Anda di halaman 1dari 20

Daftar Isi

Sambutan Menteri Pendidikan dan iii Sambutan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi v Kata Pengantar vii Nama-nama Yang Terkait Dalam Rangka Pembuatan ix

BAB I PENGANTAR REKAYASA LINGKUNGAN. 12 1.1 12 1.2 Hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya 13 1.3 Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan.................................... '16 1.4 Penyakit yang berhubungan dengan keadaan lingkungan 19 1.5 Rekayasa Lingkungan 24

BAB II SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH. 27 2.1 Pendahuluan 27 2.2 Sistem Penyediaan Air Bersih 32
3.1 Pendahuluan 66 3.2 Karakteristik Air 67 3.3 Sistem Pengolahan Air Limbah 70 3.4 Sistem penyaluran Air Limbah 72 3.5 Pengolahan Air Limbah 75 3.6 Operasi dan Pemeliharaan 85

BAB IV DRAINASE AIR HUJAN DAN PERMUKAAN. 90 4.1 Pengertian dan Tujuan 90 42 Faktor-faktor yang mempengaruhi Drainase permukaan............................ 90
4.3 Sistem Jaringan Drainase dan Perlengkapannya 91

BAB V SISTEM PLAMBING DALAM GEDUNG.


5.1 Pendahuluan 11 5.2 Fungsi dan jenis Peralatan Plambing 12 5.3 Sistem Pembuangan dan 19 5.4 Pemeriksaan dan Pengujian Sistem Piambing 24 5.5 Prosedur 25 5.6 Hitungan Penyediaan Air Bersih L26 BAB VI PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DOMESTIK. [29 6.1 Pendahuluan [25 6.2 Sumber dan Jenis

Limbah Padat 6.3 Karakteristik Limbah 6.3 Karakteristik Limbah 33 6.4 Sistem Pengelolaan Limbah Padat Domestik 33 BAB VII SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH B3. 144L
7.1 Pendahuluan 7.2 Sumber, Jenis dan Karakteristik Limbah 7.3 Sistem pengelolaan Limbah B3 151

BAB VIII USAHA PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA 165 8.1 Pengertian Dasar Pencemaran 166 8.2. Pentingnya Penanggulangan Pencemaran Udara 167 8.3 Klasifikasi Penccmar atau Polutan 167 8.4 Usaha penanggulangan pencemaran 174 BAB IX PENGELOLAAN LINGKUNGAN 9.1 Pendahuluan .153 9.2 Tujuan dan Komponen Pengelolaan Lingkungan...................................... .154 9.3 Pendekatan Rekayasa Lingkungan dalam pengelolaan Lingkungan .12 4 9.4 Perencanaan dalain Rekayasa Lingkungan .11 5 9.5. Dampak Pembangunan terhadap .1116

civil engineering blog

12 BAB I PENGANTAR REKAYASA LINGKUN IAN

e Bclb 1

PengonTor Rekoyoso Ungkungon


1.1. PENDAHULUAN
Pertumbuhan penduduk yang pesat menimbulkan tantangan yang dicoba diatasi den ran pembangunan dan industrialisasi. Namun industrialisasi disamping mempercepat persedi a segala kebutuhan hidup manusia juga memberi dampak negatip terhadap manusia akibat terjadinya pencemaran lingkungan. Beberapa kasus pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara yang menyebabkan 60 kematian dalam waktu 3 hari terjadi di Meuse River, Belgia. Bencana semacam ini jtpgal terjadi di Amerika, Inggeris, jepang dan lain-lain Negara. Pencemaran air yang menimbulkan cacat bawaan pada bayi-bayi terjadi antara lain di Minamata Bay (Jepang). Keracunan makajan karena limbah industri terjadi di negara-negara maju, sedangkan di negara sedang berkembang seperti Indonesia, Pakistan, Afganistan, dan lainnya baru mulai dilaporkan. Kebocorankebocoran peralatan di industri sering menyebabkan bencana seperti yang terjadi di Bhopal India, Chernobyl, Rusia dan sebagainya. Atas dasar kejadian-kejadian sejenis tersebut orang mulai mempelajari ekosistem dengan siklussiklus geobiokimianya. Semua unsur di alam ini mengalami siklus yang dapat berjalan cepat atau lambat, tergantung dari sifat unsur masing-masing. Banyak penelitian dilakn 'a untuk mempelajari siklus yang terjadi dan hasilnya di manfaatkan sebagai masukan un merencanakan aktivitas pengelolaan lingkungan hidup. Dapat dimengerti bahwa pengelol a lingkungan ini perlu dilakukan secara terpadu dan multi disiplin. Dengan demikian berkembanglah ilmu lingkungan yang diterapkan diberbagai bidang ilmu seperti ilmu rekayasa lingkungan, kesehatan lingkungan dan sebagainya. Pengertian lingkungan hidup dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.4 taljun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manqsia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manqsia serta makhluk hidup lainnya. Inti permasalahan lingkungan hidup adalah bagaimana kenyataan tentang cara mamlsia menempatkan diri dalam lingkungan dan bagaimana seharusnya hal itu dijalankan agar

