Anda di halaman 1dari 13

A.

JUDUL PROGRAM Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tumbuhan Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) steen ) Terhadap Bakteri Penyebab Gingivitis Streptococcus sanguis dengan metode difusi agar

B. LATAR BELAKANG Tanaman obat di Indonesi terdapat dalam jumlah yang sangat banyak. Tanaman tersebut telah digunakan secara turun-temurun untuk mengurangi rasa sakit, menyembuhkan dan mencegah penyakit, mempercantik diri serta menjaga kondisi tubuh. Salah satu alasannya adalah efek samping yang ditimbulkan oleh obat tradisional dapat dikatakan tidak ada jika dibandingkan dengan obat-obatan kimia (Attamimi, 2001; Herlinawati, 2006; Iman, 2010). Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah binahong. Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan tanaman potensial yang dapat mengatasi berbagai jenis penyakit. Dalam pengobatan, berbagai tanaman yang digunakan dapat berasal dari daun maupun rimpang yang menempel pada ketiak daun. Binahong mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol (Manoi, 2009; Setiaji, 2009). Tanaman yang dikenal dengan sebutan Madeira Vine oleh orang inggris ini memiliki kandungan antioksidan tinggi dan antivirus. Berdasarkan data empiris di masyarakat, binahong dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, antara lain batuk, diabetes mellitus, radang ginjal, gusi berdarah (Iman, 2010; Manoi, 2009). Gingivitis adalah peradangan pada gusi yang disebabkan oleh bakteri (Moore, et al. 1987). Gingivitis marginal kronis dan periodontitis adalah penyakit yang disebabkan oleh radang yang bersifat merusak jaringan sekitar gigi. Pada awal gingivitis, organism gam positif dan fakultatif anaerob mendominasi, termasuk didalamnya streptococcus. Pada awal luka, Actinomyces spp meningkat. Pada fase non-bleeding gingivitis, jumlah Actinomyces israelii dan Actinomyces naeslundi meningkat dua kali. Setelah pendarahan mulai terbentuk, terjadi pergantian flora, dan

bakteri anaerob seperti Porphyromonas gingivitis dan Prevotella intermedia jumlahnya meningkat 0,1-0,2 % dari total flora pada plak (Samaranayake, 2002).

C. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Apakah ekstrak daun tumbuhan binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus sanguis dan Actinomyces esraelii sebagai bakteri uji? 2. Berapakah Konsentrasi Hambat Minimun (KHM) ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap bakteri uji?

D. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun tumbuhan binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap bakteri penyebab gingivitis Streptococcus sanguis dan Actinomyces israelii isolate pasien gingivitis.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Dengan adanya penelitian ini, diharapkan menjadi suatu bentuk produk sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan formulasi obat kumur untuk perawatan gingivitis.

F.

KEGUNAAN Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aktivitas antibakteri ekstrak daun tumbuhan binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap bakteri penyebab gingivitis Streptococcus sanguis.

G. TINJAUAN PUSTAKA 1. Tumbuhan Binahong Klasifikasi binahong: Tumbuhan binahong memiliki hierarki taksonomi sebagai berikut (backer 1963;cronquist 1981): Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub kelas Ordo Famili Genus Spesies Sinonim : Plantae (tumbuhan) : Tracheobionta (berpembuluh) : Spermatophyta (biji) : Magnoliophyta (berbunga) : Magnoliopsida (dikotil) : Hamamelidae : Caryophyllales : Basellaceae : Anredera : Anredera cordifolia (Ten.) Steenis : Boussingaultia gracilis Miers

Morfologi Tumbuhan: Binahong merupakan tumbuhan menjalar dan dapat mencapai panjang lebih kurang 5 m. Akar berbentuk rimpang dan berdaging lunak. Batang lunak, silindris, saling membelit, berwarna merah, kadang membentuk semacam tumbi melekat di ketiak daun dengan bentuk tak beraturan dan bertekstur kasar. Daun tunggal, bertangkai sangat pendek, tersusun berseling, berwarna hijau, bentuk jantung (condata), panjang daun 5-10 cm, lebar daun 3-7 cm, helaian daun tipis lemas, ujung runcing, pangkal berlekuk (emerginatus), tepi rata, permukaan licin, dan bisa dimakan (Usman. 2010).

