Anda di halaman 1dari 58

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Meulaboh, 2009.

TUGAS AKHIR

PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI
TENTANG

SISTEM PENDATAAN OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEULABOH

DIAJUKAN

O
L
E
H


NAMA : CUT PUTRI ISNAINI
NIM : 062600030


Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Menyelesaikan Studi
Pada Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan













UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI DIPLOMA III ADMINISTRASI PERPAJAKAN
MEDAN
2009

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum wr.wb
Dengan mengucapkan Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan atas
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya serta shalawat
dan salam atas junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya
ke alam yang penuh keimanan yang ditandai berbagai macam ilmu pengetahuan dan
teknologi sesuai dengan perkembangan zaman saat ini.
Adapun judul laporan PKLM yang dipilih penulis adalah SISTEM
PENDATAAN OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) PADA
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEULABOH.
Laporan PKLM ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
pendidikan pada program Diploma III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-
dalamnya kepada orang tua, Ayahanda dan Ibunda yang telah membesarkan,
memberikan, kasih sayang yang tidak ternilai harganya.
Selama menyusun laporan PKLM ini penulis banyak menerima bantuan
dorongan, bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan
hati penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :



Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA Selaku Dekan Fakultas Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. M. Husni Thamrin Nasutian, Msi Selaku Ketua Program Studi D-III
Administrasi Perpajakan Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra.Elita Dewi, MSP Dosen pembimbing yang bersedia meluangkan
waktunya dalam memberikan bimbingan sehingga dapat sehingga dapat selesai
dengan baik.
4. Seluruh staf pengajar terutama abang Faisal Eriza dan pegawai diprogram studi
Diploma III Administrasi Perpajakan yang telah memberikan pengajaran Ilmu
Pengetahuan kepada penulis.
5. Buat ke dua orangtuaku, ayahanda Teuku Johan dan ibunda Zainab yang telah
membesarkan saya dan memberi dukungan yang sangat berarti bagi penulis,dan
abangku kakanda Teuku Jozanda, adik-adikku adinda Cut Zahara dan adinda
Teuku Rahmat Syahputra yang sangat ku sayang, n for all my family.
6. Buat teman-temanku terbaik ku terutama Nia, Sheilla, Dona, Thanks atas
semangatnya, dan yang gak ketinggalan temen-temen FISIP USU terutama
Program Diploma III Administrasi Perpajakan stambuk 06 khususnya kelas A
yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.
7. Special thanks Buat Adriyansyah Khaliq yang telah banyak memberi semangat
dan dukungan semoga dirimu diberi yang terbaik oleh ALLAH SWT.



Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Penulis menyadari masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam laporan
ini yang disebabkan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis.
Untuk itu penulis mengharapkan saran-saran dan kritik sehat yang sifatnya
membangun dari pembaca.
Akhirnya penulis berharap laporan PKLM ini bermanfaat bagi kita semua.
Semoga ALLAH SWT selalu berkenan memberikan tuntunan dan ridhonya kepada
kita semua. Amin


Medan, Juni 2009



Cut Putri Isnaini












Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI... iv

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang. 1

B. Tujuan dan Manfaat penelitian. 4

C. Ruang Lingkup.. 7

D. Metode PKLM... 7

E. Metode Pengumpulan data. 8


BAB II : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Umum KPP Pratama Meulaboh. 10

B. Keadaan Geografis KPP Pratama Meulaboh... 10

C. Struktur Organisasi KPP Meulaboh. 12

D. Tugas dan Fungsi Organisasi KPP Meulaboh.. 13


BAB III : GAMBARAN DATA

A. Definisi dan Fungsi Pajak 16

B. Jenis-jenis Pajak... 17

C. Dasar Hukum Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan. 18

D. Sistem Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan.. 18

E. Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan.. 19


Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

BAB IV : EVALUASI DAN ANALISIS DATA

A. Evaluasi.. 32

B. Analisis Data. 41

C. Faktor_faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pendataan Objek Pajak

Bumi dan Bangunan. 46


BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan.. 50

B Saran. 51


DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan salah satu jenis pajak yang
merupakan sumber penerimaan Negara yang utama, disamping penerimaan Negara
yang lain. Sesuai pasal 6 dan pasal 9 undang-undang No.12 tahun 1985 tentang Pajak
Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.12 tahun
1994 pasal 2 dan 3 diartikan sebagai pajak Negara yang sebagian besar
penerimaannya merupakan pendapatan daerah yang dipergunakan untuk penyediaan
fasilitas yang juga dinikmati oleh pemerintah pusat dan pemeritah daerah. Dalam
pengenaan beban pajaknya terlebih dahulu harus memperhatikan objek pajaknya dari
pada subjek pajaknya.
Setiap wajib pajak yang memiliki objek pajak bumi dan bangunan, baik besar
maupun kecil akan dikenakan pajak sesuai kemampuan dan keadaannya. Dalam hal
ini digunakan sistem Self Assessment adalah suatu sistem pemungutan pajak yang
wajib pajak menentukan sendiri jumlah pajak yang terhutang sesuai dengan undang-
undang perpajakan (Marsyahrul, 2005, 9) yaitu bagi setiap wajib pajak diberikan
kesempatan untuk mendaftarkan sendiri objek pajak yang dimiliki/dimanfaatkannya
di bidang pelaporan ke Direktorat Jenderal Pajak atau tempattempat lain yang
ditunjuk.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

. Dalam tata cara ini kegiatan pemungutan pajak diletakkan kepada aktivitas
masyarakat sendiri, yang wajib pajak diberi kepercayaan untuk :
a. menghitung sendiri pajak yang terhutang
b. memperhitungkan sendiri pajak yang terhutang
c. membayar sendiri jumlah pajak yang harus dibayar
d. melaporkan sendiri jumlah pajak yang terhutang
ciri-ciri sistem self assessment adalah :
a. adanya kepastian hukum
b. sederhana perhitungannya
c. mudah pelaksanaannya
d. lebih adil dan merata
e. perhitungan pajak dilakukan oleh wajib pajak. (Marsyahrul, 2005, 9)
Mengingat besarnya jumlah objek pajak dan beragamnya tingkat pendidikan
dan pengetahuan wajib pajak, maka belum seluruhnya wajib pajak dapat melakukan
kewajiban untuk mendaftarkan objek pajak yang dimilikinya. Sejalan dengan hal
tersebut, fiskus sebagai aparat penyelenggara perpajakan dalam rangka
memanfaatkan potensi Pajak Bumi dan Bangunan untuk meningkatkan kinerjanya
dalam menetukan arah kebijakan operasional khususnya dalam pembuatan rencana
kerja pendataan objek PBB. Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, maka
Direktorat Jenderal Pajak mengadakan kegiatan pendataan objek dan subjek Pajak
Bumi dan Bangunan. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan sendiri oleh Direktorat

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Jenderal Pajak atau bekerjasama dengan pihak lain/ketiga yang ditentukan oleh
Direktorat Jenderal Pajak.
Kegiatan pendataan dapat dilaksanakan dengan 4 (empat) alternatif, yaitu :
a. Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP (Surat Pemberitahuan
Objek Pajak), lebih lanjut dibagi menjadi pendataan dengan penyampaian dan
pemantauan pengembalian SPOP perorangan serta penyampaian dan
pemantauan pengembalian SPOP kolektif.
b. Identifikasi objek pajak.
c. Verifikasi data objek pajak.
d. Pengukuran bidang objek pajak.
Untuk mengatasi kendala atau masalah yang dihadapi pihak penyelenggara
maupun wajib pajak dalam pembayaran Objek Pajak Bumi dan Bangunan diperlukan
adanya kebijakan yang aktual yang mampu mendorong dan merangsang efesiensi dan
efektifitas kerja yakni melalui sistem pendataan, khususnya pendataan terhadap objek
Pajak Bumi dan Bangunan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kegiatan pendaftaran, pendataan dan penilaian objek dan subjek PBB
dimaksudkan untuk menciptakan suatu basis data yang akurat dan up to date dengan
mengintegrasikan semua aktivitas administrasi PBB ke dalam satu wadah, sehingga
pelaksanaannya dapat lebih seragam, sederhana, cepat dan efisien. Dengan demikian,
diharapkan dapat tercipta; pengenaan pajak yang lebih adil dan merata, peningkatan
realisasi potensi/pokok ketetapan, peningkatan tertib administrasi dan peningkatan
Pajak Bumi dan Bangunan, serta dapat memberikan pelayanan yang lebih baik pada

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

wajib pajak. Untuk menjaga akurasi data objek dan subjek pajak yang memenuhi
unsur relevan, tepat waktu, andal, dan mutakhir, maka basis data tersebut di atas perlu
dipelihara dengan baik.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti mencoba membahas dan
menuangkannya dalam bentuk laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri dengan judul:
Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pada Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh.

