Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

OPERASI TEKNIK KIMIA 1


MATERI :
FLUIDISASI




Disusun Oleh :
Nama : Rida Ferliana
NIM : 011100296
Prodi : Teknokimia Nuklir
Semester : III ( Tiga )
Kelompok : VII
Teman Kerja : 1. Pandu Dwi Cahya Perkasa
2. Tino Umbar
Tanggal Praktikum : 3 Desember 2012
Asisten : Kartini Megasari , SST

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2012
FLUIDISASI

I. TUJUAN
a. Menentukan porositas fluidisasi
b. Menentukan penurunan tekanan ( pressure drop ) untuk fluidisasi ( - AP
m
)
c. Menentukan kecepatan semu fluidisasi berdasarkan percobaan ( V
m
)

II. DASAR TEORI
Fluidisasi merupakan salah satu teknik pengontakan fluida baik gas maupun
cairan dengan butiran padat. Pada fluidisasi kontak antara fluida dan partikel padat terjadi
dengan baik karena permukaan kontak yang luas. Teknik ini banyak digunakan di
industri kimia dengan penggunaannya meningkat pesat pada dekade terakhir ini.
Bila zat cair atau gas dilewatkan melalui hamparan partikel padat pada kecepatan
aliran yang randah maka partikel-partikel itu tidak akan ikut bergerak. Pada kecepatan
fuida yang berangsur-angsur dinaikkan, partikel-partikel akhirnya akan mulai bergerak
dan melayang di dalam fuida yang disebut dengan istilah fluidisasi. Zat padat yang
terfluidisasi dapat dikosongkan dari hamparannya melalui pipa dan katup sebagaimana
halnya suatu zat cair, dan sifat fluidisasi ini merupakan keuntungan utama dari
penggunaan fluidisasi untuk penanganan zat padat.

2.1 Hilang Tekan (Pressure Drop)
Penentuan besarnya hilang tekan dalam unggun terfluidakan terutama dihitung
berdasarkan rumus-rummus yang diturunkan untuk unggun diam (persamaan Ergun)
dan diturunkan oleh Blake, Carman maupun peneliti-peneliti lainnya.
Besar penurunan tekanan untuk fluidisasi dapat ditentukan dengan :
) )( )( 1 (
c
s
g
g
X L P = A
dengan :
-AP : penurunan tekanan
L : panjang hamparan
X : porositas
s
: densitas benda
: densitas fluida

2.2 Kecepatan Minimum Fluidisasi
Yang dimaksud dengan kecepatan minimum fluidisasi (dengan notasi V
m
)
adaah kecepatan superfisial fluida minimum dimana fluidisasi mulai terjadi.
Harganya diperoleh denan persamaan sebagai berikut :


dengan :
v
m
: kecepatan semu minimum
: derajat kebundaran ( spherecity )
D
p
: diameter partikel
: viskositas fluida

2.3 Karakteristik Unggun Terfluidakan
Karakteristik unggun terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik
antara penurunan tekanan (-AP) dan kecepatan superficial (V
0
). Untuk keadaan yang
ideal, kurva hubungan berbentuk seperti apa yang diberkan didalam gambar :
2 2
3
) 1 ( 150
) (
p
s
m
D
X
X g
v

=

Gambar 1. Kurva karakteristik fluidisasi ideal
Garis A - B didalam grafik menunjukan hilang tekan pada daerah unggun diam
(porositas unggun).
Garis B - C menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan.
Garis D - E menunjukkan hilang tekan dalam daerah unggun diam pada waktu
menurunkan kecepatan alir fluida.
Harga penurunan tekanannya, untuk kecepatan alir fluida tertentu sedikit lebih
rendah dari pada saat awal operasi.

2.4 Penyimpangan dari keadaan ideal
- Interlock
Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan didalam gambar 1 hanya terjadi pada
kondisi yang betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah saling
melepaskan pada saat terjadi kesetimbangan antara gaya seret dengan berat
partikel. Pada kenyataannya keadaan diatas tidak selamanya bisa terjadi karena
adanya kecenderungan partikel-partikel untuk saling mengunci satu dengan
lainnya (interlock), sehingga akan terjadi kenaikan hilang tekan (-AP) sesaat
sebelum fluidisasi terjadi (Gambar 2).


