Anda di halaman 1dari 70

BAGIAN B

SAMPLING, KODIFIKASI,
DAN PERHITUNGAN CADANGAN


Ol eh :
Komang Anggayana
Syaf r i zal
Agus Har i s W








KATA PENGANTAR

Dengan adanya perubahan kurikulum di ITB dan juga di Departemen Teknik
Pertambangan dari Kurikulum 1998 ke Kurikulum 2003 maka terdapat
beberapa perubahan mata kuliah. Mata Kuliah Genesa Batubara (TA-346)
dan Eksplorasi Batubara (TA-416 ) pada Kurikulum 1997 disatukan menjadi
Eksplorasi Batubara (TE-4211) saja dengan materi sedikit dikurangi karena
pengurangan SKS dari 4 menjadi 3. Hal ini dilakukan mengingat banyaknya
peminat yang ingin mengikuti kuliah Eksplorasi Batubara namun tidak
sempat mengikuti Mata Kuliah Genesa Batubara pada tingkat sebelumnya.
Dengan membuat penggabungan kuliah tersebut maka akan memudahkan
bagi mahasiswa yang berminat mengikuti dan juga memudahkan dalam
penyampaian materi kuliah.

Pada bahan kuliah ini disampaikan mulai dari genesa pada bagain awal dan
dilanjutkan dengan eksplorasinya, sehingga diktat ini disusun dengan
membaginya menjadi 2 bagian yaitu Bagian A tentang Genesa Batubara dan
bagian B tentang Eksplorasi Batubara.

Sampai saat ini belum pernah disusun materi untuk kuliah ini di ITB,
sehingga diktat ini merupakan yang pertama. Oleh karena itu kekurangan
masih banyak dirasakan oleh penyusun namun belum sempat
disempurnakan.

Penyusun diktat ini akan terus menyempurnakan isinya sesuai dengan
perkembangan kuliah, seperti permintaan mahasiswa maupun industri
pertambangan batubara, perkembangan pengetahuan serta untuk tujuan
penyempurnaan dalam penyampaian kuliah.

Bandung , 25 Oktober 2005
Penyusun
i
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL

BAB I SAMPLING BATUBARA

i
ii
iv
vi
I.1

1.2





1.3
Konsep Sampling

Metode Sampling
1.2.1. Grab Sampling
1.2.2. Bulk Sampling
1.2.3. Chip Sampling
1.2.4. Channel Sampling

Preparasi Conto

I-1
I-3
I-3
I-3
I-4
I-4
I-5
BAB II ANALISIS DAN BASIS DATA ANALITIK

2.1





2.2
Analisis Batubara
2.1.1. Analisis Proksimat
2.1.2. Analisis Ultimat
2.1.3. Analisis Sifat-Sifat Fisik Batubara
2.1.4. Persyaratan Batubara untuk Beberapa Pemanfaatan

Basis Data Analitik

II-1
II-1
II-3
II-3
II-7
II-13
BAB III KODIFIKASI BATUBARA

III-1
BAB IV PERHITUNGAN SUMBERDAYA DAN CADANGAN BATUBARA

IV-1
4.1

4.2



4.3



4.4




Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara

Dasar-Dasar Klasifikasi
4.2.1. Aspek Geologi
4.2.2. Aspek Ekonomi

Persyaratan
4.3.1. Persyaratan yang Berhubungan dengan Aspek Geologi
4.3.2. Persyaratan yang Berhubungan dengan Aspek Ekonomi

Pemodelan dan Perhitungan Sumberdaya Batubara
4.4.1. Data Dasar untuk Pemodelan dan Perhitungan Sumberdaya
4.4.2. Pengolahan Data Dasar


IV-1
IV-3
IV-3
IV-3
IV-4
IV-4
IV-5
IV-5
IV-6
IV-7
ii
4.5





4.6






Metode Perhitungan Sumberdaya Batubara
4.5.1. Pentingnya Perhitungan Sumberdaya Batubara
4.5.2. Persyaratan Perhitungan Sumberdaya Batubara
4.5.3. Metode Perhitungan secara Manual
4.5.4. Penaksiran Sumberdaya dengan Sistem Blok

EVALUASI DAN OPTIMASI CADANGAN BATUBARA
4.6.1. Penentuan dan Pemilihan Pit Potensial
4.6.2. Konsep Nisbah Kupas
4.6.3. Faktor Pembatas dalam Penentuan Cadangan Tertambang
4.6.4. Perhitungan Cadangan Batubara
4.6.5. Optimasi Cadangan Tertambang

IV-9
IV-9
IV-9
IV-11
IV-18
IV-23
IV-24
IV-29
IV-30
IV-32
IV-34

DAFTAR PUSTAKA vii




























iii
DAFTAR GAMBAR


Gambar 1.1 Contoh channel sampling ply by ply I-4
Gambar 1.2 Prosedur umum penanganan sampel dari lapangan
sampai siap untuk dianalisis
I-5
Gambar 1.3 Sebaran distribusi ukuran butir pada proses coning I-5
Gambar 1.4 Prosedur umum (coning and quartering) preparasi
conto untuk analisis laboratorium dan dokumentasi
I-7
Gambar 1.5 Prosedur umum proses pengecilan ukuran I-8
Gambar 1.6 Reduksi jumlah conto dengan metode splitting I-8
Gambar 1.7 Reduksi jumlah conto dengan metode quartering I-9
Gambar 1.8 Alat pengayak dan reduksi conto I-9
Gambar 2.1 Perubahan bentuk piramida pada tes AFT II-5
Gambar 2.2 Bentuk standar untuk menentukan bilangan CSN II-5
Gambar 2.3 Diagram skematis basis data analitik II-14
Gambar 2.4 Contoh skema proses analisis komponen batubara II-14
Gambar 2.5 Berat sampel yang dianalisis dalam gram
dalam berbagai basis
II-15
Gambar 3.1 Reflektogram vitrinit III-3
Gambar 3.2 Sistem kodifikasi batubara ECE (1988) III-4
Gambar 4.1 Hubungan antara sumberdaya dan cadangan
batubara
IV-2
Gambar 4.2 Penampang melintang batubara berdasarkan
interpretasi lubang bor
IV-8
Gambar 4.3 Konstruksi model perhitungan sumberdaya batubara IV-10
Gambar 4.4 Sketsa perhitungan volum batubara dengan rumus
mean area (metode penampang)
IV-11
Gambar 4.5 Sketsa perhitungan volum batubara dengan rumus
prismoida
IV-12
Gambar 4.6 Sketsa perhitungan volum batubara dengan rumus
kerucut terpancung
IV-12
Gambar 4.7 Sketsa perhitungan volum batubara dengan rumus
obelisk
IV-13
Gambar 4.8 Metode poligon (area of influence) IV-14
Gambar 4.9 Teknik perhitungan sumberdaya batubara
berdasarkan sistem United States Geological Survey
Circular 891 (1983)
IV-16
Gambar 4.10 Cara perhitungan sumberdaya batubara dengan
kemiringan 30
0
(atas) dan kemiringan >30
0

(bawah), (USGS, 1983)
IV-17
Gambar 4.11 Kontrol struktur pada batas sumberdaya batubara
(USGS, 1983)
IV-18
Gambar 4.12 Perhitungan sumberdaya dengan model blok IV-19
Gambar 4.13 Metode inverse distance IV-20
Gambar 4.14 Metode penaksiran nearest point IV-21
Gambar 4.15 Pemodelan blok batubara (gridded seam model) IV-23
Gambar 4.16 Sketsa konstruksi peta iso-overburden IV-25
Gambar 4.17 Contoh penentuan pit potensial dengan pembatas IV-27
iv
tebal overburden dan penggunaan lahan
Gambar 4.18 Contoh penentuan pit potensial dengan pembatas
tebal overburden
IV-28
Gambar 4.19 Contoh penampang perhitungan cadangan IV-33

v
DAFTAR TABEL


Tabel IV-1 Klasifikasi sumberdaya dan cadangan batubara (BSN,
1997)
IV-3
Tabel IV-2 J arak titik informasi menurut kondisi geologi (BSN, 1997) IV-4
Tabel IV-3 Persyaratan kuantitatif ketebalan lapisan batubara dan
lapisan pengotor (BSN, 1997)
IV-5

vi
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
1

BAB I
SAMPLING BATUBARA


1.1 KONSEP SAMPLING

Sampel (conto) merupakan satu bagian yang representatif atau satu bagian
dari keseluruhan yang bisa menggambarkan berbagai karakteristik untuk
tujuan inspeksi atau menunjukkan bukti-bukti kualitas, dan merupakan
sebagian dari populasi stastistik dimana sifat-sifatnya telah dipelajari untuk
mendapatkan informasi keseluruhan.

Secara spesifik, conto dapat dikatakan sebagai sekumpulan material yang
dapat mewakili jenis batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) dalam arti
kualitatif dan kuantitatif dengan pemerian (deskripsi) termasuk lokasi dan
komposisi dari batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) tersebut. Proses
pengambilan conto tersebut disebut sampling (pemercontoan).

Sampling batubara dapat dilakukan karena beberapa alasan (tujuan)
maupun tahapan pekerjaan (tahapan eksplorasi, evaluasi, maupun
eksploitasi):
Selama fase eksplorasi sampel diambil pada perlapisan batubara dan
pada batuan sampingnya. Sampel pada batuan samping dimaksudkan
untuk mengetahui genesa batubara secara utuh khususnya yang
berkaitan dengan batuan sampingnya. Hal ini bermanfaat misalnya dalam
mempelajari distribusi kualitas batubara.
Selama fase evaluasi, sampling dilakukan tidak hanya pada seam
batubara, tapi juga pada batuan samping dengan tujuan memperoleh
informasi lain yang berhubungan dengan kestabilan lereng dan pemilihan
metode penambangan.
Sedangkan selama fase eksploitasi, sampling tetap dilakukan dengan
tujuan kontrol kualitas.
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
2
Pemilihan metode sampling dan jumlah conto yang akan diambil tergantung
pada beberapa faktor, antara lain:
Pola penyebaran dan ukuran endapan batubara
Tahapan pekerjaan dan prosedur evaluasi
Kehadiran parting (sisipan)
Lokasi pengambilan conto (pada seam batubara atau batuan samping),
Kedalaman pengambilan conto
Tujuan melakukan pengambilan conto

Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi dalam sampling, antara lain:
Salting, yaitu peningkatan kualitas pada conto batubara yang diambil
sebagai akibat masuknya material lain dengan kualitas tinggi ke dalam
conto.
Dilution, yaitu pengurangan kualitas akibatnya masuknya material lain ke
dalam conto.
Kesalahan akibat kekeliruan dalam penentuan posisi (lokasi) sampling
karena tidak memperhatikan kondisi geologi.
Kesalahan dalam analisis kimia, akibat conto yang diambil kurang
representatif.

Informasi-informasi yang harus direkam dalam pengambilan conto adalah
sebagai berikut:
Letak lokasi pengambilan conto dari titik ikat terdekat.
Posisi alur sampling (memotong seam, vertikal memotong bidang
perlapisan, tegak lurus perlapisan, dll.).
Tebal batubara (tebal semu, tebal sebenarnya).
Penamaan (pemberian kode) kantong conto, sebaiknya mewakili interval
atau lokasi.
Tanggal pengambilan dan identitas conto.

