Anda di halaman 1dari 17

Mekanisme gangguan otak pada penggunaan napza Cara Kerja Narkoba Dan Pengaruhnya Pada Otak Narkoba berpengaruh

pada bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan, yang disebut sistem limbus: Hipotalamus pusat kenikmatan pada otak adalah bagian dari sistem limbus. Narkoba menghasilkan perasaan high dengan mengubah susunan biokimia molekul pada sel otak yang disebut neuro-transmitter. Dapat dikatakan bahwa otak bekerja dengan motto jika merasa enak, lakukanlah. Otak dilengkapi alat untuk menguatkan rasa nikmat dan menghindarkan rasa sakit atau tidak enak, guna membantu memenuhi kehidupan dasar manusia, seperti rasa lapar, haus, rasa hangat, dan tidur. Mekanisme ini merupakan mekanisme pertahanan diri. Jika lapar, otak menyampaikan pesan agar mencari makanan yang dibutuhkan. Kita berupaya mencari makanan itu dan menempatkannya diatas segala-galanya. Kita rela meninggalkan pekerjaan dan kegiatan lain, demi memperoleh makanan itu. Yang terjadi pada adiksi adalah semacam pembelajaran sel-sel otak pada pusat kenikmatan. Jika mengonsumsi narkoba, otak membaca tanggapan kita. Jika merasa nikmat, otak mengeluarkan neurotransmitter yang menyampaikan pesan: Zat ini berguna bagi mekanisme pertahanan tubuh. Jadi, ulangi pemakaiannya. Jika memakai narkoba lagi, kita kembali merasa nikmat seolah-olah kebutuhan kita terpuaskan. Otak akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus dicari sebagai prioritas. Akibatnya, otak membuat program salah, seolah-olah kita memang memerlukannya sebagai mekanisme pertahanan diri. Maka terjadilah kecanduan! Terlepas dari dampak buruknya, memang diakui ada mitos yang diyakini oleh pengguna narkoba bahwa narkoba sebagai pengubah suasana hati. Semua jenis narkoba mengubah perasaan dan cara berpikir seseorang tergantung pada jenisnya. 1. 2. Perubahan pada suasana hati (menenangkan, rileks, gembira, dan rasa bebas); Perubahan pada pikiran (stress hilang dan meningkatnya daya khayal);

3. Perubahan pada perilaku (meningkatkan keakraban, menghambat nilai, dan lepas kendali). A. Narkoba Hancurkan Kerja Otak Bagi para pengguna narkotika, mungkin tidak menyadari kalau akibat memakai narkoba akan menghancurkan kerja otaknya. Pemakaian narkoba sangat mempengaruhi kerja otak yang berfungsi sebagai pusat kendali tubuh dan mempengaruhi seluruh fungsi tubuh. Karena bekerja pada otak, narkoba mengubah suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Itulah sebabnya narkoba disebut zat psikoaktif.

Ada beberapa macam pengaruh narkoba pada kerja otak. Ada yang menghambat kerja otak, disebut depresansia, sehingga kesadaran menurun dan timbul kantuk. Contoh golongan ini adalah opioida yang di masyarakat awam dikenal dengan candu, morfin, heroin dan petidin. Kemudian obat penenang atau obat tidur (sedativa dan hipnotika) seperti pil BK, Lexo, Rohyp, MG dan sebagainya, serta alkohol. Namun ada pula narkoba yang memacu kerja otak, disebut stimulansia, sehingga timbul rasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, hubungan dengan orang lain menjadi akrab. Akan tetapi menyebabkan tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Contohnya adalah amfetamin, ekstasi, shabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau. Ada pula narkoba yang menyebabkan khayal, disebut halusinogenika. Contoh LSD adalah Ganja yang menimbulkan berbagai pengaruh, seperti berubahnya persepsi waktu dan ruang, serta meningkatnya daya khayal, sehingga ganja dapat digolongkan sebagai halusinogenika. Dalam sel otak terdapat bermacam-macam zat kimia yang disebut neurotransmitter. Zat kimia ini bekerja pada sambungan sel saraf yang satu dengan sel saraf lainnya (sinaps). Beberapa di antara neurotransmitter itu mirip dengan beberapa jenis narkoba. Semua zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku, perasaan dan pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter. Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah dopamin. Bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan adalah sistem limbus. Hipotalamus adalah bagian dari sistem limbus, sebagai pusat kenikmatan. Jika narkoba masuk ke dalam tubuh, dengan cara ditelan, dihirup, atau disuntikkan, maka narkoba mengubah susunan biokimiawi neurotransmitter pada sistem limbus. Karena ada asupan narkoba dari luar, produksi dalam tubuh terhenti atau terganggu, sehingga ia akan selalu membutuhkan narkoba dari luar. Yang terjadi pada ketergantungan adalah semacam pembelajaran sel-sel otak pada pusat kenikmatan. Jika mengonsumsi narkoba, otak membaca tanggapan orang itu. Jika merasa nyaman, otak mengeluarkan neurotransmitter dopamin dan akan memberikan kesan menyenangkan. Jika memakai narkoba lagi, orang kembali merasa nikmat seolah-olah kebutuhan batinnya terpuaskan. Otak akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus dicari sebagai prioritas sebab menyenangkan. Akibatnya, otak membuat program salah, seolaholah orang itu memerlukannya sebagai kebutuhan pokok. Terjadi kecanduan atau ketergantungan. Pada ketergantungan, orang harus senantiasa memakai narkoba, jika tidak, timbul gejala putus zat, jika pemakaiannya dihentikan atau jumlahnya dikurangi. Gejalanya bergantung jenis narkoba yang digunakan. Gejala putus opioida (heroin) mirip orang sakit flu berat, yaitu hidung berair, keluar air mata, bulu badan berdiri, nyeri otot, mual, muntah, diare, dan sulit tidur.

