Anda di halaman 1dari 12

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA Volume XI, No.

4 JULI - AGUSTUS 2010

InfoPOM
BENARKAH ASPARTAM BERBAHAYA ? MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL PROFIL BALAI POM DI JAMBI

BADAN POM RI

ISSN 1829-9334

DAFTAR ISI

1 1 2 2 3 3 3 4

APAKAH PRODUK HERBAL YANG ANDA KONSUMSI AMAN, BERMUTU DAN BERMANFAAT

APAKAH PRODUK HERBAL YAHG ANDA KONSUMSl AMAN, BERMUTU DAN BERMANFAAT ?
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Agar dapat menjadi sehat berbagai cara dilakukan manusia, mulai dari mengkonsumsi makanan bergizi, istirahat teratur, berolah raga, rekreasi dan yang sedang menjadi trend saat ini adalah mengkonsumsi produk suplemen kesehatan atau herbal. Tingginya kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi produk suplemen kesehatan atau herbal tidak terlepas dari gencarnya promosi para produsen serta adanya pola gaya hidup untuk kembali ke alam (Back to Nature). Jamu atau obat tradisional Indonesia merupakan suatu warisan budaya bangsa Indonesia yang telah dikenal sejak dahulu dan digunakan secara luas oleh masyarakat secara turun-temurun hingga saat ini. Penggunaan jamu pada awalnya ditujukan untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, kebugaran, pemulihan kesehatan setelah melahirkan atau sembuh dari sakit, serta untuk kecantikan. Pemanfaatan tanaman obat untuk jamu didukung oleh kekayaan alam Indonesia dalam hal keanekaragaman flora dan fauna, serta tradisi budaya yang telah ada sejak jaman dahulu. Hal ini membuat Indonesia begitu dikenal di mancanegara akan produk jamu dan telah mendorong pemerintah Indonesia untuk mendeklarasikan bahwa JAMU is Indonesia's Brand. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi begitu pesat saat ini, berbagai penelitian tentang tanaman obat mendapat perhatian yang besar di seluruh dunia, baik di negara-negara maju, maupun di negara-negara berkembang yang terlebih dahulu telah mengenal dan

menggunakan tanaman sebagai obat. Hal ini disebabkan karena berbagai penyakit degeneratif dan munculnva penyakit-penyakit infeksi baru yang terjadi dewasa ini belum dapat ditanggulangi secara optimal dengan metode pengobatan modern menggunakan obat-obat kimia. Dilain pihak, beberapa penelitian yang dilaporkan membuktikan manfaat tanaman obat untuk mencegah maupun menanggulangi beberapa gangguan kesehatan. Fenomena ini menyebabkan meningkatnya penggunaan tanaman obat maupun produk suplemen kesehatan dan herbal termasuk jamu yang mengandung tanaman obat tertentu untuk pengobatan penyakit. Produk Herbal Harus Aman, Bermutu dan Bermanfaat Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) telah mempersyaratkan bahwa suatu sediaan herbal atau obat

tradisional harus memenuhi kriteria aman, bermutu dan bermanfaat, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Bagaimana suatu produk herbal dapat dikatakan aman ? Suatu produk herbal dapat dikatakan aman apabila telah digunakan secara turuntemurun melewati tiga generasi dan terbukti aman, atau telah diuji toksisitasnya menggunakan hevvan uji meliputi uji toksisitas akut, subkronis, kronis dan uji mutagenitas, dan terbukti aman untuk digunakan pada manusia. Data keamanan suatu tanaman obat dapat ditemukan melalui berbagai buku resmi yang diterbitkan, baik oleh lembaga kesehatan dunia seperti WHO, lembaga pemerintah, perguruan tinggi. maupun dari laporan pada jurnal-jurnal internasional. Beberapa laporan hasil penelitian tentang tanaman obat menyebutkan bahwa suatu tanaman obat yang dahulu digunakan dalam pengobatan nasional dan

ternyata dapat memberikan efek samping yang tidak diinginkan sehingga sekarang tidak digunakan lagi. Salah satu contoh adalah daun Piper methysticum atau kava-kava yang terbukti dapat menyebabkan kerusakan hati. Di samping itu beberapa tanaman obat terbukti dapat berinteraksi dengan obat-obat kimia yang umumnya diberikan dokter pada penderita penyakit tertentu sehingga dapat menyebabkan efek keracunan maupun menghilangkan efek dari obat kimia itu sendiri. misalnya herba Hypericum perforatum atau St. John's wort dan rhizoma Hydrastis canadensis atau Golden seal. Beberapa tanaman obat ternyata juga mengandung senyawa berkhasiat yang sangat toksik atau beracun sehingga digolongkan dalam obat keras dan produknya tidak dapat dijual bebas, diantaranya adalah

