Anda di halaman 1dari 24

ISSN: 09854-1678

Taki - Takining Sewaka Guna Widya

Laporan Khusus: Susunan Baru Kementerian BEM-PM Unud

Resensi film: Jobs, Inovator Teknologi

Essay Foto: Keindahan Pantai Senggigi

Budaya: Endek, Kain Tenun Ikat Khas Bali

Di Balik Kelahiran UKT 5 Golongan

DAFTAR ISI
Salam Persma! Edisi perdana!! Edisi perdana di kepengurusan 2013-2014 tentunya, Edisi Februari ini kami menghadirkan tema, Dibalik Kelahiran UKT 5 Golongan. Ide ini muncul disebabkan obrolan ringan di awak redaksi mengenai adanya pro dan kontra UKT 5 golongan. Maka timbullah pertanyaan, sudah adilkah penggolongan yang telah diberlakukan? Kemudian adapun rubrik laporan khusus ini mengangkat tema mengenai penambahan kementrian kabinet baru di BEM PM Unud. Tujuannya apa? Pertimbangannya apa? Disisipi juga berita ringan mengenai keindahan di Pantai Senggigi dan Pantai Lembongan. Semoga bisa menjadi referensi tempat tongkrongan bagi pembaca. Itulah sekilas isi bulletin ini. Lebih lengkapnya pembaca bisa simak dengan lebih seksama. Kami sangat berharap buletin ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif untuk kawan-kawan mahasiswa. Kami senantiasa ingin menjadikan kampus sebagai kawasan akademik tempat lahirnya orang-orang kritis dan bukan sekadar manusia-manusia pekerja. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran konstruktif untuk kemajuan kita bersama. Pemimpin Redaksi Pelindung: Rektor Universitas Udayana. Penasihat: Pembantu Rektor III Universitas Udayana. Ketua Unit/Pemimpin Umum: Jaya Kusuma. Pemimpin Redaksi: Alit Purwaningsih. Redaktur Pelaksana: Nila Pertina Dewi, Dharma Yanti, Resita Yuana, Indah Kusuma. Editor: Ary Pratiwi, Vera Aryantini, Diah Dharmapatni. Tim Redaksi: Bagus, Ulul, Wirat, Gunawan, Febri, Elok, Anik, Cahyani, Mita, Arimbawa, Rifai, Dwijayanthi, Bhaskara. Layouter: Gamaliel Sangga Buana. Ilustrasi: Anik, Adit.

Tajuk

3 / 4

Laporan Utama Profil / 10 / 14

Essay Foto Resensi /

12

Laporan Khusus Jejak Budaya Opini / / / 22 18 20

16

Diterbitkan oleh: Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana. Izin terbit: SK Rektor Unud 499/SK/PT/07/OM/LA/83. Alamat Sekretariat: Gedung Student Center Lantai 2, Jalan Dr. R. Goris, Denpasar-Bali. Email: pers_akademika@yahoo.com

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

EDITORIAL

UKT Udayana Perlu PDKT

elaksanaan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Universitas Udayana banyak menuai protes dari kalangan mahasiswa. Mulai dari ketidakpahaman mengenai UKT yang berdampak kekisruhan saat pembayaran, hingga munculnya upaya - upaya dari mahasiswa untuk mengganti golongannya ke yang lebih rendah. Mereka menganggap penggolongan UKT yang didapat tidak sesuai dengan keadaan ekonominya. Ini yang salah sistemnya, pengelolanya, pihak universitas, atau mahasiswa? Berdasarkan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia nomor 55 tahun 2013 pasal 1 ayat 3, uang kuliah tunggal merupakan sebagian biaya kuliah tunggal yang ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya. Konsep sistem UKT lima golongan yang diprakarsai oleh Kemendikbud Indonesia ini sebenarnya sudah baik. Hanya saja baik di konsep, belum tentu baik dalam eksekusinya, bukan? Kurangnya sosialisasi atau dalam istilah kerennya PDKT tentang sistem UKT menyebabkan mahasiswa kebingungan. Ada yang mengira UKT seperti uang gedung yang hanya dibayar sekali saja sehingga berakibat fatal, misalnya keliru dalam memilih golongan. Duh! Begitu kisruhnya sistem ini, sehingga dibangun posko pelayanan informasi UKT di Universitas Udayana. Terbukti sebanyak kurang lebih 210 mahasiswa menyampaikan keluhannya. Ini menandakan penerapan sistem UKT belum cukup berhasil. Belum lagi tersirat kabar bahwa ada beberapa mahasiswa yang tidak jujur dalam melengkapi keperluan administrasi. Sistem ini rawan dari mahasiswa-mahasiswa nakal yang

sebenarnya dalam kategori mampu, namun ingin membayar dalam jumlah yang lebih kecil. Hal ini memang sudah diwaspadai oleh pihak Universitas Udayana dengan memberikan ancaman akan mengeluarkan mahasiswa tersebut apabila diketahui memalsukan data. Lantas, apakah ini sudah menjamin? Apakah pihak Unud akan mampu memproteksi ribuan mahasiswa dalam waktu yang cukup singkat? Dalam suatu pelaksanaan konsep baru, hal yang wajar jika banyak menuai kritik dan saran. Hanya saja, apabila dipersiapkan secara matang UKT ini tidak akan merugikan banyak mahasiswa. Sosialisasi harusnya dilakukan secara menyeluruh, apalagi ini menyangkut biaya kuliah yang akan ditanggung kurang lebih hingga empat tahun ke depan. Apapun yang menyangkut tentang mahasiswa, maka berpengaruh juga tentang orang tua dan masyarakat umum di sekitarnya. Jangan sampai, tujuan dari pemerintah yang mensubsidi biaya kuliah ini tercoreng karena pelaksanaannya yang dikemas secara tidak tertata. Dengan adanya UKT ini diharapkan seluruh calon mahasiswa semakin berani melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya, dengan penerapan UKT yang bermasalah menjadikan mereka takut untuk mendaftar ke bangku kuliah. Takut tidak sesuai dengan keadaan ekonomi. Takut tidak bisa melanjutkan kuliah saat berada di tengah perjalanan. (red)

www.persakademika.com / @persakademika

LAPORAN UTAMA 1

Unud Berlakukan Sistem UKT 5 Kelompok

Di usianya yang menginjak 51 tahun, sistem uang kuliah terbaru diberlakukan di Universitas Udayana (Unud). Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) 5 Kelompok muncul di tahun 2013. Lalu, seperti apa UKT 5 Kelompok tersebut?

