Anda di halaman 1dari 63

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Matematika yang merupakan salah satu ilmu dasar yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan memegang peranan penting, dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang lain. Fungsi dan peranan matematika yang sangat memudahkan kita untuk mengikuti perkembangan zaman yaitu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Matematika sebagai sarana untuk berfikir logis, analitis, kreatif dan sistematis membuat kita dapat dengan mudah membuat inovasi baru dalam kehidupan sehari-hari utamanya dalam pendidikan. Kemudian salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek kajian yang bersifat abstrak. Sifat abstrak itu menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran

matematika, dalam pelaksanaannya terlihat belum menggembirakan. Kualitas pembelajaran matematika dapat dilihat dalam dua segi yaitu aktivitas belajar dan hasil belajar. Dari segi aktivitas belajar, siswa masih cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Sementara diharapkan siswa dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dari segi hasil belajar dapat dilihat dari prestasi belajar atau ketuntasan belajar yang dicapai siswa.

Sebagai tenaga pengajar/pendidik yang secara langsung terlibat dalam proses pembelajaran, maka guru memegang peranan penting dalam menentukan peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi belajar yang akan dicapai siswanya. Salah satu kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh pendidik dalam hal ini adalah bagaimana mengajarkan matematika dengan baik agar tujuan pengajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Dalam hal ini penguasaan materi dan cara pemilihan pendekatan atau teknik pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang akan dicapai. Demikian juga halnya dengan proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, perlu disusun suatu strategi agar tujuan itu tercapai dengan optimal. Tanpa suatu strategi yang cocok, tepat dan jitu, tidak mungkin tujuan dapat tercapai. Kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan

matematika ke dalam situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna. Guru dalam pembelajaran di kelas tidak mengaitkan materi pembelajaran dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksikan sendiri ide-ide matematika, sehingga anak cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru bidang studi matematika pada siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar, Hasnati S.Pd., dalam pembelajaran matematika masih terlihat kurangnya siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Di samping itu, beliau juga mengatakan bahwa rendahnya kualitas pembelajaran matematika karena siswa beranggapan bahwa matematika

kebanyakan di dalamnya terdapat rumus-rumus yang harus dihapal dan kebanyakan materi dirasakan sulit untuk dipahami. Hal ini menyebabkan kualitas pembelajaran matematika masih perlu untuk lebih ditingkatkan. Maka dari itu, dalam penelitian ini penulis memilih menggunakan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara kolaboratif (gotong-royong). Model kooperatif ini digunakan dengan alasan utama dapat mengaktifkan siswa, baik dalam bekerja sama dan menemukan konsep hingga mencapai pemahaman yang diinginkan. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi dan transaksi di antara para siswa dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat banyak macam model pembelajaran seperti model pembelajaran Jigsaw, Two Stay Two Stray (TSTS), Teams Games Tournament (TGT), dan lain-lainnya. Diantara model pembelajaran yang telah disebutkan di atas, model pembelajaran kooperatif yang dipilih penulis dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Two Stay Two Stray atau dua tinggal dua tamu yaitu suatu teknik yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan kelompok lain. Struktur Two Stay Two Stray yaitu dalam satu kelompok terdiri dari empat siswa yang nantinya dua siswa bertugas sebagai pemberi informasi bagi tamunya dan dua lagi bertamu ke kelompok yang lain. Dengan penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray siswa akan terlibat secara aktif karena mereka saling berinteraksi satu sama lain, sehingga

akan memunculkan semangat siswa dalam belajar dengan demikian pembelajaran akan lebih bermakna. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis menggunakan judul Meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah: a. Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar? b. Bagaimanakah aktivitas siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar selama diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray? c. Bagaimanakah respon siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray? d. Bagaimanakah keterlaksanaan pembelajaran pada kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two StayTwo Stray?

C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. 2. Untuk mengetahui aktivitas siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. 3. Untuk mengetahui respon siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. 4. Untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran pada Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two StayTwo Stray.

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi siswa, dapat termotivasi untuk lebih giat lagi belajar matematika sehingga dapat meningkatkan kualitas belajarnya. 2. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dan salah satu acuan bagi guru matematika dalam memilih model pembelajaran dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika siswa. 3. Bagi sekolah, sebagai bahan informasi kepada pihak sekolah yang dapat di jadikan masuikan mengenai salah satu strategi pembelajaran yang efektif. 4. Bagi peneliti, sebagai bahan bandingan atau referensi, khususnya kepada penulis lain yang akan mengkaji masalah yang relevan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Teori 1. Pengertian Kualitas Pembelajaran Kualitas adalah ukuran baik buruknya sesuatu, kadar, mutu, derajat/taraf, kepandaian/kecakapan, dan sebagainya. Pembelajaran berdasarkan makna leksial berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Pembelajaran berpusat pada peserta didik. Pembelajaran merupakan proses organik dan konstruktif, bukan mekanis seperti halnya pengajaran (Dessiaming, 2011: 8). Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari proses pembelajaran (aktivitas belajar mengajar) dan hasil belajar berdasarkan: 1. 2. 3. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Keterlaksaanaan proses pembelajaran. Respon siswa terhadap proses pembelajaran.

Menurut Abdul Hadis dan Nurhayati B (2012: 97), bahwa mutu belajar mengajar sebagai mutu dari aktivitas mengajar yang dilakukan oleh guru dan mutu aktivitas belajar yang dilakukan oleh peserta didik di kelas, di laboratorium, di bengkel kerja, dan di kancah belajar lainnya. Sedangkan mutu hasil proses belajar mengajar ialah mutu dari aktivitas mengajar yang dilakukan oleh guru dan mutu aktivitas mengajar yang dilakukan oleh peserta didik di kelas, di laboratorium, di bengkel kerja, dan di kancah belajar lainnya yang terwujud dalam bentuk hasil belajar nyata yang dicapai oleh peserta didik berupa nilai rata-rata dari semua mata pelajaran dalam satu semester.

Menurut Klaumeier (Abdul Hadis dan Nurhayati B, 2012: 100), secara garis besar, ada dua faktor utama yang mempengaruhi mutu proses dan hasil belajar mengajar di kelas, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Adapun yang termasuk ke dalam faktor berupa: faktor psikologis, sosiologis, dan fisiologis yang ada pada diri siswa dan guru sebagai pelajar dan pembelajar. Sedangkan yang termasuk ke dalam faktor eksternal ialah semua faktor-faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar mengajar di kelas selain faktor yang bersumber dari faktor guru dan siswa. Faktor-faktor eksternal tersebut berupa faktor: masukan lingkungan, masukan peralatan, dan masukan eksternal lainnya. Menurut Gagne dkk. (Ratumanan, 2004: 12), belajar merupakan aktivitas siswa, baik aktivitas fisik maupun aktivitas mental emosional dan intelegensi. Cara belajar siswa aktif (CBSA) dikembangkan atas dasar prinsip aktivitas ini (oto aktivitas). Belajar yang baik tergantung pada tingkat keaktifan siswa. Keaktifan di sini tidak terbatas hanya pada keaktifan secara fisik (yang mudah diamati), tetapi juga keaktifan mental emosional dan intelegensi. Keaktifan siswa merupakan primus motor dalam kegiatan belajar maupun pembelajaran. Belajar akan lebih efektif bila siswa selalu berusaha secara aktif memproses dan mengolah informasi (pengetahuan), dan tidak hanya pasif menerima informasi (pengetahuan) sebagai hasil transfer gurunya. Sehingga secara umum kualitas pembelajaran adalah ukuran baik buruknya (mutu) proses pembelajaran yang berlangsung, yang terlihat dari aktivitas belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan hasil belajar siswa yang sesuai dengan indikator yang ingin dicapai.

