Anda di halaman 1dari 9

Tanggal praktikum

: 14 November 2013

Dosen Pembimbing : Siti Sadiah, Apt, M.Si Kelompok Praktikum : 1 / Sore RP. Fifarm

KERACUNAN PESTISIDA

Anggota Kelompok : 1. Andra Adi Esnawan 2. Anizza Dyah K.M 3. Arlita Sariningrum 4. Fahmi Khairi 5. Fitri Aprian Harjo 6. Irene Soteriani Uren (B04090010) (B04100069) (B04100070) (B04100071) (B04100072) (B04100073)

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anugerah berupa iklim tropis yang ada di Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki tanah yang subur dan cocok untuk ditanami berbagai jenis tanaman baik tanaman keras, tahunan maupun musiman. Sebagai upaya dalam meningkatkan mutu dan produktivitas hasil pertanian, maka penggunaan pestisida untuk membasmi hama tanaman tak terhindarkan. Pestisida yang digunakan diharapkan dapat membantu petani dalam mendapatkan keuntungan yang maksimal (Nurhayati 1997). Penggunaan pestisida secara berlebihan dan tidak terkendali seringkali memberikan risiko keracunan pestisida bagi petani. Risiko keracunan pestisida ini terjadi karena penggunaan pestisida pada lahan pertanian khususnya sayuran (Prihadi 2007). Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan -sida berasal dari kata caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat diartikan secara sederhana sebagai pembunuh hama. Menurut Food Agriculture Organization (FAO) 1986 pestisida adalah campuran bahan kimia yang digunakan untuk mencegah, membasmi dan mengendalikan hewan/tumbuhan penggangu seperti binatang pengerat, termasuk serangga penyebar penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia. Namun, penggunaan pestisida dengan dosis tinggi dan dilakukan secara terus- menerus dapat menimbulkan beberapa kerugian, antara lain pencemaran pada lingkungan pertanian, residu pestisida akan terakumulasi pada produkproduk pertanian, produktivitas yang menurun, keracunan pada hewan, serta keracunan pada manusia yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Manusia akan mengalami keracunan baik akut maupun kronis yang berdampak pada kematian (Kishi et al. 1993). Pestisida organofosfat dan karbamat menimbulkan efek pada serangga, mamalia, hewan dan manusia melalui inhibisi asetilkolinesterase pada saraf. Pestisida organofosfat dan karbamat menghambat enzim asetilkolinesterase (AChE) melalui proses fosforilasi bagian ester anion. Aktivitas AChE tetap dihambat sampai enzim baru terbentuk kembali atau suatu reaktivator kolinesterase diberikan.

1.2 Tujuan Tujuan praktikum ini adalah memberikan pengertian yang lebih baik mengenai gejala-gejala, penanggulangan, dan pengenalan racun pada keracunan pestisida.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh. Yang dimaksud hama bagi petani sangat luas yaitu: tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan Kelompok pestisida antara lain insektisida (pembunuh serangga dan sejenisnya), herbisida (pemberantas gulma), dan rodentisida (pembunuh hama pengerat), dan golongan lainnya yang tidak begitu banyak menimbulkan keracunan. Insektisida yang paling sering menyebabkan keracunan dibandingkan dengan pestisida lainnya, terbagi dalam tiga kelompok, yaitu senyawa klor organic (organoklorin), kelompok senyawa organofosfat dan karbamat, dan kelompok yang ketiga adalah insektisida lainnya yang tidak termasuk dalam dua kelompok pertama, dan didalamnya terdapat insektisida alam seperti piretrin dan derivat sintesisnya serta rotenone. Selain itu, klasifikasi pestisida dapat pula dibagi berdasarkan pengaruh fisiologisnya, yang disebut farmakologis yaitu sebagai berikut: 1. Senyawa Organofospat Insektisida ini merupakan ester asam fosfat atau asam tiofosfat. Pestisida ini umumnya merupakan racun pembasmi serangga yang paling toksik secara akut terhadap binatang bertulang belakang seperti ikan, burung, cicak dan mamalia. Pestisida ini mempunyai efek, memblokade penyaluran impuls syaraf dengan cara mengikat enzim asetilkolinesterase. Keracunan kronis pestisida golongan organofosfat berpotensi karsinogenik

Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan beberapa miligram untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah. Organofosfat dapat terurai di lingkungan dalam waktu 2 minggu (Yusniati, 2008) 2. Senyawa Organoklorin Organoklorin merupakan insektisida chlorinated hydrocarbon secara kimiawi tergolong insektisida yang relatif stabil dan kurang reaktif, ditandai dengan dampak residunya yang lama terurai di lingkungan. Salah satu insektisida organoklorin yang terkenal adalah DDT. Pestisida ini telah menimbulkan banyak perdebatan. Kelompok organoklorin merupakan racun terhadap susunan syaraf baik pada serangga maupun mamalia. Keracunan dapat bersifat akut atau kronis. Keracunan kronis bersifat karsinogenik (kanker). 3. Senyawa Arsenat Pada keadaan keracunan akut ini menimbulkan gastroenteritis dan diare yang menyebabkan kekejangan yang hebat sebelum menimbulkan kematian. Pada keadaan kronis menyebabkan pendarahan pada ginjal dan hati. 4. Senyawa Karbamat Karbamat, kelompok ini merupakan ester asam N-metilkarbamat. Bekerja menghambat asetilkolinesterase. Tetapi pengaruhnya terhadap enzim tersebut tidak berlangsung lama, karena prosesnya cepat reversibel.1'7 Kalau timbul gejala, gejala itu tidak bertahan lama dan cepat kembali normal. Pada umumnya, pestisida kelompok ini dapat bertahan dalam tubuh antara 1sampai 24 jam sehingga cepat diekskresikan. 5. Piretroid Piretroid berasal dari piretrum diperoleh dari bunga Chrysanthemum cinerariaefolium. Insektisida tanaman lain adalah nikotin yang sangat toksik secara akut dan bekerja pada susunan saraf. Piretrum mempunyai toksisitas rendah pada manusia tetapi dapat menimbulkan alergi pada orang yang peka.

Pestisida Golongan Organoklorin Insektisida organoklorin bekerja dengan merangsang sistem syaraf dan menyebabkan paratesia, peka terhadap rangsangan, iritabilitas, terganggunya keseimbangan, tremor dan kejangkejang. Cara kerja zat ini tidak diketahui secara tepat. Beberapa zat kimia ini bekerja pada system syaraf. Pestisida Golongan Organofosfat dan Karbamat Pestisida golongan organofosfat dan karbamat memiliki aktivitas antikolinesterase seperti halnya fisostigmin, neostigmin, piridostigmin, distigmin, ester asam fosfat, ester tiofosfat dan karbamat. (Hayes 1991). Cara kerja semua jenis pestisida organofosfat dan karbamat sama yaitu menghambat penyaluran impuls saraf dengan cara mengikat kolinesterase, sehingga tidak terjadi hidrolisis asetilkolin. Oleh karena itu, antidota yang tepat perlu diberikan sedini mungkin untuk menetralisir keracunan. Antidota yang diberikan untuk kasus keracunan pestisida golongan organosofat dan karbamat adalah atropine. Atropine menjadi antidota karena sifat obat ini adalah parasimpatolitik. Obat ini mampu mengurangi gejala ini melalui blokade penempelan asetilkolin di reseptornya. Namun, reseptor yang dipengaruhi adalah reseptor muskarinik pada sel efektor. Jadi, gejala yang mampu dikurangi pada sistem respiratorius, tractus alimentarius, tractus urinaria, dan mata. BAB III METODOLOGI Percobaan 1: Keracunan Insektisida Organofosfat/ Karbamat Alat dan Bahan Alat - alat yang digunakan pada percobaan ini adalah spuid 1 cc dan kapas. Bahan bahan yang digunakan adalah mencit sebagai hewan coba, insektisida golongan organofosfat (Basudin/ diazinon, Dimercon) dan karbamat

(Baygon/propoxur), dan atropine sulfat sebagai antidota. Metode Mencit disuntikkan dengan salah satu insektisida secara subkutan dengan dosis bertingkat, dimulai dari 0,05 cc. Gejala- gejala klinis yang tampang diperhatikan. Jika terlihat gejala sesak napas, segera diberikan atropin secara IP. Dosis atropine yang digunakan, yaitu 0,05 mg/kg BB dengan konsentrasi 0,005

mg/mL. Berat mencit setelah ditimbang adalah 0,024 kg. Maka atropine yang diberikan adalah: Volume= 0,05 mg/kg x 0,024 kg 0,005mg/mL = 0,24 ml

Percobaan 2: Identifikasi Adanya Unsur P dalam Senyawa Organofosfat Alat dan Bahan Alat alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah tabung reaksi, pipet, dan alat pemanas. Bahan yang digunakan adalah senyawa insektisida, larutan Ammonium molybdat, dan larutan Asam nitrat pekat. Metode Beberapa tetes senyawa organofosfat diteteskan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan HNO3 pekat untuk mengubah P organik menjadi P anorganik. Tabung reaksi berisi larutan tersebut dipanaskan selama beberapa menit. Setelah itu dinginkan dan saring menggunakan kertas saring. Ammonium molybdat ditambahkan kedalam filtrat dan dilihat apakah terbentuk warna hijau kekuningan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Percobaan 1: Keracunan Insektisida Organofosfat/ Karbamat No 1 2 3 4 5 6 7 8 Gejala Klinis Hipersalivasi Hiperlakrimasi Dilatasi Pupil Pernapasan (kali/menit) Denyut Jantung (kali/menit) Defekasi Urinasi Tremor /Kejang 0,05 140 180 Volume Diinjeksikan (mL) 0,1 0,2 + + 120 180 140 + 165 0,4 + + 148 174 -