KT 5 kelompok adalah sistem pembayaran uang perkuliahan menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 yang kelompoknya dibagi berdasarkan kemampuan ekonomi mahasiswa. Sistem UKT berlandaskan atas Undang-undang Perguruan Tinggi Pasal 88 Ayat 5 dan berlaku di seluruh universitas negeri di nusantara. Mau tidak mau, sistem pembayaran UKT ini harus dilakukan karena dalam berorganisasi ada susunan pemerintahan. Ada pemimpin yang membuat peraturan dan orang yang dipimpin serta mengikuti peraturan, jelas Pembantu Rektor (PR) II Unud, Prof.Dr.Ir. Ketut Budi Susrusa M.S. saat ditanya mengenai kesiapan Universitas Udayana menanggapi Permendikbud Nomor 55 Tahun 2013. Pembantu Rektor II Unud yang membidangi administrasi dan keuangan tersebut juga memberikan alasan mengenai pemberlakuan UKT 5 kelompok di Unud. UKT ini diberlakukan di seluruh universitas negeri di Indonesia. Sebenarnya dari Kemendikbud memberi kuasa kepada tiap tiap universitas untuk membagi UKT menjadi 7 kelompok. Saya tidak tahu bagaimana dengan universitas lain. Tapi Unud hanya mengambil 5 kelompok untuk penyederhanaan saja, ujarnya. Sistem UKT 5 kelompok sendiri merupakan sistem yang baru diberlakukan oleh pemerintah mulai tahun akademik 2013. Oleh karena itu, pada tahun tahun sebelumnya semua

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

LAPORAN UTAMA 1

Tabel besar biaya UKT per fakultas di Universitas Udayana. Perbedaan jumlah pembayaran pada UKT II, IV dan V ditentukan berdasarkan jurusan yang diambil.

mahasiswa membayar jumlah uang kuliah sesuai dengan prodi yang dipilihnya. Menurut Prof.Dr.Ir. Ketut Budi Susrusa M.S, sistem pembayaran pada tahun-tahun sebelumnya tersebut mengakibatkan banyak mahasiswa dengan ekonomi yang kurang, merasa terbebani. Sementara orang yang mampu secara ekonomi membayar biaya kuliah yang sama dengan orang orang yang kurang mampu. Sehingga ditetapkanlah sistem pembayaran di Unud dengan sistem UKT 5 kelompok. Tujuan pengadaan UKT 5 kelompok pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 55 Tahun 2013 adalah untuk meringankan beban mahasiswa terutama yang kurang mampu terhadap pembiayaan pendidikan. Prof.Dr.Ir. Ketut Budi Susrusa M.S menambahkan bahwa tujuan adanya UKT 5 kelompok ini adalah untuk meningkatkan akses masyarakat agar bisa memasuki perguruan tinggi. Berdasarkan studi atau sosialisasi tentang UKT, sistem UKT ini diberlakukan agar orang yang mampu secara intelektual

tapi tidak mampu dalam ekonomi bisa masuk ke perguruan tinggi. Kemudian dengan adanya UKT ini diharapkan bisa mewujudkan tujuan UUD 1945 untuk meningkatkan kecerdasan bangsa, terangnya dengan penuh antusias. Padahal tanpa adanya UKT 5 kelompok sudah banyak bantuan berupa beasiswa bagi orang yang kurang mampu agar bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi seperti beasiswa. Secara sederhana, uang UKT ini lebih kecil daripada biaya kuliah yang seharusnya dibayarkan karena sisanya telah disubsidi oleh pemerintah. Mahasiswa yang memiliki kemampuan ekonomi yang standar atau berkecukupan akan dikenakan UKT 3 berdasarkan syarat syarat yang sudah dikumpulkan dalam pendaftaran mahasiswa baru. Sedangkan mahasiswa yang kemampuan ekonominya kurang, akan dikenakan UKT 1 atau UKT 2 sesuai penilaian dari tim verifikasi. UKT 4 dan UKT 5 tentu saja diperuntukkan bagi mahasiswa dengan kemampuan ekonomi yang mapan. Karena kelebihan dananya akan digunakan untuk

www.persakademika.com / @persakademika

LAPORAN UTAMA 1

menutupi biaya kuliah mahasiswa yang membayar UKT 1 dan UKT 2. Dengan adanya sistem UKT 5 kelompok tersebut, Tjokorda Dharma Putra Pemayun yang merupakan salah seorang mahasiswa semester 1 Fakultas Hukum Unud merasa bahwa uang kuliah yang dibayarkannya cocok. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah, dan sesuai dengan pendapatan orang tuanya. Saat saya mengisi form data UKT, saya telah mendiskusikannya dengan orang tua saya sebelumnya sehingga tidak terjadi keluhan di dalam keluarga saya, jelas mahasiswa yang akrab dipanggil Cok Dharma ini. Namanya suatu kebijakan, pasti ada pro dan kontra. Jika ada yang setuju, pasti ada saja yang tidak setuju. Seorang mahasiswa dari Fakultas Pertanian yang tidak ingin disebutkan namanya merasa tidak setuju dengan kelompok UKT yang didapatkannya. Ia meminta agar kelompok UKT-nya diturunkan karena ia merasa kelompok UKT yang didapatkannya tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarganya. Banyak juga mahasiswa yang protes akan kelompok UKT yang diberikan dan meminta agar kelompok UKT-nya dirubah. Ada juga kasus mahasiswa yang berbohong dalam formulir pengisian kelompok UKT. Ia yang perekonomiannya mapan, tetapi

menginginkan kelompok UKT yang lebih kecil. Menurut saya UKT 5 kelompok ini sebenarnya ide yang bagus, hanya dalam implementasinya yang kurang baik. Saran buat pak rektor untuk UKT per-kelompok harusnya disosialisasikan sebelum penerimaan mahasiswa baru agar para orang tua bisa menyesuaikan keuangan mereka dengan prodi yang ingin dituju, harap Cok Dharma. Untuk menanggapi pernyataan seperti itu, PR II sudah meminta bantuan pada timnya dan juga BEM untuk mensosialisasikan hal mengenai UKT 5 kelompok. Hal ini pun telah dikonfirmasi oleh Ketua BEM Fakultas Pertanian UNUD, Ida Bagus Wahyu Permana. Untuk saat ini sih belum dapat kabar sosialisasi dari rektorat, tapi dari BEM PM sudah ada. Sosialisasinya kalau nggak salah di Student Center dan sebenarnya ditujukan untuk adik adik 2013 yang ingin berkonsultasi saja, jelas Wahyu Permana. Pada intinya UKT 5 kelompok ini dibuat dengan tujuan untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa, khususnya yang kurang mampu. Namun dalam penerapannya, masih banyak yang perlu dibenahi. Tugas kita bersamalah untuk membenahi hal tersebut demi Unud yang lebih baik. (Bagus/Ulul)

