Anda di halaman 1dari 57

2000

http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

127. Daftar isi :


Kanker 2. Editorial
4. English Summary
Dan Antioksidan Artikel
5. Terapi Kanker pada Tingkat Molekuler – Rochestry Sofyan
11. Penelitian Aktivitas Biologik Infus Benalu Teh (Scurulla atro-
purpurea Bl. Danser) terhadap Aktivitas Sistim Imun Mencit - M.
Wien Winarno, Dian Sundari, Budi Nuratmi
15. Daya Hambat Benalu Teh (Scurulla atropurpurea Bl. Danser)
terhadap Proliferasi Sel Tumor Kelenjar Susu Mencit (Mus
musculus L.) C3H – Yun Astuti Nugroho, Budi Nuratmi, Suhardi
18. Aktivitas Antimutagenik dan Antioksidan Daun Puspa (Schima
wallichii Kort.) – Didi Jauhari Purwadiwarsa, Anas Subarnas,
Cucu Hadiansyah, Supriyatna
22. Pengaruh Perasan Daun Ngokilo (Gynura procumbens Lour. Merr.)
terhadap Aktivitas Sistim Imun Mencit Putih – Djoko Hargono, M.
Wien Winarno, Ayu Werawati
30. Radikal Bebas sebagai Prediktor Aterosklerosis pada Tikus Wistar
Diabetes Melitus – Zainal Musthafa, Gatot S. Lawrence, Arifin
Seweang
32. Peran Antioksidan dalam Penghambatan Aterosklerosis pada Tikus
Wistar Diabetes Melitus – Zainal Musthafa, Gatot S. Lawrence
34. Endotelin dan Penyakit Kardiovaskuler – Muhammad Natsir Akil
37. Klasifikasi dan Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus yang Baru –
John MF Adam

41. Hubungan antara Waktu Kadaluwarsa Ampisilina dengan Daya


Hambat Pertumbuhan E. coli secara in vitro – Raharni, Sugeng
Riyanto, Koesniyo
45. Disolusi dan Penetapan Kadar Alopurinol Sediaan Generik dan
Sediaan dengan Nama Dagang – Sukmayati Alegantina, Ani
Isnawati, Kelik M. Arifin
49. Resistensi M. tuberculosis terhadap Obat Anti Tuberkulosis Bahan
Baku dan Obat Generik di Bagian Patologi Klinik Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung – Hotman Sinaga, Idaningroem Sjahid, Monang
Siahaan, Ida Parwati Santoso

54. Abstrak
56. RPPIK
Kanker merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih akan
berkembang, antara lain karena patofisiologinya yang masih belum
banyak dipahami dan penanggulangannya yang masih belum optimal.
Artikel dalam edisi ini membahas masalah kanker pada tingkat dasar
disertai dengan beberapa penelitian dasar beberapa tumbuhan obat yang
mungkin dapat bermanfaat, dengan harapan dapat ditindaklanjuti
sehingga dapat dimanfaatkan secara klinis.
Masalah antioksidan juga disinggung dalam hubungannya dengan
proses degenerasi, dalam hal ini penyakit kardiovaskuler.
Artikel yang juga dapat dibaca di sini ialah beberapa penelitian
mengenai farmakokinetik beberapa obat, dan ternyata obat generik tidak
kalah mutunya dibandingkan dengan sediaan nama dagang.
Selamat membaca

Redaksi

2 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


2000

International Standard Serial Number: 0125 – 913X

KETUA PENGARAH REDAKSI KEHORMATAN


Prof. Dr Oen L.H. MSc
– Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro – Prof. DR. Sumarmo Poorwo Soedarmo
KETUA PENYUNTING Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Staf Ahli Menteri Kesehatan,
Dr Budi Riyanto W Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta. Jakarta.
PELAKSANA
Sriwidodo WS – Prof. Dr. Sudarto Pringgoutomo – Prof. Drg. Siti Wuryan A. Prayitno
Guru Besar Ilmu Patologi Anatomi SKM, MScD, PhD.
TATA USAHA Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Bagian Periodontologi,Fakultas Kedokteran Gigi
Sigit Hardiantoro Jakarta. Universitas Indonesia, Jakarta

ALAMAT REDAKSI – Prof. DR. B. Chandra – Prof. DR. Hendro Kusnoto Drg.,Sp.Ort
Majalah Cermin Dunia Kedokteran, Gedung Guru Besar Ilmu Penyakit Saraf Laboratorium Ortodonti
Enseval, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti,
Jl. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta Surabaya. Jakarta
10510, P.O. Box 3117 Jkt. Telp. (021)4208171
– Prof. Dr. R. Budhi Darmojo – DR. Arini Setiawati
NOMOR IJIN Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Bagian Farmakologi
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Semarang. Jakarta,
Tanggal 3 Juli 1976
PENERBIT
Grup PT Kalbe Farma DEWAN REDAKSI
PENCETAK – Dr. B. Setiawan Ph.D – Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto
PT Temprint Zahir MSc.

PETUNJUK UNTUK PENULIS

Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai keterangan yang jelas. Bila terpisah dalam lembar lain, hendaknya ditandai
aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, juga hasil penelitian di bidang- untuk meng-hindari kemungkinan tertukar. Kepustakaan diberi nomor urut
bidang tersebut. sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan
Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk dalam Cummulated Index Medicus dan/atau Uniform Requirements for Man-
diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran; bila telah pernah dibahas atau uscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9).
dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan me- Contoh:
ngenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Basmajian JV, Kirby RL. Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore. London:
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan William and Wilkins, 1984; Hal 174-9.
bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading micro-
berlaku. Istilah media sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indo- organisms. Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic phy-
nesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi siology: Mechanisms of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974; 457-72.
berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin
harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Untuk memudahkan Dunia Kedokt. l990 64 : 7-10.
para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga Bila pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau
dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak mem- lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.
buat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran,
Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ Gedung Enseval, JI. Letjen Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta
folio, satu muka, dengan menyisakan cukup ruangan di kanan-kirinya, lebih 10510 P.O. Box 3117 Jakarta. Telp. 4208171/4216223
disukai bila panjangnya kira-kira 6 - 10 halaman kuarto. Nama (para) pe- Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan, akan diberitahu
ngarang ditulis lengkap, disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat secara tertulis.
bekerjanya. Tabel/skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai
sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi, diberi dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.
nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis


dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian
tempat kerja si penulis. Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 3
English Summary
THE INVESTIGATION ON ANTI- EFFECTS OF EXPIRED AMPICILLIN Hotman Sinaga, Idaningroem
MUTAGENIC AND ANTIOXIDANT PRODUCT ON THE GROWTH OF E. Sjahid, Monang Siahaan, Ida
ACTIVITY OF SCHIMA WALLICHII COLI IN VITRO Parwati Santoso
KORT. LEAVES
Raharni*, Sugeng Riyanto**,
Department of Clinical Pathology,
Didi Jauhari Purwadiwarsa, Anas Koesniyo*** Faculty of Medicine, Padjadjaran
Subarnas, Cucu Hadiansyah, * Pharmacy Research and University, Dr. Hasan Sadikin General
Supriyatna Development Centre Health Re- Hospital, Bandung, Indonesia
search and Development Cen-
Department of Pharmacy and Biology, tre, Department of Health,
Faculty of Mathematics and Physics, Jakarta, Indonesia The inappropriate treatment of
Padjadjoran University, Bandung, ** Faculty of Pharmacy, Gajah tuberculosis may result in drug re-
Indonesia Mada University, Yogyakarta sistance that is more difficult to
Indonesia treat. Proper treatment should be
An investigation on antimuta- *** Faculty of Medicine. Gajah
genic and antioxidant activity of based on susceptibility test; but this
Mada University, Yogyakarta,
the butanol fraction of Schima Indonesia
test is not easily performed and
wallichii Korth leaves has been also expensive. So it is necessary
carried out. The experiment of an The purpose of the study is to to find cheaper and easier ob-
in vivo antimutagenic activity using determine the correlation between tainable reagent and method.
a micronucleus test showed that the length of expiration date of A comparative study on the sus-
butanol fraction used orally de- ampicillin products and the poten- ceptibility test on 50 isolated of M.
creased the frequency of micro- cy to inhibit E. coli growth, com- tuberculosis using pure and gene-
nucleated polychromatic cell pared to the standard ampicillin. ric antituberculosis drugs as media
erythrocytes (MNPCE) from the Using dilution method, Minimal was carried out in the Department
bonemarrow smears of Swiss- Inhibition Concentration (MIC) and of Clinical Pathology, Faculty of
Webster male mice elevated by Minimal Bactericidal Concentra- Medicine, Padjadjaran University/
cyclophosphamide at a dose of tion (MBC) of several different Hasan Sadikin General Hospital.
50 mg/kg intraperitoneally. The expired ampicillin products This study revealed that the
butanol fraction at a dose of against E. coli are determined. result was not significantly different
300 mg/kg decreased the The results indicate that MIC (p > 0,05) and both methods
frequency of MNPCE by 10,5% and MBC of the expired ampicillins have a 100% accuracy.
while at a dose of 600 mg/kg are lower than the standard ampi- Generic antituberculosis drugs
decreased by 38,27%. cillin.The longer the expiration date can be used for the susceptibility
An in vitro antioxidant activity of ampicillin have been passed test of M. tuberculosis.
using nitroblue tetrazolium (NBT) the smaller the potential against
Cermln Dunla Kedokt. 2000; 127: 49-53
method showed that butanol frac- the growth of E. coli.
hs, is, ms, ips
tion inhibited the reduction of NBT
by superoxide generated by the Cermin Dunla Kedokt. 2000; 127: 41-4
xanthine oxidase system. The in- rh, sr, ko
hibition by butanol fraction at a
concentration of 200 µg/ml was
68,66% while at a concentration RESISTANCE OF M. TUBERCULOSIS
of 400 µg/ml was 94,37%. TO THE PURE AND THE GENERIC
The result indicated that the ANTITUBERCULOSIS DRUGS IN THE
bu-tanol fraction had antimuta- DEPARTMENT OF CLINICAL PA-
genic and antioxidant activities. THOLOGY, FACULTY OF MEDICINE
PADJADJARAN UNIVERSITY/ DR.
Cermin Dunia Kedokt. 2000; 127: 18-21 HASAN SADIKIN GENERAL HOS-
djp, as, ch, s PITAL, BANDUNG

4 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


Artikel
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Terapi Kanker
pada Tingkat Molekuler
Rochestry Sofyan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir - Batan, Jakarta

ABSTRAK

Dalam terapi kanker pada tingkat molekular, dikenal tiga kategori gen sebagai
target yaitu onkogen, gen supresor tumor dan gen yang mengatur replikasi dan repair
dari DNA. Kebanyakan kanker disebabkan oleh mutasi pada satu atau lebih dari ketiga
kategori gen tersebut. Tinjauan ini membahas masing-masing kategori gen dan aspek
biokimianya, serta menerangkan bagaimana obat anti kanker dapat diteruskan pada sel
dan bagaimana obat tersebut dapat menghentikan perkembangan sel kanker.

PENDAHULUAN ngetahuan tentang adanya gen yang mengalami mutasi,


Sel kanker merupakan the outlaw cell karena tumbuh memungkinkan para peneliti di bidang farmasi dapat me-
secara tidak teratur, melanggar semua kaidah normal, tidak rancang obat baru yang secara spesifik mampu menghambat
peduli akan kontrol dalam perbanyakan, dan menggunakan kerja gen yang mengalami mutasi. Obat semacam ini di-
agendanya sendiri. Sifat lainnya adalah mempunyai kemampu- harapkan akan dapat memulihkan sel dari keganasan menjadi
an untuk bermigrasi dari tempatnya tumbuh ke jaringan di normal kembali, atau memutuskan rantai keganasan tanpa
dekatnya dan membentuk massa pada daerah baru di dalam membahayakan sel sehat. Sekalipun kebanyakan obat tersebut
tubuh. Kanker terdiri atas sel ganas, menjadi lebih agresif dari baru dalam tahap uji awal, hasilnya memperlihatkan harapan
waktu ke waktu, dan menjadi letal apabila jaringan atau organ yang cukup menggembirakan.
yang diperlukannya untuk bertahan hidup, mengalami
gangguan. (Gambar 1).
Pada awalnya pengetahuan para ahli hanya terbatas pada
pengertian bahwa sifat yang membahayakan dari sel tumor
adalah dapat tumbuh dan menyebar secara tidak terkendali.
Khasiat suatu obat hanya dilihat dari dapat tidaknya meng-
hambat pembelahan sel, atau dengan cara menginjeksikan
senyawa kimia tersebut pada sel kanker hewan dan mengamati
terjadinya penciutan. Ternyata, beberapa senyawa yang me-
nyerang sel kanker juga dapat merusak jaringan sehat,
sehingga terjadi efek samping yang membahayakan kesehatan
penderita.
Dewasa ini, kelainan atau kerusakan secara molekular
yang mengubah sel normal menjadi sel ganas mulai jelas.
Beberapa kelainan disebabkan oleh terjadinya mutasi pada
kunci utama dari gen yang bertanggung jawab dalam Gambar 1. Pengendalian kanker pada tingkat molekular meliputi
repair dari DNA yang rusak, penghambatan dari protein
reproduksi sel. Mutasi tersebut mengubah kuantitas atau sifat kunci pertumbuhan dan meningkatkan sensitivitas tumor
protein yang dikode oleh gen pengatur tumbuh dan selanjutnya terhadap terapi konvensional seperti iradiasi (diambil dari
mengganggu fungsi pengontrol pembelahan sel. Melalui pe- pustaka 1).

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 5


Dalam terapi kanker pada tingkat molekular, dikenal tiga yang paling kritis adalah tahap awal yang disebut sebagai step
kategori gen sebagai target. Kategori pertama adalah onkogen, farnesylation. Pada tahap ini 15 atom karbon ditambahkan
yang menstimulasi perkembangan sel melalui daur sel (cell pada prekursor. Suatu enzim spesifik bernama farnesyl-
cycle) yaitu serangkaian peristiwa meliputi pembesaran sel, transferase mengkatalisis reaksi tersebut.
replikasi DNA dan pembelahan sel, serta pemindahan set gen
yang lengkap pada sel anak. Kategori lain adalah gen yang
membatasi perkembangan tersebut yang disebut sebagai gen
penekan atau supresor tumor. Kategori ketiga adalah kelompok
gen yang mengatur replikasi dan repair dari DNA. Kebanyak-
an tumor disebabkan oleh terjadinya mutasi pada satu atau
lebih dari ketiga kategori gen tersebut.
Tinjauan ini membahas masing-masing kategori gen dan
aspek biokimia yang terlibat. Selain itu, akan menerangkan
bagaimana obat antikanker dapat diteruskan pada sel dan
bagaimana obat tersebut dapat menghentikan perkembangan
Gambar 2. Berawal dari protein ras yang tidak aktif (sebagai prekursor
sel kanker. yang tidak aktif). Pematangan (maturation) terjadi dalam
tiga tingkat. Sesaat setelah protein ras termodifikasi, protein
Onkogen: Mengaktifkan kanker ras dapat berinteraksi dengan protein lain dan menstimulasi
Onkogen adalah versi mutan dari gen normal, yang me- pertumbuhan sel. Obat yang dapat menghambat reaksi
farnesylation sehingga mencegah protein ras menjadi aktif
micu pertumbuhan sel. Gen pada sel normal yang dapat dapat menghentikan sel tumor membelah (diambil dari
berubah menjadi onkogen aktif akibat mutasi, disebut proto pustaka 1).
onkogen. Mutasi mampu mengubah proto onkogen menjadi
onkogen aktif. Perbedaan antara onkogen dan gen normal Salah satu strategi untuk memblok aktivitas protein ras
kadang kala tidak terlihat. Protein mutan dari mana asal adalah menginhibisi enzim sehingga modifikasi dapat dicegah.
onkogen muncul dapat berbeda hanya dengan satu asam amino Para peneliti telah mencoba berbagai inhibitor. Pada kultur sel,
tunggal dari versi yang sehat. Jadi hanya dengan satu per- inhibitor memblok maturasi dari protein ras. Uji pada hewan
ubahan tunggal telah dapat mengubah fungsi protein. percobaan juga memberikan hasil yang menggembirakan, yang
Kanker pada umumnya terjadi apabila terdapat mutasi memperlihatkan bahwa inhibitor farnesyltransferase mencegah
pada gen ras. Sekitar 20-30% dari kanker pada manusia pembentukan tumor baru oleh protein ras yang abnormal.
mengandung satu gen ras yang abnormal. Protein yang dikode Salah satu hal yang menguntungkan adalah inhibitor farnesyl-
oleh gen ras (disebut sebagai protein ras) pada umumnya transferase bekerjanya sangat spesifik. Obat ini tidak mem-
bertindak sebagai tombol penyambung di dalam rangkaian pengaruhi baik sel yang normal maupun sel yang ditrans-
isyarat atau pesan yang memerintahkan sel untuk membelah, formasi oleh onkogen lain. Dengan spesifisitas yang tinggi;
sebagai respon dari pengiriman stimulasi pada gen ras dari luar diharapkan bahwa efek sampingnya akan sangat minimal.
sel. Aktivasi terjadi pada rangkaian isyarat yang non aktif. Beberapa dari inhibitor yang diberikan dengan dosis tertentu
Dengan tidak adanya pesan dari luar sel, protein ras akan tetap telah dapat mengeliminasi preexisting atau bakal tumor. Pada
dalarn keadaan tidak aktif (dalam posisi off). Protein ras yang hewan percobaan terlihat bahwa inhibisi terjadi tanpa me-
termutasi bertindak seperti tombol penekan yang selalu dalam nyebabkan toksisitas pada sel normal.
posisi on, sehingga secara kontinu memberi informasi yang Daerah lain dari onkogen yang siap dijadikan sasaran zat
salah pada sel, yaitu menginstruksikannya untuk membelah anti kanker adalah yang mengkode enzim protein kinase.
pada saat yang tidak seharusnya membelah. Dari pengamatan Beberapa jenis kanker yang gen kinasenya mengalami mutasi
ini dapat diperkirakan bahwa senyawa yang dapat memblok ditemukan pada chronic myelogenous leukemia, kanker
aksi protein ras mutan mungkin efektif sebagai senyawa anti payudara dan kanker kandung kencing. Pada sel yang normal,
kanker (senyawa pemblok semacam ini disebut antagonis). protein kinase membantu mengatur proses-proses penting.
Masalahnya adalah bagaimana protein ras mutan dapat diin- Salah satu aktivitasnya adalah mengirim isyarat atau pesan dari
aktivasi. membran sel ke inti sel; mengawali perkembangan sel melalui
Salah satu jawaban penting adalah apabila kita dapat siklus sel, dan mengontrol berbagai fungsi metabolik dari sel.
memahami bagaimana protein ras dibuat. Di awal pembentuk- Protein kinase mengendalikan proses ini dengan cara
annya, molekul ras secara fungsional tidak aktif (immature). mengaktivasi protein lain dalam memberikan tanggapan pada
Prekursor ini harus mengalami modifikasi secara biokimiawi stimulan tertentu.
untuk menjadi mature sehingga menjadi aktif. Kemudian Kinase dapat memicu kanker melalui beberapa cara
protein ras menyerang bagian permukaan sel atau bagian luar sebagai berikut; terlalu banyak diproduksi, yang disebabkan
membran yang selanjutnya akan berinteraksi dengan protein oleh mutasi pada daerah gen pengontrol, sebagai satu ke-
selular untuk menstimulasi pertumbuhan sel. Perubahan terjadi mungkinan. Dibandingkan dengan sel normal, sel tumor sering
pada salah satu ujung dari prekursor ras, tempat enzim bekerja kali memproduksi satu atau lebih kinase dalam jumlah banyak.
dalarn suatu daerah yang disebut sebagai box CAAX. Jumlah yang terlalu banyak dapat memicu sel membelah diri
Modifikasi dapat terjadi dalam tiga tahap (Gambar 2). Tahap pada saat yang seharusnya stop. Bagian sel yang sering mem-

6 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


produksi kinase dalam jumlah berlebih pada jaringan kanker dalam setiap 40% kanker pada manusia, mutasi pada gen RB
adalah reseptor untuk faktor pertumbuhan epidermal atau menyebabkan setiap proteinnya menjadi tidak aktif. Sebagai
epidermal growth factor (EGF). Kinase dapat memberi kon- akibatnya sel membelah secara nonstop.
tribusi untuk menjadi kanker apabila strukturnya abnormal. Molekul pengatur lain yang sangat penting adalah protein
Kebanyakan sel tumor mengandung protein kinase yang p53. Sering juga disebut sebagai guardian atau pelindung dari
karena mengalami kerusakan secara struktural, maka meng- genome. Protein ini mencegah replikasi dari DNA yang rusak
alami perubahan secara permanen. Karenanya dalam melang- pada sel normal dan mendorong penghancuran sendiri dari sel
sungkan reaksi dapat menstimulasi sel untuk membelah secara yang mengandung DNA yang tidak normal. Molekul p53 yang
tidak normal. Beberapa contoh dari kinase yang bertindak tidak normal akan membiarkan sel yang mengandung DNA
secara abnormal pada kanker tertentu adalah Abl, Src dan yang rusak untuk tetap bertahan padahal seharusnya mati, atau
Siklin (cyclin dependent) kinase. melakukan replikasi padahal seharusnya berhenti. Sel yang
Terbukti bahwa satu inhibitor dari satu atau lebih kinase terganggu dan mengalami mutasi diturunkan pada keturunan-
tersebut dapat berlaku sebagai senyawa anti kanker yang nya dan selanjutnya mempunyai kesempatan untuk akumulasi
efektif. Tujuannya adalah menemukan suatu obat yang dapat dan terjadi mutasi tambahan; yang membuka peluang untuk
membedakan satu kinase dengan yang lainnya. Beberapa dari membentuk tumor yang letal. Kebanyakan tumor pada
hampir 1000 protein kinase pada sel mamalia mempunyai manusia, disebabkan oleh adanya cacat pada gen p53. Siklus
struktur yang hampir sama terutama dalam pusat aktif secara sel serta berbagai komponen yang dapat menyebabkan terjadi-
biokimia (biochemically active region). Jadi, suatu inhibitor nya kanker dapat dilihat pada Gambar 3.
dari setiap protein kinase tunggal dapat mengganggu aktivitas Strategi terapi apa yang dapat mengatasi kesalahan fungsi
yang lainnya, padahal kinase yang tidak bersangkutan sangat dari gen RB dan p53. Beberapa pendekatan umum telah
penting untuk fungsi sel normal. dipertimbangkan. Secara konseptual yang paling penting
Sekalipun adanya anggapan tersebut, beberapa tahun adalah mengganti gen yang rusak dengan yang normal (normal
terakhir ini para peneliti di bidang farmasi telah mensintesis counterpart). Mengacu kepada terapi gen, dilihat pada per-
dan menguji berbagai inhibitor kinase. Selain yang ditujukan cobaan pada kultur sel, hasilnya memberikan harapan.
pada kinasenya sendiri, juga yang dapat menyerang pada tahap Gen-gen RB dan p53 yang normal diintroduksikan pada sel
genetik (mencegah disintesisnya kinase). Sebagaimana kita tumor, dapat menghambat pertumbuhan dari sel tersebut.
ketahui, molekul m-RNA adalah kopi yang mobil (bergerak) Sekarang para peneliti sedang merancang protokol untuk uji
dari gen-gen dan secara fisik adalah template/cetakan dari klinis. Mereka berharap dapat memasukkan gen p53 yang
mana sel membentuk protein yang dikode oleh gen. Sebagai normal ke dalarn sel tumor manusia, serta secara giat mencari
contoh, adanya potongan atau snippets materi genetik anta- berbagai metode untuk memasukkan atau mengirimkan gen
gonis akan berinterfensi dengan m-RNA sel tumor dan tersebut pada sel tumor. Diduga bahwa virus yang lemah dapat
selanjutnya menghalangi pembentukan protein dalarn hal ini membawa gen yang normal dan meneruskan hanya pada sel
pembentukan kinase . tumor.Pendekatan dengan vektor virus ini masih baru dan
Inhibitor kinase bekerja sangat selektif. Temuan pada dihadapkan pada berbagai kesulitan. Tidak satupun dari vektor
tabung reaksi secara in vitro menunjukkan bahwa inhibisi pada virus tersebut yang dapat mendahului sistem imun, artinya sel
target yang diharapkan 1000 kali lebih sering daripada pada imun telah lebih dahulu membunuh virus, sebelum virus
kinase yang bukan pasangannya. Lebih penting lagi penemuan pembawa gen p53 mendapat kesempatan untuk mencapai sel
pada seluruh kultur sel, yang memperlihatkan bahwa beberapa tumor.
dari senyawa ini menginhibisi pertumbuhan dari sel kanker Menghadapi rintangan pada terapi gen, para onkolog
yang mengandung gen kinase protein yang termutasi. Terlihat mempelajari supresor tumor selain juga menggali pendekatan
pula bahwa beberapa diantaranya menghambat pertumbuhan secara tradisional. Diperlukan pengkajian tentang pengaturan
sel tomor pada hewan, suatu tanda bahwa senyawa tersebut produk gen termasuk serangkaian peristiwa berawal dari
dapat bekerja pada tubuh manusia. Diharapkan bahwa bebe- Siklus sel
rapa antagonis protein kinase dapat segera tersedia untuk
pengobatan kanker pada manusia.

Gen Supresor Tumor


Kategori kedua dari gen yang turut berperan dalam
perkembangan kanker adalah gen-gen yang bila bekerja secara
normal dapat menekan perkembangan keganasan. Beberapa
kanker timbul sebagai akibat dari hilangnya atau tidak ber-
fungsinya secara sempurna kunci protein pengatur di mana gen
ini dikode. Dua dari protein supresor adalah pRB dan p53.
Protein pRB (RB diambil dari retinoblastoma) suatu jenis
tumor yang setiap gennya disebut RB yang pertama kali
diidentifikasi, membantu mengatur siklus sel. Bentuk aktif
pRB dapat bertindak sebagai penghambat replikasi DNA. Di (a)

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 7


Reseptor faktor Hubungan dengan
pertumbuhan Pendekatan terapi
kanker
Meningkatkan 20% dari - dihambat oleh antibodi
kanker payudara atau menginhibisi fungsi
biokimia dari reseptor
Diaktivasi oleh mutasi - menginhibisi
pada 20-30% kanker pematangan dari ras
Diaktivasi oleh kromosom - inhibisi kinase atau
abnormal pada leukemia menghambat sintesis
myelogenous kronik dengan anti sense
Diaktivasi oleh mutasi - inhibisi enzim yang ber-
pada 2-5% kanker peran dalarn pathway
yang kritis
Mengalami mutasi atau - perbaikan dengan terapi
deleted pada 40% kanker gen atau menghambat
protein E 2F
Mutasi atau deleted pada - perbaikan dengan terapi
50% kanker gen atau membunuh sel
dengan adenovirus

penghancuran dirinya sendiri (Gambar 4). Kelayakan teknis


dari pendekatan ini cukup menjanjikan, akan tetapi kegunaan-
nya tidak spesifik, berlaku umum bagi berbagai jenis kanker
yang memiliki gen p53. Di beberapa laboratorium, berbagai
usaha sedang diteliti untuk menggali strategi ini.
Sel mamalia
(b)
Gen-gen Pengontrol Repair DNA
Gambar 3. Siklus sel serta berbagai komponen yang dapat menyebab-
Kategori gen ke tiga adalah yang mengontrol dan menjaga
kan terjadinya kanker antara lain adalah reseptor faktor integritas DNA, yang sering kali mengalami kerusakan pada
pertumbuhan, protein ras dan enzim-enzim kinase (b). waktu replikasi. Tanpa mekanisme ini, terjadinya perubahan
Kekacauan/ketidak teraturan pada pRB dan p53 juga dapat pada sebuah gen yang seharusnya direparasi tidak terlaksana,
memicu pertumbuhan kanker. Perubahan-perubahan ter-
sebut dapat menyebabkan siklus sel (a) menjadi tidak
maka kerusakan akan diturunkan kepada keturunan berikutnya
terkontrol (diambil dari pustaka 1). sebagai mutasi yang permanen. Sesungguhnya sel tumor sering
kali mengandung kerusakan atau cacat pada proses repair
kerusakan secara genetik di dalam sel dan kemudian
mengembangkan obat yang menghambat satu dari peristiwa
tersebut. Sebagai contoh pada jaringan sehat protein pRB
memblok aktivitas dari protein lain (bernama E2F), yang
apabila bebas akan memacu sintesis DNA. Tidak adanya
protein pRB karenanya dapat menyebabkan aktivitas E2F
menjadi tidak terkontrol dan menyebabkan pembelahan sel
menjadi tidak terkendali. Karenanya obat yang sanggup meng-
inhibisi E2F dapat menghentikan perkembangan tumor yang
disebabkan oleh peristiwa yang diawali oleh hilangnya protein
pRB.
Dewasa ini, para peneliti telah dapat mengetahui jalur
biokimia yang dikendalikan oleh gen RB, akan tetapi belum
jelas apakah hal yang sama berlaku untuk p53. Hingga
sekarang belum diketahui secara persis rantai molekular pada
peristiwa yang mengawali hilangnya gen p53. Sebagai akibat-
nya kebanyakan obat yang potensial ditujukan pada pemulihan
p53 belum dapat diidentifikasi. Harapan utama adalah inakti-
vasi protein dengan p53 menjadi kenyataan. Dari beberapa
Gambar 4. Protein p53 menginstruksikan sel untuk memusnahkan diri
penelitian secara in vitro terlihat bahwa fungsi normal dari p53 bila DNA mengalami kerusakan baik karena senyawa
dapat dipulihkan dengan molekul kecil yang apabila ditempel- polutan maupun radiasi. Bila protein p53 tidak normal,
kan pada mutan protein p53 yang tidak aktif dapat meng- tidak dapat menghentikan DNA pada proses replikasi. Cara
aktifkannya kembali. Apabila hal yang sama dapat dicapai lain adalah dengan menggunakan sel virus, dimana virus
hanya berkembang pada sel tumor atau p53 yang tidak
pada sel tumor, maka dapatlah diharapkan bahwa sel-sel ganas normal, sehingga terjadi kematian dari sel tumor (diambil
dapat berhenti tumbuh atau mati, karena salah satu fungsi dari dari pustaka 1).
p53 adalah untuk membuat sel yang tidak normal melakukan

