Anda di halaman 1dari 14

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Fungsi dari pendekatan masalah kesehatan Fungsi pendekatan masalah kesehatan secara umum adalah untuk menggambarkan suatu keadaan kesehatan masyarakat sehingga dapat menemukan sumber masalah kesehatan kemudian dapat membuat perencanaan penanggulangannya. Selain fungsi secara umum, pendekatan masalah kesehatan memiliki fungsi secara spesifik berdasarkan tujuan dan fungsi masing-masing. 1. Pendekatan Segitiga Epidemologi Untuk menerangkan penyebab penyakit infeksi sebab peran agen yang mudah diisolasikan dengan jelas dari lingkungan 2. Pendekatan Bloom Untuk menggambarkan masalah kesehatan yang menitik beratkan pada perilaku masyarakat yang ada sehingga menjadi factor terjadinya masalah kesehatan 3. Pendekatan Jaring-jaring Sebab Akibat Untuk menggambarkan masalah kesehatan yang terjadi sebagai akibat dari serangkaian proses sebab akibat 4. Pendekatan Wheels Untuk menggambarkan masalah kesehatan yang menitikberatkan pada factor genetik

4.2 Metode pendekatan masalah kesehatan beserta kekurangan dan kelebihannya 4.2.1 Pendekatan Bloom Paradigma hidup sehat H. L Bloom menjelaskan 4 faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan individu /masyarakat. Keempat factor tersebut merupakan factor determinan (penentu) timbulnya masalah kesehatan pada seorang individu atau kelompok masyarakat.

Genetik

Lingkungan

Masalah kesehatan

Perilaku Masyarakat

Pelayanan Kesehatan

Keempat factor tersebut terdiri dari factor perilaku individu atau kelompok masyarakat, factor lingkungan (social ekonomi, politik, fisik), factor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya) dan factor genetic (keturunan). Keempat factor tersebut berinterakis secara dinamis yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan kelompok masyarakat. Diantara keempat factor tersebut, factor perilaku manusia merupakan factor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan factor lingkungan.

Faktor genetic. Faktor ini paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan atau masyarakat . Pengaruhnya pada status kesehatan perorangan terjadi secara evolutif dan paling sukar dideteksi. Faktor genetic perlu mendapat perhatian di bidang pencegahan penyakit. Misalnya : seorang anak lahir dari orang tua penderita DM akan mempunyai resiko lebih tinggi dibandingkan anak yang lahir bukan dari penderita DM. Untuk upaya pencegahan , anak yang lahir dari penderita DM harus diberi tahu dan selalu mewaspadai factor genetic yang diturunkan dari orangtuanya. Oleh karenanya ia harus selalu mengatur dietnya, teratur berolah raga dan upaya pencegahan lainnya sehingga tidak ada peluang factor genetiknya berkembang menjadi factor resiko terjadinya DM pada dirinya.Jadi dapat diumpamakan , genetic adalah peluru (bullet) tubuh manusia adalah pistol (senjata), dan lingkungan/perilaku manusia adalah pelatuknya (trigger)

Faktor pelayanan kesehatan.

Ketersediaannya sarana pelayanan, tenaga kesehatan, dn pelayanan kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. Pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan yang diimbangi dengan kelengkapn saran dan prasarana serta dana akan menjamin kualitas pelayanan kesehatan. Pelayanan seperti ini akan mampu mengurangi atau mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di suatu wilayah atau kelompok masyarakat.

Faktor perilaku masyarakat. Faktor ini terutama di Negara berkembang paling besar pengaruhnya terhadap munulnya gangguan kesehatan atau masalah kesehatan di masyarakat. Tersedianya jasa pelayanan kesehatan (health service) tanpa disertai perubahan perilaku (peran serta) masyarakat akan mengakibatkan masalah kesehatan tetap potensial berkembang di masyarakat.

