertas saring, furnace, reaktor pirolisis, viskosmeter, piknometer dan cleveland flash, dan tabung serta regulator gas N2, O2 dan H2. 3.2 3.2.1 Variabel Penelitian Variabel Tetap 1. 2. 3. 3.2.2 Logam Ni yang diembankan Waktu kalsinasi Laju alir gas nitrogen : 3% : 4 jam : 400 ml/menit : 400 dan 500 0C

Variabel Berubah 1. Suhu kalsinasi

16

17

3.3

Prosedur Penelitian Tahapan pembuatan Ni/ZSM-5 meliputi pembuatan ZSM-5, pengembanan

logam Ni dan uji kinerja katalis. Tahapan penelitian akan diuraikan dibawah ini: 3.3.1 Pembuatan ZSM-5 Sintesis ZSM-5 mengacu pada prosedur yang telah dilakukan oleh Misdian [2009] dengan kondisi suhu 175 oC, Si/Al 30 selama 18 jam. Terlebih dahulu akan dilakukan pembuatan silika terpresipitasi dan natrium aluminat. Pembuatan silika terpresipitasi menggunakan bahan baku abu sawit. Abu sawit yang berasal dari pabrik pengolahan sawit dikonversi menjadi silika terpresipitasi. Abu sawit terlebih dahulu di furnace pada suhu 400 0C hingga diperoleh abu yang memiliki warna abu-abu. Furnace bertujuan menghilangkan karbon yang terkandung di dalam abu. Kemudian abu diayak (-40+60 mesh) untuk mendapatkan abu yang dengan diameter partikel yang lebih kecil. Pencampuran padat cair dilakukan dengan perbandingan 1:6. Sebanyak 185,47 gram abu sawit dicampurkan dengan 1 liter larutan NaOH 2N. Campuran tersebut dimasak di dalam reaktor 2 liter yang dirangkai dengan pengaduk dan kondenser pada suhu 105oC serta kecepatan pengadukan 500 rpm selama 4 jam. Setelah dipanaskan, larutan dibiarkan dingin dan kemudian disaring untuk memisahkan filtrat dan cake. Filtrat yang dihasilkan yaitu Natrium Silikat dan

digunakan sebagai sampel untuk tahap presipitasi. Larutan natrium silikat (Na2SiO3) sebanyak 900 ml dimasukkan ke dalam gelas kimia 1000 ml, diaduk dan dipanaskan dalam waterbath. Pada suhu yaitu 95 oC, kecepatan pengadukan 100 rpm, dan dengan penambahan HCl 10 N hingga mencapai pH 8,5. Pada pH 8,5 larutan membentuk endapan. Endapan yang terbentuk tersebut dicuci dengan aquades, setelah itu dikeringkan di dalam oven pada suhu 200 0C. Sumber Alumina berupa Natrium Aluminat merupakan campuran Al(OH)3 dan NaOH. Natrium Aluminat dibuat dengan cara melarutkan 109,5 gr NaOH dalam 1000 ml akuades, ke dalam larutan tersebut dimasukkan sebanyak 76 gr Al(OH)3

18

sambil diaduk. Setelah semua Al(OH)3 larut kemudian didiamkan hingga terbentuk endapan. Endapan kemudian disaring dan dipanaskan dalam oven sampai kadar airnya konstan [Zahrina dkk, 2006]. Sintesis ZSM-5 akan dilakukan dengan cara melarutkan natrium aluminat dengan jumlah tertentu dicampur dengan aquades (suspensi 1). Abu sawit yang telah dikonversi menjadi silika terpresipitasi dengan jumlah tertentu (sesuai nisbah molar SiO2/Al2O3 = 30) dicampur dengan aquades (suspensi 2). Suspensi 1 dicampur dengan suspensi 2 (suspensi 3). Selanjutnya ke dalam suspensi 3 ditambahkan NaOH dengan jumlah tertentu sehingga diperoleh nisbah Na2O/Al2O3 7,4. Dilakukan pengadukan selama 30 menit. Setelah itu dimasukkan dalam autoclave pada suhu 175
0