Sedangkan informasi-informasi yang sebaiknya juga dicatat (dideskripsikan)
dalam pengambilan conto adalah :
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
3
Deskripsi endapan secara detil dengan membuat profil dari atas sampai
bawah perlapisan batubara.
Kemiringan semu atau kemiringan sebenarnya dari perlapisan.
Deskripsi litologi atau batuan samping.
Dan lain-lain yang dianggap perlu dalam penjelasan kondisi endapan.

1.2 METODE SAMPLING

1.2.1 Grab Sampling

Secara umum, metode grab sampling ini merupakan teknik sampling dengan
cara mengambil bagian (fragmen) batubara yang berukuran besar dari suatu
material (baik di alam maupun di stockpile) tanpa seleksi khusus. Tingkat
ketelitian sampling pada metode ini relatif mempunyai bias yang cukup
besar. Beberapa kondisi pengambilan conto dengan teknik grab sampling ini
antara lain:
Pada tumpukan batubara di stockpile untuk mendapatkan gambaran
umum kualitas.
Pada material di atas dump truck atau belt conveyor pada transportasi
material, dengan tujuan pengecekan kualitas.
Pada fragmen batubara yang terberaikan oleh excavator.

1.2.2 Bulk Sampling

Bulk sampling (conto ruah) ini merupakan metode sampling dengan cara
mengambil batubara dalam jumlah (volume) yang besar dan umum dilakukan
pada semua fase kegiatan (eksplorasi sampai dengan pengolahan). Pada
fase sebelum operasi penambangan, bulk sampling ini dilakukan untuk
mengetahui kualitas pada suatu blok atau bidang kerja. Metode bulk
sampling ini juga umum dilakukan untuk uji metalurgi dengan tujuan
mengetahui recovery (perolehan) suatu proses pengolahan atau pencucian.
Sedangkan pada kegiatan eksplorasi, salah satu penerapan metode bulk
sampling ini adalah dalam pengambilan conto dengan sumur uji.
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
4
1.2.3 Chip sampling

Chip sampling (conto tatahan) adalah salah satu metode sampling dengan
cara mengumpulkan pecahan batubara yang dipecahkan melalui suatu jalur
(dengan lebar 15 cm) yang memotong endapan batubara dengan
menggunakan palu atau pahat. J alur sampling tersebut biasanya bidang
horizontal dan pecahan-pecahan batuan tersebut dikumpulkan dalam suatu
kantong conto.

1.2.4 Channel sampling

Channel sampling adalah suatu metode (cara) pengambilan conto dengan
membuat alur (channel) sepanjang singkapan batubara. Alur tersebut dibuat
secara teratur dan seragam (lebar 3-10 cm, kedalaman 3-5 cm) secara
horisontal, vertikal, atau tegak lurus kemiringan lapisan.


Gambar 1.1: Contoh channel sampling ply by ply (Ward, 1984).

Beberapa cara atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengumpulkan
fragmen batuan dalam satu conto atau melakukan pengelompokan conto
(sub-channel) yang tergantung pada pola perlapisan, antara lain:
Membagi panjang channel dalam interval-interval yang seragam apabila
perlapisan batubara tidak menunjukkan variasi fisik yang berarti.
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
5
Membagi panjang channel dalam interval-interval tertentu yang
diakibatkan oleh variasi kenampakan fisik seperti warna, kekerasan,
tekstur, kehadiran parting, dll (sampling ply by ply).
Untuk kemudahan dimungkinkan penggabungan sub-channel dalam satu
analisis kadar atau dibuat komposit.

1.3 PREPARASI CONTO

Setelah conto diperoleh kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
Karena yang dianalisis hanya sebagian kecil dari conto maka diperlukan
preparasi (persiapan) conto agar bagian conto yang dianalisis masih
representatif terhadap kondisi yang sebenarnya.




















Gambar 1.2: Prosedur umum penanganan sampel dari lapangan
sampai siap untuk dianalisis.
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
6

Gambar 1.3: Sebaran distribusi ukuran butir pada proses coning (Ward, 1984).

Pengurangan conto (reduksi sampel) sebaiknya dilakukan setelah
pengurangan ukuran partikel, atau dengan kata lain proses pembagian (split)
conto dilakukan pada fraksi ukuran yang telah seragam. Secara teoritis,
pengurangan bobot conto dapat mengikuti persamaan berikut (Carras op cit.
Annels, 1997):

3
2
1
)
D
D
( x OW RW=


dimana :
RW =berat conto yang dikurangi
OW =berat conto awal
D
1
=diameter partikel yang dikurangi
D
2
=diameter partikel awal

Formula tersebut hanya dapat diterapkan pada conto yang telah mempunyai
ukuran relatif seragam. J ika distribusi tidak homogen, maka ukuran conto
harus dikurangi sampai dengan didapatkan ukuran yang paling ekonomis
(secara kadar). Prosedur umum dalam proses reduksi ukuran conto dapat
dilihat pada Gambar 1.5.

Setelah ukuran dari conto terdistribusi pada fraksi yang seragam, kemudian
dilakukan pengurangan (reduksi) bobot/jumlah conto. Metode reduksi yang
umum digunakan adalah splitting dan quartering. Metode reduksi splitting
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
7
dapat dilihat pada Gambar 1.6 dan metode quartering dapat dilihat pada
Gambar 1.7.

Conto dari lapangan
Quartering & reduksi ukuran
Quartering & reduksi ukuran
dan pengeringan
Quartering & reduksi ukuran
Sample untuk
dianalisis
Sample untuk
dokumentasi

Gambar 1.4: Prosedur umum (coning and quartering) preparasi conto untuk analisis
laboratorium dan dokumentasi (Chaussier et al., 1987).


Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
8


Gambar 1.5: Prosedur umum proses pengecilan ukuran (Chaussier et al., 1987)



Gambar 1.6: Reduksi jumlah conto dengan metode splitting (Chaussier et al., 1987)




Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab I, Sampling Batubara -
9


Gambar 1.7: Reduksi jumlah conto dengan metode quartering
(Chaussier et al., 1987)



Gambar 1.8: Alat pengayak dan reduksi conto (splitting).

Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


BAB II
ANALISIS DAN BASIS DATA ANALITIK


2.1 ANALISIS BATUBARA

Batubara terdiri dari campuran heterogen senyawa-senyawa organik dan
sejumlah material inorganik dalam bentuk kelembaban dan mineral.
Komposisi komponen organik alamiah tergantung pada jenis-jenis dan
bagian tumbuhan pembentuknya (kayu, daun, spora, dll.) pada awal masa
penggambutan. Untuk tujuan praktis pada umumnya, komponen batubara
dapat dievaluasi melalui dua jenis analisis yaitu analisis proksimat dan
ultimat.

2.1.1 Analisis Proksimat

Merupakan analisis untuk mengetahui komposisi utama pembentuk batubara
yang terdiri dari empat jenis yaitu kandungan air (moisture), zat terbang
(volatil matter), karbon tertambang (fixed carbon), dan kandungan abu (ash
content).

Kandungan air

Kelembaban dalam batubara dapat terbentuk dalam dua jenis yaitu
kelembaban permukaan (bebas) dan kelembaban inheren (higroskopis,
dekomposisi, dan mineral). Berikut adalah penjelasan masing-masing jenis
kelembaban:
1. Kelembaban bebas (surface moisture), merupakan kandungan air yang
terdapat di permukaan partikel batubara, kelembaban ini akan hilang
apabila batubara diangin-aginkan dalam waktu yang lama.
2. Kelembaban higroskopis, yaitu kandungan air yang terdapat dalam pori-
pori partikel batubara.
Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 1
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

3. Kelembaban dekomposisi, yaitu kandungan air yang bersatu dengan
senyawa organik batubara.
4. Kelembaban mineral, yaitu kandungan air yang membentuk bagian dari
struktur kristal mineral lempung atau mineral lainnya.

Kelembaban permukaan dapat ditentukan dengan menghitung selisih antara
berat batubara ketika diambil dari lapangan (a) dan berat batubara setelah
diangin-anginkan hingga kering (b). Sedangkan kelembaban inheren dapat
ditentukan dengan menghitung selisih antara berat b dan berat batubara
setelah digerus dan dipanaskan hingga 110
o
C.

Kandungan zat terbang

Zat terbang yang terdapat dalam batubara merupakan komponen yang
terbebaskan (hilang) apabila dipanaskan pada suhu tinggi sekitar 900
o
C
dengan kondisi oksigen terbatas kecuali kandungan air. Material ini
terbebaskan dari senyawa organik atau mineral dalam batubara.

Kandungan abu

Abu batubara adalah komponen inorganik yang tidak terbakar ketika
batubara dibakar dengan oksigen melimpah.

Karbon tertambat

Merupakan komponen karbon dalam batubara apabila kandungan zat
terbang sudah terlepaskan. Kandungan karbon ini mengandung sedikit unsur
nitrogen, sulfur, hidrogen, dan oksigen. Kandungan karbon tertambat tidak
ditentukan secara langsung namun dihitung dari batubara total dikurangi
kelembaban total, zat terbang, dan kandungan abu.



Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 2
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

2.1.2 Analisis Ultimat

Merupakan analisis untuk menentukan komposisi unsur kimia dalam
batubara yang terdiri dari kandungan karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O),
sulfur (S), nitrogen (N), dll. Kandungan C, H, dan O merupakan parameter
penting dalam menilai kualitas batubara.

Disamping analisis ultimat untuk kandungan sulfur, kadang juga diperlukan
analisis jenis-jenis sulfur dalam batubara (analisis form of sulfur). J enis sulfur
tersebut adalah sulfur organik, sulfur piritik, dan sulfur sufat. Analisis form of
sulfur berguna apabila ditemukan batubara dengan kandungan sulfur yang
relatif tinggi. Dengan mengetahui jenis-jenis sulfur maka akan dapat
menentukan apakah kandungan sulfur dapat direduksi dengan mudah atau
tidak dengan beberapa perlakuan. Umumnya jenis sulfur piritik dan sulfur
sulfat relatif lebih mudah dibebaskan dengan lebih efisien, sedangkan sulfur
organik relatif sulit dibebaskan sehingga memerlukan biaya yang lebih besar.

2.1.3 Analisis Sifat-Sifat Fisik Batubara

Disamping analisis proksimat dan ultimat, kualitas batubara dapat
ditunjukkan dengan beberapa analisis yang menunjukkan sifat-sifat fisik
batubara yaitu:

1. Densitas relatif
Densitas masing-masing batubara berbeda tergantung dari tingkat rank
yang telah dicapai dan kandungan mineral pengotornya. J enis analisis ini
diperlukan kaitannya dengan konversi sumberdaya batubara dari volum
menjadi tonase.

2. Distribusi ukuran butir
Distribusi ukuran butir dalam batubara yang terberaikan tergantung dari
metode penambangan dan pengolahan serta sifat kekerasan keliatan
intensitas rekahan batubara tersebut. Fraksi ukuran butir berukuran debu
Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 3
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

umumnya tidak diinginkan dalam kegiatan penambangan karena akan
meningkatkan jumlah loss produksi. J enis analisis ini berguna untuk
menentukan metode dan pemilihan alat penambangan maupun
pengolahan.