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
1) Untuk mengetahui sistem pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan pada
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh.
2) Ingin mengetahui masalah-masalah apa saja yang dihadapati oleh fiskus di
dalam melaksakan sistem pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan.
3) Ingin mengetahui tingkat kesadaran wajib pajak dalam melaksanakan
kewajibannya membayar Pajak Bumi dan Bangunan serta faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi kurangnya kesadaran wajib pajak dalam
melaksanakan kewajibannya tersebut.
2. Manfaat Penelitian
1) Bagi Mahasiswa
a. Guna pengembangan ilmu dalam bidang perpajakan khususnya dalam
bidang pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan serta dapat juga

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

dijadikan bahan pertimbangan bagi peneliti selanjutnya yang ingin
membahas tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
b. Guna menciptakan dan menanamkan rasa tanggung jawab dan
kedisiplinan yang nantinya hal-hal tersebut sangat dibutuhkan ketika
memasuki dunia kerja yang sebenarnya.
c. Guna meningkatkan frekuensi komunikasi antara penulis dengan fiskus
pada Kantor Pelayanan Pajak khususnya Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, Aceh barat.
d. Guna merangsang mahasiswa untuk beraktifitas dalam melakukan
pekerjaan secara efisien dan efektif melalui Praktik Kerja Lapangan
Mandiri (PKLM).
e. Sebagai sarana latihan berfikir mahasiswa dalam menyusun suatu karya
ilmiah berdasarkan ilmu yang diperoleh selama dalam perkuliahan.
2) Bagi Institusi tempat melaksanakan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
a. Sebagai sarana untuk mempererat hubungan yang positif antara Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh dengan lembaga pendidikan
khususnya Universitas Sumatera Utara.
b. Dengan dilaksanakannya Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) bagi
mahasiswa dituntut sumbangsihnya terhadap instansi baik berupa saran
maupun kritikan yang bersifat membangun yang menjadi sumber masukan
untuk meningkatkan kinerja lingkungan tersebut.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

c. Karena penelitian ini banyak membahas dan menyoroti persoalan sistem
pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan, maka data yang terdapat
dalam skripsi minor ini dapat dipergunakan oleh fiskus atau aparat
penyelenggara perpajakan untuk mengambil suatu keputusan.
3) Bagi Lembaga Pendidikan Khususnya Universitas Sumatera Utara
a. Membuka interaksi antara dosen dengan instansi yang bersangkutan dalam
memberikan uji nyata mengenai ilmu pengetahuan yang diterima
mahasiswa melalui Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM).
b. Meningkatkan profesionalisme, memperluas wawasan serta memantapkan
keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu khususnya di bidang
perpajakan.
4) Bagi Masyarakat
a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah dan meningkatkan
pemahaman dan pengertian anggota masyarakat tentang Pajak Bumi dan
Bangunan karena hasil penelitian ini banyak menceritakan tentang
pengertian, fungsi, prosedur dan masalah-masalah yang berhubungan
dengan Pajak Bumi dan Bangunan.






Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

C. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Pada Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini, penulis memusatkan perhatian
pada sistem pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh. Batas wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Meulaboh meliputi Aceh Barat, Aceh Jaya dan Nagan Raya.
Data yang disajikan merupakan data tahun 2008 yaitu Pendataan dengan
Sistem Pengukuran Objek menggunakan Sistem SISMIOP (Sistem Manajemen
Informasi Objek Pajak).

D. Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)
Metode yang digunakan dalam Praktik Kerja Lapangan Mandiri adalah :
a) Tahap Persiapan
Hal ini berkaitan dengan persetujuan dan pengesahan pelaksanaan PKLM baik
dari Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Universitas
Sumatera Utara juga Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh, Aceh Barat.
b) Studi Literatur
Penulis mengumpulkan data-data yang menyangkut masalah yang akan
dibahas melalui buku-buku, majalah, Undang-undang, Keputusan Menteri
Keuangan, Keputusan Direktur Jenderal Pajak dan bahan-bahan lainnya yang
berhubungan dengan objek pajak pembahasan.



Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

c) Observasi Lapangan
Penulis langsung melakukan pengamatan terhadap sistem pendataan objek
Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh,
Aceh Barat dengan maksud untuk mendapatkan informasi.
d) Metode Laporan
Bentuk penelitian yang penulis gunakan dalam penilisan skripsi ini adalah
metode deskriptif. Metode deskriptif yaitu metode penelitian yang
menguraikan kejadian atau peristiwa yang bersifat aktual yang terjadi pada
saat penelitian, menafsirkan dan menganalisa data yang diperoleh sehinnga
dapat ditarik kesimpulan.
e) Analisa dan Evaluasi Data
Setelah memperoleh data yang diperlukan, penulis akan menganalisa dan
mengevaluasi data secara kualitatif sesuai dengan bentuk dan macam data
yang diperoleh sesuai tuntutan permasalahan Praktik Kerja Lapangan Mandiri
(PKLM).

E. Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data mengenai Praktik Kerja Lapangan Mandiri
(PKLM), penulis mengumpulkan data dan informasi dengan mengunakan metode
sebagai berikut :



Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

a) Metode Observasi
Dalam metode ini penulis mengadakan pengamatan langsung terhadap objek
Pajak Bumi dan Bangunan yang telah didata oleh Kator Pelayanan Pajak
Pratama Meulaboh dengan maksud mendapatkan informasi.
b) Metode Wawancara
Dalam metode ini penulis akan melakukan tanya jawab langsung dengan
fiskus di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh.
c) Metode Dokumentasi
Dengan metode ini penulis meminta dan melampirkan data berupa dokumen-
dokumen yang berhubungan dengan laporan PKLM ini.













Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

BAB II
GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Singkat Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh adalah KPP yang terbentuk sesuai
dengan KEP-159/PJ/2008 tanggal 4 September 2009 tentang penerapan organisasi,
tata kerja dan saat mulai beroperasinya Kantor Wilayah DJP Sumatera Barat dan
Jambi, Kantor Wilayah DJP Lampung dan Bengkulu, Kantor Wilayah DJP
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dan Kantor Wilayah DJP Kalimantan
Barat serta Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan kantor pelayanan, penyuluhan dan
konsulatasi perpajakan di Lingkungan Kantor Wilayah DJP Nanggroe Aceh
Darussalam, Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara II. Secara Hierarkis, KPP Pratama
Meulaboh berda dibawah pembinaan Kantor Wilayah DJP NAD.

B. Keadaan Geografis
Ditinjau dari keadaan geografisnya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh
memiliki wilayah kerja yaitu meliputi Aceh Barat, Aceh Jaya dan Nagan Raya, Batas
wilayah
1. Luas wilayah
Kabupaten Aceh Barat terdiri dari 12 kecamatan dan 321 desa dengan luas
wilayah 292.795 Ha.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Kabupaten Aceh Jaya terdiri dari 6 kecamatan dan 171 desa dengan luas wilayah
372.700 Ha.
Kabupaten Nagan Raya terdiri dari 5 kecamatan dan 225 desa dengan luas
wilayah 392.800 Ha.
Tabel 1
Luas Wilayah per-Kecamatan
Kab. Aceh Barat, Kab. Aceh Jaya dan Kab. Nagan Raya
No Nama Kab./ kota/ Kecamatan Luas (Ha)
Persentase
(%)
1 Kab. Aceh Barat
Kec. Kawai XVI 51,018 4.82
Kec. Johan Pahlawan 4,491 0.42
Kec. Sama Tiga 14,069 1.33
Kec. Woyla 24,904 2.35
Kec. Sungai Mas 78,173 7.39
Kec. Woyla Barat 12,300 1.16
Kec. Woyla Timur 13,260 1.25
Kec. Meureubo 11,287 1.07
Kec. Pante Ceureumen 49,025 4.63
Kec. Bubon 12,958 1.22
Kec. Arongan Lambalek 13,006 1.23
Kec. Panton Reu 8,304 0.78
2 Kab. Aceh Jaya
Kec. Teunom 54,900 5.19
Kec. Krueng Sabee 58,800 5.56
Kec. Setia Bakti 62,900 5.94
Kec. Sampoiniet 101,100 9.55
Kec. Jaya 62,400 5.90
Kec. Panga 32,600 3.08
3 Kab. Nagan Raya
Kec. Darul Makmur 69,200 6.54
Kec. Beutong 145,800 13.78
Kec. Seunagan 63,121 5.96
Kec. Kuala 88,800 8.39
Kec. Seunagan Timur 25,879 2.45
Jumlah Wilayah (Ha) 1,058,295 100.00
Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh. Data tahun 2008.


Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

2. Pimpinan Daerah
Sampai saat ini Kepala Daerah Kab. Aceh Barat dijabat oleh Ramli MS, Kepala
Daerah Kab. Nagan Raya dijabat oleh Drs. Teuku Zulkarnaen dan Kepala Daerah
Kab. Aceh Jaya dijabat oleh Ir. Azhar.

C. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh Berdasarkan
Peratuaran Menteri Keuangan Replubik Indonesia No: 55/PMK.01/2007 sebagai
berikut :
1. Sub Bagian Umum
2. Seksi Pelayanan
3. Seksi Pengolahan Data Informasi (PDI)
4. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I
5. Seksi Pengawasan dan Konsultasi II
6. Seksi Pengawasan dan Konsultasi III
7. Seksi Ekstensifikasi
8. Seksi Pemeriksaan
9. Seksi Penagihan
10. Kelompok Fungsional




Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

D. Tugas dan Fungsi Organisasi
Adapun tugas pokok dan fungsi pada masing-masing seksi pada KPP Pratama
Meulaboh adalah sebagai berikut :
1. Sub Bagian Umum
Memiliki tugas dan fungsi pelayanan kesekretariatan terutama dalam hal
pengaturan kegiatan tata usaha dan kepegawaian, keuangan, rumah tangga
serta perlengkapan.
2. Seksi Pelayanan
Memiliki tugas dalam hal penetapan dan penerbitan produk hokum
perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan
dan pengolahan surat pemberitahuan dan surat lainnya, penyuluhan
perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, serta kerjasama perpajakan
sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Memiliki tugas dalam pengumpulan, pengolahan data, penyajian informasi
perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, urusan tata usaha penerimaan
perpajakan, pengalokasian dan penatausahaan bagi hasil Pajak Bumi dan
Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, pelayanan
dukungan teknis computer, pemantauan aplikasi e-SPT dan Filing dan
penyiapan laporan kerja.



Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

4. Seksi Pengawasan dan Konsultasi
Memiliki tugas melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan
Wajib Pajak (PPh, PPN, PBB, BPHTB dan pajak lainnya), bimbingan /
himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan
Profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak
dalam rangka melakukan identifikasi dan melakukan evaluasi hasil banding
berdasarkan ketentuan yang berlaku. KPP Pratama Meulaboh terdapat 3 (tiga)
Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang pembagian tugasnya didasarkan pada
cakupan wilayah tertentu.
5. Seksi Ekstensifikasi
Memilik tugas dalam hal pelaksanaan dan penatausahaan pengamatan potensi
perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, penilaian objek pajak, dan
kegiatan ekstensifikasi perpajakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6. Seksi Pemeriksaan
Memiliki tugas dalam hal pelaksanaan penyusunan rencana pemeriksaan,
pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran
Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan perpajakan
lainnya.
7. Seksi Penagihan
Memiliki tugas dalam hal pelaksanaan dan penatausahaan penagihan aktif,
piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak dan usulan
penghapusan piutang pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

8. Kelompok Fungsional
Kelompok Fungsional yang terdiri atas Pejabat Fungsional Pemeriksa dan
Pejabat Fungsional Penilai yang bertangung jawab secara langsung kepada
kepala KPP Pratama Meulaboh. Dalam melaksanakan pekerjaannya, Pejabat
Fungsional Pemeriksa berkoordinasi dengan seksi pemeriksaan sedangkan
Pejabat Fungsional Penilai berkoordinasi denga Seksi Ekstensifikasi.

















Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

BAB III
GAMBARAN DATA

A. Definisi dan Fungsi Pajak
Pajak merupakan penerimaan Negara yang sangat penting. Membayar pajak
merupakan kewajiban setiap warga Negara. Besarnya pajak ditetapkan berdasarkan
undang-undang atau dalam UUD 1945 Pasal 23 ayat 2 menyatakan bahwa Segala
penerimaan pajak harus berdasarkan Undang-undang. Namun demikian masih
banyak wajib pajak yang menghindarinya, karena kurang menyadari akan arti dan
fungsi pajak khususnya Pajak Bumi dan Bangunan.
Definisi atau pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH yaitu
: Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-undang (yang
dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung
dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
(Mardiasmo, 2008, 1)
Dari pendapat diatas dapat dibedakan fungsi-fungsi pajak, yang terdiri dari :
1. Fungsi Budgetter
Pajak senbagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-
pengeluarannya.
2. Fungsi Reguler
Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah
dalam bidang sosial dan ekonomi.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

B. Jenis-Jenis Pajak
Selanjutnya Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH dalam buku Mardiasmo (2008,5)
membagi jenis-jenis pajak, yaitu;
1. Menurut Golongannya.
a. Pajak Langsung yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan
tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.
Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Tidak Langsung yaitu pajak yang akhirnya dapat dibebankan atau
dilimpahakan kepada orang lain.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai.
2. Menurut Sifatnya.
a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada
subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.
Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa
memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
3. Menurut Lembaga Pemungutannya
a. Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga Negara.
Contoh : Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak penjualan
atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Materai.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah.
Pajak Daerah terdiri dari :
1) Pajak Propinsi, contoh : Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan
Bakar Kendaraan Bermotor
2) Pajak Kabupaten / Kota, contoh : Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak
Hiburan

C. Dasar Hukum Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan
Dasar hukum Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Undang-undang no.12
tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang no.12 tahun 1994.
(Mardiasmo, 2008, 315)

D. Sistem Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan
Dasar sistem pemungutan yang dianut dalam Undang-undang Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB) adalah sama dengan sistem yang dianut dalam Undang-undang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yaitu berdasarkan system self
assessment. Pada PBB sistem ini terletak pada kerelaan Wajib Pajak untuk
memberitahukan data objek pajak yang dimilikinya dan / atau dikuasainya kepada
Fiskus sebagaimana tertuang dalam SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak)
(Marsyahrul, 2005, 164)


Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

E. Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan
Menurut Undang-undang No.12 Tahun 1985 sebagaimana diubah menjadi
Undang-undang No.12 tahun 1994 terdapat pengertian dan pembagian mengenai
PBB, antara lain :
1. Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya.
Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk rawa-
rawa, tambak, perairan) serta laut wilayah Republik Indinesia.
2. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap
pada tanah dan atau perairan.
Termasuk dalam pengertian bangunan adalah :
a. Jalan lingkungan dalam satu kesatuan dengan komplek bangunan.
b. Jalan tol.
c. Kolam renang.
d. Pagar mewah.
e. Tempat olah raga.
f. Galangan kapal, dermaga.
g. Taman mewah.
h. Tempat penampungan / kilang minyak, air dan gas, pipa minyak.
i. Fasilitas lain yang memberikan manfaat.
3. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) adalah surat yang digunakan oleh
Wajib Pajak untuk melaporkan data objek pajak menurut ketentuan undang-
undang Pajak Bumi dan Bangunan.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

4. Surat pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) adalah surat yang digunakan
oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak
terhutang kepada wajib pajak. Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan SPPT
berdasarkan SPOP wajib Pajak.
5. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah harga rata-rata yang diperoleh dari
transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat
transaksi jual beli, Nilai Jual Objek Pajak ditentukan melalui perbandingan
harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru atau Nilai Jual
Objek Pajak pengganti.
Besarnya NJOP ditentukan berdasarkan klasifikasi :
a. Objek Pajak Sektor Pedesaan dan Perkotaan
b. Objek Pajak Sektor Perkebunan
c. Objek Pajak Sektor Kehutanan atas Hak Pengusahaan Hutan, Hak
Pengusahaan Hasil Hutan, Izin Pemanfaatan Kayu serta Izin Sah Lainnya
selain Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri
d. Objek Pajak Sektor Kehutanan atas Hak Pengusahaan Hutan Tanaman
Industri
e. Objek Pajak Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
f. Objek Pajak Sektor Pertambangan Energi Panas Bumi
g. Objek Pajak Sektor Pertambangan Non Migas selain Pertambangan Energi
Panas Bumi dan Galian C
h. Objek Pajak Sektor Pertambangan Non Migas Galian C

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

i. Objek Pajak sector pertambangan yang dikelola berdasarkan Kontrak
Karya atau Kontrak Kerjasama
j. Objek Pajak usaha bidang perikanan laut
k. Objek Pajak Usaha bidang perikanan darat
l. Objek Pajak yang bersifat khusus
6. Objek Pajak.
a. Yang menjadi Objek Pajak adalah bumi dan atau bangunan
b. Yang dimaksud dengan klasifikasi bumi dan bangunan adalah
pengelompokan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya dan digunakan
sebagai pedoman, serta untuk memudahkan perhitungan pajak yang
terhutang.
Dalam menetukan klasifikasi bumi / tanah diperhatikan faktor-faktor
sebagai berikut :
- Letak
- Peruntukan
- Pemanfaatan
- Kondisi lingkungan dan lain-lain
Dalam menetukan klasifikasi bangunan diperhatikan faktor-faktor sebagai
berikut :
- Bahan yang digunakan
- Rekayasa
- Letak