C dan waktu 18 jam. Padatan yang terbentuk dicuci dengan aquades. Padatan

dikeringkan dalam oven pada temperatur 110oC selama 6 jam. Blok diagram untuk alur dari pembuatan ZSM-5 dapat dilihat pada Gambar 3.5. 3.3.2 Pengembanan logam i Sampel ZSM-5 direfluks dengan larutan Ni(NO3)2.6H2O sebanyak 500 ml pada suhu 90 oC selama 6 jam, refluk bertujuan agar reaksi yang terjadi lebih sempurna. Kemudian disaring dan dicuci. Sampel ini dikeringkan dalam oven pada suhu 105 oC selama 3 jam sehingga didapat sampel Ni/ZSM-5. Pengembanan logam sebesar 3% b/b terhadap sampel ZSM-5.

Gambar 3.1 Skema Alat Impregnasi [Marita, 2010]

19

3.3.3

Kalsinasi, Oksidasi Dan Reduksi Sampel katalis dimasukkan kedalam tube, kedalam tube sebelumnya telah diisi

dengan porcelain bed sebagai Heat Carrier dan penyeimbang unggun katalis, diantara porcelain bed dengan unggun katalis diselipkan glass woll. Tube ditempatkan dalam tube furnace secara vertikal, dikalsinasi pada variasi suhu 400, 500 oC dengan waktu 4 jam sambil dialirkan gas nitrogen sebesar 400 ml/menit, dilanjutkan dengan oksidasi pada suhu 400 oC menggunakan gas oksigen sebesar
400 ml/menit selama 2 jam dan reduksi pada suhu 400 C menggunakan gas
o

hidrogen sebesar 400 ml/menit selama 2 jam.

Gambar 3.2. Skema Alat Kalsinasi, Oksidasi dan Reduksi [Marita, 2010]

3.3.4

Karakterisasi Katalis Karakterisasi katalis merupakan penentuan parameter-parameter fisika dan

kimia dari katalis untuk memperoleh sifat-sifat katalis. Parameter yang dapat ditentukan yaitu luas permukaan katalis. Analisa untuk mengetahui luas permukaan katalis digunakan metode BET (Brunauer Emmett Teller).

20

3.4

Uji Kinerja Katalis i/ZSM-5 Untuk menguji aktivitas kinerja Ni/ZSM-5 diuji dengan melakukan pirolisis

cangkang sawit mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh Anugra (2010. Cangkang sawit yang telah dihancurkan ditimbang sebanyak 50 gram dengan ukuran -40+60 mesh beserta 500 ml thermal oil (silinap 280 M) dimasukkan ke dalam reaktor dan ditambahkan 1%-wt Ni/ZSM-5 dari berat cangkang sawit kemudian dilakukan pirolisis pada temperatur 3200C dan pada kecepatan pengadukan 300 rpm hingga waktu tertentu. Gas Nitrogen dialirkan ke dalam reaktor dengan laju alir 1,3 mL/detik. Diulangi dengan variasi suhu kalsinasi Ni/ZSM-5 lainnya (Ni/ZSM-5 dengan suhu kalsinasi yaitu 400, 500 0C). 3.5 Karakterisasi Bio Oil Analisis sifat fisik dari bio oil meliputi viskositas (ASTM D-445), densitas dan titik nyala (ASTM-D92). 3.5.1. Pengukuran Viskositas Viskositas adalah tahanan yang dimiliki oleh fluida yang dialirkan dalam pipa kapiler terhadap gaya gravitasi. Biasanya dinyatakan dalam waktu yang diperlukan untuk mengalir pada jarak tertentu. Jika viskositas semakin tinggi tahanan untuk mengalir akan semakin tinggi. Metoda yang banyak digunakan untuk pengukuran viskositas cairan adalah metoda Poiseuiles dengan standar ASTM D-445. Peralatan yang bekerja mengikuti metoda tersebut adalah viskometer Ostwald. Alat viskometer Ostwald dapat dilihat pada Gambar 3.3. Waktu alir yang diperlukan untuk mencapai batas garis lainnya dicatat. Viskositas ditentukan dengan membandingkan hasil pengukuran waktu alir (t1), rapat massa cairan (1, pembanding) yang telah diketahui viskositasnya terhadap 21 waktu alir (t2) dan rapat massa cairan 2 (2) yang akan ditentukan viskositasnya. Viskositas dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

