Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Teknologi dalam bidang makanan dewasa ini menunjukkan pola yang semakin meningkat. Adanya peningkatan kegiatan industri makanan merupakan salah satu indikator semakin meningkatnya jumlah produk

makanan di masyarakat . Akan tetapi dikalangan konsumen masih sering terjadi keresahan mengenai produk olahan makanan tersebut terutama dalam hal penggunaan bahan tambahan makanan, sebab masalah keamanan

makanan sudah menjadi masalah setiap orang yang mengkonsumsi produk olahan makanan. Dewasa ini sering ditemukan adanya kasus penambahan bahan tambahan berbahaya ke dalam pengolahan suatu makanan yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang hanya berniat mencari keuntungan semata tanpa memperhatikan dan memperdulikan tingkat resiko bahaya bahan tambahan lain yang mereka tambahkan ke dalam makanan. Salah satu jenis makanan dan minuman yang sering diduga mengandung zat pewarna buatan yang dilarang antara lain saos tomat. Saos tomat tersebut diduga mengandung pewarna tekstil Rhodamin B. Rhodamin-B merupakan pewarna yang dipakai untuk industri cat, tekstil, dan kertas. Padahal saos tomat banyak beredar di masyarakat terutama sering dikonsumsi oleh anak-anak sebagai pelengkap pada makanan seperti bakso atau mie. Hal ini tentu saja dapat berdampak buruk bagi kesehatan mereka terutama perkembangan otak. Karena kandungan bahan tambahan berbahaya selain dapat merusak tubuh juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan sel otak bagi anak-anak. Pengaruh buruk dari adanya bahan tambahan makanan berbahaya juga berdampak bagi orang dewasa. Jika orang dewasa mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung zat tambahan berbahaya dalam jangka waktu yang cukup lama maka akan menimbulkan resiko timbulnya penyakit mematikan seperti kanker.

Suatu upaya identifikasi dan pengujian terhadap bahan makanan umum yang beredar di masyarakat penting adanya demi meyakinkan keamanan bahan makanan. Dari hasil pengujian dan pemeriksaan diharapkan dapat membantu masyarakat dan pemerintah dalam upaya monitoring keamanan bahan makanan.

1.2 Rumusan masalah : Apakah jenis zat pewarna Rhodamin B terdapat dalam sampel saos di sekolah, pasar dan terminal? 1.3 Tujuan 1. Tujuan Umum Memeriksa ada tidaknya zat pewarna Rhodamin B yang terdapat dalam sampel saos di sekolah, pasar, dan terminal. 2. Tujuan Khusus 1. Mempraktekkan cara pemgujian zat warna sintetis dalam sampel saos di sekolah, pasar dan terminal 2. Mempraktekkan cara atau prosedur pengujian zat pewarna Rhodamin B dalam sampel saos di sekolah, pasar, dan terminal. 3. Menginterpretasikan hasil pengujian zat pewarna Rhodamin B dalam sampel saos di sekolah, pasar, dan terminal.

1.4 Manfaat : 1. Bagi mahasiswa a. Mengetahui proses pengujian kandungan zat pewarna dalam makanan b. Mengetahui proses untuk membedakan zat pewarna alami dan zat pewarna buatan pada makanan

2. Bagi masyarakat a. Mengetahui kandungan zat pewarna dalam makanan pada penjual makanan dan dampaknya bagi kesehatan

b. Mengetahui dan menyadari pentingnya keamanan dari makanan yang dijual pada khususnya bagi para penjual makanan atau tersebut 3. Bagi Lingkungan a. Meningkatkan kualitas sanitasi makanan dan minuman b. Mengurangi dampak kesehatan dan lingkungan akibat

penggunaan bahan kimia dalam makanan dengan control dan kesadaran terhadap keamanan makanan 4. Bagi Pemerintah Daerah a. Sebagai bahan evaluasi dan laporan terhadap makanan serta kandungan Bahan Tambahan Makanan yang beredar di masyarakat b. Sebagai bahan masukan untuk dilaksanakannya intervensi yang sesuai terhadap permasalahan sanitasi makanan dan minuman

