Anda di halaman 1dari 4

Masalah Gizi di Indonesia

Saptawati Bardosono
Departemen llmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Pendahuluan Masalah gizi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang belum pemah tuntas ditanggulangi di dunia.

Selagi penanggulangan masalah gizi kurang belum dapat dietasi timbul era transisi giziyang meningkatkan kejadian obesitas dan penyakit kronis sehingga masalah gizi menjadi

tersebut pada peningkatan risiko terjadinya hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya. Walaupun penyakit infeksi seperti malaria dan tuberkulosis masih dominan sampai tahun 2025, kejadian penyakit kronis terkait pola hidup Barat akan terus berkembang.L

makinrumit. Bila suatu negara berkembang secara ekonomi dan


kcersediaan makanan meningkat, biasanya kejadian kurang gizi akan menurun sedangkan masalah kesehatan kronis $Eperti penyakit jantung, diabetes dan hipertensi cenderung Peningkatan tersebut tampaknya berkorelasi erat

Indikator Kunci Status Kesehatan Gizi


Masalah kurang gizitetap menjadi fokus utama saat ini
karena sangat terkait dengan kualitas hidup manusia. Selama ini ada beberapa indikator kunci yang sering digunakan untuk mengukur status kesehatan-gizi penduduk antara lain angka

keberhasilan kehamilan, pertumbuhan anak, praktik


pemberian ASI dan akses terhadap air bersih. Apabila di suatu

dengan obesitas, tingginya asupan asam lemak jenuh, p'adahnya asupan sayur dan buah, rendahnya tingkat &ivitas fisik, serta diadopsinya pola hidup dan kebiasaan nakan ala negara Barat. Negara yang mengalami transisi
rrqsalqh gizi sering mengalami peningkatan masalah obesitas. Amk-anak yang dilahirkan oleh perempuan dengan masalah brmg g;zi dapat secara biologis terprogram saat dalam

negara ditemukan tingginya angka bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan balita kurang berat, rendahnya angka praktik pemberian ASI dan akses terhadap air bersih, maka hampir dapat dipastikan akan ditemukan masalah gizi fturang

gizi), masalah infeksi dan masalah kesehatan lainnya.


Berkaitan dengan itu, seharusnya dengan perbaikan indikator kunci tersebut akan memperbaiki status kesehatan dan usia harapan hidup populasi.2 Bagaimana di Indonesia? Indonesia merupakan salah satu dari l13 negara yang sedang berkembang, yang masih mempunyai masalah umum seperti masalah kecukupan pangan, masalah ketersediaan

kendungau untuk menghemat energi. Kemudian, bila

upqlar

dengan ketersediaan pangan yang berlebihan maka

nEreka akan mengalami kenaikan massa lemak dibanding pcmmbuhan tinggi. Akumulasi massa lemak yang berlebihan pcda masa lanjut kehidupannya akan menempatkan anak

*{

hcdokt Indon, Volum: 59, Nomor: l, Januari

2009

Masalqh Gizi di Indonesia

layanan kesehatan, masalah pendidikan, dan masalah


ketersediaan air benih. Ditambah lagi, lrdonesia masih belum terbebas dari masalah ekonomi, masalah kepadatan penduduk

sampai usia 2 tahun) akan memberi efek negatif dalam perkembangan fungsinya secara menetap. Pemberian

makanan untuk penanggulangan masalah

gizi yang

dan masalah politik yang akan berdampak pada status


kesehatan dan usia harapan hidup penduduk.t

PenyebabMasalahGizi Rasanya sudah umum diketahui bahwa penyebab


masalah gizi adalah multifaktor, yang utamanya melibatkan

dialaminya tersebut hanya dapat memperbaiki pertumbuhan fisik dan kesehatan anak saja.r'3 Selain itu, ada hubungan erat antara kurang gizi dengan infeksi. Kurang gizi akan memperlemah sistem kekebalan

tubuh serta meningkatkan kemungkinan dan keparahan


terkena infeksi. Secara simultan, infeksi yang berulang (yang

faktor pendidikan, ekonomi, keamanan, pengendalian


pertumbuhan penduduk, perbaikan sanitasi, keadilan sosial bagi perempuan dan anak-anak, kebijakan dan praktik yang

tersering adalah diare) akan menyebabkan dan/atau memperparah masalah kurang gizi. Kondisi sanitasi yang
buruk, tercemafnya sumber air dan tidak tersedianya tempat penyimpanan makanan yang aman akan meningkatkan
penyebaran penyakit infelsi yang akan mengakibatkan kurang