Narkoba juga mengganggu fungsi organ-organ tubuh lain, seperti jantung, paru-paru, hati dan sistem reproduksi, sehingga dapat timbul berbagai penyakit. Contoh: opioida menyebabkan sembelit, gangguan menstruasi, dan impotensi. Jika memakai jarum suntik bergantian berisiko tertular virus hepatitis B/C (penyakit radang hati). Juga berisiko tertular HIV/AIDS yang menurunkan kekebalan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi, dan dapat menyebabkan kematian. Ganja menyebabkan hilangnya minat, daya ingat terganggu, gangguan jiwa, bingung, depresi, serta menurunnya kesuburan. Sedangkan kokain dapat menyebabkan tulang sekat hidung menipis atau berlubang, hilangnya memori, gangguan jiwa, kerja jantung meningkat, dan serangan jantung. Jadi, perasaan nikmat, rasa nyaman, tenang atau rasa gembira yang dicari mula-mula oleh pemakai narkoba, harus dibayar sangat mahal oleh dampak buruknya. Seperti ketergantungan, kerusakan berbagai organ tubuh, berbagai macam penyakit, rusaknya hubungan dengan keluarga dan teman-teman, rongrongan bahkan kebangkrutan keuangan, rusaknya kehidupan moral, putus sekolah, pengangguran, serta hancurnya masa depan dirinya. Bagaimana Obat Bekerja Obat membuat efek mereka dikenal dengan bertindak untuk meningkatkan atau mengganggu aktivitas neurotransmiter dan reseptor dalam sinapsis otak. Beberapa neurotransmitter membawa pesan penghambatan di sinaps, sementara yang lain membawa pesan rangsang; atletik. Narkoba meningkatkan pesan yang dibawa oleh neurotransmitter neurotransmitter inhibisi menjadi lebih hambat, dan neurotransmiter rangsang menjadi lebih rangsang transmisi antagonis. Narkoba, di lain pihak, mengganggu dengan pesan neurotransmiter; tindakan alami neurotransmiter terjadi gangguan dengan sehingga efek mereka dikurangi atau dihilangkan. Ada banyak cara yang obat dapat bertindak untuk meningkatkan (tersiksa) suatu neurotransmitter yang diberikan: 1. Obat atletik dapat memacu peningkatan produksi neurotransmiter tertentu. Ketika mereka neurotransmiter ini kemudian dilepaskan ke sinaps, mereka lebih banyak daripada biasanya, dan lebih zat neurotransmitter menemukan jalan mereka ke reseptor postsinaptik pada dendrit dari neuron berikutnya. 2. Obat atletik dapat mengganggu penyerapan kembali zat neurotransmiter yang memiliki efek memaksa mereka untuk tetap tinggal di sinaps dan berinteraksi dengan reseptor lebih lama dari biasanya (Kokain efek yang Norepinefrin dan sistem neurotransmitter Dopamine hanya dalam cara ini). 3. Obat atletik dapat melewati neurotransmitter seluruhnya, dan hanya melayang keluar ke sinaps dan dirinya sendiri mengikat dengan dan mengaktifkan reseptor neurotransmitter itu.

Demikian pula, ada banyak cara yang obat dapat bertindak untuk mengganggu (menentang) suatu neurotransmitter yang diberikan: 1. Obat antagonis dapat mengganggu pelepasan neurotransmiter ke sinaps.