2 I EDITORIAL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

Editorial
Pembaca yang terhormat,

Tingginya kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi produk herbal tidak terlepas dari gencarnya promosi para produsen serta adanya pola hidup untuk kembali ke alam. Untuk itu Badan POM selalu berupaya memastikan bahwa produk herbal yang beredar di pasaran aman, bermutu dan berkhasiat. Sehubungan dengan hal tersebut maka pada edisi kali ini disajikan artikel Apakah Produk Herbal yang Anda Konsumsi Aman, Bermutu dan Bermanfaat agar masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara memilih produk herbal yang aman, bermutu dan bermanfaat. Terkait beredarnya informasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab mengenai bahaya penggunaan aspartam dan larangan untuk mengkonsumsi beberapa produk makanan dan minuman karena mengandung aspartam maka kami sajikan artikel Benarkah Aspartam Berbahaya? yang mencoba memberi sedikit penjelasan mengenai aspartam, penggunaan dan sisi regulasinya. Selain itu, terdapat juga artikel yang berjudul Mengatasi Keracunan Parasetamol. Dengan artikel ini, diharapkan pembaca dapat memperoleh informasi untuk mencegah dan mengatasi keracunan akibat parasetamol. Edisi ini ditutup dengan menampilkan Profil Balai POM di Jambi. Semoga InfoPOM edisi ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca semua.

Penasehat Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Pengarah Sekretaris Utama Badan Pengawas Obat dan Makanan Penanggung jawab Kepala Pusat Informasi Obat dan Makanan Redaktur Ketua Kepala Bidang Informasi Obat Redaktur Eksekutif Budi Djanu Purwanto, SH,MH; Dra. Deksa Presiana, Apt, Mkes; Yustina Muliani, SSi, Apt; Dra. Lucky Hayati, Apt; Dra. Tri Asti I, Apt, Mpharm; Dra. Sri Mulyani, Apt; Ellen Simanjuntak, SE; Galih Prima Arumsari, SFarm, Apt; Dewi Sofiah, Ssi, Apt; Dra. Dyah Nugraheni, Apt; Dra. Sri Hariyati, Msc; Suyanto, SP, Msi; Dra. Murti Hadiyani Editor Yulinar, SKM, Msi; Denik P, Sfarm, Apt; Eriana Kartika, Ssi, Apt; Arlinda Wibiayu, Ssi, Apt Desain grafis Sandhyani ED, Ssi, Apt; Indah W, Ssi, Apt Sekretariat Ridwan Sudiro, Ssos; Surtiningsih; Netty Sirait

Atropa belladonna, Digitalis sp.. Ephedra sp. dan Rauwolfia serpentina. Hal-hal ini umumnya tidak diketahui oleh sebagian besar masyarakat sehingga timbul anggapan bahwa semua tanaman obat adalah aman untuk dikonsumsi. Untuk melindungi masyarakat dari penggunaan tanaman obat yang mempunyai potensi menyebabkan keracunan, kerusakan organ tubuh, ataupun berpotensi berinteraksi dengan obat-obat lain yang merugikan kesehatan, maka Badan POM telah mengeluarkan suatu daftar tumbuhan yang dilarang digunakan dalam produk herbal, diantaranya adalah biji Abrus precatorius, herba Aconitum sp, herba Adonis vernalis, herba Aristolochia sp, daun Artemisia sp. herba Atropa belladonna. kulit kayu Cinchona succirubra. biji Colchicum autumnale, akar dan biji Convolvulus scammonia, buah dan biji Citrullus colocynthis, biji dan minyak Croton tiglium, biji Datura sp. biji Delphinium staphisagria,. daun Digitalis sp, rhizoma Dryopteris filixmax, herba Ephedra sp, herba Euphorbia tirucalli, daun Justicia gendarussa, resin Garcinia harburyii, rhizoma Hydrastis canadensis, daun Hyoscyamus niger, herba Hypericum perforatum, daun Lantana camara, herba Lobelia chinensis, akar umbi Merremia mammosa, herba Mitragyna speciosa, buah dan daun Nerium oleander, daun Piper methysticum, akar umbi Pinnelia ternata, rhizoma dan resin Podophyllum emyodi, herba Rauwolfia serpentina, herba Rauwolfia vomitoria, biji Schoenocaulon officinale, umbi lapis Scilla sinensis, biji Strophanthus sp, biji dan akar Strychnos nux-vomica dan daun Symphytum officinale. Selain berbagai keterangan di atas, aspek mutu merupakan persyaratan penting yang harus dipenuhi oleh suatu produk herbal karena mutu ikut menentukan tingkat keamanan produk tersebut. Misalnya, suatu produk herbal yang terdiri dari tanaman obat yang sangat berkhasiat akan tetapi tercemar oleh bakteri patogen, aflatoksin atau logam berat, maka produk tersebut adalah tidak aman dan tidak layak dikonsumsi. Untuk memperoleh mutu suatu produk herbal yang baik, suatu industri harus menerapkan Cara Produksi Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB), meliputi semua aspek produksi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi sampai pada produk akhir siap edar. Beberapa aspek mutu yang harus dipenuhi antara lain, batas cemaran logam berat ( Pb, As dan Cd ), residu pestisida, aflatoksin, dan cemaran mikroorganisme. Suatu produk herbal dipersyaratkan tidak boleh mengandung cemaran logam berat atau apabila tidak dapat dihindari harus sesuai dengan batas maksimum yang dipersyaratkan yaitu Pb dan As masing-masing < 10,0 ppm dan Cd < 0,3 ppm; demikian juga halnya dengan residu pestisida jenis fosfor dan klor = 5 ug/kg. Sedangkan untuk aflatoksin = 20 ug/kg. Adapun batas maksimum cemaran mikroorganisme yang dipersyaratkan tergantung dari bentuk sediaan dan ditentukan dengan penetapan Angka Lempeng Total dan Angka Kapang Khamir. Namun demikian suatu produk herbal tidak diperbolehkan mengandung cemaran mikroorganisme patogen seperti Pseudomonas aeruginosa. Staphylococcus aureus. Clostridia sp., Shigella sp., dan Salmonella sp. Suatu produk herbal yang digunakan sebagai obat tentu diharapkan dapat memberikan efek pengobatan sesuai dengan tujuan

