Anda di halaman 1dari 71

S H I N G L I T ’I S H I H

U R A I A N M E T A F I S I K A

oleh:

CHI KUNG FU
Maret 1937

Alih bahasa oleh : Zen Dharma – Desember 1973


Ditulis ulang oleh : Dade Sobarna – Desember 2007

NOT FOR SALE / TIDAK DIPERJUALBELIKAN


Exclusively for free forward, distribution, publication & copy as a gift of
Dhamma sublime
DAFTAR ISI

HALAMAN
1. Artinya TAO…………………………………………………………………….. ...7
2. Hubungan TAO dengan Manusia………………………………………………. ..8
3. Ta Tao Sepanjang Masa …………………………………………...........................9
4. Tujuan dari TAO ………………………………………………………………….11
5. Apakah Ada Tumimbal Lahir ? …………………………………………………..12
6. Mengakhiri Kematian Untuk Hidup Langgeng Dan Abadi ……………........... .13
7. Empat Hambatan Untuk Memperoleh Tao ……………………………………...14
8. Manusia Mendapat Satu Ialah Suci ………………………………………..……..16
9. Orang Mengikuti TAO Mengapa Difitnah?...........................................................17
10. Membina TAO Mengapa Mengalami Ujian Hidup? .............................................18
11. TAO Yang Suci Dan Ghaib ………………………………………………………19
12. Tiga Tingkat Pelajaran Dharma ……………………………………………….....20
13. Bagaimana Membuat Jasa-Jasa? ………………………………………………..... 21
14. Penyelamatan Tiga Alam ……………………………………………………….. 22
15. Bagaimana Menyeberangkan Penghuni Yang Di Tingkat Atas? …………….... 22
16. Bagaimana Menyeberangkan Arwah Yang Berada Di Alam Gelap? …………...23
17. Ayam Emas Berkokok Tiga Kali ………………………………………………... 23
18. Akhir Zaman Stadium Ketiga …………………………………………………… 24
19. Mengapa Ada Orang Yang Selalu Dirundung Sakit Dan Selalu Sehat? ……….. 24
20. Setelah Siu Too, Apa Yang Didahulukan Agar Mendapat Kemajuan? ………. .25
21. Apakah Ada Cara Yang Mudah Untuk Menempuh Kemajuan? ………………. 26
22. Apakah Arti Prilaku Menanjak Dan Menurun? ……………………………….. 26
23. Adakah Jalan Untuk Mengangkat Arwah Dari Orang Yang Meninggal? …….. 27
24. Apakah Buktinya Pengangkatan Arwah-Arwah Itu? …………………………...28
25. Kemana Meneduhnya Arwah Yang Terbebas? ………………………………… 28
26. Setelah Mengikuti Ajaran Tao Apakah Perlu Tjiak-Djay (Berpantang)? ……... 29
27. Apakah Faedahnya Mengikuti Ajaran Tao? ……………………………………. 30
28. Adakah Bukti Hasilnya? ………………………………………………………… 30
29. Mengikuti Ajaran Ketuhanan, namun Tidak Melaksanakannya………………..31
30. Bagaimana Menasehati Orang Yang Tidak Memperbaiki Keburukannya?......... 31
31. Penjelasan Manunggalnya Tri Dharma ………………………………………… 32
32. Tri Dharma Hakekat Satu, Yang Manakah Tertinggi? ………………………… 33
33. Asal Hati Baik Buat Apa Memeluk Agama? ……………………………………. 34
34. Mengapa Baru Sekarang Diajarkan TAO? ……………………………………... .35
35. Mengapa Penganutnya Hanya Rakyat Jelata? …………………………………. .36
36. Apakah Orang Suci Dapat Melihat Bentuknya Bahtera Suci? ………………… 36
37. Apakah Semua Ajaran Dapat Dikatakan Bahtera Suci? ………………………... 37
38. Apakah Penghormatan Pada Malaikat Itu Termasuk Takhayul? …………….. 37
39. Apakah Menghormati Malaikat Juga Dapat Mengharap Rezeki? ………………38
40. Apakah Artinya Memasang Dupa Dengan Tangan Kiri ?……………………….38

iv
41. Dapatkah Dijelaskan mengenai 1 2 3 Dapat Belajar Kedewaan? ……………… 39
42. Apakah Tidak Lebih Baik Mendapat Penerangan Dulu Baru Menuntut Tao …39
43. Apa Yang Menyebabkan Kejodohan? …………………………………………...40
44. Apakah Atom? ……………………………………………………………………40
45. Penjelasan Tentang Langit Barat Dan Bumi Timur …………………………….41
46. Sungguhpun Tao Itu Benar, mengapa Banyak Yang Tidak Percaya? ………….41
47. Apa Sebabnya Penganut Baru Mulanya Giat Tapi Menjadi Lengah? ………….42
48. Apakah Benar Kemajuan TAO Dibarengi Dengan Rintangan …………………43
49. Apakah Makna Arti Terkutuk Dan Terhukum Oleh Petir? …………………... 43
50. K a r m a ………………………………………………………………………… 44
51. Apakah Ada Persamaan Tentang Ngo-Siang, Ngo-Kay Dan Ngo-Hing ……. . 45
52. Mengapa Tidak Memantang Sex Yang Dapat Merusak Tubuh ? ……………... 46
53. Mengapa Sukar Menghilangkan Kebiasaan Berbahaya (Buruk) ……………… 46
54. Membina Bathin (Siu-Lian) …………………………………………………….. 47
55. Berbalik Meneliti Dan Memeriksa Ke Dalam …………………………………...47
56. W e l a s A s i h ………………………………………………………………… 48
57. Apakah Tujuan dari Perpaduannya Manusia Dan Alam? ……………………. . 48
58. Alam Abadi, Alam Hawa Dan Alam Wujud …………………………………… 49
59. Bagaimana Dapat Mengetahui Alam Wujud dan Alam Hawa Akan Rusak? …. 50
60. Membedakan Antara Sifat Abadi, Sifat Ether Dan Sifat Wujud ………………. 51
61. Sesama Manusia Mengapa Ada Yang Suci, Bijak Dan Bodoh? ………………… 52
62. Mengapa Hanya Manusia Yang Terpandai? ……………………………………. 53
63. Mengapa Sifat Manusia Ada Baik Dan Buruk …………………………………. 53
64. Apa Bedanya Roh Dan Sam Huk Tjhit Phik …………………………………… 54
65. Hati Kemanusiaan Dan Hati Ketuhanan ………………………………………. 54
66. Diantara Kitab-Kitab, Apa Yang Terbaik? ……………………………………... 55
67. Kebijaksanaan Berarti Rohani Kita …………………………………………….. 55
68. Apa Artinya Usaha Tiga Lima Bagi Pembina Tao? ……………………………. 56
69. Bagaiman Yang Dinamakan Sam Hua Tju Ting Ngo Khi Tiao Goan? ………... 57
70. Petikan Kitab Tay Hak …………………………………………………………. 57
71. Cara membina Diri …………………………………………………………….... 58
72. Mencapai Titik Tengah Harmonis ……………………………………………... 58
73. T e r b e b a s ……………………………………………………………………. 59
74. Kekosongan: Diri, Hati, Roh Dan Dharma …………………………………….. 59
75. Penjelasan Tentang Empat konsepsi …………………………………………… 60
76. Artinya Enam Pintu Selalu Ditutup ……………………………………………. 61
77. Bab Pertama Kitab Ik Keng: Khian Goan Li Tjeng …………………………….. 62
78. Artinya Ik ………………………………………………………………………... 63
79. Tjiu Tju dan Ik Keng Tentang Hakekat Penciptaan Dari Kelahiran Manusia ... 64
80. Dasar Dan Kegunaannya, Pangkal Dan Ujungnya …………………………….. 64
81. Membedakan Pri-Ketuhanan dan Pri-Kemanusiaan …………………………... 65
82. Orang Bijaksana …………………………………………………………………. 65
83. Orang Dungu ……………………………………………………………………. 66
84. Orang Sesat ………………………………………………………………………. 66

v
85. Orang sadar ……………………………………………………………………... 67
86. Mudanya Berbuat Dosa Tapi Pada Hari Tuanya Membina Pri-Kebaikan Dapat
Mencapai TAO? ……………………………………… ………………………… 67
87. Seumur Hidupnya Sebagai Vegetarian Dan Menanam Akar Kebaikan,
Namun Pada Hari Tuanya Ingkar Pada Pantangan Dan Melanggar Sila
Tertentu, Apakah Dapat Juga Mencapai Tao ? ………………………………. 68
88. Orang Yang Rendah Pengertiannya, Apakah Dengan Menjalankan Tao
Dapat Menambah Pengertiannya ? …………………………………………… 68
89. Orang Yang Membina Dirinya Pada Tao, Apakah Juga Takut Akan
Mati dan Lahir…………………………………………………………………. 69
90. Hati Manusia Penuh Bahaya, Hati Tuhan Sangat Lembut.
Hanya Ke-Esaan Sebagai Intisari, Peganglah Tengahnya, Itulah Ajaran
Nurani Dari Giauw dan Sun ………………………………………………… 69

vi
KATA PENGANTAR I

Agama adalah merupakan salah satu bidang yang tidak dapat terpisahkan dalam
pri kehidupan susila dari umat Tuhan, hidup beragama sudah menjadi kewajiban erat
bagaikan hubungan makhluk dengan udara. Negara kita Republik Indonesia
menempatkan agama sebagai pokok utama yang diterapkan pada Falsafah Negara
sebagai Sila Pertama – Ketuhanan Yang maha Esa. Melalui ajaran-ajaran Agama,
orang dituntun untuk mengenal asas Ketuhanan, mengerti Ketuhanan dan
melaksanakan hidup sesuai dengan titah Tuhan, agar tidak kecewa sebagai umatNya
yang berguna.

Tidak terhitung banyaknya harta dan tenaga telah dikerahkan untuk keperluan
agama demi tujuan satu – agar semua manusia menuntut hidup ber-Ketuhanan.
Karena itu adalah menjadi kewajiban setiap orang membaktikan diri bagi Ketuhanan.
Untuk mana saya ingin kiranya dengan terjemahan ini dapat menambah kepercayaan
dan mengerti filsafah Ketuhanan dalam segi metafisika.

Sebagaimana oleh Chi Kung Fu penyusun kitab Sing Li T’i Shih ini, telah
diterangkan dalam kata pengantarnya, soal-soal metafisika yang diuraikan itu semoga
dapat membantu menghilangkan keragu-raguan bahkan menambah pengertian demi
mempertebal dan mempermudah menjalankan tata hidup ber-Ketuhanan.

Dalam kesempatan ini saya ingin mengetengahkan arti daripada Tao dalam arti
keagamaan, tidak lain sama dengan arti Tuhan Yang Maha Esa. Tao dipersamakan
dengan “Li” Hakekat Tuhan (Rational) yang sama pula dengan “It” Satu—Esa. Dalam
kitab Ts’ing Tsing Ching dikatakan: Tao (Tuhan) yang menciptakan langit dan bumi,
yang mengedarkan jalannya bulan dan matahari dan yang memelihara segenap alam
dengan segala isinya; pada Tao Te Ching bab I diterangkan bahwa Tao itu adalah
pokok awalnya langit dan bumi; dan dikukuhkan pula dalam bab XXV bahwa Tao
atau Tuhan adalah lebih dulu daripada langit dan bumi. Dalam kitab Chung Yung
pelajaran pertama kita diajarkan siapa yang melaksanakan hidupnya menurut
kerohanian, itulah Jalan Ketuhanan (Tao), juga pada ajaran Buddha yang sudah tidak
asing lagi bagi siapa yang hendak menghapus penderitaanya harus ditempuh dengan
Delapan Jalan Kebenaran atau Chung Tao. Jalan Tengah ialah Jalan Ketuhanan.
Kiranya jelaslah sudah bahwa istilah Tuhan atau Tao dengan Hakekat Benar atau
Rasionil (Li) yang seharusnya dipahami oleh semua umatNya, perlu dikenal,
dimengerti dan dilaksanakan. Pelaksanaan mana kalau sesuai dengan ajaran-ajaran
agama atau setidak-tidaknya mengikuti pelengkap-pelengkap yang terdapat pada buku
ini, bukan saja manusia dapat berasa bahagia dan sejahtera, sampai pun makhluk-
makhluk suci juga akan berasa sentausa.

Namun penerjemah merasa kekurangan dalam pengetahuan tata bahasa, kiranya


banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penerjemahan ini, maka dengan

i
penuh pengharapan mohon sidang pembaca yang budiman suka memperbaikinya
hingga mudah dimengerti oleh peminat-peminat sesuai dengan yang dikehendaki oleh
sang penyusun.

Khusus bagi nama-nama orang karena sukar ditulis dengan ejaan yang
disempurnakan, sengaja kami tulis menurut ejaan lama.

Desember 1973.

Alih bahasa

ZEN DHARMA

ii
K A T A P E N G A N T A R II

Arti daripada Tao sama dengan Hakekat Tuhan, apabila tidak mengerti akan
Hakekat Tuhan, kiranya sukar untuk mencapai tujuan Ketuhanan. Karenanya apabila
ingin membina diri untuk Ketuhanan, hendaknya terlebih dulu mengerti perihal
Hakekat Tuhan.

Cara untuk mengerti tiada lain, hanya mencoba mencari tahu atau bertanya
apabila menemui keraguan. Akan tetapi sayang sekali bahwasanya orang akan segan
dan malu untuk menanya ke bawah, maka kian ragu kian kabur, dan makin kabur dan
sesat makin tidak dapat sadar, hingga menyimpang jauh sekali dari Tao (Ketuhanan).

Jumlah benih-benih Buddha yang mendapat Ketuhanan sebenarnya banyak


sekali, akan tetapi mereka yang benar-benar membina diri bagi Ketuhanan dengan
kesadaran hakekat atau hukum Tuhan itu disayangkan jumlahnya hanya kecil sekali.
Apakah sebabnya? Tidak lain karena mereka tidak suka menanyakan apa yang mereka
ragukan, sungguhpun sudah bertanya, namun tidak mau menyadari.

Justru karena inilah saya membuat buku uraian ini untuk mencoba memberikan
jawabannya, maka cara dan kata yang digunakan dalam uraian ini sedapat mungkin
sederhana dan ringan, agar mudah dimengerti; buku yang hanya terdiri dari beberapa
puluh soal ini, saya tidak berani mengatakan semuanya bagus dan sempurna, namun
sedikitnya dapat dibuat dasar pegangan.

Pokok dari tujuan saya menginginkan pada para Pembina Ketuhanan dapat
menggunakan buku ini sebagai pedoman demi menempuh dan menambah kesadaran
Hakekat Ketuhanan.

Maret 1937

Chi Kung Fu

iii
URAIAN METAFISIKA

1. Artinya TAO

Asal mula langit dan bumi adalah suatu keadaan yang tidak termakna, yang
sebenarnya tidak tertampak suatu benda apapun. Keadaan tanpa bau dan tanpa suara,
sungguh kosong dan mujijad. Oleh Lao Tse dikatakan: “ Tiada nama itulah
permulaanya langit dan bumi, maka digambar (O) lingkaran sebagai lambangnya, ada
nama itulah induknya semua benda, dan digambar (—) guratan sebagai lambangnya”.

Maha Tao (Ta Tao) tiada bernama, maka terpaksa dinamakan Tao, Ta Tao tiada
bercorak wujud, terpaksa digambarkan lingkaran. Lingkaran itu lambangnya
ketenangan dari guratan memanjang, sebagai hakekat kekosongan yang merupakan
keseluruhannya “bentuk” Tao.
Guratan memanjang (—) berarti huruf Satu, adalah lambang gerakan dari lingkaran,
Satu atau Esa adalah pokok dari segala makhluk atau benda, itulah kegunaanya Tao.

Lingkaran bergerak menimbulkan satu, satu memendek menjadi titik, sebaliknya


titik memelar panjang menjadi satu. Lingkaran, guratan memanjang, dan titik ( O, — ,
· ) pada hakekatnya adalah perubahan yang tiada henti-hentinya dari melar mingkup
tenang dan gerak. Apabila dilepas akan memenuhi enam penjuru, itulah Esa atau Satu
(—), apabila menciut memendek akan tersembunyi pada yang paling jelimetpun,
itulah titik ( · ). Dikatakan Maha Besar karena tidak ada apapun yang berada
diluarnya, dan dikatakan kecil (Maha Lembut) karena tidak ada sesuatu apapun yang
tidak terisi olehNya, tiada sesuatu yang tidak tertembus dan tiada sesuatu apapun yang
tidak terselubungi olehNya, karena memenuhi langit dan segala isinya, walaupun
kosong hampa namun ada kemujijadanNya, maka dikatakan Tuhan dari segala Roh.

Di alam asal dinamakan Li (hukum alam, rasionil, atau hakekat), diberikan kepada
manusia dinamakan roh. Li tersebut adalah yang menguasai segala tubuh atau benda.
Sing atau roh adalah hakekat yang dipunyai oleh segala benda. Tiap-tiap orang semua
mempunyainya, hanya mereka tidak sadar memilikinya. Siapapun yang sadar akan
adanya itu di dalam tubuhnya akan bahagia pula menjadi orang suci. Orang yang tidak
sadar akan hal ini, akan terjerumus ke pintu iblis. Maka ada ujaran yang mengatakan:
“Lebih baik mendapat satu titik (petunjuk Ke-Esaan) daripada membaca ribuan buah
kitab”. Titik yang dimaksud disini artinya menguasai empat pangkal kesucian
merangkap semua kebajikan (Jin Gi Lee Ti) yaitu:
1. Murah hati adalah pangkalnya welas asih.
2. Hati yang mempunyai rasa malu dan jemu adalah pangkal kebenaran.

7
3. Hati yang dapat membedakan benar dan keliru adalah pangkalnya
kebijaksanaan.
4. Hati yang dapat merendah dan mengalah adalah pangkalnya kesopanan.

Jin Gi Lee Ti yang disusun kanan kiri, atas dan bawah, sedang ditengah-tengah
antara empat huruf itu digambarkan salib sebagai penghubung berarti Sin
(kepercayaan). Khong Tju mengatakan, apabila manusia tidak mempunyai
kepercayaan, entah bagaimana akan jadinya. Salib tersebut ditulis lurus dari atas ke
bawah dan mendatar dari kiri ke kanan, lalu merupakan huruf sepuluh dalam aksara
Tionghoa. Empat Penjuru dari salib ini selain melambangkan susunan Jin Gi Lee Ti,
juga sama pula dengan susunan kata-kata “Bilangan” di ujung kanan, “Bujur” di ujung
kiri, “Hakekat” di ujung bawah, dan “Lintang” di ujung atas, yang membawakan arti
sangat luas sekali. Maka Lao Tse bersabda:
”Ta Tao tiada rupa dapat menciptakan langit dan bumi; Ta Tao tiada perangai dapat
mengedarkan matahari dan bulan; Ta Tao tiada nama dapat memelihara segala benda
dan makhluk. Sebelum ada langit dan bumi, Tao terlebih dulu telah menegakkan
dasarnya, dan setelah ada langit dan bumi, Tao dapat memperluas kegunaanya”.

2. Hubungannya Tao Dengan Manusia

Dalam Kitab Tiong Yong dikatakan: “Bahwa Tao itu tidak dapat ditinggalkan
sekejap pun, apabila boleh ditinggalkan maka itu bukan Tao. Tao adalah Li (Hakekat)
atau Jalan yang harus dilalui oleh manusia”.
Manusia mengikuti Jalan Ketuhanan untuk melakukan kebajikan, adalah seumpama
kereta api diatas rel, seperti kapal di atas air, dan laksana pesawat terbang di udara.
Apabila kereta api meninggalkan relnya, kapal meninggalkan air dan pesawat terbang
memisahkan diri dari udara, sudah jelas akan menimbulkan macam-macam bencana;
demikian pula apabila manusia meninggalkan Tao/Ketuhanan, akan mendapat
tekanan atau hukumannya masyarakat atas ketentuan-ketentuan hukumnya, apabila
di Neraka pun akan mendapat peradilannya Giam loo Ong (Malaikat Neraka) yang
tidak akan bebas dari tumimbal lahir dengan penjelmaan enam jalan dan empat
kelahiran yang mana berputar-putar tidak henti-hentinya di lautan derita.
Khong Tju mengatakan: “ Sampai mati pun melakukan pri kebajikan; seorang
budiman (kuntju) tidak takut miskin melainkan takut pada Tao; seorang budiman
selalu senang pada Tao (melakukan pri Ketuhanan).
Gan Tju mendapat Tao, dipeluknya erat-erat, seumur hidupnya tidak akan
dihilangkan. Tjeng Tju mendapat Tao, dipegangnya hati-hati seolah-olah gemetar,
hingga tiap hari menilik dirinya tiga kali.

8
Apabila dilihat dari sini, hubungannya antara Tao dan manusia sungguh sangat erat
sekali, hanya disayangkan bahwa manusialah yang mengabaikannya, sehingga Khong
Tju mengatakan dengan iba hati: “Siapakah yang dapat keluar tanpa melewati pintu,
mengapa tidak ambil jalan ini?”.

3. Ta Tao Sepanjang Masa

Ayat dalam Too Tek Keng: Ta Tao tidak berupa, mencipta dan membina langit
dan bumi, di sini orang dapat kenyataan bahwa Tao adalah sumber asalnya langit dan
bumi, Tao lebih dahulu ada daripada langit dan bumi. Dalam Kitab Sejarah
disuratkan: Langit terbuka pada masa Tju dan sirna pada masa Sut, bumi terjadi pada
masa Thiu dan selam pada masa Yu, manusia lahir pada masa In dan ludas pada masa
Sin. Pada mula-mula lahirnya manusia pada masa In itu, sifat asalnya (Sing)
sebenarnya baik, karena Thian yang melahirkannya, jadi kekuasaanya ada pada Thian,
maka tidak perlu membincangkan Tao pada masa itu.

Tao diturunkan pada masa pertengahan, manusia melahirkan manusia, maka


kekuasaannya ada pada manusia; Nabi Hok Hi pertama-tama memandang ke atas dan
memeriksa ke bawah, tahu akan peredarannya langit dan bumi, maka digambarnya
Sian Thian Pat kwa (Delapan Diagram Asal), untuk menyatakan keghaiban yang
tersembunyi pada langit dan bumi, inilah permulaanya Tao diturunkan di dunia;
selanjutnya Hsuan Yuan Huang Ti menemukan huruf-huruf, mendirikan rumah,
membuat pakaian hingga kebudayaan menjadi meluas, pada zaman itulah dinamakan
Kesempurnaan Tao; Selanjutnya Giauw, Sun, Bun, Bu, dan Tjiu Kong yang
melanjutkan penguasaan Tao, mengajarkan ajaran satu-satunya, Ajaran Nurani, pada
masa itu dinamakan Pancaran Hijau, juga merupakan Keutuhannya Tao. Sampai pada
Raja-raja Yu dan Li (Dinasti Tjiu) yang terkenal dengan cara-cara lalim dan tirani atas
pemerintahannya hingga ketatanegaraan tidak dapat jalan sempurna. Justru pada saat
itu peredaran Tao teralih pada masa Pancaran Merah dan terbagilah menjadi Tiga
Agama.

Lao Tse turun di dunia mengajarkan Taoisme dan memberi petunjuk-petunjuk


suci kepada Khong Tju, dan yang belakangan memberi ucapan terkenal: “Bagaikan
Naga”. Pada waktu Lao Tse menuju ke barat memberikan ajaran pada Raja Hu yang
membuat keadaan ghaib dengan sinar lembayung memenuhi udara di Kota Hankuan,
maka oleh pembesar kota Kuan I Tse dimintanya supaya Lao Tse membuat kitab
untuk ditinggalkan. Demikianlah Lao Tse sebagai pendiri dari Agama Tao membuat
Kitab Tao Tik Tjing yang berisikan lima ribu huruf .