8 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


DNA. Sebagai contoh, 10-20% dari kanker kolon pada metastasis atau menyebar ke seluruh tubuh. Obat lain diusaha-
manusia mengalami mutasi pada gen-gen yang membantu kan untuk mematikan telomerase, yaitu enzim yang dapat
repair DNA (yaitu gen MLH, MSH2, PMS1 dan PMS2). membentuk kembali ujung dari kromosom yang mengalami
Gen lain yang berpartisipasi secara tidak langsung pada replikasi, sehingga dalam keadaan seperti ini sel kanker tidak
repair DNA, pada kenyataannya mengalami mutasi pada gen sanggup untuk tetap hidup. Senyawa seperti ini adalah
ini, dan keadaan semacam ini sering terjadi. Salah satu gen TNP-470, dapat menghambat pembentukan aliran darah baru
tersebut adalah gen yang mengkode protein check point yang (angiogenesis) yang memasok makanan pada sel tumor.
memantau perkembangan sel melalui daur sel dan mencegah Sekalipun target untuk berbagai obat yang dibicarakan
tahapan berikutnya berlangsung, apabila tahap sebelumnya tadi menggambarkan kemajuan yang cukup meyakinkan dalam
tidak berjalan secara normal. Sebagai contoh apabila DNA biologi molekular tentang kanker, akan tetapi untuk sampai ke
tidak dikopi secara akurat. Salah satu check point protein yang kenyataan terapi diperlukan waktu. Terapi metode baru dengan
penting adalah ATM dan sekali lagi p53 yang berfungsi. konsep tersebut, dapat mengatasi berbagai kekurangan dari
Sel-sel tumor yang tidak mengandung baik gen ATM yang kemoterapi. Obat tersebut selain harus terlokasi pada target
normal maupun gen p53 tidak mempunyai mekanisme pe- kanker, juga harus terpenetrasi pada sel ganas dalam jumlah
ngontrol semacam ini. Setiap DNA sibuk melakukan replikasi yang memadai agar efektif. Tumor yang solid atau kompak
sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya mutasi secara dan keras sulit ditembus oleh obat, dan tidak banyak saluran
random. darah yang mengalir jauh ke saluran tumor. Di pihak lain
Seperti halnya dengan gen-gen supresor mutan tumor, beberapa obat tidak dapat secara mudah menuju sasaran tanpa
terapi gen dapat digunakan dalam mengganti gen yang hilang harus melewati pembuluh darah yang mensuplai makanan
atau gen yang mengkode repair dari DNA atau protein terkait pada jaringan tumor untuk kemudian menemukan jalan pada
yang rusak. Pendekatan yang lebih radikal adalah membiarkan jaringan kanker. Jadi jelas adanya toksisitas, efek samping dan
beberapa tumor untuk mengalami mutasi sendiri untuk mati. resistensi terhadap obat pada sel tumor.
Sel tumor yang mengalami peningkatan kecepatan mutasi Penemuan terakhir dalam berbagai bidang iptek dapat
dapat mengalami beberapa mutasi yang letal dan dapat digunakan untuk mempercepat penemuan berbagai obat baru.
menyebabkan kematian dari sel anak. Tumor dapat menyebab- Metode tersebut termasuk gen rekombinan untuk memproduk-
kan hilangnya beberapa turunan selama beberapa dari mutasi si senyawa baru antara lain menggunakan hewan yang direka-
yang diperoleh memperbanyak sel yang survive dari turunan yasa secara genetik untuk digunakan sebagai sistem model,
tumor. Akan tetapi apabila terlalu banyak sel mutan yang teknik kimia dam simulasi komputer. Sekalipun teknik ini
bergenerasi, kemungkinan tidak ada anakan sel tumor yang telah berkembang, masih diperlukan waktu sekitar sepuluh
dapat hidup. Salah satu jalan yang mendorong sel-sel kanker tahun untuk realisasinya. Pada tahun pertama, kedua dan
untuk memproduksi sel anak yang tidak survive adalah dengan ketiga diperlukan studi genetik dan biologi molekular untuk
jalan menginhibisi beberapa mekanisme check point secara dapat meyakinkan bahwa target benar-benar kritis pada
simultan. Nyatanya sel ragi yang DNA-nya dirusak dengan perkembangan kanker pada manusia. Setelah itu, penentuan
cara iradiasi dengan sinar X, mengalami kematian pada dosis screening biokimiawi untuk menemukan senyawa penting,
yang relatif tinggi. Akan tetapi apabila satu dari gen check yang memerlukan waktu satu atau dua tahun. Kemudian
point mengalami mutasi, ragi tersebut menjadi lebih sensitif pengoptimalan potensi ditinjau dari spesifitas dan farmako-
terhadap radiasi. Terbukti bahwa apabila dua atau lebih gen kinetiknya. Usaha ini dapat memakan waktu 3 – 5 tahun,
check point mengalami mutasi pada waktu bersamaan, sel karena harus melalui sintesis beberapa ratus bahkan beberapa
menjadi hipersensitif terhadap radiasi; sekalipun dosisnya ribu senyawa (obat). Pendekatan terutama ditujukan pada tiga
kecil, telah dapat membunuh sel kanker. hal yaitu keamanan, kemanjuran dan dosis yang optimal.
Berdasarkan pengamatan tersebut, para onkolog meran- Pendekatan molekular dalam terapi kanker dapat dilihat pada
cang obat yang dapat menginhibisi protein-protein check point. Tabel 1.
Obat ini ditujukan untuk dapat bekerja pada sel tumor yang
cacat pada suatu gen check point (misalnya suatu mutan p53).
Dengan beberapa cacat seperti itu, sel kanker dapat mati atau PENUTUP
paling tidak kolaps sehingga mati secara mudah pada per- Penemuan cara pengobatan melalui pendekatan-
lakuan berikutnya. Beberapa senyawa, pada pengamatan me- pendekatan tadi merupakan suatu cara yang tepat, akan tetapi
lalui kultur jaringan memperlihatkan harapan, sekalipun untuk masih memerlukan penelitian dan jalan yang cukup panjang.
uji klinis masih perlu menunggu sampai abad mendatang. Obat yang menginhibisi protein kinase mulai memasuki uji
Selain dengan cara yang melibatkan pertumbuhan sel, klinis pada awal tahun ini. Inhibitor farnesyltransferase dan
terapi molekular juga dapat ditujukan pada molekul penting beberapa inhibitor kinase lainnya akan dapat diuji coba dalam
lainnya, beberapa dari cara terapi tersebut diharapkan telah dua sampai empat tahun mendatang. Pendekatan dari terapi
dapat digunakan dalam waktu empat tahun mendatang. Se- gen adalah dengan cara menggantikan gen yang mengalami
bagai contoh adalah beberapa protein yang menjaga agar sel mutasi dengan pasangannya atau counterpart-nya yang
tetap berada di suatu tempat pada tubuh manusia. Dengan normal. Pendekatan secara molekular ini harus jelas karakteris-
pengetahuan ini, para peneliti dapat menemukan obat seperti tiknya. Sel tumor yang mengalami beberapa cacat (multiple
inhibitor protease, yang dapat mencegah sel kanker mengalami molecular defect), nampaknya tetap memberikan respon

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 9


sekalipun hanya satu dari cacat itu yang mengalami perlakuan. KEPUSTAKAAN
Karenanya pasien tidak perlu minum beberapa jenis obat 1. Oliff A, Gibbs JB., Mc Cormick, F. New molecular targets for cancer
secara simultan untuk memperoleh manfaat yang optimal. therapy. Scienti Am 1996; 275 (3) : 110-5.
Sekalipun penelitian masih terus berlangsung, nampaknya di 2. Tjahjono. Deteksi dini kanker: Peran pemeriksaan sitologik dan
masa mendatang terapi kanker akan lebih efektif dan kurang antisipasi era pasca genom. MKI 1999; 49 (7) : 278-90.
3. Szeinfeld D. At molecular level. Nuclear Active, August (1989); 50-2.
toksik, dan yang lebih penting memberikan harapan hidup dan 4. Frank LM, Teich NM. Introduction to cellular and molecular biology of
kenyamanan yang lebih pada penderita. cancer: Oxford University Press., 2nd ed, 1998.
5. Hutchinson C, Glover DM. Cell cycle control, 1st ed., Oxford University
Press., 1993.

Tabel 1. Pendekatan Secara Molekular pada Terapi Kanker

Status Kanker Molekul Target Cara Terapi


Onkogen : - Protein ras - Inhibitor farnesytransferase L-
Kelainan pada 744, 832; SCH 44342; BZA-
protein, ras atau 5B
aktivitas kinase
- Abl, reseptor EGF, - Inhibitor tirosin kinase tyrfos-
kinase Erb-B2 dan Src tins (RG 13020) lavendustins
(AG 957) quinazoline (PD
153035)
- Inhibitor antisense
- PKC-α, Raf dan siklin
dependen kinase - Inhibitor serine/threonine ki-
nase: olomousine: staulos-
porine: butirolaktone

Hilangnya gen - Gen-gen APC, AT, - Terapi gen untuk memulihkan


supresor tumor DCC, RB dan p53 supresor gen ke fungsi normal

- Pemblokkan sintesis E2F de-


ngan senyawa antisen

Mekanisme repair - Enzim mismatch - Terapi gen untuk perbaikan


DNA yang tidak repair DNA: MSH2; aktivitas enzim
normal MLH; PMSl; PMS2
- Inhibitor check point untuk
meningkatkan suseptibilitas
terhadap senyawa perusak
DNA

Tidak adanya - Telomerase - Inhibitor telomerase


penuaan sel pada sel
tumor

Angiogenesis - Faktor pertumbuhan - TNP-470; suramin


FGF, VEGF
- Reseptor integrin - Antagonis αv, β3; α vβ5
Metastase - Metaloprotease - Inhibitor protease
- Kolagenase - Inhibitor kolagenase

10 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


HASIL PENELITIAN

Penelitian Aktivitas Biologik


Infus Benalu Teh (Scurulla
atropurpurea Bl. Danser) terhadap
Aktivitas Sistim Imun Mencit
M. Wien Winarno, Dian Sundari, Budi Nuratmi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian aktivitas biologik infusum benalu teh (Scurulla


atropurpurea (BI) Danser) terhadap aktivitas sistem imun pada mencit. Bahan yang
diteliti dalam bentuk infusum dengan dosis pemberian 15 mg, 75 mg, 150 mg, dan
1500 mg/100 gram bb. Sebagai pembanding digunakan akuades.
Infus diberikan secara oral, 1 kali sehari selama 7 hari berturut-turut, setelah
imunisasi dengan sel darah merah domba. Pengamatan meliputi berat limpa dan
pengukuran konsentrasi lg G. Selain itu dilakukan penentuan LD50 menggunakan
hewan tikus putih, dengan cara Thompson-Weil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infusum benalu teh pada semua
dosis tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap berat limpa dan konsentrasi lg G
(P>0,01), tetapi pada pengamatan konsentrasi lg G setiap minggu, terlihat pola
perkembangan yang meningkat terutama pada dosis 150 mg/100 g bb. yaitu 97,0
mg/dl. Penghitungan LD50 mendapatkan nilai > 5 gram/kg bb, sehingga bahan dapat
digolongkan tidak beracun.

PENDAHULUAN album L. yang dipakai untuk mengobati tumor atau kanker.


Pada saat ini pengembangan obat anti tumor atau anti- Penelitian yang pernah dilakukan tanaman tersebut bersifat
kanker yang berasal dari tanaman banyak digalakkan, meng- imunostimulator yaitu, melalui pengaktifan sel granulosit dan
ingat bahan obat asal tanaman tersebut banyak terdapat di makrofag, yang memberi sifat anti tumor(4), mungkin benalu
Indonesia. Salah satu bahan obat asal tanaman tersebut adalah teh mempunyai sifat tersebut dengan mekanisme imuno-
Scurulla atropurpurea (BI) Danser yang biasanya dikenal stimulator yang lain yaitu meningkatkan konsentrasi lg G.
dengan nama benalu teh. Tumor atau neoplasma adalah suatu pertumbuhan jaringan
Benalu teh (Scurulla atropurpurea (BI) Danser) adalah baru yang tidak normal akibat pertumbuhan sel-sel baru yang
tumbuhan yang hidupnya menumpang pada tumbuhan teh dan terus menerus tanpa kontrol dan tidak berfungsi bagi tubuh.
menghisap makanan dari tumbuhan inang untuk kelangsungan Secara garis besar tumor dapat digolongkan menjadi 2 jenis,
hidupnya. Tanaman ini digunakan oleh sebagian masyarakat yaitu : tumor jinak (benigna) dan tumor ganas (maligna)(5,6).
yang tinggal di daerah di Indonesia sebagai obat anti tumor Sampai sekarang penyakit kanker (tumor ganas) masih
atau antikanker(1). Daun dan batang tanaman ini mengandung merupakan masalah dalam bidang kesehatan di Indonesia,
senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, triterpen, saponin dan dengan angka kematian yang terus meningkat, yaitu 1,4%
tanin(2,3). tahun 1972 menjadi 4,3% pada tahun 1986 dan 4,4% pada
Di Eropa dan Amerika ada jenis tanaman misalnya Viscum tahun 1992(7,8,9).

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 11


Ada teori yang menyatakan dalam pembentukan antigen faktor, melihat pengaruh pemberian infusum benalu terhadap
tumor invivo dilibatkan respon imun humoral maupun seluler. konsentrasi lg G, dari minggu 0 sampai minggu ke-2.
Respon antibodi terhadap tumor memerlukan bantuan efektor
imun yang lain seperti makrofag dan Natural Killer (NK). c. Cara Kerja
Sampai saat ini belum ada bukti antibodi secara sendiri dapat 1) Pembuatan infus benalu teh
menghambat perkembangan atau pertumbuhan sel tumor, Pengolahan bahan tanaman benalu teh dengan cara di-
kecuali bukti penelitian invitro terhadap beberapa jenis sel keringkan dengan sinar matahari dan dalam lemari pengering
tumor yang dapat dilisiskan oleh antibodi(10,11). dengan suhu tidak lebih dari 50° C sampai mendapatkan bobot
Imunoglobulin merupakan salah satu fraksi protein dalam yang konstan. Bahan digiling dan diayak dengan menggunakan
darah yang diproduksi sebagai reaksi terhadap berbagai rang- ayakan Mesh 48, serbuk benalu dibuat infus sesuai Farmakope
sang antigenik yang diproduksi oleh limfosit B dan berperan Indonesia(12).
dalam kekebalan humoral. Kerja sama imunoglobulin dengan 2) Pembuatan suspens antigen
sel NK terjadi karena sel NK memiliki reseptor Fc lg G. Bila Sel darah merah domba (SDMD), dipisahkan dari plasma
imunoglobulin G (lg G) mengikat antigen berupa protein pada dengan pemusingan 1500 rpm. Plasma dikeluarkan kemudian
permukaan sel tumor yang disebabkan oleh virus, lg G melapisi dilakukan pencucian dengan larutan buffer saline phosphat
permukaan sel tumor, maka terjadi tumorosida. Peran lg G (BSP) dengan pH 7,2. Pencucian dilakukan paling sedikit tiga
sangat penting karena aktivitas sel NK terhadap antigen tumor kali. Setelah pencucian selesai BSP dibuang, sehingga diper-
sangat rendah(10,11). oleh suspensi SDMD 100%. Ke dalam suspensi SDMD 100%
Tujuan penelitian ini untuk menambah dan melengkapi ditambahkan PBS dengan volume yang sama, sehingga
informasi mengenai benalu teh sebagai obat tumor atau kanker didapatkan suspensi SDMD 50% menjadi 1% dengan
yaitu dengan melihat aktivitas lg G pada mencit putih dengan penambahan BSP.
metode Uji difusi gel kuantitatif. 3) Percobaan LD50 cara Thompson-Weil(13)
Tikus diberi dosis obat dalam bentuk infus dengan sonde
BARAN DAN CARA lambung. Dosis ditentukan dari percobaan pendahuluan dan
a. Bahan dan Alat Penelitian kematian diobservasi selama 2 minggu. Pada hari terakhir
1) Bahan pengamatan, semua hewan coba didekapitasi dan dilakukan
Tanaman atau bagian tanaman yang diteliti ialah herba pemeriksaan makroskopik. Bila terdapat kelainan organ dalam,
Scurulla atropurpurea (BI.) Danser., yang dikumpulkan dari dicatat dan diperiksa secara mikroskopik.
daerah Probolinggo Jawa Timur dan telah dideterminasi, di 4) Penelitian aktivitas sistem imun
Herbarium Bogoriensis, Bogor. Lima puluh ekor mencit jantan galur C3H, dengan berat
2) Percobaan Toksisitas akut (LD50) badan 20-30 gram, dibagi secara acak menjadi 5 kelompok
• Tikus galur Sprague Dawley jenis kelamin jantan dan diperlakukan dengan sepuluh ulangan (berdasarkan rumus
betina dengan berat 150-180 gram (40 ekor). Federer). Kelompok I mendapatkan akuades dan suntikan sus-
• Natrium klorida pensi SDMD 1 % intraperitoneum; Kelompok II mendapatkan
• Akuades infus dengan dosis 15 mg/100 g dan suntikan suspensi SDMD
• Kapas steril 1 %; Kelompok III mendapatkan infus dengan dosis 75 mg/100
• Sonde lambung dan suntikan suspensi SDMD 1 %; Kelompok IV mendapatkan
3) Penelitian aktivitas sistem imun infus dengan dosis 150 mg/100 g dan suntikan suspensi SDMD
• Mencit galur C3H jenis kelamin jantan dengan berat 1%; Kelompok V mendapatkan infusum dosis 1500 mg/100 g
18-23 gram (50 ekor) dan suntikan suspensi SDMD 1 %. Bahan percobaan diberikan
secara oral setiap hari, selama 7 hari dan tiap kelompok men-
• Akuades
dapat makanan dan minuman adlibitum. Satu minggu sebelum
• Buffer Saline Phosphat
bahan obat dan suntikan SDMD diberikan, dilakukan peng-
• EDTA
ambilan darah lewat vena orbitalis, kemudian diulang peng-
• Lempeng agar imunodiffusion ambilannya 1 minggu setelah pemberian obat dan 2 minggu
• Immuno viewer setelah pemberian obat pertama. Pemisahan serum darah di-
• Micrometer pipet lakukan dengan cara disentrifus pada 3000 rpm selama 10
• Pipet tips menit. Serum yang diperoleh langsung diukur kadar imunoglo-
• Capillary tube dengan heparin bulinnya untuk penelitian(13).
• Micro tube centrifuge
• Sonde lambung d. Pengamatan
1) Pengukuran konsentrasi imunoglobulin G (lg G)
b. Rancangan Penelitian Ke dalam sumuran imunodifusi radial yang masing-masing
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan mengandung anti lg G mouse, dengan mikro pipet dimasukkan
Acak Lengkap dengan 10 pengulangan, untuk melihat peng- 5 µl serum. Pengukuran diameter presipitasi dilakukan pada
aruh pemberian infusum benalu teh terhadap berat limpa pada hari ketiga menggunakan alat immunoviewer(10).
minggu ke 2. Rancangan petak terbagi (split spot) terdiri dari 2 2) Pengamatan berat limpa

12 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


Pada akhir percobaan mencit dibius dengan menggunakan non-parametrik Krusal-Wallis dari uji statistik tersebut berat
eter, dilakukan pembedahan dari bagian inguinal sampai relatif limpa dari 5 kelompok perlakuan tidak berbeda nyata
torakal untuk mengangkat limpa, sisa cairan yang menempel (P>0,05) (Tabel 2).
pada organ dihisap dengan kertas saring. Berat limpa ditimbang
menggunakan timbangan analitik merk Sartorius. Tabel 1. Hasil pengukuran rata-rata konsentrasi 1gG (dalam mg/dl).

e. Analisis data Dosis Waktu Rata-rata


1) Analisis data toksisitas akut (LD50 dilakukan menurut Minggu 0 452,0 ± 127,32
metode Thompson-Weil dengan batas kepercayaan 95%. Dl Minggu 1 485,0 ± 87,23
2) Analisis data aktivitas sistem imun dilakukan : Minggu 2 527,7 ± 112,99
• Bila data yang didapat distribusinya normal dilakukan Minggu 0 472,7 ± 126,81
uji parametrik dengan anova 2 way(11,12). D2 Minggu 1 601,8 ± 183,25
• Bila data yang didapat distribusinya tidak normal di- Minggu 2 523,2 ± 230,65
lakukan uji dengan Friedman dan dilanjutkan dengan Minggu 0 366,7 ± 167,71
uji berganda(11,12). D3 Minggu 1 450,0 ± 117,52
Minggu 2 560,7 ± 148,01
HASIL PENELITIAN Minggu 0 435,6 ± 59,93
1) Uji toksisitas akut (LD50) D4 Minggu 1 443,8 ± 100,39
Pemberian infusum benalu teh dengan dosis tertinggi yang Minggu 2 452,2 ± 96,86
dapat diberikan pada tikus, selama 14 hari pengamatan, tidak Minggu 0 429,9 ± 120,83
menimbulkan kematian ataupun tanda-tanda intoksikasi, serta Akuades Minggu 1 507,3 ± 153,16
tidak menimbulkan perubahan tingkah laku maupun bobot Minggu 2 500,3 ± 109,26
badan. Pengamatan makroskopik tidak menunjukkan adanya
Keterangan :
penyimpangan morfologi pada organ hati, ginjal, limpa, paru D1 = Dosis infusum benalu teh 15 mg/100 g bb.
dan jantung. Dengan demikian didapatkan harga LD50 > 5 D2 = Dosis infusum benalu teh 75 mg/100 g bb.
gram/kg bb, sehingga dapat digolongkan bahan termasuk D3 = Dosis infusum benalu teh 150 mg/100 g bb.
kategori tidak beracun(14). D4 = Dosis infusum benalu teh 1500 mg/100 g bb.
Akuades = akuades 0,3 ml/10 g bb.

2) Penelitian aktivitas sistem imun


a) Pengukuran konsentrasi Imunoglobulin G (lg G)
Pemberian infus benalu teh pada semua dosis, setelah
diimunisasi dengan sel darah merah domba terlihat kenaikan
konsentrasi lg G pada setiap minggunya (Tabel 1). Perhitungan
uji normalitas dan homogenitas kadar lg G hewan perlakuan
dan kontrol memperlihatkan distribusi normal dan sebaran
yang homogen. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan per-
hitungan analisis uji parametrik anova 2 way(14).
Pada uji statistik tersebut tidak terdapat perbedaan nyata
antar dosis perlakuan (P>0,01). Bila dilihat pola perkembangan
lg G minggu ke-0,1 dan 2 terdapat perbedaan sangat nyata pada
P<0,01. Pengujian dengan regresi Poli/nominal Orthogonal
terhadap pola perkembangan lg G minggu ke-0,1, dan 2 pada
dosis 15, 75, 1500 mg/100 g bb. dan akuades umumnya mem-
punyai pola perkembangan yang sama (regresi mendatar),
namun pada dosis 150 mg/100 g bb. menunjukkan pola
perkembangan yang meningkat (regresi linier) dengan Gambar 1. Persamaan regresi hubungan pemberian infus benalu teh
persamaan garis Y = 265,13 + 97X, dengan peningkatan kon- dosis 150 mg/100 g dengan peningkatan konsentrasi lgG.
sentrasi 97,0 mg/dl (Gambar 1).

b) Berat limps PEMBAHASAN


Pengukuran berat relatif limpa (berat limpa per bobot Tanaman benalu teh (Scurulla atropurpurea (BI) Danser)
badan akhir) disajikan dalam tabel 3. Bila dilihat kelompok per secara empirik digunakan untuk mengobati penyakit tumor atau
kelompok, maka kelompok akuades menunjukkan berat relatif kanker. Aktifitasnya sebagai obat antitumor atau antikanker
limpa yang besar, yaitu 15,8 mg disusul Dosis 1, Dosis 2, Dosis mungkin secara tidak langsung yaitu rnelalui pengaktifan
4 dan Dosis 3. Pada uji homogenitas dan normalitas mem- sistem kekebalan tubuh dengan mengukur konsentrasi lgG.
perlihatkan data mempunyai distribusi tidak normal dan sebar- Pemakaian bahan sebagai obat anti tumor atau kanker me-
an yang tidak homogen. Berdasarkan hal tersebut dilakukan uji nimbulkan dugaan bahwa bahan bersifat imunostimulator yaitu

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 13


Tabel 2. Berat relatif limpa mencit pada akhir percobaan.

Ulangan
Perlakuan Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Dosis 1 0,186 0,055 0,061 0,089 0,199 0,313 0,258 0,154 0,073 0,088 147,6 14,8 ± 0,09
Dosis 2 0,082 0,500 0,209 0,278 0,970 0,940 0,570 0,580 0,075 0,081 108,1 10,8 ± 0,075
Dosis 3 0,052 0,084 0,058 0,082 0,100 0,068 0,096 0,073 0,045 0,055 71,2 7,1 ± 0,019
Dosis 4 0,151 0,075 0,070 0,069 0,137 0,070 0,248 0,052 0,090 0,055 101,7 10,1 ± 0,061
Akuades 0,056 0,064 0,089 0,060 0,205 0,148 0,061 0,051 0,043 0,022 158,4 15,8 ± 0,084

dapat meningkatkan konsentrasi lgG. Hasil pengujian pem-


berian infusum benalu teh pada semua dosis perlakuan tidak
memperlihatkan adanya peningkatan konsentrasi lgG (P>0,01),
dengan pembanding akuades, tetapi pada dosis 150 mg/100 g.
bobot badan terjadi kecenderungan peningkatan konsentrasi
KEPUSTAKAAN
lgG. Sehingga dapat dikatakan infus benalu teh pada dosis
tersebut di atas dapat dikatakan bersifat imunostimulator yaitu 1. Sudarman Mardisiswojo, Harsono Rajakmangun S. Cabe Puyang Warisan
peningkatan konsentrasi lgG. Kemungkinan diantara senyawa- Nenek Moyang. 2 Balai Pustaka Jakarta, Jakarta.
senyawa imunostimulator. Wagner (1985) secara umum 2. Chairul, dkk. Skrining Fitokimia dan Analisis Komponen Kimia ekstrak
batang Benalu Teh (Scurulla atropurpurea (Bl) Dans). Dibawakan dalam
menyebutkan golongan terpenoid, alkaloid atau polifenol mem- Seminar Nasional ke-IX. Penggalian, Pelestarian, Pengembangan dan
punyai sifat imunostimulator. Pemanfaatan Tumbuhan Obat : Secang dan Benalu. Yogyakarta, 21-22
Pengamatan terhadap berat relatif limpa, tidak terjadi September 1995.
perubahan pada berat limpa pada semua dosis perlakuan, 3. IGP. Santa. Studi Kemotaksonomi-Farmakognasi Benalu Antikanker
(Scurulla atropurpurea (B1.) Denser & Dendophtroe pentandra (L) Miq.
sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan dari pengamatan Dibawakan dalam Seminar nasional ke-IX. Penggalian, Pelestarian,
tersebut. Pengembangan den Pemanfaatan Tumbuhan Obat : Secang dan Benalu.
Yogyakarta, 21-22 September 1995.
KESIMPULAN 4. Wagner, Hildebert. Immunostimulants of Fungi and Higher Plants, 1984.
5. Achmad Tjarta, Sutisna Himawan : Kumpulan Kuliah Patologi. Bag.
Infusum benalu teh (Scurulla atropurpurea (Bl) Denser) Patologi Anatomik FK. UI.
merupakan bahan yang tidak toksik dengan LD50>5 gram/kg 6. Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Rumah Tangga, 1972.
bobot badan. 7. Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Rumah Tangga, 1986.
Pengaruhnya terhadap konsentrasi lgG tidak berbeda nyata 8. Departemen Kesehatan RI dan Biro Pusat Statistik. Survei Kesehatan
Rumah Tangga, 1992.
antar dosis perlakuan (P>0,01), tetapi pada pengamatan kon- 9. Abbas AK, Lictman AH, Pober JS. Cellular and Molecular Immunology
sentrasi lgG tiap minggu terlihat pola perkembangan yang Saunders Co. Philladelphia, 1991.
meningkat, dengan peningkatan konsentrasi 97,0 mg/dl. 11. Rott IM. Essential Immunology. Blackwell Science Publ. Oxford, 1991.
12. Departemen Kesehatan RI. Farmakope Indonesia, 1979.
UCAPAN TERIMA KASIH 13. Mohamad Sadikin dkk. Vitamin A dan Imunitas : 3. Peningkatan Titer
Ditujukan kepada Kepala Puslitbang Farmasi, Badan Litbangkes Depkes Antibodies Tikus Anti Sel Darah Merah Domba oleh Pemberian Vitamin
RI. serta seluruh staf KPPOT yang telah memberikan saran dan bantuannya A secara Oral, MKI 1995; 45 (7).
sejak perencanaan sampai selesai penelitian. 14. Sudjana. Metode Statistilk. Tarsito Bandung

Exercise the muscles well, but spare the nerves always


(Schopenhauer)

14 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


HASIL PENELITIAN

Daya Hambat Benalu Teh


(Scurulla atropurpurea Bl. Danser)
terhadap Proliferasi Sel Tumor
Kelenjar Susu Mencit
(Mus musculus L) C3 H
Yun Astuti Nugroho*, Budi Nuratmi*, Suhardi**
*Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
**Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK

Benalu teh (Scurulla atropurpurea (BL) Danser) secara tradisional digunakan


untuk pengobatan penyakit kanker. Oleh karena itu untuk konfirmasi ilmiah khasiat
benalu teh sebagai antikanker telah dilakukan penelitian daya hambat infus benalu teh
terhadap proliferasi kelenjar susu mencit C3H.
Uji daya hambat terhadap proliferasi tumor kelenjar susu mencit C3H meng-
gunakan cara Pringgoutomo (1992). Bahan berupa infus diberikan per oral dengan
dosis 25; 250; 500 dan 750 mg/100 g bb, sebagai kontrol negatif adalah akuades.
Hasil penelitian menunjukkan infus benalu teh dapat menghambat pertumbuhan
tumor kelenjar susu Mus musculus L galur C3H, dan dosis 500 mg/ 100 g bb. me-
rupakan dosis paling efektif.

