Anda di halaman 1dari 13

PROTEIN SERUM Protein adalah suatu makromolekul yang tersusun atas molekul-molekul asam amino yang berhubungan satu

dengan yang lain melalui suatu ikatan yang dinamakan ikatan peptida. Sejumlah besar asam amino dapat membentuk suatu senyawa protein yang memiliki banyak ikatan peptida, karena itu dinamakan polipeptida. Secara umum protein berfungsi dalam sistem komplemen, sumber nutrisi, bagian sistem buffer plasma, dan mempertahankan keseimbangan cairan intra dan ekstraseluler. Berbagai protein plasma terdapat sebagai antibodi, hormon, enzim, faktor koagulasi, dan transport substansi khusus.

Protein-protein kebanyakan disintesis di hati. Hepatosit-hepatosit mensintesis fibrinogen, albumin, dan 60 80 % dari bermacam-macam protein yang memiliki ciri globulin. Globulinglobulin yang tersisa adalah imunoglobulin (antibodi) yang dibuat oleh sistem limforetikuler. Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total, dan albumin atau globulin. Ada satu cara mudah untuk menetapkan kadar protein total, yaitu berdasarkan pembiasan cahaya oleh protein yang larut dalam serum. Penetapan ini sebenarnya mengukur nitrogen karena protein berisi asam amino dan asam amino berisi nitrogen. Total protein terdiri atas albumin (60%) dan globulin (40%). Bahan pemeriksaan yang digunakan untuk pemeriksaan total protein adalah serum. Bila menggunakan bahan pemeriksaan plasma, kadar total protein akan menjadi lebih tinggi 3 5 % karena pengaruh fibrinogen dalam plasma. Cara yang paling sederhana dalam penetapan protein adalah dengan refraktometer (dipegang dengan tangan) yang menghitung protein dalam larutan berdasarkan perubahan indeks refraksi yang disebabkan oleh molekul-molekul protein dalam larutan. Indeks refraksi mudah dilakukan dan tidak memerlukan reagen lain, tetapi dapat terganggu oleh adanya hiperlipidemia, peningkatan bilirubin, atau hemolisis. Saat ini, pengukuran protein telah banyak menggunakan analyzer kimiawi otomatis. Pengukuran kadar menggunakan prinsip penyerapan (absorbance) molekul zat warna. Protein total biasanya diukur dengan reagen Biuret dan tembaga sulfat basa. Penyerapan dipantau secara spektrofotometri pada 545 nm. Albumin sering dikuantifikasi sendiri. Sedangkan globulin dihitung dari selisih kadar antara protein total dan albumin yang diukur. Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan sehingga terjadi edema. Rasio A/g merupakan perhitungan terhadap distribusi fraksi dua protein yang penting, yaitu albumin dan globulin. Nilai rujukan A/G adalah > 1.0. Nilai rasio yang tinggi dinyatakan tidak signifikan, sedangkan rasio yang rendah ditemukan pada penyakit hati dan ginjal. Perhitungan elektroforesis merupakan perhitungan yang lebih akurat dan sudah menggantikan cara perhitungan rasio A/G.

Nilai Rujukan
DEWASA : ANAK BAYI

protein total : 6.0 - 8.0 g/dl; albumin : 3.5 - 5.0 g/dl

: protein total : 6.2 - 8.0 g/dl; albumin : 4.0 - 5.8 g/dl

: protein total : 6.0 - 6.7 g/dl; albumin : 4.4 - 5.4 g/dl : protein total : 4.6 - 7.4 g/dl; albumin : 2.9 - 5.4 g/dl

NEONATUS

Masalah Klinis

Protein total : malnutrisi berkepanjangan, kelaparan, diet rendah protein, sindrom malabsorbsi, kanker gastrointestinal, kolitis ulseratif, penyakit Hodgkin, penyakit hati yang berat, gagal ginjal kronis, luka bakar yang parah, intoksikasi air. o PENINGKATAN KADAR : dehidrasi (hemokonsentrasi), muntah, diare, mieloma multipel, sindrom gawat pernapasan, sarkoidosis. Albumin o PENURUNAN KADAR : sirosis hati, gagal ginjal akut, luka bakar yang parah, malnutrisi berat, preeklampsia, gangguan ginjal, malignansi tertentu, kolitis ulseratif, enteropati kehilangan protein, malabsorbsi. Pengaruh obat : penisilin, sulfonamid, aspirin, asam askorbat. o PENINGKATAN KADAR : dehidrasi, muntah yang parah, diare berat. Pengaruh obat : heparin.
PENURUNAN KADAR o