21

Gambar 3.3 Viskometer Oswald

3.5.2. Pengukuran Densitas Pengukuran densitas dilakukan dengan menggunakan piknometer yang telah dibersihkan dan dikeringkan. Langkah pertama Piknometer kosong ditimbang dan dicatat beratnya (misal : x gram). Kemudian isi piknometer dengan air hingga meluap dan tidak ada gelembung udara. Piknometer dengan isinya ditimbang dan dicatat beratnya (misal : y gram). Berat air adalah selisih antara nilai y dengan x. Untuk mengetahui massa jenis air dapat dihitung dengan rumus : ; (z : volume piknometer, ml) Dengan cara yang sama, perlakuan tersebut dapat dilakukan untuk mengetahui massa jenis bio oil. 3.5.3. Pengukuran Titik yala Titik nyala diukur dengan menggunakan alat titik nyala cleveland flash

point tester dengan standar ASTM-D92. Sampel bio oil dituang kedalam kap yang sudah kering dan bersih. Setelah itu kap dipasang pada tempatnya beserta termometer. Pemanasan dihidupkan, jika temperatur sudah mencapai 40C api pencoba dinyalakan. Pengujian dilakukan dengan mendekatkan api pencoba ke atas permukaan sampel dengan cepat. Pengujian selanjutnya dilakukan setiap kenaikan temperatur 2C sampai tercapai titik nyala. Temperatur pada saat api pencoba dapat menyala uap sampel dinyatakan sebagai titik nyala.

22

Gambar 3.4. Blok Diagram Pembuatan ZSM-5

23

Larutan Ni(NO3)2.6H2O

ZSM-5

Refluks T = 6 jam, T = 90C

Cake disaring dan dicuci dengan aquades

Pengeringan Dalam oven selama 3 jam, T = 110C

Gas N2 dengan laju alir 400 ml/menit

Dialiri

Kalsinasi Selama 4 jam T = 400, 500C

Gas N2 dengan laju alir 400 ml/menit

Dialiri

Oksidasi selama 2 jam T = 400C

Gas N2 dengan laju alir 400 ml/menit

Dialiri

Reduksi Selama 2 jam T = 400C

Analisa luas permukaan (BET)

Ni/ZSM-5

Gambar 3.5. Blok Diagram Pembuatan Ni/ZSM-5

BAB IV HASIL DA PEMBAHASA

4.1 Pengaruh suhu kalsinasi terhadap luas permukaan katalis i/ZSM-5 Penelitian sintesis katalis Ni/ZSM-5 ini dikalsinasi dengan variasi suhu kalsinasi yaitu 4000C, 5000C. Faktor lain yang mempengaruhi tahap kalsinasi adalah waktu kalsinasi, dan pada sintesis ini waktu kalsinasi yang digunakan adalah 4 jam.
80,000 Luas Permukaan (m 2/g) 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 0 400 Suhu Kalsinasi (0C) 500

Gambar 4.1 Hubungan suhu kalsinasi terhadap luas permukaan katalis Dari Gambar 4.1 diketahui bahwa pada suhu kalsinasi 4000C luas permukaan katalis 21,300 m2/g, suhu kalsinasi 5000C dihasilkan luas permukaan 67,874 m2/g dan pada suhu kalsinasi 6000C dihasilkan luas permukaan 22,959 m2/g. Dari hasil yang diperoleh diketahui bahwa suhu kalsinasi mempengaruhi luas permukaan katalis Ni/ZSM-5. Pengembanan logam pada katalis merupakan suatu hal yang diperlukan, dan diperlukan preparasi agar katalis memiliki aktivitas dan selektivitas yang baik. Kalsinasi merupakan proses pemanasan katalis pada suhu tinggi yang bertujuan untuk mengubah garam prekursor menjadi fasa oksida dari logam yang diinginkan karena fasa oksida lebih bersifat stabil. Analisis sifat fisika yaitu luas permukaan katalis menggunakan metode BET (Branauer Emmet Teller) tidak memberikan informasi yang cukup mengenai distribusi NiO disepanjang pori katalis.