benar terhadap lingkungan dan produktivitas pertanian. Sehubungan dengan itu, unhrk dapat menuntaskan masalah gizi tentunya dibutuhkan satu program terintegrasi yang terkait dengan semua faktor tersebut.2 Masalah gizi sering merupakan kelanjutan dari masalah

kelaparan. Kelaparan sering membuat orang menjadi


memikirkan dirinya sendiri terkait kebuhrhan akan makanan

untuk melangsungkan kehidupan, sehingga sering


menyebabkan perilaku yang tidak etis seperti mencuri dan melukai orang lain hanya unhrk mendapatkan makanan. Di Indonesia, masalah kelaparan memang tidak separah di Somalia, Sudan, ataupun Bangladesh, namun masih ditemukan masalah kurang kalori-protein (KKP) terutama pada anak balita, kurang zat besi terutama pada perempuan dewasa, kurang yodium dan kurang vitamin A serta kekurangan zat gizi lainnya seperti zink. Akibat terkait dari masalah tersebut adalah anak-anak di Indonesia berisiko untuk sering terkena

gizi. Banyak kematian balita terkait dengan kurang kaloriprotein dan infeksi secara bersamaan. Disamping itu, rendahnya praktik pemberian ASI akan meningkatkan penyebaran infeksi terutama karena kontaminasi air yang digunakan untuk mempersiapkan susu formula. Selain mengandung zat gizi yang dibutuhkan bayi, ASI juga
mengandung zat yang melindungi bayi dari terkena infeksi.2'3 Sebaliknya, kurang vitaminA(KvA) dan KKPpada anak berperan penting dalam penyebaran dan keparahan infeksi. Anak dengan KVA akan lebih mudah meninggal misalnya karena campak dibandingkan dengan anak yang cukup vitamin A. Infeksi HIV berjalan lebih cepat untuk menjadi AIDS pada individu dewasa dengan kurang kalori-protein sehingga

akan memperpendek waktunya sebagai orangtua untuk


bekerja dan membiayai keluarganya. Sebagai contoh, usia
harapan hidup di Botswana, dampak HIV/AIDS menurunkan usiaharapanhidup dari 65 tahunpadatahun 1995 menjadi 39 tahun pada tahun 2001.14

penyakit infeksi yang berut, mengalami gangguan pertumbuhan atau gagal tumbuh dan mengalami kebutaan.3-6 Mengapa kelaparan dan masalah gizi-kurang dapat tedadi? Kelaparan dan masalah gizi, utamanya masalah kurang kalori-protein sebetulnya tidak perlu terjadi di negara manapun. Sistem pertanian yang baik harusnya memiliki kapasitas unhrk menghasilkan makanan yang cukup untuk setiap individu. Orang akan kelaparan dan kurang gizi karena miskin. Kemiskinan itu dibuat oleh manusia sendiri, antara lain praktik diskriminasi terhadap perempuan terutama dalam kesempatan rmtuk pendidikan dan peluang kerj4 wabah HIV/ AIDS, mempermasalalrkan perbedaan rasial, pernerintatr yang korupsi. Fktor-faktor lainnya adalah sumber air yang tidak aman, tingkat pendidikan yang rendah, distribusi bahan pangan yang tidak merata, tidak adanya kesempatan untuk bekerja dan produktivitas pertanian yang rendah sehingga pada akhirnya akan berkontribusi terhadap masalah kurang gizi.ta Apa dampak masalah gizi kurang? Hubungan Kurang Gizi dan Kualitas GenerasiPenerus Ada hubungan erat antara kurang gizi dengan kualitas sumber daya generasi penerus. Pembentukan otak anak berlangsung sejak dalam kandungan (masa janin) sampai anak berusia dua tahun. Kurang gaiyangterjadi pada anak sebelum otaknya terbentuk secara lengkap (masa janin
492

Dari aspek kelompok dalam penduduk, perempuan


dewasa dan anak-anak perempuan merupakan kelompok yang berisiko terkena kurang gizi karena pada masyarakat tertentu secara kultural lebih mementingkan alokasi makanan lebih pada laki-laki dewasa dan anak laki-laki. Bila hanya sedikit

makanan yang tersedia dalam rumah tangga, maka sisa makanan yang diperuntukkan bagi perempuan dewasa dan anakperempuan mungkin tidakmencukupi untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhannya. Di banyak negara yang
sedang berkembang, diskriminasi terhadap perempuan dalam

bidang pendidikan dan pekerjaa4 keluarga berencana, dan kekerasan terhadap perempuan telah menempatkan perempuan dalam risiko tinggi untuk mengalami kurang gizi dan

memiliki kualitas hidup yang


MengatasiMasalah Gizi

rendah.2,3

Cara mengakhiri masalah gizi kurang adalah dengan penanggulangan kurang Stzi jartCka panjang. Cara tersebut akan bergantung pada kemampuan manusia untuk bekerja sama untuk terwujudnya perkembangan pendidikan dan ekonomi, kedamaian, pengendalian pertumbuhan penduduk, perbaikan sanitasi, keadilan sosial bagi perempuan dan anak-