Tim Redaksi mengucapkan :

Selamat Ulang Tahun

Persma Akademika ke-

31
BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

LAPORAN UTAMA 2

UKT 5 Golongan :
SK Datang Mendadak, Kami Belum Siap
Mila Purwaningsih, mahasiswi Fakultas Peternakan kini harus pasrah dengan penggolongan UKT yang diterimanya. Ia, bahkan banyak temannya tak puas dengan penggolangan UKT tersebut. Lalu, apakah UKT dapat dikatakan berjalan sesuai dengan tujuannya?

enurut SK Permendikbud No 55 Tahun 2013, UKT bertujuan agar mahasiswa tidak dikenakan pungutan lain selama menjalani masa perkuliahan. UKT bertujuan agar masyarakat Indonesia bisa menikmati perkuliahan, demikian paparan Prof. Dr. Ir. Ketut Budi Susrusa MS, yang merupakan Pembantu Rektor II Universitas Udayana. Saat ini Menteri Pendidikan dan Budaya mulai fokus pada pengembangan pendidikan secara nasional. Salah satu pilar dari visi dan misi Kemendikbud adalah meningkatkan akses masyarakat untuk masuk perguruan tinggi. Lebih lanjut beliau menjelaskan adanya peningkatan akses masyarakat agar masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi namun mumpuni secara intelektual, mampu masuk perguruan tinggi. Berdasarkan kuisioner yang disebar Akademika terkait sudah sesuaikah penerapan UKT 5 golongan dengan tujuannya, sebanyak 35% menyatakan tidak sesuai, 35% ragu-ragu , dan 30% yang menyatakan sudah sesuai. Ditambah dengan cukup banyaknya mahasiswa yang melakukan protes terhadap penggolongan tersebut. Salah seorang mahasisiwi Ju-

rusan Pendidikan Dokter Gigi, Fitri Agustiari menyatakan sosialisasi yang kurang dari pihak universitas menjadi salah satu penyebab dari banyaknya protes dan ketidaksetujuan dengan golongan UKT yang diperoleh. Saya sendiri mengira UKT dibayar sekali bukannya persemester dan hanya merupakan sumbangan sukarela saja, jika tahu demikian maka tidak mungkin saya memilih UKT 5, ungkapnya. Pembantu Rektor II menyatakan bahwa memang benar pihak universitas kurang melakukan sosialisasi UKT 5 golongan. Pemberitahuan yang mendadak dari Kemendikbud dan waktu yang pendek dalam penyusunan instrument penggolongan tersebut menjadi kendala kami, ujarnya. SK tersebut baru dikeluarkan pada bulan April sedangkan pihak universitas sudah harus menerapkannya di bulan September. Dalam kurun waktu yang singkat, pihak universitas sudah harus mempersiapkan penggolongan tersebut. Apalagi sosialisasi, sementara kami dari pihak universitas saja masih mempelajarinya, sambung beliau. Menanggapi protes dan keluh mahasiswa perihal UKT, pihak Universitas melakukan

www.persakademika.com / @persakademika

LAPORAN UTAMA 2

Adik dapat UKT 1 ya...


Kok dia bisa dapat UKT 1 ya??...

Aku aja UKT 4...


Padahal dia mampu loh...

Adit

kerja sama dengan BEM-PM Universitas Udayana dalam bentuk posko pengaduan. Posko pengaduan tersebut yang nantinya melakukan verifikasi ulang dan wawancara kepada mahasiswa. Ditemui disela kesibukannya, Bima Kumara Presiden BEM-PM Udayana menyatakan adanya posko pengaduan tersebut merupakan inisiatif dari BEM untuk membantu mahasiswa angkatan 2013. Hal tersebut guna membantu mahasiswa memperbaiki UKT-nya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, ujarnya. Posko pengaduan ini didasari dari banyaknya protes terhadap penggolongan UKT. Terlebih sistem UKT baru diterapkan pada tahun 2013. Selain itu BEM memiliki akses langsung ke rektorat dalam hal ini PR II yang membidan-

gi keuangan, ungkapnya lagi. Menurut data dari Menteri Dalam Negeri BEM-PM Udayana, jumlah Mahasiswa yang mengajukan protes UKT sekitar 210 orang yang dilakukan dari berbagai media. Protes yang dilakukan pun beragam, antara lain karena salah input data, tidak mengetahui bahwa penginputan data UKT itu berpengaruh pada UKT yang didapat, keadaan keluarga yang tidak dicantumkan pada kuisioner UKT seperti jumlah saudara, ataupun tanggungan hingga tidak sesuai dengan pengeluaran dan pendapatan keluarga. Faktanya penggolongan UKT masih ditemui adanya banyak kecurangan. Beberapa mahasiswa yang tergolong mampu banyak melakukan manipulasi data untuk mendapa-

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

LAPORAN UTAMA 2
tkan UKT golongan 1 maupun 2. Dari 100 responden, 85%-nya menyatakan bahwa banyak mahasiswa yang terbilang mampu namun justru mendapatkan UKT golongan 1 ataupun 2. Padahal UKT golongan 1 dan 2 hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang kurang mampu. Menanggapi adanya kecurangan tersebut pihak universitas sudah mengingatkan kepada mahasiswa bahwa data yang diisi harus sesuai dan jujur. Jika terbukti curang akan dikenai sanksi. Sanksi paling berat adalah dikeluarkan dari Universitas Udayana. Memang kesulitan dari pihak universitas adalah memproteksi orang-orang yang berperilaku curang seperti ini, ungkap PR II UNUD . Pihak universitas sendiri saat ini belum mampu melakukan verifikasi ulang karena terhalang waktu. Kami memang belum melakukan verifikasi ulang, namun saat ini kami masih mencari waktu yang sesuai untuk melakukan verifikasi ulang, jelasnya. UKT 5 golongan memang masih belum sempurna penerapannya. Namun, pihak universitas berjanji akan segera melakukan perbaikan agar hal yang sama tidak terjadi lagi. Kedepannya pihak universitas akan memperbaiki sistem yang ada. Calon mahasiswa yang mendaftar di Universitas Udayana akan melakukan pengisian biodata terlebih dahulu. Sehingga jika calon mahasiswa tersebut tidak menyanggupi penggolongan UKT di Universitas Udayana maka calon mahasiswa tersebut berhak tidak mendaftar ulang ataupun memilih universitas lainnya yang dirasa mampu dan sesuai dengan keadaan ekonominya. (Wirat/Gunawan)