4.2 Pembahasan Mencit yang diinjeksikan Klorfiripos dengan dosis bertingkat mengalami gejala klinis yang mulai terlihat di penyuntikan dengan volume 0,1 mL. mencit mengalami hipersalivasi . Gejala ini merupakan gejala langsung keracunan insektisida. Setelahnya, mencit mengalami urinasi dan hiperlakrimasi yang terjadi setelah diinjeksikan dengan volume 0,4 mL. gejala tersebut juga merupakan gejala langsung. Gejala tidak langsung yang dialami mencit adalah berupa penyempitan bronkus, terlihat dari ritme napas yang tidak teratur yang menandakan mencit mengalami sesak napas. Pada percobaan tidak ditemukan gejala klinis defekasi dan dilatasi pupil mencit. Kesulitan yang dialami adalah dalam mengamati pupil mencit akibat ukurannya yang terlalu kecil. Onset dari keracunan timbul setelah 22 menit dari awal injeksi. Sebelum mencapai tahap tremor atau kekejangan, disuntikkan antidota berupa atropine sulfat dengan dosis 0,05 mg/kg BB dan konsentrasi 0,5 mg/100 mL. Perhitungan dilampirkan sebagai berikut: V = Dosis x Berat Badan Konsentrasi = 0,05mg/kg x 0,024 kg 0,5 mg/100 mL = 0,24 mL Setelah diinjeksikan atropine sulfat, ritme pernapasan mencit kembali normal. Gejala tremor tidak dialami mencit. Tremor merupakan salah satu manifestasi dari terganggunya reseptor nikotinik. Sedangkan gejala sesak napas.urinasi, hiperlakrimasi, dan hipersalivasi merupakan manifestasi dari terganggunya reseptor muskarinik. Klorfiripos merupakan insektisida golongan organofosfat yang dalam campurannya seringkali dikombinasikan dengan sipermetrin. Penggunaan dari insektisida ini harus diperhatikan agar tidak mencelakai manusia. Beberapa kasus yang terjadi dilaporkan sejumlah orang yang keracunan klorfiripos. Bahan pencemar yang masuk ke tubuh makluk hidup akan sangat merugikan karena menganggu proses fisiologis, pertumbuhan,

perkembangan, dan pengaruh lainnya (Taufik 2004). Praktikum kedua adalah mengidentifikasi adanya unsur P (fosfat) dalam senyawa organofosfat. Senyawa yang diuji mempunyai kandungan zat aktif klorfiripos. Senyawa organofosfat yang diuji kemudian dimasukkan beberapa

tetes kedalam tabung reaksi. Kemudian asam nitrat (HNO3) pekat ditambahkan kedalam tabung reaksi. Selanjutnya tabung reaksi dipanaskan. Setelah dingin, larutan disaring agar didapatkan filtratnya. Unsur fosfat dalam senyawa

organofosfat yang diuji adalah fosfat organik yang kemudian akan diubah menjadi fosfat anorganik oleh asam nitrat (HNO3). Reaksi yang terjadi antara senyawa asam nitrat (HNO3) dengan fosfat organik akan membentuk H3PO4. Selanjutnya filtrat yang didapat ditambahkan ammonium molybdat. Reaksi antara fosfat dan ammonium molybdat akan merubah warna filtrat dari kuning menjadi kuning kehijauan. Perubahan warna yang terjadi membuktikan bahwa adanya unsur fosfat didalam senyawa organofosfat yang diuji.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Toksisitas kebanyakan pestisida masih cukup tinggi bagi manusia dan hewan, oleh sebab itu keracunan oleh pestisida masih cukup sering terjadi. Insektisida yang paling sering menyebabkan keracunan dibandingkan dengan pestisida lainnya, terbagi dalam tiga kelompok, yaitu senyawa klor organic (organoklorin), kelompok senyawa organofosfat dan karbamat, dan kelompok yang ketiga yakni insektisida alam seperti piretrin.

DAFTAR PUSTAKA Darmansyah I, Gan Sulistia. 1987. Kolinergik dalam Farmakologi dan Terapi edisi 3, Farmakologi FKUI, Jakarta, Hayes Jr, Wayland J. 1991. "Dosage and Other Factors Influencing Toxicity" dalam Handbook of Pesticide Toxicology. (I) 39-96. Yusniati. 2008. Pengendalian Hama Terpadu Pada Padi Sawah.

www.sdsindonesia.com. Diakses pada 18 November 2013. [FAO]. Food and agricultural organization of the United Nation. 1986. International code of conduct on the distribution and use of pesticides, Rome.

Kishi M., Hirschhorn N., Djajadisastra M., Satterlee L.N., Strowman S., Dilts R. 1993. Relationship of Pesticide Spraying to Sign and Symptoms in Indonesia Farmers. Scand J. Work Environment Health. Nurhayati. 1997. Hubungan Model Pakaian Pelindung dengan Penurunan Cholinesterase pada Petani Penyemprot Hama Sayuran. Thesis FKM-UI: Jakarta. Prihadi. 2007. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Efek Kronis Keracunan Pestisida Organofosfat pada Petani Sayuran di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Tesis Magister Kesehatan Lingkungan UNDIP: Semarang. Taufik I. 2004. Pengaruh kronis insektisida klorfiripos etil terhadap pertumbuhan dan struktur hati ikan Nila. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Volume 10 (1): 71-77.