Anda di halaman 1dari 22

REFERAT DISLIPIDEMIA

DISUSUN OLEH: Syarah Amrina 108103000063 PEMBIMBING: dr. Waluyo Dwi Cahyono, Sp.PD, FINASIM KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BEKASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013

LEMBAR PENGESAHAN
Makalah referat dengan judul Dislipidemia telah diterima dan disetujui pada tanggal 03 Juni 2013 sebagai salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam periode 08 April 16 Juni 2013 di RSUD Kota Bekasi

Bekasi, 03 Juni 2013

dr. Waluyo Dwi Cahyono, Sp.PD, FINASIM

PENDAHULUAN
Studi eksperimental dan epidemiologis menyatakan bahwa dislipidemia berperan pada kejadian aterosklerosis. Aterosklerosis merupakan dasar penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab kematian utama di negara maju sedangkan di negara berkembang, seperti Indonesia, prevalensi penyakit kardiovaskuler semakin meningkat terutama di perkotaan. Kejadian penyakit kardiovaskuler dapat dicegah dengan melakukan tindakan pencegahan terhadap faktor risikonya. Faktor risiko utama aterosklerosis adalah dislipidemia.1 Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma.1,2 Dislipidemia dibedakan atas dislipidemia primer dan sekunder.1 Sebagian besar dislipidemia adalah dislipidemia primer, dan berkaitan dengan gen yang mengatur enzim dan apoprotein yang terlibat dalam metabolisme lipoprotein maupun reseptor lipoprotein. Dislipidemia sekunder adalah dislipidemia akibat dari suatu penyakit atau karena efek samping obat. Penatalaksanaan kedua jenis dislipidemia berbeda.2,3 Diharapkan dislipidemia dapat dicegah kejadiannya oleh semua praktisi kedokteran. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka dalam referat ini akan dibahas mengenai lipid dan metabolism lipoprotein, dislipidemia dan tatalaksana dislipidemia yang direkomendasikan guna menanggulangi tinggi nya angka kejadian aterosklerosis.1

DAFTAR ISI

Halaman
Lembar Pengesahan Pendahuluan Daftar Isi Daftar Singkatan Daftar Gambar dan Tabel BAB I. Lipid dan Metabolisme Lipoprotein BAB II. Dislipidemia BAB III. Tatalaksana Dislipidemia Daftar Pustaka 2 3 4 5 6 7 11 18 22

DAFTAR SINGKATAN
Apo: Apoprotein. BECAIT: Bezafibrate Coronary Atherosclerosis Intervention Trial. HDL : High Density Lipoprotein. IDL: Intermediate Density Lipoprotein. LDL: Low Density Lipoprotein. TG: Trigliserida. VLDL: Very Low Density Lipoprotein.

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Lipoprotein Gambar 2 Jalur Metabolisme Eksogen Gambar 3 Jalur Metabolisme Endogen Gambar 4 Jalur Metabolisme Reverse Cholestrol Transport Gambar 5 Jalur Metabolisme Lipoprotein

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Karakteristik Apolipoprotein Tabel 2 Klasifikasi acuan kadar Kolestrol Tabel 3 Faktor Risiko Penyakit Arteri Koroner Bagan 1 Penatalaksanaan dislipidemia berdasarkan faktor resiko

BAB I LIPID DAN LIPOPROTEIN


Lipid dalam tubuh kita ada tiga jenis yaitu kolestrol, trigliserid dan fosfolipid.1 Lipid sulit larut dalam lemak oleh karenanya perlu dibuat bentuk yang terlarut, terdapat suatu zat pelarut dalam bentuk protein yang dikenal dengan apolipoprotein atau apoprotein. Dikenal 9 jenis apoprotein yang diberi nama secara alfabetis, contoh Apo A, Apo B, Apo C, Apo D, Apo E dan seterusnya. Ikatan senyawa lipid dengan apoprotein ini dikenal dengan lipoprotein. Tiap jenis lipoprotein memiliki Apo sendiri, misal VLDL, IDL dan LDL mangandung Apo 100 sedangkan kilomikron mengandung Apo B48. Apoprotein ditemukan pada permukaan lipoprotein.1,3

Gambar 1 Lipoprotein Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

Pada manusia dapat dibedakan 6 jenis lipoprotein, yaitu HDL ( high density lipoprotein), LDL (low density lipoprotein), IDL (intermediate density lipoprotein), VLDL (very low density lipoprotein), kilomikron dan lipoprotein a kecil (Lp(a)).1,5,6,7