Di

sela wawancara, Pembantu Rektor II menyatakan bahwa memang benar pihak universitas kurang melakukan sosialisasi UKT 5 golongan.
Pembantu Rektor II Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ketut Budi Susrusa M.S, .

www.persakademika.com / @persakademika

PROFIL

Ellies Sutrisna
Kisah Unik Bekal Makanan di Balik Sebuah Kesuksesan

Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah. Jadi, menggunakan waktu makan siang untuk bekerja, tentunya lebih irit bukan? Simple, Life is choice, tutur wanita berambut sebahu ini sembari tersenyum.
10
BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

PROFIL

llies Sutrisna. Ya, begitulah sosok yang tak asing lagi bagi peminat buku bisnis dan pengembangan diri. Ellies sapaannya- adalah seorang book writer, entrepreneur, speaker sekaligus trainer handal yang terkenal dengan the best bussines coach. Pencapaiannya saat ini tidaklah serta-merta didapatkannya. Berbagai upaya dilakukan oleh perempuan yang pada bulan April ini genap berusia 50 tahun untuk mencapai kesuksesan. Kehidupan saya dulu sangat sederhana. Makan pun susah. Hanya 1 telur untuk makan dan itupun harus dibagi menjadi 7 bagian untuk keluarga saya lainnya dan kami hanya makan daging saat ada keluarga atau tetangga yang berulang tahun, ungkap Ellies yang selalu memotivasi dirinya agar anak-anaknya tidak mengalami kehidupan yang sulit seperti dirinya terdahulu. Kehidupan sulit di masa lalu memotivasi perempuan lulusan terbaik di University of Wollongong New South Wales ini untuk menciptakan kehidupan yang layak dan nyaman. Berbagai pekerjaan dilakoninya untuk dapat bertahan hidup dan meneruskan kuliahnya di negeri kangguru tersebut. Setiap malam saya kerja di restoran dari hari Senin-Jumat dan kerja di toko ikan pada hari Sabtu dan Minggu dari pukul 4 sore-6 sore, kenang perempuan yang saat kecil memiliki hobi menyanyi dan menari ini. Hingga pada tahun 1989 Ellies memulai karirnya di Indonesia. Hampir setiap tahun ia meraih penghargaan Top Achiever dari perusahaannya. Tak hanya itu, wanita yang telah memutuskan pensiun pada tahun 2005 ini juga sempat menjadi direktur termuda dari beberapa anak perusahaan Teknologi Informasi Publik terbesar di Indonesia karena karirnya yang melesat begitu cepat. Ada satu rahasia unik sejak dulu dari Ellies yang hing-

ga saat ini masih terus dilakukannya. Menghemat waktu dan uang yang dimilikinya dengan membawa bekal makanan sendiri dari rumah menjadi pilihan hidupnya. Ya, Ellies tidak pernah malu walaupun sering dihina oleh teman di kantornya terdahulu. Baginya sejak dahulu ia terbiasa tidak memiliki uang. Kesuksesan itu ada karena pilihan diri sendiri. Tak berhenti sampai disana, idealisme Ellies untuk membangun sebuah tayangan yang mampu menginspirasi, memotivasi, memberikan ide dan peluang baru, serta mengedukasi melalui tv streaming di www. tvexelent.com pun menjadi kesibukannya belakangan ini. Saya ingin terus mendalami tentang leadership yang benar dan berbagi kepada masyarakat, ungkap perempuan yang sempat menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) perusahaan PMA & Joint Venture ini. Ellies selalu berupaya membagikan ilmu dan pengalamannya melalui banyak media seperti buku, majalah, online, dan yang sedang giat-giatnya dibesarkan adalah TV streamingnya. Mulailah menjadi anak muda yang terbaik di mata orang tua lalu menjadi mahasiswa terbaik, dan ketika Anda bekerja jadilah karyawan atau pengusaha terbaik. Selalu pastikan saat ada pekerjaan maka lakukan yang terbaik. Work smart, work hard, and be the best, tutup Ellies yang telah menerbitkan banyak buku mengenai pengembangan diri dan bisnis seperti 12 Jurus Jitu Meroketkan Bisnis dan Achieving Financial Independence. (Cahyani)

www.persakademika.com / @persakademika

ESSAY FOTO

Menikmati Indahnya Pesisir Lombok di

Pantai Senggigi

Bagi mereka yang mengenal Pulau Lombok, Pantai Senggigi adalah pantai yang paling mereka ingat. Pantai yang berada sekitar sepuluh kilometer dari Kota Mataram ini menjadi daya tarik wisata pantai yang utama bagi warga Lombok dan wisatawan lokal serta mancanegara selama bertahun-tahun. Pantai berpasir putih ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang disertai dengan siluet pemandangan Gunung Agung di Bali dari kejauhan, dan juga para nelayan yang memancing dari pinggir pantai dan yang pergi berangkat melaut dengan kapal-kapal mereka. Pantai ini juga menawarkan pemandangan terumbu karang yang dapat dinikmati dengan ber-snorkeling. Ada pula fasilitas permainan air yaitu surfing, penyewaan kano dan ban. Wisatawan tak perlu khawatir akan haus atau kelaparan, karena tersedia banyak warung

yang menjajakan minuman ringan, kelapa muda utuh, dan makanan khas lombok seperti sate bulayak, pecel, pelecing, dan yang lainnya. Wisatawan dapat mengakses pantai ini dari Kota Mataram. Selain itu, wisatawan dapat menaiki speedboat dari Sanur atau Padangbai Bali dengan waktu tempuh yang lebih cepat daripada menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Padangbai Bali ke Pelabuhan Lembar Lombok.