2. Obat antagonis dapat bersaing dengan neurotransmitter untuk mengikat reseptor neurotransmitter itu. Obat antagonis reseptor mengikat tetapi tidak mengaktifkannya, sehingga menghalangi reseptor dari yang diaktifkan oleh neurotransmitter. 3. Obat antagonis dapat menyebabkan neurotransmitter bocor keluar dari wadah mereka di tombol terminal, ke dalam cairan dari neuron pra-sinapsis itu sendiri, membuat zat neurotransmitter tidak tersedia untuk rilis ke sinaps. Ketika neuron diaktifkan, ada neurotransmitter kurang tersedia akan dirilis ke sinaps. Sebagian besar obat yang bisa disalahgunakan adalah agonis berbagai neurotransmitter mereka bekerja untuk meningkatkan efek alami dari neurotransmiter.

V. 1.

Gejala klinis Intoksikasi akut

Intoksikasi zat merujuk pada kondisi mabuk atau melayang. Ini merupakan efek dari penggunaan zat psikoaktif. Sebagian cirri khusus dari intoksikasi tergantung pada jenis obat yang digunakan, dosis, rektifitas biologis pemakai. Tanda intoksikasi sering mencakup kebingungan, marah-marah, hendaya dalam penilaian, kurang perhatian, serta terganggunya ketrampilan motorik dan spasial. Intoksikasi akut sering dikaitkan dengan : tingkat dosis zat yang digunakan, individu dengan kondisi organik tertentu yang mendasarinya yang dalam dosis kecil dapat menyebabkan efek intoksikasi berat yang tidak professional Disinhibisi yang ada hubungannya dengan konteks sosial perlu dipertimbangan (misalnya disinhibisi perilaku pada pesta atau upacara keagamaan) Intoksikasi akut merupakan suatu kondisi peralihan yang timbul akibat penggunaan alcohol atau zat psikoaktif lain sehingga terjadi gangguan kesadaran, fungsi kognitif, persepsi, efek atau perilaku, atau fungsi dan respons psikofisiologis lainnya. Intensitas intoksikasi berkurang dengan berlalunya waktu wakt dan pada akhirnya efeknya menghilag bila tidak terjadi penggunaan zat lagi. Dengan demikian orang tersebut akan kembali ke kondisi semula, kecuali jika ada jaringan yang rusak atau komplikasi lainnya. 2. Penggunaan yang merugikan

Menurut DSM, penyalah gunaan zat melibatkan pola peggunaan berulang yang menghasilkan konsekuensi yang merusak. Konsekuensi yang merusak bisa termasuk kegagalan untuk memenuhi tanggungjawab utama seseorang (misalnya sebagai siswa, pekerja atau orang tua), menempatkan diri dalam situasi dimana penggunaan zat secara fisik berbahaya (misalnya mencampur minuman dan menggunakan obat), berhadapan dengan masalah hokum berulang kali karena penggunaan obat, atau memiliki masalah sosial atau interpersonal karena penggunaan zat. Saat seseorang berulang kali bolos sekolah atau kerja karena mereka mabuk perilaku mereka cocok dengan definisi penyalah gunaan zat Adanya pola penggunaan zat psikoaktif yang merusak kesehatan, yang dapat berupa fisik (seperti adanya kasus hepatitis karena menggunakan obat melalui suntikan diri sendiri) atau mental (misalnya episode gangguan depresi sekunder karena konsumsi berat alkohol). Pola penggunaan yang merugikan sering dikecam oleh pihak lain dan seringkali disertai berbagai konsekuensi sosial yang tidak diinginkan. Tidak ada sindrom ketergantungan, gangguan psikotik atau bentuk spesifik lain dari gangguan yang berkaitan dengan penggunaan obat atau alkohol. 3. Sindrom ketergantungan

Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (komplusi) untuk menggunakan zat psikoaktif Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggukan zat, termasuk sejak mualinya, usaha penghentian atau pada tingkat sedang menggunakan Keadaan putus zat secara fisilogis ketika penghentian penggunaan zat atau pengurangan, terbukti dengan adanya gejala putus zat yang khas, atau orang tersebut menggunakan zat atau golongan zat sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindari terjadinya gejala putus zat Terbukti adanya toleransi, berupa peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis lebih rendah Secara progesif mengabaikan menikmati kesenangan atau minat lain disebabkan penggunaan zat psikoaktif, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk mendapatkan atau menggunakan zat atau untuk pulih dari akibatnya Tetap menggunakan zat meskipun dia menyadari adanya akibat yang merugikan kesehatannya