9
Dalam rangka meluaskan ajarannya, Khong Tju membuat muhibah ke seluruh
negara, menyempurnakan Kitab Sanjak (Sie King) dan Kitab kesusilaan (Lee Kie)
untuk menyambung karya-karya Nabi yang lalu dan mendidik bagi generasi
berikutnya dengan maksud mengembangkan Ajaran Hakekat Tuhan Yang Abadi
hingga langgeng selama-lamanya. Keghaiban serta lembut halusnya Ajaran Ta Tao,
telah diturunkan pada Kitab Tay Hak dan Tiong Yong seluas-luasnya, maka Khong
Tju adalah pendiri dari Agama Jikauw. Ajaran Tao itu oleh Khong Tju diajarkan
kepada Tjeng Tju, dan oleh Tjeng Tju kepada Tju Su, lalu oleh Tju Su diturunkan
kepada Beng Tju.

Setelah Beng Tju, aliran Tao beralih ke Barat, maka terhentilah Ajaran Inti
Nurani, maka sepanjang Dinasti Tjin, Han, Tjin, Sui dan Tong yang tertinggal hanya
ajaran membaca saja, tidak ada yang luar biasa di daerah ini hingga sampai pada
Pemerintahan Yam Song (950-1341 T.M.), dimana kebudayaan makin meningkat dan
makmur dimana-mana. Pada masa itu pula lahirnya Pujangga Si I dan orang-orang
pandai sebagai Lian, Lok, Kwan, Min. Yaitu: Tjou Tun I, Ch’eng I, Ch’eng Hao, Chang
Tjai, Tju Hsi dan lain-lain saling menyusul. Ilmu kesusasteraan makin maju, akan
tetapi nasib baik belum tiba, Aliran Tao belum kunjung datang, karena pada waktu
Beng Tju, Tao telah beralih ke Barat, Buddha Sakyamuni yang melanjutkannya, maka
satrawan-sastrawan jaman Song walaupun banyak, mereka hanya menguraikan arti
dari Tao saja.

Buddha Sakyamuni menurunkan Tao kepada Maha Kasyapa yang menduduki


silsilah Pertama bagi Agama Buddha. Maka Tao terbagi jadi tiga agama yang masing-
masing berlainan tempatnya dan masing-masing meninggalkan Kitab Ajarannya.
Buddha Sakyamuni mengajarkan secara perorangan satu demi satu hingga urutan yang
ke-28 adalah Bodhidharma. Pada waktu itu bersamaan dengan Kerajaan Liang Bu Tee
di Tiongkok. Bodhidharma dari Barat datang ke Tiongkok, berarti Ajaran Ketuhanan
datang kembali di Tiongkok yang sama dengan arti Burung Gagak pulang sarang.

Sejak Bodhidharma datang di Tiongkok, Ajaran Ta Tao tetap diajarkan seperti


sediakala dalam satu aliran. Bodhidharma sebagai Pendiri Pertama (Guru Pertama),
lalu ke-2 Sin Kong, ke-3 Tjeng Cha’an, ke-4 Too Sin, ke-5 Hong Jim, dan ke-6 Hui
Leng. Sejak Guru ke-6 ini selanjutnya tidak mengajarkan atau menurunkan baju
jubah dan mangkok, dan pada saat itu pula timbul apa yang dinamakan Ajaran Selatan
Langsung dan Utara Tidak Langsung, yang pada hakekatnya Maha Tao telah ke Aliran
Jikauw (Khongkauw), pada saat mana Lak Tjo (Guru ke-6) menurunkan Tao pada
Guru ke-7 yang terdiri dari dua orang yaitu: Pik-Tjo dan Ma-Tjo, dan sejak itu Ajaran
Tao mulai diajarkan pada khalayak ramai di rumah-rumah tangga. Selanjutnya guru
ke-8 adalah Lo-Tjo, ke-9 Oei-Tjo, ke-10 Go-Tjo, ke-11 Hoo-Tjo, ke-12 Wan-Tjo, ke-
13 dua orang yaitu Ji-Tjo dan Njoo-Tjo, ke-14 Yao-Tjo, ke-15 Ong-Tjo, ke-16 Lauw-
Tjo Djing Hi, disinilah batas selesainya Pancaran Merah, maka Tao beralih kepada
Pancaran Putih, Buddha Maitreya sebagai pemegang kekuasaannya. Lo-Tjo (Guru ke-
17) sebagai guru pertama dalam Pancaran Putih ini bertugas menyelamatkan secara

10
umum dan menguraikan ajaran suci secara menyeluruh, selanjutnya Kiong Tiang dan
Tju-Hi yang pegang penyelesaian akhir untuk menyelamatkan tiga alam hingga semua
ajaran kembali Manunggal.

Pada zaman sebelumnya yaitu Sam Tay (2205 S.M), Tao diturunkan pada raja-raja
dan menteri-menteri besar saja, seseorang menurunkan kepada seorang saja, itulah
Zaman Pancaran Hijau. Setelah zaman Sam Tay, Tao diturunkan ke perguruan, lalu
berurut-turut ada tiga agama yang masing-masing mempunyai wilayah sendiri, itulah
Zaman Pancaran Merah. Kini sampai pada akhir masa ketiga, kesusilaan makin
merosot, timbul juga bencana dahsyat seolah-olah dunia tidak utuh lagi, Ta Tao
diajarkan pada semua manusia dan tiap-tiap orang dapat kesempurnaan mencapai
Kebuddhaan, inilah masa Pancaran Putih. Dan demikianlah perkembangan Tao
sepanjang masa.

4. Tujuan Tao

Tujuan orang yang mengikuti jalan ketuhanan adalah: menghormat langit dan
bumi, membuat upacara sembahyang bagi penghormatan pada para Sin-bing
(malaikat), melakukan pekerjaan dengan setia dan dapat mencintai negara,
menjunjung tinggi tata susila, berbakti pada orang tua (ayah bunda), memberi
penghormatan pada guru, saling percaya diantara kawan, berlaku rukun dan harmonis
kepada sesama tetangga, mengubah kebiasaan buruk menjadi kebaikan dan dapat
menguraikan ajaran suci dari para nabi untuk melaksanakan penghidupan yang
berdasarkan Delapan Kebajikan dan Lima Hubungan Kemanusiaan (Ngo-lun Pat-tik).
Melakukan penghidupan luhur dengan taat pada tata kekeluargaan dan Empat
Kemurnian (Su-wi kong-siong = sopan santun, kebenaran, kebersihan hidup, dan tahu
malu; dan sam-kong ngo-siang), dapat pula berusaha membersihkan batin untuk
membina pada Ketuhanan guna kembali kepada roman asal semula. Mengembangkan
kebijaksanaan yang tersempurna sehingga dirinya cukup tegak untuk menegakkan
orang lain, sendirinya cukup sempurna untuk menyempurnakan orang lain, guna
mempertahankan dunia menjadi aman dan damai; mengubah hati sesama manusia
menjadi baik dan suci hingga dunia akan menjadi sama rasa dan sama rata.

Ajaran Ketuhanan ini tiada latar belakang, tiada organisasi ataupun kegunaan lain
dan tidak ada tujuan jahat apapun, juga tidak saling bentrok dengan kepentingan
masyarakat. Pendirian Kebaktian Tao ini putih bersih seumpama kristal. Sesuai
dengan ujaran Khong Tju: “ Hanya keagamaan tanpa perbedaan”. Dalam lain
penyampaian dikatakan: “Siapa yang mempelajari bida’ah (ilmu yang menyalahi
agama), akan berbalik mencelakakan diri sendiri”.

11
5. Apakah Ada Tumimbal Lahir?

Tumimbal lahir atau Lun-hwee dalam Bahasa Tionghoa dapat diartikan bahwa
huruf Lun artinya roda, Hwee artinya pergi dan balik kembali, diumpamakan langit
sebagai roda, bumi pun sebagai roda, langit dan bumi saling bergeser, menimbulkan
bergilirnya musim panas dan dingin dan berputarnya angin dan hujan, dan perputaran
itu dinamakan perputaran besar. Matahari merupakan sebuah roda, bulan pun sebuah
roda, bulan dan matahari memberikan penerangan dan berputar tiada henti-hentinya
baik malam ataupun siang hari, dan perputaran ini dinamakan perputaran kecil.
Dalam perputaran itu apabila sampai pada puncaknya negatif, maka negatif itu akan
hilang dan timbul positif. Demikian juga apabila gerakan positif mencapai puncaknya,
positif akan hilang dan timbullah negatif, karenanya ada dua kutub, Selatan dan Utara.
Pada Kutub Selatan masuk 36 derajat selalu keadaanya kabur tidak terang, itulah
puncak negatif. Pada 36 derajat keluar dari Kutub Utara merupakan selalu terang tidak
kabur, itulah tandanya positif. Adanya kedua Kutub itu serta berputarnya langit dan
bumi, maka segala apa yang berada diantara langit dan bumi, dan dibawahnya bulan
dan matahari, tidak satupun luput dari putarannya.

Manusia dapat hidup dari hawa saluran Tao diantara langit dan bumi, dan
terpelihara dari sari hawanya bulan dan matahari, berarti menggendong negatif dan
merangkul positif, tiada sesaatpun yang tidak berada dipelukannya langit dan bumi,
dan tiada sesaatpun tidak berada di bawah pancarannya bulan dan matahari, dapatkah
kita bebas dari putaran itu? Maka manusia hanya mengikuti saja negatif dan positif,
matahari sebagai positif dan bulan sebagai negatif; bulan keluar pada malam hari
tergolong pada negatif, mengutamakan ketenangan maka manusia pun ikut
bertenang-tenang untuk istirahat; matahari keluar pada siang hari tergolong positif
dan mengutamakan gerak, karenanya manusia suka bergerak dan bekerja pada siang
hari.

Segala benda mengikuti alirannya langit dan bumi, ada kalanya sampai pada
puncaknya positif lalu timbul negatif, kalau berputar sampai ke neraka akan menjadi
iblis, ada kalanya sampai pada puncaknya negatif lalu timbul positif, apabila berputar
di dunia ini akan menjadi manusia. Demikianlah dasar dari timbul dan selamnya
negatif dan positif yang menjadi dalil pula dari berputarnya langit dan bumi.
Perputaran itu terdiri dari Enam Jalan, yang dilahirkan atas: Kandungan, Telur, Basah
lembab, Metamorfose, Hidup dan Mati. Kehidupan manusia terdiri dari Empat Jalan:
Kaya, Mulia, Miskin dan Hina. Bila mencapai puncaknya kaya maka timbul miskin,
dan sebaliknya apabila miskin sudah memuncak akan timbul kaya. Siapa yang

12
mencapai puncaknya kemuliaan akan timbul kehinaan. Demikian juga sebaliknya,
kehinaan apabila sudah memuncak akan timbul kemuliaan. Maka segala apa yang
telah sampai pada puncaknya akan terbalik.

Manusia kalau sampai pada puncaknya akan berputar menjadi makhluk lain,
demikian juga kepuncakan makhluk akan berputar pada manusia. Kehidupan yang
dilahirkan atas kandungan atau telur akan berputar kepada kehidupan metamorfose
atau kelembaban, dan sebaliknya, hingga kehidupan berputar pada kematian dan
kematian berputar pada kehidupan. Berputarnya perbuatan buruk dan perbuatan
bajik, berputarnya manusia atau makhluk lain, berputarnya malaikat dan berputarnya
setan, sama dengan berputarnya alat-alat arloji yang berputar pergi datang, laksana
dalam barisan arwah-arwah tersesat, walaupun anda sebagai pendekar gagah perkasa
pun sukar terbebas dari kurungan itu.

Dalam Kitab ada ujaran: “ Apal dalam pembacaan Kim Kong Kem dan mantra Tai
Pi Tju, menanam semangka menghasilkan semangka, menanam kacang mendapatkan
kacang, apabila tidak mendapat petunjuk Guru Sejati, selamanya akan mengalami
berputarnya tumimbal lahir.

6. Mengakhiri Kematian Untuk Hidup Langgeng Dan Abadi

Pada waktu Kaisar Sun Ti dari Dinasti Tjhing meninggalkan istananya untuk
menjalankan kehidupan petapa, beliau membuat syair: “Pada sebelum kelahiran saya,
siapakah saya ini; sesudah kelahiran saya, siapakah sebenarnya saya; setelah besar
dewasa baru tahu akan saya, namun dalam renungan kabur lagi siapakah sebenarnya;
datangnya tanpa kesadaran, perginya pun kabur hingga sia-sia perannya di dunia ini,
maka lebih baik tidak datang juga tidak pergi, tidak merana juga tidak sedih.”
Jelaslah bahwa setan takut untuk dilahirkan, tapi apakah dapat tidak terlahir; manusia
takut mati tapi mungkinkah tidak mati?

Pujangga Chuang Tse pernah berkata: “Saya sebenarnya tidak ingin dilahirkan,
tapi tiba-tiba terlahir di dunia; sebenarnya saya tidak mau mati, tapi tiba-tiba ajalku
sampai”.
Demikianlah mati dan hidup ataupun tulen dan palsu tidak dapat membedakan,
hingga terombang-ambing dalam gelombang mati dan hidup di samudera pahit tiada
batasnya (Lautan Purba).

13
Bila ingin mengahiri kematian, harus terlebih dahulu mengakhiri kematian harus
terlebih dulu mengakhiri kelahiran. Hendak mengakhiri kelahiran, harus terlebih
dulu melampaui kelahiran.
Apabila menemukan Sang Guru untuk ditunjukkan Jalan Utama (Ta Tao), berbareng
mana tercoretlah namanya di neraka dan terdaftarlah namanya di sorga, dengan mana
dapatlah bebas dari kekuasaan Giam Loo Ong (Penguasa Neraka).

Dalam hal ini, ajaran Ketuhanan hanya diturunkan pada akhir masa ketiga, kalau
tidak, tidak mungkin akan dapat menempuh hidup langgeng abadi.

Dalam Kitab suci dikatakan: “Biarpun sepatumu yang terbuat dari besi itu menjadi
rusakpun tidak akan menemukannya, namun helas, didapatnya tanpa membuang
usaha”.

7. Empat Hambatan Untuk Memperoleh Tao

1. Sukar akan lahir sebagai manusia.


2. Sukar untuk jumpa zaman ketiga.
3. Sukar untuk hidup di tengah sari.
4. Sukar untuk menemui Tao Sejati.

Ujarnya Nabi Lao Tse: “ Saya sesalkan diriku ini, saya cinta akan diriku ini”. Yang
menjadi sesalan karena badan raga mempunyai enam kejahatan yakni: mata, kuping,
hidung, lidah, tubuh dan keinginan.
Mata yang suka pada keelokan benda, kuping yang suka kemerduan suara, hidung
yang suka pada bebauan, lidah yang suka rasa lezat, tubuh yang suka persentuhan,
dan keinginan yang suka aneka ragam dan kelobaan.

Misalnya harta dan keelokan adalah daya gairah dari luar, sedangkan pengertian
dan emosi terbuka dari dalam, maka luar dan dalam saling berhubungan, hingga hati
yang berhasrat baik tidak dapat menguasai, sedang yang buruk tidak dapat berhenti,
maka terjadilah keadaan derita di dalam neraka yang tidak beralas itu.

Bahwasanya manusia adalah makhluk yang tercerdik, roh menggunakan badan


raga ini untuk tempat menetapnya, dan sebaliknya badan raga menggunakan roh
untuk hidupnya; dalam arti kata lain yang tulen tidak meninggalkan si palsu, yang
palsu tidak terpisah dari yang tulen, maka tulen dan palsu tergabung menjadi satu.

14
Dalam kitab Sim King: “Sariputra, yang bercorak warna tidak lain adalah kosong
dan yang kosong tidak lain dari yang bercorak warna”.

Menggunakan badan raga ini untuk menyempurnakan roh, karena apabila tanpa
badan raga ini, cara bagaimana roh akan dapat disempurnakan, karenanya saya cinta
badan raga ini, dan sebab itulah tidak mudah mendapat badan manusia. Apabila tidak
mempunyai pengetahuan Tao Yang Luhur, tidak dapat membedakan antara tulen dan
palsu, antara berfaedah dan tidak, hingga hidupnya akan sia-sia tanpa arah yang betul.

Pada akhir stadium ketiga juga berarti pula permulaannya kesejahteraan Sam
Yang, karenanya juga dinamakan bencana dan kesejahteraan jalan berendeng, yakni
beralihnya perputaran masa semi hijau, berkembang-merah dan berbuah-putih.

Akan tetapi ajaran Tao tidak diturunkan apabila bukan tiba pada masa yang tepat
dan tidak diajarkan kepada orang yang bukan bagiannya.

Dimisalkan sebagai seorang yang menderita sakit parah, harus mengundang


dokter untuk mengobatinya, dan obat akan diberikan sesuai dengan kebutuhan si
penderita. Begitu pula Tao diturunkan untuk menyesuaikan bencana. Kini tiba pada
saat akhirnya stadium ketiga ini bermunculan macam-macam bencana alam dan
berbagai kesukaran yang merupakan mara bahaya yang terdahsyat.
Maka hanya dengan Tao Yang Sejati sajalah yang dapat menolong hingga mencapai
sejahtera, semua makhluk akan tertolong, karena itu dikatakan sukar jumpa pada
zaman stadium ketiga.

Tengah sari berarti intisari, huruf A atau Asia, pada tengah-tengahnya huruf A itu
terlukis salib putih sebagai simbol pusatnya langit dan bumi, karenanya berarti negara
tengah, intisari, tengah asal, sentrum;
tengah berarti pokok utama dari langit dan bumi, disitulah nabi demi nabi dilahirkan,
juga dinamakan Kerajaan Tuhan, disitulah diturunkannya Tao, maka dikatakan sukar
hidup ditengah sari.

Pada zaman stadium ketiga ini timbullah segala macam ajaran, namun yang tulen
sejati tiada berpintu dua, sedang yang palsu tidak terhitung jumlahnya.

Buddha mengatakan: “ Yang dapat menjamah akarnya akan menjadi Buddha, yang
tidak dapat menjamah pokoknya akan sia-sia belaka”. Orang yang bukan berbakat
kebuddhaan dan ditambah pula banyak budi jasa dari leluhurnya, sungguh sukar akan
menemui Tao Sejati, maka dikatakan Tao Sejati sukar dijumpai.

15
8. Manusia Mendapat Satu, Ialah Suci

Bergeraknya Alam Tiada Puncak (Bu kik), timbullah ke-Esaan, Satu yang menjadi
pokok lalu tersebar ke berlaksa-laksa macam yang mendapat disekitar semesta. Langit
apabila mendapat Satu lalu bersih, bumi mendapat Satu lalu sejahtera, manusia apabila
mendapat Satu lalu suci.
Maka kaum Buddhis mengatakan: memurnikan hati untuk mengetahui roh asalnya,
segala benda kembali manunggal;
Kaum Taois mengatakan: membina bathin untuk menggembleng roh asalnya, maka
peluklah yang asal untuk menjaga Satu;
Kaum Khongkauw mengatakan: simpanlah nurani untuk memelihara roh asalnya,
maka peganglah erat-erat pertengahannya untuk Manunggal Satu.

Satu ialah Li – Rationil – kebenaran suci, manusia mendapat rationil alam bagi
kesempurnaannya roh, mendapat ke-Esaannya Tuhan bagi kesempurnaannya Lahir,
maka selagi di alam asal, roh itu murni dan bulat sempurna. Keseluruhannya hanya
rationil Tuhan, tanpa minum makan juga tanpa pikir dan keinginan, hanya mengikuti
pernafasannya sang induk bagi menyalurnya hawa, sehingga sampai saatnya
dilahirkan bersuaralah tangis sang bayi, pertanda masuknya kedua hawa melalui
mulut dan hidungnya; apa yang semulanya satu lalu menjadi dua. Karena di alam asal
memang hanya satu roh, sampai di dunia lalu tertambah satu jiwa, karenanya roh dan
jiwa terbagi dua, dan masing-masing kehilangan satu.

Roh kehilangan satu “Khian” (istilah Pat-Kua) lalu berubah menjadi “Li” artinya
pisah, apabila pisah lalu terpencar dan terpencar menimbulkan kosong. Se-titik roh
suci apabila dari kedudukannya Tao (sarira/sialitju), kedudukan asal itu menjadi
kosong. Apabila setitik roh itu tersebar pada mata lalu dapat melihat warna, tersebar
ke telinga lalu dapat mendengar suara, tersebar ke hidung lalu dapat membau, tersebar
ke mulut lalu dapat berbicara dan makan minum, tersebar pada kaki dan tangan lalu
dapat bergerak, tersebar pada kulit lalu tahu akan sakit dan gatal, tersebar pada pori-
pori lubang bulu lalu tahu tentang rasa panas dan dingin, tersebar pada isi perut lalu
tahu tentang lapar dan kenyang, apabila tersebar pada hati lalu timbul enam nafsu,
dan tersebar pada pikiran lalu mempunyai tujuh perangai. Dengan demikian orang
telah terombang-ambing seolah-olah dalam hidup sampai matinya itu seperti terjadi
dalam mabuk atau mimpi saja. Dengan tidak mengerti akan hal itu maka makin hari
makin merosotlah keadaannya, dan disitulah sebabnya selalu diliputi oleh
ketidakamanan.

Demikian pula apabila jiwa kehilangan satu, “Khun” berubah menjadi “Kham”
artinya perangkap atau rintangan. Apabila setitik roh tujuh perangai ini terjebak

16
dalam perangkapnya enam nafsu dan atau tenggelam dalam kesukaan minuman keras
dan paras elok, atau terbenam pada kemurkaan harta dan temperamen, mereka akan
memasuki pada Putaran Roda Empat Kelahiran dari Enam Jalan, dan tidak mungkin
akan dapat kembali ke alam asal.
Apabila langit kehilangan satu, tentu akan mengganggu pula letaknya bintang dan
planet, demikian juga apabila bumi kehilangan satu, akan terjadi keringnya lautan dan
gugurnya gunung-gunung. Begitu pun apabila manusia kehilangan satu, lalu akan
masuk ke perangkapnya Putaran Roda Tumimbal Lahir.

Roh adalah kebenaran suci atau dikatakan juga Li; huruf Li itu apabila kehilangan
satu (satu guratan dibagian atas) lalu menjadi huruf Mai (Pendam). Sebaliknya apabila
huruf Mai itu diberi satu, lalu menjadi huruf Li yang artinya rationil atau kebenaran
suci.

Ujaran kuno mengatakan: “Yang mempunyai Kebenaran Suci dapat mengembara


di seluruh dunia, akan tetapi yang tidak mempunyai Li sejengkal saja akan sukar
melangkahkan kakinya”.

9. Orang Mengikuti Tao Kenapa Difitnah ?

Kata Peribahasa: “Nada tinggi sukar diikuti dengan harmonis, mengikuti ajaran
Tao sampai pada puncak, lalu datanglah tentangan, demikian juga membina pri-budi
baik juga timbul fitnahan”.

Akan tetapi bahwasannya Tao itu Maha Besar dan Li (Kebenaran suci) itu lembut
halus, bagi orang-orang awam sukar dapat dimengertinya maka dengan sendirinya
tibul macam-macam kesangsian lalu tersiarlah macam-macam fitnahan.

Khong Tju bersabda: “Orang lain tidak mengetahui kebaikannya tapi tetap tidak
kecewa, bukankah ia seorang budiman?”
Tao tanpa fitnahan tak akan berkembang.

Buddha mengatakan: “Setelah menerima satu fitnahan, dapatlah mengurangi


sebagian dosanya.”

Pada waktu Khong Tju mengajarkan pri-Ketuhanan, sambutan dari orang-orang


itupun hanya fitnahan saja. Akan tetapi kelak kemudian hasil dari prilaku Ketuhanan
itu akan dipetik di Sorga, dan namanya akan selalu tertinggal di dunia dengan
klenteng-klentengnya tersebar di seluruh dunia sebagai penghargaannya.

17
10. Membina Tao Mengapa Mengalami Ujian Hidup ?

Jalan untuk mengikuti Tao arahnya naik, sedang jalan yang licin mudah
tergelincir ke dunia iblis, dan jalan yang mendaki akan mencapai sorga. Peribahasa
kuno mengatakan: “Membina Tao (berprilaku Ketuhanan) diumpamakan memanjat
tiang tinggi, naiknya sukar tapi turunnya mudah.” Wa-Hut (Buddha Hidup)
mengatakan: “ Ajaran Besar adakalanya menemui kesuraman besar dan
kecemerlangan besar.”
Tao Sejati pun perlu dengan ujian sejati guna tahu bathin sejati.
Kata-kata peribahasa: Batu Kumala apabila tidak digosok tidak akan menjadi barang
yang berguna, emas apabila tidak digemblengpun tidak akan berharga. Oleh Kaum
Taois dikatakan: mengolah dengan lunak dan menggembleng dengan keras.
Kaum Khong Tju mengatakan : dibelah dipahat dan digosok pula yang artinya diuji
dan diuji kembali untuk membuktikan tekadnya.

