Anda di halaman 1dari 7

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.

) Boerl) TERHADAP Staphylococcus epidermidis PENYEBAB JERAWAT ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST OF MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) FRUIT ETHANOL EXTRACT ON Staphylococcus epidermidis THAT CAUSE ACNE Opstaria saptarini, bPerawati, cYerri Hartanto a,b,c Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Jl.Let. Jend. Sutoyo, Mojosongo, Surakarta 57127
ABSTRAK Tanaman mahkota dewa (Phaleria marcrocarpa (Scheff.) Boerl) merupakan salah satu tanaman obat yang banyak digunakan masyarakat sebagai obat tradisional yang mempunyai banyak khasiat salah satunya sebagai obat jerawat dan bisul. Flavonoid dan saponin merupakan komponen senyawa kimia yang terdapat pada buah mahkota dewa dimana keduanya diduga sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak maserasi dan soxhletasi buah mahkota dewa mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis serta ekstrak manakah yang menghasilkan aktivitas antibakteri yang lebih kuat terhadap Staphylococcus epidermidis. Hasil identifikasi Staphylococcus epidermidis berupa koloni pada medium VJA berbentuk bulat, licin, mengkilat, tidak bergerigi tepinya dan berwarna putih seperti susu, merupakan bakteri gram positif dengan warna bakteri berwarna ungu menghasilkan katalase positif dan koagulase negatif. Cara penelitian uji aktivitas antibakteri ekstrak maserasi dan soxhletasi buah mahkota dewa dengan metode dilusi hingga diperoleh beberapa macam konsentrasi dari sediaan galenik. Hasil dari Ekstrak soxhlatasi lebih efektif dibandingkan ekstrak maserasi sebagai antibakteri yang ditunjukkan dengan konsentrasi bunuh minimum untuk ekstrak soxhletasi adalah 3,125 % sedangkan untuk maserasi adalah 6,25 % pada bakteri Staphylococcus epidermidis. Berdasarkan analisa statistik uji t dari dua sampel independen didapat t hitung > dari t kritis yaitu 4,26444 > 1,860 artinya ada perbedaan aktivitas ekstrak soxhletasi dengan maserasi buah mahkota dewa terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis . Kata kunci : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl, Staphylococcus epidermis ABSTRACT Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) has been used as traditional medicine and has some purpose as anti acne and ulcer. Chemical compound contained in mahkota dewa fruit are flavonoid and saponin thatsuspected as antibacterial. The aim of experiment was to know whether mahkota dewa fruid maceration and soxhletation extract had antibacterial activity andwhich extract produced stronger antibacterial activity on Staphylococcus epidermidis. The result of Staphylococcus epidermidis identification : the colonies on the VJA medium were circular, smooth, shining, un-jagged edge, milk white color, purple gram_positive bacteria producing catalase positive and coagulase negative. The experiment of antibacterial activity test of mahkota dewa fruit maceration and soxhletation extract was done by dilution method so that it was Obtained various concentrations of galenic preparation. The soxhletation extractwas more effective that the maceration extract showed minimum bacterial was6,25% on Staphylococcus epidermidis bacteria. According to t- test > t- critic that was 4,26444 > 1,680 meaning there was a difference activity between soxhletation and maceration extract of mahkota dewa fruit on Staphylococcus epidermidis. Keywords : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl, Staphylococcus epidermidis
a

PENDAHULUAN Pengenalan dan penggunaan tumbuhan obat sudah ada sejak dulu jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat modern menyentuh masyarakat. Pengetahuan mengenai tumbuhan obat Indonesia merupakan warisan dari generasi