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

- Kondisi lingkungan dan lain-lain
c. Pengecualian Objek Pajak.
Objek pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan adalah objek
pajak yang :
- Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum dan tidak
mencari keuntungan, antara lain :
a. Dibidang ibadah, contoh : mesjid, gereja, vihara.
b. Dibidang kesehatan, contoh : rumah sakit
c. Dibidang pendidikan, contoh : madrasah dan pesantren.
d. Dibidang Sosial, contoh : panti asuhan.
e. Dibidang kebudayaan Nasional, contoh : Museum, Candi.
f. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang
sejenis dengan itu.
- Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman
nasional, tanah pengembalaan yang dikuasain oleh desa, dan tanah
Negara yang belim dibebani suatu hak.
- Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas
perlakuan timbal balik.
- Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang
dilakukan oleh menteri keuangan.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

d. Objek pajak yang digunakan oleh Negara untuk penyelenggaraan
pemerintahan, penetuan pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.
Yang dimaksud dengan objek pajak adalah objek pajak yang dimilki /
dikuasai / digunakan oleh Pemerintah Pusat dan Pmerintah Daerah dalam
menyelenggarakan pemerintahan. Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak
Negara yang sebagian besar penerimaannya merupakan pendapatan daerah
yang antara lain dipergunakan untuk penyediaan fasilitas yang juga
dinikmati oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Oleh sebab itu
wajar Pemerintah Pusat juga ikut membiayai penyediaan fasilitas tersebut
melalui pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan. Mengenai Bumi dan atau
Bangunan milik perseorangan dan atau bukan yang digunakan oleh Negara,
kewajiban perpajakannya, tergantung pada perjanjian yang diadakan.
e. Besarnya Nilai Jual Pajak Tidak Kena Pajak (NJ OPTKP) ditetapkan untuk
masing-masing kabupaten / kota dengan besar setinggi-tingginya Rp.
12.000.000,00 untuk setiap wajib pajak. Apabila seorang Wajib Pajak
mempunyai beberapa objek pajak, yang diberikan NJ OPTKP hanya salah
satu objek pajak yang nilainya terbesar, sedangkan objek pajak lainnya tetap
dikenakan secara penuh tanpa dikurangi NJOPTKP.
7. Subjek Pajak.
Yang menjadi Subjek Pajak adalah orang atau badan yang secara nyata
mempunyai suatu hak atas bumi dan atau memperoleh manfaat atas bumi, dan

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

atau memiliki, menguasai, dan atau memperoleh manfaat atas bangunan.
Dengan demikian tanda pembayaran / pelunasan pajak bukan merupakan
bukti pemilikan hak.
8. Tarif Pajak.
Tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah sebesar 0,5%.
9. Dasar Pengenaan Pajak.
a. Dasar pengenaan pajak adalah nilai jual objek pajak (NJOP)
b. Besarnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) ditetapkan setiap tiga tahun oleh
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama menteri
keuangan dengan mempertimbangkan pendapat
Gubernur/Bupati/Walikota (Pemerintah Daerah) setempat
c. Dasar perhitungan pajak adalah yang ditetapkan serendah-rendahnya 20%
dan setinggi-tingginya 100% dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)
d. Besarnya persentase ditetapkan dengan Peraturan Pmerintah dengan
memperhatikan kondisi ekonomi nasional.
Pada dasarnya penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah tiga tahun
sekali. Namun demikian untuk daerah tertentu yang karena perkembangan
pembangunan mengakibatkan kenaikan NJOP cukup besar, maka
penetapan nilai jual ditetapkan satu tahun sekali.(Mardiasmo, 2005, 315-
321)



Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

10. Cara Menghitung Pajak Pajak Bumi dan Bangunan. (Markus, 2005, 413)
Besarnya pajak terhutang dihitung dengan cara mengkalikan tariff pajak
dengan NJ KP.
Pajak Bumi dan Bangunan =Tarif Pajak x NJ KP
=0,5% x [Persentase NJ KP x (NJOP-NJOPTKP)]
Contoh perhitungan PBB :
Wajib pajak A mempunyai sebidang tanah dan bangunan yang
NJOP nya Rp 20,000,000 dan NJOPTKP untuk daerah tersebut Rp 12,000,000
maka besarnya pajak yang terhutang adalah :
PBB =0,5% x 20% x (Rp 20,000,000 Rp 12,000,000)
=Rp 8,000
11. Tahun Pajak, Saat, dan Tempat yang Menentukan Pajak Terutang.
a. Tahun pajak adalah jakngka waktu 1 tahun takwin, jangka waktu satu
tahun takwin adalah dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember.
b. Saat yang menentukan pajak yang terutang adalah menurut keadaan objek
pajak tanggal 1 J anuari.
c. Tempat pajak yang terutang :
- Untuk daerah Jakarta, di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
- Untuk daerah lainnya, di wilayah Kabupaten atau Kota.
Tempat pajak yang terutang adalah Batam, di wilayah Propinsi Riau.
12. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang (SPPT), dan Surat Ketetapan Pajak (SKP).

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

a. dalam rangka pendataan, subjek pajak wajib mendaftarkan objek pajaknya
dengan mengisi SPOP.
Dalam rangka pendataan, wajib pajak akan diberikan SPOP untuk diisi
dan dikembalikan kepada Direktorat Jenderal Pajak. Wajib Pajak yang
pernah dikenakan IPEDA tidak wajib mendaftarkan objek pajaknya
kecuali kalau ia menerima SPOP, maka dia wajib mengisinya dan
mengembalikannya kepada Direktorat Jenderal Pajak.
b. SPOP harus diisi dengan jelas, benar, lengkap, dan tepat waktu serta
ditandatangani den disampaikan kepada Dirjen Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi letak objek pajak selambat-lambatnya 30 hari setelah
tanggal diterimanya SPOP oleh subjek pajak.
Yang dimaksud dengan jelas dan benar adalah :
Jelas dimaksudkan agar penulisan data yang diterima dalam SPOP dibuat
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan salah tafsir yang dapat
merugikan Negara maupun wajib pajak sendiri.
Benar, berarti data yang dilaporkan harus sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya, seperi luas tanah dan atau bangunan, tahun dan harga
perolehan dan sesuai dengan kolom-kolom/pertanyaan yang ada pada
Surat PemberitahuanObjek Pajak(SPOP).
c. Dirjen Pajak akan menerbitkan SPPT berdasarkan SPOP yang
diterimanya.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

SPPT diterbitkan atas dasar SPOP, namun untuk membantu wajib pajak
SPPT dapat diterbitkan berdasarkan data objek pajak yang telah ada pada
Direktorat Jenderal Pajak.
d. Dirjen Pajak dapat mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak dalam hal-hal
sebagai berikut :
- Apabila SPOP tidak disampaikan dan setelah ditegur secara tertulis
tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran.
- Apabila berdasarkanhasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata
jumlah pajak yang terutang (seharusnya) lebih besar dari jmlah pajak
yang dihitung berdasarkan SPOP yang disampaikan oleh wajib pajak.
Wajib pajak yang tidak menyampaikan SPOP pada waktunya, walaupun
sudah ditegur secara tertulis juga tidak menyampaikan dalam jangka
waktu yang ditentukan dalam Surat Teguran itu, Dirjen Pajak dapat
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) secara jabatan.
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain yang ada pada
Direktorat Jenderal Pajak ternyata jumlah pajak yang terhutang lebih besar
dari jumlah pajak dala SPPT yang dihitung atas dasar SPOP yang
disampainkan wajib pajak, Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan SKP
secara jabatan.
e. Jumlah pajak yang terhutang dalam SKP sebagaimana dimaksud dalam
huruf d point pertama adala pokok pajak ditambah dengan denda
administrasi sebesar 25% dihitung dari pokok pajak.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Sanksi administrasi yang dikenakan terhadapa wajib pajak yang tidak
menyampainkan SPOP, dikenakan sanksi sebagai tambahan terhadap pokok
pajak yaitu sebesar 25% dari pokok pajak.
SKP ini bedasarkan data yang ada pada Direktorat Jenderal Pajak memuat
penetapan objek pajak dan besarnya pajak yang terhutang beserta denda
administrasi yang dikenakan kepada wajib pajak.
f. Jumlah pajak yang terhutang dalam SKPKB sebagaimana dimaksud dalam
huruf d point kedua, adalah selisih pajak yang terhutang berdasarkan hasil
pemeriksaan atau keterangan lain dengan pajak yang terhutang yang
dihitung berdasarkan SPOP ditambah denda administrasi sebesar 25% dari
selisih pajak yang terhutang.
13. Tata Cara Pembayaran Dan Penagihan
a. Pajak yang terhutang berdasarkan SPPT harus dilunasi selambat-
lambatnya 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh wajib
pajak.
b. Pajak yang terhutang berdasarkan SKP harus dilunasi selambat-lambatnya
1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya SKP oleh wajib pajak.
c. Pajak yang terhutang yang pada saat jatuh tempo pembayarannya tidak
dibayar atau kurang dibayar, dikenakan denda administrasi sebesar 2%
(dua persen) sebulan, yang dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan
hari pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 bulan.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