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Bahan Tambahan Makanan Pengertian Bahan Tambahan Makanan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 772/Menkes/Per/IX/88 No. 1168/menkes/PER/X/1999 secara umum adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan dan penyimpanan (Cahyadi, 2008). Tujuan penggunaan Bahan Tambahan Makanan adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahan makanan lebih mudah dihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan makanan. Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang diizinkan penggunaannya antara lain antioksidan, antikempal, pengatur keasaman, pemanis buatan, pemutih, pengental, pengawet, pengeras, pewarna, penyedap rasa, dan sekuesteran (Cahyadi, 2008). 2.2.Pewarna Makanan Warna merupakan salah satu aspek yang penting terhadap kualitas suatu produk makanan. Kualitas warna dianggap menunjukkan kualitas rasa dan tekstur dari suatu makanan agar makanan tersebut dapat diterima di masyarakat. Warna juga mengindikasikan bahwa telah terjadi reaksi kimia pada makanan (Deman, 1980). Menurut International Food Information Council Foundation (1994), pewarna makanan adalah zat yang digunakan untuk memberikan atau meningkatkan warna suatu produk makanan, sehingga menciptakan tampilan tertentu dan membuat produk lebih menarik. Definisi yang diberikan oleh Depkes (1999) lebih sederhana, yaitu Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan (Wijaya, 2009). Ada

lima sebab yang dapat menyebabkan suatu bahan makanan berwarna, yaitu : (Winarno, 1992) 1. Pigmen yang secara alami terdapat pada tanaman dan hewan. Misalnya klorofil berwarna hijau, karoten berwarna jingga, dan mioglobin menyebabkan warna merah pada daging. 2. Reaksi karamelisasi yang timbul bila gula dipanasknan membentuk warna cokelat. Misalnya warna cokelat pada kembang gula karamel atau roti yang dibakar. 3. Warna gelap yang timbul karena adanya reaksi Mailard, yaitu antara gugus amino protein dengan gugus karbonil gula pereduksi. Misalnya susu bubuk yang disimpan lama akan berwarna gelap. 4. Reaksi antara senyawa organik dengan udara akan menghasilkan warna hitam atau cokelat gelap. Reaksi oksidasi ini dipercepat oleh adanya logam serta enzim, mislanya warna gelap permukaan apel atau kentang yang dipotong. 5. Penambahan zat warna, baik zat warna alami maupun zat warna sintetik, yang termasuk dalam golongan bahan aditif makanan

2.2.1. Tujuan Penggunaan Pewarna Makanan Berdasarkan survey yang telah dilakuakan Walford (1980), ada beberapa tujuan penggunaan pewarna makanan, yaitu : 1. Untuk memberikan penampilan yang menarik dari produk makanan yang telah berubah warna ketika proses pembuatan. 2. Untuk memeberikan warna kepada produk makanan sesuai dengan sifat makanan tersebut. 3. Untuk menguatkan warna suatu produk makanan yang memiliki warna yang lemah. 4. Untuk memastikan keseragaman suatu bets dari sumber yang berbeda.

2.2.1. Klasifikasi Pewarna Makanan Pewarna makanan dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya, yaitu pewarna alami, identik alami, dan sintetik. Pewarna makanan yang berasal dari bahan alam disebut pewarna alami. Pewarna identik alami adalah pewarna yang dibuat melalui sintesis secara kimia, tetapi mempunyai sifat kimia yang identik dengan pewarna alami. Pewarna sintetik adalah pewarna yang dibuat melalui sintesis secara kimia (Wijaya, 2009). 1. Pewarna Alami Banyak warna cemerlang yang dipunyai oleh tanaman dan hewan dapat digunakan sebagai pewarna makanan. Beberapa pewarna alami ikut menyumbangkan nilai nutrisi, memberikan bumbu atau pemberi rasa ke bahan olahannya. Dewasa ini ada beberapa bahan pewarna alami yang digunakan untuk menggantikan pewarna sintetik. Sebagai contohnya serbuk beet menggantikan pewarna merah sintetik FD dan C No. 2. Pewarna alami juga dapat memberikan fungsi tambahan sebagai antioksidan, antimikroba, dan fungsi lainnya. Hal ini menyebabakan pertumbuhan penggunaan pewarna alami cenderung menjadi dua kali lipat bila dibandingkan dengan pewarna sintetis, terutama di negara-negara maju. Meskipun pewarna alami ini jauh lebih aman untuk dikonsumsi, akan tetapi penggunaan pewarna alami belum dapat dilakukan secara menyeluruh, sebab beberapa kendala, seperti rasa yang kurang sedap, penggumpalan pada saat penyimpanan, dan

