Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM PERCOBAAN VII PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA

OLEH : NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN : MUH. NALIS : F1C1 09 027 : II (DUA) : HANAS

LABORATORIUM KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Mikrobiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari kehidupan makhluk yang bersifat mikroskopik yang disebut mikroorganisme atau jasad renik, yaitu makhluk yang mempunyai ukuran sel sangat kecil seperti bakteri dimana setiap selnya hanya dapat dilihat dengan pertolongan mikroskop. Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar, demikian juga jasat renik. Makhluk-makhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan, sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar. Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada yang bersifat sementara, tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun menurun. Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Misalnya, bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. Beberapa mikroba dapat pula mengubah pH dari medium tempat hidupnya, perubahan ini dinamakan perubahan secara kimia. Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat

morfologi dan fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Faktor lingkungan meliputi faktorfaktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik. B. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam percobaan ini adalah bagaimana pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba. C. Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan ini adalah mengetahui pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba.

BAB II LANDASAN TEORI Mikrobiologi merupakan suatu istilah luas yang berarti studi tentang organisme hidup yang terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikrobiologi mencakup studi tentang bakteri (bakteriologi), virus (virologi), khamir dan jamur (mikologi), protozoa (protozoologi), beberapa ganggang, dan beberapa bentuk kehidupan yang tidak sesuai untuk dimasukkan ke dalam kelompok tersebut di atas. Organisme yang berukuran mikro disebut mikroorganisme. Mikroorganime hidup di segala tempat (tanah, air, udara, makanan, pembuangan, dan pada permukaan tubuh). Keberadaan mereka yang ada di segala tempat menyulitkan para mikrobiolog untuk memperoleh suatu koloni mikroorganisme tertentu dan yang sejenis tanpa adanya mikroorganisme lain yang mencampuri koloni tersebut. Kultur mikroorganisme yang tersusun dari sel-sel sejenis (tunggal) disebut juga sebagai kultur murni (Pelczar dan Chan, 2005). Langkah pertama yang dilakukan adalah peremajaan 7 isolat mikroba, perbanyakan isolat mikroba pada media NB, pengukuran OD dan penghitungan jumlah mikroba dengan parameter TPC (Total Plate Count), pencampuran mikroba yaitu dengan menyiapkan larutan molase 2% yaitu dengan cara memasukkan 80 mL molase ke dalam 3920 mL akuades; kemudian merebusnya sampai mendidih; setelah dingin memasukkan 700 mL suspensi mikroba pada media NB ke dalam larutan molase tersebut; kemudian menginkubasinya selama 2 hari, penghitungan jumlah mikroba dalam biofertilizer serta pengenceran biofertilizer. Pengenceran biofertilizer

dilakukan dengan menambahkan 5 L biofertilizer pada 50 L air yang berkadar molase 3% kemudian menginkubasi selama minimal 3 hari (Rivia Kumala, et al, 2009). Mikroba perusak dan patogen umumnya dapat tumbuh pada kisaran suhu 466oC. Oleh karena kisaran suhu tersebut merupakan suhu yang kritis untuk penyimpanan pangan, maka pangan tidak boleh disimpan terlalu lama pada kisaran suhu tersebut. Pangan harus disimpan pada suhu di bawah 4o C atau di atas 66oC. Pada suhu di bawah 4C, mikroba tidak akan mati tetapi kebanyakan mikroba akan terhambat pertumbuhannya, kecuali mikroba yang tergolong psikrofil. Pada suhu di atas 66oC, kebanyakan mikroba juga terhambat pertumbuhannya meskipun beberapa bakteri yang tergolong termofil mungkin tidak mati (http://id.wikipedia.org). Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dengan

mengedepankan prinsip ramah lingkungan dan tidak mengganggu keseimbangan alam menuntut tanggungjawab yang besar dari para pelaku perlindungan perkebunan. Penerapan PHT dengan memadukan berbagai cara pengendalian yang kompatibel merupakan langkah yang tepat untuk mengendalikan OPT. Penerapan PHT tersebut antara lain dengan memanfaatkan penggunaan Agens Pengendali Hayati untuk pengendalian OPT. Dalam perkembangannya ada dua macam teknologi untuk pengembangan agens pengendali hayati jenis jamur yaitu media cair dan media padat. Pengembangan media cair menggunakan media ekstrak kentang gula dan media padat menggunakan media jagung (Nugroho, 2011). Enzim merupakan suatu protein yang memiliki aktifitas biokimiawi sebagai katalis suatu reaksi. Karena merupakan suatu protein, enzim ini sangat rentan