Faktor lingkungan. Lingkungan yang terkendali, akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang baik akan dapat menekan berkembangnya masalah kesehatan. Untuk menganalisis program kesehatan di lapangan H.L Blum dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan masalah sesuai dengan factor-faktor yang berpengaruh pada status kesehatan masyarakat.

4.2.2 Pendekatan Segitiga Epidemiologi Model segitiga epidemiologi menggambarkan kejadian suatu penyakit yang ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environment. Host atau pejamu adalah manusia yang mudah terkena atau rentan (susceptible) terhadap suatu bibit penyakit (virus, bakteri, parasit, jamur, dsb) yang dapat menyebabkan ia sakit. Contoh : Penyakit cmapak mempunyai kecenderungan untuk menyerang anak-anak, khususnya anak dibawah umur lima tahun. Kekebalan terhadap campak memang sudah dibawa sejak lahir, tetapi mulai menurun sejak usia 9 bulan. Kondisi ini menyababkan bayi sebelum berumur 9 bulan perlu diberikan imunisasi untuk lebih meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap virus campak. Menurut John Bordon, model segitiga epidemiologi menggambarkan interaksi tiga komponen penyakit yaitu Manusia (Host), penyebab (Agent) dan lingkungan (Enviromet). Untuk

memprediksi penyakit, model ini menekankan perlunya analis dan pemahaman masing-masing komponen. Penyakit dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan antar ketiga komponen tersebut. Model ini lebih di kenal dengan model triangle epidemiologi atau triad epidemilogi dan cocok untuk menerangkan penyebab penyakit infeksi sebab peran agent (yakni mikroba) mudah di isolasikan dengan jelas dari lingkungan.

Pejamu (Host) : hal-hal yang berkaitan dengan terjadinya penyakit pada manusia, antara lain : 1. Umur, jenis kelamin, ras, kelompok etmik (suku) hubungan keluarga 2. Bentuk anatomis tubuh 3. Fungsi fisiologis atau faal tubuh 4. Status kesehatan, termasuk status gizi 5. Keadaan kuantitas dan respon monitors 6. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial 7. Pekerjaan, dll. (Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media

presindo,Yogyakarta. Hal.15-16)

Agents Agent adalah faktor yang menjadi bibit penyakit yang menjadi penyebab suatu penyakit. Penyebab penyakit ada yang bersifat biologis, fisik, kimia, dan sosiopsikologis. Contoh : Yang bersifat biologis : kuman mikrobakterium tuberkulosa menyebabkan penyakit TBC paru-paru. HIV menjadi penyebab AIDS. Yang bersifat fisik : sinar ultra violet dapat meningkatkan resiko host terkena tumor kulit. Yang bersifat kimia : nikotin dalam rokok menyebabkan kanker paru-paru. Yang bersifat sosio-psikologis : suasana kerja sehari-hari yang selalu menegangkan akan berpengaruh pada kesehatan jiwa karyawan.

Penyebab agent menurut model segitiga epidemilogi terdiri dari biotis dan abiotis. a. Biotis khususnya pada penyakit menular yaitu terjadi dari 5 golongan 1. Protozoa : misalnya Plasmodum, amodea

2. 3. 4. 5.

Metazoa : misalnyaarthopoda , helminthes Bakteri misalnya Salmonella, meningitis Virus misalnya dengue, polio, measies, lorona Jamur Misalnya : candida, tinia algae, hystoples osis

b. Abiotis, terdiri dari 1. Nutrient Agent, misalnya kekurangan /kelebihan gizi mineral, protein dan vitamin) 2. 3. 4. Chemical Agent, misalnya pestisida, logam berat, obat-obatan Physical Agent, misalnya suhu, kelembaban panas, kardiasi, kebisingan. Mechanical Agent misalnya pukulan tangan kecelakaan, benturan, gesekan, dan getaran 5. 6. Psychis Agent, misalnya gangguan phisikologis stress depresi Physilogigis Agent, misalnya gangguan genetik. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kehidupan sehat.(Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media (karbohididrat, lemak,

pressindo,Yogyakarta. Hal.16-17.)