ketidakstabilan dalam penyimpanan (Cahyadi, 2008 ; Wijaya, 2009). Pada umumnya pewarna alami rentan terhadap pH, sinar matahari, dan suhu tinggi. Pewarna alami sebaiknya disimpan pada suhu 4-8oC untuk meminimumkan pertumbuhan mikroba dan degradasi pigmen. Pewarna alami berbentuk

bubuk pada umumnya higroskopis. Beberapa sifat dari pewarna alami ditunjukkan padaTabel 1 (Wijaya, 2009).

Tabel 1. Sifat-sifat Bahan Pewarna Alami Kelompok Warna Karamel Cokelat Sumber Gula dipanaskan Antosianin Jingga,merah,biru Tanaman Air Peka terhadap panas dan pH Flavonoid Kuning Tanaman air Stabil terhadap panas Batalain Kuning,merah Tanaman air Sensitive terhadap panas Quinon Kuning-hitam Tanaman air Stabil terhadap panas Xanthon Kuning tanaman air Stabil terhadap panas Karotenoid Kuning,merah Tanaman/hewan air Stabil terhadap panas Klorofil Hijau Tanaman Lipid dan Sensitive air terhadap panas Heme Merah,cokelat Hewan air Sensitive terhadap panas Sumber : Cahyadi (2008) Kelarutan Stabilitas air Stabil

2. Pewarna Sintetis Pewarna sintetik adalah pewarna yang dibuat melalui sintesis secara kimia. Berdasarkan kelarutannya, dikenal dua macam pewarna sintetis, yaitu dyes dan lakes. Dyes adalah zat pewarna yang umunya bersifat larut dalam air, sehingga larutannya menjadi berwarna dan dapat digunakan untuk mewarnai bahan. Pelarut yang dapat digunakan selain air adalah propilen glikol, gliserin, atau alkohol. Sedangkan dalam semua jenis pelarut organik, dyes tidak dapat larut. Dyes terdapat dalam bentuk bubuk, granula, cairan, campuran warna, dan pasta. Lakes adalah zat pewarna yang dibuat melalui proses pengendapan dan absorpsi dyes pada radikal (A atau Ca) yang dilapisi dengan alumina. Lapisan alumina ini tidak larut dalam air, sehingga lakes ini tidak larut dalam air. Pada pH 3,5-9,5 stabil, dan di luar selang tersebut lapisan alumina pecah, sehingga dyes yang dikandungnya akan terlepas (Cahyadi, 2008). Zat warna yang termasuk golongan dyes telah melalui prosedur sertifikasi yang ditetapkan oleh US-FDA. Sedangkan zat pewarna lakes yang hanya terdiri dari satu warna, tidak merupakan campuran, juga harus mendapat sertifikat. Dalam certified colour terdapat spesifikasi yang mencantumkan keterangan yang penting mengenai zat pewarna tertentu, misalnya bentuk garam, kelarutan, dan residu yang terdapat didalamnya. Pada umumnya pewarna sintetis lebih stabil terhadap pH, cahaya, dan faktor lainnya selama pengolahan dan penyimpanan (Tabel 2). (Cahyadi, 2008 ; Wijaya, 2009).

