Anda di halaman 1dari 9

2.1.1.

Pendekatan Konsep Post Modern Istilah Post-Modern sebenarnya sudah dikenal sejak pertengahan tahun 1970-an, tidak hanya di dunia arsitektur tetapi juga pada dunia seni lukis, tari, patung, film, dan bahkan ideology. Padadasarnya Post-Modern merupakan reaksi (anti-thesis) dari Modernisme (thesis) yang sudah berjalan sangat lama. Irwing Howe menggambarkan sebagai the radical breakdown of the modernist. Jadi keduanya memang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan berkelanjutan. Post Modern bukanlah gerakan revolusioner yang ingin lepas dan membuang nilainilai Modernisme (Stem, 1980). Perkembangan Post-Modernisme bahkan sangat dipengaruhi oleh modernism. Di dunia arsitektur sendiri gerakan ini disebut sebagai Beyond the Modern Movement karena memang berkembang setelah Modern Movement. Tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai Super-mannerism karena merupakan kelanjutan dari Mannerisme pada era Renaissance di Italy yang melahrkan arsitek-arsitek besar seperti Michel Angelo (14751564), Andrea Palladio (1508-1580), Donato Bramante (1444-1514) dan Giulio Romano. Charles Jenks seorang tokoh pencetus lahirnya Post-Modern menyebutkan adanya 3 alasan yang mendasari timbulnya Post-Modernisme, yaitu : 1. Kehidupan kita sudah berkembang dari dunia serba terbatas ke desa-dunia (world village ) yang tanpa batas. Perkembangan ini disebabkan oleh cepatnya komunikasi dan tingginya daya tiru manusia (instant ecletism). 2. Canggihnya teknologi telah memungkinkan dihasilkan produk-produk yang bersifat pribadi (personalized production), lebih dari sekedar produksi missal dan tiruan missal (mass production dan mass repetition) yang merupakan cirri khas dari modernism. 3. Adanya kecenderungan untuk kembali kepada nilai-nilai tradisional (traditional values) atau daerah, sebuah kecendurungan manusia untuk menoleh ke belakang. Dengan demikian, arsitektur Post-Modern adalah percampuran antara tradisional dengan non tradisional, gabungan setengah modern dengan non-modern, perpaduuan antara

lama dan baru. Arsitektur Post-Modern mempunyai style yang hybrid (perpaduan duua unsur) dan bermuka ganda atau sering disebut sebagai double coding.1 Menurut Charles Jenks ada 6 mazhab tentang perkembangan arsitektur yang menyimpang dari fungsionalisme yaitu: 1. Historicism, merupakan aliran yang ingin tetap memunculkan komponen bangunan dari komponen klasik. 2. Straight Revivalism, aliran ini sulit menghilangkan langgam yang sudah ada di masyarakat sejak lama seperti renaissance, gothic, islamic. 3. Neo Vernacular, produk bangunan ini tidak menerapkan prinsip bangunan vernakular dengan murni, melainkan menampilkan karya baru (mengutamakan penampilan visual). 4. Urbanist, mempunyai 2 ciri khusus yaitu : a. Ad-hoc, penambahan komponen baru pada proses pengembangan perancangan tanpa memikirkan posisi dan lokasi yang tepat. b. Kontekstual, Berusaha melayani aspirasi ideal masyarakat, desainnya mengitari lingkungan sekitar. 5. Metaphor, Desain mengambil bentuk alam yang fungsional. Berupa referensi yang tersamar. 6. Post-Modern Space, difokuskan pada rancangan spatial interpenetration, di mana dua atau lebih ruang dapat digabung secara overlap dan saling bertemu. Aliran ini mencoba mendefinisikan ruang lebih dari sekedar ruang abstrak dan menghasilkan arti ganda, keanekaragaman dan kejutan. Menurut Robert A.M. Stern makna yang terkandung dalam arsitektur postmoderen adalah: 1. Kontekstualisme, desain bangunan dibuat dengan desain bangunan lingkungan sekitarnya, misal dalam bentuk warna dan ukuran. 2. Allusionism, desain arsitektural yang memasukkan unsur sejarah arsitekturnya. Misal sejarah bangunan lama dilibatkan dalam desain bangunan baru.2

Dharma, Agus. Unsur Komunikasi Dalam Arsitektur Post-Modern. Universitas Gunadarma Arsitektur. 2011. Virtual Regionalism, (Online), (http://rachmat-arsitektur.blogspot.com/2011/02/virtualregionalism.html, diakses pukul 11.25, 30 Mei 2011)