Pojok kiri atas: Pantai Senggigi dilengkapi fasilitas penyewaan kano untuk rekreasi wisatawan pengunjung pantai. Selain itu ada juga penyewaan alat-alat snorkeling. kiri bawah: para surfer yang sedang mengamati dan mengambil gambar teman-teman mereka yang sedang berselancar di Pantai Senggigi, kanan: salah satu dinding pemecah ombak di sisi selatan Pantai Senggigi yang dijadikan sebagai tempat duduk-duduk dan beristirahat bagi para peselancar.

12

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

ESSAY FOTO

Atas: pemandangan matahari tenggelam di Pantai Senggigi. Bila cuacanya cerah, siluet Gunung Agung dapat terlihat dari kejauhan, bawah kiri: para pemancing yang memulai aktivitasnya di sekitar sore hari, memancing dengan menggunakan jorang panjang, bawah kanan: dermaga di pantai senggigi ini melayani pelayaran kapal boat yang dari dan menuju Bali serta Gili Trawangan.

Oleh: Made Arimbawa


www.persakademika.com / @persakademika

13

RESENSI FILM

JOBS

INOVATOR TEKNOLOGI
apa investor. Sampai pada suatu hari datang seorang investor yang tertarik dengan produk yang mereka ciptakan. Dari sanalah berdiri perusahaan Apple yang produk pertamanya diberi nama Apple II. Kesuksesan Steve Jobs bersama Apple ternyata tidak membuat semua orang senang dengan dirinya. Sifat pribadinya yang selalu keras kepala dan bertemperamental tinggi membuat beberapa orang di Apple memusuhinya. Puncak konflik antara Jobs dan rekan-rekannya di Apple adalah ketika tahun 1995 dirinya dibuang dari perusahaan yang telah didirikannya tersebut. Setelah keluar dari Apple, Jobs mendirikan perusahaan komputer lain yang diberi nama NeXT. Pada tahun 1996, akhirnya Apple mengambil alih NeXT. Tak hanya itu Apple juga membawa Jobs kembali ke tempat asalnya di Apple. Sejak saat itulah Apple mulai menjadi bagian dari sejarah perkembangan teknologi di dunia hingga sekarang. Film yang disurtadarai Joshua Michael Stern ini mendapat kritikan keras dari salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak. Menurut Wozniak, terdapat banyak kesalahan film Jobs. Salah satunya adalah banyak orang-orang yang dahulu ikut berjasa dalam pendirian Apple justru tidak dimunculkan dalam film tersebut. Akting Asthon Kutcher dan pemeran lainnya dalam film ini tentunya tak boleh terlewatkan bagi penggemar film bergenre biography drama. Apalagi bagi yang mengidolakan Steve Jobs dan karya teknologinya yang inovatif. Kemiripan wajah Kutcher dengan Jobs yang memiliki sifat tentramental dan kharismatik juga dapat membuat membuat penonton beranggapan bahwa seolah-olah Steve Jobs hidup kembali. (Rifai)

JOBS Jenis Film : Biography Drama Produser : Mark Hulme Produksi : Open Road Films Sutradara : Joshua Michael Stern Durasi : 128 menit Pemain : Ashton Kutcher, Dermot Mulroney, Josh Gad, Lukas Haas, Ahna O'Reilly, J.K. Simmons, Matthew Modine, Kevin Dunn, Victor Rasuk, Eddie Hassell, Ron Eldard, John Getz, Lesley Ann Warren, James Woods, Amanda Crew, Brett Gelman, Brad William Henke

"Para seniman besar seperti Dylan, Picasso dan Newton berani melawan risiko. Dan jika kita ingin menjadi besar, kita harus mengambil risiko itu juga," itulah salah satu kutipan dalam film Jobs. Film yang diangkat dari kisah perjalanan hidup salah seorang pendiri Apple, Steve Jobs (Asthon Kutcher). Steve Jobs yang selalu punya ambisi besar dalam hidupnya memulai ambisinya di bidang komputer bersama temannya Steve Wozniak (Josh Gad). Mereka mulai membangun perusahaan komputernya dari garasi milik keluarga Jobs. Dengan usaha yang tak kenal putus asa karena berkali-kali ciptaannya ditolak oleh beber-

14

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

RESENSI BUKU

erita Mahasiswa merupakan buku non-fiksi bergenre komedi. Ikuti pengalaman Derma, seorang mahasiswa bernasib tragis. Ada saja hal-hal konyol menimpa dirinya saat menjalani perkuliahan. Mulai dari salah atribut waktu OSPEK, tertimpa gosip karena menjadi tempat curhat dosen, bertemu mantan gebetan yang jadi asisten dosen, jadi biro jodoh dadakan, ditinggal lulus teman dekat, hingga berusaha sidang skripsi dan lulus kuliah. Perjuangan ini dilalui bersama temanteman akrabnya. Rio, teman Derma yang menurutnya merupakan peranakan manusia dan kaktus yang jatuh cinta dan Maryam, teman seangkatan Derma yang tomboi merangkap galak di waktu-waktu tertentu. Mereka menjalani perkuliahan dengan semangat walaupun banyak hal menimpa mereka. Masalah tersebut antara lain adalah menghadapi pengajar yang hobi tunjuk-maju, PHP nilai oleh dosen, sampai mengerjakan tugas sulit dengan jarak waktu H-1. Hal ini tidak membuat Derma jera menyandang status sebagai mahasiswa. Meskipun terkesan apes, itu semua merupakan pengalaman berharga baginya. Mengingat pengalaman masa silam tersebut kini membuatnya rindu akan masa-masa tersebut kemudian berpikir, Gue pingin balik jadi mahasiswa lagi!. Kekurangan buku ini terdapat di bagian karikatur yang berhubungan dengan paragraf sehingga cukup membingungkan bagi pembaca pada awalnya. Akan tetapi, buku ini memiliki gaya bahasanya yang ringan sehingga cocok dibaca untuk menghibur kita di saat-saat jenuh. Perjuangan Derma yang dipenuhi lika-liku untuk mencapai kelulusan memiliki pesan bahwa hal itu pada akhirnya akan membantu kita di masa depan. (Mita)