24

25

Suhu kalsinasi 4000C luas permukaan katalis yang diperoleh kecil hal ini disebabkan fasa aktif yang diembankan belum terbentuk secara sempurna. Pendapat ini sesuai dengan penelitian Elmasry [1994] yang menyatakan bahwa fasa aktif terbentuk pada suhu diatas 623 K atau 3500C. Ini berarti bahwa perlu suhu yang lebih tinggi agar fasa aktif dapat terbentuk. Tetapi pada suhu 5000C terjadi peningkatan luas permukaan katalis Ni/ZSM-5. Pada tahap pengeringan setelah impregnasi, garam prekursor

Ni(NO3)2.6H2O akan berubah menjadi Ni3(NO3)2(OH)4 [Sietsma., 2008]. Tahap Kalsinasi terjadi reaksi:

Ni3(NO3)2(OH)4 (s) 3NiO(s) +2NO2(g) + O2(g) + 2H2O(g) Reaksi ini menunjukkan bahwa fasa oksida akan terbentuk pada tahap kalsinasi dan gas seperi NO2, O2, H2O akan hilang seiring dengan meningkatnya suhu kalsinasi. Gas-gas seperti NO2, O2, H2O merupakan pengotor yang jika terdapat pada katalis akan membuat pori-pori katalis dipenuhi pengotor sehingga luas permukaan katalis menjadi kecil. Jika pengotor-pengotorini hilang secara sempurna maka luas permukaan katalis akan meningkat karena pori-pori katalis lebih terbuka. Setelah fasa oksida terbentuk maka fasa oksida ini akan direduksi menjadi logam Ni yang diinginkan

3NiO(s) + H2 3Ni(g) + O2(g) + H2O(g) Tabel 4.1 menunjukkan perbandingan luas permukaan katalis yang diperoleh pada penelitian ini dengan peneliti terdahulu dengan berbeda katalis yang digunakan.

26

Tabel 4.1 Hasil Perbandingan Perolehan Luas Permukaan Katalis No 1 Peneliti Misdian [2009] Rodionsono dkk [2007] Katalis ZSM-5 Luas Permukaan (m2/g) 34,41

Z NiMo/ZSM5 Ni/ZSM-5

26,96

3 4

Perdana [2011] Elfrida [2011]

42,26 67,874

4.2

Uji kinerja katalis i/ZSM-5 Uji aktivitas katalis Ni/ZSM-5 dilakukan dengan cara pirolisis cangkang

sawit menjadi bio oil pada suhu 320oC [Anugra, 2010]. Penggunaan katalis Ni/ZSM-5 sebanyak 1% dari biomassa cangkang sawit diharapkan dapat meningkatkan yield bio-oil.

Tabel 4.2 Hasil Perolehan Yield Bio oil Menggunakan Ni/ZSM-5 No Suhu Kalsinasi ( C) 1 2 400 500
0

Luas Permukaan Katalis (m /gr) 21,300 67,874


2

Yield Bio-oil (%) 31 42

Tabel 4.2 menunjukkan data hasil perolehan yield bio oil pada berbagai variasi suhu kalsinasi pada katalis Ni/ZSM-5. Persentase yield bio oil dengan katalis Ni/ZSM-5 dengan berbagai suhu kalsinasi (400C, 500C) dipirolisis pada temperatur 320C berturut-turut adalah 31%, 42%, dan 34%. Luas permukaan katalis yang mempengaruhi yield bio oil yang dihasilkan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil luas permukaan 67,874 m2/g menghasilkan yield bio oil yang besar yaitu 42%. Luas permukaan katalis akan mempengaruhi aktivitas katalis, semakin luas permukaan suatu katalis maka fasa aktif yang tersebar semakin banyak sehingga akan meningkatkan aktivitas [Putera,2008].

27

4.3

Hasil karakterisasi bio oil Bio oil yang diperoleh kemudian dikarakterisasi sifat-sifatnya.