d. Denda administrasi sebagaimana dimaksud dalam huruf c di atas,
ditambah dengan utang pajak yang belum atau kurang dibayar ditagih
dengan surat Tagihan Pajak (STP) yang harus dilunasi selambat-
lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya STP oleh wajib Pajak.
e. Pajak yang terutang dapat di bayar di BANK, Kantor Pos, dan Giro, dan
tempat lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
f. Tata cara pembayaran dan penagihan pajak di atur oleh Menteri
Keuangan.
g. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat Ketetapan Pajak, dan
Surat Tagihan Pajak (SPT) merupakan dasar penagihan pajak.
h. Jumlah pajak yang terutang berdasarkan STP yang tidak dibayarkan pada
waktunya dapat ditagih dengan surat paksa.
Dalam hal tagihan pajak yang terutang dibayar setelah jatuh tempo yang telah
ditentukan, penagihannya dilakukan dengan surat paksa yang saat ini
berdasarkan UU no.19 tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan UU
no.19 tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan surat paksa.
14. Pembagian Hasil Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan.
Hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan merupakan penerimaan Negara
(dalam hal ini Pemerintah Pusat) dan disetor sepenuhnya ke rekening kas
Negara. Namun demikian, penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan akan dibagi
untuk pemerintah Pusat dan Daerah dengan imbangan sebagai berikut :
a. 10% (sepuluh persen) untuk Pemerintah Pusat

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

b. 90% (sembilan puluh persen) untuk Perintah Daerah
Jumlah 10% bagian Pemerintah Pusat dibagikan kepada seluruh wilayah
kabupaten dan kota yang didasarkan atas realisasi penerimaan PBB tahun
anggaran berjalan dengan imbangan sebagai berikut :
a. 65% dibagikan secara merata kepada selurh wilayah kabupaten dan kota,
dan
b. 35% dibagikan secara intensif kepada daerha kabupaten dan kota yang
realisasi tahun sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan
sector tertentu
Jumlah 90% bagian Pemerintah daerah dibagi dengan rincian sebagai
berikut :
a. 16,5% untuk daerah Provinsi yang bersangkutan dan disalurkan ke
rekening Kas Umum Daerah Provinsi
b. 64,8% untuk Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan disalurkan
ke Rekening Kas Umum Daerah Kabupaten/Kota
c. 9% untuk Biaya Pemungutan yang dibagikan kepada Direktorat Jenderal
Pajak dan Daerah
Khusus untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 90% dari hasil
penerimaan tersebut merupakan penerimaan bagian Daerah yang dibagikan
dengan rincian sebagai berikut :
a. 16,2% untuk Daerah Provinsi, yang dibagi dengan imbangan :

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

- 30% untuk biaya pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
dan disalurkan melalui rekening khusus dana pendidikan
- 70% untuk Daerah Provinsi dan disalurkan melalui Rekening Kas
Daerah Provinsi
b. 64% untuk Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan, yang dibagi
dengan imbangan :
- 30% untuk biaya pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
dan disalurkam melalui rekening khusus dana Pendidikan
- 70% untuk Daerah Kabupaten/Kota dan disalurkanmelalui rekening
kas Daerah Kabupaten/Kota
c. 9% untuk biaya pemungutan yang dibagikan kepada Direktorat
Jenderal Pajak dan Daerah











Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

BAB IV
EVALUASI DAN ANALISIS DATA

A. Evaluasi
1. Penjelasan Tentang Sistem Pendataan
Pendataan objek pajak PBB dilakukan karena data grafis pada peta desa,
peta garis dan peta foto mengalami banyak perubahan, seperti batas desa,
kelurahan, batas persil atau bidang objek pajak.
Sistem Pendataan Objek Pajak dapat dilakukan dengan 4 (empat)
alternative, yaitu :
a. Penyebaran SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak)
Sistem ini hanya dapat dilakukan pada daerah / wilayah yang tidak / belum
mempunyai peta, terpencil dan mempunyai potensi PBB yang relatif kecil.
b. Identifikasi Objek Pajak
Sistem ini dilakukan pada daerah / wilayah yang sudah memiliki peta garis /
peta foto yang dapat menetukan posisi relative objek pajak, namun tidak
mempunyai data administrasi pembukuan PBB hasil pendataan 3 (tiga) tahun
terakhir secara lengkap.
c. Verifikasi Obejk Pajak
Sistem ini dilakukan pada daerah / wilayah yang sudah memiliki peta garis /
peta foto dan sudah mempunyai data administrasi pembukuan PBB hasil
pendataan 3 (tiga) tahun terakhir.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

d. Pengukuran Bidang Objek Pajak
Sistem ini dilakukan pada daerah / wilayah yang hanya memiliki sket desa /
kelurahan, sehingga belum dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif
objek pajak, namun letaknya strategis dan mempunyai potensi PBB yang
pesat.
2. Sistem Pendataan Yang digunakan Dalam PKLM
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh pada tahun anggaran 2009 akan
terus melanjutkan kegiatan Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi
dan Bangunan dalam rangka menyediakan Nilai Jual Objek PAjak (NJOP) yang
berkualitas di tahun-tahun mendatang. Hal tersebut merupakan antisipasi terhadap
perkembangan dan pertumbuhan wilayah perkotaan Daerah Nanggroe Aceh
Darussalam, khususnya Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya dan Nagan Raya. Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh wilayah kerjanya meliputi kab. Aceh Barat, kab.
Aceh Jaya dan kab. Nagan Raya yang telah memiliki Basis Data SISMIOP (Sistem
Manajemen Informasi Objek Pajak) sejak tahun 1993 / 1994 baik berupa data
atributik, maupun data grafis yang telah diterapkan dalam penetapan PBB hingga saat
ini.
Daerah Aceh Barat, Nagan Raya serta Aceh Jaya merupakan kota kecil di
Indonesia, pertumbuhan ekonomi serta perkembangan perkotaannya tidak begitu
pesat. Wilayah pedesaannya lebih luas dibanding perkotaan. Jumlah Populasi
penduduknya sedikit. Masih banyak wilayah di pedesaan yang belum ditempati.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Sehingga perubahan dan peralihan kepemilikan, peruntukan tanah dan bangunan
sangat jarang terjadi.
Atas pertimbangan-pertimbanngan diatas maka alternatif kegiatan pendataan
yang dipilih adalah Pendataan dengan Pengukuran Objek Pajak.
Pengukuran Objek Pajak yaitu pendataan yang dilakukan pada daerah / wilayah yang
hanya memiliki sket desa / kelurahan, sehingga belum dapat digunakan untuk
menentukan posisi relatif objek pajak, namun letaknya startegis dan mepunyai potensi
PBB yang pesat. (http://www.layanan pajak.com)
Yaitu melihat target dan realisasi Objek Pajak di desa-desa tertentu. Disamping
memperbaiki / memutahirkan data sesuai dengan kondisi di lapangan saat ini, melalui
kegiatan ini juga dapat meningkatkan kualitas NJ OP-PBB dan meningkatkan
penghasilan pajak dibagian PBB. Dan telah dibuktikan pendataan dengan cara
pengukuran bisa menambah penerimaan Negara lebih besar.










Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

3. Lokasi yang dipilih dalam kegiatan pendataan dengan pengukuran objek
pajak dan subjek pajak yaitu di kab. Aceh Barat adalah sebagai Berikut :
Tabel 2
No Kecamatan Kelurahan Keterangan
1 Kawai XVI Pasi Teungoh
Tanjong Bunga
Pasie Ara
Pasie Kumbang
Teladan
Sawang Teubee
Padang Sikabu

2 Pante Ceureumen Tegal Sari
Krueng Beukah
Gunong Tarok
Suak Awe
Babah Krueng Teplep
Lhok Sari
Sawang Rambot
Lhok Guci
Keude Suak Awe
Meunuang Kinco
Seumara
Manjeng
Pante Ceureumen
Pulo Teungoh

3 Panton Reu Gunong Mata Ie
Lek-lek
Gampong Baro
Manggie

Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh
Pelaksanaan pendataan dengan pengukuran objek pajak di desa-desa yang
direncanakan, telah memiliki administrasi pembukuan Pajak Bumi dan Bangunan
hasil SISMIOP yang dilaksanakan pada tahun 1993.





Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

4. Data Tentang Rencana pencapaian Objek Pajak Bumi dan Bangunan pada
tahun 2008

Tabel 3

No Kelurahan
Objek Pajak Luas
Ke
t
Sebelum Rencana Bumi
(m2)
Banguna
n
(m2)
1 Pasie Teungoh 295 450 561,930 250
2 Tanjong Bunga 188 450 1,478,075 1,241
3 Pasie Ara 206 525 504,705 1,208
4 Pasie Kumbang 269 550 1,594,660 5,644
5 Teladan 85 400 122,255 -
6 Sawang Teubee 292 550 886,094 3,454
7 Padang Sikabu 258 575 923,045 2,953
8 Tegal Sari 196 375 588,894 56
9 Krueng Beukah 162 400 1,072,090 438
10 Gunong Tarok 94 375 206,915 1,857
11 Suak Awe 168 400 525,592 -
12 Babah Krueng Teplep 224 475 1,453,412 2,549
13 Lhok Sari 122 350 151,740 145
14 Sawang Rambut 196 400 618,651 -
15 Lhok Guci 231 500 681,675 54
16 Keude Suak Awe 87 400 134,500 -
17 Meunuang Kinco 384 600 1,190,833 216
18 Seumara 209 400 719,922 218
19 Manjeng 254 450 727,060 180
20 Pante Ceureumen 218 475 692,239 428
21 Pulo Teungoh 505 650 1,352,240 -
22 Gunong Mata Ie 133 350 971,023 -
23 Lek-lek 170 400 849,711 96
24 Gampong Baro 281 425 1,954,915 96
25 Manggie 296 450 1,542,842 311
Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh

Dari gambaran data tersebut di atas, rencana pencapaian objek pajak sangat
tinggi. Dan rencana pencapaian target tersebut sangat diharapakan tercapai. Agar
dapat meningkatkan kualitas NJOP-PBB. Oleh karena itu ditetapkan terhadap desa-
desa tersebut diprioritaskan untuk diadakan pengukuran Objek dan Subjek Pajak
Bumi dan Bangunan tahun 2008/2009 berdasarkan basis data SISMIOP

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

5. Klasifikasi NJOP PBB
Tahun anggaran 2008/2009 hanya diadakan Analisa dan penyempurnaan Zona
Nilai Tanah (ZNT) untuk 25 Desa di Kabupaten Aceh Barat termasuk desa-desa yang
diajukan dalam Rencana Kerja Pendataan Objek dan Subjek PAjak Bumi dan
Bangunan 2008
6. Data Tentang Rencana Kenaikan Jumlah Objek Pajak Sebelum Pengukuran
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa yang menjadi sasaran
pendataan melalui pengukuran di Kabupaten Aceh Barat untuk tahun 2008 adalah 25
desa yang terdapat di 3 kecamatan di kab. Aceh Barat tersebut.
Adapun perincian masing-masing dan rencana peningkatan jumlah objek
pajaknya yang menjadi sasaran pekerjaan pengukuran adalah sebagai berikut :






















Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Tabel 4
Perkiraan Rencana Kenaikan Jumlah Objek Pajak, Luas Bumi, Luas Bangunan, dan Pokok Ketetapan
Sebelum Pelaksanaan Pengukuran Objek Pajak dan Subjek Pajak Tahun 2008


No

Desa
Sebelum Pendataan
Objek Pajak Luas
Pokok Ketetapan
PBB
Sebelum Rencana Bumi Bangunan
1 Pasie Teungoh 295 450 561,930 250

253,397
2 Tanjong Bunga 188 450 1,478,075 1,241

6,162,332
3 Pasie Ara 206 525 504,705 1,208

164,644
4 Pasie Kumbang 269 550 1,594,660 5,644

690,959
5 Teladan 85 400 122,255 -

49,931
6 Sawang Teubee 292 550 886,094 3,454

1,135,155
7 Padang Sikabu 258 575 923,045 2,953

1,180,596
8 Tegal Sari 196 375 588,894 56

214,249
9 Krueng Beukah 162 400 1,072,090 438

371,572
10 Gunong Tarok 94 375 206,915 1,857

92,270
11 Suak Awe 168 400 525,592 -

177,969
12 Babah Krueng Teplep 224 475 1,453,412 2,549

490,183
13 Lhok Sari 122 350 151,740 145

99,912
14 Sawang Rambot 196 400 618,651 -

254,868
15 Lhok Guci 231 500 681,675 54

315,080
16 Keude Suak Awe 87 400 134,500 -

62,771
17 Meunuang Kinco 384 600 1,190,833 216

570,628
18 Seumara 209 400 719,922 218

365,620
19 Manjeng 254 450 727,060 180

349,542
20 Pante Ceureumen 218 475 692,239 428

1,075,088
21 Pulo Teungoh 505 650 1,352,240 -

547,638
22 Gunong Mata Ie 133 350 971,023 -

305,269
23 Lek-lek 170 400 849,711 96

330,505
24 Gampong Baro 281 425 1,954,915 96

719,059
25 Manggie 296 450 1,542,842 311

625,713
Total 5,523 11,375 21,505,018 21,394

16,604,950
Sumber: Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Dari table di atas dapat diketahui jumlah Objek Pajak sebelum Pendataan
berkisar 5,523 ; Target atau rencana Pencapaian Objek Pajak 11,375 ; Luas Bumi
21,505,018 ; Luas Bangunan 21,394 ; da jumlah Pokok Ketetapan PBB adalah
sebesar 16,604,950.



















Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

7. Data Tentang Kenaikan Jumlah Objek Pajak Setelah Pengukuran
Tabel 6
Perkiraan Rencana Kenaikan Jumlah Objek Pajak, Luas Bumi, Luas Bangunan, dan
Pokok Ketetapan PBB Setelah Pelaksanaan Pengukuran Objek Pajak dan Subjek
Pajak Tahun 2008

No Desa

Objek Pajak


Luas Bumi


Luas Bangunan


Pokok Ketetapan PBB

Sebelum Rencana Realisasi % Sebelum Realisasi % Sebelum Realisasi % Sebelum Realisasi %
1 Pasie Teungoh 295 450 467

4 561,930

691,145 23 250

5,182 1,973 253,397

3,301,905

1,203
2 TanjongBunga 188 450 313

(30) 1,478,075 629,052 -57 1,241

2,519

103 6,162,332

4,725,193

(23)
3 Pasie Ara 206 525 416

(21) 504,705

2,171,655 330 1,208 3,870 220 164,644

3,329,906

1,922
4 Pasie Kumbang 269 550 440

(20) 1,594,660 1,469,352 -8 5,644

5,132

(9) 690,959

3,111,003

350
5 Teladan 85 400 107

(73) 122,255

67,941 -44 -

4,213 - 49,931

756,539

1,415
6 Sawang Teubee 292 550 497

(10) 886,094 2,433,961 175 3,454 9,695

181 1,135,155

4,377,730

286
7 Padang Sikabu 258 575 507

(12) 923,045 2,386,071 159 2,953 7,275

146 1,180,596

4,465,813

278
8 Tegal Sari 196 375 309

(18) 588,894 890,767 51 56 6,607

11,698 214,249

2,184,772

920
9 Krueng Beukah 162 400 233

(42) 1,072,090 580,405 -46 438

3,418 680 371,572

2,320,854

525
10 Gunong Tarok 94 375 117

(69) 206,915 392,212 90 1,857 2,520 36 92,270

827,224

797
11 Suak Awe 168 400 273

(32) 525,592 604,862 15 - 6,739 - 177,969

1,930,236

985
12 Babah Krueng Teplep 224 475 203

(57) 1,453,412 732,097 -50 2,549 3,037

19 490,183

1,435,303

193
13 Lhok Sari 122 350 205

(41) 151,740 258,419 70 145

1,330

817 99,912

1,449,444

1,351
14 Sawang Rambot 196 400 385

(4) 618,651 1,429,084 131 - 2,985 - 254,868

2,722,127

968
15 Lhok Guci 231 500 304

(39) 681,675 1,626,425 139 54

275 409 315,080

2,149,420

582
16 Keude Suak Awe 87 400 305

(24) 134,500 875,595 551 -

294 - 62,771

2,156,490

3,335
17 Meunuang Kinco 384 600 588

(2) 1,190,833 4,501,996 278 216 6,246 2,792 570,628

5,179,286

808
18 Seumara 209 400 464

(16) 719,922 2,904,649 303 218

3,131 1,336 365,620

4,013,429

998
19 Manjeng 254 450 410

(9) 727,060 1,633,942 125 180 4,970 2,661 349,542

2,898,889

729
20 Pante Ceureumen 218 475 403

(15) 692,239

1,173,907 70 428

14,239 3,227 1,075,088

4,297,741

300
21 Pulo Teungoh 505 650 597

(8) 1,352,240 2,597,298 92 - 5,266 - 547,638

2,392,196

337
22 Gunong MataIe 133 350 156

(55) 971,023 1,777,568 83 -

274 - 305,269

1,663,642

445
23 Lek-lek 170 400 424

6 849,711 5,378,637 533 96 2,505 2,509 330,505

4,521,693

1,268
24 Gampong Baro 281 425 440

4 1,954,915 4,025,632 106 96 2,685 2,697 719,059

4,692,322

553
25 Manggie 296 450 411

(9) 1,542,842

2,319,142 50 311 4,978

1,501 625,713

2,504,282

300
5,523 11,375 8,974

(21) 21,505,018 43,551,814 103 21,394 109,385

411 16,604,950

73,407,439

342
Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh


Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Setelah dilakukan pendataan jumlah target objek Pajak yang tercapai adalah
8,974 ; Luas Bumi 43,551,814 ; Luas Bangunan 109,385 ; Pokok Ketetapan PBB
73,407,439.
Penerimaan Negara tahun 2008 yaitu 73,407,439. Target penerimaan yaitu
16,604,950. Dapat dilihat penerimaan Negara melebihi target yang direncanakan.
Keuntungan Negara berkisar 56,802,489.

