Anda di halaman 1dari 266

TEKNOLOGI AIR DAN BUANGAN INDUSTRI (TKK 405)

Prof. Dr. Ir. Setiaty Pandia Amir Husin, ST. Farida Hanum, ST Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Medan

PENDAHULUAN
Air merupakan sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Melalui penyediaan air yang baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, diharapkan penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh penggunaan air yang tidak bersih dapat diminimalkan. Peningkatan kualitas air sebagai bahan baku air minum melalui pengelolaan yang baik mutlak diperlukan. Sistem pengolahan air menjadi pertimbangan penting dalam menentukan apakah sumber air tersebut layak atau tidak untuk digunakan sebagai sumber air untuk bahan baku air minum.

Industri merupakan salah satu sarana untuk mencapai peningkatan pendapatan negara. Kegiatan industri akan memanfaatkan segala sumber daya, baik materi, enersi dan manusia. Untuk pelaksanaan proses produksinya, industri selalu membutuhkan air. Masalah yang ditimbulkan industri, selain penggunaan air (baik air tanah ataupun air permukaan), juga masalah limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut.

Secara garis besar, mata kuliah ini meliputi :


Air sebagai sumber daya Pengelolaan air sebagai bahan baku air minum Pengolahan air untuk umpan ketel dan proses Pencemaran air dan limbah industri Pengelolaan limbah cair dan dasar-dasar pengolahannya Pengelolaan limbah padat Pengelolaan limbah gas

SUMBER DAYA AIR


Beberapa ketetapan Pemerintah yang berkaitan dengan Sumber Daya Air Peraturan Pemerintah PP no. 82 thn 2001:
Air adalah semua air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, kecuali air laut dan air fosil. Sumber air adalah wadah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk dan muara.

Permasalahan umum sumber daya air meliputi:


Kuantitas cenderung menurun karena kebutuhan meningkat Kualitas air cenderung menurun akibat perkembangan industri, pertanian, pertambangan, penduduk dan pemukiman. Berdasarkan PP no. 82 thn 2001: Mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas :


Kelas satu untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan. Kelas dua untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Kelas tiga untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Kelas empat untuk mengairi pertamanan dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Sumber Air Minum

siklus hidrologi:

Sumber-Sumber Air :
Air laut Mempunyai sifat asin, karana mengandung garam NaCl. Kadar garam NaCl dalam air laut 3%. Dengan keadaan ini; maka air laut tak memenuhi syarat untuk air minum. Air Atmosfir, air meteriologik, air hujan mempunyai sifat agresif terutama terhadap pipapipa penyalur maupun bak-bak reservoir, sehingga hal ini akan mempercepat terjadinya korosi (karatan). Juga air hujan ini mempunyai sifat lunak, sehingga akan boros terhadap pemakaian sabun

Air permukaan Air sungai Dalam penggunaannya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi. Air rawa/danau Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh adanya zat-zat organis yang telah membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air yang menyebabkan warna kuning coklat. Dengan adanya pembusukan kadar zat organis tinggi, maka umumnya kadar Fe dan Mn akan tinggi pula. Apabila kandungan O2 kurang sekali (anaerob), maka unsur-unsur Fe dan Mn ini akan larut. Pada permukaan air kan tumbuh algae (lumut) karena adanya sinar matahari dan O2.

Air Tanah
air tanah dangkal air tanah dalam mata air Mata air biasanya mempunyai kualitas yang baik jika air itu berasal dari suatu akuifer dan bukannya rembesan air sungai yang baru menempuh jarak pendek. Karena itu penting sekali untuk memelihara atau mempertahankan kualitas air yang baik ini dengan cara melindungi mata air dan sekelilingnya dari kontaminasi kotoran manusia dan binatang. Bak pengumpul air harus dibangun untuk menangkap mata air dan mencegah reruntuhan.

Mata Air

Sumur Pantek Sumur Gali Tangan (Hand-Dug Wells) Pipa-pipa Rembesan ((infiltration Galleries)

PENGOLAHAN AIR
Sarana Pengolahan Air sebagai Bahan Baku Air Minum
Pengolahan air sebagai bahan baku air minimum meliputi tiga tahap: Tahap 1 adalah pengolahan secara fisik mengurangi/menghilangkan kotoran-kotoran, lumpur, dan pasir, serta mengurangi kandungan senyawa organik dalam air yang diolah. Tahap 2 adalah Pengolahan secara kimia Dengan penambahan senyawa kimia tertentu untuk membantu/menyempurnakan proses pengolahan selanjutnya. Misalnya penambahan alum untuk meningkatkan penghilangan padatan terlarut/tersuspensi. Tahap 3 adalah Pengolahan bakteriologis memunaskan bakteri-bakteri yang terkandung dalam air melalui penambahan desinfektan.

Sarana pengolahan air sebagai bahan baku air minum terdiri dari:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Bangunan pengumpul/penampung air Bangunan pengendap pertama Pembuluhan koagulan Bangunan pengaduk cepat Bangunan pembentuk flok Bangunan pengendap kedua Bangunan penyaring Bangunan sterilisasi (desinfektasi) Reservoir (Bangunan enyimpanan) Pompa

1.

Bangunan Pengumpulan / Penampungan


dari suatu sumber asal air, untuk dapat dimanfaatkan. Fungsi menjaga kontinuitas pengaliran. Pengelolaan bangunan pengumpulan air secara umum meliputi: 1. Kuantitas 2. Kualitas

Suatu bangunan untuk mengumpulkan air

2. Bangunan Pengendap Pertama


Fungsi mengendapkan partikel-partikel padat dari air sungai dengan gaya gravitasi. Tidak ada pembunuhan zat/bahan kimia. Penanganan pada sarana ini ditujukan terhadap:
Aliran sungai dijaga supaya aliran air pada sarana ini laminar (tenang) Sarana instalasi Untuk menjaga efektivitas ruang pengendapan dan pencegahan pembusukan lumpur endapan, maka secara periodik lumpur endapan harus dikeluarkan.

3.

Pembubuhan Koagulan

Koagulan bahan kimia yang dibutuhkan pada air untuk membantu proses pengendapan partikel-partikel kolloidal yang tak dapat mengendap dengan sendirinya (secara gravitasi).

Fungsi membubuhkan koagulan secara teratur sesuai dengan kebutuhan (dengan dosis yang tepat).

Alat pembubuh koagulan:


Secara gravitasi, dimana bahan/zat kimia (dalam bentuk larutan) mengalir dengan sendirinya karena gravitasi. Memakai pompa (dosering pump); pembubuhan bahan/zat kimia dengan bantuan pemompaan.

Bahan/zat kimia yang dipergunakan sebagai koagulan biasanya aluminium sulfat

4. Bangunan Pengaduk Cepat


Fungsi meratakan bahan/zat (koagulan) yang ditambahkan agar bercampur dengan air secara sempurna dan cepat. Cara pengadukan:
Alat mekanis: motor dengan alat pengaduknya Penerjun air: dengan bantuan udara bertekanan

kimia dapat baik,

5. Bangunan Pembentuk Flok


Fungsi membentuk padatan yang lebih besar agar dapat diendapkan dari hasil reaksi partikel (kolloidal) dengan bahan/zat koagulan yang dibubuhkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentukbentuk flok :
Kekeruhan Jenis padatan tersuspensi pH Alkalinitas Koagulan yang dipakai Lamanya pengadukan

6. Bangunan Pengendap Kedua


Fungsi mengendapkan flok yang terbentuk pada sarana bak pembentuk flok. Pengendapan terjadi dengan gaya berat flok sendiri (gravitasi). Pengadukan dilakukan secara cepat ataupun lambat yang dikenal dengan nama:.
Accelator Clarifier Pulsator Clarifier

7. Filtrasi (Bangunan Penyaring)


Proses penjernihan air minum dikenal dua macam filter:
Saringan pasir lambat (slow sand filter) Saringan pasir cepat (rapid sand filter)

Berdasarkan bentuk bangunannya saringan dikenal dua macam:


Saringan yang bangunannya terbuka (gravity filter) Saringan yang bangunannya tertutup (pressure filter)

8. Bangunan Sterilisasi (Desinfektasi)


Proses desinfektasi proses pemusnahan bakteri patogen (yang dapat menimbulkan penyakit) dalam air yang diolah. Proses desinfektasi dapat dilakukan dengan beberapa cara pemanasan, penyinaran ultraviolet, menggunakan senyawa kimia (asam atau basa, Cu dan perak) ataupun dengan klorinasi. Senyawa-senyawa klor yang biasa digunakan:
Gas klor Senyawa hipoklorit (kalsium hipoklorit atau kaporit) [Ca(OCl2)] Sodium klorit [NaClO2]

9. Reservoir (bangunan Penyimpanan) Air yang telah melewati filter (saringan) sudah dapat dipakai sebagai bahan baku air minum. Air tersebut telah bersih dan bebas dari bakteriologis dan ditampung pada bak reservoir (tandom) untuk diteruskan pada konsumen.

10. Pengolahan Air Umpan Ketel (Boiler)


Jika air dikonversi menjadi uap dalam ketel (boiler), maka padatan tersuspensi dan padatan terlarut dalam air akan terdeposisi dalam ketel. Jika senyawa-senyawa ini membentuk endapan yang melekat pada dinding disebut scales, sementara yang tidak melekat disebut sludge atau mud. Senyawa pembentuk scales atau mud yang terutama adalah CaCO3, CaSO4, Mg(OH)2 dan SiO2. Scales mempunyai konduktivitas termal rendah yang mengakibatkan transfer panas dalam ketel menjadi tidak effisien. Akibatnya terjadi pemborosan dalam penggunaan bahan bakar.

Pengolahan air umpan ketel (boiler) meliputi tahapan-tahapan berikut:


Tahap 1 (pengolahan eksternal) untuk menghilangkan senyawa-senyawa penyebab terbentuknya scales (endapan), sludge, ataupun korosi pada boiler. Tahap 2 (pengolahan internal) penambahan senyawa kimia tertentu untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang tidak hilang pada tahap 1 atau untuk mengolah air tambahan akibat penguapan (make up water).

Pengolahan eksternal terdiri dari satu atau dua proses berikut ini :
1.

Proses pelunakan air, meliputi:


- pelunakan dengan zeolit - proses pertukaran ion - pelunakan dengan soda atau kapur atau gabungan soda-kapur

2. Proses penghilangan silika dengan

menambahkan mula-mula MgO atau Fe2(SO4)3 dan NaOH.

3. Proses penghilangan gas-gas terlarut (deaerasi) seperti O2 dengan cara:


Menggabungkan efek panas dan tekanan untuk mengurangi kelarutan O2 dan CO2 dalam air. Penambahan senyawa pereduksi seperti Na2SO3, N2H4, dan lain-lain.

4. Proses pengolahan karbonat Proses ini dilakukan dengan menggunakan Na2CO3 Reaksi: CO32- + H+ HCO3HCO3-+ H+ H2O + CO2 pH air sebaiknya 10 - 11 5. Proses pengolahan pospat Proses ini dilakukan dengan menggunakan senyawa Ca3(PO4)2 dengan pH air 10 11 Reaksi 3CaSO4(s) + 2 PO43- Ca3(PO4)2 (s) + 3 SO42-

Proses Pelunakan Air


proses untuk Proses pelunakan air menghilangkan garam-garam Ca dan Mg yang menyebabkan kesadahan air. Air sadah adalah air yang mengandung ion-ion Ca2+ dan Mg2+ Ada dua jenis kesadahan, yaitu:
Kesadahan sementara (temporer) yang disebabkan oleh ion HCO3-

Ca(HCO3)2 CaCO3 + H2CO3 H2CO3 H2O + CO2


Kesadahan tetap yang disebabkan oleh ion SO42-

Jenis-jenis proses pelunakan air :


Pelunakan dengan kapur (lime softening)
2H2O Reaksi: Ca(HCO3)2 + Ca(OH)2 2CaCO3+

Kelemahan proses ini karena waktu kontak biasanya singkat maka sering masih ditemukan CaCO3 dalam air hasil proses timbul pengendapan (kerak) dalam jaringan distribusi. Pencegahan terbentuknya kerak :
Proses Karbonasi Reaksi: CaCO3 + H2O + CO2 Ca(HCO3)2 Penambahan pospat untuk mencegah pengerakan.

