Anda di halaman 1dari 29

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Dasar Diabetes Melitus 2.1.1.

Definisi Diabetes Militus Istilah dari diabetes mellitus oleh dari bahasa latinyang berasal dari kata Yunani, yaitu diabetes yang berarti pancuran, dan mellitus yang berarti madu. Diabetes mellitus berarti pancuran madu yang berkaitan dengankondisi pasien yang mengeluarkan sejumlah urin dengan kadar gulayang tinggi(Wijayakusuma,2004). Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik yang berlangsung kronik dimana penderita diabetes mellitus tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif sehingga terjadi kelebihan gula didalam darah ( M. Atun, 2010 ). Diabetes mellitus adalah kedaan dimana kadar gula dalam darah tinggi melebihi kadar gula normal. Penyakit ini biasanya disertai berbagai kelainan metabolisme akibat gangguan hormonal dalam tubuh. Kadar gula yang tinggi ini disebut sebagai kondisi hiperglikemi ( Hariwijaya & Susanto,2007). Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karateristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung, dan pembuluh darah yang menimbulkan komplikasi antara lain aterosklerosis, neopati, dan retinopati. Diabetes Mellitus biasa disebut dengan the silent killer karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan (Soegondo.S, 2011 ).

Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika telah berkembang penuh secara klinis, maka diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, ateroskierotik dan penyakit vaskuler mikroangiopati, dan neuropati (Price & wilson, 2007). Diabetes Mellitus adalah sebuah penyakit keturunan yang biasa disebut dengan istilah kencing manis, adanya diabetes mellitus dilatar belakangi oleh gangguan salah satu organ dalam manusia yang tidak efektif menghasilkan hormon. Diabetes mellitus menyerang tanpa kompromi hingga membuat penderita mengalami dampak psikis yang nyata(Novita Sari.R, 2012). 2.1.2. Jenis-Jenis Diabetes Militus Adapun jenis-jenis dari diabetes mellitus antara lain : 2.1.2.1.Diabetes mellitus yang bergantung dengan insulin atau sering disebut tipe I yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin. Diabetes mellitus dapat terjadi karena kerusakan sel beta langerhans dikelenjar prankreas akibat proses kekebalan tubuh (autoimun) terjadi pembunuhan sel tubuh oleh sistem imunitasnya sediri. Diabetes mellitus tipe I mencapai 10% dari jumlah

penyakit diabetes mellitus. Biasanya terdiagnosis dibawah umur 35 tahun, tidak gemuk, dan gejala timbul mendadak (akut ). 2.1.2.2.Diabetes mellitus yang tidak bergantung pada insulin atau sering disebut tipe 2 dimana Diabetes mellitus tipe ini berkembang ketika tubuh maasih mampu menghasilkan insulin tetapi tidak cukup dalam pemenuhannya atau bisa juga disebakan karena kegagalan relatif sel beta langerhans dikelenjar prankreas sehingga produksi insulin yang terjadi dengan kualitas rendah tidak mampu marangsang sel tubuh agar menyerap gula darah, misalnya karena obesitas,

pola makan yang tidak benar. Diabetes mellitus tipe ini mencapai 80% lebih dari keseluruhan penderita diabetes mellitus. Biasanya terdiagnosis diatas 40 tahun, biasanya gemuk, gejalanya timbul perlahan-lahan ( kronik). 2.1.2.3.Gestasional Diabetes Mellitus (GDM) diakibatkan oleh kombinsi dari

kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yag tidak cukup, seperti tipe 2 dibeberapa kesaksian. Biasanya terjadi selama kehamilan dan tidak sembuh setelah melahirkan. Gestasional Diabetes Mellitus kemungkinan dapat merusak kesehatan janin atau kesehatan ibu, sekitar 20-50% dari wanita penderita Gestasional Diabetes Mellitus bertahan hidup. Gestasional

Diabetes Mellitus mencapai 2-5% dari kehamilan, dan dapat menyebabkan permasalahan pada kehamilan , termasuk macrosomia, janin mengalami kecacatan dan menderita panyakit jantung sejak lahir. Gejala-gejala yang sering terjadi adalah polifagia (banyak makan) , poliuria( banyak kencing) dan polidiksi( banyak minum). Kondisi lain yamg muncul berupa penurunan berat badan, gatal-gatal, kesemutan, mata kabur, mudah lelah, luka yang tidak sembuh,infeksi kulit. 2.1.2.4.Diabetes Mellitus ini disebabkan penyakit lain seperti : serosis hati, penyakit kelenjar prankreas, infeksi, obat-obatan. Penderita Diabetes Mellitus mencapai 10% dari penderita Diabetes Mellitus keseluruhan. (Hariwijaya & Susanto, 2007). 2.1.3. Tanda Dan Gejala Penderita diabetes mellitus dapat di golongkan menjadi gejala akut dan kronis. 2.1.3.1.Gejala Akut Setiap penderita Diabetes Mellitus tidak selalu menunjukkan gejala yang tidak

sama, namun ada gejala yang umum timbul meski tidak menutup kemungkinan

adanya variasi gejala lain, bahkan ada yang tidak tampak gejala apapun sampai pada saat tertentu. 2.1.3.1.1. Pada fase awal biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus naik (bertambah gemuk), karena pada saat itu jumlah insulin masih mencukupi. Gejala pada tahap ini ditunjukkan dengan adanya tiga serba banyak yaitu polyuria (banyak kencing), polydipsia (banyak minum), dan polyphagia (banyak makan). 2.1.3.1.2. Pada fase selanjutnya timbul gejala yang disebabkan oleh kurangnya insulin. Penderita masih mengalami polydipsia dan polyuria, namun tidak banyak makan (polyphagia). Nafsu makan mulai berkurang, bahkan kadang-kadang timbul rasa mual jika kadar glukosa darah melebihi 500mg/dl. Berat badan mengalami penurunan dengan cepat (bisa 5-10kg dalam waktu 2-4 minggu). Badan terasa mudah lelah. Jika dibiarkan penderita akan jatuh koma ( tidak sadarkan diri) yang biasa disebut koma diabetik, yaitu koma yang terjadi akibat kadar glukosa darah terlalu tinggi melebihi 600mg/dl. Gejala polyuria (banyak kencing), polydipsia (banyak minum), dan polyphagia (banyak makan) dan penurunan berat badan merupakan keluhan utama penderita diabetes (M.Atun, 2007). 2.1.3.2. Gejala Kronis Penderita Diabetes Mellitus tidak selalu menunjukan gejala yang sifatnya mendadak (akut), namun baru timbul gejala sesudah beberapa waktu, mungkin dalam hitungan bulan atau tahun. Gejala ini sering disebut gejala kronik atau menahun.