Pada saat Khong Tju menemui kesukaran di Negara Tin Ch’ai, beliau bersabda:
“Apabila tidak mendaki gunung tinggi tidak akan tahu bahayanya jatuh tergelincir,
apabila tidak sampai di tepi jurang yang curam tidak akan tahu bahayanya terbenam
di dalamnya, dan apabila tidak sampai pada lautan besar tidak akan tahu ngerinya
ombak dan badai; bunga iris tumbuh di hutan belukar walaupun tiada manusia
disekitarnya toh tetap semerbak baunya. Orang budiman membina pri Ketuhanan dan
banyak budinya tidak akan jadi hina karena mengalami derita susah.” Setelah Khong
Tju terbebas dari penderitaan tersebut diatas, memperingatkan pada murid-muridnya:
“Penderitaan di Negara Thin Ch’ai adalah keuntunganku, yang juga keuntungan bagi
murid-muridku semua; harus diketahui bahwa dalam keadaan yang kritis merangsang
itulah awalnya kebangkitan, bukankah disitu letaknya sukses?”
Beng Tju bersabda: “Tuhan memberikan tugas besar pada orang tertentu, tentu
terlebih dahulu dipersusah tekadnya, dipayahkan tulang ototnya, diperlapar tubuhnya
dan dikuras (dikosongkan) badannya; itulah ujian yang mana Tuhan menghendaki
kesempurnaannya.
Dapat dimisalkan seperti pemilihan bupati pada kantor gubernuran, bagi si calon
diberikan syarat-syarat tertentu, tidak setiap orang berhak mengikuti ujiannya.
Khong Tju mengatakan: “Kayu lapuk tidak dapat diukir, tembok dari tanah kotoran
tidak dapat diplester.”

Orang yang bakat Kebuddhaannya mendalam akan diuji oleh Tuhan, apabila
bukan tepat pada orangnya tidak akan berhasil atas ujiannya.

18
11. Tao Yang Suci Dan Ghaib

Li atau Kebenaran Suci adalah penguasa langit, bumi dan segala isinya, sungguh
halus seolah-olah kosong dan tenang diam, sungguh ghaib namun nyata, sungguh
agung dan suci. Keagungan mana dinamakan Penguasa dari segala makhluk. Karena Ia
yang melahirkan langit dan bumi serta mencipta dan memelihara semua benda maka
dinamakan Induknya segala benda dan bagi kehormatanNya diberi nama Lao Boo.

Di Kitab Syair bagian Ta Ya ada diujarkan:”Kerajaan In (1766 S.M) tidak sampai


kehilangan kepercayaan rakyatnya, karena mereka dapat menyesuaikan kepada
Tuhan.” Di bagian Siao Ya juga diujarkan: “Wei Huang Shang Ti yang artinya Tuhan
yang Maha Tinggi,” Tuhan adalah satu-satunya Yang Agung dan Suci. Langit, bumi,
matahari dan bintang sampaipun segala apa saja, kesemuanya adalah Tuhan yang
menguasai bagi hidup dan matinya; kalau tidak, dunia ini sudah lama berhenti
berputar dan segala apa akan ludas. Sekarang kemajuan ilmiah serta pengetahuan
materialistis telah maju demikian rupa, makanya Tuhan, anggapnya segala keadaan
wajar yang ada itu timbullah kelompok orang yang tidak percaya akan ada adalah
hasil penemuannya manusia, segala hasil karya modern itu adalah tehnik manusia
melulu; akan tetapi mereka tidak tahu bahwa segala fenomena itu siapa yang
membuat; tehnik yang dimiliki manusia itu siapa yang memberikannya? Orang hanya
mengata-kan itulah kejadian alam. Pendapat yang sedemikian itu nyatalah belum
sempurna dan belum memperoleh unsur sebenarnya.

Apakah Li atau kebenaran suci itu dapat dipercaya, dan roh itu juga dapat
dipercaya? Umumnya kalau orang menampak sinar lalu timbul pengertian tentang
adanya matahari yang kalau menampak, orang lalu tahu adanya benda. Kelihatan anak
cucu lalu tahu adanya leluhur. Demikian juga kalau menampak langit bumi dan segala
isinya, tentu tahu juga adanya Yang Maha Kuasa yang menjadi Sang Pencipta.
Seseorang yang minum air seharusnya mengingat pada sumbernya. Demikian juga kita
harus mengingat kembali pada stadium In Hua (masa kelahiran manusia yang
pertama). Ayah menurunkan anak turun temurun tidak henti-hentinya, lalu kita tahu
adanya leluhur. Akan tetapi siapakah yang leluhur asalnya yang memberikan roh kita
pergi datang? Kita tahu adanya ayah bunda yang melahirkan kita, akan tetapi
sayangnya tidak tahu adanya Lao Boo yang melahirkan roh suci pada kita.

Sungguh sayang, kerohanian manusia kian hari kian pudar, prilaku manusia pun
kian merosot, karena orang telah melupakan pokok pangkalnya, sehingga seolah-olah
terombang ambing dalam hidup sampai mati. Apa yang dapat dilihat ia katakan ada,
akan tetapi yang oleh mata kepalanya tak dapat melihatnya ia anggap tidak ada.
Pengertian begini seumpama seperti ikan yang hanya kenal pada sebangsanya yang

19
berada di air. Dan manusia yang hidup diliputi hawa ini hanya melihat bentuk badan
saja. Demikianlah fungsi dari dua yang besar itu tidak ada taranya, akan tetapi
pengetahuan manusia hanya terbatas.

12. Tiga Tingkat Pelajaran Dharma

Pelajaran Dharma terdiri dari: Tingkat Tinggi, Tingkat Tengah dan Tingkat
Bawah; karenanya ada perbedaan antara Langsung, Bertahap dan Kewujudan.

Pelajaran Dharma juga terbagi antara Cabang dan Pokok, Pudar dan Nyata; secara
langsung mengajarkan kesadaran kerohanian dan ajaran hati Ilahi. Walaupun dengan
hanya setitik dapat mencapai Kebuddhaan, dengan tindak selangkah dapat langsung
melampaui atmosfir menuju keabadian, maka dinamakan Ajaran Langsung.
Siapapun yang memperolehnya langsung dapat Kesempurnaan sebagai Buddha atau
nabi. Itulah Khasiat sejati yang diturunkan sejak dulu kala. Khong Tju mengatakan:
“Apabila pada pagi hari orang memperoleh Tao, walaupun sore harinya mati pun
puas.” Demikianlah hebatnya dharma tertinggi.

Bersemedi memutar roda dharma atau memutar microcosmos atau mengolah


nafas, sampaipun menggembleng sampai titik dingin untuk timbul positif dan titik
panas untuk timbul negatif. Sungguhpun beruntung berhasil mencapai
kesempurnaan, akan tetapi kesempurnaan mana tidak dapat bebas dari atmosfir.
Tindakan mana mulai dari keyakinan lalu pengertian dan dari pengertian lalu ke
pelaksanaan; dari pelaksanaan sampai kenyataan. Itulah pemutaran kekosongan dari
tingkat bertahap, maka siapapun yang membina pada tingkat ini, kesempurnaan-nya
hanya mencapai pada tingkat orang saleh dan kedewaan saja, maka dinamakan
Tingkat Tengah.

Adapula yang membina dengan cara pembacaan puja puji dengan dibarengi
tetabuhan, berbuat kebaikan dengan memperbaiki jalan dan jembatan, atau berlaku
dermawan dengan memberi pertolongan pada si miskin atau penderita kemalangan.
Tindak laku yang sedemikian itu hanya rumus beredarnya perputaran; misalnya pada
kelahiran sekarang berbuat kebajikan, kelahiran mendatang akan menikmati rejeki
baik, namun apabila timbunan kebajikan dan rejekinya sudah habis, mereka akan
masih tetap turun pada putarannya. Dalam kitab ada diujarkan: “kalau ingin bertanya
sebab musabab dari kelahiran lampau, lihat saja apa yang diperoleh pada kelahiran
sekarang; kalau tanya apa yang akan diterima pada kelahiran mendatang, lihat saja
karya apa yang dilakukan pada kelahiran sekarang.” Diumpamakan seperti anak panah
yang dilepaskan ke arah angkasa, setelah daya tenaganya habis maka dengan

20
sendirinya akan menurun. Maka siapapun yang melakukan cara ini hasilnya akan
menjadi orang bajik atau orang baik, namun tidak mungkin mencapai Kebuddhaan,
karenanya dinamakan Tingkat bawah.

13. Bagaimana Membuat Jasa-Jasa

Batin yang selalu berpijak pada Tao (Ketuhanan), itulah sifat budi kebajikan. Kalau
dilakukannya pada kemanusiaan, itulah kewajaran dari moralitas. Apabila sesorang
hanya mempunyai dasar Tao akan tetapi tiada berprilaku kebajikan, ia tentu akan
menemui goda rintangan.

Khong Tju mengatakan: “Apabila tidak mempunyai kebajikan luhur, maka


keluhuran Ketuhanannya pun tidak kekal.”
Tik tjia, tik ya, kata tik yang pertama artinya kebajikan dan yang kedua artinya
memperoleh. Jadi diartikan bahwa perbuatan bajik itu memperoleh hasil; berbuat jasa
sama dengan mempertegak kebajikan. Orang harus menolong sesama orang dan
berbuat yang berguna pada segala urusan; harus ada hati untuk menolong bencana dan
kemalangan; harus taat pada ajaran yang diberikan oleh tiga nabi, serta dipraktekkan
sesungguhnya, misalnya mencetak buku-buku-Ketuhanan, mendirikan rumah-rumah
ibadat, menyebarkan ajaran suci seluas-luasnya untuk membuka kebijaksanaan umat
seumumnya; dengan mengajar seseorang hingga orang itu mencapai kesempurnaan,
maka ia akan mendapat jasa bajik yang luar biasa besarnya. Orang yang sudah berbuat
jasa-jasa terhadap luar dengan sempurna, dengan sendirinya jasa-jasa dalamnya bulat
sempurna pula. Bagi umumnya, orang harus suka menolong pada yang menderita atau
dalam keadaan memaksa, atau beramal pada segala yang tertimpa bencana dan bahaya,
walaupun mengeluarkan uang sendiri ataupun beramai-ramai dengan uangnya orang
banyak untuk menolong siapa saja, kapan saja, dan dimana saja guna kebaikan umum.
Terhadap kaum tua membicarakan tentang welas asih, dan pada kaum muda berujar
tentang bakti, pada saudara tua berujar ramah, pada saudara muda membicarakan
hormat, pada suami istri menuturkan kerukunan, pada kawan-kawan membincangkan
tentang kejujuran, pada kaum pejabat membincangkan tentang kesetiaan, dan selalu
merubah yang buruk menjadi baik, mendidik yang bodoh menjadi pintar, itulah jasa
yang benar-benar luhur. Sedikitpun tidak mempunyai pamrih untuk mencari-cari
nama, dan sama sekali tidak menunjukkan rupa jahat dengan kata-kata buruk. Karena
kalau berkeinginan mencari nama, maka itu bukan jasa baik, dan orang yang
menasehati orang lain dengan sifat kasar juga bukan lakunya orang yang membina
Tao.

21
14. Penyelamatan Tiga Alam

Tao Yang Maha Besar menyelamatkan roh-roh asal dalam rangka yang luas sekali.
Pada Tingkat Atas dapat menyeberangkan para dewa yang ada di angkasa dan planet-
planet, pada Tingkat Tengah menyeberangkan makhluk-makhluk yang berada di alam
manusia, dan pada Tingkat Bawah menyeberangkan arwah-arwah yang berada di
alam gelap.

15. Bagimana Menyeberangkan Penghuni


Yang Di Tingkat Atas ?

Dewasa ini berada di masa akhir zaman tahap ketiga, dan ke Tiga Buddha yang
berkewajiban menjadi juru pengaturnya.

Orang yang dahulu telah membina diri dan juga yang telah melatih pernafasan,
akan tetapi belum juga menemui karunia Tuhan terangkat ke alam abadi; dan juga
para anak-anak bakti dan pejabat-pejabat setia ataupun wanita suci , mereka berhak
meningkat menjadi malaikat di alam halus. Akan tetapi kalau tidak memperoleh Jalan
Ketuhanan tetap sukar dapat lolos dari penderitaan perputarannya tumimbal lahir,
karenanya tidak dapat kembali ke Alam Asal.

Sekarang kita berada diakhir zaman stadium ketiga, Ketuhanan yang menjadi Juru
Penyelamat; karenanya para dewa dari alam hawa sering mengikuti para Buddha
berkunjung ke tempat-tempat ibadat atau mengunjukkan kesuciannya di mana saja
untuk mencari orang-orang yang berbakat baik pada kelahiran lampau untuk menjadi
penanggung dan perantara guna mendapat ajaran Ketuhanan. Dengan demikian ia
dapat kembali ke Alam Asal agar selamanya bebas dari tumimbal lahir; oleh karena itu
cara penyeberangannya dewa di alam angkasa ada lebih rumit daripada di alam
manusia.

22
16. Bagaimana Menyeberangkan Arwah Yang Berada
Di Alam Gelap ?

Bakti dan merendah hati adalah pokok bagi manusia. Ujar pada Hauw King (Kitab
Bakti): Melakukan Tao untuk menegakkan diri bagi keharuman nama generasi
mendatang hingga menjadi cemerlangnya nama ibu bapak, itulah tujuan Tao. Apabila
kita tidak ingin mengurangi kebaktian kita pada Tao, kita seharusnya melakukan
hormat dan kebaktian yang sesungguhnya pada mereka waktu masih hidup, dan
melakukan jasa kebaktian untuk mengangkat arwah mereka setelah wafat agar
selamanya terbebas dari penderitaan tumimbal lahir, dan menikmati kebahagiaan di
Alam Abadi.

Namun bagaiman caranya bagi seorang anak cucu apabila ingin mengangkat
arwah-arwah dari tujuh tingkat leluhur dan sembilan keturunannya? Jalan satu-
satunya harus melakukan Tao (Siu Tao) dengan telaten, berbuat jasa dan kebajikan,
dengan amal yang nyata hingga memperoleh hasil. Maka ad ucapan: “Seorang anak
mendapat kesempurnaan, berarti sembilan keturunannya menerima kebahagiaan;
seorang anaknya mendapat kesempurnaan, berarti tujuh tingkat leluhurnya
meningkat kesempurnaannya.”

17. Dalam Ujar-Ujar Suci Sering Dikatakan


Ayam Emas Berkokok Tiga Kali

Emas adalah salah satu dari lima unsur (ngo hing) yang letaknya di barat, maka
dikatakan See Hong King Sin Kim. Ayam adalah sama dengan urutan Yu pada
perhitungan Cap Ji Ki. Yu adalah salah satu dari 12 hitungan waktu yang
kedudukannya ada di Barat. Maka matahari keluar pada waktu Bao dan terbenam
pada waktu Yu, dalam arti kata lain matahari keluar dari timur dan terbenam di barat.
Ternyatakata Ayam Emas adalah simbol perubahan dari barat, dan barat itu tergolong
pada emas, sedang emas itu warnanya putih. Maka dalam kekuasaan Pik Yang, cahaya
putih adalah Kim Kong Tjo Su yang memegang kekuasaan.

Tentang arti kata berkokok tiga kali ialah pada akhir zaman stadium ketiga, telah
tiga kali turun di dunia. Berkokok berarti bernyanyi atau menyebarkan Tao, dan Tao

23
baru terlihat kenyataannya. Maka pada waktu ayam emas berkokok tiga kali adalah
pertanda tersebarluasnya Tao yang turun berbarengan dengan adanya bencana

18. Akhir Zaman Stadium Ketiga

Lamanya perhitungan dari pembukaan langit dan pembentukkan bumi sehingga


memasuki berakhirnya langit dan bumi memakan waktu satu Goan. Satu Goan itu
terdiri dari 12 Hui, yang masing-masing dinamakan Tju, Thiu, In, Bao, Sin, Su, Ngo,
Bi, Sin, Yu, Sut, dan Hay. Dan tiap-tiap Hui adalah 10.800 tahun. Karena terjadinya
perubahan pada alam sekitarnya maka timbul masa-masa jaya dan nahas. Pada dewasa
ini telah memasuki berakhirnya Ngo Hui, dan sebagai awalnya Bi Hui, maka dalam
perhitungan telah memasuki stadium ketiga. Pada stadium pertama adalah masanya
Cahaya Hijau, dikala masanya nabi Hok Hi. Stadium kedua dinamakan
Cahaya/Pancaran Merah yang berada pada masanya Bun Ong. Stadium ketiga
dinamakan masa Pancaran Putih yang berada pada masa peralihannya Ngo Hui
kepada Bi Hui. Pada setiap stadium disitu datang dalam tempo yang bersamaan antara
bencana dan Tao. Maka dianjurkan: orang memeluk Tao untuk dapat menyelamatkan
orang baik, sedangkan yang buruk akan mengalami bencana. Ditilik kembali sejak
manusia dilahirkan pada masa In Hui hingga sekarang sudah 60.000 tahun lamanya,
orang masih selalu rindu pada keduniawian hingga mengalami hidup tumimbal lahir
sampai melupakan roh asalnya, hingga tidak tahu dari mana asalnya, juga tidak tahu
mencari jalan pulang. Maka dalam keadaan yang makin tersesat mereka makin
terjerumus, dan makin rusak hingga kehidupan masyarakat telah terancam pada
puncaknya bahaya, yang akan menimbulkan bencana besar yang belum pernah
dialami oleh manusia sebelumnya. Keadaan ini yang dinamakan Bencana Pada Akhir
Stadium Ketiga.

19. Mengapa Ada Orang Yang Selalu Dirundung Sakit


Dan Ada Yang Selalu Sehat ?

Karena badan manusia itu terdiri dari darah daging maka tidak dapat terhindar
dari kemalangan. Namun penyakit berat timbulnya karena hasil dari imbalan yang
diperolehnya, sedangkan penyakit kecil timbulnya karena sendirinya kurang hati-
hati, maka disuruhlah iblis menebarkan penyakit oleh pengamat neraka, dan oleh

24
penguasa diturunkanlah malaikat untuk menebarkan bencana yang semuanya bekerja
menurut perintah. Penyakit manusia tidak hanya terbatas kurang hati-hati pada
perubahan iklim saja atau karena berlebih-lebihnya enam nafsu dan tujuh perangai
atau karena makan, minum, sex dan sebagainya, akan tetapi perasaan loba yang tidak
ada batasnya atau karena tidak terkabul niatnya, itu adalah lebih berbahaya.

Ada peribahasa: ”Apabila hati aman walaupun tinggal di rumah gubuk pun terasa
sentausa, demikian juga kalau batinnya tenteram walaupun hanya makan sayurpun
rasanya enak.” Ujar dalam Kitab: ”Kekayaan memperkaya rumah, kebajikan
memperkaya diri, hati lapang mempergemuk badan.” Makanya seorang budiman
setiap ucapannya sangat rasionil, mengerjakan sesuatu jangan sampai menimbulkan
kesalahan, selain mengusahakan dengan penuh tenaga, juga tunduk pada Kehendak
Tuhan. Harus diketahui bahwa Tuhan tidak mau merebut nasib manusia, dan
manusia tidak dapat memaksa pada apa yang diberikan oleh Tuhan. Maka seorang
budiman selalu puas atas nasibnya.
Pada zaman Sam Kok di kota Lok Yang timbul bencana paceklik besar, semua rakyat
menderita kelaparan, hanya ada seorang yang tampangnya berseri-seri seperti biasa; ia
menjawab atas pertanyaanya Tjoo Tjho, “Saya sudah berpantang makan (Tjiak Djay)
selama 30 tahun.” Disitulah kenyataanya bahwa seseorang yang membina diri (Siu
Too) dengan sesungguhnya, hendaknya berpantang pada daging, arak, bawang merah
atau bawang putih, agar darah dan nafasnya bersih hingga mengurangi penyakit.

20. Setelah Siu Too, Apa Yang Didahulukan


Agar Mendapat Kemajuan ?

Kalau ingin mendapat kemajuan, seharusnya terlebih dahulu meneguhkan


kepercayaannya, karena Keyakinan adalah induk daripada siu too (membina diri), dan
sumber dari jasa kebaikan. Apabila orang tidak menaruh kepercayaan, pertanyaan
nujumnya pun tidak mujarab. Apalagi bagi orang siu too. Perlu diketahui bahwa tiap-
tiap manusia mempunyai roh, demikian juga dewa dan lain sebagainya, bedanya
hanya sadar dan sesaat saja. Kepala orang berbentuk bundar dan kakinya persegi, ini
adalah simbol dari langit dan bumi; menghembus dan menghisap adalah sama dengan
pertanda Im Yang (negatif dan positif), kedua mata sama dengan matahari dan bulan,
lima isi perut sama dengan lima unsur, sedangkan perasaan girang, marah, sedih dan
senang mengunjukkan persamaan dengan angin, petir, awan, dan hujan; Welas,
kebenaran, peradatan dan kebijaksanaan sama dengan Goan, Heng, Li, dan Tjeng.
Tuhan melahirkan anak bayi adalah sama dengan terciptanya langit dan bumi;
demikian juga Kaisar Giauw, Sun, Khong Tju dan Beng Tju, tidak ada bedanya dengan
rakyat biasa, hanya barangsiapa yang mengerti akan kebenaran suci mereka akan

25
dapat menjadi Buddha atau dewa; akan tetapi siapa yang menentang kebenaran suci
akan menjadi iblis. Maka siapa yang membina pri-Ketuhanan dikatakan Tao, itulah
rasionil yang tidak dapat dirubah lagi.

21. Apakah Ada Cara Yang Mudah Untuk


Menempuh Jalan Kemajuan?

Cara menyimpan hati Ketuhanan untuk memelihara rohani dari kaum Khong Tju
adalah yang mudah bagi pemeluk baru, karena apabila hati tersimpan pada kebaikan
tentu akan mendatangkan kerezekian, sebaliknya apabila disimpan pada keburukan
tentu akan mendatangkan kecelakaan, dan kalau hatinya tersimpan pada ketenangan
tentu akan menjamin panjang usia. Oleh para budiman diistilahkan waktu tengah,
yang diartikan setiap saat tersimpan pada Hian Kwan, itulah kesempurnaan bagi
menyimpan hati untuk memelihara rohani.

Bukankah Beng Tju pernah mengatakan bahwa bedanya orang biasa dengan orang
budiman hanya masalah menyimpan hati saja. Seorang Budiman menyimpan hatinya
tertumpu pada welas asih dan kesopanan, orang welas asih dapat mencintai
sesamanya, orang bijaksana dapat berguna pada sesamanya dan yang sopan dapat
menghormat orang lain. Orang yang cinta sesamanya akan selalu dicintai orang dan
orang yang menghormat orang lain akan senantiasa dihormati orang baik dimana saja.
Bagi kita yang belajar Ketuhanan hendaknya mempertebal cita-cita itu.

22. Apakah Arti Prilaku Menanjak Dan Menurun?

Perlu kiranya diketahui bahwa Triratna dari manusia yaitu Semangat, Hawa dan
Sari, sampai pada apa yang mata dapat melihat, telinga dapat mendengar atau yang
terluap di luar itulah keduniaan. Maka yang dapat menerima masuk ialah orang suci;
tetapi yang terluap ke luar adalah prilaku lancar, namun yang dapat menerima ke
dalam ialah prilaku menanjak.

Beng Tju bersabda: “Ajaran Ketuhanan itu tidak lain hanya mencari hatinya yang
terlepas itu saja.”