Kandungan kimia: Kandungan senyawa kimia yang telah dilaporkan dalam daun binahong (Anredera cordifolia (ten.) Steenis) yaitu saponin, alkaloid, flavanoid, dan polifenol (Usman. 2010). Manfaat dan kegunaan: Daun Binahong (Anredera Cordifolia (ten) Steenis) berguna sebagai obat batuk atau muntah darah, radang paru-paru, kencing manis, sesak nafas, borok akut yang menahun, darah rendah, radang ginjal, gejala liver, disentri, hidung mimisan, habis bedah operasi, luka akibat benda tajam, jerawat, usus bengkak, gusin berdarah, kurang nafsu makan, melancarkan haid, menjaga stamina tubuh agar tetap sehat, penghangat badan, dan lemah syahwat (Usman, 2010). 2. Metode Ektraksi Cair Cair Ektraksi adalah proses penarikan senyawa metabolit sekunder dari tumbuhan atau bagian tumbuhan dengan menggunakan cairan penyari yang sesuai. Alcohol adalah pelarut yang umumnya digunakan untuk ektraksi pendahuluan. Ektraksi yang diperoleh kemudian dipekatkan dalam penguap putar yang akan memekatkan larutan menjadi volume kecil pada suhu antara 30 oC dan 40oC. Metode ini merupakan metode pemisahan sauatu molekul zat terlarut dari suatu fase cair kedalam fase cair lainnya berdasarkan kelarutannya. Ekstraksi ini menggunakan sebuah corong pisah sebagai suatu alat yang efektif untuk ekstraksi. Dengan emnggunakan corong ini maka proses pencampuran dan pemisahan terjadi dalam suatu keseimbangan distribusi senyawa antara fase cair dengan fase organic (Harborne, 1987).

3. Pengujian Aktivitas Antibakteri Uji antibakteri dari suatu senyawa atau suatu zat, dimaksudkan untuk mengetahui apakah zat tersebut mempunyai kemampuan untuk menghambat

pertumbuhan atau bahkan membunuh suatu bakteri tertentu. Metode pengujian antibakteri yang umum dilakukan, antara lain: Metode Pengenceran a. Metode Pengenceran Tabung Metode ini digunakan untuk menentukan konsentrasi terkecil dari suatu zat antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan atau bahkan membunuh suatu bakteri tertentu. Metode ini digunakan untuk menghitung Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM)atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC) (Madigan, 1997). b. Metode Pengenceran Agar Antibakteri dicampurkan homogen pada media perbenihan yang masih cair, larutan antibakteri tersebut dkocok dan dibuat dengan berbagai konsentrasi kemudian dituangkan kedalam cawan petri steril. Setelah memadat pada permukaan media dinoklulasi bakteri uji, kemudian diinkubasi didalam inkubatro selama 18-24 jam (Madigan, 1997). c. Media Difusi Agar a. Metode Cakram Kertas Metode ini dapat menggunakan cakram kertas yang sudah mengandung zat antibakteri tertentu atau menggunakan cakram kertas yang masih kosong sehingga dapat diisi dengan suatu zat antibakteri lain.Untuk cakram kertas yang telah berisi zat uji dengan konsentrasi tertentu ditempatkan pada media padat yang telah diimokulasi bakteri uji , lalu diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam. Adanya penghambatan pertumbuhan bakteri dapat terlihat dengan adanya zona bening disekeliling cakram kertas tersebut (Madigan, 1997). b. Metode Difusi dengan Perforasi Metode ini menggunakan zat antibakteri yang sudah dilartukan dalam pelarut tertentu. Agar yang masih cair pada suhu 37oC dicampurkan dengan suspense bakteri, lalu ditempatkan dalam cawan petri

steril, dibiarkan memadat 30 menit. Setelah agar memadat, dibuat lubang-lubang dengan perforator. Kedalam lubang-lubang tersebut dimasukkan zat antibakter yang akan diuji aktivitasnya dengan menggunakan mikropipet, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam. Aktivitas antibakteri dapat dilihat dari daerah hambat yang terjadi di sekeliling lubang, berupa daerah bening (Madigan, 1997). c. Metode difusi silinder Metode ini digunanakn untuk zat antibakteri yang kontak langsung dengan bakteri uji menggunakan silinder gelas berdiameter tertentu, steril, dan terbuka dikedua ujungnya . kemudian silinder diletakkan diatas permukaan agar padat yang telah berisi bakteri. Silinder diisi zat bakteri yang akan diuji aktivitasnya, diinkubasi pada suhu 37pC selama 18-24 jam. Aktivitas antibaketri dapat dilihat dari daerah hambat yang terjadi di sekeliling lubang berupa daerah hening (Tortora, 1998).