Karakterisasi yang dilakukan meliputi penentuan massa jenis, viskositas (ASTM D-445) dan titik nyala (ASTM D-92). Tabel 4.3 Hasil Perbandingan Karakterisasi Sifat Bio oil dengan Literatur No Parameter Standar Bio Oil [Smallwood, 2008] 1 2 3 Massa Jenis, gr/ml Viskositas, cp Titik Nyala, 0C 0,94-1,2 10-150 48-55 Bio Oil Ni/ZSM-5 0,954 12,65 62

Dari Tabel 4.3 menunjukkan bahwa penggunaan katalis Ni/ZSM-5 pada proses pirolisis cangkang sawit dapat menghasilkan karakteristik bio-oil yang hamper sama dengan hasil penelitian lainnya. Densitas bio-oil yang dihasilkan dari cangkang sawit katalis Ni/ZSM-5 1% sebesar 0,954 gr/ml sesuai dengan batasan densitas dari Smallwood [2008] sebesar 0,94-1,23 gr/ml. Pengujian titik nyala bio-oil menggunakan alat Cleveland Flash Point Tester diperoleh hasil 620C. Hasil yang diperoleh cukup baik, Karena titik nyala dari Khor [2009] antara 650C. Semakin rendah titik nyala suatu bahan baker, maka akan semakin susah dalam hal penyimpanannya. Untuk viskositas bio-oil sebesar 13,196 cSt ini masuk dalam batasan Smallwood [2008].

BAB V KESIMPULA DA SARA


5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan pembahasannya, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Pada sintesis katalis Ni/ZSM-5 penelitian ini, suhu kalsinasi mempengaruhi luas permukaan katalis. 2. Luas permukaan katalis Ni/ZSM-5 yang paling besar dihasilkan pada suhu kalsinasi 5000C. 3. Hasil pengujian aktivitas katalis Ni/ZSM-5 pada proses pirolisis cangkang sawit menjadi bio oil menunjukkan luas permukaan katalis berbanding lurus terhadap yield bio oil yang dihasilkan. 4. Hasil karakteristik bio oil pada proses pirolisis cangkang sawit dengan menggunakan katalis Ni/ZSM-5 diketahui densitas bio oil : 0,954 gr/ml, viskositas : 13,196 cSt dan titik nyala 62oC.

5.2.

Saran

1. Pada sintesis katalis NiZSM-5 sebaiknya perlu dilakukan variasi waktu kalsinasi. 2. Sebaiknya dilakukan analisa XRD, untuk melihat memprediksi adanya fasa aktif yang tersebar pada permukaan dan pori katalis

28

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, N., dan Gerhauser, H, 2008, Bio-oil derived from empty fruit bunches. Fuel 87 (2008) 2606-2613. Anugra, R. D., 2011, Efek Kandungan Logam Ni/NZA Pada Proses Pencairan Langsung Biomassa Menjadi Bio Oil, Laporan Penelitian, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik, Pekanbaru. Bain dan Richard.L., 2004, An Introduction To Biomass Thermochemical Conversion, DEO/ ASLUGC Biomass and Solar Energy Workshop, August 3-4. Bathia, S., Zabidi, N.A, Twaiq, M, Farouq, A. 1999. Catalytic Conversion of Palm Oil to Hydrocarbons : Performance of Various Zeolite Catalyst ,Ind. Eng. Chem. Res., 38(9), 3230-3237. Beyond Petroleum, 2010, BP Statistical Review of World Energy, http://www.bp.com/statisticalreview, 20 April 2011. Biomass Technology Group, 2003, Bio oil Applications, http:// www.btgword.com/ technologies/ bio oil application.hmtl, 15 April 2011. Biomass Technology Group. 2004. Flash pyrolysis. http:// www.btgword.com/ technologies/ pyrolysis.hmtl. Campbell, I, 1988, Catalyst at Surface. London: Chapman and Hall. Ensyn Group INC, 2001, Bio oil Combustion Due Diligence : The Conversion Of Wood And Another Biomass, Cole Hill Associates. Elmasry, M. A. A., Gaber, A., Khater, M. H., 1998, Thermal Decomposition of Ni(ii) and Fe(iii) Nitrates and Their Mixture, Journal of Thermal Analysis, vol 52, no 489-495. Freel, B., Graham, R.G., 2002. Bio-oil Preservatives. US Patent No.6485841B1. Goyal, H.B., Seal, D., Saxena, R.C. 2006. Bio-fuels from Thermochemical Conversion of Renewable Resources: A Review. India Institute of SPetroleum. India. Hamdan, H, 1992, Introduction to Zeolit : Syntetis, Characterization and Modification. Malaysia : Universiti Teknologi Malaysia. Indonesian Commercial Newsletter, 2009, Industri Palm Oil di Indonesia November 2009, http://www.datacon.co.id/CPO1-2009Sawit.html, 1 April 2011. Khor, K. H., Lim dan Z, A. Zainal, 2009, Characteristic of bio-oil; Madeira, L. M., M.F Portela, dan C. Mazzocchia, 2004, ickel Molybdate Catalysts and Their Use in Selective Oxidation of Hydrocarbon. Catalysts Review. Vol: 46 No. 1, P: 53 110