Berikut beberapa gejala kronik yang sering muncul : 2.1.3.2.1. Sering mengalami kesemutan. 2.1.3.2.2. Kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk. 2.1.3.2.3. Rasa tebal di kulit sehingga kalau berjalan seperti diatas bantal atau kasur. 2.1.3.2.4. Sering mengalami kram. 2.1.3.2.5. Cepat merasa lelah, mudah mengantuk. 2.1.3.2.6. Pandangan kabur, biasanya sering berganti kacamata. 2.1.3.2.7. Rasa gatal disekitar kemaluan,terutama pada wanita. 2.1.3.2.8. Gigi mudah goyah dan mudah lepas. 2.1.3.2.9. Menurunya kemampuan seksual, atau impoten. 2.1.3.2.10. Keguguran atau kematian janin dalam kandungan pada ibu

hamil, atau melahirkan dengan berat badan bayi >4kg. (M.Atun, 2007). 2.1.4. Patofisiologi Seperti suatu mesin, badan memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Di samping itu badan juga memerlukan energi supaya sel badan dapat berfungsi dengan baik. Energi pada mesin berasal dari bahan bakar yaitu bensin. Pada manusia bahan bakar itu berasal dari bahan makanan yang kita makan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat (gula dan tepung-tepungan), protein (asam amino) dan lemak (asam lemak). Pengolahan bahan makanan dimulai di mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan itu makanan dipecah menjadi bahan dasar dari makanan itu. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu akan diserapoleh usus kemudian

masukkedalam pembuluh darah dan diedarkan keseluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ didalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan itu harus masuk dulu kedalam sel supaya dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan tertutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin memengang peran yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di pancreas, dalam keadaan normal artinya kadar insulin cukup sensitif, insulin akan ditangkap oleh reseptor insulin yang ada pda permukaan sel otot, kemudian membuka pintu masuk sel hingga glikosa dapat masuk sel untuk kemudian dibakar menjadi energi/tenaga. Akibatnya kadar glukosa dalam darah normal. Pada diabetes dimana didapatkan jumlah insulin yang kurang atau pada keadaan kualitas insulinya tidak baik (resitensi insulin), meskipun insulin ada dan reseptor juga ada, tapi karena ada kelainan di dalam sel itu sendiri pintu masuk sel tetap tidak dapat terbuka tetap tertutup hingga glukosa tidak dapat masuk sel untuk dibakar (dimetabolisme). Akibatnya glukosa tetap berada di luar sel, hingga kadar glukosa dalam darah meninggkat(Suyono.S, 2011). 2.1.5. Komplikasi Diabetes Militus Komplikasi-komplikasi diabetes mellitus dapat dibagi menjadi dua kategori mayor menurut (Price & wilson, 2007). 2.1.5.1. Komplikasi Metabolik Akut Komplikasi metabolik diabetes disebabkan oleh perubahan yang relatif akut dari konsentrasi glukosa plasma. Komplikasi metabolik yang paling serius pada diabetes tipe 1 adalah ketoasidosis diabetik (DKA)

2.1.5.1.1. Ketoasidosis Diabetik (DKA) Apabila kadar insulin dan sangat menurun, pasien berat, mengalami penurunan

hiperglikemia

glukosuria

lipogenesis,peningkatan liposis dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai pembentukan benda keton (asetoasetat, hidroksibutirat, dan aseton). Peningkatan keton dalam plasma mengakibatkan ketosis.Peningkatan produksi keton meningkatkan beban ion hidrogen dan asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria yang jelas juga dapat mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidrasi dan kehilangan elektrolik. Pasien dapat menjadi hipotensi dan mengalami syok. Akhirnya, akibat penurunan penggunaan oksigen otak, pasien akan mengalami koma dan meninggal. DKA ditangani dengan perbaikan kekacauan metabolik akibat kekurangan insulin, pemulihan keseimbangan air dan eletrolit, dan pengobatan keadaan yang mungkin mempercepat ketoasidosis. Pengobatan dengan insulin (reguler) masa kerja singkat diberikan melalui infus intravena kontinu atau suntikan intramuskular yang sering dan infus glukosa dalam air atau salin akan meningkatkan penggunaan glukosa, mengurangi lipolisis dan pembentukan benda keton, serta memulihkan

keseimbangan asam basa. Selain itu, pasien juga memerlukan penggantian kalium. Karena infeksi berulang dapat meningkatkan kebutuhan insulin pada penderita diabetes, maka tidak mengherankan kalau infeksi dapat mempercepat terjadinya dekompensasi diabetik akut atau DKA. Dengan demikian, pasien dalam keadaan ini mungkin perlu diberi pengobatan antibiotika.

2.1.5.1.2. Hiperglikemia Hiperglikemia, hiperosmolar, koma nonketotik (HHNK) adalah komplikasi metebolik akut lain dari diabetes tipe 2 yang lebih tua. Bukan karena defisiensi insulin absolut, namun relatif,

hiperglikemia muncul tanpa ketosis. Hiperglikemia menyebabkan hiperosmolalitas, diuresis osmotik, dan dehidrasi berat. Pasien dapat menjadi tidak sadar dan meninggal bila keadaan ini tidak segera ditangani. Angka mortalitas dapat tinggi hingga 50%. Pengobatan HHNK adalah rehidrasi, penggantian eletrolik dan insulin reguler. Perbedaan utama antara HHNK dan DKA adalah pada HHNK tidak terdapat ketosis. 2.1.5.1.3. Hipoglikemia Komplikasi metabolik lain yang sering dari diabetes adalah hipoglikemia (reaksi insulin, syok insulin), terutama komplikasi terapi insulin. Pasien diabetes dependen insulin mungkin suatu saat menerima insulin yang jumlahnya lebih banyak daripada yang dibutuhkanya untuk mempertahankan kadar glukosa normal yang mengakibatkan hipoglikemia. Gejala-gejala hipoglikemia disebabkan oleh pelepasan epinefprin (berkeringat, gemetar, sakit kepala, palpitasi) juga akibat dari kekurangan glukosa dari otak (tingkah laku yang aneh, sensorium yang tumpul dan koma. Penatalaksanaan karbohidrat, diberikan baik hipoglikemi oral adalah perlu segera diberi

maupun

intravena.