26
Cara menyimpan dan memelihara adalah kemurnian hati menuju ke dalam untuk
mawas diri. Api yang terlepas dengan sendirinya akan menurun. Lidah dililitkan ke
atas akan menaikan air kehidupan dari sumbernya, apabila banyak yang naik, harus
ditelan ke bawah langsung masuk ke Tan Tian, disana akan bertemu dengan Api
Kehidupan yang berada di ginjal kanan, demikianlah air akan berubah menjadi hawa.
Jika hawa dan semangat cukup penuh, walaupun payah tidak terasa letih. Setelah
masuk, yang di depan turun dan yang dibelakang naik, terus menerus tidak berhenti
hingga sari-nya penuh, dan tidak akan memikirkan birahi lagi, dan diubah menjadi
hawa. Sehingga ketika hawanya penuh maka tidak memikirkan makan dan diubah
menjadi semangat sampai penuh, tidak memikirkan akan tidur, diubah pula menjadi
kosong, kosong mujijad tidak pernah pudar, yang mengisi seluruh alam suci, itulah
yang oleh kaum Taois dinamakan Mengedarkan Microcosmos, sementara kaum
Buddhis mengatakan memutar Cakra Dharma. Oleh kaum Khong Tju dibilang apabila
orang ingin bersih dan mengalirkan kebenaran suci, gunakanlah cara menanjak tadi.

Hendaknya mesti diketahui bahwa orang biasa melakukan pernafasan yang depan
naik sedangkan yang belakang turun. Tapi kebalikannya, orang suci melakukan
pernafasan yang depan turun dan yang belakang naik.

23. Adakah Jalan Untuk Mengangkat Arwah Dari


Orang yang Telah Meninggal ?

Ada ketentuan bagi Buddhisme pada dahulu kala, apabila seorang anak
memperoleh kesempurnaan tertinggi, pengaruhnya besar sekali hingga dapat
mengangkat sampai tujuh tingkat leluhurnya. Pada masa permulaan dari pembebasan
umum, telah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Mulia bahwa pembebasan itu untuk
yang hidup, bukan bagi yang mati. Akan tetapi kemudian atas permohonan dari Sam
Koan Tay Tee dan Tee Tjong Ko Hut, baru diijinkan membebaskan makhluk-makhluk
dari kedua alam terang dan gelap (dunia dan neraka). Oleh karenanya didirikanlah
kuil-kuil dan klenteng-klenteng untuk keperluan pembebasan arwah, dan siapa yang
memperoleh Tao dan dapat pulang ke alam baka akan menantikan kedudukannya.
Bagi yang telah melakukan jasa-jasa dan kebajikan akan diberi kenaikan tingkat, akan
tetapi bagi yang jasa dan kebajikannya tidak cukup, akan mengulangi lagi
kehidupannya guna membina kebajikan. Bagi mereka itu ada kalanya menjelma pada
tempat kejayaan untuk menikmati rezeki yang baik. Mengenai bakti pada umumnya
dapat dibagi atas dua katagori, yaitu orang awam dan orang suci. Kebaktian orang
awam atau kebiasaan masyarakat umumnya; berbakti pada orang tua itu merawatnya
dengan baik dan penuh hormat pada masa hidupnya, dan melakukan tata cara
penguburan dengan penuh peradatan, serta melakukan sembahyang dengan khidmat

27
dan hormat. Akan tetapi hal itu hanya dapat dilakukan dengan tidak melampaui batas
kemampuannya masing-masing. Sekalipun demikian mereka tidak dapat memunakan
segala dosa yang telah diperbuat oleh ayah bundanya guna dapat terbebas dari
peredaran tumimbal lahir, supaya tidak menjelma pada keluarga Li atau Chang, baik
menjadi laki-laki atau perempuan. Maka bakti yang sedemikian itu hanya bakti kecil
yang tidak besar artinya. Lain daripada apa yang dinamakan kebaktian anak yang
setulusnya, mereka dapat mengenang budi dan jerih payahnya ibu bapak yang sukar
dibalas itu. Apabila ingin membebaskan arwah ibu bapak yang sukar dibalas itu, tidak
lain daripada siu too (membina diri). Lagipula dalam ajaran Tao ada soal kenaikan
tingkat, siapa yang berbuat enam puluh empat jasa kebaikan dapat kenaikan satu
tingkat; mengangkat satu tingkat leluhur sama dengan tujuh tingkat (generasi); apabila
mengangkat anak cucu dinamakan pengangkatan berbudi yang hanya dapat dilakukan
oleh yang mempunyai jasa-jasa dan kebajikan besar saja. Peraturan mana mengalami
perubahan pula pada tahun Kaktju (1924 T.M). Syaratnya bagi yang akan mengangkat
arwah ibu bapaknya harus sekeluarga siu too, dan kalau ingin mengangkat papa mama
(kakek nenek) besarnya harus menurut ketentuan tingkat dua diatas dan demikian
seterusnya.

24. Apakah Buktinya Pengangkatan Arwah-Arwah Itu ?

Seratus hari setelah arwah itu diangkat dapat datang ke tempat ibadat, membuat
kesaksian untuk memberikan nasehat dan lain sebagai- nya, menguraikan pula segala
kesengsaraan yang dialami selagi berada dibawah kekuasaannya Giam Kun, tentang
berputarnya roda tumimbal lahir, lalu dengan cara apa telah dapat terbebas dan kisah
naik ke Alam Sukawati menikmati segala kenikmatan, juga segala sesuatu yang belum
terselesaikan, atau segala sesuatu yang belum sempat memberikan pesan pada saat
menghadapi kematiannya. Semua diuraikan dengan jelas pada tempat suci itu,
mungkin melalui salah seorang yang berada di situ.

25. Kemana Meneduhnya Arwah Yang Terbebas ?

Arwah yang telah dibebaskan (melalui pengangkatan oleh keluarga- nya) segera
terhapus namanya dari neraka dan sementara itu terdaftarlah namanya di Sukawati,
maka kembali ke “tempat pembinaan diri” di Alam Abadi. Setelah membina diri
selama seratus hari guna mengembalikan sifat positif murni dari tubuhnya, Tuhan

28
akan memerintahkan Sam Kwan Tay Tee untuk menetapkan kedudukannya sesuai
dengan jasa amalnya pada masa hidup dan jasa serta kebajikan dari anak cucunya.
Maka kedudukan suci itu ditetapkan berdasarkan atas hasil dari jasa kebajikan dalam
melakukan pembinaan diri dari mana masing-masing hingga ada sebutan dewa,
buddha, nabi, dan orang saleh.

26. Setelah Mengikuti Ajaran Tao Apakah Perlu


Tjiak Djay (Berpantang Makan) ?

Setelah kita menganut ajaran Tao yang utama harus dapat melakukan pantangan
dan makan sebagai vegetarian, karena roh kita asalnya memang benar-benar murni,
tidak akan manda bercampur baur dengan segala kekotoran. Apabila ada kekotoran
yang merembas, ia akan sendirinya kalut; karena itu orang yang membina diri pada
Ketuhanan selalu suka kebersihan dan berdaya membuang kotoran sebagai
pangkalnya memurnikan kembali roh asalnya. Dimisalkan lima rempah-rempah yang
berbau keras merangsang (bawang putih, bawang merah, bawang buntut, kucai, dan
sebagainya), tiga macam daging (daging dari binatang berkaki empat, burung dan
ikan), seharusnya dipantang semua. Mengapa? Karena bau dan rasanya lima rempah-
rempah tersebut di atas sangat keras dan tidak baik, apabila dimakan akan
melenyapkan sifat asal dari isi perut kita; tiga jenis daging dari yang berasal dari ikan,
unggas, dan binatang berkaki empat itu tergolong pada negatif kotor, dan apabila
dimakan akan merusak tubuh yang bersifat positif. Maka sebaiknya harus
menjauhkan dari negatif untuk memelihara positif.
Tuhan Yang Maha Tinggi senantiasa suka kehidupan sebagai lambang kebaikan.
Karenanya orang yang berpri-Ketuhanan harus berdasarkan Nurani Tuhan. Jangan
tamak bagi keperluan makan hingga membunuh dan menyembelih secara semena-
mena yang akibatnya akan menimbun dosa. Terhadap makanan yang berbau
menyengat dan amis, walaupun tidak dapat sekaligus dipantang, sebaiknya dikurangi
tahap demi tahap, misalnya dibiasakan pada hari-hari tertentu, yang akan lambat laun
menjadi kebiasaan sampai pada tingkat berpantang menyeluruh selama-lamanya.

29
27. Apakah Faedahnya Mengikuti Ajaran Tao ?

Orang yang menganut Tao mendapat petunjuk pintu surga, dan terbukalah
kebijaksanaanya; apabila melangsungkan hidupnya dengan memeluk Tao erat-erat, ia
akan dapat menghimpun seluruh dosa yang lampau dan akan mendapat kelancaran
dalam hidupnya, bahkan terhindar dari segala mara bahaya, sampai kepada matinya
pun aman terbebas dari berputarnya roda tumimbal lahir yang dikuasai Giam Kun.
Selanjutnya akan mendapat faedah yang besar sekali, semoga para penganut Tao
melaksanakannya dengan kesadaran untuk membuktikan hasilnya.

28. Adakah Bukti Hasilnya ?

Apabila manusia dalam hidupnya dapat membina dirinya pada Ajaran Tao,
disetiap saat menimbun kebajikan hingga menggerakkan hati Tuhan. Orang yang
beramal sedemikian rupa dalam hidupnya akan terhindar dari mara bahaya, bahkan
kemelut yang dihadapinya berbalik menjadi kejayaan; bukti-bukti dari terhindarnya
bahaya itu sangat banyak sekali, demikian juga apabila meninggal dunia dapat bebas
dari putaran tumimbal lahir; bukan saja rohnya dapat memberi kesaksian di ruang
kebaktian, tapi juga dalam kematiannya itu mayatnya akan menunjukkan gejala-
gejala: Misalnya para guru atau sesepuh dari Buddhisme dan Taoisme mayatnya
tinggal lemas, itulah tanda dari kesempurnaan amalnya, namun persentasinya
memang kecil sekali, dan itulah kenyataan bahwa orang yang membina banyak
jumlanya, tapi yang mencapai kesempurnaan hanya sedikit sekali.

Dalam Ajaran Ketuhanan ini, bagi siapa yang sudah mendapat petunjuk, baik yang
besar atau kecilpun jasanya, apabila meninggal akan membawakan wajah berseri
seperti hidup, karena tidak melewati empat pintu lagi, walaupun pada musim dingin
tidak akan kaku, atau menjadi bau dimusim panas, sampai beberapa hari pun tidak
berubah, bahkan berbau wangi memenuhi kamarnya. Kecuali yang imannya kurang
teguh atau yang ingkar dari Ketuhanan akan lain keadaanya, pada umumnya baik tua
maupun muda semua baik-baik keadaanya. Sedang badan raga yang ditinggalkan
menunjukkan demikian baik, apalagi roh asalnya tentu sudah naik ke Alam Suci, yang
mana tidak perlu diragukan lagi.

30
29. Mengikuti Ajaran Ketuhanan, Namun Tidak
Melaksanakan, Apakah Berdosa ?

Orang yang mengikuti ajaran Ketuhanan tentunya mempunyai tujuan ber-


Ketuhanan, baru timbul keinginan mengikutinya. Tujuan itu tentunya ingin
menempuh keselamatan guna terhindar dari mara bahaya serta dapat mengakhiri
kematian untuk hidup langgeng selamanya. Dengan adanya tujuan itu baru timbul
gairah mengikuti Ajaran Tao. Apabila orang ingin terhindar dari mara bahaya,
seharusnya terlebih dahulu mengerti dahulu asal sebabnya bahaya itu, karena bahaya
diturunkan bukan tanpa arti, pada hakekatnya adalah atas perbuatan dosa dari mereka
sendiri. Maka kalau ingin terhindar dari mara bahaya seharusnya terlebih dalu
bertobat pada segala dosa dan kejahatan yang telah dibuatnya pada masa lampau. Dan
kalau hendak menghapus dosa dan kejahatan, terlebih pula harus taruh hormat pada
guru dan mengutamakan Tao, tekun melatih diri untuk merubah keburukan menjadi
kebaikan hingga sesuai dengan Hakekat Tuhan, barulah dapat tertolong dari bencana
dan mencapai tujuan mengikuti Tao seperti tujuan semula. Sebaliknya apabila ingkar
dari Tao, dosanya bukannya kurang malahan datangnya bencana akan bertubi-tubi
sampai penuh dan tak dapat dielakkan lagi. Bukan saja tidak dapat terhindar dari mara
bahaya, bahkan tidak dapat mencapai kehidupan langgeng, terlebih lagi tidak dapat
bebas dari penderitaan neraka. Dengan demikian ternyata bahwa dosa adalah yang
menjadi sebab dari mara bahaya, dan mara bahaya itulah akibat dari perbuatan dosa.
Orang mengikuti Tao harus melaksanakan dengan sesungguhnya, kalau tidak maka
segala niatnya tidak terhimpas dan berarti dosa; bukankah dosa itu dari akibat
perbuatannya sendiri?

30. Bagaimana Menasehati Orang Yang Tidak


Memperbaiki keburukannya ?

Ajaran Ketuhanan itu ialah mengajarkan orang dengan Hakekat Ketuhanan,


mendidiknya dengan segala kebaikan guna merubah keburukan. Apabila orang telah
memasuki Ajaran Tao, segala kebiasaan yang tidak baik dan kesukaan-kesukaan yang
tidak benar harus dihapus sebersih-bersihnya dengan memberikan gambaran baik
buruk per-buatannya secara sabar dan telaten; adakalanya memberikan peringatan
dan tuntunan sesuai dengan suasana atau juga dididik secara langsung atau contoh-
contoh lain yang pokoknya mencapai kesadaran serta perbaikan

31
31. Penjelasan Manunggalnya Tri Dharma

Tri Dharma itu sebenarnya diciptakan atas Satu Hakekat, walaupun didirikan
terpisah dengan ajaran yang berlainan, akan tetapi apabila diteliti sebenarnya memang
Satu Hakekat. Maka Tri Dharma itu didirikan sesuai dengan zaman dan berkembang
sesuai dengan peredarannya pula, namun kesemuanya hanyalah menyiarkan
Ketuhanan guna menolong hati manusia, mengubahnya dari keburukan menjadi
kebaikan saja.

Taoisme menggunakan kehampaan sebagai pokok dasarnya yang mengutamakan


memelihara kemujijatan halus untuk kembali pada Alam Tiada Puncak (Bu-Kik).

Buddhisme berdasarkan ketenangan sebagai pokoknya, mengutamakan


memandang balik ketenangannya guna menghapus bermacam-macam nafsu.

Konfusianisme berdasarkan mencemerlangkan kecermerlangan bajik, dan


mengutamakan membersihkan nafsu pribadi hingga mencapai kesempurnaan Hakekat
Tuhan.

Hakekat Tuhan adalah yang tersempurna, yang sama pula dikatakan hening
tenang. Hening tenang pun sama dengan Tiada Puncak, dan Tiada Puncak ialah
Hakekat Sebenarnya. Pusat dari Tiga Ajaran semuanya lahir dari Satu Hakekat Tiada
Puncak (Bu-kik It Li) dan pula Sang Buddha mengatakan segala apa kembali
manunggal atas usaha mencemerlangkan pikiran guna menemukan rohnya. Taoisme
mengajarkan memeluk yang asal dan menjaga tunggal atas pembinaan hati guna
menggembleng rohnya. Kong Tju mengajarkan pegang teguh guna menembus
Keesaan dengan mengusahakan menyimpan hati guna memelihara rohnya.

Ketiga agama tersebut walaupun cara mengajarnya berlainan, akan tetapi yang
utama dipentingkan hanya Satu atau Esa bagi pokoknya, dimulainya dari kerohanian;
dari sini dengan diawali Hakekat Ke-Esaan menjadi Tri Dharma, seperti juga tubuh
manusia terbagi jadi Tiga Mustika yaitu mani, hawa dan semangat (tjeng khi sin).
Ajaran Tiga Agama itu sekarang sudah manunggal sebagai menandai akhir
penyempurnaan, sebagai kembali pada asal pokoknya yaitu roh mujijat yang
cemerlang kembali manunggal.

32
32. Adapun Tri Dharma Hakekat Satu, Yang Manakah
Yang Tertinggi, Adakah Pilihan Bagi Penganutnya ?

Sungguhpun Tri Dharma berpokok Hakekat Satu Tiada Puncak, tentunya tiada
perbedaan tinggi rendah, akan tetapi dalam kebiasaan Buddha Dharmalah yang
tertinggi. Mengapa? Karena dalam sejarah dari pimpinan agama kebanyakan dari
orang-orang Buddhis, seperti dituliskan dalam kitab, mulainya keadaan semesta
samar-samar, telah ditentukan bahwa Sepuluh Buddha memimpin agama, yang
duluan pada pra-sejarah telah dipimpin oleh Tujuh Buddha, (terbukti tujuh Buddha
yang terdapat di Feng Yang), dan Tiga Buddha lainnya ialah Jian Teng (Buddha
Dipankaraa), Sakyamuni dan Maitreya yang memegang pimpinan. Buddha Dipankara
telah memimpin selama 1500 tahun. Sakyamuni yang dilahirkan pada Tjiu Ling Ong
tahun Kak-in Si-gwee tanggal 8, dari kaum Ksatrya, ayahnya adalah Raja Suddhodana
dari Kavilavastu dan ibunya ialah Dewi Maya, sejak usia dua puluh sembilan tahun
Beliau mulai memasuki kehidupan pertapaan, dan mendapat petunjuknya Buddha
Dipankara, lalu mengajarkan Dharma selama 45 tahun dan meninggalkan banyak
kitab-kitab untuk menyelamatkan dunia. Ajarannya langsung dan singkat mengarah
pada pokoknya, menunjukkan pada benih Buddha guna menghapus segala kekotoran
untuk kembali ke alam keabadian, maka Beliau adalah pendiri dari Agama Buddha.

Lao Tse dari kaum keluarga Li bernama Erl dengan alias Pik Yang dan dapat
julukan pula Lao Tan, dilahirkan di negeri Tjho pada tahun Ting-su dari Tjiu Ting
Ong; ayahnya dari kaum Han bernama Khian alias Guan Pit dan ibunya Tjing Hu
yang mengandungnya selama delapan puluh satu tahun, karena dilahirkan di bawah
pohon Li maka kaum asalnya dirubah menjadi Li. Setelah peristiwa bersejarah dari
Khong Tju yang mengunjingi-nya untuk menanyakan tentang “peradatan”, lalu
menunggang kerbau hijau menuju kota Ham Kok Kwan memberi ajaran suci pada
Raja Tartar I-Hi. Ajarannya hanya sederhana Cuma memelihara “Hati” = pikiran =
batin, dan caranya “thiu kham tian li” (istilah pelajaran Pat Kua) untuk menghapus
segala sifat kebendaan kepada keabadian; adapun air dan api saling menolong untuk
menempa Kim-tan atau Pil Khasiat. Lao Tse telah meninggalkan pusaka yaitu kitab-
kitab Tao Tik Cing dan Ch’ing Ching Ching sebagai buku pendidik dunia, Maka beliau
adalah pendiri dari Taoisme.

Adapun Ajaran Kong Tju menjurus ke ilmu pendidikan dan tata negara yang dua-
duanya sangat sempurna, sungguhpun dimulainya dari tata keduniaan, akan tetapi
tidak terlengket (kemelekatan) pada kebendaan, maka dari keduniawian itu dapat
memasuki keabadian (Ketuhanan) yang mana telah dipahami pada umumnya hingga
tidak perlu penjelasan lebih jauh.

33
Sebagai kesimpulan semua tujuan dari ajaran agung Tri Dharma itu ialah
Metafisika sebagai pokoknya, pendidikan moralitas sebagai pemaknaan sifat-sifat
Ketuhanan; apabila dasar kerohaniannya sudah dimengerti, moralitas dengan
sendirinya berjalan baik, sesuai dengan apa yang dinamakan “mengerti dasarnya
dengan sempurna akan dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Apabila
akarnya telah kuat, dahan dengan sendirinya akan subur.”
Sangat disayangkan bahwa Buddhisme telah kehilangan Ajaran Tanda Hati, dan bagai
Taoisme pun hilang ajaran Pil Khasiatnya, hingga hanya tertinggal pembacaan kitab
dan manteranya saja untuk menyambung kehidupannya, demikian juga
konfusianisme telah kehilangan Ajaran Hati Metafisika sehingga penganut-
penganutnya yang cendekiawan itu hanya dapat mengutip kata-kata pada ayat-ayat
tertentu, namun apabila ditanya soal “Ti tji ting tjing” (tahu berhenti mantap dan
tenang) dan cara menerima serta balik mendengar, juga tentang caranya mengartikan
hakekat kerohanian serta memelihara dan mengikuti roh untuk menjalankan
Ketuhanan, dikhawatirkan yang mengerti hanya sedikit sekali, sehingga Ajaran Tiga
Nabi itu hampir hilang. Maka bagi ajaran Ketuhanan seharusnya ketiga agama itu
sebaiknya sama-sama dipelajari, tanpa berat sebelah. Melakukan tata susila dari
Konfusianisme, menggunakan cara usahanya Taoisme dan menjaga dengan baik sila-
sila dari Buddhisme, siapa yang dapat melaksanakannya akan mendapat hasil sedikit-
dikitnya sehat dan panjang umur, atau yang dapat melaksanakan secara optimal akan
memperoleh Kesempurnaan Sejati, karenanya patut dapat perhatian khusus dari para
penganut.

33. Asal Hati Baik, Buat Apa memeluk Agama?

Tiap manusia memang asalnya dari benih baik, maka sekali mendengar Ajaran
Tao, tentu dengan senang hati ingin melakukannya dengan sepenuh tenaga. Setiap
orang yang baik budi, tiada sesaatpun tidak memikirkan akan kebaikan dunia. Namun
pada saat ini pribadi manusia di dunia telah merosot sedemikian rupa seolah-olah hati
manusia telah diliputi kelicikan dan bahaya yang sudah menjulang setinggi langit,
hingga menimbulkan bermacam-macam keburukan. Maka bagi para budiman yang
selalu memikirkan Ketuhanan, mereka senantiasa berdaya untuk menolong dunia, dan
justeru pada dewasa ini Ajaran Ketuhanan (Thian Too) beredar, bukankah itu ada
sesuatu hal yang menggembirakan untuk ikut melaksanakannya?
Lagi pula tujuan ber-Ketuhanan yang utama ialah untuk mengakhiri kematian sekali
ini, guna hidup langgeng selama-lamanya yang berarti kembali pada asal mulanya,
hingga tidak menemui kesusahan dalam tangannya Giam Loo Ong (Raja El maut) lagi,
dengan demikian tidak jatuh pada perputarannya roda tumimbal lahir. Kalau
dimisalkan hanya berbaik hati saja, hasilnya akan Cuma menjadi orang bajik di dunia

34
fana yang akan menitis kembali bagi kenikmatan pada titisan mendatang. Perlu
diketahui bahwa rezeki itu akan ada batas akhirnya, apabila tempo akhirnya sudah
tiba, apakah yang akan terjadi, itulah satu tanda tanya lagi; maka kalau dibandingkan
dengan orang yang mengikuti Ketuhanan dan mendapatkan petunjuknya sang guru
yang dapat bebas dari putaran roda tumimbal lahir guna menikmati segala kejayaan,
sungguh jauh sekali bedanya.

Coba kita meneliti apa yang Nabi Khong Tju katakan pada Keburukan Kampung
dalam satu kalimat “Penjahat Kebajikan” dan dibandingkan dengan kesadaran pada
kalimat “Apabila pada pagi hari mengerti Tao, walaupun sore harinya meninggal
dunia pun puas”. Dari perbandingan antara dua kata-kata dari dua kalimat di atas,
kiranya kita dapat mengerti apa bedanya antara hanya hati baik dan mengikuti
Ketuhanan (Tao).