Pelunakan dengan soda (soda softening) Jumlah soda abu sebanding dengan kesadahan non-karbonat.
Reaksi: CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 + Na2SO4

- Pelunakan dengan kapur berlebih kesadahan magnesium karbonat


Reaksi: Mg(HCO3)2 + Ca(OH)2 CaCO3 + MgCO3 + 2H2O pada pH > 11

Reaksi: MgCO3 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 + CaCO3

Pelunakan dengan soda kapur berlebih dihasilkan lumpur dalam jumlah relatif besar Recovery kapur pembakaran dan pencelupan kembali dalam air CaCO3 CaO + CO2 CaO + CO2 Ca(OH)2 Dasar presipitasi Ca2+ sebagai CaCO3 dengan penambahan CO32- dan OHberlebih

Ca(HCO3)2 + Ca(OH)2 2 CaCO3 + 2 H2O ~ disebut TCH Mg(HCO3)2 + 2Ca(OH)2 2 CaCO3 +2 H2O + Mg(OH)2 ~ disebut TMH TCH : Temporary Calcium Hardness TMH : Temporary Magnesium Hardness

MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 + CaCl2 MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 + CaSO4 ~ disebut PMH PMH : Permanent Magnesium Hardness CO2 + Ca(OH)2 CaCO3 + H2O

M SO4 + Na2CO3 M CO3 + Na2SO4 M Cl2 + Na2CO3 M CO3 + 2 NaCl M : Ca atau Mg Jumlah kapur Ca(OH)2 dibutuhkan : = (TCH + 2TMH + PMH)(74/100 + ppmCO2) (74/44) mg/liter

74 : BM Ca(OH)2 44 : BM CO2 Kesadahan dinyatakan dalam ppm CaCO3 Jumlah soda abu Na2CO3 dibutuhkan : = (PCH + PMH) ( 106/100 ) mg/liter 106 : BM Na2CO3

Contoh soal 1. Hitunglah jumlah alum yang digunakan (BM = 342) dalam kg/106 liter air dengan dosis 7 mg/liter. Jika air mengandung 2,5 mg/liter alkalinitas bikarbonat, berapa Ca(OH)2 dibutuhkan agar terjadi reaksi sempurna dengan alum ?

Penyelesaian Untuk 1 liter air dibutuhkan 7x10-6 kg alum. Jadi alum perlu = 7 x 10-6 x 106 kg = 7 kg per 106 liter air a. Al2(SO4)3 + 3 Ca(HCO3)2 2 Al(OH)3 + 3 CaSO4 + 6 CO2 1 mol Al2(SO4)3 = 6 ekv. HCO3-

Jumlah Al2(SO4)3 dibutuhkan : = (2,5 x 342) / (6 x 61) = 2.33 mg/liter b. Jumlah Al2(SO4)3 tersisa setelah bereaksi dengan alkalinitas bikarbonat = 7 2,33 = 4,67 mg/l Al2(SO4)3 +3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4

1 mol Al2(SO4)3 = 3 mol Ca (OH)2 Jumlah Ca(OH)2 perlu untuk dengan 4,67 mg/l Al2(SO4)3 : = (4,67 x 3 x 74) / 342 = 3,05 mg/liter = 3,05 kg / 106 liter

bereaksi

2. Hitunglah jumlah kapur Ca(OH)2 dan soda Na2CO3 dibutuhkan untuk melunakkan 1 juta liter air yang mengandung senyawasenyawa berikut per liter : senyawa konsent., mg/l Ca(HCO3)2 243 Mg(HCO3)2 73 CaSO4 102

MgCl2 95 NaCl 500 Penyelesaian : NaCl tidak menentukan kesadahan air. Mis. Semua kesadahan dinyatakan dalam mg/l CaCO3. Maka Kapur perlu = (TCH + 2 TMH + PMH) 0,74 Soda perlu = (PCH + PMH) 1,06

TCH = 243 x 100/162 = 150 mg/l TMH = 73 x 100/146 = 50 mg/l PMH = 95 x 100/95 = 100 mg/l PCH = 102 x 100/136 = 75 mg/l Terlihat CH = 200 mg/l dan NCH = 175 mg/l Kapur perlu/liter = (150 + 100 + 100) 0,74 = 259 mg Untuk 106 liter, kapur perlu = 259x10-3x106 = 259 kg

Soda perlu /liter = (100 + 75) 1,06 = 185,5 mg/l Untuk 106 liter, soda perlu = 185,5x10-3x106 = 185,5 kg 5. Pelunakan dengan pertukaran ion (Ion Exchange process)

Tidak menghasilkan lumpur seperti proses pelunakan Jika kapasitas penukar ion telah terlampaui, penukar ion harus diregenerasi Penggunaan umum : pelunakan air atau demineralisasi air untuk ketel uap. Contoh : zeolit (senyawa kompleks sodium-alumino-silikat)

Zeolit ~ Na2x
Ca2+ + Mg2+ Air Regenerasi: Ca2+ X + 2NaCl Mg2+ Air Na2X + Mg2+ Limbah cair Ca2+ Cl2 Na2X Mg2+ Air olahan Ca2+ X + 2 Na+

Zeolit alami : siklus natrium mempunyai kapasitas penukar ion 200 grek / m3 dengan kebutuhan bahan regenerasi 5 grek / grek yang ditukar. Resin sintetis : - siklus natrium kapasitas penukar ion 2x lebih besar, tetapi regeneran 1/2x le bih sedikit. Harga jauh lebih mahal.

Penukar kation siklus hidrogen untuk proses demineralisasi air


Ca2+ Mg2+ 2Na2+ + H2Z Ca Mg 2Na Z + 2 H+

Regenerasi: Ca2+ Mg 2Na Air Z + 2H+ H2Z + Ca2+ Mg2+ 2 Na

Penukar anion ROH R = radikal senyawa organik


HNO3 H2SO4 HCl H2SiO3 H2CO3 Regenerasi basa kuat NO3 SO4 R Cl SiO3 CO3 + NaOH ROH + Na NO3 SO4 Cl SiO3 CO3 + ROH NO3 SO4 Cl SiO3 CO3 + H2O

Kinerja penukar anion : kapasitas pertukaran 800 grek / m3, kebutuhan regeneran 6 grek / grek yang ditukar. Senyawa-senyawa pengganggu proses : 1. Materi tersuspensi menutupi permukaan media penukar ion 2. Material organik mengakibatkan pengotoran penukar ion

Derajat kesadahan air berdasarkan kandungan kalsium karbonat

Derajat kesadahan Lunak Agak sadah Sadah Sangat sadah

CaCO3 (ppm) < 50 50 100 100 -200 > 200

Ion Ca2- (ppm) < 2.9 2.9 5.9 5.9 11.9 > 11.9

PENCEMARAN AIR DAN LIMBAH INDUSTRI


< PP no. 82 thn 2001 > Pencemaran air masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, enersi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya.

Unsur-unsur pencemar :
unsur non-konservatif yaitu unsur yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme, misalnya senyawa organik. unsur konservatif yaitu unsur yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme, misalnya senyawa anorganik. buangan termal (panas), radioaktif ataupun mikroorganisme.

Analisis Ekonomi Pencemaran

Pengendalian

Pengendalian pencemaran adalah masalah manajemen semakin efektif manajemen suatu kegiatan produksi, semakin efisien proses produksi dan semakin berkurang limbah yang dihasilkan Konsep biaya konvensional : biaya adalah sejumlah dana atau daya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tertentu.

Kategori biaya sederhana : 1. dana untuk investasi 2. dana untuk mengoperasikan kegiatan Atau : 1. Biaya tetap (fixed cost) dan biaya berubah (variable cost) 2. Biaya lain : biaya asuransi, biaya promosi, biaya bunga bank, dll.

Keuntungan finansial per satuan produksi adalah harga jual dikurangi dengan biaya tetap dan biaya tidak tetap. Harga jual ditentukan oleh produsen dan konsumen sehingga harga selain mencerminkan aspek biaya juga mencerminkan persepsi konsumen terhadap produk (brand image)

Akibat perkembangan pengetahuan dan kemampuan di bidang ekonomi konsep biaya menjadi tidak hanya biaya pribadi tetapi juga biaya sosial (social cost) Biaya sosial : adalah biaya-biaya yang timbul dan harus ditanggung oleh masyarakat akibat suatu kegiatan (manusia, industri, atau kegiatan pembangunan lain)

Proses internalisasi : memasukkan biaya pengendalian pencemaran ke dalam biaya produksi. Di negara maju : polluters must pay eco-labelling products ! Kemampuan industri bersangkutan ! Peningkatan biaya produksi akan mempengaruhi semua kegiatan ekonomi

Beberapa istilah yang biasa digunakan


Proses biodegradasi yaitu proses penguraian senyawa kimia di dalam suatu badan air oleh mikroorganisme menjadi senyawa lain yang lebih sederhana.
Biodegradasi tingkat awal penguraian suatu senyawa kimia menjadi senyawa yang berbeda dengan senyawa mula-mula. Biodegradasi yang dapat diterima lingkungan penguraian suatu senyawa kimia menjadi senyawa yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Biodegradasi ultimasi penguraian suatu senyawa kimia menjadi senyawa yang sederhana, misalnya H2O, CO2, NH3, dan lain-lain.

BOD (Biochemical Oxygen Demand) angka yang menyatakan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk menguraikan senyawa kimia organik oleh mikroorganisme. Dilakukan dengan menginkubasi sampel pada 20 oC Dikenal BOD5 dan BODultimasi

COD (Chemical Oxygen Demand) angka yang menyatakan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk menguraikan senyawa kimia organik dengan menggunakan bahan kimia seperti KMnO4. Nilai COD > nilai BOD

Proses eutrofikasi yaitu proses pertumbuhan besar-besaran dari tanaman air (eceng gondok, plankton) karena adanya nutrisi tanaman dalam jumlah berlebihan seperti ion fosfat dan ion nitrat.

Keseimbangan Oksigen terlarut (O2) badan air keseimbangan proses deoksigenasi dengan proses reoksigenasi di badan air. Proses deoksigenasi proses penggunaan oksigen, misalnya untuk pernafasan, dan penguraian senyawa kimia. Proses reoksigenasi proses penambahan oksigen dari atmosfir atau secara buatan melalui permukaan badan air.