Lika-Liku Kehidupan Mahasiswa

Judul buku Seribu Pengarang Penerbit Tahun Terbit Halaman

: Derita Mahasiswa Aku Ingin Kuliah Tahun Lagi : Derma : Gagasan Medika : Indonesia, Jakarta: 2013 : 246

www.persakademika.com / @persakademika

15

LAPORAN KHUSUS

"Saya optimis bahwasanya ide ini bisa membantu untuk mencapai visi misi saya dalam pemilu kemarin, yaitu membumikan karya Udayana," ungkap Bima Kumara Dwiatmaja ketika ditanya tentang pembentukan kementrian baru dalam BEM PM Unud.

emilu raya pemilihan Presiden-Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa Universitas Udayana (BEM PM-Unud) periode 2014-2015 sudah usai. Kini yang ditunggu adalah bagaimana kinerja BEM di bawah pasangan terpilih, Bima Kumara Dwiatmaja dan Edy Januar. Salah satu terobosan dalam membantu menunjang kinerja BEM adalah membentuk kementrian baru. "Ide membuat beberapa kementrian baru ini lebih dapat memfokuskan kinerja dari BEM," jelas Presiden BEM Unud, Bima Kumara Dwiatmaja. Kementrian baru yang dibentuk yaitu kementrian minat dan bakat, kementrian sosial lingkungan, kementrian aparatur kabinet dan kementrian kebijakan publik. Kementrian minat dan bakat adalah satu dari kementrian baru yang ada dalam kabinet Harmonisasi Udayana. "Kementrian minat dan bakat memiliki program kerja dalam hal menyalurkan minat dan bakat mahasiswa, khususnya dalam hal non akademik," papar pria yang akrab disapa Bima tersebut. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kementrian minat dan bakat dalam prokernya mengatur bahwa Udayana bukanlah universitas yang hanya memiliki prestasi akademik, tetapi Udayana juga memiliki prestasi non akademik. Dalam hal penyaluran bakat, kementrian minat dan bakat akan mengopti-

malkan kinerja dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di bawah naungan BEM. Tak hanya UKM, acara besar seperti Dies Natalis ikut dalam program kerja kementrian ini. Selain kementrian minat dan bakat, masih ada dua kementrian baru lagi dalam Kabinet Harmonisasi Udayana yaitu kementrian sosial dan lingkungan, dan kementrian aparatur kabinet. Kinerja masing masing kementrian tersebut berbeda beda. Kementrian sosial dan lingkungan salah satunya, program kerja mereka lebih kepada kegiatan sosial di dalam dan luar Unud serta kegiatan tentang lingkungan dengan lingkup kerja juga di dalam dan luar Unud. Berbeda halnya dengan kementrian pemberdayaan desa, kementrian yang telah ada yang hanya fokus memberdayakan kegiatannya di satu desa saja. "Kementrian sosial dan lingkungan lebih memfokuskan kegiatan sosial dan lingkungan di luar dari daerah," tutur Bima antusias. Kementrian aparatur kabinet mempunyai program kerja yang kelihatannya lebih simple tapi terbilang berat untuk dijalani. Kinerja kementrian aparatur kabinet adalah menguatkan hubungan internal di dalam BEM, seperti menindak anggota BEM yang tidak pernah ikut ambil bagian dalam kegiatan BEM. Saya rasa kementrian yang tahun ini

16

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

LAPORAN KHUSUS
lebih optimal dari yang tahun kemarin, karena dari setiap kementrian itu sendiri memiliki proker yang lebih fokus dengan bidangnya daripada tahun kemarin, kata Putu Mutia Septiyaningsih, ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Udayana. Hal senada juga diungkapkan Komang Eke Suardane selaku kepala kementrian sosial dan lingkungan hidup. Ia mengatakan kementrian untuk tahun ini lebih terkoordinasi daripada tahun kemarin. "Ini bukan berarti pemerintahan tahun kemarin jelek tapi lebih memperbaiki kekurangan dari pemerintahan BEMtahunkemarin,"jelasKomangEkeSuardane. Ia juga menjelaskan tahun ini kementrian di BEM lebih terfokus kinerja masing-masing kementrian yang ada. Menurut pria yang akrab disapa Eke ini terbentuknya kementrian sosial dan lingkungan adalah karena di kabinet yang sebelumnya bernama kementrian sosial dan politik. Agar setiap kementrian bekerja secara terfokus, maka dalam Kabinet Harmonisasi Udayana, kementrian tersebut terbagi dua menjadi kementrian sosial dan lingkungan dan kementrian kebijiakan publik. Terbentuknya kementrian minat dan bakat dan juga kementrian aparatur kabinet juga memiliki ceritanya masing masing. Kementrian minat dan bakat, itu merupakan pecahan dari kementrian dalam negeri. Begitu pula dengan kementrian aparatur kabinet yang juga merupakan pecahan dari kementrian pendidikan. Terlepas dari semua itu, dengan dibentuknya kementrian kementrian baru ini diharapkan agar BEM-PM Unud dengan Kabinet Harmonisasi Udayana dapat memberikan kontribusi yang nyata terhadap mahasiswa Udayana. "Ide membuat beberapa kementrian baru ini lebih dapat memfokuskan kinerja dari BEM dan mengoptimalkan program kerja dari masing-masing kementrian agar dapat mewujudkan visi dan misi yang telah dijanjikan pada waktu pemilu dulu," tutup Bima Kumara. (Febri)

Bima Kumara, presiden BEM-PM Unud 2014 - 2015.