Tabel 1 Karakteristik Apolipoprotein Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

Metabolisme Lipoprotein 1. Jalur eksogen1,3 Makanan berlemak yang kita makan terdiri atas trigliserid dan kolestrol. Selain dari makanan di dalam usus terdapat pula kolestrol dari hati yang dieksresi bersama empedu ke usus halus. Kedua lemak tersebut, yang berasal dari makanan dan dari hati disebut lemak eksogen. Dalam usus trigilserid dan kolestrol akan diserap oleh enterosit mukosa usus halus, trigliserid akan diserap sebagai asam lemak bebas dan kolestrol sebagai kolestrol. Kemudian masih di usus halus, asam lemak bebas diubah lagi menjadi trigliserid sedangkan kolestrol akan mengalami esterifikasi menjadi kolestrol ester dan keduanya bersama fosfolipid dan apolipoprotein akan membentuk lipoprotein yang disebut kilomikron. Lalu kilomikron akan masuk ke saluran limfe dan melalui duktus torasikus akan masuk aliran darah. Trigliserid dalam kilomikron akan mengalami hidrolisis karna enzim lipoprotein lipase yang berasal dari endotel menjadi asam lemak bebas. Asam lemak bebas tersebut akan disimpan dalam adipose (jaringan lemak) namun bila terdapat dalam jumlah yang banyak maka sebagian akan diambil oleh hati untuk

bahan pembentukan trigilserid, kilomikron tanpa kandungan trigliserid disebut kilomikron remnant dan akan dibawa di hati.3,4

Gambar 2 Jalur Metabolism Eksogen Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

2. Jalur endogen1,3 Trigliserid dan kolestrol yang disintesis di hati akan disekresi ke dalam sirkulasi sebagai VLDL, selanjutnya oleh enzim lipoprotein lipase VLDL akan dihidrolisis menjadi IDL dan akhirnya akan dihidrolisis menjadi LDL. Ketiga lipoprotein ini akan mengangkut kolestrol dari sirkulasi kembali ke hati, yang paling banyak mengandung kolestrol adalah LDL. Selain hati, ada beberapa lokasi yang memiliki reseptor LDL contohnya kelenjar adrenal, testis dan ovarium. Sebagian LDL akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh makrofag dan akan menjadi sel busa (foam cell). Makin banyak kadar LDL dalam plasma maka makin banyak jumlah sel busa. Beberapa kondisi yang mmpengaruhi tingkat oksidasi adalah, bertambahnya jumlah LDL kecil padat dan menurunnya kadar HDL yang mana HDL itu memiliki sifat protektif terhadap oksdasi LDL.

Gambar 3 Jalur Metabolisme Endogen Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

3. Jalur reverse cholesterol transport3,4 HDL dilepaskan sebagai partikel kecil miskon kolestrol yang mengandung apolipoprotein A, C dan E dan disebut HDL nascent. HDL nascent akan mendekati makrofag dan mengambil kolestrol nantinya akan berubah menjadi HDL dewasa. Kolestrol bebas akan mengalami esterifikasi menjadi kolestrol ester oleh enzim lecithin cholesterol aciltransferase (LCAT). Selanjutnya HDL yang membawa kolestrol akan melalui 2 jalur untuk kembali ke hati, jalur pertama jalur langsung ke hati dan jalur kedua yaitu jalur tidak langsung melalui VLDL dan IDL untuk membawa kolestrol ke hati.

Gambar 4 Jalur Metabolisme reverse cholesterol transport Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

Gambar berikut menjelaskan keseluruhan jalur metabolism lipoprotein baik eksogen, endogen dan reverse cholesterol transport.