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :


Diet tinggi lemak sebelum dilakukan pemeriksaan. Sampel darah hemolisis. http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/protein-serum.html

PERCOBAAN VIII PENENTUAN KADAR PROTEIN DENGAN METODE LOWRY A. TUJUAN

Menentukan kadar protein dalam larutan sampel dengan metode Lowry B. LANDASAN TEORI

Protein pertama-tama di pakai pada tahun 1838 yang berasal dari kata Yunani yaitu dari kata protos atau proteios yang berarti pertama atau utama. Dalam kehidupan protein mempnyai fungsi yang sangat penting. Semua enzim tumbuhan dan hewan adalah protein. Protein bersamasama dengan lipida dan tulang membentuk kerangka tubuh binatang. Ia juga membentuk otot , anti body dan hormon. Protei juga merupakan komponen penting dalam sel hewan atau manusia. Oleh karena sel itu adalah komponen dasar penyusun tubuh makhluk hidup maka protein yang ada dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Di dalam protein menurut Anna Poedjiadi (2006:82) mengandung unsur kimia seperti; karbon 50%, hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%, belerang 0-3%, dan fosfor 0-3%. Protein akan menghasilkan asam amino. Asam amino ini terikat satu sama lainnya oleh ikatan peptida. Ditinjau dari strukturnya, protein dapat dibagi dua yakni golongan protein sederhana dan golongan protein gabungan. Protein sederhana ialah protein yang hanya terdiri atas molekulmolekul asam amino. Sedangkan protein gabungan adalah protein yang terdiri atas protein dan bukan gugus bukan protein. Menurut Anna Poedjiadi (2006: 109) bahwa protein merupakan suatu polipeptida yang mempunyai bobot molekul yang sangat bervariasi, dari 5000 hingga lebih dari satu juta. Berbagai macam protein memiliki sifat yang berbeda-beda, ada yang mudah larut dalam air, ada juga yang sukar larut dalam air. Selanjutnya dikatakan bahwa ada empat tingkat struktur dasar protein, yaitu struktur primer, sekunder, tersier, dan kuarterner. Struktur primer menunjukkan jumlah, jenis dan urutan asam amino dalam molekul protein. Karena ikatan antar asam amini adalah ikatan peptide, maka struktur primer protein juga menunjukkan ikatan peptide yang urtutannya diketahui.

Untuk mengetahui jumlah, jenis, dan urutan asam amino dalam protein dilakukan analisis yang terdiri dari beberapa tahap yaitu : 1. Penentuan jumlah rantai polipeptida yang berdiri sendiri. 2. Pemecahan ikatan antara rantai polipeptida tersebut.