Kata kunci : Tanaman obat, Anti tumor, Scurulla atropupurea (BL) Danser, benalu teh

PENDAHULUAN Gagasan ini tertuang dalam Program Departmen Kesehatan,


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun khususnya Program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan
penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang dan 10 Program Apotik Hidup(4).
tahun mendatang diperkirakan 9 juta meninggal akibat kanker. Salah satu tanaman obat yang paling dikenal masyarakat
Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terdapat 100 penderita untuk mengobati penyakit kanker adalah benalu teh dan salah
baru dari setiap 100.000 penduduk dan penyakit kanker men- satu jenis benalu teh tersebut adalah (Scurulla atropurpurea
duduki urutan ke-3 penyebab kematian sesudah penyakit (BL) Danser). Selain secara empirik dipakai masyarakat se-
jantung dan paru-paru(1,2). bagai obat kanker, benalu teh terbukti secara in vitro dapat
Pengobatan kanker pada umumnya sama, yaitu salah satu menghambat tumor crown gall dan penelitian deteksi aktivitas
atau kombinasi dari operasi, penyinaran (radioterapi), obat asparaginase dalam benalu teh dapat menghidrolisa asparagin.
pembuluh sel kanker (sitostatika), meningkatkan daya tahan Asparaginase adalah enzim katalisator yang berperan meng-
tubuh dan pengobatan dengan hormon. Hasilnya tentu ter- hidrolisa asparagin menjadi asam aspartat dan amonia. Dengan
gantung dari keadaan pasien dan jenis kanker(3). Saat ini gagas- demikian sel kanker kekurangan asparagin yang berakibat ke-
an yang tengah dikembangkan dan digalakan penggunaannya matian sel(3,5,6).
oleh pemerintah adalah upaya pengembangan tanaman obat. Kandungan kimia benalu teh antara lain alkaloid; flavo-

Dibawakan pada Seminar Sehari PERHIPBA, jakarta, 18 Februari 1999


Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 15
noid; terpenoid; saponin; tanin dan dari ekstrak metanol ter- memang telah menjadi salah satu menyebab utama kematian
idenfifikasi senyawa quercetin-7-rhamnoside; caffein; theo- usia produktif. Kanker timbul akibat pertumbuhan yang tidak
phyline(7,8). normal dari sebagian sel-sel jaringan tubuh yang berubah
Adanya data empirik dan beberapa data ilmiah maka telah menjadi sel-sel kanker dan sel-sel kanker ini suatu saat bisa
dilakukan Konfirmasi Ilmiah Keamanan dan Pemakaian Benalu menyebar ke seluruh tubuh. Walaupun penyebabnya memang
Teh (Scurulla atropurpurea (BL) Danser) Sebagai Antikanker belum dapat dipastikan tapi ada beberapa faktor penyebab yang
Pada Mus musculus L galur C3H. diduga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker, seperti
bahan karsinogenik. Pengobatan kanker pada umumnya sama,
BAHAN yaitu salah satu atau kombinasi dari operasi, penyinaran, obat
1) Bahan Percobaan pembunuh sel kanker, meningkatkan daya tahan tubuh, dan
Tanaman benalu teh diperoleh dari Magelang Jawa Tengah dengan obat tradisional baik dengan tanaman obat maupun
dan telah diidentifikasi di Herbarium Bogor. Bahan yang sudah binatang(2).
kering, dibuat serbuk, selanjutnya dibuat infus sesuai dengan
Farmakope Indonesia(9). Tabel 1. Bobot badan mencit (Mus musculus L) setelah pemberian
perlakuan selama 21 hari.
2) Hewan Percobaan
Nomor Bobot badan mencit setelah pemberian perlakuan
Penelitian menggunakan mencit (Mus musculus L) galur hewan A B C D E
C3H, jenis kelamin jantan bobot badan antara 18-25 gram ber-
1 17 23 20 20 21
asal dari Bagian patologi UI. 2 21 24 20 20 20
3 20 23 21 21 25
CARA KERJA 4 20 22 23 22 25
Transplantasi tumor dilakukan berdasarkan metoda 5 21 20 27 24 21
6 20 21 22 22 23
Pringgoutomo(10). Mencit donor dikorbankan dengan eter, 7 20 20 23 22 24
kemudian diletakkan terlentang pada alas gabus. Kulit yang 8 20 24 20 22 21
bertumor dibasahi alkohol 70% kemudian disayat dengan 9 19 23 22 24 23
gunting untuk mengeluarkan tumornya. Tumor diletakkan pada 10 19 21 24 22 22
cawan petri, kemudian jaringan tumor yang masih bagus, Juml 197 221 222 219 225
Rata-rata 19,7 ± 1,15 22,1 ± 1,4 222 ± 2,2 2 1,9 ± 1,3 22,5 ± 1,7
dipotong untuk dibuat bubur, pada bubur tumor ditambahkan
NaCl 0,85%. Bubur tumor sebanyak 0,2 ml disuntikkan secara Keterangan :
subkutan di aksila kanan mencit menggunakan jarum trokar. A. Akuades
Pengamatan pertumbuhan tumor mulai dilakukan 1 hari setelah B. Inf. Benalu teh dosis 25 mg/ 100 g bb
trasplantasi tumor. Setelah masa laten, mencit dikelompokkan C. Inf. Benalu teh dosis 250 mg/ 100 g bb
D. Inf. Benalu teh dosis 500 mg/ 100 g bb
menjadi 5 kelompok : E. Inf. Benalu teh dosis 750 mg/ 100 g bb
Kelompok I : Akuades
Kelompok II : Infus benalu teh dosis 25 mg/100 g bb Tabel 2. Masa laten dari masing-masing mencit.
Kelompok III : Infus benalu teh dosis 250 mg/100 g bb
Kelompok IV : Infus benalu teh dosis 500 mg/100 g bb Nomor Masa laten dari masing-masing mencit pada kelompok
Kelompok V : Infus benalu teh dosis 750 mg/100 g bb hewan A B C D E
Bahan diberikan per oral dengan sonde lambung selama 21 1 6 6 7 6 5
hari. Parameter yang diamati meliputi masa laten, bobot badan 2 6 7 7 6 6
dan volume tumor. 3 6 7 6 6 5
4 7 7 7 6 7
5 6 6 6 6 6
ANALISIS DATA 6 6 6 6 5 6
Untuk melihat ada/tidaknya efek infus benalu teh Scurulla 7 7 6 6 7 6
atropurpurea (BL) Danser) terhadap besar (volume) tumor 8 7 6 6 7 7
9 6 6 6 6 6
kelenjar susu mencit, data dianalisis dengan Kruskal-Wallis(11). 10 6 6 5 7 6

HASIL Keterangan :
Pengamatan bobot badan tidak menunjukkan adanya per- A. Akuades
bedaan (tabel 1). Masa laten untuk setiap mencit tidak sama B. Inf. Benalu teh dosis 25 mg/ 100 g bb
C. Inf. Benalu teh dosis 250 mg/ 100 g bb
(tabel 2). Besar (volume) tumor terlihat adanya perbedaan D. Inf. Benalu teh dosis 500 mg/ 100 g bb
antara kelompok yang diberi akuades dan kelompok yang E. Inf. Benalu (eh dosis 750 mg/ 100 g bb
diberi infus benalu teh (tabel 3).
Benalu teh (Scurulla atropurpurea (BL) Danser) oleh
PEMBAHASAN sebagian masyarakat diperdagangkan dan digunakan untuk
Di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terdapat 100 pengobatan penyakit kanker. Beberapa literatur dan hasil pe-
penderita kanker baru, dari setiap 100.000 penduduk. Kanker nelitian, benalu teh mempunyai kandungan kimia sterol triter-

16 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


penoid, flavonoid, saponin dan tanin(6,7). Pada skrining anti- KESIMPULAN DAN SARAN
kanker ekstrak kloroform benalu teh dengan menggunakan Kesimpulan :
metode Brine Shrimp Lethality Test ternyata menunjukkan Infus benalu teh dapat mengurangi pertambahan volume
hasil positif(12). tumor kelenjar susu mencit (Mus musculus L).
Bubur tumor yang ditransplantasikan pada mencit oleh Saran :
tubuh mencit resipien (inang) akan dikenali sebagai benda Oleh karena kandungan kimia dari benalu teh adalah
asing, oleh karena itu sistem imun inang akan bereaksi terhadap golongan antioksidan maka disarankan untuk melakukan pene-
pertumbuhan tumor. Sistem imun setiap individu tidak sama litian yang berhubungan dengan imunitas.
oleh karena itu setiap mencit resipien akan memberikan respon
yang berbeda.
KEPUSTAKAAN
Tabel 3. Volume tumor kelenjar susu mencit (Mus musculus L) setelah
pemberian perlakuan. 1. Soedoko R. Seminar dan Orientasi Penyakit Kanker Terpadu, Paripurna
dengan peran serta Masyarakat. Malang, 1994.
Volume tumor setelah pemberian perlakuan 2. Wijayakusuma H. Kanker. Pos Kola, Oktober, 1995.
Nomor
3. Tjokronegoro A. Etik Penelitian Obat Tradisional. Fakultas Kedokteran
hewan A B C D E UI. Jakarta, 1992.
1 5,48 10,93 3,28 5,00 7,14 4. Pratiwi DK. Daya Hambat Ekstrak Air Teh Hijau (Camelia sinensis (L)
2 8,21 13,40 32,00 3,80 4,76 Kuntze) Terhadap Proliferasi Sel Tumor Kelenjar Susu Mencit (Mus
3 9,75 20,00 9,92 9,14 5,65 musculus L) Galur C3H. Jur. Biologi. FMIPA. UI, 1994.
4 64,57 9,50 13,40 5,00 3,62 5. Fanoka. Uji Pendahuluan Efek Antitumor Ekstrak Etanol beberapa (6)
5 42,08 26,34 18,80 8,68 5,93 Tanaman Menggunakan Cakram Kentang yang Diinokulasi dengan
6 64,97 45,80 10,55 3,20 3,40 Agrobacterium Tumifaciens. Skripsi. JF FMIPA. UI, 1990.
7 59,00 13,56 11,06 2,85 7,66 6. Nuraeni U. Deteksi Aktifitas Asparaginase dalam Daun Loranthus
8 30,54 7,00 11,66 2,30 4,60 globosus Roxb. Skripsi. FF. UGM, 1990.
9 29,074 40,20 13,85 2,60 10,75 7. Pasha IB. Penelitian Pendahuluan Kandungan Benalu Teh (Scurrula
10 24,60 - 6,11 12,80 4,40 atropurpurea (BL) Danser) Simposium Penelitian Tumbuhan Obat V.
Juml 338,29 186,74 130,65 55,38 57,93 Surabaya, 1996.
Rata-rata 33,82 20,74 13,06 5,53 5,79 8. Kardono BS. Beberapa Senyawa terisolasi dari benalu Teh (Scurulla
parasitica L). Seminar POKJANAS TOI IX. Yogyakarta. 1995.
Keterangan : 9. Departemen Kesehatan RI. Farmakope Indonesia. Ed. III. Jakarta, 1979.
A. Akuades 10. Pringgoutomo S. Trasplantasi Jaringan Tumor pada Mencit. Penuntun
B. lnf. Benalu teh dosis 25 mg/ 100 g bb Praktikum Patologi Anatomi. Bagian Anatomi. FK. UI. Jakarta, 1992.
C. lnf. Benalu teh dosis 250 mg/ 100 g bb 11. Steel RGD, Toriee JH. Prinsip dan Prosedur statistik. Suatu pendekatan
D. lnf. Benalu teh dosis 500 mg/ 100 g bb biometrik. Terj dari Principles and Procedures Statistics, oleh Sumantri,
E. lnf. Benalu teh dosis 750 mg/ 100 g bb B. PT. Gramedia. Jakarta.
12. Leswara ND. Perbandingan Daya Antioksidan Beberapa Jenis Benalu
Menggunakan metoda Spektrofotometri. Seminar POKJANAS TOI. IX.
Tumor mulai berproliferasi setelah melewati masa laten, Yogyakarta, 1995.
proliferasi sel tumor diukur berdasarkan persentasi pertambah-
an volume tumor. Setelah masa laten mencit diberi infus benalu LAMPIRAN
teh secara oral setiap hari selama 21 hari. Pemberian infus Grafik hubungan antara dosis dengan pertambahan besar tumor.
benalu teh ternyata mampu menghambat proliferasi sel tumor
kelenjar susu.
Hasil uji Kruskal - Wallis data volume tumor menunjuk-
kan nilai Hc = 25,59, sedangkan H tabel = 9,48 berarti Ho
ditolak pada 0,05 dan 0,01. Berdasarkan data tersebut dapat
disimpulkan ada pengaruh bermakna infus benalu teh terhadap
proliferasi sel tumor kelenjar susu mencit galur C3H. Pada
umumnya bobot badan mencit berkurang tapi dari perhitungan
statistik terlihat bahwa kelompok mencit yang diberi infus
benalu teh ada beda nyata apabila dibanding kelompok akuades
(p=0,05). Kelompok mencit yang diberi infus benalu teh mes-
kipun mengalami penurunan bobot badan tapi penurunannya
masih lebih kecil apabila dibanding kelompok mencit yang
diberi akuades. Daya hambat infus benalu teh dimungkinkan
karena kandungan steroida, glikosida, triterpenoid dan saponin.
Namun demikian masih diperlukan penelitian lebih lanjut
sampai pada kesimpulan benalu teh memang berkhasiat sebagai
antikanker.
Gardening requires lots of water – most of it in the form
of perspiration

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 17


HASIL PENELITIAN

Aktivitas Antimutagenik
dan Antioksidan Daun Puspa
(Schima wallichii Kort.)
Didi Jauhari Purwadiwarsa*, Anas Subarnas*, Cucu Hadiansyah**, Supriyatna*
*Jurusan Farmasi, ** Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Universitas Padjadjaran, Bandung.

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian mengenai aktivitas antimutagenik dan antioksidan


fraksi butanol daun puspa (Schima wallichii Korth). Hasil pengujian aktivitas anti-
mutagenik secara in vivo dengan metode uji mikronukleus menunjukkan bahwa
pemberian fraksi butanol daun puspa secara oral mampu menurunkan frekuensi sel
eritrosit polikromatik bermikronukleus (MNPCE) dari apusan sumsum tulang paha
mencit jantan galur Swiss-Webster yang diinduksi dengan siklofosfamid dosis 50
mg/kg secara intraperitoneal. Fraksi butanol dosis 300 mg/kg mampu menurunkan
frekuensi MNPCE sebesar 10,51% sedangkan pada dosis 600 mg/kg memberikan
penurunan sebesar 38,27%.
Pada pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro dengan metode NBT, fraksi
butanol daun puspa mempunyai penghambatan reduksi NBT oleh superoksida yang
dihasilkan dari reaksi enzimatis xantin dengan bantuan xantin oksidase. Nilai peng-
hambatan reduksi NBT oleh fraksi butanol daun puspa adalah 68,66% pada konsentrasi
200 µg/ml dan 94,37% pada konsentrasi 400 µg/ml.
Dari hasil pengujian tersebut diperoleh kesimpulan fraksi butanol daun puspa
mempunyai aktivitas antimutagenik dan antioksidan.

PENDAHULUAN Banyaknya pengunaan bahan-bahan kimia untuk berbagai


Mutasi merupakan perubahan yang terjadi pada gen atau keperluan mengakibatkan peningkatan pencemaran bahan-
pada kromosom. Mutasi dapat dikaitkan dengan timbulnya bahan kimia berbahaya ke dalam lingkungan hidup. Penelitian
beragam kelainan, termasuk penyakit kanker. Selain dapat toksikologi memberikan informasi bahwa sebagian besar bahan
terjadi secara spontan, mutasi juga dapat diinduksi oleh ber- kimia yang ada bersifat mutagenik(1,4). Meskipun tubuh kita
bagai faktor seperti radiasi, senyawa kimia tertentu, dan virus. sudah dilengkapi berbagai mekanisme pertahanan terhadap
Faktor-faktor penginduksi mutasi dikenal sebagai mutagen(1,2). mutagen, peningkatan paparan terhadap bahan-bahan kimia
Salah satu indikator terjadinya mutasi adalah adanya tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya mutasi. Oleh
mikronukleus. Mikronukleus merupakan hasil mutasi dari kro- karena itu diperlukan suatu zat yang dapat mengurangi risiko
mosom utuh yang patah dan kemudian tampak sebagai nukleus terjadinya mutasi oleh mutagen(5,6).
berukuran kecil di dalam suatu sel. Mikronukleus mudah di- Dugaan keterlibatan oksigen reaktif dalam terjadinya
amati pada sel polikromatik eritrosit. Jumlah sel eritrosit mutasi terutama dalam bentuk radikal bebas akhir-akhir ini
polikromatik bermikronukleus menunjukkan tingkat kerusakan makin mendapat perhatian para peneliti. Radikal bebas merupa-
genetik dalam sistem eritropoitik suatu makhluk hidup(3). kan sebutan terhadap molekul yang mempunyai elektron yang

18 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


tidak berpasangan pada kulit terluarnya, sehingga bersifat butanol dan siklofosfamid dengan dosis yang sama. Enam jam
sangat reaktif dan dapat merusak komponen-komponen sel, ter- setelah pemberian siklofosfamid yang kedua, mencit dibunuh
masuk asam deoksiribonukleat (DNA) (7). Beberapa laporan dengan cara dislokasi leher dan dibedah untuk diambil kedua
menyebutkan bahwa suatu antioksidan, yaitu senyawa yang tulang pahanya.
dapat menetralkan radikal bebas juga mempunyai aktivitas Sumsum tulang diaspirasi dengan semprit yang berisi NaCl
antimutagenik(5,8,9). fisiologis, selanjutnya disentrifugasi pada kecepatan 1000 rpm
Upaya pencarian zat antimutagenik banyak dilakukan ter- selama sepuluh menit. Sebagian supernatan yang dihasilkan di-
hadap bahan alam, juga dari tumbuhan. Puspa (Schima buang dengan menggunakan pipet pasteur, sisanya dibuat pre-
wallichii Korth) merupakan salah satu tumbuhan tropis parat apusan pada kaca objek yang kemudian dikeringkan
Indonesia(10) dan termasuk tumbuhan pakan primata. Ekstrak selama dua hari pada suhu kamar.
metanol daun puspa dilaporkan mempunyai aktivitas anti- Preparat ini diwarnai dengan pewarna Giemsa menurut
promosi tumor dan antimutagenik(12). cara Gollapudi & Kamra (1979)(13). Dari preparat tersebut
Sebagai kelanjutan dari hasil penelitian tersebut, dalam diamati jumlah sel eritrosit polikromatik bermikronukleus
rangka usaha mengisolasi senyawa aktif antimutagenik serta (MNPCE) di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 kali,
untuk mengetahui kemungkinan adanya aktivitas antioksidan; untuk setiap 1000 sel eritrosit polikromatik (PCE). Penghitung-
maka dilakukan penelitian yang terfokus pada pengujian akti- an dilakukan oleh dua orang dan setiap kelompok perlakuan
vitas antimutagenik dan antioksidan fraksi butanol daun puspa. menggunakan lima ekor mencit.
Data dianalisis dengan analisis variansi, dan sebaran t-
BAHAN DAN METODE Student untuk menguji perbedaan antara dua rata-rata.
Hewan Percobaan
Mencit (Mus musculus) putih jantan galur Swiss-Webster Uji NBT - sistim xantin/xantin oksidase
didapat dari Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran, usia 7-9 Nitroblue Tetrazolium (NBT) dengan kit pereaksi SOD seperti
minggu, berat 22,5 - 27,5 gram, kandang plastik dengan alas yang telah dilakukan oleh Murakami dkk. (1996). Kit tersebut
sekam (4-6 ekor). Suhu ruang hewan percobaan 23-25 °C, mengandung lima pereaksi (Rl-R5). Rl mengandung buffer
kelembaban 70-85%, dan cahaya diatur dengan regulator 12 fosfat 0,1 M dengan pH 8, xantin 0,40 mmol/1 dan zat pem-
jam terang dan 12 jam gelap. Pakan mencit berupa pelet-789 bentuk warna nitroblue tetrazolium (NBT) dengan kadar 0,24
dan minuman dari air ledeng yang masing-masing diberikan mmol/l. R2 mengandung enzim xantin oksidase 0,049 unit/ml.
secara ad libitum. R3 mengandung buffer fosfat 0,1 M dengan pH 8 yang
digunakan untuk melarutkan enzim. R4 merupakan pereaksi
Bahan Kimia kontrol yang mengandung buffer fosfat 0,1 M pH 8. Sedangkap
Bahan kimia yang dipakai dalam penelitian ini adalah R5 adalah penghenti reaksi yang mengandung natrium dodesil
fraksi butanol dari ekstrak metanol daun puspa (Hutan sulfat 69 mmol/1.
Pangandaran, Ciamis), Siklofosfamid (Wako Pure Chemical Fraksi butanol dibuat sebagai larutan persediaan (LP)
Industries, Ltd. Jepang). dengan konsentrasi 16 dan 32 mg/ml. Enzim dalam R2 diencer-
Fraksi butanol pada pengujian aktivitas antimutagenik di- kan dengan R3 dengan perbandingan 1:100 (RE). Disediakan
suspensikan dengan PGA (1% b/v) dalam akuades, sedangkan empat kelompok tabung Effendorf (TI - T4) dan dilakukan
pada pengujian aktivitas antioksidan dilarutkan dalam DMSO. prosedur pengujian sebagai berikut, pada suhu di bawah 10 °C.
Siklofosfamid dilarutkan dalam larutan NaCl fisiologis. T1 (sampel) diisi 12,5 ml LP, 250 ml R1, dan 250 ml RE. 72
(blanko) diisi 12,5 ml DMSO, 250 ml R1, dan 250ml RE. T3
Ekstraksi dan Fraksinasi (sampel-blanko) diisi 12,5 ml LP, 250 ml R1, dan 250 ml R4.
Serbuk daun puspa (650 gram) diekstraksi dengan metanol T4 (blanko-blanko) diisi 12,5 ml DMSO, 250 ml R1, dan 250
(3x24 jam), dan ekstrak metanol kemudian dipartisi dengan ml R4. Keempat tabung Effendorf tersebut serta R5 diinkubasi
campuran etil asetat - air (3 : 1). Lapisan air diekstraksi dengan pada penangas air dengan suhu 37 °C selama 20 menit. Kemu-
n-butanol sehingga diperoleh lapisan air dan lapisan n-butanol. dian dilakukan pengukuran serapan cahaya dengan spektro-
Lapisan n-butanol kemudian diuapkan hingga diperoleh fraksi fotometer pada panjang gelombang 560 nm. Pengujian tersebut
butanol kering yang akan dipakai dalam pengujian. dilakukan tiga kali.
Data dinilai dengan menggunakan rumus persen peng-
Uji Mikronukleas - dengan penginduksi siklofosfamid hambatan reduksi NBT.
Pengujian aktivitas antimutagenik menggunakan metode
uji mikronukleus(3) dengan modifikasi. Perlakuan diberikan dua HASIL DAN PEMBAHASAN
kali sesuai dengan cara Ghaskadbi dkk. (5) Efek fraksi butanol daun puspa terhadap frekuensi
Mencit dipuasakan dahulu selama kurang lebih 18 jam. MNPCE
Setelah pemberian suspensi fraksi butanol secara oral (sebagai Seperti terlihat pada Tabel l atau Gambar 1, rata-rata
kontrol diberikan suspensi PGA tanpa fraksi butanol), siklo- frekuensi MNPCE permil PCE pada kontrol, fraksi butanol
fosfamid (50 mg/kg bb., i.p.) disuntikkan pada mencit 30 menit dosis 300 dan 600 mg/kg masing-masing adalah 74,2 ± 13,08;
kemudian. Setelah 24 jam mencit diberi lagi suspensi fraksi 66,4 ± 13,20; dan 45,8 ± 13,66. Dengan demikian pemberian

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 19


fraksi butanol daun puspa dosis 300 dan 600 mg/kg masing- Reaksi reaksi tersebut antara lain mengakibatkan patahan rantai
masing memberikan penurunan frekuensi MNPCE sebesar DNA yang diduga menyebabkan terjadinya patahan kromosom
10,51% dibandingkan. terhadap kontrol. Dari hasil analisis dan dapat terlihat sebagai mikronukleus. Metabolisme siklo-
statistik, dosis 600 mg/kg memberikan efek yang signifikan fosfamid juga dilaporkan menyebabkan peningkatan radikal
(p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa fraksi butanol daun anion superoksida dan hidroksil(16) yang mungkin ikut berperan
puspa dapat menghambat efek mutagenik dari siklofosfamid. dalam menginduksi pembentukan mikronukleus. Senyawa aktif
antimutagenik yang terdapat pada fraksi butanol daun puspa ini
Tabel 1. Nilai rata-rata sel eritrosit polikromatik yang mengandung belum diketahui secara pasti, diduga termasuk ke dalam se-
mikronukleus (MNPCE) untuk seluruh kelompok perlakuan.
nyawa fenolik yang mekanisme aktivitas antimutageniknya
MNPCE permil mungkin berkaitan dengan aktivitas antioksidan(12).
Perlakuan Dosis PCE MNPCE PCE
Rata-rata ± SD

Kontrol - 000 371 74,2 ± 13,08


Fraksi butanol 300 5000 332 66,4 ± 13,20
Fraksi butanol 600 5000 229 45,8 ± 13,66*

* Signifikan, dibandingkan terhadap kontrol (p<0,05)

Tabel 2. Nilai penghambatan reduksi NBT pada pengujian aktivittis


antioksidan berdasarkan serapan cahaya (A) rata-rata dari
blanko (B1), blanko-blanko (B1-B1), sampel (S), dan sampel-
blanko (S-B1) pada panjang gelombang (λ) 560 nm.

Serapan cahaya rata-rata Persentase


Konsentrasi fraksi
pada 1560 nm penghambatan
butanol (µg/ml)
AB1 AB1-B1 AS AS-B1 reduksi NBT

200 0,2840 0,1117 0,217 0,1630 68,66% Gambar 2. Grafik nilai penghambatan reduksi NBT pada pengujian
400 0,2840 0,1117 0,1647 0,1550 94,37% aktivitas antioksidan.

Efek fraksi butanol daun puspa terhadap reduksi NBT


Seperti terlihat pada Tabel 2 atau Gambar 2, fraksi
butanol daun puspa pada konsentrasi 200 dan 400 mg/ml mem-
punyai nilai persentase penghambatan reduksi NBT oleh super-
oksida dari reaksi enzimatis xantin dengan bantuan xantin
oksidase masing-masing sebesar 68,66° dan 94,37%. Hasil ini
menunjukkan bahwa fraksi butanol daun puspa mempunyai
aktivitas antioksidan seperti superoksida dismutase (SOD).

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian mikronukleus secara in vivo
dan pengujian NBT secara in vitro, diambil kesimpulan bahwa
fraksi butanol daun puspa mempunyai aktivitas antimutagenik
dan antioksidan.

KEPUSTAKAAN
Gambar 1. Grafik nilai rata-rata frekuensi sel eritrosit polikromatik ber-
mikronukleus (MNPCE) untuk seluruh kelompok perlakuan 1. Moutschen, J. Introduction to Genetic Toxicology. New York : John
pada pengujian aktivitas antimutagenik. (*Signifikan, diban- Wiley & Son; 1985.
dingkan terhadap kontrol (P<0,05) 2. Mulyadi. Kanker, Karsinogen, Karsinogenesis dan Antikanker. Edisi I.
Yogyakarta: PT. Tiara Wacana; 1996.
3. Schmid, W. The micronucleus test. Mutation Res. 1975; 31, 9-15.
4. Wild, D. Cytogenetic effects in the mouse of 17 chemical mutagens and
Menurut Czyzewska & Mazur (1995)(15) siklofosfamid carcinogens evaluated by the micronucleus test 1978; 56 : 319-27.
menginduksi pembentukan mikronukleus melalui metabolit 5. Ghaskadbi, S., Rajmachikar S, Agate C, Kapadi AH., Vaidya VG.
aktifnya yang bersifat pengalkilasi, yaitu mustard fosforamida, Modulation of cyclophosphamide mutagenicity by vitamin C in the vivo
akrolein, dan 4-hidroksisiklofosfamid. Senyawa pengalkilasi rodent micronucleus assay. Teratogenesis, Carcinog. Mutagen 1992; 12,
11-3.
tersebut dapat berikatan dengan berbagai gugus fungsi kom- 6. Kong Z, Liu Z, Ding B. Study on the antimutagenic effect of pine needle
ponen sel, termasuk terhadap basa-basa DNA. Selain itu dapat extract. Mutation Res. 1995; 347, 101-4.7.
juga terjadi peristiwa pindah silang (cross-linkung) DNA. 7. Halliwell B. Free radicals, antioxidants, and human disease : curiosity,

20 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


cause, or consequence? Lancet, 1994; 344 : 721-4 13. Gollapudi B, Kamra OP. Application of a simple Giemsa-staining method
8. Shiraki M, Hara Y, Osawa T, Kumon H, Nakayama T, Kawakishi S. in the micronucleus test. Mutation Res. 1979; 64, 45-6.
Antioxidative and antimutagenic effect of theaflavin from black tea. 14. Murakami A, Ohura S, Nakamura Y, Koshimizu K, Ohigashi H. I’-
Mutation Res. 1994; 323 ; 29-34. acetoxychawicol acetate, a superoxide anion generation inhibitor,
9. Rompelberg CJM, Stenhuis WH, de Vogel N, van Osenbruggen WA, potently inhibits tumor promotion by 12-O-tetradecanoylphorbol - 13
Schouten A, Verhagen H. Antimutagenicity of eugenol in the rodent bone -acetate in ICR mouse skin. Omcology 1996; 53 : 389-91.
marrow micromucleus test. Mutation Res. 1995; 346 : 69-75. 15. Czyzewska A, Mazur L. Supressing effect or WR-2721 on micronuclei
10. Heyne K. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Jakarta: Yayasan induced by cyclophosphamide in mice. Teratogenesis, Carcinog. Mutagen
Sarana Wana Jaya. 1987; 1367. 1995; 15 : 109-14.
11. Koshimizu K, Murakami A. Hayashi H,Ohigashi H, Subarnas A, 16. Ramu K, Perry CS, Ahmed T, Pakenham G, Kehrer JP. Studies on the
Gurmaya KJ, Ali AM. Biological activities of edible and medicinal plant basis for the toxicity of acrolein mercapturates. Toxicol. Appl.
from Indonesia and Malaysia 1998; submission,to publication. Pharmacol, 1996; 140 : 487-98.
12. Pramana N. Aktivitas Antimutagenik Ekstrak Metanol Daun Puspa 17. Wagner H, Lacaille-Dubois MA. Recent pharmacological results on
(Schima wallicihii Korth.) dan Fraksi-fraksinya dengan uji Mikronukleus bioflavonoids. In S. Antus, M. Gabor & K. Vetschera (Eds) : Flavonoids
pada Tikus Wistar. Skripsi. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas and bioflavonoids. Vienna : 9th Hungarian Bioflavonoids Symposium
Padjadjaran Bandung 1998. 1995; 53-7.

70% terumbu-karang di Indonesia rusak


40% rusak berat.
Tinggal sekitar 7% yang masih sangat bagus.
Semua karena :
- ketidak tahuan manusia dan
- kerakusan ulah manusia !