sebelumnya sehingga ada kecenderungan daerah yang satu dan yang lainnya berbeda dalam hal penggunaan. Pendayagunaan obat tradisional sekarang ini yang berasal dari tumbuh tumbuhan berkembang pesat dan banyak dijadikan alternatif pengobatan oleh sebagian masyarakat. Efek samping obat tradisional yang relatif kecil, harganya yang dapat terjangkau oleh masyarakat merupakan keunggulan obat tradisional. Jerawat adalah penyakit kulit akibat peradangan dari saluran kelenjar minyak folikel rambut yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustule, nodulus dan kista pada muka, leher, lengan atas, dada dan punggung. Radang saluran kelenjar minyak folikel rambut dapat menyebabkan sumbatan aliran sebum yang merupakan hasil sekresi yang dikeluarkan oleh kelenjar tersebut dipermukaan kulit, sehingga timbul erupsi kepermukaan kulit yang dimulai dengan komedo. Proses radang selanjutnya akan membuat komedo berkembang menjadi papul, pustule, nodulus, dan kista. Peradangan yang terjadi akan surut dan menjadi jaringan parut dengan berbagai bentuk. Sumbatan saluran kelenjar minyak dapat terjadi karena perubahan jumlah dan konsistensi lemak kelenjar akibat pengaruh berbagai faktor penyebab yaitu genetik, rasial, hormonal, cuaca, jasad renik, makanan, stress psikis, tertutupnya saluran kelenjar minyak folikel rambut oleh masa eksternal, baik dari kosmetika bahan kimia atau ikatan rambut, saluran keluar kelenjar minyak folikel rambut akan menyempit akibat radiasi sinar ultra violet, sinar matahari atau sinar radioaktif (Wasitaatmadja, 1997). Jerawat merupakan penyakit kulit yang akrab bagi remaja dan dewasa muda kebanyakan jerawat terjadi pada masa remaja atau dewasa muda, tetapi nyatanya jerawat dapat datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Jerawat adalah penyakit kulit akibat peradangan dari kelenjar minyak folikel rambut yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodulus dan kista pada muka, leher, lengan atas, dada dan punggung (Wasitaatmadja, 1997). Penyebabnya belum diketahui secara lengkap tetapi yang sudah pasti adalah multi faktoral. Faktor-faktor tersebut adalah genetik, ras, haid, pil antihamil,

endokrin, makanan, musim, kejiwaan (psikis), infeksi bakterial, kosmetik, faktor trauma pada kulit (seperti gesekan, tekanan, cubitan) (Halim dan Sambijono, 1986). Penelitian ini menggunakan bakteri Staphylococcus epidermidis penyebab jerawat. Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang berperan dalam jerawat (Halim dan Sambijono, 1986 ). Bakteri ini merupakan flora normal pada kulit manusia, saluran pernafasan dan saluran pencernaan makanan. Staphylococcus epidermidis yang mempunyai daya invasi rendah serta bergabung dengan faktor-faktor ekstra seluler dan toksin berperan pada banyak infeksi kulit, misalkan jerawat (Jawetz dkk, 1986). Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) merupakan salah satu tanaman yang perlu dikembangkan sebagai obat tradisional. Tanaman mahkota dewa memiliki buah seperti bola dengan ukuran bervariasi. Saat masih muda warnanya hijau setelah tua menjadi merah marun, dagingnya berwarna putih begitu juga dengan cangkangnya, bijinya bulat dan berwarna putih. Berdasarkan para pengobat tradisional, buah mahkota dewa dapat menyembuhkan berbagai penyakit diantaranya adalah penyakit jantung, lever, kanker, diabetes militus, berbagai pengobatan ringan (eksim, jerawat, gigitan serangga) (Harmanto, 2003). Kandungan senyawa kimia dalam buah mahkota dewa adalah golongan alkaloid, terpenoid, lignan (polifenol), flavonoid, dan golongan senyawa resin (Dalimartha, 2003). Fungsi flavonoid salah satunya adalah bekerja sebagai antimikroba (Robinson, 1995). Metode maserasi digunakan karena cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kekurangannya adalah lama dan penyariannya kurang sempurna (Anonim, 1986 ). Pada metode soxhletasi pelarut yang digunakan lebih sedikit, penyarian zat aktif tumbuhan lebih sempurna dan tidak memerlukan waktu yang lama. Kekurangan dari metode ini adalah alat yang digunakan lebih rumit, membutuhkan energi yang tinggi dan tidak baik untuk tumbuhan yang tidak tahan pemanasan (Voigt, 1994). Penelitian ini menggunakan cairan penyari etanol karena lebih selektif, kapang maupun kuman sulit