Gambar 2. Kurva Karakteristik Fluidisasi
- Fluidisasi Heterogen (aggregative Fluidization)
Jenis penyimpangan yang lain adalah kalau pada saat fluidisasi partikelpartikel
padat tidak terpisah-pisahkan secara sempurna tetapi berkelompok membentuk
suatu agregat. Keadaan yang seperti ini disebut sebagai fluidisasi heterogen atau
(aggregative fluidization). Tiga jenis fluidisasi heterogen yang biasa terjadi adalah
karena timbulnya :
a. Penggelembungan ((bubbling), Gambar 5a)
b. Penorakan (slugging, Gambar 5b)
c. Saluran-saluran fluida yang terpisah (channeling, Gambar 5c)

Gambar 3. Penyebab timbul fluidisasi heterogen
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
a. Manometer
b. Kolom
c. Termometer
d. Jangka sorong
e. Beker gelas
f. Gelas ukur
g. Stopwatch
h. Kompor
i. Labu leher tiga
j. cKomdensor
3.2 Bahan
a. Aquades
b. Bahan isian silinder

Gambar 4. Rangkaian Alat Percobaan

IV. LANGKAH KERJA
a. Suhu aquades diukur.
b. Diameter benda silinder , diameter kolom , dan panjang susunan bahan diukur.
c. Massa benda silinder ditimbang.
d. Alat dirangkai seperti pada Gambar 4.
e. Labu leher tiga diisi aquades secukupnya.
f. Kompor listrik dan pendingin dinyalakan.
g. Waktu saat mendidih hingga air menetes pertama dicatat.
h. Waktu saat tetes pertama hingga mencapai 10 mL dicatat.

V. DATA PERCOBAAN
T aquades = 29C
aquades = 0,995945 g/mL
aquades = 1,845 cp
m silinder = 0,1391 g
silinder = 1
D silinder = 0,635 cm
L hamparan silinder = 6 cm
Ah manometer = 0,5cm
t mendidih hingga tetes air pertama =15 menit 40 detik
t tetes pertama hingga volume 10mL = 43 menit 10 detik

VI. PERHITUNGAN
ft
cm
ft
cm cm L 1969 , 0
48 , 30
1
6 6 = = =
2
174 , 32
s
f t
g =
2
.
.
174 , 32
s lbf
ft lbm
g
c
=

ft
cm
ft
cm cm D D
p bola
0208 , 0
48 , 30
1
635 , 0 635 , 0 = = = =
3 3 3
134 , 0 ) 3175 , 0 )( 14 , 3 (
3
4
3
4
cm cm r v
bola
= = = t

3 3
3
3 3
3
8003 , 64 )
/
/
428 , 62 )( / 0380 , 1 ( / 0380 , 1
1340 , 0
1391 , 0
ft
lbm
cm g
ft lbm
cm g cm g
cm
g
v
m
bola
bola
s bola
= = = = = =
3
3
1749 , 62 )
g/mL
lbm/ft
mL)(62,428 0,995945g/ ( g/mL 0,995945
ft
lbm
aquades
= = = =
s ft lbm
cp
s ft lbm
cp cp
aquades
. / 10 23984 , 1 )
. /
000672 , 0 )( 845 , 1 ( 845 , 1
3
= = =

6.1 Penentuan Porositas Fluida
1 =
bola

, sehingga dari grafik hubungan porositas dengan derajat kebundaran (


normal packing ) dalam buku Brown diperoleh porositas ( X ) sebesar 0,38.