2. Pengertian Belajar Keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang di alami oleh siswa sebagai anak didik. Menurut Henry E. Garret (Sagala, 2010: 13), belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Menurut Gagne (Suprijono, 2012: 2), belajar sebagai perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Dimana perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah. Belajar dalam idealisme berarti kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Namun, realitas yang dipahami oleh sebagian besar masyarakat tidaklah demikian. Belajar dianggapnya properti sekolah. Kegiatan belajar selalu di kaitkan dengan tugas-tugas sekolah. Sebagian besar masyarakat menganggap belajar di sekolah adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan. Anggapan tersebut tidak seluruhnya salah, sebab seperti dikatakan Reber (Suprijono, 2012: 3), belajar adalah the process of acquiring knowledge. Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan.

Menurut Morgan (Sagala, 2010: 13), belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Sehingga secara umum belajar di artikan perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman untuk mendapatkan pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pengamatan, membaca, meniru, mendengar, mencoba sesuatu dan mengikuti arah tertentu. 3. Proses Belajar Travers (Suprijono, 2012: 7) menggolongkan kegiatan belajar menjadi belajar kegiatan, belajar pengetahuan, dan belajar pemecahan masalah. Gagne (Suprijono, 2012: 10-11) mengidentifikasikan kegiatan belajar menjadi delapan yaitu: 1. Signal learning atau kegiatan belajar mengenal tanda. Tipe ini menekankan belajar sebagai usaha merespon tanda-tanda yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran. 2. Stimulus-response learning atau kegiatan belajar tindak balas. Tipe ini berhubungan dengan perilaku peserta didik yang secara sadar melakukan respon terhadap stimulus yang dimanipulasi dalam situasi pembelajaran. 3. Chaining learning atau kegiatan belajar melalui rangkain. Tipe ini berkaitan dengan kegiatan peserta didik menyusun antara dua stimulus atau lebih dengan berbagai respon yang berkaitan dengan stimulus.

10

4. Verbal association atau kegiatan belajar melalui asosiasi lisan. Tipe ini berkaitan dengan upaya peserta didik menghubungkan respons dengan stimulus yang di sampaikan secara lisan. 5. Multiple discrimination learning atau kegiatan belajar dengan perbedaan berganda. Tipe ini berhubungan dengan kegiatan peserta didik membuat berbagai perbedaan respons yang digunakan terhadap stimulus yang beragam, namun berbagai respons dan stimulus itu saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. 6. Concept learning atau kegiatan belajar konsep. Tipe ini berkaitan dengan berbagai respons dalam waktu yang bersamaan terhadap sejumlah stimulus berupa konsepkonsep yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. 7. Principle learning atau kegiatan belajar prinsip-prinsip. Tipe ini digunakan peserta didik menghubungkan beberapa prinsip yang digunakan dalam merespons stimulus. 8. Problem solving learning atau kegiatan belajar pemecahan masalah. Tipe ini berhubungan dengan kegiatan peserta didik menghadapi persoalan dan memecahkannya sehingga pada akhirnya peserta didik memiliki kecakapan dan keterampilan baru dalam pemecahan masalah. Dapat disimpulkan bahwa proses belajar adalah interaksi atau hubungan timbal balik antar siswa dengan guru dan antar sesama siswa untuk mendapatkan pengetahuan dalam memecahkan suatu masalah.

11

4. Hasil Belajar Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertianpengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut Bloom (Suprijono, 2012: 6), menyatakan bahwa hasil belajar mencakup kemampuan: 1. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, meringkas, ingatan), contoh),

comprehension application

(pemahaman,

menjelaskan,

(menerapkan),

analysis

(menguraikan,

menentukan

hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). 2. Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). 3. Domain psikomotorik meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotorik juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual. Menurut Suprijono (2012: 7), hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran yangv dikategorisasi oleh para pakar di atas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprehensif. Sementara menurut Lindgren (Suprijono, 2012: 7), hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian , dan sikap.

12

Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya dilihat dari satu aspek saja, di mana hasil belajar mencakup nilai kognitif, afektif, dan psikomotorik.

5. Aktivitas Belajar Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas. Tanpa aktivitas, kegiatan belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Sadirman (Junaidi, 2010) berpendapat bahwa belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Senada dengan hal di atas, Gie (Junaidi, 2010) mengatakan bahwa: Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung pada aktivitas yang dilakukannya selama proses pembelajaran. Aktivitas belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas secara sadar yang dilakukan seseorang yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya, berupa perubahan pengetahuan atau kemahiran yang sifatnya tergantung pada sedikit banyaknya perubahan. Aktivitas siswa dalam pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan pendapat Sadirman (Junaidi, 2010) bahwa: Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas belajar itu tidak mungkin akan berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, membaca, dan segala kegiatan yang dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar.

13

Dalam pembelajaran perlu diperhatikan bagaimana keterlibatan siswa dalam pengorganisasian pengetahuan, apakah mereka aktif atau pasif. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa selama mengikuti pembelajaran. Berkenaan dengan hal tersebut, Paul B. Dierich (Junaidi, 2010) menggolongkan aktivitas siswa dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut. 1. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, dan percobaan. 2. Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, dan memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan interupsi. 3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, dan pidato. 4. Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, dan menyalin. 5. Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, dan diagram. 6. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, dan beternak. 7. Mental activities, sebagai contoh misalnya: menganggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, dan mengambil keputusan.

14

8. Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, dan gugup. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa dalam mengikuti pembelajaran sehingga menimbulkan perubahan perilaku belajar pada diri siswa, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak mampu melakukan kegiatan menjadi mampu melakukan kegiatan.

6.

Respon Siswa Menurut Andri (Winarsih, 2011:3), respon dapat berupa aktif didepan

kelas dan aktif ditempat. Respon aktif didepan kelas yaitu dengan kata-kata atau lisan atau tulisan untuk mempresentasikan (mengkomunikasikan ide yang dilakukan di depan kelas). Respon aktif ditempat yaitu tanggapan siswa atas pertanyaan guru yang dilakukan ditempat duduk. Sedangkan respon diam adalah sikap siswa yang tidak memberikan tindakan terhadap pertanyaan. Lumut Ani Istiyati (Winarsih, 2011:3), menjelaskan respon siswa adalah tanggapan siswa pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sedangkan menurut Dimyati (Winarsih, 2011:3), respon sepadan dengan arti tanggapan, reaksi, pendapat, kesan, dan sebagainya. Respon siswa diartikan sebagai tanggapan untuk mempelajari sesuatu dengan perasaan senang. Menurut Panen (Winarsih, 2011:3), menjelaskan respon adalah perilaku yang lahir sebagai hasil masuknya stimulus ke dalam pikiran seseorang. Stimulus atau rangsangan bisa datang dari objek misalkan : peta, lingkungan, peristiwa,

15

suasana orang lain, atau dari aktivitas subjek lain misalnya orang lain bertanya kepada kita dan kita memberi jawaban atas pertanyaan itu, dengan kata lain respon merupakan jawaban atas stimulus atau tanggapan. Sehingga secara umum respon siswa adalah tanggapan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung yang dapat berupa tanggapan aktif dan tanggapan diam sebagai hasil masuknya stimulus ke dalam fikiran seseorang.

7.