tumbuh pada etanol dengan konsentrasi 20% keatas, tidak beracun, netral, absorbansinya baik, dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan, dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih rendah (Anonim, 1986 ). Digunakan etanol 70% karena dapat menghasilkan suatu bahan aktif yang optimal, bahan pengotornya hanya dalam skala kecil turut dalam cairan pengekstrak (Voigt, 1994). Metode yang digunakan pada uji antibakteri ini adalah metode dilusi. Aktivitas mikrobia diukur secara in vitro untuk menentukan potensi agen antimikrobia, konsentrasinya dalam cairan tubuh atau jaringan dan kepekaan mikroorganisme penyebab penyakit terhadap obat yang diketahui. Penentuaan kepekaan bakteri terhadap antimikroba dapat dilakukan dengan metode pokok yakni dengan dilusi (Jawetz dkk, 1986). Metode dilusi berfungsi untuk mencari KHM (konsentrasi hambat minimum) dan KBM (konsentrasi bunuh minimum). Metode dilusi ini menggunakan antimikrobia dengan kadar yang menurun secara bertahap menggunakan media cair. Bakteri uji kemudian diinokulasikan pada media tersebut, setelah itu ditambahkan larutan uji dengan konsentrasi yang dapat menghambat atau mematikan bakteri Staphylococcus aureus epidermidis dan diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37oC (Anonim, 2003). Keuntungan metode ini adalah memberikan hasil kuantitatifyang menunjukkan konsentrasi antimikrobia yang dibutuhkan untuk mematikan bakteri (Anonim, 2003). Prinsip dari metode ini adalah penghambatan pertumbuhan kuman dalam pembenihan cair oleh suatu obat yang dicampurkan kedalam pembenihan. Pembenihan yang dipakai harus merupakan pembenihan yang dapat menumbuhkan kuman secara optimum dan tidak menetralkan obat yang dipergunakan ( Bonang dan Koeswardono, 1982). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak maserasi dan soxhletasi buah mahkota dewa mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis serta ekstrak manakah yang menghasilkan aktivitas antibakteri yang lebih kuat terhadap Staphylococcus epidermidis.

METODE PENELITIAN Alat Alat alat yang digunakan dalam penelitian ini termasuk alat gelas yang umum digunakan di laboratorium. Alat yang digunakan meliputi tabung reaksi, cawan petri, inkas, pipet ukur, pipet volume, bejana erlenmeyer, gelas beaker, corong gelas, jarum ose, pinset, autoklaf, oven, penangas air, mikroskop, rak tabung reaksi, gelas ukur, pembakar spiritus, timbangan gram kasar, anak timbangan dan kertas timbang. Selain itu digunakan juga alat soxhlet, kondesor labu alas bulat, kapas lidi steril, blender dan syringe. Bahan Bahan sampel yang digunakan adalah buah mahkota dewa dan bahan penyari yang digunakan adalah etanol 70%. Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah Staphylococcus epidermidis. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah Media Brain Heart Infusion (BHI), Vogel Johnson Agar (VJA). Bahan kimia yang digunakan dalam proses penyarian, identifikasi dan uji aktivitas antibakteri adalah etanol 70%, aquades, asam sulfat , asam klorida pekat, pereaksi mayer, pereaksi dragendrof. Prosedur Penelitian 1. Penyiapan tanaman. Bahan dan Determinasi

Tahap pertama penelitian ini adalah menetapkan kebenaran sampel buah mahkota dewa. Berkaitan dengan ciri-ciri morfologis buah mahkota dewa yang ada terhadap kepustakaan yang sesuai. 2. Pengumpulan bahan, pengeringan dan pembuatan serbuk