Tabel 2. Kestabilan Beberapa Pewarna Sintetis Pewarna Kestabilan terhadap Cahaya Eritrosin Merah Allura Kuning FCF Hijau FCF Biru Berlian Indigotin Tartrazin Sangat baik Sangat baik Sedang Rendah Rendah Sangat rendah Baik Oksidasi Rendah Rendah Rendah Sangat rendah Sangat rendah Sangat rendah Rendah pH Sangat rendah Baik Baik Baik Baik Baik Baik

Sumber : Wijaya (2009)

Tabel 3. Pembagian Pewarna Sintetis Berdasarkan Kemudahannya Larut Dalam Air No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Pewarna Sintetis Rhodamin B Methanil Yellow Malachite Green Sunset Yellow Tartrazine Briliant Blue Carmoisine Erythrosine Fast Red E Amaran Indigo Carmine Ponceau 4R Warna Merah Kuning Hijau Kuning Kuning Biru Merah Merah Merah Merah Biru Merah Mudah Larut di air Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Sumber : Wijaya (2009) Di Indonesia,peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan pewarna yang dilarang (Tabel 4) diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 772/menkes/Per/IX/88 mengenai Bahan Tambahan Makanan (BTM)
9

Tabel 4. Pewarna Sintetik yang Diizinkan dan yang Dilarang di Indonesia Pewarna yang diizinkan Pewarna Amaran Biru Berlian Eritrosin Hijau FCF Hijau S Indigotin Ponceau 4R Kuning Kuinelin Sunset Yellow Tartrazin Carmoisin No Indeks Warna (C.I. No) 16185 42090 45340 42053 44090 73015 16255 15980 15985 19140 14720 Pewarna yang dilarang Citrus Red Ponceau 3R Ponceau SX Rhodamin B Buinea Green B Magentha Chrysoidine Butter Yellow Sudan I Methanil Yellow Auramine Oil Orange SS Oil Orange XO Oil Yellow AB Oil Yellow OB 12156 16155 14700 45170 42085 42510 11270 11020 12055 13065 41000 12100 12140 11380 11390

Sumber : SK Menteri Kesehatan RI No. 772/menkes/Per/IX/88 mengenai Bahan Tambahan Makanan (BTM)
10

2.3

Identifikasi Pewarna Sintetik Identifikasi pewarna sintetik dapat dilakukan dengan beberapa metode. Umumnya metode identifikasi yang digunakan adalah metode kromatografi maupun metode spektrofotometri,ataupun gabungan kedua metode ini. Metode yang dapat digunakan antara lain reaksi

warna,kromatografi kertas,kromatografi lapis tipis,spektrofotometri dan kromatografi cair kinerja tinggi (Cahyadi,2008:Walgord,1984:Socaciu,2008)

Cara Reaksi Warna Identifikasi pewarna sintetik dengan cara reaksi warna biasanya dilakukan sebagai identifikasi pendahuluan. Penggunaan cara reaksi kimia ini dilakukan dengan penambahan HCl pekat, H2SO4 pekat, NaOH 10%, dan NH4OH 12 %. Kemudian warna yang dihasilkan dengan penambahan pereaksi-pereaksi tersebut disesuaikan dengan tabel. Reaksi warna untuk pewarna sintetik Carmoisin, Tartrazin, Ponceau 4R, Briliant Blue, dan Sunset Yellow terdapat pada Tabel 5 (Apriyantono, 1989). Tabel 5. Perubahan Warna dengan Penambahan Pereaksi Pewarna Perubahan Warna dengan Penambahan Pereaksi HCl Pekat Carmoisin Sedikit Berubah Tartrazin Sedikit gelap Sedikit gelap Sedikit berubah Sunset Yellow Briliant Blue Ponceau 4R Kemerahan Kuning Merah Pucat Kecoklatan Kuning VioletMerah Kecoklatan Tidak berubah Tidak berubah Tidak berubah Sedikit berubah H2SO4 Violet NaoH 10% Merah NH4OH 12% Merah

Cokelat kuning Merah

Sumber : Apriyantono (1989)

11

BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Lokasi dan waktu pelaksanaan 3.1.1 Lokasi 1. Lokasi pengambilan sampel Pengambilan sampel saos tomat dilaksanakan di tiga tempat yaitu SD Muhammadiyah 18 Jl. Mulyorejo Tengah No. 5 Surabaya, Pasar Pacar Keling, dan Terminal Bratang dengan variasi pada jenis saos. Pada SD Muhammadiyah 18 sampel saos yang diambil adalah saos yang berasal dari penjual pentol di depan sekolah, untuk Pasar Pacar Keling sampel saos berasal dari saos dalam bungkus plastik yang biasa dijual secara grosir. Dan untuk sampel saos di Terminal Bratang berasal dari saos yang ada di warung makanan seperti warung mie ayam atau warung bakso. Semua sampel tersebut diambil dan disimpan dalam palastik secara terpisah dan kemudian diberi label setiap plastiknya menurut nama tempat diambilnya sampel saos. 2. Tempat Pengujian Kandungan Zat Pewarna Pengujian kandungan zat pewarna merah Rhodamin B dan Ponceau 4R dalam sampel makanan saos dilaksanakan di Laboratorium Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.

