Anda di halaman 1dari 11

Bahan Kimia Obat dalam Produk Jamu

Penggunaan obat tradisional atau jamu merupakan salah satu langkah upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan. Di negara kita penggunaan obat tradisional ini telah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan pada masa Rasululloh pun telah beliau contohkan terapi pengobatan dengan obat tradisional atau obat herbal. Produk Obat tradisional yang digunakan dalam pengobatan dinilai lebih aman, karena efek samping yang ditimbulkan relatif kecil, tentunya jika digunakan secara tepat. Ketepatan dalam menggunakan obat tradisional ditinjau dari nilai-nilai sebagai berikut : 1) Kebenaran Bahan, tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional memiliki beragam spesies. Tidak semua spesies memiliki khasiat yang sama, jadi dibutuhkan pemilihan bahan yang tepat untuk diambil khasiatnya. Terbukti di Belgia 70 orang harus menjalani transplantasi ginjal akibat mengkonsumsi jamu berbahan tanaman dengan pemilihan spesies/ jenis yang keliru. 2) Ketepatan Dosis, tanaman obat sama halnya dengan obat buatan pabrik, tidak bisa dikonsumsi sembarangan. Tetap ada aturan pakai yang harus diikuti, seperti halnya resep dokter. Anggapan bila obat tradisional aman dikonsumsi terus menerus meski gejala sakit sudah hilang, ataupun dengan dosis berlebihan agar memperoleh khasiat yang lebih adalah keliru. 3) Ketepatan waktu penggunaan, sebagai contoh kunyit sangat bermanfaat untuk menghilangkan nyeri haid, tapi jika diminum pada awal kehamilan beresiko keguguran, begitu juga dengan sari kurma. 4) Ketepatan cara penggunaan, sebagai contoh daun kecubung bila dihisap seperti rokok berkhasiat bronkodilator dan digunakan sebagai obat asma, tapi jika diseduh dan diminum dapat menyebabkan keracunan/ mabuk. 5) Ketepatan telaah informasi 6) Tanpa adanya penyalahgunaan 7) Ketepatan indikasi Mudahnya perolehan obat tradisional di pasaran menjadikan peluang bagi beberapa pihak untuk mendapatkan keuntungan dengan merugikan orang lain. Yakni dengan mengklaim produk jamu mereka lebih berkhasiat, padahal nyatanya mereka menambahkan bahan kimia obat (BKO) dalam produk jamu tersebut. Walau sudah berkali-kali Badan POM

menemukannya dan memerintahkannya untuk ditarik dari pasaran, namun sampai saat ini masih saja beredar. Di Indonesia obat tradisional tidak diperkenankan mengandung BKO karena obat tradisional di Indonesia diedarkan secara bebas (merupakan produk OTC) sehingga konsumen dapat menggunakan setiap saat bila dikehendaki. Bila pada obat tradisional terdapat BKO, maka penggunaan yang terus menerus atau berlebihan akan menimbulkan resiko yang membahayakan kesehatan tubuh. BKO yang ditambahkan ke dalam obat tradisional umumnya dimaksudkan untuk meningkatkan khasiat dari jamu / obat tradisional itu sendiri, sebagai contoh : Menghilangkan gejala sakit dengan segera (seperti pada pegal linu) Secara farmakologis menekan rangsang makan pada susunan syaraf pusat (seperti pada jamu pelangsing) Meningkatkan aliran darah ke corpus kevernosum dengan segera (pada jamu peningkat stamina pria) Beberapa waktu lalu cukup gencar diberitakan adanya produsen jamu yang mencampur jamunya dengan obat-obat sintetik, salah satunya dengan deksametason. Obat ini ditemukan banyak dicampurkan pada jamu asam urat contohnya pada Jamu Asam Urat Cap JAMUR MAS Jamu Jawa Tradisional . Jelas saja jamunya jadi manjur, karena deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang berefek sebagai obat anti radang. Tapi pernahkah Anda mendengar tentang efek samping obat-obat golongan kortikosteroid jika digunakan dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan keropos tulang atau osteoporosis dan itu adalah salah satu saja dari efek sampingnya yang banyak. Adapun komposisi dari jamu ini adalah : Andrographidis herba Alstaniae cortex Cardamomi fructus Ligustrinae lignum Sintox cortex 22gr 17gr 13gr 3gr 5gr

Obat golongan kortikosteroid termasuk golongan obat yang penting dalam dunia pengobatan, karena memiliki aksi farmakologi yang luas, sehingga sering digunakan dalam berbagai penyakit, sampai-sampai ada yang menyebutnya obat dewa, obat segala penyakit.