Buah mahkota dewa yang diperoleh dari daerah Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah. Sampel diambil pada saat tanaman berbuah dalam kondisi matang, berwarna merah marun. Buah mahkota dewa dibersihkan dari kotoran hingga didapatkan buah mahkota dewa yang benar - benar bersih, cangkang biji dan bijinya dibuang kemudian dipotong-potong atau dirajang dalam

ukuran tertentu sehingga mudah terjadi penguapan air yang terkandung didalamnya setelah itu dikering dibawah sinar matahari dengan ditutupi kain hitam agar zat-zat aktif yang terkandung tidak ikut menguap dan mengurangi perubahan kimia yang terlalu besar oleh matahari, dikeringkan hingga cukup kering lalu diblender. Potongan buah mahkota dewa perlu diblender agar kontak penyari dengan bahan utama lebih efektif dan zat dapat tersari lebih sempurna. 3. Pembuatan ekstrak etanol dengan metode maserasi dan soxhletasi a. Ekstrak hasil maserasi. Serbuk buah mahkota dewa 50,0 gram dimasukkan kedalam botol dengan ditambahkan 375 etanol 70 %. Perendaman dilakukan selama 5 hari sambil sesekali digojok. Ekstrak maserasi yang didiamkan selama 5 hari selanjutnya disaring, kemudian dipekatkan dengan penangas air sampai didapat ekstrak maserasi yang kental dan bebas etanol. Ekstrak tersebut kemudian digunakan untuk uji antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. b. Ekstrak hasil soxhletasi. Serbuk buah mahkota dewa sebanyak 50,0 gr dibungkus kertas saring kemudian disoxhletasi dengan penambahan etanol 70% dengan satu setengah sirkulasi. Proses ekstraksi dilakukan sampai sampel terekstraksi sempurna semua ditandai dengan cairan penyarinya bening. Ekstrak yang didapatkan dipekatkan dengan penangas air sampai kental dan bebas etanol. Ekstrak tersebut selanjutnya digunakan untuk uji antibakteri. 4. Pembuatan suspensi bakteri. Bakteri yang diambil pada biakan murni diambil 0,1 ml suspensi bakteri kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisi 100 ml media BHI. Selanjutnya kekeruhan disamakan dengan kekeruhan standart Brown II yang dianggap setara dengan 678 juta per ml bakteri Staphylococcus epidermidis (Bonang dan koeswardono, 1982). 5. Pengujian aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol hasil maserasi dan soxhletasi yang didapat, diuji secara mikrobiologi dengan bakteri uji yaitu Staphylococcus epidermidis. Metode yang digunakan adalah metode dilusi, metode ini digunakan untuk mengetahui KHM dan KBM. Metode dilusi menggunakan satu