Kurva O2-sag (lendutan O2)

Persamaan Streeter-Phelps Proses deoksigenasi : - dL = K1 L dt Proses reoksigenasi : - dD = K2 D dt Dimana: L = nilai BOD badan air D = Cs C Cs = konsentrasi O2 terlarut jenuh C = konsentrasi O2 terlarut pada waktu tertentu

Integrasi : L = Lo e K1t D = Do e-K2t Kombinasi kedua proses :

K1 Lo (e K1t e K 2t ) + Do e K 2t D= K 2 K1

limbah cair Q2, C2, T2 __________________________________ Q1, C1, T1 Q3, C3, T3 sungai

__________________________________ Dimana Q = debit C = konsentrasi T = temperatur Dari neraca massa : Q3 = Q1 + Q2 Q3. C3 = Q1. C1 + Q2. C2 Apabila digabung C3 = Q1 C1 + Q2 C2 Q1+ Q2 ================= Analog : T3 = Q1 T1 + Q2 T2 Q1 + Q2

Apabila digabung C3 = Q1 C1 + Q2 C2 Q1+ Q2 ================= Analog : T3 = Q1 T1 + Q2 T2 Q1 + Q2 ================

Contoh Soal Suatu sungai dengan debit = 2,8 m3/dtk, BOD5= 4mg/lt, O2 terlarut = 8,2 mg/lt dan temperatur = 17 oC. Pada tempat tertentu dibuang limbah cair ke sungai tersebut dengan debit sebesar = 560 lt/dtk, BOD5 = 50 mg/lt, O2 terlarut = 3 mg/lt dan temperatur 23oC. Apabila kecepatan linear air sungai sesudah terjadi pencampuran sebesar = 0,18 m/dtk, tentukanlah: a. Debit, BOD5, O2 terlarut dan temperatur air sungai sesudah pencampuran. b. Apabila waktu yang perlu agar O2 terlarut mencapai minimum selama 1,8 hari, tentukanlah jarak yang ditempuh. c. Tentukanlah nilai O2 terlarut minimum

Diketahui: Konst.pr.deoksigenasi K1= 0,1 x 1,047(t-20)hari-1 = 0,10 (1,047)(t-20) Konst.pr.reoksigenasi K2= 0,31 x 1,022(t-20)hari-1 = 0,31 (1,022)(t-20) Konst.pr.penghilangan BOD k = 0,1 x 1,047(t-20)hari-1 = 0,10 (1,047)(t-20) Kand.O2 terlarut jenuh pada 18oC =9 ,5 mg/lt Penyelesaian: Sesudah pencampuran: BOD5 = 2,8x4+0,56x50 = 11,7 mg/lt 2,8+0,56 DO = 2,8x8,2+0,56x3 = 7,3 mg/lt 2,8+0,56 T = 2,8x17+0,56x23 = 18oC 2,8+0,56

b. Waktu yang perlu agar DO min = 1,8 hari Jadi jarak yang ditempuh: 18 hari x 0,18 m/detik x 86400 detik/hari = 28 km c. Defisit DO pada saat DOmin Gunakan persamaan Streeter & Phelps:
K1 Lo (e K1t e K 2t ) + Do e K 2t D= K 2 K1
D= K1 Lo (10 K1t 10 K 2t ) + Do 10 K 2t K 2 K1

atau

K1 = 0,10x1,047(t-20) = 0,10x1,047(18-20) = 0,09 hari-1 K2 = 0,31x1,022(t-20) = 0,31x1,022(18-20) = 0,30 hari-1

Lo = BODultimasi =

BOD ( 1 10

5 Kt

K = 0,01x1,047(t-20) = 0,10 x 1,047(20-20) = 0,10 Jadi:


Lo = 11,7 = 17,1mg / ltr 0 ,10 x 5 (1 10 )

DO jenuh pada 18oC = 9,5 mg/lt (dari tabel) Jadi Defisit DO mula-mula : DO = (9,5-7,3) mg/lt = 2,2 mg/lt

Defisit DO pada saat minimum:


DOmin K1 Lo =D= (10 K1t 10 K 2t ) + Do 10 K 2t K 2 K1

= 0,09x17,1 (10(-0,09x1,8)-10(-0,30x1,8))+2,2x10-0,3x1,8 0,30-0,09 = 3,6 mg/lt Jadi DOminimum = (9,5-3,6) mg/lt = 5,9 mg/lt

Kecepatan reaksi penghilangan BOD (Biochemical Oxygen Demand) Reaksi penghilangan BOD reaksi orde satu yang secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut: dL / dt = k L dimana L = jumlah BOD tersisa k = konstanta Jika diintegralkan diperoleh : L = Lo e -kt dimana Lo = BOD ultimasi Jika y = Lo L, maka y = Lo (1 e -kt)

Klasifikasi Limbah

Berdasarkan sumbernya:
Limbah domestik Limbah industri

Berdasarkan fasanya :
Limbah cair Limbah padat Limbah gas

Kontaminan penting dalam limbah cair


Kontaminan Padatan tersuspensi kimia Sumber Penggunaan domestik Limbah industri Erosi Akibat Deposit Kondisi anaerobik Defisit O2 terlarut Penyebaran penyakit Eutrofikasi Rasa, bau, karsiogenik Toksik Berpengaruh pada penggunaan kembali

Senyawa terbiodegradasi

Limbah domestik dan industri Limbah domestik -

Mikroorganisme patogen Senyawa nutrisi

Limbah domestik dan industri Limbah industri -

Senyawa organik refraktori Logam berat Padatan anorganik terlarut -

Limbah industri, pertambangan, dll Limbah domestik dan industri

Limbah Industri
Limbah industri hasil samping dari kegiatan suatu industri, yang dibuang ke lingkungan karena sulit diproses, ataupun jika diproses kembali maka biaya operasionalnya menjadi tidak ekonomis. Proses Pembentukan Limbah adalah sebagai berikut;
Bahan baku primer Bahan baku sekunder Proses Produksi Produk

Limbah

Pengguna

Upaya pengelolaan limbah


Reduksi pada sumbernya

Pemanfaatan limbah: - Penggunaan kembali (Re-use) - Daur ulang (Recycle) - Perolehan kembali (Recovery)

Minimasi limbah

Pengolahan Limbah

Pembuangan limbah sisa pengolahan limbah

Reduksi limbah pada sumbernya meliputi:


House Keeping yang baik Segregasi aliran limbah Preventive Maintenance yang terjadwal Pengolahan bahan Pengaturan kondisi proses dan operasi Modifikasi proses dan alat Modifikasi/substansi penggunaan bahan Penggunaan teknologi bersih

Pemanfaatan Limbah meliputi:


Penggunaan kembali untuk keperluan yang sama tanpa mengalami proses pengolahan Daur ulang menghasilkan suatu produk setelah melalui proses pengolahan fisik. Perolehan kembali mengambil kembali komponen yang terkandung dalam limbah melalui proses tertentu.

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR DAN DASAR-DASAR PENGOLAHANNYA


Limbah cair limbah berfasa cair, yang umumnya berasal dari rumah tangga (domestik), industri dan dari rembesan. Jumlah rata-rata aliran limbah cair yang berasal dari industri tergantung dari:
Jenisnya besar kecilnya pengawasan prosesnya tingkat penggunaan air dan tingkat pengolahan limbah cair yang ada.

Gambaran susunan bahan yang terkandung dalam limbah cair


Limbah Cair

Cairan 99,9%

Padatan (0,1%)

Senyawa Organik

Kerikil, pasir, dll

Satuan Operasi, Satuan Proses, dan Sistem untuk Pengolahan Limbah Cair
No 1 Pencemar Padatan tersuspensi Unit Operasi, unit proses, atau sistem pengolahan Sedimentasi Screening dan Comminution Penyaringan Penambahan bahan kimia polimer Koagulasi Sistem pengolahan tanah

Bahan organik teruraikan Variasi lumpur aktif Fixed film: trickling filter Fixed film: rotating biological cantactora Variasi kolam oksidasi Saringan pasir berselang-selang Sistem pengolahan tanah Sistem fisika-kimia Organisme penyakit Klorinasi Hipoklorinasi Ozonisasi Sistem pengolahan tanah

Nutrisi

Variasi pertumbuhan tersuspensi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi Variasi fixed film nitrifikasi dan denitrifikasi Ammonia stripping Penukar ion Klorinasi pada titik pecah (break point chlorination) Sistem pengolahan tanah Penambahan garam logam Pengendapan/koagulasi dengan CnO Penghilangan secara kimia-biologi Sistem pengolahan tanah organik Adsorpsi karbon Ozonisasi tertier Sistem pengolahan tanah Pengendapan secara kimia Penukar ion Sistem pengolahan tanah anorganik Penukar ion Osmosis balik Elektrodialisa

Pospor

Padatan teruraikan Logam berat

Padatan terlarut

Penyebaran senyawa organik dalam limbah cair


Limbah cair

Padatan tersuspensi volatile

Kolloidal

Seny. Organik terlarut

terdegradasi

tidak terdegradasi

Dapat diserap

Tidak dapat diserap

terdegradasi

Tidak terdegradasi

Contoh Perhitungan Suatu limbah cair mengandung 150 mg/l etilen glikol C2H6O2 dan 100 mg/l phenol C6H6O Tentukan COD dan TOC Tentukan COD pada BOD5 Penyelesaian: a. Etilen glikol Reaksi: C2H6O2 + 2,5 O2 2 CO2 + 3 H2O
2,5(32) x150 mg / l = 194 mg / l 62 24 TOC = x150 mg / l = 58 mg / l 62 COD =

Phenol Reaksi: C6H6O + 7 O2 6CO2 + 3 H2O

7 ( 32 ) x100 mg / l = 238 mg / l 94 72 TOC = x100 mg / l = 77 mg / l 94 maka COD total = (194 + 238 ) mg / l = 432 ml / l TOC total = ( 58 + 77 ) mg / l = 135 mg / l COD =

b. Jika sesudah pengolahan, nilai BOD5 = 25 mg/l, tentukanlah besarnya COD. Diketahui: k10 = 0,1 / hari COD = BODultimasi / 0,92 Maka:

25 mg / l BOD 5 = = (1 10 ( 5 x 0 ,1 ) ) BOD ult BOD ult BOD


ult

= 36 mg / l

maka : 36 mg / l COD = = 39 mg / l 0 , 92

Evaluasi Limbah Cair


No Parameter 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keasaman-kebasaan BOD Kalsium COD Klorida Warna Oksigen terlarut Flourida Kesadahan Total logam Penyimpanan atau Pengawetan Lama Penyimpanan Pendingin pada 4oC Pendingin pada 4oC Tidak perlu 2 ml H2SO4/l sampel Tidak ada Pendingin pada 4oC Diukur ditempat Tidak ada Tidak ada 5 ml HNO3/l sampel 24 jam 6 jam 7 hari 24 jam 6 bulan

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Nitrogen, amonia Nitrogen,kyeldahl Lemak dan minyak Karbon organik pH Fenol Pospor Padatan Daya hantar listrik Sulfat Sulfida Bau Kekeruhan

40 mg HgCl2/l sampel pada 4oC 40 mg HgCl2/l sampel pada 4oC 2 ml H2SO4/l sampel pada 4oC 2 ml H2SO4/l sampel (pH=2) Diukur ditempat 1 gr CuSO4 + H3PO4 hingga pH 4 40 mg HgCl2/l sampel pada 4oC Tidak ada Tidak ada Pendingin pada 4oC 2 ml Zn-asetat/lsampel Pendinginan pada 4oC Tidak ada

7 hari Tidak stabil 24 jam 7 hari 24 jam 7 hari 7 hari 7 hari 24 jam -

Metoda Pengolahan Limbah Cair


Tujuan pengolahan limbah cair: Menghilangkan bahan tersuspensi dan terapung. Menguraikan senyawa organik yang dapat terurai. Meningkatkan tentang arti dampak buangan limbah yang tidak diolah atau sebagian diolah terhadap lingkungan air. Meningkatkan pengetahuan dan pemikiran terhadap efek jangka panjang yang mungkin ditimbulkan oleh komponen ntu dalam limbah yang dibuang ke badan air. Meningkatkan kepedulian nasional untuk perlindungan lingkungan Meningkatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan terutama ilmu kimia, biokimia, dan mikrobiologi. Melestarikan sumber daya alam. Mengembangkan berbagai metoda yang sesuai untuk pengolahan limbah.