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 21


HASIL PENELITIAN

Pengaruh Perasan Daun Ngokilo


(Gynura procumbens Lour. Merr.)
terhadap Aktivitas
Sistim Imun Mencit Putih
Djoko Hargono*, M. Wien Winarno*, Ayu Werawati**
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
** Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila, Jakarta.

PENDAHULUAN mengobati tumor, penyakit hati (lever) sakit uluhati, wasir,


Indonesia kaya akan tumbuh-tumbuhan, yang berdasarkan kurap atau terkena bisa ular. Salah satu prinsip pengobatan
pengalaman telah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita sejak dengan obat alam yang tengah berkembang saat ini adalah
zaman dahulu kala untuk memenuhi keperluan hidupnya, melalui peningkatan sistem imunitas. Jika penyakit tersebut
antara lain untuk obat. Sampai saat inipun pemanfaatan adalah penyakit yang dapat dikategorikan penyakit infeksi,
tumbuhan obat sebagai obat tradisional masih dilakukan di maka sistem imun dapat membunuh penyebab penyakit
samping obat-obat modern, bahkan ada kecenderungan melalui mekanisme tidak langsung dengan peningkatan per-
meningkat (Depkes RI, 1983). Hal ini terlihat nyata sekali di tahanan seluler. Agar sistem imun tumbuh dapat melawan
daerah pedesaan, terlebih lebih daerah terpencil yang jauh dari penyebab penyakit maka aktivitas sistem imun penderita perlu
fasilitas kesehatan modern, hingga untuk memenuhi ditingkatkan.
keperluannya akan obat mereka menggunakan bahan-bahan Dalam kaitan ini telah dilakukan penelitian terhadap
nabati yang banyak terdapat di pekarangan sekeliling tempat perasan daun Ngokilo [Gynura procumbens (Lour.) Merr.]
tinggalnya, yang kemudian diramu sendiri di rumah masing- untuk mengetahui pengaruhnya terhadap sistem imunitas
masing, sehingga dengan biaya yang relatif murah keperluan mencit putih.
obat untuk pelayanan kesehatannya dapat dipenuhi. Dengan
demikian dapat membantu meringankan beban hidupnya, PERUMUSAN MASALAH
karena pemanfaatan tumbuhan untuk obat dapat dilakukan Perlu dibuktikan ada atau tidaknya pengaruh perasan daun
dengan cara yang sederhana, misalnya dengan memanfaatkan Ngokilo segar dengan pemberian secara oral kepada mencit
bahan segar yang dikonsumsi sebagai ulam atau lalap. putih terhadap sistem imunitasnya.
Dalam rangka pemerataan dan perluasan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat, sebagaimana dinyatakan dalam Tujuan penelitian
GBHN 1988 bangsa Indonesia bertekad untuk meningkatkan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perasan
peranan tumbuh-tumbuhan obat. Karenanya upaya penggalian, daun Ngokilo segar yang diberikan secara oral kepada mencit
penelitian dan pengembangan pemanfaatan tumbuhan obat putih dapat mempengaruhi sistem imunitasnya.
perlu ditingkatkan terus. Hal itu mungkin direalisasikan,
mengingat di Indonesia terdapat kurang lebih 40.000 jenis Hipotesis
tumbuhan dan baru 1.000 jenis yang telah dimanfaatkan Pemberian perasan daun Ngokilo segar secara oral kepada
sebagai obat. mencit putih bersamaan dengan penyuntikan antigen dapat
Dari informasi yang berhasil dikumpulkan, diketahui meningkatkan sistem imunitasnya.
bahwa salah satu tumbuhan obat yang telah banyak digunakan
oleh masyarakat secara turun temurun adalah daun Ngokilo Manfaat penelitian
atau daun Sambungnyawa [Gynura procumbens (Lour.) Merr.] Manfaat yang dapat diharapkan dari penelitian ini adapah
untuk menurunkan kadar kolesterol darah, mengobati diabetes, diperolehnya informasi ilmiah tentang pemanfaatan perasan

22 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


daun Ngokilo segar secara oral pada mencit putih untuk karena dapat memberikan respon langsung terhadap antigen,
meningkatkan aktivitas sistem imunitasnya. sedang sistem imun spesifik membutuhkan waktu untuk

SISTEM IMUN
TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan asal
NON SPESIFIK
1) Klasifikasi tumbuhan(1)
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Magnoliophytina (Angiospermae)
FISIK LARUT SELULER
Classis : Magnoliatae (Dicotyledoneae)
Subclassis : Sympetalae *Biokimia Fagosit
Kulit
Ordo : Asterales Asam lambung Sel NK
Selaput Lisozim
Familia : Asteraceae
Laktoterin SPESIFIK
Genus : Gynura Asam neuraminik
lendir
Species : Gynura procumbens (Lour.) Merr.
2) Sinonim(2) *Humoral
Sinonim : Cacalia procumbens Lour. Komplemen HUMORAL SELULAR
Interferon
Cacalia satmentosa B1. CRP Sel B Sel T
Gynura sarmentosa (B1.) DC.
3) Pertelaan tumbuhan(2,3) Gambar 1. Sistem Pertahanan Tubuh (Baratawidjaja, 1988)
Tumbuhan ini merupakan terna, memanjat atau menjalar,
panjang 1-6 m, jika dimemarkan memberikan bau aromatik. mengenal antigen terlebih dahulu sebelum dapat memberikan
Batang tumbuh ke atas, di kaki batang terbentuk akar, batang responnya. Sistem tadi disebut nonspesifik karena tidak
bersegi, agak berdaging, bercabang, berwarna keunguan dan di ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Komponen-
bagian ujung tidak berbulu atau berbulu jarang. Daun tunggal, komponen sistem imun nonspesifik terdiri atas :
bentuk bunder panjang, ujung meruncing. Bunga berwarna 1) Pertahanan fisik/mekanik
jingga, kuning kemudian coklat kemerahan. Sistem pertahanan fisik/mekanik ini melibatkan kulit,
4) Kandungan kimia selaput lendir, silia saluran napas, proses batuk dan bersin
Daun Ngokilo [Gynura procumbens (Lour.) Merr.] me- untuk mencegah masuknya berbagai kuman patogen kedalam
ngandung senyawa-senyawa aromatik yang tersusun dari tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput
unsur-unsur kalium, kalsium, magnesium dan fosfor. Pada lendir yang rusak antara lain oleh asap rokok, akan mening-
skrining fitokimia diketahui bahwa daun Ngokilo mengandung gikan resiko infeksi.
pula senyawa-senyawa organik, yakni senyawa karbohidrat, 2) Pertahanan biokimia
senyawa pereduksi, lendir, flavonoid, steroid, triterpenoid dan Bahan yang disekresi mukosa saluran napas, kelenjar
protein(4). Di samping itu dari penelitian terdahulu diketahui sebaseus kulit, telinga, spermin dalam semen mengandung
bahwa daun Ngokilo mengandung pula enzima asparaginase(5). bahan yang berperanan dalam pertahanan tubuh secara
5) Manfaat dan kegunaan(3,6) biokimiawi. Asam hidroklorida dalam lambung, lisozim dalam
Manfaat dan kegunaan daun Ngokilo antara lain adalah keringat, ludah, air mata dan air susu dapat melindungi tubuh
untuk obat penurun kadar kolesterol darah, diabetes, tumor, terhadap berbagai kuman gram positif dengan jalan meng-
penyakit hati (lever), sakit ulu hati, wasir, kurap atau hancurkan dinding selnya. Air susu ibu juga mengandung
menetralkan bisa ulat yang mengenai tubuh. laktoferin dan asam neuroaminat yang mempunyai sifat
6) Toksisitas akut (LD50) antibakterial terhadap E. coli dan Staphylococcus.
Berdasarkan penelitian sebelumnya(7) dengan mengguna-
kan label dan rumus Weil C.S. dapat diperoleh nilai LD50 b) Sistem imun spesifik
calon obat (perasan daun Ngokilo) tersebut, yakni 44770 Berbeda dengan sistem imun nonspesifik, sistem imun
mg/kg berat badan, dengan kisaran dosis antara 21615 mg/kg spesifik mempunyai kemampaun untuk mengenal benda yang
berat badan sampai 92730 mg/kg berat badan. dianggap asing bagi dirinya. Benda asing yang pertama kali
muncul dalam tubuh segera dikenal oleh sistem imun spesifik,
Sistem pertahanan tubuh(8,9) sehingga terjadi sensitisasi sel-sel sistem imun tersebut. Bila
Sejak lahir individu sudah dilengkapi dengan dua jenis sel sistem imun tersebut berpapasan kembali dengan benda
sistem pertahanan, sehingga tubuh dapat mempertahankan asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan
keutuhannya dari berbagai gangguan yang datang dari luar dikenal lebih cepat den kemudian dihancurkan olehnya.
maupun dari dalam tubuh (Gambar 1). Oleh karena sistem tersebut hanya dapat menghancurkan
benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistem ini
a) Sistem imun nonspesifik disebut spesifik. Sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa
Sistem imun nonspesifik merupakan pertahanan tubuh ter- bantuan sistem imun nonspesifik. Untuk menghancurkan
depan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, benda asing yang berbahaya bagi badan; tetapi pada umumnya

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 23


terjalin kerjasama yang baik antara antibodi-komplemen mikroorganisme multiselular seperti telur skistosoma. Peranan
fagosit dan antara sel T-makrofag. efektor ADCC ini penting pada penghancuran kanker, pe-
1) Sistem imun spesifik humoral nolakan transplan dan penyakit autoimun, sedang ADCC
Sel B merupakan sel-sel yang berdeferensiasi dalam melalui neutrofil dan eosinofil berperan pada infestasi parasit.
sumsum tulang, jaringan limfoid sekunder yaitu meliputi Kadar IgG meninggi pada infeksi penyakit kronis dan penyakit
limfonodus, limpa da nodulus limfatikus yang terletak di autoimun.
sepanjang saluran pernafasan, pencernaan dan urogenital,
tepatnya dalam lamina propria saluran ini. Adanya rangsangan d) Limpa
antigen dan dengan bantuan sel T, sel B akan berkembang Limpa adalah organ imun sekunder yang berperan penting
menjadi sel plasma dan membentuk antibodi. dalam pertahanan tubuh spesifik. Terdapat hubungan yang erat
2) Sistem imun spesifik selular antara perubahan ukuran limpa pada kasus-kasus imunologik
Sel T mengalami perkembangan dan pematangan dalam yang kemudian diikuti dengan peningkatan jumlah limfosit.
organ timus. Dalam timus, sel T mulai berdeferensiasi dan Sesuai dengan pernyataan bahwa adanya pembesaran ukuran
memperoleh kemampuan untuk menjalankan fungsi farmako- limpa disebabkan oleh kerja limpa yang lebih berat dalam
logi tertentu. Berdasarkan perbedaan fungsi dan kerjanya, sel T memproduksi sel-sel limfosit.
dibagi dalam beberapa subpopulasi, yaitu sel T sitotoksik (Tc),
sel T penindas atau supresor (Ts) dan sel T penolong (Th). RANCANGAN PENELITIAN
Perbedaan ini tampak pula pada permukaan sel-sel tersebut.
3) Makrofag atau “Antigen Presenting Cell” (APC) A) Determinasi tumbuhan
Kerja sel-sel APC dipengaruhi oleh Macrophage Activat- Tumbuhan yang akan diuji dideterminasi di Herbarium
ing Factor (MAF), interferon gamma dan Interleukin-3 (IL-3) Bogoriense, Balitbang Botani, Puslitbang Biologi, LIPI Bogor.
yang dihasilkan oleh sek T. Faktor-faktor ini bersifat sitolitik Determinasi dilakukan untuk mendapatkan klasifikasi dan
terhadap sel-sel APC. Sel-sel APC merupakan sel-sel yang nama tumbuhan yang tepat.
berinti tunggal dari seri-seri monosit makrofag yang ber- B) Bahan percobaan adalah daun Ngokilo yang dikumpul-
peranan penting dalam menimbulkan respon imun. kan dari kebun Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Rangsangan antigen akan meningkatkan kerja sel T (Balittro) Bogor. Digunakan daun segar yang berwarna hijau
penolong (Th) untuk merangsang bekerjanya sel B. Sel B dan dibersihkan dari bahan organik asing serta kotoran lainnya
kemudian akan berproliferasi dan berdiferensiasi membentuk dengan cara pencucian dengan air, kemudian diangin-anginkan
sel plasma yang kemudian akan menghasilkan antibodi. di udara sampai tidak terlihat sisa-sisa air di permukaan daun.
c) Antibodi C) Penyediaan dan persiapan hewan coba
Antibodi adalah imunoglobulin (Ig) yang merupakan Digunakan hewan coba mencit putih galur DDY (Deutsch
golongan protein yang dibetuk oleh sel plasma yang berasal Democratic Yokohama), jantan, berat badan 25-35 g, diperoleh
dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen. dari Bagian Perhewanan Pusat Pemeriksaan Obat dan Makan-
Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat an (PPOM).
antigen sejenis yang baru lainnya. Sebelum penelitian dilakukan, masing-masing hewan
Bila protein serum tersebut dipisahkan dengan cara dipelihara selama satu minggu untuk penyesuaian diri terhadap
elektroliferesis, maka imunoglobulin ditemukan terbanyak lingkungan, menyeragamkan makanannya dan diamati ke-
dalam fraksi globulin gamma, meskipun ada beberapa imuno- sehatannya. Selama pemeliharaan bobot hewan coba diperiksa
globulin yang juga ditemukan dalam fraksi globulin alfa dan dan dinilai sehat untuk percobaan jika selama pemeliharaan
beta. bobot hewan coba tersebut tetap atau bertambah serta perilaku-
Dua fragmen imunoglobulin yang identik disebut Fab nya normal.
yang merupakan bagian imunoglobulin yang mengikat antigen D) Analisis karakteristik bahan uji (daun Ngokilo)
serta bereaksi dengan determinan antigen dan hapten. Bagian 1) Pemeriksaan makroskopik
tunggal imunoglobulin disebut Fc oleh karena mudah di- Pengamatan pada analisis makroskopik meliputi 2 hal
kristalkan (c = crystalible). pokok, yakni ukuran dan ciri ciri khas bahan uji.
Imunoglobulin G (IgG) merupakan komponen utama 2) Pemeriksaan organoleptik
imunoglobulin serum, dengan berat molekul 160.000. Kadar- Pemeriksaan ini dilakukan terhadap warna, rasa dan bau
nya dalam serum sekitar 13 mg/mL, merupakan 75% dari bahan uji.
semua imunoglobulin. IgG dan komplemen bekerja saling 3) Pemeriksaan mikroskopik
membantu sebagai opsonin pada pemusnahan antigen. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap penampang melintahg
IgG juga berperanan pada imunitas selular, karena dapat daun Ngokilo melalui ibu tulang daunnya serta serbuk daun
merusak antigen selular melalui interaksi dengan sistem Ngokilo yang telah dikeringkan untuk mengetahui fragmen-
komplemen atau melalui efek sitolitik killer cell (sel K), fragmen pengenalnya, seperti rambut penutup, rambut
eosinofil, neutrofil, yang semuanya mengandung reseptor kelenjar, hablur kalsium oksalat, tipa stomata dan tipe berkas
untuk Fc dari IgG. Sel K merupakan efektor antibody pengangkut.
dependent cellular cytotoxicity cell (ADCC). 4) Pemeriksaan mikroskopik
ADCC tidak hanya merusak sel tunggal, tetapi juga Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui gambaran

24 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


kromatogram kandungan kimia daun Ngokilo. 7. Alkoho1 96%.
B) Bahan untuk pemeriksaan mikroskopik
E) Penelitian Aktivitas Sistem Imun 1. Air 2. Kloralhidrat LP 3. Floroglusin LP 4. HCI LP
Untuk penelitian aktivitas sistem imun ini dilakukan: C) Bahan untuk pemeriksaan mikroskopik
1) Pengamatan bobot badan hewan coba 1. Lempeng silika gel 60 GF 254 2. zat warna II LP 3. Metil
Selama dilakukan penelitian setiap minggu dilakukan etil keton 4. Aluminium klorida P 5. Metanol P 6. Etil asetat P
pengamatan bobot badan hewan coba untuk mengetahui 7. Asam formiat P
apakah metabolisme hewan coba dipengaruhi oleh sediaan uji D) Alat
yang digunakan atau tidak. Di samping itu pengamatan bobot 1. Kandang mencit
badan hewan coba itu untuk mengetahui juga apakah 2. Juicer (alat bantu peras) merk “National”
perlakuan yang dilakukan, yakni pengambilan darah setiap 3. Timbangan hewan merk “Fuji”
minggu dapat mempengaruhi bobot badan hewan coba. 4. Timbangan analitik merk “Sartorius”
2) Pembacaan titer antibodi terhadap SDMD 5. Micrometer pipet merk Eppen dorf 20-200L
Hewan coba diimunisasi dengan SDMD (sel darah merah 6. Heparin Capiller Tube
domba) dengan cara penyuntikan intra peritoneal, 1 jam 7. Pipet tips
kemudian perasan segar daun Ngokilo diberikan per oral 8. Microcentrifuge tube 1,5 cc
kepada mencit selama 7 hari berturut-turut. Pengukuran titer 9. Drope plate
antibodi terhadap SDMD dilakukan dengan Hemaglutinasi 10. Syringe 1 cc; 5 cc
test. Pengamatan dilakukan tiap minggu selama 3 minggu 11. Sonde 12. Kain penyaring
berturut-turut. 13. Gelas ukur
Antibodi adalah Imunoglobulin yang merupakan golongan 14. Beaker glass
protein yang dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari 15. Alat-alat bedah ringan
proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen. Titer 16. Meja bedah
antibodi yang tinggi menunjukkan bahwa sediaan uji dapat 17. Sungkup pembiusan
meningkatkan sistem imun. 18. Kapas
3) Pengamatan berat relatif limpa 19. Tangas air
Berat relatif limpa (berat limpa/bobot akhir badan mencit) 20. Mikroskop
diukur dengan penimbangan pada neraca Sartorius di akhir 21. Chamber
perlakuan. Pengamatan ini dilakukan, karena kerja limpa yang
lebih berat dalam memproduksi sel-sel limfosit diperkirakan E) Metode pemeriksaan KLT
dapat memperbesar ukuran limpa. Lempeng : Silika Gel 60 GF 254
F) Analisis data Penyari : Metanol P
Pengolahan data secara statistik untuk mengetahui Jumlah totolan : 20 uL
perbedaan masing-masing perlakuan dengan melakukan uji Cairan elusi : Etil asetat-etil metil keton-asam formiat (60
sebagai berikut: - 30 - 4)
a. Bila data distribusinya normal dan homogen, dilakukan uji Jarak rambat : 15 cm
Anova. Pereaksi : Aluminium klorida
b. Bila data distribusinya tidak normal dan homogen, Deteksi : Sinar biasa
digunakan uji non parametrik Kruskall-Wallis. Sinar ultra violet 366 run
Larutan cuplikan : 20 L perasan segar daun Ngokilo diuapkan
ALAT, BAHAN DAN METODE di atas tangas sampai kering pada suhu 60° C. Tambahkan 10
A) Bahan untuk penelitian aktivitas sistem imun dan hewan mL metanol, panaskan di atas tangas air selama 10 menit,
coba : dinginkan, saring, cuci endapan dengan metanol, pekatkan di
1. Sediaan uji : perasan segar daun Ngokilo atas tangas air hingga diperoleh 5 mL filtrat.
2. Hewan coba : mencit putih, jantan, galur DDY, berat
badan 25-35 g F) Metode penelitian aktivitas sistem imun
3. Antigen : sel darah merah domba (SDMD) diperoleh 1) Penyiapan simplisia uji dan hewan coba
dari Laboratorium Patologi Klinik FKUI, Jakarta. Jarak a. Penyiapan simplisia
rambat Pereaksi Deteksi. Kumpulkan daun tumbuhan Ngokilo [Gynura procumbens
4. Larutan Phosphate Buffered Saline (PBS): terdiri dari (Lour.) Men.] yang telah dideterminasi. Gunakan daun segar
larutan A dan larutan B. Larutan A : Larutan NaH2P04. yang berwarna hijau dan berukuran sedang. Bersihkan dari
H20 1,38 g/L dan NaCl 8,3 g/L. Larutan B : Larutan bahan organik asing dan kotoran lainnya dengan cara mencuci
NaH2P04. 1,42 g/L dan NaCl 8,5g/L. 280 mL. Larutan A dengan air beberapa kali. Tiriskan dan angin-anginkan di udara
ditambahkan pada 720 Larutan B untuk mendapatkan terbuka hinga bebas dari air cucian. Daun telah siap untuk
Larutan PBS dengan pH = 7,2. pengujian.
5. Eter untuk pembius mencit. b. Adaptasi hewan coba
6. Aquadest Adaptasi terlebih dahulu mencit terhadap lingkungan

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 25


selama 7 hari untuk menyesuaikan dengan lingkungan kontrol.
penelitian, seragamkan makanannya dan amati kesehatannya. e. Kelompok E : Mendapat imunisasi SDMD 1% secara
2) Penyediaan perasan segar daun Ngokilo intraperitonial serta memperoleh aquadest per oral sebagai
Timbang sejumlah tertentu daun segar yang siap diuji, kontrol.
masukkan ke dalam juicer sampai diperoleh perasan daun 6) Pengamatan
Ngokilo. Timbang ampas yang ada dan peras kembali. Satukan a. Bobot Badan
hasil perasan yang diperoleh. Hitung kadar tiap mL perasan Selama masa penelitian, lakukan pengamatan keadaan
dengan membandingkan bobot daun dengan volume perasan umum hewan coba meliputi penimbangan bobot badan setiap
yang diperoleh, hingga diperoleh kadar dengan satuan mg/mL. minggu untuk melihat ada atau tidaknya gejala keracunan
Jadikan kadar dalam tiap mL ini sebagai konsentrasi perasan akibat bahan uji dan gejala anemia akibat pengambilan darah.
daun Ngokilo tersebut serta patokan dalam pemberian dosis. b. Hemoglutinasi Test
Jika diperlukan konsentrasi yang rendah, encerkan perasan Ambil darah melalui vena plexus orbitalis di sudut mata
daun tersebut dengan air suling. dengan menggunakan pipa kapiler. Pusingkan darah yang
3) Perhitungan dosis diperoleh pada sentrifuge selama 5 menit pada 2000 rpm.
Dari percobaan pendahuluan perkiraan jumlah daun yang Simpan darah yang telah menggumpal itu dalam almari
ditimbang untuk dijadikan perasan, didapatkan bahwa 30 g pembeku pada 20°C sampai waktu akan dipakai untuk
daun segar menghasilkan perasan 10 mL. Dengan demikian memperoleh serum sebanyak mungkin.
kadar 3000 mg/mL dapat dijadikan sebagai patokan dosis. Hangatkan serum pada tangas air pada suhu 56 °C selama
Nilai LD50 perasan daun Ngokilo secara peritoneal = 44770 setengah jam untuk menghilangkan aktivitas komplemen
mg/kg bobot badan(7), sehingga diperoleh nilai LD50 perasan serum, yang akan mengganggu pembacaan titer. Encerkan
daun Ngokilo segar per oral sebesar 134310 mg/kg bobot secara bertingkat serum yang telah didekomplementasi itu
badan. Dosis yang diberikan pada mencit dalam pengujian ini pada sederet drople plate (lempeng tetes) dengan kelipatan
adalah : dua. Seluruh pengenceran dilakukan dengan menggunakan
a. Dosis I = 89540 mg/kg bobot badan (BB) = ± 900 mg/ l0 larutan PBS pH 7,2. Cekungan lempeng tetes pertama dalam
gBB tiap deretan diisi dengan 100 uL serum yang diperiksa,
b. Dosis II = 8954 mg/kg BB = ± 90 mg/10 g BB. cekungan kedua diisi dengan serum yang telah diencerkan 2x,
c. Dosis III = 895,4 mg/kg BB = ± 9 mg/10 g BB. cekungan ketiga diisi dengan serum yang telah diencerkan 4x.
4) Pembuatan suspensi antigen Selanjutnya kedalam setiap cekungan lempeng tetes tersebut
Tampung darah domba dalam tabung bersih dan kering ditambah dengan 100 uL suspensi SDMD 1% dalam PBS.
yang berisi serbuk EDTA sebagai antikoagulan. Untuk 1 mL Setelah itu lempeng tetes digoyang-goyangkan agar suspensi
darah domba, diperlukan 1 mg EDTA. Pisahkan darah merah SDMD 1% dalam tiap cekungan lempeng tetes homogen.
domba (SDMD) dari plasmanya dengan pemusingan pada Reaksi hemaglutinasi dibiarkan berlangsung semalam
sentri fuge 1500 rpm. dalam suhu kamar. Pembacaan titer hemaglutinin dilakukan
Pisahkan plasma dan cuci sel darah merah dengan keesokan harinya. Hemaglutinasi dianggap positip jika seluruh
menambahkan PBS dalam jumlah besar dan tabung berisi atau sebagian besar permukaan yang cekung dasar lempeng
suspensi tersebut dibolak-balik beherapa kali dan pusingkan tetes ditutupi oleh lapisan SDMD secara merata. Titer
kembali. Lakukan pencucian paling sedikit 3 kali. Setelah hemaglutinin dinyatakan sebagai kebalikan pengenceran serum
pencucian selesai buanglah PBS dan diperoleh SDMD 100%. yang masih menunjukkan hemaglutinasi.
Kemudian pada SDMD 100% tadi tambahkan PBS c. Bobot relatif limpa
dengan volume sama, hingga diperoleh suspensi SDMD 50%. Pada akhir perlakuan di minggu ketiga (M III) hewan coba
Siapkan antigen yang digunakan dengan mengencerkan 0,2 dimatikan, bulu pada bagian ventral dibasahi dengan air
mL suspensi SDMD 50% dengan 9,8 mL PBS, sehingga supaya tidak mengganggu pembedahan untuk mengangkat
diperoleh 10 mL suspensi antigen (SDMD 1%). limpa. Setelah diangkat limpa dibersihkan dan jaringan lain
5) Penelitian aktivitas sistem imun yang melekat disekitarnya, kemudian diletakkan di atas kertas
Kelompokkan secara acak mencit jantan menjadi 5 saring. Kemudian limpa ditimbang dan ditentukan berat
kelompok, masing-masing terdiri dari 10 ekor mencit, relatifnya.
mewakili 5 perlakuan, yaitu :
a. Kelompok A : Mendapat imunisasi SDMD 1% secara HASIL PENELITTAN
intraperitonial serta memperoleh perasan daun Ngokilo per
oral dengan dosis 9 mg/l0 g BB. 1) Determinasi tumbuhan
b. Kelompok B : Mendapat imunisasi SDMD 1% secara Determinasi tumbuhan menunjukkan bahwa tumbuhan
intraperitonial serta memperoleh perasan daun Ngokilo per yang diteliti adalah Gynura procumbens (Lour.) Merr., suku
oral dengan dosis 90mg/l0 g BB. Asteraceae (Compositae).
c. Kelompok C : Mendapat imunisasi 1% secara
intraperitonial serta memperoleh perasan daun Ngokilo per 2) Pemeriksaan pendahuluan simplisia
oral dengan dosis 900mg/l0 g BB (berat badan). a) Pemeriksaan makroskopik
d. Kelompok D : Mendapat aquadest per oral sebagai Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia menunjukkan

26 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


bahwa simplisia menunjukkan ciri-ciri seperti data simplisia Tabel 2. Rata-rata pembacaan titer antibodi serum darah mencit
terhadap SDMD.
daun Ngokilo [Gynura procumbens (Lour) Merr.] dalam
Materia Medika Indonesia.
Rata-rata titer antibodi terhadap SDMD
b) Pemeriksaan organoleptik Kelompok
Minggu I Minggu II Minggu III
Hasil pemeriksaan organoleptik terhadap simplisia
A (Dosis 9 mg/l0g BB+I) 75,2 (16-128) 169,6 (8-256) 53,6 (8-256)
menunjukkan bahwa simplisia tersebut menunjukkan ciri-ciri B (Dosis 90 mg/l0g BB+I) 38,8 (4-64) 29,6 (8-64) 20,0 (8-32)
organoleptik seperti data simplisia daun Ngokilo [Gynura C (Dosis 900 mg/10g BB+I) 95,2 (8-256) 72,8 (8-256) 57,6 (16-128)
procumbens (Lour) Merr.] dalam Materia Medika Indonesia. D (Aquadest + Non I) 3,37 (1-8) 3,4 (2-8) 3,4 (2-8)
c) Kromatografi lapis tipis E (Aquadest + I) 8,4 (4-16) 8,6 (2-16) 5,1 (1-16)
Hasil pemeriksaan secara kromatografi lapis tipis
menunjukkan bahwa simplisia menunjukkan pola bercak yang
sama dengan pola bercak simplisia daun Ngokilo [Gynura Hasil sidik ragam rata-rata titer antibodi serum darah
procumbens (Lour) Merr.] dalam Materia Medika Indonesia. mencit terhadap SDMD dapat dilihat pada tabel 3.

3) Penelitian aktivitas sistem imun


a) Pengamatan bobot badan mencit
Hasil pengamatan rata-rata selisih bobot badan mencit
tertera dalam tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata bobot badan mencit sebelum dan sesudah perlakuan


(gram).

Rata-rata Rata-rata
bobot badan bobot badan Selisih
Kelompok
sebelum per- setelah per- (gram)
lakuan (gram) lakuan (gram)

A (Dosis 9 mg/l0 g BB + I) 28,9 33,5 4,60


Gambar 3. Pola perkembangan titer antibodi serum darah mencit
B (Dosis 90 mg/l0 g BB + I) 29,1 34,4 5,30
terhadap SDMD.
C (Dosis 900 mg/10 g BB + I) 29,3 36,8 7,50
D (Aquadest + Non I) 29,1 37,3 8,20
E (Aquadest + I) 29,4 35,1 5,70
Tabel 3. Sidik ragam rata-rata titer antibodi serum darah mencit
terhadap SDMD.
Keteranan : I : Imunisasi dengan SDMD 1%
Sumber F Tabel
Non I : Tanpa imunisasi dengan SDMD 1% Db Jk KT F
Keragaman 0,05 0,01
Dosis 4 145,2396 36,3099 28,28** 2,58 3,78
Galat (D) 45 36,4911 0,8109
Minggu 2 3,7554 1,8777 1,46 3,10 4,85
DM 8 2,1658 0,2707 0,21 2,04 2,72
Galat (m) 90 115,5623 1,2840
Jumlah 149

c) Pengamatan bobot limpa mencit


Hasil pengamatan rata-rata bobot relatif limpa mencit
dapat dilihat dalam tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata bobot raltif limpa mencit pada minggu ke-3.