3. Sink and float test
Sebagaimana fragmen batubara akan terdistribusi dalam beberapa
ukuran butir, fragmen batubara juga akan terdistribusi dalam berbagai
densitas relatif. Material dengan densitas yang besar merepresentasikan
kandungan abu dan sulfur piritik yang tinggi. J enis analisis ini digunakan
untuk menentukan besarnya densitas untuk memisahkan material berat
dengan yang lebih ringan untuk mengurangi kandungan abu dan sulfur
piritik.

4. Ash fushion temperature
Merupakan jenis analisis untuk mengetahui perilaku residu pembakaran
(abu) pada suhu tinggi. Sebagian besar tungku pembakar pada PLTU
atau pemanfaatan yang lain didesain untuk dapat mengeluarkan abu
dalam bentuk partikel padat. Apabila abu batubara meleleh pada suhu
relatif rendah maka akan susah untuk mengeluarkan dari tungku
sehingga akan melekat pada dinding-dinding membentuk kerak.
Disamping akan mengurangi kapasitas batubara yang bisa dimasukkan,
kerak juga dapat menurunkan efisiensi panas yang dihasilkan pada
pembakaran batubara. Analisis AFT dilakukan dengan mencetak abu
menjadi bentuk piramid, kemudian dipanaskan dari 1000
o
C dan terus
naik secara bertahap. Setiap kali terjadi perubahan pada bentuk piramida,
suhu yang telah dicapai dicatat. Terdapat empat jenis perubahan bentuk
yaitu deformation, sphere, hemisphere, dan flow yang masing-masing
dicapai pada temperatur tertentu (Gambar 2.1).

Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 4
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Gambar 2.1: Perubahan bentuk piramida yang dicapai pada suhu tertentu yang
bertahap yaitu: piramida original (suhu rendah, 1), deformation temperature (2),
sphere temperature (3), hemisphere temperature (4), dan flow temperature (5).

5. Hardgrove grindability index
Sebagian besar peralatan pembakar memerlukan batubara yang sudah
digerus menjadi ukuran butir tertentu sebelum masuk ke ruang pembakar.
Kemudahan batubara digerus tergantung dari sifat kekuatan dan keliatan
yang dapat dinyatakan dengan besaran hardgrove grindability index
(HGI). Analisis HGI dilakukan dengan memasukkan butiran batubara
dengan berbagai fraksi ukuran butir tertentu ke dalam ball mill (Hardgrove
mill). Besaran HGI dapat dihitung dari jumlah partikel halus yang
dihasilkan setela digerus oleh ball mill.

6. Indeks abrasi
Partikel kasar dari mineral yang keras seperti kuarsa dapat menyebabkan
abrasi yang signifikan terhadap permukaan alat penggerus yang biasanya
menyatu dengan alat pembakar. Butiran batubara tertentu dimasukkan ke
dalam mill khusus yang mempunyai empat pisau logam. Indeks abrasi
ditentukan dari kehilangan massa dari pisau logam tersebut yang
dinyatakan dalam miligram logam per kilogram batubara.

7. Crucible swelling number (CSN, free swelling index)
Merupakan salah satu jenis analisis untuk menentukan sifat batubara
apakah dapat dimanfaatkan untuk dibuat batubara kokas atau tidak.
Analisis ini dilakukan dengan memanaskan sampel batubara yang sudah
diremuk dalam cawan standar sampai temperatur sekitar 800
o
C. Sampai
beberapa waktu dipanaskan atau hingga semua zat terbang terbebaskan
maka akan tertinggal sisa batubara dalam cawan. Bentuk sisa batubara
Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 5
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

yang sudah hilang zat terbangnya tersebut kemudian diperbandingkan
terhadap bentuk standar (Gambar 2.2) untuk menentukan bilangan CSN.


Gambar 2.2: Bentuk standar untuk menentukan bilangan CSN
(British Standrad 1016, part 12, 1980).

Batubara dengan nilai CSN sangat kecil (0-2) tidak memenuhi syarat
sebagai batubara kokas karena mempunyai porositas yang sedikit
sehingga bidang reaksi akan terlalu kecil. Demikian pula batubara dengan
nilai CSN besar (8-10) juga tidak memenuhi syarat karena kokas yang
terbentuk akan mudah hancur akibat dinding pori-pori yang tipis. Nilai
CSN yang ideal untuk batubara kokas adalah 4-6.

Selain index CSN, sifat batubara untuk kokas juga dapat dilihat dari
beberapa analisis yang hampir serupa yaitu Gray-King carbonization
assay and coke type, Fischer carbonization assay, Gieseler plastometer,
Audibert-Arnu dilatometer, dan Roga index.









Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 6
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

2.1.4 Persyaratan Batubara untuk Beberapa Pemanfaatan

Silabus parameter kualitas batubara


Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 7
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Ash Analysis:
- SiO
2
, %
- Al
2
O
3
, %
- Fe
2
O
3
, %
- TiO
2
, %
- Mn
3
O
4
, %
- CaO, %
- MgO, %
- Na
2
O, %
- K
2
O, %
- P
2
O
5
, %
- SO
3
, %
total ash
Berguna untuk memprediksi perilaku abu, juga
untuk mengidentifikasi kandungan konsentras tinggi
komponen tertentu yang dapat memberikan
permasalahan dalam aplikasi.
Ash Fusion Temperature:
- ISO-A (IDT),
o
C
- (ST),
o
C
- ISO-B (HT),
o
C
- ISO-C (FT),
o
C
Berguna untuk memprediksi perilaku abu. Secara
normal diukur di bawah kondisi oksidasi maupun
reduksi.
Forms of Sulfur:
- Pyritic, %
- Organic, %
- Sulphate, %
adb Dapat memberikan informasi disposisi sulfur selama
pemanfaatan dan hasil sulfur selama proses
pembakaran dan karbonisasi. Penjumlahan =total
sulfur
PARAMETER BASIS KETERANGAN



Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 8
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara





















Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 9
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Persyaratan batubara untuk pabrik semen

PARAMETER BATAS
TYPICAL
LIMITS
KETERANGAN
Total Moisture %
(as received)
Free Moisture %
(as received)
4 - 8
rendah
max 12
(max 15)
max 10 - 12
Ash %
(air dried)
<15
max 20
(max 40-50)
Volatile Matter %
(dmmf)
variasi (max 24)
Gross Calorific Value
(air dried) MJ /Kg
variasi (min 21.0)
Total Sulfur %
(air dried)
<2 max 2-5
Chlorine %
(air dried)
rendah max 0.1
P
2
O
5
%
(ash analysis)
<2 (max 6-8)
Hardgrove Index
(air dry)
tinggi min 50-55
(min 40)
Max Size mm 25 - 30 35 - 40
Fines Content %
(less than 0.5 mm)
15 - 20 25 - 30
Menurunkan Nilai kalori bersih. Terbatas kira-kira
maksimum 15 % untuk pengolahan dan
peremukan sederhana. Batasan lebih tinggi
untuk batubara dengan rank rendah
Kandungan abu harus konstan sekitar 2 % dan
komposisnya tetap untuk mengganti kehilangan
rata-rata umpan
Tergantung kepada sistem pembakaran tapi
selalu fleksibel . (dalam hal ini old bin dan sistim
umpan digunakan untuk keamanan dan
keselamatan)
Mempunyai bermacam-macam pilihan data
untuk perhitungan (kotor/bersih, air dried/as
received)
Tergantung pada kandungan sulfur dari material
umpan. Kandungan sulfur pada klinker kecil dari
1,3 %
Pada proses kering, kandungan klor pada klinker
kecil dari 0,03 %. Tergantung pada kandungan
klor pada material umpan, kandungan maksimal
dalam batubara bervariasi diatas 0,01 %
Kandungan P
2
O
5
dalam klinker kecil dari 1 %.
Kandungan P
2
O
5
tergantung pada material
umpan yang kecildari faktor kritis
Tergantung pada kapasitas grinding
Dibatasi oleh top size dari pulveriser
Dibatasi untuk karakteristik pengolahan yang
baik, khususnya ketika basah
Catatan : Typical Limits diatas biasanya digunakan oleh konsumen, seperti briket menunjukkan
batasan terluar yang dapat diterima dalam kasus tertentu




Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 10
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Persyaratan batubara untuk PLTU

PARAMETER BATAS
TYPICAL
LIMITS
KETERANGAN
Total Moisture %
(as received)
Free Moisture %
(as received)
4 - 8
rendah
max 12
(max 15)
max 10 - 12
Ash %
(air dry)
rendah max 15-20
(max 30)
Volatile Matter %
(dmmf)
25-35
15-25
min 25
max 25
Gross Calorific Value
(air dried) MJ /Kg
tinggi min 24-25
Total Sulfur %
(air dried)
rendah max 0.5-1.0
(max 2.0)
Ash Fusion Temps
o
C
(oxidising or
reducing)
tinggi
ISO-A
rendah
ISO-C
min 1200
(min1050)
max 1350
(max 1430)
Nitrogen %
(dmmf)
rendah (0.8-1.1)
Hardgrove Index
(air dry)
tinggi
min 50-55
(min 40)
Max Size mm 25 - 30 35 - 40
Fines Content %
(less than 0.5 mm)
15 - 20 25 - 30
Chlorine %
(Air dried)
rendah
max 0.1-0.3
(max 0.5)
Penurunan nilai kalori bersih. Terbatas pada
nilai maksimal 15 % untuk pengolahan
sederhana/peremukan. Batas akan lebih tinggi
untuk batubara rank rendah
Penurunan Nilai kalori dibatasi oleh kemampuan
alat untuk mengolah dan mengurangi abu
Side-fired p.f furnace
Down-fired p.f furnace
Mempunyai bermacam-macam pilihan data
untuk dasar perhitungan (kotor/bersih, air dried/
as received)
Biasanya tergantung pada regulasi polusi lokal,
misalnya USA 2.0 % max, Prancis (EDF) 1,7%
max, J erman 1,0% max, J epang 0,5% max.
sebagian kecil golongan tidak memiliki batasan
Dry bottom furnace. Minimum memenuhi
temperatur ISO-A bergantung pada fleksibilitas
peralatan dan prosedur operasi.
Wet Bottom furnace. Maksimum temperatur ISO-
C bergantung pada temperatur operasi. Kondisi
Furnace menentukan apakah oksidasi atau
reduksi temperatur ash fusion layak
Lebih baik rendah untuk mereduksi formasi Nox
(rata-rata diberikan oleh Dengen Kaihatsu,
J epang)
Sebagai indikasi kandungan alkali, seharusnya
rendah untuk mereduksi kecendrungan ash
fouling.
Tergantung pada kapasitas grinding
Dibatasi oleh top size dari pulveriser
Dibatasi untuk karakteristik pengolahan yang
baik, khususnya ketika basah

Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 11
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Persyaratan batubara untuk kokas