Kadang-kadang secara darah.

glukagon, untuk

suatu

hormon

glikogenolisis kadar glukosa

intamuskular

meningkatkan

Hipoglikemia akibat pemberian insulin untuk pasien diabetes dapat memicu pelepasan hormon pelawan regulator (glukagon, evinefprin, kortisol, hormon pertumbuhan) yang sering kali meningkatkan kadar glukosa dalam kisaran hiperglikemia (efek somogyi). Kadar glukosa yang naik turun menyebabkan pengontrolan diabetik yang buruk. Mencengah hipoglikemia adalah dengan menurunkan dosis insulin , dan dengan demikian menurunkan hipoglikemia. 2.1.5.2.Komplikasi-Komplikasi Vaskular Jangka Panjang Komplikasi vaskular jangka panjang dari diabetes melibatkan pembuluhpembuluh kecil mikroangiopati-dan pembuluh-pembuluh sedang dan besar-makroangiopati. 2.1.5.2.1. Mikroangiopati Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetik),glomerulus ginjal (nefropati diabetik) dan saraf-saraf perifer (nefropati diabetik), otot-otot serta kulit. Dipandang dari sudut histokimia,lesi-lesi ini ditandai dengan peningkatan penimbunan glikoprotein. Selain itu,karena senyawa kimia dari membran dasar dapat berasal dari glukosa,maka hiperglikemia menyebabkan bertambahnya

kecepatan pembentukan sel-sel membran dasar. Penggunaan glukosa dari sel-sel ini tiak membutuhkan insulin.Ada kaitan yang kuat antara hiperglikemia dengan insidens dan berkembangnya retinopati. Manifestasi dini retinopati berupa

mikroneurisma(pelebaran sakular,yang kecil) dari arteriola retina.

Akibatnya,perdarahan,neovaskularisasi dan jaringan parut retina dapat mengakibatkan kebutaan. Pengobatan yang paling berhasil untuk retinaopati adalah fotokoagulasi keseluruhan retina. Sinar laser difokuskan pada retina, menghasilkan parut korioretinal. Setelah pemberian sinar beberapa seri, maka akan dihasilkan sekitar 1800 parut yang ditempatkan pada kutup posterior retina. Pengobatan dengan cara ini tampaknya dapat menekan

neovaskularisasi dan pendarahan yang menyertainya. Manifestasi dini nefropati berupa proteinuria dan hipertensi. Jika hilanya fungsi nefron terus berlanjut, pasien akan menderita insufisiensi ginjal dan uremia. Pada tahap ini, pasien memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal. 2.1.5.2.2. Makroangiopati Makroangiopati diabetik mempunyai gambaran histopatologis berupa aterosklerosis. Gabungan dari gangguan biokimia yang disebabkan oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab jenis penyakit vaskuler ini. Gangguan-gangguan ini berupa penimbunan sorbitol dalam intima vaskular, hiperlipoproteinemia, dan kelainan pembekuan darah. Pada akhirnya, makroangiopati diabetik ini akan mengakibatkan penyumbatan vaskular. Jika mengenai arteriarteri perifer, maka dapat mengakibatkan insufisiensi vaskular perifer yang disertai klaudikasio intermiten dan gangren pada ekstremitas serta insufisiensi serebral dan stroke. Jika yang terkena adalah arteria koronaria dan aorta, maka dapat mengakibatkan angina dan infark miokardium. Diabetes juga

menggangu kehamilan. Perempuan yang menderita sering diabetes dan hamil, cenderung mengalami abortus spontan, kematian janin intrauterin, ukuran janin besar, dan bayi prematur dengan insidens sindrom distres pernapasan yang tinggi, serta malformasi janin. Tetapi sekarang ini kehamilan ibu-ibu dengan diabetes telah mengalami perbikan berkat pengontrolan glukosa darah yang lebih ketat selama kehamilan, kelahiran yang dibuat lebih dini, dan kemajuan-kemajuan di bidang neonatologi dan penatalaksanaan komplikasi pada neonatus. Perubahan lingkungan hormonal selama hamil menyebabkan peningkatan kebutuhan insulin yang progresif, yang mencapai puncaknya pada semester ketiga, dan penurunan tajam kebutuhan insulin setelah

melahirkan. Bukti klinis dan percobaan sekarang ini menunjukkan bahwa timbulnya komplikasi diabetik jangka panjang karena kelainan kronik metabolisme disebabkan oleh insufisiensi sekresi insulin. Komplikasi diabetik dapat dikurangi atau dicengah jika

pengobatan diabetes cukup efektif untuk membawa kadar glukosa kedalam kisaran normal seperti yang diindikasikan oleh

hemoglobin glikat. Pentingnya pengontrolan glukosa dalam menurunkan atau mencengah komplikasi diabetes telah disoroti oleh Diabetes Control And Complications Trial (DCCT). Yang merupakan pusat penlitin selam lebih dari 10 tahun. Pasien dengan diabetes tipe I yang menerima terapi insulin secara efektif dan menurunkan kadar hemoglobin glikat hingga <70%, 50%

hingga

75%

mengalami

penurunan

dalam

komplikasi

migkroangiopati mayor termasuk retinopati, nefropati, dan neuropati. Penelitian selama 10 tahun yang dilakukan United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS),memperlihatkan pentingnya pengontrolan glukosa untuk menurunkan risiko komplikasi pada pasien dengan diabetes tipe 2. Objektif akhir dari pengobatan diabetes adalah penceghan. Pengenalan individu berisiko terhadap diabetes tipe I dapat mengarahkan pada deteksi dini dari proses autoimun yang mengakibatkan kerusakan sel-sel beta, serta pengobatanya dengan agen imunosupresif yang spesifik. Jika penyakit telah terjadi, transplantasi pankreas mungkin akan memulihkan kapasitas sekresi insulin. Pada pasienpasien dengan diabetes tipe 2, pengertian yang lebih baik mengenai mekanisme molekular resistensi insulin dapat

mengarahkan untuk dikembangkannya agen farmokologik yang secara spesifik dapat memperbaiki kerja insulin.

