Anda di halaman 1dari 1

KETAHANAN PANGAN

Lahan Pertanian yang Diusulkan Berkurang BANJARMASIN, KOMPAS 20 Februari 2014 Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kalimantan Selatan mempertanyakan luas lahan yang diusulkan Pemerintah Provinsi Kalsel untuk lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan guna menjaga ketahanan pangan. Pasalnya, lahan yang diusulkan sekitar 360.000 hektar, padahal luas lahan pertanian di Kalsel sekitar 450.000 hektar. Hasmy Fadillah Akbar dari Komisi III DPRD Kalsel, di Banjarmasin, Rabu (19/2), mengatakan, pengurangan luas lahan pertanian tersebut diketahui dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Perlindungan Lahan Pertanian Tanaman Pangan Berkelanjutan. Pengurangan lahan pertanian tersebut dikhawatirkan akan membuat Kalsel terancam kesulitan menyediakan beras setelah tahun 2025. Hasmy, yang juga Ketua Panitia Khusus Raperda Perlindungan Lahan Pertanian Tanaman Pangan Berkelanjutan, mengatakan, anggota pansus belum menyetujui luas lahan yang diusulkan pemerintah karena jauh dari kondisi lahan yang sebenarnya. Pembahasan raperda ini sudah dua bulan lebih. Sebenarnya sudah hampir selesai, tetapi terganjal pada satu pasal terkait luas lahan, ujarnya. Anggota pansus, lanjut Hasmy, meminta supaya pemerintah kabupaten/kota menyediakan lahan sesuai dengan kondisi yang ada. Hal ini diperlukan untuk membuat kebijakan bagi para petani. Sebab, petani yang menggarap lahan akan mendapat insentif dari pemerintah. Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel Fathurrahman mengatakan, luas lahan pertanian padi di Kalsel sebenarnya 500.000 hektar. Sejak 2005, lahan pertanian berkurang sekitar 56.000 hektar. Jika lahan pertanian terus berkurang, Kalsel terancam tidak lagi surplus beras dalam 10 tahun ke depan, katanya. Fathurrahman mengatakan, produksi padi di Kalsel sejak 2009 mencapai 2 juta ton per tahun. Dengan produksi itu, Kalsel menghasilkan beras sekitar 1,2 juta ton per tahun. Karena kebutuhan beras di Kalsel sekitar 550.000 ton, setiap tahun Kalsel mengalami surplus beras 600.000 hingga 650.000 ton. Sementara itu, ratusan warga dari 11 desa di Kecamatan Kusan Hilir, Kusan Hulu, dan Batulici, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel, terus berusaha mempertahankan lahan yang selama ini mereka garap. Tanah seluas 9.166 hektar tersebut akan dijadikan perkebunan kelapa sawit PT Kodeco Agrojaya Mandiri (KAM). Sejak sekitar sebulan lalu hingga kemarin, warga nekat bermukim di lahan tersebut demi menjaga lahan mereka. Lahan itu sebagian besar sudah dimanfaatkan warga desa untuk bercocok tanam, antara lain untuk tanaman padi, karet, dan kelapa sawit. Pada 2007 lahan itu juga dicanangkan sebagai lahan revitalisasi perkebunan rakyat, kata Ketua Komisi I DPRD Tanah Bumbu Surinto. Dia menyayangkan terbitnya Hak Guna Usaha Perkebunan PT KAM di lahan tersebut pada 2012. (JUM)