29

Marita, E, 2010, Reaksi Hidrorengkah Katalis Ni/NZA Untuk Proses Catalytic Cracking Tandan Kosong Sawit Menjadi Bahan Bakar Cair, Laporan Penelitian, Jurusan Teknik Kimia Universitas Riau, Pekanbaru. Marsih, N., Firmansyah, D., Onggo D., Makertiharta, I., 2006, Sintesis Hidrogen dari Methanol dengan katalis Cu/ZnO/Al2O3, Jurnal Kimia Indonesia, Volum 1, No 1, Institut Teknologi Bandung, Bandung. Misdian, D., 2009, Pembuatan CoMo/ZSM-5 dari Abu Sawit Sebagai Katalis pada Pengolahan Biomassa Menjadi Bahan Bakar Cair, Laporan Penelitian, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau, Pekanbaru. Miura,.K, Masuda,.T, Funazukuri,.T, Suguwara,.K, Shirai,.Y, Hayashi,.J, Karim,.M,.I,.A, Ani,.F,.N dan Susanto,.H. 2003. Efficient Use of Oil Palm as Renewable Resource for Energy & Chemical. Project Design Document. Morad., A., N., M. 2006. Process Design in Degumming and Bleaching of Palm Oil. Centre of Lipids Engineering and Applied Research, University Teknologi Malaysia. Mustain, 1997, Konversi Zeolit Alam Menjadi ZSM-5, Tesis Magister, Program Studi Teknik Kimia Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung. Naibaho, Ponten M., 1996. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan. Perdana, Rocky., 2011, Sintesis Katalis NiMo/ZSM-5 dari Abu Sawit Untuk Proses Catalytic Cracking Tandan Kosong Sawit (TKS) Menjadi Bahan Bakar Cair, Laporan Penelitian, Jurusan Teknik Kimia, Pekanbaru. Putera, D. D., 2008, Sintesis Fotokatalisis CuO/ZnO untuk Konversi Metanol Menjadi Hidrogen, Skripsi, Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung. Regalbuto, J., 2007, Supported Metal Oxides and The Surface Density Metric, Catalyst Preparation Science and Engineering, CRC Press Taylor & Francis Group, New York. Richardson, J. T., 1989, Principles of Catalyst Development, Plenum Press, New York. Rodiansono, Trisunaryanti, W., dan Triyono, 2007, Pembuatan, Karakterisasi dan Uji Akitivitas Katalis NiMo/Z dan NiMo/Z-Nb2O5 Pada Reaksi Hidrorengkah Fraksi Sampah Menjadi Fraksi Bensin, Berkala MIPA, 17(2) Saputra, E., Utama P. S., dan Aman, 2006, Pembuatan Industrial Grade Silica Dari Limbah Padat Abu Sabut Sawit dengan Proses Ekstraksi dan Sol-Gel, Kumpulan Hasil Penelitian Unggulan Universitas Riau, Lembaga Penelitian UR, Hal 199-201. Setyawan, D., 2003, Aktivitas Katalis Cr/Zeolit dalam Reaksi Konversi Katalitik Fenol dan Metil Isobutil Keton, Jurnal Ilmiah Dasar 4, Staf Pengajar Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Jember.