2.1.6. Penyulit Kronik Dan Usaha Pencengahan Diabetes Mellitus Penyakit diabetes mellitus dapat ditandai dengan berbagai macam gejala, dan gejala yang khas, banyak minum, banyak makan, lemas, berat badan turun drastis, sampai luka yang sukar sembuh, gatal, kesemutan ataupun sampai kesadaran yang menurun. Diagnosis diabetes mellitus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah yang abnormal (>200mg/dl). Perlu ditekankan sekali lagi, bahwa penyakit diabetes mellitus sendiri sampai saat ini tidak dapat disembuhkan, tetapi kadar glukosa darahnya dapat dikendalikan agar tetap selalu normal (<150mg/dl), dengan berbagai upaya

pengobatan, baik berupa perencanaan makan yang baik, kegiatan jasmani yang harus terus dipertahankan, serta pemakaian obat untuk menurunkan kadar glukosa darah (obat, insulin dan lain-lain). Jika kadar glukosa darahnya tetap tinggi akan dapat timbul penyulit pada berbagai organ tubuh seperti pada :1.Pembuluh Darah Otak dapat menyebabkan Stroke, 2. Pembuluh Darah Mata dapat terjadi kebutaan, 3. Pembuluh Darah Jantung dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, 4. Pembuluh Darah Ginjal dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik, 5. Pembuluh Darah Kaki menyebabkanluka sukar sembuh. Penyulit kronik diabetes mellitus pada dasarnya terjadi pada smua pembuluh darah dia seluruh tubuh (angiopati diabetik). Untuk kemudahan, angiopati diabetik dibagi 2: makroangiopati (makrovaskular) dan mikroangiopati (mikrovaskular), walaupun tidak berarti bahwa satu sama lain saling berpisah dan tidak terjadi sekaligus. 2.1.6.1. Penyulit kronik Mikrovaskular dapat menyebabkan gejala pada ginjal dan retina mata, Makrovaskular dapat menyebabkan gejala jantung koroner, pembuluh darah kaki,pembuluh darah otak, Neuropati dapat menyebabkan gejala dari Mikrovaskular dan Makrovaskular, Rentan infeksi dapat menyebabkan gejaladari Mikrovaskular dan Makrovaskular. Penyandang diabetes mellitus mempunyai risiko untuk terjadinya panyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak 2 kali lebih besar, 5 kali lebih mudah menderita ulkus/gangren, 7 kali lebih mudah mengidap gagal ginjal terminal, dan 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat kerusakan retina daripada pasien non diabetes mellitus. Kalau sudah terjadi penyulit, usaha untuk menyembuhkan keadaan tersebut ke arah normal sangat sulit, kerusakan yang sudah terjadi umumnya akan menetap.

Oleh karena itu usaha pencengahan dini untuk penyulit tersebut diperlukan dan diharapkan akan sangat bermanfaat untuk menghindari terjadinya berbagai hal yang tidak menguntungkan. 2.1.6.2.Upaya Pencengahan Diabetes Mellitus Pada penyakit diabetes mellitus seperti juga pada penyakit lain usaha pencengahan terdiri dari : Pencengahan primer : mencengah agar tidak timbul penyakit Diabetes mellitus, Pencengahan Sekunder : mencengah agar walaupun sudah terjadi penyakit, penyulinya tidak terjadi, Pencengahan Tersier : usaha mencegah agar tidak terjaadi kecacatan lebih lanjut walaupun sudah terjadi penyulit. Untuk dapat mengerti dengan baik mengenai usaha pencengahan diabetes mellitus perlu dipahami benar perjalanan ilmiah penyakit tersebut. Usaha pencengahan penyakit pada diabetes mellitus dapat meliputi : a. Pendekatan pada penduduk, berusaha mengubah dan memperbaiki gaya hidup agar menguntungkan terhadap tidak timbulnya diabetes mellitus atau penyulitnya (pencengahan primer, sekunder) b. Pendekatan perorangan pada mereka yang berisiko tinggi untuk mengidap diabetes mellitus dan pada pasien/penyandang diabtes mellitus

(pencengahan primer, sekunder, dan tersier). Kedua pendekatan tersebut harus berjalan seiring dan dapat di usahakan/dikerjakan bersama baik dokter dan petugas medis dan paramedis terkait serta lembaga swadaya masyarakat(Waspadji. S, 2011). 2.1.6.3. Usaha Pencengahan Primer Pencengahan primer berarti mencengah terjadinya diabetes mellitus. Untuk dapat menghayati dan melaksanakan benar usaha pencengahan primer harus

dikenal dahulu faktor yang berpengaruh terjadinya penyakit diabetes mellitus. Faktor yang berpengaruh pada terjadinya diabetes mellitus adalah : faktor keturunan, faktor kegiatan jasmani yang kurang, faktor kegemukan/ distribusi lemak, faktor nutrisi berlebih, faktor lain, obat-obatan, hormon. Faktor keturunan jelas berpengaruh pada terjadinya diabetes mellitus. Keturunan orang yang mengidap diabetes mellitus (apalagi kedua orang tuanya mengidap diabetes mellitus daripada orang normal). Demikian saudara kembar identik penyandang diabetes mellitus, hampir 100% dapat dipastikan akan mengidap diabetes mellitus nantinya. Usaha pencengahan primer ini dilakukan secara menyeluruh pada masyrakat tetapi diutamakan dan ditekankan untuk dilaksanakan dengan baik pada mereka yang beresiko tinggi untuk kemudian mengidap diabetes mellitus (Waspadji. S, 2011). Orang-orang yang mempunyai risiko tinggi untuk mengidap diabetes mellitus: A. Orang yang pernah terganggu toleransi glukosanya B. Orang yang berpotensi untuk terganggu toleransi glukosa a) Ibu dengan diabetes mellitus saat hamil b) Ibu dengan riwayat melahirkan anak >4kg c) Saudara kembar diabetes mellitus d) Anak yang kedua orang tuanya diabetes mellitus e) Orang/kelompok yang mengalami perubahan pola/gaya hidup ke arah kegiatan jasmani yang kurang f) Orang yang juga mengidap penyakit yang sering timbul bersamaan dengan diabetes mellitus, seperti tekanan darah tinggi dislipidemia, dan kegemukan.