6.2 Penurunan Tekanan ( Pressure Drop )
2
2
2
3 3
/ 3205 , 0
)
. / 174 , 32
/ 174 , 32
)( 1749 , 62 8003 , 64 )( 38 , 0 1 ( 1969 , 0
) )( )( 1 (
f t lbf P
s lbf lbmft
s f t
f t
lbm
f t
lbm
f t P
g
g
X L P
c
s
= A
= A
= A

6.3 Penentuan Kecepatan Semu Fluidisasi
3 3 3
1340 , 0 ) 3175 , 0 )( 14 , 3 (
3
4
3
4
cm cm r v
bola
= = = t
s f t v
f t
s f t lbm
f t
lbm
f t
lbm
s
f t
v
D
X
X g
v
m
m
p
s
m
/ 6174 , 3
) 0208 , 0 )( 1 (
) 38 , 0 1 )( . / 10 23984 , 1 ( 150
) 38 , 0 )( 1749 , 62 8003 , 64 ( 174 , 32
) 1 ( 150
) (
3 2
3
3
3 3 2
2 2
3
=




VII. PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan porositas fluidisasi , penurunan
tekanan (pressure drop) untuk fluidisasi (-AP
m
) dan kecepatan semu fluidisasi
berdasarkan percobaan ( V
m
). Fluidisasi merupakan salah satu teknik pengontakan fluida
baik gas maupun cairan dengan butiran padat.
Pada praktikum ini fluida yang dikontakkan dengan butiran padat adalah gas. Gas
diperoleh dari aquades yang didihkan kemudian menguap ke permukaan atas. Uap ini
kemudian akan menjadi uap air dan menghasilkan tetesan air. Waktu yang dibutuhkan
aquades untuk mendidih hingga tetes air pertama adalah 15 menit 40 detik sedangkan
waktu tetes pertama hingga volumenya mencapai 10mL adalah = 43 menit 10 detik.
Waktu ini dapat dikatakan cukup lama. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya lubang pada
kran ( bocor ) sehingga air tidak melewati jalur yang semestinya dan bahkan air susah
untuk keluar.
Hal yang berpengaruh dalam menentukan kecepatan minimum fluidisasi adalah
porositas dan penurunan tekanan. Berdasarkan teori porositas hamparan sebelum
fluidisasi dianggap berubah namun setelah mulai terfluidisasi maka porositas hamparan
akan naik dan merupakan fungsi bilangan Reynoldnya. Dalam praktikum ini, kami tidak
menggambarkan hubungan antara porositas dengan bilangan Reynold melainkan hanya
menentukan besarnya porositas bahan isian. Bahan isian yang digunakan adalah bahan
berbentuk bola yang berdiameter 0,0208 ft. Dari tabel hubungan ukuran ayakan dengan
derajat kebundaran dapat diketahui bahwa spherecity bola adalah 1 sehingga diperoleh
porositas sebesar 0,38 berdasarkan grafik hubungan porositas dengan derajat kebundaran
dalam kondisi normal packing berdasarkan buku Brown.
Penurunan tekanan terjadi karena adanya fluida yang mengalir. Pada saat
hamparan partikel bergerak maka penurunan tekanan akan meningkat sebanding dengan
kecepatan semunya. Praktikan pada praktikum ini tidak menunjukkan hubungan antara
penurunan tekanan dengan kecepatan semu karena waktu yang diperlukan cukup lama.
Namun jika kita liat dari rumus :
2 2
3
2 2
3
150
)
) (
(
) 1 ( 150
) (
p
c
p
s
m
D
X
g
g
L
P
g
D
X
X g
v


A
=

=
dapat dilihat bahwa nilai penurunan tekanan berbanding lurus dengan kecepatan
minimum fluidisasi. Berdasarkan perhitungan penurunan tekanan yang terjadi adalah
sebesar 0,3205 lbf/ft
2
dan kecepatan semu minimum fluidisasi adalah 3,6174 ft/s.
VIII. KESIMPULAN

Dari percobaan diperoleh hasil sebagai berikut :
a. porositas fluidisasi =
2
/ 3205 , 0 ft lbf
b. pressure drop ( - AP
m
) = 0,38
c. kecepatan semu fluidisasi ( V
m
) = s ft / 6174 , 3

IX. DAFTAR PUSTAKA
Putra , Sugili dkk . 2006 . Petunjuk Praktikum Operasi Teknik Kimia 1. Yogyakarta :
STTN-BATAN
Soetedjo. 1986. Fluid Flow . Bandung : Penerbit Angkasa Bandung
che.ft-untirta.ac.id diakses pada tanggal 4 Desember 2012



Yogyakarta, 9 Desember 2012
Asisten,

Praktikan


Kartini Megasari , SST

Rida Ferliana