30

Setyawan, D., Handoko, P., 2003, Aktivitas Katalis Cr/Zeolit dalam Reaksi Konversi Katalitik Fenol dan Metil Isobutil Keton, Jurnal Ilmu Dasar. Vol. 4 no.2 hal :73-76 Sietsma, Jelle R, A., Friedrich, H., Broersma, A., Versluijis-Helder, M., Dillen, A. J. V., Jongh, P, E., Jong K, P., 2008, How Nitric oxide affects the decomposition of supported nickel nitrate to arrive at highly dispersed catalyst, Elsevier, Netherlands, 227-235. Siswodiharjo, 2006, Reaksi Hidrorengkah Katalis i/Zeolit, Mo/Zeolit, i-Mo/Zeolit Terhadap Parafin, Abstrak, FMIPA UNS, Surakarta. Smallwod, 2008, Hydroprocesing of Pyrolisis Bio-oil to Fuel and Chemical, Pacific Northwest National Laboratory, US Departemant of Energy. Sukiran, MAB, 2008, Pyrolysis Of Empty Oil Palm Fruit Bunches Using them Quartz Fluidised- Fixed Bed Reactor, Dissertation, University Of Malaya, Kuala Lumpur. Wu, A., Drake C. A., and Melton, R. J., 2000, Gasoline Upgrade, US Patent No. 6.162.352. Zahrina, I. dan Rina, D.S., 2003, Studi Pemanfaatan Abu Sawit Sebagai Sumber Silika Pada Konversi Zeolit Alam Menjadi ZSM 5, Laporan Penelitian, Lembaga Penelitian UR, Pekanbaru. Zahrina, I., Saputra, E., Evelyn, Santoso,I. A., Ramelo, R., 2006, Sintesis ZSM-5 Tanpa Templat Menggunakan Silika Terpresipitasi Asal Abu Sawit Sebagai Sumber Silika, Jurnal atur Indonesia, Volum 9, No. 2, Lembaga Penelitian Universitas Riau, Pekanbaru.

31

A-1

LAMPIRA A PERHITU GA

A. Perhitungan Pembuatan Silika Presipitasi Pembuatan Larutan NaOH 2 N Untuk membuat larutan NaOH 2 N ditimbang sebanyak 80 gr NaOH. Ini diperoleh dari rumus :

Massa (gr) NaOH yang dibutuhkan untuk membuat larutan NaOH 2 N dalam volume 1000 ml :

Menentukan Densitasc () NaOH 2 N Untuk menentukan densitas dari NaOH yaitu dengan menggunakan piknometer. Berat pikno kosong Berat pikno isi NaOH Volume pikno Massa NaOH = 20,393 gr = 48,213 gr = 26 ml = Berat pikno isi NaOH Berat pikno kosong = 48,213 20,393 = 27,820 gr

A-2

Densitas () NaOH Menentukan berat abu sawit yang digunakan Pada penelitian ini perbandingan padat-cair yang digunakan adalah 1 : 6. Perbandingan padat cair ini dalam satuan berat (gr). Larutan NaOH (ml) yang akan digunakan terlebih dahulu dikonversi kedalam Massa NaOH (gr) yaitu dengan cara menggunakan rumus :

Sehingga berat abu sawit yang akan ditimbang adalah Perbandingan padat-cair 1 : 6 = 178, 33 gr

A-3

B. Perhitungan Sintesis ZSM-5 Jumlah bahan-bahan untuk produksi ZSM-5 dengan basis silika terpresipitasi 25 gr. Suspensi I Pada penelitian Vempati [2002], untuk 1 gr sumber silika menggunakan 0,0076 gr NaAlO2 yang dilarutkan dengan 5 ml akuades. Maka, pada penelitian ini NaAlO2 dan akuades yang digunakan untuk suspensi I adalah : NaAlO2 Akuades = 25 x 0.0076 gr =1,9 gr = 25 x 5 ml = 125 ml Suspensi II Vempati [2002] pada penelitiannya menggunakan 4,2 ml akuades untuk melarutkan 1 gr silika. Maka, pada penelitian ini silika dan akuades yang digunakan untuk suspensi II adalah : Silika terpresipitasi Akuades = 25 gr = 25 x 4,2 ml = 105 ml Suspensi III Penentuan jumlah NaOH yang ditambahkan pada suspensi III Diketahui : Kadar SiO2 dalam silika terpresipitasi = 84,7 %