3. Pemecahan masing-masing rantai polipeptida, dan 4. Analisis urutan asam amino pada rantai polipeptida. Ditinjau dari strukturnya, protein dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan protein sederhana dan protein gabungan. Protein sederhana adalah protein yang hanya terdiri dari molekul-molekul asam amino, sedangkan protein gabungan adalah protein yang terdiri dari protein dan gugus bukan protein. Gugus ini disebut gugus prostetik dan terdiri dari karbohidrat, lipid,, atau asam nukleat. Protein sederhana dapat dibagi dalam dua bagian menurut bentuk ,olekulnya, yaitu protein fiber dan protein globular. Protein fiber mempunyai bentuk molekul panjang seperti serat atau serabut, sedangkan protein globular berbentuk bulat. Menurut Anna Poedjiadi (2006: 109) bahwa protein merupakan suatu polipeptida yang mempunyai bobot molekul yang sangat bervariasi, dari 5000 hingga lebih dari satu juta. Berbagai macam protein memiliki sifat yang berbeda-beda, ada yang mudah larut dalam air, ada juga yang sukar larut dalam air. Selanjutnya dikatakan bahwa ada empat tingkat struktur dasar protein, yaitu struktur primer, sekunder, tersier, dan kuarterner. Struktur primer menunjukkan jumlah, jenis dan urutan asam amino dalam molekul protein. Karena ikatan antar asam amini adalah ikatan peptide, maka struktur primer protein juga menunjukkan ikatan peptide yang urtutannya diketahui. Untuk mengetahui jumlah, jenis, dan urutan asam amino dalam protein dilakukan analisis yang terdiri dari beberapa tahap yaitu : 5. Penentuan jumlah rantai polipeptida yang berdiri sendiri. 6. Pemecahan ikatan antara rantai polipeptida tersebut. 7. Pemecahan masing-masing rantai polipeptida, dan 8. Analisis urutan asam amino pada rantai polipeptida. Ditinjau dari strukturnya, protein dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan protein sederhana dan protein gabungan. Protein sederhana adalah protein yang hanya terdiri dari molekul-molekul asam amino, sedangkan protein gabungan adalah protein yang terdiri dari protein dan gugus bukan protein. Gugus ini disebut gugus prostetik dan terdiri dari karbohidrat, lipid,, atau asam nukleat. Protein sederhana dapat dibagi dalam dua bagian menurut bentuk ,olekulnya, yaitu protein fiber dan protein globular. Protein fiber mempunyai bentuk molekul panjang seperti serat atau serabut, sedangkan protein globular berbentuk bulat. Berdasarkan sifat fisika-kimiawinya maka protein dapat dibagi dalam beberapa kelompok yakni: 1. Albumin: protein yang larut dalam air 2. Globulin: protein yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam larutan garam encer 3. Prolamin: protein yang larut dalam etanol 70-80%, tak larut dalam air, larutan garam ataupun etanol murni

4. Glutelin: protein yang tak larut dalam air, larutan garam atau etanol, tetapi dapat larut dalam larutan alkalis atau asam encer 5. Scleroprotein: proten yang tak larut dalam air, larutan garam encer dan solven organik 6. Protamin dan histone: protein yang bersifat alkalis, larutan dalam air dan larutan garam (Sudarmaji, Bambang, & Suhardi: 126) Dalam penenentuan kadar protein dapat digunakan dengan metode Lowry. Protei dengan asam fosfotungsat-fosfomolibdad pada suasana alkalis akan memberikan warna biru yang intensitasnya bergantung pada konsentrasi protein yang ditera. Konsentrasi protein diukur berdasarkan optikal density pada panjang gelombang 600 nm. Untuk mengetahui banyaknya protein dalam larutan, terlebih dahulu dibuat kurva standar yang melukiskan hubungan antara konsentrasi dan optical dencity (OD). Biasanya digunakan serum albumin. Larutan Lowry ada dua macam yaitu larutan A yang terdiri dari fosfotungstat-fosfomolibdad (1:1) dan larutan Lowry B yang terdiri dari Na-carbonat 2% dalam NaOH 0,1 N, kupri sulfat dan Na-K-tartat 2%. Cara penentuannya seperti berikut: 1 ml larutan protein ditambah 5 ml Lowry B, digojong dan dibiarkan selama 10 menit. Kemudian ditambah 0,5 ml Lowry A digojong dan dibiarkan 20 menit. Selanjutnya diamati OD-nya pada panjang gelombang 600 nm. Cara Lowry 10-20 kali lebih sensitif daripada cara UV atau cara biuret.

C.

ALAT DAN BAHAN

Alat dan bahan yang digunakan pada kegiatan ini antara lain: Alat : Gelas beker, Pengaduk, Pipet ukur, Pipet mikro, Tabung reaksi, Spektrofotometer, Vortex mixer Bahan : Reagen A: Na2CO3, Larutan serum albumin Reagen B: CuSO4.5H2O Reagen C: campuran reagen A dan B Reagen E: Folin Ciocalteu

D.