Tapi di sisi lain, karena tempat aksinya luas, efek sampingnya pun luas dan tidak kurang berbahayanya. Kortikosteroid adalah suatu hormon yang dibuat oleh bagian korteks (luar) dari kelenjar adrenal. Hormon ini memiliki dua efek utama yang disebut efek glukokortikoid dan efek mineralokortikoid. Efek glukokortikoid antara lain : 1) meningkatkan glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein, sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang dengan resiko diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang nyata. 2) efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Akibatnya terjadi osteoporosis atau keropos tulang, karena matriks protein tulang menyusut. Efek ini juga menyebabkan gangguan pertumbuhan jika digunakan pada anak-anak dalam jangka waktu lama. 3) mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dan distribusinya, sehingga menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut. 4) mengurangi menghambat proses radang, sehingga merupakan obat pilihan berbagai penyakit peradangan, 5) menurunkan fungsi jaringan limfa sehingga menyebabkan berkurangnya dan mengecilnya sel limfosit. Efek ini menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh atau imunosupresan.Sedangkan efek mineralokortikoid utamanya adalah mengatur

keseimbangan garam mineral dan air dalam tubuh. Obat-obat kortikosteroid adalah senyawa-senyawa hasil sintesis yang struktur kimianya menyerupai hormon steroid alami. Dengan modifikasi pada struktur kimianya, potensinya dapat ditingkatkan sampai beberapa kali lipat dari senyawa alaminya. Yang termasuk obat kortikosteroid antara lain : hidrokortison, deksametason, betametason, beklometason, dll. Mekanisme aksinya mirip satu sama lain, tetapi mereka berbeda dalam potensi dan lama aksinya. Obat golongan kortikosteroid utamanya digunakan untuk mengatasi radang, apapun penyebab radangnya dan di manapun lokasinya. Beberapa penyakit peradangan yang kerap diobati dengan kortikosteroid adalah asma, radang rematik, radang usus, radang ginjal, radang mata, dll. Selain itu, obat ini juga digunakan pada penyakit gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti berbagai jenis alergi, dan lupus. Dengan sifatnya yang menurunkan

sistem kekebalan, kortikosteroid juga dapat digunakan untuk pasien yang baru menjalani transplantasi organ untuk mencegah reaksi penolakan tubuh terhadap organ yang dicangkokkan. Obat ini bahkan digunakan juga pada pasien kanker, yaitu untuk mencegah mual dan muntah akibat kemoterapi, juga pada terapi kanker itu sendiri sebagai terapi pendukung kemoterapi. Kortikosteroid juga digunakan untuk ibu hamil yang memiliki resiko melahirkan prematur, yaitu untuk mematangkan paru-paru janin, sehingga jika harus lahir prematur paru-paru bayi sudah cukup kuat dan bekerja dengan baik. Sebenarnya tubuh dalam keadaan normal memproduksi kortikosteroid alami dalam jumlah yang cukup. Fungsinya, untuk membantu metabolisme tubuh dan melawan stress. Konsumsi obat kortikosteroid dari luar tubuh dalam waktu yang lama akan direspon oleh tubuh dengan menghentikan produksi kortikosteroid alami. Jika sewaktu-waktu konsumsi obat kortikosteroid dihentikan, tubuh akan segera kekurangan kortikosteroid (tubuh kita perlu waktu untuk memproduksi kortikosteroid alami). Akibatnya, metabolisme tubuh akan kacau balau (rebound phenomenon). Bahkan pada beberapa kasus dapat berakhir dengan kematian. Jalan keluarnya, menghentikan penggunaan obat ini secara berangsur-angsur (tappering off). Kortikosteroid juga mengakibatkan osteoporosis, peningkatan tekanan darah (Hipertensi), peningkatan gula darah (Diabetes), penurunan daya tahan tubuh (jadi mudah tertular penyakit). Pada anak yang sedang tumbuh, kortikosteroid dapat mengakibatkan terhentinya pertumbuhan tulang. Begitu banyaknya penggunaan kortikosteroid. Dalam beberapa kasus, kortikosteroid merupakan satu-satunya pilihan obat terbaik, sehingga mau tidak mau harus digunakan. Di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain : meningkatkan resiko diabetes, osteoporosis, menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah, bahu, perut), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Namun efek samping ini umumnya baru muncul pada penggunaan yang cukup lama (lebih dari sebulan secara rutin). Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah cara penggunaan yang tepat. Artikel ini tidak bermaksud menakut-nakuti pembaca untuk menggunakan obat kortikosteroid, tetapi mengajak untuk mengenal dan dapat menggunakannya dengan benar. Beberapa cara untuk mensiasati efek samping yang mungkin timbul antara lain :

