Anda di halaman 1dari 18

Definisi Appendicitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan

limfoid, dan cacing usus Obstruksi lumen merupakan penyebab utama appendicitis. Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis enelitian !ollin ("##$) di Amerika %erikat pada &.'$$ kasus, ($) ditemukan adanya faktor obstruksi. Obstruksi yang disebabkan hiperplasi jaringan limfoid submukosa *$), fekalith &(), benda asing '), dan sebab lainnya "). (") Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. enyakit ini mengenai semua umur baik laki+laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki+laki berusia "$ sampai &$ tahun (,ansjoer, -$$$). %edangkan menurut %melt.er !. %u.anne(-$$"), Apendisitis adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran ba/ah kanan dari rongga abdomen dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. 0adi, dapat disimpulkan apendisitis adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada umbai apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling sering terjadi.(-) Klasifikasi Appendicitis Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut1 ". Appendicitis Akut a. Appendicitis Akut %ederhana (!ataral Appendicitis) roses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan appendiks obstruksi. dan terjadi %ekresi mukosa menumpuk dalam dalam lumen lumen yang peningkatan tekanan

mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan kemerahan. 2ejala dia/ali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan. ada appendicitis kataral

terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal, hiperemia, edema, dan tidak ada eksudat serosa. b. Appendicitis Akut urulenta (%upurative Appendicitis) Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. 3eadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. ,ikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. ada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. 4itandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik ,c 5urney, defans muskuler, dan ny eri pada gerak aktif dan pasif. 6yeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda+tanda peritonitis umum. c. Appendicitis Akut 2angrenosa 5ila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. %elain didapatkan tanda+tanda supuratif, appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. 4inding appendiks ber/arna ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. ada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen. -. Appendicitis 7nfiltrat Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya. &. Appendicitis Abses Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal,dan pelvic. '. Appendicitis erforasi

Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. ada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik. (. Appendicitis 3ronis Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. 4iagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada ri/ayat serangan nyeri berulang di perut kanan ba/ah lebih dari dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. %ecara histologis, dinding appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia, dan serosa. embuluh darah serosa tampak dilatasi. (-) Etiologi dan Predisposisi Apendisitis akut merupakan merupakan infeksi bakteria. 5erbagai berperan sebagai faktor pencetusnya. %umbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. enyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E.histolytica . enelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. 3onstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman klora kolon biasa. %emuanya ini mempermudah timbulnya apendisitis akut. (%jamsuhidayat, -$$().(-) Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. 5erbagai hal berperan sebagai factor pencetusnya. %umbatan lumen apendiks merupakan faktor

yang diajukan sebagai factor pencetus disamping hyperplasia jaringan limf, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. apendisitis dalam enyebab yang lain yang diduga dapat menyebabkan ialah erosi yang mukosa apendiks adalah karena parasit seperti dan

E.histolytica . 6amun menurut E. Os/ari, kuman yang sering ditemukan apendiks meradang Escherichia coli %treptococcus (E. Os/ari, -$$$).(") ara ahli menduga timbulnya apendisitis ada hubungannya dengan gaya hidup seseorang, kebiasaan makan dan pola hidup ayang tidak teratur dengan badaniah yang bekerja keras. enelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. %emuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut. (") Epidemiologi 7nsiden apendisitis akut di 6egara maju lebih tinggi daripada di 6egara berkembang ( ieter,-$$(). 3ejadian ini mungkin disebabkan akibat perubahan pola makan di 6egara berkembang yang banyak mengkonsumsi makanan berserat. 4i Amerika %erikat populasinya "" kasus per "$.$$$ populasi tiap tahun, dimana terjadi penurunan jumlah kasus dari "$$ kasus menjadi (- kasus tiap "$$.$$$ penduduk dari tahun "#8(+"##"(0affe dan 5erger, -$$(). 4i 7ndonesia insidens apendisitis akut jarang dilaporkan. 7nsidens apendisitis akut pada pria berjumlah -'- sedang kan pada /anita jumlahnya -"9 dari keseluruhan '*$ kasus (:uchiyat dkk,"###). Tahun -$$9, insiden apendisitis mengalami peningkatan. ;al ini diakibatkan karena peningkatan konsumsi junk food dari pada makanan berserat. Apendisitis kronik insidennya hanya " + ( ). 4i :% A4 2atot %oebroto pada tahun -$$#, menurut hasil patologi anatomi, tercatat dari "$9