Keterlaksanaan Pembelajaran Menurut Kamili (2012), Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses

interaksi antara siswa dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan. Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada peserta didik, dan bagaimana tujuan-tujuan pembelajaran direalisasikan. Oleh karena itu, keterlaksanaan langkah-langkah pembelajaran yang telah direncanakan dalam RPP menjadi penting untuk dilakukan secara maksimal, untuk membuat siswa terlibat aktif , baik mental, fisik maupun sosialnya dan proses pembentukan kompetensi menjadi efektif.

8.

Pembelajaran Kooperatif Ide yang melatarbelakangi bentuk pembelajaran kooperatif semacam ini

adalah apabila para siswa ingin agar timnya berhasil, mereka akan mendorong

16

anggota timnya untuk lebih baik dan akan membantu mereka melakukannya. Menurut Slavin (2010: 8), dalam metode pembelajaran kooperatif, para siswa akan duduk bersama untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru. Menurut Panitz (Suprijono, 2012: 54), pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentukbentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajarn kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Lie (Taniredja dkk, 2011: 57) menyebut cooperatif learning ini dengan sistem pengajaran gotong-royong, sebagaimana ia mengutip dari Surabaya Post, 31 Juli 1995, yang mengatakan bahwa latar belakang sejarah bangsa Indonesia sangat bertolak belakang dengan latar belakang Amerika Serikat. Karena perbedaan ini, ada suatu keragu-raguan bahwa penggunaan metode cooperatif learning atau sistem pengajaran gotong-royong mungkin bisa menghambat upaya pengembangan kemampuan diri sebagai individu. Menurut Roger dan David Johnson (Supriyono, 2012: 58), tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif diterapkan. Lima unsur tersebut adalah: 1. Positive interdependence (saling ketergantungan positif), yaitu unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua harus

17

pertanggungjawaban

kelompok.

Pertama,

mempelajari

bahan

yang

ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan. 2. Personal responsibility (tanggungjawab perseorangan), yaitu

pertanggungjawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok. 3. Face to face promotive interaction (interaksi promotif), yaitu unsur ini sangat penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. 4. Interpersonal skill (komunikasi antaranggota), yaitu untuk

mengoordinasikan kegiatan peserta didik dalam pencapaian tujuan peserta didik 5. Group processing (pemrosesan kelompok), pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1. Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif. 2. Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 3. Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam agar tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula. 4. Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.

18

Menurut Suprijono (2012: 58), pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar kelompok. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif. Model pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan: (1) memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama; (2) pengetahuan, nilai, dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai. Menurut Suprijono (2012: 65), model pembelajaran kooperatif adalah sebagaimana yang tertera tabel 2.1 Tabel 2.1 Model Pembelajaran Kooperatif FASE FASE Fase 1: present goals and set. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik. Fase 2: Menyajikan informasi. Fase 3: organize student into learning teams. Mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar. Fase 4: Assits team work and study. Membantu kerja tim dan belajar Fase 5: Test on the materials. Mengevaluasi. PERILAKU GURU Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar. Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan maupun dengan teks. Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien. Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok.

Fase 6: provide recognition. Memberikan pengakuan atau penghargaan.

19

9. Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray atau dua tinggal dua bertamu yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) merupakan model pembelajaran yang diawali dengan pembagian kelompok (Suprijono, 2012: 93). Setelah kelompok terbentuk guru memberikan tugas berupa masalah-masalah yang harus mereka diskusikan jawabannya. Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Two StayTwo Stray yaitu: 1. Siswa bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang. 2. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok

meninggalkan kelompoknya untuk bertamu kepada kelompok yang lain. 3. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka. 4. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. 5. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka. 6. Kesimpulan. Adapun kelebihan dari model Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut: 1. Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan. 2. Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna. 3. Lebih berorientasi pada keaktifan. Sedangkan kekurangan dari model Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut:

20

1. Membutuhkan waktu yang lama. 2. Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok. 3. Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas. Untuk mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif model Two StayTwo Stray, maka sebelum pembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan dan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Berdasarkan jenis kelamin, dalam satu kelompok harus ada siswa laki-laki dan perempuannya. Jika berdasarkan kemampuan akademis, maka dalam satu kelompok terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dengan kemampuan rendah. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kelebihan model Two Stay Two Stray adalah siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan pembelajaran lebih bermakna. Kekurangan model pembelajaran Two Stay Two Stray adalah teknik ini membutuhkan persiapan yang matang.

10. Deskripsi Materi Pelajaran a. Lingkaran Lingkaran dikatakan sebagai himpunan tempat kedudukan titik-titik pada bidang datar yang berjarak sama terhadap suatu titik

tertentu.lingkaran memiliki satu titik pusat yang berada tepat ditengah lingkran itu sendiri.

21

Gambar di atas merupakan sebuah lingkaran yang berpusat di titik O dengan jarijari lingkaran OA.

1.

Keliling lingkaran

D o

Berdasarkan gambar diatas, untuk mengetahui keliling sebuah lingkaran yang berpusat di titik O, ada dua cara yang bisa di tempuh, yaitu: a. Rumus menggunakan diameter ( d ) adalah K = d b. Rumus menggunakan jari-jari ( r ) adalah K = 2 r Contoh: Sebuah lingkaran mempunyai panjang diameter 28 cm. Tentukanlah : a. panjang jari-jari lingkaran? b. keliling lingkaran? Penyelesaian: a. d = 2 r r= d

22

r = x 28 cm r = 14 cm Jadi, panjang jari-jari lingkaran adalah 14 cm. b. K = d K= x 28 cm

K = 88 cm Jadi, keliling lingkaran tersebut adalah 88 cm

2.

Luas lingkaran.

Diameter o

Berdasarkan gambar di atas, maka luas lingkaran yang berpusat di titik O adalah: Luas lingkaran = Dengan, adalah jari-jari lingkaran = d

Contoh: Sebuah lingkaran mempunyai panjang diameter 28 cm. Tentukan : a. jari-jari lingkaran? b. luas lingkaran?

23

Penyelesaian: a. d = 2 r r= d r = x 28 cm r = 14 cm Jadi, jari-jari lingkaran adalah 14 cm. b. L = L= L= x( x 196 )

L = 616 Jadi, luas lingkaran adalah 616

3.

Hubungan sudut pusat dan sudut keliling C

o A B

Perhatikan gambar di atas. Titik O adalah pusat lingkaran. Sudut AOB dinamakan sudut pusat lingkaran karena titik sudutnya terletak pada pusat lingkaran. Sudut ACB dinamakan sudut keliling lingkaran, karena titik sudutnya terletak pada keliling lingkaran.

24

Hubungan antara sudut pusat dengan susut keliling adalah: a. Besar sudut pusat = 2 x besar sudut keliling

b. Besar sudut keliling yang menghadap busur yang sama adalah sama Contoh: Q

o P R , berapa besar PQR

Perhatikan gambar di atas. Jika POR = Penyelesaian: Besar susut pusat = 2 x besar sudut keliling POR = 2 x PQR = 2 x PQR POR = = Jadi, besar PQR adalah

4.

Hubungan antara busur, juring, dan sudut pusat

P o M N

25

Perhatikan gambar diatas.

Perhatikan POQ ,

Maka, Panjang busur PQ = Luas juring POQ = Contoh: Perhatikan gambar di samping Jari-jari lingkaran adalah 7 cm Dan besar AOB = Hitunglah: a. Panjang busur a. Luas juring Penyelesaian: a. o A B keliling lingkaran luas lingkaran

Panjang busur AB =

26

=3

Jadi, panjang busur AB adalah 3 cm

a.

Luas juring AOB = =

= 12

Jadi, luas juring AOB adalah 12

b.

Garis singgung lingkaran 1. Garis singgung Garis singgung pada suatu lingkaran adalah garis yang memotong lingkaran itu tepat pada satu titik di lingkaran itu.