1) bagi pasien dengan resiko diabetes, kurangi asupan gula/karbohidrat 2) untuk mengurangi resiko osteoporosis, tambahlah suplemen Calcium dan Vitamin D 3) untuk mengurangi resiko hipertensi, kurangi asupan garam dalam makanan 4) untuk mengurangi kegemukan, bisa dilakukan diet yang sesuai 5) untuk menghindari terjadinya infeksi, hindarkan diri dari lingkungan hidup yang kotor dan polusi. Tambahkan suplemen makanan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 6) untuk menghindari gangguan lambung, minumlah obat ini setelah makan atau bersama snack, jangan pada saat perut kosong. Obat kortikosteroid menurut aturannya hanya dapat diperoleh dengan resep dokter, kecuali yang berbentuk salep. Jika Anda mendapat resep dokter yang berisi kortikosteroid, pastikan Anda mengetahui informasi-informasi yang diperlukan tentang obat ini dan gunakan sesuai dengan petunjuk dokter. Pada penggunaan jangka panjang pada penyakit kronis yang diterapi dengan kortikosteroid, penggunaan obat tidak boleh dihentikan secara mendadak karena akan mengganggu adaptasi tubuh. Penghentian harus perlahan-lahan dengan dosis yang makin lama makin berkurang. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti, maka jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan.

Metode Analisis Identifikasi Senyawa A. IDENTIFIKASI SECARA KLT 1. Ruang lingkup Metode ini menguraikan prosedur untuk identifikasi deksametason dalam produk jamu. 2. Prinsip Senyawa deksametason dalam contoh diekstraksi dan diidentifikasi secara KLT. 3. Baku Pembanding (BP) Deksametason BP 4. Pereaksi Seluruh pereaksi yang digunakan harus pro analisis :

1. Air destilasi 2. Anisaldehida 3. Asam asetat glasial 4. Asam sulfat pekat 5. Biru tetrazolium 6. Diklorometan 7. Etil asetat 8. Metil asetat 9. Metanol 10. Natrium hidroksida 11. Larutan asam klorida 0,5 M 12. Larutan amonium hidroksida 0,5 M 13. Larutan pengembang : buat campuran diklorometan-metil asetat-air (100:50:50) v/v/v, gunakan lapisan bawah dari campuran. 14. Larutan penampak bercak Masukkan 50 mL asam asetat glasial ke dalam labu Erlenmeyer bertutup 100 mL, tambahkan 0,5 mL anisaldehida, dan 11 mL asam sulfat pekat. Kocok perlahan. Larutan biru tetrazolium basa: buat campuran larutan biru tetrazolium 0,2% dalam metanol dan larutan natrium hidroksida 12% dalam metanol (1:3) yang dibuat baru. 5. Peralatan Peralatan laboratorium yang umum digunakan dan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bejana kromatografi Lampu UV 254 nm Tabung sentrifus bertutup 30 mL Lempeng KLT silika gel 60F254 siap pakai, tebal 0,25 mm Oven Penyaring membran PVDF(Polyvinylidene difluoride), porositas 0,45 m atau yang setara 7. pH meter 8. Tangas air 9. Tangas ultrasonik 6. Prosedur 1. Penyiapan larutan baku Timbang saksama lebih kurang 10 mg masing-masing baku pembanding, masukkan ke dalam masing-masing labu tentukur 10-mL. Tambahkan 5 mL metanol dan sonikasi selama 5 menit. Encerkan dengan metanol sampai tanda.