deretan tabung yang terdiri dari 12 tabung steril. Konsentrasi larutan stock yang dibuat adalah 100% b/v, kemudian diencerkan dengan pelarut aquadest steril. Secara aseptik dari larutan stock tersebut dibuat deret kosentrasi di bawahnya yaitu 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,565%, 0,78125%, 0,390625%, 0,1953125%. Pada tabung kesatu berisi ekstrak sebanyak 1 ml sebagai kontrol negatif sedangkan tabung kedua belas berisi suspensi bakteri sebanyak 1 ml sebagai kontrol positif. Tabung kedua berisi 0,5 ml ekstrak dengan konsentrasi 100%. Pengenceran dimulai dari tabung ketiga sampai tabung kesebelas dengan penambahan 0,5 ml aquadest pada setiap tabung. Hasil pengenceran dari tabung ketiga diambil 0,5 ml kemudian dimasukkan kedalam tabung keempat kemudian dari tabung keempat diambil lagi 0,5 ml dimasukkan dalam tabung kelima begitu seterusnya sampai pada tabung kesebelas, dari tabung kesebelas diambil 0,5 ml yang kemudian dibuang. Pada tahab akhir ditambahkan 0,5 ml suspensi bakteri dalam BHI dengan perbandingan 1 : 1000 pada masing masing tabung kemudian diinkubasi selama 24 sampai 48 jam pada suhu 37oC (Bonang dan Koeswardono, 1982). Konsentrasi hambat minimum ditentukan dengan mengamati adanya kekeruhan pada seri pengenceran dari sejumlah tabung yang telah diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 sampai 48 jam, dimana tabung dengan larutan jernih setelah tabung keruh terakhir merupakan KHM. Konsentrasi bunuh minimum ditentukan dengan menggoreskan larutan dari sejumlah tabung yang hasilnya jernih pada medium selektif dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 sampai 48 jam. Diamati ada tidaknya pertumbuhan koloni bakteri maka merupakan KBM. 6. Analisa data. Analisa data untuk membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak etanol hasil maserasi dan soxhletasi buah mahkota dewa dalam berbagai konsentrasi terhadap Staphylococcus epidermidis dalam penelitian ini menggunakan analisa statistik dengan uji t dengan taraf kepercayaan pengujian 95%.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengumpulan bahan, pengeringan, dan pembuatan serbuk Buah mahkota dewa yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari daerah slogohimo,wonogiri, Jawa tengah sebanyak 1000,0 gram dengan 3 kali pengulangan. Pengambilan buah dilakukan pada saat buah dalam kondisi matang, berwarna merah marun. Buah mahkota dewa sebanyak 1000,0 gram setelah melalui proses pengeringan diperoleh bobot kering sebanyak 99,5 gram. Hasil pengeringan yang kedua dan ketiga adalah 97,1 gram dan 96,9 gram. Proses pengeringan dilakukan setelah buah mahkota dewa dicuci bersih. Hasil identifikasi bakteri Staphylococcus epidermidis Identifikasi bakteri Staphylococcus epidermidis melalui pewarnaan gram dilakukan untuk membedakan antara bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri gram positif dengan hasil percobaan berwarna ungu berbentuk kokus, bergerombol seperti anggur. Staphylococcus epidermidis dapat membentuk kompleks protein ribonukleat Sehingga dapat mempertahankan bahan warna dasar setelah dilakukan proses pelunturan dengan alkohol. Identifikasi dengan medium VJA terlihat koloni berwarna putih seperti susu dan warna medium disekitar koloni tidak berwarna kuning berarti bakteri teridentifikasi Staphylococcus epidermidis. VJA digunakan sebagai medium selektif untuk dapat membedakan antara Staphylococcus epidermidis dengan S. aureus. Hasil koloni tidak berwarna hitam dikarenakan Staphylococcus epidermidis tidak dapat mereduksi telurit seperti halnya S. aureus. Medium VJA Koloni Staphylococcus epidermidis Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak buah mahkota dewa Penelitian ini menggunakan metode dilusi yang bermanfaat untuk mengetahui konsentrasi minimum dari ekstrak yang bersifat bakteriostatik maupun bakterisid. Konsentrasi minimum bakteriostatik dan bakterisid dapat diketahui dari tabung yang jernih yang jika