Gambar 2. Rata-rata pertambahan bobot badan mencit sebelum dan Rata-rata bobot relatif limpa mencit
Kelompok
sesudah perlakuan. pada minggu ke III
A (Dosis 9 mg/l0g BB + I) 3,88 + 1,99
B (Dosis 90 mg/10g BB + I) 2,14 + 0,43
b) Pembacaan titer antibodi terhadap SDMD C (Dosis 900 mg/10 g BB + I) 2,93 + 1,00
Hasil rata-rata pembacaan antibodi serum darah mencit D (Aquadest + Non I) 3,17 + 0,71
terhadap SDMD selama 3 minggu perlakuan dapat dilihat pada E (Aquadest + I) 2,80 + 0,89
tabel 2.

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 27


sediaan uji dan kelompok mencit kontrol (P>0,05).
Pada minggu pertama-rata-rata titer antibodi serum darah
mencit terhadap SDMD tertinggi terdapat pada Kelompok C
(dosis 900 mg/10g BB) sebesar 92,5 (8-256), diikuti oleh
Kelompok A (dosis 9mg/10g BB) yakni 75,2 (16-128), lalu
Kelompok B (dosis 90mg/10g BB), yaitu 38,8 (4,64), lalu
Kelompok E (Aquadest + imunisasi) sebesar 8,4 (4-16) dan
terakhir Kelompok D (Aquadest + Non Imunisasi) yakni 3,7
(1-8). Kemudian pada minggu kedua dan ketiga titer ini turun
untuk semua kelompok.
Untuk perhitungan statistik, data pengamatan titer antibodi
Gambar 4. Grafik rata-rata bobot relatif limpa mencit pada minggu serum darah mencit terhadap SDMD ditransformasikan dengan
ke-3. [2 log (titer)] + 1 dan diuji kenormalan distribusi dan homo-
genitasnya. Ternyata data tersebut bervarians homogen.
PEMBAHASAN Uji anova menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa daun Ngokilo nyata antara dosis perlakuan (p>0,01), namun pola perkem-
mengandung enzim asparaginase (protein), yang inaktif atau bangan titer antibodi setiap minggunya tidak menunjukkan
rusak pada proses pemanasan(5). Karena itulah penelitian ini perbedaan bermakna (P<0,05).
menggunakan perasan daun Ngokilo segar, dan bukan infus. Uji beda nyata terkecil menunjukkan bahwa pada minggu
Sebagai hewan coba dipilih mencit, karena informasi me- pertama (MI) terdapat perbedaan nyata antara Kelompok A
nyatakan bahwa banyak penelitian toksikologi menggunakan dan Kelompok B (P<0,05). Sedang antara Kelompok A
mencit. Di samping itu pemeliharaannya mudah dengan biaya dengan kedua kelompok kontrol terdapat perbedaan yang
yang relatif murah. Dipilih mencit jantan, karena tidak sangat nyata (P<0,01). Hasil ini terus bertahan sampai akhir
dipengaruhi oleh siklus hormonal, yang dapat mempengaruhi masa perlakuan di minggu ketiga. Juga terlihat pada Kelompok
hasil penelitian. Hasil penelitian dipengaruhi juga oleh variasi B yang mempunyai perbedaan nyata dengan kelompok C dan
biologik hewan coba, misalnya jenis, berat badan, umur, jenis memiliki perbedaan sangat nyata dengan kelompok kontrol.
kelamin, makanan dan kondisi lingkungan. Hasil inipun terus bertahan sampai minggu kedua, tetapi di
Digunakan dosis tinggi yang sedekat mungkin dengan minggu ketiga Kelompok B memiliki perbedaan sangat nyata
LD50 nya, namun belum menyebabkan kematian hewan coba. dengan Kelompok C.
Nilai LD50 per oral 3-5 kali lebih besar LD50 suntikan, karena Kelompok C memiliki perbedaan sangat nyata dengan
secara oral obat dapat dipengaruhi oleh absorbsi, terikatnya Kelompok kontrol (P<0,01) dan berlangsung mulai dari
obat oleh protein dan metabolisme obat dalam saluran cerna. minggu pertama sampai akhir masa perlakuan di minggu
Sebelum diberi sediaan uji, perasan daun Ngokilo segar, ketiga. Antara kedua Kelompok kontrol sendiri di minggu per-
hewan coba diimunisasi dengan Sel Darah Merah Domba tama memiliki perbedaan yang sangat nyata, yang bertahan
(SDMD) 1% secara intraperitonial. Imunisasi ini dimaksudkan sampai minggu kedua. Hanya di minggu ketiga antara kedua
untuk memberikan respon imun pada hewan coba. Sediaan uji kelompok kontrol ini tidak mempunyai perbedaan yang nyata.
dimaksudkan untuk lebih meningkatkan respon imun tersebut. Perhitungan statistik menunjukkan bahwa terjadi pening-
Pemberian sediaan uji dilakukan selama 7 hari berturut- katan titer antibodi serum darah mencit terhadap SDMD pada
turut, karena dosis perasan daun Ngokilo tersebut adalah dosis Kelompok A (dosis 9 mg/l0g BB), Kelompok B (dosis 90
pemeliharaan, seperti halnya daun Ngokilo yang dimakan mg/10g BB) dan Kelompok C (dosis 900 mg/10g BB), jika
setiap hari sebagai lalab selama beberapa waktu. dibandingkan dengan Kelompok kontrol ( D dan E). Mulai
Pengambilan darah dilakukan pada hari ke 8 (minggu ke minggu pertama sampai ke minggu ketiga nilai titer Kelompok
I), agar peningkatan respon imun telah dapat dilihat. Diulangi Kontrol rata-ratanya konstan sesuai dengan hasil penelitian
pada hari ke-15 (minggu II), karena diperkirakan respon imun Emma (1993), yang menyatakan bahwa masuknya benda asing
masih meningkat. Pengambilan darah diulangi lagi pada atau antigen dalam tubuh, secara normal akan meningkatkan
hari-22 (minggu III) untuk mengetahui apakah sediaan uji antibodi dalam darah. Antibodi tersebut akan mencapai jumlah
masih dapat meningkatkan/mempertahankan peningkatan maksimal kemudian akan turun kembali.
respon imun pada 2 minggu setelah pemberian sediaan uji Hasil pengamatan bobot limpa menunjukkan bahwa rata-
dihentikan. rata bobot relatif limpa Kelompok A = 3,88, Kelompok B =
Hasil pengamatan bobot badan mencit menunjukkan 2,14 mg, Ketompok C = 2,93 mg, Kelompok D = 3,17 mg dan
bahwa semua hewan coba bobot badannya meningkat, berarti Kelompok E = 2,80 mg.
pemberian sediaan uji dan pengambilan darah tidak mem- Uji statistik, yakni uji :Distribusi Frekuensi dan uji
pengaruhi bobot badan mencit. Di samping itu tidak ada hewan Homogenitas menunjukkan bahwa data bobot relatif limpa
coba yang mengalami anemia akibat pengambilan darah setiap distribusinya tidak normal dan tidak homogen, sehingga dipilih
minggu (bagian dalam kelopak mata mencit tidak pucat). uji Statistik Non Parametrik Kruskall Wallis. Hasilnya
Perhitungan statistik menunjukkan banwa tidak ada menunjukkan adanya perbedaan sangat nyata antara Kelompok
perbedaan yang bermakna antara kelompok mencit yang diberi perlakuan (P>0,01). Untuk mengetahui adanya perbedaan

28 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


antara Kelompok sediaan uji dengan Kelompok kontrol 3) Pemberian perasan daun Ngokilo pada mencit dengan
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil. Ternyata ada dosis 9 mg/l0 g BB, 90 mg/10 g BB, 900 mg/10 g BB secara
perbedaan sangat nyata antara Kelompok A (dosis 9 mg/l0g oral meningkatkan respon sistem imun dengan meningkatkan
BB) dengan kelompok B (dosis 90 mg/l0g BB), tetapi tak ada titer antibodi terhadap SDMD.
perbedaan nyata antara Kelompok A dan kelompok kontrol D 4) Dari hasil pengamatan bobot relatif limpa mencit
dan E (P>0,05). Kelompok B memiliki perbedaan sangat nyata disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara
dengan Kelompok D, yaitu Kelompok koatrol Aquadest. kelompok mencit yang mendapatkan sediaan uji dengan ke-
Sedang Kelompok C tidak memiliki perbedaan nyata dengan lompok mencit kontrol.
Kelompok kontrol D dan E. Hasil pengamatan bobot relatif
limpa mencit pada minggu ketiga (M III) perlakuan tidak dapat SARAN
ditarik kesimpulan. Mungkin karena pengamatan dilakukan 1) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai identifi-
pada minggu ketiga perlakuan atau 2 minggu setelah dihen- kasi dan isolasi zat kimia kandungan daun Ngokilo yang dapat
tikannya pemberian sediaan uji. meningkatkan respon sistem imun.
Dari penelitian ini dapat dinyatakan bahwa pemberian 2) Perlu dilakukan penelitian tentang aktivitas infus daun
perasan daun Ngokilo segar dapat meningkatkan respon imun, Ngokilo terhadap sistem imun.
yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan titer antibodi.
Diduga senyawa kandungan perasan daun Ngokilo segar ber- KEPUSTAKAAN
peran sebagai mitogen. Mitogen merupakan molekul-molekul 1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pemanfaatan Tanaman
yang dapat menginduksi sel untuk membelah. Pengaruh Obat, Edisi II. 1981, hal. 77, 78, 125.
mitogen terhadap sel B dapat menginduksi sekresi antibodi 2. Backer CA, Bakhuizen van den Brink Jr., RC., , Flora of Java, Vol. II,
dengan cara mengaktifkan terlebih dahulu sel T penolong (Th). NVP. Noordhoff Groningen, The Netherlands, blz. 1965; 424-5.
3. Heyne K. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid III. Terjemahan Badan
Mitogen bereaksi dengan permukaan sel imun dalam tubuh Litbang Kehutanan, Jakarta, 1987, hal. 1843.
secara tidak spesifik (bukan sebagai antigen) dan meng- 4. Yurita, AS. Pemeriksaan Pendahuluan Daun Ngokilo, Tugas Akhir
hasilkan serangkaian perubahan sel-sel imun tubuh yang sama Sarjana Farmasi, Universitas Pancasila. Jakarta, 1983,
seperti reaksi terhadap antigen. Jadi dengan adanya mitogen, 5. Mulyadi. Determinasi dan Karakterisasi Asparaginase Daun Gynura
procumbens (Lour.) Merr. Majalah Farmasi Indonesia. 1996.
respon imun berlangsung lebih tinggi dan dalam waktu yang 6. Thomas ANS. Tanaman Obat Tradisional. Penerbit Kanisius,
lebih lama. Yogyakarta. 1989; hal 120.
6. Thomas ANS. Tanaman Obat Tradisional, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta. 1989; hal 120- 3.
7. Rimadani. Pemeriksaan Kandungan Fimia, Penentuan LD50 dan Uji
Pendahuluan Perasan Daun Ngokilo terhadap Kadar Kolesterol Total
KESIMPULAN Serum Darah Kelinci, Tugas Akhir Sarjana Farmasi, Universitas
1) Dari determinasi tumbuhan, pemeriksaan habitus, organo- Pancasila, Jakarta. 1994 hal 82.
leptik, makroskopik, mikroskopik dan KLT disimpulkan 8. Baratawidjaya, Kamen Garna. Imunologi Dasar. Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 1988; hal. 3-19, 30-41, 81-9.
bahwa bahan yang diuji adalah daun Ngokilo [Gynura 9. Baker FJ, et al. An Introduction to Medical Laboratory Technology,
procumbens (Lour.) Merr.]. Fourth Edition, Butter Worths, London, 1970; 456-61.
2) Dari hasil pengamatan bobot badan mencit disimpulkan 10. Barret, James T. Textbook of Imunology. Third Edition. University of
bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok mencit Missouri School of Medicine. Columbia, Missouri, 1978; p. 201-3,
213-6.
yang mendapatkan sediaan uji dengan kelompok mencit 11. Mohamad Sadikin. Vitamin A dan Imunitas, Majalah Kedokteran
kontrol. Indonesia, Vol. 45, 1995; 7: hal. 430-5.

Every places is safe to him who lives with justice


(Epitectus)

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 29


HASIL PENELITIAN

Radikal Bebas
sebagai Prediktor Aterosklerosis
pada Tikus Wistar Diabetes Melitus
Zainal Musthafa*, Gatot S. Lawrence**, Arifin Seweang***
*Cardiology Department, Pelamonia Military Hospital
**Vascular Research Unit Wahidin Sudirohusodo General Hospital, and Department of Phatology,
Faculty of Medicine Hasanuddin University
***Departement of Biostatistics, Faculty of Public Healt Hasanuddin University, Makassar

Radikal bebas merupakan senyawa oksigen reaktif yang HASIL


sitotoksis, dapat berdampak negatif terhadap membran sel,
dinucleotida (DNA) dan protein seperti halnya enzim yang ada
dalam tubuh. Aterosklerosis sering merupakan komplikasi dari
penyakit diabetes mellitus. Informasi terakhir bahwa radikal
bebas dapat menjadi penyebab yang mendasari berbagai macam
keadaan patologis termasuk penyakit aterosklerosis pada
umumnya dan khususnya penyakit jantung aterosklerosis yang
sering dikenal penyakit jantung koroner. Penelitian ini mem-
berikan informasi tentang peran radikal bebas sebagai prediktor
aterosklerosis pada tikus Wistar diabetes mellitus.

SUBYEK Gambar 1. Hubungan gula darah (GDS) dan radikal babas (MDA) pada
Empat kelompok sampel yaitu kelompok tikus Wistar Wistar diabetes hiperlipid (DMO), diabetes (DM), hiperlipid
normal sebagai kontrol (S), model hiperlipid (O), model (O) dan Kontrol (S), pada minggu ke empat setelah jadi
modal.
diabetes (DM), dan model DM hiperlipid (DMO)
masing-masing 48 ekor, mempunyai berat badan 200 mg, umur Keterangan :
12 minggu. Pembuatan model DM dengan cara induksi Koefisien korelasi (r) GDS dengan radikal babas.
Streptozotocine (STZ) 40 mg/kgBB intra peritoneal (i.p) - Untuk Kontrol = 0,264
setelah dipuasakan 24 jam. Model hiperlipid dengan pemberian - Untuk Kontrol + Oil = 0,209
- Untuk DM = 0,921 (p< 0,01)
Olive oil. - Untuk DM + Oil = 0,965 (p< 0,01)
• Hasil uji regresi ganda terhadap faktor yang berpengaruh terhadap
radikal babas menunjukkan hanya variabel gula darah yang berpengaruh
terhadap radikal bebas, dimana (p< 0,05).
METODA (Gambar 2).
Bentuk penelitian pre-posttest randomized controlled (Gambar 3).
animal experiment, follow-up postest dilakukan tiap satu
minggu sekali selama 10 minggu. Pemeriksaan level radikal DISKUSI
bebas dalam hal ini adalah malondialdehyde (MDA) dan Mean MDA pada model DM (35,87 ± 4,27) dan S (26,23 ±
penilaian aterosklerosis sebagai data. Penilaian MDA dengan 2,15), ternyata berbeda bermakna dengan p < 0,01. Keadaan ini
immunoassay dan aterosklerosis dengan histopathologi (H.E). bisa dijelaskan karena pada DM dengan kenaikan kadar gula

30 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


darah akan menyebabkan kenaikan kadar radikal bebas.(1) Tetapi pada model DM dan DMO (38,32 ± 1,02) tidak
berbeda bermakna begitu juga pada model S dan model O
(24,57 ± 1,34). (Gambar 2)
Hasil uji regresi logistik dengan mengontrol waktu follow
up dan kelompok model menunjukkan adanya pengaruh yang
bermakna dari radikal bebas terhadap histopathologi (H - E)
sebagai marker aterosklerosis dengan (p<0,05). Pada model
DM, aterosklerosis dengan marker histopathologi (H - E)
terdeteksi pada minggu ke lima, sedangkan untuk kontrol tidak
ditemukan atherosklerosis (Gambar 3).
Dari penjelasan tersebut dapat diambil manfaat lain radikal
bebas dapat dipakai sebagai prediktor aterosklerosis umumnya
Gambar 2. MDA pada Wistar kontrol (S), hiperlipid (O), diabetic (DM), dan aterosklerosis pada penyakit diabetes maupun penyakit
dan diabetic hiperlipid (DMO) jantung koroner khususnya.

Keterangan :
Nilai Mean MDA.
Kontrol ^ ICAM (-) = 25,50 ± 4,66
DM ^ ICAM (-) = 33,96 ± 6,40 p < 0,01
(+) = 41,23 ± 1,31

Kontrol ^ H-E (-) = 25,50 ± 4,66


DM ^ H-E (-) = 35,04 ± 6,25
(+) = 41,48 ± 1,30

KEPUSTAKAAN
Gambar 3. Aterosklerosis pada tikus Wistar kontrol (S) dan diabetic
(DM).
1. Musthafa Z, Lawrence GL Pengaruh radikal bebas terhadap proses
Keterangan :
percepatan atherosklerosis pada tikus Wistar diabetes mellitus. The
Hasil pemeriksaan aterosklerosis ada perbedaan, tidak ditemukan
Indonesian Medical Association Newsletter 1999; 4 : 4.
aterosklerosis pada Kontrol, tetapi pada DM ditemukan aterosklerosis mulai
2. Ross R, PhD. Atheroscklerosis - An Inflammatory Disease. NEJ Med
minggu ke empat dan makin meningkat prosentasenya dengan bertambahnya
1999; 340 : 115-26.
waktu follow-up.

Every human being is intended to have a character of his own,


to be what no other is, to do what no other can
(Channing)

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 31


HASIL PENELITIAN

Peran Antioksidan
dalam Penghambatan Aterosklerosis
pada Tikus Wistar Diabetes Melitus
Zainal Musthafa*, Gatot S. Lawrence**
*Cardiology Department, Pelamonia Military Hospital
**Vascular Research Unit Wahidin Sudirohusodo General Hospital, and Department of Pathology,
Faculty of Medicine, Hasanuddin University, Makassar

Anti-oksidan mempunyai dampak positif berupa peng-


hambatan proses aterosklerosis, yang sering merupakan kom-
plikasi dari penyakit diabetes mellitus dan sangat berperan
untuk terjadinya penyakit jantung koroner. Penelitian ini mem-
berikan informasi tentang peran anti-oksidan dalam pengham-
batan proses aterosklerosis pada tikus Wistar diabetes mellitus.

SUBYEK
Dua kelompok sampel yaitu kelompok tikus Wistar Gambar 1. Anti-oksidan pada tikus Wistar sebagai kontrol (S) dan
sebagai kontrol (S) 48 ekor dan sebagai model diabetes (DM) diabetes (DM)
48 ekor yang masing-masing mempunyai berat badan 200 g;
umur 12 minggu. Pembuatan model DM dengan cara induksi Keterangan :
Hasil pemeriksaan anti-oksidan ada perbedaan, sampai dengan minggu ke lima
Streptozotocine (STZ) 40 mg/kgBB intra peritoneal (i.p) anti-oksidan pada DM (1297 ± 4,34) lebih tinggi dari pada Kontrol (1089,97 ±
setelah dipuasakan 24 jam. 2,57). Setelah minggu ke tujuh anti-oksidan pada DM (875,65 ± 1,23) lebih
rendah dari pada Kontrol (1096,45 ± 2,60).
METODA
Bentuk penelitian pre-postest randomized controlled
animal experiment, follow-up postest dilakukan tiap satu
minggu sekali selama 10 minggu. Pemeriksaan level anti-
oksidan dalam hal ini enzim superoksida dismutase (SOD) dan
penilaian aterosklerosis sebagai data. Penilaian anti-oksidan
dengan immunoassay dan aterosklerosis dengan histopatologi
(H-E).

HASIL Gambar 2. Aterosklerosis pada tikus Wistar sebagai kontrol (S) dan
Pada awal terjadinya model DM, kadar anti-oksidan me- diabetes mellitus (DM)>
ningkat yang kemudian diikuti penurunan (Gb. 1), tetapi
Keterangan :
kejadian aterosklerosis yang dimulai pada minggu ke empat, Hasil pemeriksaan atherosklerosis ada perbedaan, tidak ditemukan atheros-
prosentasenya makin bertambah dengan bertambahnya waktu klerosis pada Kontrol, tetapi pada DM ditemukan aterosklerosis mulai minggu
follow-up terjadi model DM (Gb. 2). ke empat dan makin meningkat dengan bertambahnya Waktu.

DISKUSI Radikal bebas merupakan senyawa oksigen reaktif yang


Pada awal terjadinya DM kadar anti-oksidan meningkat sitotoksis, dapat berdampak negatif terhadap membran sel,
(Gb. 1), keadaan ini bisa dijelaskan karena pada DM kenaikan dinucleotida (DNA) dan protein seperti halnya enzim yang ada
kadar gula darah akan menyebabkan kenaikan kadar radikal dalam tubuh misalnya SOD sebagai anti-oksidan. Oleh karena
bebas. itu tidak beberapa lama setelah menjadi model DM terlihat

32 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


kadar anti-oksidan menurun. Informasi terakhir bahwa radikal hasil uji regresi logistik ternyata radikal bebas berpengaruh ber-
bebas dapat menjadi penyebab yang mendasari berbagai macam makna terhadap pembentukan atherosklerosis dengan p<0,01.
keadaan patologis termasuk penyakit aterosklerosis pada Manfaat lain dari penelitian ini adalah penderita ateros-
umumnya dan khususnya penyakit jantung aterosklerosis yang klerosis umumnya dan penyakit diabetes maupun penyakit
sering dikenal penyakit jantung koroner. jantung koroner khususnya perlu diberikan tambahan anti-
Fungsi utama anti-oksidan adalah menetralisir atau me- oksidan yang sekarang sudah banyak beredar di pasaran ber-
redam dampak negatif dari radikal bebas; bila kadar anti- bentuk obat.
oksidan tubuh menurun (Gb. 1), maka aterosklerosis semakin
progresif (Gb. 2).
Hasil uji regresi ganda, faktor apa saja yang berpengaruh
KEPUSTAKAAN
terhadap enzim anti-oksidan endogen (SOD), ternyata ada
pengaruh yang bermakna dari radikal bebas dan waktu follow 1. Musthafa Z, Lawrence GL. Pengaruh radikal bebas terhadap proses
up terhadap pembentukan SOD dengan p<0,01. percepatan atherosklerosis pada tikus Wistar diabetes mellitus. The
Indonesian Medical Association Newsletter 1999; 4 : 4.
Hasil uji regresi ganda menunjukkan bahwa gula darah, 2. Ross R, PhD. Atherosclerosis - An Inflammatory Disease. NEJ Med.
enzim anti-oksidan endogen (SOD) dan waktu follow-up ber- 1999; 340 : 115-26.
pengaruh bermakna terhadap radikal bebas dengan p<0,05, dan

12 Oktober 1999 penghuni planet bumi


6 milyar orang, sedang 2 abad yang lalu …
baru 1 milyar orang !

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 33


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Endotelin dan Penyakit


Kardiovaskuler
Muhammad Natsir Akil
Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I, Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang

PENDAHULUAN kadar endotelin ditemukan pada infark miokard, gagal jantung,


Endotelin merupakan peptida vasokonstriktor sangat kuat dan hipertensi pulmonal(1).
yang dihasilkan oleh endotelium vaskuler. Endotelin diisolasi Peninggian kadar plasma endotelin pada face awal infark
pertama kali oleh Yanagisawa dkk pada tahun 1988(1). miokard akut (IMA) dilaporkan pada tahun 1991. Pada pen-
Biosintesis endotelin dimulai dengan pemecahan molekul derita IMA tanpa komplikasi kadarnya cepat turun, sebaliknya
besar preroendothelin, peptida dengan 203 asam amino menjadi pada penderita IMA dengan komplikasi gagal jantung maka
big endothelin I proendothelin yang mengandung 39 asam peninggian kadar endotelin tetap bertahan selama 72 jam(1).
amino. Big endothelin beredar di dalam pembuluh darah dalam Peningkatan plasma endotelin 72 jam sesudah infark miokard
bentuk inaktif; selanjutnya endothelin-converting enzyme akan mempunyai nilai prognostik terhadap mortalitas tahun pertama.
mengubah big endothelin menjadi peptida residu-21 aktif(2). Selain pada gagal jantung kronik peningkatan kadar endotelin
Sedikitnya ada 3 isoform endotelin, tetapi termasuk dalam juga dilaporkan pada gagal jantung kronik kausa non iskemik
satu famili peptida. Semua isoform endotelin mengandung 21 atau pada idiopathic dilated cardiomyopathies. Penelitian
asam amino, perbedaannya hanya terletak pada beberapa asam lainnya mendapatkan peningkatan kadar endotelin secara prog-
amino. Endotelin-1 (ET-1) merupakan bentuk yang disintesis resif dengan makin beratnya gejala gagal jantung, dan sejumlah
dan dilepaskan oleh sel-sel endotel dan banyak dihubungkan laporan memperlihatkan hubungan antara derajat peninggian
dengan penyakit kardiovaskuler. Endotelin-3 mungkin merupa- kadar endotelin dan derajat gangguan fungsi ventrikel(1).
kan neuropeptida sedangkan peranan endotelin-2 masih belum Terdapat hubungan antara kadar plasma endotelin dan
jelas(2). beratnya hipertensi pulmonal pada penderita gagal jantung.
Stimulus penting terhadap pelepasan endotelin adalah Penelitian lain yang menilai ekspresi endotelin-1 pada paru-
hipoksi, iskemi, dan shear stress, yang menginduksi transkripsi paru penderita hipertensi pulmonal mendapatkan peningkatan
messenger RNA ET-1(3). Selain rangsangan fisik produksi imunoreaktifitas endotelin pada pembuluh darah paru-paru
endotelin juga dipengaruhi oleh hormon vasopressor seperti dengan kadar yang berbeda pada berbagai tempat. Sangat
epinefrin, angiotensin II, dan arginin vasopressin; transforming sedikit endotelin ditemukan pada subjek kontrol dengan paru-
growth factor β (TGFβ; trombin; interleukin-1. Sedangkan pros- paru normal atau penderita dengan penyakit paru-paru yang
tasiklin, nitric oxide, dan atrial natriuretic hormone meng- tidak mengalami hipertensi pulmonal(1).
hambat sekresi endotelin(4). Sebanyak 75% sekresi ET-1 ke Endotelin juga berpengaruh pada ruptur plak. Dengan
arah otot polos vaskuler (albumin) akan terikat pada otot polos adanya lesi aterosklerotik, maka pelepasan lokal endotelin akan
dan menyebabkan vasokonstriksi(3). memacu terjadinya ruptur plak(5).
ET-1 dilaporkan dapat menyebabkan vasodilatasi pada
dosis rendah dan vasokonstriksi pada dosis tinggi. Respon ENDOTELIN PADA BERBAGAI SISTIM ORGAN
vasodilatasi ET-1 mungkin disebabkan oleh efek endotelin pada Efek endotelin pada berbagai sistim diperlihatkan pada
produksi dan sekresi prostasiklin dan nitric oxide(3,4). gambar 1. Endotelin merupakan mediator penting pada pato-
fisiologi gagal jantung. Kerja endotelin sebagai vasokonstriktor
ENDOTELIN DAN PENYAKIT KARDIOVASKULER sangat kuat menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler
Data eksperimen memperlihatkan bahwa sistim endotelin sistemik dan peningkatan after load; kedua hal tersebut me-
diaktifasi pada berbagai kelainan kardiovaskuler. Peninggian rupakan aspek penting pada gagal jantung(2).

34 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


Gambar 2. Vaskular endothelin receptors.
Dikutip dari : Stewart D : Update on endothelin. Can J Cardiol 1998; 14
Gambar 1. Role of endothelin in the pathophysiological manifestations of (Suppl D) : 12D
heart failure.