3I ARTIKEL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

pemakaiannya. Agar dapat menjamin bahwa produk herbal yang dikonsumsi mempunyai efek pengobatan sesuai dengan klaim yang diajukan, tentu dibutuhkan data ilmiah pendukung sesuai dengan penelitian atau pengujian farmakologi yang telah dilakukan. Jelaslah penelitian atau pengujian farmakologi suatu produk herbal sangat diperlukan, baik pengujian secara praklinik menggunakan hewan uji ataupun pada tingkat yang lebih tinggi yaitu uji klinik pada manusia. Suatu produk herbal yang telah memenuhi aspek keamanan dan mutu serta bahan bakunya telah distandardisasi dan telah terbukti dengan uji praklinik dapat digolongkan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT), sedangkan apabila OHT tersebut diteliti lebih lanjut dengan uji kiinik dan terbukti bermanfaat secara nyata dapat digolongkan sebagai Fitofarmaka. Sebelum melakukan penelitian suatu produk herbal menjadi OHT atau fitofarmaka, suatu industri atau peneliti dapat mengajukan protokol penelitian kepada bagian penilaian Badan POM untuk dievaluasi dan dinilai, sehingga prosedur penelitian sesuai dengan persyaratan yang ada dan hasil dari penelitian tersebut dapat diterima. Produk Herbal yang Dicampurkan dengan Bahan Kimia Obat (BKO) Agar dapat memberikan efek pengobatan yang cepat, suatu produk herbal seringkali dicampurkan dengan Bahan Kimia Obat (BKO). Masyarakat perlu menyadari bahwa penggunaan produk herbal secara umum tidak dapat memberikan efek penyembuhan dalam waktu hanya beberapa jam atau cespleng, akan tetapi memerlukan waktu tertentu untuk dapat menunjukkan efek yang diinginkan. Kenyataan ini sering tidak dimengerti oleh masyarakat, bahkan ada masyarakat yang memang meminta produk herbal yang cespleng dan kemudian dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berlanggungjawab dengan cara mencampurkan BKO ke dalam produk herbal untuk mendapatkan efek yang diinginkan dengan cepat. Perbuatan ini jelas melanggar peraturan yang berlaku di Indonesia yang mempersyaratkan bahwa produk herbal atau obat tradisional tidak diperbolehkan mengandung BKO. Yang lebih membahayakan lagi adalah BKO yang dicampurkan tersebut terkadang tidak sesuai dengan dosis pemakaian atau melebihi batas yang lazim dikonsumsi untuk satu kali pemakaian, dan produk herbal tersebut digunakan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini jelas sangat berbahaya karena walaupun efek penyembuhannya segera terasa akan tetapi dapat menimbulkan efek samping yang serius, mulai dari mual, diare, pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri dada sampai pada kerusakan organ tubuh yang parah seperti kerusakan hati, gagal ginjal, jantung, bahkan sampai menyebabkan kematian. Sebagai contoh, penggunaan obat keras sildenafil dalam produk obat stamina pria atau obat kuat lelaki yang tidak sesuai dosis dapat menyebabkan efek samping yang ringan hingga berat seperti sakit kepala, pusing, dispepsia, mual, nyeri abdomen, mialgia, nyeri punggung, gangguan penglihatan, rhinitis, infark miokard, nyeri dada, palpitasi dan kematian. Sementara efek samping yang dapat timbul akibat penggunaan obat keras tadalafil yang tidak sesuai dosis adalah nyeri otot, pusing, mual, diare, sakit perut, nyeri punggung, muka memerah, hidung tersumbat dan fotosensitif. Beberapa jenis produk herbal yang sering dicampurkan dengan BKO antara lain adalah produk pelangsing tubuh, stamina pria, untuk gangguan asam urat atau encok/pegal linu/flu tulang dan gemuk badan. Secara lengkap tentang nama dan jenis produk herbal yang mengandung BKO dan telah dilarang oleh Badan POM dapat dilihat pada Peringatan Publik website Badan POM dengan alamat http://www.pom.go.id. Pala Cengkeh Kayu manis