3. Tinjauan Umum Mengenaik Gingivitis Gingivitis merupakan salah satu bentuk penyakit periodontal yang umum dapat terjadi pada setiap orang. Faktor penyebabnya bersifat local atau sistemik, dan yang paling utama adalah akibat akumulasi bakteri plak pada margin gusi (Gjermo, 1984). Patologis Gingivitis Perkembangan gingivitis tergantung pada hadirnya bakteri dan akumulasi bakteri plak yang menimbulkan proses patologi pada gingival. Produk dihasilkan oleh bakteri akan berinteraksi dengan mononuclear fagosit dan fibroblast untuk mengaktivasi system imun local yaitu limfosit T dan B, melalui cytokine pathway yang memiliki semua elemen yang dibutuhkan untuk menimbulkan terjadinya perubahan jaringan. Perubahan jaringan yang terjadi berupa meningkatnya vaskularisasi, degradasi kolagen, perubahan bentuk sel epitel dan infiltrasi neutrofil pada jaringan.

Perubahan patologis pada gingivitis berhubungan dengan kehadiran mikroorganisme yang berikatan dengan gigi di dekat sulkus gusi. Organisme tersebut mampu mensintesis beberapa produk seperti kolagenase, hialuronidase, protease, kondroitin sulfatase, dan endotoksin yang membahayakan sel epitel dan jaringan ikat serta komponen intersel. Pelebaran ruangan diantara sel epitel junctional selama fase awal gingivitis dapat mengakibatkan bahan-bahan berbahaya masuk ke jaringan ikat. 4. Karakteristik Bakteri Uji Streptococcus Sanguis Pada rongga mulut, kehadiran nutrisi, debris, serkesi saliva, serta adanya jaringan keras dan lunak, menyebabkan rongga mulut menjadi habitat berbagai macam jenis bakteri. Salah satu bakteri yang hidup di rongga mulut adalah Streptococcus yang dapat menghasilkan berbagai zat ekstrasel dan enzim-enzim. Streptococcus merupakan golongan bakteri yang berbentuk kokus atau bulat, tersusun dalam formasi rantai, berdiameter 0,7-0,9 m, Gram positif, tidak bergerak, dan tidak membentuk spora. Streptococcus termasuk bakteri heterogen yang hidup secara fakultatif anaerob hingga obligat anaerob dan dapat tumbuh dengan baik pada suhu 37C (Koneman, et al., 1997; Samaranayake 2002; Jawetz, et al., 2004). Streptococcus sanguis memiliki membran asam lipoteikhoat (LTA) yang terdiri dari beberapa rantai -glukosil. LTA yang berada pada permukaan tubuh bakteri merupakan komponen yang berperan dalam pelekatan Streptococcus sanguis dengan pelikel saliva. Salah satu ujung LTA berupa lemak hidrofob dan ujung lainnya berupa lemak hidrofil. Lemak hidrofob yang terdapat pada LTA akan berinteraksi dengan fosfat atau kalsium yang terdapat pada hidroksiapatit atau grup sulfat di pelikel saliva (Rosan, 1994).

Table 2.2 Klasifikasi Streptococcus (Prescott, et al, 2003). Kingdom Phylum Class Family Genus Spesies : Procaryotae : Firmicutes : Bacili : Streptococcaceae : Streptococcus : Streptococcus sanguis

H. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan tahapan kerja yang meliputi pengumpulan, determinasi, dan preparasi bahan, ekstraksi, penapisan fitokimia, pengujian aktivitas antibakteri 1. Pengumpulan, determinasi, dan preparasi bahan Bahan tumbuhna yang digunakan adalah daun binahong (Andrera cordifolia (Tenore) Steen) dikumpulkan dari perkebunan Mannoko dilembang, Preparasi dilakukan dikeringkan sampai kering dan terlindung dari cahaya matahari.