Dikutif dari : Levin ER : Endothelins. N. Engl J Med 1995; 333 : 360 Pada awalnya ETB diduga hanya terdapat pada sel-sel
endotel, tetapi ternyata juga ditemukan pada organ-organ target
dengan kerja menyerupai ETA. Pada sel-sel endotel ETB dapat
Endotelin 100 kali lebih kuat efek vasokonstriktornya dari mengaktifkan nitric oxide synthase dan merangsang produksi
angiotensin II yang sudah lebih dulu dikenal sebagai peptida prostasiklin. Efek vasodilatasi ini merupakan counteract dari
vasokonstriktor kuat(3). efek langsung endotelin pada sel-sel otot polos seperti kon-
Endotelin juga berefek pada pertumbuhan dan proliferasi traksi, proliferasi, dan produksi matriks. Pada organ target ETB
sel-sel otot polos dan menstimulasi produksi matriks. Dalam menyerupai kerja ETA yaitu merangsang kontraksi, proliferasi,
jangka waktu yang lama endotelin akan mengakibatkan se- dan produksi matriks(2).
makin mengecilnya diameter pembuluh darah oleh remodelling
ketebalan dinding pembuluh darah. Endotelin berefek langsung
pada jantung; dengan efek inotropik positifnya meningkatkan ANTAGONIS RESEPTOR ENDOTELIN
kontraktilitas jantung. Remodelling jantung disebabkan oleh Antagonis spesifik reseptor endotelin telah dikembangkan
pengaruh endotelin pada hipertrofi otot jantung dan produksi dan sedang dilakukan pengujian pada binatang percobaan dan
matriks(1). penderita gagal jantung. Bosentan merupakan inhibitor ET non
Pada ginjal endotelin memiliki fungsi penting dan kom- selektif pertama yang dipublikasikan untuk penderita gagal
pleks. Pengaruhnya pada ginjal adalah penurunan sekresi jantung berat(1).
natrium dan peningkatan retensi cairan, yang juga merupakan Kiowski dkk(6) meneliti efek hemodinamik akut dari
mekanisme penting pada gagal jantung(1). bosentan dan mendapatkan penurunan tekanan arterial rata-rata,
Endotelin berinteraksi dengan berbagai sistim neuro- tekanan arteri pulmonalis, tekanan atrium kanan, dan pulmo-
humoral. Endotelin meningkatkan sekresi aldosteron maupun nary artery wedge pressure. Peningkatan yang nyata juga
sekresi renin, selanjutnya menyebabkan peningkatan aktifitas didapatkan dari cardiac output dan penurunan resistensi
sistim renin-angiotensin. Selain itu juga dapat menstimulasi vaskuler sistemik dan resistensi vaskuler pulmonal. Antagonis
sistim saraf simpatis dan memfasilitasi neurotransmisi adre- receptor ET mempunyai manfaat jangka pendek terhadap
nergik(1). hemodinamik penderita gagal jantung berat. Kiowski dkk(6)
Endotelin menginduksi tetjadinya bronkokonstriksi melalui menemukan bahwa pemberian secara oral bosentan selama 2
stimulasi produksi tromboxane, yang selanjutnya akan meng- minggu memperlihatkan efek yang lebih nyata dan diper-
aktifkan reseptor tromboxane pada otot polos bronkus(2). tahankan sampai dengan 2 minggu. Belum ada data mengenai
efek antagonis ET terhadap mortalitas dan morbiditas penderita
gagal jantung(6).
RESEPTOR ENDOTELIN
Reseptor endotelin ada dua yaitu reseptor endotelin A
(ETA) dan reseptor endotelin B (ETB) seperti terlihat pada KESIMPULAN
gambar 2. Reseptor endotelin A terutama terdapat pada organ Endotelin merupakan peptida vasokonstriktor sangat kuat
target seperti sel-sel otot polos atau miosit jantung dan bersifat yang dihasilkan oleh endotelium vaskuler. Beberapa penelitian
selektif untuk ET-1. Sedangkan ETB, merupakan reseptor non mendapatkan bahwa sistim endotelin diaktifasi pada berbagai
selektif dan berinteraksi baik dengan endotelin-1 maupun kelainan kardiovaskuler termasuk infark miokard, gagal
dengan endotelin-3 dengan afinitas yang sama(1). jantung, dan hipertensi pulmonal. Pengetahuan mengenai kerja

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 35


dari isoform endotelin-1 menunjukkan bahwa endotelin-1 2. Levin ER. Endothelins. N Engl J Med 1995; 333 : 356-63.
3. De Meyer GRY, Herman AG. Vascular endotheliial dysfunction. Prog
adalah mediator penting pada patofisiologi terjadinya gagal Cardiovasc Dis 1997; 39 : 325-42.
jantung. Bosentan suatu antagonis reseptor endotelin ber- 4. Luscher TF, Boulanger CM, Dohi Y, Yang Z. Endothelium-derived
manfaat pada penderita gagal jantung maupun penderita hiper- contracting factors. Hypertension 1992; 19 : 117-30.
tensi pulmonal. 5. Loan EM, Yusuf S, An P et al. Emerging role of angiotensin-converting
enzyme inhibitors in cardiac and vascular protection. Circulation 1994; 90
: 2056-65.
KEPUSTAKAAN
6. Kiowski W, Sutsch G, Hunziker P et al. Evidence for endothelia-l
mediated vasoconstriction in severe chronic heart failure. Lancet 1995;
1. Stewart D. Update on endothelia. Can J Cardiol 1998; 14 (Suppl D)
346: 732-6.
11D-13D.

Ucapan Terima Kasih

Redaksi telah menerima dua buah buku :


Bunga Rampai Karya Ilmiah Prof. Dr. R. Budhi Darmojo
(Jilid I dan jilid II).
Untuk itu Redaksi mengucapkan terima kasih.

Redaksi
Cermin Dunia Kedokteran

A man who is always well satisfied with himself seldom is so by


others, and others rarely are with him
(La Rochefoucauld)

36 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Klasifikasi dan Kriteria Diagnosis


Diabetes Melitus yang Baru
John MF Adam
Sub-Bagian Endokrin dan Metabolik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang

PENDAHULUAN Dikenal dua bentuk yaitu otoimun dan idiopatik, di mana


Diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit meta- ditemukan kerusakan sel beta dan mengakibatkan terjadinya
bolik yang disifati adanya hiperglikemi akibat kelainan sekresi defisiensi insulin yang absolut. Pada bentuk otoimun dapat
insulin, kerja insulin maupun keduanya. Hiperglikemi kronis ditemukan beberapa petanda imun (immune markers) yang
pada diabetes melitus akan disertai dengan kerusakan, ganggu- menunjukkan pengrusakan sel beta pankreas untuk mendeteksi
an fungsi beberapa alat tubuh khususnya mata, ginjal, saraf, kerusakan sel beta, seperti “islet cell autoantibodies (ICAs),
jantung, dan pembuluh darah. autoantibodies to insulin (IAAs), autoantibodies to glutamic
Diabetes melitus disertai oleh gangguan metabolisme acid decarboxylase (GAD65)”, dan antibodies to tyrosine
hidrat arang, protein dan lemak. Walaupun pada diabetes meli- phosphatase IA-2 and IA-2β. Sebagian kecil penderita diabetes
tus ditemukan gangguan metabolisme semua sumber makanan tipe-1 penyebabnya tidak jelas (idiopatik), pada mereka ini jelas
tubuh kita, kelainan metabolisme yang paling utama ialah ditemukan insulinopeni tanpa petanda imun, dan mudah sekali
kelainan metabolisme hidrat arang. Oleh karena itu diagnosis mengalami ketoasidosis.
diabetes melitus selalu berdasarkan meningginya kadar glukosa
dalam plasma darah. Diabetes melitus tipe-2
Klasifikasi dan kriteria diagnosis diabetes melitus meng- Bentuk ini bervariasi mulai yang dominan resistensi insulin
alami perubahan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1979 National defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi
Diabetes Data Group di Amerika Serikat pertama kali mem- insulin disertai resistensi insulin.
perkenalkan klasifikasi mengenai diabetes melitus(1). Klasifi- Diabetes melitus tipe-2 merupakan jenis diabetes melitus
kasi tersebut kemudian juga digunakan oleh WHO pada tahun yang paling sering ditemukan di praktek, diperkirakan sekitar
1980, yang akhirnya diperluas pada tahun 1985 oleh WHO 90% dan semua penderita diabetes melitus di Indonesia.
Study Group on Diabetes Mellitus(2). Pada akhir tahun 1977 Sebagian besar diabetes tipe-2 adalah gemuk (di negara barat
American Diabetes Association(3) mempublikasikan suatu sekitar 85%, di Indonesia 60%), disertai dengan resistensi
klasifikasi dan kriteria diagnosis yang baru, yang pada saat ini insulin, dan tidak membutuhkan insulin untuk pengobatan.
secara luas digunakan di sebagian besar negara di dunia ter- Sekitar 50% penderita sering tidak terdiagnosis karena hiper-
masuk Indonesia. glikemi meningkat secara perlahan-lahan sehingga tidak mem-
Makalah ini menyajikan klasifikasi dan kriteria diagnosis berikan keluhan. Walaupun demikian pada kelompok diabetes
baru tersebut, yang juga telah digunakan sebagai dasar kon- melitus tipe-2 sering ditemukan komplikasi mikrovaskuler dan
sensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia pada tahun makrovaskuler, bahkan tidak jarang ditemukan beberapa
1998 oleh Perkumpulaan Endokfinologi Indonesia(4). komplikasi vaskuler sekaligus.

KLASIFIKASI DIABETES MELITUS Diabetes melitus tipe lain


Klasifikasi yang baru ini membagi diabetes melitus atas • Defek genetik fungsi sel beta
empat kelompok yaitu diabetes melitus tipe-1, diabetes melitus • Defek genetik insulin
tipe-2, diabetes melitus bentuk khusus, dan diabetes melitus • Penyakit eksokrin pankreas
gestasional. Pembagian ini berdasarkan etiologi diabetes • Endokrinopati
melitus. • Karena obat / zat kimia
• Karena infeksi
Diabetes rvelitus tipe-1

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 37


• Sebab imunologi yang jarang pada klasifikasi yang baru.
• Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan diabetes
melitus CARA DAN KRITERIA DIAGNOSIS
Berdasarkan glukosa plasma vena sewaktu
Diabetes melitus gestasional (DMG) Penderita diabetes melitus sering datang dengan keluhan
Diabetes melitus gestasional diartikan sebagai intoleransi klinis yang jelas seperti haus dan banyak kencing, berat badan
glukosa yang ditemukan pada saat hamil dan diperkirakan menurun, glukosuri, bahkan kesadaran menurun sampai koma.
insidens sebesar 1-3%. Pada umumnya mulai ditemukan pada Dengan keluhan klinis yang jelas, pemeriksaan glukosa darah
kehamilan trimester kedua atau ketiga, pada saat itu terjadi sewaktu sudah dapat menegakkan diagnosis diabetes melitus.
keadaan resistensi insulin. Oleh karena risiko kesakitan den Apabila kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg % (plasma
kematian perinatal tinggi maka dianjurkan skrining diabetes vena) maka penderita tersebut sudah dapat disebut diabetes
melitus gestasi dilakukan pada semua wanita hamil. Pada melitus. Dengan kata lain, pada mereka dengan keadaan klinis
umumnya skrining dilakukan pada minggu gestasi ke 24-28. jelas, kadar glukosa plasma > 200 mg % sudah memenuhi
kriteria diabetes melitus. Pada mereka ini tidak diperlukan lagi
Tabel 1. Perbedaan klasifikasi diabetes melitus menurut American pemeriksaan tes toleransi glukosa.
Diabetes Association 1997 dan WHO 1985
Berdasarkan glukosa plasma vena puasa
ADA 1997 WHO 1985 Glukosa plasma dalam keadaan puasa dibagi atas tiga nilai,
Diabetes melitus tipe-1 Diabetes melitus tergantung insulin
yaitu < 110 mg/dl, atara > 110 mg/dl - < 126 mg/dl, dan ≥ 126
otoimun den idiopatik Diabetes melitus tidak tergantung insulin
tidak gemuk dan gemuk mg/dl. Kadar glukosa plasma puasa < 110 mg/dl dinyatakan
Diabetes melitus tipe-2 Diabetes melitus malnutrisi normal, ≥ 126 mg/dl adalah diabetes melitus, sedangkan antara
Diabetes melitus tipe lain Diabetes melitus bentuk lain 110-126 mg/dl disebut glukosa darah puasa terganggu (GDPT).
Toleransi giukosa terganggu
Diabetes melitus gestasional
Dengan demikian pada mereka dengan kadar glukosa plasma
vena setelah berpuasa sedikitnya 10 jam > 126 mg/dl sudah
Dengan melihat pads Tabel 1, ads beberapa perbedaan cukup untuk membuat diagnosis diabetes melitus. Bahkan
yang perlu dicatat, yaitu untuk penelitian epidemiologis di lapangan dianjurkan untuk
1) Klasifikasi baru berdasarkan etiologi hanya mengenal menggunakan pemeriksaan kadar glukosa plasma puasa bukan
empat jenis diabetes melitus, sedangkan klasifikasi lama lima tes toleransi glukosa oral.
jenis diabetes melitus den satu toleransi glukosa. Toleransi
glukosa terganggu tidak dimasukkan dalam klasifikasi diabetes Dengan menggunakan tes toleransi glukosa oral
melitus yang baru. Apabila pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu kadar
2) Pada klasifikasi baru, diabetes melitus tipe-1 dan tipe-2 glukosa plasma tidak normal, yaitu antara 140-200 mg/dl, maka
menggantikan terminologi ‘tergantung’ dan ‘tidak tergantung’ pada mereka ini harus dilakukan pemeriksaan tes toleransi
insulin dari klasifikasi lama. Hal ini penting sebab sering glukosa oral untuk meyakinkan apakah diabetes melitus atau
dikacaukan antara tergantung insulin (insulin dependent) dan bukan. Sesuai dengan kesepakatan WHO maka tes toleransi
membutuhkan insulin (insulin requirement). Pengertian glukosa oral harus dilakukan dengan beban 75 gram setelah
tergantung insulin adalah mereka yang menggunakan insulin berpuasa minimal 10 jam. Penilaian adalah sebagai berikut,
oleh karena tubuh tidak dapat menghasilkan insulin, yaitu pada toleransi glukosa normal apabila < 140 mg/dl, toleransi glukosa
tipe-1. Penderita diabetes melitus tipe-2 pada suatu saat oleh terganggu (TGT) apabila kadar glukosa > 140 mg/dl.
karena kegagalan sel beta, maka akan mengalami gagal
Tabel 2. Nilai glukosa plasma puasa dan toleransi glukosa setetah beban
sekunder obat hipoglikemik oral. Pada keadaan tersebut ia akan 75 gram glukosa
membutuhkan insulin sementara atau seterusnya, keadaan ini
disebut membutuhkan insulin (insulin requirement), tetapi Glukosa plasma puasa
bukan tergantung insulin. Perlu diingat ada penderita diabetes Normal < 110 mg/dl (6,1 mmol/L)
melitus tipe-1 pada orang dewasa yang semula dianggap Glukosa puasa terganggu ≥ 110 mg/dl (6,1 mmol/L), dan < 126 mg/dl
(7,0 mmol/L)
diabetes melitus tipe-2 tetapi ternyata diabetes melitus tipe-1 Diabetes melitus > 126 mg/dl (7,0 mmol/L)
yang dikenal dengan ‘late autoimunne diabetes in adult’
(LADA). Hasil tes toleransi glukosa oral, glukosa plasma 2 jam
3) Pada klasifikasi baru diabetes melitus tipe-2 tidak dibagi Normal < 140 mg/dl (7,8 mmol/L)
Toleransi glukosa terganggu > 140 mg/dl (7,8 mmol/L), dan < 200 mg/dl
atas gemuk dan tidak gemuk seperti pada klasifikasi WHO (11,1 mmol/L)
1985. Pembagian atas gemuk dan tidak gemuk digunakan Diabetes melitus ≥ 200 mg/dl (11,1 mmol/L)
dengan tujuan pilihan pengobatan, bukan berdasarkan etiologi.
4) Diabetes melitus malnutrisi dihilangkan dengan alasan
belum cukup bukti bahwa apakah betul malnutrisi dapat Keterangan Dikutip dari : report of the expert communitee in the diagnosis and
classification of diabetes mellitus. The Expert committee on the diagnosis and
merupakan penyebab terjadinya diabetes melitus. Salah satu classification of diabetes mellitus, diabetes Care 22 (Suppl. 1) : S5-S19.(5)
bentuk diabetes melitus malnutrisi yaitu fibrocalculous
pancreopathy dimasukkan sebagai diabetes melitus tipe lain

38 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


tetapi < 200 mg/dl, sedang toleransi glukosa ≥ 200 mg/dl di- Wanita hamil
(minggu gestasi ≥ 26)
sebut diabetes melitus.
Cara mendiagnosis diabetes melitus menurut American
Diabetes Association (ADA) 1997 sebenarnya tidak berbeda
dengan cara WHO 1985. Perbedaan utama hanya terletak pada TTG
Glukosa 50 gr
batasan glukosa plasma puasa, yaitu ≥ 126 mg/dl. Pada Tabel 3
dapat dilihat secara ringkas kriteria diagnosis ADA 1997.

Tabel 3. Kriteria diabetes melitus orang dewasa tidak hamil (ADA, 1997) GD < 140 mg/dl GD ≥ 140 mg/dl

1. Glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl (11,1 mmol/L) pada seseorang
dengan keluhan diabetes melitus, seperti banyak kencing, haus dan berat
badan menurun. TTG(-) TTG(+)
2. Glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl (7,0 mmol/L), pada keadaan puasa
sedikitnya 10 jam.
3. Pada pemeriksaan tes toleransi glukosa oral, 2 jam setelah beban 75 mg
glukosa oral, > 200 mg/dl (11,1 mmol/L) TTGO
Glukosa 100 gr

DIAGNOSIS PADA WANITA HAMIL DMG (-) DMG (+)


Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai bagai-
mana cara skrining, jumlah beban glukosa bahkan kriteria yang Gambar 1. Bagan skrining menurut cara O’Sullivan-Mahan
harus dipakai untuk menyatakan diabetes melitus gestasional.
Walaupun demikian ada dua kriteria yang paling sering dipakai Ada beberapa kelemahan cara O’Sullivan-Mahan antara
pada saat ini, yaitu kriteria O’Sullivan-Mahan dan kriteria lain, glukosa 100 gram sering mengakibatkan penderita
WHO. Perlu diketahui bahwa kriteria O’Sullivan-Mahan yang muntah-muntah, pada mereka yang hanya satu angka abnormal
asli menggunakan kadar glukosa darah dengan contoh darah sering juga ditemukan bayi besar dengan akibat kesulitan
lengkap, yang kemudian oleh National Diabetes Data Group persalinan. Oleh karena itu ada kecenderungan untuk meng-
(NDDG) pada tahun 1979 diubah dengan menggunakan contoh gunakan beban glukosa 75 gram seperti WHO. Sebagai contoh
darah berupa plasma vena. Walaupun demikiaan cara skrining ASEAN Study Group of Diabetes in Pregnancy (ASGODIP)
yang dilakukan tetap menggunakan nama O’Sullivan-Mahan. menggunakan cara skrining yang sama tetapi untuk tes toleransi
glukosa hanya menggunakan beban glukosa 75 gram.
Cara skrining dan kriteria O’Sullivan-Mahan
Cara skrining menurut O’Sullivan-Mahan terdiri atas dua Cara WHO
tahap, yaitu tahap tes tantangan glukosa dan tahap toleransi WHO 1985 menggunakan cara diagnosis untuk diabetes
glukosa oral. Pada tahap tes tantangan glukosa, wanita hamil melitus getasional sama dengan cara mendiagnosis pada orang
diberikan minum glukosa sebanyak 50 gram. Tes dinyatakan bukan hamil. Kriteria diabetes melitus sama dengan pada
positif apabila kadar glukosa plasma setelah satu jam minum mereka yang tidak hamil, tetapi dicantumkan bahwa pada
glukosa ≥ 140 mg/dl. Pada mereka dengan tes tantangan mereka yang tergolong toleransi glukosa terganggu harus
glukosa positif harus dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa diobati sebagai penderita diabetes melitus. Dengan kata lain
oral dengan beban glukosa sebanyak 100 gram. Persiapan sama bahwa mereka yang kadar glukosa darah 2 setelah beban
dengan melakukan tes toleransi glukosa pada orang dewasa glukosa 75 gram antara ≥ 140 - < 200 mg/dl harus diobati
tidak hamil, hanya jumlah pemeriksaan glukosa darah sebagai diabetes melitus.
dilakukan empat kali, yaitu puasa, satu jam, dua jam, dan tiga
jam setelah minum glukosa (jadi empat contoh darah). TOLERANSI GLUKOSA TERGANGGU (TGT) DAN
Kadar normal adalah puasa < 105 mg/dl, 1 jam < 190 mg/ GLUKOSA DARAH PUASA TERGANGGU (GDPT)
dl, 2 jam < 165 mg/dl dan 3 jam < 145 mg/dl (Tabel 4). Toleransi glukosa terganggu dan glukosa plasma puasa
Gambar 1 memperlihatkan urutan cara melakukan skrining. terganggu bukanlah suatu kelainan klinik, tetapi lebih me-
rupakan suatu faktor risiko untuk menjadi diabetes melitus
Tabel 4. Skrining dan diagnosis diabetes melitus gestasional menurut kemudian hari, dan faktor risiko untuk penyakit jantung
cara O’Sullivan-Mahan koroner. Oleh karena bukan merupakan suatu kelainan klinik
dengan sendirinya tidak akan mendapat pengobatan. Walaupun
Glukosa plasma 50 g TTG 100 g TTGO demikian mengingat sekitar 30% dari mereka dengan TGT
Puasa - 105 mg/dl dapat menjadi diabetes melitus tipe-2 di kemudian hari, pada
1-jam 140mg/dl 190 mg/dl
2-jam - 165 mg/dl saat ini sedang dilakukan penelitian apakah pengobatan pada
3-jam - 145 mg/dl TGT dapat mencegah terjadinya diabetes melitus tipe-2. Wanita
dengan TGT den GDPT dapat menjadi diabetes melitus pada
Keterangan : saat hamil.
DMG bila 2 atau lebih angka abnormal
TTG = tes tantangan glukosa, TTGO = tes toleransi glukosa oral

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 39


SKRINING DIABETES MELITUS Tabel 5. Kelompok risiko tinggi diabetes melitus yang memerlukan
pemeriksaan penyaring
Diabetes melitus adalah kelompok penyakit metabolik
yang disifati oleh hiperglikemi sebagai kelainan sekresi insulin, Semua orang dewasa berumur ≥ 45 tahun
sifat kerja, maupun keduanya secara bersamaan. Diabetes Riwayat keluarga diabetes melitus, terutama orangtua dan saudara kandung
melitus tipe-2 merupakan kelompok diabetes melitus yang Obesitas, yaitu 20% berat badan idaman atau IMT ≥ 27 kg/m2
paling sering ditemukan di klinik. Kadar hiperglikemi yang Sebelumnya pernah TGT atau GDPT
Hipertensi, yaitu tekanan darah ≥ 140/90 mmHg
berlangsung secara menahun dapat memberikan komplikasi Diabetes melitus gestasi sebelumnya atau pernah melahirkan bayi > 4 kg
kronik pada beberapa alat tubuh. Dislipidemia, yaitu kadar HDL-kolesterol ≤ 35 mg/dl dan/atau trigliserida
Sekitar 50% penderita diabetes melitus tipe-2 tidak ≥ 250 mg/dl
memberikan keluhan sehingga tidak terdiagnosis. Pada
penderita diabetes melitus tipe-2 yang tidak terdiagnosis sering
disertai dengan komplikasi makrovaskuler terutama penyakit Dikutip ddlri: American Diabetes Association. Diabetes Care 22 (Suppl. 1):
jantung koroner. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah- S20-S23, 1999(5), dengan sedikit perubahan.
langkah mendeteksi lebih dini penderita tersebut, yaitu dengan
melakukan pemeriksaan penyaring. Sebaiknya pemeriksaan
penyaring dilakukan pada semua orang dewasa, tetapi hal ini
tidak mungkin dilakukan mengingat pelaksanaan yang sulit dan
KEPUSTAKAAN
membutuhkan biaya yang cukup mahal. Oleh karena itu di-
anjurkan melakukan skrining pada mereka yang tergolong 1. National Diabetes Data Group. Classification and diagnosis of diabetes
risiko tinggi. mellitus and other categories of glucose intolerance. Diabetes 1979; 28 :
Skrining dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa 1039-57.
2. World Health Organisation. Diabetes mellitus : Report of a WHO Study
plasma puasa atau tes toleransi glukosa oral. Oleh karena Group. Techn Rep Ser 727, World Health Organisation,
kesulitan melakukan tes toleransi glukosa oral, maka skrining Geneva-Switzerland, 1985.
dapat dengan menggunakan glukosa plasma puasa atau glukosa 3. The Expert committee on the diagnosis and classification of diabetes
plasma sewaktu. Pada mereka yang mempunyai glukosa plasma mellitus. Report of the expert committee on the diagnosis and
classification of diabetes mellitus. Diabetes Care; 1997; 20 (Suppl. 1) :
puasa ≥ 126 mg/dl, diklasifikasikan sebagai diabates melitus, 1183-97.
sedangkan mereka dengan glukosa plasma puasa ≥ 110 mg/dl 4. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus pengelolaan diabetes
tetapi < 126 mg/dl (GDPT) perlu dilanjutkan dengan tes tole- melitus di Indonesia 1998. Jakarta, 1998.
5. Report of the expert committee on the diagnosis and classification of
ransi glukosa untuk menentukan adanya diabetes melitus. Pada diabetes mellitus. The Expert committee on the diagnosis and
mereka dengan kadar glukosa plasma sewaktu > 160 mg/dl classification of the diabetes mellitus 1999. Diabetes Care 22 (Suppl. 1) :
tetapi < 200 mg/dl dianggap sebagai mencurigakan diabetes, S5 - S19.
oleh karenanya perlu dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa 6. American Diabetes Association. Screening for tips-2. Diabetes Care 1999;
22 (Suppl. 1) : S20 - S23.
oral(5).

Gain all you can, save all you can, give all you can
(John Wesley)

40 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


HASIL PENELITIAN

Hubungan antara Waktu


Kadaluwarsa Ampisilina dengan
Daya Hambat Pertumbuhan
E. coli secara in vitro
Raharni*, Sugeng Riyanto**, Koesniyo***
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
** Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
*** Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang hubungan antara waktu kadaluwarsa ampisilina


terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara in vitro. Tujuan penelitian ini
adalah mencari hubungan antara waktu kadaluwarsa ampisilina terhadap pertumbuban
bakteri E. coli, dibandingkan dengan ampisilina standar.
Penelitian dilakukan dengan metode dilusi untuk menentukan Konsentrasi Hambat
Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bakterisidal Minimal (KBM) dari ampisilina dengan
berbagai waktu kadaluwarsa terhadap bakteri E. coli. Potensi antibiotika makin besar
bila harga KHM dan KBM makin kecil.
KHM dan KBM ampisilina yang telah melewati waktu kadaluwarsa lebih kecil
dari KHM dan KGM ampilisina standar; makin jauh waktu kadaluwarsa ampisilina
dilewati makin kecil daya hambatnya dibandingkan dengan ampilisina standar, ter-
hadap pertumbuhan bakteri E. coli.

PENDAHULUAN nurunan potensi antimikroba yang menyolok(1).


Salah satu masalah utama yang berkaitan dengan pemakai- Penguraian ampisilina disebabkan oleh hidrolisis meng-
an antibiotika secara luas adalah terbentuknya resistensi mikro- akibatkan terbukanya cincin beta-laktam, membentuk senyawa
organisme terhadap obat ini. asam alfa amino benzilpenisiloat yang tidak aktif sebagai
antibiotik(1).
Ampisilina
Ampisilina merupakan penisilina semi sintetik, digunakan Kadaluwarsa Obat
dalam pengobatan penyakit infeksi yang disebabkan oleh strain Tanggal kadaluwarsa ialah batas waktu setelah mana sedia-
sensitif dari Shigella, Salmonella, Escherichia coli, Haemo- an tersebut tidak lagi memenuhi syarat daya kerja yang
philus influenza, Aerobacter dan Proteus mirabilis atau tertera(2).
infeksi-infeksi lain yang disebabkan oleh enterokokus.
Ampisilina mempunyai struktur molekul mengandung Escherichia coli
cincin beta-laktam sebagai pusat aktif antibiotika; pada pe- Escherichia coli adalah bakteri yang menyerang organ-
nyimpanan melampaui waktu kadaluwarsa cincin ini dapat organ traktus digestivus, traktus urinarius, dapat menyebabkan
mengalami penguraian, menyebabkan potensi antibakteri men- meningitis pada bayi prematur dan neonatus. Strain entero-
jadi rendah atau tidak aktif lagi sebagai anti-biotika. Dengan patogenik E. coli sering menyebabkan diare akut pada anak-
amidase terjadi pemecahan rantai samping dengan akibat pe- anak umur di bawah dua tahun(3).

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 41


Metode Dilusi (Pengenceran) MacConkey, inkubasi 37°C seisms 18-24 jam. Ambil 1 ose,
Prinsip metode ini adalah sejumlah antibiotika diencerkan suspensikan ke dalam 2 mL BHI, diinkubasikan pada 37°C
hingga diperoleh beberapa macam konsentrasi, lulu masing- selama 4 jam.
masing konsentrasi diberikan pada suspensi kuman dalam
Skema 1. Cara uji potensi antibiotika
media. Setelah diinkubasi, diamati ada atau tidaknya per-
tumbuhan bakteri yang ditandai dengan terjadinya kekeruhan. Satu ose bakteri dari biakan murni E. coli gores ke MacConkey
Konsentrasi terendah yang menghambat pertumbuhan bakteri untuk E. coli
yang ditunjukkan dengan tidak adanya kekeruhan disebut. inkubasi 37°C, 18-24 jam
Ambil 1 ose, masukkan ke dalam 2 ml BHI
Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) atau Minimal in hibitory inkubasi 37°C, 4 jam
Concentration (MIC). Contoh masing-masing konsentrasi anti- Encerkan dengan akuades steril
biotika yang menunjukkan hambatan pertumbuhan tersebut samakan dengan standar
ditanam pada agar padat media pertumbuhan bakteri yang Brown III (108 CFU/mL)
Ambil 2,0 mL, encerkan dengan BHI double strength ad 200 ml
bebas antibiotika dan diinkubasi. Konsentrasi antibiotika (106 CFU/mL)
terendah yang membunuh 99,9% inokulum bakteri disebut Ambil 1,0 ml
Konsentrasi Bakterisidal Minimal (KBM) atau Minimal Tambahkan pada 1; mL larutan antibiotika
Bactericidal Concentration (MBC) (4). inkubasi 37°C, 18-24 jam
Amati kekeruhan larutan, tentukan KHM
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan daya Ambil 1 ose larutan yang jernih
antibakteri ampisilina yang telah melewati waktu kadaluwarsa, Gores ke agar darah
dengan daya antibakteri ampisilina standar daluwarsa, dengan inkubasi 37°C, 18-24 jam
daya antibakteri ampisilina standar terhadap pertumbuhan Amati adanya pertumbuhan bakteri
bakteri E. coli.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu mencegah baha- b) Inokulasi bakteri
ya penggunaan ampisilina potensi rendah karena telah kadalu- Encerkan suspensi kuman dalam BHI dengan akuades
warsa. steril sampai kekeruhan sesuai dengan standar Brown II (108
CFU/ mL), lulu encerkan dengan BHI double strength dengan
METODE PENELITIAN perbandingan 1 : 100 dengan cara ambil 2,0 mL, dan diencer-
A) Bahan dan Alat kan dengan BHI double strength ad 200 mL, sehingga kon-
1) Bahan sentrasi bakteri menjadi 106 CFU/mL.
a) Serbuk Ampisilina Trihidrat (A) c) Pembuatan larutan antibiotika dan seri pengenceran larutan
b) Serbuk Ampisilina (B) : masih bisa beredar antibiotika.
c) Serbuk Ampisilina (C) : tepat habis waktu kadaluwarsanya T'imbang serbuk ampisilina A, B, C, D, E sebanyak 16,64
d) Serbuk Ampisilina (D) :1 tahun setelah waktu kadaluwarsa mg dan untuk ampisilina F timbang sebanyak 33,28 mg ma-
e) Serbuk Ampisilina (E) : 2 tahun setelah waktu kadaluwarsa sing-masing dilarutkan dalam buffer fosfat 0,1 M pH 8 steril.
f) Serbuk Ampisilina (F) : 3 tahun setelah waktu kadaluwarsa Buat seri pengenceran dari masing-masing larutan anti-
g) Buffer fosfat pH 6 dan pH 8 steril biotika dengan cara tabung nomer 2 sampai terakhir diisi
h) Akuades steril dengan 1,0 ml buffer fosfat 0,1 M pH 6 (untuk ampisilina A)
i) Media Agar darah dan akuades steril untuk ampisilina B, C, D, E, F. Tabung
j) Media Mac Conkey nomer 1 diisi 2,0 ml antibiotika dengan konsentrasi awal ter-
k) Media Brain Heart Infusion (BHI) tentu, ambil 1,0 ml larutan dari tabung nomer 1 dimasukkan
l) Media Brain Heart Infusion double strength (BHI double tabung nomer 2, kocok sampai homogen. Ambil larutan 3 dan
strength) seterusnya sampai tabung terakhir, 1,0 ml larutan dari tabung
m) Bakteri E. coli terakhir dibuang.
2) Alat d) Cara pemeriksaan
a) Neraca Shimadzu type L-SM 68693, capacity 200 g, Masukkan 1,0 ml suspensi bakteri E. coli dalam BHI
readability 0,01 mg double strength ke dalam tiap tabung dari seri pengenceran
b) pH meter TOA, HM-60 S larutan antibiotika, sehingga konsentrasi larutan antibiotika
c) Tabung reaksi, cawan petri steril dalam tiap tabung menjadi setengah dari konsentrasi semula.
d) Alat-slat gelas dan alat untuk mikrobiologi lainnya. Inkubasi pada 37°C selama 18 jam. Amati pertumbuhan bakteri
dengan adanya kekeruhan. Setiap pengujian dilakukan rangkap
3 (tiga) kali. Sebagai kontrol adalah masing-masing larutan
B) Prosedur penelitian antibiotika, media BHI double strength, dan suspensi bakteri
1) Identifikasi bakteri Escherichia coli dalam BHI double strength.
E. coli diidentifikasi dengan deret media Kliger Iron Agar
(KIA), Semi Solid Sucrose Medium (SSS), Lysine Iron Agar HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
(LIA), Motility IndoI Ornithine (MIO). A) Identifikasi bakteri E. coli
2) Uji potensi antibiotika dengan metode dilusi (Skema 1) Pada media KIA, terjadi perubahan warna indikator fenol
a) Penyiapan bakteri dari merah ke kuning dan dalam posisi terangkat karena adanya
Ambil 1 ose bakteri dari biakan murni E. coli, gores ke media asam dan gas sebagai produk pemecahan laktosa dan dektrosa.