Tindakan yang dilakukan untuk usaha pencengahan primer meliputi : penyuluhan mengenai perlunya pengaturan gaya hidup serta sedini mungkin dengan memberikan pedoman sebagai berikut : 1. Mempertahankan pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang yaitu : a. Meningkatkan komsumsi sayuran dan buah b. Membatasi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana c. Mempertahankan berat badan normal/idaman sesuai dengan umur dan tinggi badan 2. Melakukan kegiatan jasmani yang cukup sesuai dengan umur dan kemampuan 3. Menghindari obat yang bersifat diabetogenik (Waspadji. S, 2011). 2.1.6.4. Usaha Pencengahan Sekunder Usaha pencengahan sekunder dimulai dengan usaha mendeteksi dini penyandang diabetes mellitus. Karena itu dianjurkan untuk pada kesempatan terutama untuk mereka yang mempunyai risiko tinggi agar dilakukan pemeriksaan penyaring glukosa darah. Dengan demikian mereka mempunyai risiko tinggi diabetes mellitus dapat terjaring untuk diperiksa dan kemudian yang dicurigai diabetes mellitus akan dapat ditindak lanjuti, sampai dinyakinkan benar mereka mengidap diabetes mellitus. Bagi mereka dapat ditegakkan diagnosis dini diabetes mellitus kemudian dapat dikelola dengan baik guna mencegah penyulit lebih lanjut. Usaha ini dapat dilakukan oleh semua petugas kesehatan pada setiap kesempatan ataupun juga oleh pasien yang berisiko tinggi atas permintaan mereka sendiri.

Pengelolaan untuk mencengah terjadinya penyulit dikerjakan bersama oleh dokter dan para petugas kesehatan. Peran dokter dalam mendapatkan hasil pengendalian glukosa darah yang baik sangat menonjol. Walaupun demikian, hasil pengeloaan yang baik tidak akan dapat dicapai tanpa keikutsertaan aktif para penyandang diabetes mellitus.Tujuan pengolahaan diabetes

mellitusadalahJangka pendekmenghilangkan keluhan dan gejala diabetes mellitusdanJangka panjangmencegah penyulit diabetes mellitus baik

mikroangiopati, makroangiopati maupun neuropati. Sarana untuk mencapai sasaran kadar glukosa darah yang dikendali baik telah berulangkali dikemukakan dan telah berulang kali pula dibicarakan dan ditekankan kembali oleh para pengelola kesehatan pada setiap hari kesempatan pertemuan dengan penyandang diabetes mellitus. Secara garis besar sarana tersebut adalah : a. Perencanaan makan yang baik dan seimbang untuk mendapatkan berat badab idaman sesuai dengan umur dan jenis kelamin. b. Kegiatan jasmani yang cukup sesuai umur dan kondisi pasien c. Obat-obatab, baik berbagai macam obat yang diminum maupun obat suntik insulin. d. Penyuluhan untuk menjelaskan pada pasien mengenai diabetes mellitus dan penyulitanya agar kemudian didapatkan pengertian yang baik dan keikutsertaan pasien dalam usaha mengendalikan kadar glukosa darahnya. Berbagai faktor berpengaruh pada terjadinya penyulit. Secara garis besar faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kejadian penyulit diabetes mellitus dapat dibagi menjadi : 1. Faktor genetik atau keturunan

2. Faktor metebolik, faktor glukosa darah dan metabolik lain yang abnormal. Faktor keturunan dan faktor jenis kelamin serta umur merupakan faktor yang tidak dapat dipengaruhi. Tetapi faktor metabolik sseperti kadar glukosa darah dapat diusahakan agar selalu menjadi normal/mendekati normal (Waspadji. S, 2011). 2.1.6.5. Usaha Pencengahan Tersier Usaha ini dilakukan untuk mencengah lebih lanjut terjadinya kecacatan kalau penyulit sudah terjadi. Kecacatan yang mungkin timbul akibat penyulit diabetes mellitus adalah Pembuluh darah otak dapatmenyebabkangejalastroke dan segala gejal sisanya, Pembuluh darah matadapatmenyebabkangejala kebutaan, Pembuluh darah ginjal dapatmenyebabkangejalagagal ginjal

kronik yang memerlukan tindakan cuci darah, Pembuluh darah tungkai bawahdapatterjadi amputasi tungkai bawah. Untuk mencegah terjadinya kecacatan tentu saja harus dimulai dengan deteksi dini penyulit diabetes mellitus agar kemudian penyulit dapat dikelola dengan baik disamping tentu saja pengelolaan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Pemeriksaan pemantauan yang diperlukan untuk penyulit ini adalah : a) Mata, Pemeriksaan mata/fundus secara berkala setiap 6-12 bulan.

b) Paru, pemeriksaan berkala foto dada setiap 1-2 tahun atau bila ada keluhan batuk kronik. c) Jantung, pemeriksaan berkala EKG/uji latih jantung secara berkala setiap tahun atau bila ada keluhan nyeri dada/cepat capai d) Ginjal, pemeriksaan berkala urin untuk mendeteksi adanya protein dalam urin.