Dalam merancang suatu unit pengolah limbah, langkah penting yang harus dilakukan: Menentukan sifat limbah dan fluktuasinya. Memilih periode rancangan proses. Menetapkan kualitas hasil yang diinginkan. Menentukan konstanta kinetik dan daya olah. Memilih reaktor yang sesuai. Memilih lokasi yang sesuai. Memastikan tersedianya peralatan yang diinginkan dan tenaga kerja.

Proses pengolahan limbah cair dapat pula digolongkan dalam beberapa tahap perlakuan, yaitu:
Pra-perlakuan (pre-treatment) Perlakuan pertama (primary treatment) Perlakuan kedua (secondary treatment) Perlakuan ketiga (tertiary treatment)

Bahan pencemar dalam limbah cair dapat dikurangi atau dihilangkan melalui tiga perlakuan, yaitu:
Perlakuan/pengolahan secara fisika (satuan operasi secara fisik) Perlakuan/pengolahan secara kimia (satuan proses secara kimia) Perlakuan/pengolahan secara biologi (satuan proses secara biologi)

Pengolahan secara Fisika (Satuan Operasi secara Fisik) Dua prinsip utama yang dapat dipakai untuk pemisahan partikel-partikel padat dari air, yaitu:
Screening (penapisan), penyaringan pemanfaatan gravitasi misalnya pengendapan, pengapungan (floatasi), dan sentrifuge.

Penapisan
Fungsi memisahkan potongan-potongan kayu, plastik, dan bahan yang berukuran besar lainnya. Alat penapis berupa kisi-kisi yang lurus atau bengkok dan dipasang dengan sudut kemiringan antara 75-90 derajat. Keefektifannya tergantung pada jarak diantara kisi-kisi. Beberapa contoh penapis, yaitu: Hand-Cleaned Bar Screen (Kisi penapis yang dapat dibersihkan dengan tangan) Penapis bengkok Penapis lurus, berfungsi otomatik Basket screen (penapis keranjang)

Grit Chambers
Tujuan:
Menghilangkan bau kerikil, pasir, dan partikel-partikel lain yang mungkin mengakibatkan penyumbatan dalam pipa. Mencegah pompa dan alat-alat istilah yang dipakai untuk menghilangkan atau membuang bahan padat dengan ukuran partikel lebih kecil hingga 0,2 atau 0,1 mm.

Saringan (Strainers)
Kecepatan pengendapan partikel dinyatakan berdasarkan hukum Stokes sebagai berikut:

g ( s )d 2 Vs = 18
Dimana, Vs : kecepatan pengendapan g : percepatan gravitasi : densitas partikel s : densitas fluida tersuspensi D : diameter : viskositas molekuler fluida tersuspensi Persamaan di atas berlaku apabila bilangan Reynold partikel (Re) lebih kecil dari 2. Bilangan Reynold didefinisikan sebagai: Vsd Rs =

batas kecepatan pengendapan minimum adalah:

D Vs = t
dimana, D : kedalaman tangki t : waktu tinggal hidraulis rata-rata Dalam aliran kontinyu, waktu tinggal ini dirumuskan sebagai berikut:

Vs =

AD Q

dimana, AD : volume tangki = V A : luas permukaan tangki Q ; denit aliran Dari kedua persamaan tersebut diatas dapat dirumuskan:

Q Vs = A
Bentuk Q/A ini disebut sebagai laju aliran atas (over flow rate)

Contoh Soal Tangki pengendapan sirkuler dengan waktu tinggal 4 jam dan kecepatan overflow maksimum sebesar 20 m3/m2.hari. tentukan diameter tangki dan kedalaman air dalam tangki jika kecepatan alir rata-rata air ke dalam tangki sebesar 6 Ml/hari. Penyelesaian V = Q x TD = 6 Ml/hari x 1/24 x 4 (1 Ml = 106 l = 103 m3) Q = 6 ml/hari = 6 x 103/hari

Vo =

Q A

Q 6 x10 3 m 3 / hari 2 A= = = 300 m Ao 20 m 3 / m 2 hari


A= 2 D 4

D=

4A =

4 x300 60 m 3,14
V 10 3 m 3 = = 3,33 m 3 A 300 m

Kedalaman air dalam tangki =

Pengolahan Tahap secara Kimia)

Pertama

(Pengolahan

Keuntungan pengolahan secara kimia adalah: Pembersihan bahan pencemar hampir sempurna dan bahan pencemar anorganik dapat diperoleh kembali. Bahan pencemar beracun yang dapat menghalangi atau menghentikan proses pengolahan secara biologi berikutnya tidak ada. Pengolahan secara biologi sangat peka terhadap perubahan konsentrasi. Oleh karena itu memerlukan waktu penyesuaian yang lama, sedangkan proses kimia tidak. Kelemahannya: Meningkatkan kandungan garam logam menambah jumlah lumpur.

Metoda-metoda pada proses pengolahan limbah cair secara kimia:


Penetralan bahan buangan yang bersifat asam atau alkali. Pemisahan bahan organik terlarut sebagai koloidal Pembersihan bahan organik terlarut sebagai koloidal Pembersihan sisa-sisa minyak dan lemak Pengapungan dan penyaringan Pengoksidasian bahan-bahan beracun atau bahan tak teruraikan

Netralisasi Proses netralisasi yang umum dipakai adalah: Netralisasi asam dengan alkali atau sebaliknya Penambahan bahan kimia Penyaringan melalui bahan netral misalnya kalsium karbonat (CaCO3) Kemungkinan netralisasi dari aliran tergantung pada proses produksi yang dipakai. Jenis netralisasi ini sangat umum dalam pengolahan yang diikuti penukar ion.

Netralisasi buangan limbah cair dapat dilakukan dengan: penambahan Ca(OH)2 (kalsium hidroksida), NaOH (natrium hidroksida), CaCO3 (kalsium karbonat), atau Na2CO3 (natrium karbonat), Proses netralisasi dipengaruhi oleh bahan bahan kimia yang akan dinetralkan, jumlah limbah cair, dan keadaan setempat

Pengendapan dengan penambahan bahan kimia

Dalam pengolahan limbah cair industri proses pengendapan dilakukan untuk:


menghilangkan logam berat beracun menghilangkan sulfat menghilangkan fluorida menghilangkan pospat

Proses pengendapan ini dapat dijelaskan dengan persamaan kimia sebagai berikut: CuCl2 + NaOH Cd(NO3)2 + Ca(OH)2 NiCl2 + NaOH Fe2(SO4)2 + 3Ca(OH)2 Cu(OH)2 + 2 NaCl Cd(OH)2 + Ca(NO3)2 Ni(OH)2 + s NaCl 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 coklat putih CaF2 + 2 NaOH

2NaF + Ca(OH)2

Bahan-bahan pembentuk kompleks seperti NTA (nitrilo triacetic acid) atau EDTA (ethylene diamine tetra acetic acid)
Tidak membentuk endapan dengan logam-logam berat, tetapi membentuk senyawa kompleks. Untuk proses penguraian dapat ditambahkan garam-garam besi dan polimer tertentu, ataupun senyawa yang mengandung gugus sulfida (dengan berat molekul 60.000-100.000) yang menghasilkan endapan dengan sifat-sifat flokulasi yang baik bila bereaksi dengan logam berat.

Endapan sulfat dalam limbah cair


Dengan konsentrasi sulfat yang tinggi mengakibatkan pengkaratan pada bahan pipa dan tangki. Konsentrasi sulfat sebesar lebih kurang 2.500 mg/l diperoleh dengan penambahan kalsium hidroksida. Selanjutnya, ditambahkan pula kalsium aluminat agar konsentrasi sulfat turun menjadi 50 mg/l.

Pengendapan fluorida
Pengendapan fluorida dengan menggunakan kalsium hidroksida menghasilkan konsentrasi fluorida dalam limbah cair hingga 30-40 mg/l. Penambahan kalsium aluminat dimaksudkan untuk menurunkan konsentrasi fluorida yang tersisa sebesar di bawah 3 mg/l.

Pengendapan posfat
Pengendapan pospat terutama dalam pengolahan limbah cair bertujuan untuk mengurangi eutrofikasi air permukaan. Pengurangan atau penghilangan pospat dari limbah cair penduduk dapat dilakukan dengan metoda yang berbeda-beda misalnya penambahan kalsium hidroksida, garam besi, dan aluminium.

Koagulasi dan Flokulasi

Tujuan untuk mengubah bahan pencemar dalam bentuk tersuspensi dan koloid yang relatif halus menjadi bentuk yang lebih besar dengan cara penggabungan. Dengan demikian akan mudah mengendap yang selanjutnya dipisahkan dari limbah mudah cair.

Tahapan proses: 1. Penambahan koagulan atau flokulan yang cepat bercampur ke dalam limbah cair 2. Penghilangan sistem kestabilan koloid 3. Penggabungan partikel-partikel yang tidak stabil, membentuk mikroflok 4. Penggabungan mikroflok yang kemudian mengendap, lalu di saring atau diapungkan.

Untuk menghasilkan kestabilan koloid dilakukan dengan penambahan bahan kimia yang bekerja dengan mekanisme pengikatan atau penyerapan (adsorpsi) untuk mengurangi gaya tolak menolak antar partikel, misalnya muatan listrik atau sifat hidrofilik partikel koloid (partikel koloid dalam limbah cair umumnya bermuatan negatif). Selanjutnya, penggabungan partikel koloid bermuatan netral sebagai hasil dari bermacammacam gaya tarik menarik yang bekerja di luar partikel.

Pengolahan biologis)

tahap

Kedua

(Pengolahan

Substrat dalam limbah + cair

O2

mikroorganisme

Limbah Mikroorganisme baru cair + olahan

Kec. pertumbuhan mikroorganisme : dx / dt = y (dSr / dt) Dimana X : massa padatan mikroorganisme (MLVSS) Sr: massa substrat terlarut BOD t : waktu y : koeffisien hasil

Untuk waktu tinggal relatif lama : (dx / dt)net = y (dSr / dt) Kd.x Dimana Kd : konst. kec. penguraian senyawa organik dalam sel

Waktu tinggal hidraulis : t=V/Q Dimana t : waktu tinggal hidraulis V: volume Q: debit alir

Umur sludge : tc = massa pdtan dlm sistem per massa pdtan keluar sistem / hari tc = (x.V) / (x.Q)

Rasio F / M yaitu menyatakan kecepatan penghilangan substrat per satuan padatan dalam sistem : F / M = (S0 S) / x.t Dimana S0 : jumlah substrat awal

Contoh soal : Pada suatu sistem pengolahan limbah cair secara biologis, konsentrasi BOD diturunkan dari 250 mg/l menjadi 30 mg/l. Debit alir limbah = 4000 m3/hari, volume reaktor = 700 m3 dan MLVSS = 3000 mg/l. Asumsi : y = 0,5 Kd= 0,09 hari-1

Penyelesaian : Substrat hilang = (250 30)mg/l . 4000 m3/hari. 103/106 = 880 kg / hari MLVSS = 3000 mg/l. 700 m3. 103/106 = 2100 kg Padatan dihasilkan per hari net = y (substrat hilang) Kd.x = 0,5. 880 kg/hari 0,09 hari-1. 2100 kg = 251 kg

Umur sludge = 2100 kg / (251 kg/hari) = 8,36 hari Waktu tinggal hidraulis = (700 m3.24 jam/hari) / (4000 m3/hari) = 4,2 jam F / M = (880 kg/hari) / 2100 kg = 0,42 kg/hari per kg padatan