2. Ekstraksi Daun Binahong segar dicuci dan di Rajang kemudian dikeringkan di udara terbuka terlindungi dari cahaya matahari secara langsung. Simplisia daun binahong masing masing diekstraksi dengan menggunakan etanol 70% dengan cara maserasi 3 kali 24 jam. Ekstrak yang diperoleh kemudian dikentalkan dengan alat rotary evaporator. Ektrak kental ditimbang kemudian dihitung randemennya.

3. Penapisan Fitokimia a. Alkaloid Sampel dibasakan dengan ammonia encer, lalu ditambahkan dengan kloroform. Kemudian sampel ditambahkan 2 mL HVL 0,1 Ndan dipanaskan di atas penangas air, lalu disaring. Filtrate ketiga digunakan sebagai blangko. Hasil positif akan ditunjukkan dengan terbentuknya endapan merah kecoklatan untuk Dregendorf, dan endapan putih untuk Mayer (Fansworth, 1966). b. Polifenol Sampel ditambahkan larutkan pereaksi FeCl2 1%. Adanya polifenol bila tertentu warna biru-hijau (Harborne, 1987). c. Flavanoid Sampel dilarutkan dalam aquadest kemudian ditambahkan serbuk Mg dan beberapa tetes larutan HCl pekat. Selanjutnya campuran dipanaskan selama 30 menit. Adanya flavanoid bila terbentuk warna kuning hingga merah yang dapat ditarik oleh amil alcohol (Fansworth, 1966). d. Saponin Sampel ditambah air panas, didihkan selama 2-3 menit, lalu dinginkan dan disaring. Filtrat dikocok selama 10 detik. Apabila timbul basa menujukkan adanya saponin. Untuk menyakinkan ditambah 1 tetes HCl 0,1 N, apabila basanya hilang, artinya benar saponin (Fansworth, 1966). e. Tanin Sampel dipanaskan di atas penangas air selama 30 menit, kemudian disaring. Filrat ditambahkan larutan gelatin 1%. Adanya tanin bila terbentuk endapan berwarna putih (Fansworth, 1966).

4. Pengujian Aktivitas Antibakteri a. Persiapan alat dan bahan Cawan petri, tabung reaksi, pipet volum, air suling, dan media agar disterilkan dengan otoklaf pada suhu 115-121C selama 15 menit b. Pembuatan media agar Agar SS dibuat dengan melarutkan 3 gr agar SS dalam 50 mL air suling. Media agar TSB dibuat dengan melarutkan 2 gr Trypthone Soya Broth dalam 50 ml air suling, dipanaskan sambil diaduk hingga larutan menjadi jernih. Disterilkan dalam otoklaf selama 15 menit. c. Kultivasi Bakteri uji Bakteri uji diambil satu ose, kemudian digoreskan pada agar miring SS, lalu diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam d. Suspensi bakteri Bakteri Streptococcus sanguis yang telah dibiakkan di dalam media agar SS selama 24 ajm pada suhu 37C diambil saru ose, kemudian disuspensikan di dalam TSB, lalu diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam. e. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore) steen ). 1. Dibuat suspense ekstrak etanol daun binahong dengan berbagai konsentrasi dalam Trypthone Soya Broth.\ 2. Sebanyak 0,2 mL suspense bakteri Streptococcus sanguis dimasukkan ke dalam cawan petri, kemudian ditambahkan media agar SS sebanyak 20 mL yang sudah hangat. Campuran tersebut kemudian dihomogenkan dengan gerakan memutar, lalu dibiarkan memadat. 3. Setelah campuran media agar SS dan suspense bakteri memadat dibuat lubang-lubang dengan perforator (d=0,95 cm) 4. Tiap lubang kemudian diisikan larutan ekstrak.