4I ARTIKEL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

Tips yang dapat digunakan sebelum mengkonsumsi dan memilih suatu produk herbal yang aman, bermutu dan bermanfaat:

Konsultasikan masalah kesehatan anda kepada dokter atau ahli medis sebelum
mengkonsumsi suatu produk herbal, terutama untuk mereka yang mengalami gangguan kesehatan atau penyakit yang serius.

Ingatlah bahwa suatu produk herbal secara umum tidak dapat memberikan efek
penyembuhan yang langsung cepat, oleh karena itu untuk penyakit-penyakit yang membutuhkan penanganan secara cepat, segera hubungi dokter atau ahli medis.

Gunakanlah produk herbal yang sudah jelas terbukti keamanannya atau telah
mempunyai izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan yang ditandai dengan tulisan POM TR atau Tl diikuti dengan 9 digit angka.

Jika meragukan suatu produk herbal sudah terdaftar atau belum, hubungi Pusat
Informasi Obat dan Makanan Badan POM (Telp. 021-4259945, e-mail: informasi@pom.go.id ).

Bacalah

petunjuk penggunaan dan semua keterangan yang ada sebelum

mengkonsumsi suatu produk herbal. !

Periksalah kemasan produk herbal apakah tidak rusak; bau, warna dan rasa isinya
harus normal, tidak berjamur. Jika berbentuk serbuk apakah tidak basah dan menggumpal.

5 I ARTIKEL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

! !

Apabila

anda sedang menggunakan suatu obat kimia dari dokter, berikan

tenggang waktu 3 sampai 4 jam sebelum mengkonsumsi suatu produk herbal.

Segera hentikan penggunaan suatu produk herbal apabila terjadi efek yang tidak
diinginkan dan hubungi dokter atau ahli medis.

Periksalah

kesehatan anda secara berkala untuk memastikan efek yang

diinginkan dari penggunaan suatu produk herbal.

DR. Tepy Usia., MPhil - Direktorat Obat Asli Indonesia-

Benarkah

ASPARTAM
Berbahaya

Asam aspartat penting untuk sintesis DNA, sintesis urea dan sebagai neurotransmitter dalam otak. Fenilalanin, termasuk asam amino esensial yang dapat diperoleh dari makanan atau minuman, merupakan prekursor untuk sintesis tirosin dan beberapa neurotransmitter. Kelebihan fenilalanin akan diubah menjadi senyawa fumarat dan asetoasetat yang merupakan bagian dari siklus metabolisme energi. Metanol juga merupakan hasil metabolisme dari aspartam. Metanol hasil metabolisme aspartam ini berada dalam jumlah yang tidak mungkin menyebabkan toksisitas bagi tubuh, karena secara alami di dalam tubuh juga terdapat metanol yang masih mampu dimetabolisir oleh organ hati manusia

eberapa waktu belakangan ini marak beredar informasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab mengenai bahaya penggunaan aspartam dan larangan untuk mengkonsumsi beberapa produk makanan dan minuman karena mengandung aspartam. Menanggapi isu yang beredar ini, Badan POM telah mengeluarkan Peringatan Publik yang dapat diakses melalui website Badan POM tentang bantahan atas berita terkait dengan keamanan aspartam. Artikel ini akan memberi sedikit penjelasan mengenai aspartam, penggunaan dan sisi regulasinya.

Fenilketonuria
Terdapat sekelompok orang dengan kondisi tertentu yang tidak dapat mengkonsumsi aspartam karena mengalami kelainan yang disebut fenilketonuria. Fenilketonuria atau PKU (Phenylketonuria) adalah kelainan genetis pada orang-orang tertentu dimana tubuhnya tidak dapat memetabolisme asam amino fenilalanin secara efektif. Hal ini menyebabkan akumulasi fenilalanin dalam tubuh hingga berada pada kadar yang dapat membahayakan dan apabila tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan kerusakan otak. Penderita PKU hanya satu dari sepuluh ribu orang yang biasanya dapat diketahui segera setelah lahir melalui pemeriksaan darah rutin. Penderita PKU diharuskan mematuhi aturan diet yang ketat untuk membatasi asupan fenilalanin. Kadar fenilalanin yang tinggi dapat membahayakan janin yang dikandung oleh wanita hamil yang menderita PKU, oleh karenanya wanita penderita PKU yang berencana untuk hamil diharuskan juga menerapkan pola makan dengan kadar fenilalanin yang terkontrol (preconception phenylalanin-controlled diet).