digoreskan pada media uji tidak ada pertumbuhan bakteri (Tabel 1). Hasil penelitian diatas menunjukkan ekstrak soxhletasi dan maserasi buah mahkota dewa mempunyai aktivitas terhadap bakteri dengan konsentrasi yang berbeda dalam membunuh bakteri Staphylococcus epidermidis, sedangkan KHM dapat ditentukan dengan mengamati adanya kekeruhan pada seri pengenceran dari sejumlah tabung yang diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam sampai 48 jam, dimana tabung dengan larutan jernih setelah tabung keruh terakhir merupakan KHM. Konsentrasi Hambat minimum dalam penelitian ini dapat diketahui dengan melihat konsentrasi dibawah KBM karena ekstrak yang digunakan berupa larutan berwarna sehingga tidak bisa dibedakan antara batas tabung yang keruh dengan yang jernih, kemungkinan tabung yang keruh pada penelitian ini disebabkan ekstrak memang berupa larutan yang berwarna bukan karena adanya pertumbuhan bakteri yang menyebabkan kekeruhan. Konsentrasi hambat minimum dapat ditunjukkan dengan hasil 1,565% untuk ekstrak soxhletasi dan 3,125% untuk ekstrak maserasi. Konsentrasi bunuh minimum dalam praktikum didapatkan hasil 3,125% untuk ekstrak etanol hasil soxhletasi dan 6,25% untuk ekstrak etanol hasil maserasi (Tabel 2). KESIMPULAN Hasil penelitian pengujian aktivitas antibakteri buah mahkota dewa terhadap Staphylococcus epidermidis dapat disimpulkan: Pertama, ekstrak etanol hasil maserasi dan soxhletasi buah mahkota dewa mempunyai aktivitas terhadap Staphylococcus epidermidis. Kedua, ekstrak soxhletasi buah mahkota dewa mempunyai aktivitas antibakteri lebih besar dari pada ekstrak maserasi buah mahkota dewa ditunjukkan dengan KHM 1,565% dan KBM 3,125% untuk ekstrak soxhletasi sedangkan KHM 3,125% dan KBM 6,25% untuk ekstrak maserasi.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1980, Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 170, 171 Anonim, 1986, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 41- 45. Anonim, 2003, Bakteriologik Medik, Bayumedia, Malang, 29, 94, 122. Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Jilid 4, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 605-608. Backer, C. A., Van den Brink, R. C. B., 1986, Flora of Java, Vol III, Publiser Under Auspices of The Rucksherbarium, Netherlands, 44 - 45, 70-75. Bonang, G., Koeswardono, E. S., 1982, Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik, Gramedia, Jakarta, 77, 114, 115. Breed, R.S., Murray, E.G.D., Smith, N.R., 1957, Bergeys Manual of Determinative Bacteriologi, 7th edition, The Williams and Wilkins Company, Baltimore, 464 466. Dalimartha, S., 2003, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 3, Puspa Swara, Jakarta, 62-65. Gunawan, D., Mulyani, S., 2004, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi), Jilid 1, Penebar Swadaya, Jakarta, 9-11, 13.

Halim, H., Sambijono, S.W., 1986, Penatalaksanaan Akne Vulgaris, Cermin Dunia Kedokteran, Jakarta, Edisi 41, 29 32. Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia, Jilid 2, ITB, Bandung, 70, 71, 102-103, 606608. Harmanto, N., 2003, Menaklukkan Penyakit Bersama Mahkota Dewa, Agromedia Pustaka, Jakarta, 16, 17. Jawetz, E., Melnick, J.L., and Adelberg, 1986, Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan , Edisi 16, EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 239, 241 244. Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tingkat Tinggi, Jilid 6, ITB, Bandung, 157, 191, 192, 285. Voigt, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 561, 565. Wasitaatmadja, S. M., 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 181. Winarto, W.P., 2003, Mahkota Dewa Budi Daya Dan Pemanfaatan Untuk Obat, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta, 1-11.

Tabel 1. Hasil pengujian aktivitas hambat minimal antibakteri ekstrak buah mahkota dewa Terhadap Staphylococcus epidermidis Konsentrasi Hambat Minimal Konsentrasi (%) Maserasi Soxhletasi I II III IV V I II III IV V 100 50 25 12,5 6,25 3,125 1,565 + + + + 0,78125 + + + + + + + + 0,390625 + + + + + + + + + + 0,1953125 + + + + + + + + + + Kontrol negatif + + + + + + + + + + Kontrol positif Keterangan = tidak ada pertumbuhan bakteri + = ada pertumbuhan bakteri Tabel 2. Hasil pengujian aktivitas bunuh minimal antibakteri ekstrak buah mahkota dewa terhadap Staphylococcus epidermidis Konsentrasi Bunuh Minimal Maserasi Soxhletasi III IV V I II III IV + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + -

Konsentrasi (%) 12,5 6,25 3,125 1,565 0,78125 0,390625 0,1953125 Kontrol negatif Kontrol positif I + + + + + + + II + + + + + + + -

V + + + + + + -

Keterangan = tidak ada pertumbuhan bakteri + = ada pertumbuhan bakteri