Dalam referensi lain, meski jalan menuju ketergantungan zat bervariasi antara orang satu dengan orang yang lain, beberapa pola umum digambarkan melalui tahapan berikut ini (Weiss & Mirin, 1987): Eksperimentasi. Selama tahap eksperimentasi atau penggunaan berkala, obat secara sementara membuat penggunanya merasa nyaman, bahkan eurofik. Pengguna merasa terkendali dan dapat berhenti kapan saja. Penggunaan rutin. Selama tahap berikutnya, periode penggunaan rutin, orang mulai mengtur hidupnya seputar mendapatkan dan menggunakan obat. Penyangkalan memainkan peran penting dalam tahap ini, ketika pengguna menutupi konsekuensi negatif perilaku mereka dari mereka sendiri dan orang lain. Nilai-nilai berubah. Apa yang sebelumnya penting, seperti keluarga dan pekerjaan, menjadi kurang penting dibandingkan obat. Dengan penggunaan rutin yang terus berlangsung, masalah pun bertambah. Adiksi atau ketergantungan. Penggunaan rutin menjadi adiksi atau ketergantungan saat pengguna merasa tidak berdaya untuk menolak obat, baik karena mereka ingin mengalami efek obat atau untuk menghindari konsekuensi putus zat. Hanya sedikit atau tak ada hal lain yang lebih penting pada tahap ini. 4. Keadaan putus zat

Keadaan putus zat mencakup sekelompok karakteristik gejala putus zat yang terjadi saat orang yang tergantung secara mendadak menghentikan penggunaan zat tertentu setelah periode penggunaan berat yang berkepanjangan. Merupakan salah satu indikator dari sindrom ketergantungan, diagnosis sindrom ketergantungan zat harus dipertimbangkan KPZ dicatat sebagi diagnosis utama bila merupakan alasan rujukan dan cukup parah sehingga perlu perhatian khusus Orang yang mengalami gejala putus zat seringkali kembali menggunakan zat untuk menghilangkan rasa tidak nyaman akibat putus zat, yang membuat pola adiksi menetap. Gejala fisik bervariasi sesuai dengan zat yang digunakan. Gangguan psikologis (misalnya anxietas, depresi dan gangguan tidur) merupakan gambaran umum dari keadaan putus zat ini. 5. Keadaan putus zat dengan delirium

Delirium tremens, yang merupakan akibat dari putus alkohol secara absolute atau relative pada pengguna yang ketergantungan berat dengan riwayat penggunaan yang lama. Onset biasanya terjadi sesudah putus alkohol. Keadaan gaduh geliasah toksik yang berlangsung singkat tapi ada kalanya dapat membahayakan jiwa, yang disertai gangguan somatik.

Definisi : suatu gangguan mental organik dengan ciri khas penurunan kesadaran yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif Delirium, kondisi kekacauan mental, disorientasi dan kesulitan yang ekstrem dalam memusatkan perhatian. 6. Gejala prodromal khas berupa: insomnia, gemetar dan ketakutan. Gangguan psikotik

Gangguan psikotik yang terjadi selama atau sesegera sesudah penggunaan zat psikoaktif (biasanya dalamwaktu 48 jam) bukan merupakan manifestasi dari keadaan putus zat dengan delirium atau suatu onset lambat. Gangguan psikotik yang disebabkan oleh zat psikoaktif dapat tampil dengan pola gejala yang bervariasi. Variasi ini dipengaruhi oleh jenis zat yang digunakan dan kepribadian pengguna zat. Fenomena psikotik yang terjadi selama atau segera sesudah penggunaan zat psikoaktif dan ditandai halusinasi ( khas auditorik ), kekeliruan identifikasi, waham / gagasan menyangkut diri sendiri (paranoid, kejaran ) Gangguan psikomotor, afek abnormal

GANGGUAN MENTAL EMOSIONAL


Gangguan psikotik Gangguan tidur Depresi berat Cemas Hiperaktif Paranoid

INTOKSIKASI (Keracunan karena Zat) Adalah suatu kondisi yang timbul akibat penggunaan zat dimana terjadi gangguan kesadaran, fungsi kognitif, persepsi dan perilaku. Karena pengaruh langsung zat terhadap jaringan otak menyebabkan kendali emosi melemah, Prestasi pekerjaan menurun dan gagal memenuhi tanggung jawabnya, meskipun secara umum pasien tampak dalam Keadaan sadar.

Pengendalian diri kurang, sehingga pemakai menjadi lepas kendali.