Apa Itu Aspartam?


Aspartam adalah salah satu jenis pemanis buatan yang diizinkan untuk digunakan pada makanan sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Adapun yang dimaksud dengan pemanis buatan adalah bahan tambahan makanan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan atau produk pangan, yang tidak, hampir tidak, atau sedikit mempunyai nilai gizi atau kalori, serta hanya boleh ditambahkan ke dalam produk pangan dalam jumlah tertentu. Aspartam digunakan sebagai pemanis dalam berbagai makanan dan minuman seperti minuman ringan, makanan penutup, permen, permen karet, yoghurt, pangan kurang energi, dan pangan untuk mengontrol berat badan serta pemanis yang dapat dihidangkan di meja makan.

6I ARTIKEL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

Apa yang terjadi dengan aspartam dalam tubuh?


Setelah dikonsumsi, aspartam akan dimetabolisme menjadi tiga senyawa utama yaitu asam aspartat, fenilalanin dan metanol yang secara alami juga terdapat pada makanan lain dan dalam tubuh manusia. Asam aspartat merupakan asam amino nonesensial yang terdapat secara alami dalam tubuh.

Pelabelan Produk yang Mengandung Aspartam


P r oduk makanan dan minuman y a n g mengandung aspartam harus menuliskan kandungan aspartam pada komposisi produk. Hal ini sesuai dengan penomoran bahan tambahan pangan mengikuti The Codex Alimentarius, dimana kode untuk aspartam adalah 951 (dapat tertulis E-951 atau A-951 yang menandakan bahwa telah mendapat persetujuan di Eropa dan Australia). Hal lain yang wajib dilakukan produsen dalam penulisan informasi pada kemasan adalah mencantumkan peringatan fenilketonik apabila produk tersebut mengandung aspartam. Hal ini sesuai dengan Pasal 43 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, yang menyebutkan bahwa: untuk pemanis aspartam mencantumkan peringatan Fenilketonik: mengandung fenilalanin; pada label sediaan pemanis buatan dan pangan yang mengandung pemanis buatan harus mencantumkan tulisan yang menyatakan bahwa pangan tersebut untuk penderita diabetes dan atau orang yang membutuhkan pangan berkalori rendah. Peraturan lain yang mewajibkan hal serupa adalah Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Pengunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, dalam Bab II Pasal 6 ayat 3, menyebutkan: Wajib mencantumkan peringatan Fenilketonuria: mengandung fenilalanin; yang ditulis dan terlihat jelas pada label jika makanan atau minuman atau sediaan mengandung pemanis buatan aspartam.

Rumus bangun Aspartam

harian yang dapat diterima serta batas penggunaan maksimun untuk masing-masing jenis makanan terdapat pada Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI nomor HK.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan. Codex Alimentarius Commission (CAC) adalah komisi yang ditetapkan oleh FAO/WHO (The Food and Agricultural Organization/World Health Organization) yang bertujuan untuk melindungi kesehatan konsumen dan menjamin terjadinya perdagangan yang jujur. Saat ini anggotanya berjumlah 180 negara termasuk Uni Eropa. Aspartam telah diatur dalam Codex stan 192-1995 Rev 9 Tahun 2008, yang menyatakan bahwa aspartam dapat digunakan untuk berbagai jenis pangan antara lain minuman berbasis susu, permen, makanan ringan dan minuman ringan. Penelitian mengenai aspartam terus dilakukan di berbagai negara, dan hingga saat ini tidak ada perubahan kebijakan mengenai izin peredaran aspartam. Aspartam masih digolongkan sebagai pemanis buatan yang aman dikonsumsi oleh orang dewasa dan anakanak selama memperhatikan batas maksimal penggunaan dan peringatan lainnya serta memperhatikan asupan makanan yang seimbang pada anak-anak. - PIO Nas-

7 I ARTIKEL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

Amankah Aspartam Dikonsumsi?

untuk

Penggunaan aspartam di Indonesia diizinkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Sedangkan peraturan selengkapnya mengenai teknis penggunaannya seperti nilai kalori, asupan

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL

PENDAHULUAN

arasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang menstruasi, dan diindikasikan juga untuk demam. Obat ini menjadi pilihan analgesik yang relatif aman bila dikonsumsi dengan benar sesuai petunjuk penggunaan. Parasetamol boleh dikonsumsi tidak lebih dari 5 hari untuk anakanak, dan 10 hari untuk dewasa dengan dosis seperti pada tabel. Perlu diingat bahwa penggunaan parasetamol adalah antara lain untuk mengatasi rasa sakit, sementara rasa sakit itu sendiri adalah manifestasi dari suatu penyakit, artinya obat ini hanya menghilangkan gejala yang timbul tanpa mengobati penyebab penyakit. 8I ARTIKEL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010 Banyak kesalahan dalam mengkonsumsi obat ini, karena obat digunakan secara terus menerus untuk menghilangkan gejala rasa sakit yang timbul. Misalnya seorang yang sering merasakan sakit kepala, untuk mengatasi sakit kepalanya selalu minum parasetamol. Bila gejala yang dirasakan tidak hilang setelah efek obat habis, yang bersangkutan seharusnya segera konsultasi ke dokter untuk dicari penyebab penyakitnya sehingga dapat diobati penyebabnya dengan benar. Karena parasetamol merupakan obat bebas yang digunakan secara luas oleh masyarakat, maka kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penggunaan yang dapat menyebabkan keracunan parasetamol cukup besar, sehingga dirasa perlu untuk memberikan informasi mengenai cara untuk mengatasi keracunan