e) Kaki, pemeriksaan kaki secara berkala dan penyuluhan mengenai cara perawatan kaki sebaik-baiknya untuk mencegah kemungkinan timbulnya kaki diabetik dan kecacatan yang mungkin ditimbulkan. Dengan berbagai usaha pencengahan tersebut para penyandang diabetes mellitus diharapkan dapat hidup sehat bersam diabetes mellitus seperti orang sehat atau normal, terutama dalam kaitanya dengan penyulit menahun diabetes mellitus. Suatu hal yang tidak mustahil untuk dicapai yang tentu saja memerlukan kerja sama yang baik penyandang diabetes mellitus dan para petugas kesehatan (Waspadji. S, 2011). 2.2. Faktor-Faktor Resiko Tinggi Diabetes Mellitus 2.2.1. Faktor Genetik Dan Keturunan Faktor keturunan jelas berpengaruh pada terjadinya diabetes mellitus. Keturunan orang yang mengidap diabetes mellitus (apalagi kedua orang tuanya mengidap diabetes mellitus daripada orang normal). Demikian saudara kembar identik penyandang diabetes mellitus, hampir 100% dapat dipastikan akan mengidap diabetes mellitus nantinya. Faktor umur merupakan faktor yang tidak dapat dipengaruhi (Waspadji. S, 2011). 2.2.2. Pola Makan Dan Obesitas Adanya pengaruh indek masa tubuh terhadap diabetes mellitus ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik serta tingginya konsumsi karbohidrat, protein dan lemak yang merupakan factor risiko dari obesitas (Tisnawati.S.K, 2012). 2.2.3. Aktivitas Fisik Olahraga Aktivitas fisik dapat mengontrol gula darah. Glukosa akan diubah menjadi energi pada saat beraktivitas fisik. Aktivitas fisik mengakibatkan insulin semakin meningkat sehingga kadar gula dalam darah akan berkurang. Pada orang yang jarang berolahraga,

zat makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak dibakar tetapi ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan gula. Jika insulin tidak mencukupi untuk mengubah glukosa menjadi energi maka akan timbul DM (Kemenkes,2010). 2.2.4. Usia Faktor umur merupakan faktor yang dapat dipengaruhi terjadinya diabetes mellitus. 2.2.5. Jenis Kelamin Faktor jenis kelamin merupakan faktor yang dapat mempengaruhi faktor resiko terjadinya diabetes mellitus. 2.2.6. Stress Adanya peningkatan risiko diabetes pada kondisi stres disebabkan oleh produksi hormone kortisol secara berlebihan saat seseorang mengalami stres. Produksi kortisol yang berlebih ini akan mengakibatkan sulit tidur, depresi, tekanan darah merosot, yang kemudian akan membuat individu tersebut menjadi lemas, dan nafsu makan berlebih. Oleh karena itu, ahli nutrisi biologis Shawn Talbott menjelaskan bahwa pada umumnya orang yang mengalami stres panjang juga akan mempunyai kecenderungan berat badan yang berlebih, yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes melitus (Siagian,2012). 2.2.7. Merokok Terpapar asap rokok adalah merokok atau sering berada di dekat perokok. Merokok adalah salah satu faktor risiko terjadinya penyakit DM Tipe 2. Asap rokok dapat meningkatkan kadar gula darah. Pengaruh rokok (nikotin) merangsang kelenjar adrenal dan dapat meningkatkan kadar glukosa (Tisnawati.S.K, 2012). 2.2.8. Infeksi Karena infeksi berulang dapat meningkatkan kebutuhan insulin pada penderita diabetes, maka tidak mengherankan kalau infeksi dapat mempercepat terjadinya

dekompensasi diabetik akut atau DKA. Dengan demikian, pasien dalam keadaan ini mungkin perlu diberi pengobatan antibiotika(Price & wilson, 2007). 2.3. Kualitas Hidup Pasien Diabetes Militus 2.3.1. Pengertian Kualitas Hidup Kualitas hidup (Quality Of Life/QOL) adalah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan dalam kintek budaya dan nilai dimana mereka hidup dan dalam hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standard dan perhatian. Hal ini merupakan konsep yang luas yang mempengaruhi kesehatan fisik seseorang, keadan psikologis, tingkat ketergantungan, hubungan sosial, keyakinan personal dan hubungannya dengan keinginan diamasa yang akan datang terhadap lingkungan mereka (WHO dalam Isa & Baiyewu 2006). Menurut Polonsky (2000), kualitas hidup didefinisikan sebagai perasaan individu tentang kesehatan dan kesejahteraannya dalam area yang luas meliputi fungsi fisik, fungsi psikologis dan fungsi sosial. Kualitas hidup dapat diartikan sebagai derajat diamana seseorang menikmati kemungkainan dalam hidupnya, kenikmatan tersebut memiliki dua komponen yaitu pengalaman, kepuasan dan kepemilikan atau pencapaian beberapa karakteristik dan kemungkinan-kemungkinan tersebut merupakan hasil dari kesempatan dan keterbatasan setiap orang dalam hidupnya dan merefleksikan interaksi faktor personal lingkungan (Weissman et al, 2004). Dalam istilah umum, kualitas hidup dianggap sebagai suatu persepsi subjektif multidimensi yang dibentuk oleh individu terhadap fisik, emosional, dan kemampuan sosial termasuk kemampuan kognitif (kepuasan) dan komponen emosional/kebahagiaan (Goz et al, 2007). Dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup adalah persepsi atau pandangan subjektif individu terhadap kehidupannya dalam konteks budaya dan nilai yang dianut oleh

individu dalam hubungannya dengan tujuan personal, harapan, standar hidup dan perhatian yang mempengaruhi kemampuan fisik, psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosisal dan lingkungan. 2.3.2. Kegunaan Pengukuran Kualitas Hidup Pada umumnya penilaian kaulitas hidup dilakukan melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau melalui pemeriksaan laboraturium instrument WHOQOL (The World Health Organization Of Life Instrument) dengan fokus pada pandangan baru terhadap penyakit misalnya pemahaman tentang diabetes militus terkait kurangnya pengaturan tubuh terhadap glukosa darah sudah baik, namun efek dari penyakit mempengaruhi persepsi individu terhadap hubungan sosial, kemampuan bekerja, status pendapatan dan membutuhkan perhatian yang lebih. Instrument WHOQOL digunakan dalam praktik medis, digunakan untuk meningkatkan hubungan tenaga kesehatan dengan pasien, untuk menilai keefektifan dan pengobatan, dalam evaluasi pelayanan kesehatan, untuk penelitian dan untuk membuat kebajikan. Kualitas hidup diakui sebagai kriteria paling penting dalam penilaian hasil medis dari pengobatan penyakit kronik seperti diabetes militus. Persepsi individu tentang dampak dan kepuasan tentang derajat kesehatan dan keterbatasannya menjadi penting sebagai evaluasi akhir terhadap pengobatan (WHO, 2004). Kualitas hidup terkait respon terhadap pengobatan khusus dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi individu untuk tetap memilih melanjutkan pengobatannya atau menghentikan pengobatan. Terkait dengan pasien DM, kualitas hidup dikaji untuk memilih tekanan personal dalam melakukan manajemen penyakit DM dan bagaimana tekanan tersebut dapat menurunkan kualitas hidup.