Agresif Mudah tersinggung Tekanan darah meningkat Cenderung berkelahi

KELEBIHAN DOSIS Kelebihan dosis HEROIN dapat menyebabkan berhentinya pernapasan, sehingga mengakibatkan kematian. Kelebihan Dosis Amfetamin, Ekstansi, Shabu-shabu dapat menyebabkan kematian akibat pecahnya pembuluh darah. TOLERANSI Menurunnya pengaruh NAPZA setelah pemakaian berulang, sehingga tubuh membutuhkan jumlah/takaran yang lebih besar lagi, agar timbul pengaruh atau efek yang sama. Akibatnya dapat terjadi bahaya OVER DOSIS bahkan kematian. SINDROM KETERGANTUNGAN Penyalahgunaan NAPZA menyebabkan ketergantungan baik fisik maupun psikologis, bila pemakaiannya terus menerus dan dalam jumlah yang cukup banyak. 1.Ketergantungan fisik, ditunjukan dengan adanya toleransi/atau gejala putus zat (withdrawal) 2.Ketergantungan Psikologis keadaan dimana adanya keinginan/dorongan yang tertahankan/kompulsif untuk menggunakan NAPZA. Hal ini sering juga disebut Adiksi / Kecanduan 2.4 Dampak penggunaan NAPZA NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya : Komplikasi Medik, biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruhnya pada : a. Otak dan susunan saraf pusat : gangguan daya ingat gangguan perhatian / konsentrasi gangguan bertindak rasional

gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.

b. Pada saluran napas dapat terjadi radang paru (Bronchopnemonia), pembengkakan paru (Oedema Paru). c. Pada jantung dapat terjadi peradangan otot jantung serta penyempitan pembuluh darah jantung. d. Pada hati dapat terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual. e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV/AIDS. Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah : kencing nanah (GO), raja singa (Siphilis) dll. Dan juga pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara bersama-sama membuat angka penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV/AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain itu juga dapat melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin. f. Pada sistem Reproduksi sering mengakibatkan kemandulan. g. Pada kulit sering terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang. h. Komplikasi pada kehamilan : 2. a. Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS. Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah. Dampak Sosial : Di Lingkungan Keluarga :

Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung. Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.

Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.

Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan. Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi. b. c. Di Lingkungan Sekolah : Merusak disiplin dan motivasi belajar. Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar. Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya. Di Lingkungan Masyarakat : Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna / mangsanya.

Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan. Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah. Meningkatnya kecelakaan.

Gejala Klinis 3 1. Perubahan Fisik Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secaraumum dapat digolongkan sebagai berikut :Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo(cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif,curigaBila kelebihan disis (overdosis) : nafas sesak,denyut jantung dan nadilambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal.Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair,menguap terus menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut airsehingga malas mandi,kejang, kesadaran menurun.Pengaruh jangka panjang , penampilan tidak sehat,tidak peduliterhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos,terhadap bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik) 2. Perubahan Sikap dan Perilaku - Prestasi sekolah menurun,sering tidak mengerjakan tugas sekolah,sering

membolos,pemalas,kurang bertanggung jawab. - Pola tidur berubah,begadang,sulit dibangunkan pagi hari,mengantukdikelas atau tempat kerja. - Sering berpegian sampai larut malam,kadang tidak pulang tanpamemberi tahu lebih dulu - Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah.

10 - Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal olehkeluarga,kemudian menghilang - Sering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapitak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga miliksendiri atau milik keluarga, mencuri, terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi.- Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga,tertutup dan penuh rahasia. Menetapkan Diagnosis 4 Dalam nomenklatur kedokteran, ketergantungan NAPZA adalah suatu jenis penyakit atau disease entity yang dalam ICD 10 ( internationalclassification of disease and health related problems tenth revision 1992 ) yang dikeluarkan oleh WHO digolongkan dalam Mental and behavioraldisorders due to psychoactive substance use . Gambaran klinis utama dari fenomena ketergantiungan dikenal dengan istilahsindrom ketergantungan ( PPDGJ-III , 1993 ). Sehingga diagnosisketergantungan NAPZA ditegakkan jika diketemukan tiga atau lebih darigejala-gejala di bawah selama masa setahun sebelumnya:1. Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa ( kompulsi )untuk menggunakan NAPZA2. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan NAPZA sejakawal, usaha penghentian atau tingkat penggunaannya3.