Gambar 5 Jalur Metabolisme Lipoprotein Sumber Fauci AS, Kasper DL, Braunwald E. Harrisons Principle of Internal Medicine, 17th Edition

10

BAB II DISLIPIDEMIA

2.1 Definisi Kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolestrol total, kolestrol LDL, trigliserida serta penurunan kadar kolestrol HDL.1

2.2 Klasifikasi Klasifikasi dislipidemia dapat berdasarkan penyebab, primer yang tidak jelas sebabnya, dan sekunder yang mempunyai penyakit dasar seperti pada sindroma nefrotik, diabetes mellitus, hipotiroidisme. Selain itu dislipidemia juga dapat dikelompokkan berdasarkan profil lipid yang menonjol, misal hiperkolestrolemi, hipertrigliseridemi, isolated low HDL cholesterol, dan dislipidemia campuran. 1,3

Tabel 2 Klasifikasi acuan kadar Kolestrol Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

2.3 Pemeriksaan Laboratorium1 Pemeriksaan kadar kolestrol total, kolestrol LDL, kolestrol HDL, dan TG plasma. Terdapat prosedur pemeriksaan dan pelaporan baku guna penafsiran seragam. Prosedur persiapan berupa:
11

a. Untuk pemeriksaan TG perlu puasa 12 jam (semalam) selama puasa boleh minum air putih. b. Pemeriksaan kolestrol total tidak perlu puasa. c. Bila kolestrol LDL diperiksa secara direk tidak perlu puasa. d. Bila kolestrol LDL dperiksa secara indirek maka perlu puasa 12 jam. Sedangkan untuk pengambilan contoh darah melalui darah vena, pasien duduk sedikitnya 10 menit sebelum contoh darah diambil. 2.3 Penatalaksanaan1,3,4 Menentukan besar risiko penyakit jantung koroner. Berikut kriteria faktor risiko utama selain kolestrol LDL yang menentukan sasaran pencapaian kadar kolestrol LDL: Umur pria 45 tahun dan wanita 55tahun Riwayat keluarga PAK dini yaitu ayah usia <55 tahun dan ibu <65 tahun Kebiasaan merokok Hipertensi (140/90 mmHg atau sedang mendapat obat antihipertensi) Kolestrol HDL rendah (<40mg/dL) Dikutip dari: NCEP (National Cholestrol Education Program) III Expert Panel on Detection. *kolestrol HDL 60 mg/dl dianggap sebagai faktor risiko negatif artinya dapat mengurangi satu faktor risiko dari jumlah total. Mengacu pada NCEP ATPP III maka sasaran kadar kolestrol LDL disesuaikan dengan banyaknya faktor risiko yang dimiliki seseorang. Berikut kategori risiko berdasarkan banyaknya faktor risiko:

12

Tabel 3 Faktor Risiko Penyakit Arteri Koroner Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004 2.4 Pengelolaan Dislipidemia

Bagan 1 Penanganan Dislipidemia berdasarkan faktor resiko Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

13

Bagan penanganan Dislipidemia berdasarkan faktor resiko Sumber: Adam. MF Jhon. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 2004

2.5 Dislipidemia pada keadaan khusus a. Dislipidemia pada Diabetes Mellitus1 Macam dislipidemia yang sering ditemukan pada pasien DM tipe 2 adalah hipertrigliseridemi dan kadar kolestrol HDL rendah, sedangkan kadar kolestrol LDL normal atau sedikit meningkat. Ketiga kondisi tersebut membuat pasien DM tipe 2 sangat berisiko tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskuler. Sasaran kolestrol LDL harus <100 mg/dl. Pilihan obat pertama adalah golongan statin, kecuali bila kadar trigliserid >400mg/dl maka harus dimulai dengan fibrat. b. Dislipidemia pada Sindroma Metabolik1 Macam dislipidemia yang ditemukan pada sindroma metabolic adalah hipertrigliseridemia, kadar kolestrol HDL rendah partikel LDL kecil padat meningkat. Sasaran utama adalah menurunkan kadar kolestrol LDL, dengan obat golongan statin sebagai lini pertama, kecuali dalam kondisi kadar trigliserida 400 mg/dL obat pilihan adalah golongan fibrat. Diagnosis sindroma metabolik ditegakkan bila terdapat 3 kriteria berikut: Lingkar pinggang Glukosa darah puasa Trigliserida Kolestrol HDL Tekanan darah 90 cm (pria), 80 cm (wanita) 110 mg/dL 150 mg/dL < 40 mg/dL (pria), < 50 (wanita) 135/85 mmHg

Kadar kolestrol LDL sasaran harus disesuaikan dengan risiko PJK yang dimiliki pasien. Pasien sindroma metabolic diklasifikasikan sebagai risiko tinggi
14