Massa silika terpresipitasi = 25 gr Massa NaAlO2 = 1,9 gr [Vempati, 2002] Berat molekul (BM) : SiO2 NaAlO2 = 60 = 82

A-4

NaOH Al Na Al2O3 Na2O Si/Al = 30

= 40 = 27 = 23 = 102 = 62

Ditentukan : Jumlah NaOH yang ditambahkan pada suspensi III : NaOH suspensi III = Massa Na = massa Na dalam Na2O massa Na dalam NaAlO2 Massa Na dalam Na2O : Massa Na dalam Na2O = Massa Na2O = mol Na2O x BM Na2O maka mol Na2O = mol Al2O3 x 7,4

maka mol Al2O3 =

Mol SiO2

= 0,352917 mol

A-5

Mol Al2O3 Sehingga, Mol Na2O Massa Na2O = 0,011764 x 7,4 = 0,087053 = 0,087053 mol x 62 gr/mol = 5,397272 gr

Massa Na dalam Na2O

Massa Na dalam NaAlO2 : Massa Na dalam NaAlO2

Massa Na = 4,004428 gr 0,532927 gr = 3,471501 gr Massa NaOH yang ditambahkan pada suspensi III = 6,0374 gram. 3. Pembuatan larutan Ni a. BM Ni(NO3)2.6H2O = 290,69 gr/gr mol BM Ni = 58,69 gr/gr mol b. Total logam = 1% x 35 gr = 0,35 gr

A-6

c. Massa i =

BM i x n x massa ( Ni(NO3)2.6H2O ) BM ( Ni(NO3)2.6H2O )

gr grmol 0 ,35 gr = gr 290 ,69 grmol 58 ,69

x 1 x massa ( Ni(NO3)2.6 H2O )

0,35 gr = 0,219massa (Ni(NO3)2.6H2O) Massa Ni(NO3)2.6H2O = 1,598gr Ni dan ZSM-5 dilarutkan dalam aquades sampai volume larutan 500 ml.

B-1

LAMPIRA B HASIL A ALISA BET

B-2

B-3

B-4

C-1

LAMPIRA C HASIL UJI KI ERJA KATALIS

C.1 Data Yield Pirolisis Cangkang Sawit Tabel C.1. Data Hasil Perolehan Yield Bio Oil Suhu Kalsinasi (0C) 400 500 Yield Bio Oil (%) 31 42

C.2. Data Hasil Pengukuran Massa Jenis, Viskositas dan Titik yala Tabel C.2. Data Hasil Pengukuran Massa Jenis dan Viskositas

Sampel

Berat Picnometer Kosong (gr)

Berat Picnometer + Sampel (gr)

Massa Jenis (gr/ml)

Waktu Alir

Waktu Alir ratarata

Viskositas (cP)

00:0088 Air 16,07 26.51 1.044 00:0095 00:0089 Bio-Oil dengan Ni/ZSM-5 00:1265 16,07 25,61 0,954 00:1264 00:1267 00:1265 ? 00:0091 0.894

C-2

Contoh Perhitungan : a. Massa Jenis :

= (25,61- 16,07)gr = 10 ml b. Viskositas bio oil:

0,954 gr/ml

= 12, 59 cp Viskositas kinematik bio-oil = 12,59 cp 0,954 gr/ml = 13,196 cSt

Tabel C.3. Data Hasil Pengukuran Titik Nyala/Flash Point Sampel Temperatur (C) 40 42 Bio-Oil 44 (Katalis Ni/ZSM-5) 46-60 62 Nyala api Titik nyala (C) -

D-1

LAMPIRA D DOKUME TASI PE ELITIA

Menggerus Silika Presipitasi

Silika Presipitasi

Pengadukan ZSM-5

Pembuatan ZSM-5

ZSM-5

Alat Impregnasi

D-2

Alat Kalsinasi, Oksidasi dan Reduksi

Uji BeratJenis

Uji Titik Nyala