2.1.7.1.Penekanan Neo Vernakular Vernakular berarti bahasa setempat, arsitektur vernakular di sosialisasi dengan arsitektur tradisional, kata tradisi dalam bahasa Indonesia berarti adat kebiasaan yang di lakukan secara turun temurun dan masih di lakukan dalam masyarakat di setiap tempat dan suku bangsa, vernakular terbentuk oleh tradisi turun temurun atau dengan sedikit pengaruh dari luar baik baik fisik maupun non fisik Sedangkan neo berasal dari bahasa yunani dan digunaka sebagai fonim yang berarti baru. Jadi neo vernakular berarti bahasa setempat yang di ucapkan dengan cara baru, arsitektur neo vernacular adalah suatu penerapan elemen arsitektur yang telah ada, baik fisik ( bentuk, konstruksi ) maupun non fisik ( konsep, filosopi, tata ruang ) dengan tujuan melestarikan unsur-unsur lokal yang telah terbentuk secara empiris oleh sebuah tradisi yang kemudian sedikit atau banyaknya mangalami pembaruan menuju suatu karya yang lebih modern atau maju tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat.3 Jika ada unsur lokalitas, bukan berarti hal tersebut tidak berkembang ataupun ketinggalan zaman. Mungkin saja semangat kedaerahan memiliki kemampuan untuk mengikuti teknologi yang ada. Dengan demikian kita sebagai perancang harus dapat mengangkat unsur modern yang masih berpatokan pada ciri khas daerah/lokalitas (postmodern design concept). Lalu muncul suatu paham baru, yaitu neo vernacular. Neo vernacular merupakan suatu paham desain modern yang menggunakan prinsip perancangan vernacular di dalam proses perancangannya. Penggunaan teknologi dan perkembangan bentuk lah yang nantinya menjadikan rancangan tersebut menjadi Vernakular baru di era modern. Adapun ciri-ciri khas dari neo vernacular adalah : 1. Menggunakan prinsip perancangan lokal daerah sebagai aspek perancangan. Namun dikembangkan ke dalam bentuk yang baru. 2. 3. Menggunakan material-material yang lebih modern. Arsitektur ini bertujuan untuk menciptakan bangunan yang cocok di bangun di tiap wilayah, dikarenakan menggunakan prinsip perancangan lokal. Tetapi tetap mengembangkan sisi modern.

http://www.ftsp1.uii.ac.id, 04, Juni 2011

Gambar 2.22 Pictou Landing Health Center


Sumber : Architecuture-week.com

Bangunan dirancang oleh arsitek Lilley Brian dan Richard Kroeker Piskwepaq Mendisain Inc., ( PDI), dengan rekanan Arsitek Henry Petrus. Ssebuahh desain neo vernacular yang menjadi aspek perancangan. Dapat dilihat dari gambar tersebut, arsitek masih mempertahankan bentuk atap pelana namun memodifikasi bentuk tersebut ke dalam bentuk baru, dan juga menggunakan material baru seperti baja dan aluminium sebagai bahan utama bangunan.

Gambar 2.23 Appalachian Suncatcher


Sumber : Architecutureweek.com

Desain Vernakular juga semakin berkembang dengan adanya penggunaan materialmaterial yang baru, ramah lingkungan dan justru memanfaatkan energy. Dapat dilihat dari

Appalachian Suncatcher ini, memanfaatkan solar panel pada sisi atap sebagai pembentuk energy di dalam ruangan, serrta dengan maksimalisasi pencahayaan dengan material kaca namun masih menanggapi masalah termal dengan perancangan dinding yang tidak rata dan posisi kaca diletakkan pada area yang tidak terkena panas secara langsung. 4 2.1.7.2.Pendekatan Arsitektur Neo - Vernakular Yang perlu diperhatikan dalam penerapan pendekatan dalam arsitektur neo- vernakular adalah : Interpretasi desain yaitu pendekatan melalui analisa tradisi budaya dan peninggalan arsitektur setempat yang dimasukkan kedalam proses perancangan yang terstruktur lalu kemudian diwujudkan dalam bentuk yang termodifikasi sesuai dengan zaman sekarang. Ragam dan corak desain yang digunakan adalah dengan pendekatan simbolisme, aturan, dan tipologi untuk memberikan kedekatan dan kekuatan pada desain. Struktur tradisional yang digunakan mengadaptasi bahan bangunan yang ada didaerah dan menambah elemen estetis yang diadaptasi sesuai dengan fungsi bangunan. 2.1.7.3.Prinsip Desain Arsitektur Neo - Vernakular Adapun prinsip-prinsip desain arsitektur Neo-Vernakular secara terperinci, yaitu : a. Hubungan Langsung ; merupakan pembangunan yang kreatif dan adaptif terhadap arsitektur setempat disesuaikan dengan nilai-nilai/fungsi dari bangunan sekarang. b. Hubungan Abstrak ; meliputi interprestasi ke dalam bentuk bangunan yang dapat dipakai melalui analisa tradisi budaya dan peninggalan arsitektur. c. Hubungan Lansekap; mencerminkan dan menginterprestasikan lingkungan seperti kondisi fisik termasuk topografi dan iklim d. Hubungan Kontemporer ; meliputi pemilihan penggunaan teknologi, bentuk ide yang relevan dengan program konsep arsitektur
4

http://www.ftsp1.uii.ac.id, 04, Juni 2011

e.