parasetamol sebagai edukasi untuk mencegah terjadinya keracunan obat tersebut. Farmakokinetik Parasetamol yang diberikan secara oral diserap secara cepat dan mencapai kadar serum puncak dalam waktu 30 120 menit. Adanya makanan dalam lambung akan sedikit memperlambat penyerapan sediaan parasetamol lepas lambat. Parasetamol terdistribusi dengan cepat pada hampir seluruh jaringan tubuh. Lebih kurang 25% parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma. Waktu paruh parasetamol adalah antara 1,25 - 3 jam. Penderita kerusakan hati dan konsumsi parasetamol dengan dosis toksik dapat memperpanjang waktu paruh zat ini. Parasetamol diekskresikan melalui urine sebagai metabolitnya, yaitu asetaminofen glukoronid, asetaminofen sulfat, merkaptat dan bentuk yang tidak berubah. Mekanisme Keracunan Sebagaimana juga obat-obat lain, bila penggunaan parasetamol tidak benar, maka berisiko menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Parasetamol dalam jumlah 10 - 15g (20-30 tablet) dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati dan ginjal. Kerusakan fungsi hati juga bisa terjadi pada peminum alkohol kronik yang mengkonsumsi parasetamol dengan dosis 2g/hari atau bahkan kurang dari itu. Keracunan parasetamol disebabkan karena akumulasi dari salah satu metabolitnya yaitu Nacetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI), yang dapat terjadi karena overdosis, pada pasien malnutrisi, atau pada peminum alkohol kronik.

Penegakan Diagnosa Penegakan diagnosa keracunan parasetamol dilakukan setelah mendapatkan riwayat/anamnesa yang jelas dari korban maupun saksi (keluarga atau penolong). Saat melakukan anamnesa, tenaga medis harus menanyakan apakah korban sedang menjalani terapi menggunakan obat-obatan yang bersifat menginduksi enzim CYP2E1 (seperti isoniazid), atau obat-obatan yang meningkatkan metabolisme enzim CYP450 (seperti fenobarbital dan rifampisin). Selain itu harus diketahui juga apakah pasien mempunyai riwayat mengkonsumsi alkohol secara kronik serta periksa kondisi pasien, apakah pasien tersebut mengalami malnutrisi. Pemberian antidot (Nasetilsistein) dilakukan setelah mendapatkan hasil konsentrasi parasetamol dalam plasma pada pasien maksimal 4 jam setelah parasetamol ditelan. Penatalaksanaan Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama saat menemukan korban yang dicurigai keracunan parasetamol adalah sebagai berikut: - rangsang muntah (tindakan ini hanya efektif bila parasetamol baru ditelan atau peristiwa tersebut terjadi kurang dari 1 jam sebelum diketahui) - berikan arang aktif dengan dosis 100 gram dalam 200 ml air untuk orang dewasa dan larutan 1 g/kg bb untuk anak-anak. Bila kadar serum parasetamol di atas garis toksik (lihat nomogram) maka N-asetilsistein dapat mulai diberikan dengan loading dose 140mg/kg BB secara oral, lalu dosis berikutnya 40 mg/kg BB diberikan setiap 4 jam. Larutkan asetilsistein ke dalam air, jus atau larutan soda.

Bila terjadi muntah spontan, maka pemberian asetilsistein dapat dilakukan melalui sonde lambung (nasogastric tube) atau berikan metoklopramid pada pasien untuk mengatasi kondisi muntah tersebut. Terapi asetilsistein paling efektif bila diberikan dalam waktu 8-10 jam pasca penelanan parasetamol. N-asetilsistein harus diberikan secara hati-hati dengan memperhatikan kontraindikasi dan riwayat alergi pada korban, terutama riwayat asthma bronkiale. Penutup Keracunan parasetamol perlu ditatalaksana secara serius dan tepat meskipun korban tidak menampakkan gejala keracunan. Dengan tatalaksana yang tepat kerusakan akibat keracunan yang mungkin timbul dapat diminimalisir, bahkan sebelum gejala keracunan tersebut terdeteksi. Apabila dicurigai telah terjadi keracunan parasetamol, segera hubungi Sentra Informasi Keracunan atau dokter setempat untuk mendapatkan informasi dan petunjuk seputar penanganan keracunan. dr. Meilandna M Ulli - Sentra Informasi Keracunan NasionalPustaka: 1. 2. Olson, K. R., Poisoning and Drug Overdose 5th ed, McGraw-Hill Inc., 2007, p. 68-71. Tierney, L.M., Current Medical Diagnosis and Treatment 43rd ed, McGraw-Hill Inc, 2004, p. 15551556. AHFS 2010 IONI 2008 Http://emedicine.medscape.com/article/820200overview (di unduh Mei 2010) Http://poisons.co.nz/fact.php?f=33&c=21 (di unduh Mei 2010)