Keadaan putus NAPZA secara fisiologis ketika penghentian penggunaan NAPZA atau pengurangan, terbukti orang tersebut menggunakan NAPZAatau golongan NAPZA yang sejenis dengan tujuan untuk menghilangkanatau menghindari terjadinya gejala putus obat.4. Adanya bukti toleransi, berupa peningkatan dosis NAPZA yangdiperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperolehdengan dosis yang lebih rendah 5. Secara progressif mengabaikan alternatif menikmati kesenangan karena penggunaan NAPZA, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untukmendapatkan atu menggunakan NAPZA atau pulih dari akibatnya6. Meneruskan penggunaan NAPZA meskipun ia menyadari dan memahamiadanya akibat yang merugikan kesehatan akibat penggunaan NAPZAseperti gangguan fungsi hati karena minum alkohol berlebihan, keadaandepresi sebagai akibat penggunaan yang berat atau hendaya fungsikognitif. Segala upaya mesti dilakukan untuk memastikan bahwa pengguna NAPZA sungguh sungguh menyadari akan hakikat dan besarnya bahaya.I. Terapi dan Upaya pemulihanKarakteristik terapi adiksi yang efektif NIDA ( National Institute of DrugAbuse, 1999 ) menunjuk 13 prinsip dasar terapi efektif berikut, untuk dijadikan pegangan bagi para profesional dan masyarakat 5,6 :1. Tidak ada satupun terapi yang serupa untuk semua individu2. Kebutuhan mendapatkan terapi harus selalu siap tersedia setiap waktu.Seorang adiksi umumnya tidak dapat memastikan kapan memutuskanuntuk masuk dalam program terapi. Pada kesempatan pertama iamengambil keputusan, harus secepatnya dilaksanakan ( agar ia tidak berubah pendirian kembali )3. Terapi yang efektif harus mampu memenuhi banyak kebutuhan ( needs )individu tersebut, tidak semata mata hanya untuk kebutuhan memutusmenggunakan NAPZA4. Rencana program terapi seorang individu harus dinilai secara kontinyudan kalau perlu dapat dimodifikasi guna memastikan apakan rencanaterapi telah sesuai dengan perubahan kebutuhan orang tersebut atau belum.5. Mempertahankan pasien dalam satu periode program terapi yang adekuatmerupakan sesuatu yang penting guna menilai apakah terapi cukup efektifatau tidak . Konseling dan terapi perilaku lain merupakan komponen kritis untukmendapatkan terapi yang efektif untuk pasien adiksi7.

Medikasi atau psikofarmaka merupakan elemen penting pada terapi banyak pasien, terutama bila dikombinasikan dengan konseling dan terapi perilaku lain8. Seorang yang mengalami adiksi yang juga menderita gangguan mental,harus mendapatkan terapi untuk keduanya secara integratif9. Detoksifikasi medik hanya merupakan taraf permulaan terapi adiksi dandetoksifikasi hanya sedikit bermakna untuk menghentikan terapi jangka panjang10. Terapi yang dilakukan secara sukarela tidak menjamin menghasilkan suatu bentuk terapi yang efektif11. Kemungkinan penggunaan zat psikoaktif selama terapi berlangsung harusdimonitor secara kontinyu12. Program terapi harus menyediakan assesment untuk HIV / AIDS ,hepatitis B dan C, tuberkulosis dan penyakit infeksi lain dan jugamenyediakan konseling untuk membantu pasien agar mampumemodifikasi atau mengubah tingkah lakunya, serta tidak menyebabkandirinya atau diri orang lain pada posisi yang beresiko mendapatkan infeksi13. Recovery dari kondisi adiksi NAPZA merupakan suatu proses jangka panjang dan sering mengalami episode terapi yang berulang ulang Sasaran terapi 7,8 Sasaran jangka panjang terapi pasien/ klien dengan adkisi NAPZA :1. Abstinensia atau mengurangi penggunaan NAPZA bertahap sampaiabstinensia total. Hasil yang ideal untuk terapi adiksi NAPZA adalah penghentian total penggunaan NAPZA. Perjanjian pada awal terapi sangat penting dilakuakan, terutama dalam komitmen terapi jangka panjang.Komitmen tersebut membantu menurunkan angka morbiditas dan penggunaan NAPZA. Umumnya mayoritas pasien / klien perlu mendapatmotivasi yang cukup kuat untuk menerima abstinensia total sebagai sasaranterapi. Mengurangi frekuensi dan keparahan relaps. Pengurangan frekuensi penggunaan NAPZA dan keparahannya merupakan sasaran kritis dariterapi. Fokus utama dari pencegahan relaps adalah membantu pasien.klienmengidentifikasi situasi yang menempatka dirinya kepada resiko relaps danmenggembangkan respon alternatif asal bukan merupakan NAPZA. Pada beberap pasien atau klien, situasi sosial atau interpersonal dapat merupakanfaktor beresiko terjadinya relaps. Pengurangan frekuensi dan keparaharelaps sering menjasikan sasaran yang realistik daripada pencegahan yangsempurna.3. Perbaikan dalam fungsi psikologi dan penyesuaian fungsi sosial dalammasyarakat. Gangguan penggunaan zat sering dikaitkan dengan problema psikologi dan sosial, melepaskan diri dari hubungan antar teman dankeluarga, kegagalan dalam performance di sekolah maupun dalam pekerjaan, problema finensial dan hukum dan gangguan dalam fungsikesehatan