terhadap kondisi lingkungan. Adanya perubahan Konsenrasi subtrat atau pH lingkungan akan mengakibatkan aktivitas enzim ikut mengalami perubahan meskipun masih banyak juga hal lain yang dapat mempengaruhi aktivitas enzyme misalnya temperature atau komposisi media. Karena itu tiap enzim yang mempunyai pH dan temperatur tertentu yang menyebabkan aktifitasnya mencapai keadaan optimum. Kondisi pH dan temperatur yang optimum akan mendukung enzim dalam melakukan katalisa suatu reaksi dengan baik. Sedangkan temperatur dan pH yang kurang sesuai akan mengakibatkan kerusakan atau tidak aktifnya protein dalam suatu enzim sehingga menyebabkan fungsi dan aktifitas dari enzim tersebut berkurang (Budiman dan Setyawan, 2011). Uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring nutrient agar (NA), dengan jarum inokulasi secara aseptik. Diinkubasi pada suhu 370C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan gram dimana bakteri Escherichia coli menunjukkan gram negatif berbentuk batang pendek. Untuk membedakan bakteri golongan koli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah panas), pekerjaan dibuat duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 370C (untuk golongan koli ) dan satu seri diinkubasi pada suhu 420C (untuk golongan koli fekal (Widiyanti dan Ritiati, 2004).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 10 November 2012 , jam 11:00-sampai selesai di Laboratorium Biokimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Haluoleo, Kendari. B. Alat dan Bahan 1. Alat Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu cawan petri, autoklaf, pipet tetes, timbangan analitik, batang pengaduk, alumunium foil, spatula, gelas ukur 100 mL, pipet ukur 10 mL, filler, inkubator, jarum inokulasi, lampu spritus, Laminar Air Flow, kertas label, botol ampul, 2. Bahan Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu agar, peptone, kaldu ikan, akuades, NaCl 0,5%, NaCl 3%, NaCl 5%, NaCl 15%, Nutrien Agar (NA), Nutrien Broth (NB).

C. Prosedur Kerja 1. Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme

Nutrient Broth - Berada dalam 5 tabung berbeda - Masing-masing tabung diberi label untuk suhu inkubasi 5oC, 25oC, 37oC, 50oC, dan sebagai kontrol - Masing-masing diinokulasi bakteri yang berbeda dengan

- Diinkubasi sesuai suhu yang tertera selama 24-48 jam - Dibandingkan derajat kekeruhannya Hasil

2. Pengaruh Tekanan Osmotik Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Nutrien Agar - Dibuat pada cawan yang mengandung NaCl 0,5%, 3%,5%,dan 15% - Diinokulasikan dengan mikroba pada masing-masing konsentrasi - Dikontrol masing-masing biakan dengan media yang tidak ditambah NaCl - Diinkubasi selama 24-48 jam - Diamati pertumbuhannya Hasil

3. engaruh Sinar Ultra Violet Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Nutrient Agar - Diinokulasikan mikroba pada 3 cawan - Didedahkan ketiga cawan tersebut pada sinar UV dengan panjang gelombang 254 nm selama 1, 5, dan 15 menit (tutup cawan dibuka dan lingkungan sekitar tetap steril), jarak antar UV dan cawan sekitar 12 inchi - Dikontrol masing-masing biakan dengan tidak memaparkan pada sinar UV - Diinkubasi selama 24-48 jam - Diamati pertumbuhan koloninya

Hasil 4. Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Nutrient Broth - Berada dalam 4 tabung reaksi berbeda - Diatur pHnya (3, 7, 9) masing-masing dalam tabung untuk tiap nilai pH - Diberi label dengan nama bakteri yang akan diinokulasikan - Diinokulasi tiap tabung dengan mikroba - Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam - Diamati perbedaan kekeruhan pada tiap nilai pH

Hasil

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data pengamatan 1. Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme No . 1. Pengontrol hari pertama Pengontrol hari kedua Gambar Keterangan Gambar Keterangan

2.

Suhu 5oC hari pertama

Suhu 5oC hari kedua

3.

Suhu 25oC hari pertama

Suhu 25oC hari kedua

4.

Suhu 37oC hari kedua

5.

Suhu 50oC hari pertama

Suhu 50oC hari kedua

2. Pengaruh Tekanan Osmotik Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme

No. 1.

Gambar

Keterangan NaCl 0,5% hari pertama

Gambar

Keterangan NaCl 0,5% hari kedua

3. Pengaruh pH Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme No. 1. Gambar Keterangan Pengontrol hari pertama Gambar Keterangan Pengontrol hari kedua

2.

pH 3 hari pertama

pH 3 hari kedua

3.

pH 7 hari pertama

pH 7 hari kedua

4.