Estimasi BOD effluent : BOD effluent total = BOD terlarut + BOD yg keluar dlm effluent BOD terlarut : diestimasikan dari persamaan penghilangan substrat

Metoda pengolahan biologis : 1. sistem pertumbuhan tersuspensi : - lumpur aktif dan modifikasinya - aerated lagoon - waste stabilization ponds 2. sistem pertumbuhan melekat - trickling filter - rotating disc - submerged media beds

Proses Pengolahan dengan Lumpur Aktif (Activated Sludge Process)


Limbah mentah Q
T.S I

(Q + Qr)

Limbah olahan

Aerator

T.S II

Sludge

Sludge yang diresirkulasi Qr

dibuang

T.S = Tangki sedimentasi

Ciri ciri : - alat utama : aerator - lahan yang diperlukan relatif tidak besar - waktu reaksi relatif singkat - biaya operasional cukup mahal

Rasio F / M = (Q.BOD) / (V.MLSS) Dimana Q : debit, m3/hari BOD : mg/l V : volume tangki, m3 MLSS : mg/l

Umur sludge (waktu tinggal sel) : tc = (MLSS.V) / (SSe.Qe + SSw.Qw) Dimana SSe : padatan tersuspensi dlm effluent SSw : padatan tersuspensi dalam sludge Qe : debit effluent Qw : debit sludge

Sludge Volume Index (SVI) : SVI = (V. 1000) / MLSS Dimana V : volume padatan mengendap dalam kolom 1 liter setelah 30 menit SVI : baik, jika bernilai 50 150 mg/l

Debit sludge yang diresirkulasi : Qr / (Q + Qr) = V / 1000 Qr = (V.Q ) / (1000 V) Dimana V : volume padatan yang meng endap

Padatan tersuspensi dalam sludge yang diresirkulasi : SSr = (106) / SVI SSr = {MLSS(Q + Qr)} / Qr Asumsi : tidak ada kehilangan padatan tersuspensi dalam effluent

Contoh soal: 1.Konsentrasi MLSS dalam tangki aerasi = 2400 mg/l. Volume sludge setelah 30 menit dalam kolom silinder 1 liter = 220 ml. a. SVI = (220 ml/l. 1000) / 2400 mg/l = 92 ml/gr baik b. Qr/Q = 220 Q / {Q(1000 220)} = 0,28 c. SSr = 106 /92 = 11000 mg/l

2. Laju alir limbah cair = 29000 m3/hari Volume aerator = 8500 m3 Influent : - padatan total = 599 mg/l - pdtan tersuspensi= 120mg/l - BOD = 173 mg/l Effluent : - padatan total = 499 mg/l - pdtan tersuspensi= 22 mg/l - BOD = 20 mg/l

MLSS = 2500 mg/l Laju alir resirkulasi sludge = 10000 m3/hari Jumlah sludge = 200 m3/hari Pdtan tersuspensi dlm sludge= 9800 mg/l A. Waktu tinggal dalam tangki aerasi = 8500 m3/(2900 m3/hari) x 24 jam/hari = 7 jam

B. Beban BOD = (173 mg/l x 29000 m3/hari) / 8500 m3 = 590,24 gr/(m3.hari) C. F/M = (29000 m3/hr.173 mg/l)/(8500 m3. 2500 mg/l) = 0,24 (gr BOD / hari) / gr MLSS

D. Effisiensi penghilangan padatan total = {(599 497) / 599 } x 100 % = 17,03 % E. Eff. penghilangan pdtan tersuspensi = {(120 22) / 120} x 100 % = 81,07 %

F. Effisiensi penghilangan BOD = {(173 20) / 173 } x 100 % = 88,44 % G. Padatan tersuspensi dalam sludge = (9800 mg/l x 200 m3/hari) / 1000 = 1960 kg / hari

H. Padatan tersuspensi dalam effluent = (22 mg/l x 29000 m3/hari) / 1000 = 638 kg / hari I. Umur sludge = {(2500 mg/l x 8500 m3)/(638 kg/hari + 1960 kg/hari)} x 10-3 = 8,2 hari J. Laju resirkulasi sludge (%) ={(10.000m3/hari)/(29.000m3/hari)}100% = 34,48 %

Proses Aerasi Aerasi Proses perpindahan massa gas cairan dimana gaya gerak pada fasa gas adalah tekanan parsial gas (Pg) dan pada fasa cair adalah gradien konsentrasi (Cs C) Perpindahan massa per satuan waktu = kL. a (Cs C)

Dimana kL : koeffisien film cairan a : luas antar muka perpindahan per satuan volume = (luas permk. A) / (volume V) Faktor - faktor yang mempengaruhi perpindahan O2 : - temperatur - konsentrasi O2 terlarut - karakteristik aerator

Fungsi aerator : - input O2 - pencampuran Jumlah O2 yang ditransfer di lapangan dipengaruhi oleh : - rasio konsentrasi O2 jenuh dalam limbah cair dengan konsentrasi O2 jenuh air distilasi - rasio laju perpindahan O2 dalam limbah cair dengan laju perpindahan O2 dalam air leiding - ketinggian lokasi - temperatur

Konsentrasi O2 jenuh rata-rata : Cs,m = Cs x 0,5 {(Pb / Pa) + (Ot / BM O2)} Dimana Pa : tekanan atmosfir Pb : tekanan absolut pada kedalaman tertentu Ot : % konsent . O2 dlm udara keluar

Didefenisikan : = (Cs limbah cair) / (Cs air leiding)

= (kLa limbah cair) / (kLa air)

Contoh soal : Pada proses transfer O2 (aerasi) diperoleh data unit diffusi sbb:
Laju alir udara = 25 ft3 / menit Volume = 1000 ft3 Temperatur = 54 oF Kedalaman cairan dalam tangki = 15 ft Dgelembung rata-rata = 0,3 cm Kec. gelembung rata-rata = 32 cm / detik

waktu, menit 3 6 9 12 15 18 21

CL, mg/l 0,6 1,6 3,1 4,3 5,4 6,0 7,0

Dik. : Konst. O2 jenuh (54oF) =10,8 mg/l Konst. O2 jenuh (20oF) = 9,1 mg/l Konst. O2 jenuh (32oF) = 7,4 mg/l = 0,82 = 0,99 O2 = 0,232 lb / lb udara udara = 0,0746 lb / ft3

Penyelesaian : Udara diasumsikan mengandung 21 % O2, Cs,m = Cs x 0,5 (Pb/Pa + Ot/21) Pa = 14,7 psi = 1 atm Pb = {(15 ft / 2,3 ) + 14,7} = 21,2 lb/in2 Ot = {21(10,1)}/ {21(1-0,1)+79} = 19,3% Cs,m = 10,8 x 0,5{(21,2/14,7)+(19,3/21)} = 12,7 mg/l

waktu, menit 3 6 9 12 15 18 21

Cs,m CL 12,1 11,1 9,6 8,4 7,3 6,7 5,7

Dari pers. (1/V) N = dC/dt = kL A/V . (Cs CL) Integrasi : Cs CL = (Cs C0) e-kla.t kL.A/V = kLa

Atau log (Csm CL) = log (Csm C0) kLat/2,3


20 10

KLa = 2,6 jam-1


Csm-CL

20

10

14

18

22

Waktu, menit

Proses Kolam Stabilisasi Limbah


(Waste Stabilization Ponds Process)

Ciri-ciri metoda ini: mengandalkan sinar matahari memerlukan lahan yang luas waktu reaksi cukup lama Oksidasi aerobik Tahap 1 : seny. organik (dengan mikroorganisme) sel baru + camp. Asam - asam organik Tahap 2 : camp. asam organik sel baru + CH4 + CO2 + H2O + . . .

Oksidasi aerobik
seny. organik + O2 (dengan bantuan mikroorganisme) sel + H2O + CO2 + NH3 + .. .

Sumber O2 : pr. fotosintesa algae


CO2 + H2O (dengan sinar matahari dan algae)

sel algae baru + H2O +O2+

Simbiosis algae dan bakteri pada kolam stabilisasi limbah

Jenis jenis kolam : 1. Kolam anaerobik - Kedalaman optimal 4 meter - Effektif untuk beban BOD tinggi - Hasil proses oksidasi menghasilkan gas-gas seperti CH4, H2S, dll. - Masalah : bau, terutama jika konsentrasi sulfur sebagai sulfat > 100 ppm

2. Kolam fakultatif - sebagian aerobik, sebagian anaerobik - kedalaman lebih kurang 0,3 meter agar penetrasian sinar matahari baik - beban organik permukaan : = (10 Q Li) / A dimana Q : debit alir limbah cair Li : konsent. BOD dalam influent A : luas permukaan

- Beban organik diizinkan ; = 20 T 120 Dimana T : temperatur dalam oC - Luas permukaan kolam : A = {Q(Li Le)} / {18 D (1,05)T 20} Dimana Le : konsentrasi BOD dalam effluent D : kedalaman kolam

4. Kolam maturasi - beroperasi secara aerobik - terutama untuk menghilangkan bakteri faecal - penghilangan FC :
Ne =

[1 + K

* . t an b (t )

][

Ni 1 + K b (t ) .t * fak 1 + K b (t ) .t * mat

][

Dimana Ne = jumlah FC/100 ml effluent Ni = jumlah FC / 100 ml influent

t* n

= waktu tinggal an : anaerobik fak : fakultatif mat : maturasi = jumlah kolam maturasi yang disusun seri

Kb(t) = konstanta penghilangan FC pada t 0C, hari -1 Kb(t) = 2,6 (1,19)t-20

Faktor-faktor yang ekosistem kolam :

mempengaruhi

1. karakteristik limbah cair & fluktuasinya 2. temperatur dan radiasi sinar matahari 3. pola pertumbuhan algae 4. pola pertumbuhan mikroorganisme

Pertumbuhan algae & produksi O2 : Enersi rata-rata yang diterima = enersi min. + { (enersi maks. enersi min.) x faktor kecerahan langit } Enersi maks. dan enersi min. : dlm tabel Hasil penelitian : Produksi O2 = 1,3 produksi algae

Contoh soal : Kolam stabilisasi limbah mengolah limbah cair domestik dengan debit 10.000 m3/hari dan kandungan BOD5 sebesar 630 mg/l. Temperatur operasi 20 oC dan diinginkan BOD5 effluent < 25 mg/l dan FC < 5000 per 100 ml sampel. Diinginkan penggunaan kolam fakultatif dan kolam maturasi !

Penyelesaian Kolam fakultatif : Mis. Le = 60 mg/l dan kedalaman = 1,2 m. Luas permukaan : A = {Q (Li Le)} / {18 D (1,05)T 20} = {10.000 (630 60)} / (18.1,2.1) = 264.000 m2

Beban organik permukaan = (10 Q Li) / A = (10 . 10000. 630) / 264000 = 240 kg / Ha.hari Beban organik diizinkan = 20 T 120 = 20. 20 120 = 280 kg / hari Rancangan memenuhi

Kolam maturasi : Mis. Digunakan 2 kolam maturasi yang disusun seri dengan waktu tinggal masing-masing 7 hari. Diketahui : Kb = 2,6 Jumlah FC/100 ml influent = 4x107 Waktu tinggal dalam kolam fakultatif : =V/Q = (264.000 x 1,2) / 10.000 = 32 hari

Jumlah FC / 100 ml effluent = 4x107 / {(1 + 2.6 x 32)(1 + 2,6 x 7)2} = 1300 FC / 100 ml Rancangan memenuhi Mis. Kedalaman kolam = 1,2 m. Luas permukaan kolam = (10.000 m3/hari x 7 hari) / 1,2 m = 58.000 m2

Pengolahan tahap ketiga (lanjut) (Tertiary treatment) Proses ini dilakukan apabila dengan sebelumnya pengolahan tahap-tahap (tahap pertama dan kedua) kualitas limbah cair olahan belum memenuhi persyaratan yang diinginkan

Proses pada tahap ini dapat berupa proses

fisika, biologis, kimia, ataupun gabungan dari proses-proses tersebut.