PJK. Kadar kolestrol LDL sasaran adalah < 100 mg/dL. Pada pasien dengan kadar LDL normal maka kadar kolestrol non-HDL dapat dihitung dari kolestrol total dikurangi kolestrol HDL, dengan kadar sasaran setara dengan kadar kolestrol LDL ditambah 30 mg/dL. Sebagai contoh bila kadar kolestrol LDL adalah 130 mg/dL maka kadar kolestrol non-HDL adalah 160 mg/dL. Dislipidemia pada orang lanjut usia1 Orang lanjut usia harus diperlakukan sebagai risiko tinggi. Ternyata pada orang lanjut usia penurunan kadar kolestrol LDL dapat mengurangi angka kematian koroner dan infark miokard non-fatal. Oleh karena itu, pada orang lanjut usia tetap perlu dilakukan pencegahan sekunder mengingat orang lanjut usia memiliki risiko tinggi. c. Dislipidemia pada hipertensi1 Beberapa obat anti hipertensi dapat mempengaruhi kadar lipid serum. Obat antihipertensi yang mempunyai efek kuat meningkatkan kadar lipid adalah penyekat beta. Sedangkan obat antihipertensi yang tidak mempengaruhi kadar lipid atau minimal efeknya adalah calcium channel blocker, penghambat ACE, tiazid dosis rendah dan sartan (ARB). Golongan resin dapat mengganggu absorpsi obat-obat lain, oleh karena itu obat antihipertensi diberi 1 jam sebelum atau 4 jam setelah pemberian obat golongan resin pengikat asam empedu. Golongan asam nikotinat dapat memperkuat efek penurunan tekanan darah obat vasodilator. d. Dislipidemia pada gagal ginjal1 Pemberian statin maupun fibrat harus hati-hati pasien gagal ginjal kronik. Sebaiknya statin dimulai dengan dosis kecil dan selalu pantau fungsi ginjal dan enzim CPK. Pemberian fibrat terbatas pada pasien dengan gangguan ginjal ringan, kontraindikasi bila bersihan kreatinin (CCT) < 10 ml/menit. Tidak dianjurkan kombinasi antara golongan statin dan fibrat. e. Dislipidemia pada penyakit hati1 Penyakit sel hati sering berhubungan dengan hipertrigliseridemia dan penurunan kadar kolestrol HDL. Hal ini terjadi akibat penurunan aktifitas enzim hepatic trigliseride lipase (HTGL). Sedangkan pada penyakit hati kolestatik sering terjadi hiperkolestrolemia. Sebelum pemberian obat sebaiknya diperiksa
15

fungsi hati, bila terjadi peningkatan lebih dari tiga kali sebaiknya tidak diberikan fibrat maupun statin. Pemantauan berkala sebaiknya dilakukan pada pasien dengan peningkatan fungsi hati kurang dari tiga kali. f. Dislipidemia pada infark miokard akut1 Pada keadaan infark miokard akut lipid plasma akan mengalami perubahan, antara lain kadar trigliserid meningkat yang puncaknya pada minggu ke -3 pasca infark dan akan kembali sampai kadar semula pada minggu ke- 6. Sebaliknya kadar kolestrol total dan kolestrol LDL menurun sampai kadar terendah pada minggu 1-2 pasca infark, dan kembali ke kadar semula setelah 8-12 minggu. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar kolestrol sebaiknya dilakukan 48 jam setelah kejadian serangan. Dianjurkan agar pemberian statin dimulai sejak saat pasien di ruang intensif karena terbukti mengurangi angka kematian. g. Dislipidemia pada penyakit autoimun1 Dislipidemia pada autoimun berhubungan dengan gangguan immunoglobulin monoclonal (IgG. IgA). Penyakit autoimun yang sering berhubungan dengan kadar lipid adalah myeloma multiple, penyakit Graves, trombositopenia pupura idiopatik. Dapat terjadi hiperkolestrolemia, hipertrgliseridemia atau campuran. Dislipidemia dihubungkan dengan pembentukan antibody yang berikatan dengan enzim lipolitik dan reseptor lipoprotein. h. Dislipidemia pada penyakit infeksi1 Pada penderita infeksi berat akibat kuman negatif sering terjadi peningkatan trigliserida. Sedangkan pada infeksi kuman positif terjadi peningkatan trigliserida tapi tidak terlalu tinggi, sedangkan kadar kolestrol turun 20-25%. Kadar kolestrol LDL turun pada infeksi bakteri dan virus. Oleh karena itu sebaiknya pemeriksaan kadar lipid tidak dilakukan pada saat terjadi infeksi berat. Pasien HIV menunjukkan kadar trigliserida lebih tinggi dan kolestrol total lebih rendah disbanding pasien non- HIV. Diperkirakan mekanisme berhubungan dengan dilepaskannya sitokin dari limfosit dan makrofag. Sitokin ini meningkatkan produksi trigliserida di hati dan menghambat penggunaan trigliserida.

