Anda di halaman 1dari 7

PERCOBAAN III EMULSIFIKASI

I.

Hari/Tanggal Sabtu, 22 Februari 2014

II.

Tujuan a. Menghitung jumlah golongan emulgator surfaktan yang digunakan dalam pembuatan emulsi b. Membuat emulsi dengan emulgator golongan surfaktan c. Mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi d. Menentukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi

III. Alat dan Bahan A. Alat Gelas kimia Gelas ukur Neraca analitik Batang pengaduk Tabung sedimentasi B. Bahan Tween Span Parafin Liquid Aquadest Mortir Stamper Penangas air Cawan uap Penjepit

IV. Prosedur A. Minggu I Menetukan HLB butuh minyak mineral (parafin liq.) pada rentang HLB yang lebar Formula:

Parafin Liq. Tween Span Air ad.

30
5%

100

Buat suatu seri emulsi dengan hubungan butuh masing-masing adalah 4,5, 6,7,8,9,10,11,12,13

Hitung tween dan span yag dibutuhkan untuk masing-masing harga HLB butuh

Timbang tiap formula, campurkan parrafin lig+span, tween+air kemudian panaskan di penangas air

Amati kestabilan selama 1 minggu, catat pada HLB berapa emulsi relative paling stabil

Emulsi yang sudah homogen masukan kedalam tabung sedimentasi, beri tanda HLB

Fase minyak ditambahkan kedalam fase air sedikit-sedikit sambil diaduk dengan pengaduk listrik pada kecepatan dan waktu yang sama (3 menit)

B. Minggu II Penentuan HLB butuh parafin liq. dengan rentang HLB sempit

Tentukan HLB butuh parafiin liq. yang paling stabil yang diperoleh dari percobaan pada minngu I

Misalkan dari perubahan diperoleh 2 nilai HLB, misal 6 dan 12

Lakukan seperti percobaan minggu I

Buat suatu seri emulsi dengan HLB butuh masing-masing adalah 4 s/d 7 dan 10 s/d 13 dengan rentang masingmasing 0,5

V.

Hasil Pengamatan dan Perhitungan A. Perhitungan Jumlah Tween dan Span HLB 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 JUMLAH TWEEN 0,13 0,32 0,79 1,26 1,72 2,19 2,66 3,13 3,59 4,06 JUMLAH SPAN 4,86 4,67 4,20 3,73 3,29 2,80 2,33 1,86 1,40 0,93

B. Pengamatan Stabilitas Emulsi (Volume sedimentasi HLB 10) Pengamatan Hari Ke 1 2 3 4 5 6 7 Volume sedimen (Vu) 40 39,5 39,5 39 39 39 39

Volume Awal (Vo) 100 100 100 100 100 100 100

Nilai F ( 0,40 0,395 0,395 0,39 0,39 0,39 0,39

C. Pengamatan volume sedimen HLB butuh 4-13 (hari ke-7) Volume sedimen (Vu) 36 18 30 35 65 39 39 35 41 50

HLB 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Volume Awal (Vo) 100 100 100 100 100 100 100 75 100 100

Nilai F ( 0,36 0,18 0,3 0,35 0,65 0,39 0,39 0,46 0,41 0,50

VI. Pembahasan Pada percobaan kali ini yaitu Emulsifikasi bertujuan untuk menghitung jumlah golongan emulgator surfaktan yang digunakan dalam pembuatan emulsi, membuat emulsi dengan emulgator golongan surfaktan, mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi, dan menentukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi. Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi yang akan dibuat pada percobaan ini adalah emulsi minyak dalam air. Kestabilan emulsi tergantung dari emulgator yang digunakan. Pada percobaan emulsifikasi ini akan dibuat satu seri emulsi dengan nilai HLB butuh masing-masing 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 dan 13. Bahan yang digunakan adalah minyak dan air, sedangkan

untuk emulgator digunakan emulgator kombinasi surfaktan yaitu Tween 80 dan Span 80 dengan konsentrasi 5%. Untuk fase minyaknya digunakan parafin. Untuk yang pertama menghitung jumlah Tween dan Span yang dibutuhkan untuk setiap nilai HLB butuh mulai dari HLB butuh 4 sampai HLB 13. Namun pada percobaan

ini kami hanya melakukan uji pada nilai HLB butuh 7. Setelah mengetahui jumlah masingmasing Tween dan Span yang dibutuhkan, kemudian memulai untuk membuat emulsinya. Pertama-tama dilakukan penimbangan seluruh bahan, untuk Tween menimbang sebanyak 2,6635 gram, Span 2,3364 gram, dan parafin sebanyak 30 gram. Kemudian parafin dan span yang telah ditimbang dicampurkan dalam cawan penguap. Minyak dicampur dengan span karena span bersifat non polar, hal ini dapat diketahui dari nilai HLB span yang relative rendah yaitu 4,3 sehingga sesuai dengan sifat minyak yang nonpolar.