Hubungan Masa Depan ; merupakan pertimbangan mengantisipasi kondisi yang akan datang.5

2.1.7.4.Penerapan Arsitektur Neo - Vernakular Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa penerapan arsitektur Neo-Vernakular terdiri dari 2 aspek yaitu : aspek fisik dan non fisik, dimana implementasi terhadap perancangan bangunan kedua aspek tersebut diterapkan sendiri-sendiri maupun bersamasama membentuk suatu komposisi rancang bangun yang komprehensif. a. Aspek Fisik Yang dimaksud aspek fisik disini adalah bentuk tampilan bangunan yang dilihat keberadaanya dengan mata dan mempunyai wujud dan bentuk tertentu. Kemudian bila kita kaitkan dengan aspek fisik dalam penerapan arsitektur Neo-Vernakular yang meliputi lokasi dan tapak, bentuk bangunan, bahan bangunan dan kontruksi. Berarti bahwa elemen-elemen tersebut yang merupakan suatu respon terhadap alam pada bangunan tradisional masa lalu, ditampilkan kembali pada bangunan modern dengan fungsi pada elemen-elemen tersebut tetap sama yaitu : sebagai suatu usaha/respon sebuah bangunan modern terhadap kondisi lingkungan dan iklim setempat. Elemen-elemen yang dapat dieksplorasi ke dalam arsitektur modern meliputi : 1) Bentuk bangunan Pada masa lalu bangunan rumah tradisional umumnya mempunyai atap yang tinggi dan tritisan yang lebar, hal ini sebagai salah satu cara mengatasi curah hujan yang tinggi dan mengantisipasi terhadap panas matahari. Kemudian implementasi dalam bangunan modern penggunaan atap yang tinggi dan lebar merupakan suatu bentuk transformasi dari bentukbentuk vernakular.

Arsitektur Vernakular. http://arsitektur-nifira.blogspot.com/2010/11/arsitektur-vernakular.html (24 Juni 2011, 23:14)

Gambar 2.24 Vernakular-Modern


Sumber : Architecture-Week

2) Material Bangunan Penggunaan material yang lebih modern, seperti baja, beton, atap pre-cast, serta material-material yang terfabrikasi modern yang dari segi kualitas mutu melebihi material yang dahulu digunakan oleh masyarakat lokal pada bangunan rumah tinggal mereka.

b. Aspek Non Fisik Aspek non fisik merupakan aspek perancangan diluar analisa bangunan, namun lebih condong kepada kepercayaan, simbolisme maupun aspek-aspek yang digunakan oleh masyarakat setempat di dalam mendirikan bangunan. 6 2.1.7.5.Arsitektur Neo Vernakular Indonesia Adapun beberapa karya arsitektur Neo-Vernakular di Indonesia baik yang dirancang oleh arsitek Indonesia ataupun arsitek luar, diantaranya : a. Kompleks ITB, Bandung (1920-1921) Kompleks ITB dirancang oleh Henry Maclaine Pont (1885-1947) merupakan salah satu bentuk antisipasi terhadap modernisme arsitektur yang revolusioner dan radikal. Penerapan vernakular tidak hanya pada sistem konstruksi yang mendapat inspirasi ompak dalam konstruksi Jawa, bentuk atas, sistem penghawaan, orientasi terhadap alam dan lain lain. Bahkan tata letaknya berorientasi dan membentuk sumbu Gunung Tangkuban Perahu dan Laut Jawa merupakan penerapan konsep kosmologi Jawa. b. Bentara Budaya, Jakarta
66

Arsitektur Vernakular. http://arsitektur-nifira.blogspot.com/2010/11/arsitektur-vernakular.html (24 Juni 2011, 23:14)

Bentara Budaya dirancang oleh Mangunwijaya merupakan sebuah bangunan untuk pameran dan kegiatan kebudayaan lainnya. Salah satu unitnya berbentuk rumah panggung dan unit utamanya berarsitektur Jawa, serta detail-detail hiasan dirancang dengan cermat penuh makna dan simbol. c. Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta Dirancang oleh Paul Andreu, merupakan salah satu bangunan modern yang sangat berhasil memasukkan elemen lokal, hingga mendapat Aga Khan Award for Architecture penghargaan internasional bergengsi dalam arsitektur. Unit-unitnya sebagian besar berkonstruksi tiang dan balok yang di exposed (dari pipa-pipa baja), sangat khas arsitektur Nusantara. Unit-unit dalam terminal dibuhungkan dengan selasar-selasar terbuka sangat khas tropikal dengan taman di kira-kanan, penumpang akan berangkat maupun tiba dapat merasakan langsung tidak saja sinar, tetapi juga udara alami tidak seperti pada bandara internasional umumnya yang serba artificial. Hall pembagi sebelum masuk unit-unit tunggu juga terbuka tanpa dinding, berkolom-kolom dan balok dari baja silindris memberikan kesan seperti balok kayo dolken (batang kayu utuh berpenampang lingkaran). Unit ruang tunggu berarsitektur joglo, meskipun dalam dimensi lebih besar dari joglo pada umumnya, tetapi bentuk maupun sistem konstruksinya tidak berbeda dengan soko guru dan usuk, dudur, takir, dan lain-lain elemen konstruksi Jawa.

Gambar 2.25 Komplek Bandara Soekarno Hatta


Sumber : Soekarno Hatta Airport. AGA Khan Project. http://www.akdn.org/architecture/project.asp?id=1560, diakses 2 Juli 2011