16

i. Dislipidemia pada penyakit lain1,3 Sindroma nefrotik dan penyakit ginjal lain Pada sindrom nefrotik kelainan lipid yang utama adalah peningkatan kadar kolestrol LDL, namun dapat dijumpai pula peningkatan kadar trigliserida. Bila dengan terapi standar tidak dapat menurunkan kadar lipid, maka dipertimbangkan obat hipolipidemik, khususnya statin. Sedangkan untuk penyakit ginjal kronis yang disertai dengan kegagalan fungsi ginjal, pemberian obat hipolipidemik perlu penyesuaian dosis dan kombinasi fibrat dan statin tidak dianjurkan. Hipotiroidisme 1,3 Kadar hormon tiroid yang rendah akan meningkatkan kadar kolestrol LDL, sehingga pada penderita dengan kadar kolestrol LDL >160 mg/dL perlu dipikirkan adanya hipotiroidisme sub klinis.

17

BAB III TATALAKSANA DISLIPIDEMIA

Pada kondisi dislipidemia terdapat penatalaksanaan farmakologis dan non farmakologis. Tatalaksana non farmakologis terdiri dari nutrisi medis, aktivitas fisik, menghindari rokok, menurunkan BB dan pembatasan asupan alkohol. 3.1 Tatalaksana Non Farmakologis1 Nutrisi Medis Perlu dilakukan anamnesis nutrisi, pengukuran status nutrisi dan diagnosis nutrisi. Pada pasien dengan kadar kolestrol total atau kolestrol LDL tinggi maka perlu dikurangi asupan lemak total dan lemak jenuh serta meningkatan asupan lemak tidak jenuh rantai tunggal dan ganda. Pada pasien dengan kadar trigliserida tinggi maka dikurangi asupan karbohidrat, alcohol dan lemak. Perlu diketahui bahwa tempe adalah sumber protein nabati yang baik dan murah serta dapat menurunkan kadar kolestrol total, trigliserida dan juga meningkatkan kadar kolestrol HDL. Aktifitas Fisik Prinsipnya, pasien dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas fisik sesuai dengan kondisi dan kemampuan. Semua jenis aktivitas fisik bermanfaat untuk pasien, misal jalan kaki, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dsb. Dari beberapa penelitian terbukti bahwa aktifitas fisik yang teratur dapat meningkatkan kadar kolestrol HDL dan apoA1 dan menurunkan kadar kolestrol LDL dan kolestrol trigliderida, meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki toleransi glukosa, meningkatkan kebugaran serta menurunkan berat badan. Berhenti beraktivitas dapat menurunkan kadar kolestrol HDL dalam beberapa bulan.

Setelah 6 minggu menjalani terapi non farmakologis dilakukan evaluasi ulang, bila belum sesuai dengan target kadar kolestrol LDL maka perlu ditingkatkan kegiatan terapi non farmakologis sembari dievaluasi ada atau tidak penyebab dislipidemia

sekunder untuk segera diatasi. Kemudian 6 bulan setelahnya dieveluasi ulang, bila belum
18

tercapai target kolestrol LDL maka ditambahkan terapi farmakologis dengan tetap kegiatan terapi non farmakologis dilanjutkan. 3.2 Tatalaksana Farmakologis1,3 Saat ini dikenal 6 jenis obat yang dapat memperbaiki profil lipid serum yaitu golongan statin, resin, fibrat, asam nikotinat dan ezetimibe. Selain obat tersebut, saat ini telah ada obat kombinasi obat penurun lipid dalam satu tablet seperti Advicor (lofastatin dan niaspan). Vytorin (simvastatin dan ezetimibe). Bile acid sequestrans Terdapat 3 jenis bile acid sequestrans yaitu kolestiramin, kolestipol dan kolesevelam. Golongan ini mengikat asam empedu dalam usus. Hal ini berakibat peningkatan konversi kolestrol menjadi asam empedu di hati sehingga kandungan kolestrol dalam sel hati menurun. Selain itu, akibatnya dapat berupa peningkatan aktifitas resptor LDL dan sintesis kolestrol intrahepatik. Total kolestrol dan kolestrol LDL menurun tapi kolestrol HDL tetap atau meningkat sedikit. Pada pasien hipertrigliseridemia obat ini dapat menurunkan trigliserida dan menurunkan kolestrol HDL. Obat ini tergolong kuat dengan efek samping ringan. Efek samping berupa keluhan gastrointestinal yaitu kembung, konstipasi, sakit perut dan perburukan hemoroid.