Contoh :
1.

Absorbsi untuk menghilangkan organik yang sulit dibiodegradasi

senyawa

2. Stripping dengan udara untuk menghilangkan gas tertentu yang larut dalam limbah cair 3. Filtrasi untuk menghilangkan partikel-partikel berukuran tertentu

Penerapan operasi fisis pada pengolahan limbah cair


Metoda 1. Screening 2. Comminution 3. Flokulasi 4. Sedimentasi 5. Flotasi 6. Filtrasi Penerapan Menghilangkan pasir dan padatan terendapkan Menggiling padatan menjadi lebih kecil Membentuk flok Mengendapkan padatan Menghilangkan padatan tersuspensi/halus Proses penyaringan

Penerapan operasi kimia pada pengolahan limbah cair


Metoda Penerapan

1.

Pengendapan Menghilangkan senyawa kimia padatan tersuspensi

pospor

dan

2. Adsorpsi

Menghilangkan senyawa organik

3. Disinfektasi

Menghilangkan organisme berbahaya

PENGELOLAAN LIMBAH PADAT


Sumber-sumber limbah padat secara umum
Limbah padat kota: rumah tangga, perdagangan, rumah sakit, tempat umum, dan lain-lain. Limbah padat industri Limbah padat pertanian/peternakan, dan lainlain.

Karakteristik komponen limbah padat:


Mudah membusuk Mudah terbakar Wadah bekas: drum, botol, dan lain-lain Patogenik, toksid Serbuk/abu Lumpur hasil pengolahan limbah Puing bangunan Radioaktif, dan lain-lain

Limbah Padat kota


Timbulan dipengaruhi oleh: Tingkat hidup masyarakat Musim Pola hidup dan mobilitas Iklim dan geografi

Evolusi Timbulan
Limbah padat kota Daur ulang Dijual ibu rumah tangga Dijualpembantu rumah tangga Pemulung Tercecer Pengumpulan Dipulung pengangkut Dipulung petugas TPA Dipulung pemulung TPA

Sifat Fisik
1. timbulan 2. komposisi 3. densitas
W1 W2 BJ = V

kg/m3

Dimana: BJ = berat jenis W1 = berat sampah + kontainer W2 = berat kontainer V = volume kontainer

4. Kadar air pada 105oC Kadar air (% berat basah) =


berat awal berat akhir hilang x100% berat awal

5. Kadar abu dan materi volatil 550 600 oC


Padatan volatil (% berat kering) =

berat yang hilang x100% berat ker ing asal

6. Nilai kalor penting untuk insenerasi


Komposisi
Limbah

Kadar Air (%) 71,67 54,61 40,50 59,75 35,60 44,72

Kadar Abu (%) 6,92 4,42 0,98 1,86 2,63 3,47

Kalor (kkal/kg) 894,33 1409,07 2003,28 1480,18 2930,11 3779,23

organik Kertas Kayu Kain/tekstil Karet/kulit plastik

Sifat Kimia
Kandungan karbon kandungan materi organik 2/3 bagian dari karbon sumber enersi Kandungan nitrogen proses pengomposan Penting; C/N dalam limbah padat 30/1 Kandungan fosfat proses pengomposan Penting; C/P dalam limbah padat 90-150 pH

Pengolahan Limbah Padat


Aspek pengumpulan/penyimpanan karakteristik limbah Aspek pengangkutan Aspek pengolahan, pendaurulangan dan pemusnahan Penanganan pendahuluan pengelompokan limbah Pendaurulangan limbah perlu kajian ekonomis Pemusnahan secara fisik, kimia, biologis Penyingkiran ditimbun

Sampah kota di Indonesia

Tujuan pengelolaan kota yang bersih, sehat dan teratur Komponen pengelolaan secara umum: a. Operasi dan manajemen Peraturan pemerintah Pola sistem operasional Kapasitas kerja sistem Lingkup kerja dan tugas

b. Institusi pengelola Dinas kebersihan kota Otda Keterbatasan tenaga yang sesuai Sarana pengembangan terbatas Sulit koordinasi c. Aspek Teknik Operasional Kapasitas pengelolaan yang terbatas Program pemeliharaan alat minimum Tenaga lepas sulit pembinaan Sulit koordinasi siklus operasi putus Program perencanaan dan pengendalian minim perencanaan operasinal jangka pendek

d. Pembiayaan Retribusi yang terkumpul terbatas Prioritas pengelolaan dalam dana pembangunan rendah/kecil e. Peran serta Masyarakat Tingkat pendidikan tidak merata Belum ada pola baku pembinaan masyarakat

f. Pengaturan Aspek ini didasarkan bahwa negara kita adalah Negara Hukum. Masalah umum yang sering dijumpai antara lain: Beberapa peraturan tidak memperhatikan kemampuan daerah setempat. Beberapa peraturan tidak dilengkapi petunjuk pelaksanaan.

Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Kota


Sistem pengumpulan sampah dikenal dengan beberapa pola seperti:
Pola individual pengumpulan sampah dari rumah ke rumah dengan alat angkut jarak pendek (gerobak dan sebagainya) untuk diangkut ke penampungan sementara; dapat pula pola ini dilakukan door-to-door dengan truk sampah untuk langsung diangkut ke pembuangan sampah. Pola komunal pengumpulan smapah dari beberapa rumah dilakukan pada satu titik pengumpul langsung oleh penghasil sampah, untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistem pengumpulan ini adalah:
Peta timbulan smapah, daerah kepadatan sampah serta jenis sampahnya. Kapasitas kerja komponen pengumpul smapah Ritasi alat angkut Frekwensi pengumpulan Pola pengumpulan Peta penyapuan jalan dan pembersihan selokan Peta blok operasi

Subsistem pemindahan menerima sampah yang berasal dari sumber, untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. Dikenal dua pola, yaitu:
Sistem ysng permanen Sistem ysng dapat diangkat dan dipindahkan

Subsistem pemindahan mempunyai sasaran:


Sebagai peredam tingkat ketergantungan fase pengumpulan dengan fase pengangkutan Pos pengnedalian tingkat kebersihan wilayah yang bersangkutan

Subsistem pengangkutan terdiri dari tiga jenis, yaitu:


Pengangkutan dari suatu lokasi pemindahan ke tempat pembuangan akhir Pengangkutan dari kelompok pemindahan menuju ke tempat pembuangan akhir Pengangkutan dengan pola door to door.

Pemusnahan / Pengolahan Sampah / Limbah Padat


Ada tiga metoda umum; 1. Pengolahan agar lebih mudah dalam pengelolaannya: Penghalusan Pemadatan Solidifikasi/pengaplusan proses yang biasa digunakan: teknik termoplasti, proses dengan penyemenan uji kualitas produk: gaya tekan, permeabilitas, stabilitas, materi toksik

2. Pengolahan agar dihasilkan produk bermanfaat Pengomposan dihasilkan humus Insenerasi dihasilkan enersi panas Metanisasi dihasilkan gas bio 3. Pembuangan ke suatu tempat agar tidak kontak dengan manusia lahan urug (landfill) laha pengolahan (land treatment)

Pengomposan
Proses pengomposan (composting) dekomposisi biologis dari materi organik limbah di bawah kontrol terhadap kondisi proses yang berlangsung Operasi pengomposan dapat berupa: Operasi pemilahan secara fisik sehingga dapat dipisahkan bagian samapah yang biodegradabele dan yang non biodegradabel atau sangat sulit terurai secara biologis Berbagai teknik yang berbeda yang memungkinkan berlangsungnya fermentasi aerob dari materi organik biodegradabel. Operasi penghalusan kompos sesuai kebutuhan yang diperlukan oleh pemakai kompos Penyimpanan dan pematangan (maturasi) kompos

Fungsi :
sebagai pupuk organik memperbaiki struktur tanah meningkatkan kemampuan tanah menyerap air dan zat hara lain.

Metoda 1. Secara anaerobik 2. Secara aerobik : tidak menimbulkan bau lebih cepat temperatur tinggi bakteri patoge mati lebih hieginis

Prinsip pengomposan
sampah disortir dari bahan non-organik Dibuat tumpukan, dipadatkan sehingga stabil dan porous, disiram Tumpukan dibalik pada hari ke 11 dan seterusnya dengan kelipatan 5 sampai ke 41 Hari ke 46 kompos matang

Land Disposal
Land disposal Pemusnahan/penyingkiran limbah ke dalam tanah yang banyak diterapkan untuk limbah padat.

Dikenal pengolahan dengan cara: Land treatment (lahan sanitasi) aplikasi limbah dipermukaan tanah Land fill (lahan urug) pengurugan limbah di dalam tanah

Land treatment (Lahan sanitasi)


Metoda ini memperhitungkan kemampuan asimilasi tanah untuk:
Mengurangi daya toksik Mendegradasi (kimia, biologis) Menahan (immobilize) pencemar yang terdapat dalam limbah

Untuk mengoptimumkan proses biologis dan kimiawi serta memanfaatkan kapasitas assimilasi tanah, maka limbah dimasukkan secara berkala sesuai kemampuan tanah tersebut.

Dikenal konsep land limiting constituent (LLC) akan berkaitan erat dengan beberapa hal seperti:
Batas kemampuan mikrobiologis tanah untuk menguraikan limbah tersebut (untuk komponen limbah biodegradable), Batas akumulasi limbah yang mungkin sehingga tidak menimbulkan efek phytotoxic/racun terhadap tanaman (untuk komponen limbah yang immobile dan nondegradable) Batas standard kualitas air tanah (bagi komponen limbah yang mobile)

Limbah padat mempunyai ciri-ciri umum:


Mudah terurai Mudah ternetralkan (assam/basa) Mudah dibuat menjadi kurang mobile Mudah dibuat menjadi kurang toksik

Maka akan dapat disingkirkan dengan metode land treatment

Beberapa operasi umum yang perlu mendapat perhatian:


Limpasan hujan dicegah masuk dalam bagian yang aktif. Limpasan dari bagian aktif harus dikumpulkan dan ditangani secara khusus. Memerlukan analisis periodik dari limbah yang akan dibuang Tidak berada dalam zona pengembangan sumber makanan. Perlu program pasca operasi.

Lahan Urug (Land Disposal)


Landfill metoda pengurugan limbah ke dalam tanah, kemudian dilakukan pemadatan sebelum limbah tersebut ditutup setiap hari dengan tanah penutup. Penyingkiran dan pemusnahan limbah ke dalam tanah (land disposal) merupakan cara yang selalu disertakan dalam pengelolaan limbah, karena pengolahan limbah tidak dapat menuntaskan permasalahan yang ada.

Lahan urug tetap merupakan bagian yang sampai saat ini sulit untuk dihilangkan dalam pengelolaan limbah, antara lain karena alasan-alasan: Teknologi pengelolaan limbah seperti reduksi di sumber, daur ulang, daur pakai atau minimasi limbah, tidak dapat menyingkirkan limbah secara menyeluruh. Tidak semua limbah mempunyai nilai ekonomis untuk di daur ulang Teknologi pengolahan limbah seperti insinerator atau pengolahan secara biologi atau kimia tetap menghasilkan residu yang harus ditangani lebih lanjut. Kadangkala sebuah limbah sulit untuk diuraikan secara biologis, atau sulit untuk dibakar, atau sulit untuk diolah secara kimia. Timbulan limbah tidak dapat direduksi sampai tidak ada sama sekali.