42 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


Tabel 1. Hasil identifikasi E. coli dengan deret media. Tabel 2. Nilai KHM dan KBM ampisilina dari berbagai waktu
kadaluwarsa, terhadap bakteri E. coli.
Media Hasil identifikasi
KHM KBM
Jenis ampisilina
KIA Timbul gas, warna media berubah dari merah menjadi kuning (ug/mL) (ug/ml)
SSS Media berubah dari merah menjadi kuning, terjadi pergerakan A. Standar 3,25 6,5
bakteri B. Masih beredar 4,33 13
LIA Media tetap berwarna ungu, H2S negatif C. Tepat habis waktu kadaluwarsa 13 104
MIO Terjadi perubahan warna media dari ungu ke kuning, terjadi D. 1 tahun setelah waktu kadaluwarsa 104 416
pergerakan bakteri dan timbul cincin merah (indo positif) setelah E. 2 tahun setelah waktu kadaluwarsa 208 416
ditambah pereaksi Covacs F 3 tahun setelah waktu kadaluwarsa 416 832

ampisilina standar adalah yang paling besar, dan yang paling


Terjadinya perubahan warna media SSS dari merah ke kecil adalah ampisilina 3 tahun setelah melewati waktu kada-
kuning disebabkan adanya asam sebagai hasil fermentasi luwarsa. Hasil analisis variansi 1 jalan dengan taraf keper-
sukrosa oleh bakteri. Pada media SSS terjadi pergerakan bakteri cayaan 95% menunjukkan ada perbedaan nyata nilai KHM
(motility), di daerah tusukan (butt) terlihat keruh dan melebar. ampisilina A, B, C, D, E, F. Hasil uji Tukey menunjukkan
Media LIA dan MIO pada prinsipnya digunakan untuk adanya perbedaan diantara 2 nilai KHM dari ampisilina yang
mengetahui reaksi bakteri terhadap asam amino, dalam hal ini diuji.
lisin pada LIA dan ornithin pada MIO. Selain itu media LIA Ampisilina menunjukkan KHM terhadap bakteri Gram
dapat juga digunakan untuk mengetahui apakah bakteri yang negatif sebesar 0,02-8 ug/ml(6). Dari penelitian ini diperoleh
diperiksa membentuk asam sulfida atau tidak. Hasil peng- KHM ampisilina trihidrat (A) sebesar 3,25 ug.mL dan
amatan menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan pH media, ampisilina yang masih beredar (B) sebesar 4,33 ug/mL dan
dan juga tidak dihasilkan asam sulfida. Jadi bakteri tidak dapat ampisilina tersebut masih mempunyai daya hambat yang cukup
memecah lisin dan tidak membentuk asam sulfida. Media MIO baik terhadap pertumbuhan bakteri E. coli. Sedang untuk
digunakan untuk mengetahui reaksi terhadap ornitin, dapat juga sediaan yang telah kadaluwarsa yakni ampisilina C, D, E, F
digunakan untuk mengetahui adanya pergerakan bakteri yang perbedaan KHM cukup besar.
diperiksa, serta kemampuannya menghasilkan indol. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa terjadi perubahan warna KESIMPULAN
media dari ungu menjadi kuning, pada bagian tusukan terlihat Dengan metode dilusi disimpulkan bahwa daya hambat
keruh dan melebar, berarti bakteri yang diperiksa dapat ber- pertumbuhan bakteri E. coli dari ampisilina menurun menurut
gerak, serta terbentuk cincin merah (indol) setelah ditambah lamanya waktu kadaluwarsa dilewati. Hal ini terlihat dari nilai
pereaksi Covacs. Perubahan warna media disebabkan karena KHM dan KBM.
terjadinya dekarboksilasi ornitin oleh bakteri. Dilepaskannya Nilai KHM dan KBM naik berturut-turut dari ampisilina
karbondioksida menyebabkan kenaikan pH media, akibatnya standar, ampisilina yang masih beredar, tepat pada waktu
terjadi perubahan warna indikator brom kresol dari ungu kadaluwarsa, ampisilina yang sudah melewati waktu kada-
menjadi kuning. Dari uji yang dilakukan, dapat disimpulkan luwarsa 1, 2, dan 3 tahun. Berarti ampisilina yang lebih lama
bahwa bakteri yang diperiksa adalah E. coli. melewati waktu kadaluwarsa makin berkurang potensi
menghambatnya terhadap pertumbuhan bakteri E. coli.
B) Uji potensi ampisilina
Dengan metode dilusi dapat ditentukan Konsentrasi SARAN
Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bakterisidal Minimal Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi
(KBM) suatu antibiotika. Makin besar nilai KHM dan KBM anti bakteri dari ampisilina yang telah kadaluwarsa dengan
suatu antibiotika, berarti potensinya makin kecil dalam menggunakan bakteri seperti Staphylococcus aureus.
menghambat pertumbuhan bakteri.
Penentuan nilai Konsentrasi Bakterisidal Minimal (KBM),
ditandai dengan cara menggoreskan pada media agar darah dari KEPUSTAKAAN
masing-masing larutan yang masih tetap jernih, dari tiap-tiap
jenis antibiotika. Konsentrasi terendah, di mana goresan pada 1. Wilson CO, Gisvold O, Doerge RF. Text Book of Organic Chemistry, 7th
ed. Philadelphia: JB Lippincott Co 1982; 241.
agar darah tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri merupakan 2. Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Konsentrasi Bakterisidal Minimal (KBM). Ampisilina A, B, C, Indonesia, Jjakarta. 1979.
D, E, F, mempunyai nilai KBM masing-masing adalah 6,5; 13; 3. Salle AJ. Fundamental Principles of Bacteriology, fifth ed. New York :
104; 416; dan 832 u/mL. Nilai KHM masing-masing adalah McGraw Hill Book Co Inc, 1961; 418-20.
4. Edberg SC. Antibiotics and Infections, 1986; 5-22.
3,25; 4,33; 13; 104; 208; dan 416 ug/mL (Tabel 2). 5. Soejoeti Z. Buku Materi Pokok Metode Statistika II Modul 1-5,
Makin besar harga KHM dan KBM makin besar kon- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Terbuka, Jakarta,
sentrasi yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan 1986; 106-110.
bakteri, berarti potensi antibiotika tersebut makin kecil. Dari uji 6. Reynold JEF, Parfitt K. Martindale The Extra Pharmacopolea, Tweenty
ninth ed. London : The Pharmaceutical Press, 1989; 116-8.
yang dilakukan ternyata nilai KHM yang semakin besar,
dimulai dari ampisilina A, B, C, D, E, F. Berarti potensi (Lihat lampiran).
antibakteri yang dimiliki oleh

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 43


LAMPIRAN

900
Keterangan :
800
KBM KHM
700 A : ampisilina standar
B : masih bisa beredar
Konsentrasi (ug/ml)

600 C : tepat waktu kadaluwarsa


D : 1 tahun melewati waktu kadaluwarsa
500 E : 2 tahun melewati waktu kadaluwarsa
400 F : 3 tahun melewati waktu kadaluwarsa

300

200
100
0
A B C D E F
Waktu kadaluwarsa

Grafik 1. Hubungan antara waktu kadaluwarsa ampisilina dengan nilai


KHM dan KBM terhadap E. coli.

44 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


HASIL PENELITIAN

Disolusi dan Penetapan Kadar


Alopurinol Sediaan Generik
dan Sediaan dengan Nama Dagang

Sukmayati Alegantina, Ani Isnawati, Kelik M Arifin


Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK

Sediaan alopurinol dalam bentuk tablet selain generik berlogo juga tersedia dengan
nama dagang. Untuk memasyarakatkan obat generik berlogo diperlukan informasi
tentang mutu obat yang bersangkutan. Mutu obat generik berlogo yang sering
dipertanyakan. Untuk itu dilakukan penelitian disolusi dan penetapan kadar alopurinol
dalam 1 sediaan generik dan 3 sediaan dengan nama dagang (A, B dan C). Metode
disolusi dan penetapan kadar alopurinol berdasarkan pada Farmakope Indonesia IV,
1995, disolusi menggunakan spektrofotometer UV dan penetapan kadar menggunakan
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT).
Disolusi tablet alopurinol generik berlogo dan sediaan dengan nama dagang A, B
dan C dalam waktu 15 menit memberikan hasil masing-masing 101,47%; 95,13%;
102,55% dan 97,635. Menurut persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV, 1995 dalam
waktu 60 menit kadar alopurinol (C5H4N4O) harus larut tidak kurang dari 75%.
Penetapan kadar tablet alopurinol dalam tablet generik dan 3 tablet dengan nama
dagang (A, B dan C) masing-masing 96,98%; 95,21%; 106,76% dan 99,87%.
Farmakope Indonesia IV mensyaratkan kadar alopurinol tidak kurang dari 93,0% dan
tidak lebih dari 107,0%.
Semua sediaan alopurinol generik berlogo dan 3 sediaan dengan nama dagang (A, B
dan C) memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia Edisi IV,
1995 baik dalam disolusi dan kadar zat berkhasiat.

PENDAHULUAN obat ini tidak bersifat analgesik, anti inflamasi atau uricosuric
Alopurinol adalah obat pirai dengan cara kerja menurun- activity. Pengobatan jangka panjang mengurangi frekuensi
kan kadar asam urat dengan cara menghambat xantin oksidase, serangan, menghambat pembentukan tofi, memobilisasi asam
enzim xantin oksidase ini bekerja menghambat hipoxantin urat dan mengurangi besarnya tofi mobilisasi asam urat ini,
menjadi xantin dan selanjutnya menjadi asam urat. Oksipurinol tidak ditingkatkan dengan memberikan urikosurik(1,2).
merupakan metabolisme dari alopurinol yang juga menginhibisi Dosis untuk penyakit pirai ringan 200 - 400 mg sehari,
xantin oksidase. Obat ini terutama mengobati penyakit pirai untuk penyakit lebih berat 400 - 600 mg sehari. Untuk
kronik dengan insufisiensi ginjal dan batu urat dalam ginjal, penderita gangguan fungsi ginjal dosis cukup 100 - 200 mg
tetapi dosis awal harus dikurangi. Alopurinol tidak bersifat sehari, untuk hiperuresimia sekunder 100 - 200 mg sehari,
sitotoksik dan tidak mempunyai efek transplantable tumor, untuk anak 6 - 10 tahun 300 mg sehari dan anak di bawah 6

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 45


tahun 150 mg sehari. Alopurinol menghambat oksidasi merkap- dengan fase gerak sampai tanda. Larutan ini dibuat pada saat
topurin bila diberikan bersamaan dosis merkaptopurin harus akan digunakan.
dikurangi 25 - 30%(3).
Berdasarkan hasil penelitian tahun 1991 ternyata dari 6 Larutan uji
jenis obat yang diteliti terlihat perbandingan Harga Jual Apotik Sebanyak 20 tablet ditimbang dan kemudian diserbukkan.
(HJA) obat generik dengan obat paten yang sejenis sangat Ditimbang sejumlah serbuk setara dengan 50 mg alopurinol,
bervariasi berkisar 6,03 -17,94 x HJA obat generik(2). Harga dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, ditambah 10 ml
Netto Apotik (HNA) tahun 1998 untuk alopurinol nama dagang larutan natrium hidroxsida 0,1 N dikocok selama 10 menit,
pabrik PMA 12 x harga generik dan HNA pabrik PMDN 6 x ditambah air sampai tanda. Disaring, di buang 10 ml filtrat
harga generik. Mutu obat generik dengan harga yang sangat pertama kemudian dimasukkan 4,0 ml filtrat dan 2,0 ml larutan
murah sering dipertanyakan; untuk itu perlu dimantapkan baku internal ke dalam labu tentukur 200 ml, diencerkan
dengan data laboratorium agar dapat diinformasikan kepada dengan fase gerak sampai tanda. Disuntikkan secara terpisah
masyarakat luas. sejumlah volume sama (lebih kurang 15 µl) larutan baku dan
Penelitian ini bertujuan membandingkan mutu obat generik larutan uji ke dalam kromatograf, di ukur tinggi puncak utama.
berlogo sediaan alopurinol dengan sediaan nama dagang A, B Waktu retensi relatif dari hipoksantin 0,6 dan alopurinol 1,0.
dan C. Pada penelitian ini dilakukan disolusi dan penetapan Untuk menghitung jumlah C5H4N4O dalam serbuk tablet yang
kadar sediaan alopurinol generik berlogo dan sediaan dengan digunakan, dipakai rumus :
nama dagang A, B dan C. 2,5 C (RU)
(RS)
METODOLOGI(4) C adalah kadar alopurinol BPFI dalam µg per ml. Larutan baku
Sampel terdiri dari 1 sediaan alopurinol berlogo dan 3 Ru dan Rs berturut-turut adalah perbandingan respon puncak
sediaan dengan nama dagang A, B dan C. Tiap sediaan terdiri antara alopurinol dan baku internal dari larutan uji dan larutan
dari 10 tablet, jadi jumlah keseluruhan sampel yang diteliti baku.
sebanyak 40 tablet.
Disolusi dan penetapan kadar alopurinol (C5H4N4O) di- HASIL DAN PEMBAHASAN
lakukan menurut Farmakope Indonesia IV, 1995.
Alopurinol
a) Disolusi
Digunakan alat disolusi tipe 2 (metode pedal) dengan
kecepatan 75 rpm dan media disolusi asal klorida 0,1 N
sebanyak 900 ml. Dilakukan penetapan jumlah alopurinol
(C5H4N4O) yang terlarut dengan menggunakan serapan filtrat
larutan uji, diencerkan dengan asam klorida 0,1 N dan serapan
larutan baku alopurinol BPFI dalam media yang sama pada
panjang gelombang serapan maksimum ± 250 nm. Dalam
waktu 45 menit harus larut tidak kurang dari 75% C5H4N4O
dari jumlah yang tertera dalam etiket.

b) Penetapan kadar
Penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan kromato-
grafi cair kinerja tinggi dilengkapi detektor UV 254 nm dengan
menggunakan kolom 4 mm x 30 cm dan bahan pengisi L1
(Oktadesil silana terikat secara kimiawi pada partikel mikro-
silika berpori atau artikel mikrokeramik dengan diameter 5 µM
- 10 µm), laju aliran kurang 1,5 ml/menit dengan fase gerak Gambar 1. Kurva profil disolusi sediaan alopurinol generik dan 3 sediaan
larutan ammonium monobasa 0,05 M. alopurinol dengan nama dagang.
Larutan baku internal
Dilarutkan ± 50 mg hipoksantin P dalam 10 ml natrium Tabel 1. Disolusi sediaan alopurinol
hidroksida 0,1 N, dikocok selama 10 menit hingga larut,
konsentrasi (%)
diencerkan dengan air hingga 50 ml. Larutan ini dibuat pada No Tablet
saat akan digunakan. 15 menit 30 menit 45 menit
Larutan baku 1. Generik 101,470 102,130 104,930
2. A 95,130 99,210 100,170
Ditimbang dengan seksama ± 50 mg alopurinol BPFI, 3. B 102,550 103,440 103,305
dimasukkan ke dalam labu 50 ml ditambahkan 10 ml natrium 4. C 97,630 99,810 104,470
hidroksida 0,1 N dikocok selama 10 menit, diencerkan dengan
air. Dimasukkan 4,0 ml larutan ini dan ditambah 2,0 ml larutan Menurut Farmakope Indonesia IV, 1995 dalam waktu 45
baku internal ke dalam labu tentukur 200 ml, diencerkan ment tidak kurang dari 75% kadar alopurinol (C5H4N4O) harus

46 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


larut. Dari profil disolusi menunjukkan bahwa dalam waktu 15
menit sediaan generik dan 3 macam sediaan dengan nama
dagang telah larut > 75% seperti terlihat pada Tabel 1. Dengan
demikian keempat sediaan tersebut telah memenuhi persyaratan
Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995.

Gambar 4. Kromatogram kadar alopurinol dengan nama dagang A.

Gambar 2. Kromatogram kadar baku alopurinol

Gambar 5. Kromatogram kadar alopurinol dengan nama dagang B.

Tabel 2. Perhitungan kadar alopurinol


Gambar 3. Kromatogram kadar alopurinol generik.

Kadar zat berkhasiat sediaan alopurinol generik dan 3 No. Tablet Kadar (%)
1. Generik 96,98
sediaan dengan nama dagang memenuhi persyaratan 2. A 95,21
Farmakope Indonesia IV, 1995, yaitu kadar alopurinol tidak 3. B 106,76
kurang dari 93,00% dan tidak lebih dari 107,00%. 4. C 99,87

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 47


Dari hasil disolusi dari kadar zat berkhasiat yang didapat,
obat alopurinol generik tidak kalah mutunya dibandingkan
dengan nama dagang walaupun harga obat generik lebih murah
dari harga obat dengan nama dagang.

SARAN
Dalam rangka peningkatan pemasyarakatan obat generik
berlogo, seyogyanya hasil-hasil penelitian di laboratorium
hendaknya disebarluaskan melalui brosur-brosur oleh produ-
sen obat generik berlogo (OGB) atau buku panduan yang
diterbitkan oleh DepKes RI agar penggunaannya terjangkau
oleh semua lapisan masyarakat.

KEPUSTAKAAN

1. Mc Euoy K. Drug Information. Am Soc of Health System Pharmacists


Inc. 1996.
2. Sasanti Handayani dkk. Perbandingan Harga Jua1 Apotik Beberapa Obat
dengan Obat Paten yang Sejenis di Jakarta. Cermin Dunia Farmasi 1992;
12.
3. Sulistia G. dkk. Farmakologi dari Terapi Edisi IV Farmakologi FK UI.
Jakarta, 1995.
4. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta. Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI, 1995.
5. IIMS MIM/S Indonesia. 1996; 25 (2).
6. ISO Indonesia Edisi Farmakoterapi. Jakarta ISFI 1997.
7. Kadarwati, U. Penelitian Studi Penyebarluasan dan Pemasyarakatan Obat
Gambar 6. Kromatogram kadar alopurinol dengan nama dagang C. Generik Berlogo Sektor Swasta. Jakarta. Puslitbang Farmasi BPPK
DepKes RI, 1993.
8. Lastari P, Mutiatikum D, Raaini M. Penelitian Pemantapan Metoda
Penetapan Kadar Propanolol Beberapa Sediaan Generik dan Sediaan
KESIMPULAN dengan nama dagang, Jakarta. Puslitbang Farmasi BPPK Depkes RI,
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa disolusi dari 1991.
9. Lastari P, Mutiatikum D, Isnawati A. Penetapan Kadar tetrasiklin dalam
kadar zat berkhasiat sediaan alopurinol generik dart 3 sediaan
Sediaan Generik dan Dalam 16 Sediaan dengan Nama Dagang
nama dagang (A, B dart C) semuanya memenuhi syarat Farma- Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Jakarta. Puslitbang
kope Indonesia IV, 1995. Farmasi BPPK DepKes RI, 1993.

Do not tell a friend anything that you would conceal from an enemy

48 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


HASIL PENELITIAN

Resistensi M. tuberculosis
terhadap Obat Anti Tuberkulosis
Bahan Baku dan Obat Generik
di Bagian Patologi Klinik
Fakultas Kedokteran
Unrversitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Hotman Sinaga, Idaningroem Sjahid, Nonang Siahaarv,ida Parwati Santoso
Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin Bandung

ABSTRAK

Pengobatan penderita TB yang tidak tepat dapat menyebabkan kuman M.


tuberculosis menjadi resisten dan sulit diobati. Pengobatan yang tepat antara lain dapat
dicapai dengan bantuan hasil uji kepekaan; sayangnya pemeriksaan uji kepekaan tidak
mudah dilakukan karena mahal. Oleh karena itu perlu diteliti uji kepekaan obat anti
tuberkulosis (OAT) yang murah dan mudah didapat.
Dari 50 isolat M. tuberculosis yang diteliti menggunakan OAT-bahan baku dan
OAT-obat generik pada media Ogawa 1% dengan metode proporsi secara tidak
langsung di Bagian Patologi Klinik FK UNPAD/RSHS Bandung didapatkan hasil uji
kepekaan dengan OAT-bahan baku dan OAT-obat generik adalah sama. Dua puluh
enam isolat (52%) sensitif dan 24 isolat (48%) resisten terhadap satu atau lebih OAT,
19 (38%) resisten terhadap streptomisin, 17 (34%) resisten terhadap pirazinamid, 13
(26%) resisten rifampisin, 4 (8%) resisten INH, 2 (4%) resisten terhadap etambutol, 8
(16%) resisten terhadap satu jenis OAT, 6 (12%) resisten terhadap dua jenis OAT, 7
(14%) resisten terhadap tiga jenis OAT, 1 (2%) resisten terhadap 4 jenis OAT, 2 (4%)
resisten terhadap 5 jenis OAT dan 16 (32%) resisten terhadap atau lebih OAT. Isolat
yang resisten terhadap satu jenis OAT, 4 (8%) resisten terhadap streptomisin, 3 (6%)
adalah MDR-TB. Uji kepekaan dengan bahan baku dan obat generik mempunyai
ketepatan 100% dan persentase resistensi isolat terhadap masing-masing OAT-bahan
baku dan OAT-obat generik tidak berbeda bermakna (p>0,05).
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa OAT-obat generik dapat digunakan
untuk uji kepekaan M. tuberculosis.
Kata Kunci : Obat anti tuberkulosis bahan baku - obat generik - resistensi obat

PENDAHULUAN dunia menderita TBP, 8 juta kasus baru pertahun dan 3 juta
Sejak ditemukannya Mycobacterium tuberculosis (M. kematian, sehingga pada tahun 2000 diperkirakan akan terjadi
tuberculosis) 107 tahun yang lalu, telah banyak upaya yang kira-kira 90 juta penderita TBP dengan 30 juta kematian(5-7).
dilakukan untuk memberantas penyakit tuberkulosis. Namun Bila penanganan kasus-kasus TBP lidak ditingkatkan, maka
sampai saat ini penyakit tuberkulosis paru (TBP) masih men- pada tahun 2020 diperkirakan hampir satu miliar penduduk
jadi masalah kesehatan baik di Indonesia maupun di dunia(1-5). dunia akan terinfeksi, 200 juta akan menderita TBP dan 70 juta
Pada awal tahun 1990, dilaporkan terdapat 16 juta penduduk akan meninggal(8). Di negara sedang berkembang diperkirakan

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 49


terjadi sekitar 7 juta kasus TB baru dan 2-3 juta akan meninggal piramizamid 990 ug/mg. OAT-generik yang digunakan adalah
tiap tahunnya(9). Di Indonesia, Survei Kesehatan Rumah INH tablet, streptomisin bubuk, etambutol tablet, rifampisin
Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 1992 me- kapsul dan piramizamid tablet. Masing-masing OAT-generik
nunjukkan, penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor ditimbang berat aktualnya, lalu dihitung potensi dari masing-
2 setelah penyakit kardiovaskuler atau urutan pertama pada masing OAT-generik, selanjutnya digerus dan disaring dengan
kelompok penyakit infeksi(10). Dari hasil evaluasi bersama kain kasa. Hasil saringan ditimbang sesuai dengan yang di-
Indonesia - WHO pada tahun 1994, disimpulkan bahwa di butuhkan untuk pembuatan larutan obat yang akan dicampur-
Indonesia terdapat 500.000 penderita TB-Paru-baru setiap kan ke media Ogawa 1%. Media kontrol dan media uji yang
tahunnya dengan kematian 175.000 penderita per tahun dan telah diinokulasi diinkubasi 3-6 minggu pada suhu 37°C, dilihat
terdapat 260.000 penderita yang tidak terdiagnosis setiap tahun- ada tidaknya pertumbuhan (koloni), jika ada pertumbuhan,
nya. Karena pengobatan yang tidak adekuat, diperkirakan ter- jumlah koloni dihitung. Pertumbuhan pada media uji diban-
dapat 560.000 penderita TBP kronik yang merupakan sumber dingkan dengan pertumbuhan pada media kontrol dan
penularan di masyarakat(11). dinyatakan dalarn persen. Bila persentase pertumbuhan pada
Pengobatan penderita yang tidak adekuat dapat menyebab- media uji ≥ 1% disebut resisten dan jika < 1% atau tidak ada
kan M. tuberculosis menjadi resisten terhadap satu atau lebih pertumbuhan disebut sensitif(12). Data yang telah dikumpulkan
OAT(8). Kuman yang resisten atau resisten multipel sulit diobati diolah, untuk tingkat resistensi terhadap OAT dinyatakan dalam
dengan kombinasi OAT biasa. Untuk penderita demikian kom- persen, kesesuaian hasil uji kepekaan antara OAT-bahan baku
binasi OAT sebaiknya didasarkan pada hasil uji kepekaan. dengan OAT-obat generik dengan tabel kontingensi 2 x 2 dan
Dalam kepustakaan disebutkan, pemeriksaan uji kepekaan untuk mengetahui adanya perbedaan persentase resistensi
harus menggunakan OAT-bahan baku, sayangnya OAT-bahan terhadap OAT-bahan baku dan OAT-obat generik dengan
baku selain sulit didapat harganya pun sangat mahal(12-13). Ber- Wilcoxon.
dasarkan harga pembelian pada bulan September - Okfober
1998, untuk tiap mg OAT-bahan baku rifampisin lebih mahal HASIL DAN PEMBAHASAN
2208 kali, INH-baku lebih mahal 155 kali, etambutol-baku Selama masa penelitian telah berhasil dilakukan uji kepe-
lebih mahal 82 kali, pirazinamid-baku lebih mahal 76 kali dan kaan terhadap 51 isolat. Dari 51 isolat yang dilakukan uji kepe-
streptomisin-baku lebih mahal 73 kali dari OAT-generik. Oleh kaan, satu (1,96%) dikeluarkan dari analisis karena terkonta-
karena itu, jika menggunakan OAT-bahan baku biaya peme- minasi dengan jamur. Jadi yang dinilai dan dianalisis lebih
riksaan uji kepekaan M. tuberculosis menjadi sangat mahal dan lanjut adalah hasil uji kepekaan dari 50 isolat.
sulit terjangkau. Mempertimbangkan bahwa pemeriksaan uji Pada tabel 1 diperlihatkan hasil uji kepakaan 50 isolat M.
kepekaan sangat penting dalam menentukan kombinasi OAT tuberculosis terhadap 5 jenis OAT-bahan baku dan OAT-obat
yang akan diberikan, khususnya pada penderita yang pernah generik. Dari penelitian ini didapatkan, isolat M. tuberculosis
mendapat pengobatan OAT, maka perlu dicari upaya agar biaya yang sensitif terhadap OAT-bahan baku juga sensitif terhadap
pemeriksaan uji kepekaan menjadi terjangkau oleh penderita. OAT-obat generik, sebaliknya isolat yang resisten terhadap
Karena OAT yang mudah didapat dan lebih murah adalah OAT-bahan baku juga resisten terhadap OAT generik. Dari 50
OAT-generik, maka perlu diteliti apakah OAT-generik dapat isolat yang diuji, 26 (52%) masih sensitif terhadap semua OAT
digunakan untuk uji kepekaan terhadap isolat M. tuberculosis. yang diuji dan 24 (48%) telah resisten terhadap salah satu atau
lebih OAT yang diuji. Persentase isolat yang resisten pada
BAHAN DAN CARA KERJA penelitian ini lebih tinggi dibanding dengan penelitian Bloch
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik, dilaku- dkk. di 50 negara bagian Amerika Serikat tahun 1991 dan
kan di Bagian Patologi Klinik FKUP/RSHS Bandung dari penelitian Wahid dkk. di Bagian Mikrobiologi FKUI tahun
bulan Agustus 1998 -April 1999. Dari isolat M. tuberculosis 1995.
yang berhasil diisolasi dari penderita yang melakukan peme-
riksaan biakan M. tuberculosis di Bagian Patologi Klinik Tabel 1. Hasil uji kepekaan 50 isolat M. tuberculosis terhadap OAT
dilakukan uji kepekaan dengan metode proporsi menggunakan bahan baku dan OAT obat generik.
OAT-bahan baku dan OAT-generik pada media Ogawa 1%.
Obat Anti Tuberkulosis
Dari isolat M. tuberculosis dibuat suspensi kuman dalam
Hasil Baku Generik
akuades steril, lalu kekeruhannya disamakan dengan kekeruhan
Jumlah % Jumlah %
McFarland nomor 1; kemudian diencerkan 10-2 kali dan 10-4
Sensitif 26 52 26 52
kali dengan akuades steril sebagai inokulum kerja. Tiap inoku- Resisten 24 48 24 48
lum kerja diinokulasikan 0,1 mL pada media kontrol (tanpa Jumlah 50 100 50 100
obat) dan media yang diuji yang mengandung OAT-bahan baku
dan OAT-generik. Kadar obat dalam media : INH 0,2 ug/mL; Pada penelitian Bloch dkk. mendapatkan yang resisten 472
streptomisin 2,0 ug/mL; etambutol 5,0 ug/mL; rifampisin 1,0 isolat (14,2%) dan Wahid dkk. mendapatkan yang resisten 25
ug/ mL dan pirazinamid 25 ug/mL(12). OAT-bahan baku yang isolat (15,92%) terhadap salah satu atau lebih OAT(14-15). Angka
digunakan dari SIGMA, semua bentuk bubuk, potensi masing- resisten yang tinggi pada penelitian ini mungkin disebabkan
masing sebagai berikut; INH 980 ug/mg, streptomisin 746 oleh isolat yang diuji berasal dari penderita yang sudah pernah
ug/mg, etambutol 980 ug/mg, rifampisin 980 ug/mg dan mendapat pengobatan OAT (resistensi sekunder). Penelitian di