HMG- CoA Reduktase Inhibitor Saat ini telah terdapat 6 jenis yaitu, lofastatin, simvastatin,pravastatin, fluvastatin, atrovastatin dan rosuvastatin. Golongan ini menghambat kerja enzim HMG CoA reductase yaitu suatu enzim di hati yang berperan pada sintesis kolestrol. Selain itu akan terjadi peningkatan reseptor LDL pada permukaan hati sehingga kolestrol LDL di darah
19

akan ditarik ke hati. Efek samping berupa nyeri musculoskeletal, nausea, vomitus, nyeri abdominal, konstipasi dan flatulen. Makin tinggi dosis statin maka makin besar terjadinya efek samping.

Derivat asam fibrat Terdapat 4 jenis yaitu gemfibrozil, fenofibrat, bezafibrat dan ciprofibrat. Golongan ini mempunyai efek meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase, menghambat produksi VLDL hati dan meningkatkan aktifitas reseptor LDL. Golongan ini mengaktifkan enzim lipoprotein lipase yang memecah trigliserida. Selain itu, dapat meningkatkan kolestrol HDL. Efek samping jarang, yang tersering gangguan gastrointestinal, peningkatan transaminase, reaksi alergi kulit serta miopati. Pada penelitian BECAIT menggunakan bezafibrat dapat dibuktikan adanya regresi pasien aterosklerosis. Asam nikotinik Golongan ini diduga menghambat enzim hormone sensitive lipase di jaringan adipose yang mana dapat mengurangi jumlah asam lemak bebas. Diketahui bahwa sebagian asam lemak bebas dalam darah akan ditangkap oleh hati dan akan menjadi sumber pembentukan VLDL. Bila sintesis VLDL di hati turun maka akan ada penurunan kadar trigliserida dan juga kolestrol LDL di plasma. Selain itu golongan ini dapat meningkatkan kolestrol HDL . oleh karena dapat menurunkan trigliserida dan kolestrol LDL serta meningkatkan kolestrol HDL maka golongan ini disebut pula dengan broad spectrum lipid lowering agent. Efek samping paling sering yaitu flushing, perasaan panas
20

di muka dan badan. Untuk menghindari efek samping tersebut maka dimulai dengan dosis rendah yaitu 375mg/hari kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga dosis

maksimal 1500-2000 mg/hari. Hasil yang sangat baik bila dikombinasikan dengan golongan statin. Ezetimibe Ezetimibe merupakan obat pertama yang dipasarkan dari golongan obat penghambat absorpsi kolestrol, secara selektif, menghambat absorpsi kolestrol dari lumen usus halus ke enterosit. Golongan ini tidak mempengaruhi absorpsi trigliserida, asam lemak, asam empedu atau vitamin yang larut lemak (A, D, E dan dan karoten). Kombinasi dengan golongan statin meningkatkan efek penurunan LDL. Ezetimibe 10 mg dan atorvastatin 10 mg sama efektifnya dengan pemberian atorvastatin 80 mg. Efek samping bila diberi tunggal adalah sakit kepala, sakit perut dan diare. Berikut tabel ringkasan obat untuk pengelolaan dislipidemia:

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Adam, MF Jhon dkk. Petunjuk Praktis Penatalaksanaan Dislipidemia. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI. 2004. 2. Anwar, Bahri. T. Dislipidemia sebagai Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner. e- USU Repository. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2004 3. Aru W. Sudoyo, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. Jilid III. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI. 2004. 4. Fauci, Braunwald, Kasper, et al. Harrisons Principles of Internal Medicine. 17th Edition. New York: 2008. 5. Marks, Smith, Lieberman. Basic Medical Biochemistry. A Clinical Approach. 2nd Edition. Lipincott Williams & Wilkins. 2007. 6. Muray, Graner, Mayes, Rodwell. Harpers Ilustrated Biochemistry. 26th Edition. 2003.

22