umum. Mereka memerlukan terapi spesifik untuk memperbaikigangguan hubungannya dengan orang lain tersebut, mengembangkanketerampilan sosial serta mempertahankan status dalam pekerjaannyadisamping mempertahankan dirinya semaksimal mungkin agar tetap dalamkondisi bebas obat. Tahapan terapi 9,10,11 Proses terapi adiksi zat umumnya dapat dibagi atas beberapa fase berikut:1. Fase penilaian ( assesment phase ), sering disebut dengan fase penilaianawal ( initial intake ). Informasi dapat diperoleh dari pasien dan juga dapatdiperoleh dari anggota keluarga, karyawan sekantor, atau orang yangmenanggung biaya. Termasuk yang perlu dinilai adalah :a. Penilaian yang sistematik terhadap level intiksokasi, keparaha gejala gejala putus obat, dosis zat terbesar yang digunakan terakhir, lama waktusetelah penggunaan zat terakhir, awitan gejala, frekuensi dan lamanya penggunaan, efek subjektif dari semua jenis zat yang digunakan. b. Riwayat medis dan psikiatri umum yang komprehensif, termasuk status pemeriksaan fisik dan mental lengkap, untuk memastikan ada tidaknya 14 gangguan komorbiditas psikiatris dan medis seperti tanda dan gejalaintoksikasi atau withdrawal. Pada beberapa kasus diindikasikan juga pemeriksaan psikologik dan neuro psikologic. Riwayat terapi gangguan penggunaan zat sebelumnya, termasukkarakteristik berikut : setting terapi, kontekstual ( volintary, non voluntary ), modalitas terapi yang digunakan, kepatuhan terhadap programterapi, lamanya ( singkat 3 bulanan, sedang 1 tahun dan hasil dengan program jangka panjang, berikut dengan jenis zat yang digunakan, levelfungsi sosial dan okupasional yang telah dicapai dan variabel hasi terapilainnyad. Riwayat penggunaan zat sebelumnya, riwayat keluarga dan riwayat sosio ekonomik lengkap, termasuk informasi tentang kemungkinan adanyagangguan penggunaan zat dan gangguan psikiatri pada keluarga, faktor faktor dalam keluarga yang mengkontribusi berkembang atau penggunaanzat terus menerus, penyesuaian sekolah dan vokasional, hubunggan dengankelompok sebaya, problema finansial dan hukum, pengaruh lingkungankehidupan sekarang terhadap kemampuannya untuk mematuhi terapi agartetap abstinensia di komunitasnya, karakteristik lingkungan pasien ketikamenggunakan zat ( dimana, dengan siapa, berapa kali/ banyak, bagaimanacara penggunaan. ).e. Skrining urin dan darah kualitatif dan kuantitatif untuk jenis

jenis NAPZA yang disalahgunakan, pemerisaan pemeriksaan laboratoriumlainnya terhadap kelainan kelainan yang dikaitkan dengan penggunaanzat akut atau menahun.f. Skrining penyakit penyakit infeksi dan penyakit lain yang seringdiketemukan pada pasien / klien ketergantungan zat ( seperti HIV,tuberkulosis, hepatitis ).2. Fase terapi detoksifikasi, sering disebut dengan fase terapi withdrawal ataufase terapi intoksikasi. Fase ini memiliki beragam variasi :a. Rawat inap dan rawat jalan b. Intensive out patient treatment 15 c. Terapi simptomatikd. Rapid dotoxification, ultra rapid detoxificatione. Detoksifikasi dengan menggunakan : kodein dan ibuprofen, klonidin dannaltrexon, buprenorfin, metadon3. Fase terapi lanjutan. Tergantung pada keadaan klinis, strategi terapi harusditekankan kepada kebutuhan individu agar tetap bebas obat ataumenggunakan program terapi subtitusi ( seperti antagonis naltrexon,agonis metadon, atau partial agonisbrupenorfin. Umumnya terapi yang baik berjalan antara 24 sampai 36 bulan. Terapi yang lamanya kurang dari jangka waktu tersebut,umumnya memiliki relaps rate yang tinggi

Program Terapi dan Rehabilitasi Sebagai Rujukan Program terapi dan rehabilitasi adalah salah satu rujukan untuk menangani pasien-pasien yang mengalami ketergantungan NAPZA yang dilakukan oleh Instansi pemerintah dan swasta. Program terapi dan rehabilitasi ini bertujuan untuk membina para penyalahguna NAPZA agar dapat pulih dari ketergantungannya dengan menggunakan berbagai pendekatan serta nilai dan norma yang berlaku.(Subhan Hamonangan, Viktimisasi penyalahguna NAPZA akibat dualisme hukum positip) Rehabilitasi sendiri menurut Undang-