PARAMETER BATAS
TYPICAL
LIMITS
KETERANGAN
Total Moisture %
(as received)
5-10
max 12
(max 15)
Ash %
(air dried)
rendah max 6-8
(max 10-12)
Volatile Matter %
(dmmf)
variasi 16-21
21-26
26-31
rendah max 0.6-0.8
(max 1.0)
Total Sulfur %
(air dry)
rendah max 0.1
Dibatasi oleh pengolahan dan grinding
sederhana
Kandungan abu pada kokas harus rendah untuk
menghilangkan timbunan slag dalam tanur tinggi
Low volatile coals
Medium volatile coals
High volatile coals
Kandungan sulfur pada kokas harus rendah
untuk membatasi ikutnya sulfur oleh pig iron
dalam tanur tinggi
Fosfor mempunyai efek embritting pada dasar
karbon steel
Phosphorous %
(air dried)
CSN 4-6 2 , 8
Roga index 60-90 min 50
Gray King Coke Type G6-G14 min G4-G5
Dilatometry
Max dilatation %
(Audibert-Arnu)
25-70
80-140
150-350
min 20
min 60
min 100
Low volatile coals
Medium volatile coals
High volatile coals
Plastometry
Fluidity Range
o
C
min 70
min 80
min 100
Low volatile coals
Medium volatile coals
High volatile coals
>80
>100
>130
Secara individu, data diatas hanya untuk menunjukkan potensial batubara untuk industri kokas
hanya dapat dihasilkan setelah dilakukan tes yang lebih extensif. Batubara kualitas terbaik dapat
ditunjukkan dengan adanya sifat-sifat pada bagian atas range yang telah disebutkan ; bergantung
pada ketersediaan batubara lain, campuran batubara yang tidak memenuhi kekerasan yang sesuai
dengan batasan-batasan tersebut



Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 12
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

2.2 BASIS DATA ANALITIK

Sebagian besar batubara diperoleh sebagai sampel as received atau apa
adanya seperti diambil dari lapangan. Persentase komponen batubara dapat
dihitung terhadap sampel as received. Dalam banyak hal persentase
terhadap as received tidak banyak dipergunakan. Dalam kegiatan komersial,
sangat besar kemungkinan kelembaban batubara mengalami penambahan
selama proses penambangan, pengolahan, dan pengapalan ke konsumen.
Selain itu perbandingan dan klasifikasi batubara kadang didasarkan pada
fraksi organik alamiahnya tanpa melibatkan komponen lain misalnya
kelembaban (kandungan air). Oleh sebab itu dalam batubara dikenal
beberapa basis data analitik sebagai berikut:
1. As received atau as sampled, menunjukkan data, dinyatakan sebagai
persentase terhadap batubara total termasuk kandungan air
sebagaimana seperti keadaan diambil dari lapangan.
2. Air dried, menunjukkan data, dinyatakan sebagai persentase terhadap
batubara kecuali kandungan air permukaan.
3. Dry, menunjukkan data, dinyatakan sebagai persentase terhadap
batubara tanpa kandungan air.
4. Dry ash free, menunjukkan data, dinyatakan sebagai persentase
terhadap komponen batubara zat terbang dan karbon tertambat.
5. Dry mineral matter free, menunjukkan data, dinyatakan sebagai
persentase terhadap komponen batubara zat terbang organik dan karbon
tertambat.

Secara skematis sistem basis data analitik tersebut dapat diperlihatkan pada
Gambar 2.3. Contoh kasus perhitungan analitik dalam berbagai basis data
dapat diperlihatkan dalam Gambar 2.4 dan Gambar 2.5.





Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 13
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara












Gambar 2.3: Diagram skematis basis data analitik.















Gambar 2.4: Contoh skema proses analisis komponen batubara.





Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 14
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara












Gambar 2.5: Berat sampel yang dianalisis dalam gram
dalam berbagai basis (lihat Gambar 2.4).

Hasil perhitungan komponen batubara dalam berbagai basis data:

SM =0,1765/1,1765 x 100% =15% (ar)
IM =0,15/1,1765 x 100% =12,75% (ar)
IM =0,15/1 x 100% =15% (adb)

Abu =0,05/1,1765 x 100% =4,25% (ar)
Abu =0,05/1 x 100% =5% (adb)
Abu =0,05/0,85 x 100% =5,88% (db)

VM =0,35/1,1765 x 100% =30% (ar)
VM =0,35/1 x 100% =35% (adb)
VM =0,35/0,85 x 100% =41,2% (db)
VM =0,35/0,8 x 100% =43,75% (daf)

FC =0,45/1,1765 x 100% =38% (ar)
FC =0,45/1 x 100% =45% (adb)
FC =0,45/0,85 x 100% =53% (db)
FC =0,45/0,8 x 100% =56,25% (daf)
Bab II, Analisis dan Basis Data Analitik - 15
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


BAB III
KODIFIKASI BATUBARA


Batubara adalah padatan heterogen komplek yang mempunyai banyak sifat-
sifat dan sangat beragam sekali aplikasinya. Mengkarakterisasi batubara
secara lengkap membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Oleh sebab itu,
sistem klasifikasi telah banyak dibuat untuk mempermudahnya.

Tujuan dari klasifikasi adalah untuk mengelompokkan kesamaan-kesamaan
dalam satu kelompok. Terdapat dua jenis klasifikasi batubara yaitu scientific
dan commercial yang masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda.
Klasifikasi scientific berhubungan dengan asal, konstitusi, dan sifat-sifat
dasar (fundamental). Sedangkan klasifikasi commercial berhubungan
dengan aspek-aspek seperti perdagangan/nilai pasar, utilisasi, sifat-sifat
teknologi dan penggunaan hasil akhirnya.

Klasifikasi batubara dibuat berdasarkan hasil dari beberapa analisis dan
pengujian yaitu:
1. Analisis kimia, baik proksimat maupun ultimat.
2. Analisis teknologi, melakukan simulasi perilaku batubara dalam
pemanasan.
3. Analisis petrografi

Selain itu untuk melihat karakteristik batubara lebih jauh diperlukan beberapa
pengujian tambahan, antara lain:
The friability (grindability) test untuk pembakaran batubara.
The fusibility test pada abu batubara dan mineral.
The plasticity test untuk coking coal

Beberapa sifat-sifat psiko-kimia juga dipakai untuk mengklasifikasi dan
meng-karakterisasi batubara.
Bab III, Kodifikasi Batubara -
1
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Sistem klasifikasi batubara yang ada di dunia diantaranya adalah:
Seyler scientific system dan coal chart (1899-1947)
The coal chart of Francis and Mott.
The ECE International system untuk hardcoal (1956)
The ECE classification untuk brown coal (1957)
The ISO classification untuk brown coal dan lignit (1974)
The ECE International Codification of higher rank coal (1988)

Dalam diktat ini hanya akan dijelaskan salah satu sistem klasifikasi yang
hingga saat ini masih digunakan dalam berbagai keperluan. Sistem
klasifikasi yang dimaksud adalah klasifikasi berdasarkan The ECE
International Codification of higher rank coal (1988).

Dengan meningkatnya perdagangan batubara pada dekade ini, dibutuhkan
sistem klasifikasi internasional yang terbaru. Sistem baru dikembangkan
berdasarkan delapan parameter yang mendefinisikan sifat-sifat utama
batubara, direpresentasikan dengan 14 digit nomor kode. Sistem ini lebih
dapat disebut sebagai kodifikasi daripada klasifikasi.

Kodifikasi menggunakan 14 digit kode yang merepresentasikan 8 parameter
dasar adalah sebagai berikut:
Mean random vitrinite reflectance (2 digit)
Karakteristik vitrinite reflectogram (1 digit)
Komposisi maseral (intertinit 1 digit, dan liptinit 1 digit)
CSN (1 digit)
Zat terbang/volatile matter (2 digit)
Abu (2 digit)
Sulfur (2 digit)
Gross calorific value (2 digit)

Sistem pengkodean ini sangat memudahkan untuk pengkodean karena kode
nomor untuk tiap parameter tinggal dipilih sehingga nilai dari tiap sifat-sifat
dapat langsung diketahui dari kode-kode tersebut.
Bab III, Kodifikasi Batubara -
2

Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Bab III, Kodifikasi Batubara -
3
Dalam sistem ini pengkodean memasukkan faktor reflektogram vitrinit yang
menunjukkan distribusi reflektansi dalam bentuk histogram seperti pada
Gambar 3.1. Sistem pengkodean menurut ECE (1988) dapat dilihat pada
Gambar 3.2.

Gambar 3.1: Reflektogram vitrinit.


Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Gambar 3.2: Sistem kodifikasi batubara ECE (1988).
Bab III, Kodifikasi Batubara -
4
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


BAB IV
PERHITUNGAN SUMBERDAYA DAN CADANGAN BATUBARA


4.1 KLASIFIKASI SUMBERDAYA DAN CADANGAN BATUBARA

Klasifikasi sumberdaya dan cadangan batubara merupakan pengelompokan
yang didasarkan atas keyakinan geologi dan kelayakan ekonomi.

Sumberdaya batubara hipotetik (hypothetical coal resource) adalah jumlah
batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk
tahap survei tinjau.

Sumberdaya batubara tereka (inferred coal resource) adalah jumlah batubara di
daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang dihitung
berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap
prospeksi.

Sumberdaya batubara terunjuk (indicated coal resource) adalah jumlah
batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk
tahap eksplorasi pendahuluan.

Sumberdaya batubara terukur (measured coal resource) adalah jumlah
batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang
dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk
tahap eksplorasi rinci.

Cadangan batubara terkira (probable coal reserve) adalah sumberdaya
batubara terunjuk dan sebagian sumberdaya batubara terukur, tetapi
berdasarkan kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah terpenuhi
sehingga penambangan dapat dilakukan secara layak.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 1
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Cadangan batubara terbukti (proved coal reserve) adalah sumberdaya batubara
terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah
terpenuhi sehingga penambangan dapat dilakukan secara layak.

Secara skematik hubungan antar sumberdaya dan cadangan dapat dilihat pada
Gambar 4.1.

POTENSI
SUMBERDAYA
(resources)
terkira
(inferred)
kelas 1 kelas 2
terunjuk
(indicated)
terukur
(measured)
tertambang insitu
(mineable insitu)
CADANGAN
(reserve)
terperoleh
(recoverable)
terpasarkan
(marketable)
menggunakan faktor
perolehan tambang
prediksi perolehan
bila diolah
STRATEGI
EKSPLOITASI
r
e
n
c
a
n
a
k
o
n
s
e
p
tu
a
l
re
n
c
a
n
a
k
o
n
s
e
p
tu
a
l
a
ta
u
rin
c
i
k
e
n
a
i
k
a
n

t
a
h
a
p

e
k
s
p
l
o
r
a
s
i


Gambar 4.1: Hubungan antara sumberdaya dan cadangan batubara (Australian Code
for Reporting Identified Coal Resources and Reserves, 1996)






Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 2
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

4.2 Dasar-Dasar Klasifikasi

Klasifikasi sumberdaya dan cadangan batubara didasarkan pada tingkat
keyakinan geologi dan kajian kelayakan. Pengelompokan tersebut mengandung
dua aspek yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi.

4.2.1 Aspek Geologi

Berdasarkan tingkat keyakinan geologi, sumberdaya terukur harus mempunyai
tingkat keyakinan yang lebih besar dibandingkan dengan sumberdaya terunjuk,
begitu pula sumberdaya terunjuk harus mempunyai tingkat keyakinan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan sumberdaya tereka. Sumberdaya terukur dan
terunjuk dapat ditingkatkan menjadi sumberdaya terkira dan terbukti jika telah
memenuhi kriteria layak (Tabel IV.1). Tingkat keyakinan geologi tersebut secara
kuantitatif dicerminkan oleh jarak titik informasi (misalnya titik bor).