Jenis lahan urug:


Metode Area Dapat diterapkan pada site yang relatif datar Sampah membentuk sel-sel sampah yang saling dibatasi oleh tanah penutup Setelah pengurugan akan membentuk slope Penyebaran dan pemadatan sampah berlawanan dengan kemiringan

Metode Slope (ramp)


Sebagian tanah digali Sampah kemudian diurug pada tanah Tanah penutup diambil dari tanah galian Setelah lapisan pertama selesai, operasi berikutnya seperti metode area

Metode Parit (trench)


Site yang ada digali, sampah ditebarkan dalam galian, dipadatkan dan ditutup harian. Digunakan bila air tanah cukup rnedah sehingga zone non aerasi di bawah landfill cukup tinggi (> 1,5 m) Operasi selanjutnya seperti metode area.

Metode pit/canyon/quarry
Pemanfaatkan cekungan tanah yang ada (misalnya bekas tambang) Pengurugan sampah dimulai dari dasar Penyebaran dan pemadatan sampah seperti metode area

Dilihat dari sudut penanganan sampah baik sebelum diurug maupun setelah diurug, maka di Perancis dikenal beberapa jenis aplikasi lahan urug, yaitu: Dilihat dari sudut prapengolahan sampah sebelum diurug. Sampah tanpa pemotongan Sampah dengan pemotongan (shredding) Sampah dibuat dalam balok-balok sampah (baling) Dilihat dari sudut penanganan sampah di area pegunungan Secara tradisional Dengan alat berat pemadat (compactor)kaki kambing

Pengoperasian Lahan Urug


Fungsi lahan urug seperti:
Pengurangan masuknya air eksternal pada area penimbunan, misalnya dengan pengaturan limpasan melalui drainase. Pengintegrasian antara tanah penutup dan penutup final. Pengendalian erosi permukaan. Pencegahan pengaliran air tanah dan sekitarnya menuju timbunan Pengurangan/pencegahan pencemaran pada air tanah misalnya dengan pemasangan lapisan dasar yang terintegrasi Pengumpulan dan pengolahan lindi Pengontrolan emisi gas dengan perlengkapan penangkap gas. Pencegahan bau, kebakaran dan ledakan dengan pengadaan ventilasi dan aplikasi tanah penutup.

Skema sel dalam lahan urug

Biodegradasi Materi Organik pada Sebuah lahan urug dan Potensi Gas Bio
Tolak ukur yang biasa digunakan untuk memantau kestabilan sebuah lahan urug Kandungan lindi yang telah sesuai dengan baku mutu yang berlaku Potensi gas bio yang telah dapat diabaikan Penurunan (settlement) timbunan yang dapat diabaikan

Pada awalnya sampah yang ditimbun akan mengalami proses degradasi secara aerob Kondisi aerob sebetulnya diinginkan, mengingat membawa keuntungan antara lain:
Relatif tidak menimbulkan bau Proses degradasi lebih cepat Lindi yang dihasilkan akan lebih ringan Memungkinkan kondisi eksotermis

Tetapi sejalan dengan teknik operasional yang sampai saai ini dianut, yaitu sampah ditimbun lapis berlapis dan setiap periode tertentu ditutup dengan tanah penutup, maka kondisi aerob tidak dapat lama bertahan dalam sebuah lahan urug. Kondisi yang paling dominan kemudian adalah kondisi anaerob.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap proses dekomposisi adalah: a. Temperatur


Produksi gas bio mengenal 2 zone temperatur optimum sesuai aktivitas 2 mikroflora yang berbeda, yaitu: Antara 36o 40oC dikenal sebagai zone mesofilik Antara 55o 60oC dikenal sebagai zone termofilik

b. Kelembaban
Laju produksi gas bio akan bertambah dengan bertambahnya kelembaban

c. Faktor pH dan potensi redoks


Produksi metan akan baik pada kondisi netral. Turunnya pH, misalnya akibat akumulasi asam-asam volatil akan merupakan penghalang bagi aktivitas metanogenes.

d. Nutrisi
Untuk hidup dan pertumbuhannya, bakteri menggunakan kira-kira 30 bagian karbon untuk 1 bagian nitrogen. Nilai C/N biasanya terletak antara 20-35, sedang nilai C/P yang ideal terletak sekitar 150.

e. Pemotongan
Dalam reaktor anaerob biasa, pengurangan ukuran materi biasanya akan mendorong lebih banyak produksi metan karena adanya peningkatan luas permukaan substrat yang dapat kontak dengan mikroorganisme, misalnya akibat pemotongan bahan tersebut.

f. Densitas
De Walle (1978) menyatakan bahwa kenaikan densitas timbunan sampah akan menurunkan luas permukaan efektif yang dapat kontak dengan mikroorganisme, sehingga akan mengurangi produksi gas bio. Sebaliknya Buivid et al (1981) berpendapat bahwa pemadatan timbunan sampah justru akan lebih mempercepat produksi metan karena mengurangi masuknya oksigen ke dalam sistem. Kedua pendapat tersebut belum pernah dikonfirmasi dalam lahan urug yang dioperasikan pada kondisi berbeda secara nyata di lapangan.

Pengolahan limbah dengan Insinerator


Insenerasi proses konversi limbah organik menjadi limbah anorganik dengan menggunakan oksidasi termal pengurangan massa, bakteri, virus serta materi toksik yang terkandung sebelumnya. Insinerator merupakan teknologi proses termal yang paling sering digunakan untuk mengolah limbah organik berbahaya, karena teknologi ini memungkinkan destruksi yang tinggi dalam banyak jenis limbah organik, walaupun pada saat yang sama dikeluarkan pencemar udara.

Secara umum tahapan proses dari sebuah insinerator dapat dipisahkan menjadi beberapa langkah, yaitu:
Penyiapan limbah Pemasokan limbah Pembakaran limbah Pengolahan gas dan pembakaran Penanganan residu abu

partikulat

hasil

Suatu insinerator yang baik akan mengurangi volume limbah sampai 8 95%, sedang pengurangan berat dapat mencapai 70 80%. Sebuah insinerator biasanya terdiri dari elemen-elemen dasar, termasuk sistem penyuplaiannya, yaitu:
Satu atau lebih ruang pembakaran (tunggu) Sistem cerobong gas Sistem pembuangan akhir abu

Perlengkapan tambahan dapat berupa:


Pemotongan limbah Pemilah limbah ( dihulu atau di hilir sistem) Pengontrol pencemaran udara Sistem penangkap panas yang dihasilkan (recovery)

Guna menjamin pembakaran sempurna perlu diperhatikan tiga hal sebagai berikut:
Waktu operasi, dipengaruhi oleh kadar air dan ukuran sampah. Turbulensi (olakan), hal ini berkaitan dengan pencampuran dalam ruang pembakaran. Temperatur

Insinerator teknologi proses termal


Udara/c.w

Gas Hasil bakar

cerobong

asap

Tungku

Abu, dsb

Debu

Udara

Air

Residu

Lahan urug

Residu padat

Limbah cair

IPAL

Limbah olahan

Sludge (Lumpur, endapan)


Pengolahan awal (grinding, blending) Thickening (sentrifugasi)

Sludge

Disinfektasi

Conditioning (heat treatment)

Stabilisasi (digestion)

Dewatering (drying bed)

Composting

Thermal reduction (inceneration)

Disposal (landfill, reuse)

Komposisi sludge
Ses. Pengolahan awal 2,0 8,0 Padatan total (PT), % 60 80 Padatan menguap, % PT 6,0 30 Lemak, % PT 20 30 Protein, % PT 5-8 pH Asam organik 200 - 2000 (sbg mg/l as. Asetat) Komponen Ses. Digestion 6,0 12,0 30 60 5,0 20,0 15 20 6,5 7,5 100 - 600

Hubungan massa dan volume

Mf Ms Mv = + Ss w S f w Sv w
Dimana; Ms = massa padatan Mf = massa padatan mineral Ss = spesifik graviti padatan Sf = spesifik graviti mineral w = densitas air Mv = massa padatan teruapkan Sv = spesifik graviti padatan teruapkan

Volume sludge:

Ms V = w S Sl Ps

Dimana:

SSl = spesifik graviti sludge Ps = % padatan

Contoh soal: Tentukan volume cairan sebelum dan sesudah proses digestion dan % pengurangannya pada sludge sebanyak 500 kg (basis kering) dengan data sebagai berikut; Komponen % padatan Senyawa menguap, % Sg mineral Sg padatan menguap Awal 5 60 2,5 1,0 Ses.digesti on 10 60 (hilang) 2,5 1,0

Penyelesaian; Jika w = 1100 kg/m3 Awal


Mf Ms Mv = + Ss w S f w Sv w
1 0,4 0,6 = + = 0,76 S s 2,5 1,0
Sehingga Ss = 1,32 SSl awal =

1 0,05 0,95 = + S sl 1,32 1,32


Ssl = 1,01

500 Volume sludge awal = 1000 kg / m 3 .1,01 x 0,05


= 9,9 m3

Ses. Digestion:

0,4(0,6 x500) x100% % senyawa menguap = (0,4)500 + (0,4)300


= 37,5%

1 0,625 0,375 = + = 0,625 Ss 2,5 1,0


Sl = 1,6

SSl ses. digestion

1 0,1 0,9 = + S sl 1,6 1,0


SSl = 1,04

0,4(500) + 0,4(300)00 Volume sludge ses. digestion = 1000 kg / m 3 .1,04 x 0,10


= 3,1 m3

Persentase pengurangan;

9,9 3,1 x100% = 68,7% 9,9

PENCEMARAN UDARA
Mesosfir 50 Tinggi (km) 15 Stratopause Stratosfir Tropopause Troposfir

Troposfir: temp turun ( 6,5 oC) setiap naik 1 km dari permukaan bumi Stratosfir:
temperatur naik dengan ketinggian permukaan ditemukan gas ozon

Mesosfir: temperatur turun dengan naiknya ketinggian

Komposisi udara
Campuran gas (N2, O2, Ar, CO2, O3, uap air) Komposisi tidak tetap cuaca, temperatur, lokasi

Fungsi udara atau atmosfir :


Sebagai kondenser dalam siklus hidrologi Sebagai penyerap emisi sinar kosmis, hanya radiasi dengan = 300 2500 nm dan = 0,01 40 m yang ditransmisikan Sebagai sumber oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) Sebagai penyeimbang panas bumi

Komposisi atmosfir : N2 : 78,08 % O2 : 20,95 % Ar : 0,934 % CO2 : 0,034 % H2 O : 1 5 % Gas-gas mulia : Ne, He, Kr, Xe

Fungsi udara atau atmosfir :


Sebagai kondensor dalam siklus hidrologi Sebagai penyerap emisi sinar kosmis, hanya radiasi dengan = 300 2500 nm dan = 0,01 40 m yang ditransmisikan Sebagai sumber oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2) Sebagai penyeimbang panas bumi

Klasifikasi senyawa pencemar udara : A. Berdasarkan sumbernya a. pencemar primer SO2, HC b. pencemar sekunder ozon (O3), peroksi asetil nitrat (PAN) B. Berdasarkan komposisi kimianya a. pencemar organik alkohol,ester,eter b. pencemar anorganik CO, H2S, dll C. Berdasarkan bentuknya : a. bentuk partikulat debu, asap, abu b. bentuk gas HC, nitrogen oksida NO

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas udara :


1. 2. 3. 4. 5.