27

Perhatikan gambar di bawah ini!

Lingkaran tersebut berpusat di titik O dengan panjang garis singgung AB dan BC Contoh: Lingkaran O berjari-jari 6 cm dan AB adalah garis singgung. Jika panjang OB = 10 cm, hitunglah panjang AB oooooo o

Perhatikan gambar di sebelah Karena AB garis singgumg lingkaran, maka AOB adalah segitiga siku-siku di A, sehingga

= = = 64 AB = AB = 8 cm Jadi, panjang AB adalah 8 cm

28

2.

Garis singgung persekutuan luar dua lingkaran p Q T A b a

berdasarkan gambar di sebelah, lingkaran A berjari-jari R, lingkaran B berjari-jari r, dan PQ adalah garis singgung persekutuan luar lingkaran A dan B. Misalkan panjang garis pusat AB adalah a, maka PQ adalah: Buat garis sejajar PQ melalui B, sehingga memotong AP di T AT = R r, TB = PQ, dan AB = a Berdasarkan teorema Pythagoras, diperoleh:

( Karena TB = PQ, maka PQ = Contoh: ( ( )

) )

Gambar berikut menunjukkan dua buah lingkaran dengan pusat P dan Q. Panjang jari-jari PR = 20 cm dan QS = 15 cm. RS adalah garis singgung persekutuan luar. Jika PQ = 13 cm, maka panjang RS adalah

29

Penyelesaian: AT = R r = 20 15 = 5 cm PQ = a = 13 Maka, RS = RS = RS = RS = RS = 12 cm Jadi, panjang garis singgung persekutuan luarnya = 12 cm ( ( ) )

3.

Garis singgung persekutuan dalam dua lingkaran T P R A Q berdasarkan gambar di sebelah, lingkaran A berjari-jari R, lingkaran B berjariB r

jari r, dan PQ adalah garis singgung persekutuan dalam lingkaran A dan B. Perhatikan segitiga siku-siku ABT, dengan T titik siku-sikunya. AT = AP + TP =R+r

30

AB = a dan BT = PQ Berdasarkan teorema Pythagoras, didapat:

( Karena BT = PQ, maka PQ = Contoh: ( ( )

) )

Perhatikan gambar berikut ! Jika jarak PQ = 26 cm dan AB adalah garis singgung persekutuan dalamnya, maka panjang AB adalah .

Penyelesaian: AT = R + r =7+3 = 10 cm PQ = a = 26 Maka, AB = AB = 24 cm Maka, panjang garis singgung persekutuan dalamnya = 24 cm ( )

31

B. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian pustaka yang telah dikemukakan, maka penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika siswa kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar.

32

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Sesuai dengan hakekat penelitian tindakan kelas maka prosedur pelaksanaan penelitian dilakukan secara berdaur ulang (bersiklus) melalui 4 tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Planning (perencanaan) 2. Acting (pelaksanaan tindakan) 3. Observing (observasi) dan evaluation (evaluasi) 4. Reflecting (refleksi) (Kusnandar, 2010: 129)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian Lokasi penelitian ini adalah SMP Negeri 21 Makassar. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar sebanyak 38 orang siswa, yang terdiri dari 26 orang laki-laki dan 12 orang perempuan. Penelitian ini berlangsung pada Semester II (genap) tahun pelajaran 2012/2013

C. Faktor yang Diteliti 1. Faktor input: menyelidiki kemampuan awal siswa berdasarkan dokumentasi guru sebelum pelaksanaan tindakan 2. Faktor proses: menyelidiki aktivitas siswa dan keterlaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray.

33

3. Faktor output: menyelidiki respon siswa dan hasil belajar matematika siswa setelah pelaksanaan tindakan dengan

pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada setiap akhir siklus.

D. Prosedur Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan secara bersiklus. Jika siklus masih belum berhasil, maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya. Setiap siklus dilaksanakan dalam beberapa pertemuan untuk membahas materi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray, dan di akhir siklus akan diberikan tes untuk evaluasi hasil belajar siswa. Adapun rencana tindakan yang akan diberikan terdiri atas 4 tahapan, yaitu: 1) Perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi dan evaluasi, 4) refleksi. Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas tersebut dijabarkan sebagai berikut: 1. Perencanaan a). Menelaah kurikulum SMP Kelas VIII Semester II mata pelajaran matematika. b). Membuat perangkat pembelajaran untuk setiap pertemuan yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa. c). Menetapkan dan mengadministrasikan skor awal siswa yang diperoleh dari nilai lapor mata pelajaran matematika siswa pada semester

34

sebelumnya untuk sebagai acuan dalam penentuan anggota kelompok secara heterogen. d). Membuat lembar observasi aktivitas siswa untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran e). Membuat lembar observasi guru untuk mengamati keterlaksanaan pembelajaran f). Membuat angket untuk mengetahui tanggapan siswa tentang model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. g). Mendesain alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada akhir siklus. 2. Pelaksanaan tindakan a). Penyajian materi pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar sekaligus menyajikan informasi. b). Membagikan LKS pada tiap-tiap kelompok. c). Diskusi masing-masing kelompok untuk memecahkan masalah. d). Kemudian 2 dari 4 anggota masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok lain, sementara 2 anggota yang tinggal dalam kelompok bertugas menyampaikan hasil kerja

kelompoknya ke anggota kelompok yang lain yang berperan sebagai tamu. e). Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan

35

temuannya serta mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. f). Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 3. Observasi dan Evaluasi a.) Mengamati setiap aktivitas dan kegiatan siswa selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Adapun indikatornya yaitu: kehadiran penjelasan siswa guru, dalam aktif proses dalam

pembelajaran,

memperhatikan

memecahkan masalah, siswa dapat menjelaskan materi kepada teman yang datang berkunjung di kelompoknya, siswa bertamu ke kelompok lain untuk mendapatkan informasi berupa materi, mencatat apa yang disampaikan teman, mengajukan pertanyaan, memberikan bantuan penjelasan kepada teman yang membutuhkan, dan memberikan komentar terhadap kelompok lain serta siwa dapat menyimpulkan materi berdasarkan kelompoknya. b.) Keterlaksanaan pembelajaran terkait tata cara guru dalam mengajar sesuai model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang berlangsung dengan menggunakan lembar observasi guru. Adapun indikatornya yaitu: guru membuka pelajaran, guru mengecek kehadiran siswa, guru menyajikan materi, guru membagi siswa ke dalam kelompok, guru membagikan LKS kepada tiap-tiap kelompok, guru membimbing kelompok, dan guru meminta presentasi dari setiap

36

kelompok, guru memberikan penghargaan pada kelompok yang berhasil, serta guru memberikan tugas pada akhir pertemuan

c.)

Untuk

mendapatkan yang

informasi telah

dari

siswa

tentang akan

kegiatan diminta

pembelajaran

dilakukan,

siswa

tanggapannya pada akhir siklus. d.) Informasi (data evaluasi) diperoleh pada akhir siklus dengan memberikan tes hasil belajar dalam bentuk soal essay sebanyak 5 nomor. 4. Refleks i Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan kemudian dianalisis, begitu pula evaluasinya. Hal-hal yang kurang, akan diperbaiki dan dikembangkan. Hasil analisis inilah yang menjadi acuan penulis untuk merencanakan siklus berikutnya sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan dan hendaknya bisa lebih baik dari siklus sebelumnya.