Tabel IV.1: Klasifikasi sumberdaya dan cadangan batubara (BSN, 1997)
Eksplorasi rinci
(detailed
exploration)
Eksplorasi
pendahuluan
(preliminary
exploration)
Prospeksi
(prospecting)
Survei tinjau
(reconnaissance)
Tahapan
eksplorasi
Status kajian
Belum layak
Layak
Sumberdaya hipotetik
(hypotetical
resources)
Sumberdaya terukur
(measured resources)
Sumberdaya tereka
(inferred resources)
Sumberdaya terunjuk
(indicated resources)
Cadangan terkira
(probable reserve)
Cadangan terbukti
(proven reserve)
KEYAKINAN GEOLOGI


4.2.2 Aspek Ekonomi

Ketebalan minimal lapisan batubara yang dapat ditambang dan ketebalan
maksimal dirt parting atau lapisan pengotor yang tidak dapat dipisahkan pada
saat ditambang yang menyebabkan kualitas batubara menurun karena
kandungan abunya meningkat, merupakan beberapa unsur yang terkait dengan
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 3
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

aspek ekonomi dan perlu diperhatikan dalam menggolongkan sumberdaya
batubara.

4.3 Persyaratan

4.3.1 Persyaratan yang Berhubungan dengan Aspek Geologi

Persyaratan jarak titik informasi untuk setiap kondisi geologi dan kelas
sumberdaya diperlihatkan pada Tabel IV.2.

Tabel IV.2: J arak titik informasi menurut kondisi geologi (BSN, 1997)
SUMBERDAYA KONDISI
GEOLOGI
KRITERIA
Terukur Terindikasi Tereka Hipotetik
SEDERHANA
J arak titik
informasi (m)
X300 300<X500 500<X1000
tidak
terbatas
MODERAT
J arak titik
informasi (m)
X200 200<X300 300<X800
tidak
terbatas
KOMPLEKS
J arak titik
informasi (m)
X100 100<X200 200<X400
tidak
terbatas

Pada kondisi geologi sederhana, endapan batubara umumnya tidak dipengaruhi
oleh aktivitas tektonik seperti sesar, lipatan, dan intrusi. Lapisan batubara
umumnya landai, menerus secara lateral sampai ribuan meter, hampir tidak
memiliki percabangan. Ketebalan lapisan batubara secara lateral dan
kualitasnya tidak menunjukkan variasi yang berarti. Contoh dari jenis kelompok
ini antara lain daerah Bangko Selatan dan Muara Tiga Besar (Sumsel), Senakin
Barat (Kalsel), dan Cerenti (Riau).

Pada kondisi geologi moderat, endapan batubara sampai tingkat tertentu telah
mengalami pengaruh deformasi tektonik. Pada beberapa tempat intrusi batuan
beku mempengaruhi struktur lapisan dan kualitas batubaranya. Pada kondisi ini
dicirikan pula oleh kemiringan lapisan dan variasi ketebalan lateral yang sedang
serta berkembangnya percabangan lapisan batubara, namun sebarannya
masih dapat diikuti sampai ratusan mater. Contoh dari jenis kelompok ini antara
lain daerah Senakin, Formasi Tanjung (Kalsel), Loa J anan-Loa Kulu, Petanggis
(Kaltim), Suban dan Air Laya (Sumsel), serta Gunung Batu Besar (Kalsel).

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 4
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Sedangkan endapan batubara pada kondisi geologi kompleks umumnya telah
mengalami deformasi tektonik yang intensif. Pergeseran dan perlipatan akibat
aktivitas tektonik menjadikan lapisan batubara sulit dikorelasikan. Perlipatan
yang kuat juga mengakibatkan kemiringan lapisan yang terjal. Sebaran lapisan
batubara secara lateral terbatas dan hanya dapat diikuti sampai puluhan meter.
Contoh dari jenis kelompok ini antara lain daerah Ambakiang, Formasi Warukin,
Ninian, Belahing dan Upau (Kalsel), Sawahluhung (Sumbar), Air Kotok
(Bengkulu), Bojongmanik (J abar), serta daerah batubara yang mengalami
ubahan intrusi batuan beku di Bunian Utara (Sumsel).

4.3.2 Persyaratan yang Berhubungan dengan Aspek Ekonomi

J enis batubara coklat (brown coal) menunjukkan kandungan panas yang relatif
lebih rendah dibandingkan dengan batubara keras (hard coal). Karena pada
hakekatnya kandungan panas merupakan parameter utama kualitas batubara,
persyaratan batas minimal ketebalan batubara yang dapat ditambang dan batas
maksimal lapisan pengotor yang tidak dapat dipisahkan pada saat ditambang
untuk jenis batubara coklat (brown coal) dan jenis batubara keras (hard coal)
akan menunjukkan angka yang berbeda. Persyaratan tersebut diperlihatkan
pada Tabel IV.3.

Tabel IV.3: Persyaratan kuantitatif ketebalan lapisan batubara dan
lapisan pengotor (BSN, 1997)

PERINGKAT BATUBARA
KETEBALAN
Batubara coklat
(brown coal)
Batubara keras
(hard coal)
Lapisan batubara minimal 1,00 m 0,40 m
Lapisan pengotor 0,30 m 0,30 m

4.4 PEMODELAN DAN PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUBARA

Dalam melakukan konstruksi model batubara diperlukan data sekunder maupun
primer sebagai data dasar. Selanjutnya data dasar tersebut diolah untuk
memperoleh data olahan seperti peta-peta dan penampang. Dari data olahan
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 5
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

tersebut kemudian batubara dapat dihitung jumlah sumberdaya dengan
berbagai asumsi yang diambil.

4.4.1 Data Dasar untuk Pemodelan dan Perhitungan Sumberdaya Batubara

Data-data dasar yang digunakan dalam pemodelan dan perhitungan
sumberdaya batubara pada umumnya terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu: peta
topografi, peta geologi atau penyebaran batubara, dan data pengeboran.

Peta topografi
Skala peta topografi yang digunakan untuk perhitungan sumberdaya batubara
pada umumnya berkisar antara 1 : 5.000 sampai 1 : 2.000. Untuk keperluan
studi kelayakan peta topografi disyaratkan harus mempunyai skala 1 : 2.000
sesuai dengan Kepmen ESDM Nomor: 1453 K/29/MEM/2000.

Peta geologi dan cropline batubara
Peta geologi atau tepatnya peta penyebaran cropline batubara yang diplot pada
peta topografi di atas berguna untuk merekonstruksi blok-blok sumberdaya
batubara. Blok-blok tersebut disusun dan dibatasi berdasarkan kenampakan
struktur geologi dan penyebaran singkapan batubara. Dalam peta geologi
cropline harus dibuat berdasarkan data-data singkapan yang diperoleh. Apabila
data singkapan hampir tidak ada maka cropline dapat dibuat dengan
menggunakan data pengeboran.

Data pengeboran
Selain peta penyebaran titik bor, data-data pengeboran yang perlu ditampilkan
meliputi: koordinat titik bor, elevasi titik bor, sudut kemiringan pengeboran (jika
melakukan bor miring), total kedalaman, serta data logbor yang terutama
menunjukkan posisi (kedalaman), deskripsi dan ketebalan batubara serta
batuan lainnya. Pada umumnya pengeboran eksplorasi untuk endapan
batubara dilakukan dengan bor coring. J ika tidak maka data pengeboran harus
dilengkapi dengan logging geofisika untuk meyakinkan kondisi dan jenis batuan
di sepanjang lubang bor. Data lubang bor dapat dilengkapi juga dengan data uji
paritan atau uji sumuran.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 6
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

4.4.2 Pengolahan Data Dasar

Untuk membantu memudahkan perhitungan sumberdaya maka data-data dasar
yang telah tersebut di atas diolah menjadi: peta isopach, peta isostruktur
(kontur struktur), peta iso-overburden, penampang melintang, dan diagram blok
atau fence.

Peta isopach
Peta isopach merupakan peta yang menunjukkan kontur penyebaran ketebalan
batubara. Data ketebalan pada peta ini merupakan tebal sebenarnya yang
dapat diperoleh dari data bor, uji paritan, uji sumuran, atau dari singkapan. Peta
ini juga dapat disusun dari kombinasi peta isostruktur. Selisih elevasi top dan
bottom batubara merupakan data ketebalan batubara. Tujuan penyusunan peta
ini adalah untuk menggambarkan variasi ketebalan batubara di bawah
permukaan.

Peta isostruktur
Peta isostruktur menunjukkan kontur elevasi yang sama dari top atau bottom
batubara. Elevasi top atau bottom batubara dapat diperoleh dari data bor. Peta
isostruktur berguna untuk mengetahui arah umum (jurus) masing-masing seam
batubara, membuat penampang meintang, sekaligus sebagai dasar untuk
menyusun peta iso-overburden.

Peta iso-overburden
Peta iso-overburden menunjukkan kontur ketebalan overburden (lapisan
penutup) yang sama. Nilai ketebalan tersebut dapat diperoleh dari data bor atau
dari peta isostruktur dimana ketebalan overburden dapat dihitung dari
perpotongan kontur isostruktur dengan kontur topografi. Peta iso-overburden
cukup penting sebagai dasar evaluasi cadangan selanjutnya, dimana ketebalan
tanah penutup ini dapat digunakan sebagai batasan awal dari penentuan pit
potensial.

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 7
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Selain itu ketebalan tanah penutup ini sering menjadi persyaratan oleh
Direktorat J enderal Pertambangan Umum dalam penentuan sumberdaya
(resources) batubara, seperti:
Sumberdaya terukur (measured resources) untuk daerah yang
mempunyai ketebalan tanah penutup 0 100 m,
Sumberdaya tertunjuk (indicated resources) untuk daerah yang
mempunyai ketebalan tanah penutup 100 200 m,
Sumberdaya tereka (inferred resources) untuk daerah yang mempunyai
ketebalan tanah penutup 200 400 m.

Penampang melintang
Penampang melintang dapat disusun dari kombinasi antara peta cropline
batubara dengan data pengeboran (log bor). Penampang melintang perlapisan
batubara disusun dengan melakukan interpolasi antar data seam pada setiap
titik bor yang berdekatan. Garis penampang melintang sebaiknya selalu
diusahakan tegak lurus jurus cropline batubara agar dapat menunjukkan
kemiringan yang sebenarnya.


Gambar 4.2: Penampang melintang batubara berdasarkan interpretasi lubang bor

Penampang seam batubara berguna untuk memudahkan perhitungan
sumberdaya sekaligus cadangan batubara dengan metode mean area. Data
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 8
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung cadangan tertambang
(mineable reserve) dengan memasukkan asumsi sudut lereng dan losses.

4.5 METODE PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUBARA

4.5.1 Pentingnya Perhitungan Sumberdaya

Perhitungan sumberdaya batubara bermanfaat untuk hal-hal berikut ini:
Memberikan taksiran dari kuantitas (tonase) dan kualitas dari sumberdaya
batubara.
Memberikan perkiraan bentuk 3-dimensi dari sumberdaya batubara serta
distribusi ruang (spatial) dari nilainya. Hal ini penting untuk menentukan
urutan/tahapan penambangan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi
pemilihan peralatan dan NPV (net present value) dari tambang.