www.persakademika.com / @persakademika

17

JEJAK

Dua hari singkat menikmati keindahan

Lembongan

Pagi itu tampak bangku panjang penuh dengan deretan penumpang. Begitu pula saya turut menjadi bagian yang tak sabar menunggu perjalanan ke Lembongan.
Jam telah menunjukkan pukul 09.30 WITA. Perjalanan dari Sanur ke Lembongan dengan menggunakan boat pagi itu diiringi cuaca dengan angin kencang. Tak jarang di dalam boat yang ketika itu berisi dua puluh penumpang ada yang mulai mabuk laut akibat ombak yang besar. Selama 45 menit akhirnya kami (Saya, Mitsue, Eka Fitri, Shine, Gung Rias) tiba di Pulau Lembongan. Sesampainya di Pulau Lembongan, hamparan pasir putih dan perahu nelayan yang berlabuh memenuhi pandangan mata kami. Lautnya yang terlihat biru bening menggoda keinginan untuk berenang saat itu pula. Namun, keinginan itu harus saya tahan dahulu. Tempat awal yang harus kami tuju adalah tempat menginap selama dua hari tinggal di Lembongan. Kebetulan ada salah satu teman yang berasal dari Lembongan jadi kami bisa tinggal di sana. Kami mulai menyusun list tempat-tempat yang akan kami kunjungi di Lembongan. Tempat-tempat yang akan dikunjungi sudah kami searhcing di google sebelumnya. List tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Blue-Lagoon. Kami menggunakan sepeda motor yang diperoleh dari menyewa, kami pun siap menyusuri tempat-tempat indah di Lembongan. Selama perjalanan kami hanya berbekal dengan nama tempat-tempat yang akan dikunjungi tanpa tahu alamat pastinya. Hanya bermodal kata Blue-Lagoon dan bertanya kepada masyarakat di sana akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Tiba di tempat pertama saya mulai memahami kenapa tempat itu diberi nama Blue-Lagoon. Pemandangan yang memikat mata saya adalah warna laut yang memang biru yang sangat indah dan berbeda dari air laut sekitarnya. Jika kita beruntung kawanan lumba-lumba sering melintas di perairan Blue Lagoon ketika pagi hari atau sore hari. Sayangnya kami ke sana saat

18

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

JEJAK
matahari menyengat kulit. Namun, pemandangan Blue-Lagoon sudah membuat hati senang. Hari ke-dua di Lembongan, kali ini kami mengunjungi kawasan mangrove Lembongan. Jalan menuju mangrove tampak rusak banyak lubang di sepanjang jalan. Kerikil-kerikil yang berserakan pun menjadi kawan setia di perjalan menuju mangrove. Kali ini kami berhenti di sebuah warung, namanya Jiva Warung Activities. Di warung tersebut kami ditawarkan untuk snorkeling, kami pun akhirnya memilih menghabiskan hari ke-dua dengan snorkeling. Bermodal sebesar seratus ribu rupiah kami pun snorkeling di kawasan Gamat Bay Nusa Penida. Kawasan Gamat Bay Nusa Penida merupakan tempat yang ditawarkan kepada wisatawan yang datang untuk menikmati snorkeling. Dipandu oleh Pak Nyoman kami menikmati keindahan bawah laut. Arus yang cukup keras membuat kami kewalahan ber-snorkeling di sana, mengingat cuaca saat kami snorkeling berangin. Tapi hal tersebut tak mengganggu keindahan yang kami dapatkan di bawah laut sana. Ikan-ikan kecil berwarna cantik menggoda kami untuk menyentuhnya, namun sayang gerakan tangan kami kalah cepat dengan gerakan tubuh ikan kecil yang gesit. Tempat ke dua yang tak kalah bagusnya adalah kawasan Jungutbatu dekat areal mangrove. Lagi-lagi di kawasannya ini kami melihat ikan lebih banyak dari tempat pertama. Wisatawan yang menikmati snorkeling pun tak hanya saya dan kawan-kawan namun wisatawan asing lainnya pun meramaikan. Tak kalah menarik kami melihat balita ikut menikmati snorkeling di sana. Tampak raut mukanya senang dan ia pun berteriak kecil kegirangan. Sehati dengan balita tersebut, kami pun berteriak menikmati liburan singkat yang menyenakan di Pulau yang bernama Lembongan. (Nila)

Perahu nelayan yang sedang menepi di kawasan mangrove Lembongan.

Panorama tebing Blue Lagoon.

Panorama menyegarkan di pantai Lembongan yang biru.

Kawasan hutan mangrove.

www.persakademika.com / @persakademika

19

BUDAYA

Endek, Kain Tenun Ikat Khas Bali

ndek merupakan kain tenun ikat khas Bali. Hal yang unik dari kain endek ini terletak pada motifnya yang beragam. Ada beberapa motif kain endek yang dianggap sakral dan hanya boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan di pura atau kegiatan keagamaan lainnya. Adapula motif kain endek yang hanya boleh digunakan oleh orang-orang tertentu saja seperti halnya para raja atau keturunan bangsawan. Dahulu kain ini memang lebih banyak digunakan oleh para orang tua dan kalangan bangsawan. Kain endek mulai berkembang sejak tahun 1985, yaitu pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel Klungkung. Kain endek ini kemudian berkembang di sekitar daerah Klungkung, salah satunya adalah di Desa Sulang. Meskipun kain endek telah ada sejak zaman Kerajaan Gelgel, akan tetapi endek mulai berkembang pesat di Desa Sulang setelah masa kemerdekaan. Perkembangan kain endek di Desa Sulang dimulai pada tahun 1975 dan kemudian berkembang

pesat pada tahun 1985 hingga sekarang. Kain endek memiliki beberapa periode perkembangan dalam produksinya. Dapat dilihat pada tahun 1985-1995 kain endek mengalami masa kejayaan akibat adanya dukungan dari pemerintah. Pada masa ini, proses produksi kain endek sudah menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Kemudian pada tahun 1996-2006, kain endek mengalami penurunan akibat dari banyaknya persaingan produksi kain sejenis buatan pabrik yang mulai masuk ke pasaran. Tahun 2007-2012 juga mengalami penurunan. Fluktuasi penurunan sangat dirasakan pada tahun 2008-2010. Hal tersebut disebabkan oleh bahan baku yang sulit didapat, harga benang yang mahal, dan kualitas yang tidak sesuai dengan standar produksi kain endek. Namun, pada tahun 2011 kain endek mulai berkembang kembali akibat bahan baku yang murah serta berkembangnya berbagai motif kain endek yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu pula banyak

20

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

BUDAYA

Sumber gambar: http://www.facebook.com/pages/Tenun-Patra/

Sumber gambar: http://manikskebya.blogspot.com

Endek motif patra yang bersifat sakral.