E. Instrumen Penelitian Dalam pelaksanaan penelitian ini, maka peneliti menggunakan instrumen penelitian yang merupakan alat untuk mengumpulkan data di lapangan yaitu: 1. Dokumentasi untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum pelaksanaan tindakan. 2. Tes hasil belajar untuk mengukur kemampuan akademik siswa.

37

3. Angket untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran. 4. Lembar observasi aktivitas siswa untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung 5. Lembar observasi aktivitas guru untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui data dan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan keberadaannya. Oleh karena itu, instrumen yang dimaksud adalah alat atau fasilitas yang digunakan dalam penelitian untuk mengukur dan mendapatkan data yang relevan dengan masalah yang sedang diteliti.

F.

Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini

adalah sebagai berikut: 1) Data tentang hasil belajar siswa sebelum pelaksanaan tindakan diambil dari dokumentasi guru pada saat observasi awal. 2) Data tentang aktivitas belajar siswa di kelas diambil dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa pada setiap akhir siklus. 3) Data tentang keterlaksanaan pembelajaran diambil dengan

menggunakan lembar observasi aktivitas guru pada setiap akhir siklus

38

4) Data mengenai respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang diperoleh melalui angket pada setiap akhir siklus. 5) Data tentang hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar pada setiap akhir siklus.

G. Teknik Analisis Data 1. Hasil Belajar Data mengenai hasil belajar matematika siswa digambarkan mengenai nilai rata-rata, nilai maksimum, nilai minimum, rentang skor, dan standar deviasi. Data mengenai hasil belajar matematika siswa selanjutnya dikategorikan berdasarkan teknik kategorisasi standar yang diterapkan oleh departemen pendidikan dan kebudayaan (Nisnawati, 2011: 40) dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.1 Kategori hasil belajar SKOR 0 54 55 64 65 79 80 89 90 100 KATEGORI Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

Hasil belajar matematika siswa dapat dilihat dari hasil belajar yang secara individual, kriteria seorang siswa dikatakan tuntas ketika memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditentukan oleh sekolah yakni 65.

39

2. Ativitas Siswa Analisis data aktivitas siswa dilakukan dengan menghitung persentase frekuensi siswa yang melakukan aktvitas positif dalam pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. Langkah-langkah analisis aktivitas positif siswa adalah sebagai berikut: 1. Menghitung persentase aktivitas positif siswa setiap pertemuan dengan rumus:

Keterangan: %ASPi = Persentase aktivitas siswa pertemuan ke-i dengan i =1, 2, 3,4 FSKi JSPi n = Frekuensi komponen k dengan k = 1, 2, ..., 8 = Jumlah siswa yang hadir pertemuan ke-i dengan i =1, 2, 3,4 = Banyaknya komponen yang diamati (N = 8)

2. Menghitung rata-rata persentase aktivitas positif siswa selama 4 kali pertemuan dengan rumus: Keterangan: = Rata-rata persentase aktivitas positif siswa

%ASPi = Persentase aktivitas siswa pertemuan ke-i dengan i =1, 2, 3,4 t = Banyaknya pertemuan (t = 4)

40

3.

Respon Siswa Data tentang respons siswa diperoleh dari angket respons siswa terhadap pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. Adapun langkah-langkah dalam menganalisis respons positif siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut: 1. Menghitung persentase respons dari setiap aspek yang direspons dengan rumus:

Keterangan: %Ri = Persentase respons positif siswa untuk aspek ke-i dengan i =1, 2, 3, 4, 5, ..., 10 Fi = Frekuensi siswa yang memberikan respons positif untuk aspek ke-i dengan i =1, 2, 3, 4, 5, ..., 10 N 2. = Banyaknya responden

Menghitung rata-rata persentase respons positif siswa dengan rumus:

Keterangan: %Ri = Rata-rata persentase respons positif siswa = Persentase respons positif siswa untuk aspek ke-i dengan i =1, 2, 3, 4, 5, ..., 10 a . = Banyaknya aspek (a = 10)

41

4.

Keterlaksanaan Pembelajaran Untuk mendeskripsikan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray selama 4 kali pertemuan. Adapun langkah-langkah dalam menganalisis keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray adalah sebagai berikut: 3. Menghitung rata-rata skor selama 4 kali pertemuan dengan rumus:

Keterangan: = rata-rata skor selama 4 kali pertemuan = Skor ke-i pada pertemuan 1 dengan i =1, 2, ..., 21 = Skor ke-i pada pertemuan 2 dengan i =1, 2, ..., 21 = Skor ke-i pada pertemuan 3 dengan i =1, 2, ..., 21 a 4. = Banyaknya aspek yang diamati (a=21)

Menghitung persentase rata-rata skor keterlaksanaan pembelajaran dengan rumus:

Keterangan: D = Persentase rata-rata skor keterlaksanaan pembelajaran = rata-rata skor selama 4 kali pertemuan = Skor ideal (D = 4)

Sedangkan untuk memberikan interpretasi terhadap rata-rata skor akhir yang diperoleh digunakan kategori sebagai berikut:

42

Tabel 3.2 Pedoman Rata-rata Kategori Kemampuan Guru No 1. 2. 3. 4. Skor X 3,25 < x < 4,00 2,50 < x < 3,25 1,75 < x < 2,50 1,00 < x < 1,75 Kategori Sangat Baik Baik Kurang Baik Tidak Baik

H. Indikator Keberhasilan Indikator kinerja yang menunjukan keberhasilan dalam penelitian ini adalah meningkatnya kualitas belajar siswa yang ditandai dengan: 1. Meningkatnya skor rata-rata hasil belajar matematika yang diperoleh siswa minimal 65 pada materi yang diberikan, minimal 85% dari jumlah siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. 2. Aktivitas siswa meningkat menjadi (mencapai) minimal 50%. Siswa lebih aktif selama pembelajaran. 3. Siswa merespon positif minimal 60% terhadap model pembelajaran yang berlangsung di kelas. 4. Terlaksananya pembelajaran minimal 85% dari kegiatan guru yang dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray.

43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas tentang hasil-hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan kualitas belajar matematika siswa kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray.

A. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Sebelum Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini dilaksanakan analisis hasil belajar siswa berdasarkan dokumentasi dari guru bidang studi sebelum dilaksanakan tindakan siklus. Adapun data skor hasil belajar matematika sebelum tindakan dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Statistik Skor hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Sebelum Tindakan STATISTIK Subjek Skor ideal Skor tertinggi Skor terendah Rentang skor Skor rata-rata Standar deviasi NILAI STATISTIK 38 100 80 45 35 64,65 8,45

Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam 4.2 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti yang disajikan pada tabel 4.2 berikut:

44

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Skor 0 34 35 54 55 64 65 84 85 100 Kategori Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Jumlah Frekuensi 0 5 10 23 0 Persentase (%) 0 13,16 26,32 60,52 0 100

Berdasarkan Tabel 4.1 dan Tabel 4.2, maka dapat dinyatakan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika sebelum pelaksanaan tindakan sebesar 64,65 dengan standar deviasi 8,45 dari skor ideal 100 berada pada kategori sedang. Apabila hasil belajar siswa sebelum tindakan dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada Siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut: Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Skor 0 - 64 65 100 Jumlah Kategori Tidak tuntas Tuntas Frekuensi 15 23 32 Persentase (%) 39,47 60,52 100%

Dari Tabel 4.3 di sebelah menunjukkan bahwa persentase ketuntasan kelas sebesar 60,52% yaitu 23 siswa dari 38 termasuk dalam kategori tuntas dan 39,47% atau 15 siswa dari 32 termasuk dalam kategori tidak tuntas. Ini berarti terdapat 15 siswa yang perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan individual. 2. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I a. Hasil Belajar