Unsur lingkungan (Enviroment) Environment atau lingkungan adalah situasi atau kondisi di luar host atau agent yang memudahkan interkasi antara keduanya. Faktor ini juga dapat menjadi resiko timbulnya gangguan penyakit pada host karena lingkungan memberikan peluang agent untuk berkembang (breeding). Lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan biologis, fisik, kimia, dan sosialekonomi. Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan terjadinya sifat karakteristik individu sebagai pejamu dan iku memegang peranan dalam proses kejadian penyakit. 1. Lingkungan Biologis Segala flora dan fauna yang berada di sekitar manusia yang antara ,ain meliputi :

Beberapa mikroorganisme patogen dan tidak patogen; Vektor pembawa infeksi

Berbagai binatang dan tumbuhan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik sebagai sumber kehidupan (bahan makanan dan obat-obatan), maupun sebagai reservoir/sumber penyakit atau pejamu antara (host intermedia) ; dan

Fauna sekitar manusia yang berfungsi sebagai vektor penyakit tertentu terutama penyakit menular. Lingkungan biologis tersebut sangat berpengaruh dan memegang peranan yang

penting dalam interaksi antara manusia sebagai pejamu dengan unsur penyebab, baik sebagai unsur lingkungan yang menguntungkan manusia (senbagai sumber kehidupan) maupun yang mengancam kehidupan / kesehatan manusia (Nur nasri noor.2002,Epidemiologi,Univesutas Hasanuddin Makassar.Hal.28-29) Contoh : Lingkungan biologi : di suatu wilayah (lagoon) akan memudahkan nyamuk anopheles berkembang. Lingkungan seperti ini akan memudahkan terjadinya penularan penyalit malaria.

2. Lingkungan fisik Keadaan fisik sekitar manusia yang berpengaruh terhadap manusia baik secara langsung, maupun terhadap lingkungan biologis dan lingkungan sosial manusia. Lingkungan fisik (termasuk unsur kimiawi serta radiasi) meliputi :

Udara keadaan cuaca, geografis, dan golongan Air, baik sebagai sumber kehidupan maupun sebagai bentuk pemencaran pada air, dan

Unsur kimiawi lainnya pencemaran udara, tanah dan air, radiasi dan lain sebagainya. Lingkungan fisik ini ada yang termasuk secara alamiah tetapi banyak pula yang

timbul akibat manusia sendiri (Nur nasri noor,2000,Dasar epidemiologi,Rinika cipta,Jakarta. Hal.28.) Contoh : Lingkungan fisik : sinar ultra violet akan memudahkan timbulnya kanker kulit.

3. Lingkungan sosial

Semua bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, sistem organisasi. Serta instusi/peraturan yang berlaku bagi setiap individu yang membentuk masyarakat tersebut.Lingkungan sosial ini meliputi :

Sistem hukum, administrasi dan lingkungan sosial politik, serta sistem ekonomi yang berlaku;

Bentuk organisasi masyarakat yang berlaku setempat Sistem pelayanan kesehatan serta kebiasaan hidup sehat masyarakat setempat, dan Kebiasaan hidup masyarakat Kepadatan penduduk. Kepadatan rumah tangga, serta berbagai sistem kehidupan sosial lainnya.