BAB 1 PENGANTAR REKAYASA LINGKUNGAN

mendukung kesinambungan perikehidupan dan kesehatan manusia dan mahkluk hidup lainnya. Ilmu tentang hub'ungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut Ekologi.

1.2. HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA.

1.2.1. Hubungan timbal balik antara manusia dan Atmosfir (udara)

Manusia setiap detik, selama hidupnya akan membutuhkan udara. Secara rata-rata manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya tanpa udara lebih dari tiga menit. Karena udara berbentuk gas, ia terdapat dimana-mana, sebagai akibatnya manusia tidak pernah memikirkannya ataupun memperhatikannya. Sampai pada tahun 1930 di Belgia terjadi Wabah penyakit paru-paru yang disebabkan pencemaran udara. Tahun-tahun berikutnya pencemaran udara menyebabkan terjadinya kematian dan kesakitan dalam proporsi epidemik dibeberapa tempat didunia. Tabel 1, memperlihatkan beberapa bencana akibat pencemaran udara, berdasarkan lokasi, sumber pencemar, serta korban pencemaran. Tabel l. Beberapa Bencana pencemaran Udara Yang Terkenal.
Lokasi Sumber! Jumlah Penderita! Kelainan Jenis Pencemar Kematian Meuse Valleyl` I Industri baja dll,I 6000/600 peradangan jaringan Belgia. l930 l 502. F. OXida paru-paru logam, debu. Domara. USA 1949 Industri baja dll/'502 5910 I 20 Kelainan jaringan London. 1952 Pnza Ricag Mexico. 1950 New York. USA 1953 New Orleans USA. 1955* Yokohama Jepang. 1946* Sulfat Industri. pemanasan rumah Kilang Minyak Industri. Kendaran berlumur Pemanasan rumah Industri gandum Industri Pemanasan rumah Tidak diketahui 4000 Mordibitas naik l 165 200 perhari/2 Tuk diketahui

parufparu Kelainan jari ngan paru-paru. Kelainan parufparu. susunan saraf pusat Kelainan paru-paru 81 jantung Asthma Asthma emphysema Sumber : Purdom, Walron P,I971. *) Soemiraf, Juli 1971.

14 BAB I PENGANTAR REKAYASA UNGKUVGA

Pada tabel 1 diperlihatkan bahwa penyakit yang ditimbulkan kebanyakan tergo penyakit saluran pernapasan. Sekalipun demikian, pencemaran udara dapat mengakiba penyakit pada seluruh bagian badan baik karena kontak langsung maupun tak langs Tabel 1 itupun menampakkan bahwa ada yang meninggal akibat penyakit jantung dan l syaraf. Hal ini dapat dimungkinkan karena kerusakan pada jaringan paru-paru mengakibatkan tekanan di dalam paru-paru meningkat, dan jantung yang berfungsi seb pompa di dalam sistem kardio-vaskuler harus bekerja lebih keras untuk mengatasi tek yang