Selanjutnya, air dicampurkan dengan Tween dan ditempatkan dalam cawan penguap yang lain. Pencampuran Tween dengan air karena nilai HLB Tween relatif tinggi yaitu sebesar 15. Nilai HLB yang tinggi menunjukkan bahwa Tween bersifat polar sehingga dapat bercampur dengan air yang bersifat polar. Kemudian kedua cawan yang telah berisi campuran tersebut dipanaskan di atas penangas air. Setelah dipanaskan, campuran minyak dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam mortir yang telah berisi campuran air , lalu diaduk. Seharusnya dalam proses pengadukan menggunakan pengaduk elektrik. Pengaduk elektrik digunakan untuk

pengadukan campuran karena pengaduk elektrik ini dapat mengaduk dengan kecepatan yang sangat tinggi dimana pada pembuatan emulsi ini diperlukan pengadukan dengan kecepatan tinggi agar fase terdispersi tidak menyatu lagi sehingga terbentuk emulsi yang baik. Terbentuknya emulsi ditandai dengan berubahnya warna campuran menjadi putih susu. Setelah emulsi terbentuk lalu dimasukkan kedalam tabung sedimentasi

dan tambahkan sisa air sampai mencapai volume 100 mL. Selanjutnya, diamati ketidakstabilan emulsi yang terjadi selama 7 hari. Dari hasil pengamatan, setelah emulsi dipindahkan ke dalam tabung sedimentasi semua emulsi mengalami creaming. Creaming merupakan suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbedabeda di dalam emulsi. Terbentuknya creaming menandakan emulsi yang terbentuk tidak stabil. Dan dapat dilihat juga bahwa pada tabung sedimentasi, fase air berada pada bagian bawah, sedangkan fase minyak (parafin) berada pada bagian atas. Hal ini dapat terjadi karena kedua fase ini memiliki BJ yang berbeda. Dimana BJ air yaitu sebesar 1 g/mL lebih besar daripada BJ parafin yaitu sebesar 0,856 gr/mL, sehingga air akan berada pada bagian bawah sedangkan parafin pada bagian atas.

Setelah diamati selama 7 hari, pada emulsi dengan HLB butuh 10 terjadi perubahan volume sedimentasi berturut-turut yaitu 40 ml; 39,5 ml; 39,5 ml; 39 ml; 39 ml; 39 ml; dan 39 ml. Dari data yang telah diperoleh dapat dihitung nilai F nya, yaitu nilai yang menunjukan parameter kestabilan emulsi yang dibuat. Dan didapat nilai F berturut-turut adalah 0,4; 0,395; 0,395; 0,39; 0,39; 0,39; dan 0,39. Apabila nilai F semakin mendekati 1 maka semakin baik pula kestabilan dari emulsi tersebut. Kemudian selanjutnya membedakan ketidakstabilan setiap emulsi dengan HLB butuh dari 4 sampai 13. Setelah pengamatan selama 7 hari didapatkan volume sedimentasi HLB nya berturut-turut yaitu 36 mL, 18 mL, 30 mL, 35 mL, 65 mL, 39 mL, 39 mL, 35 mL, 41 mL, dan 50 mL. Selanjutnya menghitung juga nilai F dari masing-masing emulsi tersebut, dan didapat untuk emulsi HLB 4 nilai F nya sebesar 0,36; HLB 5 F nya 0,18, HLB 6 F nya 0,30; HLB 7 F nya 0,35; HLB 8 F nya 0,65; HLB 9 F nya 0,39; HLB 10 F nya 0,39; HLB 11 F nya 0,35; HLB 12 F nya 0,41 dan dan untuk emulsi dengan HLB butuh 13 nilai F nya adalah 0,50. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa yang memiliki nilai kestabilan emulsi yang paling mendekati niali 1 adalah emulsi dengan HLB butuh 8 yaitu 0,65. Berarti emulsi yang memiliki kestabilan baik bila dibandingkan dengan yang lainnya yaitu emulsi dengan nilai HLB butuh 8. Dari pengamatan juga diperoleh bahwa terjadi penurunan tinggi emulsi dalam tabung sedimentasi, hal ini disebabkan oleh kerapatan fase terdispersi (dalam hal ini minyak) yang lebih besar daripada kerapatan air sehingga endapan cenderung bergerak ke bawah. Ketidakstabilan emulsi juga dapat terjadi karena penggunaan emulgator yang tidak sesuai, selain itu penurunan suhu yang tiba-tiba dapat menyebabkan emulsi menjadi tidak stabil. Penambahan air secara langsung dalam campuran juga mempengaruhi pembentukan emulsi yang tidak stabil.

VII. Simpulan Dari pengamatan dan pembahasan yang telah diuraikan diatas dapat diambil simpulan bahwa emulsi adalah suatu sistem dispersi yang secara termodinamika tidak stabil, terdiri dari paling sedikit dua cairan yang tidak bercampur dan satu diantaranya terdispersi sebagai globul-globul dalam cairan lainnya. Sistem ini umumnya distabilkan dengan emulgator. Dan pada praktikum ini digunakan emulgator dengan campuran Tween

dan Span. Untuk emulsi yang paling stabil yaitu emulsi dengan HLB butuh 8 bila dibandingkan dengan emulsi HLB butuh yang lainnya. Dimana untuk Tween yang digunakannya sebanyak 1,72 gram sedangkan untuk Span nya digunakan sebanyak 3,29 gram.

VIII. Daftar Pustaka Ansel, H.C.(1989). Pengenatar Bentuk Sediaan Farmasi, Terjemahan Faridah Ibrahim. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Martin, A. (1990). Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Panitia Farmakope Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Voigt, R. (1994). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi V. Yogyakarta: UGM Press.

Anda mungkin juga menyukai