penderita apendisitis hanya "& orang saja yang menderita apendisitis kronik. 4ata epidemiologi apendisitis jarang terjadi pada balita, insidennya hanya "). Apendisitis mengalami peningkatan pada masa pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan a/al -$+an, sedangkan penderita apendisitis mengalami penurunan menjelang de/asa ( ieter, -$$(). 7nsiden apendisitis sama banyaknya antara /anita dan laki+laki pada masa prapuber, sedangkan pada masa remaja ratio laki + laki 1 perempuan menjadi &1- dan pada usia diatas -( tahun ratio ini menjadi "1"(Telford, !ondon, "##*). 7nsiden apendisitis pada laki < laki tertinggi pada umur "$ < "' tahun (-8.*) per "$.$$$ penduduk), sementara pada /anita insiden tertinggi pada umur "( < "# tahun (-$,() per "$.$$$ penduduk) (5ernard = 4avid, -$$(> douglas = david, -$$(.(&) Apendisitis akut merupakan keadaan yang sering terjadi dan membutuhkan operasi kega/atan perut pada anak. 4iagnosis apendisitis akut sulit pada anak, tetapi dapat memberikan angka perforata &$+*$). ?ima puluh persen anak dengan apendisitis perforata diketahui oleh dokter sebelum didiagnosis. :isiko untuk perforata terbanyak pada umur "+' tahun (8$+8()) dan terendah pada remaja &$+'$) (;artman, -$$$). 7ndividu memiliki risiko sekitar 8) untuk apendisitis selama hidup mereka. 7nsidensi apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang . @alaupun alasan untuk perbedaan ini tidak diketahui, faktor risiko yang potensial adalah diet rendah serat dan tinggi gula, ri/ayat keluarga, serta 7nfeksi (,a..iotti, -$$9). %ekitar 9$.$$$ anak pernah menderita apendisitis di Amerika %erikat setiap tahun, di mana terjadi ' per "$$$ anak di ba/ah "' tahun. 3ejadian apendisitis meningkat dengan bertambahnya umur, memuncak pada remaja, dan jarang terjadi pada anak kurang dari " tahun (;artman, -$$$). 5erdasarkan @orld ;ealth Organi.ation (-$$-), angka mortalitas akibat apendisitis adalah -".$$$ ji/a, dimana populasi laki+laki lebih banyak dibangdingkan perempuan. Angka mortalitas apendisitis sekitar

"-.$$$ ji/a pada laki < laki dan pada perempuan sekitar "$.$$$ ji/a. ,enurut !raig (-$"$), apendisitis perforata sering terjadi pada umur diba/ah "9 tahun ataupun diatas ($ tahun. 7nsidensi apendisitis pada laki+ laki lebih besar ",' kali dari perempuan. :asio laki < laki dan /anita sekitar -1". Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. 5anyak hal dapat sebagai faktor pencetusnya, diantaranya sumbatan lumen apendiks, hiperplasia jaringan limf, fekalit (faeAB tinja, lithosB batu), tumor apendiks, dan berupa erosi mukosa oleh cacing askaris dan E.histolytica. enelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. 3onstipasi menaikkan tekanan intrasekal, menyebabkan sumbatan fungsional apendiks, dan meningkatkan pertumbuhan flora kolon. %emuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut ( ieter, -$$(). Cntuk kejadian apendisitis di 7ndonesia khususnya di ,edan, penulis tidak menemui referensi valid yang menyatakan jumlah maupun perbandingan penderita apendisitis, terkhusus apendsitis perforata di kelompok umur $ tahun sampai "' tahun. (') Manifestasi Klinik Apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat. nyeri kuadran ba/ah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. ada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapatdirasakan pada kuadran kanan ba/ah pada titik ,c.5urney yang berada antara umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior. 4erajat nyeri tekan, spasme otot dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. 5ila apendiks melingkar dibelakang sekum , nyeri dan nyeri tekan terasa didaerah lumbal. 5ila ujungnya ada pada pelvis, tanda+tanda ini dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. nyeri pada defekasi menunjukkan ujung apendiks berada dekat rektum . nyeri pada saat berkemih menunjukkan bah/a ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian ba/ah otot rektus

kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran ba/ah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan ba/ah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi menyebar. 4istensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi pasien memburuk. ada pasien lansia, tanda dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi. Tanda+tanda tersebut dapat sangat meragukan, menunjukkan obstruksi usus atau proses penyakit lainnya. asien mungkin tidak mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur apendiks. 7nsidens perforasi pada apendiks lebih tinggi pada lansia karena banyak dari pasien+pasien ini mencari bantuan pera/atan kesehatan tidak secepat pasien+pasien yang lebih muda (%melt.er !. %u.anne, -$$-). (-) Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. 2ejala klasik apendisitis ialah nyeri samar +samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. 3eluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Cmumnya nafsu makan menurun. 4alam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan ba/ah ke titik ,c. 5urney. 4isini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. 3adang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi (%jamsuhidajat, 4e 0ong, -$$') 5ila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, karena letaknya terlindung oleh sekum, tanda nyeri perut kanan ba/ah tidak begitu jelas dan tidak tanda rangsangan peritoneal. :asa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal (%jamsuhidajat, 4e 0ong, -$$'). Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan

berulang + ulang. 0ika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing karena rangsangan dindingnya (%jamsuhidajat, 4e 0ong, -$$'). (") Pemeriksaan Diagnostik 4iagnosa yang dilakukan antara lain1 a.". emeriksaan Disik a.".". 7nspeksi pada appendicitis akut tidak ditemukan gambaran yang spesifik dan terlihat distensi perut. a.".-. alpasi pada daerah perut kanan ba/ah, apabila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. 6yeri tekan perut kanan ba/ah merupakan kunci diagnosa appendicitis. ada penekanan perut kiri ba/ah akan dirasakan nyeri pada perut kanan ba/ah yang disebut tanda :ovsing (:ovsing %ign). Apabila tekanan di perut kiri ba/ah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan ba/ah yang disebut tanda 5lumberg (5lumberg %ign). a.".&. emeriksaan rektum pemeriksaan ini dilakukan pada appendicitis untuk menentukan letak appendiks apabila letaknya sulit diketahui. 0ika saat dilakukan pemeriksaan ini terasa nyeri, maka kemungkinan appendiks yang meradang terletak di daerah pelvic. a.".'. emeriksaan uji psoas dan uji obturator pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui letak appendiks yang meradang. Cji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas le/at hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. 5ila appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. ada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. 5ila appendiks yang meradang kontak dengan obturator

internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. a.-. emeriksaan enunjang a.-.". ?aboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan !+reactive protein (!: ). ada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara "$.$$$+"9.$$$Emm (leukositosis) dan neutrofil diatas 8(), sedangkan pada !: ditemukan jumlah serum yang meningkat. !: adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat '+* jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas !: yaitu 9$) dan #$). a.-.-. :adiologi, terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (C%2) dan !omputed Tomography %canning (!T+scan). ada pemeriksaan C%2 ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan !T+scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi C%2 #$+#') dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 9() dan #-), sedangkan !T+ %can mempunyai tingkat akurasi #'+"$$) dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu #$+ "$$) dan #*+#8). a.-.-." C%2 Cltrasonografi telah banyak digunakan untuk diagnosis apendisitis akut maupun apendisitis dengan abses. Apendiks yang normal jarang tampak dengan pemeriksaan ini. Apendiks yang meradang tampak sebagai lumen tubuler, diameter lebih dari * mm, tidak ada peristaltik pada penampakan longitudinal, dan gambaran target pada penampakan transversal. 3eadaan a/al apendisitis akut ditandai dengan perbedaan densitas pada lapisan apendiks, lumen yang utuh, dan diameter # <"" mm. 3eadaan apendiks supurasi atau gangren ditandai dengan distensi lumen oleh cairan, penebalan dinding apendiks dengan atau tanpa

apendikolit. 3eadaan apendiks perforasi ditandai dengan tebal dinding apendiks yang asimetris, cairan bebas intraperitonial, dan abses tunggal atau multiple (5edah C2,, -$$#). (&) .Cltrasound dapat mengidentifikasi appendik yang membesar atau abses. @alaupun begitu, appendik hanya dapat dilihat pada ($) pasien selama terjadinya appendisitis. Oleh karena itu, dengan tidak terlihatnya apendiks selama ultrasound tidak menyingkirkan adanya appendisitis. ;asil C%2 dapat dikategorikan menjadi normal, non spesifik, kemungkinan penyakit kelainan lain, atau kemungkinan appendik. ;asil C%2 yang tidak spesifik meliputi adanya dilatasi usus, udara bebas, atau ileus (5edah C2,, -$$#) (&) a.-.-.- !omputed Tomography %canning (!T+%can) ada keadaan normal apendiks, jarang tervisualisasi dengan pemeriksaan skening ini. 2ambaran penebalan dinding apendiks dengan jaringan lunak sekitar yang melekat, mendukung keadaan apendiks yang meradang. !T+%can sangat baik untuk mendeteksi apendiks dengan abses atau flegmon.(&) ada pasien yang tidak hamil, !T+scan pada daerah appendik sangat berguna untuk mendiagnosis appendisitis dan abses periappendikular sekaligus menyingkirkan adanya penyakit lain dalam rongga perut dan pelvis yang menyerupai appendicitis (5edah C2,, -$$#) (&) a.-.-.& ?aparoskopi (?aparoscopy) 4ibidang bedah, laparoskopi dapat berfungsi sebagai alat

diagnostik dan terapi . 4isamping dapat mendiagnosis apendisitis secara langsung, laparoskopi juga dapat Cltrasonografi !T+%can %ensitivitas 9() digunakan untuk melihat keadaan organ intraabdomen lainnya. ;al ini sangat bermanfaat terutama pada pasien /anita. laparoskopi diagnostik biasanya dilanjutkan laparoskopi (%mink = %oybel, -$$() ada apendisitis akut dengan apendektomi

a.-.&. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut ba/ah. a.-.'. engukuran en.im hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas. a.-.(. %erum 5eta ;uman !horionic 2onadotrophin (5+;!2) untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan. a.-.*. sekum. emeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi emeriksaan 5arium enema dan !olonoscopy merupakan emeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda

pemeriksaan a/al untuk kemungkinan karsinoma colon. a.-.8. pasti appendicitis,tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.

(")

Penatalaksanaan embedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan 7F diberikan serta pasien diminta untuk membatasi aktivitas fisik sampai pembedahan dilakukan ( akhyar yayan,-$$9 ). Analgetik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan diba/ah anestesi umum umum atau spinal, secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. 5ila apendiktomi terbuka, insisi ,c.5urney banyak dipilih oleh para ahli bedah. ada penderita yang diagnosisnya tidak jelas emeriksaan laboratorium dan sebaiknya dilakukan observasi dulu.