9 I ARTIKEL I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

3. 4. 5. 6.

PROFIL BALAI POM DI JAMBI


alai POM di Jambi merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan POM yang dibentuk berdasarkan SK Kepala Badan POM No. 05018/SK/KBPOM tanggal 17 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Sebagai UPT, tentunya Balai POM di Jambi mempunyai peranan penting sebagai perpanjangan tangan dari Badan POM dalam melaksanakan kebijakan di bidang pengawasan produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, obat tradisional, kosmetika, produk komplemen, keamanan pangan dan bahan berbahaya. (Surat Keputusan Kepala Badan POM No.HK.00.05.21.4232 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Keputusan Kepala Badan POM No.HK.00.05.21.3592 tanggal 9 Mei 2007 tentang Perubahan kedua atas Surat Keputusan Kepala Badan POM No.05018/SK/KBPOM tanggal 17 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja UPT di Lingkungan Badan POM ) KEADAAN UMUM DAN LINGKUNGAN A. Lingkungan Eksternal Wilayah kerja (catchment area) Balai POM di Jambi tahun 2009 adalah 9 (sembilan) Kabupaten (Kerinci, Bungo, Tebo, Merangin, Sarolangun, Batang Hari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan 1(satu) Kota Jambi. Luas wilayah kerja 53.435.72 km2 dan wilayah terjauh adalah Kabupaten Kerinci dengan waktu tempuh 12 jam melalui jalan darat menggunakan mobil. Untuk mencapai Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur bisa ditempuh dengan jalan darat menggunakan mobil atau melalui sungai dan

laut dengan menggunakan speetboat. Waktu yang diperlukan di satu wilayah kerja rata-rata 2 hari, untuk Kabupaten yang terjauh dibutuhkan waktu 3 hari kerja dan yang terdekat 1 hari kerja. Jumlah penduduk di wilayah kerja Balai POM di Jambi adalah 2.683.099 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 1.365.132 jiwa (50,88%) dan jumlah penduduk perempuan 1.317.967 jiwa (49,12%). Jumlah keluarga miskin terbanyak di Kabupaten Sarolangun yaitu 40,88%. Laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jambi 2005 -2006 mengalami kenaikan, pendapatan regional perkapita atas dasar harga berlaku mengalami kenaikan 13,82 %, sedangkan kenaikan pendapatan atas harga konstan adalah 3,85% perkapita. Jumlah sarana yang termasuk dalam ruang lingkup pengawasan Balai POM di Jambi meliputi 4 Industri PKRT, 4 Industri Kecil Obat Tradisional,, 1 Industri Kosmetika, 16 Industri Pangan, 710 Industri Rumah Tangga Pangan, 38 Pedagang Besar Farmasi, 16 Rumah Sakit, 120 Puskesmas dan 531 Puskesmas Pembantu, 105 Balai Pengobatan/ Klinik, 132 Apotek, 206 Toko Obat, 10 Gudang Farmasi, 71 Pengcer Alkes/PAK, 553 Pengecer Pangan, 240 Pengecer Obat Tradisional dan 204 Pengecer Kosmetik. B. Lingkungan Internal Jumlah total pegawai Balai POM di Jambi sampai 31 Desember 2009 seluruhnya adalah 74 orang. terdiri dari. Pegawai golongan IV berjumlah 7 orang, Golongan III 47 orang dan 20 orang golongan II. Pejabat struktural berjumlah 7 orang. Jumlah pegawai di Sub.Bag. TU adalah 16 orang, Seksi Pemeriksaan 15 orang, Seksi Teranokoko 20 orang, Seksi Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya 11 orang, Seksi Pengujian Mikrobiologi 5 orang dan Seksi Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen

10I PROFIL BALAI I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

7 orang. Balai POM di Jambi beralamat di Jalan RM. Nur Atmadibrata No.11 Telanaipura Jambi. Terdapat 3 saluran telepon untuk menghubungi Balai POM di Jambi yaitu (0741) 61894, 61031 dan 64077, Faximili yaitu (0741) 61894, 61031. HASIL KEGIATAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN TAHUN 2009 Pada tahun 2009 telah dilakukan pemeriksaan terhadap sarana produksi dan distribusi obat, NAPZA, obat tradisional, kosmetika, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya serta dilakukan pengambilan contoh komoditi produkproduk tersebut untuk diuji di Laboratorium Balai POM di Jambi. Pengawasan Produk Beredar Contoh produk beredar yang diterima untuk diuji pada tahun 2008 sebanyak 1030 sampel terdiri dari Obat (1030 sampel), NAPZA (99 sampel), Pangan dan BB (1972 sampel), Obat Tradisional (560 sampel), Kosmetika (434 sampel), Suplemen (61 sampel).. Hasil uji menunjukkan 0,10% sampel obat; 1,18% sampel NAPZA, 9,82% obat tradisional; 4,92% suplemen, 2,54% kosmetika; 12,93% pangan tidak memenuhi syarat. Jajanan anak perlu perhatian karena jumlah yang tidak memenuhi syarat cukup tinggi yaitu 5,56% dari 90 sampel MAJS yang diuji, utamanya karena mengandung boraks dan pemanis buatan/ c y c l a m a t . H a s i l u j i O b a t Tr a d i s i o n a l mengindikasikan penggunaan Bahan Kimia Obat masih cukup banyak=3,57% dari sampel yang diuji. Kosmetika beredar masih juga ditemukan mengandung bahan berbahaya merkuri (8 sampel) dan hidrokinon (1 sampel). Pemeriksaan Sarana Produksi Dan Distribusi Farmasi dan Alat Kesehatan (Farmakes) Cakupan pemeriksaan pada sarana produksi dan distribusi farmakes masih kecil dibanding sarana yang ada.

Produsen pangan jumlah 18 sarana, diperiksa 17 sarana (94,4%) tidak memenuhi ketentuan 6 sarana (35,29%). Produsen IRTP 710 sarana, diperiksa 151 sarana (21,27%), tidak memenuhi ketentuan 48 sarana (31,79%), perlu diketahui bahwa pengawasan IRTP menjadi tanggung jawab Kabupaten/Kota sehingga pengawasan rutin oleh Balai POM sangat dikurangi. Pengawasan distribusi makanan dilakukan terhadap 220 sarana, sedang pada kegiatan pengamanan parcel Lebaran, Natal dan tahun Baru diperiksa 13 sarana. Sarana distribusi yang tidak memenuhi ketentuan 1 (4,69%). Sarana pelayanan NAPZA 390 buah jumlah cakupan pemeriksaan 80 (20,51%) dan yang tidak memenuhi ketentuan 29 sarana (36,25%). Jumlah sarana produksi kosmetika di Jambi sebanyak 1 sarana. Diperiksa dalam rangka pengawasan rutin: 1 (100%) sarana dan tidak memenuhi ketentuan. Cakupan pengawasan industri kecil obat tradisional sebanyak 4 (10,9%) dari sarana yang ada, hasil pemeriksaan menunjukkan sarana (100%) tidak memenuhi ketentuan. Tahun 2008 iklan yang diawasi dan dinilai sebanyak 466 iklan dan 4,94% diantaranya tidak memenuhi ketentuan. Penyidikan Penyidikan kasus tindak pidana bidang obat dan makanan berhasil menjaring 11 tersangka, 4 kasus telah P21 selebihnya masih dalam proses penyelesaian. Pelayanan dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam rangka pelayanan dan pemberdayaan masyarakat telah diterima dan ditindaklanjuti 232 pengaduan, serta telah dilaksanakan penyebaran informasi ke berbagai instansi dan media sebanyak 35 kali, untuk meningkatkan pengetahuan petugas Balai POM di Jambi, Dinas Kesehatan Kab/Kota dan produsen telah dilatih tentang Farmakes utamanya keamanan pangan sebanyak 162
Kepala Balai POM Jambi : Drs. Irwansyah, Apt Kepala Seksi Pengujian Produk Terapetik, Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen : Dra. Tessi Mulyani, Apt Kepala Seksi Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya: Dra. Emli, Apt Kepala Seksi Pengujian Mikrobiologi : Drs. H. Syartoni Kepala Seksi Pemeriksaan dan Penyidikan: Drs. Koeswanto, Apt Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen : Armeiny Romita, Ssi, Apt Kepala Sub Bagian Tata Usaha : Drs. Syafrizal, Apt, MKes

11 I PROFIL BALAI I INFOPOM Vol. XI /No. 1/Edisi Juli - Agustus 2010

Alamat Redaksi : Pusat Informasi Obat dan Makanan - Badan pengawas Obat dan Makanan, Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat; Telp: 021-4259945; Fax: 021-42889117; email: informasi@pom.go.id Redaksi menerima naskah yang berisi informasi yang terkait dengan obat, kosmetika, obat tradisional, produk komplemen, zat adiktif dan bahan berbahaya. Kirimkan melalui alamat redaksi dengan format minimal MS. Word 97, spasi single maksimal 4 halaman A4