pH 9 hari pertama

pH 9 hari kedua

B. Pembahasan Pertumbuhan merupakan suatu proses kehidupan yang irreversible artinya tidak dapat dibalik kejadiannya. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler dan struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah, pertambahan ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter lain. Sebagai hasil pertambahan ukuran dan pembelahan sel atau pertambahan jumlah sel maka terjadi pertumbuhan populasi mikroba. Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan sebagai pertumbuhan koloni, yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar atau subtansi atau masssa mikroba dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan pada mikroba diartikan sebagai pertambahan jumlah sel mikroba itu sendiri. Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang berturut-turut disebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase kematian eksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali bila kematian dipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba, yaitu biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik adalah pengaruh mikroba oleh mikroba lainnya, mikroba lain tersebut dapat berkomensalisme secara positif contohnya

bersimbiosis/hidup saling menguntungkan atau negatif/saling merugikan dimana

yang satu akan membunuh yang lainnya. Secara rinci, hubungan mikroba satu dengan mikroba lainnnya tersebut, terbentuk dalam sebuah simbiosis. Faktor abiotik yaitu berasal dari lingkungan sekitar yang terdiri dari temperatur, sumber nutrien, sumber mineral, bahan toksik/logam berat, tekanan osmotik, pH, oksigen, sinar ultraviolet, dan sebagainya. Pada percobaan ini, yang diamati adalah pengaruh dari faktor abiotiknya yaitu suhu/temperatur, tekanan osmotik, sinar UV, dan pH terhadap pertumbuhan mikroba. Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. Beberapa jenis mikroba dapat hidup di daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikroba terletak di antara 0oC dan 90oC, sehingga untuk masing-masing mikroba dikenal nilai temperatur minimum, optimum dan maksimum. Temperatur minimum suatu jenis mikroba ialah nilai paling rendah dimana kegiatan mikroba masih berlangsung. Temperatur optimum adalah nilai yang paling sesuai/baik untuk kehidupan mikroba. Temperatur maksimum adalah nilai tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikroba tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. Daya tahan mikroba terhadap temperatur tidak sama untuk tiap-tiap spesies. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit didalam medium pada temperatur 60oC, sebaliknya bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan genus Clostridium tetap hidup setelah dipanasi dengan uap 100oC atau lebih selama 30 menit. Oleh karena itu, proses sterilisasi untuk membunuh setiap spesies bakteri dilakukan dengan pemanasan selama 15-20 menit

dengan tekanan 1 atm dan temperatur 121oC di dalam autoklaf. Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum, mikroba akan mengalami kematian. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. Selanjutnya pengaruh tekanan osmotik. Tekanan osmotik sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami plasmolisis, yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah. Berdasarkan tekanan osmotik yang diperlukan, maka dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi, (2) mikroba halofil, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi, (3) mikroba halodurik, yaitu kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar garam yang mencapai 30 %. Pengaruh sinar ultraviolet pada pertumbuhan mikroba, dimana kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m sampai 760 m, tidak begitu berbahaya, yang berbahaya ialah sinar

yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m sampai 300 m. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Kemudian pengaruh pH terhadap pertumbuhan mikroba. Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). Contohnya adalah bakteri nitrat, rhizobia, actinomycetes, dan bakteri pengguna urea. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman, misalnya Lactobacilli, Acetobacter, dan Sarcina ventriculi. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Berdasarkan pH-nya mikroba dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu (a) mikroba asidofil, yaitu kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 2 - 5, (b) mikroba mesofil (neutrofil), yaitu kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5 - 8, dan (c) mikroba alkalifil, yaitu kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8,4 - 9,5. Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan, terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan.

BAB V KESIMPULAN Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Suhu sangat peenting bagi pertumbuhan mikroba. Apabila suhu naik maka metabolisme naik dan pertumbuhan dipercepat. mikroba hasil pengamatan termasuk kedalam jenis mikroba mesofil (suhu maksimum 45-550C) 2. Suatu tekanan osmose akan sangat mempengaruhi bakteri jika tekanan osmose lingkungan lebih besar (hipertonis) sel akan mengalami plasmolisis. Sebaliknya tekanan osmose lingkungan yang hipotonis akan menyebabkan sel membengkak dan juga dapat mengakibatkan rusaknya sel. Mikroba hasil pengamatan tergolong mikroba halodurik. 3. Nilai pH untuk pertumbuhan mikroba umumnya berkisar pada pH 6,0-8,0. Mikroba hasil penggamatan tergolong jenis mikroba neutrofil yaitu kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5-8,0.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Albar dan Setyawan, Sigit, 2011, Pengaruh Konsentrasi Substrat, Lama Inkubasi Dan pH Dalam Proses Isolasi Enzim Xylanase Dengan Menggunakan Media Jerami Padi, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Nugroho, Bayu Aji, 2011, Cara Membuat Media Tumbuh Dalam Pengembangan Massal APH Golongan Jamur. Rivia Kumala Dewi, et al, 2009. Pengaruh Pemberian Konsorsium Mikroba Dalam Biofertilizer Terhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L.). Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. Pelczar, Michael J. dan E.C.S. Chan, 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2, UIPress, Jakarta. Widiyanti, Ni Luh Putu Manik Dan Ristiati, Ni Putu, 2004, Analisis Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang Di Kota Singaraja Bali, Jurnal Ekologi Kesehatan, Vol.3(1), Bali. http://id.wikipedia.org/ Pengaruh Suhu terhadap Pertumbuhan Mikroba dalam Makanan.html, di akses pada tanggal 12 November 2012.