34. Mengapa Baru Sekarang Diajarkan Tao ?

Bahwasanya Tao itu ada kala terang dan suram, karenanya pada dulu kala belum
tiba masanya atau masih dalam rangka masa suram, maka orang yang mengetahuinya
pun sedikit jumlahnya. Sekarang justeru dalam akhir masa ketiga, karenanya
disiarkan secara luas. Faktor-faktor perluasan dewasa ini ialah karena pada akhir-akhir
ini kesusilaan manusia kian menipis, hati manusia sudah tidak luhur seperti sedia kala,
Ajaran Tiga Agama hampir musnah, hingga akhlak manusia merosot, kian hari kian
parah keadaanya hingga terjadi bencana besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu akhir-akhir ini di mana-man terjadi bencana alam misalnya air bah,
kekeringan, kebakaran, peperangan, wabah dan lain-lain yang datangnya bertubi-tubi.
Segala mala petaka diatas terjadi karena perbuatan buruk manusia, akan tetapi tidak
semua manusia buruk, di samping mana bakat-bakat kebaikan tidak menjadi pudar,
seumpama permata dan batu tidak semuanya hancur, oleh karena itu para nabi, dewa,
malaikat dan buddha yang selalu mengandung belas kasihan telah memohon kepada
Tuhan Yang Maha Esa untuk menurunkan Ajaran Tao ke dunia guna menolong
benih-benih baik. Permohonan mana untung sekali telah dikabulkan oleh Tuhan
Yang Maha Esa, maka baru diturunkan Tao untuk secara luas menolong umatNya,
dimana-mana memberikan isyarat hingga manusia dan dewa saling bantu
menguraikan Tao yang tujuannya menggugah hati manusia supaya menjauhkan
sebab-sebab bencana, agar sama-sama jalan pada jalan kesadaran menuju tercapainya
Tepi Bahagia.
Demikian jerih payahnya para buddha dan dewa yang ingin merubah dunia fana
menjadi Sukawati, maka itulah sebabnya Tao diturunkan untuk menolong secara luas.

35
35. Sungguhpun Tao Diajarkan Atas Metafisika,
Mengapa Penganutnya Hanya Rakyat Jelata ?

Berhubung dengan penyesuaian tiap peredaran dan tiap masa berlainan, yang
mana pada masa sebelum zaman yang dinamakan Sam Tay, Tao hanya diajarkan
kepada kaum raja-raja saja. Dan setelah Sam tay, Tao diajarkan pada para kaum
Cendekiawan, selanjutnya sampai pada dewasa ini untuk menyesuaikan peredaran
zaman, Tao diajarkan pada khalayak ramai , peredaran zaman mana bukan menjadi
wewenang rakyat biasa, terutama peraturan Tao tidak membedakan corak, suasana
atau politik, juga tidak membenarkan digunakannya secara menggelap atau bertopeng,
karenanya terbuka untuk umum semuanya.

36. Apakah Orang Dapat Melihat Bentuknya


Bahtera Suci ?

Apa yang dinamakan Bahtera Suci atau Bahtera Buddha itu hanyalah
perumpamaan saja, pada hakekatnya ialah Tao yang tidak terlihat corak wujudnya.
Mengapa dinamakan Bahtera Suci? Tidak lain karena manusia di dunia ini dalam
hidup dan matinya selalu terombang-ambing seperti mabok dan mimpi yang
mengakibatkan tumimbal lahir yang tidak henti-hentinya dalam enam jalan dari
empat kelahiran. Sebagai akibat dari sebab-sebab yang telah ditanam dapat
digambarkan sebagai gelombang mengejar ombak yang tiada batas akhirnya, dan tiada
jalan terbebas dari segala macam penderitaan. Keadaan demikian bukankah sama
dengan laut derita?

Apabila orang sudah Siutoo (berpri-Ketuhanan) kiranya akan dapat mengerti


bahwa keduniaan itu hanya kosong hampa, keadaan yang kaya dan mulia itu hanya
seperti bayangan busa; anak istri adalah belenggu dari cinta kasih; benda adalah
kosong dan kosong adalah benda, hendaknya sedikitpun tidak menjadi aral perintang,
bukankah seperti naik bahtera suci untuk menyeberangi laut derita menuju Pantai
Bahagia?

36
37. Apakah Semua Ajaran Yang Terdapat Sekarang
Ini Dapat Dikatakan Bahtera Suci ?

Sekarang ini banyak terdapat bermacam-macam ajaran, akan tetapi tak dapat
semuanya dinamakan Bahtera Suci, namun walaupun bukan Bahtera Suci, kira-kira
juga termasuk ajaran Ketuhanan. Semuanya bertujuan mengajar baik, maka ada yang
menggunakan cara semedi, menghafal kitab, memainkan alat senjata ataupun
menggunakan mantera dan lain sebagainya. Cara-cara yang digunakan sekian banyak
itu, tidak lain hanya berbeda antara benar dan tidak benar. Keadaan mana dapat
diumpamakan dengan pribahasa “ Sebuah roda apabila diluncurkan dimana saja dapat
dilalui, kalau menemukan pintu yang benar akan dapat menjadi buddha, tapi kalau
tidak tepat akan mengalami derita dan kecewa.” Tergantung pada pandangan
seseorang bagaimana; Khong Tju bersabda: “Belajarlah, selidikilah, pikirlah, analisalah,
lalu lakukan dengan tekun.”

38. Apakah Melakukan Penghormatan Pada


Malaikat Itu Termasuk Takhayul?

Menghormat adalah keluar dari iman, apa saja yang baik bagi kita, patut
dihormati. Tuhan menurunkan Tao mengajarkan Hakekat Ke-Esaan, menunjukkan
Kehendak Tuhan yang sebenarnya, agar manusia tahu bahwa ke-Esaanlah asal pokok
dari segala; Tuhanlah Yang Termulia sebagai pencipta, maka dinamakan Tuhan Tiada
Yang Melahirkan. Tiada Yang Melahirkan adalah induk dari segala roh mujijat, dan
juga yang menciptakan badan raga ini. Manusia di dunia umumnya lupa akan roh
asalnya,lupa pula pada jalan asalnya, hingga hidup dan mati dalam tumimbal lahirnya
mengalami penuh derita.

Tuhan Yang Maha Tinggi (Lao Boo) yang senantiasa memikirkan kita, maka
menurunkan Tao untuk menolong semua makhluk agar manusia semua mengikuti
Jalan Terang dapat mengembalikan roh asalnya pada tempat asalnya lagi. Maka bagi
orang yang menuntut Tao bagi kebaikan diri dan rohnya bolehkah berlaku sombong
dan congkak? karena itu mereka menghormat pada malaikat untuk menyatakan
terima kasihnya atas budi pertolongannya. Maka perbuatan yang ditunjukkan atas
dasar keimanan itu bukanlah takhayul.

37
39. Apakah Menghormati Malaikat Juga
Dapat Mengharap Rezeki?

Apabila ingin menghormati malaikat untuk mengharap rezeki, seharusnya


berdaya mencegah segala kesalahan dan merobahnya menjadi kebaikan, kalau tidak,
orang berdosa pada Tuhan, tiada tempat memohon ampun, terutama orang yang siu
too (melakukan ajaran Ketuhanan), hanya mengutamakan Too, tentang untung dan
rezeki itu adalah urusan kedua. Cobalah kita lihat para raja dari zaman dahulu yang
mempunyai rezeki yang berlimpah-limpah itu sekarang bagaimana? Maka tepat sekali
kata-kata dari Go Tjo (Patriach ke 5): “Manusia hanya mengharap rezeki, tidak
memikirkan kesesatan atas rohnya sendiri demikian rupa, mana ada rezeki yang
diharapkan?”

40. Apakah Artinya Memasang Batang Dupa Dengan


Tangan Kiri dan Menancapkannya Pertama Di Tengah?

Tangan kiri diartikan baik, karena tidak memegang pisau, tidak memukul orang,
maka menggunakannya yang baik untuk memasang hio; tentang terlebih dulu
menancapkan tengah, diartikan dalam Tao ialah: Tengah adalah pokok sebagai Ajaran
Ke-Esaan, Tengah berarti tidak miring tidak mendoyong. Esa berarti tunggal tiada ke-
duanya, itulah dasarnya Tao. Maka apabila menyajikan Hio terlebih dulu
menancapkan tengah berarti aku; dapat diumpamakan dalam satu kota, apabila kita
berada di pintu timur, letaknya kota ada di sebelah barat kita; apabila kita berada di
pintu selatan, kota letaknya di utara kita; akan tetapi letak kota yang sebenarnya tidak
berubah, yang menjadikan tiba-tiba di timur dan mendadak di barat, hanya perubahan
gerak kita.

Diriku termasuk tengah, apa saja baik di atas langit maupun di bawah tanah dan
segala benda semuanya berpangkal pada diriku yang mengunjukannya. Selain langit
dan bumi, manusiapun besar; berada di manapun tengah, karenanya orang tidak boleh
merasai dirinya kecil (rendah diri) dan tidak boleh merasa besar (sombong).

38
41. Dapatkah Dijelaskan Kata-kata Pribahasa
Mengenai 1, 2, 3, Dapat Belajar Kedewaan ?

Lao Tse mengatakan: “Tao menciptakan satu, satu melahirkan dua, dua
melahirkan tiga, dan tiga melahirkan semua benda.” Arti dari Satu adalah ghaib dan
lembut sangat sempurna; apabila manusia mendapat itu bukankah ia akan menjadi
orang saleh atau suci? Maka arti tengah dari kata-kata “Pegang selalu Tengah” ialah
Satu. Satu atau Esa ini adalah Pelajaran Nurani yang diajarkan berturut-turut dari
para nabi. Kalau ingin mengetahui asal pokoknya Satu ini, seharusnya menuntut Tao
dengan penuh keimanan. Setelah menuntut Tao akan dapat mengerti asal mula dari
Satu itu.

Ada Pribahasa: “Menguraikan Tao tidak meninggalkan tubuh, menempa besi


tidak meninggalkan landasan”, maka para pujangga mengatakan: “Balik mencari pada
diri sendiri akan memperolehnya”. Yang dinamakan Satu ialah rohnya sendiri, pada
masih di langit dinamakan Li (Hakekat Tuhan), berada pada manusia ialah roh; roh
adalah satu, hawa ialah dua, diri ialah tiga, maka siapa yang mengenal 1,2,3, boleh
belajar kedewaan. Adapun Tao itu meliputi semua, siapa yang dalam gerak-geriknya
sesuai dengan Sang Pencipta, dialah Tao Sejati.

42. Apakah Tidak Lebih Baik Mendapat Penerangan


Terlebih Dulu Baru Menuntut Tao ?

Bahwasanya manusia pada zaman ini hatinya sudah tidak luhur lagi, benar dan
serong keduanya terpijak pada dirinya, maka harus dibuktikan bakat kebuddhaannya
dan melihat kecerdasannya, yang dapat membedakan antara tulen dan palsu, baru
boleh diajarkan sesuatu; kalau terlebih dulu diberi penjelasan, bagaimana dapat
menelitinya, lagi pula ajaran suci walau para rosul zaman dulu-dulu pun tidak
memberikannya secara sembarangan kepada khalayak umum. Maka ada ucapan: Tao
tidak diturunkan pada bukan waktunya, dan tidak diajarkan pada orang yang bukan
semestinya. Walaupun dikatakan bahwa sekarang adalah masa penyelamatan umum,
namun seharusnya terlebih dulu ada kesungguhan minat untuk dibuktikan
keimanannya, demikian baru dapat diberikan ajaran, kalau tidak siapa berani
mendahului kehendak alam?

39
43. Apa Yang Menyebabkan Kejodohan?

Membicarakan sesuatu yang mengenai kejodohan (gaya gabung), sebaiknya


dimulai dari bibit-bibit pokok pada kehidupan sebelumnya; kalau diketahui bahwa
orang itu memang benih buddha, hendaknya sifat asalnya tentu cemerlang (bukan
dungu), apabila sekali mendengar tentang Tao serta merta kepercayaanya akan timbul,
begitu mendengar lalu percaya, setelah percaya lalu suka melaksanakannya, itulah
yang dikatakan jodoh dengan buddha.
Yang dinamakan ganjaran atau kedudukan ialah: orang yang mempunyai jodoh
apabila mendapat Tao tentu setiap saat memegangnya erat-erat dalam sanubarinya
seolah-olah khawatir berada di belakang orang lain, maka selalu diusahakan
mengumpulkan budi dan jasa tanpa ayal. Orang yang berlaku demikian tentu
akhirnya akan mendapat Kesempurnaan. Setelah mendapat kesempurnaan lalu
mendapat kedudukan sesuai dengan jasa amalnya.

Akan tetapi ada sesuatu hal, bahwa tahu sesuatu, tapi tidak mau mempela-jari atau
melaksanakan, orang sedemikian dibilang tidak ada jodoh; adapula yang suka belajar,
tapi tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, karenanya tidak dapat ganjaran.
Pribahasa mengatakan: “Dikala muda tidak suka belajar, sampai hari dewasanya tidak
memperoleh kepandaian; dikala dewasa tidak suka belajar, pada hari tuanya akan
mengalami kesusahan.” Hendaknya jangan menganggap bahwa hari ini tidak usah
belajar karena masih ada hari esok, tahun ini tidak belajar karena masih ada tahun
lain. Ketahuilah bahwa jalannya hari dan bulan sedemikian cepat, sekejap pun tidak
menanti kita. Maka apa yang harus dikerjakan namun tidak dikerjakan, tentu akan
menimbulkan sesal dikemudian hari. Bukankah seorang bijaksana tidak berbuat hal-
hal yang sesal, seandainya terlanjur sesal, dapatkah diburu?

44. Apakah Atom Itu ?

Pada permulaan peredaran masa In Hui, keadaan primitif sedemikian rupa,


sehingga tidak ada perbedaan antara hewan dan manusia yang makan dan minum
darah dan bertempat tinggal di gua atau di atas pohon, tidak mempunyai pengertian
mengurus tata dunia, walaupun ada manusia tapi seperti juga tidak ada. Tuhan
menampak keadaan dunia yang tidak selayaknya, maka diutuslah para Benih Buddha
dari langit Barat turun ke Bumi Timur. Benih Buddha itu juga dinamakan atom.
Selanjutnya Yu Ch’ao-Sze membuat istana, Sui Jen-Sze menemukan api, Hou Chi

40
mengajar rakyat bercocok tanam, Sen Nung-Sze mencicipi rumput untuk obat, Hsuan
Yuan-Sze merencanakan pakaian dan topi, Ch’iang Shieh membuat huruf, Ling Lun
membuat alat musik dan setelah mana menetapkan irama dan perpaduan musik
hingga kebudayaan lambat laun berkembang. Untuk ditilik asal mulanya tidak lain
ialah berkembangnya roh mujijat.

45. Penjelasan Tentang Langit Barat dan Bumi Timur

Artinya langit barat diambil dari kiasan bahwa barat itu termasuk warna putih,
dan putih itu adalah warna dasar, seumpama roh (watak) manusia, memang tidak
terjangkit sedikitpun kotoran, putih murni tanpa cacat. Adapun perangai yang
dimilikinya itu, dikarenakan terjangkit pada kehidupan di dunia ini. Maka dari itu
apabila akan kembali ke asal pokoknya seharusnya berusaha menyimpan hatinya
untuk memelihara rohnya, dari mana ia semula datang dan disana pula ia harus pergi.

Bumi dinamakan Bumi Timur; timur adalah permulaan, sebagai musim semi
berarti murah hati yang berarti pula yang dapat menciptakan segala benda. Maka ada
Pribahasa mengatakan: “Berbuat di timur dan hasilnya di barat” atau dalam istilah lain
dikatakan: “Dari Langit Barat dilahirkan ke Bumi Timur, dan pula dari Bumi Timur
kembali ke Langit Barat”.

46. Sungguhpun Tao Itu Benar, Mengapa Banyak


Yang Tidak Percaya ?

Soal ini dikarenakan: pertama, tergantung kepada kebajikan leluhur dan kedua
atas dasar bakatnya sendiri. Orang yang mempunyai ikatan bakat, begitu mendengar
lalu dipegangnya erat-erat, sebaliknya yang tidak punya ikatan bakat walaupun
dipaksa juga tidak mau. Orang yang tidak punya bakat Kebuddhaan agaknya sukar
akan memasuki jalan Kebuddhaan, dalam kata lain , keluarga yang mempunyai
kebajikan akan melahirkan anak yang suka mempelajari Kebuddhaan. Kiranya dapat
diandaikan sebuah gunung tambang didalamnya terdapat banyak emas, oleh
pemerintah diijinkan bagi rakyat untuk minta ijin guna mengambilnya; tapi sebagai
rakyat yang kurang pengertian, hal itu sedikitpun tidak diambil perhatian, bahkan
dikira isinya batu belaka; akan tetapi bagi orang-orang yang pandai sedikitpun tidak
ayal, mereka segera minta ijin untuk mengusahakannya sehingga mendadak sontak

41
menjadi kaya raya oleh penghasilan emas tersebut, dan akhirnya rakyat yang kurang
pengertian itupun mengetahui bahwa sebenarnya di gunung tersebut mengandung
emas, maka tergesa-gesalah mereka juga ingin minta ijin guna ikut mengusahakan;
namun sayang sekali bahwa sudah terlambat, emas yang tersimpan dalam gunung
tersebut sudah dikuras habis oleh mereka yang berpikiran pandai, maka mereka yang
kurang pengertian hanya sesalkan diri saja.
Perumpamaan diatas sama artinya dengan “pada siapa yang mempunyai ikatan bakat
dapat menemui Buddha di dunia, dan siapa yang tidak berbakat, menemukan Buddha
sudah ke Nirwana”.

47. Apa Sebabnya Penganut-Penganut Baru Pada


Mulanya Giat Akan Tetapi Lambat Laun Menjadi Lengah ?

Kata-kata dari pujangga dahulu: “Untuk mendapatkan Tao mudah, namun


membinanya sukar; sekalipun membina Tao mudah, tapi untuk menyelesaikan-nya
sukar”.
Pribahasa mana menjunjukkan bahwa kebiasaan manusia yang tidak dapat bertekun
dari awal sampai akhir. Cara pujangga zaman dahulu mendidik manusia dengan yang
sadar menyadarkan yang belum sadar, yang belum sadar meniru pada yang terlebih
dahulu sadar. Pada masa penyelamatan umum seperti dewasa ini, berhasil atau
gagalnya di masing-masing tempat ibadat tergantung kepada si penanggung jawab.
Hendaknya sedikitpun tidak boleh lengah, seumpama genta kalau tidak ditabuh tidak
akan bersuara, demikian juga manusia kalau tidak dibangunkan tidak mendusin. Sabda
dari nabi: “Orang yang dapat memperkembangkan Tao, bukan Tao yang dapat
memperkembangkan orang”. Orang-orang pandai zaman dahulu masih menantikan
bimbingannya guru, apalagi orang-orang awam zaman sekarang. Maka bagi pimpinan
yang bertanggung jawab harus memikirkan tugas mendidik, harus menitik beratkan
pada prilaku dirinya untuk dibuat suri teladan. walaupun ada kata-kata: “ Ada datang
belajar, tidak ada pergi mengajar”. Namun kalau tidak diajar, yang dapat mencapai
kesempurnaan hanya sedikit sekali. Maka sebaiknya menganjurkan pada In Poo
(pengajak dan penanggung) masing-masing rajin memberikan penerangan tentang
membina diri, menjaga raga, membuang kebiasaan buruk, memantang perzinahan,
melakukan pri-kemanusiaan, hormati Firman Tuhan, bersemangat teguh,
membersihkan fikiran, bersemedi, berlaku hormat, sembahnyang, berpantang makan
(tjiak-djay), merubah yang buruk dan keliru dan berpikiran sadar. Ke-enambelas
syarat di atas tadi harus ditaati benar-benar. Orang-orang suci mengatakan: “Tidak ada
jasa yang tidak menghasilkan buah, tiap-tiap jasa menyempurnakan orang lain,
sebenarnya untuk kesempurnaan sendiri”.

42
48. Apakah Benar Kemajuan Tao Dibarengi
Dengan Rintangan ?

Sejak manusia dilahirkan pada In Hui, berturut-turut menemui macam-macam


mara bencana; dosa manusia bertumpuk-tumpuk laksana gunung, timbunan dari
kehidupan yang lalu belum terselesaikan sudah disusul pula dengan yang diperbuat
pada kehidupan sekarang, hingga jatuh pada tumimbal lahir yang tidak henti-
hentinya, karenanya hutang dosa bertumpuk-tumpuk banyaknya. Maka apabila orang
mendapat Thian Too, para iblis lalu menagihnya kepada Giam Loo Ong, karena
khawatir ia akan bebas dari dunia, pulang ke Li Thian, hingga tidak dapat menagihnya
kembali. Adapun Giam Loo Ong adalah sangat adil sekali, tentu tidak akan mencegah
penagihan pada orang yang mempunyai hutang, karena itu terjadilah perangkap-
perangkap halangan, atau rintangan yang tidak terduga-duga atau tertimpa sakit dan
lain sebagainya. Juga ada kemungkinan timbul penggodaan baik terang ataupun gelap
guna membayar hutang dari perbuatannya yang lalu. Bagi orang yang dangkal, ia akan
mengeluh bahwa ia sudah menjalankan kehidupan Too, mengapa masih menemui
kemalangan saja hingga menjadi cemoohan orang lain? Karena itu ia lalu mundur atau
berhenti. Hendaknya perlu diketahui bahwa batu kemala apabila tidak di gosok tidak
akan menjadi barang yang berharga; emas apabila tidak digembleng pun tidak akan
berharga; sama juga seandainya tidak ada gunung tidak akan tampak tinggi rendah;
demikian juga dengan besi yang baik, karena telah mengalami pukulan dan
gemblengan. Bagi orang yang Siu Too sebaiknya berlaku sabar dan tahan uji hingga
sesuai dengan nasehatnya Khong Tju yang berbunyi: “Apabila tidak tahan derita kecil
akan mengalami kekacauan besar”.

49. Apakah Makna Dari Arti Terkutuk Dan


Terhukum Oleh Petir ?

Hukuman petir dan kutukan Tuhan adalah kata-kata biasa yang mengartikan
terhukum oleh lima petir. Petir tergolong pada Yang dan keras; Lima Petir ialah Petir
Udara, Petir Bumi, Petir Positif, Petir Negatif, dan Petir Dharma.
Terjadinya Petir Udara akan menyirnakan halimun gelap, bergeraknya Petir Bumi
akan menggerakkan juga segala benda, timbulnya Petir Positif akan memusnahkan
sifat jelek, apabila Petir Negatif timbul maka segala iblis akan lari tunggang langgang
dan Petir Dharma bergerak akan cemerlanglah Too Yang Maha Besar. Suara Petir itu
akan menyadarkan orang yang buta dan tuli. Lima macam petir termaksud tadi

43
sebenarnya terdapat juga pada diri manusia, misalnya apabila malu dan marah akan
terlihat pada air mukanya yang merah dan kupingnya seperti terbakar, bukankah itu
sama dengan Petir Udara? Apabila tingkah lakunya tidak benar, segala kehendaknya
tidak dapat kemajuan, bukankah sama dengan Petir Bumi? Apabila melanggar batas
kesopanan hatinya akan meratap dan was-was, bukankah karena terkena Petir Positif?
Apabila mempunyai rencana jahat orang akan merasa tidak tenteram bukankah ia
terkena Petir Negatif? Dan lain-lain soal yang tidak beraturan yang menimbulkan
hatinya kalut dan kacau, bukankah itu karena gerakannya Petir Dharma? Dikala lima
petir itu bergerak dan saat kebenaran akan mengambil tindakan, pada saat itu kalau
orang bisa berbalik sadar dan sesalkan diri, menaruh hormat pada Petir Udara untuk
membuka pintu sorga, waspada pada Petir Bumi untuk menutup pintu bumi,
memeluk Petir Positif untuk menjaga hawa asalku; memantang Petir Negatif untuk
memperkokoh mani asal dan pegang erat-erat Petir Dharma untuk ketenangannya roh
suci hingga Tri Ratna akan berpadu, lima hawa akan membeku, dan akan mudah
memulihkan roman asal hingga selamanya menikmati ketenangan. Demikian kesan
dari desiran petir dari Tjiu-kong dan perubahan desiran petir dari Khong Tju, kalau
tidak sekalipun digoncang sarinya, dihamburkan hawanya, diletihkan semangatnya,
ataupun direbut arwahnya dan dikejutkan sukmanya sampai bentuknya kurus kering
dengan dihinggapi macam-macam penyakitpun akan tidak tahu tentang kematiannya,
apakah harus menanti sampai datangnya sambaran petir yang bermakna saja baru
akan menunjukkan wujud balasannya?