Undang adalah fasilitas pembinaan bagi penyalahguna NAPZA dari segi medis, psikis dan sosial. Rehabilitasi yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan dan atau Menteri Sosial (Pasal 39, undang-undang no.5 tahun 1997, tentang psikotropika)

Pada dasarnya tidak ada satu program terapi pun yang bisa membuat para penyalahguna NAPZA lepas dari ketergantungan. Karena banyak penyalahguna NAPZA yang sudah menjalani berbagai jenis terapi NAPZA, tetap mengalami kekambuhan, karena didalam menjalani terapi NAPZA, tidak hanya pengguna saja yang mempunyai komitmen, tetapi dibutuhkan juga support orang-orang terdekatnya, dalam hal ini adalah keluarga. Karena sering keluarga juga mengalami kejenuhan dalam merawat anggota keluarganya, karena terapi NAPZA membutuhkan perawatan dalam waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Hal tersebut yang menjadi kendala bagi program terapi pasien NAPZA.

Rehabilitasi tidak dapat memberikan jaminan kepada setiap pasien atau klien yang dirawat akan langsung sembuh dari ketergantungan, dalam istilah NAPZA tidak ada kata sembuh, tetapi istilah yang digunakan adalah pulih. Walaupun tidak memberikan jaminan pulih, didalam rehabilitasi digunakan pendekatan individual dan kelompok untuk menggali lebih jauh permasalahan utama yang dihadapi oleh individu yang mengalami ketegantungan dan mengarahkan yang bersangkutan untuk dapat menyelesaikan masalahnya.

Penulis tidak dapat menutup mata, tidak semua rehabilitasi menerapkan progaram pemulihan secara ideal. Masing-masing pelayanan rehabilitasi membuat modifikasimodifikasi dalam program terapinya. Mengingat perkembangan tren NAPZA yang terus berubah, dan kondisi pasien NAPZA pun dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Kalau dahulu lebih ke arah pelayanan mental dan emosional, tapi saat ini lebih kearah penyelamatan hidup, pelayanan fisik dan psikiatrik. Hal ini disebabkan karena banyak Klien NAPZA yang sudah mengalami komplikasi medis (HIV-AIDS, Hepatitis C dan B, TB-HIV) dan kasus-kasus psikiatrik makin meningkat. Sehingga program rehabilitasi pun mengalami pergeseran, dari program TC (Therapeutic Community) kemudian ada proses modifikasi sesuai kondisi pasien.

Masih terdapat beberapa pusat rehabilitasi yang melakukan pendekatan kedisiplinan ala militer, dimana kekerasan fisik masih sering terjadi. Hal ini dapat terminimalisasi karena dapat dipastikan bahwa setiap lembaga yang mengatasnamakan panti rehabilitasi tidak seharusnya menerapkan atau membiarkan terjadinya kekerasan fisik didalam programnya. Karena pendekatan dengan menggunakan kekerassan fisik pada pasien NAPZA, tidak akan

membuat pennguna pulih, tetapi akan membuat klien trauma menjalani program terapi, termasuk keluarganya.
Terapi putus zat

Gejala putus zat adalah keadaan yang dihindari oleh pengguna karena rasanya yang sama sekali tidak menyenangkan dan rasa sakit yang luar biasa. Hal ini juga yang membuat pengguna akhirnya kecanduan, karena ketika mereka tidak mengonsumsi narkoba, gejala ini yang mereka rasakan. Pada terapi putus zat dilakukan sesuai gejala, misalnya bila sakit diberi antisakit atau analgesia, mual muntah diberikan antimual dan antimuntah. Khususnya bagi pengguna opioida, bisa dipertimbangkan terapi pengganti opioida secara bertahap yang masih legal secara hokum seperti metadon. Di Indonesia memperbolehkan terapi metadon. Terapi pascadetoksifikasi Setelah detoksifikasi selesai, pasien perlu ditegaskan dan disadarkan bahwa perilaku penggunaan zat ini adalah hal yang merugikan kesehatannya, sosial, dan keluarganya. Pasien perlu mengubah pola hidupnya dengan banyak olahraga, diet sehat, dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi target pascadetoksifikasi. Yang termasuk program ini seperti latihan jasmani, akupunktur, terapi relaksasi, terapi tingkah laku, terapi disulfiram untuk alkoholisme, konseling, psikoterapi, program rumatan seperti metadon, dan lainnya. Pusat rehabilitasi dan pendekatan keagamaan Ada berbagai macam pusat rehabilitasi dengan pendekatan keagamaan. Misalnya pada Islam, terdapat pondok rehabilitasi yang menggunakan pendekatan berzikir.