Temperatur Ketinggian Stabilitas atmosfir Kelembaban udara Arah dan kecepatan angin

Kualitas udara akan stabil jika sejumlah massa udara yang naik pada suatu ketinggian lebih berat dan suhunya lebih rendah dari udara sekitarnya. Kualitas udara menjadi tidak stabil jika sejumlah massa udara yang naik lebih ringan dan suhunya lebih tinggi dari udara sekitar sehingga akan terus bergerak atau berpindah

Tekanan atmosfir :

Ph = P0 e- Mgh / RT Ph : tekana pada ketinggian h P0 : tekanan pada ketinggian nol M : berat molekul udara rata-rata g : percepatan gravitasi R : konstanta gas T : temperatur absolut (0K)

Reaksi-reaksi di atmosfir
1. Reaksi fotokimia

- melalui pembentukan molekul terek sitasi yang reaktif dan tidak stabil - contoh : NO2 + h NO2* h : tetapan Planck = 6,62 x 10-27 erg.dtk : frekwensi cahaya terserap

2. Reaksi fotoionisasi menghasilkan elektron dan ion positip a. Reaksi oksigen atmosferik - atom oksigen O O2 + h O + O - atom oksigen tereksitasi O3 + h O* + O2 O3 O2 + O*

- Ozon ( O3 )

> terutama di daerah stratosfir > berfungsi menyerap radiasi ultraviolet yang berbahaya > dihasilkan melalui reaksi fotokimia sbb. O2 + h O + O O + O2 + M M + O3 dimana M adalah O2 atau N2

> secara termodinamika tidak stabil > pada dosis tinggi bersifat toksik, merusak mata, mengganggu pernafasan - Ion Oksigen > dihasilkan oleh radiasi sinar ultraviolet atau oleh absorbsi sinar ultraviolet

b. Reaksi nitrogen atmosferik > pada ketinggian > 100 km dihasilkan ion N2+ > pada ketinggian 50 85 km : NO+ c. Reaksi karbon dioksida atmosferik > konsentrasi di atmosferik relatif kecil > pada bagian atas atmosfer, terjadi foto dissosiasi CO2 menjadi CO

d. Partikel dalam atmosfir > terutama pada daerah troposfir > fungsi : sebagai nuklei (inti) pembentukan kristal es dan titik-titik air > partikel Aitken : aerosol dari bahan ala miah (asap, abu, dll) dengan d < 0,2 m

Karbon monoksida (CO) > di atmosfir : 1 ppm > sumber : - reaksi oksidasi metana oleh radikal hidroksil - degradasi klorofil tumbuhan - proses pembakaran pada me sin bakar - reaksi fotodissosiasi CO2

Penghilangan CO di atmosfir : > dengan reaksi radikal hidroksil (HO*) dan hidroperoksil (HO2*) sbb. HO* + CO CO2 + H H + O2 + M HO2* + M HO2* +CO HO* + CO2 HO2* + NO HO* + NO2

HO2* + HO2* H2O2 + O2 H2O2 + h 2 HO* > dengan mikroorganisme tanah > dengan menggunakan campuran udara de ngan bahan bakar relatif tinggi, mis. 16/1 > Menggunakan konverter katalitik : CO CO2

Pengaruh konsentrasi COHb di dalam darah terhadap kesehatan manusia


Konsentrasi COHb dalam darah (%) < 1.0 1.0 2.0 2.0 5.0 Pengaruhnya terhadap kesehatan Tidak ada pengaruh Penampilan agak tidak normal Pengaruhnya terhadap sistem saraf sentral, reaksi panca indra tidak normal, benda terlihat agak kabur. Perubahan fungsi jantung dan pulmonari Kepala pening, mual, berkunang-kunang, pingsan, kesukaran bernafas, kematian

5.0 10.0 80.0

Pengaruh jenis aktivitas fisik dan waktu terhadap konsentrasi COHb di dalam darah

Sulfur senyawa pencemar : SO2, H2S, senyawa sulfit dan sulfat > sumber SO2 : a. aktivitas mikroorganisme pada proses aerobik : H2S SO2 b. bahan bakar batu bara c. di atmosfir melalui reaksi H2S dengan radikal HO* dan HS*

Penghilangan SO2 : > dengan proses desulfurisasi contoh : pembakaran batu bara dengan reaktor yang menggunakan batu kapur atau dolomit yang akan menyerap SO2 > dengan sistem penyaring pada alat penghasil SO2 menggunakan kapur / dolomit

Pengaruh SO2 terhadap manusia


Konsentrasi (ppm) 3-5 8 12 20 Pengaruhnya Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya. Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi tenggorokan Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi mata Jumlah terkecil yang segeera mengakibatkan batuk Maksimum yang diperbolehkan untuk kontak dalam waktu lama Maksimum yang diperlukan untuk kontak dalam waktu singkat (30 menit) Berbahaya meskipun kontak secara singkat

50 100 400 500

Oksida nitrogen : - di atmosfir sebagai N2O, NO dan NO2 - N2O : dapat berfungsi sebagai anaestetik dan tidak reaktif - NO : terbentuk dari proses pembakaran batu bara dan minyak bumi serta secara alami pada temperatur tinggi da ri N2 dan O2

- NO2 : amat reaktif - NOx : merupakan campuran dari N2O dan

NO2 dalam atmosfir yang berasal da ri pembakaran bahan bakar Pengendalian senyawa NOx : a. menggunakan udara berlebih pada proses pembakaran b. proses katalitik , dengan resiko menghasilkan senyawa COS yang toksik

Siklus NO2 fotolitik

Senyawa gas klor dan fluor : - Cl2 : > pada industri sebagai desinfektan dan untuk proses pemutihan > toksik, reaktif, oksidator kuat - F2 : > dapat merusak tanaman (klorosis) > toksisitas F2 > HF

CFC (kloro fluoro karbon) ~ Freon CFC 12 (Cl2CF2) CFC 11 (Cl3CF) Pada lapisan stratosfir terjadi proses fotodeomposisi sbb. Cl2CF2 + h Cl* + ClCF2* Cl* + O3 CLO* + O2 Senyawa pencemar organik : Senyawa pencemar organik yang terbanyak adalah senyawa hidrokarbon dari proses pembakaran. Senyawa ini dapat mengakibatkan pembentukan kabut (smog).

Partikel
Komponen partikel dan bentuk yang umum terdapat di udara:
Komponen Karbon Besi Magnesium Kalsium Aluminium Sulfur Titanium Karbonat Silikon Fosfor Kalium Natrium Lain-lain Bentuk Fe2O3, Fe3O4 MgO CaO Al2O3 SO2 TiO2 CO3 SiO2 P2O5 K2O Na2O -

Pencemar udara :
1. Pencemar primer : bentuk tidak berubah

seperti saat dibebaskan mula-mula Contoh : CO2, CO, NOx 2. Pencemar sekunder : bentuk telah berubah karena hasil reaksi di atmosfir (mis. reaksi fotokimia, reaksi oksidasi katalitis) Contoh : reaksi pembentukan ozon yang merupakan reaksi fotokimia senyawa HC di udara dengan NOx

Pengaruh senyawa pencemar di udara terhadap lingkungan :


1.

Pengaruh terhadap benda mati mis. SO2 - karat pada logam - perubahan warna gedung

2. Pengaruh terhadap kesehatan manusia mis. CO berikatan dengan Hb membentuk senyawa karboksi haemoglobin

NOx merusak sistem syaraf HC - benzena C6H6 pada 100 ppm : iritasi pada 20.000 ppm : kematian - toluena C7H16 pada 600 ppm : kehilangan koordinasi

Sumber pencemar udara : 1. Udara dalam ruangan a. asbes kanker paru

Sumber pencemar udara : 1. Udara dalam ruangan


a. Asbes kanker paru b. Radon sistem penafasan c. Formaldehid kayu lapis, dll. d. Senyawa organik menguap (VOC) e. Pestisida, dll.

2. Udara di luar ruangan Mis. CO, HC, SO2, H2S, dll.

3. Kabut asap a. Kendaraan bermotor HC dan oksida nitrogen b. Pembentukan radikal organik bebas O + RH R* + senyawa lain O3 + RH R* + senyawa lain c. Penyebaran rantai cabang NO + ROO- NO2 + senyawa lain NO2 + R* suatu produk mis. PAN (Peroksi Asetil Nitrat)

Hubungan nilai PSI (Pollutant Standard Index) dengan kesehatan :


Nilai PSI >400 Berbahaya Berbahaya Efek Kesehatan Kesehatan menurun yang mempengaruhi aktivitas normal Peringatan Semua orang harus tetap di rumah

300 -399

Berbahaya

Kesehatan Penduduk menurun, penyakit dilarang keluar tertentu terjadi rumah

Nilai PSI

Berbahaya

Efek Kesehatan Menurunkan toleransi penduduk berpenyakit jantung, paru-paru

Peringatan Orang tua dan muda berpenyakit jantung, paruparu tetap di rumah Penduduk dengan gangguan saluran pernafasan tetap di rumah

200 299 Sangat tidak sehat

100 -199

Tidak sehat

Terjadi gejala rangsangan pada orang peka terhadap penyakit tertentu

50 99 0 49

Sedang Baik

Beberapa isu penting : 1. Efek gas rumah kaca akibat kenaikan kandungan CO2 di atmosfir, sehingga mengakibatkan temperatur permukaan bumi meningkat. Transformasi sinar permukaan bumi radiasi yang terjadi pada

2. Pola inversi temperatur adanya penumpukan senyawa pencemar pada lapisan atmosfir tertentu mengakibatkan peningkatan aktivitas fotokimia sehingga sirkulasi udara secara vertikal terhambat

3. Penipisan lapisan ozon


secara alami ozon terbentuk pada lapisan stratosfir fungsi : menyerap radiasi sinar matahari yang dapat membahayakan makhluk hidup hasil penelitian : 1 atom klor dapat merusak > 100.00 molekul O3

Penyebab utama penipisan lapisan ozon

adalah senyawa CFC (Chloro Fluoro Carbon) yang sangat stabil, tidak mudah terbakar dan digunakan sebagai refrigeran, aerosol, dll.
Senyawa lain yang bersifat merusak ozon : - CCl4 - CHCCl3 - CF2Br

Dampak penipisan lapisan ozon : Terhadap kesehatan manusia : kanker kulit, katarak mata, penurunan ketahanan tubuh. b. Terhadap tanaman : penurunan laju proses fotosintesis c. Terhadap bangunan : merusak warna/ cat d. Terhadap lingkungan : peningkatan suhu
a.

Senyawa alternatif pengganti CFC : senyawa HGC ( Hidro Fluoro Carbon ) namun penggunaannya dibatasi karena efek rumah kaca

4. Hujan asam (Acid Rain) karena senyawa pencemar mengandung senyawa asam seperti SO4=, Cl-, dll. yang turun bersama hujan. Akibat : kerusakan pada daun tanaman

Upaya pengendalian pencemaran udara :


1.Sumber bergerak a. Penggunaan BBM tanpa Pb dan S rendah b. Diversifikasi enersi sebagai BBM c. Penggunaan alat kontrol emisi gas se perti catalytic convertor d. Monitoring kualitas udara secara teratur dengan menerapkan sistem PSI

2. Sumber tidak bergerak a. Penggunaan bahan bakar yang lebih bersih dan pengendalian partikel pencemar udara dengan alat seperti scrubber, precipitator, dll. b. Pengendalian pencemar seperti SO2 dan NOx dengan cara penggunaan bahan bakar dengan S rendah, meninggikan cerobong, menggunakan alat desulfurisasi dan denitrifikasi

Penanggulangan : 1. Pendekatan teknologis 2. Pendekatan planologis, mis. Penataan lingkungan fisik 3. Pendekatan administratif, mis. melalui penegakan hukum (law enforcement) edukatif, mis. Melalui 4. Pendekatan pembinaan masyarakat