PROSEDUR KERJA Prosedur kerja dalam kegiatan ini adalah berikut:

Mengambil Regen A dan Reagen B

Mencampur reagen A dan B dalam 2 tabung reaksi (C)

Mengambil larutan Albumin dengan konsentrasi masing-masing 0,2 mg, 0,4 mg, 0,6 mg, 0,8 mg dan 1 mg. Memasukan folin 0,5 ml dalam albumin dan sampel

Dengan albumin Warnanya ungu kehijau-hijauan

Diamati konsentrasinya pada UV

Warna ungu bening Untuk menentukan kadar proteinnya maka dibuat kurva dari larutan protein standar (albumin)

E.

PERHITUNGAN Diketahui :

c1 = 1, c2 = 0,2

v2 = 5 v1 = ?

c1 = 1,

v2 = 5

c2 = 0,4, v1 = ? v1 c1 = v2 c2 v1x1 = 50,4 v1x1 = 2 v1 = 2 ml

v1 c1 = v2 c2 v1x1 = 50,2 v1x1 = 1 v1 = 1 ml

c1 = 1,

v2 = 5

c1 = 1, c2 = 0,8

v2 = 5 v1 = ?

c2 = 0,6 v1 = ? v1 c1 = v2 c2 v1x1 = 50,6 v1x1 = 3 v1 = 3 ml

v1 c1 = v2 c2 v1x1 = 50,8 v1x1 = 4 v1 = 4 ml

c1 = 1,

v2 = 5

c2 = 1.0 v1 = ? v1 c1 = v2 c2 v1x1 = 51.0 v1x1 = 5 v1 = 5 ml

F. PEMBAHASAN

Percobaan ini merupakan kegiatan untuk menentukan kadar protein dalam larutan sampel. Kegiatan dimulai dari membuat larutan protein standar. Larutan yang digunakan adalah larutan albumin. Larutan tersebut dimasukan dalam 5 tabung reaksi dengan volume 0,2 ml, 0,4 ml, 0,6 ml, 0,8 ml, dan 1 ml. Selain larutan protein standar digunakan pula sampel A dan sampel B. Kedua sampel ini tidak diketahui jenisnya. Kedua perlakuan tersebut (protein standar dan sampel A B) sama-sama diberikan FolinCiocalteau. Dengan pemberin folin pada masing-masing perlakuan maka terjadi perubahan warna (bereaksi) pada larutan. Semula tak berwarna (bening) berubah menjadi ungu kehijau-hiajauan. Namun setelah didiamkan selama 15 menit larutan benar-benar berwarna ungu bening. Setelah 15 menit maka kedua perlakuan (protein standar dan sampel A B) diamati di bawah sinar UV. Panjang gelombang sinar yang digunakana adalah 750 nm. Pengamatan pada UV adalah untuk mengetahui konsentrasi dari larutan-larutan tersebut. Dari hasil pengamatan diperoleh konsentrasi larutan sebagai berikut: LARUTAN Albumin 0,2 ml Albumin 0,4 ml Albumin 0,6 ml Albumin 0,8 ml Albumin 1 ml Sampel A 1 ml Sampel B 1 ml KONSENTRASI 0,697 nm 1,110 nm 1,375 nm 1,642 nm 1,820 nm 1,240 nm 1,286 nm

Dengan demikian diperoleh grafik berikut Larutan B1 A1 A max 1 0.8 0.6 0.4 0.2

0,697nm 1,110nm 1,375nm 1,642nm 1,820nm 1,240nm 1,286nm max

G.

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan dan analisis data di atas dapat di simpulkan bahwa : 1. Penentuan kadar protein dalam larutan sampel dilakukan dengan membuat larutan protein standar dengan menggunakan larutan elbumin. 2. Perubahan warna pada larutan sampel dan protein standar setelah diberikan perlakuan dapat di amati dengan sinar UV pada panjang gelombang 750 nm dan di peroleh hasil adalah seperti pada tabel hasil pembahasan dan di gambarkan pada grafik larutan terhadap konsentrasi di atas.

H. 1.

JAWABAN PERTANYAAN Apakah fungsi dari reagen C dan E ?

Jawab : Fungsi dari Reagen C dan E untuk membentuk warna pada larutan, namun sebaiknya digunakan dalam keadaan segar karena ada pengaruh intensitas. 2. Mengapa anda memerlukan kurva standar untuk menentukan kadar protein dalam sampel?