2. Penyiapan larutan uji Pipet 15 mL contoh dan atur pH hingga 7 dengan larutan asam klorida 0,5 M atau larutan amonium hidroksida 0,5 M. Lakukan ekstraksi 2 kali, setiap kali dengan 20 mL etil asetat. Buang lapisan air. Kumpulkan ekstrak (jika perlu disaring) dalam cawan penguap. Uapkan sampai kering di atas tangas air. Larutkan residu dalam 5 mL metanol dan saring melalui penyaring membran dengan porositas 0,45 m. 3. Prosedur KLT Jenuhkan bejana kromatografi dengan larutan pengembang. Totolkan secara terpisah, sejumlah volume sama (lebih kurang 20 L) larutan baku dan larutan uji pada lempeng. Kembangkan lempeng hingga jarak rambat larutan pengembang mencapai 15 cm dari batas penotolan. Angkat lempeng dan keringkan pada suhu ruang. Amati bercak di bawah penyinaran lampu UV 254 nm dan tandai posisi bercak. Semprot lempeng dengan larutan penampak bercak anisaldehid dan biarkan lempeng sampai kering. Masukkan lempeng ke dalam oven pada suhu 120C selama 10 menit dan amati bercak. 7. Identifikasi 1. Hitung nilai Rf untuk masing-masing bercak. 2. Bandingkan nilai Rf bercak yang diperoleh dari larutan uji dengan larutan baku, dan warna bercak dibawah penyinaran lampu UV serta warna bercak setelah penyemprotan dengan larutan penampak bercak.

8. Keterangan Jika terdapat senyawa deksametason dalam sampel, lakukan pengujian lebih lanjut secara KCKT.

B. IDENTIFIKASI SECARA KCKT 1. Ruang Lingkup Metode ini menjelaskan prosedur lebih lanjut untuk identifikasi senyawa deksametason dalam produk jamu. 2. Prinsip Senyawa deksametason dalam contoh diekstraksi dan diidentifikasi secara KCKT fase balik dengan deteksi ultra violet. 3. Baku Pembanding (BP) Deksametason BP 4. Pereaksi Seluruh pereaksi yang digunakan harus pro analisis dan sesuai untuk KCKT 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Air bidestilasi Asetonitril Etil asetat Larutan amonium hidroksida 0,5 M Larutan asam klorida 0,5 M Metanol Fase gerak: campuran asetonitril

dengan

air

secara

eluasi

gradien.

5. Peralatan Peralatan laboratorium yang umum digunakan : 1. Tangas air, suhu 60C 2. KCKT dengan detektor ultra violet 3. Kolom analitik: kolom baja tahan karat 250 x 4,6 mm, berisi oktadesilsilana dengan ukuran partikel 5 m, atau yang setara

4. pH meter 5. Penyaring membran dengan porositas 0,45 m 6. Tangas ultrasonik 6. Prosedur 1. Penyiapan larutan baku Timbang saksama lebih kurang 10 mg masing-masing baku pembanding, masukkan ke dalam masing-masing labu tentukur 10-mL. Tambahkan 5 mL metanol dan sonikasi selama 5 menit. Encerkan dengan metanol sampai tanda. 2. Penyiapan larutan uji Pipet 15 mL contoh dan atur pH hingga 7 dengan larutan asam klorida 0,5 M atau larutan amonium hidroksida 0,5 M. Lakukan ekstraksi 2 kali, setiap kali dengan 20 mL etil asetat. Buang lapisan air. Kumpulkan ekstrak (jika perlu disaring) dalam cawan penguap. Uapkan sampai kering di atas tangas air. Larutkan residu dalam 5 mL metanol dan saring melalui penyaring membran dengan porositas 0,45 m. 3. Prosedur KCKT Kondisi : Laju alir : 1,2 mL/menit Detektor UV : 245 nm Volume injeksi : 20 L Kesesuaian sistem Suntikkan larutan baku dan rekam kromatogram. Injeksikan 6 kali untuk memastikan luas puncak konstan. Simpangan baku relatif (SBR) pada penyuntikan ulang kurang dari 1% untuk waktu retensi dan kurang dari 2% untuk luas puncak. Suntikkan secara terpisah, sejumlah volume sama larutan baku dari masingmasing baku pembanding, larutan baku campuran dan larutan uji pada kromatograf. Bandingkan waktu retensi dari kromatogram yang diperoleh dari larutan uji dan larutan baku. 7. Identifikasi 1. Perbedaan waktu retensi larutan baku pembanding dan larutan uji tidak lebih dari 1%. 2. Perkiraan waktu retensi (Rt) untuk senyawa kortikosteroid adalah sebagai berikut :

8. Batas deteksi dan batas kuantitasi

C. KESIMPULAN Hasil dari pengujian KLT dan KCKT dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya Deksametason dalam produk jamu.
Sumber : (PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.08.11.07331 TAHUN 2011 TENTANG METODE ANALISIS KOSMETIKA)

Tugas Kuliah Farmakognosi Analitik

OBAT TRADISIONAL YANG MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT

OLEH :
A. FADHIL AHDYAT N111 12 280 FARMAKOGNOSI ANALITIK B

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2013