Endek dengan motif wajik.

perusahaan atau instansi menggunakan kain endek sebagai pakaian kantor dan anak sekolah. Penggunaan kain endek berbeda-beda sesuai motifnya. Motif patra dan encak saji yang bersifat sakral biasa digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan. Motif-motif tersebut menunjukkan rasa hormat kepada Sang Pencipta. Sedangkan motif yang mencerminkan nuansa alam, biasa digunakan untuk kegiatan sosial atau kegiatan sehari-hari. Hal ini menyebabkan motif tersebut lebih banyak berkembang dalam masyarakat. Wastra endek atau disebut kain endek saat ini sudah mulai banyak mengalami penggabungan dengan jenis-jenis kain khas Bali lainnya. Hal ini menjadikannya lebih beragam. Saat ini ada satu teknik tenun ikat yang berkembang di Bali, terutama pada motif kain endek. Teknik itu dilakukan dengan penambahan coletan pada bagian-bagian tertentu yang disebut dengan nyantri. Teknik nyantri adalah penambahan warna kain endek dengan goresan kuas bambu seperti layaknya orang melukis di kain. Motif yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan flora, fauna, dan tokoh pewayangan yang sering muncul dalam mitologi-mitologi cerita Bali. Motif tersebut memberikan ciri

khas tersendiri pada kain endek dibandingkan dengan motif-motif kain pada umumnya. Kain endek juga dapat dikombinasikan dengan kain songket. Kain songket adalah kain yang dihiasi benang-benang emas atau perak. Pemberian benang emas atau perak ini dapat dilakukan pada kain endek. Pada umumnya dijadikan sebagai hiasan pinggir kain. Kain ini kemudian dikenal sebagai kain endek songket. Kain endek sudah mulai banyak digunakan oleh masyarakat Bali. Meskipun demikian motif-motif sakral tetap dipertahankan dan tidak digunakan secara sembarangan. Umumnya kain ini digunakan untuk kegiatan upacara, kegiatan sembahyang ke pura, ataupun digunakan sebagai busana modern layaknya baju atau celana yang dapat digunakan semua kalangan. Begitu pesatnya perkembangan kain tenun ikat khas Bali menjadi tantangan besar bagi masyarakat Bali untuk menjaga kelestariannya. Masyarakat Bali juga harus ajeg, tetap memperhatikan aturan penggunaan kain tersebut. Terutama untuk motif-motif kain endek yang disakralkan, jangan sampai digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Hal tersebut akan merusak nilai sakral dan budaya dari kain endek itu sendiri. (Bhaskara)

www.persakademika.com / @persakademika

21

OPINI

MEDIA SOSIAL:

Sumber gambar: www.livablecities.org

Antara menDEKATkan yang JAUH dan menJAUHkan yang DEKAT


22

Siapa yang tak kenal media sosial? Hampir semua anak muda sekarang akrab dengan kata ini. Dengan ponsel pintarnya, mereka bisa memiliki akun untuk setiap media sosial yang sedang hits pada masanya. Akun yang dimiliki pun tidak mungkin hanya satu. Termasuk saya. Saya mulai mengenal media sosial ketika masih berseragam putih-biru. Seorang teman memperkenalkan Friendster. Karena ingin diterima dalam pergaulan, saya pun membuat akunnya. Saat itu memiliki akun Friendster menjadi hal paling keren dalam pergaulan. Padahal, teman-teman dalam akun saya hanyalah teman-teman satu sekolah, yang tentu saja saya temui setiap hari. Setelah Friendster, datanglah Facebook. Lagi-lagi, karena

BULETIN AKADEMIKA edisi 1 - Februari 2014

OPINI
tak ingin dianggap ketinggalan jaman, saya pun membuat akun Facebook. Dan lagi-lagi, teman yang saya miliki dalam akun Facebook saya hanyalah teman-teman sekolah. Setelah Facebook, ada pula Twitter, Tumblr, Path, Instagram, dan masih banyak yang lain. Selain itu bermunculan juga aplikasi untuk chatting, mulai dari BBM, Whatsapp, Line, WeChat, KakaoTalk, dan sebagainya. Masing-masing menawarkan keunggulan yang berbeda. Ada stiker yang lucu-lucu, diskon produk setiap hari, dan aneka promosi lain yang semuanya bisa diperoleh secara gratis. Hampir rata-rata anak muda memiliki akun di setiap media sosial dan aplikasi chatting tersebut. Termasuk saya. Lagi-lagi hanya karena keinginan untuk diterima dalam pergaulan. Di sisi lain dengan adanya media sosial yang mempermudah segala urusan, mulai bermunculan online shop. Dimana kita hanya perlu melihat foto barangnya, jika tertarik bisa langsung menghubungi contact person yang tertera, dan melakukan transaksi. Dalam beberapa hari barang akan sampai di rumah. Tak jarang yang merasa tertipu karena barangnya berbeda dengan yang difoto. Juga tak jarang yang benar-benar tertipu. Sudah transfer uang dan sebagainya, tapi barang tidak pernah sampai ke tangan pembeli bahkan setelah hitungan bulan. Masalahnya, bahasa tekstual dan visual di media sosial berkembang lebih pesat daripada norma dan etikanya. Tak jarang, guyonan menjadi perseteruan, canda berkembang menjadi silang-sengketa. Saat ini para pengguna media sosial mungkin sudah lebih kalem, namun beberapa tahun lalu, perselisihan akibat mis-komunikasi di media sosial cukup sering terjadi. Anehnya, media sosial ternyata berkembang jadi anti-sosial. Tak jarang ditemukan, ketika sedang berkumpul bersama, setiap orang lebih memilih untuk memegang ponsel pintarnya, dan update di media sosial tentang keberadaan mereka. Tentu tak lupa upload foto makan siang hari itu. Bisa jadi dalam satu meja mereka malah saling berkomentar di media sosial, bukannya berbincang langsung. Media sosial memang berhasil mendekatkan yang jauh, namun ternyata juga menjauhkan yang dekat. Mungkin ada baiknya sedikit melangkah ke belakang. Membangun kembali hubungan langsung antar-sesama. Manusia dengan manusia, tanpa melalui dunia maya. Pasti akan lebih menyenangkan, berbincang langsung dengan teman sambil menyantap kudapan sore, daripada menatap layar seharian hingga leher pegal. Oleh: Elokhauri

Sumber gambar: www.mobzine.ro/wp-content/uploads/2013/11/pile-of-smart-phones.jpg

www.persakademika.com / @persakademika

23

Anik Crash

Anik

Anik

Anik

Redaksi menerima kiriman artikel, opini, masukkan, kritik, saran atau tanggapan tentang kehidupan civitas akademika Universitas Udayana. Tulisan bisa dialamatkan langsung ke Sekretariat Pers Mahasiswa Akademika Jl. Dr. R. Goris No. 7A, Denpasar atau dikirim lewat email ke pers_akademika@yahoo.com. redaksi berhak menyunting isi tulisan sepanjang tidak menyimpang esensi tulisan. www.persakademika.com @persakademika