50. K a r m a

Karma berarti karena penyebab akan menghasilkan buahnya. Bahwasanya


manusia tidak dapat melaksanakan: berbuat segala apa yang membawa kebaikan dan
jangan berbuat apapun yang bergejala buruk; dikarenakan mereka tidak mengerti
hakekat dari balas imbalan sebab musabab (hukum sebab akibat). Hendaknya perlu
diketahui bahwa Hukum Alam itu laksana cermin, yang fungsinya menghasilkan
bayangan yang sangat tepat sekali. Apabila sebab yang ditanam baik tentu akan dapat
imbalan buah baik, dan sebaliknya apabila sebab yang ditanam buruk maka hasilnya
pun tentu buruk pula.

Sao Khang Tjiat Hutju mengatakan: “Ada orang yang tanya akan peruntungannya,
bagaimana terjadinya bahagia dan bencana? Apabila saya merugikan orang lain itulah
bencana, sebaliknya kalau orang lain merugikan saya itulah bahagia. Memiliki ribuan
buah gedung besar, yang digunakan untuk tidur hanya 8 kaki saja; mempunyai
laksaan hektar sawah, tapi yang dimakan hanya seliter sehari; perlu apa tanya nasib
dan peruntungan, menipu orang lain akan mendatangkan bencana, mengampuni

44
orang lain itulah bahagia. Jaringan Hukum Alam itu meliputi segala apa saja maka
datangnya balas imbalannya pun cepat sekali”.

Juga Thay Siang mengatakan: “Tanam semangka mengahasilkan semangka, tanam


kacang memperoleh kacang, apabila menanamnya tepat tumbuhlah akarnya dan
menghasilkan buah, baik semangka ataupun kacang, buahnya menurut yang ditanam”.
Dalam Kitab Buddha: “Kalau ingin tahu sebab-sebab dari kehidupan lampau, lihatlah
saja apa yang diterima pada kehidupan sekarang, kalau ingin tahu buah bagi
kehidupan mendatang, lihatlah saja perbuatan apa yang diperbuat pada kehidupan
sekarang ini”. Ada sebab tentu ada akibat, ada akibat tentu ada sebab, sebabnya pahit
akan berbuah pahit, sebabnya gembira hasilnya tentu juga gembira, hendaklah kita
jangan meragukan lagi.

51. Apakah Ada Persamaan Tentang Ngo-Siang,


Ngo-Kay dan Ngo-Hing ?

Ajaran Jin Gi Lee Ti Sin (Welas asih, Pri-kebenaran, Kesusilaan, Kecerdasan dan
Kepercayaan) yang diajarkan oleh kaum Kong Tju itulah Panca Budi; dasar-dasar
memantang melakukan pembunuhan, pencurian, perzinahan, kedustaan, dan
pemabokan yang diajarkan oleh kaum Buddhis. Itulah Panca Sila dan Lima Unsur atau
Ngo Hing --Logam, kayu, air, api dan tanah yang diajarkan kaum Taois, ketiga istilah
diatas dari Tiga Agama walaupun namanya berbeda namun hakekatnya adalah satu.

Mengapa? Coba kita pikir, apabila tidak memantang membunuh, tidak dapat
dikatakan welas asih, berarti pula kekurangan kayu; apabila tidak memantang
pencurian berarti tidak memantang prilaku benar, sama dengan kekurangan logam;
apabila tidak memantang perzinahan, tidak dapat dinamakan berkesusilaan dan itu
kekurangan api; apabila tidak memantang perangsang-perangsang yang memabokan
sama dengan perbuatan tidak cerdas , berarti kekurangan air; dan apabila tidak
memantang kedustaan sama dengan tidak mempunyai kepercayaan, dan berarti
kekurangan tanah.
Maka kaum Khong Tju mengajarkan orang tentang Panca Budi disesuaikan dengan
Ajaran Tiong Si (tepo seliro); kaum Buddhis mengajarkan Panca Sila sesuai pula
dengan cita-citanya welas asih, dan kaum Taois mengajarkan orang membina Lima
Unsur untuk berinspirasi kepada kesucian, ketiga istilah yang mana pada hakekatnya
sama.

45
52. Mengapa Tidak Memantang Sex Yang Dapat
Merusak Tubuh ?

Persilangan langit dan bumi menimbulkan segala macam benda, persetubuhannya


antara wanita dan pria melahirkan manusia, itulah penciptaan layak. Kedua kaum
Buddhis dan Taois selamanya menaruh kasihan atas belenggu ikatan anak isteri yang
tidak akan dapat terbebas selama hidupnya, karenanya tidak memerintahkan
perkawinan. Dewasa ini adalah pada tahap pembebasan umum dan tidak melanggar
pri-kemanusiaan, ayah dengan anak ataupun suami isteri dapat tinggal bersama
sekeluarga. Bagi kaum cendekiawan tidak ada halangan untuk belajar, kaum tani tidak
ada rintangan untuk bercocok tanam, bagi kaum karyawan tidak ada halangan untuk
bekerja dan usahawan pun tidak akan menyia-nyiakan usahanya, tiap-tiap orang dapat
melakukan berbarengan, baik usaha Ketuhanan maupun kemanusiaan, dilakukannya
dengan penuh keimanan di rumah tangga. Ajaran orang budiman dimulainya dari
suami isteri bagi pokok pangkalnya. Yang dikatakan memantang sex ialah terletak
pada batas-batas tertentu saja. Apabila ada orang budiman yang terlebih dulu sadar
dan atas keyakinannya takut akan belenggu rumah tangga, dan karenanya ada yang
menjaga sebelum menderita. Adapula yang dapat berlaku rajin dan hemat serta
menaruh penuh perhatian untuk memelihara diri, hingga segala gerak-geriknya selalu
bercondong kepada kebaikan, dengan prilaku yang baik itu ia tidak merugikan nama
baik leluhur, dan tidak mengecewakan anak keturunannya. Coba lihat huruf Hao
(bakti), yang atas terdiri dari huruf tua dan yang bawah dari huruf anak. Apabila
orang tidak mempunyai keluarga, dimisalkan lima puluh tahun lagi dunia akan kosong
tidak ada manusia, apakah masih ada yang akan mempersoalkan Tao lagi?

53. Mengapa Sukar Menghilangkan Kebiasaan Berbahaya


Atas Pemabokan, Sex, Kehartaan, Dan Temperamen ?

Pemabokan dan sex sudah tercakup dalam Ajaran Panca Sila dari kaum Buddhis,
karena arak yang memabokan itu dapat mengacaukan karakter, perbuatan sex dapat
merusak kesehatan, kehartaan dapat merusakan pri-kebajikan, temperamen tinggi
dapat merusakan hati dan pemadatan akan merusak semangat, maka dinamakan Lima
Racun Dunia.

46
Langit mempunyai hawa yang terdiri dari lima unsur, bumi mempunyai benda dari
lima unsur, manusia mempunyai isi perut dari lima unsur, apabila digunakan dengan
betul, itulah Lima Kelayakan (Panca Budi), sebaliknya kalau menggunakannya secara
menyimpang maka itulah racun. Adapun arak, sex, harta, temperamen, serta
pemadatan adalah Perubahan Lima Unsur, Venus berubah menjadi harta, Jupiter
berubah menjadi sex, Mars menjadi hawa, dan Saturnus menjadi kukus. Manusia
apabila tidak mempunyai tekad teguh untuk menghapus, mungkin akan terikat oleh
lima unsur tadi. Sekalipun dikatakan bahwa pada saat ini dapat kemurahan akan
pembebasan umum, namun harus pula menerapkan secara benar baru ada gunanya.

54. Membina Bathin - Siu Lian

Mengatur hingga aman itulah Siu (mengurus/membina). Menyingkirkan yang


negatif dan mengambil yang positif itulah Lian (menggembleng/menempa).
Manusia setelah mempunyai badan raga , lalu lambat laun timbul nafsu
pribadinya. Nafsu pribadi itulah negatif, watak asal itulah positif. Berbalik meneliti
dan memeriksa ke dalam yaitu dengan cara menggunakan positif tulen untuk
merubah pribadi negatif. Di dalam menggembleng hawa negatif dan di luar
menempa hawa positif. Luar dan dalam bersamaan menambah usaha agar rata,
jangan sampai berlebihan ataupun kekurangan. Usaha demikian dilakukan lama
kelamaan akan secara wajar dapat Keharmonisan Tengah yang bermanfaat.

55. Berbalik Meneliti Dan Memeriksa Ke Dalam

Dalam Kehidupan manusia banyak menemui macam-macam pemikiran,


bahwasannya kalau memikir keluar, seolah-olah meluncur licin, akan tetapi kalau
memikir ke dalam menanjak berat. Namun yang dikhawatirkan adalah bahwa jalan
meluncur itu justru mudah menemui bahaya yang memungkinkan menjadi setan.
Sebaliknya jalan menanjak selalu menggunakan kecermatan yang hasilnya mencapai
kesempurnaan. Sama dengan prilaku, kalau terlepas/diumbar mudah menjadi setan,
dan kalau ditahan menjadi suci.

47
Maka memperingatkan orang belajar Tao sama dengan mengajar mereka menahan
kembali hatinya. Menahan hati sama dengan menahan pikiran, dan menahan pikiran
adalah berbalik meneliti dan memeriksa ke dalam. Kapan saja ada kesenggangan
hendaknya menarik kembali pikirannya disitu, hingga terlupalah Aku dan Kau.
Kelanggengannya hal ini adalah cara terbaik bagi melepaskan derita untuk mendapat
kebahagiaan. Di dalam Kitab Buddha ada disampaikan: “Sepanjang hari suntuk
ingatlah baik-baik jangan meninggalkan ini”. Khong Tju pun mengatakan: “Belajarlah
dan diulangi pada setiap saat”. Kedua-duanya adalah Ajaran bagi yang berusaha dalam,
maka bagi orang yang berminat pada Tao harus memperhatikan ini.

56. W e l a s A s i h

Welas asih adalah selalu terkandung oleh orang-orang Buddhis; merasakan


bersama atas penderitaan orang lain itulah kasih; simpati atas kesusahan orang lain
itulah welas, derita yang ditimpa oarang lain pun menjadi derita saya, dan sayapun
ikut susah atas kesusahan orang lain. Dalam arti lain: Mencabut derita itulah kasih,
memberi kesenangan itulah welas; makhluk adalah buddha dan buddha adalah
makhluk; makhluk terbenam di lautan derita, maka Buddha berjanji untuk
menyelamatkan, apabila tidak berwelas asih itu bukanlah buddha.

57. Apakah Tujuan Dari Perpaduannya Manusia Dan Alam ?

Semesta adalah Macrocosmos, dan manusia adalah Microcosmos, atau dengan kata
lain: manusia adalah semesta kecil, sedang semesta ini terdiri dari alam abadi, alam
hawa, dan alam wujud. Manusia juga mempunyai keabadian, hawa dan wujud, tulang
daging dan lain-lain.
Anggota badan ialah wujud, pernafasan dan hawa yang mengalir ke seluruh tubuh
itulah hawa, dan roh yang menguasai seluruh tubuh itulah abadi. Wujud manusia
saling kontak dengan wujud alam semesta, pernafasan orang bersambung dengan
hawa semesta, andaikata hawa semesta itu memenangkan atau lebih kuasa daripada
abadi — hakekat, akibatnya akan tidak ada keharmonisan pada isi semesta, beredarnya
empat musim pun tidak betul, datangnya angin dan hujan pun tidak cocok serasi,
manusia akan kehilangan kemanusiaannya, keadaan masyarakat kacau dan
memburuk, timbullah macam-macam mara bahaya, maka datanglah bencana yang
bertubi-tubi. Sifat keabadian yang ada di dalam tubuh manusia tertutup oleh hawa,

48
lalu lenyaplah keharmonisan kelanggengan, yang akibatnya manusia selalu terombang
ambing dalam kesesatan dan mengumbar nafsunya hingga terjerumus ke dalam roda
tumimbal lahir yang akan mengalami damparannya gelombang mati dan lahir yang
tidak ada batasnya.

58. Alam Abadi, Alam Hawa, Dan Alam Wujud

Alam Abadi adalah hampa udara, tiada warna dan wujud, tiada suara dan bau,
melainkan kemujijatan saja. Dalam kesunyiannya demikian hampa dan mujijat,
tenang tanpa gerakan, namun tiada sesuatupun yang tidak berada dalam
rangkumannya. Dalam kenyataanya demikian sakti dan mujijat, getaran ilhamnya
menembus ke dalam benda yang bagaimana lembutnyapun akan terasa. Walaupun
tidak mempunyai warna dan bentuk, namun dapat memelihara segala rupa dan benda;
sekalipun tiada suara dan bau, akan tetapi dapat menguasai segala suara dan bebauan;
walaupun dilihat tidak tertampak dan didengar tidak kedengaran, tapi tidak sesuatu
bendapun yang ditinggalkan olehnya. Tidak ada yang melahirkannya, iapun tidak
dilahirkan dan tidak mati, ia selalu terang dan mujijat, bahkan pokok asas dari segala
benda, apapun baik berbentuk gas, maupun berbentuk benda, tiada satupun yang
terlepas dari kekuasaannya. Segala benda tinggal utuh iapun tinggal utuh; segala benda
lenyap binasa, ia akan tetap utuh. Dalam Kitab Sim King dikatakan: “Tidak terlahir,
juga tidak mati; tidak kotor tidak bersih; tidak lebih tidak kurang; itulah gambar
‘wujudnya’.” Maka dikatakan sebagai: Wujud dari yang tidak berwujud, itulah wujud
sejati, badan yang tidak berbadan itulah badan yang tulen.

Alam Hawa adalah gas udara yang berada di semesta, yang juga dinamakan langit,
karena gas udara itu ringan dan bersih. Bumi adalah wujud dari yang berat dan kotor.
Yang ringan bersih tergolong pada sifat positif, sedang yang berat kotor tergolong
pada sifat negatif. Kedua sifat negatif dan positif itu saling bertentangan, maka
dinamakan Khian Khun; Khian ialah langit dan Khun ialah bumi atau sering juga
dikatakan semesta dengan isinya. Langit yang termaksud ini ialah langit dari alam
hawa. Apabila tidak ada langit termaksud, bumi pun tidak dapat bertahan, makhluk
apapun tidak dapat hidup, bahkan sampai matahari, rembulan, planet, dan bintang
juga tidak dapat mengapung, segala benda tidak akan bertahan, maka kegunaannya
mengedarkan dan menaik turunkan atau dengan diam-diam memutar empat musim
dan mengawal atau mengakhiri segala sesuatu.

Alam Wujud adalah wilayah dari benda-benda beraneka warna yang dapat
dilihat, misalnya matahari, rembulan, planet, dan bintang yang berada di langit, dan
segala logam, tumbuh-tumbuhan, binatang, serta gunung dan sungai yang berada di

49
bumi, atau apa saja yang berbentuk berwujud, tak peduli yang berperangai ataupun
tidak berperangai, semuanya tergolong pada alam wujud.

Maka Hakekat Abadi adalah badan suci—roh pemberian Tuhan—dari Alam


Abadi. Sedangkan Hawa adalah positif dan negatif—Im Yang dari Thaykik (Alam
Hawa). Adapun Wujud ialah segala yang berbentuk; yang prosesnya terlebih dulu
adalah Abadi lalu melahirkan Hawa dan dari Hawa lalu melahirkan Wujud; dan
proses kehancurannya mulai dari yang berwujud terlebih dulu musnah, sesudah itu
lalu hawa, tapi Abadi tidak akan rusak atau hancur. Dimisalkan orang apabila
menghadapi ajalnya, terlebih dulu pandangan dan pendengarannya kabur, kaki dan
tangannya tidak wajar, kemudian akhirnya mati. Tinggallah roh mujijat berputar
kembali ke roda tumimbal lahir pada kerangka lain. Maka kalau ingin terbebas dari
roda tumimbal lahir, tidak boleh tidak membina diri pada Ketuhanan.

Kong Tju mengatakan: “Pada pagi hari mengerti akan Tao, walaupun sore harinya
mati pun puas”. Itulah jalan bagi pembebasan dari putarannya roda tumimbal lahir
yang dapat mengakhiri hidup dan mati.

59. Bagaimana Dapat Mengetahui Alam Wujud


Dan Alam Hawa Akan Rusak ?

Alam Hawa terdapat unsur positif dan negatif, karenanya terjadi perubahan, dan
sebab ada perubahan lalu terjadi mati dan hidup, awal dan akhir. Dalam Kitabnya
Khong Tju disuratkan: “Segala benda ada pangkal dan ujungnya dan segala soal ada
awal dan akhirnya”.
Maka langit, bumi, matahari, bulan, manusia, dewa, ataupun tanaman dan makhluk
baik di air ataupun di udara semuanya ada pangkal ujungnya. Sekalipun berputarnya
empat musim dan pergi datangnya dingin serta panas ataupun perubahan cuaca:
angin, hujan dan awan atau terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan dan juga
adanya bulan sabit dan purnama, bukankah semuanya ada awal dan akhir.
Bagi awal dan akhirnya alam hawa memakan waktu 129.600 tahun yang terbagi
dalam 12 putaran, dan tiap putaran istilahnya sebagai Tju, Thiu, In, Bao, Sin, Se, Ngo,
Bi, Sin, Yu, Sut, Hay. Enam putaran termasuk masa penyuburan dan enam putaran
lainnya termasuk masa surut atau masa buka tutup. Mulai putaran Tju sampai Ngo
ialah awal dari tidak ada menjadi ada, dan dari putaran Ngo sampai Tju ialah masa dari
ada menjadi tidak ada. Langit tercipta dari putaran (stadium) Tju, dan sirna pada
stadium Sut, bumi terjadi pada stadium Thiu dan habis pada stadium Yu, sedangkan
manusia dilahirkan pada stadium In dan musnah pada stadium Sin. Maka stadium Hay
adalah masa kabur sampai kelanjutan putaran seterusnya Tju membentuk langit

50
kembali, hingga secara demikian timbul perputaran ulang yang tidak kunjung henti.
Dalam Kitab Sejarah dicatat: “Langit terbuka pada Tju, bumi terbikin pada Thiu, dan
manusia lahir pada In”. Istilah-istilah tersebut diatas dapat dibuktikan bahwa awal dan
akhirnya alam hawa, dan mengenai alam wujud kiranya tidak perlu disangsikan lagi.
Dengan adanya perubahan dari alam hawa dapat kiranya dipakai sebagai ukuran
untuk menelaah dari yang kecil kepada yang besar, misalnya: satu hari terdiri dari
siang dan malam tepat dengan 12 waktu (tiap waktu 2 jam), siang hari termasuk positif
dan malam hari ialah negatif, jadi satu hari terjadi masa pembukaan dan masa
penutupan. Hari demi hari sedemikian dan seterusnya setahun dengan empat musim
tepat 12 bulan, kedua Musim Semi dan Panas sebagai positif dan Musim Gugur serta
Dingin sebagai negatif, yang serupa juga dalam setahun itu ada pembuka dan penutup.
Tahun demi tahun pun serupa, maka perhitungan itu dapat dilanjutkan pada stadium
panjang yang dinamakan Goan—satu Goan terdiri dari 12 Hui atau putaran (stadium).
Stadium Tju timbul positif, Stadium Ngo turunlah negatif, dalam Stadium Ngo dapat
diumpamakan seperti masa lohor (ngo) pada satu hari, dan Stadium Tju sama dengan
waktu ditengah malam.

Tju adalah masa dari awal pembukaan, sedangkan Ngo adalah awal dari dari masa
penutupan. Sebelu masa Ngo dari tidak ada memasuki tahap ada, dan setelah Masa
Ngo dari tahap ada memasuki tahap tidak ada, maka Stadium Ngo itu adalah kunci
dari Satu Goan (Stadium Panjang). Perubahan-perubahan perhitungan hawa yang
terjadi pada Stadium Ngo juga menjadi satu peristiwa ajaib. Maka jika dipikir secara
rasionil, perhitungan pada hari ini dapat dibuat patokan pada perhitungan besok,
perhitungan tahun ini dapat diperhitungkan pada tahun kelak. Perhitungan kecil dan
besar adalah satu hakekat atau satu rasio. Maka selanjutnya akan diketahui pula, dari
Stadium Panjang (Goan) pada masa ini dapat diketahui pula Stadium Goan
sebelumnya dan seterusnya. Demikian pula dapat dilanjutkan pada Stadium Goan
yang akan mendatang, karena semuanya cocok dan sesuai dengan jalannya alam, maka
dapatlah diterangkan dalam pikiran.

60. Bagaimana Membedakan Antara Sifat Abadi,


Sifat Ether, Dan Sifat Wujud ?

Orang dilahirkan dengan pembawaan Tiga Lima, dari Lima Asli menjadi Roh,
Dualima menjadi Wujud, Roh atau Sifat Asli itu mengandung Lima Layak Abadi,
begitu dilahirkan sudah komplit. Ketika manusia pertama kali menangis dalam
kelahirannya, hawa dari Alam Thay-Kik masuk melalui hidungnya, dan dari situlah
mulai perubahan atas sifatnya hingga sampai dewasa. Karena terikat dari keadaan
sekitarnya dan tertutup pula oleh nafsu kebendaanya, lalu sifatnya akan mengalami

51
perubahan sekali lagi. Dan karena perubahan dari keadaannya, maka sifat manusia
lalu ada perbedaan antara Abadi, Ether, dan Wujud. Yang mendapat dari Alam Abadi
sifatnya Abadi, bagi yang dapat dari Alam Hawa sifatnya Etheris, dan bersifat
Kebendaan pada yang mendapat dari Alam Wujud.

61. Sesama Manusia Mengapa Ada Yang


Suci, Bijak, Dan Bodoh ?

Sebab-sebab di atas sangat jelas dan mudah dimengerti, karena tiap-tiap orang
pembawaan Etheris-nya berlainan satu dengan yang lain, dan berbeda pula masing-
masing kesukaannya akan Kebendaan, ditambah pula perkembangan Sifat Abadinya
pun berlainan.
Siapa yang pembawaan Etheris-nya tipis, maka kegemaran akan kebendaan kurang,
sehingga perkembangan Sifat Abadinya jadi kuat. Orang demikian banyak minat pada
perbuatan baik dari para suci dan bijak, dan akan menjadi orang saleh.
Siapa yang pembawaan Etheris-nya tebal, kegemaran akan kebendaanya pun besar,
dan perkembangan Sifat Abadinya jadi lemah. Orang yang demikian sangat rindu pada
keadaan dunia ramai, mereka ialah orang dungu biasa. Sebaliknya, pada siapa yang
dapat menindas nafsu hawanya dan kembali pada Sifat Abadinya, ialah orang saleh
dan bijaksana. Siapa yang tidak dapat menindas hawa nafsu dan mengembalikan Sifat
Abadinya, ialah orang biasa.
Diumpamakan sebuah cermin yang bersih, kacanya memang bersih murni. Oleh
karena waktunya sudah lama dan banyak terkena kotoran, apabila tidak digosok maka
kaca tadi tidak akan bersih kembali. Demikian juga sifat manusia; maka Kaum Khong
Tju bilang: “Simpanlah hati (pikiran) untuk memelihara rohani”, bagi Kaum Taois
dikatakan: “Bina pikiran untuk menggembleng rohani”,
dan oleh Kaum Buddhis dikatakan: “Terangkan pikiran untuk menampak rohani”.
Ketiga istilah itu walaupun berlainan, akan tetapi tujuan dan cara mengajar pada
manusia untuk mengembalikan rohani adalah sama saja.

52
62. Semua Makhluk Dilahirkan Dengan Pembawaan
Sifat Abadi Yang Sama, Tetapi Mengapa
Hanya Manusia Yang Terpandai ?