ultrasonografi bisa dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. 5ila terdapat laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera menentukan akan dilakukan operasi atau tidak (%melt.er !. %u.anne, -$$-). engobatan tunggal yang terbaik untuk usus buntu yang sudah meradangEapendisitis akut adalah dengan jalan membuang penyebabnya (operasi appendektomi). asien biasanya telah dipersiapkan dengan embiusan akan dilakukan oleh ada puasa antara ' sampai * jam sebelum operasi dan dilakukan pemasangan cairan infus agar tidak terjadi dehidrasi. dokter ahli anastesi dengan pembiusan umum atau spinalElumbal.

umumnya, teknik konvensional operasi pengangkatan usus buntu dengan cara irisan pada kulit perut kanan ba/ah di atas daerah apendiks (%anyoto, -$$8). erbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa nasogastrik perlu dilakukan sebelum pembedahan (%jamsuhidajat, 4e0ong, -$$'). Alternatif lain operasi pengangkatan usus buntu yaitu dengan cara bedah laparoskopi. Operasi ini dilakukan dengan bantuan video camera yang dimasukkan ke dalam rongga perut sehingga jelas dapat melihat dan

melakukan appendektomi dan juga dapat memeriksa organ+organ di dalam perut lebih lengkap selain apendiks. 3euntungan bedah laparoskopi ini selain yang disebut diatas, yaitu luka operasi lebih kecil, biasanya antara satu dan setengah sentimeter sehingga secara kosmetik lebih baik (%anyoto, -$$8).(") Pencegahan Appendicitis encegahan rimer encegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap kejadian appendicitis. Cpaya pencegahan primer dilakukan secara menyeluruh kepada masyarakat. Cpaya yang dilakukan antara lain1 a. 4iet tinggi serat 5erbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi serat dan insidens timbulnya berbagai macam penyakit.;asil penelitian membuktikan bah/a diet tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian penyakit saluran pencernaan.%erat dalam makanan mempunyai kemampuan mengikat air, selulosa, dan pektin yang membantu mempercepat sisa+sisa makanan untuk diekskresikan keluar sehingga tidak terjadi konstipasi yang mengakibatkan penekanan pada dinding kolon. b.4efekasi yang teratur ,akanan adalah faktor utama yang mempengaruhi pengeluaran feces. ,akanan yang mengandung serat penting untuk memperbesar volume feces dan makan yang teratur mempengaruhi defekasi. 7ndividu yang makan pada /aktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan /aktu, respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di kolon. Drekuensi defekasi yang jarang akan mempengaruhi konsistensi feces yang lebih padat sehingga terjadi konstipasi. 3onstipasi menaikkan tekanan intracaecal sehingga terjadi sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya pertumbuhan flora normal kolon. engerasan feces

memungkinkan adanya bagian yang terselip masuk ke saluran appendiks dan menjadi media kumanEbakteri berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan pada appendiks. Pencegahan Sekunder encegahan sekunder meliputi diagnosa dini dan pengobatan yang tepat untuk mencegah timbulnya komplikasi. a. 4iagnosa Appendicitis 4iagnosa yang dilakukan antara lain1 a.". emeriksaan Disik a.".". 7nspeksi pada appendicitis akut tidak ditemukan gambaran yang spesifik dan terlihat distensi perut. a.".-. alpasi pada daerah perut kanan ba/ah, apabila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. 6yeri tekan perut kanan ba/ah merupakan kunci diagnosa appendicitis. ada penekanan perut kiri ba/ah akan dirasakan nyeri pada perut kanan ba/ah yang disebut tanda :ovsing (:ovsing %ign). Apabila tekanan di perut kiri ba/ah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan ba/ah yang disebut tanda 5lumberg (5lumberg %ign). a.".&. emeriksaan rektum pemeriksaan ini dilakukan pada appendicitis untuk menentukan letak appendiks apabila letaknya sulit diketahui. 0ika saat dilakukan pemeriksaan ini terasa nyeri, maka kemungkinan appendiks yang meradang terletak di daerah pelvic. a.".'. emeriksaan uji psoas dan uji obturator pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui letak appendiks yang meradang. Cji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas le/at hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. 5ila appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. ada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada

posisi terlentang. 5ila appendiks yang meradang kontak dengan obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. a.-. emeriksaan enunjang a.-.". ?aboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan !+reactive protein (!: ). ada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara "$.$$$+"9.$$$Emm (leukositosis) dan neutrofil diatas 8(), sedangkan pada !: ditemukan jumlah serum yang meningkat. !: adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat '+* jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas !: yaitu 9$) dan #$). a.-.-. :adiologi, terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (C%2) dan !omputed Tomography %canning (!T+scan). ada pemeriksaan C%2 ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan !T+scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi C%2 #$+#') dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 9() dan #-), sedangkan !T+ %can mempunyai tingkat akurasi #'+"$$) dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu #$+ "$$) dan #*+#8). a.-.&. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut ba/ah. a.-.'. engukuran a.-.(. %erum 5eta ;uman !horionic 2onadotrophin (5+;!2) untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan. en.im hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas.

a.-.*. emeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. emeriksaan 5arium enema dan !olonoscopy merupakan pemeriksaan a/al untuk kemungkinan karsinoma colon. a.-.8. emeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti appendicitis,tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. b. enatalaksanaan ,edi enatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi penanggulangan konservatif dan operasi. b.". enanggulangan konservatif enanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. emberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. ada penderita appendicitis perforasi, sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik. b.-. Operasi 5ila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). enundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. drainage(mengeluarkan nanah). -.#.&. encegahan Tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra+abdomen. 3omplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. 5ila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. asca appendektomi diperlukan pera/atan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra+abdomen. ada abses appendiks dilakukan

3omplikasi 3omplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. 7nsidens perforasi adalah "$) sampai &-). 7nsidens lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. erforasi secara umum terjadi -' jam setelah a/itan nyeri. 2ejala mencakup demam dengan suhu &8,8$ ! atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (%melt.er !.%u.anne, -$$-). 3omplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan letak usus halus (%jamsuhidajat, 4e 0ong, -$$'). 3omplikasi usus buntu juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan, obstruksi usus, abses abdomenEpelvis, dan jarang sekali dapat menimbulkan kematian (!raig, -$""). %elain itu, terdapat komplikasi akibat tidakan operatif. 3ebanyakan komplikasi yang mengikuti apendisektomi adalah komplikasi prosedur intra+abdomen dan ditemukan di tempat+tempat yang sesuai, seperti1 infeksi luka, abses residual, sumbatan usus akut, ileus paralitik, fistula tinja eksternal, fistula tinja internal, dan perdarahan dari mesenterium apendiks (5ailey, "##-). (")

4aftar ustaka :evie/ Cniversitas %umatra Ctara. http1EErepository.usu.ac.idE bitstreamE "-&'(*89#E"#"*-E'E!hapter)-$77.pdf (diakses pada tanggal -& ebruari -$"' pukul -$.$$@75) :evie/ Cniversitas ,uhammadiyah %emarang http1EEdigilib.unimus .ac.idEfilesEdisk"E""$Ejtptunimus+gdl+agustinnur+('("+-+babii.pdf (diakses pada tanggal -& ebruari -$"' pukul -$.$$@75) revie/ Cniversitas C 6 veteran 0akarta http1EE///.library .upnvj.ac.idEpdfE's"kedokteranE-$8&""$"(E5A5)-$77.pdf (diakses pada tanggal -& ebruari -$"' pukul -$.$$@75) :evie/ Cniversitas %umatra Ctara.http1EErepository.usu.ac.idEbitstreamE "-&'(*89#E-&($-E(E!hapter)-$7.pdf (diakses pada tanggal -& ebruari -$"' pukul -$.$$@75)