3.1.2 Waktu dan Jadwal Pelaksanaan Tanggal : 7 Maret 2012 20 Maret 2012 Tabel 6. Jadwal Pelaksanaan Jenis Kegiatan Hari/tangg al Senin, 5 Penanggung jawab

Kegiatan Seminar

Deskripsi teknis

- Melakukan presentasi Finda proposal praktikum Anesia

Maret 2012 proposal

12

praktikum Koordinas i dengan Laboran Kimia Analitik FST Unair Rabu, 7 Melaksanakan

pada seminar - Menghubungi manajemen laboratorium Unair - Mengkoordinasikan prosedur pemeriksaan laboratorium pihak Very Darmawan FST Alfreda Finda Anesia

Maret 2012 proses perijinan Laboratorium FST Unair

Pengambil Seninan Sampel Rabu, 1214 Maret 2012

Pengambilan Sampel di Sekolah, Terminal dan Pasar

- Melakukan pengambilan saos - Menyimpan dalam

Chandra sampel Mutiara Ayu sampel Faradisa dan Debi Adi

wadah

pendingin Pelaksana an Pengujian Kandunga n Zat Warna Kamis Jumat, 2223 Maret 2012 Pemeriksaan Kandungan Zat Warna Rhodamin B - Mempersiapkan sampel - Mempersiapkan dan bahan Semua anggota alat kelompok yang

dibutuhkan - Melakukan laboratorium kuantitatif - Mencatat pemeriksaan laboratorium Sabtu hasil uji

Analisis Hasil Pemeriksa an Laboratori um Pelaporan

Melakukan

- Membuat identifikasi pemeriksaan

lembar Finda hasil Anesia Alfreda

Minggu, 24 identifikasi - 25 Maret 2012 mengenai hasil pemeriksaan laboratorium

- Membangdingkan hasil antara sekolah, pasar dan terminal

Senin, 11

Penyusunan

Membuat laporan akhir

Chandra

13

Hasil Praktikum

April 2012

laporan praktikum

praktikum

Cahya, Mutiara Ayu Faradisa

Kamis, 12 April 2012

Demo dan seminar hasil

Debi Adi

3.2 Metode praktikum pengujian zat pewarna Uji zat pewarna Rhodamin B dilakukan melalui uji kualitatif saja. Uji Kualitatif adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui jenis zat pewarna sintetis yang terdapat dalam sampel melalui metode kromatografi. Sedangkan uji kuantitatif tidak dilakukan karena Rhodamin B termasuk zaat pewarna sintetis yang dilarang digunakan berapapun kadarnya. (Purba, 2009) 3.2.1 Uji Kualitatif (Kromatografi) 1. Alat a. Gelas ukur 10 ml dan 25 ml 1 buah b. Gelas kimia 100 ml 6 buah c. Chamber 1 buah (5 tabung) d. Batang pengaduk 1 buah e. Pipa Kapiler 5 buah f. Water bath (pemanas air)

2. Bahan a. Sampel saos (Pasaar, Terminal dan SD) b. Kertas kromatografi (Kertas Whatman) c. Asam Asetat 6% d. Amoniak Encer 13% e. Larutan Standar Rhodamin B f. Bulu Domba Bebas Lemak g. Larutan pengelusi campuran etanol : asam asetat glacial : air = 4 : 2 : 2,4

14

3. Prosedur Kerja a. Menyiapkan larutan pengelusi (etanol, asam asetat glacial dan air) lalu dijenuhkan

chamber

Gambar 1. Penyiapan Alat dan Bahan. b. Menggunting kertas Whatman masing-masing potong berukuran 2,5 cm x 20 cm