Maj Kedokt

trndon, Volum: 58, Nomor: 1, Januari 2009

Mqsalah Gizi di Indonesia

r.ak

Faktor lain adalah kebijakan dan praktik yang benar

masih ada yang harus diperbaiki dalam penyusunan kebijakan

i.r+radap lingkungan dan produktivitas pertanian. Kelompok

)'atrg sangat terpengaruh oleh kurang gizi harus aktif


herpartisipasi dalam proses perencanaan dan implementasi program perbaikan gizi-kesehatan.2

penyusunan progmm penanggulangan masalah gizi ini? Secara klasik, penanggulangan masalah gizi dilakukan mengikuti kegiatan siklus gizi kesehatan masyarakat, yang

dimulai dengan:

Terdapat program yang telah berhasil mengurangi rnasalah kurang gizi di berbagai negara di dunia yang dapat diadopsi. Program yang sering didengungkan adalah perbaikan ekonomi, pendidikan, gizi dan sanitasi akan mgatasi masalah kurang gizi dan penyakit infeksi serta rrsringkatkan usia harapan hidup di negara maju sekitar 100 rahm silam. Selain itu, kurang zat gizitertentu secara nyata

@ar

diatasi melalui fortifrkasi makanan dan program edukasi

l. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Mengenal faktorrisikoutamaterkaitmasalah gizi Menyusun hasil akhir yang diharapkan Menyusun tujuan khusus program Menyusun indikator keberhasilan program Menyusun kegiatan program Melaksanakan kegiatan program

Melakukanevaluasiprogram

eizi, contohnya: l- Program suplementasi vitamin A dan edukasi tentang makanan kaya kandungan vitamin A dikaitkan dengan pemrmnan drastis kasus kurang vitamin A sedang dan berat serta infeksi pada anak-anak di Indonesia 1 Suplementasi makanan pada kelompok bayi di Rusia, Brazll, Afrika Selatan dan Cina dikaitkan dengan peningkatan skor IQ pada usia 8 tahun -i Yo'disasi garam dapat mengatasi masalah kurang yodium di Bolivia dan Ekuador

Selain itu perlu dipertimbangkan pula bahwa suatu kebijakan atau program seyogyanya disusun secara dinamis karena akan bergantung pada berbagai faktor terkait seperti faktor sosial, ekonomi, politik, kelompok produk pangan, kelompok sasaran, kelompok pedagang produk pangan. Faktor yang tidak kalah penting adalah kelompok pakar yang akan memberikan bukti ilmiah terkait program tersebut.
Singkabrya, ada beberapa kelompok kunci dalam penyusunan

45.

suatu kebijakan yaitu: pemegang kebijakan (biasanya pemerintah dan politisi), kelompok berpengaruh (biasanya
kelompok yang mempunyai kepentingan), publik, dan media. Kelompok dominan dalam penyusunan kebijakan tersebut

Kernatianpadaanakbalitaakibatkurang gizi danpenyakit terkait turun secara nyata di negara yang mempraktikkan

pernberianASl Status kesehatan masyarakat

negara yang sedang berkembang mengalami perbaikan dengan penggunaan cairan oralityang melindungi anak dari kekurangancakan akibat diare dan program vaksinasi yang melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi.

di

terutama suasana politik negara. Para praktisi politik penyusun kebijakan akan mempertimbangkan apakah
kebijakan yang disusun akan mencapai hasil sesuai dengan yang mereka harapkan sehingga akan memberi kredit positif kepada kinerja mereka. Tanpa komitmen di tingkat politik
tersebut maka akan sulit memperoleh dukunganpelaksanaan

program dan dukungan dalam pencapaian hasil yang


Konferensi tingkat tinggi pangan dunia pada tahun 1996 telah menetapkan bahwa pada tahun 2015 negara akan rrenunnkan angka kelaparan dan kurang gizisebarryak50Yo, diharapkan sesuai tujuan program.2