5. Cawan-cawan tersebut kemudian diinkubasikan dalam incubator selama 18-24 jam pada suhu 37C. setelah diinkubasi, kemudian diamati dan diukur diameter hambatnya. 5. Penetapan nilai Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimal (KHTM) Ekstrak daun Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) steen ) Disiapkan larutan ekstrak daun (Anredera cordifolia (Tenore) steen ) dalam Trypthone Soya Broth (TSB), kemudian dibuat menjadi konsentrasi 10%, 12,5%, 17,5%, 20%, dan 22,5% yang diencerkan dengan penambahan media nutrisi dalam tabung reaksi hingga volume 2 mL secara aseptic dan dicampurkan hingga homogen. Masing-masing diberi 0,1 mL suspense bakteri Streptococcus sanguis dengan volume pipet steril. Tabung reaksi kemudian diinkubasi pada suhu 37C selama 18-24 jam. Dari tiap tabung diambil satu ose dan digoreskan diatas media agar SS secara aseptic kemudian diinkubasi pada suhu 37C selama 18-24 jam. Hasilnya dilihat diantara goresan tersebut ditumbuhi bakteri atau tidak.

I.

JADWAL KEGIATAN No. Kegiatan Penelitian 1 1. 2 3 4 5 6 7 8 Studi Literatur Pengumpulan Bahan Determinasi dan Preparasi Penapisan Fitokimia Ekstraksi Pengujian aktivitas antibakteri Pengolahan data Pembuatan laporan 2 Bulan ke3 4 5 6

J.

RANCANGAN BIAYA Rincian Pengeluaran 1. Pembelian Alat Tulis Kertas 1 rim Tinta Print 3 buah 2. Bahan Buat Praktek Simplisia Binahong 1 kg Etanol 10 liter Streptococcus sanguis @Rp. 88.000, 00 Rp. 88.000, 00 @Rp. @Rp. 20.000, 00 20.000, 00 Rp. Rp. 20.000, 00 60.000, 00

@Rp. 100.000, 00 @Rp. 500.000, 00 700.000,00

Rp. 1.000.000, 00 Rp. Rp. 500.000, 00 700.000,00

Trypthone Soya Broth (TSB) @Rp.

Agar Salmonella shihella (SS)@Rp. 1.000.000,00 Spirtus 1L Aquadest 5 liter 3. Alat praktek Cawan petri 10 buah Jangka sorong Sewa Mikropipet Perforator 1 buah Tip Mikropipet 4. Transportasi Pencarian Bahan Praktek 5. Lain Lain Internet Pembuatan laporan Analisis Data Dokumentasi @Rp. @Rp. 36.000,00 60.000,00 @Rp. 13.000,00 @Rp. @Rp. 6.000,00 2000,00

Rp. 1.000.000,00 Rp. Rp. 6.000,00 10.000,00

Rp.

130.000,00

Rp. Rp.

36.000,00 60.000,00

Rp

200.000, 00

Rp Rp Rp Rp

250.000, 00 200.000, 00 100.000, 00 100.000, 00

Total Rp. 4.460.000, 00

DAFTAR PUSTAKA Cronquistm A. 1981. An Integrated System Of Classification Of Flowering Plants. Columbia University Press. New York Fansworth, N.R. 1966. Biological and Phytochemical Screening of Plant. Pharm Scl. 55(3) : 243-269 Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Pemisahan Cara Modern Menganalisis Tumbuhan, diterjemahkan oleh K. Padmawinata dan I. Soediro. Penerbit ITB. Jakarta Madigan, M. T., J. M. Martinko, and J. Parker. 1997. Biology of Microorganism. Pearson Education. United States of America. Tortora, et. Al. 1997. Microbiology on Introduction. Addison Wesley Longman. California. Usman, Mochamad. 2010. Binahong Tanaman Herbal. Tersedia online di http://www.kompasiana.com [diakses pada tanggal 26 mei 2013]. Jawetz, Melnick, dan Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. Jakarta: EGC. 211-217 Samaranayake L. P. 2002. Essential Microbiology for Dentistry. Churchill. Livingstone. London, hal. 227 228 Prescott, Lansing. M.; Harley, John P.; Klein, Donald. A. 2003. Microbiology. 5th ed. Singapore : Mc. Graw Hill.pp.346-390 Rosan, B. 1994. The Streptococci : Newman, N.G. and Nisengard, R. Oral Microbiology and immunology. 4th ed. W.B.Saunders Co.p 140-144 Gjermo P, Basstad KL, Rolla. 1984. The plaque-inhibiuting capacity of 11 antibacterial coumpounds. Journal Periodont. Res;5: 10209 Koneman and Allen. 1997. Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology. 5th ed. Philadelphia:j.B. Lippincott company. Pp. 606-612; 1045-1047; 10971098