Jawab : Kurva standar diperlukan untuk menyatakan hubungan antara konsentrasi larutan dengan panjang gelombang warna. 3. Mengapa serum albumin digunakan sebagai larutan standar?

Jawab : albumin di gunakan sebagai larutan standar Karena albumin memiliki kemiripan dengan protein.

Protein adalah makromulekul polipetida yang tersusun dari sejumlah L. asam -amino yang dihubungkan oleh ikatan peptide; memilki bobot molekul tinggi. Larutan tembaga basa akan bereaksi dengan dengan komponen yang mengandung satua atau lebih ikatan peptide. Hasilnya berupa senyawa kompleks yang berwarna ungu (violet). Intensitas warna yang terjadi tersebut merupakan ukuran jumlah ikatan peptida di dalam protein. Secara kimiawi, protein adalah heterobiopolimer yang terdiri atas satuan-satuan monomer yang disebut asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Suatu protein dapat mengendap atau terkoagulasi oleh beberapa senyawa seperti laruatan asam, basa, garam, dan pelarut organik. Endapan yang terbebntuk belum tentu mengalami denaturasi. Ada beberapa gara yang dapat memperkecil kelaruatan seperti (NH4)2SO4 jenuh, ada pua garam yang dapat mendenaturasi protein seperti garam-garam logam berat, sepeti Pb-Asetat. Denaturasi adalah rusaknya struktur protein yang larut, sehingga menjadi tidak larut. Tujuan dari Parktikum ini adalah menentukan jumlah (kadar) dari protein menggunakakan perekasi Biuret dan memperlihatakn denaturasi protein pada beberapa senyawa. METODOLOGI A. Alat dan Bahan Alat 1. Spektrofotometer 2. Kuvet 3. Tabung reaksi dan raknya 4. Penangas air Bahan 1. Larutan albumin 5 mg/mL, dibuat baru sebagai larutan stok. 2. Pereaksi Biuret 3. Larutan sampel yang akan ditetapkan kadarnya 4. larutan putih telur (1:4) 5. HCl 0,1 M 6. NaOH 0,1 M 7. Buffer asetat pH 4,7 8. Etanol 95 % 9. HgCl2 0,2 M 10. Pb asetat 0,2 M 11. (NH4)2SO4 12. Asam pikrat jenuh 13. Akuadestilata

B. Cara Kerja 1. Penetapan Jumlah Protein berdasarkan Hasil Rekasi Biuret

a. Masukkan 2 mL dan tambahkan 3 mL perekasi Biuret ke dalam tabung reaksi b. Campur merata dan tempatkan tabung dalam penangas air 370C selama 10 menit. c. Biarkan larutan di tabung menjadi dingin sebelum dilakukan pembacaan pada 540 nm. d. Buat juga larutan blanko yakni 2 mL akuadestilata ditambahkan 3 mL pereaksi Biuret dan dipanaskan di penangas air selama 10 menit. e. Persiapkan laurtan standart dari larutan albumin 5 mg/mL dengan pengenceran sebagai berikut Zat Tabung ke 12345 Albumin 5 mg/mL 1 mL 2 mL 3 mL 4 mL 5 mL Akudestilata 4 mL 3 mL 2 mL 1 mL 0 mL Jumlah 5 mL 5 mL 5 mL 5 mL 5 mL f. Homogenkan, kemudian pipet dari masing-masing tabung sebanyak 2 mL dan tempatkan pada tabung lain, selanjutnya tambahkan 3 mL pereaksi Biuret. g. Campur merata dan tempatkan tabung di penangas air 370C selama 10 menit. Kemudian larutan diangkat dan didinginkan. h. Nilai absorbannya pada 540 nm dan juga catat % transimisinya sebagai tambahan dan tentukan kadar glukosa dari sampel. 2. Denaturasi Protein a. Encerkan 1 bagian putih telur dan 4 bagian akuadestilata. Aduk perlahan-lahan hingga merata. Selanjutnya siapkan 9 buah tabung reaksi yang bersih dan kering dan ikuti prosedur sebagai berikut, Zat Tabung ke 123456789 Putih telur (mL) 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 HCl (mL) 0,5 - - - - - - - NaOH (mL) - 0,5 - - - - - - Buffer 4,7 (mL) - - 0,5 - - - - - Etanol 95 % (mL) - - - 2,5 - - - - HgCl2 (tetes) - - - - 5 - - - Pb asetat (tetes) - - - - - 5 - - (NH4)2SO4 jenuh (mL) - - - - - - 2 - Asam pikrat jenuh (tetes) - - - - - - - 5 Akuadestilata (mL) - - - - - - - - 1