B. Analisa Data
Pada Tabel 4 diketahui jumlah Objek Pajak 5,523 ; target pencapaian Objek
Pajak 11,375 ; Luas Bumi 21,505,018 ; Luas Bangunan 21,394 ; dan pokok ketetapan
PBB 16,604,950. Setelah pendataan jumlah target Objek Pajak yang tercapai adalah
8,974 ; Luas Bumi 43,551,814 ; Luas Bangunan 109,385 ; Pokok Ketetapan PBB
73,407,439.
Setelah dilakukan pendataan jumlah target objek Pajak yang tercapai adalah
8,974 ; Luas Bumi 43,551,814 ; Luas Bangunan 109,385 ; Pokok Ketetapan PBB
73,407,439.
Penerimaan Negara tahun 2008 yaitu 73,407,439. Target penerimaan yaitu
16,604,950. Dapat dilihat penerimaan Negara melebihi target yang direncanakan.
Keuntungan Negara berkisar 56,802,489.
Dari kedua table diatas dapat dianalisa bahwa target yang dicapai melebihi
target yang direncanakan. Hal ini dapat kita lihat dari perubahan table, dimana setelah
pihak Fiskus mengadakan pendataan langsung ke lapangan untuk mengukur

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

kebenaran dari data yang diperoleh. Sehingga dapat dilihat jumlah objek pajak yang
direncanakan melebihi target. Hal ini sangat menguntungkan bagi Negara, karena
pemasukan yang direncanakan melebihi target.
Dari data tersebut diatas juga dapat disimpulkan bahwa sistem pendataan
dengan pengukuran bidang objek pajak dapat dilakukan dengan baik, sehingga dapat
menambah penerimaan Negara dalam hal pajak bumi dan bangunan.
Dari hasil penelitian penulis akan membahas tujuan dari penelitian yang
disebutkan pada bab I :
1. Untuk mengetahui sistem pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan pada
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh.
System pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan yang digunakan pada Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh dalam hal judul yang dibahas penulis adalah
Pendataan dengan Pengukuran.
Karena diketahui dengan system ini pemasukan Negara lebih meningkat
dibandingkan system lain.
2. Ingin mengetahui masalah-masalah apa saja yang dihadapati oleh fiskus di dalam
melaksakan sistem pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan.
System pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan sulit dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku karena beberapa hal yaitu :
a. Masih ada tanah (bumi) yang tidak jelas siapa pemilik dari tanah tersebut. Dan
apabila pihak Fiskus telah mengeluarkan SPPT (surat Pemberitahuan Pajak
Terhutang), maka siapa yang akan membayar pajak terhutang atas lokasi

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

tanah yang telah dikenakan pajak tersebut tidak jelas juga. Sehingga akan
menimbulkan pajak yang tertunda dan mengurangi pemasukan Negara.
Maka sebaiknya pihak Fiskus perlu untuk membuat suatu papan
pemberitahuan akan menyita tanah lokasi (Bumi) apabila pemilik tanah
tersebut tidak melapor ke Kantor Pelayanan Pajak
b. Didalam pelaksanaan pendataan ke lokasi kelurahan, para fiskus dibantu oleh
Kepala Lurah atau Kepala Lingkungan setempat. Kendala yang sering
dihadapi yaitu pada saat Fiskus ingin mendata lokasi, mereka (Kepala Lurah
atau Kepala Lingkungan) tidak dapat turun serta ke lapangan untuk
memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para Fiskus, maka mereka
memberikan salah satu staf mereka sebagai perwakilan, sementara perwakilan
mereka tidak dapat memberikan informasi yang lebih akurat.
c. Hal lain juga pihak Fiskus tidak dapat bertemu Kepala Lurah atau Kepala
Lingkungan setempat karena mereka bekerja pada kegiatan mereka masing
masing di Kantor mereka.
d. Karena daeran pengukuran merupakan daerah yang pernah ditimpa bencana
alam sehingga banyak tanah dan bangunan yang tidak terindentifikasi.
3. Ingin mengetahui tingkat kesadaran wajib pajak dalam melaksanakan
kewajibannya membayar Pajak Bumi dan Bangunan serta faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi kurangnya kesadaran wajib pajak dalam melaksanakan
kewajibannya tersebut.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

Pemahaman dan Pengertian Wajib Pajak tentang Pajak Bumi dan Bangunan
belum maksimal kerena beragamnya tingkat pendidikan di lingkungan
masyarakat. Tetapi sebagian besar pada saat ini pengetahuan masyarakat
mengenai Pajak Bumi dan Bangunan sudah meningkat dan sudah milai mengerti
manfaat dan nilai dari PBB sehingga menyadari bahwa membayar PBB itu adalah
merpakan kewajiban dari tiap Wajib Pajak.
Untuk itu perlu peningkatan tertib administrasi perpajakan sehingga akan
lebih mudah dalam kegiatan penetapan pajaknya maupun dalam rangka pelayanan
kepada masyarakat.
Peningkatan Ketetapan Pajak Bumi dan Bangunan antara lain :
1. Peningkatan Tertib Administrasi.
Pada dasarnya pembentukan basis data dalam SISMIOP antara lain adalah
bahwa seluruh objek pajak didata dan masing-masing bidang pajak diberi Nomor
Objek Pajak (NOP), melalui NOP segala sesuatu yang berhubungan dengan objek
pajak antara lain :
a. Deskripsi tentang objek dan subjek pajak.
b. Perubahan / mutasi objek dan subjek pajak
c. Pembayaran / pelunasan pajak terhutang.
d. Informasi lain untuk bahan analisa data
e. Dan lain sebagainya
Diharapkan dapat dimonitor dan atau diperoleh dengan cepat.


Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

2. Peningkatan Pelayanan Kepada Masyarakat.
Dengan dilaksanakan pemeliharaan basis data ini, diharapkan agar pengenaan
PBB lebih sesuai dengan keadaan objek dan subjek pajak dilapangan. Akurasi data
yang diperoleh dilapangan ini dapat meningkatkan dan lebih mencerminkan azas
keasilan dalam pemungutan pajak. Disamping itu keakurasian data sangat penting
peranannya dalam pelayanan kepada masyarakat. Data yang akurat dan didukung
oleh pengolahan basis data yang terintregasi dengan bantuan computer SISMIOP
dapat memberikan informasi dan hasil kelurahan atau desa yang berhubungan dengan
Pajak Bumi dan Bangunan dengan cepay, tepat dan akurat.
3. Penigkatan Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan.
Pelayanan yang cepat dan memadai dalam rangka peningkatan dibidang
perpajakan, diharapkan akan semakin mempermudah bagi masyarakat, khususnya
wajib pajak Pajak Bumi dan Bangunan untuk memenuhi kewajibannya dibidang
perpajakan terutama hal pembayaran / pelunasan pajak terhutang.
Dengan semakin mudahnya para wajib pajak, khususnya Pajak Bumi dan
Bangunan melunasi hutang pajaknya maka diharapkan penerimaan Pajak Bumi dan
Bangunan semaki meningkat. Konskewensi logis dari peningkatan penerimaan Pajak
Bumi dan Bangunan tersebut, antara lain adalah semakin meningkatnya dana
pembayaran yang tersedia, sehingga pemerintah akan dapat melaksanakan
pembayaran dengan baik.



Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

C. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi
dan Bangunan
Pelaksanaan pendataan Objek PBB dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama
yang berhubungan dengan program SISMIOP (Sistem Manajemen Informasi Objek
Pajak). Berdasarkan Keputusan DJP No. Kep.-31/PJ.06/1994 ditetapkan bahwa
SISMIOP tersebut terdiri dari 5 subsistem dan 5 unsur poko. Namun dalam kaitannya
dengan pelaksanaan system pendataan, perlu diketahui sejauh mana hubungannya dan
juga pengaruhnya dalam penetapan jumlah pajak.
Kelima subsistem SISMIOP, yaitu :
1. Manajemen Basis Data
Dalam hubungannya dengan sistem pendataan meliputi hal bagaimana
memproses data awal secara efektif sehingga dapat memenuhi sasaran yaitu
memepengaruhi penigkatan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Penilaian dan Pengenaan
Hubungannya dengan pelaksanaan sistem pendataan yaitu mencakup hal
bagaimana mengelompokkan data yang ada untuk dinilai objek pajaknya
sesuai dengan klasifikasi yang telah ditentukan sehingga tepat dalam
penetapan jumlah pajak yang harus dibayar.
3. Produksi Alat Penagihan
Dalam hubungannnya dengan sistem pendataan yaitu, bagaimana Fiskus
menata / menghasilkan data yang sebenarnya sesuai antara yang dilaporkan
dengan keadaan di lapangan sehingga apabila terhambat pembayarannnya

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

dapat diajdikan sebagai dasar penagihan yang dilampiri dengan surat lain yang
berhubungan.
4. Pemantauan Penerimaan
Hubungannya dengan pendataan yaitu pihak pendataan perlu memantau
pembayaran dan penerimaan PBB untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan
pendataan tersebut telah berjalan dengan baik, sehingga wajib pajak berkenan
melaksanakan kewajiban membayar pajak PBB sesuai dengan data Objek
Pajak yang dimiliki yang telah ditetapkan berdasarkan klasifikasinya.
5. Perolehan dan Pemberian Informasi / Pelayanan Satu Tempat
Dalam hal perolehan dan pemberian informasi / pelayanan satu tempat
hubungannya dengan sistem pendataan yaitu bagaimana pihak Fiskus mampu
menunjukkan informasi data yang sebenarnya apabila diminta, atau
memberikan pelayanan kepada wajib pajak yang membutuhkan agar wajib
pajak bersedia melaporkan data objek pajaknya sehingga meingankan
pekerjaan pendata dalam mencek data yang belum masuk ataupun data yang
masuk maupun keluar.
Disamping itu 5 (lima) unsur pokok SISMIOP yang telah dikemukakan yang
mempengaruhi system pendataan, yaitu:
a. Nomor Objek Pajak
Yaitu nomor yang dibuat sebagai identitas objek pajak untuk memudahkan
dalam pengindentifikasian atau dalam membedakan objek pajak yang satu

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

dengan objek pajak yang lain sehingga dalam system pendataannya tidak
terjadi tumpang tindih.
b. Blok
Hubungannya dengan pendataan yaitu untuk memudahkan dalam pelaksanaan
pendataan terhadap suatu objek pajak, baik itu dalam administrasi data
maupun untuk mengontrol pelaksanaan pendataan di lapangan, maka setiap
objek pajak harus dibatasi oleh suatu blok, diman satu blok tersebut dirancang
untuk dapat menampung kira-kira 200 objek pajak atau luas sekitar 15 ha
untuk sector pedesaan dan 10 ha untuk sector perkotaan.
c. Zona Nilai Tanah (ZNT)
Hubungannya dengan system pandataan yaitu dalam hal pelaksanaannya,
bahwa pendataan suatu wilayah objek pajak harus memperhatikan Zona Nilai
Tanah (ZNT) sebagai zona geografis yang terdiri dari sekelompok objek pajak
yang mempunyai nilai indikasi rata-rata (NIR) sama, yang dibatasi oleh batas
penguasaan / pemilikan objek pajak dalam satu wilayah administrasi
pemerintah dalam satu desa / kelurahan.
d. Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB)
Pada dasarnya pelaksanaan pendataan berhubungan dengan proses penentuan
klasifikasi suatu objek pajak baik itu bumi dan / atau bangunan sebagai dasar
untuk menentukan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dalam penetapan jumlah
pajak. Untuk itu Fiskus atau petugas pendataan memerlukan suatu daftar biaya
komponen bangunan (DBKB) untuk memudahkan perhitungan perkiraan nilai

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

suatu bangunan berdasarkan biaya yang terdiri dari biaya komponen utama,
biaya komponen material bangunan dan biaya komponen fasilitas bangunan.
e. Prgram Komputer
Dalam suatu proses kegiatan dibutuhkan suatu system rancangan yang efektif
dan efesien sehingga memudahkan dalam proses pelaksanaan. Begitu juga
dengan pelaksanaan pendataan dalam upaya untuk melaksanakan kegiatan
SISMIOP diperlukan suatu system operasi computer yang mampu
mengintergrasikan kegiatan administrasi PBB mulai dari pembentukan basis
data sampai dengan pelayanan kepada wajib pajak.
Sejauh hal tersebut yakni kelima subsistem dan kelima unsur pokok
dapat berjalan dengan baik maka usaha untuk melaksanakan system pendataan
dapat juga berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.











Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Sistem Pendataan dengan cara pengukuran bidang objek pajak dapat berjalan
dengan baik dan lancer sehingga dapat menambah penerimaan pajak bagi
Negara.
2. Sistem pendataan dengan pengukuran dilakukan karena daerah yang menjadi
lokasi pendataan mengalami banyak perubahan setelah terjadi bencana alam,
seperti berubahnya batas desa / kelurahan, batas persil atau bidang objek
pajak, jadi perlu diadakan pendataan ulang.
3. Pajak Bumi dan Bangunan merupakan pajak Negara yang bersifat kebendaan
yang umumnya tidak memperhatikan keadaan wajib pajak tetapi hanya
memperhatikan objek pajaknya saja.
4. Hasil penerimaan PBB sebagian besar diserahkan ke Pemerintah Daerah
sebagai pendapatan daerah yang setiap tahun anggaran dicantumkan dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
5. Masih banyak jumlah Objek Pajak PBB, Luas Bumi dan Bangunan, yang
belum terdaftar pada pendataan, hal tersebut dapat dilihat dilihat dari
perkiraan kenaikan jumlah objek pajak, luas bumi dan bangunan setelah
dilakukan pelaksanaan pengukuran objek pajak dan subjek Pajak Bumi dan
Bangunan.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

6. Terjaringnya data objek pajak baru yang mengalami perubahan.
7. Kurangnya penyuluhan dari petugas pendataan dan penilaian dalam
melakukan pendataan objek Pajak Bumi dan Bangunan

B. Saran
1. Dalam melaksanakan kegiatan pendataan, hendaknya pihak Fiskus harus lebih
teliti dalam menyusun data-data yang ada serta perubahan atas objek pajak
yang tidak dilaporkan subjek pajak, serta lebih meningkatkan koordinasi
dengan Pemda dan Instansi yang terkait ; bila perlu petugas lapangan harus
mengadakan pengecekan ulang atas data objek pajak yang sebenarnya.
2. Bagi subjek pajak agar tidak lagi komplain atas data objek pajaknya
hendaknya melaporkan setiap adanya perubahan atas objek pajak yang dimilki
sehingga pihak Fiskus tidak mengalami kesulitan dalam melakukan pendataan
dan penetapan jumlah pajak.
3. Untuk meningkatkan penerimaan PBB tersebut Fiskus perlu memberikan
suatu pelayanan yang baik bagi subjek pajak dan penetapan jumlah pajak yang
sesuai dengan data objek pajak yang dimiliki.
4. Dilakukan penyuluhan terhadap wajib pajak oleh Fiskus sebelum dilakukan
pendataan dan penilaian objek Pajak Bumi dan Bangunan.

Cut Putri Isnaini : Sistem Pendataan Objek Pajak Bumi Dan Bangunan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Meulaboh, 2009.

DAFTAR PUSTAKA

Mardiasmo., 2008, Perpajakan Edisi Revisi 2008, Andi, Yogyakarta.

Markus, Muda., 2005 , Perpajakan Indonesia, Gramedia Pustaka Utama.

Marsyahrul, Tony., 2005 , Pengantar Perpajakan, Gramedia Widiasarana Indonesia.

Undang-undang No.12 Tahun 1994, Tentang Pajak Bumi dan Bangunan.

Keputusan Menteri Keunangan RI No.83/KMK.04/2000, tentang Pembagian dan
Penggunaan Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan.

Keputusan Menteri Keuangan RI No.523/KMK.04/1998, tentang Penentuan
Klasifikasi
dan Besarnya Nilai Jual Objek Pajak sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi
dan Bangunan.

Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.Kep-533/PJ/2000, tentang Petunjuk
Pelaksanaan
Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan
Bangunan dalam rangka Pembentukan dan Pemeliharaan Basis Data Sistem
Manajemen Informasi Objek Pajak

http ://www.layanan pajak.com, tentang Sistem Pendataan Objek Pajak.