Gambar 2. Penyiapan kertas Whatman

15

c. Menggambar garis lurus dengan pensil pada jarak 2 cm dari ujung lebar kertas

> t = 2 cm
Gambar 3. Penandaan tempat penetesan zat warna d. Menyiapkan gelas kimia dan menimbang sampel masing-masing 5 gram

Gambar 4. Penimbangan Sampel e. Menambahkan asam asetat 6% masing-masing sampel 30 ml

Gambar 5. Penambahan asam asetat 6%

16

f. Memasukkan bulu domba yang telah dicelup ether sebelumnya (untuk menghilangkan lemak) lalu mendididihkan sampai tertinggal 20 ml atau sampai zat warna terserap oleh bulu domba

Gambar 6. Ekstraksi Zat Warna Sampel g. Bulu domba yang telah berwarna dipisahkan dari larutan dan dipindah ke gelas kimia lain kemudian menambahkan amoniak encer ke dalam setiap gelas kimia berisi bulu domba sampai 25 ml.

Gambar 7. Penambahan ammonia untuk peralutan zat warna h. Mendidihkan larutan berikut bulu domba tersebut sampai volume larutan berkurang setengahnya atau setelah zat warna di bulu domba terlarut ke amoniak.

Gambar 8. Pendidihan benang wool berwarna dalam amoniak

17

i. Menyiapkan kertas Whatman sebanyak 4 buah. j. Menyiapkan kapiler dan larutan standar Rhodamin B

Gambar 9. Larutan Standar Rhodamin B k. Menotolkan setiap larutan sampel ke kertas Whatman tepat pada garis. Mengulangi penotolan sampai zat warna terlihat jelas. Jadi terdapat 4 kertas Whatman yaitu yang ditotol Rhodamin B, Zat warna sampel saos terminal, pasar dan SD
Terminal

Pasar Sekolah

Ponceau 4R Rhodamin B

Gambar 10. Penotolan zat warna sampel dan Standar Rhodamin B pada kertas Whatman

l. Memasukkan kertas-kertas tersebut ke dalam chamber dan menunggu sampai eluen tertarik mencapai batas yang diinginkan.

18

Pasar

Ponceau 4R

Terminal

Sekolah

Rhodamin B

Gambar 11. Kertas-kertas Whatman yang telah ditotol di dalam Chamber

m. Mengamati jarak perpindahan noda zat warna dan jarak eluen kemudian hasilnya dihitung dengan rumus Rf. Rf =

Terminal

Pasar

Ponceau

Sekolah

Rhodamin B

Gambar 12. Perpindahan noda zat warna n. Membandingkan hasil perhitungan Rf antara Larutan Standar Rhodamin B dengan ketiga sampel kemudian menginterpretasikan

19

apakah ada dari ketiga sampel yang memiliki nilai Rf yang sama dengan Rf Rhodamin B (Rf zat sejenis akan memiliki Rf yang sama).

3.3. Laporan Penggunaan Dana Pengeluaran: Kegiatan Pengambilan Sampel Pengujian Laboratorium Total Rp 415.000,00 Uji kualitatif Rp 400.000,00 Rp 400.000,00 Kebutuhan Sampel Jumlah 3 Harga Rp 5.000,00 Total Rp 15.000,00

20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil pemeriksaan Hasil pemeriksaan bahan pewarna dari beberapa sampel saos yang telah dilakukan pengujian kualitatif di laboratorium dengan zat pewarna standar atau pembanding Rhodamin B adalah: A. Sampel Saos Terminal 1. Saat sampel saos dilarutkan dengan asam glacial lalu dipanaskan, zat warna terikat pada bulu domba. Adanya zat warna yang terserap bulu domba pada saat ekstraksi menunjukkan bahwa zat warna tersebut adalah zat warna sintetis. 2. Perhitungan Rf dengan hasil sebagai berikut: Rf = Rf Rhodamin B = Rf Terminal =