Contoh : Lingkungan sosial : situasi rumah yang padat hunian (banyak anggota keluarga) akan memudahkan penularan penyakit scabies di antara penghuninya

Dari keseluruhan unsur tersebut di atas, di mana hubungan interaksi antara satu dengan yang lainnya akan menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan demikian maka terjadinya suatu penyakit tidak hanya di tentukan oleh unsur penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana rantai penyebab dan hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh berbagai faktor maupun unsur lainnya. Oleh sebab itu, maka dalam setiap proses terjadinya penyakit, selalu kita memikirkan adanya penyebab jamak (multiple causational). Hal ini sangat mempengaruhi dalam menetapkan program pencegahan maupun penanggulangan penyakit tertentu. Karena usaha tersebut hanya akan memberikan hasil yang di harapkan bila dalam perencanaannya memperhitungkan berbagai unsur di atas. (Nur nasry

noor.2002.Epidemiologi. Universitas Hasanuddin,Makassar.Hal.29) Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor egen, pejamu dan lingkungan, John Gordon menganalogikan sebagai timbangan pengumpil (pengungkit) dengan lingkungan sebagai titik tumpunya. Pada dasarnya selalu terjadi hubungan dan pengaruh timbal balik antara faktor-faktor pejamu, agen dan lingkungan, yang berusaha mencapai suatu keadaan keseimbangan. Perubahan dari keseimbangan dapat dilihat dari contoh-contoh berikut ini.

Gambar segitiga epidemologi : 1. A H Keterangan : A: Agent H: Host E E: Environment

Timbangan tersebut menggambarkan tercapainya keseimbangan, sehingga baik agent maupun host tidak ada yang dirugikan dan pada keadaan ini tedapat suasana hidup berdampingan secara damai antara agent dan host.

2. H

A E

Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan dari kemampuan agent untuk menginfeksi serta menimbulkan penyakit pada manusia.

3.

H E

Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan peningkatan proporsi kerentanan dari populasi manusia, misalnya karena menurunnya imunitas dari host itu sendiri. Misalnnya pada saat musim pancaroba, seringkali imunitas manusia itu menurun sehingga lebih rentan terserang berbagai penyakit. Sehingga walaupun jumlah agent normal namun dapat pula terjadi penyakit bila imunitas host sendiri mengalami penurunan. 4. H

Perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan pergeseran titik tumpu ke arah host sehingga menggambarkan bahwa perubahan lingkungan tersebut merangsang penyebaran agen yang menyebabkan peningkatan kemampuan agen untuk menginfeksi. Misalnya pada suatu desa tertentu pada awalnya memiliki sumber air yang bersih, tetapi kemudian terjadi banjir yang membawa berbagai macam mikroorganisme penyebab penyakit sehingga mengkontaminasi air minum di desa tersebut, maka terjangkitlah wabah penyakit pada desa tersebut oleh karena air minum yang sudah terkontaminasi.

5. A

Disamping itu, perubahan lingkungan dapat pula menyebabkan perubahan kerentanan pejamu (host), sehingga terjadi pergeseran titik tumpu ke arah agent. Keadaan ini terjadi misalnya pada perkembangan daerah industri yang pesat menyebabkan konsentrasi zat-zat pencemar di udara meningkatkan kerentanan (memudahkan terserang penyakit) pada manusia, terutama infeksi saluran pernafasan. 4.2.3 Pendekatan Wheel Seperti halnya model jaring-jaring sebab akibat, model roda memerlukan identiflkasi berbagai faktor yang berperan dalam timbulnnya penyakit dengan Hak menekankan pentingnya agens. Di sini dipentingkan hubungan antara manusia dan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan tiap-tiap lingkungan bergantung pada penyakit yang diderita. Sebagai contoh, peranan lingkungan sosial lebih besar dari pada yang lainnya pada "sorbun". Peranan lingkungan biologis lebih besar dari pada yang lain pada Sebagai contoh peranan lingkungan sosial lebih besar dari yang lainnya pada stress mental, peranan lingkungan fisik lebih besar dari lainnya pada sunburn, peranan lingkungan biologis lebih besar dari lainnya pada penyakit yang penularannya melalui vektor (vektor borne disease) dan peranan inti genetik lebih besar dari lainnya pada penyakit keturunan. Dengan model-model tersebut diatas hendaknya ditunjukkan bahwa pengetahuan yang lengkap mengenai mekanisme-mekanisme terjadinya penyakit tidaklah diperuntukkan bagi usaha-usaha pemberantasan yang efektif. Oleh karena banyaknya interaksi-interaksi ekologis maka seringkali kita dapat mengubah penyebaran penyakit dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung pada penyebab penyakit.