45

Pada Siklus I ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian setelah penyajian materi selama 4 kali pertemuan. Adapun data skor hasil belajar Siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut: Tabel 4.4 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Siklus I STATISTIK Subjek Skor ideal Skor tertinggi Skor terendah Rentang skor Skor rata-rata Standar deviasi NILAI STATISTIK 38 100 80 50 30 68,36 7,66

Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam 5 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti yang disajikan pada Tabel 4.5 : Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Pada Siklus I Skor 0 34 35 54 55 64 65 84 85 100 Kategori Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Jumlah Frekuensi 0 2 9 27 0 32 Persentase (%) 0 5,26 23,68 71,05 0 100%

Berdasarkan Tabel 4.4 dan Tabel 4.5, maka dapat dinyatakan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika Siklus I sebesar 68,36 dengan standar deviasi 7,66 dari skor ideal 100 berada pada kategori tinggi. Apabila hasil belajar siswa pada Siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada Siklus I dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut:

46

Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Siklus I Skor 0 64 70 100 Jumlah Kategori Tidak tuntas Tuntas Frekuensi 11 27 32 Persentase (%) 28,95 71,05 100%

Dari Tabel 4.6 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan kelas sebesar 71,05% yaitu 27 siswa dari 38 termasuk dalam kategori tuntas dan 28,95% atau 11 siswa dari 38 termasuk dalam kategori tidak tuntas. Ini berarti terdapat 11 siswa yang perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan individual. Ketuntasan belajar siswa lebih ditingkatkan lagi ke siklus berikutnya hingga mencapai ketuntutasan minimal 85%

b. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Analisis data hasil observasi menggunakan analisis presentase. Skor yang diperoleh masing-masing indikator dijumlahkan dan prestasinya disebut jumlah skor. Selanjutnya dihitung rata-rata dengan membagi jumlah skor dengan skor maksimal yang mungkin, lalu dikalikan dengan 100%. Kriteria taraf keberprestasian tindakan ditentukan sebagai berikut: 90% 80% 70% 60% 0% skor skor skor skor skor 100% : Sangat Baik 90% : Baik 80% : Cukup 70% : Kurang 60% : Sangat Kurang

47

Data tentang sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika diperoleh melalui lembar observasi aktivitas siswa. Adapun deskriptif tentang sikap siswa dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut Tabel 4.7 Hasil observasi sikap siswa selama mengikuti pembelajaran Siklus I No 1 2 3 4 5 6 7 8 Komponen yang diamati (dari 38 siswa yang diamati) Siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran. Siswa yang memperhatikan pembahasan materi pelajaran. Aktif dalam memecahkan masalah secara berkelompok. Mencatat apa yang disampaikan oleh teman (pada saat bertamu) Mengajukan pertanyaan mengenai materi Memberikan bantuan penjelasan kepada teman yang membutuhkan Memberikan komentar terhadap presentasi kelompok yang lain Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat kerja kelompok (berbicara, bermain) Siklus I 1 32 30 30 10 6 10 8 8 2 37 32 32 12 12 14 10 6 3 37 36 33 10 20 16 12 2 4 38 37 34 14 26 20 13 1 36,00 33,75 32,25 11,5 16,00 15,00 10,75 4,25 % 94,73 88,81 84,86 63,8 42,10 39,47 28,28 11,18

Adapun sikap siswa dari Siklus I adalah sebagai berikut : 1. Kehadiran siswa pada siklus satu sangat baik, walaupun di awal pertemuan .ada sekitar 6 siswa yang berhalangan hadir dengan alasan tertentu. 2. Perhatian siswa ketika guru sedang menjelaskan materi dikategorikan baik, walaupun masih ada sedikit yang melakukan aktivitas lain. 3. Perhatian siswa akan kerjasama mereka di dalam kelompok terlihat baik, hal ini akan lebih ditingkatkan ke siklus berikutnya.

48

4. Siswa yang bertugas sebagai tamu, masih kurang memperhatikan penjelasan dari temannya. 5. Siswa masih kurang mengajukan pertanyaan terhadap materi pelajaran. 6. Bagi siswa bertindak yang melayani tamu, juga masih kurang memberikan penjelasan kepada teman mereka 7. Siswa juga terlihat masih kurang memberikan kontribusi berupa pertanyaan kepada kelompok lain. 8. Masih ada sedikit siswa yang bermain-main di dalam proses pembelajaran

c.

Hasil Respon Siswa Dari hasil analisis terhadap refleksi atau tanggapan siswa, dapat

disimpulkan bahwa siswa pada umumnya senang belajar matematika walaupun terasa sulit dan kadang-kadang membosankan. Adapun terhadap metode TSTS (Two Stay Two Stray) yang diterapkan maka siswa memberikan tanggapan yang positif. 79,21% dari siswa menyatakan bahwa mereka sangat senang dengan kerja kelompok karena dengan adanya kerja kelompok maka mereka bisa saling kerja sama dan saling bertanya sama teman jika mereka menemui kesulitan. Saran siswa terhadap guru yaitu agar guru yang mengajar menyiapkan referensi yang banyak sehingga pelajaran yang diberikan dapat dipahami oleh mereka dengan adanya contoh-contoh yang bervariasi dan mudah dipahami. Data tentang tanggapan siswa diperoleh melalui angket respon siswa yang diberikan pada akhir pertemuan.

49

d. Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Data tentang keterlaksanaan pembelajaran di dalam kelas pada Siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut Tabel 4.8 Hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran pada Siklus I Kurang sekali 0 0 pembelajaran selama proses

SIKLUS I JUMLAH (%)

PENILAIAN Kurang Baik 6 10 28,57 47,62

Baik sekali 5 23,81

Dari

Tabel

4.8

menunjukkan

bahwa

persentase

keterlaksanaan

pembelajaran di kelas sebesar 47,62% yaitu 12 tahapan dari 21 tahapan proses pembelajaran termasuk dalam kategori baik dan 28,57% atau 6 tahapan dari 21 tahapan termasuk dalam kategori kurang. Ini berarti terdapat 6 tahapan yang perlu diperbaiki lagi.

e.

Tahap Refleksi. Pada penemuan-penemuan awal pelaksanaan Siklus I siswa sudah mulai

menunjukkan semangat dan keaktifannya dalam menerima pelajaran dibanding sebelum pelaksanaan tindakan. Hal ini terjadi karena mereka pada umumnya sangat senang dengan pembelajaran kelompok walaupun tidak semuanya karena ada beberapa siswa yang masih kurang pede dan agak tertutup sehingga mereka sulit untuk berdiskusi dengan temannya. Sebagian besar siswa ketika diberikan soal oleh guru maka mereka berebutan untuk menjawab soal di papan tulis. Dari hasil pengamatan kami mengambil kesimpulan bahwa siswa senang dengan metode belajar yang digunakan karena mereka mampu menjawab soal

50

dengan benar dan tepat dan mereka terlihat sangat aktif pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Namun demikian masih terdapat beberapa kekurangan di Siklus I yaitu masih ada beberapa siswa yang kurang aktif pada saat proses pembelajaran berlangsung. Di antara mereka ada yang mengaku bahwa tidak suka dengan pelajaran Matematika sehingga guru yang mengajar berusaha untuk membuatnya tertarik belajar Matematika. Sebelum masuk pada materi pelajaran guru selalu menyampaikan tujuan pembelajaran kemudian memberikan motivasi kepada siswa agar siswa tertarik terhadap materi pelajaran tersebut, tetapi dengan begitu masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan guru. Pembelajaran kooperatif pada fase terakhir adalah pemberian

penghargaan kepada kelompok. Pada Siklus I ini siswa dengan pemberian penghargaan pada kelompok belum dapat meningkatkan semangat bagi sebagian siswa dalam mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena siswa baru mengenal model pembelajaran kooperatif yang sebelumnya tidak pernah digunakan oleh guru kelasnya.

3. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II a. Hasil Belajar

Sama halnya pada Siklus I, pada Siklus II ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian setelah penyajian materi selama 4 kali pertemuan. Data skor hasil belajar Siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut:

51

Tabel 4.9 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Siklus II STATISTIK Subjek Skor ideal Skor tertinggi Skor terendah Rentang skor Skor rata-rata Standar deviasi NILAI STATISTIK 38 100 90 60 30 73 7,29

Apabila skor hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam 5 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti pada Tabel 4.10 Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Pada Siklus II Skor 0 34 35 54 55 64 65 84 85 100 Kategori Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Jumlah Frekuensi 0 0 5 29 4 38 Persentase (%) 0 0 13,16 76,32 10,53 100

Berdasarkan Tabel 4.9 dan Tabel 4.5, maka dapat dinyatakan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika Siklus I sebesar 73 dengan standar deviasi 7,29 dari skor ideal 100 berada pada kategori tinggi. Apabila hasil belajar siswa pada Siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut: Tabel 4.11 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar Siklus II Skor 0 - 64 65 - 100 Jumlah Kategori Tidak tuntas Tuntas Frekuensi 5 33 38 Persentase (%) 13,16 86,84 100

52

Dari tabel 4.11 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan kelas sebesar 86,84% yaitu 33 siswa dari 38 termasuk dalam kategori tuntas dan 13,16% atau 5 siswa dari 38 termasuk dalam kategori tidak tuntas.

b. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Sama halnya pada Siklus II, data tentang sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika diperoleh melalui lembar observasi aktivitas siswa. Adapun deskriptif tentang sikap siswa dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut: Tabel 4.12 Hasil observasi sikap siswa selama mengikuti pembelajaran Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 Komponen yang diamati (dari 38 siswa yang diamati) Siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran. Siswa yang memperhatikan pembahasan materi pelajaran. Aktif dalam memecahkan masalah secara berkelompok. Mencatat apa yang disampaikan oleh teman (pada saat bertamu) Mengajukan pertanyaan mengenai materi Memberikan bantuan penjelasan kepada teman yang membutuhkan Memberikan komentar terhadap presentasi kelompok yang lain Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat kerja kelompok (berbicara, bermain) Siklus I 1 35 31 28 16 13 17 8 1 2 36 31 29 18 17 19 11 1 3 37 35 33 16 22 21 13 1 4 37 37 35 16 28 33 15 2 36,60 34,60 32,40 16,5 22,40 25,40 13,20 1,25 % 96,31 91,05 85,26 91,6 58,94 66,84 34,73 3,29

53

Adapun sikap siswa dari Siklus II adalah sebagai berikut : 1. Kehadiran siswa pada siklus satu sangat baik, terlihat dari meningkatnya persentase kehadiran siswa di Siklus II. 2. Perhatian siswa ketika guru sedang menjelaskan materi dikategorikan baik, walaupun masih ada sedikit yang melakukan aktivitas lain. 3. Perhatian siswa akan kerjasama mereka di dalam kelompok terlihat baik. 4. Siswa yang bertugas sebagai tamu, terlihat memperhatikan penjelasan dari temannya. 5. Siswa sudah aktif dalam mengajukan pertanyaan terhadap materi pelajaran. 6. Bagi siswa bertindak yang melayani tamu, juga sangat aktif memberikan penjelasan kepada teman mereka 7. Siswa mulai berani memberikan kontribusi berupa pertanyaan kepada kelompok lain. 8. Siswa yang terlihat bermain-main selama proses pembelajaran juga menurun di Siklus I

c.

Respon Siswa

Sama halnya pada Siklus I, dari hasil analisis terhadap tanggapan siswa pada Siklus II ini, siswa memiliki rasa senang dan minat yang tinggi terhadap pelajaran matematika walaupun terkadang terkesan rumit dan membosankan. Adapun terhadap metode TSTS (Two Stay Two Stray) yang diterapkan maka siswa memberikan tanggapan yang positif. 88,15% dari siswa menyatakan bahwa

54

mereka sangat senang dengan

kerja kelompok karena dengan adanya kerja

kelompok maka mereka bisa saling kerja sama dan saling bertanya sama teman jika mereka menemui kesulitan. Siswa juga menyatakan bahwa dengan kerja kelompok mereka akan lebih termotivasi untuk belajar matematika. Data tentang tanggapan siswa diperoleh melalui angket respon siswa yang diberikan pada akhir pertemuan Siklus II.

d. Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Data tentang keterlaksanaan pembelajaran di dalam kelas pada Siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut: Tabel 4.13 Hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran selama proses pembelajaran pada Siklus II SIKLUS II JUMLAH (%) PENILAIAN Kurang sekali 0 0 Kurang 1 4,76 Baik 12 57,14 Baik sekali 9 42,85

Dari Tabel 4.13 di atas menunjukkan bahwa persentase keterlaksanaan pembelajaran di kelas sebesar 42,85% yaitu 9 dari 21 tahapan proses pembelajaran termasuk dalam kategori baik sekali, 57,14% yaitu 12 tahapan dari 21 tahapan proses pembelajaran termasuk dalam kategori baik dan 4,76% atau 1 tahapan dari 21 tahapan termasuk dalam kategori kurang.

55

e.

Hasil Analisis Refleksi.

Begitu pula Siklus II juga dilaksanakan 4 kali pertemuan dengan menerapkan pembelajaran yang sama. Lain halnya pada siklus II kehadiran siswa hampir tidak ada yang tidak hadir mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena rasa ingin tahu siswa terhadap matematika yang sebelumnya dianggap sulit itu ternyata mudah. Sehingga timbul semangat untuk mengikuti pelajaran. Begitu pula perhatian siswa semakin antusias saja dalam menerima materi pelajaran. Pada Siklus II ini semangat dan minat siswa semakin meningkat dengan adanya penghargaan yang diberikan sehingga dapat memotivasi siswa dalam proses belajar mengajar.

B. Analisis Refleksi Siswa Dari hasil analisis terhadap refleksi dan tanggapan siswa dapat disimpulkan ke dalam kategori sebagai berikut : 1. Pendapat siswa tentang pelajaran matematika. Sebagian siswa berpendapat bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang kadang-kadang mudah dimengerti juga kadang-kadang sulit dipahami mulai dari berhitung sampai penggunaan rumusnya. Oleh karena itu diperlukan keseriusan, konsentrasi dan disiplin yang tinggi. Adapula yang berpendapat bahwa kesenangan terhadap pelajaran matematika relatif artinya pada saat materi pelajaran yang diajarkan mudah

56

mereka senang belajar. Tetapi jika materi yang diajarkan sulit maka mereka kurang senang menerima materi pelajaran. Selain itu dalam mempelajari matematika diperlukan banyak latihan dalam menyelesaikan soal-soal, agar dapat meningkatkan daya nalar. Dengan mempelajari matematika dapat mengetahui banyak rumus dan simbol-simbol. Sehingga dengan mempelajari matematika semua pelajaran yang lain mudah dipahami. 2. Bagaimana motivasi/semangat siswa dalam belajar matematika setelah digunakan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray Untuk hal ini pada umumnya siswa menanggapi positif tentang penerapan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray, karena dengan model pembelajaran tersebut siswa dapat belajar bekerja sama menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru sehingga siswa yang merasa kurang memahami materi dapat bertanya kepada siswa yang lebih mengetahui. Dengan adanya kerjasama antara siswa maka bukan hanya akan terjadi interaksi antar siswa tetapi juga interaksi antar siswa dan guru, sehingga pembelajaran yang berlangsung di kelas akan lebih bermakna. 3. Bagaimana hambatan dalam belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. hambatan siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray adalah : a. Pemahaman siswa masih kurang dikarenakan kurangnya contoh-contoh soal yang diberikan oleh guru.