meninggi. Sebagai akibatnya dapat terjadi gagal jantung. Pengaruh udara terhadap kesehatan sangat ditentukan oleh komposisi kimia, biolo maupun fisis udara. Pada keadaan normal, sebagian besar udara terdiri atas oxigen nitrdge (90%), tetapi aktivitas manusia dapat merubah komposisi kimiawi udara sehingga telia pertambahan jumlah spesies, ataupun meningkatkan konsentrasi zat-zat kimia yang s ada. Aktivitas manusia yang menjadi sumber pengotoranfpencemaran udara adalah bua industri, kendaraan bermotor, dan pembakaran di rumahrumah dan di ladang-ladang. Zat pencemar kimia yang paling banyak didapat berupa karbonmonoksida, oxida suwfun, oxida nitrogen, hidrokarbon, dan partikulat. Zat pencemar fisis yang banyak didapat adalah kebisingan, sinar ultra violet, sinar iifri merah, gelombang mikro, gelombang elektromagnetik, dan sinar-sinar radioaktif. Sedang-111311 zat biologis yang banyak didapat di dalam udara bebas adalah virus, dan spora, bakteri v s, jamur, dan cacing seringkali didapat di dalam udara tidak bebas.
1.2.2 Hubungan timbal balik antar manusia dan hidrosfir (air)

ini disebabkan bertambahnya intensitas aktivitas penduduk yang tidak hanya meningka kebutuhan akan air tetapi juga meningkatkan jumlah air buangan. Buangan-buangan i yang merupakan sumber sumber pengotoran perairan. Secara ringkas, berbagai surr be pengotoran badan air dapat dilihat pada tabel 2. Diantara zat-zat pengotor air tersebut ad ll zat-zat yang persisten, zat radioaktif dan penyebab penyakit. Kualitas air berubah karena kapasitas untuk membersihkan dirinya telah terlampau. lisebabkan bertambahnya intensitas aktivitas penduduk yang tidak hanya meningka z ltuhan akan air tetapi iuaa meningkatkan iumlah air buangan. Buangan-buangan i l: Ada beberapa zat-zat kimia yang sifatnya taktik dan tidak cepat terurai dalam air. Maki lama zat kimia tersebut akan terakumulasi dalam badan air ataupun dalam tubuh operasiuln yang ada dalm air tersebut. Sebagai contoh adalah detergen yang terbuat dari alkil sulfonat yang tidak linier .lta bercabang. Selain itu detergen juga menimbulkan busa di perairan yang secara estetik ta dapat diterima, dan menimbulkan kesulitan dalam pengelolaan badan air. Contoh lain adal DDT (dichloro-diphenyItrichloretan), Akumulasi DDT terdapat tidak hanya pada ikan da hewan tetapi juga pada manusia.

BAB I PENGANTAR REKAYASA LINGKUNGAN

Tabel 2. Sumber-sumber pengotor Air. Sumber Alamiah Udara


Mineral tertarut i Tumbuhan/Hewan busuk

Tumbuhan air l Air hujan


Sumber Petaniun Erosi

Kotoran hewan Pupuk 1 Pestisida

i Air irigasi
Air Buangan Pemukiman Industri Air hujan kota Kapal/Perahu, dll Waduk Lumpur Tumbuhan akuatik
Lain-lain Industri konstruksi Pertambahan

Zat radioaktif akan menimbulkan efek terhadap kesehatan, tetapi hal ini tidak akan terjadi apabila pengendalian zat radioaktif dilaksanakan dengan sangat ketat. Namun demikian, zat radioaktif, dalam jumlah yang sedikit dapat pula menimbulkan masalah apabila terjadi biomagnefikasi di dalam organisme akuatik. Besar kecilnya masalah ini sangat tergantung pada kadar magnifikasi, peran organisme tersebut dalam rantai makanan, serta lamanya waktu paruh zat radioaktif. Adanya penyebab penyakit di dalam air (misalnya brallang dysentri), dapat menyebabkan efek langsung terhadap kesehatan. Penyebab 'penyakit yang mungkin ada, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu : (1) penyebab hidup, yang menyebabkan penyakit menular1 dan (2) penyebab tak hidup, yang menyebabkan penyakit tidak menular. 1.2.3. Hubungan timbal balik antara manusia dan Litosfir (tanah) Penyakit-penyakit yang disebarkan lewat tanah merupakan gambaran dari bentuk hubungan timbal balik antara manusia dan litosfir. Zat-zat yang terkandung dalam tanah dapat berasal dari tanah itu sendiri maupun berasal dari luar tanah, sebagai akibat pengotoran ataupun pencemaran. Sebagai contoh adalah Penyakit Bakterial Tetanus (menular) disebabkan oleh C. Tetanus dan Penyakit Fluorosis (tidak menular) disebabkan oleh keracunan Flour.