Manusia manusia

Struktur genetik

lingkungan

4.2.4. Pendekatan Jaring- jaring sebab akibat Merupakan salah satu dari 3 konsep dasar epidemiologi (segitiga epidemiologi, jaringjaring sebab akibat, roda) yang memberikan gambaran tentang hubungan sebab akibat yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Pada model jaring-jaring sebab akibat terdapat berbagai macam sebab; sesuatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri melainkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan akibat. Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan. Dengan demikian timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan cara memotong rantai pada berbagai titik.

PENDIDIKAN RENDAH

PENGETAHUAN GIZI RENDAH

KEMISKINAN

PRODUKSI BAHAN MAKANAN RENDAH

DAYA BELI RENDAH

KONSUMSI MAKANAN TDK MEMADAI

PENYAKIT KURANG GIZI

FASILITAS KES.KURANG

KESEHATAN KURANG

DAYA TAHAN TUBUH & PENYERAPAN GIZI TERGANGGU

4.3 kelebihan dan kekurangan masing-masing pendekatan masalah dan waktu pemakaian metode-metode pendekatan masalah kesehatan 4.3.1 Pendekatan Bloom Kelebihan : Konsep Bloom banyak dipakai oleh paradikma sehingga paling sering dipakai pada saat ini Dapat mengidentifikasi masalah sesuai dengan status kesehatan masyarakat Mengetahui kondisi sehat sakit dalam suatu rentan Hasil lebih terperinci karena melewati beberapa proses yaitu mengetahui, mempelajari, mensintesis, mengefaluasi Menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat Mengupayakan kesehatan

Penilaian yang dilakukan mengandung unsure objektivitas yang tinggi Didasarkan pada suatu perencanaan yang sistematis Dapat menentukan derajat kesehatan suatu ilayah Meningkatkan lingkungan sehat dan dinamis Untuk fungsi perencanaan program kesehatan dan pemanfaatan epidemologi dan manajemen umum Mengandung pola hidup yang holistic

Kekurangan : Tidak dapat digabung dengan pendekatan lain Masalah kesehatan masyarakat tidak dapat dirumuskan dengan cepat Perlu fasilitas, biaya, waktu yang banyak Sebatas sebab akibat tidak dapat kembali ke akibat sebab

4.3.2 Pendekatan segitiga epidemologi Kelebihan : Komprehensif Untuk menentuksn pols penyebsrsn, csrs pengendslisn, pencegshsn suatu penyakit Analisis detail Dapat prediksi sebuah penyakit Dapat memahami teori sehat dan sakit Dapat menentukan etiologi dari suatu penyakit

Kekurangan : Meluas tidak hanya pada penyakit menular dengan menentukan pada pengertian agen

4.3.3 Pendekatan Wheels Kelebihan : Memberikan batasan jelas antara ketiga factor Melakukan tindakan preventif dan promotif

Waktu analisis lebih cepat

Kekurangan : Sulit menentukan sebab penyakit Memerlukan pengetahuan yang lengkap Mekanisme kurang lengkap Tidak bisa melakukan tindakan kuratif Kurang akurat Kurang efisien

4.3.4 Pendekatan jarring-jaring sebab akibat Kelebihan : Dapat menunjukan agen yang spesifik Dapat dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan strategi pengendalian dan pencegahan penyakit Menghasilksn proses yang akurat Dapat dibuat sebab akibat dan sebaliknya Menghasilkan detail dan hasil yang akurat

Kekurangan : Tidak bergantung pada satu sebab Mahal dan rumit Waktu yang dibutuhkan lama Kompleksdan rumit Butuh analisis khususa