Khusus terkait dengan tenaga pakar gizi, dari jalur


pendidikan vokasional gizi, sudah banyak lulusan Ahli Madya Gizi yang dihasilkan untuk tingkatan D3 dan D4. Dari jalur pendidikan akademik, sudah banyak dihasilkan lulusan S1, 52 dan bahkan 53 gizi. Darijalur pendidikan profesi, sudah

namun karena lambatnya pencapaian tersebut maka


dbutuhkan waktu sampai tahun 2030.1 Di Indonesia, sampai saat ini masalah gizi terutama masalah gizi buruk belum terselesaikan secara tuntas. Sering dipertanyakan, mengapa hal itu dapat terjadi, padahal sudah banyak program diupayakan dan jumlah pakar gizi dai' berbagai tingkatan dan jalur pendidikan gizi sudah cukup, baik dari dalam maupun luarnegeri.

tersedia tenaga dietisien dan dokter spesialis gizi klinik. Meskipun demikian jumlah dan jenis pakar yang tersedia (yang digabung sebagai kelompokacademic) tentunya tidak dapat menanggulangi masalah gizi hanya dengan bermodalkan kepakaran masing-masing. Harus ditunjang dengan sarana dan prasarana, yaitu dana yang dapat diperoleh dari berbagai institusi baik industri maupun non-industri pangan (yang digabung sebagai kelomp ok business) melalui program

Untuk program gizi masyarakat dengan tujuan


penanggulangan masalah gizi, sudah banyak program yang diluncurkan, antara lain program edukasi gizi, program r4lementasi gizi melalui pernberian makanan maupun produk ar Crzi seperti pil besi dan vitamin A, program fortifikasi

CSR-nya (corporate social responsibility) dan berbagai


sektor di pemerintah (yang digabung sebagai kelompokg'overnment) serta senantiasa melibatkan parti-sipasi masyarakat sebagai sasaran kegiatan (yang digabrurg sebagai kelompok community) atau disingkat menjadi istilah konsep kerjasama

bahan makanan seperti fortifikasi yodium pada garam maupun fortifikasi besi pada tepung. Meskipun demikian, mgka kurang gizi di masyarakat terutama pada kelompok rentan masalah gizi seperti bayi,balita,anak sekolah, remaja, r-bu hamil dan menyusui serta lanjut usia masih tetap menjadi ma*alah. Pertanyaannya adalah mengapa demikian? Apakah

ABGcom.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah selama ini pro-

gram penanggulangan masalah gizi sudah dilaksanakan


493

IIlj

Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 1 Januari 2009

Mqsalah Gizi di Indonesia


dengankonsep ABGcom'l Atau. apakah selama ini kitamasih

DaftarPustaka

bekerja secara individual atau terkotak-kotak sehingga penanganan dan pencegahan masalah gizi buruk belum
terselesaikan secara tuntas?

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Brown JE. Nutrition now. 5s ed. Califomia: Thomson Wadsworth; 2008. Margetts BM. An overview of public health nutrition: ?"1u1' Gibiey MJ, Margetts BM, Kearney JM, Arab L' Public health

Penutup Di masamendatang, perbaikan status gizipopulasi akan memberikan manfaat yang besar sekali. Kecukupan gizi
merupakan landasan kuat agar generasi muda saat ini aman

akan masa depannya sendiri dan masa depan generasi selanjutnya. Orang yang cukup gizi akan lebih produktif'
lebihiahagia, membufirhkan sedikit layanan medis, dan lebih mandiri dibandingkan dengan orang yang kurang gizi' Bila kita ingin menjadi bagian dari rantai pemecahan masalah masalah kelaparan ataupun kurang gizi, ketahanan
maka kita harus mulai turut serta sebagai sukarelawan dalam

nutrition. Oxford: Blackwell Publ; 2004. Manary MJ, Solomon NW. Public health aspects of undernutrition. ialam: Gibney MJ, Margetts BM, Kearney JM' Arab L' Public health nutrition. Oxford: Blackwell Publ; 2004' Akhmed F, Darnton-Hill. Vitamin A deficiency' Dalam: Gibney MJ, Margetts BM, Keamey JM, Arab L' Public health nutrition' Oxford: Blackwell Publ; 2004. Vijayaraghavan K. Iron deficiency anemia' Dalam: Gibney MJ' Vtargetts nfr{, Kearney JM, Arab L. Public health nutrition' Oxford: Blackwell Publ; 2004. West CE, Jooste PL, Pandav CS. Iodine and iodine deficiency L' disorders. Dalam: Gibney MJ, Margetts BM, Keamey JM, Arab Public health nutrition. Oxford: Blackwell Publ; 2004'

Pmgm,

berbagai program terkait, misalnya pemberian makanan, memberikan kursus keterampilan mandiri, atau program layanan masyarakat lainnya. Kalau bukan kita, siapa lagi, dan kalau bukan sekarang, kapan lagi.'.........

@rt

494

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor:

1, Januari 2009