BAB I PENGANTAR REKAYASA LINGKUJN

16 Seperti juga halnya dengan lingkungan lainnya, manusia memanfaatkan lingkungan untuk ' ' ala Ju: kebutuhan sehari-hari. Litosfir digunakan manusia untuk bermukim, untuk melakukan seg

kegiatan, seperti pertanian, peternakan, industri, dan tempat pembuangan limbah padat atau persampahan.
Pemanfaatan lahan untuk keperluan tertentu dapat berdampak terhadap keseha masyarakat sebagai gambaran dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini : Tabel Tu Pengaruh Tata Guna Lahan VIfrhadap kesehatan Masyarakat.
tall

Tata Guna Lahan Pengaruh terhadap masyarakat Kehutuhan 1 Reservoir vektor. agent dll . . Taman * Kesehatan Lmgkungun Rekreasl Kesehatan makanan` air dll. Perkcmbung-biukan vektor dll.
Bercocok tanam Tanah berair, danau. Rawa. teluk

Tempat Tinggai Kes. Lingkungan Pemukiman Perkotaan Keb. Lingkungan Bangunan. persampahan Industri Kes. Dan keselamatan Ling. Kerja Transportasi ` Kes. Ling. Transportasi. parawisata. Kes, dan keselamatan Lingk. Kerja Toxikologi Lingkungan Exploilasi mineral
Sumber Miller Jr 1975, dalam Soemirar Juli 1994.

1.3. KESEHATAN MASYARAKAT DAN KESEHATAN LINGKUNG


Bab I pasal 1 bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis. Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan kiat untuk mencegah penyakit, memperpanja harapan hidup, dan meningkatkan kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masy

Al
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor : 23 tahun 1992 tentang kesehat: J yar yang terorganisir melalui sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendi ik n hygiene perseorangan, mengorganisir pelayanan medis dan perawatan. Dengan dipelaj in a ilmu kesehatan masyarakat, maka dapat dilakukan diagnosis dini, pengobatan penceg h , serta membangun mekanisme sosial, sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehi p n
yang baik dan dapat memelihara kesehatan (Maslov, 1920).

Definisi ini mengungkapkan bahwa tujuan kesehatan masyarakat ada tiga. Tuju
U

hanya dapat dicapai liewat usaha masyarakat yang terorganisir, dan tidak lain salah salunl/a adalah kesehatan lingkungan.

BAB J' PENGANTAR REKAYASA LINGKUNGAN

1.3.1. Usaha Kesehatan masyarakat Agar masyarakat dapat meningkatkan kesehatannya paling sedikit diperlukan enam usaha dasar yang dikenal dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat sebagai The Basic Six atau enam usaha dasar. Ada tiga konsep enam usaha dasar tersebut masing-masing dikemukakan oleh American Public Health Association (APHA), Emerson and Luginbuhl (EM), dan World Health Organization (WHO) seperti tampak pada tabel 1. Ketiga konsep tersebut memperlihatkan penggunaan istilah yang berbeda. Perbedaan

tersebut tergantung pada kemajuan usaha kesehatan suatu negara. Sebagai contoh, Pemberantasan Penyakit Menular, tidak lagi disebutkan oleh APHA, karena di Amerika Serikat penyakit menular ini sudah tidak lagi merupakan masalah utama. Sebaliknya di Indonesia, frekwensi penyakit ini masih sangat tinggi, sehingga usaha pemberantasannya menjadi sangat penting. Oleh karena itu, pemberantaan penyakit menular masih termasuk di dalam konsep WHO. Untuk berbagai negara, permasalahan kesehatannya akan berbeda, Oleh karena itu, disamping the basic six ini dapat pula dikembangkan usaha yang khas bagi masing-masing negara. Usaha kesehatan masyarakat di Indonesia, selain terdiri iatas The basic Six, yg,, ditambahkan dengan usaha-usaha lainnya yang dirasa perlu, sebagaimana tertera dalam UU RI. No. 23 th. 1992. Tabel 4 Tiga Buah Konsep "The Basic Six"
,iAPI-IA * EMERSON & WHO ** LUGINBUHL