Bahwasanya binatang hanya dapat dibagi dalam lima kategori atau bangsa yaitu:
Berbulu, Kulit Berbulu, Bersisik, Berbatok Keras, dan Telanjang.
Bangsa Berbulu dilahirkan membawa Hawa Api dari Selatan, sehingga dapat terbang
tinggi. Bangsa Kulit Berbulu dilahirkan membawa Hawa Kayu dari Timur, maka
diluar lunak namun keras didalamnya. Bangsa Bersisik dilahirkan membawa Hawa Air
dari Utara, maka dapat menyelam dan berenang. Bangsa Berbatok Keras dilahirkan
membawa Hawa Logam dari Barat, luarnya keras dalamnya lunak. Hanya Bangsa
Telanjang dilahirkan membawa Hawa Tanah dari Tengah-tengah, mendapat hawa
komplit dari lima penjuru, maka dapat menghimpun saripatinya tiga alam dan
mengenakan pakaian serta topi, bertempat tinggal di rumah. Empat Kejiwaan dari
hewan dengan Empat Kebajikan Yang Sempurna, maka manusialah yang terpandai
diantara segala makhluk, lebih tinggi dari makhluk lainnya maka dapat mencapai
Kesempurnaan Tertinggi.

63. Mengapa Sifat Manusia Ada Baik Ada Buruk ?

Baik dan buruknya sifat manusia ditentukan oleh Sifat Abadi, Sifat Hawa, dan
Sifat Wujud. Sifat Abadi sebenarnya suci dan terang, seluruhnya baik tanpa
keburukkan. Sifat Hawa ialah kotor dan bersih bercampuran, ada kalanya baik dan
ada kalanya buruk. Sifat Wujud melulu bernafsu kebendaan yang hanya buruk tanpa
kebaikan. Maka apabila menggunakan Sifat Abadi tertampaklah lima kelayakan/budi,
dan segala yang diperbuat cocok dengan tengah. Apabila menggunakan Sifat Hawa
mungkin bersih juga mungkin kotor, dan kalau menggunakan Sifat Wujud/Kebendaan
hanya tergerak oleh nafsu kebendaan dan perubahan sifat kebendaan itu sendiri lebih
banyak buruknya daripada baik.

Beng Tju mengatakan sifat atau watak baik itu artinya roh abadi. Ko Tju
mengatakan watak ada baik ada buruk, yang diartikan yaitu sifat dari alam hawa.
Sedang Sun Tju mengatakan watak buruk yang diartikan ialah sifat alam wujud. Apa
yang dikatakan Roh Abadi ialah mengutamakan keabadian bukan ke-etheran.
Karenanya Beng Tju adalah seorang nabi. Apa yang dikatakan sifat alam hawa ialah

53
hanya tahu hawa tapi tidak tahu alam abadi, maka Ko Tju hanya orang bijaksana. Apa
yang dikatakan sifat kebendaan hanya mementingkan nafsu kebendaan saja, tidak
mengerti akan ether dan abadi, maka Shun Tju tidak dapat digolongkan sebagai orang
saleh atau bijaksana.

Ketiga Pujangga di atas memperbincangkan baik-buruknya watak yang mereka


anggap berlainan karena perbedaan dari tebal dan tipisnya sendiri.

64. Apa Bedanya Roh Dan Sam Hun Tjhit Phik ?

Karena perbedaan tempat dan arah datangnya juga tidak sama, maka apa yang
dikatakan Hun (Animus—sifat baik) berdiam pada hati, dan Phik (Anima--sifat
buruk) berada pada paru-paru. Itulah dua hawa dari suksma manusia, apabila hawa
termaksud ada, orang masih hidup, akan tetapi apabila hawa itu hilang, orang tersebut
mati. Apa yang dikatakan tidak tambah tidak kurang, tidak kotor tidak bersih,
direndam tidak basah, dimasukan api tidak terbakar, hanya ganti rumah tidak ganti
pemilik, itulah Roh Sejati.
Maka kedua huruf Hun dan Phik separuhnya adalah terdiri dari huruf Kui-- setan,
sedang huruf Sing—roh, melihat kiri adalah lahir mati, melihat kanan ialah hati lurus
yang lahir, berdiam di Pintu Agung tidak masuk juga tidak keluar, mengurus segala
persoalan pada dirinya. Apa yang orang mengatakan hati, yaitu ditujukan pada wujud
benda; karenanya huruf Tao itu terlebih dulu menulis huruf Sou—utama atau kepala,
suatu soal besar yang utama harus dilakukannya di atas kepala.

65. Hati Kemanusiaan Dan Hati Ketuhanan

Yang keluar dari sifat kehawaan, itulah hati kemanusiaan, dan yang keluar dari
sifat keabadian itulah hati Ketuhanan. Tiap orang mempunyai hati kemanusiaan dan
juga hati Ketuhanan, hanya hati manusia itu berbahaya dan tidak aman, sedang hati
Ketuhanan itu lembut sukar dilihat. Kalau tidak dapat mengatasi hati kemanusiaan,
lalu hati Ketuhanan itu akan pudar. Sedangkan apabila dapat mengatasi hati
kemanusiaan, si hati Ketuhanannya akan kian hari kian nyata. Orang yang dapat
berbuat demikian akan mudah menjadi Buddha, dewa, ataupun orang suci. Hati atau
pikiran manusia itu termasuk sifat hawa, dan pikiran Ketuhanan tergolong pada
keabadian atau kebenaran. Hati dari seorang anak bayi, watak sebenarnya sempurna,

54
sampai pada terbukanya pengertian lalu terkena sebagian kekotoran hingga menutupi
sebagian dari keilahiannya. Makin lama makin tertutup dan makin gelap hingga
termasuk pada kenafsuan saja. Maka cara orang membina diri untuk Ketuhanan, tidak
lain dari berusaha menghapus nafsu dan sambil membuat jasa-jasa di luar, ditambah
pula giat semedi agar mudah berhasil mengembalikan ke-Asliannya kembali.

66. Diantara Kitab-Kitab Apa Yang Terbaik ?

Membaca kitab sebenarnya ingin mencari Dharma. Setelah mendapat Dharma,


sekalipun tidak membaca pun tidak halangan, yang penting hanya menjaga setitik roh
mujijad—yaitu Kitab Tanpa Surat. Apalagi Kitab Buddha sebanyak 5418 kitab,
dimisalkan sehari membaca satu kitab, maka diperlukan lima belas tahun baru selesai
membaca semuanya, sedang waktu jalannya seperti kilat. Namun demikian pun tidak
boleh tidak dibaca, akan tetapi membaca kitab yang utama harus melaksanakannya
seperti yang diajarkan itu, barulah ada gunanya.
Misalkan Kitab-kitab Tay-Hak, Tiong-Yong, Lun-Gi, Beng-Tju, Kim Kong-Keng,
Hwat Poo Twa-Keng, Too Tik-Keng, Tjheng Tjeng-Keng, dan lain-lainnya boleh
dibaca karena dapat menambah kecerdasan kita.

67. Kebijaksanaan Berarti Rohani Kita

Kebijaksanaan yang diuraikan dalam ajaran Tao berarti jiwa rohani, yang
mempunyai kecerdasan untuk menampak, dan kepintaran untuk memahami segala
Hakekat Kebenaran. Kebijaksanaan itu dapat menyesuaikan segala urusan, dan
tindakannya seirama dengan pengetahuannya, dasar dan menggunakannya semua
sempurna. Bahwasannya manusia di alam asal tidak ada perbedaan antara pria dan
wanita, hanya kalau boleh diuraikan secara Pat-Kwa, roh itu tergolong pada Khian
dan Jiwa adalah Khun. Tapi begitu memasuki alam dunia, guratan Khian yang tengah
terputus, kehilangan positifnya untuk masuk ke pusat Khun. Khian yang sebenarnya
tiga gurat bersambung menjadi putus yang tengah , sedang Khun yang yang
semestnya enam guratan putus berubah menjadi tengahnya bersambung. Karena di
dunia roh itu tergolong pada Li dan jiwa termasuk pada Kham.

Kham tergolong pada air, dan air tergolong pula pada kecerdasan, sesuai dengan
ujarnya kitab Lun-Gi: “Cerdas adalah air kegembiraan”. Kini bagi orang Siu Too

55
hendaknya mengusahkan kembali ke asal mulanya. Air Embun naik, api turun, maka
agar air dan api saling berkontak berarti kecerdasan dan kepintaran bersatu yang
menjadi kesempurnaannya Tao. Adapun Tao itu adalah bersifat alam asal, namun
kalau tidak dibina pada alam dunia sekarang inipun tidak akan dapat mencapai
kesempurnaan. Maka dalam Ik-Keng diujarkan: “Satu Positif dan Satu Negatif itulah
Tao”. Dan pada lain bagian dikatakan: “Pat kwa berputar mengalirkan nafas, berapa
orangkah kiranya yang mengetahui hal ini, bagi orang bodoh mencari Tao diatas
kertas, tidak tahunya bahwa Tao itu terdapat pada Kham Li”.

68. Apa Artinya Usaha Tiga Lima Bagi Pembina Tao ?

Tiga Lima bukan hanya terbatas pada Ajaran Tao, namun bagi Kaum Khong Tju
dan Buddha pun serupa. Kaum Khong Tju mempunyai apa yang dikatakan Sam Kong
Ngo Siang (Tiga Ikatan dan Lima Budi). Buddhis mempunyai Sam Kui Ngo Kai (Tiga
Berlindung dan Lima Pantangan). Kaum Taois mempunyai Sam Hua Ngo Khi (Tiga
Sari dan Lima Hawa). Walaupun itu semua namanya berlainan, namun hakekatnya
sama. Apabila diusahakan sampai tercapai, hasilnya yang satu dinamakan nabi, yang
satu dinamakan buddha, dan yang lain dinamakan dewa, adalah sama-sama
kesempurnaannya. Namun uraian diatas hanya Tiga Lima dari Luar. Selain itu masih
ada Tiga Lima di dalam yang lebih mudah dan singkat.

Ada diujarkan dalam syair dari Bu Kik Lao Boo: “Berkontaknya Dua Lima berhasil
menyempurnakan jiwa raga, membekunya Tiga Lima menembus dari Tuhan ke
manusia. Satu diumpamakan sebagai bulan, tanggal satu mulainya memancarkan
sinar, sampai tiga kali lima atau 15 mencapai dewasa. Demikian juga Tao, yang
diartikan Dua Lima ialah mata, dan Tiga Lima ialah penambahan roh. Dua Lima, di
atas langit bagaikan matahari dan bulan yang saling memberi sorotan, apabila orang
dapat menyorot ke dalam (diri) secara bulat tidak berserakan, itulah cara
mengusahakan kembali ke asal mula.
Kata yang tertulis dalam kitab kebanyakan mengandung maksud-maksud Ketuhanan,
andaikan tidak mengerti, hendaknya berpegangan kepada kerohanian dan ke-Esa-an
untuk menelusurinya atau mohon Guru untuk menunjukannya, yang akhirnya
setapak demi setapak tentu akan dimengerti, dan sesudah mengerti semuanya akan
dapat terpecahkan demi kegunaan membina diri.

Dalam Kitab diujarkan: “Dharma yang saya uraikan seperti perumpamaan rakit,
setelah dapat menyeberang ke tepi, untuk apalagi rakit tersebut ?”

56
69. Bagaimana Yang Dinamakan Sam Hua
Tju Ting Ngo Khi Tiao Goan ?

Ini adalah istilah menjaga gerbang agung, Sam Hua (Tiga Sari) ialah Intisari,
Hawa, dan Spirit; badan manusia bagaikan sebuah perapian, dan gerbang agung itu
berarti wajan. Bagi Kaum Tao diistilahkan memasang dengan baik wajan dan
perapian. Yang dimaksudkan Ngo Khi ialah hawa dari lima macam isi perut, dan
apabila jantung (hati) tenang, hawa yang kotor berubah menjadi bersih, dan
menggunakannya untuk menjaga gerbang agung dengan tidak putus-putusnya secara
diam seolah-olah ada atau tidak ada. Usaha mana hendaknya dilakukan sebanyak
mungkin sampai mencapai kebulatannya Tao.

70. Dalam Kitab Tay Hak Ditulis


Tahu Pemberhentian, Mantap Tenang Sampai Jernih
Lalu Memperoleh Hasil

Istilah di atas adalah caranya Kaum Khong Tju membina diri “Di Dalam”
mempunyai pengertian, tahu akan pemberhentian bagi tempat menjaga rohani. “Ke
Luar”, tahu akan pemberhentian agar tidak berbuat ceroboh. Lalu diartikan secara
wajar, dari tahu tempat pemberhentian maka ia akan menjadi mantap, setelah mantap,
barulah tenang, karena tenang hatinya aman dan setelah aman sanubarinya jernih.
Kejernihan ini ialah kesadaran, sadar pada apa yang dinamakan Hakekat Tuhan (
Hukum Alam) dan tahu pula nafsu pribadi; jelas sadar dari semua sepak terjangnya
sendiri, lurus atau bengkok, baik atau buruk, sesuai dengan Hakekat Tuhan atau tidak.
Jagalah yang sesuai dengan Hakekat dan segera buanglah apabila melanggar pada
Hakekat Tuhan. Apabila mencapai kesadaran ini barulah dikatakan memperoleh
Hasil, yaitu mendapat ajaran suci, dari hati ke hati walaupun lembut menjelimetpun
akan diperolehnya sendiri.

57
71. Cara Membina Diri

Setelah tahu akan pemberhentian, lalu ada kemantapan. Dalam istilah Buddha
dinamakan “Sian Ting”: Sian berarti merenungkan cipta, bertafakur. Sedangkan Ting
artinya semedi hingga jelas akan kerohaniannya. Untuk mengetahui tempat
pemberhentiannya apabila tidak mendapat petunjuk guru kiranya tidak mudah tahu.
Tentang kemantapan itulah, tidak ada bedanya antara orang suci dan orang umum,
tidak kurang tidak lebih, maka mantap tidak goyah. Kata-kata selanjutnya dapat
tenang, dapat aman, dapat jernih, dan dapat memperoleh hasil, pada kalimat teratas
menggunakan huruf “ada”. Huruf “ada” memang ada kemantapan, tidak lebih tidak
kurang, tidak bersih tidak kotor.
Huruf “dapat” adalah kata memperkuat, dan kekuatan itu ada besar kecil ataupun
panjang pendek tidak sama. Mengenai tenang, aman, jernih dan memperoleh hasil,
sebenarnya pada watak asalnya semua sama. Hanya karena menggunakan tenaganya
berlainan maka hasil akhir (di alam Nirwana) pun tidak sama. Maka ada kata-kata
“Ada tiga kendaraan Dharma dan sembilan tingkat kedudukan”.

72. Mencapai Titik Tengah Harmonis


Langit dan Bumi Berada Pada Kedudukan Benar,
Segala Benda Terpelihara, Apakah Manfaatnya Pada Manusia
?

Soal-soal yang mengenai Tao, apabila ditelusuri sampai pada puncaknya, akan
menemukan artian bahwa yang dikatakan Tengah itu adalah dasar dari roh dan kata
Harmonis itu ialah kegunaanya roh.
Ada pribahasa kuno: “Siapa yang dapat menindas angan-angan dapat menjadi nabi”.
Karena itu bagi orang yang membina diri hendaknya berasakan ketenangan hati, lebih
baik tidak ada daripada ada empat perangai (senang, marah, sedih, dan girang), kalau
dapat demikian dapat pula menjajarkan dirinya dengan langit dan bumi. Setelah orang
dapat memurnikan pribadi luhurnya, seharusnya menganjurkan orang lain juga
membina diri benar-benar. Anjuran itu diberikannya dengan rasa kasihan dan penuh
karunia yang besar, bahkan terhadap benda apa saja juga demikian. Beng Tju
bersabda: “Dapat memenuhi kewajiban roh sendiri dan juga dapat memenuhi
kebutuhan kerohanian orang lain; dapat memenuhi kewajiban orang lain, juga dapat
memenuhi kewajiban umat lain, maka dapatlah membantu pemeliharaan semesta

58
alam. Dan kalau dapat membantu pemeliharaannya semesta alam, ia dapat kedudukan
yang sama dengan langit dan bumi. Itulah arti dari mencapai titik tengah harmonis,
langit dan bumi berkedudukan benar dan semua isinya terpelihara.

73. Terbebas

Kata Bebas adalah bebas dari ikatan pembalasan karma, bebas dari penderitaan
tiga alam. Bebas, pintu satu-satunya adalah segera sadar, tidak tercekat pada ciri-ciri
apapun. Kebajikan suci mengutamakan terputusnya keraguan dan timbul
kepercayaan, dengan bertujuan meninggalkan segala ciri-ciri dan berdasarkan tidak
tercekat pada sesuatu. Kalau dapat bebas dari kepribadiannya sendiri sesuai dengan
yang dikatakan pribahasa: “Sadar pada segalanya, memandang segala pahit getir dan
manis asamnya dunia dengan penuh kesadaran serta setiap saat membersihkan cipta,
segala gerak geriknya diatas pengertian kerohanian; menyambut datangnya segala hal,
dan menjadi bersih setelah ia pergi, dengan demikian tidak jauh sudah untuk
menampak rohaninya (sadar pada roh)”.
Perlu diketahui bahwa wilayah negara yang betapa luasnya bukan milikku, anak dan
isteri tidak selamanya berkumpul, harta benda yang besar harus dijaga dengan hati
risau, melainkan roh yang dititahkan oleh Tuhan, bagi siapa yang dapat membinanya
akan menjadi malaikat, dan siapa yang menyia-nyiakannya akan menjadi iblis. Maka
dalam penghidupan manusia itu senang atau derita tergantung pada dirinya sendiri.
Apabila di atas dapat disadari dan terlaksana dengan baik tentu tidak sukar untuk
dapat terbebas.

74. Apa Yang Dikatakan Kekosongan Diri,


Kekosongan Hati, Kekosongan Roh dan kekosongan Dharma ?

Memang benar bahwa badan raga adalah dilahirkan oleh ibu ayah, juga
mempunyai hawa pernafasannya ibu ayah yang berputar sepanjang sembilan lubang
itu dengan macam-macam kekotoran dari empat unsur tidak kekal yang akhirnya
tentu akan rusak. Orang pandai tahu bahwa dirinya itu tidak kekal, maka sebelum
mati sebaiknya dipandang sebagai mati; hanya meminjam badan fana ini untuk
membina diri belajar Ketuhanan. Demikianlah yang dikatakan Kekosongan Diri.

59
Coba lihat pula hatinya sendiri, tidak hidup tidak mati, paling keramat dan paling
mujijat, dalam suatu keadaan tertentu nampaknya ada, namun keadaanya hilang,
iapun sirna. Siapa yang dapat menyadari hati ilahi terus menerus, tidak berputar
mengikuti pikiran keliru, melainkan mengikuti hati ilahinya sebagai jalan utama maka
dikatakan Kekosongan Hati.
Coba lihat pula pada rohnya sendiri, hening tidak ada geraknya, begitu tergerak
lalu bersambung, membuat perubahan yang tidak ada habisnya, kegaiban yang tak
dapat diperkirakan, demikian jelas terang, sendirinya sadar dan mengerti, hening dan
mujijat, tanpa perbuatan tanpa kelangsungan, inilah yang dinamakan Kekosongan
Roh.

Lihat pula pada Tathagata (Jilay Hut), Dharma yang diuraikan, semuanya leluasa
dipimpinnya menuju ke pintu dharma, seperti air mencuci kotoran, atau obat
menyembuhkan penyakit, kalau sudah menghasilkan dharma kekosongan hati,
penyakitnya sembuh, lalu obatnya tak diperlukan lagi, inilah yang dinamakan
menyadari Kekosongan Dharma.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa dharma yang benar itu tak lain hanya
sadar pada sumbernya hati. Apabila nafsu keinginan belum berhenti, akan mudah
tertarik oleh pikiran. Hati itu sebenarnya hening dan sepi, pun dapat mendadak
goyang atau mantap kembali; hati itu memang tidak ada, tapi mendadak menyimpan
pikiran. Sekalipun mempunyai cukup kebijaksanaan, hening bersih dan biasa, begitu
sekali berpikir lalu timbul, begitu pikirannya bergerak lalu tertutup; sungguhpun tahu
bahwa dharmapun tak berguna, hening bersih sewajarnya, baik buruk semuanya tidak
dipikirkan seolah-olah bodoh dan dungu dengan cara wajar; demikian menjalankan
Tao atau membina diri itu dinamakan Siu-Hing. Maka ada peribahasa: “Sedikitpun
pikiran tidak timbul, itulah Tenang; berasa lalu dipadamkan, itulah Ajaran;
melakukannya menurut pelajaran, dinamakan Membina”.
Membina manusia di masyarakat, menghasilkan timbunan kebaikan yang wajar,
namun hasil dari pembinaan pri-Ketuhanan harus menghapus konsepsi saya dan
orang lain. Untuk mendapat jalan suci atau jalan biasa, tergantung pada perbuatannya
diri sendiri saja.

75. Penjelasan Tentang Empat Konsepsi

Mata, Kuping, Hidung, dan Lidah adalah Empat Konsepsi, sebagai pembantu dari
raja roh untuk mengerjakan urusannya. Apabila penglihatan, pendengaran, pembauan
dan pembicaraan digunakan secara salah, itulah pengacau yang dapat merusak rohnya
sendiri. Maka Kong Tju memperingatkan pada Gan Hui dengan empat pantangan

60
justeru karena hal-hal diatas itulah sebabnya. Tentang apa yang dikatakan “Tanpa Aku
Tanpa Orang Lain” dan sebagainya, ini juga ada hubungannya dengan empat konsepsi
tadi.

Mata menguasai penglihatan bagaikan orang lain. Apabila dapat meman-dang


sesama makhluk dengan tenang teduh laksana anak bayi, tanpa membedakan musuh
yang dibenci atau orang yang dicintai, semuanya secara sama rata diselamatkannya.
Konsepsi ini dapat dinamakan Konsepsi Tanpa Orang Lain.

Kuping menguasai pendengaran bagaikan konsepsi aku. Kalau dapat mengerti


bahwa badan itu tidak kekal dan sadar pula bahwa duniapun tidak kekal, maka tidak
menyayangkan jiwa raga, melainkan sadar akan mengikuti pelajaran besar. Konsepsi
ini dinamakan Konsepsi Tanpa Aku.

Hidung menguasai pembauan laksana konsepsi kenikmatan universal Apabila


dapat mengerti bahwa dirinya adalah roh sejati yang tak terlahirkan, tidak mengikuti
gerakan kesadaran hati lahiriah saja, melainkan dijalankannya dengan kemauan yang
leluasa. Konsepsi ini dinamakan Kenikmatan Universal.

Mulut menguasai penyiaran bagaikan makhluk-makhluk. Apabila dapat


mempunahkan hati keduniaan dan tidak bersambung lagi, konsepsi ini dinamakan
Tanpa Makhluk.

Pendek kata, apabila ingin mencapai kebuddhaan, jalannya cuma menjaga Empat
Konsepsi. Kalau empat konsepsi itu tidak bersih akan menimbulkan dosa yang tidak
terhingga, dan sukar dapat menemukan asal rohnya sendiri.

76. Apakah Artinya Enam Pintu Selalu Tertutup,


Jangan Membiarkan Penghuni Asalnya Terlepas ?

Enam Pintu ialah: Mata, Kuping, Hidung, Lidah, Tubuh dan Pikiran. Kalau enam
pintu ini tidak tertutup hingga mudah keluar masuk, bukan saja tidak dapat mencapai
Tao, malah dikhawatirkan apabila mendekati akhir hayatnya mungkin mengikuti
enam jalan. Mengapa demikian? Karena mata, kuping, hidung dan lidah adalah Empat
Pintu Kelahiran, juga dinamakan Empat Jalan.

Mata kelewat menyukai kembang dan keindahan, apabila mendekati ajalnya,


rohnya akan keluar dari mata, bagi kelahiran mendatang akan menitis pada unggas
untuk jadi binatang peliharaan orang. Kuping sangat suka mendengarkan cerita tidak

61
sopan, pada akhir hidupnya, rohnya akan keluar dari kuping, dan kelahiran
mendatang akan menitis pada binatang berkandung seperti sapi, kambing, kuda,
keledai dan sebagainya yang dapat mengerti percakapan manusia guna dipanggil-
panggilnya. Hidung kelewat gemar akan bebauan yang luar biasa, maka rohnya akan
keluar dari hidungnya apabila menghadapi ajalnya, dan kelahiran mendatang akan
menitis pada sebangsa ulat, nyamuk, lalat, dan sebagainya untuk merasakan bau
kekotoran dari sebab gigitannya. Mulut suka merusak nama baiknya orang lain atau
menggunjing orang lain, maka rohnya akan keluar dari mulutnya apabila ia mati, dan
kelahiran selanjutnya akan menitis pada binatang yang bersisik, karena dalam
perhitungan Pat Kwa, mulut termasuk pada Kham, yang artinya air sebagai
kesukaanya binatang bersisik.