2.3.3. Domain Penilaian Kualitas Hidup No 1. Domain Kesehatan Fisik Aspek/Doman yang dinilai Energi dan kelelahan Nyeri dan ketidaknyamanan Tidur dan istirahat 2. Psikologis Gambaran diri (body image) dan penampilan Perasaan negatif Perasaan positif Konsep diri Berfikir, belajar, ingatan dan konsentrasi 3. Tingkat Ketergantungan Pergerakan Aktivitas sehari-hari Ketergantungan terhadap substansi obat dan bantuan medis Kemampuan bekerja 4. Hubungan Sosial Hubungan personal Dukungan sosial Aktivitas seksual 5. Lingkungan Sumber finansial Kebebasan, keselamatan dan keamanan Perawatan kesehatan dan sosial : kemudahan akses dan kualitas Lingkungan kesehatan Kesempatan untuk mendapatkan informasi dan

keterampilan Partisipasi dalam dan kesempatan rekreasi dan waktu luang Lingkungan fisik (populasi, bising, lalu lintas, dan cuaca) Transportasi 6. Spiritual, Personal Agama dan Keyakinan Spiritual, agama dan keyakinan personal

Sedangkan Isa & Baiyewu (2006) menyatakan bahwa domain kualitas hidup antara lain kesehatan fisik, status psikologi, tingkat keterganntungan, hubungan sosial dan lingkungan. 2.3.4. Pengukuran Kualitas Hidup Pengukuran kualitas hidup menggunakan skala pengukuran DQOL (Diabetes Quality Of Life) untuk mengukur kualitas hidup pada diabetes yang dikembangkan oleh Munoz & Thiagarajan (1998). DQOL terdiri atas 46 item pertanyaan dengan subsistemnya adalah kepuasan, dampak, kekhawatiran terhadap sosial dan pekerjaan. Instrument ini memiliki rentang jawaban dengan menggunakan skala Likert. Instrument DQOL ini telah digunakan di Indonesia yaitu pada penelitian Tyas (2008). Penelitian ini dilakukan pada 95 responden DM dikota blitar untuk melihat hubungan antara perawatan diri dan persepsi sakit dengan kualitas hidup. Peneliti memodifikasi instrument pengukuran kualitas hidup dari Munoz & Thiagarajan (1998). Pada penelitian ini diketahui nilai validasinya adalah 0,36 dan reliabelnya adalah dengan Cronbach Alfa 0,956. Instrument ini terdiri dari 30 item pertanyaan yang mencakup tentang kepuasan, dampak dari penyakit dan kekhawatiran tentang fungsi fisik serta masalah psikologis

dan sosial. Jawaban dari pertanyaan kepuasan berdasarkan skala Likert yaitu : 4 = Sangat puas, 3 = Puas, 2 = Tidak puas, 1 = Sangat tidak puas. Selanjutnya untuk dampak, pada pertanyaan positif yaitu : 1 = Tidak pernah, 2 = Jarang, 3 = Sering, 4 = Selalu, sedang pertanyaan negatif yaitu : 4 = Tidak pernah, 3 = Jarang, 2 = Sering, 1 = Setiap saat. 2.3.5. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Pasien DM Diabetes militus dan pengobatannya dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Kualitas hidup sangat penting bagi pasien diabetes dan pemberi layanan kesehatan. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien DM. 2.3.5.1. Usia Diabetes militus banyak dialami oleh dewasa diatas 40 tahun, hal ini disebabkan resistensi insulin pada DM cenderung meningkat pada lansia (40-65 tahun), riwayat obesitas dan adanya faktor keturunan (Smesltzer & Bare, 2008). Mandagi (2010) dalam hasil penelitiannya menunjukkan status kualitas hidup berhubungan dengan umur. Selanjutnya Isa & Baiyewu (2006), memperlihatkan bahwa sosiodemografi (salah satunya umur) mempengaruhi kualitas hidup pasien. 2.3.5.2. Jenis kelamin Diabetes memberikan efek yang kurang baik terhadap kualitas hidup. Wanita mempunyai kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien lakilaki secara bermakna (Gautam et al, 2009). Sedangkan penelitian Wu (2007) tentang dukungaa keluarga yang diterima pasien DM dimana laki-laki dengan DM melaporkan lebih banyak mendapatkan dukungan dari anggota keluarga. Sementara Goz et al (2001) menyatakan pasien laki-laki yang sudah pensiun

menunjukkan skor kulaitas hidup dan dukungan sosial yang tinggi. Dinyatakan lagi bahwa ketika tingkat pendidikan meningkat dan adanya dukungan sosial maka kualitas hidup meningkat. 2.3.5.3. Tingkat pendidikan Kualitas hidup (QOL) yang rendah juga signifikan berhubungan dengan tingkat pendidikan yang rendah dan kebiasaan aktifitas fisik yang kurang baik (Gautam et al, 2009). Tingkat pendidikan umumnya akan berpengaruh terhadap kemampuan dalam mengolah informasi. Menurut Stipanovic (2002), pendidikan merupakan faktor yang penting pada pasien DM untuk dapat memahami dan mengatur dirinya sendiri. 2.3.5.4. Status sosial ekonomi Menurut Isa & Baiyewu (2006), pendapatan yang rendah, tingkat pendidikan yang kurang berhubungan secara bermakna dengan kualitas hidup penderita DM. QOL (kualitas hidup) yang rendah juga signifikan berhubungan dengan sosial ekonomi yang rendah dan tingkat pendidikan yang rendah (Gautam et al, 2009). 2.3.5.5. Lama menderita DM Pada penelitian fisher (2005), responden yang baru menderita DM selama 4 bulan sudah menunjukkan efikasi diri yang baik. Adanya efikasi yang baik tentunya perawatan diri pasien juga akan baik sehingga mampu

mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik juga. Sedangkan penelitian Wu et al (2006) menemukan bahwa pasien yang telah menderita DM > 11 tahun memiliki efikasi diri yang baik dari pada pasien yang menderita DM < 10 tahun. Hal ini disebabkan karena pasien telah berpengalaman mengelola penyakitnya dan memiliki koping yang baik. Namun dari penelitian Bernal, Welley,