50 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


RS Persahabatan pada tahun 1994 mendapatkan, angka resis- Indonesia (Tabel 4). Pada penelitian Bloch dkk didapatkan
tensi sekunder hampir sama dengan penelitian ini yakni angka resistensi terhadap INH 3,77%; terhadap streptomisin
44,89%(16). 2,4%; lalu terhadap etambutol 0,39%; terhadap pirazinamid
Uji kepekaan terhadap masing-masing OAT mendapatkan, 0,27% dan terhadap rifampisin 0,24%(14). Penelitian Tanjung
yang resisten terhadap INH mungkin juga resisten terhadap dan Keliat mendapatkan angka resistensi terhadap etambutol
OAT lain 4 (8%), terhadap streptomisin (mungkin juga resisten 13,33%; terhadap rifampisin 6,6%; terhadap streptomisin
terhadap OAT lain) 19 (38%), terhadap etambutol (mungkin 3,33% dan terhadap INH 0%(19).
juga resisten terhadap OAT lain) dua (4%) (Tabel 2).
Tabel 3. Gambaran resistensi isolat M. tuberculosis terhadap OAT
Tabel 2. Hasil uji kepekaan 50 isolat M. tuberculosis terhadap berdasarkan jumlah OAT yang digunakan.
OAT-bahan baku dan obat generik.
Resistensi terhadap Obat Jumlah isolat %
Sensitif Resisten 1 macam obat H 1 2
OAT
Jumlah % Jumlah % S 4 8
INH E 0 0
Baku 46 92 4 8 R 0 0
Generik 46 92 4 8 Z 3 6
Streptomisin Total 8 16
Baku 31 62 19 38 2 macam obat S dan R 2 4
Generik 31 62 19 38 S dan Z 3 6
Etambutol R dan Z 1 2
Baku 48 96 2 4 Total 6 12
Generik 48 96 2 4 3 macam obat S, R dan Z 7 14
Rifampisin 4 macam obat H, S, R dan Z 1 2
Baku 37 74 13 26 5 macam obat H, S, E, R dan Z 2 4
Generik 37 74 13 26
Pirazinamid Keterangan :
Baku 33 66 17 34 H : INH, S : streptomisin, E : etambutol, R : rifampisin, Z : pirazinamid.
Generik 33 66 17 34
Tabel 4. Hasil penelitian M. tuberculosis terhadap satu jenis OAT oleh
Isolat yang resisten terhadap rifampisin (mungkin juga beberapa peneliti.
resisten terhadap OAT lain) 17 (34%). Angka resistensi ter-
tinggi pada penelitian ini, adalah terhadap streptomisin ke- Resisten terhadap (%)
Peneliti Keterangan
mudian pirazinamid dan rifampisin. H S E R Z
Jika dibandingkan dengan penelitian lain, hasil penelitian Aditama dan Wijanarko 7,3 2,38 0 3,1 - RP & RS
Aditama dkk 1,62 0,59 0 0,57 0,057 RP & RS
ini berbeda dalam urutan resistensi tertinggi terhadap OAT Bloch dkk 3,77 2,4 0,39 0,24 0,27 RP & RS
yang diteliti. Wahid dkk. tahun 1995 mendapatkan, yang resis- Tanjung dan Keliat 0 3,33 13,33 6,67 - RS
ten terhadap rifampisin 14,0%; terhadap INH 10,2%; strepto- Penulis 2 8 0 0 6 RP & RS
misin 8,9% dan terhadap etambutol 7,0%. Aditama dan
Keterangan :
Wijanarko tahun 1994 mendapatkan, yang resisten terhadap H : INH, S : streptomisin, E :etambutol, R : rifampisin, Z : pirazinamid RP :
INH 23,35%; terhadap rifampisin 16,83%; terhadap strepto- resistensi primer, RS : resistensi sekunder.
misin 11,75% dan terhadap etambutol 1,39(15,16). Pada peneliti-
an Burns dkk di Kazakstan tahun 1993 didapatkan, angka Penelitian Aditama dan Wijanarko mendapatkan angka
resistensi terhadap streptomisin 66%; terhadap etambutol 45%; resistensi terhadap INH 7,3%; terhadap rifampisin 3,1 %; ter-
terhadap INH 20% dan terhadap rifampisin 19%(17). Pada hadap streptomisin 2,38% dan terhadap etambutol 0%(16). Pada
penelitian Aditama dkk tahun 1992 didapatkan, angka resistensi penelitian Aditama dkk pada tahun 1992 didapatkan, angka
terhadap INH 5,98%; terhadap rifampisin 3,96%; terhadap resistensi terhadap INH 1,62%; terhadap streptomisin 0,59%;
streptomisin 3,87%; terhadap pirazinamid 0,3% dan terhadap terhadap rifampisin 0,57%; terhadap pirazinamid 0,057% dan
etambutol 0,15%(18). Resistensi terhadap streptomisin pada terhadap etambutol 0%(18).
penelitian Burns dkk sejalan dengan penelitian ini, namun Berdasarkan jumlah OAT, isolat M. tuberculosis yang
angka resistensi untuk jenis OAT lain berbeda. Adanya per- resisten terhadap 1 macam OAT menempati urutan pertama
bedaan ini mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam jenis dan dengan 8 isolat (16%), kemudian terhadap 3 macam OAT 7
ukuran sampel, metode dan cara pemeriksaan uji kepekaan. isolat (14%), lalu terhadap 2 macam OAT 6 isolat (12%), se-
Gambaran resistensi M. tuberculosis berdasarkan jumlah lanjutnya 5 dan 4 macam OAT masing-masing 2 isolat (4%)
OAT dari 5 macam OAT yang diuji diperlihatkan pada tabel 3. dan 1 isolat (2%). Isolat yang resisten terhadap dua macam
Isolat yang resisten terhadap satu satu jenis OAT saja secara OAT atau lebih ada 16 (32%). Hasil penelitian ini berbeda
berturut-turut adalah, terhadap streptomisin 4 isolat (8%), dengan penelitian Tanjung dan Keliat yang mendapatkan,
terhadap pirazinamid 3 isolat (6%), terhadap INH satu isolat angka resistensi terhadap 4 macam OAT 30%; terhadap 1 OAT
(2%), sedangkan terhadap etambutol dan rifampisin tidak ada dan 2 OAT 22,33% dan terhadap 3 macam OAT 20%(19).
(0%). Hasil penelitian ini tidak begitu berbeda dengan hasil Penelitian Aditama dan Wijanarko mendapatkan isolat M.
penelitian lain baik di negara maju maupun di daerah lain di tuberculosis yang resisten terhadap 1 macam OAT 12,86%; lalu

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 51


terhadap 2 macam OAT 10,40%; diikuti terhadap 3, 4 dan 5 Tabel 6. Ketepatan hasil uji kepekaan isolat M. tuberculosis antara OAT
bahan baku dengan OAT-obat generik (n = 50).
macam OAT masing-masing 4,92% den 0,15 %(16). Pada pene-
litian Wahid dkk mendapatkan angka resistensi terhadap 1 Obat anti tuberkulosis
macam OAT 5,73%; terhadap 4 macam OAT 5,10%; terhadap Jenis Obat Bahan Baku Obat generik
Ketepatan
3 macam OAT 3,82% dan terhadap 2 macam OAT 1,27%(15). (%)
Sensitif Resisten Sensitif Resisten
Dari hasil survei WHO tahun 1994-1997 di Thailand didapat- INH 46 (92%) 4 (8%) 46 (92%) 4 (8%) 100
kan, resistensi primer terhadap 1 macam OAT 21,4%; terhadap Streptomisin 31 (62%) 19 (38%) 31 (62%) 19 (38%) 100
2 macam OAT 11,5%; terhadap 3 macam OAT 3,1 % den Etambutol 48 (96%) 2 (4%) 48 (96%) 19 (38%) 100
terhadap 4 macam OAT 0,8%. Di Vietnam didapatkan angka Rifampisin 37 (74%) 13 (26%) 37 (74%) 13 (26%) 100
Pirazinamid 33 (66%) 17 (34%) 33 (66%) 17 (34%) 100
resistensi terhadap 1 macam OAT 19,1 %; terhadap. 2 macam
OAT 0,9%. Di Amerika Serikat didapatkan, angka resistensi
terhadap 1 macam OAT 8,2; dan 2 macam OAT 2,8%; terhadap masing-masing 0,413 dan 0,394. Hasil uji kepekaan antara
3 macam OAT 0,7% dan terhadap 4 macam OAT 0,6%(20). INH-bahan baku dengan INH-obat generik tidak berbeda
Persentase resistensi berdasarkan jumlah OAT pada penelitian bermakna (Zw =1,095; p=0,273). Persentase resistensi rata-rata
ini lebih rendah dibanding hasil penelitian Tanjung dan Keliat, isolat M. tuberculosis terhadap Streptomisin-bahan baku dan
namun lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitiap Streptomisin generik adalah 0,625% dan 0,614% dengan
Aditama dan Wijanarko, Wahid dkk dan hasil survei WHO di simpang baku masing-masing 0,706 dan 0,767. Hasil uji kepe-
Thailand, Vietnam den Amerika Serikat (Tabel 5). Resistensi kaan antara Streptomisin-bahan baku dengan Streptomisin-
obat ganda (MDR-TB) adalah resistensi yang terjadi minimal generik tidak berbeda bermakna (Zw =1,769; p=0,077).
terhadap INH dan rifampisin pada penelitian ini MDR-TB Persentase resistensi rata-rata isolat M. tuberculosis terhadap
didapatkan 3 isolat (6%). Etambutol-bahan baku den Etambutol-generik adalah 0,091%
dan 0,93% dengan simpang baku masing-masing 0,364 dan
Tabel 5. Hasil penelitian resistensi M. tuberculosis berdasarkan jumlah 0,388. Hasil uji kepekaan antara Etambutol-bahan baku dengan
OAT oleh beberapa peneliti. Etambutol-genetik tidak berbeda bermakna (Zw = 0,0; p=1,0).
Persentase resistensi ratarata isolat M. tuberculosis terhadap
Resisten terhadap (%) MDR-TB Rifampisin-bahan baku dan Rifampisin-generik adalah 0,672%
Peneliti
1 OAT 2 OAT 3 OAT 4 OAT 5 OAT (%) dan 0,712% dengan simpang baku masing-masing 1,231 dan
Aditama dan 12,86 10,40 4,92 1,27 0,15 13,02 1,23. Hasil uji kepekaan antara Rifampisin-bahan baku dengan
Wijanarko(16)
Rifampisin-generik tidak berbeda betmakna (Zw = 1,728;
Tanjung dan 22,33 22,33 20 30 - 8,9 p=0,084). Persentase resistensi rata-rata isolat M. tuberculosis
Keliat(19)
terhadap Pirazinamid-bahan baku dan Pirazinamid-generik
Wahid dkk(15) 5,73 1,27 3,82 5,10 - 8,9 adalah 0,729% dan 0,896% dengan simpang baku masing-
WHO(20) 2,2
Thailand 21,4 11,5 3,1 0,8 -
masing 0,839 dan 1,549. Hasil uji kepekaan antara Pirazina-
Vietnam 19,1 11,6 0,9 0,9 - mid-bahan baku dengan Pirazinamid-generik berbeda bermakna
United States 8,2 2,8 0,7 0,6 - (Zw = 0,409; p=0,682).
Bloch dkk(14) - - - - - 9,5
Penulus 16 12 14 2 4 6
KESIMPULAN
1. Isolat M. tuberculosis yang sensitif terhadap OAT-bahan
Angka NIDR-T ini lebih rendah dibanding hasil penelitian baku juga sensitif terhadap OAT-obat generik; sebaliknya isolat
Wahid dkk yang mendapat 8,9%, Bloch dkk mendapat 9,5% yang resisten terhadap OAT-bahan baku juga resisten terhadap
serta Aditama dan Wijanarko mendapat angka MDR-TB OAT-obat generik dan hasil uji kepekaan antara OAT-bahan
13,02%, namun lebih tinggi bila dibanding angka rata-rata baku dengan OAT generik tidak berbeda bermakna (p > 0,05).
MDR-TB (primer dan sekunder) pada 28 negara yang disurvei 2. Secara umum dapat disimpulkan bahwa OAT-obat generik
WHO (2,2%)(14-16,20). dapat digunakan untuk pemeriksaan uji kepekaan M.
Pada tabel 6 diperlihatkan ketepatan hasil uji kepekaan tuberculosis.
antara OAT-bahan baku dengan OAT generik. Pada penelitian
ini didapatkan ketepatan hasil uji kepekaan antara OAT-bahan
baku dengan OAT-obat generik terhadap 5 jenis OAT yang
diuji semuanya 100%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KEPUSTAKAAN
uji kepekaan menggunakan OAT-bahan baku sama baiknya
dengan uji kepekaan menggunakan OAT-obat generik. 1. Aditama TY. Perkembangan mutakhir diagnosis tuberkulosis paru.
Ceermin Dunia Kedok. 1995; 99: 29-31.
Perbedaan persentase resistensi isolat M. tuberculosis 2. Raviglione MC, Snider DE, Kochi A. Global epidemiology of
antara OAT-bahan baku dan OAT-obat generik dari 50 isolat tuberculosis : Morbidity and mortality of a worldwide epidemic. JAMA
M. tuberculosis yang diuji terhadap masing-masing OAT-bahan SEA 1995; 22-7.
baku dan OAT-generik didapatkan sebagai berikut. Persentase 3. Tanjung A, Puteh AG. Masalah resistensi kuman tuberkulosis paru;
beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Majalah Kedokteran
resistensi rata-rata isolat M. tuberculosis terhadap INH-bahan Bandung 1997; 29 : 123-32.
baku dan INH-generik adalah 0,116% dan 0,11 % dengan 4. Weis SE, Slocum PC, Blais FX, et al. The effect of directly observed
simpang baku therapy on the rates of drug resistance and relapse in tuberculosis. N Eng

52 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


J Med 1994; 330 : 1179-84. 13. Inderlied CB, Salfinger M. Antimicrobial agents and susceptibility test:
5. WHO. Vaccine approaches to tuberculosis. World Health Organization Mycobacteria. In: Murray PR, ed. Manual of Clinical Microbiology, 6th
1996; 1-10. ed. Washington DC: ASM. 1995; 1385-404.
6. Kent JH. The epodemiology of multidrug-resistant tuberculosis in the 14. Bloch AB, Cauthen GM, Onorato IM et al. Nationwide survey of drug
United States. In: Bass JB, ed. The medical clinics of North America : resistant tuberculosis in the United States. JAMA 1994; 271: 665-71.
Tuberculosis. vol. 77. Philadelphia: WB Saunders Co. 1993. 15. Wahid MH, Harun BMH, Kiranasari A. Pemeriksaan mikrobiologik dan
7. Dropniewski F. Is death inevitable with multiresistant TB plus HIV pola resistensi Mycobacterium tuberculosis di bagian Mikrobiologi FK UI
infection? Lancet 1997; 349: 71-2. selama tahun 1995. Maj Kedok Indon 1007; 47: 624-7.
8. EHO. Tuberculosis. Fact sheet No. 104. World Health Organization 1998; 16. Aditama TY, Wijanarko P. Resistensi primer dan sekunder
1-4. Mycobacterium tuberculosis di RSU Persahabatan Tahun 1994. J Respi
9. Chowdhury AMR, Chowdhury S, Islam MN, Islam A, Vaughan JP. Indo 1996; 16: 12-4.
Control of tuberculosis by community health workes in Bangladesh. 17. Burns DN, Bellert GA, Crone RK. Tuberculosis in Europe and the former
Lancet 1997; 350: 169-72. Soviet Union: how concerned should we be ? Lancet 1994; 343: 1445-6.
10. Dep Kes RI. 1997. Profil Kesehatan Indonesia 1997. Jakarta. 18. Aditama TY, Chairil AS, Herry BW. Resistensi primer dan sekunder
11. Soemantri ES. Masalah penyakit TB (Tuberkulosis) di Indonesia dan Mikobakterium Tuberkulosis. Cermin Dunia Kedok. 1995; 101: 48-9.
pemberantasannya. Makalah Hari TB Sedunia (World TB day) di RSUP 19. Tanjung A, Keliat EN. Resistensi M. tuberculosis terhadap obat anti
Dr. Hasan Sadikin Bandung. 1999. tuberkulosis pada penderita tuberkulosis paru yang mendapat pengobatan.
12. Hawkins JE, Wallace RJ, Brown BA. Antibacterial susceptibility test: Maj. Kedok. Indon. 1996; 46: 242-7.
Mycobacteria. In : Balows A, Hausler WJ, Herrmann KI, Isenberg HD, 20. Pablos-Mendez A, Raviglione MC, Laszlo A. et al. Global surveilance for
Shadomy HJ, eds. Manual of Clinical Microbiology, 5th ed. Washington antituberculosis-drug resistance, 1994-1997. N Eng J Med 1998; 338:
DC. American Society for Microbiology, 1991. 1641-9.

Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 53


ABSTRAK
PEDOMAN PENATALAKSANAAN atau lebih faktor risiko (kecuali Nyeri pasca terapi dirasakan pada
HIPERTENSI menopause) fraktur osteoporotik. 53% pasien kelompok triamsinolon dan
WHO dan International Society of =semua wanita postmenopause dengan 56% kelompok fisioterapi; efek sam-
Hypertension telah mengeluarkan riwayat fraktur. ping lain berupa flushing dialami pada
pedoman hipertensi yang baru, meng- Wanita tanpa faktor risiko diobati bila 9 pasien kelompok triamsinolon dan
gantikan pedoman lama yang dike- T score ≤ -2 sedangkan bila ada faktor menstruasi tak teratur pada 6 pasien
luarkan pada tahun 1993. risiko, bila t ≤ -1½. kelompok yang sama.
Perubahan yang cukup penting di Sedangkan UK National Osteo-
antaranya : porosis Society menganjurkan peng- BMJ 1998; 314: 1292-6
− Target penurunan tekanan darah lebih gunaan colecalciferol (vitamin D) dan Brw
rendah-di bawah 130/85 suplemen kalsium pada pasien yang
mmHg-dibandingkan dengan reko- dietnya inadekuat atau pada lanjut usia.
mendasi terdahulu (140/90 mmHg). Bifosfonat digunakan pada cor- ANTITUBERKULOSIS BARU
− Klasifikasi hipertensi baru yang ticosteroid-induced osteoporosis, khu- Setelah menunggu 25 tahun lama-
disesuaikan dengan pedoman di AS susnya bila eugonad atau tidak bersedia nya, baru sekarang ditemukan obat anti
(JNC-VI); tetapi pedoman di AS menjalani hormone replacement the- tuberkulosis baru - rifapentin. Obat ini
tersebut bahkan menetapkan target rapy (HRT). Wanita pramenopause dikembangkan dari rifampisin, umum-
tekanan darah yang lebih rendah dengan hipogonad dianjurkan meng- nya in vitro lebih aktif terhadap M.
120/80 mmHg. gunakan estradiol. Calcitriol dianjurkan tuberculosis, tetapi kasus yang resisten
− Antagonis angiotensin II telah di- pada pasien yang tidak toleran terhadap terhadap rifampisin umumnya juga
cantumkan sebagai obat yang dapat bifosfonat dan pada pria yang lebih resisten terhadap rifapentin.
digunakan. muda. Keuntungan obat ini ialah waktu
paruh yang lebih panjang sehingga
− Tidak menentukan golongan obat Wanita postmenopause mengguna-
kan HRT, sedangkan pria hipogonadal dapat diberikan sekali seminggu pada
tertentu sebagai pilihan pertama;
menggunakan testosteron. fase pemeliharaan, dibandingkan de-
dinyatakan bahwa semua jenis
ngan dua atau tiga kali seminggu bila
dapat digunakan dengan memper-
Inpharma 1999; 1163: 3 menggunakan rifampisin-hal ini sangat
hatikan risiko individual; reko-
Brw menguntungkan terutama bila diguna-
mendasi sebelumnya menganjurkan
kan pada program DOTS (directly
diuretik sebagai pilihan pertama,
observed therapy short course).
disusul dengan berturut-turut pe-
PAINFUL STIFF SHOULDER Rifapentin juga meningkat ab-
nyekat beta, penyekat ACE, penye-
Untuk kasus-kasus painful stiff sorpsinya sebesar 40% bila ditelan
kat Ca dan penyekat alfa.
shoulder, injeksi kortikosteroid ter- bersama makanan, dibandingkan de-
− Selain itu pedoman baru ini mem-
nyata lebih efektif dibandingkan ngan rifampisin yang justru turun 30%.
beri perhatian yang lebih besar
dengan fisioterapi; demikian kesimpul- Obat ini digunakan dengan dosis
terhadap kemungkinan penggunaan
an para peneliti di Belanda atas pasien 600 mg. dua kali seminggu dalam 2
kombinasi obat untuk mengurangi
berobat jalan. bulan pertama, kemudian 600 mg
efek samping.
Sejumlah 53 pasien mendapat sekali seminggu dalam 4 bulan berikut-
Scrip 1999; 2411 maksimum 3 kali injeksi triamsinolon nya bersama isoniazid.
Brw intraartikuler dibandingkan dengan 59 Efek samping yang ditemukan be-
pasien yang menjalani 12 kali fisio- rupa hiperurisemi, peningkatan SGOT/
HORMON UNTUK OSTEO- terapi. SGPT dan netropeni, selain itu
POROSIS Setelah 7 minggu, 77% pasien yang dijumpai juga ruam kulit dan gangguan
US National Osteoporosis Founda- mendapat kortikosteroid merasa lebih saluran cerna.
tion bekerjasama dengan beberapa baik, nyeri berkurang dan rotasi eks- Pada penggunaan selama 6 bulan,
institusi telah mengeluarkan rekomen- terna yang lebih baik dibandingkan sputum negatif tercapai pada 87%
dasi penanganan osteoporosis; mereka dengan 46% di kalangan yang men- pasien, dibandingkan dengan 81% pada
menganjurkan uji bone mineral density dapat fisioterapi. Keunggulan makin pasien yang menggunakan rifampisin.
(BMD) pada : berkurang bila follow-upnya lebih
lama; setelah 26 dan 52 minggu, D&TP. 1999; 13(7): 1-4
= semua wanita usia 65 tahun ke atas.
perbedaannya tidak lagi bermakna. Brw
= wanita pascamenopause dengan satu

54 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000


ABSTRAK
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK wanita belum menunjukkan hasil yang risiko infark miokard dan stroke
Komite Medik di Inggris telah memuaskan; dosis 50 mg. digunakan iskemik; penurunan risiko ini lebih
menerbitkan anjuran untuk mengurangi oleh 33 wanita pascamenopause selama besar daripada peningkatan risiko ter
penggunaan antibiotik dalam praktek; 3 bulan ternyata hanya 25% yang hadap infark hemoragik. Meskipun
para dokter di sana juga memper- merasakan peningkatan kepuasan sek- demikian, penelitian ini menunjukkan
tanyakan efektivitas terapi antibiotik sualnya - sama besar dengan yang bahwa risiko infark hemoragik di
pada beberapa keadaan, diantaranya : dirasakan oleh pria yang mendapat kalangan pengguna aspirin harus lebih
∗ Profilaksis endokarditis pada pasien plasebo pada percobaan serupa. diwaspadai pada orang Asia yang
kelainan katup jantung. hipertensif dengan kadar kholesterol
Scrip 1999; 2419: 23
∗ Penggunaan rifampisin dan sipro- rendah.
Brw
loksasin pada orang yang kontak Scrip 1999; 2419: 23
dengan penyakit meningokok. DIAGNOSIS DEMENSIA Brw
∗ Profilaksis pada implan prostetik. Diagnosis klinis demensia selama
∗ Profilaksis pada seksio saesaria. ini didasarkan atas kumpulan gejala FINASTERID UNTUK KEBOTAK-
∗ Pengguna sefalosporin generasi tiga yang ditentukan berdasarkan kriteria AN
pada community - acquired tertentu; dan saat ini terdapat beberapa Finasterid-suatu 5-alfa inhibitor
pneumonia. kriteria klinis diagnosis berdasarkan yang menurunkan kadar dihidrotestos-
DSM-III, DSM-III-R, DSM-IV, ICD-9, teron terbukti cukup efektif untuk
Scrip 1999; 2419: 3 ICD-10 dan CAMDEX. menumbuhkan rambut dan mencegah
Brw Studi atas 1879 pria dan wanita kebotakan pria. Dosis 1 mg/hari selama
berusia 65 tahun ke atas di Canada 1 tahun memperbaiki pertumbuhan
TROMBOLITIK UNTUK INFARK rambut vertex pada 48% dan 66%
menunjukkan bahwa penggunaan kri-
MIOKARD setelah 2 tahun. Dibandingkan dengan
eria yang berbeda menghasilkan pre-
Setelah tPA/alteplase digunakan hanya 7% di kalangan pengguna
valensi yang berbeda pula, yang pada
untuk mengurangi mortalitas akibat plasebo, baik setelah 1 maupun 2
populasi tersebut berkisar dari 3,1%
infark miokard, menyusul obat lain tahun. Selain itu finasterid juga terbukti
berdasarkan ICD-10 sampai 29,1 %
yang juga tengah dicoba untuk indikasi mencegah rambut rontok; setelah 2
berdasarkan DSM-III. Perbedaan me-
yang sama. tahun 83% pengguna finasterid tidak
nyolok ini terutama disebabkan per-
TNK (Genentech) dan lanoteplase lagi mengalami kerontokan rambut,
bedaan dalarn hal gejala daya ingat
(BMS) telah mulai diuji coba klinis dan dibandingkan dengan 28% di kalangan
jangka panjang, fungsi eksekutif,
hasil pendahuluannya menunjukkan pengguna plasebo. Sayangnya efek
aktivitas sosial dan lamanya sakit.
efektivitas serupa; keunggulan kedua penumbuhan rambut ini akan hilang
Hanya 20 orang yang memenuhi
obat ini ialah dapat diberikan dalam dalam 12 bulan setelah penghentian
kriteria seluruh enam pedoman ter-
bentuk injeksi bolus, tidak perlu obat. Efek samping yang tercatat
sebut.
infus/drip seperti al teplase. berupa penurunan libido, gangguan
Kedua obat ini akan bersaing N. Engl. J. Med 1997, 337: 1667-74
ejakulasi dan disfungsi ereksi yang
dengan reteplase (Centocor) yang telah Hk umumnya hilang bila pengobatan
tersedia di pasaran dan diberikan dalam dilanjutkan dan selalu hilang bila obat
ASPIRIN UNTUK INFARK MIO-
dua kali pemberian bolus (double dihentikan.
KARD
bolus) berselang 30 menit.
Suatu meta analisis mutakhir atas DT & P 1999; 13(10) : 3
VIAGRA UNTUK WANITA 16 percobaan yang melibatkan lebih Hk
Percobaan penggunaan sildenafil dari 55000 pasien kembali menunjuk-
(Viagra®) untuk disfungsi seksual kan manfaat aspirin dalam menurunkan
MALFORMASI KONGENITAL
Malformasi kongenital yang pernah dilaporkan akibat antikonvulsan :
Fenitoin Asam valproat Karbamazepin Fenobarbital
Defek jantung kongenital + + - +
Bibir/langit-langit sumbing + + - +
Defek neural tube - + + -
Defek tr, genitourinarius + + + +
Gangguan Kognitif + + + +
Anomali minor + + + +

Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2000 55


Ruang
Penyegar dan Penambah
Ilmu Kedokteran
Dapatkah saudara menjawab
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?

1. Yang bukan sifat sel kanker : c) 126 mg/dl


a) Mitosis tak terkontrol d) 140 mg/dl
b) Tumbuh tak teratur e) 200 mg/dl
c) Mampu bermigrasi 7. Sedangkan diabetes melitus didiagnosis bila kadar glukosa
d) Mampu berdiferensiasi plasma puasanya lebih dari :
e) Tumbuh agresif a) 110 mg/dl
2. Gen yang mengatur pembelahan sel b) 120 mg/dl
a) Onkogen c) 126 mg/dl
b) Gen ras d) 140 mg/dl
c) DNA e) 200 mg/dl
d) RNA 8. Tes toleransi glukosa perlu dilakukan bila kadar glukosa
e) Semua benar sewaktu lebih dari :
3. Protein p53 berfungsi : a) 110 mg/dl
a) Mengaktifkan pembelahan sel b) 126 mg/dl
b) Mengganti sel yang rusak c) 140 mg/dl
c) Mencegah replikasi DNA yang rusak d) 160 mg/dl
d) Mencegah angiogenesis e) 200 mg/dl
e) Menghambat kerja kinase 9. Pada penelitian resistensi M. tuberculosis di FK
4. Endotelin bersifat : Universitas Padjadjaran/ RSHS, resistensi tertinggi adalah
a) Vasodilator terhadap :
b) Vasokonstriktor a) INH
c) Aterogenik b) Rifampisin
d) Anti agregasi trombosit c) Etambutol
e) Agregasi trombosit d) Pirazinamid
5. Diabetes melitus yang tersering dalam klinik : e) Streptomisin
a) Otoimun 10. Kesimpulan penelitian di atas adalah :
b) Tipe 1 a) Resistensi M. tuberculosis terhadap OAT sudah tinggi
c) Tipe 2 b) OAT generik sama mutunya dengan OAT orisinil
d) Gestasional c) OAT generik dapat digunakan untuk uji kepekaan
e) Akibat obat/ zat kimia d) Multiresistensi terhadap OAT makin menyulitkan
6. Batasan kadar glukosa plasma puasa yang normal : pengobatan
a) 110 mg/dl e) Biaya pengobatan dapat ditekan dengan menggunakan
b) 120 mg/dl OAT generik.

JAWABAN RPPIK :

1. D 2. B 3. C 4. B 5. C
6. A 7. C 8. C 9. E 10. C

56 Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000