Pncaralan dan analisa data Statistika vital PEMELIHARAAN


dokumen kesehatan kesehatan

Peny. Menular Pendidikan kesehatan dan Pendidikan Pendidikan diseminasi informasi kesehatan kesehatan Pengawasan, Pengaturan` pelayanan Kesehatan Kesehatan kes. Lingkungan lingkungan lingkungan Administrasi dan pelayanan Pemberantasan Pemberanttasan
Peny. Menular

Pelayanan kesehatan Kesejahteraan Ibu dan Anak Kesejahteraan Ibu dan Anak Koordinasi S umber daya kesehatan
Pengendalian Penyakit kronis

Pelayanan medis dan Perawatan


kesehatan * = American 'Public Health Association,

** = World Health Organization Sumber : Laevell, H.R. dan Clarck, EG. 1958, dalam Socmirat (1994)
, juga

18 BAB I PENGANTAR REKAYASA LINGKUNTAN

Di dalam UU-RI. No. 23, 1992, Bab V pasal 11, tertulis bahwa upaya keseha n dilaksanakan melalui 15 kegiatan sebagai berikut : (a) kesehatan keluarga, (b) perbaikan g zi, (c) pengamanan makanan dan minuman (d) kesehatan lingkungan, (e) kesehatan kerja, (f) kesehatan jiwa, (g) pemberantasan penyakit, (h) penyembuhan penyakit dan pemuli an kesehatan, (I) penyuluhan kesehatan masyarakat, (i) pengamanan sediaan farmasi dan :ilat kesehatan, (k) pengamanan zat aditif, (1) kesehatan sekolah, (m) kesehatan olahraga, pengobatan tradisional, dan (o) kesehatan mata. Kesemua ini perlu dilaksanakan

secara terp u, menyeluruh, dan berkesinambungan agar dapat memecahkan permasalahan kesehatan yTng dihadapi. Mulai dalam PELITA V kegiatan pokok yang tadinya 15 dinaikkan menjadi 18 s kesejahteraan ibu dan anak, keluarga berencana, gizi, kesehatan lingkungan, pemberantian penyakit, penyuluhan kesehatan, pengobatan dan penanggulangan kecelakaan, peraw an kesehatan masyarakat usaha kesehatan sekolah, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan jiwa pemeriksan laboratorium sederhana, pencatatan dan pelaporan, kesehatan mata, keseh tar olah raga, kesehatan pekerja non formal, pembinaan pengobatan tradisional, peningkjtar upaya dana sehat masyarakat. Dari daftar usaha dasar ini semakin jelas diperlukannya kerja multi disiplin dibidang kesehatan. Misalnya, program untuk kesehatan lingkungan akan memerlukan ahli Reka) asa dibidang air bersih, limbah, lingkungan kerja, udara dan lain-lain.

1.3.2. Usaha Kesehatan Lingkungan


masyarakat. Dari uraian tentang usaha dasar terlihat bahwa kesehatan lingkunganpun er sekali hubungannya dengan usaha kesehatan lainnya. Usaha ini merupakan usaha yang per didukung oleh ahli rekayasa, khususnya oleh ahli rekayasa lingkungan. Usaha kesehatanb lingkungan merupakan salah satu usaha dari enam usaha dasar kesehat yarakat. Dari uraian tentang usaha dasar terlihat bahwa kesehatan lingkunganpun asi .. . . , Jm-" ..Mun tmmtmffm amma ITC-:hu ini mpmnnlmn usaha vang Derl Usaha kesehatan lingkungan mencakup : Program/penyediaan air minumfair bersih b. Pengolahan dan pembuangan limbah cair, gas, dan padat c. Pencegahan kebisingan

d. Pencegahan kecelakaan e. Pencegahan penyebaran penyakit melalui air, udara, makanan, dan vektor.
f. Pengelolaan kualitas lingkungan : air, udara, makanan, pemukiman, dan blhan berbahaya. g. Pengelolaan keamanan dan sanitasi transportasi, kepariwisataan seperti Hotel, 'Mc tel, Tempat Makan Umum dan Pelabuhan. 1.3.3. Hygiene dan Sanitasi. Dalam membicarakan kesehatan lingkungan, ada dua istilah yang sering dicampur adukkai. Istilah tersebut ialah_ hygiene dan sanitasi. Ditinjau dari ilmu kesehatan lingkungan kedua istilah ini mempunyai perbedaan-perbedaan.