Perlu diingat bahwa perhitungan sumberdaya menghasilkan suatu taksiran.
Model sumberdaya yang disusun adalah pendekatan dari realitas, berdasarkan
data/informasi yang dimiliki, dan masih mengandung ketidakpastian.

4.5.2 Persyaratan Perhitungan Sumberdaya

Dalam melakukan perhitungan sumberdaya harus memperhatikan persyaratan
tertentu, antara lain :
Suatu taksiran sumberdaya harus mencerminkan secara tepat kondisi
geologi dan karakter/sifat dari seam batubara.
Taksiran yang baik harus didasarkan pada data aktual yang diolah/
diperlakukan secara objektif. Keputusan dipakai-tidaknya suatu data dalam
penaksiran harus diambil dengan pedoman yang jelas dan konsisten. Tidak
boleh ada pembobotan data yang berbeda dan harus dilakukan dengan
dasar yang kuat.
Metode penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat diuji
ulang atau diverifikasi. Tahap pertama setelah penaksiran sumberdaya
selesai, adalah memeriksa atau mengecek taksiran kualitas blok. Hal ini
dilakukan dengan menggunakan data pengeboran yang ada di sekitarnya.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 9
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Apabila penambangan dimulai, taksiran kadar dari model sumberdaya harus
dicek ulang dengan kualitas dan tonase hasil penambangan yang
sesungguhnya.

Diagram alir konstruksi model perhitungan sumberdaya batubara dapat dilihat
pada Gambar 4.3.

Pengecekan Data-
Data Geologi &
Eksplorasi
KOMPILASI DATA
Peta Topografi
Peta Geologi
Peta Sebaran Batubara
Peta Sebaran Titik Bor
PEMPLOTAN DATA
PERMODELAN
ENDAPAN BATUBARA
Konstruksi Interpretasi
Horizontal dan Vertikal
Perhitungan Sumberdaya
Terukur
Batasan-Batasan
Penambangan
JUMLAH SUMBERDAYA YANG
DAPAT DITAMBANG
Peta Pengambilan
Sampling Blok
Hasil Analisis Kualitas
Core dan Sampling Blok
KONSTRUKSI DATA BLOK
ANALISIS STATISTIK
Statistik Deskriptif dan
Histogram Dari Data
Kualitas Batubara
Penaksiran Titik/Blok
dengan Metoda yang dipilih
Analisis Variogram untuk Tiap
Parameter Kualitas
PETA SEBARAN PARAMETER
KUALITAS
Konstruksi Model Perhitungan
Sumberdaya berdasarkan
Parameter Kualitas dengan
Menggunakan Metoda Poligon
Jumlah Sumberdaya sesuai
Batasan Parameter Kuali tas
yang dipili h
ALTERNATIF SKENARIO
BLOK-BLOK RENCANA
PENAMBANGAN

Gambar 4.3: Konstruksi model perhitungan sumberdaya batubara.





Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 10
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

4.5.3 Metode Perhitungan secara Manual

Setelah data-data hasil uji kualitas dari conto dimasukkan ke dalam basis data,
kemudian dilakukan penaksiran data kualitas pada titik-titik (grid) yang belum
mempunyai data kualitas. Nilai data hasil taksiran tersebut merupakan nilai
rata-rata tertimbang (weighting average) dari data conto yang telah ada.

Dalam penaksiran data kadar (kualitas) ini dilakukan teknik-teknik pembobotan
yang umumnya didasarkan kepada :
Letak grid atau blok yang akan ditaksir terhadap letak data conto,
Kecenderungan penyebaran data kualitas,
Orientasi setiap conto yang menunjukkan hubungan letak ruang antar conto.

Metode penampang (cross-section)

Masih sering dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari proyek. Hasil
penaksiran secara manual ini dapat dipakai sebagai alat pembanding untuk
mengecek hasil penaksiran yang lebih canggih menggunakan komputer. Hasil
penaksiran secara manual ini tidak dapat digunakan secara langsung dalam
perencanaan tambang menggunakan komputer.

Rumus luas rata-rata (mean area)
Rumus luas rata-rata dipakai untuk endapan yang mempunyai penampang
yang uniform.

S
1
S
2
L

( )
V L =
S
1
+ S
2

2


S
1
,S
2
=luas penampang endapan
L =jarak antar penampang
V =volume cadangan

Gambar 4.4: Sketsa perhitungan volum
batubara dengan rumus mean area
(metode penampang).

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 11
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Sedangkan untuk menghitung tonase batubara digunakan rumus :
T =V x BJ
dimana : T =tonase batubara (ton)
V =volume batubara (m
3
)
BJ =berat jenis batubara (ton/m
3
).

Rumus prismoida

S
2
M
S
1
L
1/2 L


V =( S
1
+4M +S
2
)
L
6


S
1
,S
2
=luas penampang ujung
M =luas penampang tengah
L =jarak antara S
1
dan S
2
V =volume cadangan

Gambar 4.5: Sketsa perhitungan
volum batubara dengan rumus
prismoida.


Rumus kerucut terpancung


S
2
S
1
L


( )
V
L
=
3
S
1
+ S
2
+ S
1
S
2



S
1
= luas penampang atas
S
2
= luas penampang alas
L = jarak antar S
1
dan S
2
V = volume cadangan

Gambar 4.6: Sketsa
perhitungan volum batubara
dengan rumus kerucut
terpancung.

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 12
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Rumus obelisk

Rumus obelisk dipakai untuk endapan yang membaji, merupakan suatu
modifikasi dari rumus prismoida dengan mengsubstitusi:

( ) ( )
2

2
b +
1
b

2

2
a +
1
a
= M

a
2
S
2
S
1
a
1
b
1
b
2


Gambar 4.7: Sketsa
perhitungan volum batubara
dengan rumus obelisk.

V =
( )
L
6
S
1
+ 4M + S
2

=
( ) ( )
L
6
4
S
1
+ 4
a
1
+ a
2
b
1
+ b
2

+ S
2


=
( )( )


24

1
b +
2
a
2
b +
1
a
+
2
S +
1
S
3
L


Metode poligon (area of influence)

Metoda poligon ini merupakan metoda penaksiran yang konvensional. Metoda
ini umum diterapkan pada endapan-endapan yang relatif homogen dan
mempunyai geometri yang sederhana.

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 13
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Kadar pada suatu luasan di dalam poligon ditaksir dengan nilai conto yang
berada di tengah-tengah poligon sehingga metoda ini sering disebut dengan
metoda poligon daerah pengaruh (area of influence). Daerah pengaruh dibuat
dengan membagi dua jarak antara dua titik conto dengan satu garis sumbu
(lihat Gambar 7.8).

Dalam kerangka model blok, dikenal jenis penaksiran poligon dengan jarak titik
terdekat (rule of nearest point), yaitu nilai hasil penaksiran hanya dipengaruhi
oleh nilai conto yang terdekat atau dengan kata lain titik (blok) terdekat
memberikan nilai pembobotan satu untuk titik yang ditaksir, sedangkan titik
(blok) yang lebih jauh memberikan nilai pembobotan nol (tidak mempunyai
pengaruh).



10
2
3
9 8 7
4
5
6 1




=titik bor/sumur uji

=daerah pengaruh
Gambar 4.8: Metode poligon (area of influence).

Andaikan ketebalan batubara pada titik 1 adalah t
1
dan luas daerah
pengaruhnya adalah S
1
maka volum (V) = S
1
x t
1
(volume pengaruh). Bila
specific gravity dari batubara = , maka tonase batubara = S
1
x t
1
x ton.

Untuk data yang sedikit metoda poligon ini mempunyai kelemahan, antara lain :
Belum memperhitungkan tata letak (ruang) nilai data di sekitar poligon,
Tidak ada batasan yang pasti sejauh mana nilai conto mempengaruhi
distribusi ruang.




Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 14
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Metode USGS Circular 891 (1983)

Sistem United States Geological Survey (USGS, 1983) merupakan
pengembangan dari sistem blok dan perhitungan volum biasa. Sistem USGS ini
dianggap sesuai untuk diterapkan dalam perhitungan sumberdaya batubara,
karena sistem ini ditujukan pada pengukuran bahan galian yang berbentuk
perlapisan (tabular) yang memiliki ketebalan dan kemiringan lapisan yang relatif
konsisten. Sumberdaya yang dihitung terdiri dari sumberdaya terukur
(measured coal) dan sumberdaya terunjuk (indicated coal), yang keduanya
termasuk ke dalam jenis sumberdaya demonstrated coal. Prosedur atau teknik
perhitungan dalam sistem USGS adalah dengan membuat lingkaran-lingkaran
(setengah lingkaran) pada setiap titik informasi endapan batubara, yaitu
singkapan batubara dan lokasi titik pengeboran.

Daerah dalam radius lingkaran 0-400 m adalah untuk perhitungan sumberdaya
terukur dan daerah radius 400-1200 m adalah untuk perhitungan sumberdaya
terunjuk (USGS/Wood dkk., 1983) (lihat Gambar 4.9).

Teknik perhitungan seperti di atas hanya berlaku untuk kemiringan lapisan lebih
kecil atau sama dengan 30
0
(30
0
). Sedangkan untuk batubara dengan
kemiringan lapisan lebih besar dari 30
0
(>30
0
) caranya adalah mencari harga
proyeksi radius lingkaran-lingkaran tersebut ke permukaan terlebih dahulu (lihat
Gambar 4.10).

Selain itu aspek-aspek geologi daerah penelitian seperti perlipatan, sesar,
intrusi dan singkapan batubara di permukaan, ikut mengontrol perhitungan
sumberdaya batubara (Gambar 4.11).

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 15
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Gambar 4.9: Teknik perhitungan sumberdaya batubara berdasarkan sistem
United States Geological Survey Circular 891 (1983).


Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 16
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Gambar 4.10: Cara perhitungan sumberdaya batubara dengan kemiringan 30
0

(atas) dan kemiringan >30
0
(bawah), (USGS, 1983).


Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 17
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Gambar 4.11: Kontrol struktur pada batas sumberdaya batubara (USGS, 1983).

4.5.4 Penaksiran Sumberdaya dengan Sistem Blok

Pemodelan dengan komputer untuk merepresentasikan endapan bahan galian
umumnya dilakukan dengan model blok (block model). Dimensi block model
dibuat sesuai dengan disain penambangannya, yaitu mempunyai ukuran yang
sama dengan tinggi jenjang. Semua informasi seperti jenis batuan, kualitas
batubara, dan topografi dapat dimodelkan dalam bentuk blok.

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 18
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara


Gambar 4.12: Perhitungan sumberdaya dengan model blok.

Penaksiran parameter blok dapat menggunakan metode inverse distance,
nearest point, atau kriging.

Metode jarak terbalik (inverse distance method)

Metoda ini merupakan suatu cara penaksiran dengan telah memperhitungkan
adanya hubungan letak ruang (jarak), merupakan kombinasi linier atau harga
rata-rata tertimbang (weighting average) dari titik-titik data yang ada di
sekitarnya.