Adapun orang dilahirkan sebagai manusia apabila prilakunya menyimpang dari


kebenaran, berkepala batu dan tidak berbakti serta lain-lain tingkah laku yang tidak
aturan, kelahiran mendatang tentu akan dapat balasan buruk yang setimpal, karena
itulah sudah menjadi hukum yang beredar yang tidak dapat diubah. Apabila
bertingkah laku baik, pri-budi bagus, namun tidak bakat dengan Tao dan justeru
belum mendapat Tao, walaupun pada kedudukan mendatang berkedudukan bagus
dengan pangkat sebagai menteri misalnya, panglima atau pangeran, itu hanya
menikmati beberapa tahun saja, pada akhir hayatnya bertumimbal lahir. Inilah makna
dari apa yang dinamakan Enam Jalan Tumimbal Lahir. Karenanya Lao Tse
menganjurkan orang supaya menutup Enam Pintu agar tidak menembus pada Jalan
Enam tadi. Akan tetapi Lima Pintu masih dapat dijaga, yang lainnya ialah Pintu
Pikiran sangat sukar ditutup, maksudnya pikiran yang bersarang pada pankreas dan
dinamakan Yin-Shen. Bagi Kaum Taois ada suatu cara, dalam tempo 12 waktu, selalu
memperhatikan Hian Kuan, menggemblengnya dengan api positif tua, terus menerus
seperti lakunya orang dungu menjaga pintu tersebut, dalam seratus hari akan dapat
merasakan hatinya hening dan kecerdasannya cemerlang. Apabila usaha ini dijalankan
lama kelamaan dan selalu menggunakan Hati Ketuhanan, dengan sendirinya Enam
Pintu itu walau tidak ditutup akan menutup sendiri.

77. Apa Artinya Khian Goan Heng Li Tjeng


Dalam Bab Pertama Dari Ik Keng ?

Khian ialah Positif Tua yang berarti juga Hukum Tuhan, berarti pula roh
manusia. Positif Tua itu tidak ada sesuatu apapun yang tidak dilahirkannya, tidak ada
sesuatu apapun yang tidak terubahnya. Goan Heng Li Tjeng apabila di langit ialah
empat musim, Tjhun Goan = Musim Semi, He Heng = Musim Panas, Tjhiu Li =

62
Musim Rontok, Tang Tjeng = Musim Dingin. Setelah Tjeng timbul pula Goan dan
seterusnya tidak henti-henti, itulah jalannya langit.
Apabila di bumi adalah empat arah, Tong Goan = Timur, Lam Heng = Selatan, See Li
= Barat dan Pak Tjeng = Utara. Apabila diterapkan pada manusia berarti empat
keluhuran yaitu: Jin Gi Lee Ti atau Welas Asih, Kebenaran, Kesusilaan dan
Kebijaksanaan. Bo Ki bertempat ditengah-tengah tergolong pada tanah. Tengah
Kuning apabila pada tempatnya benar itulah tempat semayamnya roh, segala
kebaikkan timbulnya dari situ dan biasanya orang mengatakan Sim Tian = Ladang
Hati. Cobalah kita lihat huruf Tionghoa dari kata Tian = Ladang atau sawah yang
keempat sisinya semua terdiri dari huruf Tho = tanah. Dari sini kita dapat kesimpulan
bahwa menanam kebajikan akan menimbulkan rezeki, menanam keburukan akan
menimbulkan bencana; jangan sesal akan rezeki atau bencana, ia yang menanam ia
yang akan menerima hasilnya, karenanya Lu Tjo bersabda: ‘Nasib saya selamanya
wajar, sebenarnya dari saya bukan dari Tuhan”. Maka siapa yang sadar akan arti ini, ia
mengerti pula membina rezeki bagi kebaikan hidup mendatang, dan siapa yang
membina rohaninya, kebaikan sepanjang masa hanya pada ketentuan diri sendiri.

78. Kitab Ik Keng : Ik Adalah Tanpa Pikir Tanpa


Perbuatan, Diam Tanpa Gerakan Namun Tergerak
Lalu Kontak, Apakah Artinya Ini ?

Pujangga Ong Tjo pernah berkata: Ik = Perubahan. Ada beberapa pengertian


perubahan yaitu perubahan yang tidak berubah dan perubahan dari pancaroba.
Perubahan yang tidak berubah, itulah Kebenaran Tuhan, perubahan dari pancaroba,
itulah perhitungan. Kebenaran Tuhan tidak dapat terpisah dari perhitungan dan
perhitungan tidak dapat terpisah dari Kebenaran Tuhan. Bilamana terpisah maka
langit akan ambruk dan bumi terbelah, manusia akan mati dan benda-benda akan
musnah.

Diam tanpa gerakan, tergetar lalu dapat berkontak, ialah menunjukkan bahwa
itulah Akal Budi Manusia. Akal budi ialah sifat asal. Sifat asal atau watak sebenarnya
memang bersih dan tenang, maka sekali ada getaran segalanya tersedia seperti cermin
yang menyoroti benda, menyorot pada apapun akan terlihat apa, dan bilamana
bendanya menyingkir tidak meninggalkan bekas apapun. Maka dalam arti mana, yang
terpenting dapat mengajar kita untuk menjernihkan pikiran (hati) dan mengalihkan
nafsu. Apabila awan-awan sudah sirna akan sendirinya terlihat pula matahari,
demikian juga Kebenaran Tuhan.

63
79. Apakah Artinya Kata-kata Tjiu Tju :
Kesejatian Bu-Kik, Membekunya Secara Ghaib Dari
Sari Dua Lima; Dan Kitab Ik Keng : Arus Khian Menjadi
Pria dan Arus Khun Menjadi Wanita

Ini adalah Hakekat penciptaan dari kelahiran manusia. Dalam Kitab Ik Keng
diujarkan bahwa orang hanya membincangkan Tao sampai pada tingkat Thay Kik.
Mereka tidak mengetahui lagi bahwa di atas dari Thay Kik masih ada alam yang
dinamakan Bu-Kik (alam suwung, tak berpuncak), itulah isi dari buku ilmu
matematika ; maka dikatakan: Im Yang ialah Tao, Kesejatian dari Bu-Kik itulah
Kebenaran Sejati yang diberikan pada manusia oleh Tuhan.

Sari Dua Lima ialah darah dan maninya ibu dan ayah. Maka dinamakan membeku
atas tergabungnya secara ghaib atau dalam kata-kata lain adalah hasil sesudah
bersetubuhnya pria dan wanita. Mani membutuhkan pemeliharaanya darah, dan
darah membutuhkan penyelesaiannya mani. Pada saat dua insan bersatu hati, secara
diam-diam Kebenaran Sejati dari Bu-Kik telah meresap masuk, itulah arti dari
membeku secara ghaib Tiga Lima. Bilamana aliran pria cukup kuat akan melahirkan
pria, dan bilamana aliran wanita cukup kuat akan melahirkan wanita. Maka dikatakan
Aliran Khian menjadi Pria, Aliran Khun menjadi wanita.

80. Apakah Artinya Ujar-ujar : Dasar Dan Kegunaannya,


Pangkal Dan Ujungnya ?

Dasar dan kegunaannya serta Pangkal dan Ujungnya dapat disama artikan dengan
akar dan puncaknya pohon, juga sama dengan perbedaan antara nabi dan orang awam.
Dalam istilah Ketuhanan (Tao) dikatakan roh sebagai dasar dan pikiran (hati) sebagai
kegunaannya; kalau pikiran sebagai dasarnya maka kaki dan tanganlah sebagai
fungsinya. Orangpun biasanya mengetahui bahwa hati manusia adalah sebagai pokok,
namun hanya tahu terbatas pada hati dari darah daging itu saja. Pada hakekatnya
bahwa hati dari darah daging itu adalah salah satu anggota dari isi perut, bukan yang
diartikan Maha Kuasa Sejati. Kalau ingin kenal pada Maha Kuasa Sejati, sebaiknya
harus mengenang tampang sebenarnya pada sebelum ayah ibu melahirkan kita.

64
81. Bagaimana Membedakan Antara Pri-Ketuhanan
Dan Pri-Kemanusiaan, Dan Apa Yang Didahulukan
Dalam Pembinaannya ?

Pembina-pembina yang mengutamakan kerohanian, itulah pembina Ketuhanan


dalam penyelamatan Masa Ketiga. Pembina-pembina yang mengutamakan ke Tata
Kemasyarakatan, itulah pembina Pri-kemanusiaan.
Pri-kemanusiaan hanya merupakan cabang dari Pri-Ketuhanan. Maka apabila ingin
membina Ketuhanan, hendaknya terlebih dulu dimulai dari Pri-kemanusiaan sebagai
titik tolaknya. Adapun Hauw Thee Tiong Sin Lee Gi Liam Thi (berbakti, rendah hati,
setia, jujur, bersusila, tahu kebenaran, tidak korup, dan tahu malu) adalah budi pekerti
yang terpenting di Tiga Alam. Dimana saja langit dan bumi selalu mengamati hati
manusia, kalau tidak tahu hormat dan bakti kepada ayah dan ibu yang melahirkannya
dan tidak tahu kasih sayang kepada sesama saudaranya, dan terhadap handai taulan
berlaku tak acuh dan tidak ada kesetiaan, ucapan dan prilakunya tidak dapat
dipercaya, tindak tanduknya tidak sopan dan tidak adil, juga kerjanya korup serta
tidak tahu malu, orang yang demikian walaupun menamakan membina diri pun tidak
ada manfaatnya. Jika sudah kehilangan pri-kemanusiaanya, apa masih ada artinya
membina Ketuhanan? Maka bagi yang membina Ketuhanan, harus terlebih dulu
melaksanakan seluruhnya pri-kemanusiaan.

Khong Tju bersabda: “Belajar dari bawah untuk mencapai puncak atas”. Siapa
yang sepenuhnya melaksanakan pri-kemanusiaan berarti sudah dekat pada
Ketuhanan.

82. Orang Bijaksana

Bijaksana berarti tahu dan mengerti. Hanya orang yang bijaksana tahu ada jalan
kebuddhaan untuk membina diri, tahu ajaran nabi untuk dipelajari, tahu ada guru
untuk dimintai ajaran, tahu ada kebajikan untuk diusahakan, tahu ada dosa untuk
disesalkan, sehingga tahu benar ada cara untuk masuk dan keluar dunia. Tumimbal
lahir dan karma, seumpama matahari di langit, laksana lampu pada malam hari, dapat
nampak dan tahu pembalasan baik dan buruk, dan setelah mengetahuinya dapat
membuang segala kekotoran dan giat mengikuti kebaikan, dapat pula merubah yang
keliru kembali ke jalan yang benar, tidak mengucapkan segala sesuatu yang tidak

65
rasional, juga tidak melakukan yang tidak ber-Ketuhanan, tidak mengambil barang
yang bukan halal dan setiap saat merenungkan pada Tengah Besar, setiap saat
menghadapi kesungguhan, mengumpulkan kebajikan dan nama baik guna hari kelak
kemudian. Orang yang demikian dinamakan Bijaksana. Jadi bagi orang yang
mengajarkan budi dan kebenaran serta menyiarkan budi kebajikan berarti menegakan
diri dan juga orang lain. Menyempurnakan diri sendiri dan juga menyempurnakan
orang lain, dengan harapan tiap-tiap orang mencapai kesempurnaan dan kesucian.

83. Orang Dungu

Dungu berarti bodoh, orang yang dungu bodoh pikirannya gelap, karena gelap
maka tidak mengenal tinggi dan rendah, tidak tahu akan sorga dan neraka, tidak tahu
ada Enam Jalan tumimbal lahir, yang diketahui hanya berfoya-foya sambil mabok-
mabokan dan suka membunuh makhluk berjiwa demi untuk kenikmatan perut dan
lidahnya. Selama hidupnya entah sudah membunuh berapa banyaknya hingga
membuat hutang berapa banyaknya. Mereka akan bertemu dalam tumimbal lahir
untuk saling makan dan ganyang yang tidak henti-hentinya. Apa sebabnya? Sapi,
kuda, babi, kambing, dan lain-lain ternak semua itu adalah sanak keluarga yang
penasaran pada jaman lampau, hingga memasuki putaran tumimbal lahir, hanya ganti
corak rupa menjelma menjadi ternak. Bagi orang dungu mereka disembelih untuk
dimakan, yang mana tidak ubahnya seperti halnya makan ibu bapak sendiri, sama
dengan makan dagingnya keluarga sendiri, sama dengan seorang ayah dibunuh oleh
anaknya sendiri yang dalam rangka putaran tumimbal lahir satu sama lain tidak saling
mengetahui. Demikian saling bunuh dan saling makan yang tidak henti-hentinya;
maka sekali terluput menjelma sebagai manusia , akan mengalami kesengsaraan lama
sekali seolah tidak akan pulih kembali, tindakan demikian patut dinamakan orang
dungu. Karenanya Pujangga Tjhong Kiat Hutju menggubah huruf “bak”—daging—
sebagai dua orang dalam sangkar, sesuai dengan pribahasa: makan delapan tael
membayar setengah kati, yang dapat diartikan orang makan orang.

84. Orang Sesat

Sesat adalah karena ceroboh dan tidak mengerti. Orang yang sesat selalu
merindukan hal keduniaan, misalnya suka pada minuman alkohol dan gemar pada
keelokan, mengumbar enam akar bagi nafsu enam kekotoran; berfoya-foya tanpa

66
batas dengan macam-macam kepalsuan dan tingkah laku sungsang sumbel, yang
tujuannya hanya untuk kenikmatan di depan mata saja, tanpa menghiraukan akibat
bagi hari kemudiannya. Perbuatan sesat pada yang tulen guna mengejar yang palsu,
mengingkari pada kesadaran guna menyesuaikan pada kekotoran, orang yang berlaku
demikian walaupun berjumpa dengan para nabi dan rasulpun tidak dapat tertolong,
dan selamanya terbenam dalam laut sengsara, berarti kehilangan roh aslinya untuk
selama-lamanya. Orang yang sesat sekali masuk putaran tumimbal lahir akan
mengalami tempo yang lama tidak akan pulih kembali.

85. Orang Sadar

Orang sadar adalah orang yang mendusin. Orang sadar dapat sadar dan mengerti
bahwa hatinya sendiri ialah buddha, selalu berminat pada Tao bagi pembinaan
prilakunya, sedikitpun tidak menyalahi pada Tiga Dasar Hidup (badan, mulut dan
pikiran), enam akarnya bersih, terhadap sesama orang berlaku leluasa tanpa perbedaan
aku dan orang lain, dapat menyelamatkan diri sendiri juga menyelamatkan orang lain
guna sama-sama mencapai kebuddhaan. Orang yang sedemikian walaupun tinggal di
dunia tidak terjangkit kekotoran-nya, duduk dalam sangkar dunia sambil memutar
dharma cakra untuk mengubah dunia menjadi sorga. Menunjukkan dari sesat agar
kembali sadar untuk menampak kebuddhaannya dan mengerjakan soal-soal suci serta
menyelamatkan para makhluk; dengan ketetapan hati yang maha welas asih bertekad
menolong semua makhluk, orang berlaku demikianlah yang dinamakan orang sadar.

86. Waktu Mudanya Berbuat Dosa


Tapi Pada Hari Tuanya Membina Prikebaikan,
Apakah Dapat Mencapai Tao ?

Dunia fana yang dinamakan laut kesengsaraan itu tidak terbatas, tapi bagi siapa
yang dapat memalingkan kepalanya untuk sadar, disitulah tepi bahagia. Apabila
manusia dapat sadar dan bertekad untuk membina prikebajikan, melepaskan segala
yang keliru untuk mengejar yang benar, dan merubah yang buruk menjadi baik,
dengan penuh minat berpantang diri untuk kebersihan dan dengan kerendahan hati

67
belajar pada guru; tak peduli tua atau muda yang dapat kesadaran benar, semua dapat
mencapai Tao.
Ada ujaran: “Meletakan pisau jagal, serta merta menjadi buddha”. Contohnya Datuk
Han Weng Kung yang pada hari tuanya baru mengerti Tao, adalah contoh dan bukti
yang nyata.

87. Seumur Hidupnya Sebagai Vegetarian Dan Menanam


Akar Kebaikan, Namun Pada Hari Tuanya Ingkar Pada
Pantangan Dan Melanggar Sila Tertentu,
Apakah Dapat Juga Mencapai Tao ?

Orang yang berlaku seperti tersebut di atas walaupun mempunyai akar kebaikan,
namun tidak mempunyai minat besar, tidak mempunyai pandangan dan pengertian
benar, jauh terpisah dari Sang Guru, maka pikirannya timbul berlainan. Orang
demikian membuang jasa-jasa yang lalu, maka enam penjahatnya kembali pada
dirinya untuk merampok jasa baiknya sendiri, sampai pada batas rejekinya habis,
akhirnya akan terperosok kembali, maka tidak dapat mencapai Tao.

88. Orang Yang Rendah Pengertiannya, Apakah Dengan


Menjalankan Tao Dapat Menambah Pengertiannya ?

Siapa yang dengan tekun mencari kesempurnaan dalam ketenangan akan berhasil.
Orang-orang kuno mengatakan: “Tidak banyak pamrih untuk menjernihkan tekad,
dengan ketenangan untuk mencapai jauh”. Juga dikatakan: “Belajar harus tenang,
kepandaian harus dipelajari, apabila tidak belajar tidak pandai, tidak ada ketenangan
tidak akan berhasil (belajar)”. Maka siapa yang pemberang tidak akan dapat belajar
sempurna, yang bertindak kasar dan keras tidak dapat menyempurnakan roh-nya.
Kalau orang dapat belajar kepandaian dari ketenangan berarti mendapat hasil
keunggulan budi dan pandai, hasilnya berbeda dengan caranya orang-orang sastrawan
memperolehnya dari ilmu sastra. Apa sebabnya? Karena setelah hatinya bersih
tertampaklah rohnya, maka segala urusan dikerjakannya dengan hati kebuddhaan,
seluruhnya menggunakan Hakekat Ketuhanan.

68
89. Orang Yang Membina Dirinya Pada Tao,
Apakah Juga Takut Akan Mati dan Lahir ?

Dalam kehidupan manusia ada datang juga ada pergi, sebagai ksatria memandang
kematian sebagai berpulang, kelahiran hari ini adalah titik permulaan bagi kematian
kelak, dan kematian hari ini berarti titik permulaan bagi kelahiran kelak. Berputarnya
Im dan Yang—Negatif dan Positif, biarpun rahib tidak dapat mengelakannya. Maka
orang yang membina Tao hendaknya soal kematian dan kelahiran dipandang dengan
perhatian penuh, dan juga tidak dengan perhatian penuh. Apa sebabnya? Kalau
dikatakan tidak takut mati, mengapa kita belajar Tao untuk mencari hidup; kalau
dikatakan takut mati, kita yang membina Tao sangat meremehkan keduniaan, mati
atau hidup sedikitpun tidak dihiraukan; apalagi yang membina Ketuhanan dapat
mengakhiri kematian untuk hidup langgeng abadi, apakah perlu masih
memperhatikan keduniaan dan keusiaan?

90. Hati Manusia Penuh Bahaya, Hati Tuhan Sangat


Lembut. Hanya Ke-Esaan Sebagai Intisari, Peganglah
Tengahnya, Itulah Ajaran Nurani Dari Giauw dan Sun

Hati manusia penuh bahaya—manusia adalah salah satu dari tiga kekuasaan, yang
mempunyai roh dan Hakekat Tuhan dengan sempurna, maka adalah yang paling
pandai diantara semua makhluk. Hati adalah pusat dari segala makhluk dan sebagai
penguasa utama dari segala persoalan, atau dalam arti lain bahwa hati manusia itu
ialah pengetahuan dan perasaan. Sebagai hati yang terjalar dengan kekotoran, maka
dinamakan hati keduniawian, ada yang baik dan juga ada yang buruk, maka
menimbulkan macam-macam rasa nafsu dan penggunaan pengetahuan. Adapun hati
manusia itu separuh positif dan separuh negatif, maka dapat menjadi baik dan buruk,
kalau tidak mendoyong tentu miring. Kalau mendoyong pada positif menjadi kalut,
tapi apabila mendoyong pada negatif menjadi terbenam pada kegelapan atau
kekalutan yang selalu risau dalam ketidakamanan.

Hati Tuhan sangat lembut—Tao—Tuhan adalah asal permulaan dari langit dan
bumi serta meliputi segala benda dan sebagai leluhur tertinggi dari semua makhluk.
Tao adalah kebijaksanan, juga sebagai roh, sebagi hati nurani yang sangat jernih dan

69
murni, maka dikatakan sifat hakekat asal, tidak baik juga tiada bukan baik, karena
keseluruhannya terdiri dari kebijaksanaan yang sempurna. Bahwasanya roh itu adalah
kosong dan tenang, tiada dilahirkan juga tiada lenyap, tiada bertambah juga tidak
kurang, ghaib dan kelembutannya tidak dapat diperkirakan, maka dinamakan bahwa
Hati Tuhan sangat Lembut.

Hanya Ke-Esaan sebagai Intisari—Intisari adalah murni, Esa adalah keimanan.


Dengan Intisari sebagai kebijaksanaan untuk mengobati kegelapan, dengan Keimanan
untuk mengobati kekalutan. Dengan inti kemurnian dan keimanan tunggal yang
selalu tekun dan tenang guna memantapkan kebijaksanaan untuk mengatur perasaan
hingga kembali kepada watak wajar dan mengubah pengetahuan kepada kecerdasan.
Bagi yang berbahaya menjadi damai dan yang lembut akan menjadi nyata sendirinya.
Karenanya dinamakan yang mengerti adalah beriman, yang beriman adalah mengerti.
Jelasnya arti, hanya Ke-Esaan sebagai Intisari ialah buang segala yang nyasar untuk
kembali kepada kebenaran bajik murni seperti asal mula.

Peganglah Tengah—Pegang erat-erat serta tekun dan taat untuk berpadu pada
Tengah yang kosong namun penuh dengan keghaiban, kosong hampa yang besarnya
tiada batas luar, namun kecilnya tiada terdapat isi dalamnya. Ghaib karena tiada
permulaan awalnya dan tiada akhir belakangnya. Baik secara vertikal maupun
horizontal, memenuhi Tiga Alam dan Sepuluh Penjuru. Ajaran Benar yang meliputi
Tiga Alam dan Hakekat Benar pada seluruh semesta alam. Secara ringkas arti dari
Pegang Tengah yaitu Mengikuti Ajaran Benar. Bergabung pada Hakekat Benar adalah
Ajaran Hati Ke Hati dari Nabi-Nabi Giauw, Sun, Gu, Thang, Bun, Bu, Tjiu-Kong, dan
Kong Tju. Ajaran Hati Ke Hati dari nabi ke nabi yang sama-sama diikuti dengan taat
oleh Tiga Agama yang sepanjang masa tidak berubah. Pendek kata Ajaran Hati Ke
Hati yang menakjubkan itu adalah Ajaran Benar dari Tao yang tanpa sesuatu huruf.

Dalam Kitab Kim Kong Keng diujarkan: “Subhuti menyampaikan maksudnya


kepada Yang Maha Suci Buddha: ‘Apabila sudah tercetus hati kesadarannya dari
penganut, baik pria maupun wanita, harus dengan cara bagaimana agar selalu tetap
tidak mundur, dan apabila hatinya nyasar, harus bagaimana menundukannya?’
Buddha bersabda: “Harus demikian menetapkan hati, dan demikian menundukkan
hati’.” Hati Kesadaran atau Hati Boddhi adalah Hati Tuhan; sedang hati yang nyasar
adalah hati manusia; dan demikianlah Tengah.

SELESAI

70