57

b. Penyajian materi terlalu cepat sehingga siswa masih kurang mengerti. c. Masih kurangnya sarana dan prasarana pendukung dalam meningkatkan proses belajar mengajar. d. Dalam proses pengajaran model pembelajaran kelompok tipe Two Stay Two Stray membutuhkan waktu yang banyak. 4. Bagaimana sebaiknya guru mengajarkan matematika Saran yang diajukan siswa terhadap bagaimana sebaiknya guru dalam mengajarkan matematika antara lain : a. Pada umumnya siswa menyarankan bahwa untuk lebih memahami materi pelajaran sebaiknya diberikan contoh, agar mereka lebih mengerti, mudah mengerjakan soal dan tidak mudah lupa. b. Sebagian juga menyarankan bahwa dalam menyajikan materi jangan terlalu cepat agar lebih mudah dimengerti.

C. Pembahasan Hasil Penelitian Dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang terdiri dari dua siklus. Penelitian ini membuahkan hasil yang signifikan yakni meningkatnya kualitas belajar matematika siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar. Peningkatan yang terjadi terlihat dari hasil belajar dan respon siswa selama proses pembelajaran. Peningkatan yang terjadi dilihat dari Tabel 4.14 sebagai berikut:

58

Tabel 4.14 Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar pada setiap Siklus. Siklus I II Nilai perolehan dari 38 siswa Maks 80 90 Min 50 60 Mean 68,36 73 R 30 30 StDev 7,66 7,29 Ketuntasan Tuntas 27 33 Tidak tuntas 11 5

Berdasarkan hasil deskriptif Tabel 4.14 di atas menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan dua kali tes, banyaknya siswa yang tuntas secara perorangan pada Siklus I adalah 27 orang meningkat menjadi 33 orang pada Siklus II. Ditinjau secara klasikal peningkatannya adalah 71,05% pada Siklus I meningkat menjadi 86,84% pada Siklus II yang bila dikategorisasikan berada pada kategori sangat tinggi. Sedangkan peningkatan kualitas proses belajar siswa pada hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan pada Siklus I rendah, hal ini disebabkan siswa belum terbiasa dengan strategi pembelajaran yang diterapkan, akibatnya hasil belajar matematika juga rendah. Pada Siklus II terjadi peningkatan kualitas proses belajar mengajar yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar matematika. Hal ini dsebabkan siswa mulai beradaptasi dengan strategi pembelajaran yang diterapkan, selain itu siswa lebih termotivasi dengan penghargaan dalam bentuk materi. Adapun hasil pengamatan menunjukkan bahwa keterampilan sosial dalam belajar kelompok secara kooperatif masih perlu ditingkatkan terutama menjalin kerjasama yang baik dan membagi membagi tugas dengan proporsi yang sama besar. Dengan peningkatan keterampilan sosial akan lebih memudahkan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

59

Berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran di kelas 47,62% tahapan pembelajaran telah terlaksana dengan baik pada Siklus I, namun masih ada 28,57% tahapan yang kurang terlaksana dengan baik. Sedangkan pada Siklus II 57,14% tahapan pembelajaran telah terlaksana dengan baik, 42,85% tahapan telah terlaksana dengan sangat baik dan masih ada 4,76% tahapan yang kurang terlaksana. Rencana pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini sesuai dengan waktu yang diberikan, namun waktu yang digunakan kenyataannya tidak cukup dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas. Berdasarkan hasil angket respon siswa menunjukkan bahwa siswa merespon positif 79,21% terhadap pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada Siklus I dan meningkat menjadi 88,15% pada Siklus II. Hal ini disebabkan karena dengan model pembelajaran tersebut siswa dapat belajar bekerja sama menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru sehingga siswa yang merasa kurang memahami materi dapat bertanya kepada siswa yang lebih mengetahui. Dengan adanya kerjasama antara siswa maka bukan hanya akan terjadi interaksi antar siswa tetapi juga interaksi antar siswa dan guru. Pembelajaran juga berlangsung menyenangkan serta dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.

60

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray cocok digunakan di kelas VIII A SMP Negeri 21 Makassar. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya kualitas pembelajaran yang dilihat dari meningkatnya hasil belajar siswa kelas setelah diadakan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray. hasil belajar yang diperoleh dari tes akhir siklus, pada akhir siklus I dengan skor rata-rata 68,36 dari skor ideal 100 dengan standar deviasi 7,66, sedangkan pada akhir siklus II dengan skor rata-rata 73 dari skor ideal 100 dengan standar deviasi 7,29. 2. Aktivitas siswa meningkat selama proses pembelajaran sesuai dengan hasil observasi yaitu dengan adanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan sifat kerjasama dan rasa percaya diri siswa untuk bertanya baik kepada guru maupun kepada temannya tentang materi yang tidak dimengerti serta dapat meningkatkan kehadiran siswa. 3. Terhadap pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray siswa merespon positif 79,21% pada siklus I dan 88,15% pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa baik pada siklus I maupun pada siklus II siswa memberikan tanggapan/

61

respon yang sangat baik pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray ini.

B. Saran Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. Kepada guru matematika khususnya agar dapat mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dalam proses belajar mengajar agar dapat meningkatkan kualitas belajar siswa. 2. Guru diharapkan menciptakan suasana yang kondusif dalam kelas, lebih mengarahkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, serta menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar. 3. Bagi sekolah diharapkan penelitian ini bermanfaat dalam upaya

pengembangan mutu pendidikan dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray disetiap mata pelajaran yang memungkinkan. 4. Diharapkan kepada peneliti yang akan melakukan penelitian sebaiknya mengambil satu permasalahan misalnya kombinasi antara model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray ini dengan salah satu metode pembelajaran, untuk mengetahui apa dengan penerapannya dapat

meningkatkan kualitas pembelajaran.

62

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.. Dessiaming, Rahminati. 2011. Meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada siswa kelas X SMA Kartika Wirabuana 1 Makassar. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: Universitas Negeri Makassar. Hadis, Abdul & Nurhayati B. 2012. Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Huda, Miftahul. 2011. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Junaidi, Wawan. 2010. Cara Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa, (Online), (http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/07/aktivitas-belajar-siswa.html, diakses 23 Oktober 2011). Kamili. 2012. Keterlaksanaan Pembelajaran, (Online), (http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2256472-keterlaksanaanpembelajaran/, diakses 18 September 2012) Kusnandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nisnawati. 2011. Efektivitas Model Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Turnament) dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas IX SMP Nasional Makassar. Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: UNISMUH Makassar Ratumanan, Tanwey Gerson. 2004. Unesa University Press. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya:

Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan makna pembelajaran bandung: Alfabeta. Slavin, Robert. E. 2010. Cooperative Learning Teori, Riset dan praktik. Bandung: Nusa Media.

Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Penerbit. Taniredja, Faridli, Harmianto. 2011. Model-model pembelajaran inovatif. Bandung: Alfabeta.

63

Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Winarsih, W. 2011. BAB I Pendahuluan, (Online), (http://etd.eprints.ums.ac.id/13931/4/03_BAB_I.pdf, diakses 30 Agustus 2012).