Jadi dapat disimpulkan bahwa zat warna tersebut bukan zat warna Rhodamin B karena perhitungan Rf menunjukkan angka yang jauh berbeda antara sampel saos terminal dengan standar Rhodamin B. B. Sampel Saos Pasar 1. Saat sampel saos dilarutkan dengan asam glacial lalu dipanaskan, zat warna terikat pada bulu domba. Adanya zat warna yang terserap bulu domba pada saat ekstraksi menunjukkan bahwa zat warna tersebut adalah zat warna sintetis. 2. Perhitungan Rf dengan hasil sebagai berikut: Rf = Rf Rhodamin B = Rf Pasar

21

Jadi dapat disimpulkan bahwa zat warna tersebut bukan zat warna Rhodamin B karena perhitungan Rf menunjukkan angka yang jauh berbeda antara sampel saos pasar dengan standar Rhodamin B.

C. Sampel Saos SD 1. Saat sampel saos dilarutkan dengan asam glacial lalu dipanaskan, zat warna terikat pada bulu domba. Adanya zat warna yang terserap bulu domba pada saat ekstraksi menunjukkan bahwa zat warna tersebut adalah zat warna sintetis. 2. Perhitungan Rf dengan hasil sebagai berikut: Rf = Rf Rhodamin B = Rf SD =

Jadi dapat disimpulkan bahwa zat warna tersebut bukan zat warna Rhodamin B karena perhitungan Rf menunjukkan angka yang jauh berbeda antara sampel saos SD dengan Standar Rhodamin B. D. Karena terdapat satu chamber yang kosong, dengan hasil praktikum yang menunjukkan bahwa zat warna tersebut bukan Rhodamin B, maka kami menambahkan 1 larutan standar lain sebagai pembanding yaitu Ponceau. Hasil menunjukkan Rf Ponceau adalah sebagai berikut: Rf Ponceau = Hasil Rf Ponceau tersebut apabila dibandingkan dengan Rf ketiga sampel tidak jauh berbeda, sehingga dapat disimpulkan bahwa zat warna yang digunakan tersebut diduga adalah Ponceau 4R. Namun karena zat warna sintetis ini tidak dilarang maka dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kadar zat pewarna dengan pemeriksaan kuantitatif.

22

Tabel 7. Pengamatan Pengujian Zat Pewarna Rhodamin B Dalam Sampel Saos Di Sekolah, Pasar, Dan Terminal N O NAMA SAMPEL KANDUNGAN RHODAMIN B ADA 1 Sampel saos A (saos dari sekolah) 2 Sampel saos B (saos dari pasar) 3 Sampel saos C (saos dari terminal) TIDAK ADA KETERANGAN

a. Rf Rhodamin B = b. Rf SD = Rf Rhodamin B Rf saos dari sekolah

a. Rf Rhodamin B = b. Rf Pasar = Rf Rhodamin B Rf saos dari pasar

a. Rf Rhodamin B = b. Rf Terminal = Rf Rhodamin B Rf saos dari terminal

23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan A. Adanya zat warna yang terserap bulu domba pada saat ekstraksi menunjukkan bahwa zat warna dari ketiga sampel saos tersebut adalah zat warna sintetis. B. Karena perhitungan Rf dari ketiga sampel saos menunjukkan angka yang jauh berbeda dengan Rf Rhodamin B, dapat disimpulkan bahwa zat warna dari ketiga sampel tersebut bukanlah Rhodamin B. C. Hasil Rf Ponceau tersebut apabila dibandingkan dengan Rf ketiga sampel tidak jauh berbeda, sehingga dapat disimpulkan bahwa zat warna yang digunakan tersebut diduga adalah Ponceau 4R. Namun karena zat warna sintetis ini tidak dilarang maka dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kadar zat pewarna dengan pemeriksaan kuantitatif.

5.2. Saran A. Hasil pemeriksaan Rhodamin B yang negative pada ketiga sampel saos dari sekolah, pasar dan terminal menunjukkan bahwa industri kecil pembuatan saos sudah tidak mempergunakan zat warna Rhodamin B yang dilarang. Maka dari itu perlu adanya monitoring berkala untuk mempertahankan kondisi tersebut. B. Perlu ada pemeriksaan lanjutan mengenai kadar Ponceau 4R yang dipergunakan dalam saos tersebut apakah kadarnya melebihi batas yang diperkenankan ataukah tidak.

24