Suatu cara penaksiran di mana harga rata-rata suatu blok merupakan
kombinasi linier atau harga rata-rata berbobot (wieghted average) dari data
lubang bor di sekitar blok tersebut. Data di dekat blok memperoleh bobot
lebih besar, sedangkan data yang jauh dari blok bobotnya lebih kecil. Bobot
ini berbanding terbalik dengan jarak data dari blok yang ditaksir.
Untuk mendapatkan efek penghalusan (pemerataan) data dilakukan faktor
pangkat. Pilihan dari pangkat yang digunakan (ID1, ID2, ID3, )
berpengaruh terhadap hasil taksiran. Semakin tinggi pangkat yang
digunakan, hasilnya akan semakin mendekati metode poligon conto
terdekat.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 19
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Sifat atau perilaku anisotropik dari cebakan mineral dapat diperhitungkan
(space warping).
Merupakan metode yang masih umum dipakai.

J ika d adalah jarak titik yang ditaksir dengan titik data (z), maka faktor
pembobotan (w) adalah :

Untuk ID pangkat satu Untuk ID pangkat dua (IDS) Untuk ID pangkat n

=
=
j
1 i
d
1
d
1
j
i
j
w

=
=
j
1 i
d
1
d
1
j
2
i
2
j
w

=
=
j
1 i
d
1
d
1
j
n
i
n
j
w

Maka, hasil taksiran (Z*) :

=
=
j
1 i
i i
z . w * Z

Metoda seperjarak ini mempunyai batasan yaitu hanya memperhatikan jarak
saja dan belum memperhatikan efek pengelompokan data, sehingga data
dengan jarak yang sama namun mempunyai pola sebaran yang berbeda masih
akan memberikan hasil yang sama. Atau dengan kata lain metode ini belum
memberikan korelasi ruang antara titik data dengan titik data yang lain.


Gambar 4.13: Metode inverse distance.

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 20
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Metode nearest point

Metode nearest point menggunakan conto terdekat untuk penaksiran parameter
blok dalam model masih umum dilakukan.


Gambar 4.14: Metode penaksiran nearest point.

Metode Geostatistik dan Kriging

Kriging adalah penaksir geostatistik yang dirancang untuk penaksiran kadar
blok sebagai kombinasi linier dari conto-conto yang ada di dalam/sekitar blok,
sedemikian rupa sehingga taksiran ini tidak bias dan memiliki varians minimum.
Secara sederhana, kriging menghasilkan seperangkat bobot yang
meminimumkan varians penaksiran (estimation variance) sesuai dengan
geometri dan sifat mineralisasi yang dinyatakan dalam fungsi variogram yang
mengkuantifikasikan korelasi spatial (ruang) antar conto.

Metode inipun menggunakan kombinasi linier atau weighted average dari
data conto lubang bor di sekitar blok, untuk menghitung harga rata-rata blok
yang ditaksir.
Pembobotan tidak semata-mata berdasarkan jarak, melainkan
menggunakan korelasi statistik antar-conto yang juga merupakan fungsi
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 21
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

jarak. Karena itu, cara ini lebih canggih dan perilaku anisotropik dapat
dengan mudah diperhitungkan.
Cara ini memungkinkan penafsiran data kualitas batubara secara
probabilistik. Selain itu dimungkinkan pula interpretasi statistik mengenai
hal-hal seperti bias, estimation variance, dll.
Merupakan metode yang paling umum dipakai dalam penaksiran parameter
blok dalam suatu model cadangan.

Dengan teknik rata-rata tertimbang (weighted average), kriging akan
memberikan bobot yang tinggi untuk conto di dalam/dekat blok, dan sebaliknya
bobot yang rendah untuk conto yang jauh letaknya. Selain faktor jarak, bobot ini
ditentukan pula oleh posisi conto relatif terhadap blok dan terhadap satu sama
lain. Metode kriging yang digunakan adalah teknik linier (ordinary kriging).
Ordinary kriging cenderung menghasilkan taksiran blok yang lebih merata atau
kurang bervariasi dibandingkan dengan kadar yang sebenarnya (smoothing
effect). Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging tidak ada hubungannya
secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran. Bobot
ini hanya tergantung pada konfigurasi conto di sekitar blok dan satu sama lain,
serta pada variogram (yang walaupun merupakan fungsi kadar namun
didefinisikan secara global).

Pemodelan pada seam batubara atau cebakan-cebakan berlapis lainnya akan
lebih sesuai jika dilakukan dengan cara gridded seam model. Secara garis
besar pemodelan ini mempunyai aturan sebagai berikut :
Secara lateral endapan batubara/cebakan mineral dan daerah sekitar-nya
dibagi menjadi sel-sel yang teratur, dengan lebar dan panjang tertentu.
Adapun dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan tinggi jenjang tertentu,
melainkan dengan unit stratigrafi dari cebakan yang bersangkutan.
Pemodelan dilakukan dalam bentuk puncak, dasar, dan ketebalan dari unit
stratigrafi (lapisan batubara, dll.). Kadar dari berbagai mineral atau variabel
dimodelkan untuk setiap lapisan.

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 22
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Pada Gambar 4.15 ditampilkan hasil pemodelan batubara dengan mengunakan
paket program Datamine.


Gambar 4.15: Pemodelan blok batubara (gridded seam model).

4.6 EVALUASI DAN OPTIMASI CADANGAN BATUBARA

Evaluasi dan Optimasi Cadangan Batubara ini merupakan pekerjaan (tahap)
lanjutan dari hasil Pemodelan Sumberdaya Batubara. Pada tahapan ini mulai
diterapkan (diidentifikasikan) batasan-batasan teknis maupun ekonomis yang
dapat menjadi pembatas dari model sumberdaya batubara yang telah
diterapkan (dimodelkan) sebelumnya.

Selain itu, pada tahapan Evaluasi dan Optimasi Cadangan Batubara ini
diharapkan telah dapat dikuantifikasi jumlah batubara yang realistis dan layak
yang dapat diperoleh melalui penambangan dengan metoda dan sistem
penambangan yang dipilih sesuai dengan model sumberdaya yang telah
diketahui.

Secara umum, aspek-aspek penting yang akan diuraikan dan dipelajari dalam
sesi (modul) ini adalah sebagai berikut :
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 23
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Penentuan dan pemilihan pit potensial
Konsep nisbah kupas (stripping ratio)
Faktor-faktor pembatas dan losses
Metoda-metoda perhitungan cadangan batubara
Konsep optimasi jumlah cadangan tertambang.

4.6.1 Penentuan dan Pemilihan Pit Potensial

Penentuan dan pemilihan pit potensial merupakan sebagai langkah awal dalam
melakukan evaluasi cadangan batubara. Penentuan pit potensial ini diperlukan
untuk dapat memperkirakan/memprediksi suatu area sumberdaya batubara
yang potensial untuk nantinya akan dikembangkan menjadi suatu lokasi pit
penambangan.

Data-data awal yang diperlukan merupakan data-data yang diperoleh/dihasilkan
pada saat melakukan model sumberdaya, yaitu :
Peta topografi: untuk mengetahui (melihat) variasi topografi (terutama daerah
tinggian lembah).
Peta geologi lokal: untuk mengetahui variasi litologi, pola sebaran dan
kemenerusan lapisan batubara, serta pola struktur geologi.
Peta iso-ketebalan: untuk mengetahui variasi ketebalan dari batubara,
sehingga jika disyaratkan ketebalan minimum yang akan dihitung, maka peta
ini dapat digunakan sebagai faktor pembatas.
Peta elevasi top dan bottom (roof dan floor) batubara; untuk mengetahui pola
kemenerusan lapisan batubara.

Langkah awal yang dilakukan untuk penentuan pit potensial ini adalah membuat
(mengkonstruksi) peta iso-overburden, yaitu dengan cara melakukan overlay
antara peta struktur roof (elevasi top) batubara dengan peta topografi (Gambar
4.16). Nilai kontur pada peta iso-overburden merupakan refleksi dari ketebalan
overburden. Peta iso-overburden secara umum (gamblang) dapat
menggambarkan (merefleksikan) kondisi sebaran batubara terhadap variasi
topografi pada area tertentu.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 24
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

100
50
0 0
50
100
Elevasi topografi
Elevasi top batubara
Nilai kontur
Iso-overburden
Nilai kontur
Iso-overburden
Tebal OB

Gambar 4.16: Sketsa konstruksi peta iso-overburden.

Pada beberapa kondisi khusus seperti terbatasnya tinggi (tebal) overburden
yang disyaratkan, maka peta iso-overburden ini dapat dengan cepat digunakan
sebagai faktor pembatas dalam penentuan pit limit.

Adapun pola umum yang dapat diterapkan untuk penentuan pit potensial
adalah sebagai berikut :
a. Identifikasikan faktor-faktor pembatas, seperti :
Struktur geologi: jika pada model sumberdaya batubara diidentifikasikan
terdapat beberapa struktur geologi (seperti patahan), maka dapat
dipisahkan menjadi beberapa pit potensial.
Kondisi litologi: jika pada model sumberdaya batubara diidentifikasikan
adanya blok intrusi, maka blok intrusi tersebut harus ditentukan batasnya
untuk pembatas pit potensial.
Kondisi geografis: jika. pada peta topografi diketahui mengalir suatu
sungai yang besar dan secara teknis sungai tersebut tidak dapat
dipindahkan, maka dapat dipisahkan menjadi beberapa pit potensial.
Kondisi geologi batubara: jika diidentifikasikan adanya ketebalan
batubara yang tidak memenuhi syarat seperti t <0,5 m, maka dengan
memanfaatkan peta isopach ketebalan dapat digunakan sebagai batas
pit potensial.
Kondisi geoteknik: jika diketahui limit (batas) ketinggian lereng
maksimum, maka ini juga dapat merefleksikan batasan ketebalan
overburden maksimum.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 25
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Kondisi pembatas lain: misalnya adanya jalan, perkampungan, atau area
lindung, maka dengan memplotkan lokasinya dapat digunakan sebagai
batas pit potensial.

b. Analisis peta iso-overburden:
Dengan memperhatikan pola kontur peta iso-overburden, seperti :
Kontur rapat dan berada di dekat cropline batubara, menunjukkan
ketebalan overburden relatif mempunyai variasi yang besar dan intensif.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh adanya tinggian/punggungan (bukit) di
atas lapisan batubara.
Kontur relatif renggang dan mempunyai pola menjauhi cropline batubara.
Kondisi ini menguntungkan, karena variasi ketebalan overburden relatif
mempunyai interval yang lebar.

Dengan mengkombinasikan kedua faktor di atas (faktor pembatas dan faktor
ketebalan overburden), maka dengan cepat lokasi pit potensial dapat dilokalisir
(ditentukan). Dengan mengetahui lokasi pit potensial ini maka optimasi
cadangan batubara dapat dilakukan pada area yang terbatas, yaitu area yang
telah dapat diprioritaskan. Pada Gambar 4.17 dan Gambar 4.18 dapat dilihat
contoh penentuan lokasi pit potensial dengan pendekatan faktor pembatas
yang berbeda.


Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 26
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

NK-20
NK-05
NK-19
NK-01
NK-02 NK-09
NK-18
NK-16 NK-11 NK-07
NK-17
NK-12
NK-15
NK-14
SK-05
SK-11
SK-12 SK-01 SK-07
SK-04
SK-02 SK-09
SK-10 SK-03
SK-08 SK-06
SK-13
S
e
a
m

-

D
S
e
a
m

-

D

u
p
S
e
a
m

-

C
S
e
a
m
- B
100
0 200
U
500 meter
SKETSA LOKASI PIT POTENSIAL
BLOK X - DAERAH XYZ
S. KAMPAR
SK-06
Titik Bor
S
e
a
m

-

D
Cropline Seam
KETERANGAN
PIT-1
PIT-2
PIT-3A
PIT-3A
S. KAMPAR
J alan Propinsi

Gambar 4.17: Contoh penentuan pit potensial dengan pembatas
tebal overburden dan penggunaan lahan.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 27
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

NK-20
NK-05
NK-19
NK-01
NK-02 NK-09
NK-18
NK-16 NK-11 NK-07
NK-17
NK-12
NK-15
NK-14
SK-05
SK-11
SK-12 SK-01 SK-07
SK-04
SK-02 SK-09
SK-10 SK-03
SK-08 SK-06
SK-13
S
e
a
m

-

D
S
e
a
m

-

D

u
p
S
e
a
m

-

C
S
e
a
m
-
B
100
0 200
U
500 meter
SKETSA LOKASI PIT POTENSIAL
BLOK X - DAERAH XYZ
S. KAMPAR
SK-06
Titik Bor
S
e
a
m

-

D
Cropline Seam
KETERANGAN
PIT-1
PIT-2
PIT-3
S. KAMPAR
J alan Propinsi

Gambar 4.18: Contoh penentuan pit potensial dengan pembatas
tebal overburden.

Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 28
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

4.6.2 Konsep Nisbah Kupas (Stripping Ratio)

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa ketebalan lapisan batubara
dan ketebalan tanah penutup (overburden) merupakan faktor utama yang
mengontrol kelayakan suatu pembukaan tambang batubara.

Pengetahuan jumlah (kuantitas) batubara dan jumlah batuan penutup yang
harus dipindahkan untuk mendapatkan per-unit batubara sesuai dengan
metoda penambangan merupakan konsep dasar dari nisbah kupas (stripping
ratio). Secara umum, stripping ratio (SR) didefinisikan sebagai Perbandingan
jumlah volum tanah penutup yang harus dipindahkan untuk mendapatkan satu
ton batubara.

Faktor rank, kualitas, nilai kalori, dan harga jual menjadi sangat penting dalam
perumusan nilai stripping ratio. Batubara dengan harga jual yang tinggi akan
memberikan nisbah kupas yang lebih baik daripada batubara dengan harga jual
yang rendah.

Namun secara umum, faktor utama untuk penentuan nilai ekonomis stripping
ratio ini adalah jumlah cadangan batubara (marketable), volume tanah penutup
(BCM), dan umur tambang.

Secara sederhana penentuan harga stripping ratio yang masih ekonomis
adalah sebagai berikut :
Perkirakan unit cost penambangan untuk penggalian dan pengangkutan
batubara ke stockpile.
Perkirakan unit cost transportasi batubara dari stock pile sampai ke
pelabuhan.
Perkirakan unit cost penambangan untuk penggalian dan pengangkutan
overburden ke waste dump.
Perkirakan volume tanah penutup, untuk total cost.
Perkirakan recoverable reserve, untuk total revenue.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 29
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Perkirakan harga jual batubara per ton, untuk total revenue.
Perkirakan biaya investasi dan eksplorasi.
Perkirakan biaya lain-lain.
Perkirakan umur tambang.

Maka perbandingan nilai jual batubara terhadap total cost harus lebih besar
daripada 1 (revenue >total cost).

4.6.3 Faktor-Faktor Pembatas dalam Penentuan Cadangan Tertambang

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa tidak mungkin akan diperoleh
cadangan tertambang 100% dari cadangan insitu, dimana akan terjadi dilution
sepanjang tahap penambangan. Sebelum mulai menghitung suatu nilai
cadangan tertambang, maka ada 2 (dua) faktor utama yang harus
dikuantifikasi, yaitu Faktor Pembatas Cadangan dan Faktor Losses.

a. Faktor-faktor pembatas suatu cadangan :
Minimum ketebalan lapisan batubara, hal ini berhubungan dengan
teknik penambangan dan stripping ratio.
Maksimum ketebalan tanah penutup, hal ini berhubungan dengan nilai
stripping ratio.
Maksimum stripping ratio, hal ini berhubungan dengan nilai atau tingkat
kelayakan penambangan.
Maksimum kemiringan lapisan batubara, hal ini akan berhubungan
dengan teknologi penambangan dan nilai stripping ratio.
Minimum (%) yield proses untuk mendapatkan batubara bersih, yaitu
kalau diperkirakan akan dilakukan proses pencucian.
Maksimum kandungan abu, yaitu sesuai dengan standar pasar yang
akan dimasuki.
Maksimum kandungan sulfur, yaitu sesuai dengan standar pasar yang
akan dimasuki.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 30
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Batasan alamiah geografis, yaitu berhubungan dengan batasan-
batasan alam yang harus diperhatikan, seperti adanya sungai besar,
daerah konservasi alam, atau adanya jalan negara, atau adanya suatu
area tertentu yang tidak mungkin dipindahkan.
Batasan alamiah geologi, yaitu berhubungan dengan batasan-
batasan geologi, seperti adanya sesar, intrusi, dll.

b. Faktor Losses
Yaitu faktor-faktor kehilangan cadangan akibat tingkat keyakinan geologi
maupun akibat teknis penambangan. Beberapa faktor losses adalah :
Geological Losses, yaitu faktor kehilangan akibat adanya variasi
ketebalan, parting, maupun pada saat pengkorelasian lapisan batubara.
Mining Losses, yaitu faktor kehilangan akibat teknis penambangan,
seperti faktor alat, faktor safety, dll.
Processing Losses, yaitu faktor kehilangan (recovey yield) akibat
diterapkannya metoda pencucian batubara atau kehilangan pada
proses lanjut di stockpile.

Faktor-faktor pembatas pada umumnya sudah cukup jelas. Dalam
penerapannya, faktor-faktor pembatas tersebut akan menjadi pit limit dalam
panambangan.

Sedangkan faktor-faktor losses diterapkan pada saat proses perhitungan
cadangan, dan dapat dikuantifikasi besar nilai losses tersebut. Berikut akan
diuraikan contoh cara kuantifikasi faktor losses tersebut.

Geological Losses
Biasanya untuk kemudahan, langsung diambil nilai umum yaitu 5 - 10%.
Namun dapat juga dengan memperhatikan pola variasi ketebalan batubara,
yaitu dengan bantuan analisis statistik. Parameter statistik yang dapat
digunakan adalah: standar deviasi, koefisien variasi, atau error standard.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 31
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Rata-rata =

=
n
1 i
i
x
n
1
= x ; Standard Deviasi =
N
N
1 i
2
) -
i
(x


=
=
Koefisien variasi = 100% x



Mining Losses
Secara umum, untuk metoda strip mining digunakan mining losses sebesar
10%, sedangkan untuk tambang bawah tanah digunakan mining losses
sebesar 40-50% yaitu (metoda long wall mempunyai recovery 60-70%,
metoda room and pillar mempunyai recovery 50-60%), untuk auger mining
digunakan mining losses sebesar 60-70% (atau recovery 30-40% sesuai
dengan spesifikasi peralatannya).
Untuk metoda strip mining (open pit), kadang-kadang juga digunakan
pendekatan ketebalan lapisan yang akan ditinggalkan, yaitu 10 cm pada roof
dan 10 cm pada floor. J ika ketebalan lapisan hanya 1 m, maka mining losses
=20%., sedangkan jika ketebalan lapisan adalah 2 m maka mining losses =
10%, dan jika ketebalan lapisan adalah 5 m maka mining losses =4%.

Processing Losses (Yield), sangat tergantung pada hasil uji ketercucian
(washability test), dimana harga perolehan (yield) ditentukan dari hasil uji
tersebut.

4.6.4 Perhitungan Cadangan Batubara

Perhitungan cadangan batubara dapat dilakukan di daerah yang prospek
dengan menggunakan metode penampang. Rumus perhitungan metode
penampang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Tahapan pengerjaan
perhitungan cadangan adalah sebagai berikut:

Pembuatan lintasan penampang perhitungan, sebaiknya deretan penampang
dibuat memotong (relatif tegak lurus) arah umum bidang perlapisan.
Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 32
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

Konstruksi penampang, telah memasukkan elemen-elemen topografi, bidang
lapisan batubara, geometri lereng, serta faktor-faktor pembatas lainnya.
Pemilihan rumus perhitungan, dengan memperhatikan variasi masing-
masing penampang.
Perhitungan luasan masing-masing penampang, dapat dengan
menggunakan planimeter maupun dengan menggunakan program komputer.
Perhitungan tonase batubara dan volume overburden, dalam tabulasinya
sebaiknya dibuat dalam worksheet.

0
100
50
150
250
200
0
150
100
50
250
200


0
100
50
150
S. Lawai
0
100
50
150


Gambar 4.19: Contoh penampang perhitungan cadangan.


Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 33
Di kt at Kul i ah TE-4211 Eksplorasi Batubara

4.6.5 Optimasi Cadangan Tertambang

Optimasi berdasarkan stripping ratio:
Optimasi berdasarkan series penampang, yaitu dengan mengoptimasi
stripping ratio masing-masing penampang, maupun kumulatif stripping ratio
keseluruhan area.
Optimasi berdasarkan elevasi batubara (blok), yaitu dengan menghitung
stripping ratio dengan lebar blok tertentu searah jurus perlapisan batubara
dan lebar tertentu ke arah dipping dengan menggunakan interval elevasi
kontur struktur batubara.

Optimasi berdasarkan kualitas
Faktor pembobotan tonase, yaitu dengan memasukkan pembobotan tonase
pada range kualitas tertentu sehingga dapat dioptimalkan tonase cadangan
sesuai dengan syarat minimal yang ditargetkan.
Optimasi berdasarkan series penampang, yaitu mengelompokkan series
perhitungan penampang dengan minimum kualitas, disini biasanya
digunakan peta iso-kualitas sebagai faktor pembatasnya.
Optimasi berdasarkan elevasi batubara (blok), yaitu dengan melakukan
penaksiran harga kualitas pada masing-masing blok yang telah disusun,
sehingga nantinya juga akan dilakukan optimasi berdasarkan pembobotan
tonase.




Bab IV, Perhitungan Sumberdaya dan Cadangan - 34
DAFTAR PUSTAKA


1. Ward, Collin R, Coal Geology and Coal Technology. Blackwell Scientific
Publications. 1984.
2. Geological Survey Circular 891., Coal Resource Classification System of
the USGS, USGS 1983.
3. Totok Darijanto, Model Sumberdaya Batubara, tidak dipublikasikan,
1999.
4. Stone, J ohn G., Dunn, Peter G., Ore Reserve Estimates in The World,
Society of Economics Geologist Special Publication Number 3,
1994.
5. Syafrizal, Optimasi Cadangan Batubara Berdasarkan Kualitas, tidak
dipublikasikan, 2000.
6. Wellmer, Friedrich-Wilhelm, Economic Evaluation in Exploration,
Springer-Verlag, 1986.
7. Ward, Collin R., Coal Geology and Coal Technology, Blackwell Scientific
Publications, 1984.
8. Heriawan, M Nur, Handout Evaluasi Cadangan Batubara, tidak
dipublikasikan, 2004.
9. Darijanto, Totok & Syafrizal, Evaluasi dan Optimasi Cadangan Batubara,
tidak dipublikasikan, 2001.

vii

Anda mungkin juga menyukai