Schenzul dan Dickinson (2000) menemukan bahwa pasien yang telah lama menderita DM namun disertai komplikasi memiliki efikasi diri yang rendah. Jadi lamanya menderita dan disertai dengan komplikasi akan mempengaruhi kualitas hidup pasien. 2.3.5.6. Komplikasi diabetes melitus Komplikasi seperti halnya hipoglikemia dan hiperglikemia merupakan keadaan gawat darurat yang dapat terjadi pada perjalanan penyakit DM. Isa & Baiyewu (2006) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pada umumnya pasien DM menunjukkan kualitas hidup yang cukup baik berdasarkan kuesioner WHO tentang kualitas hidup (SF-36). Kualitas hidup yang rendah dihubungkan dengan berbagai komplikasi dari DM tipe 2 seperti hipertensi, gangren, katarak, obesitas, penurunan berat badan, perubahan fungsi seksual. 2.4. Teori Keperawatan DM merupakan penyakit kronis yang memiliki dampak kelemahan, kerusakan bahkan kecacatan selamanya sebagai akibat dari komplikasi yang dideritanya. Oleh karena itu, perawat memiliki peran penting sebagai pemberi pelayanan keperawatan serta sebagai edukator dalam memberikan asuhan keperawatan. Tujuan asuhan keperawatan berfokus pada pencegahan dan pengelolaan secara baik, sehingga pasien dan keluarga mampu mengatur dan melakukan perawatan mandiri dengan benar. Salah satu model keperawatan yang dapat digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien DM terkait dengan dukungan keluarga adalah model keperawatan yang dikemukakan oleh Betty Neuman (2001). Model sistem menurut Neuman merupakan refleksi keperawatan terhadap kondisi sehat dan sakit sebagai sistem yang holistik dan dipengaruhi oleh lingkungan yang sehat.

Manusia sebagai klien atau sistem klien bisa sebagai individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Sistem klien bersifat dinamis gabungan dari faktor fisik, psikologi, sosialkultural, perkembanagan dan spiritual. Sistem klien dipandang sebagai sesuatu yang selalau berubah, bergerak dan sebagai sistem yang terbuka yang selalu berinteraksi dengan lingkungan (Neuman, 2000). Selanjutnyan Neuman melihat kesehatan sebagai kontinuitas dari kondisi sehat dan sakit yang dinamis, natural dan berubah. Kesehatan yang optimal manandakan bahwa kebutuhan sistem secara total terpenuhi. Sebaliknya penurunan kesehatan sebagai akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan kebutuhan sistem. Lingkungan dan manusia diidentifikasi sebagai fenomena dasar pada Model Sistem Neuman, dimana terdapat hubungan antara lingkungan dengan manusia. Lingkungan diartikan sebagai sebagai faktor internal dan eksternal dan berinteraksi dengan manusia atau klien. Neuman mengidentifikasi tiga lingkungan yaitu lingkungan internal, lingkungan eksternal dan lingkungan yang diciptakan. Lingkungan internal adalah interaksi intrapersonal yang terjadi dalam diri klien. Lingkungan eksternal adalah interaksi interpersonal atau ekstrapersonal klien dengan kondisi diluar klien. Sedangkan lingkungan yang diciptakan adalah pengembangan lingkungan yang dilakukan oleh klien untuk mendukung perlindungan koping. Lebih lanjut menurut Neuman, individu, keluarga atau kelompok lainnya merupakan suatu sistem, yang dilihat sebagai gabungan interaksi antara fisiologi, psikologi, sosialkultural, perkembangan dan spiritual. Konsep utama dari Neuman adalah pendekatan holistik, sistem terbuka, lingkungan, keamanan, sehat dan sakit, klien sebagai sistem, stresor, reaksi terhadap stres, intervensi preventif dan rehabilitasi. Dari beberapa konsep utama tersebut, intervensi preventif merupakan salah satu konsep yang perlu diperhatikan karena konsep ini bertujuan untuk membantu klien atau

mempertahankan stabilitas sistem. Intervensi preventif dibagi menjadi tiga tingkat intervensi yaitu intervensi primer, sekunder dan tersier. Intervensi primer digunakan ketika stresor teridentifikasi. Reaksi tidak akan muncul, tetapi tingkat dari resiko dapat diketahui. Intervensi sekunder adalah intervensi yang diberikan setelah tanda dari stress muncul. Diperlukan faktor internal dan eksternal dari klien untuk mempertahankan stabilitas sistem. Sedangkan intervensi tersier muncul setelah adanya pemberian treatmen atau intervensi sekunder. Terdapat empat asumsi dalam model keperawatan Neuman yaitu keperawatan, manusia sebagai klien atau sistem, kesehatan serta lingkungan. Neuman meyakini keperawatan berpusat pada manusia. Keperawatan adalah sebagai suatu profesi yang unik yang berpusat pada semua variabel variabel yang mengakibatkan stress individu. Neuman juga menekankan persepsi yang dimiliki perawat akan mempengaruhi perawatan yang diberikan. Perlu dilakukan pengkajian terhadap persepsi perawat sebagai pemberi perawatan dan klien sebagai penerima perawatan. Hal ini karena perbedaan persepsi akan berpengaruh terhadap proses perawatan yang dilakukan. Oleh sebab itu persepsi klien dan pemberi perawatan terhadap stres dan sumbernya perlu diutamakan serta aktifitas klien dalam keperawatan merupakan salah satu hal untuk menetapkan tujuan dan mengidentifikasi tindakan preventif. Dapat dianalisa lebih lanjut bahwa pemberi perawatan tentunya bukan hanya perawat, tetapi anggota keluarga juga sangat berperan dalam merawat anggota keluarga yang sakit. Oleh sebab itu pengkajian terhadap persepsi keluarga sebagai pemberi perawatan juga tidak boleh diabaikan, karena ini menyangkut ketepatan dukungan yang akan diberikan kepada anggota keluarga yang sakit. Perbedaan persepsi antara keluarga dengan anggota keluarga yang sakit tentunya akan menimbulkan ketidakefektifan tindakan, sehingga tujuan yang dinginkan tidak bisa tercapai.