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penetapan Jumlah Protein berdasarkan Hasil Rekasi Biuret Hasil dari percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut: Tabung Konsentrasi (mg/mL) Nilai Absorban (A) % Transmisi (T) 1 1 0,1 80 2 2 0,22 60 3 3 0,32 48 4 4 0,42 38 5 5 0,52 31

Sampel 3,61 0,38 42 Pada percobaan ini, menggunakan protein albumin baru, sebab protein capat mengalami kerusakan struktur (basi). Untuk mempercepat reaksi, reaksi dilakukan pada suhu 370C . pada percobaan ini terjadi reaksi albumin dengan perekasi biuret memmebntuk senyawa kompleks yang berwarna ungu. Berikut reaksi yang terjadi; ikatan peptide pada protein berekasi dengan Cu2+ dalam alkalinitas untuk membentuk waran ungu dengan absorbance maximum 540 nm asam amino dan ion ion Cu2+ dari senyawa kompleks berwarna biru Uji ini biasanya digunakan untuk uji kuantitaif photometrical determination dari total konsentarsi protein. Intensitas dari warna yang dihasilkan merupakan proporsi dari jumlah ikatan peptide yang terdapat pada reaksi. Berdasarkan data tersebut, kadar (jumlah) protein pada larutan sampel adalah 3,61 mg/mL. Berikut grafiknya B. Denaturasi Protein Tabung ke 12345678 Hasil Pengamatan ++ _ ++ + +++ +++ _ + (Kuning) _ Keterangan (+) = Keruh (++) = keruh medium (+++) = Sanget keruh () = tidak keruh Berdasarkan hasil percobaan, setiap senyawa atau zat mempunyai kemampuan mendenaturasi yang berbeda-beda. Pen-denaturasi yang paling kuat adalah sublimat HgCl2 0,2 M dan Pb-Asetat 0,2 M. Dari saking kuatnya, denaturan tidak lagi dapat melakukan renatutasi. Hal ini tampak pada sangat keruhnya larutan pada tabung 5 dan 6 yang berisi kedua zat tersebut. Sedangkan yang paling lemah adalah pada NaOH 0,1 M dari basa kuat dan (NH4)2SO4 jenuh dari asam. Keduanya memperkecil kelarutan. Sehingga tampak tidak ada kekeruhan. Sedangakan pada zat uji lainya mengalami kekeruhan juga, tetapi tidak sekuat HgCl2 0,2 M dan Pb-Asetat 0,2 M. Karena kemampuan denaturasinya kurang kuat.

KESIMPULAN 1. Penetapan kadar protein dapat dilakukan dengan perekasi Biuret dengan pengukuran Spektrofotometer 540 nm. Kadar protein larutan sampel adalah 3,6 mg/mL 2. Denaturasi protein adalah proses hilangnya sifat alami dari protein. Dari hasil percobaan Denaturasi Protein, HgCl dan Pb-asetat sangat kuat mendenaturasi. Sedangkan NaOH, (NH4)2SO4, dan akuadestilata lemah mendenaturasi.

DAFTAR PUSTAKA Butani, D.K. 1994. Dictionary of Biology. Goyal Offset Printers. New Delhi Jalip, Ikna Suyatna. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta. Koolman, Jan et al. 2005. Color Atlas of Biochemistry. Georg Thieme Verlag. Stuttgart http://www.uni-regensburg.de/Fakultaeten/nat_Fak_IV/Organische_Chemie/ Didaktik/Keusch/D-Biuret-e.htm. Tanggal Akses 6 April 2009